Stalking Termasuk Zina Hati?

Mengagumi lawan jenis karena keahlian atau pencapaian yang diraihnya adalah sesuatu yang wajar. Tetapi jika kekaguman ini mengantarkan pada perilaku yang melampaui batas wajar, maka hal ini bisa berbahaya. Sebagian orang yang memiliki kekaguman kepada orang lain membuat dia mencari dan terus mencari info tentang orang tersebut. Dia pun stalking seluruh sosmednya, melihat riwayat postingan dan tulisannya, penasaran dan mencari kabar terbaru tentangnya.

Jika hal ini dilakukan terus menerus, maka sulit sekali untuk selamat dari zina mata dan zina hati. Zina mata karena terus memandanginya dan zina hati karena membayangkannya yang bisa memancing gejolak syahwatnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925)

Jika seorang laki-laki atau perempuan mulai mengagumi lawan jenisnya bahkan tumbuh rasa cinta dalam hatinya, maka dia akan terperangkap dalam gejolak asmara, hidupnya jadi tak tenang jika tidak mendengar kabarnya, tidurnya jadi tidak nyenyak karena terus memikirkannya. Itulah yang disebut dengan al-‘isyq.

Jika seseorang sudah terperangkap dalam gejolak cinta ini maka akal dan hatinya bisa tertutup. Tak ada yang bisa mengembalikan akal dan hatinya itu kecuali kesungguhan dirinya untuk menghilangkannya atas izin Allah Ta’ala. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

هَذَا مَرَضٌ مِنْ أَمْرَاضِ الْقَلْبِ مُخَالِفٌ لِسَائِرِ الْأَمْرَاضِ فِي ذَاتِهِ وَأَسْبَابِهِ وَعِلَاجِهِ وَإِذَا تَمَكّنَ وَاسْتَحْكَمَ عَزّ عَلَى الْأَطِبّاء دَوَاؤُهُ وَأَعْيَا الْعَلِيلَ دَاؤُهُ

“Gejolak cinta merupakan jenis penyakit hati yang memerlukan penanganan khusus. Disebabkan perbedaan dengan jenis penyakit lain, baik dari segi bentuk, penyebab maupun terapinya. Jika telah menggerogoti kesucian hati manusia dan mengakar dalam hati, sulit bagi para dokter mencarikan obat penawarnya dan penderita sulit disembuhkan.” (Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairi Ibad, 4/265-274)

Di antara solusi yang paling manjur untuk mengobatinya adalah menikah dan hidup bersama dengannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَمْ أَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ

“Aku belum pernah melihat solusi untuk dua orang yang saling jatuh cinta, selain nikah.” (HR Ibnu Majah, no. 1847)

Namun jika tidak sanggup, maka tak ada solusi lain selain melupakannya dan menjauhi segala sarana yang bisa mengingatkannya dengan orang tersebut.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/stalking-termasuk-zina-hati.html

Saudaraku, Inilah Pentingnya Ilmu Agama

Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.

Saudaraku yang dirahmati Allah, bagi seorang muslim belajar ilmu agama bukan sekedar kegiatan sampingan. Kalau ada waktu dikerjakan dan kalau tidak ada ya tidak mengapa ditinggalkan. Bukan demikian! Ilmu adalah kebutuhan kita sehari-hari…

Diantara dalil yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah, 

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا

“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Mulk : 2). 

Sebagaimana telah ditafsirkan oleh para ulama bahwa yang dimaksud paling bagus amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas yaitu jika dikerjakan karena Allah, sedangkan benar maksudnya mengikuti tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan, tidak mungkin seorang bisa ikhlas dan mengikuti tuntunan kecuali jika berlandaskan dengan ilmu.

Dalil yang lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini sebagaimana telah diterangkan pula oleh para ulama menunjukkan bahwa paham tentang ilmu agama adalah syarat mutlak untuk menjadi baik. 

Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah menerangkan, diantara faidah hadits di atas adalah : 

  • Dorongan untuk menimba ilmu (agama) dan motivasi atasnya
  • Penjelasan mengenai keutamaan para ulama di atas segenap manusia
  • Penjelasan keutamaan mendalami ilmu agama di atas seluruh bidang ilmu
  • Pemahaman dalam agama merupakan tanda Allah menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba

(lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 2/59)

Dengan demikian, ketika kita berbicara mengenai keutamaan belajar ilmu agama sesungguhnya kita sedang membahas mengenai pentingnya seorang muslim mencapai keridhaan Allah dan cinta-Nya. Karena tidak mungkin dia bisa mendapatkan kecintaan Allah dan ampunan-Nya kecuali dengan mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan bagaimana mungkin dia akan bisa mengikuti ajaran jika dia tidak membangun agamanya di atas ilmu dan pemahaman?!

Allah berfirman,

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣١

“Katakanlah; Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (rasul) niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Al-Imran: 31)

Allah berfirman,

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥

“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama/amal untuk-Nya dengan hanif, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Allah berfirman,

فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا

“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Allah juga berfirman,

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣ 

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)

Ayat-ayat di atas dengan gamblang menunjukkan kepada kita bahwa setiap muslim harus :

  • Mengikuti tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • Beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan bersih dari syirik
  • Melandasi amal salihnya dengan keimanan dan tauhid
  • Tunduk kepada syari’at Allah, menegakkan sholat dan membayar zakat
  • Menegakkan nasihat dan kesabaran

Sementara tidak mungkin melakukan itu semuanya kecuali dengan dasar ilmu dan pemahaman.

Maka sekali lagi, belajar ilmu agama ini bukan kegiatan sampingan. Ini adalah kebutuhan setiap insan. Tidakkah kita ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu (agama) niscaya Allah akan mudahkan baginya dengan sebab itu jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Setiap kita butuh bantuan Allah untuk bisa istiqomah dalam beragama hingga akhir hayat. Lantas bagaimana seorang hamba bisa istiqomah apabila dia tidak berpegang dengan ilmu agama?

Akar atau kunci istiqomah terletak pada keistiqomahan hati; sejauh mana hati itu tunduk kepada Allah dan mengagungkan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah istiqomah  iman seorang hamba sampai istiqomah hatinya.” (HR. Ahmad, dinyatakan sahih oleh al-Albani). Hadits ini menunjukkan bahwa keistiqomahan anggota badan tergantung pada keistiqomahan hati, sedangkan keistiqomahan hati adalah dengan mengisinya dengan kecintaan kepada Allah, cinta terhadap ketaatan kepada-Nya dan benci berbuat maksiat kepada-Nya (lihat mukadimah Syarh Manzhumah fi ‘Alamati Shihhatil Qalbi, hal. 5-6)

Mengakui Kebodohan

Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan:

Beruntunglah orang yang bersikap inshof/objektif kepada Rabbnya. Sehingga dia mengakui kebodohan yang meliputi ilmu yang dia miliki. Dia pun mengakui berbagai penyakit yang berjangkit di dalam amal perbuatannya. Dia juga mengakui akan begitu banyak aib pada dirinya sendiri. Dia juga mengakui bahwa dirinya banyak berbuat teledor dalam menunaikan hak Allah. Dia mengakui betapa banyak kezaliman yang dia lakukan dalam bermuamalah kepada-Nya. 

Apabila Allah memberikan hukuman kepadanya karena dosa-dosanya maka dia melihat hal itu sebagai bukti keadilan-Nya. Namun apabila Allah tidak menjatuhkan hukuman kepadanya dia melihat bahwa hal itu murni karena keutamaan/karunia Allah kepadanya. Apabila dia berbuat kebaikan, dia melihat bahwa kebaikan itu merupakan anugerah dan sedekah/kebaikan yang diberikan oleh Allah kepadanya. 

Apabila Allah menerima amalnya, maka hal itu adalah sedekah kedua baginya. Namun apabila ternyata Allah menolak amalnya itu, maka dia sadar bahwa sesungguhnya amal semacam itu memang tidak pantas dipersembahkan kepada-Nya. 

Dan apabila dia melakukan suatu keburukan, dia melihat bahwa sebenarnya hal itu terjadi disebabkan Allah membiarkan dia dan tidak memberikan taufik kepadanya. Allah menahan penjagaan dirinya. Dan itu semuanya merupakan bentuk keadilan Allah kepada dirinya. Sehingga dia melihat bahwa itu semuanya membuatnya semakin merasa fakir/butuh kepada Rabbnya dan betapa zalimnya dirinya. Apabila Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya hal itu semata-mata karena kebaikan, kemurahan, dan kedermawanan Allah kepadanya. 

Intisari dan rahasia dari perkara ini adalah dia tidak memandang Rabbnya kecuali selalu melakukan kebaikan sementara dia tidak melihat dirinya sendiri melainkan orang yang penuh dengan keburukan, sering bertindak berlebihan, atau bermalas-malasan. Dengan begitu dia melihat bahwasanya segala hal yang membuatnya gembira bersumber dari karunia Rabbnya kepada dirinya dan kebaikan yang dicurahkan Allah kepadanya. Adapun segala sesuatu yang membuatnya sedih bersumber dari dosa-dosanya sendiri dan bentuk keadilan Allah kepadanya.

(lihat al-Fawa’id, hal. 36)

Demikian sekelumit cuplikan nasihat dan renungan, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi penulis dan segenap pembaca. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. 

Yogyakarta, 23 Syawwal 1441 H / 15 Juni 2020 

Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi

Sumber: https://muslim.or.id/57143-saudaraku-inilah-pentingnya-ilmu-agama.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Hidayah Adalah Sebaik-Baik Nikmat Allah Ta’ala

Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama kita, menyempurnakan nikmat-nikmatnya, dan menjadikan kita -umat islam- sebagai sebaik-baik umat. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah yang diutus oleh Allah sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh manusia), qudwatan lil ‘amilin (teladan bagi seluruh manusia), dan hujjatan lis salikin (pembela di akhirat bagi orang-orang yang menjalani kebenaran), beserta keluarga, para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Sesungguhnya Allah Ta’ala banyak sekali memberikan nikmat-nikmat-Nya kepada para hamba-Nya, dengan memberikan hidayah kepada dinul islam, agama yang Allah ridhoi, dimana Allah tidak akan menerima agama selainnya.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu” (QS. al-Maidah: 3).

Pada ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran :19).

Dan juga firman-Nya:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imran: 85).

Juga firman-Nya pada ayat yang lain:

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ (7) فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. al-Hujurat: 7-8).

Oleh karena itu, ketahuilah bahwa karunia Allah yang paling besar kepada para hambanya adalah hidayah kepada agama ini, serta taufiq yang dengannya seorang hamba dapat berpegang teguh dengan hidayah Allah Ta’ala hingga bisa selamat baik di dunia maupun di akhirat kelak, dan mendapatkan kebahagian yang abadi.

Ya Allah jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang selalu mendapatkan hidayah-Mu.

Aamiin.

***

Penulis: Ust. Fuad Hamzah Baraba Lc.

Sumber: https://muslim.or.id/28401-hidayah-adalah-sebaik-baik-nikmat-allah-taala.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Tidak Ada Rasisme dalam Islam

Rasisme Dalam Pandangan Islam

Perbuatan rasisme tentu tidak sesuai dengan fitrah manusia manapun. Meremehkan, merendahkan dan menghina orang lain hanya karena berbeda suku, berbeda warna kulit, berbeda bangsa atau negara. Kita dapati rasisme ini masih ada di beberapa tempat di dunia ini dan ini memang yang sangat tidak kita harapkan. Ketahuilah, Islam agama yang mulia telah menghapus dan mengharamkan rasisme tersebut di muka bumi ini. Semua orang pada asalnya sama kedudukannya dan memiliki hak-hak dasar kemanusiaan yang sama serta tidak boleh dibedakan, satu di istimewakan dan satu lagi dihinakan hanya karena alasan perbedaan suku, ras, bangsa semata.

Lihat-lah bagaimana Bilal bin Rabah, seorang sahabat yang mulia. Beliau adalah mantan budak dan berkulit hitam legam, tetapi kedudukan beliau tinggi di antara para sahabat. Beliau telah dipersaksikan masuk surga secara khusus yang belum tentu ada pada semua sahabat lainnya.[1] Beliau juga adalah sayyid para muadzzin dan pengumandang adzan pertama umat Islam.[2]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abu Dzar,

 ﺍﻧْﻈُﺮْ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ ﻣِﻦْ ﺃَﺣْﻤَﺮَ ﻭَﻻَ ﺃَﺳْﻮَﺩَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻥْ ﺗَﻔْﻀُﻠَﻪُ ﺑِﺘَﻘْﻮَﻯ

“Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.”[3]

Allah menciptakan kita berbeda-beda agar kita saling mengenal satu sama lainnya. Yang membedakan di sisi Allah hanyalah ketakwaannya. Perhatikan ayat berikut:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻧَّﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺫَﻛَﺮٍ ﻭَﺃُﻧْﺜَﻰ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻛُﻢْ ﺷُﻌُﻮﺑًﺎ ﻭَﻗَﺒَﺎﺋِﻞَ ﻟِﺘَﻌَﺎﺭَﻓُﻮﺍ ﺇِﻥَّ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗْﻘَﺎﻛُﻢْ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (Al-Hujurat: 13)

Jadi kita diciptakan berbeda-beda suku, ras dan bangsa agar kita saling mengenal. Allah menegaskan setelah ayat ini bahwa yang paling mulia adalah yang paling taqwa. Ath-Thabari menafsirkan,

 ﺇﻥ ﺃﻛﺮﻣﻜﻢ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﺪ ﺭﺑﻜﻢ ، ﺃﺷﺪﻛﻢ ﺍﺗﻘﺎﺀ ﻟﻪ ﺑﺄﺩﺍﺀ ﻓﺮﺍﺋﻀﻪ ﻭﺍﺟﺘﻨﺎﺏ ﻣﻌﺎﺻﻴﻪ ، ﻻ ﺃﻋﻈﻤﻜﻢ ﺑﻴﺘﺎ ﻭﻻ ﺃﻛﺜﺮﻛﻢ ﻋﺸﻴﺮﺓ

“Yang paling mulia di sisi Rabb kalian adalah yang paling bertakwa dalam melaksanakan perintah dan menjauhi maksiat. Hukan yang paling besar rumah atau yang paling banyak keluarganya.”[4]

Bahkan Islam melarang keras bentuk ta’assub yaitu membela serta membabi buta hanya berdasarkan suku, rasa atau bangsa tertentu, tidak peduli apakah salah atau benar, dzalim atau terdzalimi.

Perkatikan hadits berikut, Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu,ia berkata:

ﻛُﻨَّﺎ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓِﻰ ﻏَﺰَﺍﺓٍ ﻓَﻜَﺴَﻊَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻳﻦَ ﺭَﺟُﻼً ﻣِﻦَ ﺍﻷَﻧْﺼَﺎﺭِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻷَﻧْﺼَﺎﺭِﻯُّ ﻳَﺎ ﻟَﻸَﻧْﺼَﺎﺭِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻯُّ ﻳَﺎ ﻟَﻠْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻳﻦَ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ‏« ﻣَﺎ ﺑَﺎﻝُ ﺩَﻋْﻮَﻯ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ‏» . ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﺴَﻊَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻳﻦَ ﺭَﺟُﻼً ﻣِﻦَ ﺍﻷَﻧْﺼَﺎﺭِ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ‏« ﺩَﻋُﻮﻫَﺎ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻣُﻨْﺘِﻨَﺔٌ ‏»

”Dahulu kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Gaza, Lalu ada seorang laki-laki dari kaum Muhajirin yang memukul pantat seorang lelaki dari kaum Anshar. Maka orang Anshar tadi pun berteriak: ‘Wahai orang Anshar (tolong aku).’ Orang Muhajirin tersebut pun berteriak: ‘Wahai orang muhajirin (tolong aku).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Seruan Jahiliyyah macam apa ini?!.’ Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, seorang muhajirin telah memukul pantat seorang dari kaum Anshar.’ Beliau bersabda: ‘Tinggalkan hal itu, karena hal itu adalah buruk.’ ” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)

Bagaimana Menyikapi Isu Rasisme?

Alhamdulillah, kita diberi anugrah Islam, walaupun berbeda-beda suku, ras dan bangsa kita semua bersaudara dan disatukan dalam agama Islam. Allah berfirman,

ﻭَﺍﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﻧِﻌْﻤَﺔَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺇِﺫْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺃَﻋْﺪَﺍﺀً ﻓَﺄَﻟَّﻒَ ﺑَﻴْﻦَ ﻗُﻠُﻮﺑِﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺻْﺒَﺤْﺘُﻢْ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺘِﻪِ ﺇِﺧْﻮَﺍﻧًﺎ

“Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (Ali Imran: 103)

@Masjid Kampus UGM, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Dari Abu Hurairah, beliau berkata,

ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠّﻢَ ﻟِﺒِﻼَﻝٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﻐَﺪَﺍﺓِ ﻳَﺎ ﺑِﻼَﻝُ ﺣَﺪِّﺛْﻨِﻲ ﺑِﺄَﺭْﺟَﻰ ﻋَﻤَﻞٍ ﻋَﻤِﻠْﺘَﻪُ ﻋِﻨْﺪَﻙَ ﻓِﻲ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡِ ﻣَﻨْﻔَﻌَﺔً ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻠَﺔَ ﺧَﺸْﻒَ ﻧَﻌْﻠَﻴْﻚَ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻱَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻗَﺎﻝَ ﺑِﻼَﻝٌ ﻣَﺎ ﻋَﻤِﻠْﺖُ ﻋَﻤَﻼً ﻓِﻲ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡِ ﺃَﺭْﺟَﻰ ﻋِﻨْﺪِﻱْ ﻣَﻨْﻔَﻌَﺔً ﻣِﻦْ ﺃَﻧِّﻲ ﻻَ ﺃَﺗَﻄَﻬَّﺮُ ﻃُﻬُﻮْﺭًﺍ ﺗَﺎﻣًّﺎ ﻓِﻲ ﺳَﺎﻋَﺔٍ ﻣِﻦْ ﻟَﻴْﻞٍ ﻭَﻻَ ﻧَﻬَﺎﺭٍ ﺇِﻻَّ ﺻَﻠَّﻴْﺖُ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﺍﻟﻄُّﻬُﻮْﺭِ ﻣَﺎ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻲْ ﺃَﻥْ ﺃُﺻَﻠِّﻲَ ‏

“Rasulullah bersabda kepada Bilal setelah menunaikan shalat subuh, ‘Wahai Bilal, beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam! Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga.’ Bilal radhiyallahu ‘anhu menjawab, ‘Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukan shalat (sunat) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci (wudhu) dengan sempurna di waktu siang ataupun malam.’ (HR. Muslim).

[2] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻧﻌﻢ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﺑﻼﻝ، ﻫﻮ ﺳﻴﺪ ﺍﻟﻤﺆﺫﻧﻴﻦ، ﻭﻻ ﻳﺘﺒﻌﻪ ﺇﻻ ﻣﺆﺫﻥ، ﻭﺍﻟﻤﺆﺫﻧﻮﻥ ﺃﻃﻮﻝ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻋﻨﺎﻗًﺎ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ

“Iya, orang itu adalah Bilal, pemuka para muadzin dan tidaklah mengikutinya kecuali para muadzin. Para muadzin adalah orang-orang yang panjang lehernya di hari kiamat.” (HR. Thabrani)

[3] HR. Ahmad, 5: 158. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari sanad lain

[4] Lihat Tafsir Ath-Thabari

Sumber: https://muslim.or.id/29806-tidak-ada-rasisme-dalam-islam.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Kesenangan Dan Kebahagiaan Sudah Ditentukan Kadarnya

Banyak orang tidak menyadari bahwa kesenangan dan kebahagiaan di dunia merupakan nikmat yang diberikan Allah, yang tidak bisa ditambah atau dikurangi. Setiap orang punya bagiannya sendiri-sendiri. Apapun yg dilakukan manusia, ia takkan mampu meraih melebihi jatah yang diberikan Allah untuknya.

Oleh karenanya, carilah kebahagiaan dan kesenangan yang halal, sebagaimana engkau mencari harta yang halal, karena hasil akhirnya akan sama, tidak akan terkurangi maupun tertambahi. Ingat pula Sabda Nabi –shallallahu alaihi wasallam-:

واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولو اجتمعوا على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك رفعت الأقلام وجفت الصحف

Ketauhilah, bahwa apabila seluruh umat bersatu untuk memberikan KEMASLAHATAN kepadamu, mereka takkan mampu memberikannya, kecuali yg Allah telah tetapkan untukmu.
(Sebaliknya), seandainya mereka bersatu untuk menimpakan bahaya atasmu, mereka tidak akan mampu menimpakannya, kecuali yg Allah telah tetapkan atasmu. PENA-PENA sudah diangkat dan LEMBARAN-LEMBARAN sudah kering
” (HR. Tirmidzi, 2516, dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Apabila seluruh umat tidak akan mampu menambahi satu kemaslahatan saja untuk kita, apalagi jika yang berusaha menambahinya hanya kita sendiri, atau segelintir orang saja. Dan termasuk diantara kemaslahatan tersebut adalah kesenangan dan kebahagiaan.

Inilah diantara buah manis dari iman kita kepada takdir Allah Azza wajalla.

Wallahu a’lam.

Penulis: Ustadz Musyafa Ad Darini

Sumber: https://muslim.or.id/21859-kesenangan-dan-kebahagiaan-sudah-ditentukan-kadarnya.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

FOMO: Takut Ketinggalan Tren, Lupa Tujuan Hidup

Banyak orang hari ini tidak benar-benar memilih jalan hidupnya, tetapi hanya ikut arus yang sedang ramai. Ia takut tertinggal tren, takut tidak tahu kabar terbaru, takut tidak ikut pengalaman yang orang lain rasakan. Inilah yang disebut FOMO, dan jika tidak dikendalikan, ia bisa membuat hati lelah, pikiran gelisah, dan hidup kehilangan arah.

Apa Itu FOMO?

FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang dialami, dibicarakan, atau diikuti oleh orang lain. Dalam riset Przybylski dkk. (2013), FOMO dijelaskan sebagai kekhawatiran bahwa orang lain mungkin sedang mengalami pengalaman berharga sementara dirinya tidak ikut di dalamnya.

Dalam bahasa sederhana, FOMO adalah perasaan:

“Jangan-jangan saya rugi kalau tidak ikut.”

“Jangan-jangan saya tertinggal.”

“Jangan-jangan orang lain lebih maju, lebih bahagia, dan lebih seru hidupnya.”

Masalahnya, perasaan seperti ini sering membuat seseorang mengambil keputusan bukan karena ilmu, kebutuhan, atau pertimbangan matang, tetapi karena takut dianggap ketinggalan.

FOMO Bukan Sekadar Ikut-Ikutan

Secara ilmiah, FOMO bukan hanya kebiasaan ikut tren. Ia berkaitan dengan kebutuhan psikologis seseorang. Przybylski dkk. (2013) menemukan bahwa FOMO lebih tinggi pada orang yang kebutuhan psikologis dasarnya kurang terpenuhi, seperti kebutuhan merasa mampu, mandiri, dan terhubung dengan orang lain.

Ini menunjukkan bahwa FOMO sering muncul dari hati yang merasa kurang. Ia merasa belum cukup diterima, belum cukup dihargai, atau belum cukup punya tempat dalam pergaulan. Akhirnya, seseorang berusaha menambal kekosongan itu dengan terus mengikuti apa yang ramai.

Dalam pandangan Islam, hati yang kosong dari qana’ah akan mudah gelisah. Ia mudah silau dengan apa yang ada pada orang lain. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ

Janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka.” (QS. Thaha: 131)

Ayat ini mengajarkan agar hati tidak terus terpaku pada kelebihan duniawi orang lain. Karena terlalu sering melihat nikmat orang lain tanpa iman dan qana’ah bisa membuat hati semakin resah.

Mengapa FOMO Banyak Terjadi pada Generasi Saat Ini?

Generasi saat ini hidup di tengah derasnya arus media sosial. Setiap hari seseorang melihat pencapaian orang lain, liburan orang lain, barang baru orang lain, kajian yang diikuti orang lain, bisnis orang lain, pernikahan orang lain, dan berbagai momen yang tampak indah.

Zhang dkk. (2021) dalam meta-analisisnya menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan media sosial dan FOMO. Artinya, semakin kuat keterlibatan seseorang dengan media sosial, semakin besar kemungkinan muncul rasa takut tertinggal.

Media sosial membuat hidup orang lain terlihat sangat dekat. Namun, yang sering terlihat hanyalah potongan terbaik dari hidup mereka. Jarang orang menampilkan lelahnya, masalahnya, utangnya, konfliknya, air matanya, atau ujian batinnya. Akhirnya, seseorang membandingkan seluruh hidupnya dengan cuplikan terbaik hidup orang lain.

Di sinilah FOMO menjadi berbahaya. Ia membuat seseorang lupa bahwa tidak semua yang tampak indah di layar benar-benar indah dalam kenyataan.

Dampak Baik FOMO Jika Diarahkan

FOMO tidak selalu buruk jika diarahkan kepada kebaikan. Ada bentuk “takut tertinggal” yang justru terpuji, yaitu takut tertinggal dari ilmu, amal saleh, sedekah, majelis ilmu, dakwah, dan kesempatan memperbaiki diri.

Di antara dampak baik FOMO jika diarahkan:

Pertamamendorong seseorang mencari ilmu. Melihat orang lain rajin belajar bisa membuat seseorang ikut terdorong belajar. Ini menjadi baik jika yang ditiru adalah kebaikan.

Kedua, membangkitkan semangat produktif. Seseorang bisa terpacu untuk menulis, berdakwah, berolahraga, menghafal Al-Qur’an, atau memperbaiki akhlak karena melihat teladan baik.

Ketiga, mendorong seseorang masuk ke lingkungan yang saleh. Ia takut tertinggal dari majelis ilmu, takut tertinggal dari teman-teman yang shalih, dan takut tertinggal dari amal yang mendekatkannya kepada Allah.

Inilah FOMO yang baik: bukan takut tertinggal dari dunia, tetapi takut tertinggal dari kebaikan akhirat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)

Maka, takut tertinggal dalam urusan akhirat adalah tanda hati yang masih hidup. Yang berbahaya adalah ketika seseorang hanya takut tertinggal dari tren dunia, tetapi tidak takut tertinggal dari shalat, ilmu, taubat, dan amal saleh.

Dampak Buruk FOMO Jika Tidak Dikendalikan

Dampak buruk FOMO lebih banyak muncul ketika seseorang tidak punya prinsip dan mudah terseret arus. Ia ikut karena ramai, bukan karena benar. Ia membeli karena viral, bukan karena butuh. Ia berbicara karena tren, bukan karena ilmu.

Di antara dampak buruk FOMO adalah:

Pertama, gelisah dan sulit merasa cukup. Gupta dan Sharma (2021) menjelaskan bahwa FOMO berkaitan dengan kesehatan mental. Seseorang yang terus merasa tertinggal akan lebih mudah cemas, tidak puas, dan merasa hidupnya kalah dari orang lain.

Kedua, penggunaan internet dan media sosial secara berlebihan. Akbari dkk. (2021) dalam systematic review dan meta-analysis menyebut bahwa FOMO dipandang sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan penggunaan internet berlebihan. Orang yang takut tertinggal akan terus mengecek kabar, status, tren, komentar, dan aktivitas orang lain.

Ketiga, membandingkan diri secara berlebihan. Servidio dkk. (2024) menemukan bahwa FOMO berkaitan dengan penggunaan media sosial bermasalah melalui perbandingan sosial dan harga diri. Seseorang melihat orang lain, lalu merasa dirinya kurang. Ia melihat keberhasilan orang lain, lalu merasa gagal. Ia melihat kebahagiaan orang lain, lalu merasa hidupnya hambar.

Keempat, lemah dalam mengambil keputusan. Orang yang FOMO sering mengambil keputusan karena tekanan sosial. Ia takut tidak ikut, takut tidak dianggap gaul, takut tidak satu frekuensi, takut dianggap ketinggalan.

Kelimaboros dan konsumtif. Banyak orang membeli barang bukan karena perlu, tetapi karena sedang viral. Banyak orang ikut acara bukan karena butuh, tetapi karena takut tidak punya cerita. Banyak orang mengejar gaya hidup bukan karena mampu, tetapi karena takut terlihat kalah.

Keenam, hilang arah hidup. Ini bahaya yang paling besar. FOMO membuat seseorang lebih sibuk mengikuti manusia daripada mencari ridha Allah. Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini halal?” tetapi bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini bermanfaat?” tetapi bertanya, “Apakah orang lain juga ikut?”

Padahal seorang muslim tidak hidup untuk mengejar validasi manusia. Seorang muslim hidup untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

FOMO Belanja: Beli karena Butuh atau karena Takut Tertinggal?

Salah satu bentuk FOMO yang sering terjadi adalah FOMO dalam belanja. Seseorang membeli barang bukan karena benar-benar butuh, tetapi karena barang itu sedang viral. Misalnya, ada barang yang viral di Makkah atau Madinah, lalu banyak orang merasa harus memilikinya, padahal kualitasnya biasa saja dan tidak ada keistimewaan yang berarti.

Untuk menilai apakah keputusan membeli itu sehat atau karena FOMO, tanyakan pada diri sendiri:

  • Kalau tidak viral, apakah tetap ingin beli? Jika jawabannya “tidak”, besar kemungkinan itu FOMO.
  • Kalau tidak diposting, apakah tetap terasa berharga? Jika jawabannya “tidak”, mungkin yang dicari bukan barangnya, tetapi validasi.
  • Apakah barang itu benar-benar dibutuhkan? Jika tidak, berarti lebih dekat pada perilaku konsumtif.
  • Apakah harga sebanding dengan manfaat? Jika kualitasnya biasa saja, tetapi dibeli karena ramai, ini tanda keputusan sedang dipimpin tren.

Dalam Islam, membeli barang mubah itu boleh. Namun, yang perlu dijaga adalah israf dan tabdzir. Israf adalah berlebihan dalam menggunakan harta, sedangkan tabdzir adalah membelanjakan harta pada hal yang tidak layak atau sia-sia.

Maka, jangan sampai seseorang pulang dari Tanah Suci membawa barang viral, tetapi tertinggal dari pelajaran qana’ah. Jangan sampai yang paling diingat dari safar ibadah bukan doa, tawaf, shalat, dan taubat, tetapi barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Barang viral boleh jadi cepat habis, tetapi qana’ah jangan sampai ikut habis.

FOMO, Media Sosial, dan Perbandingan Hidup

Media sosial sering menjadi ladang subur bagi FOMO. Seseorang membuka media sosial sebentar, lalu melihat temannya sudah menikah, temannya sudah punya rumah, temannya sudah punya anak, temannya sudah lulus, temannya sudah punya bisnis, temannya sudah jalan-jalan, temannya sudah ikut kajian besar, temannya sudah punya pencapaian tertentu.

Akhirnya muncul bisikan:

“Saya kapan?”

“Saya kok begini-begini saja?”

“Saya tertinggal jauh.”

“Hidup orang lain kok lebih mudah?”

Maciel-Saldierna dkk. (2024) meneliti penggunaan media sosial dan FOMO pada siswa SMP di Meksiko. Ini menunjukkan bahwa FOMO menjadi perhatian penting pada remaja dan pelajar, karena kelompok ini banyak berinteraksi dengan media sosial dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sosialnya.

Dalam konteks Indonesia, beberapa penelitian juga menyoroti FOMO pada mahasiswa, pengguna Instagram, pengguna TikTok, regulasi diri, harga diri, dan penggunaan media sosial bermasalah. Ini menunjukkan bahwa FOMO bukan sekadar fenomena luar negeri, tetapi juga terjadi di tengah masyarakat kita.

Islam memberi obat penting untuk penyakit membandingkan diri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim, no. 2963)

Hadits ini adalah terapi hati. Jika seseorang terlalu sering melihat yang di atas dalam urusan dunia, ia akan mudah merasa kurang. Namun, jika ia melihat yang di bawah, ia akan lebih mudah bersyukur.

FOMO dan Hati yang Gelisah

FOMO sangat dekat dengan overthinking. Seseorang yang FOMO sering memutar banyak pertanyaan dalam pikirannya.

“Kalau saya tidak ikut, nanti bagaimana?”

“Kalau saya tidak beli sekarang, nanti menyesal?”

“Kalau saya tidak datang, nanti saya tidak dianggap?”

“Kalau saya tidak update, nanti saya tertinggal?”

Berpikir itu baik jika mengantar pada keputusan yang benar. Namun, overthinking membuat seseorang hanya berputar dalam kekhawatiran. Ia tidak semakin dekat kepada solusi, tetapi semakin jauh dari ketenangan.

Di sinilah pentingnya tawakal. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal berarti hati bersandar kepada Allah setelah menempuh sebab yang benar.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Orang yang bertakwa tidak perlu panik karena manusia sudah lebih dahulu mendapatkan sesuatu. Rezeki tidak akan tertukar. Jalan hidup tidak harus sama. Ukuran sukses tidak ditentukan oleh tren, tetapi oleh ridha Allah.

FOMO dan Bahaya Menjadi Pengikut Setiap Seruan

FOMO bukan hanya masalah psikologis modern. Dalam bahasa agama, FOMO bisa menjadi tanda lemahnya pijakan ilmu. Orang yang mudah takut tertinggal dari tren biasanya mudah digerakkan oleh apa pun yang sedang ramai. Ia tidak sempat bertanya, “Ini benar atau salah?” Ia hanya bertanya, “Ini sedang diikuti banyak orang atau tidak?”

Di sinilah pentingnya nasihat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad. Beliau berkata,

النَّاسُ ثَلَاثَةٌ؛ فَعَالِمٌ رَبَّانِيٌّ، وَمُتَعَلِّمٌ عَلَى سَبِيلِ نَجَاةٍ، وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ، يَمِيلُونَ مَعَ كُلِّ رِيحٍ، لَمْ يَسْتَضِيئُوا بِنُورِ الْعِلْمِ، وَلَمْ يَلْجَؤُوا إِلَى رُكْنٍ وَثِيقٍ.

“Manusia terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, seorang alim rabbani. Kedua, penuntut ilmu yang berada di jalan keselamatan. Ketiga, massa bodoh yang kacau balau; mereka adalah pengikut setiap penyeru, condong mengikuti setiap arah angin, tidak pernah disinari cahaya ilmu, dan tidak bersandar pada pijakan yang kokoh.”

Perkataan ini sangat relevan untuk membaca budaya FOMO hari ini. Orang yang tidak punya cahaya ilmu akan mudah menjadi “pengikut setiap penyeru”. Ketika ada tren baru, ia ikut. Ketika ada opini viral, ia ikut. Ketika ada gaya hidup yang sedang ramai, ia ikut. Ketika ada ajakan yang belum jelas benar-salahnya, ia tetap ikut karena takut tertinggal.

Inilah bahaya FOMO: seseorang bisa berubah menjadi manusia yang mudah digiring. Bukan lagi ilmu yang memimpin hidupnya, tetapi suara mayoritas. Bukan lagi petunjuk Allah yang menjadi ukuran, tetapi tren yang sedang ramai. Bukan lagi halal dan haram yang ditimbang, tetapi “orang-orang juga melakukannya.”

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyebut golongan ketiga sebagai هَمَجٌ رَعَاعٌ, yaitu orang-orang bodoh yang tidak memiliki pegangan kuat. Mereka disebut أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ, pengikut setiap penyeru. Siapa pun yang bersuara keras, mereka ikuti. Ke mana pun angin opini bertiup, mereka condong ke sana.

Ini persis dengan sebagian budaya digital hari ini. Seseorang bisa ikut marah karena semua orang sedang marah. Ikut membeli karena semua orang sedang membeli. Ikut menghina karena semua orang sedang menghina. Ikut menyebarkan berita karena semua orang sedang membagikannya. Padahal belum tentu ia tahu duduk perkara, belum tentu benar, dan belum tentu diridhai Allah.

Karena itu, obat FOMO adalah ilmu. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga berkata,

العِلْمُ خَيْرٌ مِنَ المَالِ، العِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ المَالَ.

“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta harus engkau jaga.”

Ilmu menjaga seseorang dari mudah ikut-ikutan. Ilmu membuat seseorang berani berbeda ketika yang ramai ternyata salah. Ilmu membuat seseorang tidak panik saat tertinggal dari tren dunia, karena ia tahu bahwa keselamatan bukan pada mengikuti banyak orang, tetapi pada mengikuti kebenaran.

Orang berilmu tidak mudah digoyang oleh “angin” tren. Ia seperti pohon besar yang akarnya kokoh. Adapun orang yang tidak punya ilmu seperti ranting lemah; sedikit saja ada angin opini, ia ikut bergerak. Hari ini ke kanan, besok ke kiri. Hari ini membela, besok mencela. Hari ini ikut tren ini, besok ikut tren lain.

Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)

Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dari banyaknya pengikut. Sesuatu yang viral belum tentu benar. Sesuatu yang ramai belum tentu selamat. Sesuatu yang menjadi tren belum tentu membawa berkah.

Maka, seorang muslim tidak boleh hidup sebagai pengikut setiap seruan. Ia harus bertanya sebelum mengikuti:

  • Apakah ini sesuai ilmu?
  • Apakah ini halal?
  • Apakah ini membawa manfaat?
  • Apakah ini mendekatkan saya kepada Allah?
  • Apakah ini hanya dorongan gengsi dan takut tertinggal?

Jika pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab, FOMO akan menyeret seseorang menjadi bagian dari hamaj ra’aa’, yaitu orang banyak yang mudah dikendalikan oleh suara, tren, dan arus. Namun, jika ia kembali kepada ilmu, ia akan selamat. Karena manusia yang selamat hanya dua: alim rabbani atau penuntut ilmu yang berjalan menuju keselamatan.

Jadi, lawan dari FOMO bukan sekadar “tidak ikut tren”. Lawan dari FOMO adalah hidup dengan ilmu. Karena orang yang berilmu tidak takut tertinggal dari dunia, selama ia tidak tertinggal dari petunjuk Allah.

Takut Tertinggal dari Tren atau Tertinggal dari Hidayah?

Pertanyaan pentingnya bukan: “Apakah saya tertinggal dari tren?”

Pertanyaan pentingnya adalah: “Apakah saya tertinggal dari hidayah?”

Banyak orang takut tertinggal kabar, tetapi tidak takut tertinggal shalat.

Banyak orang takut tidak ikut tren, tetapi tidak takut tidak ikut majelis ilmu.

Banyak orang takut tidak punya pengalaman dunia, tetapi tidak takut kehilangan kesempatan taubat.

Banyak orang takut tidak diakui manusia, tetapi tidak takut jauh dari Allah.

Maka, seorang muslim perlu mengubah arah rasa takutnya. Jangan jadikan FOMO sebagai rasa takut tertinggal dari dunia. Jadikan ia sebagai rasa takut tertinggal dari kebaikan.

Takutlah jika umur berjalan, tetapi amal tidak bertambah.

Takutlah jika ilmu semakin mudah diakses, tetapi hati tidak semakin tunduk.

Takutlah jika media sosial selalu sempat dibuka, tetapi mushaf jarang disentuh.

Takutlah jika tren selalu diikuti, tetapi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diabaikan.

Terkait Prinsip Agama: FOMO Menghilangkan Jati Diri Seorang Muslim

Bahaya lain dari FOMO adalah membuat seseorang kehilangan jati diri. Ia tidak lagi berani tampil sebagai dirinya yang sebenarnya. Ia lebih sibuk menyesuaikan diri dengan tren, gaya hidup, dan standar manusia daripada menjaga identitasnya sebagai seorang muslim.

Padahal seorang muslim memiliki jati diri yang jelas. Ia punya iman, ibadah, akhlak, adab, batas halal-haram, dan prinsip hidup yang bersumber dari wahyu. Seorang muslim tidak hidup hanya untuk diterima manusia, tetapi untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

FOMO bisa merusak jati diri seorang muslim dalam beberapa bentuk.

Pertama, FOMO membuat seseorang malu dengan identitas agamanya. Ia malu terlihat berbeda, malu menjaga adab, malu menolak ajakan maksiat, malu tidak ikut gaya hidup yang sedang ramai. Akhirnya, ia lebih takut dianggap aneh oleh manusia daripada takut menyelisihi perintah Allah.

Kedua, FOMO membuat seseorang mudah meniru siapa saja yang sedang populer. Jika yang viral adalah gaya hidup orang fasik, ia ikut. Jika yang ramai adalah budaya orang kafir, ia ikut. Jika yang banyak ditonton adalah ahli maksiat, ia pun merasa perlu mengikuti agar tidak tertinggal. Padahal tidak semua yang populer pantas ditiru.

Ketiga, FOMO melemahkan prinsip al-wala’ wal-bara’. Seorang muslim semestinya mencintai kebaikan, orang-orang saleh, dan jalan kaum beriman. Ia juga harus menjauh dari kekufuran, kemaksiatan, dan simbol-simbol yang bertentangan dengan Islam. Namun, FOMO membuat sebagian orang tidak lagi peka: selama sesuatu viral, ia ikuti; selama banyak yang melakukan, ia anggap biasa.

Keempat, FOMO membuat seorang muslim meniru ahli maksiat. Ia mengikuti cara berpakaian, cara bicara, gaya hiburan, gaya pergaulan, bahkan cara merayakan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Padahal muslim yang baik tidak menjadikan ahli maksiat sebagai teladan hidup. Yang layak diteladani adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, ulama, dan orang-orang saleh.

Kelima, FOMO bisa menyeret kepada tasyabbuh dengan orang kafir. Tasyabbuh adalah menyerupai orang kafir dalam perkara yang menjadi ciri khas agama, syiar, atau kebiasaan khusus mereka yang bertentangan dengan Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud, no. 4031; Ahmad, 2:50. Dinilai hasan oleh para ulama)

Hadits ini menjadi peringatan agar seorang muslim tidak mudah larut meniru identitas umat lain, apalagi dalam perkara yang menjadi ciri khas agama dan budaya mereka yang menyelisihi Islam.

Keenam, FOMO membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berbeda. Padahal dalam banyak keadaan, seorang muslim memang harus berani berbeda. Berbeda karena menjaga shalat. Berbeda karena menjaga aurat. Berbeda karena menolak riba. Berbeda karena tidak ikut pergaulan bebas. Berbeda karena tidak ikut tren maksiat. Berbeda karena berpegang pada sunnah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat dari urusan agama itu. Maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus mengikuti syariat, bukan mengikuti hawa nafsu manusia. Jika tren bertentangan dengan syariat, maka tren itu harus ditinggalkan. Jika budaya populer mengajak pada maksiat, maka budaya itu tidak boleh diikuti. Jika standar manusia membuat kita jauh dari Allah, maka standar itu harus ditolak.

Ketujuh, FOMO membuat ukuran hidup berubah. Orang yang terkena FOMO sering bertanya, “Apakah ini sedang ramai?” Padahal seorang muslim seharusnya bertanya, “Apakah ini benar menurut Allah?” Ia bertanya, “Apakah orang-orang ikut?” Padahal seharusnya ia bertanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meridhai jalan seperti ini?”

Karena itu, menjaga jati diri muslim sangat penting di zaman yang penuh tren. Jangan sampai seorang muslim lebih bangga dengan brand, gaya hidup, komunitas, atau simbol dunia daripada bangga dengan Islam. Jangan sampai ia lebih cepat mengikuti suara influencer daripada mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Seorang muslim boleh mengambil manfaat dari kemajuan zaman. Ia boleh memakai teknologi, belajar dari pengalaman orang lain, dan mengikuti hal-hal mubah yang bermanfaat. Namun, ia tidak boleh kehilangan prinsip. Tidak semua yang datang dari luar harus ditolak, tetapi tidak semua yang viral boleh ditiru.

FOMO dalam urusan dunia bisa membuat boros. Namun, FOMO dalam urusan akidah bisa membuat seseorang kehilangan arah iman.

Cara Mengendalikan FOMO

Ada beberapa cara sederhana untuk mengendalikan FOMO.

Pertama, batasi paparan media sosial. Tidak semua hal perlu diketahui. Tidak semua kabar perlu diikuti. Tidak semua tren perlu dicoba.

Kedua, tanyakan sebelum ikut: apakah ini halal, bermanfaat, dan sesuai prioritas hidup? Jika tidak jelas manfaatnya, tinggalkan.

Ketigaperbanyak syukur. FOMO sering muncul karena seseorang terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki, bukan pada nikmat yang sudah Allah beri.

Keempatpilih lingkungan yang baik. Jika lingkungan hanya mendorong gengsi, gaya hidup, dan pencitraan, hati akan mudah lelah. Namun, jika lingkungan mengajak kepada ilmu dan amal, rasa takut tertinggal akan berubah menjadi semangat berlomba dalam kebaikan.

Kelima, kuatkan qana’ah dan tawakal. Qana’ah membuat hati cukup. Tawakal membuat hati tidak panik.

Keenamingat tujuan hidup. Hidup bukan untuk selalu update, tetapi untuk beribadah kepada Allah. Hidup bukan untuk selalu terlihat berhasil, tetapi untuk pulang kepada Allah dengan iman dan amal saleh.

Nasihat Terakhir

FOMO membuat seseorang takut tertinggal dari manusia, padahal yang lebih berbahaya adalah tertinggal dari petunjuk Allah. Jangan biarkan hidup dipimpin oleh tren, komentar, validasi, dan pencapaian orang lain. Jadikan ilmu sebagai cahaya agar kita tidak menjadi pengikut setiap seruan yang viral. Yang paling penting bukan selalu update terhadap dunia, tetapi tetap kokoh di atas iman, ilmu, amal saleh, dan qana’ah.

اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، وَارْزُقْنَا الْقَنَاعَةَ وَالثَّبَاتَ عَلَى طَاعَتِكَ.

Allahummahdinaa li ahsanil akhlaaq, washrif ‘annaa sayyi-ahaa, waj‘al quluubanaa muthma-innatan bi dzikrika, warzuqnal qanaa‘ata wats-tsabaata ‘alaa thaa‘atik.

“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik, jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk, jadikan hati kami tenang dengan mengingat-Mu, dan karuniakan kepada kami sifat qana’ah serta keteguhan di atas ketaatan kepada-Mu.”

5 Pertanyaan Anti-FOMO

  1. Kalau barang ini tidak viral, apakah saya tetap ingin membelinya?
  2. Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau hanya ingin ikut arus?
  3. Apakah manfaatnya sebanding dengan harganya?
  4. Apakah kualitasnya memang layak, atau hanya terlihat menarik karena ramai dibicarakan?
  5. Apakah pembelian ini mengganggu kebutuhan lain yang lebih penting?

Rumus Ringkas Anti-FOMO

  1. Beli karena butuh, bukan karena gaduh.
  2. Pilih karena manfaat, bukan karena viral.
  3. Pertimbangkan harga, kualitas, dan prioritas.
  4. Jangan sampai tren mengalahkan qana’ah.

Referensi

  • Akbari, M., Seydavi, M., Palmieri, S., Mansueto, G., Caselli, G., & Spada, M. M. (2021). Fear of missing out (FoMO) and internet use: A comprehensive systematic review and meta-analysis. Journal of Behavioral Addictions, 10(4), 879–900. https://doi.org/10.1556/2006.2021.00083
  • Gupta, M., & Sharma, A. (2021). Fear of missing out: A brief overview of origin, theoretical underpinnings and relationship with mental health. World Journal of Clinical Cases, 9(19), 4881–4889. https://doi.org/10.12998/wjcc.v9.i19.4881
  • Maciel-Saldierna, M., Méndez, I. R., & Guevara, G. (2024). Social media use and fear of missing out: An exploratory cross-sectional study in junior high students from Western Mexico. Pediatric Reports, 16(4), Article 87. https://doi.org/10.3390/pediatric16040087
  • Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014
  • Servidio, R., Soraci, P., Griffiths, M. D., Boca, S., & Demetrovics, Z. (2024). Fear of missing out and problematic social media use: A serial mediation model of social comparison and self-esteem. Addictive Behaviors Reports, 19, Article 100536. https://doi.org/10.1016/j.abrep.2024.100536
  • Zhang, Y., Li, S., & Yu, G. (2021). The relationship between social media use and fear of missing out: A meta-analysis. Acta Psychologica Sinica, 53(3), 273–290. https://doi.org/10.3724/SP.J.1041.2021.00273

—-

Selesai ditulis di Malang Jawa Timur saat liburan, 13 Muharram 1448 H, 28 Juni 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42419-fomo-takut-ketinggalan-tren-lupa-tujuan-hidup.html

Puasa Daud, Puasa Paling Istimewa

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi-Nya. Dalam postingan-postingan sebelumnya, kami telah menyinggung mengenai beberapa puasa sunnah, juga membahas keutamaannya. Pada kesempatan kali ini, kami akan menyajikan materi puasa lainnya yaitu mengenai puasa Daud. Puasa Daud adalah melakukan puasa sehari, dan keesokan harinya tidak berpuasa. Semoga bermanfaat.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Daud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam  malam terakhir. Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan buka sehari.”[1]

Faedah hadits:

1. Hadits ini menerangkan keutamaan puasa Daud yaitu berpuasa sehari dan berbuka (tidak berpuasa) keesokan harinya. Inilah puasa yang paling dicintai di sisi Allah dan tidak ada lagi puasa yang lebih baik dari itu.

2. Di antara faedah puasa Daud adalah menunaikan hak Allah dengan melakukan ketaatan kepada-Nya dan menunaikan hak badan yaitu dengan mengistirahatkannya (dari makan).

3. Ibadah begitu banyak ragamnya, begitu pula dengan kewajiban yang mesti ditunaikan seorang hamba begitu banyak. Jika seseorang berpuasa setiap hari tanpa henti, maka pasti ia akan meninggalkan beberapa kewajiban. Sehingga dengan menunaikan puasa Daud (sehari berpuasa, sehari tidak), seseorang akan lebih memperhatikan kewajiban-kewajibannya dan ia dapat meletakkan sesuatu sesuai dengan porsi yang benar.

4. Abdullah bin ‘Amr sangat semangat melakukan ketaatan. Ia ingin melaksanakan puasa setiap hari tanpa henti, begitu pula ia ingin shalat malam semalam suntuk. Karena ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi solusi padanya dengan yang lebih baik. Untuk puasa beliau sarankan padanya untuk berpuasa tiga hari setiap bulannya. Namun Abdullah bin ‘Amr ngotot ingin mengerjakan lebih dari itu. Lalu beliau beri solusi agar berpuasa sehari dan tidak berpuasa keesokan harinya. Lalu tidak ada lagi yang lebih afdhol dari itu. Begitu pula dengan shalat malam, Nabi shallallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk seperti shalat Nabi Daud. Nabi Daud ‘alaihis salam biasa tidur di pertengahan malam pertama hingga sepertiga malam terakhir. Lalu beliau bangun dan mengerjakan shalat hingga seperenam malam terkahir. Setelah itu beliau tidur kembali untuk mengistirahatkan badannya supaya semangat melaksanakan shalat Fajr, berdzikir dan beristigfar di waktu sahur.

5. Berlebih-lebihan hingga melampaui batas dari keadilan dan pertengahan dalam beramal ketika beribadah termasuk bentuk ghuluw (berlebih-lebihan) yang tercela. Hal ini dikarenakan menyelisihi petunjuk Nabawi dan juga dapat melalaikan dari berbagai kewajiban lainnya. Hal ini dapat menyebabkan seseorang malas, kurang semangat dan lemas ketika melaksanakan ibadah lainnya. Ingatlah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

6. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh orang yang mampu dan tidak merasa sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukan puasa ini sampai membuatnya meninggalkan amalan yang disyari’atkan lainnya. Begitu pula jangan sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama. Karena ingat di samping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan. Jika banyak melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak memperbanyak puasa. … Wallahul Muwaffiq.”[2]

7. Tidak mengapa jika puasa Daud bertepatan pada hari Jumat atau hari Sabtu karena ketika yang diniatkan adalah melakukan puasa Daud dan bukan melakukan puasa hari Jumat atau hari Sabtu secara khusus.

Referensi:

  • Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, cetakan ketiga, 1424 H.
  • Penjelasan Syaikh ‘Ali bin Yahya Al Haddadi di website pribadinya haddady.com pada link:  http://www.haddady.com/ra_page_views.php?id=323&page=19&main=7

Faedah ilmu ketika safar, 13 Rabi’ul Akhir 1431 H (29/03/2010), Via BB.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/935-puasa-daud-puasa-paling-istimewa.html