Neraka Jahannam, Tempat Yang Sangat Dalam dan Gelap #video ~7
RUMUS KELUARGA SAKINAH ADALAH KETAATAN #shorts
Doa Orang Terzalimi
DOA ORANG TERZALIMI
Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan Pembahasan Doa Orang yang Terzalimi berikut di bawah ini pembahasannya :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن سار على نهجه واستنّ بسنته إلى يوم الدين, أما بعد
Ma’asyirol muslimin para pembaca yang semoga dirahmati Allah subhanahu wata’ala.
Dzulmun atau yang biasa kita kenal dengan kata zalim merupakan lawan dari kata adil yang diartikan secara bahasa adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, dan secara istilah adalah melakukan sesuatu yang keluar dari koridor kebenaran, baik karena kurang atau melebihi batas.
Ciri Orang yang Zalim
Islam melarang perbuatan zalim baik terhadap diri sendiri, orang lain, bahkan terhadap Rabb pencipta alam semesta Allah ‘azza wa jalla, disebutkan dalam hadits qudsi yang diriwayatkan imam Muslim
قَالَ الله تبارك وتعالى : يا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلى نَفْسِي وَجَعَلْتُه بَينَكُمْ مُحَرَّماً فَلَا تَظَالمُوا
Artinya : Allah tabaaraka wa ta’ala berfirman : “wahai hamba-hambaKu sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diriKu, dan Aku jadikan kezaliman diharamkan diantara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.”
Hadits ini menjelaskan bahwa Allah ‘azza wajalla mengharamkan perbuatan zalim antara seorang hamba dengan hamba yang lainnya, bahkan terhadap Allah ‘azza wajalla kita lebih diharamkan untuk berbuat zalim kepadaNya yaitu dengan berbuat syirik kepadaNya dan ini adalah kezaliman yang sangat besar, sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman :
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Artinya : “sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar”
(Q.S.Luqman : 13)
Ketika Allah ‘azza wajalla mengharamkan perbuatan zalim antara seorang hamba dengan yang lainnya, dengan tujuan agar tercipta saling menghormati dan saling menghargai diantara sesama tanpa mengenal status dan kedudukan seseorang, akan tetapi jika kezaliman itu muncul dari seorang hamba, maka hilanglah semua sikap tersebut dan akibatnya bagi orang yang berbuat zalim akan mendapatkan balasan di dunia maupun di akhirat.
Balasan Bagi Orang yang Zalim
Contoh balasan di akhirat adalah akan diqishash pada hari kiamat, disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya :
أَتَدْرُونَ مَا المُفْلِسُ؟ قَالُوا: اَلْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لَيْسَ لَهُ دِرْهَمَ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ: إِنَّ المُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يَقْضِيَ مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
Artinya : “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”.
Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”.
Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dikalangan ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sholat, puasa, dan zakat, tapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kedzalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya, kemudian diapun dicampakkan kedalam neraka”.
(H.R. Muslim)
Dan contoh balasan di dunia adalah dijauhkan dari hidayah Allah ‘azza wajalla, Allah subhanahu wata’ala berfirman :
إِنَّ الله لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim”
(Q.S.al-Maidah :51)
Sungguh masih banyak lagi contoh balasan bagi orang-orang yang berbuat zalim yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi dua contoh tersebut sudah cukup menggambarkan kepada kita kalau kita benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir betapa besarnya balasan bagi orang-orang yang berbuat zalim, sehingga kita takut dan menjauhi perbuatan tersebut.
Doa Orang yang Sedang di Zalim Mustajab
Kalau sekiranya kita secara sengaja ataupun tidak pernah berbuat zalim terhadap orang lain seperti memfitnah, menggunjing, mengadu domba ataupun yang lainnya, maka solusinya adalah segeralah meminta ampun kepada Allah ‘azza wajalla lalu meminta maaf kepada orang yang pernah kita zalimi, karena doa orang yang terzalimi mustajab, yaitu dikabulkan oleh Allah ‘azza wajalla, rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الله حِجَابٌ
Artinya : ”Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah”.
(H.R. Bukhori dan Muslim)
Beruntunglah kita kalau sekiranya orang yang terzalimi tersebut hanya berdoa memohon kebaikan bagi dirinya atau bahkan memohon kebaikan untuk orang yang menzaliminya, yaitu berupa hidayah, akan tetapi jika ia memohon keburukan untuk kita, maka terancamlah kita dengan doa tersebut, naudzubillah min dzalik, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
Maka sebagai langkah bijak dan mengikhlaskan segala yang pernah terjadi bagi orang yang pernah dizalimi adalah dengan mendoakan kebaikan untuk orang yang pernah menzaliminya bukan mendoakan keburukan, karena dengan mendoakan kebaikan, maka kebaikan tersebut tidak hanya akan diperoleh bagi orang yang berbuat zalim tapi juga akan diperoleh bagi orang yang dizaliminya.
Oleh karena itu marilah kita memohon kepada Allah ‘azza wajalla agar kita termasuk orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan dan senantiasa menjauhi segala bentuk keburukan termasuk didalamnya perbuatan zalim
وَصَلَّى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأّصْحَابِه أّجْمَعِيْنَ
Disusun oleh:
Ustadz Faisal Abu Fatih حفظه الله
Selasa, 12 Ramadhan 1441 H/ 05 Mei 2020 M
Baca selengkapnya: https://bimbinganislam.com/doa-orang-terzalimi/
Lama Tidak Terdengar Tangis Bayi Di Rumah Tua Pengantin [Pembahasan Kedokteran dan Syariat]
Yaa Allah
Kepada siapa lagi hamba mengadu
Sudah sangat lama tidak terdengar rengekan
Rengekan yang memecah kesunyian rumah tua
Sudah sangat lama tidak ada tangisan
Tangisan yang berbalas tawa
Yaa Allah
Apakah sanadku akan terputus
Apakah gen DNA-ku akan lenyap di peristirahatan terakhir
Apakah jejakku dimaka bumi akan tak berekas
Apakah hembusan napasku akan tak tersambung
Yaa Allah
Hamba berharap ada yang membuat tumah tua ini gaduh
Hamba berharap ada yang diceritakan ketika berkumpul bersama teman
Hamba berharap ada yang bisa sekedar memapah sayang ketika hamba menua
Hamba berharap ada yang selalu mendoakan sebagai amal jariyah
Hamba berharap ada yang yang memanggil hamba dari surga kelak
Yaa Allah
Jika harta mampu, maka kan kuberikan semua walaupun bersisa selongsongan
Jika tahta bisa, maka kerahkan seluruh pasukanku
Dan Jika polularitas berguna, maka kulepas jubah kebesaranku
Tetapi hanya Engkau Rabb semesta Alam yang mampu dan Bisa
Kepada-Mu lah hamba mengadu dan meminta
Kegalauan dua insan
Sang suami akan resah, apakah ia yang mandul atau istrinya yag tidak bisa memberikannya anak. Ia khawatir kelak tidak akan punya generasi penerus, meneruskan perjuangannya dan meneruskan kerajaan keturunannya. Sang suami khawatir tidak ada kelak yang akan menjadi kebanggaannya, khawatir tidak ada yang membuatnya semakin bersemangat mencari nafkah dan segera pulang melepas lelah dengan senyum ceria buah hati.
Sang istri lebih galau lagi, ia sangat khwatir bahwa ialah yang tidak mampu memberikan suaminya keturunan. Kemana ia harus tumpahkan kebutuhan mencurahkan kelembutan dan kasih sayang yang memang menjadi kodrat wanita. Kemana jiwa hanif keibuannya harus dicurahkan. Wanita benar-benar bisa merasa remuk redam hatinya jika tidak mampu memberikan keturunan bagi suaminya.
Merupakan salah satu ujian terberat para nabi dan mereka tetap bersabar
Lama tidak dikaruniai buah hati juga di alami oleh para nabi, tetapi mereka tetap bersabar, berdoa dan berusaha.
Ini dia bapak para nabi khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam bersama istrinya Sarah, sangat lama tidak dikaruniai anak, sampai mereka berdua berumur tua dan rambut beruban. Sehingga Sarah menghibur suaminya dengan menghadiahkan budak perempuannya yaitu Hajar kepada suaminya.
Al-Quran menceritakan ketika malaikat datang untuk memberi mereka berdua kabar gembira,
فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ
وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍْ
فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌْ
قَالُوا كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكِ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ
“(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu takut”, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).” Kemudian isterinya datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: ” (Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.” Mereka berkata: “Demikianlah Tuhanmu memfirmankan” Sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [Adz-Dzariyat: 28-30]
Al-Qurthubi rahimahullah berkata,
وكان بين البشارة والولادة سنة،
وكانت سارة لم تلد قبل ذلك فولدت وهي بنت تسع وتسعين سنة،
وإبراهيم يومئذ ابن مائة سنة
“Jarak antara kabar gembira dgn kelahiran Ishaq adlh setahun. Adapun sebelum itu Sarah tdk pernah melahirkan, kemudian ia melahirkan ketika berusia 99 tahun, sedang Ibrahim berusia 100 tahun” [Al-Jami’ Liahkamil Qur’an 17/47, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Koiro, cet.ke-2, 1384 H, Asy-syamilah]
Dari kisah nabi Ibrahim alaihissalam kita dapat mengambil pelajaran:
1. Nabi Ibrahim alaihissalam tidak kemudian membenci Istrinya Sarah karena tidak bisa memberikannya keturunan bahkan tetap setia terhadap Sarah. Demikian juga para suami hendaknya seperti ini.
2. Sarah tahu diri bahwa ia tidak bisa memberikan keturunan dan berusaha menghibur hati suaminya dengan memberikan budak wanitanya yaitu Hajar kepada suaminya. Demikian juga para istri yang terbukti mandul, hendaknya melakukan sebagaimana yang dilakukan Sarah.
Kemudian Nabi Zakaria alaihissalam berdoa setelah lama tidak diberikan keturunan,
وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْداً وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَْ
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ
“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung.” [Al-Anbiya’ :89-90]
Di ayat yang lain,
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى
لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيّاًْ
قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِراً وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيّاًْ
قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِن قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئاً
Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. Zakaria berkata: “Ya Rabb-ku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”. Rabb berfirman: “Demikianlah”. Rabb berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”. [Maryam: 7-9]
Begitu juga dengan nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lama tidak dikaruniai anak sejak diutus menjadi Rasul dari sekian banyak istri beliau. Tentu saja beliau akan sangat senang jika ada anak laki-lakinya yang akan dididik sejak kecil dan meneruskan perjuangan beliau. Sedangkan anak beliau yaitu Ibrahim lahir dari budak beliau dan segera diambil oleh Allah ketika berumur 1 tahun lebih, yaitu disaat-saat imut, lucu dan sangat disayangi.
Keimanan terhadap takdir yang sangat menghibur
Belum juga mendapatkan buah hati setalah sekian tahun lamanya berumah tangga. Maka ini adalah takdir dan kehendak Allah. Allah Ta’ala berfirman,
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ
يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثاً وَيَهَبُ لِمَن يَشَاءُ الذُّكُورَْ أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَاناً
وَإِنَاثاً وَيَجْعَلُ مَن يَشَاءُ عَقِيماً إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugrahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendakiNya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia dikehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” [Asy-Syura : 49-50]
Dan semua takdir Allah pasti baik dan pasti menghendaki kebaikan kepada hambanya. Karena Allah sangat sayang terhadap hambanya, Allah menginginkan kebaikan terhadap hambanya, akan tetapi terkadang hambanya yang ber-su’udzon kepada Allah.
Bukhori dan Muslim meriwayatkan dalam kitab shohih keduanya dari Umar bin Khatthab radhiallohu ‘anhu,
قدم على النبي صلى الله عليه وسلم سبي،
فإذا امرأة من السبي قد تحلب ثديها تسقي،
إذا وجدت صبياً في السبي أخذته، فألصقته ببطنها وأرضعته،
فقال لنا النبي صلى الله عليه وسلم: (أترون هذه طارحة ولدها في النار). قلنا: لا،
وهي تقدر على أن لا تطرحه، فقال: (لله أرحم بعباده من هذه بولدها
“Didatangkan tawanan kehadapan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, ketika itu ada seorang wanita yang payudaranya basah karena sedang masa menyusui, lalu ia mendapati seorang bayi diantara tawanan, maka iapun mangambilnya dan menempelkannya di perutnya lalu menyusuinya. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam pun berkata kepada kami : “Menurut kalian apakah wanita ini akan melempar anaknya ke dalam api?”, kamipun menjawab : “tidak, dan ia mampu untuk tidak melemparnya”, maka Rosululloh sholllallohu alaihi wa sallam pun bersabda : “Sesungguhnya Alloh lebih sayang terhadap hamba-Nya melebihi wanita ini terhadap anaknya.” [muttafaqun ‘alaih]
Tertundanya memiliki anak Diantara hikmahnya tertundanya memiliki anak:
1. Bisa lebih fokus menuntut ilmu
2. Bisa lebih fokus terhadap pekerjaan
3. Bisa lebih fokus untuk berdakwah
4. Bisa lebih fokus untuk berbakti kepada orang tua
Silahkan bandingan dengan mereka yang sudah mempunyai anak, maka terkadang kesibukan dengannya bisa sampai menghalangi berbakti kepada orang tua dan berbagai urusan yang lain.
Saling mendukung dan tidak saling menyalahkan
Bukanlah tindakan yang bijak jika keduanya sama-sama mencari kambing hitam, apalagi sampai bercerai. Lebih-lebih sang suami menyalahkan istri karena tidak bisa memberi keturunan. Pada studi epidemiologi kasus, kesulitan hamil sepertiga karena wanita, sepertiga pada laki-laki dan sepertiga gabungan keduanya. Dengan adanya ilmu kedokteran modern sekarang, maka dapat diketahui siapakah yang bermasalah sistem reproduksinya sehingga menyebabkan mandul atau infertil. Hendaknya keduanya sama-sama mendukung dan memeriksakan diri, sehingga bisa diberikan terapi yang sesuai dengan diagnosa.
Pemeriksaan yang dilakukan kepada suami:
1. Pemeriksaan fisik , psikis dan riwayat penyakit
2. analisis sperma untuk mengetahui kualitas dan kuantitas sperma
3. Pemeriksaan hormon.
Sedangkan pemeriksaan kepada istri berupa:
1. Pemeriksaan fisik , psikis dan riwayat penyakit
2. normalnya proses ovulasi dengan memeriksa darah dan hormon
3. mencari penghalang di rahim dengan salah satu berikut:-USG untuk mengetahui tumor, kitsa atau kanker
–Histerosalpingografi (HSG) yaitu dengan memasukan cairan khusus ke rahim melalui vagina. Cairan akan tampak pada foto rontgen. Jika terdapat sumbatan maka pergerakan cairan akan terhenti.
–Laparoskopi yaitu menggunakan alat untuk melihat keadaan bagian dalam rongga perut, melihat kondisi ovarium, saluran tuba dan rahim.
Mengetahui dan mencari informasi mengenai infertilitas dan masalah reproduksi
Secara kedokteran infertilitas adalah menurunnya atau hilangnya kemampuan menghasilkan keturunan. Primary terjadi pada pasien yang tidak pernah hamil. Secondary pada pasien yang sebelumnya pernah hamil. [Kamus Kedokteran Dorland hal 1096, Edisi 29, EGC, Jakarta]
Infertilitas yaitu Tidak hamil setelah 12 bulan melakukan hubungan intim secara rutin (1-3 kali seminggu) dan bebas kontrasepsi bila perempuan berumur kurang dari 34 tahun.
Jadi jangan terburu-buru menilai mandul. jika jarang bertemu dan sering berpisah kemudian selang-seling memakai hormon kontrasepsi, maka belum bisa didiagnosa infertilitas alias mandul.
Penyebab terhalangnya kehamilan
Secara ringkas sebab tidak terjadinya kehamilan pada point-point berikut:
1. Harus ada sel telur yang berasal dari indung telur atau ovarium.
2. Sel telur harus bergerak menuju rahim melalui saluran tuba dan tidak tersumbat
3. Dalam perjalanan ini, sel sperma dari laki laki harus mampu mencapai dan membuahi sel telur.
4. Telur yang sudah dibuahi kemudian harus menempel pada dinding rahim bagian dalam. Bukan di luar rahim
Sebab-sebab infertilitas
Sebabnya multifaktor melibatkan fisik dan psikis, umur, lama infertilitas, emosi, lingkungan, cara dan frekuensi hubungan seksual, kondisi sosial dan ekonomi, kondisi reproduksi wanita, meliputi cervix, uterus, dan sel telur, kondisi reproduksi pria, yaitu kualitas sperma dan seksualitas.
Bisa juga akibat komplikasi penyakit seperti penyakit genetik, kencing manis, penyakit kelenjar gondok, kelainan hormon, dan obesitas.
Sebab secara khusus pada wanita:
1. Endometriosis
Yaitu jaringan endometrium [tempat menempelnya sel telur yang sudah dibuahi] tidak berada dibagian lapisan dalam rahim tetapi berada dibagian lain. Gejala umumnya adalah nyeri yang sangat pada daerah panggul terutama pada saat haid dan berhubungan intim.
2. kelainan antibodi antisperma
Ada wanita yang sperma suaminya dianggap sebagai benda asing yang harus dimusnahkan oleh antibodi tubuhnya. akibatnya antibodi tersebut menghancurkan sperma yang masuk sehingga pembuahan gagal terjadi.
3. Infeksi Panggul
Infeksi panggul adalah suatu kumpulan penyakit pada saluran reproduksi wanita bagian atas, meliputi radang pada rahim, saluran telur, indung telur, atau dinding dalam panggul.
4. Mioma Uteri
Mioma uteri adalah tumor atau pembesaran jaringan otot yang ada di rahim. yang sering menimbulkan infertilitas adalah mioma uteri yang terletak di lapisan dalam (lapisan endometrium). Mioma uteri biasanya tidak bergejala.
5. Polip
Polip adalah suatu jaringan yang membesar dan menjulur dan dapat menjulur keluar ke vagina. Polip menyebabkan pertemuan sperma-sel telur dan lingkungan uterus terganggu, sehingga bakal janin akan susah tumbuh.
6. Kista
Kista adalah suatu kantong tertutup yang dilapisi oleh selaput (membran) yang tumbuh tidak normal di rongga maupun struktur tubuh manusia. Bisa terjadi pada rahim dan penyebabnya tidak seimbangnya hormon yang mempengaruhi reproduksi wanita.
7. Saluran Tuba yang Tersumbat
dapatmenyebabkan sperma tidak bisa bertemu dengan sel telur sehingga pembuahan tidak terjadi alias tidak terjadi kehamilan.
Sebab secara khusus pada laki-laki:
1. pretesticular yaitu Gangguan di daerah sebelum testis
Gangguan bagian otak, yaitu hipofisis yang mengatur hormon FSH dan LH yang kemudian mempengaruhi testis dalam menghasilkan hormon testosteron.
2. testicular yaitu Gangguan di daerah testis
Bisa karena trauma pukulan, gangguan fisik, atau infeksi.
3. posttesticular yaitu Gangguan di daerah setelah testis
Terjadi di saluran sperma sehingga sperma tidak dapat disalurkan dengan lancar, biasanya karena salurannya buntu.
INSYA ALLAH BERSAMBUNG…
disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid
14 Dzulhijjah 1432 H betepatan 10 November 2011
penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Ikhlas dan Jangan Berbangga Diri
Hal terpenting dalam ibadah bukanlah tentang banyaknya amal ibadah, melainkan bersihnya ibadah dari campuran atau noda yang dapat menghapuskan nilai ibadah tersebut yang dapat menyebabkan Anda tidak mendapatkan ganjaran apa-apa melainkan lelah semata. Kalimat ini bukan berarti menafikan baiknya jika kuantitas amal ibadah seorang hamba banyak, akan tetapi yang ideal adalah banyaknya amal disertai dengan kualitas yang baik pula.
Waspadalah! Jangan sampai terkecoh dengan amal yang telah Anda lakukan karena Allah-lah yang telah memberi Anda taufik untuk dapat melakukan segala amal tersebut. Sesungguhnya Allah Tabaraka wata’ala melihat niat dan motivasi seseorang dalam beramal. Dan Allah dengan kekuasaan-Nya yang agung hanya menghisab seseorang sesuai dengan kadar niatnya.
Waspadalah! Jangan sampai Anda mencela pelaku maksiat karena kemaksiatannya atau pelaku dosa karena dosa yang telah ia lakukan karena Allah Tabaraka wata’ala tidak menyukai orang yang ujub dengan amalnya. Sebuah dosa yang karenanya Anda merasa hina di sisi Allah lebih Allah cintai daripada ketaatan yang Anda merasa berjasa kepada Allah dan agama Allah. Dan erangan seseorang yang meminta ampun kepada Allah lebih Allah cintai daripada teriakan orang merasa berjasa kepada Allah dan agama-Nya. Amalan orang yang ujub tidak akan naik kepada Allah dan Allah tidak akan menerima amalnya. Tidak ada pintu yang lebih luas untuk bisa menghadap Allah Tabaraka wata’ala melainkan dari pintu menghinakan diri pada-Nya.
Apabila Anda mencela saudara Anda yang bermaksiat kepada Allah bisa jadi celaan Anda lebih jahat daripada maksiat yang telah saudara Anda lakukan dan dosa Anda lebih besar daripada dosanya karena bisa saja dosa tersebut mewariskan rasa hina pada dirinya di hadapan Allah Tabaraka wata’ala sehingga Allah membersihkan noda-noda kesombongan dan ujub dari hatinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mencela pelaku maksiat dalam sabdanya,
إِذَا زَنَتْ أَمَةُ أَحَدِكْمْ فَلْيَجْلِدْهَا الْحَدَّ، وَلَا يُثَرِّبْ (أَيْ وَلَا يُعَيِّرْ)
“Jika salah seorang budak perempuanmu berzina maka cambuklah ia sesuai ketentuan syariat dan jangan mencelanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi Yusuf ‘ash-shiddiq juga mencontohkan teladan yang baik ketika mengikrarkan maaf kepada saudara-saudaranya,
لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ
“Sejak hari ini aku tidak akan mencela kalian.” (Q.S Yusuf: 92)
Nabi Yusuf merupakan contoh pemaaf yang sejati, Ia memaafkan secara sempurna yaitu memaafkan tanpa mencela dan tidak mengungkit-ungkit kesalahan saudara-saudaranya.
Kewajiban kita kepada pelaku maksiat adalah; yang pertama, bersyukur dan memuji Allah atas nikmat yang Allah berikan kepada kita dan tidak Allah berikan kepadanya, sadari bahwa semuanya, termasuk terhindar dari suatu maksiat merupakan semata-mata karunia dari Allah. Kedua, menasihatinya. Tidak ada yang ketiga yaitu mencelanya.
Allah Tabaraka wata’ala berbicara kepada seorang hamba yang sangat mengetahui tentang diri-Nya dan paling dekat dengan-Nya, yaitu nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam,
وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلً
“Dan kalau Kami tidak meneguhkan (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.” (Q.S Al-Isra: 74)
Ayat di atas menunjukkan bahwa keteguhan hati dalam ketaatan semata-mata dari Allah Tabaraka wata’ala. Keikhlasan merupakan anugerah dan pemberian dari Allah yang Allah berikan kepada siapa yang Allah kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Allah jadikan keikhlasan rahasia di dalam hati siapa yang Allah cintai dari kekasih-Nya.
Nabi Yusuf ash-shiddiq ‘alaihissalam berkata dalam rangka berdoa kepada Rabbnya,
وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (Q.S Yusuf: 33)
Seseorang dapat selamat dari kemaksiatan karena Allah-lah yang memalingkan atau menghindarkan ia dari kemaksiatan. Semua urusan dan ketetapan di jagad raya berada di tangan Allah. Maka sama sekali tidak layak seseorang melihat kepada pelaku maksiat kemudian ia mencelanya karena kemaksiatannya dan pelaku dosa dicela karena dosanya. Sesungguhnya cambuk yang digunakan untuk memukul pelaku maksiat berada di tangan Allah dan tidak ada jaminan keamanan bahwa cambuk tersebut tidak akan digilirkan kepada Anda. Maka setiap orang wajib merasa hina di hadapan Rabb Tabaraka wata’ala.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak berdoa memohon keteguhan hati, padahal beliau adalah seorang utusan dan kekasih Allah,
قالت: كان أكثر دعاء رسول الله صلى الله عليه وسلم : يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك. قال: يا أم سلامة ليس آدمي إلا وقلبه بين أصبعين من أصابع الله، فمن شاء أقامه، ومن شاء أزاغه
“Ummu Salamah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah banyak berdoa dengan, ‘Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu.’ Rasulullah bersabda, ‘Wahai Ummu Salamah, sungguh tidak ada satupun anak Adam melainkan hatinya berada di antara dua jari di antara jari-jemari Allah, jika Allah menghendaki untuk meluruskan hati tersebut akan Ia luruskan dan jika ia menghendaki untuk memalingkannya maka akan Ia palingkan” (HR. Tirmidzi dalam Ad-Da’awat, 90 nomor 3522. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Ash-shahih)
Aslinya hadits ini terdapat di dalam Shahih Muslim dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dengan lafaz,
اللهم مصرف القلوب صرف قلوبنا على طاعتك
“Wahai Dzat Yang Maha Memalingkan hati, palingkanlah hati kami dalam ketaatan pada-Mu.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga banyak bersumpah dengan,
لَا وَمُقَلِّبِ الْقُلُوبِ
“Tidak, demi Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati.” (HR. Bukhari)
Maka hendaknya kita juga mengamalkan doa di atas agar Allah karuniakan kepada kita hati yang selalu taat pada-Nya. Tidak ada jaminan seseorang dapat istiqamah hingga akhir hayatnya karena orang yang selamat adalah orang yang diselamatkan oleh Allah.
فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللهُ قُلُوبَهُمْ
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (Q.S As-Saff: 5)
Seseorang yang menyadari bahwa kemudahan beribadah merupakan taufik dari Allah maka ia tidak akan merasa sombong dan ujub dengan amalnya sehingga ia tidak akan bermudah-mudahan mencela pelaku maksiat dan dosa, ia akan merasa hina dan menghambakan diri di hadapan Allah Tabaraka wata’ala.
Referensi:
1. Wa Maadzaa Ba’da Ramadhaan hlm 4-6, Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id Ruslan hafizhahullah, Khutbah Jum’at 1 Syawal 1431 H/ 10 September 2010 M di Mesir (http://www.rslan.org/kotob/matha_baad_ramadan.pdf)
2. Rekaman Risalah Wamadza Ba’da Ramadhan oleh ustadz Dr. Aris Munandar, S.S, M.P.I hafizhahullah Pertemuan ke-1 menit ke 00:00-27:08 (http://www.jogjamengaji.com/2019/02/risalah-wamaadza-bada-ramadhan-ustadz.html
Penulis: Atma Beauty Muslimawati
Sumber: https://muslimah.or.id/15963-ikhlas-dan-jangan-berbangga-diri.html
PENYEBAB PERTIKAIAN RUMAH TANGGA #shorts
Kunci Pertolongan Allah Ta’ala Ketika Susah
Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata:
فَمَنِ اتقَى اللهَ وَحَفِظَ حُدُودَهُ وَرَاعَى حُقُوقَهُ فِي حَالِ رَخَائِهِ عَرَفَهُ اللهَ فِي شِدَّتِهِ وَرَعَى لَهُ تعرفه السابق،
“Barangsiapa menjaga muamalah (hubungan) yang baik dengan Allah ketika sehat, muda, dan kuat, maka Allah akan memperlakukannya dengan kelembutan dan pertolongan ketika dia dalam keadaan susah.” (Al-Fawakihu asy-Syahiyyah, hlm. 139)
Mukmin yang bertakwa akan senantiasa menjalankan ketaatan dalam kondisi lapang maupun susah dalam sepanjang hidupnya sehingga hidupnya akan tenang dan bahagia. Menjaga adab-adab mulia kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan bersemangat beribadah ketika badan sehat saat usia muda, maka ini adalah amaliah yang dicintai Allah Ta’ala. Betapa banyak orang yang semasa fisik masih prima dan segar bugar, justru kekuatannya dipergunakan untuk berbuat maksiat. Mukmin yang senantiasa dekat dengan Allah Ta’ala dan menjaga syariat Islam, maka Allah akan memberikan penjagaan sempurna dari tipu daya setan, serta akan mengukuhkan imannya tatkala dalam situasi sempit dan menolongnya dari berbagai kesusahan hidup.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ
“Jagalah (batas-batas) Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. At-Tirmidzi No. 2516) hadis shahih lihat Shahihul Jami’ No.7957
Hidup orang mukmin yang bertakwa akan selalu terhibur meskipun ujian demi ujian silih berganti, karena mereka yakin Allah Ta’ala adalah Maha Penjaga dan Penolong yang sesungguhnya. Kesusahan yang dialami justru membuatnya semakin mendekat pada Allah Ta’ala dan semakin memperbagus amalan hati dan anggota badan. Bukankah orang yang terbiasa melalui kesulitan dan kesusahan akan menjadi pribadi yang tegar, kuat, dan dewasa? Mereka yakin bahwa setelah kesulitan ada kemudahan.
Di antara kunci pembuka pertolongan Allah adalah dirinya senantiasa memperkuat perisai iman, menapaki jalan yang dicontohkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mengandalkan pertolongan pada Allah Ta’ala kemudian berikhtiar dengan benar dan tidak melanggar syariat ketika hidupnya diuji dengan kesusahan, seperti kemiskinan, sakit, perangai kurang baik dari pasangan, anak yang susah diatur, dan sebagainya yang membuatnya menderita lahir batin. Inilah romantika dunia, maka optimislah bahwa jalan keluar itu dekat karena Allah Ta’ala menguji hamba sesuai kemampuannya.
Dan mukmin yang percaya pada takdir Allah ‘Azza wa Jalla tentunya akan banyak memohon agar dimudahkan menjalani ujian dan lebih ikhlas dengan mengadu pada-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Dia (Ya’qub) menjawab: “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.Yusuf: 86)
Kemudian kunci pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla berikutnya yang tidak boleh ditinggalkan adalah sabar dan shalat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah : 153)
Orang yang senantiasa menjaga shalatnya dan menjalankannya sesuai petunjuk Islam, niscaya hatinya jauh dari kesusahan dan perasaan gundah. Bahkan, kesusahan yang di awalnya begitu menghimpit hidupnya akan ada solusinya dengan pertolongan Allah Ta’ala.
Selanjutnya kunci pertolongan Allah yang lainnya adalah selayaknya seorang mukmin menolong saudara sesama muslim dalam kebajikan.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berwasiat:
وَاللهُ في عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ
“Dan Allah senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut senantiasa menolong saudaranya…” (HR. Muslim no. 2699)
Bagi yang dimudahkan rezeki berupa harta, saatnya memperbanyak sedekah kepada orang-orang lemah, penuntut ilmu syar’i, anak yatim, janda, dan orang-orang yang membutuhkan agar Allah Ta’ala menolongnya dan mempermudah urusan dunia serta akhiratnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ؟
“Bukankah kalian diberikan pertolongan dan diberikan rezeki dengan sebab (doa) orang-orang lemah diantara kalian?” (HR. Al-Bukhari no. 2896)
Sejatinya banyak sekali perkara-perkara yang akan mendatangkan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla yang intinya adalah seorang hamba mengaplikasikan peribadatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, baik dengan menerapkan aqidah yang lurus, beramal shalih, berhias dengan akhlak mulia, dan selalu berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk kebaikan dirinya dan sesama muslim di dunia dan akhirat.
Inilah dahsyatnya pengaruh doa yang ikhlas untuk kebaikan saudaranya, maka ia pun akan mendapat manfaat kebaikan serupa. Yakinlah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan menyia-nyiakan amal shalih seorang hamba yang beriman dan ikhlas menjalani kehidupan yang digariskan Allah ‘Azza wa Jalla, maka berbuat baiklah karena-Nya.
Semoga Allah mengumpulkan kita di jannah yang penuh kenikmatan. Aamiin.
—
Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa
Referensi:
1. Kiat-kiat Islam Mengatasi Kemiskinan, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka at-Takwa, Bogor 2015.
2. Kiat Sukses Mendidik Anak (Terjemah), Muhammad bin Jamil Zainu, Pustaka al-Haura, Yogyakarta, 2009.
Sumber: https://muslimah.or.id/16050-kunci-pertolongan-allah-taala-ketika-susah.html





