[Kitabut Tauhid 10] 41 Mencintai Allah 29

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Diantara penyimpangan dalam mengungkapkan kecintaan kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah berbuat kebid’ahan dalam urusan shalawat kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; baik karena jenis (bacaan, lafadz, redaksi) shalawatnya yang diada-akan, yang terkadang mengandung unsur kesyirikan karena mensifati Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dengan sebagian sifat-sifat Allâh -‘Azza wa Jalla-, atau karena tata-cara pengamalannya yang tidak sesuai dengan aturan Syariat.
  • Tidak semua shlawat disyari’atkan, apalagi diwajibkan; karena shalawat ada dua macam, yang disyari’atkan, dan yang tidak disyari’atkan. Shalawat adalah ibadah, dan suatu amalan itu bernilai ibadah dan diterima oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- jika terpenuhi padanya syarat-syarat diterimanya ibadah. Dan syarat-syarat diterimanya ibadah itu ada tiga : iman, ikhlash, dan ittiba’. Juga ada rambu-rambu Syari’at yang harus diperhatikan dalam mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Tinggalkan komentar