Awali Hijrah dengan Menuntut Ilmu dari Dasar

Salah satu fenomena yang patut disyukuri di zaman ini adalah berbondong-bondongnya para pemuda dan pemudi untuk hijrah. Sebelumnya tidak terlalu peduli dengan aturan dan batasan agama, sering terjerumus ke dalam jurang maksiat, setelah itu sadar dan mulai menjalani kehidupan di bawah naungan agama.

Kembali kepada Allah dan bersegera bertaubat dari kelamnya maksiat adalah hakikat hijrah yang diperintahkan oleh Allah. Allah berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)

Setelah hijrah, tugas berikutnya adalah mempertahankan agar tetap istiqamah di atas hijrahnya. Di antara cara yang paling efektif untuk menjaganya adalah dengan terus menuntut ilmu. Awali hijrah dengan menuntut ilmu dan jalani hijrah dengan senantiasa menuntut ilmu.

Mulailah belajar dari dasar, bagaimana aqidah yang benar, bagaimana tata cara shalat yang sesuai sunnah, bagaimana praktek akhlak dan adab sesuai tuntunan Islam. Jangan lupa untuk memperbaiki bacaan Al-Quran, mengikuti halaqah-halaqah tahsin dan tajwid, jangan sampai sudah hijrah limat tahun tetapi bacaan Al-Quran masih belepotan.

Belajarlah dengan ta’shili, dimulai dari dasar, bertahap dan pelan-pelan, terstruktur dan berkesinambungan. Ikuti kajian rutin membahas kitab tertentu hingga selesai, pelajari bahasa Arab, sehingga ilmu yang kita miliki semakin bertambah dan terbangun di atas pondasi yang kokoh.

Jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar diberi istiqamah di atas keimanan, karena istiqamah sejatinya adalah karunia yang sangat besar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

أَعْظَمُ الكَرَامَةِ لُزُوْمُ الاِسْتِقَامَةِ

“Karamah yang paling besar adalah bisa terus istiqamah.”

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.,PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber: https://muslimafiyah.com/awali-hijrah-dengan-menuntut-ilmu-dari-dasar.html

Malaikat Pun Menaruh Hormat

Kita tahu bahwa malaikat adalah makhluk yang paling taat dan tidak bermaksiat pada Allah. Walau demikian, malaikat sangat menaruh hormat pada orang yang belajar ilmu agama.

Dalam hadits dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ

“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Arti hadits tersebut kata para ulama, para malaikat itu merendahkan diri di hadapan penuntut ilmu dan menaruh hormat padanya. Ada ulama pula yang mengungkapkan bahwa yang dimaksud adalah malaikat itu mendoakan para penuntut ilmu karena membentangkan sayap sama seperti membentangkan tangan untuk berdo’a. Sebab sayap burung adalah ibarat tangan pada kita. Lihat pembahasan Abul ‘Abbas Al-Qurthubi dalam Al-Mufhim Asykala min Talkhis Kitab Muslim.

Ibnul Qayyim juga menjelaskan dalam Miftah Dar As-Sa’adah (1: 63) bahwa malaikat meletakkan sayapnya sebagai bentuk merendahkan dirinya pada penuntut ilmu serta sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan karena penuntut ilmu telah membawa warisan nabi.

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bagaimanakah kemuliaan dan kedudukan seorang penuntut ilmu (agama) di hadapan para malaikat. Di sini juga mengajarkan pada kita untuk menaruh hormat pada setiap orang yang mempelajari ilmu agama seperti para penghafal Al-Qur’an, para pelajar hadits nabawi, dan yang mendalami ilmu agama lainnya.

Semoga bermanfaat.

—-

Malam 19 Dzulhijjah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/14376-malaikat-pun-menaruh-hormat.html

Memotivasi Anak untuk Melakukan Kebaikan

Memotivasi, mendorong anak untuk tampil ke depan melakukan berbagai kebaikan memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kebaikan, kemuliaan hati, dan menambah percaya diri (pede) sang anak. Harapannya, bila mereka termotivasi melakukan berbagai kebaikan maka kelak akan lahir dan muncul di antara mereka para pemimpin yang dapat dijadikan sebagai teladan dan arahannya dapat diikuti.

Boleh jadi motivasi dan dorongan ini berupa memberikan pujian, mengucapkan kata sanjungan atau hadiah (reward) kepada mereka. Terkait dengan hal ini, terdapat banyak contoh ucapan yang baik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum. Di antaranya adalah pujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Ibnu Sa’ad telah menukil kisahnya di dalam Kitab Thabaqat–nya dengan sanad yang shahih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Mas’ud mengatakan,

كُنْتُ غُلَامًا يَافِعًا أُرَعِى غَنَمًا لِعُقْبَةَ بْنَ أَبِيْ مُعِيْطٍ فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَقَدْ فَرَّا مِنْ المُشْرِكِيْنَ فَقَالَا يَا غُلَامٌ هَلْ عِنْدَكَ مِنْ لَبَنٍ تُسْقِيْنَا ؟ فَقُلْتُ إِنِّيْ مُؤْتَمِنٌ وَلَسْتُ سَاقِيْكُمَا. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ هَلْ عِنْدَكَ مِنْ جَذْعَةٍ لَمْ يَنْزِ عَلَيْهَا الفَحْلُ ؟ قُلْتُ نَعَمْ فَأَتَيْتُهُمَا بِهَا فَاعْتَقَلَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَمَسَحَ الضَرْعَ وَدَعَا فَحَفَلَ الضَرْعَ ثُمَّ أَتَاهُ أَبُوْ بَكْرٍ بِصُخْرَةٍ مُتَقَعَرَّةٍ فَاحْتَلَبَ فِيْهَا فَشَرِبَ أَبُوْ بَكْرٍ ثُمَّ شَرِبْتُ ثُمَّ قَالَ لِلضَّرْعِ اقْلِصْ فَقَلَصَ قَالَ فَأَتَيْتُهُ بَعْدَ ذَلِكَ فَقُلْتُ عَلِّمْنِيْ مِنْ هَذَا القَوْلِ. قَالَ إِنَّكَ غُلَامٌ مُعَلَّمٌ. فَأَخَذْتُ مِنْ فَيْهِ سَبْعِيْنَ سُوْرَة لَا يُنَازِعَنِيْ فِيْهَا أَحَدٌ

“Ketika aku (Ibnu Mas’ud) di usia anak-anak yang hampir balig, aku sedang menggembalakan kambing milik ‘Uqbah bin Abu Muhith. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr lewat ketika sedang dalam pelarian dari kejaran orang-orang musyrik. Keduanya berkata, “Wahai Ananda, apakah engkau punya susu yang dapat kami minum?”

Lalu aku menjawab, “Sesungguhnya aku hanya orang yang diberikan amanah (untuk menggembala –pen) sehingga aku tidak dapat memberikan susu yang dapat kalian jadikan sebagai minuman.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah di antara kambing gembalaanmu ada anak kambing betina yang belum dikawini pejantannya?”

Aku menjawab, “Iya, ada.” Aku pun membawakannya kepada mereka berdua. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan dan mengusap embing susunya. Lalu mengalir deraslah susu dari embing susu anak kambing betina tersebut. Kemudian Abu Bakar membawa wadah cembung dari batu. Embing susu itu pun diperah. Aku dan Abu Bakar pun meminum susunya.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada embing susu itu, “Menyusutlah.” Maka seketika itu embing susu pun menyusut. Setelah itu, aku (Ibnu Mas’ud) pun datang menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Ajarkanlah kepadaku perkataan yang Engkau bawa (Al-Qur’an -pen).”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Engkau adalah anak yang terpelajar.” Maka aku (Ibnu Mas’ud) pun mempelajari 70 surat langsung dari beliau dan tidak seorang pun yang mengalahkanku.”

Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa sekedar keinginan anak untuk belajar tanpa diminta atau dipaksa merupakan prestasi tersendiri bagi anak yang layak mendapatkan apresiasi berupa pujian, sanjungan, doa kebaikan ataupun hadiah (reward). Oleh karena itu, sekecil apapun sikap anak dalam kebaikan, sangat layak untuk dihargai oleh orang tua, walaupun dengan sesuatu yang mungkin sepele bagi orang dewasa. Harapannya, dengan adanya apresiasi atas apa yang dilakukannya, sang anak tersebut akan termotivasi untuk terus melakukan kebaikan di masa mendatang.

Hadits ini juga menjadi bukti nyata pujian atau doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Mas’ud -yang ketika itu belum masuk Islam- dapat memberikan dampak positif yang nyata. Terbukti setelah itu Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengajukan keislamannya dan meminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajarkannya Islam dan Al-Qur’an.

***

Diselesaikan ba’da subuh, Sigambal, 14 Jumadil akhir 1439 H/ 2 Maret 2018 M

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Sumber: https://muslimah.or.id/10159-parenting-islami-bag-43.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Doamu, Obsesimu

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sesungguhnya obsesi mausia tergambar dari doanya. Untuk mengetahui apa obsesi seseorang, anda bisa perhatikan doanya. Dalam al-Quran, Allah memuji sekelompok hamba-Nya karena doanya. Di dalam al-Quran pula, Allah mencela sebagian hamba-Nya karena doanya.

Allah mencela manusia yang obesesinya hanya dunia,

“Di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami (kebaikan) di dunia”, dan Tiada bagian (yang menyenangkan) baginya di akhirat” (QS. al-Baqarah: 200).

Allah juga mencela harapan orang yahudi yang rakus dunia,

“Sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling rakus kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih rakus lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa” (QS. Al-Baqarah: 96).

Allah juga mencela para pengingkar nabi yang berharap akan diturunkan Malaikat kepada mereka, atau bisa melihat Tuhannya.

“Orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami itu mengatakan, “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita Malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman”” (QS. al-Furqan: 21).

Sebaliknya, Allah memuji beberapa hamba-Nya karena keindahan doanya. Karena doanya menunjukkan betapa indahnya obsesi dan cita-citanya. Allah memuji pasukan Thalut yang berdoa agar diberi kesabaran ketika perang,

“Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan Kami, tuangkanlah kesabaran atas diri Kami, dan kokohkanlah pendirian Kami dan tolonglah Kami terhadap orang-orang kafir” (QS. Al-Baqarah: 250).

Allah memuji doanya ulama yang memohon agar diberi hidayah dan kekuatan memegang ilmu agama,

“Orang-orang yang kokoh ilmunya mengatakan, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. ( ) “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”” (QS. Ali Imran: 7 – 8).

Allah memuji doa ibadurrahman, yang berharap bisa menjadi pemimpin dalam masalah agama,

“(diantara ciri ibadurrahman adalah) orang orang yang berdoa, “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. al-Furqon: 74).

Perhatikanlah doamu, karena itu obsesimu.

—

Penulis: Ust. Ammi Nur Baits, ST., BA.

Sumber: https://muslimah.or.id/6387-doamu-obsesimu.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id