Gawai dalam Genggaman, Amal dalam Hitungan, bag. 2

Menjaga kehormatan diri

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kehormatan umatnya. Bukan hanya wanita muslimah saja yang perlu menjaga diri, namun laki-laki muslim juga perlu menjaga dirinya. Melalui media sosial, begitu mudahnya segala informasi itu bisa sampai kepada kita, baik sengaja maupun tidak sengaja. Jika kita tidak pandai-pandai menjaga dan membatasi diri, iklan yang mungkin hanya lewat itu bisa menyeret kita ke dalam kubangan maksiat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكُ ذَلِكَ لاَمَحَااَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِيْنَا هُمَا النَّظَرُ، َاْلأُذُنَانِ زِيْنَا هُمَا الاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِيْنَاهُ الْكَلاَمُ، وَالْيَدُ زِيْنِاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِيْنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوِى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّ بُهُ

“Setiap anak Adam telah mendapatkan bagian zina yang tidak akan bisa dielakkannya. Zina pada mata adalah melihat. Zina pada telinga adalah mendengar. Zina lidah adalah berucap kata. Zina tangan adalah meraba. Zina kaki adalah melangkah. (Dalam hal ini), hati yang mempunyai keinginan angan-angan, dan kemaluanlah yang membuktikan semua itu atau mengurungkannya.”

Ketahuilah saudariku.. siapakah yang paling gigih menarik anak Adam ke dalam perilaku maksiat? Paling gigih berbisik ‘lakukanlah, tidak ada yang melihat’ tatkala bersendirian. Dialah setan, musuh terbesar yang selalu menyeru kepada kemungkaran.

Allah Ta’ala berfirman,

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”  (QS. An-Nur: 21)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا . قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

“Niscaya aku akan melihat beberapa kaum dari umatku datang pada Hari Kiamat dengan kebaikan laksana gunung-gunung Tihamah yang putih, kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menjadikannya debu yang beterbangan.”

Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, jelaskanlah sifat mereka kepada kami, agar kami tidak menjadi bagian dari mereka sementara kami tidak tahu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ketahuilah, mereka adalah saudara kalian, satu bangsa, dan bangun malam sebagaimana kalian. Tapi jika mereka menyendiri dengan larangan-larangan Allah, mereka melanggarnya.” (HR. Ibnu Majah dan di-shahih-kan oleh al-Albani)

Maka wahai saudariku, jangan sampai kita merugi dan tertipu dengan diri sendiri. Sehingga menjadi orang yang menyesal di hari perhitungan kelak.

Jangan mencuri waktumu

Ketika kita melakukan pekerjaan yang merupakan kewajiban kita, maka jangan sampai gawai ini mencuri waktu-waktu kita.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ , شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ , وَصِحَّتِكَ قَبْلَ سَقْمِكَ , وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ , وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ , وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

”Ambillah kesempatan lima (keadaan) sebelum lima (keadaan). (Yaitu) Mudamu sebelum pikunmu, kesehatanmu sebelum sakitmu, cukupmu sebelum fakirmu, longgarmu sebelum sibukmu, kehidupanmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim)

Terlebih, bagi seorang pegawai, tentu bermain gawai ketika jam kerja adalah sesuatu yang tidak dibenarkan dan mengganggu kinerja. Atau seorang pelajar, bermain gawai di waktu pembelajaran juga bukan adab yang baik. Bagi seorang ibu yang mengurus rumah dan anak-anak, bermain gawai di sela-sela pekerjaan rumah akan menyebabkan pekerjaan rumah akan terlambat selesai, hidangan terlambat tersajikan sehingga mempengaruhi kelanjutan aktivitas berikutnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنْ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Tunaikanlah amanah kepada siapa saja yang memberi amanah terhadapmu dan jangan mengkhianati siapa saja yang mengkhianatimu.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Bersyukur atas Nikmat Kemudahan

Tidak bisa dipungkiri meski banyak yang harus kita jaga, namun adanya gawai dengan segala macam teknologinya adalah suatu kemudahan yang diberikan oleh Allah untuk umat manusia. Kita bisa menyimak kajian dari jarak jauh, sehingga dakwah Islam semakin meluas. Bisa berbelanja dan berbagi kepada orang lain dengan mudah sehingga lebih efektif dan efisien. Oleh karenaitu, hendaklah kita bersyukur dengan sebenar-benarnya.

Ibnu Qayyim menyebutkan rukun syukur, yaitu dengan mengakui bahwa nikmat itu berasal dari Allah, kemudian memuji Allah atas nikmat tersebut dan menggunakan nikmat yang telah diberikan tersebut untuk ketaatan kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”  (QS. An-Nahl: 114)

Tips-tips aman menggunakan gawai

Gawai ini sudah menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat modern masa ini. Bahkan, pekerjaan pun bisa jadi terikat dengan gawai. Maka hal yang bisa kita lakukan agar terhindar dari keburukan yang mungkin terlintas adalah memberikan batasan. Di antara batasan-batasan tersebut:

  1. Hanya menginstal aplikasi yang diperlukan

Ada banyak sekali aplikasi gratis yang tersedia untuk diunduh, namun tentu tidak semua kita perlukan. Maka, sebaiknya kita menginstal aplikasi yang betul-betul kita perlukan yang mendukung aktivitas harian kita.

  1. Mengikuti akun bermanfaat

Ketika kita menggunakan akun media sosial, seperti facebook, instagram, dan lainnya hendaknya kita mengikuti (mem-follow) akun-akun yang memberikan manfaat untuk akhirat dan dunia kita. Sehingga informasi yang muncul di beranda akun kita adalah sesuatu yang bermanfaat. Misalnya, akun para ustadz, akun nasehat islami, akun tips memasak, akun tentang pendidikan anak, dan lain sebagainya.

  1. Berteman dengan orang-orang yang baik

Selain mengikuti akun yang bermanfaat untuk lebih menjadikan beranda kita sejuk menyejukkan adalah hanya berteman dengan orang-orang yang kita ketahui bahwa dia adalah orang baik. Sehingga ketika mengunggah suatu informasi, akan mendapatkan respon yang positif. Jikalau unggahan itu sesuatu yang keliru, teman-teman kita akan memberikan nasihat dengan cara yang hikmah.

  1. Membatasi grup

Setiap komunitas selalu ingin mempunyai forum untuk bisa berinteraksi bersama yang pada akhirnya membentuk grup dalam aplikasi whatsApp. Coba bayangkan jika kita mengikuti atau terikat pada banyak forum, dan semua ada grup masing-masing, berapa grup yang akan ada dalam akun kita. Maka perlu kita pilah, manakah grup yang benar-benar memberikan manfaat dan penting bagi kita.

  1. Memberikan batasan waktu

Dunia maya itu seakan dunia tanpa batas. Jika kita menuruti keinginan semata, akan berlalu menit demi menit, jam demi jam tanpa kita sadari. Baik itu hanya sekedar berbalas pesan dengan seseorang, membaca berita-berita yang lewat atau bahkan hanya mencari-cari sesuatu resep atau tips memasak. Oleh karena itu, ketika akan memulai, maka sebaiknya kita berikan batasan waktu. Misalnya, saya ingin mencari resep kue brownies selama 10 menit. Maka ketika berlalu sepuluh menit, kita harus mengakhirinya.

Sebuah usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, meski itu adalah sesuatu yang sulit tentu tidak akan dibiarkan begitu saja oleh Allah Yang Maha Bijaksana. Di tengah hiruk pikuk media sosial dan dunia maya, kita berusaha menjaga diri dari segala fitnah untuk memperoleh manfaat yang banyak melalui gawai dengan menggunakannya dengan bijaksana.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-’Ankabut: 69)

Semoga Allah memberikan kebaikan kita di dunia dan di akhirat dan menjauhkan kita dari api neraka.. Amiin..

—

Referensi:

  • Ad-Da`u wa ad-Dawa’ u (terjemahan); Macam-Macam Penyakit Hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya, Ibnu Qayyim al-Jauziyyyah, Cetakan ke tiga, Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta: 2011
  • Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi, al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya Ibnu Syaraf an-Nawawi (Edisi Indonesia), Media Hidayah, Yogyakarta: 2006
  • Website almanhaj.or.id

Penulis: Rinautami Ardi Putri

Sumber: https://muslimah.or.id/17581-gawai-dalam-genggaman-amal-dalam-hitungan-bag-2.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Gawai dalam Genggaman, Amal dalam Hitungan, bag. 1

Bumi ini berputar dengan cepatnya, hari berlalu, bulan berganti, dan tahun pun bertambah. Zaman terus bertumbuh dengan begitu cepatnya, hingga terkadang kita merasa menjadi yang tertinggal, karena terseok dan terjatuh mengejarnya. Begitu banyak kemudahan yang diberikan oleh Allah melalui segala rupa teknologi. Rindu yang mendalam akan mudah terobati dengan pertemuan sesaat melalui ‘video call’, rasa yang terpendam akan terurai mudah dengan percakapan akrab melalui chatting. Bahkan, segala bentuk berita dan informasi akan sangat mudah terpapar melalui website dan media sosial yang telah digunakan hampir di seluruh penjuru dunia. Sehingga terkadang waktu, tenaga, bahkan harta terbuang sia-sia hanya sekedar mengikuti berbagai macam berita viral yang tersebar di media sosial yang diikutinya. Entah berita terkini, gaya hidup, politik, kuliner, fashion, wisata, dan lain sebagainya. Apalagi jika mengikuti permainan-permainan online atau menonton film sampai lupa waktu.

Sedikit demi sedikit, namun pasti hal-hal yang terpaparkan akan mempengaruhi kehidupan seorang muslim, jika dia tidak pandai-pandai dalam mengatur dan membatasi diri dari segala informasi yang tidak bermanfaat, hal itu mungkin saja bisa merusak diri dan agamanya. Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim mengetahui bagaimana memanfaatkan kemudahan ini dengan baik.

Tinggalkan yang tidak bermanfaat

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Salah satu tanda baiknya keislaman seseorang adalah dengan ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna bagi dirinya.” (Hadis hasan riwayat At-Tirmidzi dan lainnya)

Syaikh Utsaimin rahimahullah menyebutkan beberapa faedah dari hadis tersebut di antaranya adalah, setiap orang hendaknya meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat baginya, baik dalam urusan agama maupun dunianya. Yang demikian itu, lebih menjaga waktu, menyelamatkan agama, dan meringankan bebannya. Jika ia mengurusi urusan orang lain yang tidak bermanfaat baginya, pasti dia akan cepat lelah. Sebaliknya, jika dia berpaling dari urusan orang lain dan menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat baginya, maka itu akan membuatnya lebih tenang dan lapang.

Mengikuti berita-berita viral yang banyak tersebar melalui media sosial baik facebook, instagram, atau website tertentu hanya akan menambah beban pikiran kita, menyita waktu, dan tenaga serta emosi yang terkadang ikut tersulut. Tentulah hal itu akan mempengaruhi aktivitas keseharian kita. Karena  membaca berita viral yang berseri, bisa melalaikan dari tugas utama yang seharusnya kita kerjakan, bisa melalaikan kita dari waktu-waktu ibadah dan waktu mustajab untuk berdoa. Maka, hendaklah kita tidak berlarut-larut dan tidak memberikan tempat untuk hal yang semacam itu dalam diri kita. Sebagai gantinya, kita ubah arah bacaan kita kepada nasihat-nasihat dari ulama yang kini pun telah banyak tersebar. Maka akun medsos kita akan lebih bermanfaat dan menyejukkan hati.

Faedah lain yang dikemukakan Syaikh Utsaimin adalah bahwa setiap orang hendaknya tidak menyia-nyiakan segala hal yang bermanfaat baginya, baik dalam urusan agama maupun dunia. Hendaknya dia selalu menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat.

Tundukkan Pandangan

Telah masyhur sebuah ungkapan ‘dari mata turun ke hati’. Dan hal ini bukan hanya masalah cinta, namun karena pandangan adalah penuntun hati, setiap yang tampak oleh mata akan memberikan pengaruh kepada hati. Dengan melihat pemandangan alam yang indah, hati menjadi gembira, lapang, dan bersemangat. Namun terkadang, hati pun bisa terluka atau ternodai karena memandang hal-hal yang tidak seharusnya terlihat.

Inilah salah satu hal yang sulit kita hindari jika kita bermain di media sosial. Berbagai macam foto dan video yang terkadang menampakkan aurat, baik wanita maupun pria, terekspos dengan mudahnya. Akun-akun komersil yang menawarkan berbagai macam kemewahan dunia, berupa pakaian, aksesori, perhiasan, dan lainnya. Sedangkan, menahan pandangan adalah sebuah kemuliaan seorang muslim. Karena pandangan jika tidak dijaga akan mengirimkan getaran ke dalam hati, kemudian hati akan berangan-angan dan berkeinginan. Sedangkan, tidaklah semua keinginan bisa dan halal untuk diwujudkan.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُوْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ، فَمَنْ غَضَّ بَصَرَهُ عَنْ مَحَاسِنِ امْرَأَةٍ لله أَوْرَثَ الله قَلْبَهُ حَلاَوَةً إِلىَ يَوْمِ يَلْقَاهُ

“Pandangan merupakan anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Maka, barang siapa menahan pandangannya dari kecantikan seorang wanita karena Allah, niscaya Allah akan memberikan kenikmatan dalam hatinya sampai pertemuan dengan-Nya.” (HR. Al-Hakim dalam al–Mustadrak, IV/313)

Nabi memerintahkan untuk menundukkan pandangan dari apa saja yang tidak selayaknya kita lihat. Meski itu akan sulit dan memerlukan kesungguhan dalam melakukannya. Karena itu akan mengotori dan meninggalkan seberkas noda di dalam hati. Ada yang berkata: ‘Kesabaran menundukkan pandangan itu lebih ringan daripada kesabaran dalam menanggung beban akibatnya.”

Menahan Komentar dan Prasangka

Para pengguna media sosial pastilah paham, bahwa setiap berita yang diunggah terkadang menimbulkan pro dan kontra, memunculkan prasangka para warganet. Apalagi, disediakan tempat untuk beradu argumen dalam kolom komentar, bahkan terkadang memicu unggahan lain untuk membantah atau mendukung unggahan sebelumnya. Hal ini seperti sebuah alur alami yang terjadi di dunia media sosial. Maka, hendaknya sebagai seorang muslim menahan lisan dan hatinya untuk tidak turut berkomentar dan berbicara mengenai sesuatu yang tidak ia pahami. Hal itu lebih utama untuk menjaga kehormatan diri. Apalagi menjerumuskan diri ke dalam perdebatan yang tidak berujung karena tidak didasari dengan ilmu yang cukup. Terlebih, jika membawa permasalahan agama yang menyangkut firman Allah dan sabda Nabi, tentu para ahli ilmulah yang berhak untuk berbicara.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barang siapa menaati Allah dan Rasul–Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat.”  (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kita tidak tahu perkataan kita itu akan mengangkat kita beberapa derajat, ataukah perkataan itu akan menjatuhkan kita ke dalam api neraka. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam berbicara dan berkomentar adalah sebuah usaha untuk menjaga kemuliaan diri di hadapan Allah dan makhluk-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Unggahan tertentu sengaja dibuat agar menimbulkan prasangka warganet, sehingga akan menjadi buah bibir dimana-mana, baik di jejaring sosial maupun tempat-tempat bertemu. Mendorong orang-orang untuk berprasangka dan mencari-cari tentang berita tersebut. Namun, muslim yang bijak tentu tidak akan memberikan bagian dari hati dan pikirannya untuk hal-hal yang akan merugikannya di hari perhitungan kelak.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Syaikh as-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan, “Prasangka buruk yang menetap di hati seseorang tidak hanya cukup sampai di situ saja bagi yang bersangkutan, bahkan akan mendorongnya untuk mengatakan yang tidak seharusnya dan mengerjakan yang tidak sepatutnya yang di dalam hal itu juga tercakup berburuk sangka, membenci, dan memusuhi saudara sesama mukmin yang seharusnya tidak demikian.”  Maka, untuk menjaga kesucian hati, hendaknya seorang mukmin menjauhkan hal itu dari dirinya.

—

Penulis: Rinautami Ardi Putri

Sumber: https://muslimah.or.id/17579-gawai-dalam-genggaman-amal-dalam-hitungan-bag-1.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Meminta Kemenangan Dengan Doa

MEMINTA KEMENANGAN DENGAN DOA

Kaum Muslimin, rahimakumullah!

Perlu kita ketahui, bahwa doa adalah senjata seorang Mukmin. Doa bisa bermanfaat, baik untuk hal yang telah terjadi maupun belum terjadi. Doa bisa menolak dan melawan berbagai kesulitan dan bencana.

Dalam berbagai situasi genting, seorang Mukmin tidak akan mencari perlindungan kecuali kepada Allâh Azza wa Jalla . Dan hal tersebut akan mendatangkan pertolongan dan kecukupan dari Allâh Azza wa Jalla . Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ

Sesungguhnya doa itu bermanfaat baik untuk apa yang telah terjadi ataupun belum terjadi. Karena itu berdoalah kalian wahai para hamba Allâh!

Memang benar Ma’âsyiral Muslimin! Kita harus berdoa, dengan benar-benar tulus menghiba dan mengharap kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Dan di antara doa yang selalu kita minta kepada Allâh Azza wa Jalla adalah kemenangan atas musuh. Karena doa adalah senjata dan bantuan yang tidak mengecewakan, dengan izin Allâh Azza wa Jalla . Panjatkanlah doa ini sebagai amalan rutin setiap malam. Simaklah hadits shahih dari Abu Mas’ud al-Badri Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah pada suatu malam, maka itu akan mencukupinya.” [HR. Bukhari no. 5009 dan Muslim no. 808]

Maksudnya adalah mencukupinya dan menjaganya dari setiap hal buruk.

Dalam ayat tersebut disebutkan doa:

أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir. [Al-Baqarah/ 2: 286]

Artinya Engkaulah Pelindung kaum Mukminin, dengan memberi pertolongan dan penjagaan. Hanya kepada-Mu kami berlindung. Maka berilah kami kemenangan atas kaum kafir.

Bila kita baca sejarah hidup para Nabi dan kaum shalih, akan diketahui bahwa dalam menghadapi kondisi genting, mereka memohon pertolongan kepada Allâh Azza wa Jalla atas musuh dengan doa. Sehingga kemenangan datang; dan jadilah Mukminin mempunyai kedudukan tinggi; dan hilanglah rasa takut.

Di antara contohnya, seperti yang bisa kita resapi dari kisah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamuh g . Beliau berdoa meminta kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala agar diberi kemenangan.

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ ﴿١٠﴾ فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ

Maka dia mengadu kepada Rabbnya, “bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. [Al-Qamar/ 54: 10-11]


Lihat pula firman Allâh dalam Surat al-Anfâl:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

 (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” [Al-Anfâl/ 8: 9]

Mengenai sebab turunnya ayat ini, Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu meriwayatkan kala menceritakan Perang Badr. Umar Radhiyallahu anhu berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kiblat, menengadahkan kedua belah tangannya dan berdoa kepada Rabb-nya:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ آتِنِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تَعْبُدْ فِي الْأَرْضِ أَبَدًا

Ya Allâh! Wujudkanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku!
Ya Allâh! Berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku!
Ya Allâh! jika Engkau binasakan tentara Islam ini, Engkau tidak akan diibadahi di muka bumi ini.”

Rasul terus saja menyeru Rabbnya dengan menengadahkan dua tangannya menghadap kiblat, sampai-sampai kain selempang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terjatuh dari dua pundaknya. Abu Bakar Radhiyallahu anhu pun datang mengambilnya, dan meletakkannya kembali pada pundak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Lalu Abu Bakar Radhiyallahu anhu merapat kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari belakang, seraya berkata:

يَا نَبِيَّ اللَّهِ كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ إِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ

Wahai Nabi Allâh! Cukuplah permohonanmu kepada Rabbmu! Karena Allâh Azza wa Jalla pasti akan menunaikan apa yang telah Dia janjikan.”

Lalu Allâh Azza wa Jalla menurunkan ayat yang artinya: (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu… dan Allâh Azza wa Jalla memberikan bala bantuan dengan mengirim para malaikat.

Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim.

Kaum Muslimin, rahimakumullah!

Meminta kemenangan dengan doa adalah amalan yang sangat penting sekali, agar kesulitan yang mendera segera sirna dan kemenangan tiba. Di antara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memohon kemenangan adalah:

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ، وَمُجْرِيَ السَّحَابِ، وَهَازِمَ الأَحْزَابِ، اِهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ

Ya Allâh, Dzat Yang menurunkan Al-Quran, Yang menggerakkan awan, Yang mengalahkan komplotan tentara (kafir), kalahkanlah mereka dan menangkanlah kami atas mereka!”

Dan di antara dzikir yang paling agung untuk meminta kemenangan atas musuh adalah:

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Cukuplah Allâh menjadi Penolong kami dan Allâh adalah sebaik-baik Pelindung.

Ini adalah kalimat permintaan kemenangan sekaligus tawakkal kepada Allâh. Imam al-Bukhâri rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma berkata, “Itu adalah kalimat yang diucapkan Ibrahim Alaihissallam ketika dilempar ke dalam api; dan diucapkan pula oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika orang-orang berkata.


إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allâh menjadi Penolong kami dan Allâh adalah sebaik-baik Pelindung.” [Ali Imran/ 3: 173]

Kaum Mukminin itu bersaudara. Derita dan harapan mereka satu. Doa mereka akan dikabulkan Allâh Azza wa Jalla. Seorang Mukmin bagi Mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain. Dan hak Mukmin atas saudaranya sangatlah besar, di antaranya adalah agar ia tulus mendoakan saudara-saudaranya. Agar Allâh Azza wa Jalla memenangkan mereka, menghapuskan keresahan mereka, menjaga darah mereka, dan melindungi mereka dari segala fitnah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِم

Sesungguhnya Allâh menolong umat ini tidak lain dikarenakan orang-orang lemah di antara mereka, melalui doa, shalat dan keikhlasan mereka. [HR. An-Nasa’i]

Realita Muslimin saat ini begitu memilukan. Mereka diterjang ujian besar, fitnah yang bergejolak dan konspirasi dari para musuh Islam. Maka sudah sepantasnya agar seorang Muslim tidak lupa untuk mendoakan saudaranya, agar Allâh Subhanahu wa Ta’ala menolong kaum Muslim yang lemah, mencegah tertumpahnya darah mereka, dan memberi mereka keamanan.

Dan hendaknya seorang Mukmin yakin bahwa doa yang tulus akan terkabulkan. Ibnu Taimiyyah t berkata, “Hati yang sungguh-sungguh dari kaum Mukmin, dan doa baik mereka, itulah pasukan yang tidak terkalahkan; bala tentara yang tidak terlantarkan.”

Maka dari itu wahai hamba Allâh yang bertakwa, kita harus merenungkan hal ini. Kita perbanyak doa, meminta diberi kemenangan atas musuh. Agar Allâh menolak serangan musuh, menghancurkan mereka, menjaga kaum Muslimin dari kejahatan mereka, dan menjaga agama Muslimin, juga jiwa, harta dan negeri mereka. Sesungguhnya Allâh Maha Mengabulkan dan tidak mengecewakan yang meminta-Nya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XX/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Referensi : https://almanhaj.or.id/9530-meminta-kemenangan-dengan-doa.html

Ingin Betah Membaca Al-Qur’an? Tadabur Kuncinya

Bulan Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Bulan Ramadan disebut demikian karena Al-Qur’an diturunkan di bulan yang penuh keberkahan ini. Tahukah engkau bahwa malaikat Jibril mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi pada setiap malam di bulan Ramadan?

أن رسول الله -صلي الله عليه وسلم- كان من ‌أجود ‌الناس، وأجودُ ما يكون في رمضان، ‌حين ‌يلقاه ‌جبريلِ، يلقاه كل ليلة يدارسه القرآن، فكان رسول الله صلى الله عليه وسلم ‌حين ‌يلقاه ‌جبريل أجودَ من الريح المرسَلة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Kedermawanan beliau bertambah pada bulan Ramadan ketika malaikat Jibril datang menemui beliau. Jibril biasa menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadan untuk membacakan Al-Qur’an kepada beliau. Sungguh kedermawanan beliau di bulan ini lebih cepat daripada angin yang berhembus.” (HR. Ahmad (3/475 no. 3538))

Hadis ini adalah isyarat untuk kaum muslimin agar memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an di bulan Ramadan. Hal tersebut sudah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para salaf pun selalu berusaha menyibukkan diri dengan Al-Qur’an. Baik itu membaca, mentadaburi, dan mempelajarinya.

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadan setiap hari. Sebagian salaf mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh malam sekali. Bahkan Imam Asy-Syafi’i bisa mengkhatamkan 60 kali dalam salat ketika bulan Ramadan tiba. Benarlah perkataan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berikut ini.

لو طهرت قلوبكم ما شبعت من كلام الله

“Jika hati kalian bersih, niscaya kalian tidak akan bosan membaca Al-Qur’an.” (Mawa’id As-Sahabah lilumri Muqbil, hal 40)

Namun, banyak orang yang ternyata sulit menikmati momen membaca Al-Qur’an. Target khatam sekian kali malah menjadi beban yang hanya untuk ditunaikan saja. Mereka membaca Al-Qur’an hanya di lisan karena buru-buru dikejar deadline. Namun, di balik target khataman itu, ruh terasa kosong ketika membacanya. Tak sedikit yang akhirnya bosan hingga tak bisa berlama-lama bersama Al-Qur’an.

Padahal, Al-Qur’an adalah nutrisi bagi jiwa. Ialah satu-satunya kitab yang kita tak bisa mengubahnya tetapi ia bisa mengubah hidup kita. Mengapa kita tak betah membacanya? Bisa jadi karena kita tidak mentadaburinya.

Membaca Al-Qur’an tanpa mentadaburi dan memahaminya bukanlah petunjuk salafush shalih. Para salafush shalih berusaha memahami kandungan Al-Qur’an ketika membacanya.

Sebagai contoh, pada suatu kesempatan, Imam Ats-Tsauri mengimami salat. Ketika sampai ayat,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5)

Beliau pun menangis hingga terputus bacaannya sehingga beliau mengulangi dari awal. Mungkinkah beliau akan menangis jika tidak memahami maknanya?

Di kesempatan lain, Abdullah bin Mas’ud membaca surat Al-Muthaffifin hingga sampai di ayat,

يَّوۡمَ يَقُوۡمُ النَّاسُ لِرَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَ

“(Yaitu) pada hari (ketika) semua orang bangkit menghadap Rabb seluruh alam.” (QS. Al-Muthaffifin: 6)

Beliau pun menangis hingga tak mampu melanjutkan ke ayat berikutnya. Apakah mungkin beliau terdiam tak bisa melanjutkan ke ayat berikutnya jika tidak tahu apa yang ia baca?

Inilah letak kelezatan membaca Al-Qur’an itu. Yaitu ketika kita berusaha memahami dan mentadaburinya. Bukankah Al-Qur’an turun di antaranya untuk membersihkan hati kita? Dan bagaimana mungkin hati kita bersih jika tidak memahaminya?

Ketahuilah bahwa tadabur Al-Qur’an adalah ibadah yang agung, Yang mana Allah memotivasi kita melakukannya dalam firman-Nya berikut ini,

أَفَلَا ‌يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82)

Begitu juga dalam firman-Nya

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ ‌لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Inilah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadaburi ayat-ayatnya dan orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29)

Ibnu Taimiyyah dalam kitab Khulashah fii Tadabburi Al-Quranul Karim mengatakan, “Siapa saja yang mendengar kalamullah dan kalam Rasul dengan akalnya dan mentadaburinya dengan hatinya, ia akan mendapatkan pemahaman, rasa manis, dan keberkahan, yang mana tidak dia dapati hal tersebut pada kalam lainnya, baik dalam bentuk sajak maupun prosa.”

Ketahuilah saudariku, tidak ada kehidupan hati dan keselamatan jiwa tanpa membaca kitab yang mulia ini. Tentu yang dimaksud membaca di sini bukan hanya membaca dengan lisan saja, tetapi juga dengan hati. Sesungguhnya sifat seorang muslim akan tergambar dari interaksinya dengan Al-Qur’an. Ia akan mendapatkan kemuliaan, penjagaan, rahmat, petunjuk, dan peringatan dari interaksinya dengan Kitabullah tersebut.

Oleh karena itu, marilah kita tidak sekedar membaca Al-Qur’an dengan lisan saja. Berilah ruh kita nutrisi dengan berusaha memaknai apa yang kita baca. Ketika membaca Al-Quran, bacalah juga terjemahannya. Pun juga tafsir yang berhubungan dengan ayat-ayat tersebut. Alhamdulillah, kini telah terdapat banyak aplikasi yang memungkinkan kita membaca tafsir lewat layar handphone kita. Semoga tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak berusaha mentadabburi Al-Quran karena berbagai kemudahan telah Allah berikan di zaman ini.

Tak lupa, kita mohon kepada Allah kemudahan dalam membaca Al-Quran baik secara lisan maupun secara hati. Semoga Allah beri petunjuk dan kemudahan dalam melakukan ketaatan ini.

—

Penulis: Rahma Aziza Fitriana

Artikel Muslimah.or.id

Daftar Pustaka:

  • Khulashah fii Tadabburi Al-Quranul Karim, Khalid bin Utsman As-Sabt, Dar Al-Hadarah Lin Nashr wa At-Tauzi’, Tahun 1437H/2016 M.
  • Mawa’id As-Sahabah lilumri Muqbil, Umar bin Abdillah bin Muhammad Muqbil, Maktabah Dar Al-Minhaj Lin Nashr wa At-Tauzi’, Riyadh-KSA, Tahun 1435 H.
  • Musnad Ahmad, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Tahqīq Ahmad Muhammad Syakir, Darul Hadits-Kairo, Tahun 1416 H/1995 M.
  • Abu Ihsan Al-Atsari, tidak menyebutkan tahun. Renungan Ramadhan. Solo: At-Tibyan.
  • Syaikh Othmaan Al Kamees, 8 – لماذا سُمي رمضان بشهر القرآن؟ – عثمان الخميس (https://www.youtube.com/watch?v=UNDgxkKViP0 )
  • Tanpa Nama Penulis. البداية في تدبر القرآن الكريم (https://islamqa.info/ar/391921)

Sumber: https://muslimah.or.id/17813-ingin-betah-membaca-al-quran-tadabbur-kuncinya.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Curhat Hanya Kepada Allah

Semua orang pasti pernah merasakan sesuatu yang tidak diinginkan. Semua orang juga pasti mempunyai masalah dan problem kehidupan. Di saat tertentu orang hidup bahagia dan senang, di saat yang lain pula boleh jadi sedih dan pilu. Dan ini adalah sunnatullah.

Dalam menyikapi masalah kehidupannya, orang memiliki beragam tindakan untuk memecahkannya. Ada yang mencurahkan perasaan dan uneg-unegnya kepada keluarga, teman, atau bahkan kepada benda-benda mati. Apalagi sering dijumpai tidak sedikit orang yang apabila mempunyai problem, selalu ia curhatkan di jejaring sosial seperti facebook atau twitter sehingga semua manusia mengetahuinya.

Ada pula seseorang yang status upated-nya adalah kegalauan hidup, seakan-akan tiada hari tanpa kebahagiaan. Semua yang ditulisnya adalah situasi mengerikan dalam hidupnya. Masalah-masalah kepada teman, guru, orangtua, atau bahkan masalah rumah tangga pun diceritakannya di sana. Tak peduli apakah itu aib atau bukan.

Yang paling menyedihkan adalah tidak sedikit di antara kaum muslimin yang masih saja percaya kepada dukun dan peramal. Sehingga tatkala ia memiliki masalah, yang pertama kali terbetik dalam hatinya adalah segera mendatangi dukun untuk mencari solusi. Sungguh ini adalah kelemahan dan kebodohan. Tidakkah mereka tahu bahwa orang yang mendatangi dukun itu bisa menyebabkan kekafiran?!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافاً أوْكَاهِنافَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Siapa yang mendatangi peramal atau dukun lalu membenarkan apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” [Riwayat Imam Ahmad dalam Al Musnad, Al Hakim dalam Al Mustadrak dan menilainya shahih, dan Al Baihaqi]

Sesungguhnya semua masalah itu tidak sepantasnya disebar dan diceritakan kepada setiap orang yang diadukannya. Cukup semua perkara yang dihadapi seorang muslim hanya dicurhatkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Seorang muslim hanya akan menampakkan kelemahannya di hadapan Allah, tidak kepada makhluk yang sama-sama lemah. Oleh karena itu kita memiliki dzikir لَا حَوْلَ وَ لَا قوَّةّ إِلَّا بِا الله yang maknanya adalah tidak ada daya untuk menghindari kemaksiatan dan upaya untuk melakukan ketaatan kecuali kekuatan dari Allah.

Lihatlah Nabi Ya’qub ‘alaihissalam ketika menghadapi kesedihan berupa kehilangan putranya, Yusuf, sehingga anak-anaknya yang lain mengiranya akan bertambah sakit dan sedih. Maka dengarlah jawaban Nabi Ya’qub yang perlu diteladani setiap muslim,

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُوْ بثّيْ وَ حُزْنِيْ إِلَى اللهِ

“Dia (Ya’qub) menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS Yusuf: 86)

Benar saja. Jika seseorang menampakkan dan mengadukan kesedihan serta kesulitan kepada manusia, maka hal itu tidak meringankan kesedihan terdebut. Namun apabila seseorang mengadukan kesedihan itu kepada Allah, itu lah yang akan bermanfaat baginya. Bagaimana tidak? Sedangkan Allah Ta’ala telah menjanjikan hal itu dalam sejumlah firman-Nya. Jika Anda berkehendak, bacalah dan renungkanlah beberapa firman Allah ini,

وَ إِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” [QS Al Baqarah: 186]

Perhatikanlah ayat ini. Di dalam Al Quran yang biasa memakai uslub soal-jawab, biasanya setelah disebutkan pertanyaan akan diikuti dengan kata-kata قُلْ (katakanlah), seperti dalam Al Baqarah: 189, 215, 217, dan banyak lagi. Namun dalam ayat ini, Allah tidak menggunakan kata-kata قُل (katakanlah), namun langusung menjawabnya, “فَإِنِّى قَرِيْبٌ أُجِيْبُ …إلخ.” Ini menunjukkan bahwa kedekatan dan janji Allah itu benar-benar haq. Allah berfirman :

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الوَرِيْدِ

“Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [QS Qaf: 16]

Tentu saja kedekatan di sini adalah kedekatan ilmu, bukan Dzat Allah. Sebagaimana kesepakan Ahlussunnah wal Jama’ah. Sedangkan kedekatan Allah itu ada dua, yaitu (1) kedekatan ilmu-Nya, dan (2) kedekatan-Nya dengan orang yang beribadah dan berdoa kepada-Nya dengan pengkabulan, pertolongan, dan taufik (lihat Taisirul Karimir Rahman). Maka, sesungguhnya ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang samar baginya.

Jika Allah saja dekatnya sedemikian, maka tidak perlu lagi mencari tempat-tempat curhat dan mengeluhkan problem kepada selain-Nya. Karena, “Bukankah Allah itu cukup untuk hamba-Nya.” [QS Az Zumar: 36]

Diriwayatkan bahwa dahulu di zaman salaf, segala perkara yang mereka hadapi, kecil atau besar, selalu diadukan kepada Allah. Sampai garam dapur pun, mereka meminta kepada Allah. Atau sebagian riwayat, sampai tali sandal yang terpuus pun, diadukan kepada Allah.

Rasulullah sendiri mengajarkan kepada keponakannya yang masih kecil agar hanya meminta dan memohon kepada Allah, “Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah” [Riwayat At Tirmidzi. Beliau berkomentar, “(Hadits ini) hasan shahih.”] Jika anak kecil saja diajarkan seperti itu, bagaimana yang lainnya? Tentu lebih lagi.

Inilah potret pendidikan Rasulullah, yaitu menanamkan akidah yang benar kepada umatnya sejak kecil agar terpatri kuat di sanubari orang tersebut. Dan pendidikan macam inilah yang seharusnya ditiru oleh para orangtua mana pun.

Demikian juga dengan orang yang dirundung bingung antara dua pilihan, jika ia harus memilih.Seluruh ajaran Islam adalah penyeraad diri kepada Allah. Segala masalah harus diserahkan kepada Allah, tidak kepada selain-Nya.

Ketika Anda tertimpa sakit, hendaknya yang pertama kali terbetik dalam hati Anda adalah segera kembali kepada Allah ‘Azza wa Jall.

أَمِنْ يُجِيْبُ المُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَ يَكْشِفُ السُّوْءَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.” [QS. An Naml: 62]

Ini semua bukan berarti tidak boleh sama sekali meminta pendapat kepada orang lain. Karena Allah sendiri juga berfirman yang artinya, “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam perkara itu.” [QS Ali ‘Imran: 159] Akan tetapi, mana yang ia dahulukan. Datang mengadu kepada Allah dahulu, atau mendatangi manusia untuk berkeluh kesah.

Berikut saya kutipkan beberapa hadits beserta sedikit penjelasannya yang berkaitan dengan doa, agar Anda menjadi semakin yakin bahwa kekuatan itu ada pada doa. Dan sesungguhnya seluruh makhluk itu lemah, kecuali orang yang mau berdoa. Bahkan benda-benda mati pun berdoa dan berdzikir, sebagaiman pernyataan Allah dalam surat Al Isra’ ayat 44. Maka jika benda yang tidak berakal saja terus bertasbih dan mengingat-Nya, bagaimana pula dengan manusia yang berakal?!

لا يَرُدُّ القَضَاء إلا الدُّعَاء

“Tidak ada yang dapat menolak qadha’ kecuali doa.” [Riwayat At Tirmidzi, Ibnu Hibban, dari hadits Salman Al Farisi. Dinilai shahih oleh Ibnu Hibban. Dikeluarkan juga Al Hakim, dinilainya shahih. At Tirmidzi mengatakan, “Hasan gharib.” Dan tidak menilanya shahih, karena dalam sanadnya terdapat Abu Maudud Al Bashri yang namany adalah Fidhdhah. Abu Hatim berkata,”Dha’if.” Juga ditakhrij oleh Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kubra dan Adh Dhiya’  dalam Al Mukhtarah. Lihat Tuhfatudz Dzakirin hal. 29]

Al Qadhi Asy Syaukani rahimahullah berkata, “Di dalamnya terdapat dalil bahwa Allah Subahanahu wa Ta’ala menolak dengan doa sesuatu yang telah Dia tetapkan atas seorang hamba. Dalam mas-alah ini telah diriwayatkan banyak hadits. Dan yang menguatkan adalah firman Allah yang artinya, ‘Allah menghapus apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan (apa yang dikehendaki-Nya). Dan di sisi-Nya terdapat ummul kitab.”

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia di sisi Allah dari doa” [Direkam oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Al Bukhari dalam Tarikh-nya,  At Tirmidzi dalam Jami’-nya,  dan Ibnu Majah, Al Hakim dalam Mustadrak-nya, dari hadits Ibunda ‘Aisyah. Al Hakim menilainya shahih, dan disepakati oleh Adz Dzahabi]

Al ‘Allamah Abul ‘Ula Muhammad bin ‘Abdurrahman Al Mubarakfuri rahimahullah mengatakan dalam syarahnya, Tuhfatul Ahwadzi [2421], “Karena di dalamnya (yaitu doa) terdapat penampakkan kefakiran, ketidakmampuan, penghinaan (diri), dan pengakuan terhadap kekuatan dan kemampuan (kudrat) Allah.”

Oleh karena doa itu sesuatu yang mulia di sisi Allah, maka tidak heran jika Rasulullah juga bersabda:

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ الله يَغْضَبْ عَلَيْه

“Siapa yang tidak meminta kepada Allah, Dia akan murka kepadanya” [Riwayat At Tirmidzi dan Al Hakim, dari hadits Abu Hurairah]

Hadits ini senada dengan firman Allah Ta’ala yang artinya, “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [QS Ghafir: 60]

Rasulullah shalawaturrabbi wa salamuh ‘alaih juga pernah bersabda:

لَا تَعْجِزُوْ فِي الدُّعَاءِ فَإِنّهُ لَنْ يَهْلِكَ مَعَ الدُّعَاءِ أَحَدٌ

“Jangan kalian lemah (sedikit) dalam berdoa. Karena tidak akan binasa orang yang selalu berdoa.” [Direkam oleh Ibnu Hibban dalam Ash Shahih, Al Hakim dalam Al Mustadrak, Adh Dhiya’ dalam Al Mukhtarah. Ketiganya menilainya shahih. Lihat Tuhfatudz Dzakirinhal. 31]

Allahu a’lam.

Semoga shalawat beriringan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, shahabat, dan siapa saja yang senantiasa mengikuti mereka dengan baik hingga kiamat kelak.

—

Penulis: Ibnu Mawardi

Sumber: https://muslim.or.id/10477-curhat-hanya-kepada-allah.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Merasa Diawasi Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, baik ketika dilihat orang lain ataupun ketika bersendirian. Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا كَرِهَ اللَّهُ مِنْكَ شَيْئًا، فَلَا تَفْعَلْهُ إِذَا خَلَوْتَ

“Segala perbuatan yang Allah benci dari dirimu untuk dilakukan, maka janganlah kamu lakukan hal tersebut ketika kamu bersendirian.“ (HR. Ibnu Hibban no. 403 dan Adh–Dhiyaa’ dalam Al–Mukhtarat no. 1393. Al-Albani menyatakan hasan lighairihi. Lihat As–Silsilah As-Shahihah no. 1055)

Hal ini karena jiwa manusia itu menjadi lemah ketika dalam kondisi bersendirian, sehingga terdorong serta lebih berani untuk melakukan kemaksiatan ketika itu. Karena pada saat itu, tidak ada orang lain yang melihatnya.

Keyakinan bahwa Allah senantiasa melihat seorang hamba dan juga mengawasi gerak-gerik dirinya merupakan penghalang terbesar dari bermaksiat kepada-Nya. Dia senantiasa ingat bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Bahkan, hampir dalam setiap lembaran mushaf Al-Quran yang mulia terdapat ancaman yang besar dan peringatan yang tegas tentang hal ini, di antaranya firman Allah Ta’ala berikut ini,

وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيم

“Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)

وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِير

“Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 234)

وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعۡلِنُونَ

“Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan.” (QS. An-Nahl: 19)

وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا

“Dan tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya (pula).” (QS. Al-An’am: 59)

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُۥۖ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.” (QS. Qaf: 16)

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُۚ

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah: 235)

وَمَا تَكُونُ فِي شَأۡن وَمَا تَتۡلُواْ مِنۡهُ مِن قُرۡءَان وَلَا تَعۡمَلُونَ مِنۡ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيۡكُمۡ شُهُودًا إِذۡ تُفِيضُونَ فِيهِۚ

“Kamu tidaklah berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.” (QS. Yunus: 61)

Hendaknya seseorang menyadari dan waspada bahwa keadaannya itu seperti orang-orang yang Allah sebutkan dalam firman-Nya,

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلاَ يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لاَ يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah. Padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridai.” (QS An-Nisaa’: 108)

Sekali lagi, tidak ada seorang pun yang tersembunyi dari Allah. Sesuatu yang tersembunyi di malam hari, baik di tempat yang tersembunyi atapun tampak, semuanya sama saja bagi Allah. Allah Ta’ala berfirman,

يَعۡلَمُ خَآئِنَةَ ٱلۡأَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِي ٱلصُّدُورُ

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang makna ayat ini, “Allah menginformasikan tentang ilmunya yang sempurna yang meliputi segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang kecil maupun yang besar. Semua Allah ketahui secara rinci dan mendetail agar manusia waspada bahwa Allah mengetahui juga kondisi mereka. Maka milikilah sikap malu kepada Allah dan bertakwalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan hendaknya merasa selalu diawasi oleh Allah yang melihat dirinya. Allah Ta’ala mengetahui pandangan khianat dan yang menjaga amanat, dan Allah mengetahui berbagai rahasia dan yang tersembunyi di dalam hati.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 137)

Betapa banyak kita jumpai ayat Al-Quran yang menyebutkan suatu amal dan balasannya, kemudian ditutup dengan menyebutkan bahwa ilmu Allah itu senantiasa meliputi semuanya. Hal ini bertujuan agar hati manusia itu waspada dan menaruh perhatian untuk menyempurnakan dan memperbaiki hatinya, sehingga dia senantiasa memiliki rasa harap (ar-raja’) dan takut (al-khauf).

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dalam Az-Zuhud (no. 137), “Dahulu, (materi) dakwah Bakr bin ‘Abdillah al-Muzanny kepada orang yang berjumpa dengannya adalah dengan mengatakan kepada mereka, “Semoga Allah menjadikan kita memiliki sifat zuhud terhadap perbuatan haram dan dosa ketika bersendirian. Ketahuilah bahwa Allah melihatnya, maka tinggalkanlah.“

Ini adalah kedudukan yang agung dalam sikap zuhud, yaitu seseorang meninggalkan dosa dalam keadaan bersendirian karena takut kepada azab dan hukuman Allah, bukan karena riya’ dan sum’ah. Dia melakukannya hanya karena Allah semata. Sehingga hal ini merupakan di antara bentuk ibadah paling agung yang dilakukan oleh seorang hamba kepada Rabbnya.

Abu Hatim Al-Busty mengatakan, “Poros ketaatan seseorang di dunia ini adalah memperbaiki hati dan meninggalkan hal-hal yang merusak hati. Wajib bagi orang yang berakal untuk perhatian dan semangat dalam memperbaiki hatinya, baik ketika di hadapan orang lain maupun ketika sendirian, baik ketika bergerak ataupun diam, karena hilangnya waktu dan penyebab penderitaan tidaklah terjadi kecuali dengan rusaknya hati.“ (Raudhatul ‘Uqola’ wa Nazhatu al–Fudholaa, hal. 27)

Malik bin Dinar berkata, “Sesungguhnya hati orang yang baik senantiasa sibuk dengan amal kebaikan. Adapun hati orang fajir itu senantiasa sibuk dengan amal keburukan. Sesungguhnya Allah melihat keinginan yang ada di hati kalian. Maka senantiasa perhatikanlah hal tersebut, semoga Allah merahmati kalian.“ (HR. Ibnu Abid Dunya dalam Al–Hamm wal Hazn no. 112. Lihat dalam Raudhatul ‘Uqola’ wa Nuzhatu al–Fudholaa’ hal. 27)

Maksudnya, kita harus senantiasa ingat bahwa Rabbul ‘alaamin senantiasa mengetahui dan mengawasi keinginan hati kita. Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba berusaha untuk memperbaiki keinginan hatinya dan menjadikan keinginan hatinya hanya satu, yaitu untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat dengan meraih rida Allah.

Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ الْمَعَادِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهِ هَلَكَ

“Barangsiapa menjadikan segala macam keinginannya hanya satu, yaitu keinginan tempat kembali (negeri akhirat), niscaya Allah akan mencukupkan baginya keinginan dunianya. Dan barangsiapa yang keinginannya beraneka ragam pada urusan dunia, maka Allah tidak akan mempedulikan di manapun dia binasa.” (HR. Ibnu Majah no. 4106)

***

@BA, 20 Syawal 1445/ 29 April 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahaadits Ishlaahil Quluub, bab 35; karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Sumber: https://muslim.or.id/93489-merasa-diawasi-allah.html