Ada Oknum Melarang Jilbab di Negara Indonesia Mayoritas Muslim?

Belum juga hilang dari ingatan tentang kasus pelarangan jilbab di tengah para paskibraka, viral lagi isu tentang pelarangan jilbab bagi para dokter di sebuah rumah sakit di negeri kita. Adalah kenyataan ironis bahwa negeri kita adalah negeri dengan mayoritas muslim tetapi seakan-akan minoritas karena sebagian penduduk muslimnya dihalangi menggunakan busana jilbabnya.

Faktanya, perilaku diskriminasi semacam ini tidak hanya terjadi di dua kasus ini saja, tetapi setelah ditelusuri juga terjadi di beberapa perusahaan dan organisasi lainnya. Bahkan kerap kali aturan-aturan itu dikeluarkan ketika para muslimah yang bersangkutan sudah terlanjur bertugas atau bekerja di tempat tersebut, sehingga membuat mereka terjebak dalam keputusan dilematis. Mau keluar tapi tak mudah dapat pekerjaan, mau bertahan tapi melanggar prinsip!?

Perlu dipahami bahwa muslimah tak ada bedanya dengan yang lain, mereka juga bisa bekerja dan beraktivitas seperti kaum lainnya. Jilbab yang dikenakannya tidak menghalanginya untuk melakukan hal bermanfaat bagi masyarakat dan negara, tentu dalam koridor yang diizinkan oleh syariat. Hal ini perlu dipahami dengan baik oleh para penyelenggara negara, pemilik perusahaan, dan para pemimpin organisasi.

Kami juga berpesan bagi para muslimah agar tetap tegar dan tidak menggadaikan prinsip beragamanya demi tendensi dan keuntungan dunia. Jilbab adalah ciri seorang muslimah dan merupakan prinsip yang tak boleh ditolerir. Perintah berjilbab telah ditegaskan oleh Allah di dalam Al-Quran dengan firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيم

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas,

يقول تعالى آمرا رسوله، صلى الله عليه وسلم تسليما، أن يأمر النساء المؤمنات -خاصة أزواجه وبناته لشرفهن -بأن يدنين عليهن من جلابيبهن، ليتميزن عن سمات نساء الجاهلية وسمات الإماء

“Allah Ta’ala memerintahkan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam agar menyuruh wanita-wanita mukmin, khususnya istri-istri dan anak-anak perempuan beliau agar mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka. Sebab cara berpakaian yang demikian membedakan mereka dari kaum wanita jahiliah dan budak-budak perempuan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/482)

Jika ingin jujur, larangan berjilbab ini justru menabrak kebebasan bernegara. Tentu wanita muslimah bebas memakai jilbab mereka, dan tidak dihalangi apalagi sampai dilarang. Semestinya pemerintah menjunjung tinggi spirit ini dan menindak tegas pelaku diskriminasi, belum lagi karena Indonesia sebenarnya negara mayoritas muslim.

Kita khawatir dengan fakta “mayoritas rasa minoritas” akan dimanfaatkan oknum tertentu untuk membuat ketidakdamaian dan ketidakrukunan antar beragama. Padahal Indonesia dikenal sebagai salah satu negara paling rukun dan paling menjunjung tinggi nilai toleransi. Semoga Indonesia tetap damai dan rukun sejahtera. Aamiin.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/ada-oknum-melarang-jilbab-di-negara-indonesia-mayoritas-muslim.html

Kisah Wanita Pezina yang Memberi Minum pada Anjing

Ada hadits yang membicarakan tentang keutamaan memberikan minum pada hewan. Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan untuk berbuat baik pada setiap makhluk termasuk pula hewan. Di antara hadits yang diangkat adalah membicarakan wanita pezina yang memberi minum pada anjing dan akhirnya ia mendapatkan pengampunan dosa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِى كَانَ بَلَغَ مِنِّى. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ حَتَّى رَقِىَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِى هَذِهِ الْبَهَائِمِ لأَجْرًا فَقَالَ « فِى كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ »

“Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Setiap memberi minum pada hewan akan mendapatkan ganjaran.” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244)

Juga dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا

“Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim no. 2245).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Yang dimaksud dengan hewan yang ditolong adalah hewan yang dihormati yang tidak diperintahkan untuk dibunuh. Memberi minum pada hewan itu akan meraih pahala. Memberi makan juga termasuk bentuk berbuat baik padanya. Demikian penjelasan dari Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (14: 214).

2- Boleh bersafar seorang diri tanpa membawa bekal selama tidak khawatir kesulitan berat saat safar. (Fathul Bari, 5: 42).

3- Hadits di atas juga berisi motivasi untuk berbuat baik pada manusia. Jika dengan memberikan minum pada anjing bisa mendapatkan pengampunan dosa, maka memberi minum pada manusia tentu pula akan mendapatkan pahala yang besar. (Idem)

4- Boleh memberikan sedekah sunnah pada orang musyrik selama tidak ada yang muslim. Namun jika ada, ia lebih berhak. (Idem)

5- Jika ada hewan yang butuh minum, manusia pun demikian, maka manusia yang lebih didahulukan. (Idem)

6- Memberikan minum pada hewan yang membutuhkan termasuk pula anjing akan menuai pahala dan terhapusnya dosa.

7- Besarnya karunia Allah dan keluasan rahmat-Nya. Dia membalas dengan balasan yang besar atas perbuatan yang sedikit. Allah mengampuni dosa orang tersebut hanya dengan sedikit perbuatan, yaitu dengan memberi minum anjing.

8- Seorang muslim pelaku dosa besar tidak divonis kafir. Bisa jadi Allah mengampuni dosa besar tanpa taubat karena dia melakukan kebaikan yang dengannya Allah mengampuninya. Wanita pezina itu diampuni bukan karena taubatnya, namun karena dia memberi minum anjing, sebagaimana hal itu jelas terlihat dari hadits. Tidak mengkafirkanseorang muslim karena suatu dosa adalah sesuatu yang ditetapkan di dalam syariat Taurat, juga dalam syariat Islam.

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

—

Disusun @ Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rajab 1435 H di pagi hari

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/7395-kisah-wanita-pezina-yang-memberi-minum-pada-anjing.html

Masih Berat Menutup Aurat?

Saudariku, jika engkau sebagai wanita muslimah masih merasa berat untuk menutup aurat, maka kisah ini hendaklah menjadi bahan renungan bagimu.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Suatu hari ketika kami sedang berada di sisi Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya,

‘Maukah kalian aku beritahukan wanita calon penghuni surga?’

‘Ya, mau.’ jawab kami serentak

Beliau pun mengatakan, ‘Dia adalah wanita berkulit hitam yang datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengadukan masalahnya.

‘Wahai Rasulullah, saya menderita penyakit ayan. Karenanya aurat saya sering terbuka tanpa sadar. Doakan saya agar sembuh!’ keluh wanita tersebut.

‘Baik, aku bisa saja mendoakanmu. Namun, jika engkau mau bersabar, itu lebih baik bagimu dan engkau akan meraih surga.’ jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Kalau begitu, aku memilih bersabar. Tetapi, masalahnya ketika sedang kambuh, auratku sering tersingkap. Berdoalah kepada Allah agar auratku tidak terlihat!’ pinta si wanita

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memohon kepada Allah agar aurat wanita hitam itu tidak terbuka saat penyakitnya kambuh.” (HR. Bukhari no. 5652)

Begitulah potret wanita calon penghuni surga yang sangat menjaga auratnya. Bahkan, saat kondisi sakit pun, ia malu jika auratnya tersingkap. Padahal, Islam telah memberikan keringanan baginya karena auratnya terbuka tanpa disengaja.

Mari kita bandingkan dengan diri kita masing-masing. Sudahkah kita menutup aurat secara sempurna? Apakah kita gelisah saat aurat kita tersingkap?

Semoga Allah merahmati wanita hitam calon penghuni surga yang telah memberikan keteladanan kepada kita mengenai arti penting aurat bagi seorang muslimah.
***

Referensi: Kisah Wanita Teladan, karya Abdullah Haidir, Kantor Dakwah Sulay, cetakan ketiga, hlm. 7-9, tahun 1433 H, Riyadh.

Sumber: https://muslimah.or.id/12302-masih-berat-menutup-aurat.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Dunia: Manis Dan Hijau

عن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم (إنَّ الدُّنيا حلوةٌ خَضِرة، وإنَّ الله مُستخلفكم فيها، فينظر كيف تعملُون؟ فاتقوا الدُّنيا، واتَّقُوا النِّساء؛ فإنَّ أوَّل فِتنة بني إسرائيل كانت في النِّساء) رواه مسلم

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepadamu sekalian. Kemudian Allah menunggu (memperhatikan) apa yang kamu kerjakan (di dunia itu). Karena itu takutilah dunia dan takutilah wanita, karena sesungguhnya sumber bencana Bani Isarail adalah wanita.”
(HR. Muslim)

“Dunia itu manis dan hijau.” Artinya, dunia itu manis rasanya, penuh kelezatan dan kenikmatan. Dan hijau adalah bahwa dunia indah dipandang dan bisa menyegarkan mata.

Jika ada sesuatu yang manis rasanya dan hijau berada di depan mata, maka mata akan menangkapnya terlebih dahulu dan setelah itu barulah jiwa yang akan berusaha mencapainya.

https://giphy.com/embed/PetmHKSUaaagtCWgFA

Dan apabila keduanya sudah berpadu, antara kesenangan mata dan jiwa maka dikhawatirkan seseorang akan terjerumus ke dalamnya. Terjerumus dalam tipu daya dan kesibukan dunia.

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan kepada umatnya bahwa Allah subhanallahu wa ta’ala telah menunjuk manusia sebagai khalifah di bumi, mendiami bumi sehingga manusia dapat hidup di dalamnya serta merawatnya.

Sebagai khalifah di muka bumi pun manusia harus melakukan ketaatan kepada-Nya, menahan diri dari hawa nafsu serta tidak tertipu oleh dunia ini.

Sebagaimana Firman Allah subhanallahu wa ta’ala:

فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“…maka janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu treperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah”
(QS. Luqman: 33)

Dunia ini memiliki penampilan yang begitu mempesona, tetapi kenyataannya adalah sebaliknya.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan kepada umatnya bahwa dunia bukanlah tempat tinggal yang abadi. Karena itu, jadikan hidup di dunia ini seolah-olah hanyalah seorang musafir dengan tujuan akhir adalah kehidupan akhirat.

https://giphy.com/embed/9JjX6nVEdrWZ3QNXBE

Bagi seorang muslim, dunia tak lebih dari sebuah penjara karena ia tidak bisa bebas sepuas-puasnya. Ia juga tidak bisa mengumbar nafsu semaunya. Ada aturan yang membatasi. 

Jika ia melewati batas itu, ia akan terjungkal sedalam-dalamnya ke lembah kenistaan yang berujung penyesalan. 

Namun, sebaliknya, bagi orang kafir dunia ini adalah kesenangannya. Dunia ini adalah ‘surga’nya. Ia bebas melakukan apa saja semaunya; tak ada yang melarang. Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan, dalam sabdanya;

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir” 
(HR. Muslim).

Semua bentuk kelezatan dunia merupakan ujian dan cobaan. Tetapi yang terbesar dan terkuat dari semua cobaan adalah fitnah wanita, karena fitnah (cobaan) mereka sangat besar.

https://giphy.com/embed/8fSqFyWakblrWbZBAA

Setidak-tidaknya, wanita mendorong seorang pria untuk mencintai dunia. Di samping itu, sering kali terjadi pelanggaran yang haram, pembunuhan, dan permusuhan disebabkan oleh wanita. 

Jika diamnya saja seorang wanita dapat menggoda kaum lelaki, apalagi gerakannya? Baik dari suara maupun gerak tubuhnya tentu dapat lebih menggoda. Maka seorang muslim patut menundukkan pandangannya ketika berjumpa dengan para wanita. Dan Islam telah mensyari’atkan agar para wanita menutup semua bagian tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. 

Hal ini sebagaimana ujian pertama yang diujikan Allah subhanallahu wa ta’ala kepada Bani Israil adalah dari seorang wanita. Maka selayaknya umat Islam tidak terjerumus sebagaimana umat terdahulu.

Wallahu a’lam

Penulis: Abu Samudera

summer : https://wadimubarak.com/dunia-manis-dan-hijau/

Penyebab Penyimpangan Remaja, Bag. 2

Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas beberapa penyebab penyimpangan remaja dan anak muda, antara lain: banyaknya waktu luang, pengabaian serta merenggangnya jarak antara para remaja dan generasi tua di antara keluarga maupun masyarakat, memiliki akses kontak dengan orang-orang menyimpang serta berkawan dengan mereka, dan membaca bacaan-bacaan berbahaya berupa buku-buku, korespondensi, koran-koran, majalah-majalah, dll. Pada artikel ini kita akan membahas sebab lain penyimpangan anak muda.

Anggapan sebagian anak muda bahwa agama Islam mengekang kebebasan serta memasung bakat dan kemampuan

Akibat memiliki anggapan ini, ia menjauh dari agama Islam dan meyakini bahwa Islam adalah agama terbelakang yang menyeret penganutnya mundur serta menghalangi mereka meraih kemajuan dan peningkatan.

Solusi masalah ini: Singkaplah tabir yang menutupi hakikat Islam dari hadapan para remaja yang tidak mengetahuinya, baik akibat buruknya kesan yang mereka dapatkan maupun akibat keterbatasan ilmu mereka atau akibat keduanya sekaligus, sebagaimana digambarkan oleh seorang penyair:

ومَنْ يَكُ ذَا فَمٍ مُرٍّ، مريضٍ    يَجِدْ مُرّاً بِهِ الْمَاءَ الزُّلَالَا

“Barangsiapa memiliki mulut yang terasa pahit karena sakit, niscaya kan ia dapati air tawar nan segar terasa pahit.”

Islam tidak mengekang kebebasan, melainkan menata serta memandu dengan baik agar kebebasan pribadi tidak bertabrakan dengan kebebasan orang lain sebagaimana yang akan terjadi bila kebebasan diberikan tanpa batasan sama sekali. Bila seseorang diberikan kebebasan secara mutlak tanpa batas sesuai kehendaknya, pastilah kebebasannya akan mengorbankan kebebasan orang lain, hingga akan terjadi pertentangan antar kebebasan masing-masing dan tersebarlah kekacauan serta kerusakan.

Karena itulah Allah menamakan hukum-hukum agama sebagai al-hudud (batasan-batasan), baik hukum dalam bentuk larangan sebagaimana dalam firman-Nya:?

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

“Itulah batasan-batasan (larangan) Allah maka janganlah kamu mendekatinya.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Begitu juga hukum dalam bentuk positif sebagaimana pada firman-Nya:?

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا

“Itulah batasan-batasan (hukum) Allah maka janganlah Kamu melanggarnya.” (QS. Al-Baqarah: 229).

Tentu berbeda antara pengekangan yang disangka sebagian remaja dengan pengarahan dan bimbingan yang disyariatkan oleh Allah yang Mahabijaksana lagi Mahamengetahui kepada para hamba-Nya.

Itulah mengapa seharusnya hal ini tak perlu dipermasalahkan. Sebab keteraturan adalah suatu hal yang dituntut pada segala bidang di alam raya ini, dan manusia secara tabiat tunduk terhadap keteraturan. Contohnya manusia tunduk pada rasa lapar dan haus yang dapat dihilangkan dengan makan dan minum dengan jumlah, tata cara dan jenis tertentu secara teratur untuk menjaga kesehatan jasmani. Demikian pula manusia tunduk pada peraturan yang berlaku pada masyarakat serta adat istiadat yang berlaku, sehingga ia mengikuti adat istiadat negerinya seperti bentuk tempat tinggal, gaya berbusana, peraturan lalu lintas, dan ia akan dianggap aneh, ganjil dan asing bila tidak mengikuti hal itu.

Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa kehidupan seluruhnya pasti akan tunduk pada batas-batas tertentu, agar semua dapat berjalan beriringan demi mencapai tujuan yang diinginkan. Apabila taat pada peraturan yang berlaku di masyarakat merupakan kewajiban setiap individu tanpa terkecuali demi maslahat masyarakat dan mencegah kekacauan, maka tunduk terhadap syariat juga kewajiban setiap individu demi maslahat umat. Bagaimana mungkin sebagian orang merasa tidak puas dengan hukum syariat serta memandangnya sebagai pengekang kebebasan?! Ini adalah kedustaan yang nyata.

Islam juga tidak memasung bakat dan kemampuan manusia, bahkan Islam adalah medan yang luas untuk mencurahkan seluruh kemampuan pemikiran, akal, dan jasmani.

Islam mengajak untuk berpikir dan mengamati, agar manusia dapat mengambil pelajaran serta berkembang akal dan pemikirannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala😕

قُل إِنَّما أَعِظُكُم بِواحِدَةٍ أَن تَقوموا لِلَّهِ مَثنى وَفُرادى ثُمَّ تَتَفَكَّروا

“Katakanlah: Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu berpikir.” (QS. Saba’: 46).?

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit serta di bumi.” (QS. Yunus: 101).

Bahkan Islam tak sekadar mengajak untuk berpikir dan merenung, Islam mencela orang-orang yang tak berakal dan tak berpikir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:?

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah.” (QS. Al-A’raf: 185).?

أَوَلَم يَتَفَكَّروا في أَنفُسِهِم ما خَلَقَ اللَّهُ السَّماواتِ وَالأَرضَ وَما بَينَهُما إِلّا بِالحَقِّ

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan.” (QS. Ar-Rum: 8).?

وَمَن نُعَمِّرهُ نُنَكِّسهُ فِي الخَلقِ أَفَلا يَعقِلونَ

“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal penciptaannya. Maka apakah mereka tidak berpikir?” (QS. Yasin: 68).

Perintah untuk mengamati dan berpikir tak lain membuka kekuatan pikiran dan akal, maka bagaimana bisa sebagian orang berkata, “Islam memasung bakat dan kemampuan”?

Islam membolehkan penganutnya meraih segala kenikmatan yang tidak mengandung marabahaya bagi tubuh, agama dan akal seseorang.

Islam membolehkan makan dan minum dari segala hal-hal yang baik, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:?

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا كُلوا مِن طَيِّباتِ ما رَزَقناكُم وَاشكُروا لِلَّهِ إِن كُنتُم إِيّاهُ تَعبُدونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 172).?

يا بَني آدَمَ خُذوا زينَتَكُم عِندَ كُلِّ مَسجِدٍ وَكُلوا وَاشرَبوا وَلا تُسرِفوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ المُسرِفينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

Islam membolehkan beragam pakaian sesuai hikmah dan fitrah. Allah ta’ala berfirman:?

يا بَني آدَمَ قَد أَنزَلنا عَلَيكُم لِباسًا يُواري سَوآتِكُم وَريشًا وَلِباسُ التَّقوى ذلِكَ خَيرٌ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf: 26).?

قُل مَن حَرَّمَ زينَةَ اللَّهِ الَّتي أَخرَجَ لِعِبادِهِ وَالطَّيِّباتِ مِنَ الرِّزقِ قُل هِيَ لِلَّذينَ آمَنوا فِي الحَياةِ الدُّنيا خالِصَةً يَومَ القِيامَةِ

“Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?’ Katakanlah: ‘Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.’” (QS. Al-A”raf: 32).

Islam membolehkan bernikmat-nikmat bersama perempuan dengan ikatan pernikahan yang sesuai syariat. Allah ta’ala berfirman:?

وَإِن خِفتُم أَلّا تُقسِطوا فِي اليَتامى فَانكِحوا ما طابَ لَكُم مِنَ النِّساءِ مَثنى وَثُلاثَ وَرُباعَ فَإِن خِفتُم أَلّا تَعدِلوا فَواحِدَةً أَو ما مَلَكَت أَيمانُكُم ذلِكَ أَدنى أَلّا تَعولوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja.” (QS. An-Nisa’: 3).

Dari masalah mencari nafkah, Islam tidak mengekang kemampuan penganutnya, bahkan Islam menghalalkan bagi mereka semua usaha yang adil dan muncul dari keridaan, Allah ta’ala berfirman:?

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 285).

هُوَ الَّذي جَعَلَ لَكُمُ الأَرضَ ذَلولًا فَامشوا في مَناكِبِها وَكُلوا مِن رِزقِهِ وَإِلَيهِ النُّشورُ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15)?

فَإِذا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانتَشِروا فِي الأَرضِ وَابتَغوا مِن فَضلِ اللَّهِ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah” (QS. Al-Jumu’ah: 10).

Setelah penjelasan ini, tidaklah benar anggapan dan perkataan sebagian orang bahwa Islam membatasi bakat dan kemampuan.

Semoga dengan memahami penyebab-penyebab penyimpangan remaja ini, kita sebagai orangtua dan pendidik dapat mempersiapkan bagi mereka sebab-sebab untuk menahan hawa nafsu, menundukkanya, serta mengontrolnya secara bijaksana hinga mencapai jalan yang lurus serta tumbuh sebagai generasi rabbani.

Wallahu a’lam.

Kembali ke bagian 1: Penyebab Penyimpangan Remaja, bag. 1

—

Penulis: Sarah Ummu Majza’ah

***
Diterjemahkan dengan penyesuaian dari Min Musykilaatisy Syabab karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyah, cetakan tahun 1429 H, hal. 23-27).

Sumber: https://muslimah.or.id/16224-penyebab-penyimpangan-remaja-bag-2.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

COBA SEKALI-KALI BERJALAN TANPA ALAS KAKI

Termasuk sunnah “Berjalan tanpa memakai alas kaki (sekali-kali)”

Kecuali di tempat jika melepas alas kaki, maka kakinya akan terluka.

Di antara hikmahnya adalah:

– Melatih ketawadhuan dan kezuhudan.

– Menyehatkan dan memberikan kesegaran di kaki.

– Melatih diri ketika dalam keadaan sulit.

– Menjauhkan dari sifat sombong dan bermewah-mewah.

Al-‘Allaamah Al-Qori rahimahullah berkata:

[نَحْتَفِيَ أَحْيَانًا] أَيْ : نَمْشِيَ حُفَاةً؛ تَوَاضُعًا، وَكَسْرًا لِلنَّفْسِ، وَتَمَكُّنًا مِنْهُ عِنْدَ الِاضْطِرَارِ إِلَيْهِ، وَلِذَلِكَ قَيَّدَهُ بِقَوْلِه ِ: [أَحْيَانًا] أَيْ : حِينًا بَعْدَ حِينٍ

“Kita berjalan tanpa alas kaki sesekali waktu. Maksudnya: Berjalan tanpa sepatu atau sandal dalam rangka tawadhu’ dan menundukkan hawa nafsu serta memberikan kenyamanan kaki saat berjalan, ketika hal itu dibutuhkan. Oleh karena itu diberi batasan: ‘Sesekali waktu.’ Maksudnya: Kadang-kadang.” [Mirqatul Mafatih, 7/2827]

Syaikh Ustaimin berkata: 

“Termasuk dari sunnah berjalan dengan alas kaki, dan termasuk sunnah juga berjalan tanpa alas kaki kadang-kadang.”

Catatan: 

Sngat dianjurkan bagi orang yang memiliki pengaruh atau kedudukan di lingkungannya untuk mengamalkan ini, sehingga orang yang melihatnya tahu, bahwa berjalan tanpa alas kaki (kadang-kadang) itu sunnah, dan tidak menganggap itu bukan amalan yang hina.

Dan perhatikan niat, jika sampai meniatkannya itk syuhrah atau mencari ketenaran, maka ini haram.

Penulis: Ustadz DR. SYAFIQ RIZA BASALAMAH, M.A حفظه الله تعالى

Sumber: https://www.facebook.com/SyafiqRizaBasalamahOfficial/photos/a.418092688382605/915979368593932/?type=3&theater

artikel : https://nasihatsahabat.com/coba-sekali-kali-berjalan-tanpa-alas-kaki/

Ayah Aku Merindukanmu

Sosok suami ideal adalah lelaki yang seperti ayahku, demikian impian gadis belia yang tengah menanti pinangan lelaki salih.

Dan ternyata ayahnya adalah lelaki yang perhatian, super lembut, sabar mendengar curahan hatinya.

Lain cerita dengan gadis yang menginjak 10 tahun, di hari Jumat menjelang maghrib dia berdoa: “Ya Allah, berilah aku abi…”

Kerinduan mendalam tentang figur ayah yang sangat dicintainya terekam kuat dalam memori hatinya, ia merasa kehilangan cintanya ketika qadarullah ayahnya tiada.

Sementara seorang anak kecil usia PAUD lari tergopoh-gopoh menuju mobil yang melintas di hadapannya kemudian berteriak-teriak “abi…abi….” Sungguh pilu hatinya menanti sosok ayah yang akan mengajaknya jalan-jalan sebagaimana ayahnya dulu yang selalu membahagiakannya meski hanya sesaat.

Demikian gambaran kenangan indah sosok ayah yang sangat dicintai anak. Ayah yang penyayang serta setia membimbingnya untuk menjadi anak salih, ayah yang menggandeng tangannya ke surga. Semua kenangan indah akan senantiasa membuat anak ingin selalu merasakan cinta yang tulus dari ayahnya. Karena ayahnya mampu menjadi idola dalam kebaikan. Dan ini hanya dimiliki ayah yang paham agama dan selalu menjaga keluarganya dari siksa neraka.

Allah ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka pada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim: 6).

Sahabat Ali bin Abu Thalib radhiyallahu’anhu berkata: “Ajarkanlah dirimu sendiri beserta keluargamu nilai-nilai kebaikan” (Hadits riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak (II/494), dia menshahihkan serta disetujui oleh Adz Dzahabi).

Menjadi ayah istimewa adalah impian mulia lelaki yang telah menikah agar anak-anaknya dekat secara hati dengan ayahnya. Anak akan mentransfer karakter positif sang ayah, sehingga ia memiliki rasa percaya diri dan bermental pejuang yang semakin kokoh imannya lantaran tempaan badai kehidupan. Ayah yang salih tentunya tidak akan melewatkan kesempatan emas untuk memberikan segala yang terbaik untuk buah hatinya.

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya tentang raqub, “Siapa diantara kalian yang dianggap raqub?” Para sahabat menjawab, “Orang yang tidak memiliki anak.” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengoreksi jawaban dengan wahyu, “Orang seperti itu bukan raqub, akan tetapi raqub adalah seseorang yang tidak mempersembahkan sesuatu kepada anaknya.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya (I/382) Muslim dalam kitab shahihnya, Kitabul Birri Wa Shilah, bab: Orang yang Biasa Menguasai Dirinya Ketika Marah, hadist no.2608).

Dan terkadang seorang anak diuji Allah ta’ala dengan adanya ayah yang tidak dekat dan kurang mencintai anak-anaknya, bahkan sosok ayah yang buruk akhlaknya dan tidak mencerminkan pribadi teladan sebagai ayah yang bisa membawa bahtera rumah tangganya dalam kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. “Ummi, cerai saja dengan abi…”, curahan kesedihan hati karena ia merasa tidak mendapat limpahan kasih sayang karena ayahnya sibuk bekerja dan bisa jadi diperkuat dengan praktik poligaminya yang kurang adil.

Dan seorang istri yang seringkali mengelus dada dan merasa bersalah dengan dua anak lelakinya yang qadarullah sering mencontoh karakter buruk suaminya yang temperamental, kasar dan tidak mencerminkan akhlak agung sosok ayah yang bisa diteladani anaknya. Ingin rasanya ada kedekatan emosional antara anak dengan ayahnya, namun kesabaran sang ibu senantiasa diuji dengan watak dan sifat suaminya yang tak bisa akrab dan kaku dengan anak-anaknya.

Anaknya cenderung membuat jarak dengan sang ayah, karena didominasi dengan rasa takut daripada keinginan untuk bermanja-manja dengannya. Sungguh malang ayah yang tak dirindukan anak dan sungguh menderita batin seorang anak yang memiliki ayah yang cuek, tidak kooperatif dan tidak pandai bergaul dengan anaknya secara lembut. Ini peringatan penting agar ayah menyadari tanggungjawabnya yang besar dalam memimpin dan mendidik istri maupun anaknya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

…أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ketahuilah tiap-tiap kalian adalah pemimpin dan tiap-tiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya… Dan seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya, dan kelak ia ditanya tentang mereka…” (HR. Al Bukhari dalam shahihnya no.893 dan Muslim no.4828).

Saatnya setiap kepala rumah tangga bisa memposisikan perannya dengan cerdas dalam berinteraksi aktif dengan anak, menjadi ayah yang selalu siap sedia membersamai mereka. Bijak bersikap ketika anak butuh dukungan, mendidiknya untuk menjadi pribadi bertakwa, dan banyak belajar dari petunjuk nabawi serta perikehidupan para salafuna salih dalam membimbing anak-anaknya.

Saatnya seorang ayah memantaskan diri menjadi pribadi salih agar bisa memberikan pendidikan Islam yang terbaik untuk anak. Dan seorang anak yang berbakti pada orang tua tentunya akan berupaya berdoa, dan semangat membersamai orang tua menuju jalan takwa. Dua kerinduan yang bisa saling bertemu untuk meraih surga. Merindukan saat-saat indah ketika ayah dan anak sejalan satu frekuensi menggapai ridha Allah ta’ala. Hingga tak ada sosok anak durhaka dan tak ada figur orang tua yang menyia-nyiakan anak-anaknya.

Semoga Allah ‘azza wa jalla mudahkan para orang tua dalam membimbing dan mendidik anak-anaknya, dan juga melembutkan hati anak-anak kita sehingga mereka mencintai dan merindukan kita karena mengharapkan cinta Allah ‘azza wa jalla.

—

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi:

1. Cara Bijak Mendidik Anak (Terjemah) Muhammad bin Abdullah bin Shalih As Suhaimi, Pustaka Dhiya’ul Ilmi, Bekasi, 2019.

2. Mencetak Generasi Rabbani, Ummu Ihsan & Abu Ihsan Al Atsari, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Jakarta, 2015.

Sumber: https://muslimah.or.id/16070-ayah-aku-merindukanmu.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Istri Yang Tidak Bersyukur Dibenci Oleh Allah

Istri yang shalihah, banyak bersyukur kepada Allah kemudian bersyukur kepada suaminya. Seorang suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya sesuai kemampuannya. Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya:

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلاَّ مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً .

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath Thalaq: 7).

Jika suami tidak bisa memberikan nafkah kecuali sedikit saja, disebutkan dalam ayat ini, “Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya”. Maka ia tidak dibebani untuk memberikan nafkah dengan nominal tertentu yang terkadang itu di luar kemampuannya. Maka hendaknya ia bersabar atas sempitnya rezeki.

Demikian juga sang istri, hendaknya ia qana’ah (merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan) dan bersyukur kepada Allah ta’ala, serta juga bersyukur kepada suami bagaimana pun keadaan nafkah yang diberikan suaminya. Karena Allah ta’ala, membenci istri yang tidak bersyukur kepada pemberian suaminya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا ينظرُ اللَّهُ إلى امرأةٍ لا تشكُرُ لزوجِها وَهيَ لا تستَغني عنهُ

“Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan ia tidak merasa cukup dengan apa yang diberikan suaminya” (HR. An Nasa’i no. 9086, Al Baihaqi dalam Sunanul Kubra [7/294], dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 1944).

Makna Allah tidak akan melihat mereka maksudnya mereka mendapat murka dari Allah. Ath Thabari menjelaskan:

ولا ينظر إليهم، يقول: ولا يعطف عليهم بخير، مقتًا من الله لهم

“[Allah tidak melihat mereka] maksudnya Allah tidak memberikan kasih sayang berupa kebaikan kepada mereka, dan mereka mendapat murka dari Allah” (Tafsir Ath Thabari, 6/528).

As Sam’ani juga menjelaskan:

{وَلَا ينظر إِلَيْهِم يَوْم الْقِيَامَة} يَعْنِي: لَا ينظر إِلَيْهِم بِالرَّحْمَةِ

“[Allah tidak memandang mereka di hari kiamat] maknanya Allah tidak memandang mereka dengan pandangan rahmah” (Tafsir As Sam’ani, 334).

Dan sifat kurang bersyukur kepada suami, merupakan hal yang banyak terjadi pada diri wanita, sehingga membuat mereka menjadi mayoritas penduduk neraka. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أكْثَرُ أهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ قيلَ: أيَكْفُرْنَ باللَّهِ؟ قالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، ويَكْفُرْنَ الإحْسَانَ، لو أحْسَنْتَ إلى إحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شيئًا، قالَتْ: ما رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Diperlihatkan kepadaku neraka, dan aku melihat kebanyakan penduduknya adalah wanita”. Para wanita bertanya: “apakah karena mereka kufur kepada Allah?”. Nabi menjawab: “Karena mereka kufur kepada suami mereka dan kufur kepada kebaikan suami mereka. Jika engkau para suami, berlaku baik kepada istri kalian sepanjang waktu, kemudian sang istri melihat satu keburukan dari dirimu, maka sang istri akan mengatakan: aku tidak pernah melihat kebaikan dari dirimu” (HR. Bukhari no. 29, Muslim no. 907).

Maka bagi para istri hendaknya bersyukur dengan apa yang diberikan suami dan tidak banyak menuntut serta merasa cukup dengan rezeki Allah yang diberikan melalui suaminya.

Semoga Allah memberi taufiq.

**

Penulis: Yulian Purnama

Sumber: https://muslimah.or.id/11448-istri-yang-tidak-bersyukur-dibenci-oleh-allah.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id