Larangan Mendoakan Keburukan Kepada Anak

Larangan Mendoakan Keburukan Kepada Anak

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum, ijin tanya Ustadz. Anak saya nakal dan bagaimana hukumnya mendoakan anak keburukan? jazakallah khairan


Jawaban:

Wa’alaikum salaam warohmatullohi wabarokaatuh

Larangan Mendoakan Keburukan Kepada Anak Kecil

قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ ، فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Janganlah kalian mendoakan keburukan pada diri kalian, jangan mendoakan keburukan pada anak-anak kalian, jangan mendoakan keburukan pada harta-harta kalian, janganlah kalian menepati saat dikabulkannya doa dari Allah lalu Ia akan mengabulkan untuk kalian” [HR Muslim 5328]

Seruan Untuk Bersabar Atas kesalahan Anak Kecil

Ikhwatal Iman Ahabbakumulloh, saudara saudariku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Allah.. Sudah menjadi kewajiban bagi para pendidik dan juga orangtua untuk mengendalikan diri saat emosi dengan tetap berpegang pada adab-adab syar’i dalam menghadapi anak-anaknya. Dan diantara adab syar’i saat emosi adalah tidak mendoakan keburukan, apalagi kepada anak-anak.

Anak kecil itu secara fithroh memang lebih banyak berbuat salah dibandingkan orang dewasa, hal itu karena nalar mereka yang belum sempurna, ilmu yang belum banyak, dan pengalaman yang masih sedikit. Jadi wajar kalau banyak salah. Justru kita yang tidak wajar kalau marah berlebihan kepada anak kecil, apalagi sampai mendoakan keburukan untuknya.

Perlu diketahui, doa dapat mudah diijabahi oleh Allah jika memenuhi sebab-sebab terkabulnya doa, meskipun hal itu adalah keburukan bagi anak. Seperti waktu, tempat, dan orang-orang yang mustajab doanya.

Diantara orang-orang yang mustajabah doanya adalah orangtua tatkala mendoakan anaknya, termasuk doa dari sang Ibu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi” [HR Abu Daud 1536]

Semoga Allah beri Taufik pada kita semua.

Wallahu A’lam

Ditulis oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Senin, 27 Sya’ban 1444H / 10 Maret 2023 M

sumber : https://bimbinganislam.com/larangan-mendoakan-keburukan-kepada-anak/

Yang Enggan Masuk Surga

Oleh
Ustadz Muhammad Alif, Lc

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :   كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan, para Sahabat bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Siapakah yang enggan?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku niscaya ia akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku maka dia enggan (untuk masuk surga).” 

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam shahihnya Kitab al-I’tisham Bil Kitab Wa as-Sunnah, Bab al-Iqtida’ Bi Sunani Rasûlillâh no. 7280, al-Imam Ahmad dalam musnadnya no. 8728, dan al-Imam al-Hakim dalam al- Mustadrak, Kitab al-Iman no. 182. Dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu .

PERAWI HADITS
Pada masa jahiliyah ia bernama Abdus Syamsi (hamba matahari), ketika masuk Islam dan berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merubah namanya menjadi Abdurrahman. Karena seseorang tidak boleh diberi nama dengan penghambaan kepada makhluk, seperti Abdus Syamsi (hamba matahari), Abdur Rasul (hamba Rasul), Abdul Husein (hamba Husein). Tetapi sebaik-baik nama adalah yang berarti penghambaan kepada Allâh, seperti Abdullah, Abdurrahman, Abdurrahim, Abdul Khaliq. Akan tetapi ia lebih di kenal dengan kunyah (panggilan) yaitu Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , sehingga kebanyakan orang tidak mengenal atau tahu namanya. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Shakhr dari keturunan Tsa’labah bin Salim bin Fahm bin Ghanam bin Daus al-Yamani. Dia lebih dikenal dengan panggilan “Abu Hurairah”, karena beliau memiliki kucing kecil yang sangat disukai.

Pada tahun ketujuh Hijriyah Abu Hurairah hijrah ke Madinah. Sesampainya di Madinah, beliau Radhiyallahu anhu terus mulazamah (mendampingi) dan mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  meninggal dunia. Itu berlangsung selama empat tahun, baik ketika di Madinah atau sedang safar. Abu Hurairah Radhiyallahu anhu terus mendampingi dan menghadiri majelis-majelis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahkan beliau tinggal di masjid Nabi, oleh karena itu beliau termasuk golongan ahlus shuffah (yang tidak memiliki tempat tinggal).

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu sangat dikenal dengan kecepatan dan kekuatan hafalannya, bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ketika sedang sakit sebelum meninggal Abu Hurairah Radhiyallahu anhu menangis, lalu ditanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Abu Hurairah?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku tidak menangisi dunia ini, tetapi aku menangis karena jauhnya perjalanan dan sedikitnya bekal, karena aku nanti akan berhenti di akhir jalan yang akan menghantarkan ke surga atau neraka, sedangkan aku tidak tahu dimana nanti berada!”, maka tidak lama kemudian beliau Radhiyallahu anhu meninggal dunia.

Beliau meninggal tepatnya pada tahun 57 H, pada usia 78 tahun. Beliau hidup setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 47 tahun, menghabiskan umurnya untuk beribadah, berda’wah di jalan Allâh, mengajarkan al-Qur’an dan menyebarkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

MAKNA HADITS
Allâh Subhanahu wa Ta’ala  telah menjadikan syari’at Islam sebagai syari’at yang sempurna, universal dan kekal, sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا 

Pada hari ini telah aku sempurnakan untukmu agamamu (Islam), dan telah aku cukupkan untukmu nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu. [Al-Mâidah/5:3]

Syariat yang sempurna ini merupakan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan makna yang umum, karena sunnah memiliki empat keumuman makna, yaitu :

  1. Segala apa yang ada di dalam al-Kitab dan as-Sunnah adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sunnah disini berarti jalan atau manhaj yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada diatasnya. Sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Barang siapa yang membenci sunnahku maka ia bukan termasuk dari golonganku. [HR. Al-Bukhari no. 5063 dan Muslim, no. 1401 dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu]

  1. Sunnah yang berarti hadits jika digandengkan dengan al-Kitab. Sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا : كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِي

Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat setelahnya yaitu kitabullah dan sunnahku. [HR. Al-Hakim 1/93 dari Ibnu Abbas c , dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahîh at-Targhîb, no. 40]

  1. Sunnah yang berarti lawan dari bid’ah. Sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِيش مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُم بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِيِنَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثُةٍ بِدْعَة وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٍ

Maka sesungguhnya, siapa diantara kalian yang masih hidup setelahku, maka akan melihat perselisihan yang banyak, maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ yang mendapat bimbingan dan petunjuk, pegangglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham, dan jauhilah oleh kalian perkara yang baru (dalam agama) karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah pasti sesat. [HR. Abu Dawud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676 dari al-‘Irbadh bin Sâriyah Radhiyallahu anhu dan dishahihkan Syaikh al-Albani].

  1. Sunnah yang berarti mandhûb (dianjurkan) dan mustahab (disukai). Seperti hukum bersiwak adalah sunnah, hukum puasa senin kamis adalah sunnah.

Maka kewajiban kita adalah ittiba’ (meneladani) sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan sungguh, inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya, demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa. [Al-An’am/6:153]

Dan firman-Nya :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا 

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59:7]

Karena Allâh menciptakan kita hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku. [Ad-Dzâriyat/51:56]

Ibadah tidak akan tercapai kecuali dengan ittiba’ (meneladani) Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ini menunjukkan bahwa mentaati Rasul-Nya adalah bentuk ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla . Sebagaimana dalam firman-Nya :

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

Barangsiapa mentaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allâh. [An-Nisâ/4:80]

Tanda cinta seorang hamba kepada Allâh dan Rasul-Nya adalah dengan ittiba’ (meneladani) Rasul-Nya. Artinya, jika ada orang yang mengaku cinta kepadanya tetapi sengaja menyelisihi sunnahnya n berarti ia pendusta atau jahil. Karena jika ia benar-benar mencintai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti akan mentaatinya. Karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah panutan yang harus diikuti, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Baca Juga  Jalan Menuju Surga
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasûlullâh  itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allâh. [Al-Ahzâb/33:21]

Dan juga firman Allâh Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allâh dan taatilah Rasul (Muhammad) dan ulil amri (pemegang kekuasaan) diantara kamu. [An-Nisa/4:59].

Umat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi menjadi dua, yaitu umat dakwah dan umat ijabah. Umat dakwah adalah orang-orang yang belum masuk Islam dan terus didakwahi. sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Katakanlah: Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allâh kepadamu semua. [Al-A’raf/7:158]

Sedangkan umat ijabah adalah orang-orang yang telah mengikuti dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setia menjadi pengikutnya sampai akhir zaman. Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allâh. [Ali-Imran/3:110]

Mentaati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah konsekuensi dari persaksian kita bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allâh. Maka orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat wajib untuk mengikuti dan mentaati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala syariatnya. karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjanjikan bagi siapa saja yang mentaatinya maka balasannya adalah surga, tetapi sebaliknya yang berani bermaksiat dan menentang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ancamannya adalah neraka.

FAEDAH ITTIBA’ (MENELADANI) SUNNAH NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Wahai ahlul ittiba’! inilah diantara faedah ittiba’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

  1. Ittiba’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah yang diperintahkan Allâh dan Rasul-Nya, dengannya seseorang akan mendapatkan balasan Surga. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Barangsiapa yang mentaatiku niscaya ia akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku maka dia enggan (untuk masuk surga). [HR. Al-Bukhari no. 6851 dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu])

  1. Dengan ittiba’ kita akan memperoleh keberuntungan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana Firman Allâh Azza wa Jalla :

فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Quran), mereka itulah orang-orang beruntung. [Al-A’raf/7:157]

  1. Dengan ittiba’ akan memperoleh kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.

Sebagaimana Firman Allâh Azza wa Jalla :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [An-Nahl/16:97]

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah dalam (tafsirnya 2/538) berkata : “Ini merupakan janji Allâh bagi orang yang beramal shalih, yaitu beramal mengikuti al-Kitab dan Sunnah Nabi-Nya, dari kalangan laki-laki dan perempuan dan hatinya beriman kepada Allâh dan Rasul-Nya, serta amalan tersebut disyari’atkan oleh Allâh, maka Allâh akan beri kehidupan yang baik di dunia dan balasan yang lebih baik di akhirat”.

Amalan Shalih Dalam Al-Quran Memiliki Tiga Syarat Yang Harus Terpenuhi :
a. Dibangun di atas aqidah yang shahih. sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [An-Nahl/16:97]

Allâh Azza wa Jalla mensyaratkan keimanan, maka jika seseorang beramal tetapi tidak memiliki aqidah yang shahih niscaya tidak akan diterima amalan tersebut.

b. Harus didasari dengan niat ikhlas karena Allâh dalam beramal. sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman :

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي ﴿١٤﴾ فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ ۗ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Katakanlah, Hanya Allâh yang aku sembah dengan penuh ketaatan kepada–Nya dalam (menjalankan) agamaku, maka sembahlah selain Dia sesukamu (wahai orang-orang musyrik), katakanlah, Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat. Ingatlah! Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. [Az-Zumar 39:14-15]

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang tergantung dengan apa yang ia niatkan. [HR. Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907 dari Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu].

c. Harus sesuai contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59:7]

Dan firman Allâh Azza wa Jalla :

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Rabbnya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabbnya. [Al-Kahfi /18:110]

  1. Dengan ittiba’ maka Allâh akan limpahkan keberkahan dan kelapangan bagi kaum Muslimin di negeri mereka.

Sebagaimana Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan sekiranya penduduk negri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. [Al-A’raf/7:96]

  1. Dengan berittiba’ maka akan mendapat hidayah dan selamat dari Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْن مَا تَمَسَكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا : كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِي

Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara jika kalian berpegang teguh denganya tidak akan tersesat setelahnya yaitu kitabullah dan sunnahku. [HR. Al-Hakim 1/9393 dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 40]

  1. Bahwa dengan ittiba’ akan terlindungi dari perselisihan yang tercela, dan akan menghantarkan kepada jalan yang selamat.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِيش مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُم بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِيِنَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Maka sesungguhnya, siapa diantara kalian yang masih hidup setelahku, maka akan melihat perselisihan yang banyak, maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ yang mendapat bimbingan dan petunjuk, pegangglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham. [HR. Abu Dawud no. 4607 danTirmidzi no. 2676 dari al-Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu anhu dan dishahihkan Syaikh al-Albani].

Baca Juga  Umrah dan Haji Sebagai Penebus Dosa

  1. Ittiba’ adalah jalan selamat dari perpecahan yang para pelakunya terancam dengan Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُم مِنْ أَهْلِ الكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَينِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً ، وَإِنَّ هَذِهِ المِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ : ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ ، وَوَاحِدَةٌ فِي الجَنَّةِ ، وَهِيَ الجَمَاعَةُ

Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari ahlil kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sesungguhnya umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga : yang tujuh puluh dua di neraka, sedangkan yang satu (selamat) di Surga, yaitu al-Jamâ’ah. [HR. Abu Dawud no. 4597 dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhuma dan dihasankan Syaikh al-Albani]

Dan yang dimaksud al-Jama’ah dalam hadits ini adalah berpegang teguh dengan apa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sahabat berada di atasnya.

  1. Dengan ittiba’ akan memperoleh cinta dan rahmat Allâh serta ampunan-Nya. sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allâh, ikutilah aku, niscaya Allâh mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allâh Maha Pengampun, Maha Penyayang. [Ali-Imran/3:31]

Dan firman-Nya :

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul, agar kamu diberi rahmat. [An-Nur/24:56]

  1. Dengan ittiba’ akan menjadikan seseorang menolak bid’ah dan menjau karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ

Barang siapa yang mengerjakan amalan yang tidak ada contoh dari kami maka ia tertolak. [HR. Al-Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718, dan ini lafadz Muslim dari Aisyah Radhiyallahu anhuma].

Maka dengan semakin kuat dalam berittiba’ kepada sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka akan semakin jauh dari bid’ah.

  1. Dengan ittiba’ akan memperoleh banyak pelajaran dari akhlaq Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . sebagaimana yang disebutkan Aisyah Radhiyallah anhuma :

فإنَّ خُلُقَ نَبيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسلَّمَ كَانَ القُرآنَ

Sesungguhnya akhlaq Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam al-Quran. [HR. Muslim no. 746 dari Aisyah Radhiyallahu anhuma]

Dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia, maka seseorang yang berittiba’ dengan sunnahnya, niscaya ia akan mencontoh akhlaq Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akan semakin mendekatkan dirinya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya. [HR. Abu Dawud no. 4682 dan Tirmidzi no. 1162, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dan dishahihkan Syaikh al-Albani].

  1. Akan menjadikan seseorang memiliki sifat pertengahan dalam beragama, karena agama Islam adalah agama pertengahan, tidak ekstrim dan tidak Maka seorang yang berittiba’ dengan sunnah akan beribadah kepada Allâh dengan sikap pertengahan dan adil. Karena Islam melarang sikap ekstrim dan berlebih-lebihan dalam segala hal, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِيَّاكُمْ وَالغُلُوُّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالغُلُوِّ فِي الدِّيْن

Tinggalkanlah oleh kalian berlebih-lebihan dalam (perkara) agama, karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah berlebih-lebihan dalam agama. [HR. Ahmad no. 1851 dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam as-Shahihah no. 1283].

  1. Dengan ittiba’ akan menghantarkan seseorang kepada sikap kasih sayang, lemah lembut dan tawadhu’ kepada sesama Karena inilah yang dicontohkan dan diperintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَا يُؤمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لنَفْسِهِ

Tidaklah (sempurna) keimanan seorang diantara kamu sampai ia mencintai bagi saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri. [HR. Al-Bukhari no. 13 dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu]

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Orang-orang yang saling kasih sayang niscaya mereka akan dirahmati Yang Maha Pengasih, sayangilah yang ada di bumi niscaya kalian akan disayang oleh yang di langit (Allâh). [HR. Tirmidzi no. 1924 dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu anhu  dan dishahihkan Syaikh al-Albani].

  1. Orang yang menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak mau ittiba’ dengannya maka akan di timpa fitnah dan kehinaan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul takut akan ditimpa (fitnah) cobaan atau ditimpa azab yang pedih. [An-Nur/24:63]

Berkata al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah dalam (tafsirnya 3/288) : “Maksud perintah Rasul adalah perintah, jalan, manhaj, thariqah, sunnah dan syari’atnya shallAllâhu alaihi wasallam. Maka semua perkataan dan perbuatan harus ditimbang dengan perkataan dan perbuatan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika sesuai dengannya maka diterima dan jika menyelisishinya maka tertolak amalan dan pelakunya, siapapun dia”.

Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَجُعِلَ الذُّلُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي ، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Dan dijadikan kerendahan dan kehinaan atas siapa yang menyelisihi perintahku (menentang sunnahku), dan barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut. [HR. Ahmad no. 5115 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma, dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 1269].

Semoga kita semua senantiasa diberi taufiq dan hidayah oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala untuk terus berittiba’ dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan diberi istiqamah di atas tauhid dan sunnahnya sampai kita di wafatkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Wallâhu a’lam.

BAHAN PUSTAKA:

  1. Shahih al-Bukhâri, al-Imâm Muhammad bin Isma’il al-Bukhâri, cet. Pertama, dar Ibnul Haitsam, th. 1425 H/ 2004 M, Cairo – Egypt.
  2. Musnad al-Imam Ahmad, al-Imam Ahmad bin Hanbal, tahqiq Syaikh Syu’aib al-Arnaut, cet. Muassasah ar-Risalah, Bairut –Libanon.
  3. Al-Mustadrak ‘Ala as-Shahîhain, al-Imam al-Hakim, tahqiq Mushtafa Abdul Qadir ‘Atha, cet. Dar al-kutub al-Ilmiyah, Bairut – Libanon.
  4. At-Tamassuk Bi as-Sunnah an-Nabawiyah, Syaikh Ibnu Utsaimin, cet. Dar al-Wathan, th. 1424 H, Riyadh
  5. Wujubul Amal Bi Sunnati Rasûlillâh, Syaikh Ibnu Baz, cet. Dar al-Imam Ahmad, th. 1427 H/ 2006 M, Cairo Egypt.
  6. Al-Hatsu Ala Ittiba’ as-Sunnah wa Tahdzir Min al-Bida’, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-‘Abbad, cet. Pertama, Maktabah ar-Ridwan, th. 1426 H/ 2005 M, El-Bahirah Egypt.
  7. Min Tsamarâti at-Tamassuk Bi as-Sunnah, Syaikh DR. Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhâri, cet. Pertama, Dar Adwa’u As-Salaf, th. 1432 H/ 2011 M, Cairo Egypt.
  8. Tafsir Ibnu katsir, al-Imam Abul Fida’ Isma’il bin Katsir ad-Dimasqi, cet. Al-maktabah al-‘Ashriyah, th. 1436 H/ 2015 M, Bairut – Libanon.
  9. Shuwarun Min Hayati as-Shahabah, DR. Abdurrahman Ra’fat al-Basya, cet. Pertama, Dar an-Nafâis, th. 1412 H/ 1992 M, Bairut –

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XXI/1439H/2018M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Referensi : https://almanhaj.or.id/11307-yang-enggan-masuk-surga.html

Lamanya Sujud Nabi dalam Shalat Malam

Bagaimana lamanya sujud Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat malam?

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail

  1. Bab Keutamaan Qiyamul Lail

Hadits #1171

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُصَلِّي إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً – تَعْنِي فِي اللَّيلِ – يَسْجُدُ السَّجْدَةَ مِنْ ذَلِكَ قَدْرَ مَا يَقْرَأُ أحَدُكُمْ خَمْسِينَ آيَةً قَبْلَ أنْ يَرْفَعَ رَأسَهُ ، وَيَرْكَعُ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الفَجْرِ ، ثُمَّ يَضْطَجِعُ عَلَى شِقِّهِ الأيْمَنِ حَتَّى يَأتِيَهُ المُنَادِي للصَلاَةِ . رَوَاهُ البُخَارِي .

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat sebelas rakaat (yaitu shalat malam). Beliau sujud satu kali sujud untuk shalat tersebut seukuran dengan salah seorang dari kalian membaca Alquran lima puluh ayat, sebelum beliau mengangkat kepalanya. Dan beliau melakukan shalat dua rakaat sebelum shalat Shubuh. Kemudian beliau berbaring di atas sisi tubuhnya yang sebelah kanan sampai datang muazin kepada beliau. (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 994]

Faedah Hadits

  1. Disunnahkan memperlama sujud dalam shalat malam.
  2. Dianjurkan menjaga dua rakaat shalat Sunnah qabliyah Shubuh.
  3. Dibolehkan berbaring sejenak selepas melaksanakan dua rakaat shalat sunnah Fajar.
  4. Dianjurkan berbaring ke sebelah kanan.
  5. Muazin harus mengetahui imam hadir, barulah mengumandangkan iqamah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْمُؤَذِّنُ أَمْلَكُ بِالْأَذَانِ , وَالْإِمَامُ أَمْلَكُ بِالْإِقَامَةِ

“Muazin adalah yang paling berhak menentukan azan dan imam adalah orang yang paling berhak menentukan iqamah.” (HR. Ibnu ‘Adi dan ia mendhaifkannya. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata bahwa hadits ini dhaif karena adanya Syarik bin ‘Abdullah Al-Qadhi, hafalannya jelek). Al-Baihaqi juga meriwayatkan hadits yang senada dari ucapan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu. (Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan sanadnya kuat, perawinya tsiqqah).

Referensi:

  1. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  2. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Kedua.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/23133-lamanya-sujud-nabi-dalam-shalat-malam.html

Antara Ikhlas dan Riya’

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan:

Ada seseorang yang melakukan amal shalih, dia bersemangat untuk menyembunyikannya dari manusia karena takut terjatuh dalam riya’. Akan tetapi, dia dapati bahwa dirinya menjadi gembira dan senang ketika ada orang lain yang mengetahui amalnya tanpa dia sengaja. Apakah hal ini juga termasuk riya’? Lalu, apakah meninggalkan amal shalih di hadapan manusia juga termasuk riya’? 

Jawaban: 

Yang selayaknya dilakukan oleh seorang mukmin adalah dia mengikhlaskan amalnya untuk Allah Ta’ala. Bahkan, hal ini merupakan perkara yang wajib. Dia tidak perlu memperhatikan lintasan pikiran yang muncul dalam hatinya bahwa dia melakukan karena riya’. Hal ini karena jika dia terlalu memperhatikan lintasan pikiran itu, dia akan banyak meninggalkan amal (karena takut riya’). 

Seorang mukmin dan mukhlis (yang ikhlas dalam beramal, pent.) adalah mereka yang terkadang menampakkan amal dan terkadang menyembunyikan amal, sesuai dengan tuntutan maslahat. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memuji orang-orang yang menginfakkan harta mereka, baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]: 274)

Jadi, kebaikan itu terkadang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dan terkadang dilakukan secara terang-terangan. 

Maka Engkau, wahai saudaraku sesama muslim, lihatlah manakah yang lebih afdhal (lebih utama), kemudian kerjakanlah. Berhentilah dari riya’ dan jauhilah riya’. Dan janganlah Engkau membiasakan jiwamu selamanya untuk senang dilihat orang dan atau keinginan mendapatkan harta mereka karena amal yang Engkau lakukan.

Adapun berkaitan dengan kegembiraan setelah melakukan suatu ibadah dan Engkau telah melakukan ibadah tersebut murni karena Allah Ta’ala, maka perkara ini tidaklah menjadi masalah. Bahkan, hal ini bisa jadi merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana yang Allah Ta’ala beritakan,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ؛ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ؛ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat.” (QS. Yunus [10]: 62-64)

Maka bedakanlah antara: (1) orang yang melakukan suatu amal agar amal tersebut dilihat orang dan mendapatkan pujian dari mereka; dengan (2) orang yang melakukan suatu amal karena Allah Ta’ala, akan tetapi dia gembira ketika manusia melihatnya (tanpa adanya kesengajaan dari pelaku amal). Hal ini karena dia bergembira karena nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepadanya, dan ini tidaklah membahayakan sedikit pun. 

Adapun seseorang terkadang meninggalkan suatu amal karena takut terhadap riya’, maka hal ini juga merupakan waswas yang setan masukkan ke dalam hati manusia. Maka tetap lakukanlah suatu ibadah, meskipun terlintas dalam dirimu bahwa Engkau melakukannya karena riya’. Ucapkanlah,

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ 

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”;

kemudian mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala dan kerjakanlah ibadah tersebut.

[Selesai]

***

@Rumah Lendah, 17 Rabi’ul akhir 1441/ 14 Desember 2019

Penerjemah: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1] Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 108-109, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.

Sumber: https://muslim.or.id/53541-antara-ikhlas-dan-riya.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Doa Saat Sujud, Doa Luar Biasa

Doa saat sujud adalah doa luar biasa. Silakan diamalkan namun ada beberapa aturan terkait hal ini.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa)

بَابُ فِي مَسَائِلِ مِنَ الدُّعَاءِ

Bab 252. Tentang Berbagai Masalah Doa

Hadits #1498

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ : (( أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأكْثِرُوا الدُّعَاءَ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah berdoa pada saat itu.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 482]

Faedah hadits

  1. Ketaatan semakin membuat seorang hamba dekat dengan Allah.
  2. Semakin seorang hamba bertambah ketaatan, maka semakin doanya mudah terkabul.
  3. Sujud adalah tempat dikabulkannya doa. Hendaklah hamba memperbanyak doa ketika sujud, meminta kebaikan dunia dan akhirat saat itu.
  4. Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semangat mengajarkan umatnya kebaikan dan mengajarkan pintu kebaikan kepada mereka.
  5. Sebagian ulama mengatakan bahwa sujud lebih afdal daripada berdiri dan lebih baik dari rukun shalat lainnya.

Lihat Bahjah An-Nazhirin, 2:506, penjelasan hadits no. 1428 dan penjelasan Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Perlu diketahui bahwa kedekatan Allah itu ada dua macam:

  1. Kedekatan Allah yang umum dengan ilmu-Nya, ini berlaku pada setiap makhluk.
  2. Kedekatan Allah yang khusus pada hamba-Nya dan seorang muslim yang berdoa pada-Nya, yaitu Allah akan mengijabahi (mengabulkan) doanya, menolongnya dan memberi taufik padanya. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 77)

Kedekatan Allah pada orang yang berdoa adalah kedekatan yang khusus –pada macam yang kedua- (bukan kedekatan yang sifatnya umum pada setiap orang). Allah begitu dekat pada orang yang berdoa dan yang beribadah pada-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits pula bahwa tempat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah adalah ketika ia sujud. (Majmu’ah Al-Fatawa, 15:17)

Aturan berdoa ketika sujud:

  1. berdoa ketika sujud setelah membaca bacaan saat sujud seperti “SUBHAANA ROBBIYAL A’LAA”,
  2. berdoa ketika sujud tidak dikhususkan pada sujud yang terakhir,
  3. berdoa dengan bahasa Arab,
  4. boleh berdoa dengan doa yang berasal dari Alquran,
  5. tidak boleh telat dari imam ketika berdoa saat sujud.

Referensi utama:

Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.


Diselesaikan di Dasinem Pogung Dalangan, 5 Jumadats Tsaniyyah 1441 H (30 Januari 2020)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/23217-doa-saat-sujud-doa-luar-biasa.html

40 Alasan Kenapa Ilmu Agama itu Lebih Baik daripada Harta

Ilmu diin (agama) itu lebih baik daripada harta. Pernyataan ini diambil dari perkataan Ali bin Abi Thalib berikut ini.

Hadits Ali Tentang Ilmu Lebih Baik daripada Harta

Kumail bin Ziyad An-Nakha’i berkata bahwa ‘Ali bin Abi Thalib mengambil tangannya lantas berkata:

ِيا كميلُ بن زياد! القلوبُ أوعيةٌ؛ فخيرها أوعاها؛ احفظْ ما أقول لك: الناسُ ثلاثةٌ؛ فعالمٌ ربَّانيٌّ، ومتعلِّمٌ على سبيل نجاةٍ، وهَمَجٌ رِعَاعٌ أتباعُ كلِّ ناعقٍ يميلون مع كلِّ رِيح؛ لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجَئوا إلى ركنٍ وثيقٍ؛


العلمُ خيرٌ من المال: العلمُ يحرِسُك وأنت تحرِسُ المالَ، العلمُ يزكُوْ على الإنفاق–وفي رواية على العمل–والمالُ تنقُصُه النفقةُ، العلمُ حاكمٌ  و المالُ محكومٌ عليه ومحبةُ العلمِ دينٌ يُدان بها، العلمُ يُكسِب العالمَ الطاعةَ في حياته وجميلَ الأُحْدُوْثَةِ بعد موته، وصنيعةُ المال تزول بزواله، مات خُزَّانُ الأموال وهم أحياءٌ، والعلماءُ باقُون ما بقي الدهرُ، أعيانُهم مفقودةٌ، وأمثالهُم في القلوب موجودةٌ.

“Wahai Kumail bin Ziyaad! Ingatlah, hati itu ibarat wadah. Hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan). Ingatlah, apa yang akan aku katakan kepadamu.

Manusia itu ada tiga (golongan): alim rabbani (ulama), penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan, dan orang awam yang mengikuti setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai dengan arah angin (kemanapun diarahkan) , tidak menerangi diri dengan cahaya ilmu, dan tidak berpegangan dengan pegangan yang kuat.”

Ilmu itu lebih baik daripada harta:

– Ilmu itu menjagamu. Sedangkan harta itu dijaga olehmu.

– Ilmu bertambah dengan diamalkan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfakkan (dikeluarkan).

– Ilmu itu menjadi haakim (yang memberikan hukum), sedangkan harta itu menjadi objek hukum (terkena hukum).

– Mencintai orang yang berilmu (ulama) bagian dari agama, cinta yang mendekatkan diri kepada Allah.

– Ilmu menjadikan orang yang memilikinya menjadi seorang yang ditaati semasa hidupnya dan disebut dengan kebaikan setelah matinya.

– Apa yang dihasilkan oleh harta akan hilang bersama kemusnahannya.

– Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama akan tetap ada selamanya; jasad mereka musnah, tapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia.

(Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah Al-Auliya’, 1:79-80; Al-Khathib dalam Al-Faqiih wa Al-Mutafaqqih, 1:49; Asy-Syajari dalam Amaalihi, hlm. 66; Al-Muzani dalam Tahdzib Al-Kamaal, 24:220; An-Nahrawaani dalam Al-Jaliis Ash-Shaalih, 3:331. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaan Al-‘Ilmi, 2:112, “Hadits ini begitu masyhur di kalangan ahli ilmu, tanpa lagi memperhatikan sanadnya karena sudah saking masyhurnya).

40 Alasan “Ilmu Diin (Agama) Lebih Baik Daripada Harta”

Kelebihan ilmu terhadap harta dapat diketahui melalui beberapa sisi yang bertolak belakang sebagai berikut.

  1. Ilmu adalah warisan para nabi, sementara harta adalah warisan para raja dan orang kaya.
  2. Ilmu akan menjaga pemiliknya. Sedangkan, harta itu harus dijaga oleh pemiliknya.
  3. Ilmu kian bertambah dengan diamalkan dan dibagikan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfakkan (dikeluarkan).
  4. Pemilik harta ketika meninggal dunia, harta meninggalkannya. Sementara, ilmu akan ikut ke dalam kubur bersama pemiliknya.
  5. Ilmu mampu menguasai harta, sedangkan harta tidak akan mampu menguasai ilmu.
  6. Harta bisa dimiliki oleh setiap orang, yaitu orang mukmin maupun kafir, orang yang taat maupun durhaka. Sedangkan, ilmu yang bermanfaat hanya dimiliki oleh orang beriman.
  7. Ilmu itu dibutuhkan oleh para raja dan orang-orang di bawahnya. Adapun harta itu dibutuhkan dan dicari oleh orang fakir miskin.
  8. Hati itu jadi mulia, tenang, bersih dengan adanya ilmu. Sehingga memiliki ilmu dianggap sebagai kesempurnaan dan kemuliaan jiwa. Sedangkan harta jika bertambah tidak menjadikan kita mulia, malah muncul sifat-sifat jelek seperti rakus dan kikir. Maka bertambah ilmu membuat kita bertambah derajat di sisi Allah, diri semakin mulia, beda halnya dengan bertambahnya harta.
  9. Harta bisa mengantarkan pada sifat semena-mena, bangga diri, dan sombong. Sedangkan, ilmu mengantarkan pada sifat tawadhu‘ dan menghambakan diri kepada Allah (‘ubudiyah). Maka, harta mengantarkan pada sifat para raja (muluuk) dan ilmu mengantarkan pda sifat para hamba (‘abiid).
  10. Ilmu itu mengantarkan kepada kebahagiaan yang menjadi tujuan penciptaan yaitu menghambakan diri kepada Allah. Hal ini berbeda dengan harta yang malah menghalangi ke tujuan tersebut.
  11. Orang yang kaya ilmu lebih mulia daripada orang yang kaya harta. Kaya harta itu keluar dari hakikat manusia. Seandainya harta itu dipakai dalam semalam, seorang akan menjadi miskin saat itu juga. Hal ini berbeda dengan kaya ilmu, ia tak pernah takut jatuh miskin. Bahkan, ilmu kian hari, kian bertambah. Kaya ilmu itulah sejatinya kaya yang paling tinggi.
  12. Cinta harta menjadikan seseorang budak harta. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham.” Sedangkan, cinta ilmu menjadikan seseorang menjadi hamba Allah sejati. Ilmu yang benar tidak akan mengajak seseorang untuk beribadah kepada selain Allah.
  13. Cinta ilmu dan mencari ilmu adalah asal pokok dari segala ketaatan. Sedangkan, cinta harta dan mencari harta adalah asal pokok segala kejelekan.
  14. Orang disebut kaya dengan adanya harta. Sedangkan orang disebut ‘aalim dengan ilmunya. Jika harta hilang pada orang kaya, hilanglah jati diri orang kaya, tak dipandang kaya lagi. Namun, seorang alim selalu dipandang dengan ilmunya, bahkan ilmu kian bertambah dan berlipat ganda ketika dibagikan.
  15. Esensi (jauhar) dari harta sama dengan esensi (jauhar) dari badan. Sedangkan, esensi ilmu sama dengan esensi ruh. Yunus bin Habib berkata: Ilmumu itu dari ruhmu, sedangkan hartamu dari badanmu. Perbedaan antara ilmu dan harta sama dengan perbedaan ruh dan badan.
  16. Seorang ‘aalim ketika sebagian ilmunya ditawarkan untuk diganti dengan dunia, ia tidak rida dengan ilmu yang digantikan tersebut. Sedangkan, orang kaya yang ‘aaqil (cerdas) jika ia melihat keutamaan, kemuliaan, dan kebahagiaan orang berilmu karena ilmu yang dimilikinya, orang kaya ini berharap tergabung padanya antara ilmu dan kekayaan.
  17. Kata Imam Ibnul Qayyim:

ِأن ما أطاع الله أحد قط إلا بالعلم وعامة من يعصيه إنما يعصيه بالمال

“Seseorang itu bisa menaati Allah dengan benar karena ilmu yang ia miliki. Namun, sebaliknya, maksiat itu terjadi umumnya karena harta.” Lihat Miftaah Daar As-Sa’adah (1:414) karya Ibnul Qayyim.

  1. Kata Imam Ibnul Qayyim:

ِأن العالم يدعو الناس إلى الله بعلمه وحاله وجامع المال يدعوهم إلى الدنيا بحاله وماله

“Sesungguhnya ‘aalim itu mengajak manusia kepada Allah dengan ilmu dan keadaannya. Sedangkan, orang yang mengumpulkan harta mengantarkan manusia pada dunia dengan penampilan dan hartanya.” Lihat Miftaah Daar As-Sa’adah (1:415) karya Ibnul Qayyim.

  1. Orang yang kaya harta seringkali ia menyebabkan pemiliknya celaka, sebab harta memang sangat disukai jiwa. Sehingga ketika jiwa seseorang melihat orang lain menguasai apa yang dicintai itu, ia pun akan berusaha membinasakan orang tadi, seperti yang nyata-nyata terjadi. Berbeda dengan kaya ilmu, yang menyebabkan kehidupan sejati bagi pemiliknya juga bagi kehidupan orang lain. Saat seseorang melihat orang yang menguasai ilmu dan senantiasa mencari ilmu, mereka akan mencintai, melayani, dan memuliakannya.
  2. Kenikmatan yang dihasilkan oleh harta kemungkinan hanyalah kenikmatan yang bersifat halusinasi (khayalan) atau kenikmatan ala binatang (bahimah). Si pemilik harta ketika merasa nikmat saat mengumpulkan dan meraih harta, hakikatnya itu hanyalah khayalan atau halusinasi. Sedangkan, apabila pemilik harta merasa nikmat ketika menggunakan harta demi memenuhi syahwatnya, ini namanya kenikmatan ala binatang. Tentu hal tadi berbeda dengan ilmu. Kenikmatan ilmu adalah kenikmatan akal dan rohani, mirip seperti kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh para malaikat. Itulah kenapa kenikmatan antara harta dan ilmu pada hakikatnya adalah kenikmatan yang bertolak belakang. 
  3. Orang-orang yang berakal (cerdas) dari seluruh umat sepakat membenci sikap tamak dalam menumpuk harta. Mereka semua mencela dan mencemooh sifat buruk ini. Sebaliknya, mereka sepakat mengagungkan sikap tamak ketika mengumpulkan dan meraih ilmu. Mereka menyukai sikap yang terakhir ini, serta memandangnya sebagai suatu kesempurnaan.
  4. Umat manusia sepakat mengagungkan orang yang zuhud dalam harta, tidak menumpuk-numpuk harta, tidak meliriknya, dan tidak menjadikan hatinya budak harta. Mereka juga sepakat mencela orang yang merasa tidak membutuhkan ilmu, tidak mau melirik ilmu, dan tidak gigih mencari ilmu. 
  5. Pemilik harta itu disanjung manakala ia rida melepaskan dan memberi harta miliknya (TAKHLIYYAH), sementara orang yang berilmu dipuji saat menyandang dan memilikinya (TAHLIYYAH). 
  6. Kaya harta itu disertai rasa takut serta rasa sedih. Orang berharta itu sedih sebelum mendapatkannya, serta takut setelah mendapatkannya. Semakin banyak harta yang didapat, semakin kuat dan besar rasa takut pemiliknya. Ini berbeda dengan ilmu. Kaya ilmu itu disertai oleh rasa aman, senang, dan bahagia.
  7. Orang yang kaya harta suatu saat nanti pasti ditinggal oleh hartanya. Dia akan tersiksa dan sakit oleh sebab perpisahan ini. Sementara orang kaya ilmu, ilmu tidak pernah meninggalkannya, juga ia tidak akan tersiksa atau tersakiti. Dengan demikian, kenikmatan harta ialah kenikmatan semu yang pasti berakhir hingga berujung kepada kepedihan, sementara kenikmatan ilmu adalah kenikmatan kekal abadi yang tidak disertai kepedihan. 
  8. Kenikmatan dan kesempurnaan jiwa dengan harta adalah kesempurnaan pinjaman yang harus dikembalikan. Oleh sebab itulah, manakala jiwa berhias diri dengan harta berarti ia telah mengenakan pakaian pinjaman yang harus dikembalikan kepada pemilik aslinya. Sementara keindahan serta kesempurnaan jiwa dengan ilmu, ia adalah keindahan permanen yang tidak akan terlepas dari jiwa.
  9. Kaya harta adalah inti kemiskinan jiwa. Sedangkan, kaya ilmu adalah inti kekayaan jiwa, karena ilmu adalah kekayaan hakiki bagi jiwa.
  10. Orang yang diprioritaskan serta dimuliakan karena hartanya, ia tidak lagi diutamakan dan dimuliakan tatkala hartanya lenyap. Sedangkan, orang yang diprioritaskan dan dimuliakan karena ilmu, ilmu itu justru semakin membuatnya diutamakan dan dimuliakan.
  11. Mengutamakan orang karena harta yang dimilikinya adalah inti celaan baginya, lantaran prioritas ini berarti memanggil dengan menyebut aibnya. Sebab andai bukan karena harta, maka ia pantas diakhirkan dan diperlakukan secara hina. Hal ini berbeda ketika seseorang diutamakan dan dimuliakan karena ilmu. Itulah inti kesempurnaan baginya, karena ia diutamakan oleh sebab sifat pribadinya, bukan karena faktor di luar dirinya. 
  12. Orang yang mencari kesempurnaan lewat kekayaan harta laksana orang yang menyatukan dua hal yang bertolak belakang. Intinya, ia mencari sesuatu yang tidak bisa diperoleh. Berbeda dengan orang kaya ilmu, ia tidak mengalami sedikit pun dari keburukan itu. Bahkan sebaliknya, semakin membagikan ilmu, maka ia pun merasa semakin senang dan berbahagia. Orang berilmu ini tidak merasakan kenikmatan orang-orang kaya dalam hal harta benda, sebagaimana orang kaya tidak merasakan kenikmatan orang berilmu dalam hal pengetahuan dan kebahagiaan jiwa.

Orang berilmu punya faktor-faktor kenikmatan yang lebih besar, lebih kuat, serta lebih langgeng daripada kenikmatan orang kaya. Keletihan dalam mendapatkan, mengumpulkan, dan menjaga ilmu tidak seberapa jika dibandingkan dengan keletihan orang kaya dalam mengumpulkan harta. Sebab mengumpulkan harta itu sendiri merupakan duka cerita di luar duka derita yang dirasakan pencarinya.

  1. Kenikmatan yang diperoleh dari harta dan kekayaan bersifat situasional, yaitu saat harta diperoleh. Kenikmatan ini mungkin lenyap atau berkurang. Buktinya, watak manusia terus mencari kekayaan lain dan tamak di sisi ini. Di selalu berusaha mencari tambahan sehingga merasa selalu kurang. Andai ia memiliki seluruh harta simpanan di bumi, kemiskinan dan ketamakan tetap bersarang dalam dirinya, karena ia termasuk salah satu di antara dua orang rakus yang tidak pernah kenyang, sebab sifat tamak serta sifat serakah ingin menumpuk-numpuk harta tidak pernah lepas dari hatinya. Berbeda dengan orang kaya ilmu dan kaya iman, kenikmatan yang dirasa seiring keberadaan keduanya sama seperti yang dirasakan saat kenikmatan tersebut didapatkan kembali, bahkan lebih nikmat. Pencarian dan kegigihan orang yang berilmu dalam mencari ilmu selalui disertai kenikmatan ilmu yang didapatkan, kebaikan yang diharapkan, dan kebahagiaan diri dalam proses pencariannya.
  2. Orang kaya harta mengharuskan dirinya berbuat baik kepada orang lain, hingga ia dihadapkan pada dua kemungkinan, yaitu menutup pintu kebaikan itu atau membukanya. Jika menutup pintu berbuat baik kepada orang lain, ia dikenal sebagai orang yang jauh dari kebaikan dan manfaat sehingga ia dibenci, dicela, lagi dihina banyak orang sehingga hatinya merasa pedih, duka, dan pilu. Sedangkan, jika ia membuka pintu kebaikan dan berbagai dengan orang lain, tetap saja ia tidak akan mampu melakukannya kepada semua orang. Ia hanya bisa berbuat baik kepada sebagian orang. Cara seperti ini tentu saja akan membuka pintu permusuhan serta celaan orang miskin dan orang yang tidak dibantu. Kekurangan-kekurangan semacam ini tidaklah menimpa orang yang kaya ilmu. Orang yang berilmu bisa membagikan ilmunya kepada semua orang. Ilmu yang telah dibagikan darinya justru tetap utuh dan tidak pernah lenyap. Bahkan, ia seperti berbisnis dengan ilmu yang diberikannya. Seperti orang kaya yang memberikan hartanya kepada orang fakir, lantas harta tersebut dipakai untuk berdagang, sehingga si fakir menjadi orang kaya seperti dirinya.
  3. Mengumpulkan harta itu disertai tiga kesusahan hidup, yaitu: (1) penyakit dan ujian sebelum punya harta, (2) penyakit dan ujian saat mendapat harta itu di mana sulit menjaga dan hati terkait terus pada harta sehingga pada dan sore selalu dirundung duka dan sedih, (3) penyakit dan ujian saat berpisah dengan harta, yaitu bagi seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan harta. Hal ini tentu berbeda dengan orang yang kaya ilmu dan iman. Selain terhindar dari berbagai penyakit tadi, ia mampu menjamin semua kenikmatan, kebahagiaan, dan kesenangan pribadi tanpa ada sakit hati. Hanya saja kenikmatan demikian dapat diraih setelah melalui keletihan, kesabaran, dan kesulitan. 
  4. Lengkapnya nikmat kekayaan dapat dirasakan ketika bergaul dengan orang lain, seperti dengan pembantunya, istri, selir, atau para pengikut. Orang kaya jika bersendirian dengan hartanya tanpa bergaul dengan pembantu, istri, atau orang lain, ia tidak merasakan manfaat dari hartanya. Karena bergaul dengan orang lain, pasti timbul sakit hati dan berbagai gangguan. Seandainya tidak ada gangguan, tentu amatlah baik. Namun kenyataannya, ada maslahat dan ada mudarat ketika bergaul dengan orang lain. Sudah pasti orang kaya itu diusik oleh orang lain sehingga timbul kebencian, permusuhan, dan rasa marah. Karena orang kaya itu hanya bisa memuaskan sebagian orang. Sehingga ia pun mendapati dua hal yang bertolak belakang, yaitu kepuasan dan benci.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَكُلَّمَا طَالَتِ المُخَالَطَةُ اِزْدَادَتْ أَسْبَابُ الشَّرِّ وَالعَدَاوَةُ وَقُوِّيَتْ , وَبِهَذَا السَّبَبُ كَانَ الشَّرُّ الحَاصِلُ مِنَ الأَقَارِبِ وَالعُشَرَاءِ أَضْعَافَ الشّرِّ الحَاصِلِ مِنَ الأَجَانِبِ وَالبُعَدَاءِ“Makin lama bergaul, makin banyak kesalahan dan permusuhan, bahkan semakin kuat. Itulah alasan keburukan yang ditimbulkan kerabat dan sanak keluarga pada harta berlipat kali dibandingkan dengan keburukan orang yang jauh atau bukan kerabat.” (Miftaah Daar As-Sa’aadah, 1:422)Adapun jika ia tidak memiliki jasa kepada orang lain, mereka akan menjauhi dirinya agar terhindar dari sisi negatif interaksi dengannya. Penyakit demikian tidak ada dalam orang yang kaya ilmu.
  5. Harta itu hanyalah alat untuk menggapai tujuan untuk kenyang, hilang dahaga, kehangatan, mendapat perlindungan, hingga selamat dari berbagai rasa sakit.  Berbeda dengan kekayaan ilmu, selalu membahagiakan hati, menimbulkan kesenangan dan keceriaan. Ilmu itu tidak lenyap yang membuat orang sedih dan terluka. Bahkan, pemilik kekayaan ilmu LAA KHAUFUN ‘ALAIHIM WA LAA HUM YAHZANUUN, yaitu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak bersedih hati.
  6. Orang yang kaya harta akan membenci kematian dan perjumpaan dengan Allah. Karena kalau sudah cinta pada harta, ia tidak suka untuk berpisah dan ingin harta tetap bertahan agar ingin terus dinikmati. Berbeda dengan ilmu, ia membuat hamba menginginkan pertemuan dengan Allah dan mendorongnya untuk zuhud terhadap kehidupan yang penuh kesusahan dan fana ini.
  7. Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama akan tetap ada selamanya; jasad mereka musnah, tetapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia.
  8. Ruh itu hidup dengan ilmu seperti halnya raga hidup dengan ruh. Orientasi orang kaya harta adalah menambah kehidupan raga. Sedangkan ilmu adalah kehidupan hati dan rohani.
  9. Hati itu adalah raja bagi tubuh. Sedangkan, ilmu adalah hiasan, bekal, sekaligus harta bagi hati. Ilmu menjadi penopang kerajaan tubuh. Raja harus memiliki persenjataan, prajurit, harta, dan hiasan. Ilmulah yang menjadi tunggangan, senjata, dan keindahannya. Harta itu menjadi hiasan dan keindahan bagi raga tatkala dibelanjakan untuk itu. Ketika seseorang menyimpannya serta tidak membelanjakan harta itu, ia tidak lagi menjadi hiasan atau keindahan, melainkan menjadi kekurangan dan petaka baginya.
  10. Yang dimaksudkan harta yang secukupnya adalah sekadar menegakkan tulang dan menangkal bahaya agar hamba bisa menyiapkan bekal guna meniti perjalanan menuju Rabb. Lebih dari itu, harta justru mengganggu, menghalangi perjalanan menuju Allah, dan menghalangi persiapan membawa bekal ke akhirat. Bahaya harta jauh lebih banyak daripada manfaatnya. Jadi, semakin banyak kekayaan yang dimiliki, hamba semakin lamban tertinggal untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian yang menanti. Berbeda dengan ilmu yang bermanfaat, maka semakin bertambahnya ilmu, hamba akan semakin mempersiapkan bekal untuk meniti perjalanan menuju Allah.

Allah jua yang memberi taufik. Kita memohon pertolongan, serta tiada daya dan kekuatan tanpa pertolongan-Nya. Bekal perjalanan menuju Allah adalah ilmu dan amal. Sementara bekal di dunia adalah menumpuk dan menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, pasti akan bersiap-siap mendapatkan sesuatu itu.

ِوَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَٰكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ

“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu”.” (QS. At-Taubah: 46)

Catatan lain yang sudah disebutkan dalam perkataan ‘Ali bin Abi Thalib:

  1. Ilmu itu menjadi haakim (yang memberikan hukum), sedangkan harta itu menjadi objek hukum (terkena hukum).
  2. Mencintai orang yang berilmu (ulama) bagian dari agama, cinta yang mendekatkan diri kepada Allah.
  3. Ilmu menjadikan orang yang memilikinya menjadi seorang yang ditaati semasa hidupnya dan disebut dengan kebaikan setelah matinya. Apa yang dihasilkan oleh harta akan hilang bersama kemusnahannya.

Semoga Allah karuniakan kita ilmu yang manfaat.

Referensi:

Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan. Mulai dari 1:412-430.

—

Diselesaikan 15 Muharram 1444 H, 13 Agustus 2022 dini hari

@ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul

Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/34384-40-alasan-kenapa-ilmu-agama-itu-lebih-baik-daripada-harta.html

Hadis: Mukmin yang Kuat

Teks hadis

Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan loyo/malas. Apabila sesuatu menimpamu, janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku berbuat demikian, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah. Dan apa yang Dia inginkan, maka Dia kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ’seandainya’ itu akan membuka celah perbuatan setan.” (HR. Muslim no. 2664. Lihat Syarh Nawawi, jilid 8, hal. 260.)

Kandungan hadis

Hadis yang mulia ini menunjukkan:

Pertama: Allah Ta’ala memiliki sifat cinta kepada sesuatu. Kecintaan Allah kepada sesuatu bertingkat-tingkat. Kecintaan-Nya kepada mukmin yang kuat (imannya) lebih dalam daripada kecintaan-Nya kepada mukmin yang lemah (imannya). Orang mukmin yang kuat adalah orang yang menyempurnakan dirinya dengan 4 hal: 1) ilmu yang bermanfaat, 2) beramal saleh, 3) saling mengajak kepada kebenaran, dan 4) saling menasihati kepada kesabaran. Adapun mukmin yang lemah adalah yang belum bisa menyempurnakan semua tingkatan ini.

Kedua: Kebaikan pada diri orang-orang beriman itu bertingkat-tingkat. Mereka terdiri dari tiga golongan manusia. Pertama, kaum As-Sabiqun ilal khairat, orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan-kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang menunaikan amal yang wajib maupun yang sunah serta meninggalkan perkara yang haram dan yang makruh. Kedua, kaum Al-Muqtashidun atau pertengahan. Mereka itu adalah orang yang hanya mencukupkan diri dengan melakukan kewajiban dan meninggalkan keharaman. Ketiga, Azh-Zhalimuna li anfusihim. Mereka adalah orang-orang yang mencampuri amal kebaikan mereka dengan amal-amal jelek.

Ketiga: Perkara yang bermanfaat ada dua macam: perkara akhirat/keagamaan dan perkara keduniaan. Sebagaimana seorang hamba membutuhkan perkara agama, maka ia juga membutuhkan perkara dunia. Kebahagiaan dirinya akan tercapai dengan senantiasa bersemangat untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat di dalam kedua perkara tersebut.

Perkara yang bermanfaat dalam urusan agama kuncinya ada 2: ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membersihkan hati dan roh sehingga dapat membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, yaitu ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang terdapat dalam ilmu hadis, tafsir, dan fikih serta ilmu-ilmu lain yang dapat membantunya seperti ilmu bahasa Arab dan lain sebagainya. Adapun amal saleh adalah amal yang memadukan antara niat yang ikhlas untuk Allah serta perbuatan yang selalu mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sedangkan perkara dunia yang bermanfaat bagi manusia adalah dengan bekerja mencari rezeki. Pekerjaan yang paling utama bagi seseorang, berbeda-beda tergantung pada individu dan keadaan mereka. Batasan untuk itu adalah selama hal itu benar-benar bermanfaat baginya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu.”

Keempat: Dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat itu, tidak sepantasnya manusia bersandar kepada kekuatan, kemampuan, dan kecerdasannya semata. Namun, dia harus menggantungkan hatinya kepada Allah Ta’ala dan meminta pertolongan-Nya dengan harapan Allah akan memudahkan urusannya.

Kelima: Apabila seseorang menjumpai perkara yang tidak menyenangkan setelah dia berusaha sekuat tenaga, maka hendaknya dia merasa rida dengan takdir Allah Ta’ala. Tidak perlu berandai-andai. Karena dalam kondisi semacam itu, berandai-andai justru akan membuka celah bagi setan. Dengan sikap semacam inilah, hati kita akan menjadi tenang dan tenteram dalam menghadapi musibah yang menimpa.

Keenam: Di dalam hadis yang mulia ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggabungkan antara keimanan kepada takdir dengan melakukan usaha yang bermanfaat. Kedua pokok ini telah ditunjukkan oleh dalil Al-Kitab maupun As-Sunnah dalam banyak tempat. Agama seseorang tidak akan sempurna, kecuali dengan kedua hal itu.

Sabda Nabi, “Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu”, merupakan perintah untuk menempuh sebab-sebab agama maupun dunia. Bahkan, di dalamnya terkandung perintah untuk bersungguh-sungguh dalam melakukannya, membersihkan niat dan membulatkan tekad, mewujudkan hal itu dan mengaturnya dengan sebaik-baiknya. Sedangkan sabda Nabi, “Dan mintalah pertolongan kepada Allah”, merupakan bentuk keimanan kepada takdir serta perintah untuk bertawakal kepada Allah ketika mencari kemanfaatan dan menghindar dari kemudaratan dengan penuh rasa harap kepada Allah Ta’ala agar urusan dunia dan agamanya menjadi sempurna.

***

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.

Artikel: Muslim.or.id

Sumber:

Diringkas dari Bahjat Al-Qulub Al-Abrar wa Qurratu ‘Uyun Al-Akhyar Syarh Jawami’ Al-Akhbar, karya Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu ta’ala, cetakan Darul Kutub Ilmiyah, hal. 40-46.

Sumber: https://muslim.or.id/95388-hadis-mukmin-yang-kuat.html
Copyright © 2024 muslim.or.id