Besarnya Perhatian Islam terhadap Perkara Silaturahmi

Dalam Islam, silaturahmi memiliki kedudukan yang agung dan bahkan lebih didahulukan dari amal-amal kebaikan lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ

“Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin.” (QS. Al-Ahzab: 6)

Ayat ini merupakan ayat yang menghapus hukum warisan pada awal Islam yang bersandar pada hijrah dan hubungan pertemanan. Di mana di dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa hubungan kerabat dan saudara sedarah lebih diutamakan dari hubungan-hubungan selainnya.

Di ayat yang lain, Allah Ta’ala menjadikan wasiat menyambung silaturahmi bersandingan dengan wasiat untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfiman,

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa’: 1)

Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menyambung tali silaturahmi setelah memerintahkan kita untuk bertakwa. Hal ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa menyambung silaturahmi merupakan buah dan hasil serta keberkahan takwa kita kepada Allah Ta’ala, menunjukkan juga jujurnya keimanan kita kepada Allah Ta’ala.

Mereka yang senantiasa menyambung tali silaturahmi dan menjaga hubungan kekerabatan dengan sanak keluarganya adalah orang yang paling sempurna imannya serta paling sempurna ketakwaannya. Sebagaimana hal ini disebutkan di dalam hadis yang sahih,

ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari no. 6138 dan Muslim no. 47)

Tidak mengherankan juga jika Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi muslim yang paling perhatian terhadap kerabat dekat dan keluarganya, karena beliaulah hamba Allah yang paling bertakwa. Pada permulaan turunnya wahyu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengemukakan kepada Khadijah akan rasa khawatir terhadap dirinya sendiri atas apa yang terjadi kepada beliau dari turunnya wahyu yang sangat berat ini. Maka Khadijah radhiyallahu ‘anha mengatakan kepada beliau,

كَلَّا، أبْشِرْ، فَوَاللَّهِ لا يُخْزِيكَ اللَّهُ أبَدًا؛ إنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وتَصْدُقُ الحَدِيثَ، وتَحْمِلُ الكَلَّ، وتَقْرِي الضَّيْفَ، وتُعِينُ علَى نَوَائِبِ الحَقِّ

“Tidak. Bergembiralah engkau. Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau benar-benar seorang yang senantiasa menyambung silaturahmi, seorang yang jujur kata-katanya, menolong yang lemah, memberi kepada orang yang tak punya, engkau juga memuliakan tamu, dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari no. 6982)

Perkara menyambung tali silaturahmi juga merupakan salah satu perkara yang diajarkan dan didakwahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pertama kali. Dikisahkan bahwa ketika Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu sedang bersama Kaisar Heraklius, Kaisar Heraklius bertanya kepadanya,

“Apa yang diperintahkan olehnya kepada kalian (maksudnya adalah Nabi Muhammad).”

Maka Abu Sufyan menjawab,

اعْبُدُوا اللَّهَ وحْدَهُ ولَا تُشْرِكُوا به شيئًا، واتْرُكُوا ما يقولُ آبَاؤُكُمْ، ويَأْمُرُنَا بالصَّلَاةِ والزَّكَاةِ والصِّدْقِ والعَفَافِ والصِّلَةِ

“(Dia menyuruh kami), ‘Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apa pun, dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian. (Dia juga memerintahkan kami untuk) menegakkan salat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan, dan menyambung silaturahmi.’” (HR. Bukhari no. 7)

Ancaman bagi seseorang yang memutus hubungan silaturahmi

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memotivasi umatnya untuk menyambung tali silaturahmi serta mengancam dan mengingatkan mereka dari bahaya memutusnya. Nabi ingatkan mereka bahwa akibat buruk dari memutus silaturahmi begitu cepatnya sampai kepada pelakunya. Beliau bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ مِنَ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada satu dosa yang lebih pantas untuk disegerakan hukumannya bagi pelakunya di dunia bersamaan dengan hukuman yang Allah siapkan baginya di akhirat daripada al-baghyu (kezaliman dan berbuat buruk kepada orang lain) dan memutuskan tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, no. 29; Tirmidzi no. 2511; Abu Dawud no. 4902)

Di hadis yang lain disebutkan,

إِنَّ الرَّحِمَ شَجْنَةٌ مِنْ الرَّحْمَنِ فَقَالَ اللَّهُ مَنْ وَصَلَكِ وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَكِ قَطَعْتُهُ

“Sesungguhnya, penamaan rahim itu diambil dari (nama Allah) Ar-Rahman, lalu Allah berfirman, ‘Barangsiapa menyambungmu, maka Akupun menyambungnya. Dan barangsiapa memutuskanmu, maka Aku pun akan memutuskannya.’” (HR. Bukhari no. 5988)

Dalam riwayat Muslim, dikisahkan dengan lebih lengkap,

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتْ الرَّحِمُ فَقَالَتْ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ مِنْ الْقَطِيعَةِ قَالَ نَعَمْ أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى قَالَ فَذَاكِ لَكِ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ { فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمْ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا 

“Sesungguhnya Allah Ta’alalah yang menciptakan seluruh makhluk. Setelah Allah ‘Azza Wajalla menciptakan semua makhluk tersebut, maka rahim pun berdiri sambil berkata, ‘Inikah tempat bagi yang berlindung dari terputusnya silaturahmi (Menyambung silaturahim)?’ Allah Ta’ala menjawab, ‘Benar. Tidakkah kamu rela bahwasanya Aku akan menyambung orang yang menyambungmu dan memutuskan yang memutuskanmu?’ Rahim menjawab, ‘Tentu.’ Allah berfirman, ‘ltulah yang kamu miliki (apa yang aku sebutkan tadi itulah yang akan aku perbuat).’ Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Jika kamu mau, maka bacalah ayat berikut ini, ‘Maka, apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan berbuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan ditulikan telinga mereka serta dibutakan penglihatan mereka. Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?’ (QS. Muhammad 22-24).” (HR. Muslim no. 2554)

Allah Ta’ala memberikan jaminan bagi siapa saja yang menjaga hubungan silaturahmi dengan kerabat dekatnya, menjamin rezeki mereka dan keberkahan hidup mereka. Allah Ta’ala juga mengancam siapa pun yang memutus hubungan silaturahmi dengan saudara dan kerabatnya, bahwa Allah juga akan memutus hubungannya dengan orang tersebut.

Sungguh, hadis dan ayat tersebut menjelaskan kepada kita betapa besarnya perhatian Allah dan Nabi-Nya terhadap perkara menyambung silaturahmi ini, baik itu dengan saling berkunjung, memberikan hadiah, ataupun memenuhi kebutuhan kerabat dan saudara kita yang membutuhkan.

Lebaran, momentum terbaik untuk bersilaturahmi

Tidak dapat dipungkiri bahwa kebiasaan dan adat lebaran di negeri kita merupakan salah satu kesempatan besar untuk menyambung silaturahmi dengan keluarga kita, orang tua kita, dan sanak keluarga kita. Adanya kesempatan liburan secara serempak serta kebiasaan untuk mudik ke kampung halaman, semuanya itu memudahkan kita untuk bisa menyambung silaturahmi.

Marilah kita manfaatkan momentum lebaran dan bulan Syawal ini untuk meraih keutamaan yang besar dari menyambung silaturahmi. Sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الْأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِي الْمَالِ مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ

“Belajarlah tentang nasab kalian yang dapat membantu untuk silaturahmi karena silaturahmi itu dapat membawa kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta, serta dapat memperpanjang umur.” (HR. Ahmad no. 8855 dan Tirmidzi no. 1979)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya ia menyambung silaturahminya (dengan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5985 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 7571)

Belum lagi, menyambung silaturahmi adalah salah satu sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Sahabat Abu Ayub Al-Ansari radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

“Seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke surga.’ Orang-orang pun berkata, ‘Ada apa dengan orang ini? Ada apa dengan orang ini?’ Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أرَبٌ ما له، تَعْبُدُ اللَّهَ ولَا تُشْرِكُ به شيئًا، وتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وتُؤْتي الزَّكَاةَ، وتَصِلُ الرَّحِمَ.

‘Biarkanlah urusan orang ini.’ (Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan sabdanya), ‘Kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya, menegakkan salat, dan membayar zakat, serta menjalin tali silaturahmi.’” (HR. Bukhari no. 1396)

Wallahu A’lam bisshawab.

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Sumber: https://muslim.or.id/93171-besarnya-perhatian-islam-terhadap-perkara-silaturahmi.html

Merutinkan Shalat Sunnah Rawatib

Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat lima waktu. Shalat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum shalat wajib disebut shalat sunnah qobliyah. Sedangkan sesudah shalat wajib disebut shalat sunnah ba’diyah.

Di antara tujuan disyari’atkannya shalat sunnah qobliyah adalah agar jiwa memiliki persiapan sebelum melaksanakan shalat wajib. Perlu dipersiapkan seperti ini karena sebelumnya jiwa telah disibukkan dengan berbagai urusan dunia. Agar jiwa tidak lalai dan siap, maka ada shalat sunnah qobliyah lebih dulu.

Sedangkan shalat sunnah ba’diyah dilaksanakan untuk menutup beberapa kekurangan dalam shalat wajib yang baru dilakukan. Karena pasti ada kekurangan di sana-sini ketika melakukannya.

Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib

Pertama: Shalat adalah sebaik-baik amalan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ

“Ketahuilah, sebaik-baik amalan bagi kalian adalah shalat.”[1]

Kedua: Akan meninggikan derajat di surga karena banyaknya shalat tathowwu’ (shalat sunnah) yang dilakukan

Tsauban –bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah ditanyakan mengenai amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga atau amalan yang paling dicintai oleh Allah. Kemudian Tsauban mengatakan bahwa beliau pernah menanyakan hal tersebut pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau menjawab,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Hendaklah engkau memperbanyak sujud kepada Allah karena  tidaklah engkau bersujud pada Allah dengan sekali sujud melainkan Allah akan meninggikan satu derajatmu dan menghapuskan satu kesalahanmu.”[2] Ini baru sekali sujud. Lantas bagaimanakah dengan banyak sujud atau banyak shalat yang dilakukan?!

Ketiga: Menutup kekurangan dalam shalat wajib

Seseorang dalam shalat lima waktunya seringkali mendapatkan kekurangan di sana-sini sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلاَّ عُشْرُ صَلاَتِهِ تُسْعُهَا ثُمُنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

“Sesungguhnya seseorang ketika selesai dari shalatnya hanya tercatat baginya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, separuh dari shalatnya.”[3]

Untuk menutup kekurangan ini, disyari’atkanlah shalat sunnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali akan diperhitungkan dari manusia pada hari kiamat dari amalan-amalan mereka adalah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan pada malaikatnya dan Dia lebih Mengetahui segala sesuatu, “Lihatlah kalian pada shalat hamba-Ku, apakah sempurna ataukah memiliki kekurangan? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun, jika shalatnya terdapat beberapa kekurangan, maka lihatlah kalian apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah? Jika ia memiliki shalat sunnah, maka sempurnakanlah pahala bagi hamba-Ku dikarenakan shalat sunnah yang ia lakukan. Kemudian amalan-amalan lainnya hampir sama seperti itu.”[4]

Keempat: Rutin mengerjakan shalat rawatib 12 raka’at dalam sehari akan dibangunkan rumah di surga.

Dari Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.”

Coba kita lihat, bagaimana keadaan para periwayat hadits ini ketika mendengar hadits tersebut. Di antara periwayat hadits di atas adalah An Nu’man bin Salim, ‘Amr bin Aws, ‘Ambasah bin Abi Sufyan dan Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang mendengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung.

Ummu Habibah mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ”

‘Ambasah mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah.”

‘Amr bin Aws mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari ‘Ambasah.”

An Nu’man bin Salim mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari ‘Amr bin Aws.”[5]

Yang dimaksudkan dengan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari dijelaskan dalam riwayat At Tirmidzi, dari ‘Aisyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum  zhuhur, dua raka’at sesudah zhuhur, dua raka’at sesudah maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shubuh.”[6]

Hadits di atas menunjukkan dianjurkannya merutinkan shalat sunnah rawatib sebanyak 12 raka’at setiap harinya.[7]

Dua belas raka’at rawatib yang dianjurkan untuk dijaga adalah: [1] empat raka’at[8] sebelum Zhuhur, [2] dua raka’at sesudah Zhuhur, [3] dua raka’at sesudah Maghrib, [4] dua raka’at sesudah ‘Isya’, [5] dua raka’at sebelum Shubuh.

Shalat Qobliyah Shubuh Jangan Sampai Ditinggalkan

Shalat sunnah qobliyah shubuh atau shalat sunnah fajr memiliki keutamaan sangat luar biasa. Di antaranya disebutkan dalam hadits ‘Aisyah,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua raka’at sunnah fajar (qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.”[9]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat melakukan shalat ini, sampai-sampai ketika safar pun beliau terus merutinkannya.

‘Aisyah mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki perhatian yang luar biasa untuk shalat sunnah selain shalat sunnah fajar.”[10]

Ibnul Qayyim mengatakan, “Termasuk di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar adalah mengqoshor shalat fardhu dan beliau tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib qobliyah dan ba’diyah. Yang biasa beliau tetap lakukan adalah mengerjakan shalat sunnah witir dan shalat sunnah qabliyah shubuh. Beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat ini baik ketika bermukim dan ketika bersafar.”[11]

Tiga Model untuk Shalat Rawatib Zhuhur

Dalam melakukan shalat sunnah rawatib zhuhur ada tiga model yang bisa dilakukan.

Pertama: Empat raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at sesudah Zhuhur sebagaimana telah dikemukakan dalam hadits ‘Aisyah di atas.

Kedua: Empat raka’at sebelum Zhuhur dan empat raka’at sesudah zhuhur. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits Ummu Habibah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ

“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah empat raka’at sebelum Zhuhur dan empat raka’at sesudah Zhuhur, maka akan diharamkan baginya neraka.”[12]

Ketiga: Dua raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at sesudah Zhuhur. Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan,

فِظْتُ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ

“Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh raka’at (sunnah rawatib), yaitu dua raka’at sebelum Zhuhur, dua raka’at sesudah Zhuhur, dua raka’at sesudah Maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum Shubuh.”[13]

Ringkasan Jumlah Raka’at Shalat Rawatib

Shalat rawatib ada yang muakkad (ditekankan untuk dikerjakan) dan ghoiru muakkad (tidak begitu ditekankan untuk dikerjakan). Mengenai jumlah raka’at shalat sunnah rawatib tersebut, kami lampirkan pada tabel berikut.[14]

ShalatShalat Rawatib MuakkadShalat Rawatib Ghoiru Muakkad
QobliyahBa’diyah
Shubuh2 raka’at––
Zhuhur2 atau 4 raka’at2 raka’at2 raka’at ba’diyah
Ashar––4 raka’at qobliyah
Maghrib–2 raka’at2 raka’at qobliyah
‘Isya–2 raka’at2 raka’at qobliyah

Sumber: Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik, 1/381 (Hasil kesimpulan dari berbagai macam hadits yang  membicarakan mengenai shalat sunnah rawatib).

Lebih Bagus Menjalankan Shalat Sunnah di Rumah

Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menjalankan setiap shalat sunnah di rumah, kecuali jika memang ada hajat atau faktor lain yang mendorong untuk melakukannya di masjid.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ

“Sesungguhnya seutama-utama shalat adalah shalat seseorang di rumahnya selain shalat wajib.”[15]

Di  antara keutamaan lainnya mengerjakan shalat di rumah, apalagi ketika baru datang dari masjid atau akan pergi ke masjid terdapat dalam hadits Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا خرجت من منزلك فصل ركعتين يمنعانك من مخرج السوء وإذا دخلت إلى منزلك فصل ركعتين يمنعانك من مدخل السوء

“Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang ada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.”[16]

Kontinu dalam Amalan itu Lebih Baik

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. [17]

An Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Ketahuilah bahwa amalan yang sedikit namun konsekuen dilakukan, itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma sesekali saja dilakukan. Ingatlah bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan akan melanggengkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri pada Allah, niat dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh Sang Kholiq Subhanahu wa Ta’ala. Amalan sedikit namun konsekuen dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang sedikit namun sesekali saja dilakukan.”[18]

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, ”Amalan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah amalan yang konsekuen dilakukan (kontinu). Beliau pun melarang memutuskan amalan dan meninggalkannya begitu saja. Sebagaimana beliau pernah melarang melakukan hal ini pada sahabat ’Abdullah bin ’Umar.”[19]

Demikian sedikit penjelasan dari kami mengenai shalat sunnah rawatib. Semoga kita termasuk hamba Allah yang bisa merutinkannya. Hanya Allah yang memberi taufik.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Pangukan, Sleman, 17 Dzulhijah 1430 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel https://rumaysho.com


[1] HR. Ibnu Majah no. 277, Ad Darimi no. 655 dan Ahmad (5/282), dari Tsauban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[2] HR. Muslim no. 488.

[3] HR. Abu Daud no. 796 dan Ahmad (4/321), dari ‘Ammar bin Yasir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.

[4] HR. Abu Daud no. 864, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[5] HR. Muslim no. 728.

[6] HR. Tirmidz no. 414, dari ‘Aisyah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[7] Lihat Bughyatul Mutathowwi’fii Sholati At Tathowwu’.

[8] Dikerjakan dua raka’at salam dan dua raka’at salam.

[9] HR. Muslim no. 725.

[10] HR. Bukhari no. 1169.

[11] Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/456, Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat, 1407 H. [Tahqiq: Syu’aib Al Arnauth, ‘Abdul Qadir Al Arnauth]

[12] HR.Abu Daud no. 1269, An Nasa-i no. 1816, dan At Tirmidzi no. 428. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[13] HR. Bukhari no. 1180.

[14] Shahih Fiqh Sunnah, 1/381.

[15] HR. Bukhari no. 731 dan Muslim no. 781.

[16] HR. Al Bazzar. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 1323.

[17] HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya.

[18] Syarh Muslim, An Nawawi, 6/71, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, tahun 1392 H.

[19] Fathul Baari lii Ibni Rajab, 1/84, Asy Syamilah



Sumber https://rumaysho.com/698-merutinkan-shalat-sunnah-rawatib.html

Memaksimalkan Dua Kemampuan Menuju Husnulkhatimah

Saudaraku, kita berada pada bulan-bulan di mana belenggu setan kembali dilepaskan. Dan nafsu yang selama ini dapat diredam selama Ramadan, kini potensi untuk kembali pada kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik sebelum Ramadan bisa saja terulang.

Merenungi hal ini, sudah semestinya kita benar-benar menyadari bahwa sesungguhnya kita dihadapkan pada 2 (dua) pilihan jalan dalam hidup, yaitu: kepada husnulkhatimah atau su’ulkhatimah. Akhir hidup yang husnulkhatimah tentunya akan digapai dengan menjadi hamba Allah yang bertakwa. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam,

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ، قاَلُوُا: كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ

“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hambanya, maka Allah memanfaatkannya.” Para sahabat bertanya, ”Bagaimana Allah akan memanfaatkannya?” Rasulullah menjawab, ”Allah akan memberinya taufik untuk beramal saleh sebelum dia meninggal.” (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, dan disahihkan oleh Al-Hakim dalam Mustadrak.)

Sedangkan akhir hidup su’ulkhatimah akan menimpa seseorang manakala ia meninggalkan ketakwaan dan terjerumus pada kubangan maksiat tanpa tobat sebelum ajal mendekat. Wal’iyadzubillah.

Kita adalah makhluk yang sangat bergantung pada kasih sayang Allah Ta’ala. Dalam perkara ibadah saja, meski memiliki fisik yang prima, kadangkala kita (khususnya para pemuda) merasa berat untuk bangun salat malam atau untuk ke masjid melaksanakan salat 5 waktu. Bahkan, sudah di masjid pun, setelah melaksanakan salat 5 waktu, untuk salat rawatib pun terasa berat. Wallahulmusta’an.

Sebaliknya, banyak pula para sepuh, telah berumur lanjut, tapi keistikamahannya dalam menjalankan ibadah-ibadah nawafil sangat tinggi. Mereka sangat patut menjadi contoh. Padahal, fisiknya terlihat lemah, berjalan melangkahkan kaki saja seperti sangat kesulitan. Namun, panggilan ketaatan dan semangat menuju keridaan Allah Ta’ala telah memudahkan dirinya dan pada akhirnya ketika malakulmaut menjemputnya, ia pun wafat dalam husnulkhatimah. Sungguh, sebuah akhir perjalanan hidup yang sempurna.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607.)

Jika kita renungkan, sebenarnya Allah Ta’ala telah menganugerahkan banyak karunia yang sangat berharga bagi kita. Di antaranya: fisik, akal, maupun iman. Maka, dengan anugerah tersebut, kiranya kita mampu menjadi hamba Allah yang senantiasa memikirkan bagaimana agar memperoleh husnulkhatimah ketika ajal menjemput dan menggapai surga Allah Ta’ala. Dengannya pula, kita diwajibkan untuk mengenali batasan-batasan syariat di mana sebab melanggarnya kita dapat terjerumus pada akhir hidup yang su’ulkhatimah. Wal’iyadzu billah.

Saudaraku, anugerah yang Allah berikan tersebut menjadi dasar bagi kita untuk mengetahui dan mengenali mana yang hak dan yang batil. Dengan anugerah tersebut pula, kita memiliki setidaknya 2 (dua) kemampuan yang bermanfaat khususnya bagi diri kita sendiri untuk menggapai husnulkhatimah di akhir kehidupan kita, yaitu: kemampuan mengenali dosa dan kemampuan berfatwa.

Kemampuan mengenali dosa

Sejatinya, fitrah seorang manusia adalah kebaikan. Bahkan, sejak lahir, pada dasarnya, semua manusia adalah muslim. Hanya saja, lingkungannyalah yang mengubah fitrahnya menjadi pribadi yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap bayi yang lahir berada di atas fitrahnya. Lalu, kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Fitrah yang dimaksudkan di sini adalah Islam. Islam adalah kebaikan. Dengannya, seseorang dapat mengetahui kebenaran dan kekhilafan. Maka, dalam konteks mengenali dosa, setiap insan memiliki kemampuan. Cukup dengan merenungi kegelisahan dalam hati manakala ia mengerjakan suatu perbuatan yang belum ia ketahui apakah hal itu berdosa atau tidak.

Dari Nawas bin Sam’an, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Kebaikan adalah dengan berakhlak yang mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa. Ketika kejelekan tersebut dilakukan, tentu engkau tidak suka hal itu nampak di tengah-tengah manusia.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An-Nawawi, Dar Ihya’ At-Turats, no. 1392, 16: 111.)

Kemampuan mengenali dosa ini sejatinya dimiliki oleh semua insan. Perkara apapun itu, tatkala jiwa dirundung gelisah ketika melakukan perbuatan tertentu seperti muamalah dengan sesama manusia atau sedang dalam aktivitas tertentu tatkala sendiri dan ada penolakan batin manakala hal itu diketahui oleh orang lain, maka itulah dosa yang mesti segera ditinggalkan.

Namun, ada pula orang yang mengabaikan kemampuan mengenali dosa ini. Ia tetap melabrak ketentuan syariat yang ada. Meski sebenarnya kegelisahan datang sebagai tanda bahwa apa yang dikerjakannya adalah dosa, tetapi ia tetap saja melanjutkannya tanpa beban dan tanpa rasa bersalah. Ia lebih mengedepankan kenikmatan duniawi yang sesaat daripada kenikmatan ukhrawi yang kekal abadi. Mudah-mudahan, kita tidak menjadi bagian dari manusia yang abai tersebut.

Oleh karenanya, maksimalkan kemampuan mengenali dosa ini dengan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan kita menjadi hamba Allah yang senantiasa mampu mengendalikan diri untuk menghindari segala potensi dosa yang dapat mendatangkan murka Allah Ta’ala.

Kemampuan berfatwa

Fatwa yang dimaksud disini adalah fatwa terhadap diri sendiri sebelum meminta fatwa dari orang lain. Kemampuan mengenali mana yang hak dan yang batil kemudian memutuskan untuk mengambil pilihan kebenaran sejatinya dimiliki oleh setiap insan.

Oleh karenanya, kita perlu melakukan cross check terlebih dahulu terhadap perkara yang sedang kita hadapi. Menanyakan kembali kepada naluri tentang pilihan dan keputusan terhadap urusan duniawi dan ukhrawi kita. Sebagaimana nasihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam kepada Wabishah,

يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

“Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu tiga kali. Karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa.” (HR. Ahmad no.17545, Al-Albani dalam Shahih At Targhib, no. 1734 mengatakan, “Hasan lighairihi.“)

Saudaraku, hadis ini menegaskan bahwa sejatinya, diri kita mampu memutuskan dengan hak perkara dari keraguan-keraguan diri. Namun, jangan lupa, hal itu dapat dilakukan dengan syarat, harus sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)

Sejatinya, seorang muslim yang lurus akidah dan manhajnya, fatwa yang keluar dari pikirannya akan sejalan dengan dalil yang ada. Maka, untuk memastikan bahwa pendapat kita tentang sesuatu tatkala meminta fatwa pada diri sendiri, kita mesti memahami bahwa ketentuan syariat Allah tidak boleh dilampaui oleh kehendak akal, logika, perasaan apalagi nafsu.

Maka, asahlah kemampuan berfatwa ini dengan ilmu. Meski pada dasarnya, fitrah manusia adalah kebaikan. Namun, perasaan, akal, kecerdasan, dan logika harus mengikuti dalil Al-Quran dan As-Sunnah. Karena sejatinya, bukan dalil yang mengikuti akal. Tapi akallah yang mengikuti dalil. Karenanya, pastikan bahwa kemampuan berfatwa yang kita miliki berada di bawah dan mengikuti petunjuk Al-Quran dan As-Sunnah.

Mudah-mudahan, anugerah Allah Ta’ala kepada kita melalui kemampuan mengenali dosa dan kemampuan berfatwa ini menjadikan kita lebih mudah untuk lebih berhati-hati dan mawas diri dalam menyikapi problematika kehidupan duniawi dan ukhrawi kita, sehingga kita mendapati diri kita berada dalam keridaan Allah Ta’ala di akhir hayat kita dengan kematian yang husnulkhatimah.

Wallahu a’lam.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Sumber: https://muslim.or.id/93168-memaksimalkan-dua-kemampuan-menuju-husnul-khatimah.html/
Copyright © 2024 muslim.or.id

Jangan Menjadi Penuntut Ilmu yang Angkuh dan Sombong

Kita sebagai penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi), hendaknya harus mengetahui celah setan untuk menyesatkan manusia. Kita telah mengetahui bahwa salah satu cara setan menyesatkan manusia adalah dengan harta dan ketamakan terhadap dunia. Akan tetapi, sedikit dari kita yang mengetahui bahwa setan juga menyesatkan manusia melalui ilmu. Yaitu dengan membuat pemilik ilmu tersebut menjadi angkuh, sombong, dan merendahkan manusia karena merasa sudah berilmu. Umumnya ditunjukkan dengan sifat yang keras, hobi berdebat kusir, dan banyak membicarakan kesalahan orang lain secara tidak bijak.

Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata,

إن للعلم ظغيانا كطغيان المال

“Sesungguhnya ilmu memiliki keangkuhan sebagaimana keangkuhan harta.” (an-Nubadz fi Adabi Thalabil Ilmi, hal. 185)

Bisa jadi banyak manusia yang tahu bahwa harta adalah fitnah terbesar umat Islam dan membuat pemiliknya menjadi sombong. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujiannya) dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Bukhari)

Demikian juga dengan ilmu, dapat membuat pemiliknya menjadi sombong dan angkuh. Perhatikanlah perkataan yang dinukil oleh Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berikut,

العلم ثلاثة أشبار، من دخل في الشبر الأول تكبر، ومن دخل في الشبر الثانى تواضع، ومن دخل في الشبر الثالث علم أنه ما يعلم

“Ilmu itu ada tiga jengkal. Barangsiapa yang masuk jengkal pertama, dia menjadi sombong. Barangsiapa yang masuk jengkal kedua, dia menjadi tawadhu’. Barangsiapa yang masuk jengkal ketiga, dia baru menyadari bahwa dirinya tidak tahu (masih sedikit ilmunya).” (Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hal. 79)

Hendaknya kita tidak sombong hanya karena memiliki ilmu, karena kita tidak layak mensucikan diri sendiri lalu merendahkan orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Salah satu cara agar terhindar dari sifat sombong adalah berusaha melihat orang lain lebih baik dari kita. ‘Abdullah Al-Muzani rahimahullah berkata,

إن عرض لك إبليس بأن لك فضلاً على أحد من أهل الإسلام فانظر، فإن كان أكبر منك فقل قد سبقني هذا بالإيمان والعمل الصالح فهو خير مني، وإن كان أصغر منك فقل قد سبقت هذا بالمعاصي والذنوب واستوجبت العقوبة فهو خير مني، فإنك لا ترى أحداً من أهل الإسلام إلا أكبر منك أو أصغر منك.

“Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah. Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, ‘Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal shalih dariku, maka ia lebih baik dariku.‘ Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, ‘Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka dia sebenarnya lebih baik dariku.‘ Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.” (Hilyatul Awliya’, 2: 226)

Demikian, semoga bermanfaat.

***

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Sumber: https://muslim.or.id/59430-jangan-jadi-penuntut-ilmu-yang-angkuh-dan-sombong.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

[Kitabut Tauhid 6] 47 Syafaat 08

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Syafa’at di akhirat terbagi menjadi dua : [1] syafa’ah khaashah, yaitu syafa’at yang merupakan kekhususan bagi Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dan [2] syafa’ah musytarakah yang bukan merupakan kekhususan bagi Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Diantara syafa’ah khaashah adalah : [1] asy-syafa’ah al-‘uzhma (syafaat agung), yaitu syafa’at untuk seluruh manusia (Mukmin dan Kafir, Shalih dan Fajir) agar Allâh -‘Azza wa Jalla- menyegerakan hisab bagi mereka; [2] syafa’at Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- untuk pamannya, Abu Thalib, agar diringankan siksanya, dan [3] syafa’at bagi calon penghuni surga agar bisa masuk ke dalam surga, dan [4] Syafaat Untuk Mereka Yang Masuk SurgaTanpa Hisab Agar Segera Masuk Surga.
  • Syafa’at Musytarakah atau Syafa’ah ‘Ammah (Syafa’at Umum) adalah syafa’at yang Allâh -‘Azza wa Jalla- izinkan bagi siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya yang shalih untuk memberikan syafa’at kepada orang yang juga diizinkan oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- untuk memperoleh syafa’at. Syafa’at semacam ini bisa didapatkan dari Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dan selain Beliau dari para Nabi yang lain, shidiqqin, syuhada’ dan shalihin, juga Para Malaikat.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Keutamaan Salat Sunnah yang Dikerjakan di Rumah

عن زيد بن ثابت رضي الله عنه أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال : (( عَلَيْكُمْ بِالصَلَاةِ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ المَرْءِ فِيْ بَيْتِهِ إلَّا الصَلَاةَ المَكْتُوْبَةَ ))

Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya kalian mengerjakan salat di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik salat seseorang adalah di rumahnya, kecuali salat maktubah (fardhu)”.[1]

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaaan salat sunnah yang dikerjakan di rumah dan itu lebih utama daripada salat sunnah yang dikerjakan di masjid. Bahkan dalam hadis shahih yang lain terdapat penjelasan bahwa keutamaan tersebut dilipatgandakan. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Salat sunnah yang dikerjakan seseorang tanpa dilihat orang lain sebanding dengan dua puluh lima (kali) salat (sunnah) yang dikerjakannya di hadapan orang lain.[2]

Beberapa faidah penting yang bisa kita petik dari hadis di atas:

a. Keutamaan ini bersifat umum untuk semua salat sunnah, baik rawatib maupun lainnya, kecuali salat sunnah yang termasuk syi’ar Islam, seperti salat gerhana, istisqa’ (memohon diturunkan hujan), dan tarawih, maka salat-salat ini disyariatkan untuk dikerjakan di masjid secara berjamaah. Demikian pula salat sunnah tahiyyatul masjid karena berhubungan dengan masjid.

b. Imam al-Munawi rahimahullah berkata, “Ibadah-ibadah sunnah disyariatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan ikhlas untuk (mengharapkan balasan) memandang wajah-Nya. Karenanya, semakin salat itu tersembunyi (dalam melaksanakannya) berarti kian jauh dari perbuatan riya’ dan pandangan manusia. Sedangkan ibadah-ibadah yang wajib, disyariatkan untuk meninggikan agama Islam dan menampakkan syi’ar-syi’arnya, maka selayaknya dilaksanakan (secara terang-terangan) di hadapan manusia.

c. Beberapa manfaat dan kebaikan mengamalkan salat-salat sunnah di rumah, di antaranya:

d. Menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salla dalam hal ini.

e. Memudahkan untuk meraih keikhlasan yang lebih sempurna dan pahala yang lebih besar.

f. Termasuk manfaat besar melaksanakan salat sunnah di rumah adalah menjadikan rumah selalu hidup dan bercahaya serta menjadi motifasi bagi para penghuninya untuk giat melakukan ketaatan kepada Allah, sebagaiman sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

مَثَلُ البَيْتِ الَذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ وَالبَيْتِ الذِي لَايُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ كَمَثَلِ الحَيِّ وَالمَيِّتِ

“Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya, dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.”

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadis ini terdapat anjuran untuk banyak berdzikir kepada Allah (termasuk melaksanakan salat-salat sunnah, membaca al-Qur’an dan dzikir-dzikir lainnya) di rumah dan hendaknya rumah jangan dikosongkan dari berdzikir kepada Allah.

Berdzikir kepada Allah di sini bersifat umum, baik dengan lisan maupun hati, termasuk membaca al-Qur’an, melaksanakan salat-salat sunnah, mendengarkan kajian agama Islam, membaca buku-buku yang bermanfaat dan lain-lain.

g. Demikian pula manfaat besar untuk mengusir dan menjauhkan setan dari rumah, yang dia merupakan musuh utama yang selalu mengajak manusia berbuat buruk. Dalam hadis shahih Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَتَجْعَلُوْا بَيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ البَيْتِ الَذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةَ البَقَرَةِ

“Janganlah kamu menjadikan rumahmu (seperti) kuburan (dengan tidak pernah mengerjakan salat dan membaca al-Qur’an di dalamnya). Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah.”[3]

Ini adalah salah satu manfaat yang sangat besar, karena bagaimana mungkin akan terwujud kebaikan dan kebahagiaan dalam rumah yang dipenuhi setan, sebagai akibat tidak disemarakkan salat-salat sunnah dan bacaan al-Qur’an di dalamnya? Padahal sifat setan sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firman-Nya:

إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُوْءِ وَالفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللهِ مَالَا تَعْلَمُوْن

“Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah:169).

Wallahu a’lam.

————————————————————————————————–

( Disadur dari majalah As-Sunnah Edisi 01/TAHUN XIX/RAJAB 1436H/MEI 2015).

[1] HSR Al-Bukhari no.5672 dan Muslim no. 781.

[2] HR Abu Ya’la dari Shuhaib bin Sinan, Syaikh Albani menghukuminya sebagai hadits shahih dalam Shahihul Jami no.3821

[3] HSR Muslim no. 780.
Sumber: https://muslimah.or.id/7915-keutamaan-salat-sunnah-yang-dikerjakan-di-rumah.html#_ftn1

Setiap Jasad Tidak Lepas Dari Hasad

Berikut adalah faidah ringkas mengenai hasad, bahwa hasad itu pasti ada pada setiap orang. Hanya saja orang yang baik akan berusaha menyembunyikan dan melawannya sedangkan orang yang hatinya sakit akan menampakkannya serta berusaha dan berharap hilangnya nikmat dari orang lain.

Hasad adalah penyakit yang berbahaya, dikatakan Iblis lah yang pertama kali melakukan dosa hasad. Yaitu hasad kepada Nabi Adam ‘aliahissalam. Begitu juga hasadnya Qabil yang membunuh Habil, hasadnya orang Yahudi, Hasadnya gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul dan lain-lainnya. Terlalu banyak kisah berakhir dengan laknat Allah akibat hasad yang muncul.

Pengertian hasad yang lebih rinci

Beberapa orang menyamakan dengan dengki dan iri. Hasad adalah tidak suka orang lain mendapatkan nikmat atau kebaikan baik disertai keinginan hilangnya nikmat tersebut dari orang yang dihasadkan atau tidak.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah,

أن الحسد هو البغض والكراهة لما يراه من حسن حال المحسود

“Hasad adalah benci dan tidak suka terhadap kebaikan yang ada pada orang lain yang ia lihat.”[1]

hasad ada pada setiap hati manusia

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

أن ” الحسد ” مرض من أمراض النفس وهو مرض غالب فلا يخلص منه إلا قليل من الناس ولهذا يقال: ما خلا جسد من حسد لكن اللئيم يبديه والكريم يخفيه.

“Sesungguhnya hasad adalah di antara penyakit hati. Inilah penyakit kebanyakan manusia. Tidak ada yang bisa lepas darinya kecuali sedikit sekali. Oleh karena itu ada yang mengatakan,

 “Setiap jasad tidaklah bisa lepas dari yang namanya hasad. Namun orang yang berpenyakit (hati) akan menampakkannya. Sedangkan orang yang mulia akan menyembunyikannya.”[2]

Hasad umumnya terjadi pada suatu hal yang memiliki kesamaan tujuan dan orientasi

misalnya tukang batu akan hasad sesama tukang batu dan direktur akan hasad dengan sesama direktur. Sangat kecil kemungkinan tukang batu hasad dengan direktur. Dan sesama penuntut ilmu agama juga memiliki tujuan dan orientasi yang sama.

Sebagaimana pejelasan Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika menjelaskan terjadi persaingan tidak sehat antara istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa salla. Beliau berkata,

وحسد النساء بعضهن لبعض كثير غالب لا سيما المتزوجات بزوج واحد فإن المرأة تغار على زوجها لحظها منه فإنه بسبب المشاركة يفوت بعض حظها وهكذا الحسد يقع كثيرا بين المتشاركين في رئاسة أو مال

“hasad umumnya lebih sering terjadi antar sesama wanita, lebih-lebih mereka yang memiliki satu suami yang sama. Maka wanita tersebut akan cemburu karena jatahnya [berkurang]. Oleh karena kesamaan tersebut akan menghilangkan sebagian jatahnya. Demikianlah hasad sering terjadi diantara orang yang memiliki kesamaan dalam kedudukan dan harta.”[3]

Semoga kita bisa terhindari dari penyakit hasad yang berbahaya ini.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

@Pogung Kidul, Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/setiap-jasad-tidak-lepas-dari-hasad.html

Nama Allah yang Paling Agung

Memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala adalah ilmu yang paling agung dan mulia dalam Islam[1], sekaligus ilmu yang paling besar manfaatnya untuk kebaikan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, “Ilmu tentang Allah adalah landasan semua ilmu, sekaligus merupakan landasan pemahaman seorang hamba terhadap kebahagiaan, kesempurnaan dan kebaikan (dirinya) di dunia dan akhirat. Ketidakpahaman terhadap ilmu ini akan mengakibatkan ketidakpahaman terhadap kebaikan, kesempurnaan, kesucian dan kebahagiaan diri sendiri. Maka memahami ilmu ini adalah (kunci utama) kebahagiaan seorang hamba, dan ketidakpahaman tentangnya merupakan sumber (utama) kebinasaannya”[2].

Inilah makna firman Allah Ta’ala,

{وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ}

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa (lalai) kepada Allah (tidak mengenal-Nya), maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri, mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS al-Hasyr:19).

Oleh karena itu, mempelajari ilmu ini termasuk amal shaleh yang paling besar keutamaannya dalam Islam, sebagaimana beribadah kepada Allah Ta’ala semata-mata adalah amal shaleh yang paling besar keutamaannya[3].

Bahkan ilmu inilah yang disebut “al-fiqhul akbar” (fikih/pemahaman agama yang paling agung), serta yang pertama kali dan paling utama termasuk dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Allah akan memahamkannya (ilmu) tentang agama“[4].[5]

Termasuk masalah penting yang dibahas oleh para ulama dalam ilmu yang agung ini adalah mengetahui nama Allah Ta’ala yang paling agung[6], yang jika seorang hamba berdoa dengan nama tersebut maka Allah Ta’ala akan mengabulkan doanya, dan jika dia memohon kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah Ta’ala akan memenuhi permohonannya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih yang akan kami sebutkan insya Allah.

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata, “Sebagian orang menyangka bahwa nama Allah Ta’ala yang paling agung dari nama-nama-Nya yang maha indah tidak mungkin diketahui kecuali oleh orang-orang yang dikhusukan Allah dengan karomah yang diluar kewajaran. Ini adalah persangkaan yang keliru, karena sesungguhnya Allah Ta’ala justru menganjurkan kepada kita untuk mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya. (Bahkan) Allah memuji orang yang mengenal dan berusaha memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta berdoa kepada-Nya dengan nama-nama-Nya, (baik) dengan doa ibadah ataupun doa permohonan.

Tidak diragukan lagi, bahwa (mengenal) nama Allah Ta’ala yang paling agung dari nama-nama-Nya yang maha indah adalah yang paling utama dalam masalah ini.

Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah al-Jawwaad (Maha Sempurna kedermawanan dan kebaikan-Nya), yang kedermawanan dan kebaikan-Nya tidak ada batasnya, dan Dia senang melimpahkan kebaikan kepada hamba-hamba-Nya. Dan termasuk kebaikan paling agung yang dilimpahkan-Nya kepada mereka adalah (dengan) Dia mengenalkan diri-Nya kepada mereka dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi (dalam ayat-ayat al-Qur-an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)”[7].

Dalil-dalil tentang nama Allah Ta’ala yang paling agung

1. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang yang berdoa (dalam shalat),

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ – وفي رواية: وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ – الْمَنَّانُ، يَا بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ ، يَا ذَا الْجَلالِ وَالإِكْرَامِ ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ – وفي رواية: إِنِّي أَسْأَلُكَ…

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu bahwa sesungguhnya segala pujian adalah milik-Mu, tiada sembahan yang benar kecuali Engkau – dalam riwayat lain: satu-satunya dan tiada sekutu bagi-Mu –, Yang Maha Pemberi karunia, wahai Pencipta langit dan bumi, wahai Yang Maha Maha Memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri – dalam riwayat lain: sesungguhnya aku meminta kepada-Mu…”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh dia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang jika seseorang berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan mengabulkan (doanya), dan jika dia meminta kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan memenuhi (permintaannya)“[8].

2. Dari Buraidah bin al-Hushaib radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang lelaki berkata (dalam doanya),

اللَّهمَّ إِني أسألُكَ بأني أَشْهَدُ أنَّكَ أنْتَ اللهُ ، لا إلهَ إلا أنتَ، الأحَدُ الصَّمَدُ ، الَّذِي لمَ ْيَلِدْ ولم يُولَدْ ، ولم يكن له كُفُوا أحَدٌ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu dengan persaksianku bahwa sungguh Engkau Allah yang  tiada sembahan yang benar kecuali Engkau, Yang Maha Esa lagi Maha Sempurna dan bergantung kepada-Nya segala sesuatu, yang tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, serta tiada seorangpun yang setara dengan-Nya”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh dia telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang jika seseorang meminta kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan memenuhi (permintaannya), dan jika dia berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan mengabulkan (doanya)“[9].

3. Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya nama Allah yang paling agung (terdapat) dalam tiga surat dari al-Qur-an: surah al-Baqarah, Ali ‘Imran dan Thaahaa”[10].

Nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagiannya lebih utama dari sebagian lainnya

Hadits-hadits di atas termasuk dari dalil-dalil dalam al-Qur-an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala keutamaan masing-masingnya  berbeda-beda dan sebagiannya lebih utama dari sebagian lainnya[11].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ucapan orang yang mengatakan bahwa sifat-sifat Allah tidak berbeda-beda keutamaan (sebagian dari sebagian lainnya) atau ucapan yang semakna dengan itu adalah ucapan yang tidak dilandasi dengan dalil (dari al-Qur-an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)…Siapakah yang menjadikan sifat rahmat-Nya tidak lebih utama dari sifat murka-Nya? Padahal dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menulis pada sebuah kitab di sisi-Nya di atas ‘Arsy: “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku”, dalam riwayat lain: mendahului kemurkaan-Ku[12]…

Sebagaimana nama-nama dan sifat-sifat Allah bermacam-macam maka demikian pula berbeda-beda keutamaan (sebagian dari sebagian lainnya), sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam al-Qur-an, sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ijma’ (kesepakatan kaum muslimin), dan (sesuai) dengan akal (manusia)”[13].

Imam Ibnul Qayyim juga menjelaskan hal ini dalam ucapan beliau, “Sesungguhnya sebagian dari sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala lebih utama dari sebagian (yang lain)…, sebagaimana sifat rahmat-Nya lebih utama daripada sifat murka-Nya, oleh karena itu sifat rahmat-Nya mengalahkan dan mendahului (kemurkaan-Nya).

Demikian pula firman Allah Ta’ala yang (termasuk) sifat-Nya. Sudah dimaklumi bahwa (tentu saja) firman-Nya yang mengandung pujian bagi-Nya, menyebutkan sifat-sifat (kesempurnaan)-Nya dan (kewajiban) mentauhidkan-Nya (mengesakan-Nya dalam beribadah) lebih utama dari pada firman-Nya yang berisi celaan terhadap musuh-musuh-Nya dan penjelasan (tentang) sifat-sifat (buruk) mereka.

Oleh karena itu, surat al-Ikhlash lebih utama daripada surat al-Lahab (al-Masad), dan surat al-Ikhlash sebanding (pahala membacanya) dengan (pahala membaca) sepertiga dari al-Qur-an[14]. (Demikian pula) ayat kursi adalah ayat yang paling utama dalam al-Qur-an[15]…”[16].

Lebih lanjut, syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin merinci penjelasan masalah ini, beliau berkata, “Hadits ini (hadits tentang ayat kursi di atas) menunjukkan bahwa al-Qur-an berbeda-beda keutamaannya (satu ayat dengan ayat yang lain), sebagaimana ini juga ditunjukkan dalam hadits tentang surat al-Ikhlash (di atas).

Pembahasan masalah ini harus diperinci dengan penjelasan berikut: jika ditinjau dari (segi) zat yang mengucapkan/berfirman (dengan al-Qur-an) maka al-Qur-an tidak berbeda-beda keutamaannya, karena zat yang mengucapkannya adalah satu, yaitu Allah Ta’ala. Adapun jika ditinjau dari (segi) kandungan dan pembahasannya maka al-Qur-an berbeda-beda keutamaannya (satu ayat dengan ayat yang lain). Surat al-Ikhlash yang berisi pujian bagi Allah Ta’ala karena mengandung (penyebutan) nama-nama dan sifat-sifat Allah (tentu) tidak sama dari segi kandungannya dengan surat al-Masad (al-Lahab) yang berisi penjelasan (tentang) keadaan Abu Lahab.

Demikian pula al-Qur-an berbeda-beda keutamaannya (satu ayat dengan ayat yang lain) dari segi pengaruhnya (terhadap hati manusia) dan kekuatan/ketinggian uslub (gaya bahasanya). Karena kita dapati di antara ayat-ayat al-Qur-an ada yang pendek tetapi berisi nasehat dan berpengaruh besar bagi hati manusia, sementara kita dapati ayat lain yang jauh lebih panjang, akan tetapi tidak berisi kandungan seperti ayat tadi”[17].

Manakaha nama Allah yang paling agung?

Imam asy-Syaukani berkata, “Telah terjadi perbedaan pendapat (di antara para ulama) tentang penentuan nama Allah yang paling agung dalam sekitar empat puluh pendapat, dan Imam as-Suyuthi telah menulis kitab khusus tentang masalah ini”[18].

Mayoritas pendapat-pendapat tersebut sangat lemah karena tidak dilandasi argumentasi kuat dari al-Qur-an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salalm, maupun keterangan dari para shahabat radhiyallahu ‘anhum.

Tidak ketinggalan pula orang-orang ahli bid’ah dari kalangan ahli tasawuf dan selain mereka, dalam pembahasn masalah ini mereka banyak membawakan keterangan yang batil dan tidak bernilai sama sekali. Bahkan mereka tidak segan-segan menyampaikan hadits-hadits yang palsu, riwayat-riwayat yang dibuat-buat, atau kisah-kisah dusta untuk menguatkan kebatilan mereka, serta untuk memperdaya dan menipu orang-orang awam dan bodoh dari kalangan kaum muslimin[19].

Adapun dalil-dalil dari al-Qur-an dan sunnah Nabi r tidak satupun yang secara jelas dan tegas menentukan apakah nama Allah yang paling agung, oleh karena itu para ulama berijtihad dalam menetukan nama Allah ini[20].

Dan dari semua pendapat dalam masalah ini, hanya tiga pendapat yang paling kuat dan lebih dekat kepada kebenaran, insya Allah. Ketiga pendapat tersebut adalah:

Pendapat pertama: nama-Nya yang paling agung adalah “Allah”

Pendapat ini dipilih oleh beberapa ulama Ahlus sunnah, seperti imam Jabir bin Zaid al-Azdi[21], imam ‘Amir bin Syurahil asy-Sya’bi[22] dan imam Abu Abdillah Ibnu Mandah[23].

Imam Abu Abdillah Ibnu Mandah berkata: “Nama-Nya “Allah” adalah pengenalan terhadap zat-Nya (yang maha mulia), Allah Ta’ala mengharamkan menggunakan nama ini untuk siapapun dari makhluk-Nya atau dipanggil dengan nama ini sesembahan selain-Nya. Allah menjadikannya sebagai permulaan iman , tiang penopang Islam, kalimat kebenaran dan ikhlas, serta penolak sekutu dan tandingan bagi-Nya. Orang yang mengucapkannya akan terlindung dari pembunuhan (dihalalkan darahnya), dengannya dibuka kewajiban-kewajiban (dalam Islam), terikat sumpah-sumpah, perlindungan dari setan, serta dengan nama-Nya dibuka dan ditutup segala sesuatu. Maka maha suci nama-Nya dan tiada sembahan yang benar selain-Nya”[24].

Pendapat ini juga dikuatkan oleh syaikh al-Albani[25] dan syaikh ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr, bahkan syaikh ‘Abdur Razzaq mengatakan pendapat inilah yang terkenal di kalangan para ulama dan lebih dekat dengan dalil-dalil dari al-Qur-an dan as-Sunnah, beliau juga menjelaskan bahwa nama “Allah” disebutkan dalam semua hadits yang mengisyaratkan nama Allah U yang paling agung[26].

Pendapat kedua: nama-Nya yang paling agung adalah “al-Hayyu al-Qayyum” (Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri dan menegakkan semua makhluk-Nya)

Pendapat ini dikuatkan oleh beberapa ulama, seperti al-Qasim bin ‘Abdur Rahman ad-Dimasyqi[27], murid shahabat Abu Umamah t, imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah[28] dan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin[29].

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Sesungguhnya sifat (Allah Ta’ala) al-hayat (maha hidup) mengandung dan meliputi semua sifat kesempurnaan, sedangkan sifat al-qayyumiyah (maha berdiri sendiri dan menegakkan semua makhluk-Nya) mengandung semua sifat perbuatan Allah. Oleh karena itu, nama Allah yang paling agung yang jika seseorang berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan mengabulkan (doanya), dan jika dia meminta kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan memenuhi (permintaannya) adalah nama-Nya “al-Hayyu al-Qayyum”[30].

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin berkata: “Kedua nama ini (“al-Hayyu al-Qayyum”) adalah nama Allah yang paling agung yang jika seseorang berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan mengabulkan (doanya). Oleh karena itu, sepatutnya bagi seorang hamba ketika berdoa (kepada Allah Ta’ala) untuk bertawasul (menjadikan perantara untuk memudahkan dikabulkannya doa) dengan nama Allah ini, dengan mengatakan: “Wahai al-Hayyu al-Qayyum (wahai Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri dan menegakkan semua makhluk-Nya)”[31].

Pendapat ketiga: nama-Nya yang paling agung adalah nama-nama-Nya yang mengandung semua sifat-sifat kesempurnaan dan kemuliaan-Nya, jadi bukanlah yang dimaksud satu nama Allah Ta’ala yang tertentu.

Pendapat ini yang dipilih dan dikuatkan oleh syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di, beliau berkata, “Sesungguhnya nama Allah yang paling agung adalah jenis (dari nama-nama Allah Ta’ala ) dan bukanlah yang dimaksud satu nama tertentu. Karena sesungguhnya nama-nama Allah (yang maha indah) ada dua macam:

– Yang pertama: nama-nama-Nya yang (hanya) mengandung satu atau dua sifat, atau sifat-sifat yang terbatas.

– Yang kedua: nama-nama-Nya yang menunjukkan semua sifat-sifat kesempurnaan milik Allah, dan mengandung sifat-sifat keagungan, kemuliaan dan keindahan.

Jenis kedua inilah yang merupakan nama-Nya yang paling agung, karena nama-nama ini menunujukkan berbagai makna yang paling agung dan paling luas.

Maka nama “Allah” adalah (termasuk) nama-Nya yang paling agung, demikian pula nama-Nya “ash-Shamad” (Yang Maha Sempurna dan bergantung kepada-Nya segala sesuatu), demikian pula “al-Hayyu al-Qayyum”, “al-Hamiid al-Majiid” (Yang Maha Terpuji lagi Mulia), “al-Kabiir al-‘Azhiim” (Yang Maha Besar dab Agung), dan “al-Muhiith” (Yang Maha Meliputi semua makhluk-Nya)”[32].

Di kitab lain, beliau berkata: “Nama Allah yang paling agung di antara nama-nama-Nya adalah semua nama yang disebutkan tersendiri (dalam al-Qur-an dan hadits Rasulullah r) atau digandengkan dengan nama-Nya yang lain, jika nama tersebut menunjukkan semua sifat dzaatiyyah (berhubungan dengan zat-Nya dan terus-menurus ada) dan fi’liyyah (berhubungan dengan perbuatan-Nya yang terjadi sesuai dengan kehendak-Nya) milik Allah, atau menunjukkan makna semua sifat-Nya.

Seperti nama-Nya “Allah” yang menghimpun semua makna al-uluhiyyah (hak untuk disembah dan diibadahi) secara keseluruhan, yang merupakan semua sifat kesempurnaan-Nya.

Maka dengan ini kita ketahui bahwa nama Allah yang paling agung adalah jenis (dari nama-nama Allah Ta’ala), dan pendapat inilah yang ditunjukkan dalam dalil-dalil syariat (al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)”[33].

Kesimpulan dan penutup

Ketiga pendapat di atas masing-masing memiliki argumentasi yang kuat dan dipilih oleh para ulama Ahlus sunnah yang terpercaya. Meskipun secara pribadi, penulis lebih cenderung memilih pendapat yang ketiga, karena pendapat inilah yang menghimpun semua dalil dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang nama Allah yang paling agung, Wallahu a’lam[34].

Bagi kita yang ingin berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang paling baik dan utama adalah dengan mengucapkan lafazh doa yang kami sebutkan dalam hadits pertama dan kedua di atas, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menyampaikan bahwa doa tersebut mengandung nama Allah yang paling agung, yang jika seseorang berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan mengabulkan (doanya), dan jika dia meminta kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan memenuhi (permintaannya).

Akhirnya, kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia senantiasa menganugerahkan kepada kita petunjuk dan taufik-Nya untuk memahami dengan benar sifat-sifat keagungan-Nya, yang dengan itu kita akan mencapai keimanan dan ketakwaan yang sempurna kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 24 Dzulqa’dah 1431 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Artikel www.muslim.or.id


[1] Lihat kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/86).

[2] Kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/86).

[3] Lihat kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/178).

[4] HSR al-Bukhari (no. 71) dan Muslim (no. 1037).

[5] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 7).

[6] Ibid (hal. 71).

[7] Kitab “Tafsiiru asma-illahil husna” (hal. 16).

[8] HR Ahmad (3/245 dan 3/265), Abu Dawud (no. 1493 dan 1494), at-Tirmidzi (no. 3475), Ibnu Majah (no. 3857) dan Ibnu Hibban (no. 893), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani.

[9] HR Ahmad (5/360), Abu Dawud (no. 1495), an-Nasa-i (no. 1300), at-Tirmidzi (no. 3544), Ibnu Majah (no. 3858), Ibnu Hibban (no. 892) dan al-Hakim (no. 1858 dan 1859), dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi, serta dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan Syaikh al-Albani.

[10] HR Ibnu Majah (no. 3856) dan al-Hakim (no. 1861), dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 746).

[11] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 70).

[12] HSR al-Bukhari (no. 3022 dan 7115) dan Muslim (no. 2751).

[13] Kitab “Majmu’ul fataawa” (17/211-212).

[14] HSR al-Bukhari (no. 4726, 4727 dan 6267) dan Muslim (no. 811).

[15] Sebagaimana dalam HSR Muslim (no. 810) dari Ubai bin Ka’b t.

[16] Kitab “Syifa-ul ‘aliil” (hal. 272).

[17] Kitab ” Syarhul aqiidatil waasithiyyah” (1/164-165).

[18] Kitab “Tuhfatudz dzaakiriin” (hal. 79).

[19] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 72).

[20] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 73).

[21] Dinukil oleh imam Ibnu Abi Syaibah dalam kitab “al-Mushannaf” (7/234, no. 35612). Jabir bin Zaid adalah imam besar dari kalangan Tabi’in yang terkenal dengan kunyah beliau “Abu asy-Sya’tsaa’ dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah r. Lihat kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 136).

[22] Ibid. Beliau adalah imam besar yang terkenal dari kalangan Tabi’in, sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah r. Lihat kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 287).

[23] Dalam kitab beliau “at-Tauhid” (2/21). Beliau adalah Muhammad bin Yahya bin Mandah al-Ashbahani, imam besar dan penghafal hadits yang ternama. Biografi beliau dalam “Siyaru a’laamin nubalaa’” (14/188).

[24] Ibid.

[25] Dalam “ash-Shahiihah” (no. 2/371).

[26] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 72-73).

[27] Dinukil oleh imam al-Hakim dalam kitab “al-Mustadrak” (1/684). Biografi al-Qasim bin ‘Abdur Rahman dalam kitab “Tahdziibul kamaal’ (23/383).

[28] Dalam kitab beliau “Zaadul ma’aad” (4/185).

[29] Dalam kitab beliau ” Syarhul aqiidatil waasithiyyah” (1/166).

[30] Kitab “Zaadul ma’aad” (4/185).

[31] Dalam kitab beliau ” Syarhul aqiidatil waasithiyyah” (1/166).

[32] Kitab “Fathul Malikil ‘Allaam” (hal. 26-27).

[33] Kitab “Tafsiiru asma-illahil husna” (hal. 16-17).

[34] Lihat catatan kaki kitab “Tafsiiru asma-illahil husna” (hal. 17).



Sumber: https://muslim.or.id/5837-nama-allah-yang-paling-agung.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Mengadu kepada Allah, bukan kepada Makhluk

Salah satu pelajaran tauhid yang luar biasa adalah mengajarkan kita agar tidak mudah mengeluh atau curhat kepada manusia. Mengeluh dan curhat itu hanya kepada Allah Ta’ala. Sedangkan kepada manusia, itu lebih ke arah musyawarah dan diskusi mengenai masalah kita untuk mencari jalan keluar terbaik. Itu pun tidak semua manusia bisa diajak musyawarah dan diskusi, melainkan manusia yang berilmu serta mau membantu kita.

Salah satu contoh mengadu kepada Allah Ta’ala adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub ‘alaihis salaam. Beliau berkata dan tertulis dalam Al-Qur’an,

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86).

Ibnul Jauzi Rahimahullah menjelaskan bahwa mengeluh kepada makhluk adalah suatu hal yang dibenci. Beliau rahimahullah berkata,

وقد كان السَّلَفُ يكرهون الشَّكوَى إِلَى الخَلقِ. وَالشَّكوَى وَإِن كان فيها رَاحَةٌ إِلا أَنَّـهَا تَدُلُّ عَلَىٰ ضَـعـفٍ وَذُلٍّ. وَالصَّبرُ عنها دَلِيلٌ عَلَى قُـوَّةٍ وَعِزٍّ.

“Para salaf membenci mengeluh kepada makhluk, meski ketika mengeluh tersebut mendatangkan ketenangan. Hal tersebut menunjukkan lemahnya iman dan kerendahan. Bersabar atas musibah menunjukkan kuatnya iman dan kemuliaan seseorang” (Ats-Tsabaat ‘Inda Al-Mamat, hal. 55).

Mengapa dibenci? Karena mengeluh kepada makhluk seolah-olah menunjukkan seorang hamba “mengeluhkan perbuatan (takdir) Rabb-nya kepada sesama makhluk”. Jelas semua yang terjadi adalah perbuatan dan takdir Alah Ta’ala. Kita harus rida dengan semua takdir Allah Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Barangsiapa yang ridha (menerimanya), maka Allah akan meridhainya. Dan barangsiapa yang murka (menerimanya), maka Allah murka kepadanya” (HR. Tirmidzi).

Hal ini pun dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ada masalah berat, beliau mengadukan kepada Allah Ta’ala dengan mendirikan shalat.

Sahabat Hudzaifah Radhiallahu ‘anhu berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

“Apabila ada masalah berat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan salat” (HR. Ahmad, lihat Shahih Sunan Abi Dawud).

Orang yang segera kembali kepada Allah ketika ada masalah berat, maka hatinya akan kembali tenang. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. ar-Rad: 27-28).

Tidak hanya masalah berat saja baru kita mengadu kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, apa pun masalahnya kita meminta kepada Allah Ta’ala dan memohon kepada Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan kesempurnaan tauhid seorang hamba.

Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah menjelaskan hendaknya kita meminta meskipun masalah remeh sekalipun seperti tali sandal yang putus. Beliau rahimahullah berkata,

” وفي الحديث دليل على أن الله يحب أن يسأله العباد جميع مصالح دينهم ودنياهم من الطعام والشراب والكسوة وغير ذلك ، كما يسألونه الهداية والمغفرة ، وفي الحديث : ( ليسأل أحدكم ربه حاجته كلها حتى شسع نعله إذا انقطع ) ، وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته ، وفي الإسرائيليات : أن موسى عليه الصلاة والسلام قال : يا رب ! إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا فأستحي أن أسألك . قال : سلني حتى ملح عجينك وعلف حمارك .

“Pada hadits terdapat dalil bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang meminta kepada-Nya semua maslahat agama dan dunia, baik berupa makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain sebagaimana mereka meminta hidayah dan ampunan. Dalam hadits disebutkan, ‘hendaklah setiap kalian meminta kepada Rabb-nya semua kebutuhan, sampai-sampai ketika tali sandalnya lepas’” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 2: 48).

Apabila ada masalah kita tidak mengadu kepada makhluk, tetapi kita diskusikan dan cari jalan keluarnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَ شَاوِرْهُمْ في الأَمْرِ

“Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” (QS. Al-Imran: 159).

Tentu tidak semua manusia bisa kita ajak musyawarah dan diskusi, tetapi orang yang berilmu dan berpengalaman dalam hal ini.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Tanyalah kepada ahlinya (orang yang berilmu) jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43).

Demikian, semoga bermanfaat.

@ Lombok, Pulau seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/60965-mengadu-kepada-allah-bukan-kepada-makhluk.html
Copyright © 2024 muslim.or.id