Jangan Pernah Bosan Dalam Berdoa

Sebagai seorang insan yang menjalani kehidupan ini, kita senantiasa membutuhkan pertolongan dari Allah ta’ala, baik untuk mendapatkan perkara yang kita inginkan ataupun menghindari hal-hal yang tidak kita harapkan. Semuanya berada di dalam genggaman tangan Allah, yang Allah bolak-balikkan sesuai kehendakNya. Maka sudah sepantasnya kita senantiasa merengek-rengek di hadapan Allah untuk kedua hal di atas dan tidak bosan dalam berdoa kepadaNya.

Ibnul Qayyim mengatakan dalam kitabnya Jala’ul Afham: “Allah menyukai mereka yang merengek-rengek dalam berdoa. Maka dari itu, sebagai bukti kebenaran pengertian ini, Anda menemukan banyak di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi uraian kata-kata dan penyebutan setiap makna dengan katanya yang jelas serta tidak cukup hanya ditunjukkan secara implisit oleh kata yang lain. Contohnya seperti dalam hadis Ali radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Muslim dalam Sahih-nya (IV/2719):

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمَ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِله إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku perbuat, yang aku rahasiakan dan yang aku nampakkan, yang Engaku lebih mengetahuinya dariku. Engkau yang mendahulukan dan Engkau mengakhirkan, tiada Ilah selain Engkau.” (Di akhir riwayat Muslim “dan Engkau Maha Mampu atas segala sesuatu.” Bukhari juga meriwayatkannya, XI/ hadis no. 6398, 6399, keduanya dari Abu Musa Al-Asy’ari secara marfu’)

Diketahui, seandainya diucapkan, “Ampunilah segala dosa yang aku perbuat” tentu lebih ringkas. Namun kata-kata dalam hadis ini berada dalam konteks doa, merendahkan diri, dan menampakkan penghambaan serta kebutuhan. Sementara mengungkapkan dengan rinci berbagai hal yang ditaubati hamba lebih baik dan lebih memuaskan dari pada disingkat dan diringkas.

Demikian pula ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis lain:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجِلَّهُ، سِرَّهُ وَعَلَانِيَّتَهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang rahasia maupun yang nampak, yang awal maupun yang akhir.” (HR. Muslim hadits no. 483, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dalam sebuah hadis:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي، وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي جَدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئِي وَعَمْدِي، وَكُلَُ ذَلِكَ عِنْدِي

“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, tindakan melampaui batasku dalam perkaraku dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya dariku. Ya Allah, ampunilah kesungguhanku dan main-mainku, ketidak sengajaanku dan kesengajaanku, di mana semua itu ada pada diriku.” (HR. Bukhari XI/hadits no. 6398, 6399 dan Muslim IV/hadis no. 2719, dari Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)

Perincian seperti ini banyak terjadi dalam doa-doa yang ma’tsur. Doa adalah wujud penghambaan pada Allah, kebutuhan padaNya, dan menghinakan diri di hadapanNya. Semakin hamba memperbanyaknya, memanjangkannya, mengulang-ngulangnya, menampakkannya, dan memvariasi kalimatnya hal itu semakin konkrit menunjukkan penghambaannya, penampakan kebutuhannya, kerendahan dirinya, dan keperluannya pada Allah. Itu lebih mendekatkan dirinya pada Rabb dan memperbesar pahalanya. Lain dengan makhluk, semakin sering Anda meminta dan mengulang-ngulang kebutuhanmu padanya, Anda membuatnya bosan, membenci Anda, dan Anda terhina di matanya. Namun semakin Anda tak meminta padanya, itu lebih ia hargai dan lebih ia sukai. Sedang Allah, setiap kali Anda meminta padaNya, Anda lebih dekat padaNya dan Dia lebih mencintai Anda. Semakin Anda merengek-rengek dalam berdoa, Dia bertambah mencintai Anda. Dan siapa tidak meminta padaNya, Dia murka padanya.” (Jala’ul Afham (Terjemah), halaman 352-353)

Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala,

‎وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)

Ibnu Katsir mengatakan, “Ini merupakan anugerah dan karunia Allah subhanahu wa ta’ala. Dia anjurkan hamba-hambaNya untuk berdoa, dan Dia menjamin terkabulnya doa tersebut. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sufyan Ats-Tsauri, “Wahai Dzat Yang lebih mencintai hamba-hambaNya yang meminta dan memperbanyak permintaan kepadaNya. Wahai Dzat Yang lebih membenci hamba-hambaNya yang tidak meminta kepadaNya. Dan tidak ada selain Engkau yang demikian wahai Rabb.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Senada dengan makna ini, seorang penyair berkata,

اللَّه يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْت سُؤَالَهُ

Allah benci bila kau tinggalkan permohonan kepadaNya

 وَبُنَيُّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

Sedang anak Adam benci bila diminta (Tafsir Ibnu Katsir, VIII/59)

Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Jala’ul Afham (Keutamaan Shalawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Penerbit Al-Qowam, Sukoharjo
  • Shahih Tafsir Ibnu Katsir (Terjemahan), Terbitan Pustaka Ibnu Katsir Jakarta

Sumber: https://muslimah.or.id/18053-jangan-pernah-bosan-dalam-berdoa.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Bangga Menjadi Muslim

Dewasa ini, kita sering mendapatkan saudara-saudara kita – semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka – yang tidak berbangga dengan agamanya (yaitu tidak merasa gagah karena keutamaan dan keunggulan Islam). Sehingga sebagian pelajar muslim, misalnya, mungkin masih merasa minder ketika memakai celana di atas mata kaki (tidak isbal) di sekolahan mereka. Sebagian pemuda muslim minder dengan hari raya Islam, sehingga menambahkan hari raya-hari raya lainnya dalam Islam. Bahkan, ada diantara mereka yang ikut memperingati hari raya agama lain, Na’uudzubillahi min dzaalik.

Padahal, apabila kita melihat keutamaan Islam, tentu kita akan merasa bangga dengannya. Pada bahasan kali ini, penulis mengangkat tema “Bangga menjadi Muslim”, supaya menambah rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala atas nikmat Islam ini, tetap istiqomah di atas jalan-Nya, dan meninggalkan jalan-jalan selainnya.

Diantara Keutamaan-keutamaan Islam

Imam Bukhari dan Muslim membawakan hadits dari Thaariq bin Syihaab, dia berkata bahwasanya seorang yahudi berkata kepada ‘Umar bin Khattab (yang saat itu menjadi khalifah) radhiyallahu ‘anhu, “Wahai amirul mukminin, sebuah ayat dalam al-Quran yang kalian membacanya, seandainya ayat tersebut turun di tengah-tengah orang Yahudi, tentu kami akan menjadikannya sebagai hari perayaan (hari ‘ied).” “Ayat apakah itu?,” tanya ‘Umar. Ia berkata, “(Ayat yang artinya): “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian” (QS. Al-Maidah: 3) ‘Umar berkata, “Kami telah mengetahui hal itu, yaitu hari dan tempat di mana ayat tersebut diturunkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berdiri di ‘Arofah pada hari Jum’at. ” (Muttafaqun ‘alaih)

Demikianlah, seorang Yahudi mengetahui keutamaan Islam, dimana keutamaan Islam bisa dilihat (melalui ayat QS. Al-Maidah: 3 tersebut) dari beberapa tinjauan, diantaranya:

Ditinjau dari hakikat islam itu sendiri

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang tafsir ayat ini, “Allah telah mengabarkan kepada nabi-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, bahwasanya Dia telah menyempurnakan islam bagi mereka, sehingga mereka tidak akan membutuhkan tambahan selamanya. Dan Allah telah melengkapkannya, sehingga Dia tidak akan menguranginya selamanya. Dan Allah telah meridhainya, maka Dia tidak akan marah kepadanya selamanya.” (Tafsir Ibnu Katsir: 14/2)

Ditinjau dari pemeluknya

Hal ini diambil dari firman Allah (artinya), “Dan Aku telah meridhai bagi kalian Islam sebagai agama” yang umum mencakup seluruh manusia. Oleh karena itu, Allah tidak menerima agama apapun — setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam — kecuali Islam. Hal ini merupakan keutamaan bagi seluruh pemeluknya.

Ditinjau dari kekekalan / keabadiannya

Agama-agama sebelum islam dikhususkan bagi waktu tertentu (terbatas) dan zaman yang telah Allah tentukan; kemudian Allah mengangkat hukumnya (naskh), dan menggantikannya dengan agama Islam. Sementara itu, agama islam kekal sampai hari kiamat. Bahkan, Nabi Isa ‘alaihissalam ketika turun pada akhir zaman, dia akan berhukum dengan syariat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat I’laamul Anaam bi Syarhi Kitaab Fadhlil Islaam, hal. 22 — 24).

Demikianlah agama kita tercinta ini. Sangat banyak dan jelas keutamaan-keutamaan yang terdapat di dalamnya, sehingga orang di luar Islampun juga mengakui keutamaan-keutamaannya.

Keutamaan islam ditinjau dari perbandingannya dengan agama-agama selainnya

Masih tentang keutamaan islam, untuk melengkapi bahasan tentang keutamaan Islam, penulis merasa perlu menambahkan bahasan khusus tentang keutamaan islam ditinjau dari perbandingannya dengan agama-agama selainnya. Keutamaan tersebut juga sangat banyak, diantaranya :

  1. Islam untuk semua umat manusia
    Islam merupakan agama yang Allah syariatkan untuk seluruh umat manusia. Hal tersebut berbeda dengan agama-agama samawi lainnya yang disyariatkan khusus untuk umat tertentu, misalkan Nashrani (baca : syariat Nabi Isa ‘alaihissalam) yang khusus diperuntukkan kepada Bani Israil saja.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumku … nabi sebelumku diutus hanya untuk kaumnya, sedangkan aku diutus untuk manusia seluruhnya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    Allah Ta’ala berfirman ketika mensifati Nabi Isa ‘alaihissalam (yang artinya), “Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil” (QS. Ali Imran : 49).
  2. Tanda kenabian yang kekal hingga akhir zaman
    Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Quran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al-Hijr: 9).
    Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan bahwa Dia yang akan menjaga al-Quran. Sementara untuk selain al-Quran, Dia berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. Al-Maidah: 44)
    Maka dalam ayat ini, Allah menyerahkan penjagaan kitab tersebut kepada mereka, kemudian mereka mengganti dan merubahnya. (lihat Tafsir al-Qurthubi : 5/10)

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menunjukkan kita kepada Islam, satu-satunya agama yang benar, dan memiliki banyak keutamaan.

Beberapa contoh aplikasi nyata dari bangga sebagai muslim

Bangga dengan hari raya islam

Diantara praktek nyata dari kebanggaan sebagai seorang muslim, adalah bangga dengan hari raya yang telah Allah pilihkan untuknya. Anas Radhiallahu ‘anhu berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian besenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu, yaitu hari Raya Kurban dan hari Idul Fithri”. (Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad dan selainnya).

Berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna rahimahullah: “Maksudnya : Karena hari Idul Fihtri dan hari raya Kurban ditetapkan dengan syariat Allah Ta’ala, merupakan pilihan Allah untuk mahluk-Nya dan karena keduanya mengikuti pelaksanaan dua rukun Islam yang agung yaitu Haji dan Puasa, serta didalamnya Allah mengampuni orang-orang yang melaksanakan ibadah haji dan orang-orang yang berpuasa, dan Dia menebarkan rahmat-Nya kepada seluruh mahluk-Nya yang taat …. ” [Fathur Rabbani, 6/119] (Lihat Ahkaamul ‘Iidain fis Sunnahil Muthohharoh, hal 13 — 16)

Oleh karena itu, cukup bagi kita hari raya yang telah Allah pilihkan untuk kita, dan meninggalkan hari raya-hari raya selainnya, seperti tahun baru, dan selainnya.

Bangga dengan celana tidak isbal (khusus laki-laki)

Sebagian pelajar muslim mungkin masih merasa minder ketika memakai celana yang tidak isbal (yaitu celana di atas mata kaki) di sekolahan mereka. Sebagian mahasiswa muslim mungin juga minder ketika memakai celana seperti itu di kampus mereka. Demikian juga, sebagian karyawan muslim mungin juga minder ketika memakai celana seperti itu di kantor mereka.

Wahai saudaraku sekalian, ketahuilah bahwasanya memakai celana di atas mata kaki merupakan perkara yang disyariatkan dalam agama kita yang mulia ini. Oleh karena itu, berbanggalah kalian dengan model celana seperti itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Hadits-hadits yang melarang isbal sangat banyak, sehingga mencapai batas hadits mutawatir maknawi, diantaranya adalah hadits di atas. Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih luas tentang masalah ini, silahkan merujuk ke kitab Hadduts Tsaub wal Uzroh wa Tahriimul Isbaal wa Libaasusy Syuhroh karya Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita semua istiqomah untuk senantiasa berada di jalan-Nya.

Penulis: Abu Ka’ab Prasetyo, S.Kom.

Artikel Buletin Al Hikmah dipublikasi ulang oleh Muslim.Or.Id
Sumber: https://muslim.or.id/19404-bangga-menjadi-muslim.html

Menjadi Manusia Produktif dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, produktivitas bukan hanya tentang menghasilkan banyak hal dalam waktu singkat, tetapi juga tentang bagaimana kita memanfaatkan waktu, tenaga, dan kemampuan untuk tujuan yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Seorang muslim yang produktif adalah seseorang yang mampu menyeimbangkan antara ibadah, pekerjaan, dan tanggung jawab sosial. Artikel ini akan membahas bagaimana seorang muslim dapat menjadi produktif dengan berlandaskan ajaran Islam.

Memanfaatkan waktu dengan baik

Sungguh Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang sifat orang-orang yang beruntung dan amal mereka yang terpuji di dalam Al-Quran. Allah Ta’ala juga mengabarkan tentang sifat-sifat orang yang merugi dan akhlaknya yang tercela. Hal itu terdapat pada ayat yang sangat banyak di dalam Al-Quran. Dan Allah Ta’ala telah mengumpulkannya dengan menyebutkannya di dalam surah Al-‘Ashr,

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati untuk (menetapi) kebenaran dan kesabaran.” (QS Al-Asr: 1-3)

Ayat ini mengingatkan bahwa waktu adalah salah satu nikmat terbesar dari Allah. Produktivitas dalam Islam dimulai dari kemampuan memanfaatkan waktu dengan baik. Menghargai waktu berarti tidak menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat atau sia-sia. Oleh karena itu, seorang muslim harus mampu mengatur waktunya dengan bijak, baik dalam hal ibadah, pekerjaan, maupun kegiatan sosial.

Niat yang lurus dan ikhlas

Segala aktivitas seorang muslim, baik itu pekerjaan duniawi maupun ibadah, harus dimulai dengan niat yang benar dan ikhlas karena Allah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Produktivitas yang sejati dalam Islam bukan hanya tentang seberapa banyak yang bisa kita capai, tetapi juga bagaimana niat kita dalam melakukan aktivitas tersebut. Ketika seorang muslim berniat untuk bekerja keras dengan tujuan mencari rida Allah dan memberi manfaat bagi orang lain, maka setiap pekerjaannya akan bernilai ibadah.

Fokus terhadap akhirat, namun tidak melupakan kehidupan di dunia

Islam mengajarkan bahwa seorang muslim harus fokus untuk mengumpulkan bekal ke akhirat, namun tidak melupakan bagian dari urusannya di kehidupan dunia. Oleh karena itu, produktivitas tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi semata, tetapi juga dari persiapan menuju kehidupan setelah mati. Allah Ta’ala berfirman,

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al-Qasas: 77)

Seorang muslim produktif adalah mereka yang fokus menunaikan kewajiban ibadah, seperti salat, puasa, dan sedekah, namun tidak melupakan tanggung jawab duniawi, seperti bekerja dan mencari nafkah. Bahkan, bekerja dan mencari nafkah pun diniatkan untuk ibadah dan agar tidak meminta-minta.

Mengembangkan potensi diri

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَامًا، وَلَكِنْ وَرَّثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang besar.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Produktivitas seorang muslim dapat tercermin dari semangatnya dalam menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu dunia yang bermanfaat. Dengan ilmu yang dimiliki, seorang muslim dapat memberikan manfaat lebih besar bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan agamanya.

Berdoa dan bertawakal

Selain berusaha dengan maksimal, seorang muslim harus selalu menyertai usahanya dengan doa dan tawakal. Berdoa menunjukkan bahwa kita menyadari bahwa segala usaha dan hasilnya berada dalam kehendak Allah. Tawakal, atau berserah diri kepada Allah setelah berusaha, adalah bentuk kepasrahan seorang hamba yang yakin bahwa apapun hasilnya adalah yang terbaik dari Allah Ta’ala.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب

“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS Asy-Syarh: 7-8)

Menghindari kemalasan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengajarkan umatnya untuk menghindari sifat malas. Dalam sebuah doa, beliau memohon kepada Allah agar dijauhkan dari sifat malas,

اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَـمِّ وَالْحَزَنِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْـِز وَاْلكَسَلِ .وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُـبْنِ وَالْبُخْـلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَتِ الدَّيْنِ وَقَـهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan dukacita; aku berlindung kepada-Mu dari lemah kemauan dan malas; aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir; aku berlindung kepada-Mu dari tekanan utang dan kezaliman manusia.” (HR. Abu Dawud, 4: 353)

Seorang muslim yang produktif harus mampu melawan rasa malas dan senantiasa aktif dalam melakukan kebaikan. Rasa malas adalah penghalang utama dalam produktivitas, dan Islam mengajarkan pentingnya disiplin dan kerja keras.

Kesimpulan

Menjadi muslim yang produktif berarti menjadi seseorang yang mampu memanfaatkan waktu dan potensi yang diberikan oleh Allah dengan sebaik-baiknya. Produktivitas dalam Islam tidak hanya diukur dari seberapa banyak hal yang bisa dicapai, tetapi juga dari bagaimana setiap aktivitas yang dilakukan membawa manfaat dan bernilai ibadah. Dengan niat yang lurus, usaha yang maksimal, doa, dan tawakal kepada Allah, seorang muslim dapat mencapai produktivitas yang optimal, baik dalam urusan dunia, lebih-lebih dalam urusan akhirat.

Semoga Allah ‘Azza Wajalla menjaga hidayah dan keistikamahan kita, mengaruniakan keberkahan dan keikhlasan dalam setiap amal yang kita perbuat. Dan jangan lupa untuk senantiasa berdoa dan meminta perlindungan pada Allah agar kita terhindar dari fitnah dan syubhat akhir zaman yang marak di sekitar lingkungan kita, terutama maksiat yang diumbar dan dosa-dosa yang ditampakkan. Semoga kita dimudahkan dan dimampukan dalam menjaga niat diri ikhlas menjadi insan yang semakin bertakwa dan mengimani setiap syariat dan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

***

Penulis: Kiki Dwi Setiabudi

Sumber: https://muslimah.or.id/19217-menjadi-manusia-produktif-dalam-perspektif-islam.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

WAKIL-WAKIL IBLIS DI MUKA BUMI

Kajian atau majelis ilmu yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah dakwah yang mengajak kepada jalan Allah ﷻ.

Barangsiapa menggembosinya, mencegahnya atau membubarkannya, maka sama saja ia menghalang-halangi manusia dari jalan Allah ﷻ.

Dan itulah yang diinginkan oleh Iblis, agar manusia tidak memahami agama dengan baik sehingga mudah disesatkan.

Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,

اعلم أن أول تلبيس إبليس عَلَى الناس صدهم عَنِ العلم لأن العلم نور فَإِذَا أطفا مصابيحهم خبطهم فِي الظُلَم كيف شاء

“Ketahuilah bahwa, perangkap iblis pertama atas manusia adalah menghalangi mereka menuntut ilmu agama, karena ilmu adalah cahaya, apabila telah padam lentera-lentera mereka maka dengan mudah Iblis menjerumuskan mereka dalam kegelapan.” [Talbis Iblis, Pasal Perangkap Iblis Terhadap Kaum Sufi: 283]

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

نواب ابليس في الارض وهم الذي يثبطون الناس عن طلب العلم والتفقه في الدين فهؤلاء أضر عليهم من شياطين الجن فانهم يحولون بين القلوب وبين هدى الله وطريقه

“Wakil-wakil iblis di muka bumi adalah mereka yang menghalang-halangi manusia menuntut ilmu dan berusaha memahami agama, maka mereka itu lebih berbahaya bagi manusia dari setan-setan jin, karena mereka memalingkan hati-hati manusia dari petunjuk Allah dan jalan-Nya.” [Miftah Daris Sa’adah, 1/160]

MENGHALANGI MANUSIA DARI JALAN ALLAH ﷻ ADALAH SIFAT ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN

Allah ﷻ berfirman,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: Wahai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi orang-orang yang telah beriman dari jalan Allah, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan? Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” [Ali Imron: 99]

Allah ﷻ juga berfirman,

ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَصَدُّوا۟ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ زِدْنَٰهُمْ عَذَابًا فَوْقَ ٱلْعَذَابِ بِمَا كَانُوا۟ يُفْسِدُونَ

“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” [An-Nahl: 88]

Allah ﷻ juga berfirman,

وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْـَٔوْنَ عَنْهُ ۖ وَإِن يُهْلِكُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.” [Al-An’am: 26]

Read more https://taawundakwah.com/aqidah/wakil-wakil-iblis-di-muka-bumi/

Menegur Anak dengan Kelembutan

Menegur atas sebagian kesalahan, dan memberikan toleransi atas kesalahan yang lain

Anak-anak masih memiliki keterbatasan akal sesuai dengan perkembangan usianya. Oleh karena itu, seorang anak hendaknya tidak selalu disalahkan atas semua yang dia lakukan. Artinya, tidak semua kesalahan harus dipermasalahkan. Akan tetapi, kita perlu memberikan toleransi atau membiarkan atas sebagian tingkah laku yang dilakukan sang anak. Dan menegur sang anak jika memang perbuatan tersebut memang harus diberikan teguran, misalnya jika perbuatan tersebut berbahaya. Menegurnya pun tentunya dengan bahasa yang lembut, karena masih anak-anak.

Allah Ta’ala telah memberikan gambaran bahwa anak-anak itu kurang (tidak sempurna) akalnya, sebagaimana halnya wanita. Hal ini sebagaimana penjelasan jumhur (mayoritas) ulama ahli tafsir ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala,

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (QS. An-Nisa’ [4]: 5)

Demikianlah praktik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menegur istri beliau, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ

“Dan ingatlah ketika nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad, lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan (membiarkan) sebagian yang lain (kepada Hafsah).” (QS. At-Tahrim [66]: 3)

Demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menegur istrinya. Yaitu, beliau menegur sebagian kesalahan saja, dan memberikan toleransi atas kesalahan yang lain. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan dalam kitab beliau, Fiqh Ta’aamul baina Zaujain (Fiqh interaksi antara suami dan istri), bahwa jika seorang istri memiliki sepuluh kesalahan misalnya, tegurlah lima atau enam kesalahan saja, kurang lebihnya demikian, dan biarkan (tidak menegur) sisa kesalahan yang lainnya.

Ini pula yang perlu dilakukan ketika menegur anak-anak kita yang masih kecil. Tidak semua kesalahan harus ditegur. Selain itu, di antara bentuk lemah lembut dalam memberikan teguran kepada sang anak adalah membiarkan sang anak ketika dia baru melakukan kesalahan tersebut sekali itu. Karena siapa tahu, tanpa kita tegur, sang anak bisa kemudian berpikir dan menyadari kesalahannya. Namun jika kesalahan tersebut berulang, apalagi jika ada indikasi sang anak sulit ditegur atau diluruskan, maka hendaknya diberikan teguran yang baik dan terus-menerus, yang tidak menyakiti sang anak.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

خَدَمْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ، وَاللهِ مَا قَالَ لِي: أُفًّا قَطُّ، وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا؟ وَهَلَّا فَعَلْتَ كَذَا؟

“Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengatakan kepadaku “uff” sama sekali. Beliau juga tidak pernah sekalipun mengatakan kepadaku, mengapa Engkau melakukan hal itu? Atau (mengatakan), seharusnya Engkau (Anas) melakukan ini dan itu.” (HR. Bukhari 2768 dan Muslim no. 2309)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak Anas berusia sepuluh hingga dua puluh tahun. Artinya, ketika usia Anas sekitar sepuluh-an tahun, beliau masih anak-anak. Hal ini menunjukkan mulianya akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak.

Namun hal ini tidaklah berarti bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menegur sama sekali. Kami telah menceritakan hadits tentang teguran Nabi kepada ‘Umar bin Abu Salamah radhiyallahu ‘anhuma ketika makan, sebagaimana yang dapat dilihat di seri ke-40 tulisan ini.

Ayah dan ibu bukanlah manusia yang ma’shum

Akan tetapi, kita harus menyadari bahwa diri kita bukanlah manusia yang ma’shum, karena tentu saja kita terkadang berbuat salah. Kita terkadang bersikap keras kepada anak, padahal perkaranya membutuhkan kelembutan. Terkadang kita mencaci maki atau mencela sang anak, padahal perkaranya tidaklah membutuhkan cacian dan makian. Jika hal itu yang terjadi, maka segeralah kita memperbaiki keadaan tersebut sebagai orang orang tua dengan melakukan dua hal berikut ini.

Pertama, kita menghibur dan menyenangkan jiwa sang anak atas apa yang telah terjadi. Sehingga hatinya merasa tenang dan tidak diliputi dengan ketakutan.

Kedua, kita meminta maaf kepada sang anak atas apa yang telah kita lakukan, dengan gaya penyampaian yang baik, yang tidak mengurangsi kewibawaan kita sebagai orang tua, namun tetap menjaga hak-hak anak sebagai pihak yang telah kita dzalimi.

Sebagaimana kita mengajarkan kepada anak-anak kita untuk saling memaafkan, misalnya sang adik memaafkan sang kakak jika sang kakak berbuat kesalahan, demikian juga, kita pun mencontohkan dengan tidak segan meminta maaf kepada mereka jika kita sebagai orang tua berbuat kesalahan dan kedzaliman kepada mereka.

***

Diselesaikan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 8 Jumadil akhir 1439/ 26 Februari 2018

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Sumber: https://muslimah.or.id/10133-parenting-islami-bag-42.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Qana’ah: Kunci Syukur dalam Kehidupan

Di tengah gempuran fenomena flexing (pamer kekayaan) yang terjadi di zaman media sosial saat ini, keimanan seorang mukmin sangatlah diuji. Bagaimana tidak, di saat sebagian orang menghalalkan segala cara untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, seorang mukmin haruslah berpegang teguh pada syariat agamanya. Dia hanya mencari penghidupan pada jalan yang telah Allah halalkan baginya, meskipun terkadang jalan tersebut lebih sukar dan membutuhkan lebih banyak kesabaran.

Pada saat ini juga, rasa syukur seorang mukmin diuji. Bagaimana ia tetap menghaturkan rasa syukurnya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala yang telah mengaruniakan kepadanya, bukan hanya nikmat berupa harta, namun juga nikmat keimanan, kesehatan, dan kemudahan dalam menjalankan syariat agamanya, yang kebanyakan manusia lalai dari nikmat-nikmat ini dan tenggelam dalam pembangkangannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka rasa qana’ah adalah kunci untuk menghadapi semua gempuran ujian ini. Merasa cukup dan menutup sikap tamak kepada manusia, tidak menengok apa yang ada di tangan mereka, serta tidak ambisius dalam mengumpulkan harta.

Dalam Shahih Muslim, dari ‘Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بمَا آتَاهُ

Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rizki yang cukup, dan Allah membuatnya qana’ah dengan apa yang Dia berikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1053, at-Tirmidzi no. 2347, Ibnu Majah no. 4138)

Dalam hadis dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْقَنَاعَةُ مَالٌ لَا يَنْفَذُ

Qana’ah adalah harta yang tidak habis.” (Dhaif sekali, diriwayatkan oleh al-Qudha’i dari Anas, dan hadis ini tercantum dalam Dha’if alJami’ no. 4140)

Kiat untuk meraih qana’ah

Pondasi untuk meraih sifat qana’ah adalah sabar, ilmu, dan amal. Dan ini terinci dalam lima perkara:

1) Seimbang dalam hidup dan mencukupkan diri dengan apa yang ada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ

“Tidak akan miskin orang yang bersikap sederhana.” (HR. Ahmad no. 4270, dari Ibnu Mas’ud, Dha’if alJami’ no. 5100, 5101 dan asSilsilah adhDha’ifah no. 611)

 Dalam hadis yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلتَّدْبِيرُ نِصْفُ الْعَيْشِ

“Pengaturan adalah setengah penghidupan.” (HR. Ad-Dailami dan ath-Thabari dalam alMu’jam ashShagir dari hadis Anas dan al-Qudha’i dari hadis ‘Ali. Tercantum dalam asSilsilah adhDha’ifah no. 1560 dan Dha’if alJami’ ashShagir no. 2506)

2) Tidak mencemasi masa depan dan meyakini bahwa apa yang telah ditetapkan untuknya berupa rezeki akan datang kepadanya secara pasti. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوْعِي، أَنَّهُ لَيْسَ مِنْ نَفْسٍ تَمُوْتُ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا وَأَجَلَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ، وَلَا يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتِبْطَاءَ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعَاصِي اللهِ ، فَإِنَّهُ لَا يُدْرِكُ عِنْدَ اللهِ إِلَّا بِطَاعَتِهِ

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan ke dalam jiwaku bahwa sebuah jiwa tidak mati sebelum dia genap (menyelesaikan) ajal dan rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan baguskanlah dalam mencari (rezeki). Jangan sampai terlambatnya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan mendurhakai Allah, karena apa yang ada di sisi Allah tidak didapatkan, kecuali dengan ketaatan kepadaNya.” (Shahih alJami’ no. 2085 dan asSilsilah ashShahihah no. 2866)

3) Menyadari bahwa qana’ah memberikan kemuliaan, sebaliknya ketamakan dan ambisi mendatangkan kehinaan. Sebagian ahli hikmah mengatakan, “Anda senantiasa mulia selama Anda berselimut sikap qana’ah.”

4) Hendaknya melihat kepada sejarah kehidupan para nabi, para kekasih Allah, dan orang-orang salih. Ini akan meringankan beban sabar di atas yang sedikit dan qana’ah terhadap yang sederhana. Ingatlah bahwa ketika ia menikmati makan, maka hewan itu makan lebih banyak. Dan ketika ia menikmati wanita, maka burung jantan lebih sering daripada dirinya.

5) Dalam perkara dunia, kita dituntut untuk senantiasa memandang kepada yang lebih rendah. Adapun dalam urusan agama, maka kita melihat kepada yang di atas hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada orang yang di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang di atas kalian. Karena hal itu lebih patut bagi kalian untuk tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.” (HR. Bukhari no. 6490, Muslim no. 2963, at-Tirmidzi no. 2513, dan Ibnu Majah no. 4142)

Hendaknya setiap orang menyadari bahwa harta memiliki resiko yang berbahaya dan penawar racunnya adalah mengambil kadar yang cukup darinya dan memanfaatkan sisanya pada jalan-jalan kebaikan. Ingatlah bahwa kesabaran di dunia hanyalah hari-hari yang sedikit dalam rangka meraih kenikmatan abadi, seperti orang sakit yang sabar meminum obat yang pahit karena berharap kesembuhan bagi dirinya.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Maqdisy, Ibnu Qudamah. 2000. Mukhtashar MinhajuQashidin(I. Karimi, Terjemahan). Jakarta: Penerbit Darul Haq.

Sumber: https://muslimah.or.id/19336-qanaah-kunci-syukur-dalam-kehidupan.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id