Kematian Merupakan Istirahat bagi Seorang Muslim

Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya. Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersama beberapa sahabatnya, lalu lewatlah jenzah seorang muslim, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُسْتَرِيحٌ

“Dia beristirahat”

Tak lama kemudian lewatlah jenazah seorang Yahudi, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُسْتَرَاحٌ مِنْهُ

“Dia diistirahatkan darinya”

Kemudian para sahabat bertanya:

مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ؟

“Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan “Dia beristirahat” dan “Dia diistirahatkan darinya”?

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Sesungguhnya seorang mukmin apabila meninggal dunia maka dia istirahat dari lelahnya kehidupan dunia dan penatnya. Dan orang yang kafir apabila meninggal dunia maka beristirahat darinya para hamba dan negeri-negeri.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits ini menjelaskan bahwa apabila seorang mukmin meninggal maka dia benar-benar beristirahat. Sedangkan orang kafir ketika meninggal sejatinya orang-orang dan penghuni negeri mendapatkan manfaat dari kematiannya tersebut dan bisa istirahat dari perilakunya. Karena perbuatan kemaksiatan dan kekafirannya itu menyakiti makhluk dan penghuni bumi, maka ketika dia meninggal mereka beristirahat darinya.

sumber : https://www.radiorodja.com/26456-kematian-merupakan-istirahat-bagi-seorang-muslim-khutbah-jumat-ustadz-badrusalam-lc/

Mengusap dan Berdo’a di Kubur Wali

Kita pernah dengan kisah seseorang yang kuburnya diarak masa, sampai tanahnya diambil, bahkan sampai kuburnya ambles 5 kali saat sering turunnya hujan, kata si Juru Kunci. Di kubur wali lainnya, ada yang bersikap berlebihan sampai mencium-cium nisannya, di antara tujuannya untuk ngalap berkah. Bentuk berlebihan lainnya adalah sampai berdo’a menghadap kubur wali, padahal kita berdo’a seharusnya menghadap kiblat.

Bentuk Berlebihan Terhadap Kubur yang Terjadi Sejak Masa Nabi Nuh

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr” (QS. Nuh: 23).

Sebagian ulama salaf berkata bahwa mereka ini (Wadd, Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr) adalah orang sholih di masa Nabi Nuh. Ketika mereka meninggal dunia, orang-orang beri’tikaf (berdiam) di kubur mereka. Selanjutnya, dibuatlah patung-patung mereka lalu disembah. Kalau ada yang melakukan ziarah seperti ini ke kubur, maka termasuk ziarah yang tidak ada tuntunan. Ajaran seperti ini termasuk ajaran Nashrani dan orang musyrik. Jika maksud penziarah kubur adalah ingin agar do’anya mustajab di sisi kubur, atau ia berdo’a meminta pada mayit, atau ia beristighotsah pada mayit, ia meminta dan bersumpah atas nama mayit pada Allah dalam menyelesaikan urusan dan kesulitannya, ini semua termasuk amalan yang tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak dilakukan oleh para sahabat. Lihat penjelasan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 27: 31.

Bentuk-bentuk ghuluw (berlebihan) terhadap kubur orang sholih dapat kita saksikan dalam beberapa point di bawah ini. Semua bentuk ini adalah bentuk berlebihan dan juga perantara menuju syirik.

Mencium dan Mengusap Kubur Termasuk Mungkar

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa sepakat para ulama akan terlarangnya mengusap-ngusap kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di fatawanya, beliau rahimahullah berkata.

وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ لِمَنْ سَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ قَبْرِهِ أَنْ يُقَبِّلَ الْحُجْرَةَ وَلَا يَتَمَسَّحَ بِهَا لِئَلَّا يُضَاهِيَ بَيْتُ الْمَخْلُوقِ بَيْتَ الْخَالِقِ

“Para ulama sepakat bahwa tidak dianjurkan bagi yang memberi salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi kubur beliau lantas ia mencium kamarnya (yang di dalamnya terdapat kubur Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-) dan mengusap-ngusap kuburnya. Ini sama saja menandingi rumah makhluk dengan rumah Pencipta (baitullah)” (Majmu’ Al Fatawa, 26: 97). Karena baitullah (Ka’bah) dibolehkan mengusap hajar aswad. Kalau seseorang mengusap-ngusap kubur, maka itu sama saja menandingi rumah Allah.

Di tempat lain, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَلِهَذَا اتَّفَقَ السَّلَفُ عَلَى أَنَّهُ لَا يَسْتَلِمُ قَبْرًا مِنْ قُبُورِ الْأَنْبِيَاءِ وَغَيْرِهِمْ وَلَا يَتَمَسَّحُ بِهِ

“Para ulama sepakat tidak boleh menyentuh kubur para nabi dan lainnya, begitu pula tidak boleh mengusap-ngusapnya. ” (Majmu’ Al Fatawa, 27: 31). Jika kubur Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak boleh diperlakukan seperti itu, bagaimana lagi dengan kubur lainnya seperti pada kubur habaib, kubur wali atau kubur sholihin?! Tentu tidak dibolehkan.

Terlarang Berdo’a Menghadap Kubur

Syaikhul Islam menerangkan pula bahwa berdo’a di sisi kubur dianggap keliru jika menghadap kubur langsung. Namun lihatlah bagaimana yang dilakukan di kubur-kubur para habib dan wali saat ini! Mereka berdo’a bukan menghadap kiblat, namun menghadap kubur secara langsung.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

وَلَا يَدْعُو هُنَاكَ مُسْتَقْبِلَ الْحُجْرَةِ فَإِنَّ هَذَا كُلَّهُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ بِاتِّفَاقِ الْأَئِمَّةِ . وَمَالِكٍ مِنْ أَعْظَمِ الْأَئِمَّةِ كَرَاهِيَةً لِذَلِكَ . وَالْحِكَايَةُ الْمَرْوِيَّةُ عَنْهُ أَنَّهُ أَمَرَ الْمَنْصُورَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْحُجْرَةَ وَقْتَ الدُّعَاءِ كَذِبٌ عَلَى مَالِكٍ . وَلَا يَقِفُ عِنْدَ الْقَبْرِ لِلدُّعَاءِ لِنَفْسِهِ فَإِنَّ هَذَا بِدْعَةٌ وَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ الصَّحَابَةِ يَقِفُ عِنْدَهُ يَدْعُو لِنَفْسِهِ وَلَكِنْ كَانُوا يَسْتَقْبِلُونَ الْقِبْلَةَ وَيَدْعُونَ فِي مَسْجِدِهِ

“Tidak boleh berdo’a di kubur Nabi dengan menghadap ke kamarnya. Semua ini terlarang menurut kesepakatan para ulama. Imam Malik yang paling keras melarang hal ini. Banyak cerita yang diriwayatkan dari Imam Malik di mana beliau memerintahkan Manshur untuk menghadap kamar saat berdo’a, ini riwayat dusta. Tidak boleh berdiri di sisi kubur untuk berdo’a untuk kepentingan dirinya karena ini tidak dituntunkan. Tidak pernah seorang sahabat pun berdiri di sisi kubur untuk kepentingan dirinya. Yang para sahabat lakukan adalah mereka berdo’a menghadap kiblat dan berdo’a di masjid (Masjid Nabawi).” (Majmu’ Al Fatawa, 26: 147).

Berdo’a di Sisi Kubur Wali

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَلَا يُسْتَحَبُّ الصَّلَاةُ عِنْدَهُ وَلَا قَصْدُهُ لِلدُّعَاءِ عِنْدَهُ أَوْ بِهِ ؛ لِأَنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ كَانَتْ مِنْ أَسْبَابِ الشِّرْكِ وَعِبَادَةِ الْأَوْثَانِ

“Para ulama sepakat tidak dianjurkan shalat di sisi kubur, tidak pula berdo’a di sisi kubur atau berdo’a lewat perantaraan kubur. Karena seluruh hal ini  adalah perantara pada syirik dan sebab penyembahan kepada watsn (segala sesuatu yang disembah selain Allah).  ” (Majmu’ Al Fatawa, 27: 31). Hal ini menunjukkan terlarangnya berdo’a di kubur wali, habaib atau orang sholih. Namun yang dibolehkan adalah mendo’akan kebaikan untuk si mayit seperti yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan ketika kita ziarah kubur dan tetap menghadap kiblat. Do’a yang dimaksud adalah,

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ (وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ) وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ، أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, (semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan). Kami insya Allah akan bergabung bersama kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim no. 975).

Adapun jika do’anya menjadikan mayit sebagai perantara, ini adalah amalan bid’ah dan perantara menuju syirik. Yang lebih parah adalah berdo’a kepada mayit atau menjadikan mayit sebagai perantara pada Allah namun di dalamnya ada ibadah kepada selain Allah seperti ada tumbal, sesaji, dll, ini termasuk syirik akbar yang mengeluarkan dari Islam. Lihat bahasan

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

@ Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh-KSA, 13 Shafar 1434 H

Sumber https://rumaysho.com/3063-mengusap-dan-berdoa-di-kubur-wali.html

Hasil Quis Bulanan 3 – kitabut Tauhid bag.6

Masyaallah walhamdulillah, apresiasi kepada 232 perserta yang ambil bagian dari Quis bulanan 3 kitabut tauhid bagian 6 ini. masyaallah terimakasih. kami kira ini akan menjadi evaluasi yang bermanfaat bagi antum, dan tentunya feedback yang berharga bagi kami.

langsung aja, mudah-mudahan hasilnya sesuai dengan ekspetasi yaa👍


Ringkasan

https://docs.google.com/forms/d/1u41TYC-FTUEXPSau0UJ6k4YwxtrUzsteQO7QxU29h6s/viewanalytics


Peringkat Pria/Ikhwan

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1HrtjO59ovBy0jzhqhefyivNmn62JBIrKKwU7BycQPYc/edit?usp=sharing


Peringkat Wanita/Akhwat

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1sqU6LTdDkeR2l8WufwHhaV-zCU5Dg_YBiSlcVc6VHi0/edit?usp=sharing

Dakwah Tauhid, Dakwah Prioritas

Dakwah itu mesti butuh prioritas dalam hal materi yang disampaikan. Dakwah pada tauhid dan supaya muslim menjauhi syirik harus lebih diprioritaskan daripada pengingkaran maksiat lainnya seperti korupsi, berzina dan pembunuhan. Karena syirik berkaitan dengan hak Allah, juga merupakan larangan dan tindak kezholiman yang paling besar. Sedangkan dosa korupsi masih menempati urutan di bawahnya.

Kita dapat mengambil pelajaran bahwa mendakwahi masyarakat untuk menjauhi syirik lebih diutamakan daripada perkara lainnya dari hadits berikut berikut ini. Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata,

لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ »

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19).

Beberapa faedah dalam hadits di atas:
  1. Disyari’atkan mengutus da’i untuk mendakwahkan tauhid.
  2. Yang dijadikan prioritas wajib dan utama dalam dakwah adalah mendakwahkan kalimat laa ilaha illallah yang konsekuensinya beribadah pada Allah saja dan menjauhi kesyirikan.
  3. Makna syahadat laa ilaha illallah adalah mentauhidkan (mengesakan) Allah dalam ibadah dan meninggalkan peribadahan pada selain Allah.
  4. Islamnya orang kafir barulah terbukti dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
  5. Sebagaimana ahli kitab, maka seseorang bisa saja membaca dan mengetahui namun tidak paham akan makna laa ilaha illallah, atau tahu tetapi tidak mau mengamalkannya.
  6. Mendakwahi orang yang berilmu seperti ahli kitab berbeda dengan mendakwahi orang jahil.
  7. Seseorang yang berdakwah hendaklah membekali diri dengan ilmu agar selamat dari pemikiran menyimpang.
  8. Shalat merupakan amalan yang utama setelah dua kalimat syahadat.
  9. Zakat merupakan amalan yang utama setelah shalat.
  10. Di antara penerima zakat adalah orang fakir. Dan hadits di atas menjadi dalil bolehnya mencukupkan penyaluran zakat pada orang fakir saja.
  11. Tidak boleh mengambil zakat dari harta yang berharga -yang dituntut adalah yang pertengahan- kecuali dengan ridho pemiliknya.

Alhamdulillah, moga Allah beri hidayah.

Referensi:

Al Mulakhosh fii Syarh Kitabit Tauhid, -guru kami- Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Darul ‘Ashimah, cetakan pertama, tahun 1422 H, hal. 56.

—

@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, 3 Jumadal Akhiroh 1434 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://muslim.or.id/15012-dakwah-tauhid-dakwah-prioritas.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

2 Nikmat Yang Banyak Dilalaikan

Menghitung nikmat yang telah Allah berikan adalah sebuah pekerjaan yang sulit. Bagaimana tidak, Allah mengatakan bahwa jika seorang hamba ingin menghitung nikmat tersebut, maka tidak akan sanggup menghitungnya. Allah Ta’ala berfirman

وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghitung jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nahl: 18).

Mayoritas manusia banyak yang tertipu jika Allah berikan nikmat, padahal nikmat yang diberi akan dipertanggung jawabkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah berpindah pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai umurnya, dimanakah ia habiskan; ilmunya, dimanakah ia amalkan; hartanya, bagaimana cara ia mendapatkannya dan ia infakkan; dan mengenai badannya, di manakah usangnya.” (HR. At-Tirmidzi, shahih).

Ingatlah bahwa 4 hal di atas akan ditanya kelak pada hari kiamat, yaitu umur, ilmu, harta dan badannya. Oleh karena itu, ketika seorang mendapatkan nikmat namun tidak ia gunakan tuk taat, maka itu adalah musibah. Sebagaimana perkataan Abu Hazim dalam Hilyatul Auliya, “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk taat, maka itu adalah musibah.”

Di antara sekian banyak nikmat yang telah Allah berikan, ada 2 nikmat yang manusia lalai darinya. Nikmat tersebut adalah kesehatan dan waktu luang.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

1. Kesehatan

Banyak manusia yang sehat, namun tertipu dengan kesehatannya. Ia tak gunakan kesehatannya untuk taat, namun untuk maksiat. Sementara di luar sana ada sebagian orang yang ingin melakukan ketaatan, namun tak mampu melakukannya dikarenakan sakit yang di derita.

Padahal badan yang sehat akan ditanyakan, digunakan untuk apa. Apakah digunakan tuk mendatangi majelis ilmu ataukah mendatangi tempat-tempat maksiat. Barulah ia tersadar ketika terbaring lemah tak berdaya karena sakit, sehingga sesal pun tak terelakkan.

2. Waktu luang

Waktu adalah sesuatu yang terus berputar dan tak akan kembali lagi. Oleh karena itu betapa banyak manusia yang tersesali oleh waktu. Waktunya hanya berlalu begitu saja, tanpa ada manfaat dan faidahnya. Hidupnya hanya menghabiskan waktu dan menyisakan penyesalan umur.

Waktu ibarat pedang bermata 2, jika digunakan untuk kebaikan, maka baik pula. Sebaliknya, jika digunakan untuk keburukan, maka dampak buruk akan terjadi di kemudian hari.

Betapa tidak, sebagian orang menghabiskan waktunya untuk maksiat, namun tatkala ia sudah senja, maka ia akan menangisi masa tua nya karena ia tak menghabiskan waktu dan umurnya untuk taat.

Ketahuilah bahwa 2 hal di atas adalah nikmat yang patut disyukuri tatkala terkumpul di dalam diri seorang muslim. Karena tatkala seorang itu bersyukur, maka Allah akan tambah nikmat tersebut.

Allah Ta’ala berfirman

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu mengatakan; “Sungguh jika kamu bersyukur, pasti Aku akan tambah (nikmat) kepadamu, tapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Semoga bermanfaat, wallahul muwaffiq.

—

Penulis: Wiwit Hardi P.

Sumber: https://muslimah.or.id/7233-2-nikmat-yang-banyak-dilalaikan.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Libatkanlah Allah dalam Pendidikan Anak

Di antara bentuk keimanan yang kuat seorang hamba adalah ketika ia senantiasa menyandarkan segala sesuatunya kepada Allah. Ia yakin bahwa dia adalah seorang hamba yang lemah, tidak memiliki daya dan upaya, serta senantiasa membutuhkan pertolongan Allah.

Mari lihat firman Allah di dalam Al-Qur’an tentang ucapan seorang mukmin yang hakiki. Allah berfirman,

وَأُفَوِّضُ أَمْرِىٓ إِلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرٌۢ بِٱلْعِبَادِ

“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Mu’min: 44)

Bahkan, seorang mukmin diminta untuk senantiasa mengikrarkan setiap harinya, minimal 17 kali, bahwa ia akan selalu menyandarkan dirinya kepada Sang Pencipta, dengan membaca dalam setiap salatnya,

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”(QS. Al-Fatihah: 5)

Ikrar ini selalu diulang. Tujuannya adalah agar mengingatkan jati diri seorang hamba yang tak bisa lepas dari Sang Khaliq. Sebaliknya, ketika ia menjauh dan tidak menyandarkan kepada Allah dalam urusannya, maka sejatinya ia adalah seorang yang sombong. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur’an,

كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَيَطْغَىٰٓ
أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6-7)

Di antara bentuk penyandaran diri seorang hamba kepada Allah adalah dengan senantiasa berdoa. Ia bermunajat, yang merupakan bentuk melibatkan Allah dalam segala urusannya.

Maka, tak heran ketika Allah menggandengkan antara kesombongan dengan orang orang yang enggan berdoa kepada-Nya. Karena, ketika seseorang itu meninggalkan bermunajat kepada Allah, secara tidak langsung dia merasa tidak butuh kepada pertolongan-Nya dan itulah inti kecongkakan.

Allah berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Al-Mu’min: 60)

Dan di antara hal yang paling penting seorang hamba melibatkan Allah adalah dalam pendidikan anak. Mengapa demikian? Hal itu karena beberapa hal, di antaranya:

Pertama, hidayah di tangan Allah, sedangkan orang tua tidak memiliki hak memberikan hidayah dan taufik untuk sang buah hati.

Kedua, seorang ayah dan ibu yang sangat lemah dalam membersamai dan mengawasi sang anak.

Ketiga, zaman yang penuh dengan godaan dan kemaksiatan, yang sulit dibendung apalagi dengan semakin canggihnya teknologi di era sekarang.

Oleh karenanya, orang tua harus senantiasa melibatkan Allah dalam pendidikan buah hati mereka. Dan anda wahai Ayah bunda, jangan lelah untuk mendoakan buah hati anda. Karena doa merupakan kunci kesuksesan segala sesuatu. Begitu juga, ia kunci kesuksesan untuk menjadikan buah hati anda tumbuh menjadi anak yang saleh. Di sisi lain, doa anda sangatlah mustajab. Hal ini sebagaimana yang pernah Nabi sabdakan dalam suatu hadis yang dibawakan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ
وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang terzalimi.” (HR. Abu Daud no. 1536, Ibnu Majah no. 3862, dan Tirmidzi no. 1905. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini hasan)

Berikut adalah macam-macam doa yang bisa dipanjatkan agar Allah memberikan keturunan yang saleh, gemar untuk berbuat kebaikan, serta dijauhkan dari keburukan:

Pertama: Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam agar mendapatkan anak yang saleh,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)

Kedua: Doa Nabi Zakariya ‘alaihis salam agar mendapatkan anak yang saleh,

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء

“Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imron: 38)

Ketiga: Doa ‘Ibadurrahman (hamba Allah yang beriman) agar mendapatkan anak yang saleh,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Keempat: Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam agar mempunyai anak yang rajin menegakan salat,

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

Kelima: Doa Nabi Muhammad untuk sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma agar ia menjadi seorang yang ‘alim,

اَللَّهُمَّ فَقِّهُّ فِي الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

“Ya Allah, berilah kepahaman kepadanya dalam urusan agama dan ajarkan takwil (tafsir Al-Qur’an).”

Keenam: Doa agar Allah selalu memperbaiki keadaan keturunan,

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

“Wahai Rabbku, ilhamkanlah padaku untuk bersyukur atas nikmatmu yang telah Engkau karuniakan padaku, juga pada orang tuaku. Dan ilhamkanlah padaku untuk melakukan amal saleh yang Engkau ridai. Dan perbaikilah keturunanku.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Ketujuh: Doa agar anak terhindar dari ‘ain,

أُعِيْذُكَ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ. اَللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ وَلَا تَضُرَّهُ

“Aku menyerahkan perlindunganmu dengan Kalimat Allah yang sempurna dari segala gangguan setan, binatang melata/serangga, dan segala pengaruh mata jahat. Wahai Tuhanku, turunkan keberkahan-Mu pada anak ini. Jangan izinkan sesuatu membuatnya celaka.” (Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar)

Kedelapan: Doa Nabi untuk seorang pemuda yang memiliki keinginan untuk melakukan zina, maka ia pun mendoakannya dengan meletakkan tangannya kepada lelaki tersebut, agar Allah menjauhkan sang pemuda dari perbuatan nista,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

“Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

Kesembilan: Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Anas agar dimudahkan memiliki banyak anak dan harta.

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang Engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480)

Kesepuluh: Doa Nabi Ibrahim agar keturunan dijauhkan dari perbuatan syirik,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

Inilah di antara doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadis, dan masih banyak lagi contoh doa yang bisa dipanjatkan untuk sang buah hati tercinta.

Semoga Allah Ta’ala mengkaruniakan kepada setiap orang tua anak yang saleh dan bermanfaat untuk agama dan bangsa.

———–

Dirangkum oleh Agung Argiyansyah di Pesantren gratis Klaten, Rabu, 28 Jumadilakhir 1445 H, bertepatan 10 Januari 2024. Terinspirasi dengan salah satu bab dalam kitab ‘Asyru Raka’iz fi Tarbiyatil Aulad, karya Prof. Syekh Abdur Razzaq bin Abdil Mushsin Al-‘Abbad Al-Badr.

***

Penulis: Agung Argiyansah

Sumber: https://muslim.or.id/90881-libatkanlah-allah-dalam-pendidikan-anak.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Quiz bulanan 3 – kitabut tauhid bag. 6

catatan: materi quis bulanan berasal dari 8 materi terakhir Belajar Tauhid yang telah dipelajari sebelumnya.


Dear pengguna, sudah murajaah kan.?

baiklah, kapanpun antum siap, ketuk link dibawah ini. 💪

link utama

catatan1: Jika antum tidak dapat membuka link tersebut, berarti antum masih menggunakan versi lawas HijrahApp. solusinya, mohon update hijrahapp antum ke versi terbaru

catatan2: insyaallah, hasil pemeringkatan akan kami umumkan Hari Rabu pukul 19.00WIB di beranda HijrahApp

catatan3: Materi yang diujikan ada di beranda HA, buka kategori belajar tauhid, pelajari 8 materi terakhir

Wara, Meninggalkan yang Meragukan

Pernah mendengar kata wara’?

Di antara maksud wara’ adalah memilih yang yakin dan meninggalkan yang ragu-ragu.

Para ulama menyatakan bahwa wara’ adalah bagian dari ushul dan pokok agama kita. Di antara bentuk wara’ adalah meninggalkan hal yang meragukan. Sebagaimana ada hadits dari Abu Muhammad Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia menghafalkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perkataan berikut,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ ، وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Tinggalkanlah segala yang meragukanmu dan ambillah yang tidak meragukanmu. Kejujuran akan mendatangkan ketenangan. Kedustaan akan mendatangkan kegelisahan.” (HR. Tirmidzi, no. 2518. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir (3: 529) menyatakan bahwa yang dimaksud, tinggalkanlah yang meragukan, ragu apakah itu baik ataukah jelek, ragu apakah itu halal atau haram, pilihlah yang tidak meragukan yaitu yang diyakini baik dan halalnya.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari (4: 343) menyatakan makna hadits yaitu jika engkau ragu pada sesuatu, maka tinggalkanlah. Meninggalkan perkara yang masih ragu seperti ini termasuk dalam masalah wara’ yang cukup penting.

Seorang yang dikenal zuhud, Abu ‘Abdurrahman Al-‘Umari rahimahullah mengungkapkan bahwa seseorang disebut wara’ jika ia meninggalkan yang meragukannya dan ia pilih yang yakin yang tidak meragukannya.

Hasan bin Abi Sinan rahimahullah menyatakan bahwa tidak ada yang lebih ringan dari wara’, yaitu jika ada sesuatu yang meragukan, maka tinggalkanlah.

Al-Baghawi rahimahullah menyatakan bahwa perkara syubhat itu ada dua macam. Macam pertama, tidak diketahui dasar halal atau haramnya. Dalam hal ini bersikap wara’ yaitu meninggalkannya. Macam kedua, jika mengetahui dasar halal dan haramnya, maka ia harus  berpegang teguh pada hukum asal tersebut. Mengambil hukum tersebut tentu berdasarkan ilmu yang yakin.

Demikian penjelasan yang kami ringkaskan dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 2: 23.

Semoga bermanfaat.

—

Diselesaikan @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, malam 18 Dzulhijjah 1437 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/14358-wara-meninggalkan-yang-meragukan.html

Hidup Itu Saling Memandang

Pernahkah Anda mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup Anda? Itulah kehidupan di dunia. Semua orang pernah dan akan mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan di muka bumi, baik laki-laki maupun perempuan, baik orang yang muslim ataupun yang kafir.

Allah Ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۙ وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Demikian itulah, karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu kenikmatan yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 53)

Seseorang tidak akan berubah dari bahagia menjadi sedih, dari rezeki yang lancar menjadi sukar, kalau bukan dirinya sendiri yang mengubahnya, disebabkan dosa dan maksiat yang diperbuat. Selain itu, kebahagiaan dan kenikmatan yang ia miliki, baik berupa jasmani (fisik dan akal yang sempurna, tidak cacat, kesehatan, pasangan, keturunan, kecukupan harta, kendaraan, tempat tinggal, maupun makanan) atau rohani (ketenangan jiwa) bisa berganti menjadi kesedihan dan kekurangan tatkala ia tergoda untuk membanding-bandingkan apa yang ia miliki dengan orang lain.

Ketika dirinya mulai tertarik melihat media sosial atau film yang di sana ditampilkan wanita cantik dan membuka aurat, mulailah ia membandingkan pasangannya dengan para artis. Kala bisnisnya mulai lancar atau gajinya sudah naik, mulailah ia membandingkan dengan orang lain yang gajinya lebih besar dan jabatannya lebih tinggi. Saat ia melihat temannya sudah memiliki mobil, ia mulai membandingkan kendaraan roda dua yang dimilikinya. Tatkala seseorang mulai membanding-bandingkan apa yang ia miliki dengan orang lain, maka saat itu juga secara bertahap kebahagiaan dan ketenangan yang ia miliki menjadi semakin kecil dan berkurang, bahkan berganti menjadi keresahan dan kesempitan.

Allah Ta’ala telah mengingatkan,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِۦٓ أَزْوَٰجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kalian terpesona (silau) kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia (rezeki) Tuhan kamu adalah lebih baik untukmu dan (pahala yang disediakan di akhirat) lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

Hidup itu bagaimana cara kita memandang

Hidup itu hanya masalah pandang dan memandang, jangan hanya memandang dari apa yang dipandang. Hidup itu adalah melihat dan dilihat, jangan hanya melihat dari apa yang terlihat. Kita melihat orang lain seakan-akan bahagia, padahal kenyataannya belum tentu demikian. Bahkan, bisa jadi, ia malah melihat kita lebih bahagia. Saat kita melihat orang lain memiliki rumah dan mobil mewah, bisa jadi ia sedang diuji dari sisi lain, seperti belum dikaruniai keturunan atau sakit parah yang mana ia memandang kita lebih bahagia karena memiliki anak dan diberikan kesehatan. Orang yang sering terpukau dengan kenikmatan yang dimiliki oleh orang lain akan timbul perasaan iri, dengki, syukur yang semakin berkurang, bahkan protes terhadap pemberian dari Allah kepada dirinya.

Allah Ta’ala menegaskan,

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Apakah mereka yang berhak membagi-bagi rahmat Tuhan kalian? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat saling memberi manfaat sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan kami jadikan sebagian kamu ujian bagi sebagian yang lain. Maukah kalian bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqan: 20)

Memandang ke bawah agar lebih bersyukur

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang berada di bawah kamu, dan jangan lihat orang yang berada di atas kamu (dalam masalah dunia). Karena dengan begitu, kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tiada seorang pun yang tertimpa musibah di dunia ini, kecuali ia akan menemukan orang yang lebih besar lagi musibahnya. Jika ia sedang ditimpa kesusahan, masih banyak orang yang lebih susah dari dirinya. Dengan memandang orang yang berada di bawah, maka kesusahan dan rasa sedih yang ia rasakan akan berkurang dan membuat hatinya terhibur, sehingga membantunya untuk bersabar dan bersyukur karena ternyata masih ada orang yang berada di bawahnya.

***

Penulis: Arif Muhammad

Sumber: https://muslim.or.id/90747-hidup-itu-saling-memandang.html
Copyright © 2024 muslim.or.id