Berlebihan Pamer Di Sosmed, Bisa Jadi Sedang Tidak Bahagia di Dunia Nyata
Salah satu sifat yang ada pada banyak manusia adalah suka pamer dan berbangga-bangga terhadap apa yang dimilikinya. Baru saja membeli hape baru dia pamer, punya mobil bagus dia pamer, punya anak pintar dia berbangga-bangga dengan itu, punya harta melimpah dia bermegah-megah dengan itu. Watak seperti ini dicela oleh Allah, Allah berfirman,
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At Takatsur: 1-2)
Dari sudut pandang kejiwaan, fenomena narsistik dan perilaku suka pamer oleh beberapa ahli psikologi dianggap sebagai salah satu penyakit gangguan jiwa dan kepribadian di mana penderitanya ingin menjadi pusat perhatian, seperti yang dialami oleh sebagian besar penggila selfie. Sedikit-sedikit selfie, sedikit-sedikit pamer, sedikit-sedikit posting.
Orang yang suka pamer barang tertentu biasanya dilakukan oleh orang yang baru merasakan bisa memiliki barang tersebut. Orang yang baru beli mobil biasanya dia ingin pamer, dia ingin diakui oleh orang lain bisa beli mobil. Bandingkan dengan orang yang sejak lama sudah punya mobil bahkan dengan jumlah yang banyak, orang sudah tahu kalau dia sudah punya banyak sehingga dia tidak haus dengan pengakuan itu lagi.
Di sisi lain, pamer dan suka posting apa saja ke dunia maya bisa jadi adalah dampak dari kehidupan di dunia nyata yang kurang bahagia. Di dunia nyata dia tidak mendapatkan penghargaan dan apresiasi atas dirinya, akhirnya dia masuk ke dunia maya untuk mencari itu.
Di dunia nyata dia tidak menemukan kepuasan untuk mengobrol dengan orang-orang di sekitarnya, seperti istrinya/suaminya, anaknya, dan sahabatnya. Hal itulah yang membuatnya memilih dunia maya sebagai pelarian. Oleh karena itu, orang yang sudah merasakan kebahagiaan yang banyak di dunia nyata, dia merasa tidak perlu pamer di dunia maya.
Artikel http://www.muslimafiyah.com (Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)
Mendoakan Kebaikan Bagi Para Pemimpin #video
Mereka Yang Mabuk Kekuasaan
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Dakwah, sebuah tugas mulia yang diemban oleh para pengikut nabi yang setia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah di atas landasan bashirah/ilmu, inilah jalanku dan orang-orang yang setia mengikutiku. Maha suci Allah, aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108).
Bahkan, kita pun tahu bahwa jalan dakwah merupakan jalannya orang-orang yang beruntung, orang-orang yang selamat dari kerugian. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 1-3)
Namun, satu hal yang perlu diingat pula oleh setiap orang yang menisbatkan dirinya kepada dakwah yang agung ini, bahwa dakwah para nabi dan rasul di sepanjang jaman tidak pernah mengalami perubahan asas dan tujuan. Sebagaimana telah ditegaskan oleh Allah -yang telah mengutus mereka- di dalam firman-Nya (yang artinya), “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat, seorang rasul yang menyerukan; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36). Artinya, dakwah tauhid dan pemberantasan syirik merupakan agenda utama dakwah yang sama sekali tidak boleh disepelekan, apalagi dianggap tidak relevan atau isu masa silam yang sudah ketinggalan jaman[?!]
Kita semua ingat, tidaklah mulia suatu kaum -di sisi Allah, meskipun tampak hina di mata manusia- kecuali karena tauhid, ketakwaan, dan komitmen mereka terhadap ajaran Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya agama yang sah di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19). Allah ‘azza wa jalla juga berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya, dan di akherat kelak dia pasti termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imran: 85). Allah tabaraka wa ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.” (QS. al-Hujurat: 15).
Sebab tauhid, keimanan dan bimbingan al-Qur’an itulah yang menjadi pondasi kebaikan umat manusia. Yang dengannya mereka hidup dan bahagia, yang dengannya mereka akan bisa merasakan indahnya surga. Allah jalla dzikruhu menyatakan (yang artinya), “Tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam menjalankan agama secara lurus,…” (QS. al-Bayyinah: 5). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya maka sungguh dia akan mendapatkan kemenangan yang sangat besar.” (QS. al-Ahzab: 71). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sebagian kaum karena Kitab ini dan menghinakan yang lain juga karenanya.” (HR. Muslim)
Maka sungguh amat menyedihkan, apabila ada sebagian golongan umat ini yang berjuang mengatasnamakan dakwah dan Islam kemudian menyingkirkan agenda besar umat Islam yaitu dakwah tauhid dan sunnah serta pemberantasan syirik dan bid’ah demi meraih kursi dan jabatan. Subhanallah! Tidak layak bagi mereka untuk mencatut firman Allah –yang mengisahkan ucapan Nabi Syu’aib ‘alaihis salam– (yang artinya), “Tiada yang kuinginkan melainkan melakukan perbaikan selama aku masih berkemampuan…” (QS. Huud: 88).
Wahai saudaraku –fillah– dakwah macam apakah ini? Mengorbankan agama demi mendapatkan ceceran kesenangan dunia dan fatamorgana… Kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya, kembalilah kepada para ulama Rabbani pengikut pemahaman generasi utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah melakukan amal-amal sebelum datangnya terpaan fitnah laksana potongan-potongan malam yang gelap gulita, sehingga membuat seorang yang pada pagi harinya beriman namun pada sore harinya berubah menjadi kafir, atau sorenya beriman namun pagi hari kemudian menjadi kafir. Dia rela menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.” (HR. Muslim).
Sementara Rabb kita ‘azza wa jalla telah membakukan kriteria amal yang diterima di sisi-Nya dengan firman-Nya (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan janganlah dia mempersekutukan apapun dalam beribadah kepada Rabbnya barang sedikitpun.” (QS. al-Kahfi: 110). Ingatlah kata para ulama kita, amal dikatakan salih jika selaras dengan Sunnah Nabi-Nya, dan dikatakan ikhlas jika dipersembahkan hanya untuk-Nya, bukan untuk mencari dunia atau perempuan yang ingin dikawininya! Tidakkah kita ingat sebuah ayat yang mulia yang senantiasa kita baca dalam setiap raka’at kita, Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” Wahai saudaraku –fillah– inilah tujuan dan cita-cita hidupmu!
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Akidah yang benar merupakan pondasi tegaknya agama dan syarat sah diterimanya amalan. Hal itu sebagaimana yang difirmankan oleh Allah (yang artinya), “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. al-Kahfi: 110). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: Seandainya kamu berbuat syirik niscaya akan lenyap seluruh amalmu, dan kamu pasti termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ingatlah, untuk Allah agama/ketaatn yang tulus/murni itu.” (QS. az-Zumar: 2-3). Maka ayat-ayat yang mulia ini serta ayat-ayat lain yang semakna -dan itu banyak jumlahnya- menunjukkan bahwa amalan tidak akan diterima kecuali apabila bersih dari syirik. Oleh sebab itulah maka fokus perhatian para rasul -semoga salawat dan keselamatan dicurahkan Allah kepada mereka- menjadikan perbaikan akidah sebagai prioritas utama dakwahnya…” (at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-’Aali, hal. 9-10)
Hizbullah, yaitu golongan Allah, tidak membangun loyalitasnya di atas kepentingan politik kursi dan jabatan, akan tetapi membangun loyalitas karena-Nya, bersaudara di atas ikatan iman, dan berlepas diri dari segala bentuk kekufuran. Rabb kita tabaraka wa ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak akan kamu temukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir itu justru berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapaknya, anaknya, saudara-saudara mereka atau sanak famili mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah ditetapkan keimanan oleh Allah di dalam hatinya dan diperkuat oleh Allah dengan pertolongan dari-Nya. Niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun pasti akan ridha kepada-Nya. Mereka itulah hizbullah, dan hanya mereka itulah golongan orang-orang yang beruntung.” (QS. al-Mujadilah: 22)
Tidakkah kita ingat salah satu uswah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang dengan tegas, berani, dan lantang menyuarakan tauhid di hadapan kaumnya, tanpa basa-basi politik atau bumbu ucapan dusta. Sebagaimana dikisahkan oleh Rabb kita tabaraka wa ta’ala (yang artinya), “Sungguh terdapat suri tauladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan segala yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari perbuatan kalian dan telah tampak jelas antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian, sampai kalian beriman kepada Allah semata…” (QS. al-Mumtahanah: 4)
Saudaraku –fillah– jalan dakwah ini terlalu suci untuk dikotori dengan kepentingan-kepentingan sesaat dan ambisi-ambisi jahat semacam itu. Rabb kita jalla sya’nuhu telah memerintahkan (yang artinya), “Ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Rabbmu, tiada sesembahan-–yang benar- kecuali Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. al-An’aam: 106). Allah juga memerintahkan (yang artinya), “Dan sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain karena hal itu pasti akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-An’aam: 153)
Takutlah kepada Allah, wahai saudara-saudaraku… Pergunakanlah ilmumu yang telah kau serap, kau hafalkan, dan kau teguk bertahun-tahun lalu melalui kitab-kitab para ulama salaf. Ingatlah ucapan Ibnu Batthal rahimahullah, “Sesungguhnya ilmu itu dinilai memiliki keutamaan disebabkan ilmu itulah yang akan membimbing pemiliknya untuk merasa takut kepada Allah, berusaha untuk selalu melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kedurhakaan kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir: 28). Ibnu Umar berkata kepada orang yang memanggilnya sebagai faqih -orang yang ahli agama-, “Sesungguhnya orang yang faqih itu adalah orang yang zuhud kepada dunia dan sangat merindukan akherat.”.” (lihat Syarh Ibnu Batthal [1/149], lihat juga Syarh an-Nawawi [3/489] asy-Syamilah)
Maka titel dan gelar akademis -apalagi jabatan organisasi dan kepartaian- bukanlah ukuran keilmuan seseorang dalam kacamata syari’at! Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir: 28). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan, “Maknanya adalah tidak ada yang merasa takut kepada-Nya kecuali seorang yang berilmu. Ini artinya Allah memberitakan bahwa setiap orang yang takut kepada Allah maka itulah orang yang berilmu. Sebagaimana yang Allah ceritakan di dalam ayat lainnya (yang artinya), ‘Apakah sama orang yang senantiasa taat mengerjakan sholat dengan bersujud dan berdiri di sepanjang malam serta merasa takut akan hari akherat dan mengharapkan rahmat Rabbnya (dengan yang tidak demikian itu). Katakanlah: Apakah sama antara orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu.’ (QS. az-Zumar: 9). Sementara rasa takut/khas-yah itu pasti mengandung rasa harap, sebab kalau tidak demikian maka hal itu adalah sebuah keputusasaan. Sebagaimana halnya rasa harap pasti menuntut adanya rasa takut, sebab kalau tidak demikian maka yang ada adalah rasa aman -dari makar Allah-. Maka, orang-orang yang senantiasa memiliki rasa takut dan harap kepada Allah itulah sebenarnya ahli ilmu yang dipuji oleh Allah.” (al-Iman, takhrij al-Albani, hal. 20)
Oleh sebab itulah mengapa para salaf menyebut semua orang yang berbuat maksiat -meskipun dia berilmu- sebagai orang yang jahil/bodoh. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya taubat itu akan diterima oleh Allah hanyalah bagi orang-orang yang melakukan keburukan dengan sebab kebodohan, kemudian mereka bertaubat dalam waktu yang dekat.” (QS. an-Nisaa’: 17). Abul ‘Aliyah mengatakan, “Aku bertanya kepada para sahabat Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang makna ayat ini, maka mereka berkata kepadaku, ‘Semua orang yang durhaka/bermaksiat kepada Allah maka dia adalah jahil/bodoh, dan semua orang yang bertaubat sebelum meninggal maka dia telah bertaubat dalam waktu yang dekat’.” Ibnu Taimiyah mengomentari, “Demikianlah penafsiran yang dikatakan oleh segenap ahli tafsir.” Lalu beliau juga mengutip perkataan Mujahid, “Setiap orang yang berbuat maksiat maka dia adalah bodoh ketika melakukan maksiatnya itu.” (lihat al-Iman, takhrij al-Albani, hal. 21)
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, akan tetapi hakekat ilmu itu adalah khas-yah/rasa takut kepada Allah.” (dikutip dari al-Fawa’id, hal. 142). Beliau juga mengatakan, “Cukuplah rasa takut kepada Allah bukti keilmuan, dan cukuplah ketertipuan diri karena kemurahan Allah sebagai bentuk kebodohan.” (dikutip dari al-Iman karya Ibnu Taimiyah, takhrij al-Albani, hal. 22).
Diriwayatkan pula dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah, bahwa beliau berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ilmu yang tertancap di dalam hati dan ilmu yang sekedar berhenti di lisan. Ilmu yang tertancap di hati itulah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu yang hanya berhenti di lisan itu merupakan hujjah/bukti bagi Allah untuk menghukum hamba-hamba-Nya.” (HR. al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikhnya dengan sanad dha’if marfu’, lihat al-Iman, takhrij al-Albani, hal. 22)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dahulu para ulama salaf mengatakan, “Berhati-hatilah dari dua golongan manusia; pemilik hawa nafsu yang telah terjerat oleh hawa nafsunya dan pemilik -kesenangan- dunia yang telah terbutakan hatinya oleh dunianya.”Beliau juga berkata, “Dahulu mereka juga mengatakan, “Waspadalah dari fitnahnya seorang alim yang fajir dan ahli ibadah yang bodoh. Karena sesungguhnya fitnah yang menjerat mereka berdua merupakan bencana yang bisa mencelakakan semua orang yang tertimpa oleh fitnah itu.” (dikutip dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir yang disusun oleh Syaikh Ali ash-Shalihi [5/134], lihat juga al-Fawa’id hal. 99 dan Ighatsat al-Lahfan hal. 668)
Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Barangsiapa yang rusak di antara ahli ibadah kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan orang Nasrani. Dan barangsiapa yang rusak di antara ahli ilmu kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan orang Yahudi.” Ibnul Qayyim mengatakan, “Hal itu dikarenakan orang Nasrani beribadah tanpa ilmu sedangkan orang Yahudi mengetahui kebenaran akan tetapi mereka justru berpaling darinya.” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 36)
Demikian pula, bersikeras memusuhi Sunnah merupakan bentuk kebodohan dan tindak memperturutkan hawa nafsu. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dahulu para salaf menyebut orang-orang yang menganut pemikiran yang bertentangan dengan sunnah serta menyelisihi ajaran yang dibawa oleh Rasul dalam perkara ilmu yang bersifat pemberitaan -dari Allah- maupun yang menyeleweng dalam masalah hukum amaliyah sebagai penganut syubhat dan pengekor hawa nafsu. Hal itu dikarenakan pada hakekatnya pemikiran yang menyelisihi Sunnah adalah kebodohan bukan ilmu, itu adalah hawa nafsu dan bukan agama. Oleh sebab itu orang yang tetap bersikeras mengikutinya digolongkan dalam kelompok orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa memperhatikan petunjuk dari Allah, yang pada akhirnya menjerumuskan kepada kesesatan di dunia dan kebinasaan nanti di akherat…” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 639).
Dengan demikian hakekat orang yang berilmu adalah orang yang setia mengikuti Sunnah. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Maka orang yang paling berilmu dan paling sehat akal, pemikiran, dan paling baik cara penilaiannya adalah orang yang akal, pemikiran, dan cara penilaian/istihsan-nya serta analoginya bersesuaian dengan Sunnah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid, ‘Ibadah yang paling utama adalah pemikiran yang bagus, yaitu mengikuti Sunnah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Dan orang-orang yang diberikan ilmu bisa melihat bahwa apa yang telah diturunkan oleh Rabbmu kepadamu itulah yang benar.’ (QS. Saba’: 6).” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 638-639)
Saudaraku –fillah-, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang disinyalir dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Dari Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).
Para pembesar,… dengarkanlah keluhan simpatisanmu.. Dia telah menumpahkan isi hatinya kepada khalayak, untuk menunjukkan betapa jauhnya penyimpangan yang ada di tengah-tengah barisan kalian –semoga Allah mengembalikan kalian ke jalan salafus shalih-.
“Sekjen PKS Anis Matta mengatakan bahwa mereka ingin keluar dari tema-tema sempit, dalam rangka mengubah citra Islamis, dengan jargon “PKS Untuk Semua”. Ini bukan pertama kalinya diungkap oleh Anis Matta, PKSOnline tanggal 23 Januari 2009 juga mencatat pernyataan semacam ini dari Anis Matta, bahwa era politik aliran sudah berakhir. Lalu diperkuat lagi dengan pernyataan wakil Sekjen Zulkiflimansyah pada tanggal 30 Januari 2009, bahwa syariat Islam itu sudah agenda masa lalu.
Jadi misi-misi dakwah seperti pemurnian akidah tauhid, penegakan nilai syari’ah, adalah hal-hal yang sudah tidak relevan lagi buat PKS dan dianggap sebagai tema yang sempit. Nastaghfirullah, padahal tidaklah Allah Ta’ala mengutus para nabi dan rasul kecuali untuk tugas-tugas ini, tapi ternyata itu ditegaskan sebagai hal yang tidak relevan lagi oleh PKS.” (http://pkswatch.blogspot.com)
Akhirnya, keputusan objektif itupun dia keluarkan, “Kini, alhamdulillah, saya mulai bisa melepaskan PKS dari hati saya, dari pikiran saya, dan saya malah merasa plong. Selamat tinggal PKS. Pembicaraan dan pikiran mengenai PKS sudah sama sekali tidak menarik minat saya lagi, sudah sama seperti ketika membicarakan partai-partai politik yang lain.” (http://pkswatch.blogspot.com)
Masih adakah hati yang terketuk, dan nurani yang tergerak, menyaksikan sandiwara politik yang telah mengorbankan sekian banyak tunas-tunas negeri? Kembalilah ke jalanmu -wahai saudaraku, jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia. ‘Alaikum bi sunnati wa sunnatil khulafa’ir rasyidin al-mahdiyin, tamassaku bihaa, wa ‘adhdhuu ‘alaihaa bin nawajidz! Wa iyyaakum wa muhdatsaatil umuur..Fa inna kulla muhdatsatin bid’ah. Wa kulla bid’atin dholalah! Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Sumber: https://muslim.or.id/3768-mereka-yang-mabuk-kekuasaan.html
Mengadu kepada Allah, bukan kepada Makhluk
Salah satu pelajaran tauhid yang luar biasa adalah mengajarkan kita agar tidak mudah mengeluh atau curhat kepada manusia. Mengeluh dan curhat itu hanya kepada Allah Ta’ala. Sedangkan kepada manusia, itu lebih ke arah musyawarah dan diskusi mengenai masalah kita untuk mencari jalan keluar terbaik. Itu pun tidak semua manusia bisa diajak musyawarah dan diskusi, melainkan manusia yang berilmu serta mau membantu kita.
Salah satu contoh mengadu kepada Allah Ta’ala adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub ‘alaihis salaam. Beliau berkata dan tertulis dalam Al-Qur’an,
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86).
Ibnul Jauzi Rahimahullah menjelaskan bahwa mengeluh kepada makhluk adalah suatu hal yang dibenci. Beliau rahimahullah berkata,
وقد كان السَّلَفُ يكرهون الشَّكوَى إِلَى الخَلقِ. وَالشَّكوَى وَإِن كان فيها رَاحَةٌ إِلا أَنَّـهَا تَدُلُّ عَلَىٰ ضَـعـفٍ وَذُلٍّ. وَالصَّبرُ عنها دَلِيلٌ عَلَى قُـوَّةٍ وَعِزٍّ.
“Para salaf membenci mengeluh kepada makhluk, meski ketika mengeluh tersebut mendatangkan ketenangan. Hal tersebut menunjukkan lemahnya iman dan kerendahan. Bersabar atas musibah menunjukkan kuatnya iman dan kemuliaan seseorang” (Ats-Tsabaat ‘Inda Al-Mamat, hal. 55).
Mengapa dibenci? Karena mengeluh kepada makhluk seolah-olah menunjukkan seorang hamba “mengeluhkan perbuatan (takdir) Rabb-nya kepada sesama makhluk”. Jelas semua yang terjadi adalah perbuatan dan takdir Alah Ta’ala. Kita harus rida dengan semua takdir Allah Ta’ala.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
“Barangsiapa yang ridha (menerimanya), maka Allah akan meridhainya. Dan barangsiapa yang murka (menerimanya), maka Allah murka kepadanya” (HR. Tirmidzi).
Hal ini pun dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ada masalah berat, beliau mengadukan kepada Allah Ta’ala dengan mendirikan shalat.
Sahabat Hudzaifah Radhiallahu ‘anhu berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى
“Apabila ada masalah berat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan salat” (HR. Ahmad, lihat Shahih Sunan Abi Dawud).
Orang yang segera kembali kepada Allah ketika ada masalah berat, maka hatinya akan kembali tenang. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. ar-Rad: 27-28).
Tidak hanya masalah berat saja baru kita mengadu kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, apa pun masalahnya kita meminta kepada Allah Ta’ala dan memohon kepada Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan kesempurnaan tauhid seorang hamba.
Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah menjelaskan hendaknya kita meminta meskipun masalah remeh sekalipun seperti tali sandal yang putus. Beliau rahimahullah berkata,
” وفي الحديث دليل على أن الله يحب أن يسأله العباد جميع مصالح دينهم ودنياهم من الطعام والشراب والكسوة وغير ذلك ، كما يسألونه الهداية والمغفرة ، وفي الحديث : ( ليسأل أحدكم ربه حاجته كلها حتى شسع نعله إذا انقطع ) ، وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته ، وفي الإسرائيليات : أن موسى عليه الصلاة والسلام قال : يا رب ! إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا فأستحي أن أسألك . قال : سلني حتى ملح عجينك وعلف حمارك .
“Pada hadits terdapat dalil bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang meminta kepada-Nya semua maslahat agama dan dunia, baik berupa makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain sebagaimana mereka meminta hidayah dan ampunan. Dalam hadits disebutkan, ‘hendaklah setiap kalian meminta kepada Rabb-nya semua kebutuhan, sampai-sampai ketika tali sandalnya lepas’” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 2: 48).
Apabila ada masalah kita tidak mengadu kepada makhluk, tetapi kita diskusikan dan cari jalan keluarnya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَ شَاوِرْهُمْ في الأَمْرِ
“Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” (QS. Al-Imran: 159).
Tentu tidak semua manusia bisa kita ajak musyawarah dan diskusi, tetapi orang yang berilmu dan berpengalaman dalam hal ini.
Allah Ta’ala berfirman,
فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Tanyalah kepada ahlinya (orang yang berilmu) jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43).
Demikian, semoga bermanfaat.
@ Lombok, Pulau seribu Masjid
Penyusun: Raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/60965-mengadu-kepada-allah-bukan-kepada-makhluk.html?fbclid=IwAR2M7EZp7O9JDvb1dkUX_4HSyi6foyTj3qTshio03kDC1o2DeqSAuXG4WuQ
Copyright © 2024 muslim.or.id
Money Politik dalam Pemilu
“Pak, ini uang untuk bapak, uang makan dan bensin yah, nanti habis kampanye ini saat Pemilu 9 April besok tolong coblos partai saya.
Matur nuwun …”
Ternyata, yang nyogok dan yang menerima sogokan kena laknat Rasul (artinya: didoakan jauh dari rahmat Allah). Namun itulah yang nyata terjadi pada masa kampanye saat ini.
Money Politik atau Uang Sogok
Bagaimana hukum uang suap (yang biasa diistilahkan dengan money politik) dalam Islam? Apakah halal ataukah haram?
Berikut kami bawakan fatwa Al Lajnah Ad Da’imah lil Buhuts wal Ifta’ (Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi). Semoga bermanfaat.
Fatwa no. 7245
الفتوى رقم ( 7245 )
س : ما حكم الإسلام إذا قام المرشح في الانتخابات النيابية بإعطاء الناخب مالا مقابل أن يدلي له بصوته في الانتخابات ، وما عقوبة هذا ؟ أفيدونا جزاكم الله خيرا وجعلكم ذخرا للإسلام ؟
ج : إعطاء الناخب مالا من المرشح من أجل أن يصوت باسمه نوع من الرشوة ، وهي محرمة .
وأما النظر في العقوبة فمرجعه المحاكم الشرعية .
وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … نائب الرئيس … الرئيس
عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز
Pertanyaan:
Apa hukum islam apabila calon anggota parlemen (dewan perwakilan rakyat) memberikan kepada pemilih sejumlah uang dengan tujuan agar dia mencoblos gambar dirinya pada pemilu nanti. Apa sanksi perbuatan ini? Berilah jawaban kepada kami. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan pada kalian dan menjadikan kalian simpanan bernilai bagi Islam.
Jawab:
Pemberian harta (hadiah) dari calon anggota parlemen kepada calon pemilih agar dia mencoblos gambarnya dalam pemilihan nanti termasuk riswah (uang suap) dan ini termasuk uang yang haram. Adapun mengenai sanksi dapat merujuk pada pengadilan. [baca: hukuman orang yang menyuap adalah ta’zir, -ed]
Wa billahi taufik. Semoga shalawat dan salam dari Allah tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’
Anggota: ‘Abdullah bin Qu’ud, ‘Abdullah bin Ghodyan
Wakil Ketua: ‘Abdur Rozaq ‘Afifi
Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz
Demikian fatwa ulama mengenai money politik. Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin, khususnya para pemimpinnya. Amin, Ya Mujibbas Sa’ilin
—
Bahaya Sogok
Ingatlah bahwa uang sogok, suap dan risywah adalah uang yang haram. Uang tersebut diharamkan bagi yang memberi maupun yang menerima, bahkan termasuk pula yang menjadi perantara.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap”. (HR. Abu Daud no. 3580, Tirmidzi no. 1337, Ibnu Majah no. 2313. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih). Dalam riwayat yang lain Nabi melaknat al Ra-isy (الرَّائِشَ) yaitu penghubung antara penyuap dan yang disuap (HR. Ahmad 5/279). Meski hadits ini lemah namun maknanya benar. Orang yang menjadi penghubung antara penyuap dan yang disuap berarti membantu orang untuk berbuat dosa dan ini adalah suatu yang terlarang. Hadits di atas menunjukkan bahwa suap termasuk dosa besar, karena ancamannya adalah laknat. Yaitu terjauhkan dari rahmat Allah. Bahkan sogok itu haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan ulama).
Uang sogok atau suap atau disebut risywah dikatakan oleh Ibnul ‘Arobi,
كُلّ مَال دُفِعَ لِيَبْتَاعَ بِهِ مِنْ ذِي جَاهُ عَوْنًا عَلَى مَا لَا يَحِلُّ
“Segala sesuatu yang diserahkan untuk membayar orang yang punya kedudukan supaya menolong dalam hal yang tidak halal.”
Dalam hadits disebutkan istilah rosyi, yang dimaksudkan adalah orang yang menyerahkan uang sogok. Sedangkan murtasyi adalah yang menerimanya. Adapun perantaranya disebut dengan ro-is.
Sebagaimana disebutkan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, risywah adalah sesuatu yang diserahkan untuk menggagalkan yang benar atau untuk melegalkan yang batil. Adapun jika yang diserahkan bertujuan untuk mengantarkan pada kebenaran atau untuk menolak tindakan zalim, maka tidaklah masalah.
Bagaimana hukum mengambil uang sogok?
Dalam fatwa Al Muntaqo, -guru kami- Syaikh Sholeh Al Fauzan mengenai hukum menerima uang sogok, beliau berkata, “Mengambil uang sogok termasuk penghasilan yang haram, keharaman yang paling keras dan penghasilan yang paling jelek.”
Uang Sogok Karena Gila Kekuasaan
Mereka yang memberi sogok seperti ini hakekatnya adalah orang-orang yang tamak dan gila pada kekuasaan. Saat sudah memegang tampuk kekuasaan, mereka cuma ingin harta sogoknya kembali, sehingga korupsi dan pencurian uang rakyat yang terjadi. Orang yang tamak pada kekuasaan ini dicela oleh Rasul dan akan menyesal pada hari kiamat.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإمَارَةِ ، وَسَتَكونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَة
“Nanti engkau akan begitu tamak pada kekuasaan. Namun kelak di hari kiamat, engkau akan benar-benar menyesal” (HR. Bukhari no. 7148).
Demikian pula perhatikanlah nasehat Rasul pada Abu Dzarr. Dari Abu Dzarr, ia berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberiku kekuasaan?” Lalu beliau memegang pundakku dengan tangannya, kemudian bersabda,
يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا
“Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah. Dan kekuasaan itu adalah amanah, dan kekuasaan tersebut pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.” (HR. Muslim no. 1825).
Ibnu Hajar berkata, “Siapa yang mencari kekuasaan dengan begitu tamaknya, maka ia tidak ditolong oleh Allah.” (Fathul Bari, 13: 124)
Berlaku jujurlah dan bertakwalah pada Allah. Hanya Allah yang memberi taufik.
—
@ Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, 11 Jumadal Ula 1435 H
Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber https://rumaysho.com/257-money-politik-dan-pemilu.html
Tak Perlu Sedih dengan Status Ibu Rumah Tangga
Tak perlu sedih wahai saudariku dengan status Ibu Rumah Tangga. Tak perlu sedih jika Anda tidak bisa bekerja di kantoran. Bahkan pekerjaan termulia bagi wanita adalah di rumahnya.
Setiap pagi, 3 anak diurus oleh wanita ini. Dia hanya Ibu Rumah Tangga (IRT) yang memutuskan mengabdi di rumah untuk suami dan anak-anak. Padahal dia memiliki ijazah dan bisa memanfaatkannya untuk bekerja. Dia tidak merasa malu dengan teman-teman yang sebaya dengannya yang tiap hari berada di pabrik atau di kantoran. Dia pernah berujar, “Seandainya saya memutuskan bekerja di kantoran, tentu anak-anak tidak terurus. Apalagi 3 anak seperti saat ini.” Dia pernah berujar pula bahwa wanita yang bekerja di kantoran terus menelantarkan anaknya dan diserahkan pada orang tua wanita ini atau pada tempat penitipan anak.
Di desa yang sama, ada seorang wanita karir. Yang pekerjaan suami dengannya jauh berbeda. Suami hanya menjual kue di pasar. Sedangkan si istri bekerja di kantoran. Bila kedua gajinya dibandingkan amat jauh. Karena kesibukan si istri, suami akhirnya yang mengurus rumah tangga, yaitu memasak dan mencuci, bahkan sibuk pula mengurus anak-anak.
Di tempat lain juga dapat ditemukan kasus seperti di atas, di mana suami sampai-sampai direndahkan oleh istri karena gaji suami yang lebih rendah.
Ukhti … Perlu dipahami bahwa tempat terbaik bagi wanita adalah di rumah. Wanita karir tentu tidak punya prinsip demikian. Mereka menganggap bahwa tempat mereka adalah di kantoran, berangkat pagi, pulang sore atau bahkan malam. Tak tahu masihkah ada waktu untuk melayani suami, atau memperhatikan anak-anak. Padahal wanita yang betah di rumah dipuji oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).
Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas bahwa janganlah wanita keluar rumah kecuali ada hajat seperti ingin menunaikan shalat di masjid selama memenuhi syarat-syaratnya. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 182).
Alasan wanita lebih baik di rumah, menjadi IRT (Ibu Rumah Tangga) karena wanita itu aurat. Disebutkan dalam hadits dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا
“Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya”. (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1685 dan Tirmidzi no. 1173. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Wanita yang betah di rumah inilah yang lebih menjaga diri. Wanita karir begitu bebas bergaul dengan lawan jenis di kantor, tanpa kenal batas. Padahal Allah Ta’ala memuji wanita yang menjaga dirinya,
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
“Sebab itu maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada” (QS. An Nisa’: 34). Ath Thobari berkata dalam kitab tafsirnya (6: 692), “Wanita tersebut menjaga dirinya ketika tidak ada suaminya, juga ia menjaga kemaluan dan harta suami. Di samping itu, ia wajib menjaga hak Allah dan hak selain itu.”
Ukhti … Wanita yang terbaik adalah yang taat pada suami, menunaikan kewajiban sebagai istri dan menyenangkan suami. Adapun wanita karir tidak bisa sepenuhnya memenuhi tugasnya sebagai istri dan ibu bagi anak-anak. Padahal telah dipuji wanita yang punya sifat baik seperti yang kami sebutkan. Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Ukhti … Wanita yang terbaik adalah yang bertanggungjawab untuk mengurus rumah dan anak-anaknya. Sedangkan wanita karir terlalu sibuk pada pekerjaan dan karir, sehingga pendidikan terhadap anak dilalaikan. Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، فَالإِمَامُ رَاعٍ ، وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالرَّجُلُ فِى أَهْلِهِ رَاعٍ ، وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالْمَرْأَةُ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهْىَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinan pada rakyatnya. Kepala keluarga adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinannya tersebut. Seorang wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai hal itu.” (HR. Bukhari no. 2409)
Ukhti … Wanita yang terbaik adalah yang pandai menerima pemberian suami, begitu pula ridha dengan yang sedikit. Namun ini sulit ditemukan pada wanita karir. Bila gajinya lebih tinggi dari suami, ia akan sulit menghargai pemberian suami yang relatif kecil. Padahal sulit berterima kasih seperti itu yang membuat banyak wanita disiksa di neraka. Na’udzu billah.
Dalam hadits muttafaqun ‘alaih disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).
Yang penulis pernah baca, ada seorang wanita karir yang sampai memutuskan berhenti bekerja dengan memberikan alasan:
Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya.
Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.
Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya dan lebih serius mengurus anak-anak.
Jangan bersedih jika Anda memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT). Karena Andalah wanita pilihan, mulia dan terbaik.
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
—
Ditulis di pagi hari penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, 3 Rajab 1435 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber: https://muslim.or.id/21300-tak-perlu-sedih-dengan-status-ibu-rumah-tangga.html
Copyright © 2024 muslim.or.id
Sakit Hati Online #shorts
Fatwa Ulama: Apakah Suami Punya Bagian Dari Gaji Istri?
Fatwa Syaikh Khalid bin Abdillah Al Mushlih
Soal:
Istri saya seorang pegawai. Apakah saya memiliki bagian dari penghasilannya?
Jawab:
Pendapatan istri yang didapatkan dari pekerjaan yang ia lakukan itu adalah milik istri dan tidak ada hak bagi suaminya sedikit pun. Kecuali jika istri berbaik hati (untuk memberikan bagian dari hartanya) kepada suaminya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
“Janganlah memakan harta orang lain di antara kalian secara batil” (QS. An Nisa: 83)
Juga sebagaimana hadits dalam Shahih Muslim (1554), dari sahabat Jabir secara marfu’:
بم يأخذ أحدكم مال أخيه من غير حق
“Mengapa salah seorang diantara kalian mengambil harta saudaranya tanpa hak?”
Dalil-dalil mengenai hal ini sangatlah banyak.
Adapun jika kalian berdua telah memiliki kesepakatan bahwa anda akan membolehkan istri anda untuk bekerja dan anda menerima bagian tertentu, juga pihak wali dari istri ketika akad nikah tidak mempersyaratkan harus anda yang bekerja, maka hukumnya boleh dan tidak tercela mengambil bagian dari harta istri.
Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/38797
* Syaikh Kholid Mushlih adalah di antara murid senior Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin sekaligus beliau menjadi menantu Syaikh Ibnu Utsaimin. Saat ini beliau menjadi pengajar di Universitas di Qosim, KSA.
—
Penerjemah: Yulian Purnama
Sumber: https://muslim.or.id/10976-fatwa-ulama-apakah-suami-punya-bagian-dari-gaji-istri.html
Copyright © 2024 muslim.or.id







