INGAT SEBELUM TERLAMBAT!!

Demi Allah…
Harta sebanyak apapun…
Jabatan setinggi apapun…
Ketenaran seluas manapun…
Sungguh benar-benar tidak terasa harganya, jika kamu kehilangan ibu Tercintamu dan kamu belum berbakti kepadanya.
Ayo anak-anak yang ingin mencari ridha Allah melalui ridha ibunya…
sekarang waktunya, berbaktilah dengan segala apa yang kamu mampu, sebelum terlambat!

INGAT SEBELUM TERLAMBAT!!
Demi Allah…!
– Jangan pernah airmata ibumu menetes sedih karenamu.
– TUMBUHKAN SELALU SENYUM DI BIBIRNYA, yang selalu tidak lepas dzikir.
– PALING PENTING! BEBASKAN BELIAU DARI KESYIRIKAN, BID’AH ATAU MAKSIAT.
Demi Allah…!
Jika terlambat penyelasanmu tiada tara…
saya tidak berdusta akan hal ini. wallahi!


(( عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ ))


Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “SUNGGUH HINA, SUNGGUH HINA, SUNGGUH HINA, beliau ditanya: “Siapakah dia wahai Rasulullah?”, beliau bersabda: “SIAPA YANG MENDAPATI KEDUA ORANGTUANYA, TATKALA TUA RENTA, BAIK SALAH SATU DARI KEDUANYA ATAU KEDUANYA, LALU TIDAK MEMASUKKANNYA KE DALAM SURGA (KARENA IA TIDAK BERBAKTI-pen).” HR. MUSLIM.

sumber : http://www.dakwahsunnah.com/artikel/keluarga-muslim/839-ingat-sebelum-terlambat

Hidup Tak Sekedar Hidup!

Hidup bagi seorang muslim adalah sebuah perjalanan. Ia adalah sebuah perjalanan yang dimulai dari kelahirannya di dunia lalu berjalan menuju Rabbul ‘Alamin, guna mempertanggung-jawabkan amalannya sewaktu di dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan hal ini dalam sabdanya,

كلّ الناسِ يغدو؛ فبائعٌ نَفسَه فمُعتِقها أو موبِقها

“Setiap hari semua orang melanjutkan perjalanan hidupnya, keluar mempertaruhkan dirinya, ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang mencelakakannya!” (Hadits Riwayat Imam Muslim).

Kehidupan seorang muslim yang baik amatlah jauh dari gaya hidup orang-orang yang tak beriman kepada Allah Ta’ala. Kehidupan seorang muslim adalah kehidupan yang bermutu tinggi. Hidup tak asal hidup. Kehidupannya memiliki arah dan tujuan yang jelas. Allah telah menetapkan tujuan hidup hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya. Tujuan hidup tersebut terkandung dalam dua firman Allah Ta’ala berikut ini:

1. Tujuan hidup pertama

Allah Ta’ala berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

”Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah (berulangkali) turun pada keduanya, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu” (QS.Ath-Thalaaq: 12).

Pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan langit, bumi, dam apa yang ada di antara keduanya. Allah pun menurunkan perintah-Nya, baik perintah yang syar’i, yaitu agama-Nya, maupun perintah kauni qodari, yaitu takdir-Nya guna mengatur hamba-hamba-Nya. Sungguh semua itu bertujuan agar kita mengetahui tentang-Nya, mengetahui bahwa kekuasaan dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa kita diciptakan untuk mengenal Rabb kita, mengenal nama, sifat dan perbuatan-Nya.

Inilah tujuan hidup kita terlahir di dunia ini, yaitu ma’rifatullah, mengenal Allah, melalui nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Atau dikenal dengan Tauhidur Rububiyyah & Tauhidul Asmaa` wash Shifaat.

Faedah: Ma’rifatullah , yaitu Tauhidur Rububiyyah & Tauhidul Asmaa` wash Shifaat adalah tujuan hidup kita. Kedua macam tauhid ini berisikan pengetahuan (ilmu) tentang Allah, dengan demikian tauhid jenis ini hakekatnya adalah ilmu.

2. Tujuan hidup kedua

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).

Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, atau dengan kata lain mentauhidkan Allah dalam peribadatan, yang kemudian dikenal dengan istilah Tauhidul Uluhiyyah.

Faedah :

  1. ‘Ibadatullah (Tauhidul Uluhiyyah) adalah tujuan hidup kita. Sedangkan beribadah itu berarti beramal, dengan demikian tauhid jenis ini hakikatnya adalah amal.
  2. Ketiga macam tauhid tersebut di atas, hakikatnya adalah ilmu dan amal, berarti orang yang tauhidnya baik adalah profil orang yang baik ilmu dan amalnya. Rajin menuntut ilmu tentang Allah dan agama-Nya serta rajin mengamalkan ilmunya.
    Jadi, sosok Ahlut Tauhid yang baik adalah tipe orang yang keyakinan dan ilmu agamanya baik, sekaligus ibadah, mu’amalah, dan akhlaknya pun terpuji.
    Maka salahlah jika ada anggapan bahwa Yang penting tauhidnya, sedangkan akhlaknya buruk, malas beribadah dan jelek dalam bermu’amalah dengan saudaranya!
  3. Ahlut Tauhid adalah sosok yang tahu untuk apa ia diciptakan, tidak lupa akan tujuan hidupnya dan lurus dalam menempuh perjalanan hidupnya, karena ia memiliki prinsip dan tujuan hidup yang jelas.

Kesimpulan :

Allah Ta’ala menciptakan kita agar kita mengenal-Nya dengan baik, jika kita mengenal-Nya dengan baik (Ma’rifatullah), maka kitapun mencintai-Nya dengan benar, sehingga kitapun ringan melakukan peribadatan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya serta mengimani kabar dari-Nya (‘Ibadatullah). Jadi, seorang muslim yang bertauhid adalah sosok insan yang seluruh aktifitas kesehariannya, sejalan dengan tujuan hidupnya. Shalat, puasa, mencari nafkah, makan, istirahat dan seluruh kegiatannya dalam rangka untuk beribadah kepada Allah dengan didasari pengetahuannya tentang Allah dan hak-Nya yang demikian besar atas hamba-hamba-Nya.

Sosok orang yang beriman kepada Allah dengan benar, tidaklah mau jika dirinya melakukan aktifitas yang sia-sia tak bernilai ibadah. Ia membenci semua bentuk kemaksiatan, karena justru hal itu menjauhkan dirinya dari tujuan hidupnya.

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber: https://muslim.or.id/27046-hidup-tak-sekedar-hidup-1.html

[MATERI] Arsip Materi Kitab Tauhid bag.5

untuk mempermudah pengguna, silahkan unduh materi PDF dari ustadz. dan kami telah merangkum seluruh link video materi belajar tauhid sebagai berikut:

MATERI PDF: 

https://drive.google.com/file/d/1K-B61oX9xL151X2k08JcxgIitinP98rk/view?usp=share_link

PINTASAN MATERI VIDEO

1. https://youtu.be/_pWt50GgDkQ

2. https://youtu.be/wPQ-7dToHig

3. https://youtu.be/if4eEiDzbE8

4. https://youtu.be/tzYMryRumVE

5. https://youtu.be/bhcPG09tOf8

6. https://youtu.be/AyvodhFhNZI

7. https://youtu.be/xHILJtXISCE

8. https://youtu.be/g4BNDPm22GI

9. https://youtu.be/wtEkl_3kLU8

10. https://youtu.be/kmzm7_d5E0I

11. https://youtu.be/nPYz0HWWjFY

12. https://youtu.be/av0g88IrsPY

13. https://youtu.be/AiWWNhivSg4

14. https://youtu.be/39Y0vt0v_vQ

15. https://youtu.be/BjkrGhTNgdY

16. https://youtu.be/fdruRf1aqQE

17. https://youtu.be/94QFQLbjXrE

18. https://youtu.be/Mdy8_JhiR0s

19. https://youtu.be/owOdbMPFnk4

20. https://youtu.be/JhHz2edtKOo

21. https://youtu.be/aF7U6w09PN8

22. https://youtu.be/YLZBLe1tbJs

23. https://youtu.be/qXBVxQWbY9A

24. https://youtu.be/PHkhTH8hiM4

25. https://youtu.be/yqtwATaJHnI

26. https://youtu.be/8VczB-07r9E

27. https://youtu.be/rjTIQARSA1M

28. https://youtu.be/sASzpt_jVzk

29. https://youtu.be/os93IB177ME

30. https://youtu.be/IqoyZ-4Mukg

31. https://youtu.be/U3J2G2T7Ekw

32. https://youtu.be/ht5VrxnFfg0

33. https://youtu.be/UnFHmsK-x4A

34. https://youtu.be/5YdU1Abmmhs

35. https://youtu.be/gPdcwtfzBdU

36. https://youtu.be/_tZ_hCK5HGI

37. https://youtu.be/8H7OaSAcOjo

38. https://youtu.be/h65fYtD-TJk

39. https://youtu.be/3Gwd8Af2AgQ

40. https://youtu.be/x-JIc18eG2A

41. https://youtu.be/L7_te0Yw1V4

42. https://youtu.be/AFf24GIQmmc

43. https://youtu.be/OXcKu7ZDDso

44. https://youtu.be/KOV1q2QqnX4

45. https://youtu.be/QHpPZ5VSOfg

46. https://youtu.be/eE9ri75MpLQ

47. https://youtu.be/J_78T8LGWbU

48. https://youtu.be/r77OKiBgP9c

Ampuhnya Do’a Ibarat Tajamnya Pedang

Ada ibarat yang sangat bagus yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Beliau menyampaikan bagaimanakah ampuhnya do’a dan ini diibaratkan seperti tajamnya pedang. Kita harus merenungkan hal ini agar kita dapat semangat terus untuk berdo’a dan tidak berputus asa.

Ibnul Qayyim dalam Al Jawabul Kaafi mengatakan,

والادعية والتعوذات بمنزلة السلاح والسلاح بضاربه لا بحده فقط فمتى كان السلاح سلاحا تاما لا آفة به والساعد ساعد قوي والمانع مفقود حصلت به النكاية في العدو ومتى تخلف واحد من هذه الثلاثة تخلف التأثير فإن كان الدعاء في نفسه غير صالح أو الداعى لم يجمع بين قلبه ولسانه في الدعاء أو كان ثم مانع من الاجابة لم يحصل الأثر

“Do’a dan ta’awudz (meminta perlindungan pada Allah) ibarat pedang. Pedang itu diandalkan tebasannya bukan hanya ketajamannya. Oleh karenanya, pedang jadi ampuh bila: (1) tidak cacat, (2) yang menebas adalah orang yang kuat dan (3) tidak ada penghalang ketika pedang dihujam yang membuat musuh tersingkir. Jika salah satu dari tiga hal ini tidak ada, maka pedang tersebut tidaklah ampuh.

Do’a pun demikian. Do’a tidaklah ampuh bila: (1) orang yang berdo’a tidaklah baik, (2) yang berdo’a tidak menyatukan antara hati dan lisan saat berdo’a (artinya: do’a yang dipanjatkan tidak diresapi), (3) ada penghalang sehingga do’a tidak terkabul[1]. Jika ada salah satu dari tiga hal ini, do’a tidaklah ampuh.”

Semoga dengan merenungkan hal ini, kita semakin memperbaiki diri kala memanjatkan do’a. Ya Allah, kabulkanlah do’a-do’a kami. Wallahu waliyyut taufiq.

Faedah saat safar @ Manarotul Asheel, Makkah Al Mukarromah, 20 Syawal 1433 H


[1] Seperti karena sebab makan yang haram, do’a sulit terkabul.

Sumber https://rumaysho.com/2790-ampuhnya-doa-ibarat-tajamnya-pedang.html

Semua Takdir itu Baik

Semua takdir itu baik. Ada hikmah di balik itu. Yang merasakan jelek adalah kita. Allah itu sama sekali tidak berbuat jelek. Takdir Allah tidaklah kejam.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ

“Aku begitu takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Ahmad, 3:117. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Takdir Baik dan Takdir Buruk

Hadits Jibril yang membicarakan tentang rukun iman menyebutkan,

وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim, no. 8)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Takdir itu tidak ada yang buruk. Yang buruk hanya pada yang ditakdirkan (al–maqdur, artinya manusia atau makhluk yang merasakan jelek). Takdir jika dilihat dari perbuatan Allah, semua takdir itu baik. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‘Kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.’ Jadi, takdir Allah itu selamanya tidak ada yang jelek. Karena ketetapan takdir itu ada karena rahmat dan hikmah. Kejelekan murni itu hanya muncul dari pelaku kejelekan. Sedangkan Allah itu hanya berbuat baik saja selama-lamanya.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 88)

Dalam salah satu doa iftitah yang terdapat dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu disebutkan,

وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ

“Kebaikan itu seluruhnya pada kedua tangan-Mu dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.” (HR. Muslim, no. 771)

Mengapa Allah menakdirkan kejelekan?

Karena ada hikmah di balik itu seperti:

  1. agar kebaikan dapat dikenal;
  2. supaya manusia menyandarkan diri kepada Allah;
  3. supaya manusia bertaubat kepada-Nya setelah ia berbuat dosa;
  4. banyak meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan dengan berdzikir dan berdoa;
  5. ada maslahat besar di balik kesulitan atau musibah yang menimpa.

Bisa Jadi yang Jelek itu Baik untuk Kita

Allah Ta’ala berfirman,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Allah yang lebih mengetahui akibat terbaik setiap perkara. Allah yang Mahatahu yang paling maslahat untuk urusan dunia dan akhirat kita. Sedangkan kita sendiri tidak mengetahui yang terbaik dan yang jelek untuk kita. (Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 348-349)

Doa Agar Semua Takdir Kita Baik

Dari Ummul Mukmini ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa berikut ini,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الجَنَّةَ وَمَا قرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَولٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مَنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

ALLOHUMMA INNI AS-ALUKA MINAL KHOIRI KULLIHI ‘AAJILIH WA AAJILIH, MAA ‘ALIMTU MINHU WA MAA LAM A’LAM. WA A’UDZU BIKA MINASY SYARRI KULLIHI ‘AAJILIH WA AAJILIH MAA ‘ALIMTU MINHU WA MAA LAM A’LAM. ALLOHUMMA INNI AS-ALUKA MIN KHOIRI MAA SA-ALAKA ‘ABDUKA WA NABIYYUK MUHAMMADUN SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM. WA A’UDZU BIKA MIN SYARRI MAA ‘AADZA BIHI ‘ABDUKA WA NABIYYUK. ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL JANNAH WA MAA QORROBA ILAIHAA MIN QOULIN AW ‘AMAL. WA ‘AUDZU BIKA MINAN NAARI WA MAA QORROBA ILAIHAA MIN QOULIN AW ‘AMAL. WA AS-ALUKA AN TAJ’ALA KULLA QODHOO-IN QODHOITAHU LII KHOIROO.

Artinya:

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua kebaikan yang disegerakan maupun yang ditunda, apa yang aku ketahui maupun tidak aku ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang disegerakan maupun yang ditunda, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari apa yang diminta perlindungan oleh hamba dan nabi-Mu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan atau perbuatan. Dan aku memohon kepada-Mu semua takdir yang Engkau tentukan baik untukku. (HR. Ibnu Majah, no. 3846 dan Ahmad, 6:133. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

 Semoga kita diberikan kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi semua ketetapan Allah. Semoga pandemi segera berakhir di seluruh muka bumi. 

Yuk husnuzhan kepada Allah. Badai kan berlalu, kita harus yakin.

—

Malam Senin, 25 Dzulqa’dah 1442 H

Muhammad Abduh Tuasikal 

Sumber https://rumaysho.com/28668-semua-takdir-itu-baik.html

KITA HANYALAH TAMU DI DUNIA DAN HARTA KITA HANYALAH PINJAMAN SEMENTARA

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

1. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Tiada seorang pun diantara kita melainkan ia hanyalah seorang tamu (di dunia). Demikian pula harta benda yang dimilikinya hanyalah sebuah pinjaman (dari Allah). Sedangkan yang namanya tamu itu sudah pasti akan pergi (yakni meninggal dunia), dan (harta) pinjaman itu pasti akan dikembalikan kepada sang Pemiliknya.” (Lihat Hilyatu Al-Uliyaa’, karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani I/134).

2. Abdullah bin Rowahah radhiyallahu anhu pernah menangis tatkala hendak keluar berjihad menuju Mu’tah (melawan pasukan kaum musyrikin). Maka keluarganya pun ikut menangis ketika mereka melihatnya menangis.

Abdullah bin Rowahah radhiyallahu anhu berkata kepada keluarganya: “Demi Allah, aku tidaklah menangis karena takut mati, atau belas kasihan kepada kalian, akan tetapi aku menangis karena teringat firman Allah ta’ala:

(Wa in Minkum illaa Waariduhaa Kaana ‘Alaa Robbika Hatman Maqdhiyyan)

Artinya: “Dan tidak ada seorangpun dari kalian melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (QS. Maryam: 71).

Maka, aku merasa yakin bahwa aku pasti mendatanginya, namun aku tidak tahu, apakah aku akan selamat dari (siksa)nya ataukah tidak?” (Lihat Hilyatu Al-Uliyaa’, karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani I/118).

» Jika kita semua telah yakin bahwa setiap orang pasti menghadapi kematian yang akan memutuskan n menghancurkan segala kenikmatan n kelezatan di dunia yg fana ini, maka sudah seharusnya kita bersungguh-sungguh mempersiapkan sebaik-baik bekal untuk perjalanan kita menuju alam akhirat yg sangat jauh nan abadi. Dan bekal yg terbaik itu adalah bekal TAQWA.

» Allah ta’ala berfirman:
(Wa Tazawwaduu Fa inna Khoiro az-Zaadi At-Taqwaa)

Artinya: “Dan persiapkanlah bekal kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan.”

» Ali bin Abu Tholib radhiyallahu anhu berkata: “TAQWA ialah engkau merasa takut kepada Allah yg Maha Agung, mengamalkan syari’at yg Allah turunkan, dan mempersiapkan diri utk hari perjalanan (menuju alam akhirat).”

Demikian Faedah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada hari ini. Smg bermanfaat bagi kita semua. (Klaten, 4 April 2013)

BBG Majlis Hadits, chat room Faedah & Mau’izhoh Hasanah.

sumber : https://abufawaz.wordpress.com/2013/04/18/kita-hanyalah-tamu-di-dunia-dan-harta-kita-hanyalah-pinjaman-sementara/