[Kitabut Tauhid 4] 38 Mencari keberkahan 30

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Agar suatu amalan diterima oleh Allâh -‘Azza wa Jalla-, selain harus dibangun diatas keimanan, juga harus dibangun diatas keikhlashan dan peneladan terhadap Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Dua fondasi ini (ikhlash dan mutaba’ah) adalah realisasi yang sebenar-benarnya dari penerapan syahadatain (dua kalimat syahadat) yang mana keduanya adalah inti dari agama Islam.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Jangan Ada Buruk Sangka Diantara Kita

Hati-hatilah dari prasangka buruk kepada saudaramu, karena itu hanyalah akan menambah tabungan dosa bagi dirimu.
Bakr Al-Muzani pernah berkata:

إياك من كلام ما إن أصبت فيه لم تؤجر وإن أخطأت وزرت وذلك سوء الظن بأخيك

“Waspadalah dari ucapan yang jika kamu benar kamu tidak diberi pahala, dan jika kamu salah kamu akan berdosa, yaitu prasangka buruk kepada saudaramu” (Ibnu Sa’ad dalam At Thabaqat, 7/209).

Maka selagi bisa, berbaik sangkalah kepada saudaramu, apalagi kepada ulama pewaris Nabi.

Amirul Mukminin Umar bin Khaththab berkata:

لا تظنن بكلمة خرجت من أخيك إلا خيراً وأنت تجد لها في الخير محملاً

“Janganlah engkau menyangka jelek suatu kalimat yang keluar dari saudaramu muslim sedangkan engkau masih bisa mendapatkan ruang kebaikan dalam memahaminya” (Ibnu Abi Dunya dalam Mudarotun Naas, 45 dan Al Mahamili dalam Al Amaali, 447).

Pernah juga Yunus bin Ubaid terkena musibah dengan meninggal dunia anaknya. Suatu saat, ada seorang mengatakan padanya: Sahabatmu Ibnu ‘Aun tidak datang bertakziyah untukmu, maka beliau menjawab:

إنا إذا وثقنا بمودة أخينا لم يضرنا ألا يأتينا

“Jika kita telah menjalin persaudaran dengan saudara kita dengan kuat. Maka tidak masalah jika dia tidak datang pada kita” (Al-‘Uzlah karya Al-Khathabi, Ash Shadaqah wa Shadiq hlm. 38 karya Ibnu Abi Dunya).

Maka kewajiban bagi kita untuk mengedepankan husnudzhan (baik sangka) kepada saudara kita, lebih-lebih para ustadz atau dai. Apalagi kepada ulama sunnah, terlebih pada zaman sekarang. Zaman medsos yang dengan mudah tangan-tangan mengadu domba dan menebar benih perpecahan.

Ya Allah, beningkanlah hati kami dan jagalah ukhuwah kami

Penulis: Ust. Abu Ubaidah As Sidawi
Sumber: https://muslimah.or.id/12767-jangan-ada-buruk-sangka-diantara-kita.html

Berusaha untuk Ikhlas

Posting kali ini adalah posting berseri dari judul “Berusaha untuk Ikhas“. Kita nanti akan memulai mengenal definisi ikhas, tanda-tanda ikhlas dan beberapa point ikhlas lainnya. Semoga Allah memudahkan.


Allah akan senantiasa menolong kaum muslimin karena keikhlasan sebagian orang dari umat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

“Allah akan menolong umat ini karena sebab orang miskin, karena do’a orang miskin tersebut, karena shalat mereka dan karena keikhlasan mereka dalam beramal.”[1]

Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amalan, di samping amalan tersebut harus sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa ikhlas, amalan jadi sia-sia belaka. Ibnul Qayyim dalam Al Fawa-id memberikan nasehat yang sangat indah tentang ikhlas, “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.”

Perintah untuk Ikhlas

Setiap amalan sangat tergantung pada niat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang dia niatkan.”[2]

Dan niat itu sangat tergantung dengan keikhlasan pada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Allah pun mengetahui segala sesuatu yang ada dalam isi hati hamba. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ

“Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui”.” (QS. Ali Imran: 29)

Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya’ –yang merupakan lawan dari ikhlas- dalam firman-Nya,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

“Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.” (QS. Az Zumar: 65)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.”[3] An Nawawi mengatakan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.”[4]

Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang menutut ilmu yang sebenarnya harus ditujukan hanya untuk mengharap wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan materi duniawi, maka ia tidak akan pernah mencium bau surga pada hari kiamat nanti.”[5]

Pengertian Ikhlas Menurut Para Ulama

Para ulama menjelaskan ikhlas dengan beberapa pengertian, namun sebenarnya hakikatnya sama. Berikut perkataan ulama-ulama tersebut.[6]

Abul Qosim Al Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.”

Abul Qosim juga mengatakan, “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.”

Jika kita sedang melakukan suatu amalan maka hendaklah kita tidak bercita-cita ingin mendapatkan pujian makhluk. Cukuplah Allah saja yang memuji amalan kebajikan kita. Dan seharusnya yang dicari adalah ridho Allah, bukan komentar dan pujian manusia.

Hudzaifah Al Mar’asiy mengatakan, “Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba antara zhohir (lahiriyah) dan batin.” Berkebalikan dengan riya’. Riya’ adalah amalan zhohir (yang tampak) lebih baik dari amalan batin yang tidak ditampakkan. Sedangkan ikhlas, minimalnya adalah sama antara lahiriyah dan batin.

Dzun Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas:

Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain.
Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat.
Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia).
Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’. Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Sedangkan ikhlas adalah engkau terselamatkan dari dua hal tadi.”

Ada empat definisi dari ikhlas yang bisa kita simpulkan dari perkataan ulama di atas.

Meniatkan suatu amalan hanya untuk Allah.
Tidak mengharap-harap pujian manusia dalam beramal.
Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang tersembunyi.
Mengharap balasan dari amalannya di akhirat.
Nantikan pembahasan selanjutnya mengenai tanda-tanda ikhlas. Semoga Allah memudahkan dalam setiap urusan.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel https://rumaysho.com

[1] HR. An Nasa-i no. 3178. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[2] HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari ‘Umar bin Khattab.

[3] HR. Muslim no. 2985, dari Abu Hurairah.

[4] Syarh Muslim, An Nawawi, 9/370, Mawqi’ Al Islam.

[5] HR. Abu Daud no. 3644 dan Ibnu Majah no. 252, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[6] Kami ambil perkataan-perkataan ulama tersebut dari kitab At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, An Nawawi, hal. 50-51, Maktabah Ibnu ‘Abbas, cetakan pertama, tahun 1426 H.

Sumber https://rumaysho.com/654-berusaha-untuk-ikhlas.html

Nasihat Ibnu Al-Utsaimin Tentang Istidraj

Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an:

فلما نسوا ما ذكروا به فتحنا عليهم أبواب كل شيء حتى إذا فرحوا بما أوتوا أخذنا هم بغتة فإذا هم مبلسون

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa” (QS. Al-An’am : 44).

Dunia dengan segala kemegahannya seringkali membuat silau hingga tenggelam serta sibuk dalam buaian kebahagiaan. Sebagai mukmin yang memiliki jiwa bersih hendaknya lebih jeli kala menghadapi saat-saat indah ini, karena jika ia tak menyadari semua itu bisa berubah menjadi prahara. Realitanya, tak sedikit manusia terlena dengan kesenangan semu ini, bahkan melakukan dosa, maka inilah istidraj.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila engkau melihat seorang hamba masih mendapatkan karunia dunia dari Allah sesuka hatinya sementara ia masih gemar melakukan maksiat sesungguhnya karunia itu tidak lain adalah istidraj” (HR. Ahmad dalam [4/145], dari hadits Uqbah bin Amir radhiallahu’anhu). Maka waspadalah terhadap istidraj!

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin memberikan nasehat yang indah tentang hal ini: “Allah memberikan kesempatan kepada seseorang hamba yang berbuat zalim dan tidak menyegerakan siksanya. Ini merupakan ujian, kita memohon semoga melindungi kita semua. Diantara sikap istidraj adalah diberi kesempatan untuk berbuat zalim dan tidak segera dihukum, sehingga dia melakukan banyak kezaliman kepada manusia. Jika Allah mengazabnya dengan azab yang pedih. Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman:

وكذلك أخذ ربك إذا أخذ القرى و هي ظلمة إن أخذه أليم شديد

“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabia Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya adalah sangat pedih lagi keras”. (QS. Huud: 62).

Kepada orang yang zalim hendaklah dia tidak terperdaya oleh dirinya sendiri dan tidak pula dengan karunia Allah yang diberikan kepadanya karena semua itu hakikatnya musibah di atas musibah. Karena jika manusia dihukum oleh Allah dengan segera atas kezalimannya mungkin dia akan selalu ingat dan meninggalkan kezaliman. Tetapi jika dia masih diberi kesempatan terus untuk berbuat zalim dan melakukan perbuatan dosa maka kezalimannya terus bertambah dan dosa-dosanya menumpuk sehingga hukumannya semakin berat. Kita memohon kepada Allah semoga kita diberi karunia untuk bisa mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran-Nya dan semoga Allah melindungi dari kezaliman diri kita dan kezaliman orang lain. Innahu Jawwaadun Kariim” (Syarah Riyadhus Shalihin, Juz I hadits no.1191 hal 953-934)

Inilah nasehat indah agar kaum mukminin selalu berhati-hati agar tidak berbuat zalim. Dan tidaklah pantas kita terpedaya orang-orang yang dibukakan pintu-pintu kenikmatan dunia namun mereka melupakan karunia Allah Ta’ala, tidak mensyukurinya bahkan memanfaatkannya di jalan-jalan yang dibenci Allah ‘Azza wa Jalla.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat : “Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan terhadap diri kalian. Tetapi yang aku khawatirkan justru apabila dunia ini dibentangkannya kepada kalian, sebagaimana dahulu juga dibentangkan di hadapan umat-umat sebelum kalian. Lalu kalianpun memperebutkannya. Hingga akhirnya dunia ini membinasakan kalian sebagaimana dahulu dunia itupun membuat mereka binasa” (HR. Ahmad no.539, Al-Hakim [2/582], dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Wallahul muwaffiq.

Referensi:
1. Saat Hidayah Menyapa, Fariq Gasim Anuz, Daun Publising, Cirebon, 2010
2. Sandiwara Langit, Abu Umar Basyier, Shofa Publika, Magelang, 2008

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa
Sumber: https://muslimah.or.id/12998-nasehat-ibnu-al-utsaimin-tentang-istidraj.html

Suka Ikut Campur Urusan Orang Lain

Suka Ikut Campur Urusan Orang Lain

Setiap manusia tercipta dengan membawa takdir masing-masing. Allah Ta’ala telah mengatur sedemikian rupa bagaimana si Fulan dan si Allan akan menjalani takdirnya. Ada manusia yang dimudahkan menuju kebaikan-kebaikan sehingga ia termasuk dari calon-calon penghuni surga, namun ada pula yang dimudahkan menuju keburukan-keburukan sehingga ia termasuk dari calon-calon penghuni neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اعْمَلُوا, فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ, أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ, وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ

“Beramallah! Setiap orang akan dimudahkan sesuai tujuan dia diciptakan. Barang siapa yang tergolong orang-orang yang bergembira (penduduk surga) maka akan dimudahkan untuk beramal sesuai dengan amalan orang-orang tersebut. Barang siapa yang yang tergolong orang-orang yang sengsara (penduduk neraka) maka akan dimudahkan untuk beramal sesuai dengan amalan orang-orang yang sengsara.” (HR. Al-Bukhari no. 4949)

Demikianlah manusia, dalam hal waktu manusia terbagi menjadi dua jenis, ada yang menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang baik, adapula yang menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang buruk. Di zaman ini, kita akan melihat banyak manusia yang menghabiskan waktu dan umurnya dengan sia-sia, tersibukkan dengan urusan-urusan yang tidak penting. Padahal kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang sangat singkat, tetapi kebanyakan kita lalai memanfaatkan waktu yang telah Allah berikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2317)

Keelokan Islam seseorang bisa diukur dengan melihat bagaimana dia habiskan waktunya. Jika kegiatan yang dia lakukan (perkataan atau perbuatannya) berkaitan dengan urusan yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya, maka ia adalah seorang yang Islamnya indah. Tetapi ada pula orang yang kesibukannya pada perkara-perkara yang tidak bermanfaat. Diantaranya adalah ikut campur urusan orang lain yang tidak ada kepentingan dengan dirinya. Padahal ikut campur urusan orang lain tidak akan menambah manfaat melainkan hanya waktu yang habis sia-sia tanpa faedah. Hanya akan membuat hatinya gelisah, semakin mengacaukan pikirannya, dan ia akan terlupa dengan kewajiban-kewajiban utamanya. Lebih dari itu, ikut campur urusan orang lain dapat menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa besar seperti ghibah, tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain), dan namimah (mengadu domba).

Orang yang selalu mencampuri urusan atau mengomentari orang lain maka hampir bisa dipastikan ia akan terjatuh ke dalam ghibah, karena aktivitasnya hanya diisi dengan membicarakan si Fulan dan si Allan. Atau dia akan terjatuh ke dalam lubang dosa yang lain yaitu tajassus, yang awalnya hanya berupa obrolan-obrolan ringan tentang saudaranya sesama muslim, tetapi rasa penasarannya mengantarkan dia mencari-cari sesuatu tentang saudaranya tersebut mengenai aib-aib dan keburukan-keburukannya. Atau tanpa ia sadari ia telah mengadu domba diantara saudaranya sesama muslim. Padahal telah jelas larangan berbuat ghibah, tajassus, dan namimah di dalam Al-Quran ataupun di dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allah Ta’ala berfirman tentang buruknya ghibah dan tajassus:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ۝

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda tentang ancaman bagi pelaku namimah dalam haditsnya dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati salah satu sudut kota Madinah atau Makkah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang sedang diazab di kubur. Beliau pun bersabda,

يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

“Mereka berdua disiksa. Mereka menganggap bahwa itu bukan perkara besar, namun sesungguhnya itu perkara besar. Orang yang pertama disiksa karena tidak menutupi diri ketika kencing. Adapun orang yang kedua disiksa karena suka mengadu domba (namimah).” (HR. Al-Bukhari no. 216 dan Muslim no. 292)

Oleh karena itu, hendaknya setiap orang mengamalkan wasiat Nabi di masa fitnah, dimana beliau bersabda,

وَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ

“Hendaknya engkau sibuk dengan urusan privasimu.” (HR. Ath-Thabrani no. 13)

Sesungguhnya setiap orang telah memiliki kesibukan masing-masing. Hendaknya ia memfokuskan dirinya untuk memperhatikan kewajiban-kewajibannya sebagai hamba Allah Ta’ala, kewajibannya sebagai seorang suami, istri, anak, orang tua, ataupun peran-perannya di tengah kehidupan sosial masyarakat. Orang yang baik keislamannya akan memiliki perhatian penuh terhadap kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, dan tidak terlalaikan dengan urusan-urusan orang lain yang bisa menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa.

Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi rahimahullah mengatakan, “Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.” (Raudhah al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudhala’)

Maka, seseorang di zaman seperti ini hendaknya menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat agar dia tidak terjebak pada kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat seperti mencampuri urusan orang lain. Para ulama mengatakan suatu perkataan yang indah,

مَنِ اشْتَغَلَ بِمَا لا يَعْنِيهِ فَاتَهُ مَا يَعْنِيهِ

“Barangsiapa yang sibuk dengan perkara yang tidak bermanfaat bagi dia maka banyak perkara yang bermanfaat yang luput dari dia.”

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis Oleh:
Zulfahmi Djalaluddin, S.Si حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

Baca selengkapnya: https://bimbinganislam.com/suka-ikut-campur-urusan-orang-lain/

[Kitabut Tauhid 4] 37 Mencari keberkahan 29

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Apa yang Allâh -‘Azza wa Jalla- syariatkan kepada Nabi-Nya sangat banyak mengandung unsur penyelisihan terhadap orang-orang Yahudi. Bahkan Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- menyelisihi mereka dalam semua hal  yang ada pada mereka, sampai-sampai mereka berkomentar : ‘Orang ini (Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-) tidaklah mendapati sesuatu pada kami kecuali berusaha untuk menyelisihinya.”
  • Prilaku tasyabbuh banyak bentuknya, diantaranya :
  1. Menggunakan aturan sosialis, sekuler, demokrasi, dan yang semisalnya dari aturan-aturan tata negara yang dibuat oleh orang-orang kafir. Demikian juga dalam sistem ekonomi seperti sistem riba dan sebagainya.
  2. Menggunakan kalender masehi sebagai kalender utama.
  3. Berbangga diri dengan menggunakan bahasa orang kafir atau menggunakannya tanpa ada kebutuhan.
  4. Mencukur jenggot dan membiarkan kumis memanjang.
  5. Tidak menyukai tersebarnya kebenaran, hasad terhadap ilmu, erta keutamaan yang Allâh -‘Azza wa Jalla- berikan kepada ahlul ilmi, dan berbagai akhlak jelek lainnya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Terlalu Kenyang Bikin Malas Ibadah

Memang betul terlalu kenyang, kadang ketika kenyang kita akan semakin malas dalam beraktivitas dan juga dalam ibadah. Ketika kenyang kita pun akan lebih senang untuk merebahkan badan untuk tidur daripada bergerak dan beraktivitas. Imam Syafi’i adalah di antara ulama yang memberi contoh pada kita agar bersikap sederhana dalam makan.

Nasehat Imam Syafi’i rahimahullah yang kami maksud adalah sebagai berikut.

Abu ‘Awanah Al Isfiroyaini berkata bahwa Ar Robi berkata bahwa ia mendengar Imam Asy Syafi’i berkata,

ما شبعت منذ ست عشرة سنة إلا مرة، فأدخلت يدي فتقيأتها

“Aku tidaklah pernah kenyang selama 16 tahun kecuali sekali. Ketika kenyang seperti itu aku memasukkan tanganku (dalam mulut) agar aku bisa memuntahkan (makanan di dalam).”

Ibnu Abi Hatim dari Ar Robi’ menambahkan (perkataan Imam Syafi’i),

لان الشبع يثقل البدن، ويقسي القلب، ويزيل الفطنة، ويجلب النوم، ويضعف عن العبادة

“Karena yang namanya kenyang membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, kecerdasan berkurang, lebih banyak tidur dan malas ibadah.” (Siyar A’lamin Nubala, 10: 36)

Mengenai hadits yang menganjurkan makan sebelum kenyang sebenarnya dho’if. Akan tetapi maknanya benar dan bisa diamalkan. Dan sebenarnya makan sampai kenyang tidaklah masalah ketika tidak sampai menimbulkan bahaya.

Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanya: Bagaimana keshahihan hadits berikut:

نحن قوم لا نأكل حتى نجوع وإذا أكلنا لا نشبع

“Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.“

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab:

Hadits ini memang diriwayatkan dari sebagian sahabat yang bertugas sebagai utusan, namun sanadnya dhaif. Diriwayatkan bahwa para sahabat tersebut berkata dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:

نحن قوم لا نأكل حتى نجوع وإذا أكلنا لا نشبع

“Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang“

Maksudnya yaitu bahwa kaum muslimin itu hemat dan sederhana.

Maknanya benar, namun sanadnya dho’if, silakan periksa di Zaadul Ma’ad dan Al Bidayah Wan Nihayah. Faidahnya, bahwa seseorang baru makan sebaiknya jika sudah lapar atau sudah membutuhkan. Dan ketika makan, tidak boleh berlebihan sampai kekenyangan. Adapun rasa kenyang yang tidak membahayakan, tidak mengapa. Karena orang-orang di masa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan masa selain mereka pun pernah makan sampai kenyang. Namun mereka menghindari makan sampai terlalu kenyang. Terkadang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengajak para sahabat ke sebuah jamuan makan. Kemudian beliau menjamu mereka dan meminta mereka makan. Kemudian mereka makan sampai kenyang. Setelah itu barulah shallallahu’alaihi wa sallam makan beserta para sahabat yang belum makan.

Terdapat hadits, di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, ketika sedang terjadi perang Khondaq, Jabir bin Abdillah Al Anshari mengundang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam untuk memakan daging sembelihannya yang kecil ukurannya beserta sedikit gandum. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengambil sepotong roti dan daging, kemudian beliau memanggil sepuluh orang untuk masuk dan makan. Mereka pun makan hingga kenyang kemudian keluar. Lalu dipanggil kembali sepuluh orang yang lain, dan demikian seterusnya. Allah menambahkan berkah pada daging dan gandum tadi, sehingga bisa cukup untuk makan orang banyak, bahkan masih banyak tersisa, hingga dibagikan kepada para tetangga.

Dan suatu hari, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menyajikan susu pada Ahlus Shuffah (salah satunya Abu Hurairah, pent). Abu Hurairah berkata, “Aku minum sampai puas”. Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Ayo minum lagi, Abu Hurairah“. Maka aku minum. Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Ayo minum lagi“. Maka aku minum lagi. Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Ayo minum lagi“. Maka aku minum lagi, lalu aku berkata “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, tidak lagi aku dapati tempat untuk minuman dalam tubuhku”. Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengambil susu yang tersisa dan meminumnya. Semua ini adalah dalil bolehnya makan sampai kenyang dan puas yang wajar, selama tidak membahayakan. (Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/38)[1]

Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah (7: 1651-1652) berkata bahwa hadits “Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang“ adalah  ‘laa ashla lahu’ (tidak ada asalnya). Istilah ‘laa ashla lahu’ dalam mustholah hadits ada dua makna: (1) tidak ada sanadnya, (2) memiliki sanad tetapi tidak shahih.[2]

Sebaik-baik muslim adalah yang bersikap sederhana dalam makan dan keuntungan atau manfaatanya sangat luar biasa sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Syafi’i.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

@ Islamic Center Bathah, Riyadh, KSA, 25 Rajab 1433 H

[1] Dinukil dari tulisan saudara Yulian

[2] Lihat di sini: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-49898.html

Sumber https://rumaysho.com/2512-terlalu-kenyang-bikin-malas-ibadah.html

Kembalikan Hatimu Pada Fitrahnya!

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

Berbicara tentang hati berarti membicarakan tentang bagian tubuh manusia yang paling penting dan utama, karena baik atau buruknya seluruh anggota badan manusia tergantung dari baik atau buruknya hati.[1] Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuhnya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.[2]

Di samping itu, hati merupakan tempat tumbuh kembangnya iman kepada Allâh Azza wa Jalla yang merupakan landasan utama kebaikan dan kemuliaan hidup seorang hamba di dunia dan akhirat. Ini berarti, mengusahakan perbaikan hati sama dengan mengusahakan perbaikan iman dan menyempurnakan pertumbuhannya.

Dalam hadits yang shahih, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ الْخَلِقُ، فَاسْأَلُوا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ

Sesungguhnya iman di dalam hati bisa (menjadi) usang (lapuk) sebagaimana pakaian yang bisa usang, maka mohonlah kepada Allâh Azza wa Jalla untuk memperbaharui  iman yang ada di dalam hatimu.[3]

Bersamaan dengan itu, Allâh Azza wa Jalla dengan rahmat dan karunia-Nya yang sempurna kepada para hamba-Nya, Dia Azza wa Jalla menciptakan mereka di atas fitrah yang lurus[4] (kecenderungan untuk mengenal dan mentauhidkan atau mengesakan Allâh Azza wa Jalla ) dan mudah menerima kebenaran. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allâh); (tetaplah atas) fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allâh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui [Ar-Rûm/30:30]

Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allâh Azza wa Jalla menjadikan pada akal manusia (kecenderungan untuk menganggap) baik suatu kebenaran dan (menganggap) buruk segala yang batil. Karena sesungguhnya semua hukum dalam syariat Islam, baik yang lahir maupun yang batin, Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan pada hati semua makhluk-Nya kecenderungan (untuk) menerimanya, maka Allâh menjadikan di hati mereka rasa cinta kepada kebenaran dan selalu mengutamakannya. Inilah hakikat fitrah Allâh (yang dimaksud dalam ayat di atas).

Barangsiapa keluar dari asal (fitrah) ini maka itu karena ada sesuatu yang mempengaruhi dan merusak fitrah tersebut, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Semua bayi (yang baru lahir) dilahirkan di atas fitrah (cenderung kepada Islam), lalu kedua orangtuanyalah yang menjadikannya orang Yahudi, Nashrani atau Majusi[5].[6]

SEMUA MANUSIA DILAHIRKAN DI ATAS FITRAH
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Semua bayi (yang baru lahir) dilahirkan di atas fitrah (cenderung kepada Islam), lalu kedua orangtuanyalah yang menjadikannya orang Yahudi, Nashrani atau Majusi.”[7]

Dan dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’i Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنِّـي خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءُ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ

 (Allâh Azza wa Jalla berfirman): Sesungguhnya Aku menciptakan para hamba-Ku semua dalam keadaan hanif (lurus dan cenderung pada kebenaran) dan sungguh (kemudian) para syaitan mendatangi mereka lalu memalingkan mereka dari agama mereka…”[8].

Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa semua manusia dilahirkan di muka bumi ini dalam keadaan fitrah, yaitu cenderung untuk menerima Islam dan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Sebagaimana dalam firman-Nya:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah) ketika Rabbmu  mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allâh mengambil kesaksian terhadap diri mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabbmu”. Mereka menjawab: “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lalai terhadap ini (iman dan tauhid kepada Allâh)” [Al-A’râf/7:172]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Radhiyallahu anhu berkata, “Makna yang benar dari (kata) fitrah dalam firman Allâh  (yang artinya), “fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu,” yaitu fitrah Islam. Allâh Azza wa Jalla menciptakan mereka di atas fitrah itu ketika Dia berfirman kepada mereka, “Bukankah Aku ini Rabbmu?”, Mereka menjawab: “Betul (Engkau Rabb kami)”. (Makna) fitrah ini adalah tersucikan atau terhindar dari keyakinan yang buruk dan (kecenderungan) menerima keyakinan yang benar (tauhid)”[9].

Imam Ibnu Katsir rahimhullah ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata, “Allâh Azza wa Jalla mengabarkan bahwa Dia mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dalam keadaan mereka mempersaksikan terhadap diri mereka sendiri bahwa Allâh Azza wa Jalla adalah Rabb (yang Maha menciptakan dan memberi rezeki) serta maha menguasai (mengatur segala urusan) mereka, dan bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia. Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla menjadikan fitrah dan tabiat mereka (ketika lahir di dunia) di atas keyakinan tersebut.”[10]

HAKIKAT HATI YANG BERSIH DAN KOTOR
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

 كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), bahkan menutupi hati mereka perbuatan (dosa) yang selalu mereka lakukan [Al-Muthaffifin/83:14]

Dalam hadits yang shahih, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menafsirkan makna ayat ini. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ، صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ، زَادَتْ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ { كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ }

Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa maka akan dibubuhkan satu titik hitam di (permukaan) hatinya. Kalau dia (segera) bertaubat, meninggalkan (dosa tersebut) dan memohon ampun (kepada Allâh Azza wa Jalla ), maka hatinya akan bening (kembali), (tetapi) jika dosanya bertambah maka akan bertambah pula titik hitam tersebut. Itulah (makna) ar-rân (penutup hati) yang Allâh sebutkan dalam al-Qur’an, (yang artinya-red), “Sekali-kali tidak (demikian), bahkan menutupi hati mereka perbuatan (dosa) yang selalu mereka lakukan” [Al-Muthaffifin/83: 14]”[11]

Inilah hakikat hati yang kotor dan tertutup, yaitu hati yang diliputi oleh kotoran hitam seperti karat pada logam dan menutupinya sedikit demi sedikit, sehingga memadamkan cahayanya dan membutakan mata hatinya, serta membuatnya terhalang dari menerima kebenaran, bahkan menjadikannya memandang sesuatu dengan hal yang bertentangan dengan hakikatnya, maka dia menganggap kebenaran itu adalah kebatilan dan kebatilan itu adalah kebenaran.[12]

Tentu saja semua ini terjadi akibat dari fitnah (keburukan) yang selalu dibisikkan oleh syaitan ke dalam hati manusia dengan cara menghiasi keburukan hawa nafsu agar mereka selalu memperturutkannya.

Dari Hudzaifah bin al-Yaman Radhyillahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ عَرْضَ الْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَتْ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَتْ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ الْقُلُوبُ عَلَى قَلْبَيْنِ قَلْبٌ أَبْيَضٌ مِثْلَ الصَّفَا لَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَيَصِيرُ الآخَرُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ


Ditampakkan fitnah-fitnah di permukaan hati manusia seperti (anyaman) tikar sedikit demi sedikit. Maka hati yang menyerapnya akan dibubuhi satu titik hitam padanya, sedangkan hati yang mengingkarinya akan dibubuhi satu titik putih padanya. Sehingga (pada akhirnya) semua hati manusia akan (terbagi) menjadi dua macam: (pertama): hati yang putih (bersih dan kuat) seperti batu cadas, sehingga tidak akan dipengaruhi oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada (sampai hari kiamat). Kedua: hati yang (berwarna) hitam keabu-abuan, seperti gelas yang miring atau terbalik (kebaikan tidak bisa menetap padanya), dia tidak mengenal kebaikan sebagai kebaikan dan keburukan sebagai keburukan, kecuali yang bersumber dari hawa nafsunya.[13]

Makna hadits ini, seorang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, maka setiap maksiat yang dilakukannya membawa kegelapan dalam hatinya, sehingga dia selalu menyerap fitnah dan menjadi padam cahaya Islam dalam hatinya[14].

Inilah tujuan utama syaitan mengotori dan menutup hati manusia dengan godaan untuk mengikuti hawa nafsu yang buruk, yaitu agar hati manusia menjadi mati, sehingga tertutup dan berpaling dari fitrahnya yang lurus. Setelah itu, syaitan akan mudah mengombang-ambingkan manusia tersebut dalam kesesatan sesuai dengan kehendaknya, sebagaimana yang disebutkan pada akhir hadits di atas: “…dia tidak mengenal kebaikan sebagai kebaikan dan keburukan sebagai keburukan, kecuali yang bersumber dari hawa nafsunya”.

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Hati yang hidup dan sehat jika ditampakkan padanya keburukan-keburukan maka dia akan menjauhinya dengan sendirinya, membencinya dan tidak akan menoleh kepadanya. Berbeda dengan hati yang telah mati, hati ini tidak bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk, sebagaimana ucapan (Sahabat yang mulia) ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, “Binasalah orang yang tidak mempunyai hati untuk mengenal kebaikan dan mengingkari keburukan.”[15]

Jadi, hati yang kotor adalah hati yang telah dipalingkan oleh syaitan dari fitrahnya yang lurus dan bersih, sehingga menjadikannya berpaling dari petunjuk Allâh Azza wa Jalla dan sulit menerima keindahan agama Islam. Inilah ciri hati yang tersesat dari jalan Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Barangsiapa yang Allâh kehendaki untuk Allâh berikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allâh kesesatannya, niscaya Allâh menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allâh menimpakan keburukan (azab) kepada orang-orang yang tidak beriman [Al-An’âm/6:125]

KECENDERUNGAN HATI UNTUK MENGENAL YANG MA’RUF DAN MENGINGKARI YANG MUNGKAR
Allâh Azza wa Jalla menciptakan hati manusia di atas fitrah yang lurus, kemudian Dia Azza wa Jalla menurunkan syariat-Nya untuk membimbing hati manusia tersebut agar selamat dari tipu daya syaitan dan selalu di atas jalan yang lurus.

Oleh karena itu, pada asalnya hati manusia akan selalu cocok dan selaras dengan petunjuk Islam, bahkan hanya dengan mengenal dan mengamalkan petunjuk-Nya hati manusia akan merasakan kedamaian dan ketenangan yang hakiki. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allâh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allâh hati menjadi tenteram [Ar-Ra’du/13:28].

Maksudnya, dengan berzikir kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala segala kegalauan dan kegundahan dalam hati manusia akan hilang dan berganti dengan kegembiraan dan kesenangan. Bahkan tidak ada sesuatupun yang lebih kuat (dalam) mendatangkan ketentraman dan kebahagiaan bagi hati manusia melebihi berzikir kepada Allâh Azza wa Jalla .[16]

Jadi, pada asalnya, hati manusia lebih dahulu mengenal dan menerima kebenaran atau kebaikan, sedangkan keburukan adalah ‘pendatang baru’ yang kemudian menyusup ke dalam hati manusia.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ

Kebaikan itu adalah sesuatu yang menjadikan jiwa manusia tenang dan hatinya tenteram[17]

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa Allâh menciptakan para hamba-Nya di atas (fitrah cenderung) mengenal kebenaran, merasa tenang kepadanya dan menerimanya. Allâh Azza wa Jalla menjadikan tabi’at bawaan manusia (cenderung) mencintai kebenaran dan membenci kebalikannya (keburukan). Ini termasuk dalam makna hadits riwayat ‘Iyadh bin Himar Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ““(Allâh Azza wa Jalla berfirman):

وَإِنِّـي خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءُ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ

Sesungguhnya Aku menciptakan para hamba-Ku semua dalam keadaan hanif (lurus dan cenderung pada kebenaran) dan sungguh (kemudian) para syaitan mendatangi mereka lalu memalingkan mereka dari agama mereka…”[18]

Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla menamakan hal-hal yang diperintahkan-Nya (dalam Islam) dengan ‘al-ma’rûf’ (sesuatu yang dikenal atau dicintai oleh hati) dan hal-hal yang dilarang-Nya dengan ‘al-munkar’ (kemungkaran atau sesuatu yang tidak dikenal dan dibenci oleh hati). Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

Sesungguhnya Allâh menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allâh melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan [An-Nahl/16:90]

Dan Dia Azza wa Jalla berfirman tentang sifat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

Dia menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf (kebaikan) dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar (keburukan), serta menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk [Al-A’râf/7:157]

Allâh Azza wa Jalla mengabarkan bahwa hati orang-orang yang beriman selalu tenteram dengan berdzikir kepada-Nya. Hati yang telah dirasuki cahaya iman dan lapang menerimanya maka akan merasa tenang, tenteram dan (mudah) menerima kebenaran, serta selalu berpaling, membenci dan tidak mau menerima kebatilan (keburukan)”[19].

UPAYA MENGEMBALIKAN HATI PADA FITRAHNYA
Dalam hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang telah kami sebutkan sebelumnya, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan cara untuk mengembalikan hati pada fitrahnya dan membersihkan kotoran hitam yang menutupi permukaannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ، صُقِلَ قَلْبُهُ

Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa maka akan dibubuhkan satu titik hitam di (permukaan) hatinya. Kalau dia (segera) bertaubat, meninggalkan (dosa tersebut) dan memohon ampun (kepada Allâh Azza wa Jalla ), maka hatinya akan bening (kembali).[20]

Jadi, upaya untuk mengembalikan hati pada fitrahnya adalah dengan kembali kepada Allâh Azza wa Jalla , yaitu dengan bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat, serta berusaha memahami petunjuk-Nya yang memang tujuan utama Allâh Azza wa Jalla menurunkannya kepada manusia adalah untuk menyucikan jiwa mereka dan membersihkan penyakit hati mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sungguh Allâh telah memberi karunia (yang besar) kepada orang-orang yang beriman ketika Allâh mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allâh, mensucikan (diri) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Rasul) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata” [Ali ‘Imrân/3:164]

Makna firman-Nya “menyucikan (diri) mereka” adalah membersihkan mereka dari keburukan akhlak, kotoran penyakit hati dan perbuatan-perbuatan jahiliyyah, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya (hidayah Allâh Azza wa Jalla ).[21]

Al-Qur’an adalah sebaik-baik obat penyakit hati yang diturunkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala untuk menyembuhkan dan menghilangkan semu bentuk keburukan dan penyakit yang ada di dalam hati manusia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:


يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Wahai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat atau pelajaran dari Rabbmu (al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia), dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman [Yûnus/10:57].

Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla mengabarkan tentang anugerah besar yang diturunkan-Nya kepada para hamba-Nya, yaitu al-Qur’an yang mulia, karena di dalamnya terdapat nasehat untuk menjauhi perbuatan maksiat, penyembuh bagi penyakit hati, yaitu kelemahan iman, keragu-raguan dan kerancuan dalam memahami agama, serta penyakit syahwat yang merusak hati. Juga terdapat petunjuk, yaitu bimbingan bagi orang yang merenungkan, memahami, dan mengikuti al-Qur’an ke jalan yang mengantarkannya kepada surga, serta sebab-sebab untuk mendapatkan rahmat Allâh Azza wa Jalla yang terkandung di dalamnya.[22]

Setelah kita memahami bahwa al-Qur’an adalah sebaik-baik obat penyembuh dari penyakit hati manusia dan di dalam ayat-ayatnya terdapat sebaik-baik nasehat dan peringatan untuk menghilangkan kotoran hitam yang menutupinya, sehingga hati akan mudah kembali kepada fitrahnya, maka berdasarkan pengamatan dan perenungan terhadap ayat-ayat al-Qur’an, dapat disimpulkan bahwa cara dan kiat untuk membersihkan kotoran penyakit hati dan mengembalikannya kepada fitrahnya, terdapat dalam tiga poin utama, yaitu:

Berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla
Menghilangkan al-gaflah (kelalaian hati)
Melakukan tazkiyatun nafs (pensucian jiwa untuk menundukannya di jalan Allâh Azza wa Jalla )
Semua ini terangkum dalam ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

اَلْمَحْبُوْسُ مَنْ حُبِسَ قَلْبُه عَنْ رَبِّهِ تعالى وَالْمَأْسُوْرُ مَنْ أَسِرَه هَواهُ

Orang yang dipenjara adalah orang yang terpenjara hatinya dari Rabb-nya (Allâh) k , dan orang yang tertawan (terbelenggu) adalah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya[23]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Semua (keburukan dan kesesatan) bersumber dari kelalaian hati dan memperturutkan hawa nafsu, karena dua sifat buruk inilah yang memadamkan cahaya dan membutakan mata hati.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari berdzikir (mengingat) Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas (rusak dan buruk) [Al-Kahfi/18:28][24]

KEMUDAHAN DAN TAUFIK DARI ALLAH WA JALLA
Semua kebaikan ada di tangan Allâh Azza wa Jalla dan Dia-lah yang maha kuasa untuk membukakan pintu-pintu kebaikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menghalanginya dari siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Maka memohon kemudahan dan taufik dari Allâh Azza wa Jalla adalah sebab yang paling utama untuk meraih segala kebaikan.

Dalam hadits qudsi yang shahih, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَاعِبَادِي ، كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ

Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk (taufik) kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian[25]

Allâh Azza wa Jalla Maha Pemurah, luas rahmat (kasih sayang)-Nya dan berlimpah kebaikan-kebaikan-Nya. Kebaikan terbesar dari-Nya di dunia ini adalah taufik untuk meniti jalan keridhaan-Nya dan kembalinya hati manusia pada fitrah kebaikannya. Maka kebaikan besar ini tidak mungkin dihalangi-Nya dari para hamba-Nya yang beriman dan bersungguh-sungguh mencari keridhaan-Nya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya rahmat Allâh amat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan [Al-A’râf/7:56]

Bahkan Allâh Azza wa Jalla mempunyai nama-nama yang maha indah dan menunjukkan makna sempurna dan luas-Nya kebaikan yang Dia Azza wa Jalla limpahkan kepada para hamba-Nya. Misalnya: al-Muhsin (Maha berbuat kebaikan kepada para hamba-Nya), al-Barr (Maha melimpahkan kebaikan), al-Wahhab (Maha Pemberi anugerah yang berlimpah), al-Mannan (Maha Pemberi karunia yang luas), al-Fattah (Maha Pembuka pintu-pintu kebaikan) dan lain-lain.

Di samping itu, bentuk kemudahan lain dari Allâh Azza wa Jalla , selain kecenderungan hati manusia untuk mudah menerima kebenaran, seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya, adalah petunjuk-Nya dalam ayat-ayat al-Qur’an yang sangat dimudahkan memahaminya bagi orang-orang yang mau mempelajarinya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran (petunjuk kebaikan), maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran (darinya)? [Al-Qamar/54:17]

Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di t berkata, “Makna ayat ini: Sungguh Kami telah mudahkan al-Qur’an yang mulia, dalam lafazhnya untuk dihafalkan dan disampaikan (kepada orang lain), juga dalam (kandungan) maknanya untuk dipahami dan dimengerti. Karena al-Qur’an adalah perkataan yang paling indah lafazhnya, yang paling benar (kandungan) maknanya, dan paling jelas penafsirannya. Maka setiap orang yang menghadapkan diri (bersungguh-sungguh mempelajari)nya, Allâh Azza wa Jalla akan memudahkan baginya dan meringankannya (untuk mencapai) tujuan tersebut…

Salah seorang Ulama salaf mengomentari ayat ini dengan berkata, “Apakah ada orang yang (mau bersungguh-sungguh) menuntut ilmu (mempelajari al-Qur’an) sehingga Allâh akan menolongnya?”

Oleh karena itu, Allâh mengajak (memotivasi) para hamba-Nya untuk menghadapkan diri dan (bersungguh-sungguh) mempelajari al-Qur’an, dalam firman-Nya (di akhir ayat ini):

فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

… Maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran?[26]

PENUTUP
Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita semua untuk selalu mensyukuri nikmat-Nya, utamanya nikmat taufik dan kemudahan dalam melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan memohon kepada Allâh Azza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar Dia Azza wa Jalla memudahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk menempuh jalan keridhaan-Nya. Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala maha mendengar lagi maha mengabulkan do’a.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote
[1] Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam kitab Syarhu Shahîhi Muslim, 11/29
[2] HSR. Al-Bukhâri, no. 52 dan Muslim, no. 1599
[3] HR. Al-Hâkim, 1/45, dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh Imam al-Haitsami dan Syaikh al-Albani. Lihat Silsilatul Ahâdîtsish Shahîhah,  no. 1585
[4] Lihat Tafsîr Ibni Katsîr, 3/572
[5] HSR. Al-Bukhâri, 1/465 dan Muslim, no. 2658
[6] Kitab Taisîrul Karîmirrahmân, hlm. 640
[7] HSR. Al-Bukhâri, 1/465 dan Muslim, no. 2658
[8] HSR. Muslim, no. 2865
[9] Kitab Majmû’ al-Fatâwâ, 4/245
[10] Lihat Tafsîr Ibni Katsîr, 2/347
[11] HR. Ibnu Mâjah, no. 4244; Al-Hâkim, 1/45 dan 2/562 serta Ahmad, 2/297. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Imam al-Hâkim, disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani
[12] Lihat Fathul Qadîr, 5/565; Aisarut Tafâsîr, 4/378; Dan Taisîrul Karîmirrahmân, hlm. 915
[13] HSR. Muslim, no. 144
[14] Lihat keterangan Imam an-Nawawi dalam kitab Syarhu Shahîh Muslim, 2/173
[15] Kitab Igâtsatul Lahfân, 1/20
[16] Lihat kitab Taisîrul Karîmirrahmân, hlm. 417
[17] HR. Ahmad, 4/194. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Rajab dalam Jâmi’ul ‘Ulûmi wal Hikam, hlm. 251 dan Syaikh al-Albani dalam Shahîh al-Jâmi’ ash-Shagîr, no. 2881).
[18] HSR. Muslim, no. 2865
[19] Kitab Jâmi’ul ‘Ulûmi wal Hikam, hlm. 253
[20] HR. Ibnu Mâjah, no. 4244; Al-Hâkim, 1/45 dan 2/562 dan Ahmad, 2/297. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim, disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani.
[21] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr, 1/267
[22] Lihat kitab Tafsîr Ibnu Katsîr, 2/553 dan Fathul Qadîr, 2/656
[23] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab al-Wâbilush Shayyib minal Kalimith Thayyib, hlm. 67
[24] Kitab al-Wâbilush Shayyib minal Kalimith Thayyib, hlm. 56
[25] HSR. Muslim, no. 2577
[26] Kitab Taisîrul Karîmirrahmân, hlm. 825


Referensi : https://almanhaj.or.id/6970-kembalikan-hatimu-pada-fitrahnya.html

Hidup Boros, Temannya Setan

Saudaraku, perlu diketahui bahwa hidup boros, senang membuang-buang harta untuk hal yang sia-sia termasuk meniru perbuatan setan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).  Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.”

Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Seandainya seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).”

Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8/474-475)

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah meridlai tiga hal bagi kalian dan murka apabila kalian melakukan tiga hal. Allah ridha jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan (Allah ridla) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.” (HR. Muslim no.1715)

Termasuk perbuatan boros (tabdzir) adalah apabila seseorang menghabiskan harta pada jalan yang keliru. Semisal seseorang berjam-jam duduk di depan internet, lalu membuka Facebook, blog, email dan lainnya, lantas dia tidak memanfaatkannya untuk hal yang bermanfaat, namun untuk hal-hal yang mengandung maksiat. Na’udzu billahi min dzalik. Cobalah internet kita manfaatkan untuk berdakwah atau untuk mempelajari Islam lebih dalam.

Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi waktu kita di setiap tempat dengan hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain terutama dalam masalah agama dan akhirat.

Always remember this …! Wallahu waliyyut taufiq.

****

Disusun di rumah mertua tercinta, di pagi hari yang penuh berkah,

Panggang-Gunung Kidul, 30th Rabi’ul Akhir 1430 H

Sumber https://rumaysho.com/1813-hidup-boros-temannya-setan.html

Amal Kita Masih Sedikit

Berbuatlah ikhlas untuk amal yang sedikit.

Abul Qosim Al-Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.”

Maimun bin Mihran rahimahullah (seorang tabiin) berkata:

‏إِنَّ أَعْمَالَكُمْ قَلِيلَةٌ

‏فَأَخْلِصُوا هَذَا الْقَلِيلَ …

Sungguh amal kalian itu amatlah sedikit.

Berbuat ikhlaslah untuk yang sedikit ini.

(Abu Nuaim dalam Al-Hilyah, 4:29)

Pelajaran yang bisa dipetik dari perkataan Maimun bin Mihran:

1. Kita jangan merasa telah beramal banyak.
2. Selalulah merasa kurang dalam beramal, jangan pernah puas dengan yang sedikit.
3. Ibadah itu harus ikhlas, cari ridha Allah.
4. Amalan yang kecil saja harus ikhlas, apalagi amalan yang besar.

Semoga semua amal kita diterima oleh Allah dan selalu ikhlas meraih rida-Nya.

—

Catatan 29 Syawal 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY

Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/28566-amal-kita-masih-sedikit.html