Shaf Shalat Terbaik

Berlomba-lomba dalam mendapatkan shaf terdepan.

Hadits #1084

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( خيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا ، وَشَرُّهَا آخِرُهَا ، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا ، وَشَرُّهَا أوَّلُهَا )) رَوَاهُ مُسلِمٌ

 Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baiknya shaf laki-laki adalah yang pertama, dan sejelek-jeleknya adalah yang terakhir. Sedangkan sebaik-baiknya shaf perempuan adalah yang terakhir dan yang paling jeleknya adalah yang pertama.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 440]

Faedah hadits:

  1. Disunnahkan bagi laki-laki untuk hadir lebih awal ke masjid supaya bisa mendapatkan shaf pertama.
  2. Disunnahkan bagi wanita untuk hadir belakangan agar bisa mendapatkan shaf terakhir. Hal ini dinyatakan oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly hafizahullah.
  3. Islam mengajarkan untuk menjauhi pergaulan yang terlalu bebas dengan lawan jenis.
  4. Wanita hendaknya keluar lebih dahulu dari masjid sebelum laki-laki agar tidak bersinggungan dengan lawan jenis (terjadi ikhtilath).

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِى تَسْلِيمَهُ ، وَيَمْكُثُ هُوَ فِى مَقَامِهِ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ . قَالَ نَرَى – وَاللَّهُ أَعْلَمُ – أَنَّ ذَلِكَ كَانَ لِكَىْ يَنْصَرِفَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika salam dari shalat, para jama’ah wanita kala itu berdiri. Beliau tetap duduk di tempat beliau barang sebentar sebelum beranjak. Kami melihat –wallahu a’lam– hal itu dilakukan supaya wanita bubar lebih dahulu sebelum berpapasan dengan para pria.” (HR. Bukhari, no. 870)

  1. Makmum laki-laki lebih dekat dengan imam. Kesimpulan lainnya, makmum perempuan tidak boleh di depan jamaah laki-laki dalam shalat berjamaah.
  2. Laki-laki lebih kuat dalam menyampaikan risalah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibanding perempuan. Karenanya laki-laki ditempatkan di depan dan shaf terdepan adalah yang terbaik untuk mereka.

Hadits #1085

وَعَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَأَى فِي أَصْحَابِهِ تَأَخُّراً ، فَقَالَ لَهُمْ : (( تَقَدَّمُوا فَأتَمُّوا بِي ، وَلْيَأتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ ، لاَ يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللهُ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat di antara para sahabatnya ada yang terlambat, maka beliau bersabda kepada mereka, “Majulah kalian, ikutilah aku dan hendaklah orang setelah kalian mengikuti kalian. Satu kaum terus-menerus terlambat sampai Allah pun mengakhirkan mereka.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 438]

Faedah hadits:

  1. Semangatnya rasul dalam mengajarkan ilmu.
  2. Siapa yang telat dalam meraih ilmu dan mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga telat dalam menjauhi maksiat, maka Allah akan mengakhirkan dia dari rahmat dan pahala yang besar.
  3. Bolehnya mengikuti orang yang menyampaikan suara imam ketika orang di belakang tidak melihat dan mendengar imam secara langsung atau makmum di belakang bisa mengikuti orang yang berada pada shaf di depannya.

Hadits #1086

وَعَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلاَةِ ، وَيَقُولُ : (( اِسْتَوُوْا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ ، لِيَلِيَنِي مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ )) رَوَاهُ مُسلِمٌ

Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengusap pundak-pundak kami ketika shalat dan berkata, “Luruskanlah dan janganlah berselisih, sehingga berselisih pula hati-hati kalian. Hendaklah orang-orang yang dewasa dan berakal (yang punya keutamaan) dekat denganku, lalu diikuti orang-orang setelah mereka, lalu orang-orang setelah mereka.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 432].

Faedah hadits:

  1. Shaf yang lurus menunjukkan bersatunya umat. Berarti menunjukkan pentingnya persatuan di atas akidah yang benar dan dibencinya perpecahan.
  2. Berbeda dalam lahiriyah (wujudnya tidak lurusnya shaf) bisa menunjukkan adanya perselisihan dalam batin. Ini menunjukkan pengaruhnya lahiriyah pada batin, begitu pula sebaliknya.
  3. Hendaknya yang berada di dekat imam adalah para penghafal Al-Qur’an dan orang berilmu yang paham Al-Qur’an dan As-Sunnah kemudian orang yang di bawah itu dan seterusnya.
  4. Orang berilmu yang paham Al-Qur’an dan As-Sunnah punya keutamaan sehingga ia lebih didahulukan menjadi imam dibanding lainnya.

Referensi:

Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:256-258.

Disusun di Perpus Rumaysho, 14 Jumadal Ula, Rabu pagi

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/17101-shaf-shalat-terbaik.html

Anjuran Menyembelih dengan Tangan Sendiri Hewan Qurbannya

Termasuk sunnah jika shahibul qurban menyembelih dengan tangan sendiri hewan yang diqurbankan. Mungkin selama ini kita sering melihat penyembelihan hewan qurban dilakukan oleh tukang jagal secara bersamaan dan kolektif. hal ini boleh saja karena ini termasuk hukum mewakilkan yang boleh, akan tetapi jika shahibul qurban mampu dan tidak ada udzur, sebaiknya ia yang menyembelih dengan tangannya sendiri hewan qurbannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyembelih sendiri hewan qurbannya. Dari sahabat Anas bin Malik, beliau berkata,

ﺿَﺤَّﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺑِﻜَﺒْﺸَﻴْﻦِ ﺃَﻣْﻠَﺤَﻴْﻦِ ﺃَﻗْﺮَﻧَﻴْﻦِ ﺫَﺑَﺤَﻬُﻤَﺎ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻭَﺳَﻤَّﻰ ﻭَﻛَﺒَّﺮَ ﻭَﻭَﺿَﻊَ ﺭِﺟْﻠَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺻِﻔَﺎﺣِﻬِﻤَﺎ

“Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor kambing yang putih kehitaman (bercampur hitam pada sebagian anggota tubuhnya), bertanduk, beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, beliau mengucapkan bismillah serta bertakbir dan meletakkan kaki beliau di badan kedua hewan tersebut.”[1]

Ulama menjelaskan dari hadits bahwa jika menyembelih dengan tangannya sendiri ini lebih baik. Ibnu Qudamah menjelaskan,

ﻭَﺇِﻥْ ﺫَﺑَﺤَﻬَﺎ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻓْﻀَﻞَ ؛ ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺿَﺤَّﻰ ﺑِﻜَﺒْﺸَﻴْﻦِ ﺃَﻗْﺮَﻧَﻴْﻦِ ﺃَﻣْﻠَﺤَﻴْﻦِ ، ﺫَﺑَﺤَﻬُﻤَﺎ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ، ﻭَﺳَﻤَّﻰ ﻭَﻛَﺒَّﺮَ ، ﻭَﻭَﺿَﻊَ ﺭِﺟْﻠَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺻِﻔَﺎﺣِﻬِﻤَﺎ

“Jika ia menyembelih qurbannya dengan tanggannya sendiri maka ini lebih baik, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih 2 kambing yang bertanduk indab menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, beliau mengucapkan bismillah serta bertakbir dan meletakkan kaki beliau di badan kedua hewan”[2]

Dengan menyembelih sendiri ada beberapa hikmah di antaranya

  1. Shahibul qurban menyembelih sendiri dan melaksanakan sendiri ibadah qurban tersebut
  2. Shahibul qurban langsung merasakan dan menjalani ibadah qurban dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sehingga lebih berbekas atsar ibadah tersebut
  3. Shahibul qurban lebih yakin dengan mengucapkan sendiri “ikrar” qurban yaitu “Dari fulan” dengan menyebut namanya

Akan tetapi jika tidak mampu menyembelih sendiri atau ada udzur, maka boleh diwakilkan. Misalnya diwakilkan kepada tukang jagal.

Ibnu Qudamah melanjutkan penjelasan,

ﻓَﺈِﻥْ ﺍﺳْﺘَﻨَﺎﺏَ ﻓِﻴﻬَﺎ ، ﺟَﺎﺯَ ؛ ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍﺳْﺘَﻨَﺎﺏَ ﻣَﻦْ ﻧَﺤَﺮَ ﺑَﺎﻗِﻲَ ﺑُﺪْﻧِﻪِ ﺑَﻌْﺪَ ﺛَﻠَﺎﺙٍ ﻭَﺳِﺘِّﻴﻦَ . ﻭَﻫَﺬَﺍ ﻟَﺎ ﺧﻼﻑ ﻓِﻴﻪِ . ﻭَﻳُﺴْﺘَﺤَﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳَﺤْﻀُﺮَ ﺫَﺑْﺤَﻬَﺎ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ . ﺍﻟﻤﻐﻨﻲ ‏( 13/389 390- ‏) ﺑﺎﺧﺘﺼﺎﺭ

“Jika ia mewakilkan penyembelihan hukumnya boleh karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewakilkan sisa unta (yang belum disembelih) setelah sembelihan ke 63. Ini tidak ada khilaf ulama dan disunnahkan ia menghadiri/melihat proses penyembelihan tersebut.”[3]

Jika kita mewakilkan penyembelihan, dianjurkan kita agar meghadiri proses penyembelihan. Apabila ada udzur tidak bisa hadir, hukumnya tidak mengapa. Yang terpenting ia sudah berniat ikhlas beribadah dan berqurban.

Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,

ﻭﺛﻮﺍﺏ ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﺒﺮﻋﺎً ﻳﺘﻨﺎﻭﻝ ﻛﻞ ﻣﻦ ﻧُﻮﻱ ﻓﻴﻬﺎ ، ﻭﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﺤﻀﺮ

“Pahala berqurban jika ikhlas, ia akan mendapatkan semua yang diniatkan walaupun ia tidak menghadiri proses penyembelihan tersebut.[4]

Demikian semoga bermanfaat

@Yogyakarta Tercinta

Penulis: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[2] Al-Mughni 13/389-390
[3] Idem
[4] Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah 10/441

sumber: https://muslim.or.id/31899-anjuran-menyembelih-dengan-tangan-sendiri-hewan-qurbannya.html

Memahami Sifat Dasar Laki-Laki: CUEK

Kasus pertama

Istri: “Papa ga protes ni, rumah berantakan kayak kapal pecah?”

Suami: “biasa aja tuh, yang penting ada tempat buat baringkan punggung”

Kasus kedua

Neng: “kank, tahu ga, ibu yang di sebelah rumah bla bla bla, trus ada anaknya itu idiih bla bla bla, dan ternyata suaminya malah bla bla bla, eh eh mertuanya yang bla bla bla.”

Suami: “oh gitu ya, nanti juga mereka tau sendiri akibatnya.” (sambil tetap fokus di laptop dan minum kopi)

Kasus ketiga

Mamah: “pah, ntar kalo kita udah punya rumah, mamah yang atur desain kamarnya ya, kamarnya warna bla bla, trus harus ada taman kecil di belakang, trus di depan harus ada pohon mangga ama jambu, trus kalo bisa buat kolam ikan kecil ya, gimana menurut papah?”

Papah: “oke dah ma, diatur aja”

Kasus keempat

“mas, kok gak care banget sih, sengaja saya ga pake cincin mahar nikah kita, supaya mas nanya-nanya dan perhatian, ini khan cincin kawin kita …”

Sosok laki-laki yang kebanyakan cuek

Sosok laki-laki identik dengan sifat dasar mereka sebagimana yang diungkapkan oleh para psikologi dan ahli sifat manusia, yaitu cuek, mengutamakan logika, praktis, harga diri, berpikir masa akan datang, menaklukkan, mengutamakan hasil dan berpikir global. Namun kumpulan sifat ini, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya memang diciptakan agar kelak bisa menjadi pemimpin. Minimal menjadi pemimpin dalam rumah tangganya. Allah Ta’ala berfirman

,الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka.” (QS. An Nisa’: 34)

Salah satu sifat yang kita sorot disini adalah cuek. Mungkin sesama laki-laki tidak terlalu bisa melihat kontrasnya sifat ini. Karena jelas, mereka sama-sama cuek. Bisa kita lihat jika kita masuk ke asrama atau wiswa laki-laki, maka pandangan tidak biasa di mata wanita akan nampak, seperti lantai yang setengah bersih, panci kotor diatas kompor, handuk di atas kursi dan sepatu dengan kaos kaki berserakan di depan pintu. Tetapi para laki-laki sepertinya santai saja dan sudah biasa yang seperti ini.

Bagi yang sudah berumah tangga, maka mereka bisa melihat bagaimana protes para istri terhadap sikap cuek para suami, mulai dari tidur mendengkur tengah malam di saat anak bangun menangis. Cuek dengan curhat para istri dengan berkata, “sudah, ga apa-apa; sudah, tenang aja; wah kayak gini gampang”. Dan umumnya cuek dengan penampilan dirinya. Padahal wanita sangat jauh dari sikap cuek alias sensitif dan perhiasannya adalah perhatian.

Yang lebih kita sorot lagi adalah cuek terhadap penampilannya. Jangan salahkan sepenuhnya para istri jika mereka menyambut para suami yang pulang dengan baju lusuh, agak bau dapur dan tidak berhias. Lha wong suami kalau di rumah juga biasanya sarungan plus kaos putih lusuh kayak penjual-penjual di pinggir jalan, rambut jarang disisir, pakai parfum hanya keluar rumah saja. Dan yang kurang adil adalah suami jarang membelikan istri pakaian yang bagus-bagus, pakaian dengan mode terkini dan pakaian yang [maaf] agak menggoda serta jarang membelikan parfum pilihannya buat istrinya. Tentu dengan catatan dipakai di rumah untuk dipersembahkan bagi para suami mereka.

Solusi bersama

Mudahan dengan mengerti sifat dasar laki-laki ini wanita bisa lebih bijaksana menyikapi dan laki-laki juga lebih bijaksana memperbaiki dan begitu juga sebaliknya. Solusi dari itu semua adalah komunikasi dan keterbukaan. Dalam hal ini laki-laki lebih banyak memegang kunci, karena laki-laki lebih diberi ketenangan dengan kecuekannya dalam menghadapi permasalahan. Laki-laki yang lebih dulu mengajak untuk bermusyawarah kecil. Musyawarahkanlah apa yang diinginkan suami dan apa yang diinginkan istri dan apa yang diperlu sama-sama diperbaiki serta apa-apa yang masih bisa ditolerir dan mentok sudah tidak bisa ditolerir lagi. Allah Ta’ala berfirman,

وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya” [Ali-Imran : 159]

Dan merupakan kebiasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermusyawarah dengan istri beliau, saling curhat dan bertukar pikiran. Kita lihat contoh ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan wahyu pertama kali dan pulang ke rumah istri beliau khadijah radhiallahu ‘anha dengan hati yang bergetar bercampur rasa takut, kemudian beliau meminta diselimuti dan berkata,

لَقَدْ خَشِيْتُ عَلَى نَفْسِيْ

“Sungguh aku mengkhawatirkan diriku (akan binasa).”

Khadijah radhiallahu ‘anha pun menghibur suaminya,

كَلاَّ وَاللهِ، مَا يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْـمَعْدُوْمَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Tidak demi Allah! Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Engkau seorang yang menyambung silaturahim, menanggung orang yang lemah, memberi kecukupan/kemanfaatan pada orang yang tidak berpunya, suka menjamu tamu, dan menolong kejadian yang haq.”[1]

Imam Nawawi rahimahullahu menjelaskan perkataan Khadijah yang sangat menghibur suaminya,

(قال العلماء رضي الله عنهم معنى كلام خديجة رضي الله عنها إنك لا يصيبك مكروه لما جعل الله فيك من مكارم الأخلاق وكرم الشمائل

“Para ulama radhiallahu ‘anhum berkata, “Makna dari ucapan Khadijah radhiallahu ‘anha ini adalah engkau tidak akan ditimpa perkara yang jelek /tidak disukai karena Allah menjadikan pada dirimu akhlak yang mulia dan perangai yang utama.”[2]

Begitu juga curhat beliau kepada kepada Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengenai para Sahabat yang belum mau menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut ketika mereka tidak jadi melakukan haji tahun tersebut karena perjanjian dengan musyrikin Mekkah. Kemudian istrinya berkata,

يَا نَبِيَّ اللهِ، أَتُحِبُّ ذلِكَ؟ اُخْرُجْ، ثُمَّ لاَ تُكَلِّمْ أَحَدًا مِنْهُمْ حَتَّى تَنْحَرَ بُدْنَكَ، وَتَدْعُو حَالِقَكَ فَيحْلِقَكَ

“Wahai Nabiullah! Apakah engkau ingin mereka melakukan apa yang engkau perintahkan? Keluarlah, lalu jangan engkau mengajak bicara seorang pun dari mereka hingga engkau menyembelih sembelihanmu dan engkau memanggil tukang cukurmu lalu ia mencukur rambutmu.”[3]

Maka para sabahat langsung mengikuti beliau.

Kebiasaan bercengkrama bersama istrinya sebelum tidur

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bercengkrama bersama istrinya sebelum tidur. Saling berbagi, saling curhat dan mencari solusi bersama.

Kami sebutkan salah satu contoh saja dari sekian banyak contoh, yaitu kisah abu dan ummu Zar’ merupakan kisah yang panjang diceritakan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkan dengan seksama dan memberikan beberapa komentar mengenai kehangatan dan romantisme kisah mereka. Beliau berkata.

Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Aisyah,

كُنْتُ لَكِ كَأَبِي زَرْعٍ لِأُمِّ زَرْعٍ إِلاَّ أَنَّ أَبَا زَرْعٍ طَلَّقَ وَأَنَا لاَ أُطَلِّقُ

“Aku bagimu seperti Abu Zar’ seperti Ummu Zar’ hanya saja Abu Zar’ mencerai dan aku tidak mencerai”[4]

kemudian Aisyah radhiallahu ‘anha membalas dengan romanntis lagi,

يَا رَسُوْلَ اللهِ بَلْ أَنْتَ خَيْرٌ إِلَيَّ مِنْ أَبِي زَرْعٍ

“Wahai Rasulullah, bahkan engkau lebih baik kepadaku dari pada Abu Zar’”[5]

Semoga kita bisa menerapkannya, karena memang menerapkan tidak semudah teori.

Demikian semoga bermanfaat

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

@Gedung Radiopoetro FK UGM, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan follow twitter

[1] HR. Al-Bukhari no. 3 dan Muslim no. 401

[2] Al-Minhaj 2/202, Darul Ihya’ut Turots, cet. Ke-2, asy-Syamilah

[3] HR. Al-Bukhari no. 2731, 2372

[4] HR At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir XXIII/173 no 270

[5] HR An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubro V/358 no 9139

sumber: https://muslimafiyah.com/memahami-sifat-dasar-laki-laki-cuek.html

Masa Muda yang DipertanggungJawabkan

Masa muda adalah masa mencari jati diri, masa membuktikan eksistensi, masa mencari perhatian dan masa penuh semangat dan bergairah, akan tetapi dibalik semangat ini perlu kontrol dan perlu pembinaan agar tidak berlebihan dan keluar dari bimbingan syariat. Dengan keunggulan dan kelebihan pada usia muda seperti semangat masih membara, tenaga masih kuat, pikiran masih fresh dan tekad yang kuat, masa muda akan diminta pertanggung jawabannya secara khusus. Perhatikan hadits berikut,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).”[1]

Usia akan ditanya dan diminta pertanggung jawaban untuk apa dihabiskan. Masa muda termasuk dalam usia, akan tetapi selanjutnya, masa muda kembali ditanyakan dan diminta pertanggung jawaban secara khusus. Oleh karena itu masa muda ini perlu benar-benar diperhatikan, terlebih pemuda adalah generasi penerus.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu berkata ,

والشباب في أي أمة من الأمم ، هم العمود الفقري الذي يشكل عنصر الحركة والحيوية إذ لديهم الطاقة المنتجة ، والعطاء المتجدد ، ولم تنهض أمة من الأمم غالبا إلا على أكتاف شبابها الواعي وحماسته المتجددة .

“Para pemuda pada setiap umat manapun, mereka adalah tulang punggung yang membentuk unsur pergerakan dan dinamisasi. Pemuda mempunyai kekuatan yang produktif, kontribusi yang terus menerus. Tidak akan bangkit suatu umat umumnya kecuali ada di pundak [ada kepedulian dan sumbangsih, pent] para pemuda yang punya kepedulian dan semangat menggelora.”[2]

Pujian bagi pemuda yang tumbuh dalam naungan Islam

Sangat luar biasa jika seorang pemuda dengan berbagai macam godaan dunia, mereka tetap teguh beragama dan istiqamah. Padahal pemuda masih cenderung terhadap dunia serta memiliki kemampuan dan semangat untuk meraihnya. Oleh karena itu pemuda seperti ini mendapat naungan Allah di hari yang sangat susah di hari kiamat kelak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ … وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ

“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …”[3]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah”[4]

Maksud “shabwah” adalah pemuda yang tidak mengikuti hawa nafsunya, dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan.

Hendaknya para pemuda mengisi waktu mereka dengan kegiatan positif atau mencari-cari kegiatan positif. Misalnya menghadiri majelis ilmu, menghapalkan Al-Quran dan sunnah, membuat kegiatan sosial dan lain-lainya. Tidak lupa juga segera mencari teman yang baik, teman bergaul yang baik dalam melaksanakan kegiatan tesebut agar bisa saling menopang dan saling menasehati. Pemuda masih sangat labil serta mudah terpengaruh dan terhasut oleh lingkungan dan pertemanan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المرء على دين خليله، فلينظر أحدكم من يخالل

“Seorang manusia akan mengikuti agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang darimu melihat siapa yang dijadikan teman dekatnya”[5]

Jika kita lihat pemuda di zaman sekarang, banyak banyak hal-hal aneh yang mereka lakukan. Misalnya saja sekelompok anak “punk”, memakai “tepong” cincin di hidung, lidah dan pusar, mewarnai rambut dan mengolah rambut dengan bentuk yang sangat aneh. Melakukan aksi kebut-kebutan di jalan dengan berbonceng empat, atau melakukan berbagai kegiatan aneh lainnya yang intinya adalah mencari perhatian dan mengisi waktu mereka sebagai dorongan hasrat jiwa muda mereka.

Salah satu penyebab kerusakan pemuda adalah kekosongan waktu alias tidak ada kegiatan yang bernilai positif. Jika tidak diisi dengan kegiatan positif, maka akan diisi dengan kegiatan negatif.

Ketika pemuda mengalami kekosongan waktu (kosong dari kegiatan positif), maka mereka mulai mulai mencari-cari kegiatan atau mengisinya dengan kegiatan yang paling minimal sia-sia dan kurang bermanfaat seperti nongkrong-nongkrong tidak jelas. Belum lagi ada yang merasa kurang perhatian baik dari keluarga dan temannya, maka ia akan melakukan hal-hal yang aneh, ajaib bahkan vulgar agar tetap eksis. Misalnya balap-balapan di jalan raya, membuat kerusuhan di sekolah bersama gengnya bahkan membuat video tidak layak dengan geng atau pasangan tidak halalnya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil”[6]

Inilah kaidah kehidupan, bahwa jika kita tidak mengisi kehidupan kita dengan kegiatan positif, kita tidak mencari kegiatan positif, maka pasti kita isi dengan kegiatan yang negatif atau minimal sia-sia dan kurang bermanfaat. Apalagi bagi seorang pemuda yang jiwanya masih bergelora.

Semoga Allah menjaga pemuda muslim dan muslimah

@ Gemawang, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Catatan kaki:[1] HR. At-Tirmidzi, Lihat Ash-Shahihah no. 946[2] Majmu’ Fatawa Bin Baz 27/274, Syamilah[3] HR. Bukhari no. 1357 dan Muslim no. 1031[4] HR Ahmad 2/263, dishahihkan leh syaikh Al-Albani dalam “ash-Shahiihah” no. 2843[5] HR Abu Dawud no. 4833,dihasankan oleh syaikh Al-Albani.[6] Al Jawabul Kaafi hal 156, Darul Ma’rifah, cetakan pertama, Asy-Syamilah

Sumber: https://muslim.or.id/33857-masa-muda-yang-dipertanggungjawabkan.html

Berusaha Menabung Untuk Berkurban

Ibadah kurban adalah salah satu syiar Islam yang agung dan merupakan amalan shalih yang sangat utama. Hal ini telah disyariatkan berdasarkan Al-Quran, sunnah, dan kesepakatan kaum muslimin. Allah berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (QS Al-Kautsar : 2)

Pada dasarnya, perintah berkurban ditujukan bagi orang yang mampu, di mana dia memiliki hewan kurban atau memiliki harta untuk membeli hewan kurban. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ, فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan rezeki, namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad no. 8273, Ibnu Majah no. 3123)

Meski demikian, motivasi berkurban ditujukan untuk semua kaum muslimin, bukan hanya orang kaya. Dahulu sebagian ulama bahkan rela berhutang demi melakukan ibadah ini, tentu dengan keyakinan mereka mampu untuk melunasinya. Mereka melakukan itu, sebab mereka yakin akan kebaikan dari ibadah sembelihan tersebut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam keadaan berada ataupun sedang mengalami kekurangan, beliau selalu berkurban setiap tahun. Walau memiliki gaya hidup sederhana, sejak hijrah dan bertempat tinggal di Madinah, beliau tidak pernah absen berkurban. Baginya, kurban adalah ibadah yang diupayakan setiap tahun, bukan ibadah yang dilakukan sekali seumur hidup, atau ibadah yang hanya dilakukan saat kaya saja.

Jika kita mampu untuk menabung demi membeli barang impian kita, bisa menabung demi memenuhi hobi kita, bisa menabung demi menikmati makanan kesukaan kita, mestinya kita bisa menabung untuk akhirat kita.

Jangan sampai enggan berkurban karena khawatir tak bisa menafkahi keluarga, khawatir kekurangan modal usaha, khawatir barang impian tidak jadi terbeli. Tak ada ceritanya orang menjadi miskin karena berkurban. Ingatlah janji Allah,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber: https://muslimafiyah.com/berusaha-menabung-untuk-berkurban.html

INILAH DUA DOSA YANG DISEGERAKAN HUKUMANNYA DI DUNIA

INILAH DUA DOSA YANG DISEGERAKAN HUKUMANNYA DI DUNIA

Rasulullah ﷺ bersabda:

اثنان يعجلهما الله في الدنيا: البغي وعقوق الوالدين

“Ada dua dosa yang akan disegerakan hukumannya oleh Allah di dunia:

• Perbuatan zalim dan

• Durhaka pada orang tua.” [Lihat as-Silsilah as-Shahihah no. 1120]

Hal ini dikarenakan terkabulnya doa orang tua, apalagi di saat orang tua terzalimi. Kemudian ia menengadahkan tangannya ke langit, mengadukan sakit hatinya kepada Allah, maka doa orang tua ini akan bergerak dan berhembus menuju angkasa, menembus awan, mencapai langit, dan diamini oleh para malaikat, kemudian Allah ﷻ mengabulkannya. Maka berhati-hatilah kita dari berbuat zalim dan durhaka kepada kedua orang tua!

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu:

• Doa orang tua,

• Doa orang yang bepergian (safar) dan

• Doa orang yang dizalimi.” [HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadis ini Hasan]

Rasulullah ﷺ bersabda:

Takutlah terhadap doa orang yang terzalimi, karena ia akan terbang di atas awan, kemudian Allah berkata: ‘Demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, Aku pasti menolongmu, meskipun setelah berlalunya waktu’. [Disahihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ : 117]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

Takutlah terhadap doa orang yang terzalimi, karena ia akan terbang menuju langit. [Disahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ : 118]

Hal ini juga menunjukkan betapa agungnya hak kedua orang tua kita, sampai-sampai Allah meletakkan kewajiban berbakti kepada kedua orang tua setelah kewajiban menyembah kepada-Nya. Allah ﷻ berfirman:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu memersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu. [QS. an-Nisa’ : 36]

sumber : https://nasihatsahabat.com/inilah-dua-dosa-yang-disegerakan-hukumannya-di-dunia/

Mengenali Diri Sendiri, Jalan Menuju Ketenangan Hati

Dalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia kerap tersesat bukan karena gelapnya jalan, tetapi karena tidak mengenal dirinya sendiri. Kita berjalan jauh, mencari makna ke berbagai arah, padahal kunci ketenangan itu bersemayam di dalam diri.

Saat seseorang mulai mengenali dirinya, ia tidak lagi asing dengan asal-usulnya, mengerti apa yang benar-benar ia butuhkan, dan mampu membedakan mana yang menguatkan serta mana yang perlahan merusaknya. Dari situlah lahir sebuah kompas batin yang menuntun langkah agar tidak mudah goyah oleh berbagai fitnah.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

مَنْ عرف نفسه بالضعف عرف ربه بالقوة، ومن عرفها بالعجز عرف ربه بالقدرة، ومن عرفها بالذل، عرف ربه بالعز، ومن عرفها بالجهل، عرف ربه بالعلم

“Barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Kuat.

Barang siapa mengenal dirinya sebagai tidak mampu, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Berkuasa.

Barang siapa mengenal dirinya sebagai hina, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mulia.

Barang siapa mengenal dirinya sebagai bodoh, maka ia akan mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mengetahui.” (Madarijus Salikin, 1: 427)

Mengenal diri bukan sekadar memahami kelebihan, tetapi juga berani menatap kelemahan dengan jujur. Dalam kejujuran itu, hati menjadi lebih lapang, lebih lembut, dan membuat kita menyadari kelemahan, kebutuhan, dan ketergantungan total kepada Allah Ta’ala.

Ada beberapa cara agar kita dapat mengenali diri sendiri lebih dalam.

Pertama, mengetahui unsur dasar penciptaan diri

Manusia adalah makhluk istimewa (mulia), diberi akal, diberi amanah, dan dijadikan khalifah di bumi. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ

“Sungguh Kami telah memuliakan anak Adam…” (QS. Al-Isra’: 70)

Kemuliaan itu bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah karena manusia diciptakan dari dua unsur besar, yaitu jasad dan ruh.

Unsur jasad (lahir)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah.” (QS. Ar-Rum: 20)

Jasad manusia berasal dari tanah, membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, istirahat, dan perawatan. Semua itu adalah tanda bahwa manusia lemah dan bergantung pada pemberian Allah.

Unsur ruh (batin)

Allah Ta’ala juga berfirman mengenai ruh,

وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu urusan Rabb-ku…” (QS. Al-Isra’: 85)

Ruh adalah tiupan kemuliaan dari Allah Ta’ala. Ia tidak terlihat, tidak tersentuh, tetapi ia yang menggerakkan hati, iman, dan arah hidup kita.

Oleh karena itu, siapa saja yang hanya memperhatikan jasadnya, tetapi membiarkan ruhnya kelaparan, ia telah merusak keseimbangan terhadap dirinya sendiri.

Kedua, mengenali kebutuhan pokok diri

Ketika kita telah mengetahui bahwa manusia diciptakan dari dua unsur (jasmani dan rohani), maka selanjutnya untuk bisa mengenal diri sendiri perlu juga untuk mengetahui kebutuhan pokok atas jasmani dan rohani tersebut.

Kebutuhan pokok jasad meliputi pangan (makanan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal), karena ketiganya adalah kebutuhan dasar yang membuat manusia mampu bertahan hidup.

Allah Ta’ala berfirman,

وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan…” (QS. Al-A‘raf: 31)

Oleh karena itu, kebutuhan jasad memang harus dipenuhi, namun tidak boleh dituruti secara berlebihan atau tanpa batas.

Kemudian adalah kebutuhan ruh. Ruh adalah inti kehidupan. Ia hidup bukan dari makan dan minum, tetapi dari ilmu dan ibadah.

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب. لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين. وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه

“Manusia lebih butuh kepada ilmu (agama), dibandingkan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Karena seseorang dalam sehari hanya membutuhkan makan dan minum sekali atau dua kali. Sedangkan ia membutuhkan ilmu dalam setiap helaan nafasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 440)

Tanpa ilmu, seseorang akan tersesat. Tanpa ibadah, ruh menjadi hampa. Allah Ta’ala menegaskan tujuan penciptaan manusia,

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Inilah makanan bagi ruh, yakni dengan salat, zikir, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan mendekat kepada Allah dalam setiap keadaan.

Ketiga, mengenali hal-hal yang merusak diri

Setelah mengetahui dari apa kita diciptakan dan apa kebutuhan utama diri, kita juga wajib mengenali apa saja yang dapat merusak kita, baik jasmani maupun rohani.

Hal-hal yang dapat merusak jasad di antaranya adalah mengonsumsi makanan haram atau berbahaya, melakukan kebiasaan yang merusak kesehatan, serta bersikap malas dan tidak menjaga amanah tubuh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari)

Sehingga jasad ini adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dan tidak boleh disia-siakan.

Selain perusak jasad, ada pula hal-hal yang merusak ruh. Kerusakan ruh jauh lebih berbahaya daripada kerusakan jasad, karena ruh adalah pusat keimanan, ketenangan, dan arah hidup. Jika ruh rusak, maka seluruh kehidupan ikut rusak. Berikut ini beberapa hal yang paling merusak ruh seorang hamba:

Dosa dan maksiat

Dosa adalah racun bagi hati. Setiap kali seseorang berbuat maksiat, maka ia sedang menambah noda yang menggelapkan hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)

Semakin banyak noda itu dibiarkan, semakin gelap hati seseorang, sehingga sulit menerima nasihat dan cahaya hidayah. Dosa membuat ruh melemah, iman menurun, dan hati menjadi keras.

Lalai dari zikir dan ibadah

Ruh yang tidak diberi makanan berupa zikir, doa, dan ibadah akan menjadi lemah seperti halnya jasad. Allah Ta’ala memperingatkan,

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)

Ketika seseorang melupakan Allah, ia kehilangan arah hidup. Ia lupa tujuan penciptaannya, lupa kewajibannya, dan akhirnya justru merugikan dirinya sendiri.

Syubhat, syahwat, dan hawa nafsu

Syubhat merusak pemikiran. Syahwat merusak keinginan dan tindakan. Hawa nafsu merusak keteguhan hati.

Tiga hal ini adalah musuh besar ruh. Allah Ta’ala menyebut bahwa mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan dari jalan yang benar,

وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ

“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)

Syubhat membuat seseorang ragu terhadap agama, syahwat membuatnya mudah tergelincir, dan hawa nafsu membuatnya membenarkan kesalahan.

Tidak menuntut ilmu agama

Hati tanpa ilmu akan kosong dan mudah disusupi kebodohan, syubhat, serta bisikan setan. Ilmu adalah cahaya, dan kebodohan adalah kegelapan. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ

“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)

Buruknya teman dan lingkungan

Ruh sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Teman yang buruk bisa menyeret seseorang kepada kelalaian dan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Lingkungan buruk membuat ruh sulit berkembang, sementara teman saleh adalah penolong bagi iman dan ketenangan hati.

Perjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulang

Mengenal diri bukan sekadar mengetahui kelemahan diri, tapi memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali. Allah Ta’ala berfirman,

قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengenali diri, memperbaiki diri, dan mendekat kepada-Nya dengan segenap hati. Aamiin.

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

sumber: https://muslim.or.id/113513-mengenali-diri-sendiri-jalan-menuju-ketenangan-hati.html