Yang Tidak Engkau Sukai Bisa Jadi Lebih Baik

Terkadang seseorang tertimpa takdir yang menyakitkan yang tidak disukai oleh dirinya, kemudian dia tidak bersabar, merasa sedih dan mengira bahwa takdir tersebut adalah sebuah pukulan yang akan memusnahkan setiap harapan hidup dan cita-citanya. Akan tetapi, sering kali kita melihat dibalik keterputus-asaannya ternyata Allah memberikan kebaikan kepadanya dari arah yang tidak pernah ia sangka-sangka.

Sebaliknya, berapa banyak pula kita melihat seseorang yang berusaha dalam sesuatu yang kelihatannya baik, berjuang mati-matian untuk mendapatkannya, tetapi yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang dia inginkan.

Saudariku… Seandainya kita mau merenung dan sedikit berfikir, sungguh di setiap apa yang telah Allah takdirkan untuk hamba-hamba-Nya, di dalamnya terdapat hikmah dan maslahat tertentu, baik ketika itu kita telah mengetahui hikmah tersebut ataupun tidak. Demikian juga ketika Allah Ta’ala menimpakan musibah kepada kita, maka kita wajib berprasangka baik kepada-Nya. Sudah sepantasnya kita meyakini bahwa yang kita alami tersebut akan membawa kebaikan bagi kita, baik untuk dunia kita maupun akhirat kita. Minimal dengan musibah tersebut, sebagian dosa kita diampuni oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, maka lihatlah takdir ini dengan kacamata nikmat dan rahmat, dan bahwasanya Allah Ta’ala bisa jadi memberikan kita nikmat ini karena memang Dia sayang kepada kita.

Karena Allah Ta’ala pun telah berfirman,

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Saudariku… Sungguh jika kita mau membuka kisah-kisah dalam Al Qur’an dan lembaran-lembaran sejarah, atau kita memperhatikan realitas, kita akan mendapatkan darinya banyak pelajaran dan bukti bahwa selalu ada hikmah di balik setiap apa yang Allah takdirkan untuk hamba-hamba-Nya.

Maka lihatlah kisah Ibu Nabi Musa ‘alaihissalam ketika ia harus melemparkan anaknya ke sungai… bukankah kita mendapatkan bahwa tidak ada yang lebih dibenci oleh Ibu Musa daripada jatuhnya anaknya di tangan keluarga Fir’aun? namun meskipun demikian tampaklah akibatnya yang terpuji dan pengaruhnya yang baik di hari-hari berikutnya, dan inilah yang diungkapkan oleh ayat

واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui

Lihat pula kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam ketika beliau harus berpisah dengan ayah beliau Nabi Ya’qub ‘alaihissalam, ketika beliau harus dimasukkan ke dalam sumur dan diambil oleh kafilah dagang… Bukankah kita akan melihat hikmah yang begitu besar dibalik semua itu?

Lihat pula kisah Ummu Salamah, ketika suami beliau-Abu Salamah- meninggal dunia, Ummu Salamah radhiallaahu ‘anhaa berkata:

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah lalu ia mengucapkan apa yang diperintah oleh Allah,

إنّا للهِ وَ إنَّا إِليْهِ رَاجِعُوْنَ, اللهُمَّ أَجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَ أخلفْ لي خَيْرًا مِنْهَا

(Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya lah kami akan kembali. Ya Allah, berilah pahala kepadaku dalam musibahku dan berilah gantinya untukku dengan yang lebih baik darinya).” Ia berkata, “Maka ketika Abu Salamah meninggal, aku berkata, ‘Seorang Muslim manakah yang lebih baik dari Abu Salamah? Rumah (keluarga) pertama yang berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Kemudian aku pun mengucapkannya, maka Allah memberikan gantinya untukku dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim)

Renungkanlah bagaimana perasaan yang menghinggapi diri Ummu Salamah –yakni perasaan yang muncul pada sebagian wanita yang diuji dengan kehilangan orang yang paling dekat hubungannya dengan mereka dalam kehidupan ini dan keadaan mereka: Siapakah yang lebih baik dari Abu Fulan?!- maka ketika Ummu Salamah melakukan apa yang diperintahkan oleh syariat berupa sabar, istirja’, dan ucapan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah pun menggantinya dengan yang lebih baik yang belum pernah ia impikan sebelumnya.

Demikianlah seorang wanita yang beriman, tidak seharusnya ia membatasi kebahagiaannya pada satu pintu saja di antara pintu-pintu kehidupannya. Karena kesedihan yang menimpa seseorang adalah sesuatu yang tidak ada seorang pun yang bisa selamat darinya, tidak pula para Nabi dan Rasul! Yang tidak layak adalah membatasi kehidupan dan kebahagiaan pada satu keadaan ataupun mengaitkannya dengan orang-orang tertentu seperti pada laki-laki atau wanita tertentu.

Begitu pula dalam kehidupan nyata, kita pun sering melihat ataupun mendengar kisah-kisah yang penuh dengan hikmah dan pelajaran.

Oleh karena itulah, hendaknya kita selalu bertawakkal kepada Allah, mengerahkan segenap kemampuan untuk menempuh sebab-sebab yang disyariatkan, dan jika terjadi sesuatu yang tidak kita sukai, jendaklah kita selalu mengingat firman Allah Ta’ala,

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).

Hendaklah ia mengingat bahwasanya di antara kelembutan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah: “Bahwasanya Dia menakdirkan bagi mereka berbagai macam musibah, ujian, dan cobaan dengan perintah dan larangan yang berat adalah karena kasih sayang dan kelembutanNya kepada mereka, dan sebagai tangga untuk menuju kesempurnaan dan kesenangan mereka” (Tafsir Asma’ al Husna, karya As-Sa’di).

Semoga yang sedikit ini bisa menjadi nasihat untuk diri saya pribadi dan bagi orang-orang yang membacanya, karena barangkali kita sering lupa bahwa apapun yang telah Allah Ta’ala takdirkan untuk kita adalah yang terbaik untuk kita, karena Dia-lah Dzat Yang Maha Mengetahui kebaikan-kebaikan bagi para hambaNya.

***
Artikel muslimah.or.id
Penulis: Wakhidatul Latifah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Referensi:

  • Qawaa’id Qur’aaniyyah, Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, Markaz at-Tadabbur Li al-Isytisyarat at-Tarbawiyyah wa at-Ta’limiyyah. Dan terjemah, “50 Prinsip Pokok Ajaran Al Qur’an” terbitan Pustaka Daarul Haq.
  • Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Abu Isa Abdullah bin Salam, Pustaka Muslim.


Sumber: https://muslimah.or.id/3599-yang-tidak-engkau-sukai-bisa-jadi-lebih-baik.html

Larangan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelum Ramadhan

Ada ilmu yang mesti diperhatikan sebelum melaksanakan puasa Ramadhan. Ada larangan yang berisi perintah untuk tidak berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan. Karena ada yang punya tujuan melaksanakan puasa sebelum itu untuk hati-hati atau hanya sekedar melaksanakan puasa sunnah biasa.

Hadits yang membicarakan hal ini disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom hadits no. 650 sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan kecuali seseorang yang punyakebiasaan puasa, maka bolehlah ia berpuasa.” (HR. Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Dalil ini adalah larangan berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan karena ingin hati-hati dalam penentuan awal Ramadhan atau hanya ingin melaksanakan puasa sunnah biasa (puasa sunnah mutlak).

2- Larangan di sini adalah larangan haram, menurut pendapat lebih kuat karena hukum asal larangan demikian sampai ada dalil yang menyatakan berbeda.

3- Dikecualikan di sini kalau seseorang yang punya kebiasaan puasa tertentu seperti puasa Senin Kamis, atau puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak puasa), kalau dilakukan satu atau dua hari sebelum Ramadhan, maka tidaklah mengapa.

4- Begitu pula dikecualikan jika seseorang ingin melaksanakan puasa wajib, seperti puasa nadzar, kafaroh atau qodho’ puasa Ramadhan yang lalu, itu pun masih dibolehkan dan tidak termasuk dalam larangan hadits yang kita kaji.

5- Hikmah larangan ini adalah supaya bisa membedakan antara amalan wajib (puasa Ramadhan) dan amalan sunnah. Juga supaya kita semakin semangat melaksanakan awal puasa Ramadhan. Di samping itu, hukum puasa berkaitan dengan melihat hilal (datangnya awal bulan). Maka orang yang mendahului Ramadhan dengan sehari atau dua hari puasa sebelumnya berarti menyelisihi ketentuan ini.

6- Ada hadits yang berbunyi,

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا

“Jika sudah mencapai separuh dari bulan Sya’ban, janganlah kalian berpuasa.“ (HR. Abu Daud no. 2337). Hadits ini seakan-akan bertentangan dengan hadits yang sedang kita kaji yang menyatakan larangan berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan. Artinya, puasa sebelum itu masih boleh meskipun setelah pertengahan Sya’ban. Dan sebenarnya, hadits ini pun terdapat perselisihan pendapat mengenai keshahihannya. Jika hadits tersebut shahih, maka yang dimaksudkan adalah larangan puasa sunnah mutlak yang dimulai dari pertengahan bulan Sya’ban. Adapun jika seseorang punya kebiasaan puasa seperti puasa Senin-Kamis, puasa Daud, atau ingin menyambung puasa Sya’ban karena separuh pertama melakukannya, begitu pula karena ingin mengqodho’ puasa Ramadhan, maka seperti itu tidaklah masuk dalam larangan berpuasa setelah pertengahan Sya’ban.

7- Islam memberikan batasan dalam melakukan persiapan sebelum melakukan amalan sholih seperti yang dimaksudkan dalam hadits ini untuk puasa Ramadhan.

Semoga sajian singkat di sore ini bermanfaat bagi pengunjung Rumaysho.Com sekalian sebagai persiapan ilmu sebelum Ramadhan. Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi:

Fathu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, 7: 18–27.

Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 5: 7–8.

—

@ Puncak, Hotel Parama saat Dauroh Syaikhuna Sa’ad Asy Syatsri, 16 Sya’ban 1434 H

Sumber https://rumaysho.com/3447-larangan-berpuasa-satu-atau-dua-hari-sebelum-ramadhan.html

Memerintahkan Anak untuk Berpuasa

Sejak kecil ketika anak kita sudah kuat berpuasa, maka sudah seharusnya didorong untuk menjalankan ibadah yang mulia tersebut. Jika sudah dilatih sejak dini, maka kelak ketika sudah baligh, ia akan mudah menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Dalam perkara shalat, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan,

مُرُوا الصَّبِىَّ بِالصَّلاَةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا

“Perintahkan anak ketika ia sudah menginjak usia tujuh tahun untuk shalat. Jika ia sudah menginjak usia sepuluh tahun, maka pukullah ia (jika enggan shalat).” (HR. Abu Daud no. 494. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Sedangkan mengenai perintah mengajak anak-anak untuk berpuasa dapat dilihat dari riwayat berikut.

‘Umar radhiyallahu anhu berkata kepada seseorang yang mabuk-mabukkan di bulan Ramadhan, “Celaka engkau, perhatikanlah puasa anak-anak kita.” Lantas beliau memukulnya karena ia dalam keadaan mabuk. (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab Shahihnya)

Imam Al Bukhari membawakan pula dalam kitab Shahihnya Bab “Puasanya anak kecil“. Lantas beliau membawakan hadits dari Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz. Ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang pada pagi hari di hari Asyura (10 Muharram) ke salah satu perkampungan Anshor, lantas beliau berkata,

مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ

“Barangsiapa yang tidak berpuasa di pagi hari, maka hendaklah ia menyempurnakan sisa hari ini dengan berpuasa. Barangsiapa yang berpuasa di pagi harinya, hendaklah ia tetap berpuasa.” Ar Rubayyi’ berkata, “Kami berpuasa setelah itu. Dan kami mengajak anak-anak kami untuk berpuasa. Kami membuatkan pada mereka mainan dari bulu. Jika saat puasa mereka ingin makan, maka kami berikan pada mereka mainan tersebut. Akhirnya mereka terus terhibur sehingga mereka menjalankan puasa hingga waktu berbuka.” (HR. Bukhari no. 1960). Hadits ini menunjukkan bahwa hendaklah anak-anak dididik puasa sejak mereka kuat. Jika mereka ‘merengek’ ingin berbuka padahal belum waktunya, maka hiburlah mereka dengan mainan sehingga mereka terbuai. Akhirnya mereka nantinya bisa menjalankan puasa hingga waktu Maghrib.

Ibnu Battol rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa ibadah dan berbagai kewajiban tidaklah wajib kecuali jika seseorang sudah baligh. Namun mayoritas ulama menganjurkan agar anak dilatih berpuasa dan melakukan ibadah supaya nantinya mereka tidak meninggalkannya, dan terbiasa serta mudah melakukannya ketika sudah wajib nantinya.” (Syarh Al Bukhari, 7/125, Asy Syamilah)

Ibnul Mundzir rahimahullah sebagaimana dinukil oleh Ibnu Battol menyatakan, “Para ulama berselisih pendapat kapan waktu anak diperintahkan untuk berpuasa.

Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin, ‘Auroh, ‘Atho’, Az Zuhri, Qotadah dan Imam Asy Syafi’i menyatakan bahwa anak diperintahkan puasa ketika telah mampu.

Al Awza’i menyatakan bahwa jika jika anak telah mampu berpuasa tiga hari berturut-turut dan tidak lemas, maka ia sudah dibebani menjalankan ibadah puasa. …

Ishaq berkata bahwa jika  anak telah menginjak usia 12 tahun, maka ia sudah dibebani menjalankan ibadah puasa agar terbiasa.

Ibnu Al Majusyun berkata, “Jika anak telah mampu puasa, maka ia telah wajib puasa. JIka ia tidak puasa tanpa udzur dan bukan karena sakit, maka ia tetap wajib mengganti (mengqodho’) puasanya.

Sedangkan Asy-hab berkata, “Disunnahkan bagi anak-anak untuk berpuasa ketika ia telah mampu.” (Syarh Al Bukhari, 7/125, Asy Syamilah)

Bagusnya adalah ketika telah mampu, anak hendaklah sudah diperintahkan untuk berpuasa. Ketika ia sudah baligh dengan tanda telah haidh bagi wanita, tumbuh bulu kemaluan atau telah mimpi basah, maka ia sudah wajib untuk berpuasa.

Semoga Allah menganugerahkan pada kita anak-anak yang sholeh yang giat untuk beribadah dan berakhlak mulia.

Wallahu waliyyut taufiq.

Panggang-Gunung Kidul, 11st Sya’ban 1432 H (13/07/2011)

Sumber https://rumaysho.com/1857-memerintahkan-anak-untuk-berpuasa.html

Seorang Istri Yang Tawadhu’

Tak jarang ditemui sosok istri yang shalihah, tekun thalabul ‘ilmi, gemar tilawah Al-Qur’tan bahkan bercita-cita menjadi hafizhah (penghapal Al-Qur’an), ibadah wajib dan sunnah-nya sangat luar biasa. Sementara takdir mengantarkannya berjodoh dengan sosok suami yang kadar iman dan amal shalihnya biasa saja. Bagaimana sikap yang bijak bagi istri dalam menjembatani perbedaan tersebut agar kehidupan pernikahannya harmonis lagi bahagia?

Jadilah pribadi yang tawadhu’

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku supaya kalian bersikap tawadhu’ sehingga tidak ada seseorang yang membanggakan dirinya terhadap yang lain, dan tidak seseorang yang mendzhalimi yang lain.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Seorang istri hendaklah rendah hati dan tidak berbangga diri dengan keimanan dan amal shalihnya. Semua itu tentunya terwujud dengan hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tak sepantasnya ia merendahkan suaminya, bisa jadi suami juga mempunyai kelebihan, seperti kebersihan hati dari hasad, kesabaran ekstra dalam mencari rezeki, hatinya mudah tersentuh penderitaan orang lain atau amal lain yang tersembunyi yang tidak diketahui istri.

Yakinlah, Anda bisa jadi mampu mewujudkan gambaran indah sebagai wanita shalihah karena doa dan keikhlasan suami dalam memberi Anda keleluasaan beragama sebagai tanggung jawab kepala rumah tangga. Maka bersyukurlah pada Allah dan berterima kasih pada pasangan. Sebagai wanita shalihah, Anda harus menghargai suami, hindari komentar negatif yang tidak perlu ketika saatnya Anda memberi masukan demi kemaslahatan bersama. Terimalah ia dengan segala kelebihan dan kekurangan yang bisa dibenahi bersama dengan bijak dan hikmah. Akuilah kelebihannya dengan proporsional meski Anda kadang melakukan pengorbanan demi kebahagiaan bersama.

Agungkan hak suami

Penghormatan dan bakti istri akan lebih kokoh ketika ia memahami hak-hak suami yang harus ditunaikan. Dari Hushain bin Muhshan, ia menuturkan bahwa bibinya menuturkan kepadanya : “Aku datang menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam karena ada keperluan. Beliau bersabda: “Siapa ini? Apakah engkau bersuami?” Ia menjawab:”Ya benar.” Beliau shalallahu hi wa sallam bersabda: “Bagaimana engkau terhadapnya?” Aku menjawab:”Aku tidak mengecewakannya kecuali yang tidak mampu aku lakukan.” Beliau bersabda: “Lihatlah dimana kedudukanmu dari dia, ia adalah surgamu dan nerakamu.” (HR. Ahmad. no. 19025, 27392, Al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra no. 14483)

Saatnya Anda menunjukkan muamalah yang baik, segera raih kecintaannya dengan terus mendoakan agar suami meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam menjalankan agama. Jadilah istri yang selalu membuatnya ridha. Ketika Anda telah berupaya untuk membuatnya tertawan oleh pesona kebaikan anda, dia akan bersimpati bahkan sangat menghargai Anda. Insya Allah dengan kesabaran, kelembutan, dan sikap yang mencerminkan kemuliaan akhlak maka segala yang Anda anggap beda akan lebih mudah dijembatani dengan sikap lapang dada.

Tunjukkan bahwa Anda mampu membersamainya dalam segala suasana, lebih fokuslah dalam menjalankan kewajiban Anda sebagai istri shalihah. Didiklah anak-anak dengan baik sebagaimana perintah Allah dan Rasul-Nya sebagai aplikasi dari ketaatan pada suami. Muslimah yang bertakwa akan lebih dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan suami.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah orang beriman mendapat manfaat lebih baik setelah takwa kepada Allah daripada istri yang shalihah yang bilamana suaminya memandang ia menyenangkan, bilamana memberi perintah ia menaatiny, bilamana memberinya jatah ia berbuat baik kepadanya, bilamana tidak hadir bersamanya ia memelihara kehormatan dirinya dan harta bendanya.” (HR. Abu Dawud no.1417, Ibnu Majah no 1857).

Wallahu a’lam.

***

Referensi :

1. Aturan Islam Tentang Bergaul dengan Sesama (terjemah), DR. ‘Abdul ‘Aziz bin Fauzan bin Shalih al-Fauzan, Griya Ilmu, Jakarta, 2010.
3. Begini Seharusnya menjadi Guru (terjemah), Fuad bin ‘Abdul ‘Aziz asy- Syalhub, Darul Haq, Jakarta, 2014.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa


Sumber: https://muslimah.or.id/12105-seorang-istri-yang-tawadhu.html

Bahaya Ambisi Terhadap Harta Dan Kehormatan

Dari Ka’ab bin Malik Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas, menuju seekor kambing, (maka kerusakan yang terjadi pada kambing itu) tidak lebih besar dibandingkan dengan kerusakan pada agama seseorang yang ditimbulkan akibat ambisi terhadap harta dan kehormatan”[1].

Hadit ini berisi permisalan yang sangat agung, yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kerusakan pada dien seorang muslim dengan sebab ambisi terhadap harta dan kehormatan di dunia. Hadits ini mengisyaratkan bahwa orang yang berambisi terhadap harta dan kehormatan (dunia) tidak akan selamat dari keutuhan keislamannya, kecuali sedikit orang yang selamat.

Permisalan yang agung ini mencakup peringatan keras dari bahaya ambisi terhadap harta dan kehormatan di dunia.

Adapun ambisi terhadap harta terbagi menjadi dua macam, yaitu:

Pertama : Sangat cinta terhadap harta, dan memforsir diri serta berlebih-lebihan dalam mencarinya meskipun dengan jalan yang halal.
Walaupun akibat yang timbul dari ambisi terhadap harta hanyalah tersia-sianya waktu dalam hidup ini, padahal memungkinkan bagi manusia untuk memanfaatkan waktu tersebut agar mencapai kedudukan yang tinggi dan kenikmatan yang abadi disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, cukuplah hal tersebut sebagai celaan terhadap perbuatan ambisi terhadap harta.

Kedua : Disamping yang pertama, dia mencari harta dari jalan-jalan yang haram dan menahan hak-hak yang wajib ia berikan kepada orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” [at-Taghaabun/64: 16]

Dalam Sunan Abu Daud dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالشُّحِّ أَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا

“Hati-hatilah kalian terhadap As-syuhh (kikir), sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena disebabkan oleh As-syuhh (kikir). As-syuhh (kikir) itu mengajak mereka untuk bakhil, maka mereka berbuat bakhil; ia itu mengajak memutuskan tali silaturrahmi, maka mereka memutuskan tali silaturrahmi; dan ia itu mengajak mereka untuk berdosa, maka mereka berbuat dosa”[2]

Dan di dalam Shahih Muslim (4/1996, no. 56/2578) dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:

اتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ

“Hindarilah As-syuhh (kikir) sesungguhnya as-syuhh itu menyebabkan kebinasaan kepada orang-orang sebelum kalian, as-syuh itu membawa mereka untuk menumpahkan darah dan menghalalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah buat mereka”.

Hakekat as-syuhh itu adalah kecenderungan jiwa kepada apa-apa yang diharamkan oleh Allah, dan tidak puasnya seseorang dari apa-apa yang dihalalkan oleh Allah, baik berupa harta, hubungan sexual dan selainnya, kemudian setelah itu dia melapaui batas dengan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah.

Al-Bukhlu (pelit) itu adalah menahan diri dari mengeluarkan harta yang dimilikinya. Adapun as-syuh itu adalah mengambil sesuatu yang bukan miliknya secara zhalim dan permusuhan, baik berupa harta ataupun selainnya. Tetapi terkadang kata as-syuh juga dipakai dengan makna al-bukhlu, dan sebaliknya, tetapi pada dasarnya ada perbedaan antara keduanya sebagaimana telah kami sebutkan.

Adapun ambisi seseorang terhadap kehormatan maka hal itu lebih membinasakan daripada ambisi terhadap harta. Sesungguhnya mencari kehormatan dunia, ketinggian dan mengejar pangkat dan jabatan karena senang menjadi pemimpin orang banyak dan melakukan kesombongan di dunia, maka hal itu lebih berbahaya bagi seseorang dibandingkan dengan bahaya yang ditimbulkan akibat ambisi seseorang untuk mengejar harta, bahkan seseorang tidak segan-segan untuk mengeluarkan hartanya demi mencapai kekuasaan dan kepemimpinan atas manusia serta mendapatkan kehormatan di dunia.

Ambisi Terhadap Kehormatan Terbagi Menjadi Dua Macam:

  1. Mencari Kehormatan Melalui Jabatan, Kekuasaan Dan Harta.
    Hal ini berbahaya sekali karena biasanya akan menghalangi nikmat akhirat dan kemuliannya. Allah berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ اْلأَخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لاَيُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي اْلأَرْضِ وَلاَفَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa” [al-Qashash/28:83]

Dalam Shahih Bukhari no. 7148 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ …

“Kalian akan berambisi atas kekuasaan dan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat…”.

Ketahuilah, bahwa ambisi terhadap kehormatan sangat membahayakan pelakunya, (ia akan menghalalkan segala macam cara) dalam usahanya mencapai tujuan, dan juga sangat membahayakan pelakunya ketika telah mendapatkan kehormatan di dunia, dengan cara mempertahankan statusnya meskipun harus melakukan kezhaliman, kesombongan dan kerusakan-kerusakan yang lain sebagaimana dilakukan oleh penguasa yang zhalim.

Di antara bahaya ambisi terhadap kehormatan adalah, biasanya orang yang memiliki kehormatan karena harta atau kekuasaannya, ia akan suka dipuji dengan perbuatannya dan ia menginginkan pujian dari manusia, meskipun terkadang perbuatan itu lebih tepat disebut sebagai perbuatan tercela dari pada perbuatan terpuji. Orang yang tidak mengikuti keinginannya, dia tidak segan-segan untuk menyakiti dan meterornya. Bahkan terkadang dia melakukan perbuatan yang zhahirnya baik, tetapi ia menyembunyikan maksud yang buruk, ia senang dengan kamuflase tersebut, apalagi dengan adanya sambutan yang positif dari khalayak ramai. Perbuatan tersebut termasuk dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَآ أَتَواْ وَيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلاَ تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa”. [Ali Imran/3 :188]

Dari sinilah para ulama’ yang mendapatkan petunjuk dari Allah melarang manusia untuk memuji mereka atas kebaikan yang mereka lakukan kepada sesama manusia, bahkan mereka menyuruh manusia untuk mengembalikan pujian hanya kepada pemiliknya, yaitu hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tiada sekutu bagiNya, karena sesungguhnya segala kenikmatan itu datang dariNya.

(Penguasa yang adil) menginginkan agar dien Islam itu semuanya milik Allah, begitu pula kemuliaan hanya milik Allah, bersama itu pula ia takut kalau-kalau ia lalai dalam menjalankan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah kepadanya.

Orang-orang yang mencintai sesama muslim dengan dasar ikhlas karena Allah, maka yang paling mereka inginkan dari orang lain adalah agar manusia mencintai Allah, mentaati dan mengesakanNya dalam beribadah. Mereka tidak menginginkan imbalan jasa ataupun ucapan terimakasih dari manusia, mereka hanya mengharapkan imbalan dari Allah atas amalan baik yang mereka lakukan.

Dari sinilah pengikut setia para rasul, baik para ulama’ maupun para pejabat, tidak mengajak manusia untuk mengagungkan diri mereka sendiri, tetapi hanya mengagungkan Allah saja, dan beribadah kepadaNya. Ada di antara mereka yang menginginkan kekuasaan hanya sebagai sarana untuk amar ma’ruf nahi mungkar, dan berdakwah mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allah semata.

  1. Mencari Kehormatan Dan Kedudukan Yang Tinggi Di Mata Manusia Melalui Jalan Agama, Seperti Ilmu, Amal Shalih Dan Zuhud.
    Bentuk seperti ini lebih keji dari yang pertama, lebih buruk, lebih berbahaya dan lebih besar kerusakannya. Karena sesungguhnya ilmu, amal shalih dan zuhud hanyalah dimaksudkan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah, berupa kedudukan yang tinggi, kenikmatan yang langgeng dan kedekatan denganNya.

Point yang kedua inipun terbagi menjadi dua:
a. Dimaksudkan untuk mencari harta. Ini termasuk ke dalam ambisi terhadap harta dan mencarinya dengan jalan yang diharamkan. Dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari ridla Allah, hanya saja dia mempelajarinya semata-mata untuk mendapatkan bagian di dunia maka dia tidak mendapatkan bau syurga di hari kiamat”[3]


b. Dimaksudkan untuk mencari pengaruh pada manusia dan agar dihormati oleh mereka, agar mereka tunduk patuh kepadanya, agar ia menjadi pusat perhatian manusia, untuk menampakkan kepada manusia kelebihan ilmunya melampaui para ulama’, maka orang seperti ini bagiannya adalah neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang yang bodoh atau menandingi para ulama’ atau untuk mencari perhatian manusia, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka”[4]

Dari sini pula para salafus shalih tidak suka lancang dalam memberikan fatwa dan tidak berambisi untuknya, tidak terburu-buru dan tidak suka banyak berfatwa.

Sebagian ulama’ berkata kepada orang yang suka memberikan fatwa: “jika kalian ditanya satu masalah, janganlah perhatian kalian tentang bagaimana terbebas dari si penanya, akan tetapi bagaimana kalian bisa selamat lebih dahulu”. Ada juga yang berkata: “Apabila anda ditanya tentang satu masalah, berpikirlah terlebih dahulu, jika anda mendapatkan jalan keselamatan untuk dirimu maka berbicaralah, jika tidak maka diamlah !”

Dari sini pula para salafus Shalih tidak suka mendatangi dan mendekati para penguasa, adapun ulama’ dunia ia akan masuk dari pintu ke pintu untuk mendapatkan kemuliaan dunia dan kedudukan. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

مَنْ سَكَنَ الْبَادِيَةَ جَفَا وَمَنِ اتَّبَعَ الصَّيْدَ غَفَلَ وَمَنْ أَتَى السُّلْطَانَ افْتُتِنَ

“Barangsiapa tinggal di daerah orang-orang Badui dia akan berperangai kasar, barangsiapa mengikuti hewan buruan ia akan lalai, dan barangsiapa mendatangi pintu para penguasa, ia akan terfitnah”[5]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya:

وَمَا ازْدَادَ عَبْدٌ مِنَ السُّلْطَانِ دُنُوًّا إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ الهِu بُعْدًا

“Tidaklah seseorang semakin dekat kepada penguasa kecuali akan semakin jauh dari Allah”[6]

Yang sangat ditakutkan atas orang yang mendatangi para penguasa yang zhalim adalah membenarkan kedustaan mereka, menolong kezhaliman mereka meskipun dengan diam membiarkan mereka berbuat zhalim. Karena orang yang mendatangi mereka dengan tujuan mendapatkan kemuliaan dan kedudukan di dunia serta berambisi terhadap keduanya, dia tidak akan mengingkari mereka, bahkan sangat mungkin baginya untuk menganggap baik tindakan buruk mereka, sebagai upaya untuk untuk mendekatkan diri kepada mereka, dan untuk mendapatkan posisi yang baik di sisi mereka, agar mereka membantunya untuk mewujudkan ambisinya.

Dari Ka’ab bin Ujrah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Akan datang sesudahku para penguasa, maka siapa yang masuk menemui mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan membantu mereka atas kezhaliman yang mereka lakukan, maka dia bukanlah dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan ia tidak akan minum air telaga. Barangsiapa yang tidak masuk menemui mereka, dan tidak menolong mereka atas kezhaliman mereka, dan tidak membenarkan kedustaan mereka, maka dia adalah termasuk golonganku dan aku darinya dan dia akan minum air telaga”[7]

Banyak dari kalangan Salaf yang melarang masuk mendatangi para penguasa meskipun bertujuan amar ma’ruf nahi mungkar. Di antara mereka adalah Umar bin Abdul Aziz, Abdullah bin Mubarak, Sufyan Ats-Tsauri dan lain-lain.

Abdullah bin Mubarak berkata: “Menurut kami, tidak disebut penganjur kebaikan dan pemberantas kemungkaran, orang-orang yang masuk mendatangi para penguasa untuk amar ma’ruf nahi mungkar, tetapi yang disebut penganjur kebaikan dan pemberantas kemungkaran adalah orang yang menjauhi mereka”.

Penyebabnya adalah apa yang ditakutkan berupa fitnah (kesesatan) akibat masuk menemui mereka. Karena telah dikhayalkan kepada diri manusia, bahwasanya ketika ia masih jauh dari para penguasa, ia dapat menganjurkan kebaikan kepada mereka dan melarang serta mengingkari kemungkaran kepada mereka, lalu jika ia telah menemui mereka dari jarak dekat, condonglah jiwa kepada mereka, ia memendam cinta akan kemulian dunia, ia bahkan bisa jadi jatuh cinta kepada mereka, lebih-lebih jika mereka memberikan kemudahan dan fasilitas kepadanya, dan ia terima pemberian tersebut.

Sufyan Ats-Tsauri (161 H) telah menulis surat kepada Abbad bin Abbad, di antara isinya adalah: “Hati-hatilah anda dari penguasa, janganlah dekat dengan mereka atau berhubungan dalam urusan apapun, janganlah anda tertipu dengan tipuan Iblis yang membisikkanmu bahwa engkau menemui mereka dalam rangka membela orang-orang yang tertindas dan mengembalikan hak-hak mereka. Hanya ulama su’ (buruk) yang menjadikan dekat dengan penguasa sebagai tangga untuk mencapai ambisi dunianya. Adapaun fatwa yang sudah ada maka pergunakanlah, janganlah menjadi orang yang senang jika ucapanya didengar dan diikuti, serta diekspose secara meluas. Apabila ia meninggalkan itu semua, maka diketahuilah keikhlasannya.

Hati-hatilah anda dari cinta kepemimpinan, karena orang yang berambisi terhadap kepemimpinan ia lebih mencintai kepemimpinan daripada cintanya terhadap emas dan perak. Celah ini sangat tersamar, tidak ada yang mengetahuinya kecuali ulama yang berpengalaman.

Waspadalah dalam urusan hati, dan beramalah dengan niat yang ikhlash, dan ketahuilah sudah dekat waktunya bahwa perkara yang diinginkan oleh seseorang adalah apabila meninggal dunia, wassalam”.

Dikarenakan bahaya ambisi terhadap kemuliaan dunia, maka para Salafush shalih tidak menyukai mempertontonkan keunggulan dirinya kepada manusia, baik dalam hal ilmu, zuhud, dan ibadah. Mereka tidak suka menampakkan amal shalih, ucapan, atau menyebutkan karamah yang Allah berikan kepadanya agar ia dikunjungi, diharapkan berkahnya, dimintai do’anya, dan supaya dicium tanganya, lalu senang serta bergembira terhadap hal demikian, bahkan berusaha untuk mendapatkan penghormatan dari manusia dengan apa yang telah disebutkan tadi.

Dari sinilah para Salafush Shalih sangat tidak menyukai ketenaran, di antara mereka: Ayyub As-Sikhtiani, An-Nakha’i, Sufyan Ats-Tsauri, Ahmad bin Hambal, dan ulama Rabbani lainnya. Mereka merendahkan amalan mereka, dan sangat menyembunyikan amal shalih mereka.

Ibrahim An-Nakha’i apabila sedang membaca Al-Qur’an, kemudian datang seseorang maka ia segera menutupi wajahnya dengan mushaf.

Banyak di antara ulama’ Salaf yang tidak suka apabila ia dimintai do’a, sambil berkata kepada yang minta do’a: “Siapakah saya ini ?” (dia merasa tidak pantas untuk dimintai do’a). Seseorang mengirim surat kepada Imam Ahmad meminta agar beliau berdo’a untuknya, maka Imam Ahmad menyatakan: “Jika kami berdo’a untuknya, maka siapakah yang berdo’a untuk kami?”

Salah seorang shalih menceritakan kepada raja tentang seseorang yang gemar beribadah, maka raja ingin berkunjung kepadanya, diberitahukanlah jadwal kunjungan sang raja kepada ahli ibadah terebut. Pada saat kedatangan raja, ahli ibadah tersebut duduk di pinggir jalan sambil makan, sang raja datang menemui ahli ibadah yang sedang duduk di pinggir jalan sambil makan, raja mengucap salam dan dijawab oleh ahli ibadah dengan singkat sambil menyantap makanan dengan lahap tanpa menghiraukan kedatangan sang raja. Raja menjadi kecewa dan berkata: “Orang ini tidak mempunyai kebaikan sama sekali !” lalu pulanglah sang raja. Setelah sang raja pergi, si ahli ibadah berkata: “Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) yang telah menjauhkan saya dari orang itu dan dia pulang dalam keadaan mencelaku”.

Permasalahan ini sangat luas sekali, dan di sini terdapat point yang sangat halus sekali. Yaitu bahwa seorang manusia kadang mencela diri sendiri di hadapan orang lain, dengan tujuan agar orang lain menganggap dia sebagai orang yang tawaddlu’, sehingga ia menjadi mulia dan terpuji di mata manusia. Ini merupakan bagian dari pintu riya’ yang sangat halus, para ulama’ telah memperingatkan terhadap hal ini.

Jelaslah sudah sebagaimana telah kami sebutkan, bahwa cinta harta dan kedudukan serta ambisi terhadap keduanya dapat merusak dien seorang muslim sampai habis tak bersisa, kecuali Allah berkehendak lain. Akar dari cinta kepada harta dan kemuliaan adalah cinta kepada dunia dan akar cinta kepada dunia adalah mengikuti hawa nafsu.

Wahab bin Munabbih berkata: “Mengikuti hawa nafsu akan melahirkan cinta kepada dunia, cinta kepada dunia akan melahirkan cinta kepada harta dan kemuliaan, dan cinta kepada harta dan kemuliaan melahirkan sikap menghalalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah”.

Baca Juga  Bagaimana Seorang Muslim Membina Dirinya Sendiri
Ucapan itu benar, hanya taqwa kepada Allah yang dapat membentengi seseorang dari mengikuti hawa nafsu dan memalingkan hati kita dari cinta kepada dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَمَّا مَن طَغَى . وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى . وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى . فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”. [an-Nazi’aat/79: 37-41]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensifatkan penduduk neraka sebagai orang yang memiliki harta dan kekuasaan di beberapa tempat dalam kitabNya. Dia berfirman:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ . وَلَمْ أَدْرِ مَاحِسَابِيَهْ . يَالَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ . مَآأَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ . هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ

“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya kepadanya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:”Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku, wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu, hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku, telah hilang kekuasaan dariku”. [al-Haaqqaah/69: 25-29]

Ketahuilah bahwa jiwa manusia mencintai kedudukan yang tinggi melebihi orang lain. Dari sinilah timbul sifat sombong dan hasad, akan tetapi orang-orang yang berakal akan berlomba untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi yang kekal dan langgeng di sisi Allah, mendapatkan ridlaNya dan membenci kedudukan tinggi yang fana dan bersifat sementara, tetapi disertai dengan kemurkaan Allah dan kebencianNya, rendah dan jauh dariNya.

Ambisi untuk mendapatkan kedudukan tinggi di dunia adalah perbuatan tercela yang mengakibatkan kecongkakan dan kesombongan di muka bumi. Sedangkan ambisi untuk mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah adalah hal yang terpuji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَفيِ ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba” [al-Muthaffifiin/83: 26]

Untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi di akhirat diperintahkan untuk berlomba-lomba dan berambisi terhadapnya, dengan jalan berusaha berjalan di atas rel-relnya, tidak boleh merasa puas dengan rangking terakhir padahal ia mampu meraih rangking teratas. Adapun kedudukan tinggi di dunia, maka di akhirat akan berakibat penyesalan dan kerugian serta kehinaan dan kerendahan yang akan dirasakan oleh orang yang berambisi. Maka yang disyari’atkan dalam hal ini adalah menghindar dan zuhud terhadapnya.

BEBERAPA PENYEBAB ZUHUD
Untuk memproleh sikap zuhud terdapat beberapa sebab, di antaranya:

  1. Dengan merenungi tentang akibat buruk di akhirat dengan sebab kehormatan dunia, berupa jabatan dan kekuasaan bagi orang yang tidak melaksanakan tugasnya dengan benar.
  2. Dengan merenungi tentang hukuman yang diperoleh bagi orang-orang yang zhalim dan sombong.
  3. Dengan merenungi tentang pahala yang didapatkan oleh orang-orang yang ketika di dunia rendah hati, ikhlas karena Allah, yaitu dengan mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat, karena sesungguhnya barangsiapa yang rendah hati karena Allah (tawaddlu’), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya.
  4. Zuhud didapat bukan karena kemampuan seorang hamba, akan tetapi merupakan karunia Allah dan rahmatNya. Orang yang zuhud akan memperoleh kehidupan yang baik di dunia sesuai dengan janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Kehidupan yang baik ini berupa balasan yang segera akan Allah berikan bagi orang-orang yang zuhud terhadap harta dan kemuliaan dunia. Kehidupan yang baik ini secara zhahir berupa kemuliaan taqwa dan kewibawaan di mata manusia, dan secara bathin berupa manisnya iman dan ketaatan.

Barangsiapa mendapat karunia zuhud dari Allah, tentu ia sibuk mencari kemuliaan akhirat dan tidak akan tertipu dengan kemuliaan dunia yang semu dan sementara. Allah berfirman:

وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ

“Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik”. [al-A’raaf/7: 26]

مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فِلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka milik Allah-lah semua kemuliaan itu”. [al-Fathiir/35: 10]

Muhammad bin Sulaiman, seorang gebernur Bashrah datang menemui Hammad bin Salamah. Gubernur itu duduk di hadapan Hammad lalu bertanya: “Wahai Abu Salamah, mengapa setiap kali saya memandangmu, saya gemetar segan kepadamu ?” Beliau menjawab: “Karena seorang alim apabila menghendaki ridla Allah dengan ilmunya, maka segala sesuatu akan takut kepadanya, apabila ia menginginkan untuk memperbanyak harta dengan ilmu, maka ia takut kepada segala sesuatu”.

Barangsiapa sibuk membina dirinya untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, dengan jalan mengenal Allah, takut kepadaNya, cinta kepadaNya, selalu merasa dalam pengawasanNya, tawakkal, ridla dengan takdirNya, merasa tentram dan rindu kepadaNya, dia akan sampai kepadaNya dan dia tidak akan perduli dengan kedudukan yang tinggi di sisi manusia. Meskipun demikian, Allah akan memberikan kedudukan yang tinggi di mata manusia, dan mereka hormat kepadanya, padahal dia sendiri tidak menginginkan hal tersebut, bahkan lari menjauhinya dan khawatir kalau kehormatan dunia ini bisa memutuskan jalannya menuju ridla Allah. Allah Subhanahu wa Ta’la berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا

“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang” [Maryam/19: 96]

Dan dalam sebuah hadits yang shahih:

إِذَا أَحَبَّ الهُa الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ الهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحْبِبْهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ الهَa يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي اْلأَرْضِ

“Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Dia berfirman: “Wahai jibril Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia!” lalu Jibrilpun mencintainya. Lalu jibril berseru kepada penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia!”, maka penduduk langitpun mencintainya. Kemudian dia di karuniai dengan diterimanya di muka bumi”. [HR. Bukhari no. 3037, 5693,7047 dan Shahih Muslim no. 2637]

Kesimpulannya mencari kehormatan akhirat akan mendapatkan kehormatan akhirat plus kehormatan dunia, meskipun ia tidak menginginkan dan tidak mencarinya. Sedangkan mencari kehormatan dunia tidak akan bertemu dan tidak akan mungkin berkumpul dengan kehormatan akhirat.

Orang yang bahagia adalah orang yang lebih mengutamakan akhirat yang kekal dibandingkan dengan dunia yang fana.

(Disarikan dari kitab: Syarhun wa bayanun lihaditsi “MAA DZI’BAANI JA’IAANI” Oleh Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah  (736-795), Takhrij : Muhammad Shubhi Hasan Hallaq, Penerbit : Muassasah Ar-rayyan-Beirut-Libanon, Cet: Pertama, tahun 1413 H – 1992 M. Penerjemah: Fariq bin Ghasim Anuz)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun X/1427H/2006M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote
[1] HR. Ahmad, Nasa’, Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya, Imam Tirmidzi berkata (tentang) hadits ini: “Hasan shahih”. Muhammad Shubhi Hasan Hallaq menyatakan: “Hadits ini telah dishahihkan oleh Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Albani dan selain mereka.
[2] Syaikh Muhammad Syubhi Hasan Hallaq menyatakan hadits ini Shahih. HR. Abu Daud 2/324 no. 1698.
[3] HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban serta dishahihkan oleh Syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq
[4] HR. Tirmidzi no. 2654 dari Ka’ab bin Malik serta dishahihkan oleh syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq
[5] HR. Ahmad. Abu Daud no. 2859, Tirmidzi dan Nasa’i no. 4309. Syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq berkata: “Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam Al-Jami’ (I/163), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (4/72), Ibnu Katsir dalam tafsirnya (2/397), Thabrani dalam Al-Kabir no. 11030, dan Bukhari dalam Al-Kuna (8/70) dan itu adalah hadits shahih, dan dishahihkan pula oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud
[6] HR. Ahmad, Abu Daud no. 4860. Syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq berkata: “Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (1/312) Al-Qudhai dalam Musnad as-Syihab (1/222 no. 339) dan Syaikh Al-Albani memuatnya dalam as-Shahihah no. 1272
[7] (HR. Ahmad 3/321 dan 399, Tirmidzi 4/525 no. 2259, Nasa’i 7/160, 161 no. 4207 dan 4208 dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (Dalam Al-Ihsan 1/248 no. 279; 1/249 no. 282; 1/250 no. 283; dan 1/251 no. 285
Referensi : https://almanhaj.or.id/10681-bahaya-ambisi-terhadap-harta-dan-kehormatan-2.html

Kultum Persiapan Menjelang Ramadhan

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh,

إِنّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن، أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin yang berbahagia,

Syukur Alhamdulillah kita haturkan ke hadhirat Allah, Sang Pemberi petunjuk, Yang menguasai dan mengendalikan seluruh hati manusia. Puji syukur kita haturkan pula kepada Allah, karena dengan rahmat dan hidayahnya, kita bisa merasakan nikmatnya ibadah dan ketaatan kepada-Nya.

InsyaaAllah beberapa hari lagi kita akan berjumpa dengan bulan ramadhan. Bulan mulia, yang penuh berkah. Para hamba dimotivasi untuk banyak mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itulah, selayaknya kita menyambut ramadhan dengan kegembiraan dan suka cita.

Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada para sahabat akan datangnya ramadhan.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita,

Ketika datang ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada para sahabat akan datangnya ramadhan. Beliau bersabda,

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa. Di bulan ini, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan diikat; di sana terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa terhalangi untuk mendapat kebaikannya, berarti dia telah terhalangi untuk mendapatkan kebaikan.” (HR. Ahmad dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Hadhirin yang kami hormati,

Secara umum, ketika kita menghadapi sebuah ibadah, ada 3 hal yang perlu kita pikirkan,

Pertama, apa yang harus kita persiapkan sebelum ibadah

Kedua, apa yang harus kita lakukan ketika beribadah,

Dan yang ketiga, apa yang harus kita lestarikan pasca-ibadah.

Di kesempatan kali ini, kita akan membicarakan, apa yang seharusnya dipersiapkan seorang muslim sebelum memasuki ramadhan.

Kaum muslimin yang berbahagia,

Ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan menjelang ramadhan

Pertama, memperbanyak berdoa

Berdoa memohon kepada Allah, agar Allah mempertemukan kita dengan ramadhan, dalam kondisi sehat jasmani rohani. Sehingga bisa maksimal dalam beribadah ketika ramadhan.

Kita meyakini bahwa satu-satunya yang kuasa mengendalikan diri kita hanya Allah. Dia yang memberi kemudahan bagi para hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Baik kemudahan dalam bentuk fisik, seperti kesehatan, kekuatan, dst. Termasuk yang paling penting adalah kemudahan dalam bentuk semangat untuk melakukan ibadah.

Kita tidak akan mampu beribadah, tanpa pertolongan dari-Nya. Karena itu, berdoa dan berdoalah. Memohon kepada Allah agar kita diberi kemudahan untuk mendapatkan kebaikan ramadhan.

Kita bisa simak semangat sahabat dan para tabi’in di masa silam. Mereka sangat antusias menyambut ramadhan. Sehingga mereka gunakan kesempatan doa mereka, untuk memohon kepada Allah agar bisa bertemu ramadhan.

Mu’alla bin Al-Fadhl – ulama tabi’ tabiin –,

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

Diantara doa yang bisa kita tiru adalah doa yang diriwayatkan oleh Yahya bin Abi Katsir – seorang ulama tabi’in –, bahwa sebagian sahabat ketika mendekati datangnya Ramadhan mereka berdoa,

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

Satu harapan yang luar biasa. Betapa mereka menilai, Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Sehingga mereka tidak akan menjadikannya kesempatan yang sia-sia.

Kedua, Perbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah

Semoga istighfar kita bisa melebur dosa kita.

Dosa dan maksiat adalah sumber penyakit bagi hati. Dialah sumber noda bagi hati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bagaimana bahaya dosa bagi hati manusia,

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ» {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

Sesungguhnya seorang hamba, apabila melakukan perbuatan maksiat maka akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Jika dia meninggalkan maksiat itu, memohon ampun dan bertaubat, hatinya akan dibersihakn. Namun jika dia kembali maksiat, akan ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar-raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.’ (HR. Turmudzi, Ibnu Majah dan sanadnya dinilai kuat oleh Syuaib Al-Arnauth).

Mulailah bertaubat untuk menghapus kesalahan kita. Jika kesalahan itu harus ditutupi dengan membayar kaffarah, kita siap membayarnya. Jika terkait dengan hak orang lain, kitapun siap dengan meminta maaf kepadanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan,

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ، كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

Orang yang bertaubat dari satu perbuatan dosa, seperti orang yang tidak melakukan dosa itu. (HR. Ibn Majah).

Dengan taubat, berarti kita menghilangkan penyakit hati berupa noda dosa dalam diri kita.

Ketiga, mulai membiasakan diri dengan kebaikan

Sesuatu yang dilakukan dengan mendadak, biasanya hasilnya tidak masksimal. Karena manusia jadi baik, tidak bisa dilakukan secara instan. Semuanya butuh proses.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفُّهُ اللَّهُ ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ

“Siapa yang melatih diri menjaga kehormatan maka Allah akan jaga kehormatannya, siapa yang melatih diri untuk bersabar, Allah jadikan dia penyabar. Dan siapa yang merasa cukup, Allah akan memberikan kecukupan.” (HR. Bukhari, Abu Daud, dan yang lainnya)

Umumnya, ketika kita memasuki ramadhan, ada 2 amalan besar yang akan dirutinkan masyarakat, berpuasa di siang hari, dan membaca al-Quran tadarusan. Dan keduanya butuh kesabaran.

Anda harus biasakan sejak sekarang. Mulai latihan bersabar dengan banyak membaca al-Quran.

Latihan sabar membaca al-Quran, akan memudahkan kita banyak membaca al-Quran ketika ramadhan. Setidaknya, dalam sehari kita bisa membaca satu juz.

Keempat, Tekad untuk untuk menjadikan ramadhan kesempatan untuk berubah

Kita harus punya target. Ramadhan tahun ini harus mengubah diri saya menjadi lebih baik.

Allah memberikan banyak kemudahan bagi hamba-Nya untuk beribadah selama ramadhan.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Ketika datang ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. (HR. Muslim)

Pintu surga dibuka, artinya peluang besar bagi anda yang melakukan ketaatan, untuk diterima amalnya dan mengantarkannya ke dalam surga.

Pintu neraka ditutup, artinya kita berharap semoga kemaksiatan yang kita lakukan, segera diampuni dan tidak mengantarkan kita ke neraka.

Setan-setan dibelenggu, sehingga tidak mudah baginya untuk menggoda manusia. tidak sebagaimana ketika dia dalam kondisi lepas.

Artinya, itu kesempatan terbesar bagi kita untuk berubah. Target ramadhan tahun ini menjadi lebih berkualitas. Jika sebelumnya hanya membaca setengah juz, targetkan agar yang dibaca lebih banyak.

Kelima, Pahami fiqh ramadhan

Tidak ada ruginya orang yang belajar. Karena ilmu adalah pengarah bagi manusia. Dengan ilmu, orang memiliki panduan untuk bisa beramal dengan benar. karena itulah, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memuji ilmu, diantaranya, ilmu akan menjaga kita. Ali radhiyallahu ‘anhu berpesan kepada muridnya, Kumail bin Ziyad,

الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ .الْعِلْمُ يَحْرُسُك ، وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالِ

Ilmu lebih baik dari pada harta, ilmu yang menjagamu dan harta kamu yang jaga. (Hilyah Auliya, 1/79)

Islam mengajarkan agar setiap muslim berbekal ilmu sebelum belajar. Memahami panduannya, sebelum beramal. Allah berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

Pahamilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu. (QS. Muhammad: 19)

Kata imam Bukhari ketika beliau menjelaskan ayat ini,

باب الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

“Penjelasan, bahwa ilmu harus didahulukan sebelum berbicara dan beramal.” (Shahih Bukhari, 1/130)

Beramal dengan ilmu, dalam arti berdasarkan dalil, akan membuat amal kita semakin meyakinkan.

Allahu a’lam.

Semoga Allah membimbing dan memudahkan kita untuk menjalankan ketaatan selama ramadhan…

Amiin..

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Referensi: https://konsultasisyariah.com/27889-kultum-persiapan-menjelang-ramadhan.html

Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran

Doa ini bagus sekali diamalkan agar kita terus mendapatkan petunjuk dan keistiqamahan.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa

Hadits #1473

وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : قُلْ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي ، وَسَدِّدْنِي

وَفِي رِوَايَةٍ : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Ucapkanlah: ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII (artinya: Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran).”

Dalam riwayat lain disebutkan, “ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD (artinya: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2725]

Keterangan Doa

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa meminta hidayah (as-alukal huda) di sini adalah hidayah berupa petunjuk dan bimbingan, berarti berupa pengajaran. Sedangkan meminta as-sadaad adalah meminta istiqamah dan pertengahan dalam berbagai urusan. Maksudnya kita meminta kepada Allah agar diberi taufik senantiasa berada dalam kebenaran untuk setiap perkara.

Intinya doa ini berisi permintaan yang sangat penting yang dengan keduanya bila diperoleh akan mendapatkan keburuntungan dan kebahagiaan, yaitu yang diminta dalam doa adalah al-huda (hidayah petunjuk) dan as-sadaad (istiqamah di atas kebenaran). Meminta kepada Allah petunjuk berarti kita meminta agar diberi petunjuk kebenaran secara global dan terperinci, juga diberi taufik untuk mengikuti kebenaran tersebut secara lahir dan batin.

Adapun meminta kepada Allah as-sadaad berarti meminta kepada Allah taufik dan istiqamah dalam segala perkara, agar terus berada dalam kebenaran. Jalan istiqamah ini dalam perkataan, perbuatan, dan i’tiqod (keyakinan). Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْۗوَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71). Bagi yang memperoleh as-sadaad akan mendapatkan dua faedah yaitu, amalan akan diperbaiki (shalahul a’mal) dan dosa-dosa akan diampuni (maghfirotudz dzunuub).

Dari Abu Burdah bin Abu Musa, bahwa ‘Ali berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَلِ اللهَ تَعَالَى الْهُدَى، وَالسَّدَادَ ، وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَاذْكُرْ بِالسَّدَادِ تَسْدِيدَكَ السَّهْمَ

“Mintalah kepada Allah hidayah (petunjuk) dan istiqamah di atas kebenaran. Sebutlah al-huda (petunjuk), maka engkau akan mendapatkan hidayah petunjuk. Sebutlah as-sadaad, maka arah panahmu akan lurus sampai tujuan.” (HR. Ahmad, 2:91; Al-Hakim, 4:268; Al-Bazar, 2:119. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’, no. 3046)

Faedah Hadits

  1. Orang yang berdoa hendaklah semangat meminta kepada Allah hidayah dan istiqamah, yaitu istiqamah dalam beramal dengan ikhlas dan sesuai tuntunan.
  2. Hendaklah setiap orang meminta tolong kepada Allah dalam setiap urusannya, termasuk dalam meminta hidayah dan istiqamah. Tak boleh kita bergantung pada diri kita sendiri yang lemah.

Doa dalam hadits di atas bisa dirangkai menjadi:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي ، وَسَدِّدْنِي,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ

ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII. ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD.

“Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran.”

Referensi:

  1. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  2. https://kalemtayeb.com/safahat/item/3099

—

Disusun di Garuda, 28 Rajab 1440 H (4 April 2019, Kamis pagi)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/20123-doa-meminta-hidayah-dan-istiqamah-di-atas-kebenaran.html

Kejayaan Hanya Milik Islam

Syaikh Abu Usamah Salim bin Id Al-Hilali

Sesungguhnya termasuk hal yang sangat menggembirakan, kita bisa bersua kembali dalam masjid ini, di universitas ini, di tengah saudara-saudara kami, kita bersatu dikalimat yang sama, yaitu kalimat tauhid dan di atas kebesaran Islam. Tema kita di pagi hiri yang cerah ini ialah kebesaran milik Allah dan RasulNya dan orang-orang yang beriman. Maksudnya, kebesaran hanya milik Islam semata.

Dalil-dalil yang menunjukan bahwa kejayaan hanya milik Allah, RasulNya dan kaum muslimin serta Islam banyak sekali. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui. [Al-Munafiqun/63 : 8]

Ayat ini menegaskan bahwa kejayaan hanya milik Allah, RasulNya dan kaum mukminin.

فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَن يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

Janganlah kamu merasa lemah dan meminta perdamaian, padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu. [Muhammad/47: 35]

Dan sudah di ketahui bagi orang yang mendalami Al-Quran, ia menetapkan bahwa kalimatullah adalah paling tinggi, sedangkan kalimat orang kafir berada dalam tingkat yang paling rendah. Jadi kebesaran milik Islam dalam kitabullah. Demikian juga, hal ini di tegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga pernyataan dari generasi salaf, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لَا يَنْبَغِي لِمُسْلِمٍ أَنْ يُذِلَّ نَفْسَهُ

Tidak selayaknya seorang mukmin menghinakan dirinya” [Hadits Riwayat Ahmad]

Ini dalil agar setiap muslim merasa mulia dengan agamanya. Karena Islam mengajarkan al ‘izzah kepadanya.

Perhatikan dialog antara Abu Sufyan yang masih dalam kekufurannya –padawaktu itu– dengan Umar bin Khaththab, tatkala kaum musyrikin mendapatkan kemenangan dalam perang uhud.

Abu Sufyan berkata: Agungkanlah Hubal, kemudian nabi memerintahkan Umar bin Khaththab untuk menyanggah dengan (perkataan) : ”Allah lebih besar dan lebih tinggi”.

Ini merupakan sebagian dalil dari al kitab dan as Sunnah yang menunjukan bahwa izzah (kebesaran) hanya milik Allah, RasulNya dan Islam.

Apabila kita telah mengetahui bahwa kebesaran itu milik Islam, apakah yang dimaksud dengan izzah dalam Islam, dan bagaimana Islam bisa mengangkat kaum muslimin dari konsep kebesaran jahiliyah menuju kosep izzah imani. Renungkanlah ayat ini, kita lihat dan bandingkanlah.

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” [Al–Munafiqun/63 : 8]

Lihatlah, Abdullah bin Ubay bin Salul, pimpinan kaum munafqin dalam perang bani Musthaliq. Setelah orang-orang pulang dari perang tersebut –termasuk Rasulullah- dia memunculkan ide penyebaran hadits ifk (berita palsu). Dia menuduh ummul mukminin ash Shiddiqah bin ash Shiddiq (‘Aisyah) dengan tuduhan zina. Wal iyyadzu billah.

Lihatlah, ia mengalihkan peperangan ke rumah beliau, pada kehormatan beliau. Dalam suasana panas penuh isu, simpang-siur sarat berita bohong, orang munafik ini ingin memanfaatkan kesempatan ini, atau ingin menghantam beliau, atau ingin memancing dalam air keruh.

Pada situasi demikian ia mengatakan: لَئِن رَّجَعْنَآ إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ اْلأَعَزُّ مِنْهَا اْلأَذَلَّ (Sesungguhnya jika telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya). Yang ia maksud dengan orang yang kuat adalah dia sendiri. Sedangkan yang ia maksud orang yang lemah adalah Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inilah konsep izzah dalam kaca mata jahiliyah, membanggakan diri, membanggakan kedudukan sosial, dengan nasab, nenek moyang, golongan, banyaknya pengikut, banyaknya harta, dengan jabatan dan harta. Inilah izzah menurut jahiliyah.

Dalam masalah berita palsu ini, Allah tidak membiarkan ada orang yang membantah para penyebar isu berita palsu tersebut. Yang membantah adalah langsung Allah sendiri. Allah merehabilitasi nama baik Ummul Mukminin dalam sebelas ayat pertama dari surat An-Nur. Sementara di dalam surat Al-Munafiqun, Allah membantah Abdullah bin Ubay bin Salul (dengan firmanNya).

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” [Al-Munafiqun/63 : 8]

Firman Allah ini seolah-olah mengatakan, tidak ada kebesaran kecuali milik Allah. Dialah yang maha perkasa dan bijak, Maha kuat dan perkasa.Tidak ada kebesaran, kecuali milik Allah. Tidak ada kejayaan, kecuali bersama dengan Allah.

Siapa saja yang tergantung dengan yang maha kuat, niscaya ia menjadi insan yang kuat. Oleh karena itu, Rasulullah berpegang dengan Allah, sehingga ia menjadi kuat. Dan demikian pula dengan kaum mukminin, mereka berpegang kepada Allah dan RasulNya, mereka menjadi insan–insan yang kuat.

Inilah makna izzah dalam kosep imani, bangga diri dengan agama, dengan Allah, Rasul, amal shalih, ilmu yang bermanfaat, serta dakwah kepada Allah. Lihatlah, bagaimana konsep Islam mengangkat manusia dari permukaan bumi menuju ketinggian izzah. Menuju tingginya tekad. Kendatipun jasad-jasad mereka bersentuhan dengan yang ada di bumi, tetapi jiwa-jiwa mereka terikat dengan malail a’la (majlis yang paling tinggi), dengan kenikmatan-kenikmatan yang ada di sisi Allah. Jadi izzah milik Islam.

Apakah (yang menjadi) sumbernya?
Sudah kami katakan tadi, bahwa tidak ada kebesaran kecuali milik Allah. Dan siapa saja yang bersama dengan yang maha perkasa, ia menjadi perkasa Dan siapa saja yang mencari kejayaan dengan selain Allah, niscaya akan hina.

Faktor paling besar yang mendukung kukuhnya izzah ini, adalah aqidah Islamiyyah. aqidah ini bertumpu pada tauhidullah (mentauhidkan Allah), terhadap dzatNya, tindakan-tindakanNya dan asma wa sifatNya,Tidak ada dzat yang berhak di sembah kecuali Allah. Karena itu, barang siapa menyambah Allah, ia menjadi insan yang perkasa. Dan orang yang meyekutukan Allah, akan menjadi manusia hina. Allah-lah yang mengangkat derajat atau menghinakan seseorang. Allah berfirman .

وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ

Dan Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. [Ali–Imran/3 : 26]

Barang siapa konsisten pada aqidah yang benar dan tauhid yang lurus, niscaya Allah akan memuliakannya dengan aqidah dan agama ini. Dan barang siapa yang menyimpang darinya, hendaknya tidak mencela kecuali dirinya sendiri saja.

Faktor lain yang juga dapat mewujudkan ‘ izzah adalah mInhaj. Oleh karena itu, Allah berfirman.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata : “Sesungguhnya aku termsuk orang–orang yang berserah diri.” [Fushiliat/41: 33]

Lihatah, setelah ia berpegangan dengan manhaj dan dakwah, kemudian mempunyai rasa bangga dengan agama. Dia mengumandangkan suaranya, bahwa ia seorang muslim, termasuk yang bertauhid kepada Allah dan mengikuti Allah dan RasulNya. Firman Allah :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا

(Dan siapakah yang lebih baik perkataannya …), maka jawabannya, tidak ada seorang pun yang lebih baik darinya. Dalam ayat ini Allah mengikat dakwah dengan manhaj. Baru kemudian mengerjakan amalan shalih. Setelah itu, akhirnya ia bangga dengan Islam.

Oleh karena itu, berkaitan dengan syarat diterimanya amalan shalih, ada syarat sah dan syarat kamal (kesempurnaan).

Tentang syarat sah diterimanya amal adalah ikhlas bagi Allah dan ittiba’ kepada Nabi. Sedangkan syarat kesempurnaannya amal ialah.

Pertama : Seseorang harus menggenggam agamanya dengan kuat. Allah berfirman.

يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ

Hai, Yahya. Ambillah Al–Kitab (Taurat) itu dengan sungguh–sungguh. [Maryam/19 : 12]

Allah berfirman :

خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ

“Pegangilah dengan teguh apa yang Kami berikan kepadamu” [Al–Baqarah/2 : 63]

Dan yang dimaksud dengan quwwah ini adalah berbangga diri dengan agama Islam.

Kedua : Tidak malas beramal shalih dan menyegerakan diri dalam mengerjakan amal kebaikan maupun ketaatan.

Sumber kemuliaan Islam yang lain, yaitu menjadi seorang muslim yang mempunyai ciri khas tersendiri dalam aqidah, cara–cara beribadah, penampilan lahiriah atau batiniah.

Dalam seluruh aspek, seorang muslim memiliki ciri khas tersendiri. Umat Islam memiliki nilai istimewa dengan menonjolnya kebaikannya. Allah berfirman :

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia” [Al–Imran/3 : 110]

Memiliki nilai tersendiri sebagai umat yang adil dan pilihan. Allah berfirman :

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kami (umat Islam), sebagai umat yang adil dan pilihan” [Al–Baqarah/2: 143]

Mereka menjadi saksi–saksi Allah di bumi. Lihatlah nilai istimewa yang dimiliki kaum Muslimin dalam ayat.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang–orang yang telah Engkau anugerahkan kenikmatan kepada mereka, bukan (jalan) yang dimurkai Allah (yaitu : Yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (yaitu : Nashara” )” [Al–Fatihah/1 : 6–7]

“Tunjukilah kami wahai Rabb ke jalan yang benar dan lurus, bukan jalan orang–orang yang dimurkai Allah, yaitu kaum Yahudi. Juga bukan jalan orang–orang yang sesat, yaitu kaum Nashara”. Seorang muslim berbeda dengan Yahudi dan Nashara, penganut agama dan golongan lain. Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salaam melarang tasyabbuh (berserupa) dengan orang–orang kafir. Larangan itu tertuang dalam nasihat beliau yang sangat mengagumkan.

Baca Juga  Kisah Penciptaan Nabi Adam Alaihissallam
بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Aku diutus dengan pedang, saat hari Kebangkitan sudah dekat, supaya Allah saja yang disembah. Ditimpakan kehinaan dan kerendahan pada orang yang menentang perintahku. Rezekiku ditetapkan berada di bawah ujung tombak. Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, niscaya ia termasuk dari mereka” [Hadits Riwayat Ahmad]

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ

“Aku diutus dengan pedang saat hari Kebangkitan sudah dekat, supaya Allah saja yang disembah”

Ini adalah ‘izzatul Islam. Kita memperjuangkan Islam sampai orang–orang menyembah Pencipta mereka. Kita berjuang untuk mengeluarkan orang–orang dari kegelapan menuju cahaya. Kita memperjuangkan Islam dengan kata–kata, dakwah, dengan hujjah dan burhan sebelum memasuki perjuangan dengan pedang, di setiap tempat dan moment.

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa salaam mengatakan :

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ

(Aku diutus dengan pedang, saat hari Kebangkitan sudah dekat, supaya Allah saja yang disembah).

Jadi, kita berjuang sampai orang–orang menyembah Allah, yang menciptakan mereka.

وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي

(Ditimpakan kehinaan dan kerendahan pada orang yang menentang perintah Ku). Jadi barang siapa mengikuti perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia akan menggenggam izzah (kebesaran) dan rif’ah (ketinggian kedudukan). Barang siapa menentang manhaj Rasul Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia akan ditimpa kehinaan. Setelah itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan. وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ (Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, niscaya ia termasuk dari mereka). Maksudnya, barang siapa menyerupai musuh, niscaya akan terhina. Barang siapa silau dengan para musuh, ia akan tersesat. Barangsiapa mengikuti manhaj para musuh, ia akan terhina. Tetapi, orang yang mengikuti manhaj Nabi, tidak ada kesesatan dan tidak ada kehinaan yang menimpanya. Ringkasnya, seorang muslim harus berbeda jati dirinya dari orang lain, dalam hal aqidah, jati diri dalam setiap urusannya. Insan yang mandiri. Tidak ke timur juga tidak ke barat.

Bagaimana kita mengetahui bahwa Islam itu besar di mata manusia atau sebaliknya ? atau bagaimana kita mengetahui bahwa kaum muslimin itu agung atau lemah ?

Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa kemuliaan Islam ada di tengah kehidupan kaum Muslimin dan kemuliaan kaum Muslimin ada di tengah umat manusia.

Bukti kemuliaan Islam yang pertama. Semaraknya dan tersebarnya panji–panji Islam yang banyak.

Jika Anda ingin mengetahui tegaknya izzah Islam di tengah kaum Muslimin, maka perhatikanlah, apakah syiar–syiar agama, seperti adzan, shalat, pelaksanaan rukun Islam, amar makruf nahi mungkar terlihat jelas di tengah kaum Muslimin ? Apakah berwasiat dalam kebaikan dan kesabaran ada di tengah kaum Muslimin ?

Kalau Anda melihat nilai–nilai ada, melihat amal shalih, ilmu yang bermanfaat ada. Jika anda menyaksikan kondisi–kondisi seperti ini dan akhlak yang shalih ada, berarti manusia dalam keadaan baik, dan agama Islam masih dalam keadaan mulia.

Oleh karena itu, Rasulullah menghubungkan kemuliaan Islam dengan pelaksanaan syiar–syiar agama Islam, berkembangnya Sunnah di kalangan umat Islam. Dan anda sekalian mengetahui, bahwa orang yang berpuasa, tatkala matahari telah terbenam, maka hendaknya langsung berbuka. Sebabnya, menyegerakan berbuka puasa termasuk sunnah. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Agama ini senantiasa akan tegak, selama orang–orang menyegarakan berbuka puasa”

Sabda beliau yang lain : “Agama ini akan selalu mulia selama umatku tidak menunggu terbitnya bintang dalam berbuka puasa”

Disini, beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam menghubungkan tegaknya agama dengan tumbuhnya syiar–syiar agama. Kalian melihat ada semangat emosional bagi Islam. Orang–orang masih memilikinya, alhamdulillah, belum padam. Tetapi kita menginginkan tumbuhnya syiar–syiar Islam dalam kehidupan nyata kaum Muslimin. Kita ingin semangat yang ada di kalbu umat tersebut menjelma menjadi tumbuhnya syiar–syiar Islam.

Lihatlah, kasus sang pelukis kafir tatkala berbuat aniaya terhadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, melukis karikatur–karikatur buruk lagi dusta yang melecehkan beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Di timur dan barat, utara dan selatan, umat tergerak untuk mengingkarinya. Sebagian tindakan mereka dapat dibenarkan syariat. Namun sebagian yang lain tidak dapat dibenarkan oleh agama. Ada pemboikotan kepada negara–negara kafir dalam bidang ekonomi. Ini berarti masih ada semangat agama pada mereka. Kita tidak ingin ini saja. Tapi bersama ini, kita ingin tegaknya syiar–syiar agama.

Kita memang mencintai Rasulullah dengan sepenuh perasaan kita. Tapi pembelaan kita yang hakiki kepada Rasul adalah membela Sunnah Rasul, dengan menghidupkan sunnahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan pertolongan kepada orang yang menolong agamaNya.

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) Nya. Sesungguhnya Allah benar–benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” [Al–Hajj/22 : 40]

Barang siapa yang menolong agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Allah membelanya. Barang siapa menolong Rasul, niscaya Allah akan membelanya. Allah berfirman.

وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ

“Dan kami sekalian menguatkan (agama) nya dan menghormatinya” [Al–Fath/48 : 9]

Menurut mayoritas ulama tafsir, kata ganti ketiga (pada ayat di atas) ini mewaikili Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Kalau umat ingin benar–benar membela Rasul, maka harus konsisten dengan agamanya. Kita mendukung adanya pemboikotan produk musuh. Tetapi sebelum itu, kita harus memboikot pemikiran musuh, kebudayaan barat, aqidah musuh, kebudayaan asing. Dengan ini, syiar–syiar agama akan terlihat di tengah khalayak.

Tanda Kemuliaan Umat Yang Lainnya.
Yaitu adanya sikap mandiri, tidak bergantung kepada umat lain ; sebagai umat merdeka dengan aqidah, manhajnya, ekonominya, kebudayaannya, tidak meniru barat, umat kafir atau umat lainnya. Bukan berarti kita tidak boleh mengambil manfaat dari produk ilmu–ilmu mereka. Imu–ilmu teknologi tersebut bukan monopoli mereka saja, milik siapa saja, dapat diraih oleh siapa saja yang menekuninya. Dan umat Islam, diperintahkan untuk menyatukan dua kebaikan, dunia dan akhirat.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” [Al–Qashash/28 : 77]

Jadi, seorang mukmin beramal untuk akhiratnya, dengan amal shalih ; dan beramal untuk dunia, dengan membangunnya. Oleh karena itu terlihat kembali hadits Nabi Shalallahu ‘slaihi wa sallam. “Agama ini akan selalu mulia selama umatku tidak menunggu terbitnya bintang dalam berbuka puasa.”

Siapakah yang menunggu terbitnya bintang–bintang saat akan berbuka puasa ? (Mereka) ialah : Yahudi dari orang kafir dan golongan Rafidhah (Syi’ah). Artinya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, apabila umatku menunggu terbitnya bintang–bintang untuk berbuka puasa, maka mereka telah mengekor umat lain yang mengakibatkan jati diri umat ini menjadi lemah.

Tanda Kemuliaan Islam Yang Lain.
Orang–orang memberlakukan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala pada denyut kehidupan mereka, para penguasa menetapkan Al–Qur’an dan As–Sunnah sebagai aturan perundang–undangan. Karena, aplikasi syari’at hukumnya wajib dan fardhu ‘ain atas setiap muslim. Perhatikanlah sabda Nabi.

ألَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin ditanya tentang pertanggung jawabannya”

Dari sini, setiap muslim adalah pemimpin. Dan sebagai pemimpin, bertanggung jawab untuk menerapkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, menegakkan hukum Allah sebagai undang–undang adalah wajib, fardhu ‘ain sesuai kedudukan dan tanggung jawabnya. Allah berfirman.

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Dan tentang perkara apa saja yang kamu perselisihkan, maka putusannya (terserah) kepada Allah” [Asy-Syura/62 : 10]

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” [Al-An’am/6 : 57]

Jadi, penerapan syari’at, hukum Allah dan penegakan negara Islam merupakan kewajiban atas umat Islam. Sedangkan meremehkan atau lemah dalam mengusahakan masalah ini, tidak akan membuahkan hasil sama sekali. Tetapi dalam hal menyeru kepada hal ini, harus sesuai dengan metode Nabi. Kita menyeru agar ditetapkan syarat, agama dan hukum Allah dengan cara Rasulullah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu, dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” [An-Nahl/16: 125]

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah : Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik” [Yusuf/12 : 108]


Jadi, kita menyeru dengan hujjah, burhan, dalil dan penjelasan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil menegakkan sebuah negara Islam, tetapi tidak dengan pedang. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu menegakkannya tatkala berhasil menanamkan aqidah pada umat. Setiap umat yang telah berhasil mengekkan tauhid dan kalimat Laa Ilaaha Illallah dalam kehidupan mereka, niscaya Allah menegakkan daulah Islam di negeri mereka.

Oleh karena itu tatkala Nabi menawarkan dakwah Islam kepada kabilah-kabilah saat musim haji, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan. “Katakanlah sebuah pernyataan! Dengan itu, bangsa Arab akan tunduk kepada kalian, dan kalian akan menguasai bangsa Asing. Katakanlah Laa Ilaaha Illa Allah, niscaya kalian akan selamat”.

Jadi umat yang menegakkan tauhid, menegakkan sunnah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugrahkan kekuasaan bagi mereka di bumi ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku” [An-Nur : 55]

Istikhlaf dan Tamkin (kekuasaan dan kemenangan) adalah sebuah janji dari Allah bagi orang-orang beriman yang berusaha. Kemudian lihatlah :

وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ

(Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Allah ridhai untuk mereka)

Sebelum Allah menegakkan negara di bumi, Allah menegakkan agama di hati manusia. Tatkala agama telah tertanam di hati kita masing-masing, kita sudah menegakkan hukum Allah di hati masing-masing, kita telah menegakkan hukum Allah dalam kehidupan sesuai dengan kemampuan kita, niscaya Allah akan memberikan anugrah berupa Istikhlaf dan Tamkin.

Apakah Islam Akan Kembali Agung Seperti Semula ?
Perkara ini telah di beritahukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih.

لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الْإِسْلَامَ وَأَهْلَهُ وَذُلًّا يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْشِّرْكَ وَأَهْلَهُ

“Agama ini akan menyebar sejauh jarak yang dicapai malam dan siang, dengan kemulian orang yang mulia dan kehinaan orang yang terhjina ; yaitu kemuliaan yang dengannya Allah akan memuliakan Islam dan penganutnya, dan menghinakan kesyirikan dan pengikutnya”.

(Dalam hadits ini) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Islam, meskipun tertekan dalam kehidupan manusia dan lemah di jiwa sebagian kaum muslimin, (tetap ia) akan kembali agung, menang, bercahaya sebagaimana disebutkan Rasul dalam hadits yang mulia. Ini juga menunjukkan, masa depan hanya milik Islam. Tidak syak lagi, ini pasti datang dan tiba, tidak bisa tidak ! Karena kita mengimani Allah dan RasulNya. Maha Benar Allah, demikian juga RasulNya. Peristiwa yang diberitahukan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti tiba, tidak ada yang bisa mengingkarinya.

Tapi ada faktor-faktor yang menghalangi menuju kebesaran Islam dan jalan ke sana, di antaranya yang paling penting ialah.

Pertama : Fanatisme Daerah dan Sukuisme
Di tengah kaum muslimin tumbuh seruan-seruan kepada fanatisme daerah dan sukuisme. Seruan ini telah mencerai beraikan kaum muslimin. Juga merupakan perkara yang menekan dan menghinakan mereka.Bangsa Arab menyeru kepada fanatisme golongannya sendiri. Demikian juga bangsa Persia, Turki. Bangsa Urdu berperang untuk memperjuangkan fanatisme golongannya. Kaum muslimin terpecah belah menjadi berbagi macam golongan. Bahkan dalam satu golongan pun bercerai berai, muncul banyak faksi. Satu pihak menyeru ke arah selatan dan pihak lainnya menyeru kea rah utara. Ini menyeru kepada barat dan itu menyeru kea rah timur, padahal mereka berasal dari negara yang sama, keturunan yang sama.

Kaum muslimin bercerai berai menjadi berbagai golongan dan sekte, padahal sebelumnya mereka adalah umat yang satu. Tatkala mereka terpecah belah, maka kekuatannya melemah dan menjadi pengekor musuh serta makanan yang diperbutkan musuh-musuh Islam. Inilah sebagian penghalang yang menghadang jalan menuju keagungan Islam.

Dengan pandangan yang tajam, kita bisa mengetahui dampak yang muncul bahwa penguasaan yang dilakukan orang-orang kafir bukan berbentuk dzati, tetapi merupakan penguasaan yang sifatnya efek dari kejadian lainnya. Maksudnya, lantaran kelemahan iman dan kelemahan umat Islam. Kita melihat faktor penunjang kekuatan barat adalah kekuatan politik militer dan ekonomi serta kelemahan kaum muslimin.

Kalau kita memperhatikan kekuatan politik barat, ternyata konsep politik mereka telah terbuka kedoknya, terbongkar boroknya, politik yang tertumpu pada dusta, nifak, memainkan standard yang pincang, mengukur dengan timbangan ganda, memainkan dua benang. Mereka menuntut penerapan sesuatu, tetapi justru mereka yang mempecundanginya. Mereka menuntut negara-negara Islam menerapkan demokrasi, tetapi ketika negara-negara kaum muslimin memenangkannya, mereka mengingkarinya. Ini menunjukkan bahwa politik mereka bedasarkan kedustaan dan kepalsuan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membuka kedok mereka.

Mari kita lihat kekuatan ekonomi barat. Kekuatan ekonomi mereka hancur. Kekuatan ekonomi mereka menjadi kuat lantaran menguasai kekuasaan alam negara-negara Islam, mengeruk kekayaannya. Mereka menjajah negara-negara Islam. Minyak bumi kita, mereka rampok. Emas-emas kita, mereka curi. Minyak bumi dan kekayaan negara kita dikeruk, dijual dipasar dengan nilai rendah. Tidak ada yang mengetahui berapa banyaknya kecuali Allah.

Adapun kekuatan militer mereka, Allah-lah yang akan mengatasinya. Lihatlah, di penghujung abad sebelumnya, ada dua kekuatan yang menguasai dunia. Kekuatan Timur yang terwakili oleh kekuatan komunisme Soviet dan kekuatan Barat yang kapitalisme dengan Amerika sebagai pemimpinnya.

Bagaimana Uni Soviet bisa terkoyak, padahal memiliki persenjataan yang canggih? Allah mendatangi mereka dari sudut yang tidak mereka sangka, dan melemparkan rasa takut di hati-hati mereka. Mereka hancurkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan kaum muslimin. Ambillah pelajaran dari kejadian ini, wahai orang-orang yang berakal.

Amerika tidak menyerang Uni Soviet dengan nuklirnya (sehingga hancur). Kehancuran kekuatan Uni Soviet berasal dari dalam. Sedab, adanya faktor-faktor yang memaksanya hancur. Demikian juga, Amerika sudah berada di ambang kehancuran dari dalam. Melemahnya ekonomi, kerusakan dan degradasi moral, kekalahan kekiuatan militer. Kekuatan-kekuatan ini sudah tidak bertaji lagi. Kekuatan mereka yang tersisa adalah kelemahan kaum muslimin. Oleh karena itu, mereka berusaha mengkondisikan agar kaum muslimin dalam keadaan lemah. Lemah dalam agama, duniawi, pemikiran dan harapan. Jika kaum muslimin kembali pada agama mereka, niscaya kesyirikan akan runtuh, kekufuran akan lenyap. Kekuatan yang menakutkan dunia ini akan sirna dengan kalmatut tauhid, Laa Ilaaha Illallah.

Jadi, penghalang yang paling besar demi mencapai kebesaran Islam adalah terpecah belahnya umat Islam.

Apa Jalan Menuju Kebesaran Islam ?
Konsepnya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti tercantum dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhu.

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, memegangi ekor-ekor sapi, dan menyenangi pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan pada kalian kehinaan, tidak akan mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian”.

Jika demikian, jalan menuju ke sana, wahai saudara-saudaraku, wahai pemuda Islam, wahai harapan umat, wahai orang yang menjadi bekal harapan bagi masa depan yang terang ; jalan menuju keagungan Islam adalah degan kembali memegangi agama kita ini yang dahulu dipegangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan generasi Salafush Shalih. Tatkala mereka konsisten berada di atas agama ini, mereka menjadi umat manusia yang terbaik, para pemimpin wilayah, guru bagi umat manusia, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju ke cahaya terang. Dengan kembali kepada agama kita, agama kita akan menjadi besar lagi. Masa itu pasti akan dating, tetapi membutuhkan kesabaran dan ketabahan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung” [Ali-Imran/3 : 200]

Semoga Allah Al-Qawiyyu Al-Aziz menolong Islam dan kaum Muslimin, menampakkan Al-Haq dan menegakkan negeri Islam dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Allah-lah yang akan mewujudkannya dan Dia Maha Kuasa untuk itu.

(Naskah ini merupakan ceramah Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali di Universitas Brawijaya, Surabaya, pada hari Rabu, 15 Februari 2006. Diterjemahkan oleh ‘Ashim)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Referensi : https://almanhaj.or.id/76953-kejayaan-hanya-milik-islam.html

Boleh Makan dan Minum Sambil Berdiri

Dalam masalah ini, sebagian orang bersikap terlalu keras. Demikian sikap kami pula di masa silam. Namun setelah mengkaji dan melihat serta menimbang dalil ternyata dapat disimpulkan bahwa minum dan makan sambil berdiri sah-sah saja, artinya boleh. Karena dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah minum sambil berdiri dan keadaan lain sambil duduk. Intinya, ada kelonggaran dalam hal ini. Tetapi afdholnya dan lebih selamat adalah sambil duduk.

Kami awali pembahasan ini dengan melihat beberapa dalil yang menyebutkan larangan makan dan minum sambil berdiri, setelah itu dalil yang menyebutkan bolehnya. Lalu kita akan melihat bagaimana sikap para ulama dalam memandang dalil-dalil tersebut.

Dalil Larangan Makan dan Minum Sambil Berdiri

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh melarang dari minum sambil berdiri.” (HR. Muslim no. 2024).

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu pula, ia berkata,

عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا

“Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau melarang seseorang minum sambil berdiri.” Qotadah berkata bahwa mereka kala itu bertanya (pada Anas), “Bagaimana dengan makan (sambil berdiri)?” Anas menjawab, “Itu lebih parah dan lebih jelek.” (HR. Muslim no. 2024). Para ulama menjelaskan, dikatakan makan dengan berdiri lebih jelek karena makan itu membutuhkan waktu yang lebih lama daripada minum.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِىَ فَلْيَسْتَقِئْ

“Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Apabila dia lupa maka hendaknya dia muntahkan.” (HR. Muslim no. 2026)

Dalil Pembolehan Makan dan Minum Sambil Berdiri

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma berkata,

سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ قَائِمًا

“Aku memberi minum kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari air zam-zam, lalu beliau minum sambil berdiri.” (HR. Bukhari no. 1637 dan Muslim no. 2027)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata,

كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ نَمْشِى وَنَشْرَبُ وَنَحْنُ قِيَامٌ

“Kami dahulu pernah makan di masa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sambil berjalan dan kami minum sambil berdiri.” (HR. Tirmidzi no. 1880 dan Ibnu Majah no. 3301. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dalil ini bahkan menyatakan makan sambil berjalan.

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَشْرَبُ قَائِمًا وَقَاعِدًا

“Aku pernah melihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- minum sambil berdiri, begitu pula pernah dalam keadaan duduk.” (HR. Tirmidzi no. 1883 dan beliau mengatakan hadits ini hasan shahih)

Menyikapi Dalil

Al Maziri rahimahullah berkata,

قَالَ الْمَازِرِيّ : اِخْتَلَفَ النَّاس فِي هَذَا ، فَذَهَبَ الْجُمْهُور إِلَى الْجَوَاز ، وَكَرِهَهُ قَوْم

“Para ulama berselisih pendapat tentang masalah ini. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat boleh (makan dan minum sambil berdiri). Sebagian lainnya menyatakan makruh (terlarang).” (Lihat Fathul Bari, 10: 82)

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata,

بَلْ الصَّوَاب أَنَّ النَّهْي فِيهَا مَحْمُول عَلَى التَّنْزِيه ، وَشُرْبه قَائِمًا لِبَيَانِ الْجَوَاز ، وَأَمَّا مَنْ زَعَمَ نَسْخًا أَوْ غَيْره فَقَدْ غَلِطَ ، فَإِنَّ النَّسْخ لَا يُصَار إِلَيْهِ مَعَ إِمْكَان الْجَمْع لَوْ ثَبَتَ التَّارِيخ ، وَفِعْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِبَيَانِ الْجَوَاز لَا يَكُون فِي حَقّه مَكْرُوهًا أَصْلًا ، فَإِنَّهُ كَانَ يَفْعَل الشَّيْء لِلْبَيَانِ مَرَّة أَوْ مَرَّات ، وَيُوَاظِب عَلَى الْأَفْضَل ، وَالْأَمْر بِالِاسْتِقَاءَةِ مَحْمُول عَلَى الِاسْتِحْبَاب ، فَيُسْتَحَبّ لِمَنْ شَرِبَ قَائِمًا أَنْ يَسْتَقِيء لِهَذَا الْحَدِيث الصَّحِيح الصَّرِيح ، فَإِنَّ الْأَمْر إِذَا تَعَذَّرَ حَمْله عَلَى الْوُجُوب حُمِلَ عَلَى الِاسْتِحْبَاب

“Yang tepat adalah larangan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengenai minum sambil berdiri dibawa ke makna makruh tanzih. Sedangkan dalil yang menyatakan beliau minum sambil berdiri menunjukkan bolehnya. Adapun yang mengklaim bahwa adanya naskh (penghapusan hukum) atau semacamnya, maka itu keliru. Tidak perlu kita beralih ke naskh (penggabungan dalil) ketika masih memungkinkan untuk menggabungkan dalil yang ada meskipun telah adanya tarikh (diketahui dalil yang dahulu dan belakangan). Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri menunjukkan bolehnya karena tidak mungkin kita katakan beliau melakukan yang makruh. Beliau kadang melakukan sesuatu sekali atau berulang kali dalam rangka untuk menjelaskan (suatu hukum). Dan kadang beliau merutinkan sesuatu untuk menunjukkan afdholiyah (sesuatu yang lebih utama). Sedangkan dalil yang memerintahkan untuk memuntahkan ketika seseorang minum sambil berdiri menunjukkan perintah istihbab (sunnah, bukan wajib). Artinya, disunnahkan bagi yang minum sambil berdiri untuk memuntahkan yang diminum berdasarkan penunjukkan tegas dari hadits yang shahih ini. Karena jika sesuatu tidak mampu dibawa ke makna wajib, maka dibawa ke makna istihbab (sunnah).”(Fathul Bari, 10: 82)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan,

وَالصَّوَاب فِيهَا أَنَّ النَّهْي فِيهَا مَحْمُول عَلَى كَرَاهَة التَّنْزِيه . وَأَمَّا شُرْبه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا فَبَيَان لِلْجَوَازِ ، فَلَا إِشْكَال وَلَا تَعَارُض

“Yang tepat dalam masalah ini, larangan minum sambil berdiri dibawa ke makna makruh tanzih (bukan haram). Adapun hadits yang menunjukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri, itu menunjukkan bolehnya. Sehingga tidak ada kerancuan dan pertentangan sama sekali antara dalil-dalil yang ada.” (Syarh Muslim, 13: 195)

Penulis ‘Aunul Ma’bud berkata,

وَقَدْ أَشْكَلَ عَلَى بَعْضهمْ وَجْه التَّوْفِيق بَيْن هَذِهِ الْأَحَادِيث وَأَوَّلُوا فِيهَا بِمَا لَا جَدْوَى فِي نَقْله ، وَالصَّوَاب فِيهَا أَنَّ النَّهْي مَحْمُول عَلَى كَرَاهَة التَّنْزِيه ، وَأَمَّا شُرْبه قَائِمًا فَبَيَان لِلْجَوَازِ ، وَأَمَّا مَنْ زَعَمَ النَّسْخ أَوْ الضَّعْف فَقَدْ غَلِطَ غَلَطًا فَاحِشًا . وَكَيْف يُصَار إِلَى النَّسْخ مَعَ إِمْكَان الْجَمْع بَيْنهمَا لَوْ ثَبَتَ التَّارِيخ ، وَأَنَّى لَهُ بِذَلِكَ وَإِلَى الْقَوْل بِالضَّعْفِ مَعَ صِحَّة الْكُلّ .

“Sebagian orang bingung bagaimana cara mengkompromikan dalil-dalil yang ada sampai-sampai mentakwil (menyelewengkan makna) sebagian dalil. Yang tepat, dalil larangan dibawa ke makna makruh tanzih. Sedangkan dalil yang menunjukkan minum sambil berdiri menunjukkan bolehnya. Adapun sebagian orang yang mengklaim adanya penghapusan (naskh) pada dalil atau adanya dalil yang dho’if (lemah), maka itu keliru. Bagaimana mungkin kita katakan adanya naskh (penghapusan) dilihat dari tarikh (adanya dalil yang dahulu dan ada yang belakangan) sedangkan dalil-dalil yang ada masih mungkin dijamak (digabungkan)? Bagaimana kita katakan dalil yang ada itu dho’if (lemah), padahal semua dalil yang menjelaskan hal tersebut shahih? ” (‘Aunul Ma’bud, 10: 131)

Catatan: Sebagian orang mengatakan bahwa minum air zam-zam disunnahkan sambil berdiri berdasarkan riwayat-riwayat yang telah disebutkan di atas. Anggapan ini tidaklah tepat karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum zam-zam sambil berdiri menunjukkan kebolehkan saja agar orang tidak menganggapnya terlarang. Jadi yang beliau lakukan bukanlah suatu yang sunnah atau sesuatu yang dianjurkan. Sebagaimana dikatakan Al Bajuri dalam Hasyiyah Asy Syamail,

وإنما شرب (ص) وهو قائم، مع نهيه عنه، لبيان الجواز، ففعله ليس مكروها في حقه، بل واجب، فسقط قول بعضهم إنه يسن الشرب من زمزم قائما اتباعا له

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah minum sambil berdiri. Padahal di sisi lain beliau melarangnya. Perbuatan minum sambil berdiri tadi menunjukkan bolehnya. Jadi yang beliau lakukan  bukanlah makruh dari sisi beliau, bahkan bisa jadi wajib (untuk menjelaskan pada umat akan bolehnya). Sehingga gugurlah pendapat sebagian orang yang menyatakan disunnahkan minun air zam-zam sambil berdiri dalam rangka ittiba’ (mencontoh) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Dinukil dari I’anatuth Tholibin, 3: 417)

Amannya: Makan dan Minum Sambil Duduk

Mufti Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah diajukan pertanyaan, “Sebagian hadits nabawiyah menjelaskan larangan makan dan minum sambil berdiri. Sebagian hadits lain memberikan keluasan untuk makan dan minum sambil berdiri. Apakah ini berarti kita tidak boleh makan dan minum sambil berdiri? Atau kita harus makan dan minum sambil duduk? Hadits mana yang lebih baik untuk diikuti?”

Syaikh rahimahullah menjawab:

Hadits-hadits yang membicarakan masalah ini shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu melarang minum sambil berdiri, dan makan semisal itu. Ada pula hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan beliau minum sambil berdiri.  Masalah ini ada kelonggaran dan hadits yang membicarakan itu semua shahih, walhamdulillah. Sedangkan larangan yang ada menunjukkan makruh. Jika seseorang butuh makan sambil berdiri atau minum dengan berdiri, maka tidaklah masalah. Ada hadits shahih yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk dan berdiri. Jadi sekali lagi jika butuh, maka tidaklah masalah makan dan minum sambil berdiri. Namun jika dilakukan sambil duduk, itu yang lebih utama.

Ada hadits yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum air zam-zam sambil berdiri. Ada pula hadits dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu yang menjelaskan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri dan duduk.

Intinya, masalah ini ada kelonggaran. Namun jika minum dan makan sambil duduk, itu yang lebih baik. Jika minum sambil berdiri tidaklah masalah, begitu pula makan sambil berdiri sah-sah saja. (Sumber fatwa: http://www.binbaz.org.sa/mat/3415)

Kami dapat simpulkan bahwa minum sambil berdiri itu boleh. Hal ini disamakan dengan makan sebagaimana keterangan dari Syaikh Ibnu Baz di atas. Namun kita tetap minum atau makan dalam keadaan duduk dalam rangka kehati-hatian mengingat dalil yang melarang keras minum sambil berdiri.

Wallahu a’lam bish showwab. Wallahu waliyyut taufiq fil ‘ilmi wal ‘amal.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 7 Rajab 1433 H

Sumber https://rumaysho.com/2478-boleh-makan-dan-minum-sambil-berdiri.html