Suami Berpoligami, Siapa Istri yang Bersamanya di Surga?

Suami Berpoligami, Siapa Istri yang Bersamanya di Surga?

Kalau Istri akan bersama suami terakhirnya di Surga, kalau suami Apakah bersama semua istrinya nanti?

Jawaban:

Bismillah.

Di antara karunia yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya yang beriman adalah mengumpulkan mereka dengan orang-orang yang mereka cintai di dunia; seperti istri-istrinya, di dalam surga, jika mereka termasuk orang-orang yang beriman. Hal ini dilakukan agar menjadi penyejuk mata dan penyenang hati mereka, meskipun di dunia mereka tidak berada pada tingkatan kesalehan yang sama.

Allah Ta’ala berfirman:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapak mereka, pasangan-pasangan mereka, dan anak-anak keturunan mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 23)

Allah Ta’ala juga berfirman:

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ

“Masuklah kalian bersama istri-istri kalian di dalam surga.” (QS. Az-Zukhruf: 70)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas:

أَيْ : يُجْمَعُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَحْبَابِهِمْ فِيهَا مِنَ الْآبَاءِ وَالْأَهْلِينَ وَالْأَبْنَاءِ ، مِمَّنْ هُوَ صَالِحٌ لِدُخُولِ الْجَنَّةِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ؛ لِتَقَرَّ أَعْيُنُهُمْ بِهِمْ ، حَتَّى إِنَّهُ تُرْفَعُ دَرَجَةُ الْأَدْنَى إِلَى دَرَجَةِ الْأَعْلَى ، مِنْ غَيْرِ تَنْقِيصٍ لِذَلِكَ الْأَعْلَى عَنْ دَرَجَتِهِ ، بَلِ امْتِنَانًا مِنَ اللَّهِ وَإِحْسَانًا ، كَمَا قَالَ تَعَالَى : ( وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شِيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ )الطَّوْرِ/ 21

“Maksudnya, mereka dikumpulkan bersama orang-orang yang mereka cintai di dalamnya, yaitu dari kalangan bapak-bapak, keluarga, dan anak-anak mereka, selama mereka adalah orang-orang yang layak masuk surga dari kalangan kaum mukminin. Hal ini agar hati mereka menjadi sejuk melihat mereka, hingga tingkatan orang yang lebih rendah pun diangkat ke tingkatan yang lebih tinggi, tanpa mengurangi tingkatan orang yang lebih tinggi itu sedikit pun. Ini semua adalah karunia dan kebaikan dari Allah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شِيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman beserta anak keturunan mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak keturunan mereka. Dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari amal mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang telah ia kerjakan.” (QS. Ath-Thur: 21)” (Tafsir Ibnu Katsir).

Ayat di atas dengan diperjelas dalam penafsiran Ibnu Katsir tersebut menunjukkan bahwa seorang laki-laki penghuni surga akan bersama istrinya; jika hanya memiliki satu istri, atau bersama istri-istrinya jika berpoligami, bila memang pasangannya juga dimasukkan ke dalam surga. Laki-laki yang berpoligami dan istrinya masuk surga semua, jangan khawatir apakah nanti akan terjadi kecemburuan di surga. Itu tak akan pernah terjadi di surga. Karena di dunia saja seorang laki-laki bisa merasakan kebahagiaan dengan poligaminya, istri-istri bisa akur, apalagi di surga, yang Allah telah janjikan tak akan ada kebencian dan saling marah:

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَاناً عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

“Kami cabut segala rasa dendam yang berada di dalam dada mereka, (mereka menjadi) bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.”
(QS. Al-Hijr: 47)

Wallahua’lam bisshowab

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. M.Pd.s

sumber : https://bimbinganislam.com/istri-suami-yang-poligami-di-surga-kelak/

Bersegera Beramal Shaleh Sebelum Datang Musibah

عَنْ أبي هريرة رضي اللَّه عنه أن رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: « بادِروا بالأعْمالِ الصَّالِحةِ ، فستكونُ فِتَنٌ كقطَعِ اللَّيلِ الْمُظْلمِ يُصبحُ الرجُلُ مُؤمناً ويُمْسِي كافراً ، ويُمسِي مُؤْمناً ويُصبحُ كافراً ، يبيع دينه بعَرَضٍ من الدُّنْيا» رواه مسلم .

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Bersegeralah beramal shaleh sebelum datang fitnah (musibah dan cobaan) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim, no. 118).


Faedah Hadist

Hadist ini memberikan faedah-faedah berharga, di antaranya;

1. Petunjuk berharga yang berisi perintah untuk bersegera melakukan amalan shaleh sebelum datang cobaan dan bencana yang mengubah keadaan. Yang disebut amalan shaleh adalah jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas pada Allah Ta’ala dan mengikuti tuntunan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak memenuhi syarat ini, walaupun hanya satu saja, maka amalan itu tidaklah diterima di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

2. Penjelasan bahwa fitnah yang akan datang berupa musibah dan cobaan seperti potongan malam, maksudnya fitnah tersebut tidak terlihat atau sangat samar. Ketika itu manusia tidak tahu ke manakah mesti berjalan. Ia tidak tahu di manakah tempat keluar. Fitnah tersebut boleh jadi karena syubhat (racun pemikiran dan penyimpangan), boleh jadi timbul dari syahwat (dorongan hawa nafsu untuk bermaksiat dan melanggar aturan Allah Yang Mahakuasa).

3. Wajibnya berpegang teguh dengan agama.

4. Sifat fitnah akhir zaman begitu menyesatkan dan mengerikan. Satu fitnah datang dan akan berlanjut pada fitnah berikutnya, saking dahsyatnya bahkan sampai menyebabkan kekufuran seseorang.

5. Jika seseorang punya kesempatan untuk melakukan satu kebaikan, maka segeralah melakukannya, jangan menunda-nunda.

6. Jangan menukar agama dengan dunia yang murah; dengan harta, kekuasaan, kedudukan atau bahkan dengan perempuan.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin, & Kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.

sumber : https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-66-bersegera-beramal-shaleh-sebelum-datang-musibah/

Hukum Seorang Wanita Kode-Kode Laki-laki Agar Dinikahi

Dalam Islam, wanita diperbolehkan untuk menunjukkan keinginan untuk menikah, termasuk memberikan isyarat (kode) kepada seorang laki-laki agar menikahinya, selama hal tersebut dilakukan sesuai dengan adab dan tidak melanggar syariat. Dalam sejarah Islam, ada contoh-contoh dari para shohabiyah yang menunjukkan keinginan mereka untuk menikah.

Allah ta’ala berfirman tentang wanita yang menawarkan dirinya kepada Nabi Muhammad ﷺ:

وَامْرَأَةً مُّؤْمِنَةً إِن وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنكِحَهَا خَالِصَةً لَّكَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi jika Nabi hendak menikahinya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin.” (QS. Al-Ahzab: 50)

sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin … maknanya adalah:

بغير صداق، فلم يكن يفعل ذلك وأحل له خاصة من دون المؤمنين

“Sebagai pengkhususan bagimu menikahi wanita yang menawarkan diri untuk kamu nikahi, meski tanpa mahar maka beliau (Nabi Muhammad ﷺ) tidak melakukan hal itu, dan hal tersebut (menikahi wanita tanpa mahar) dihalalkan khusus baginya saja, tidak untuk kaum mukminin.” (Tafsir At-Thabari. Quran.ksu.edu.sa).

Ayat ini menunjukkan kebolehan seorang wanita menawarkan diri untuk dinikahi, dengan catatan harus dilakukan secara sopan dan terhormat.

Di dalam hadis juga dijelaskan wanita yang mengajukan diri kepada Rasulullah ﷺ untuk dinikahi. Sahabat Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi -radhiyallahi’anhu- menceritakan,

أنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقالَتْ : يا رَسولَ اللَّهِ، جِئْتُ لأهَبَ لكَ نَفْسِي، فَنَظَرَ إلَيْهَا رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَصَعَّدَ النَّظَرَ إلَيْهَا وصَوَّبَهُ، ثُمَّ طَأْطَأَ رَأْسَهُ، فَلَمَّا رَأَتِ المَرْأَةُ أنَّه لَمْ يَقْضِ فِيهَا شيئًا جَلَسَتْ، فَقَامَ رَجُلٌ مِن أصْحَابِهِ، فَقالَ: أيْ رَسولَ اللَّهِ، إنْ لَمْ تَكُنْ لكَ بهَا حَاجَةٌ فَزَوِّجْنِيهَا

“Seorang wanita datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Ya Rasulullah, aku datang untuk menyerahkan diriku kepadamu (untuk dinikahi).” Maka Rasulullah ﷺ memandangnya, beliau memperhatikan wanita itu dari atas ke bawah, kemudian menundukkan kepalanya. Ketika wanita itu melihat bahwa beliau tidak memberikan keputusan apa pun mengenai dirinya, ia pun duduk. Lalu seorang laki-laki dari sahabatnya berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, jika engkau tidak berminat terhadapnya, maka nikahkanlah aku dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa wanita yang menawarkan diri untuk menikah, baik secara langsung maupun melalui isyarat, bukanlah sesuatu yang tercela. Rasulullah ﷺ tidak melarang tindakan wanita tersebut, sehingga hal ini dianggap mubah (boleh).

 Adab Memberikan Kode kepada Laki-laki

Walaupun dibolehkan, ada beberapa adab syar’i yang harus diperhatikan kaum wanita dalam memberikan isyarat atau kode kepada laki-laki agar dinikahi:

1. Tidak Melanggar Batasan Syariat

Allah ta’ala berfirman:

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)

Wanita harus menghindari tindakan atau ucapan yang berpotensi menimbulkan fitnah bagi laki-laki.

2. Melibatkan Wali atau Pihak Ketiga

Meskipun boleh saja wanita langsung menawarkan diri untuk dinikahi secara langsung di hadapan laki-laki idamannya, jika keadaan dapat dipastikan aman dari terjadinya fitnah, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian sahabat wanita yang diceritakan di dalam hadis-hadis di atas. Jika tidak merasa yakin dengan terjadinya fitnah, maka sebaiknya dilakukan melalui perantara.

Oleh karenanya, dalam Islam, bagi wanita wali memiliki peran penting dalam proses pernikahan. Persetujuan wali perempuan merupakan syarat sah pernikahan. Jika seorang wanita memiliki keinginan untuk menikah dengan seorang pria, maka lebih baik mengkomunikasikannya melalui wali atau pihak ketiga. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir terjadinya fitnah. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ

“Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali.” (HR. Abu Dawud, no. 2085; Tirmidzi, no. 1101)

3. Tidak Berkhalwat.

Yaitu berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya, baik khalwat di dunia nyata ataupun di dunia maya dengan saling men DMchat dll. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali ada mahramnya.” (HR. Bukhari, no.5233; Muslim, no.1341)

Wallahua’lam bisshowab.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. M.Pd.

sumber : https://bimbinganislam.com/hukum-seorang-wanita-kode-kode-laki-laki-agar-dinikahi/

Balasan Surga Bagi Pejuang Syahid Fisabilillah


عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ: أَرَأَيْتَ إِنْ قُتلِتُ فَأَيْنَ أَنَا؟ قَالَ: « فِي الْجَنَّةِ » فَأَلْقَى تَمَرَاتٍ كُنَّ فِي يَدِهِ، ثُمَّ قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Jabir radhiyallahu anhu, ia berkata, “Seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat Perang Uhud (sedang berkecamuk), “Apakah engkau tahu, di mana tempatku jika aku terbunuh?”

Baginda menjawab, “Di surga.”

Kemudian orang itu melemparkan biji-biji kurma yang ada di tangannya, lalu ia maju berperang sehingga akhirnya dia terbunuh. (HR. Al-Bukhari, no. 4046. Muslim, no. 1899).[/div]


Faedah Hadist

Hadist ini memberikan faedah-faedah berharga, di antaranya;

1. Petunjuk berharga bahwa para sahabat sangat bersemangat dan bersegera dalam melakukan amal-amal shalih dan tidak menunda-nundanya. Inilah keadaan mereka, karenanya mereka memiliki kemuliaan di dunia dan akhirat.

2. Orang yang berjuang di jalan Allah Ta’ala akan memperoleh balasan surga. Akan tetapi siapa yang disebut dengan orang yang berjuang di jalan Allah? Mereka adalah orang yang berjuang untuk meninggikan kalimat Allah. Bukan perjuangan supaya dikatakan pemberani atau ingin dilihat orang (riya) atau agar harum namanya sebagai pahlawan besar (sum’ah) dan sebagainya. Akan tetapi berjuang untuk membela agama Allah ‘Azza wa Jalla.

3. Faedah yang sangat mahal tentang kegigihan para sahabat untuk bertanya segala urusan yang bermanfaat yang belum diketahui mereka, terlebih lagi kalau menyangkut soal kehidupan akhirat. Oleh karena itu, lelaki itu bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merupakan kebiasaan mereka tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya perihal balasan akhirat dan surganya. Mereka mengambil manfaat dari pertanyaan itu tentang ilmu dan amal. Bila dia telah bertanya dan mendapatkan ilmu serta mampu mengamalkannya dengan taufik Allah Ta’ala, maka itu adalah sebuah kenikmatan yang besar.

4. Bersegera dengan amalan surga dan tidak sibuk dengan syahwat dunia fana.

5. Kemuliaan dan keutamaan para sahabat akan kenikmatan dunia, dan rela berjuang mati-matian di medan perang fisabilillah.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin, & Kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.

sumber : https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-68-balasan-surga-bagi-pejuang-syahid-fisabilillah/

4 Hal yang Sering Diremehkan oleh Seorang Muslim

4 Hal yang Sering Diremehkan oleh Seorang Muslim

Mentaati perintah Allah & Rasul-Nya merupakan kewajiban seorang muslim yang beriman untuk mendapatkan kebaikan dunia & akhirat.

Allah ‘azza wajalla berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab [33]: 70-71)

Dan juga meremehkan perintah Rasul-Nya merupakan perbuatan dosa yang patut dihindari agar tidak mendapatkan keburukan di dunia & akhirat.

Allah ‘azza wajalla berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nur [24]: 63)

Pernahkah kita sadari, dalam kehidupan di lingkup negara tentu ada aturan-aturan yang perlu dipatuhi & tidak boleh diremehkan oleh warga negara, seperti dibuatnya peraturan rambu lalu lintas di jalan raya, hal ini wajib bagi warga negara untuk mematuhinya agar terhindar dari bahaya kecelakaan di jalanan.

Begitu juga dalam lingkup dunia kerja, tentu seorang karyawan akan patuh dan tidak meremehkan instruksi dari Direktur perusahaan dalam menyelesaikan proyek kerja yang telah diberikan kepadanya agar terhindar dari pemecatan atau dikurangi benefit bulanan dari perusahaan.

Oleh karena itu, perintah Allah & Rasul-Nya adalah prioritas utama bagi seorang muslim untuk ditaati, diikuti, dan tidak boleh meremehkannya, agar mendapatkan kebahagiaan dunia & akhirat serta terhindar dari adzab Allah yang pedih.

Termasuk di bawah ini fenomena kasus meremehkan perintah Allah & Rasul-Nya, yang terjadi di sebagian kaum muslimin:

Pertama: Menyekutukan Allah dalam beribadah

Fenomena ini masih sering terjadi oleh sebagian kaum muslimin dalam meyakini bahwa ada yang bisa memberikan manfaat ataupun menghindarkan diri dari keburukan selain Allah, seperti mengunjungi kuburan yang dikeramatkan untuk meminta bantuan atau perlindungan dari kuburan tersebut.

Padahal Allah ‘azza wajalla telah memerintahkan kita untuk tidak menyekutukan-Nya dan hanya beribadah kepada-Nya semata, Allah mengancam melakukan perbuatan menyekutukan Allah dalam firman-Nya:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 48)

Juga Allah ‘azza wajalla berfirman:

إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak mengijabahi permintaanmu. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh (Allah) Yang Mahateliti.” (QS. Fathir [35]: 14)

Kedua: Larangan menggunjing aib, mencari kesalahan, dan berburuk sangka kepada orang lain

Sering tidak disadari ketika berkumpul dengan sesama teman, seorang terjatuh bahkan meremehkan dari perbuatan diatas.  Padahal Allah & Rasul-Nya memerintahkan kita untuk menjaga lisan dari keburukan dan berkata yang baik agar terhindar dari perselisihan & menyakiti orang lain. Allah mengingatkan dalam Al-Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قال: قلت: يا رسول الله أي المسلمين أفضل؟ قال: «من سلم المسلمون من لسانه ويده». متفق عليه.

Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik?” Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari, no. 11)

Ketiga: Meremehkan Shalat Lima Waktu

“Shalatlah sebelum kita dishalatkan!” Kalimat ini secara tidak langsung mengingatkan bahwa shalat adalah perintah Allah yang harus dikerjakan oleh setiap muslim. Namun, sering diremehkan oleh sebagian muslim sedangkan shalat merupakan tiang agama & rukun agama Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Pembatas antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, no. 257)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi.” (HR. Abu Daud, no. 864, Hadits ini Shahih)

Keempat: Perintah Menepati Janji

Allah memerintahkan pada hamba-Nya untuk selalu menepati janji yang dibuat dengan sungguh-sungguh dan tidak melanggarnya. Janji yang dimaksud adalah janji yang baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Mengingkari janji merupakan perbuatan tercela, bahkan Rasulullah menyebut orang yang ingkar janji sebagai ciri-ciri orang yang munafik.

Simaklah  firman Allah dalam Al-Quran:

وَاَوْفُوْا بِعَهْدِ اللّٰهِ اِذَا عَاهَدْتُّمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْاَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيْدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّٰهَ عَلَيْكُمْ كَفِيْلًاۗ اِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَ

“Tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji. Janganlah kamu melanggar sumpah(-mu) setelah meneguhkannya, sedangkan kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nahl [16]: 91)

إن الله تعالى أمر في هذه الآية عباده بالوفاء بعهوده التي يجعلونها على أنفسهم، ونهاهم عن نقض الأيمان بعد توكيدها على أنفسهم لآخرين بعقود تكون بينهم بحقّ مما لا يكرهه الله

“Maksud ayat di atas bahwa Allah ta’ala memerintahkan dalam ayat ini pada hamba-hamba-Nya untuk memenuhi janji yang mereka buat atas diri mereka sendiri, dan melarang mereka untuk melanggar janji setelah menegaskannya atas diri mereka sendiri untuk orang lain dengan perjanjian yang ada di antara mereka dengan hak yang tidak dibenci oleh Allah. [1]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أن رسول الله صل الله عليه وسلم قال: آية المنافق ثلاث : إذا حدث كذب ، وإذا وعد أخلف، وإذؤتمن خان. أخرجه البخاري

Tanda-tanda orang Munafiq ada tiga: Apabila berkata dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila diberi amanat berkhianat.” (HR. Bukhari, no. 53)

Kesimpulan

Tentunya masih banyak lagi contoh yang terjadi disebagian kaum muslimin baik disadari atau tidak disadari terkait fenomena sikap meremehkan perintah Allah & Rasul-Nya.

Cara yang paling tepat adalah hendaknya seorang muslim untuk saling mengingatkan, saling menasihati, dan senantiasa mempelajari ilmu agama untuk menjadi perbekalan seorang muslim di dunia & akhirat supaya mengetahui perintah dan larangan Allah & Rasul-Nya serta menunaikan kewajiban dan meninggalkan apa dilarang bagi seorang muslim yang taat.

Referensi: [1] Imam Abu Ja’far at-Thabari. Tafsir Jami’ al Bayan. Mekkah: Dar Tarbiyah wa Turats, Jilid 17, Hal. 282

Ustadz Bagus Muidun, Lc.

sumber : https://bimbinganislam.com/4-hal-yang-sering-diremehkan-oleh-seorang-muslim/

Definisi Makna Sejati Sabar Dalam Islam

Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Afwan izin bertanya bagaimana ustadz saat kita terima gangguan dari orang lain kita memperlihatkan kalau kita bisa sabar atas gangguan itu tapi di dalam hati kita mencaci orang tersebut apa masih dikatakan sabar?

جزاك اللهُ خيراً

Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Para ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan kata ‘sabar’. Meskipun berbeda-beda istilahnya akan tetapi maknanya sama. Yaitu menahan diri dari melakukan atau mengucapkan hal yang dilarang oleh syariat.

Berdasarkan hal ini, maka ketika kita bisa menahan diri dari mengucapkan sesuatu yang buruk atau melakukan sesuatu yang tercela, maka kita termasuk dalam definisi sabar, meskipun hati kita masih marah.
Allah berfirman :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran : 134)

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Orang kuat itu bukanlah orang yang jago bergulat. Akan tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah” (Muttafaq ‘Alaih: Hadits Shahih Al-Bukhari no. 6114 & Muslim no. 2609)

ومن كظم غيظاً ، ولو شاء أن يمضيه أمضاه ، ملأ الله قلبه رضاً يوم القيامة

“Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhoan di hari Qiyamat.” (HR. Thabrani)

Akantetapi yang lebih utama adalah memafkannya.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh: 
Ustadz Achmad Nur Hanafi, Lc. حافظه الله

sumber : https://bimbinganislam.com/definisi-makna-sejati-sabar-dalam-islam/

[Kitabut Tauhid 8] 20 Bahaya Laten Kesyirikan 05

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Thâgût adalah segala sesuatu yang diperlakukan oleh seorang hamba secara melampaui batas; baik sesuatu itu dari hal yang diibadahi, diikuti, atau ditaati.
  • Thâgût itu banyak sekali jumlah dan jenisnya, dan pembesarnya ada lima : (1) syaithan yang selalu mengajak untuk beribadah kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla-, (2) penguasa yang zhalim yang merubah hukum-hukum Allâh -‘Azza wa Jalla-, (3) orang yang memutuskan hukum bukan dengan hukum yang diturunkan oleh Allâh -‘Azza wa Jalla-, (4) orang yang mengklaim mengetahui hal yang ghaib, dan (5) segala sesuatu yang disembah selain dari Allâh -‘Azza wa Jalla- dan dia rela dengan penyembahan tersebut. 

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.