Dilarang Tidur Setelah Asar?
Hukum Tidur Setelah Asar
Assalamualaikum, pak ust, pernah denger ada yg bilang tidur hbs asar dilarang, Krn bs bikin gila? Apa bener Ust? Trimks
Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah. Amma ba’du.
Hadis terkenal yang sering dijadikan dalil dalam hal ini adalah,
من نام بعد العصر فاختلس عقله فلا يلومن إلا نفسه
Siapa yang tidur setelah asar, lalu hilang akalnya, maka jangan salahkan kecuali dirinya sendiri.
Hadis ini dinilai do’if bahkan palsu (maudhu’) oleh para ulama. Diantaranya Syekh Albani, beliau mengkategorikan hadis ini dalam deratan hadis-hadis do’if, nomor 39 di buku beliau “Silsilah Al-Ahadis Ad-Do’ifah” (1/112).
Ibnul Jauzi menilai hadis ini palsu dalam buku beliau “Al-Maudhu’at” (Hadis-hadis palsu). Beliau mengatakan,
لا يصح ، خالد كذاب ، والحديث لابن لهيعة فأخذه خالد ونسبه إلى الليث
Hadis ini tidak shahih, Kholid (salah seorang perowi hadis ini) adalah pendusta, hadis ini bersumber dari Ibnu Lahi’ah, lalu diklaim Kholid dia riwayatkan dari Laits. (Al-Maudhu’at 3/69).
Demikian pula riwayat-riwayat lain berkaitan larangan tidur setelah asar, tidak ada yang valid. Dalam situs Islamqa.info (situs ilmiah asuhan Syekh Muhammad Sholih Al Munajid) dijelaskan,
لم يصح في أمر النوم بعد العصر ، مدحا أو ذما ، حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا عن أصحابه..
Tidak hadis atau riwayat dari sahabat yang shahih berkaitan tidur setelah asar, baik berisi pujian (perintah) atau celaan (tidur setelah asar).
Mengingat tidak adanya hadis shahih yang melarang tidur setelah asar, maka kembali ke hukum asal perkara duniawi, yaitu mubah, alias boleh saja dilakukan. Seperti diterangkan dalam kaidah fikih,
الأصل في الأشياء الإباحة
Hukum asal perkara duniawi adalah mubah.
Dalam Fatawa Lajnah Da-imah (26/148) (Lembaga fatwa kerajaan Saudi Arabia) diterangkan
النوم بعد العصر من العادات التي يعتادها بعض الناس ، ولا بأس بذلك ، والأحاديث التي في النهي عن النوم بعد العصر ليست بصحيحة
Tidur setelah asar adalah kebiasaan sebagian orang, dan tidak terlarang tidur setelah asar. Hadis-hadis yang menerangkan larangan tidur setelah asar tidak ada yang shohih. (Dikutip dari : Islamqa)
Syekh Ibnu Baz rahimahullah juga menjelaskan,
لا نعلم فيه شيئًا، نوم العصر لا نعلم فيه شيئًا ولا حرج فيه، كل الأوقات لا نعلم فيها شيء، إلا المغرب كره النوم قبلها عليه الصلاة والسلام، كان يكره النوم قبلها أي قبل العشاء والحديث بعدها.
Kami tidak mengetahui dalil larangan tidur setelah asar. Tidak mengapa tidur setelah asar. Kami tidak mengetahui adanya dalil yang melarang tidur di waktu apa saja kecuali waktu Maghrib, Nabi ﷺ memakruhkan tidur sebelum Isya dan mengobrol setelah Isya.
(https://binbaz.org.sa/fatwas/1641/حكم-النوم-بعد-العصر)
Sekian.
Wallahua’lam bis showab.
Referensi : https://islamqa.info/amp/ar/answers/99699)
****
Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY)
sumber: https://konsultasisyariah.com/34490-dilarang-tidur-setelah-asar.html
Adab Makan dan Minum Sesuai Tuntunan Rasulullah
Seorang muslimah makan sambil berjalan, makan dengan tangan kiri, tanpa berdoa, bahkan menyisakan makanan, hal ini seakan sudah menjadi pemandangan umum di kantin-kantin kampus. Betapa miris hati ini melihatnya. Bila amal ibadah yang ringan saja sudah ditinggalkan dan disepelekan, bagaimana dengan amalan yang besar pahalanya? Atau mungkinkah karena hal itu hanya merupakan suatu ibadah yang kecil kemudian kita meninggalkannya dengan alasan kecilnya pahala yang akan kita peroleh? Tidak begitu, Saudariku … Yang sedikit apabila rutin dilakukan, maka akan menjadi banyak! Allah Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوٓا۟ أَعْمَٰلَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul, dan janganlah kamu merusakkan segala amalmu.” (QS. Muhammad: 33)
Cukuplah firman Allah Ta’ala tersebut menjadi nasihat bagi kita semua untuk selalu berusaha menaati perintah Allah dan perintah Rasul-Nya, baik perintah wajib maupun anjuran (sunah) atau perintah untuk menjauhi perkara yang dilarang. Saat ini, banyak kita jumpai seorang muslim yang menyepelekan amalan sunah, namun berlebihan pada perkara yang mubah. Maka perhatikanlah firman Allah Ta’ala,
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Hasyr: 7)
Dan di antara perintah dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah adab ketika makan dan minum.
Adab ketika Makan dan Minum
[1] Memakan makanan dan minuman yang halal. Saudariku, hendaknya kita memilih makanan yang halal. Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kita agar memakan makanan yang halal lagi baik. Allah Ta’ala telah berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُوا۟ مِنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَٱعْمَلُوا۟ صَٰلِحًا ۖ إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
“Hai para rasul, makanlah yang baik-baik, dan kerjakanlah amal saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu`minun: 51)
[2] Mendahulukan makan daripada salat jika makanan telah dihidangkan. Yang dimaksud dengan telah dihidangkan yaitu sudah siap disantap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila makan malam telah dihidangkan dan salat telah ditegakkan, maka mulailah dengan makan malam dan janganlah tergesa-gesa (pergi salat) sampai makanmu selesai.” (Muttafaqun ‘alaih)
Faidahnya supaya hati kita tenang dan tidak memikirkan makanan ketika salat. Oleh karena itu, yang menjadi titik ukur adalah tingkat lapar seseorang. Apabila seseorang sangat lapar dan makanan telah dihidangkan, hendaknya dia makan terlebih dahulu. Namun, hendaknya hal ini jangan sering dilakukan.
[3] Tidak makan dan minum dengan menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan perak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang minum pada bejana perak, sesungguhnya ia mengobarkan api neraka Jahanam dalam perutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya orang yang makan atau minum dalam bejana perak dan emas …”
[4] Jangan berlebih-lebihan dan boros. Sesungguhnya berlebih-lebihan adalah di antara sifat setan dan sangat dibenci Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Isra` ayat 26-27 dan Al-A’raf ayat 31. Berlebih-lebihan juga merupakan ciri orang-orang kafir sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang mukmin makan dengan satu lambung, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh lambung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
[5] Mencuci tangan sebelum makan. Walaupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencontohkan hal ini, namun para salaf (generasi terdahulu yang saleh) melakukan hal ini. Mencuci tangan berguna untuk menjaga kesehatan dan menjauhkan diri dari berbagai penyakit.
[6] Jangan menyantap makanan dan minuman dalam keadaan masih sangat panas ataupun sangat dingin karena hal ini membahayakan tubuh. Mendinginkan makanan hingga layak disantap akan mendatangkan berkah berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya yang demikian itu dapat mendatangkan berkah yang lebih besar.” (HR. Ahmad)
[7] Tuntunan bagi orang yang makan tetapi tidak merasa kenyang. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan tetapi tidak merasa kenyang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Barangkali kalian makan berpencar (sendiri-sendiri).” Mereka menjawab, ”Benar.” Beliau kemudian bersabda, “Berkumpullah kalian atas makanan kalian dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan itu diberkahi untuk kalian.” (HR. Abu Dawud)
[8] Dianjurkan memuji makanan dan dilarang mencelanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali. Apabila beliau menyukainya, maka beliau memakannya. Dan apabila beliau tidak suka terhadapnya, maka beliau meninggalkannya. (HR. Muslim)
[9] Membaca tasmiyah (basmallah) sebelum makan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia membaca ‘Bismillah’ (dengan menyebut nama Allah). Jika ia lupa membacanya sebelum makan, maka ucapkanlah, ‘Bismillaahi fii awwalihi wa aakhirihi’ (dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhir -aku makan-).” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Di antara faidah membaca basmalah di setiap makan adalah agar setan tidak ikut makan apa yang kita makan. Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bersama seseorang yang sedang makan. Orang itu belum menyebut nama Allah hingga makanan yang dia makan itu tinggal sesuap. Ketika dia mengangkat ke mulutnya, dia mengucapkan, ‘Bismillaahi fii awwalihii wa aakhirihi’. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dibuatnya seraya bersabda, “Masih saja setan makan bersamanya, tetapi ketika dia menyebut nama Allah, maka setan memuntahkan semua yang ada dalam perutnya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa`i)
[10] Makan dan minum dengan tangan kanan dan dilarang dengan tangan kiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan keburukan bagi orang yang tidak mau makan dengan tangan kanannya. Seseorang makan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya, maka beliau bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Orang itu menjawab, “Saya tidak bisa.” Beliau bersabda, “Semoga kamu tidak bisa!” Orang tersebut tidak mau makan dengan tangan kanan hanya karena sombong. Akhirnya, dia benar-benar tidak bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya.” (HR. Muslim)
[11] Makan mulai dari makanan yang terdekat. Umar Ibnu Abi Salamah radhiyallahu ’anhuma berkata, “Saya dulu adalah seorang bocah kecil yang ada dalam bimbingan (asuhan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tangan saya (kalau makan) menjelajah semua bagian nampan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur saya, ‘Wahai bocah, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang terdekat denganmu.’ Maka demikian seterusnya cara makan saya setelah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sekaligus sebagai penguat dari kedua adab makan sebelumnya dan menjelaskan bagaimana cara menasihati anak tentang adab-adab makan. Lihatlah bahwa nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat dipatuhi oleh Umar Ibnu Abi Salamah pada perkataan beliau, “ … demikian seterusnya cara makan saya setelah itu.“
[12] Memungut makanan yang jatuh, membersihkannya, kemudian memakannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika salah satu dari kalian makan, lalu makanan tersebut jatuh, maka hendaklah ia memungutnya dan membuang kotorannya kemudian memakannya. Jangan ia biarkan makanan itu untuk setan.” (HR. At-Tirmidzi)
Sungguh betapa mulianya agama ini, sampai-sampai sesuap nasi yang jatuh pun sangat dianjurkan untuk dimakan. Hal ini merupakan salah satu bentuk syukur atas makanan yang telah Allah Ta’ala berikan dan bentuk kepedulian kita terhadap fakir miskin.
[13] Makan dengan tiga jari (yaitu dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah), kemudian menjilati jari dan wadah makan selesai makan. Ka’ab bin Malik radhiyallahu ’anhu berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan tiga jarinya. Apabila beliau telah selesai makan, beliau menjilatinya.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian selesai makan, maka janganlah ia mengusap jari-jarinya hingga ia membersihkannya dengan mulutnya (menjilatinya) atau menjilatkannya pada orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maksudnya yaitu menjilatkan pada orang lain yang tidak merasa jijik dengannya, misalnya anaknya saat menyuapinya, atau suaminya.
[14] Cara duduk untuk makan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Aku tidak makan dengan bersandar.” (HR. Bukhari)
Maksudnya adalah duduk yang serius untuk makan. Adapun hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat makan duduk dengan menduduki salah satu kaki dan menegakkan kaki yang lain adalah dha’if (lemah). Yang benar adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk bersimpuh (seperti duduk sopannya seorang perempuan dalam tradisi Jawa) saat makan.
[15] Apabila lalat terjatuh dalam minuman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila lalat jatuh pada minuman salah seorang dari kalian, maka hendaklah ia mencelupkan lalat tersebut, kemudian barulah ia buang. Sebab di salah satu sayapnya ada penyakit dan di sayap yang lain terdapat penawarnya.” (HR. Bukhari)
[16] Bersyukur kepada Allah Ta’ala setelah makan. Terdapat banyak cara bersyukur atas kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, salah satunya dengan lisan kita selalu memuji Allah Ta’ala setelah makan (berdoa setelah makan). Salah satu doa setelah makan yaitu, “Alhamdulillaahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi ghaira makfiyyin walaa muwadda’in walaa mustaghnan ‘anhu rabbanaa.” (Segala puji bagi Allah dengan puja-puji yang banyak dan penuh berkah, meski bukanlah puja-puji yang memadai dan mencukupi dan meski tidak dibutuhkan oleh Rabb kita.”) (HR. Bukhari)
[17] Buruknya makan sambil berdiri dan boleh minum sambil berdiri, tetapi yang lebih utama sambil duduk. Dari Amir Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya radhiyallahu ’anhum, dia berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri dan sambil duduk.” (HR. Tirmidzi, hadis hasan shahih)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang laki-laki minum sambil berdiri. Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bertanya kepada Anas, ‘Kalau makan?’ Dia menjawab, ‘Itu lebih buruk -atau lebih jelek lagi-.’” (HR. Muslim)
[18] Minum tiga kali tegukan seraya mengambil napas di luar gelas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sebanyak tiga kali, menyebut nama Allah di awalnya dan memuji Allah di akhirnya (HR. Ibnu As-Sunni dalam ‘Amalul Yaumi wallailah no. 472)
Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum, beliau bernapas tiga kali. Beliau bersabda, “Cara seperti itu lebih segar, lebih nikmat dan lebih mengenyangkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bernapas dalam gelas dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Apabila salah seorang dari kalian minum, janganlah ia bernapas di dalam gelas.” (HR. Bukhari)
[19] Berdoa sebelum minum susu dan berkumur-kumur sesudahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika minum susu maka ucapkanlah, ‘Allahumma barik lana fihi wa zidna minhu’ (Ya Allah, berkahilah kami pada susu ini dan tambahkanlah untuk kami lebih dari itu) karena tidak ada makanan dan minuman yang setara dengan susu.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 5957, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 381).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian minum susu, maka berkumur-kumurlah, karena sesungguhnya susu meninggalkan rasa masam pada mulut.” (HR. Ibnu Majah no. 499)
[20] Dianjurkan bicara saat makan, tidak diam dan tenang menikmati makanan seperti halnya orang-orang Yahudi. Ishaq bin Ibrahim berkata, “Pernah suatu saat aku makan dengan Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad) dan sahabatnya. Kami semua diam dan beliau (Imam Ahmad) saat makan berkata, ‘Alhamdulillah wa bismillah’, kemudian beliau berkata, ‘Makan sambil memuji Allah Ta’ala adalah lebih baik dari pada makan sambil diam.’”
Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kepada kita dalam mengamalkan apa yang kita ketahui, karena hakikat ilmu adalah amal itu sendiri. Wallahul muwaffiq.
***
Penulis: Ummu Shalihah
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Do’a dan Wirid, Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani, Pustaka At-Tibyan, Solo.
Kitabul Adab, Fuad bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syalhub, Daarul Qasim, Riyadh.
Lebih dari 1000 Amalan Sunnah dalam Sehari Semalam, Khalid Al-Husainan, Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
Panduan Amal Sehari Semalam, Abu Ihsan al-Atsari, Pustaka Darul ‘Ilmi, Bogor.
Riyadhus Shalihin Jilid 2, Imam An-Nawawi, takhrij Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Duta Ilmu, Surabaya.
Sumber: https://muslimah.or.id/5532-adab-makan-dan-minum.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id
Memuji Diri Sendiri
Hati-hati memuji diri sendiri. “Saya itu seperti ini dan seperti itu, yang lain tidak bisa.”
Hati-hati dan waspada dari memuji dan mentazkiyah diri sendiri.
Al-‘Izz ibnu ‘Abdis Salam berkata, “Engkau memuji dirimu sendiri lebih parah daripada engkau memuji orang lain. Karena kesalahan seseorang di matanya sendiri lebih ia tahu banyaknya dibanding mengetahui kesalahan orang lain. Kecintaanmu pada sesuatu itu membutakan dan menulikan. Dan memang betul, tidak ada yang disukai kecuali diri sendiri. Oleh karena itu, kita lebih suka melihat ‘aib (kekurangan) orang lain daripada memperhatikan kekurangan diri sendiri. Juga kita lebih mudah memberi toleransi jika diri kita kurang, namun tidak bagi yang lain.”
Allah Ta’ala berfirman,
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 49)
Tidak boleh seseorang memuji dirinya sendiri kecuali jika ada hajat untuk hal itu. Misalnya:
Pertama: Ingin melamar seorang wanita dan ia mengemukakan keistimewaan dirinya.
Kedua: Ingin memperkenalkan kemampuan dirinya dalam memenej pemerintahan dan mengurus agama seperti yang terjadi pada Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Yusuf berkata,
اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
“Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)
Ketiga: Boleh memuji diri sendiri agar bisa dicontoh. Tentu ini bagi orang yang benar-benar niatannya untuk dicontoh orang lain dan aman dari penyakit riya’ dan sum’ah. Seperti Nabi kita sendiri pernah berkata,
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ وَبِيَدِى لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ وَمَا مِنْ نَبِىٍّ يَوْمَئِذٍ آدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَائِى وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الأَرْضُ وَلاَ فَخْرَ
“Aku adalah pemimpin (sayyid) anak Adam pada hari kiamat. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Di tanganku ada bendera Al-Hamdi. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Tidak ada seorang nabi pun, tidak pula Adam, juga yang lainnya saat itu melainkan berada di bawah benderaku. Aku orang pertama yang keluar dari kubur. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri.” (HR. Tirmidzi, no. 3148; Ibnu Majah, no. 4308. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Semoga bermanfaat.
—
@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Sya’ban 1437 H
Doa Buruk dari Orang Tua Mustajab?
Doa Buruk dari Orang Tua Mustajab?
Sy memiliki ortu yg temperamen. Seringkali saat marah terucap kata2 doa keburukan utk anaknya. Padahal sang anak sama sekali tdk salah. Saya takut dg doa itu ust. Apakah doa Sprti ini mustajab ustadz?
Trmksh penjelasannya..
Jawaban:
Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.
Kita semua menyadari, bahwa orang tua memiki hak yang tinggi atas kita. Kita berkewajiban untuk bakti dan patuh kepada mereka selama yang mereka perintahkan adalah kebaikan. Walaupun, sikap orang tua seperti yang Anda sebutkan dalam pertanyaan, ini tidak menggugurkan hak mereka atas kita sebagai anak. Maka kami menyarankan: carilah suasana yang pas untuk mengobrol santai dengan orang tua Anda. Sampaikan curhatan berkaitan masalah Anda dengan mereka dengan bahasa yang santun. Tampakkan sikap penghormatan dan kasih sayang.
Berkenan Doa Buruk dari Orang Tua
PERTAMA, pada asalnya, doa orang tua untuk anaknya adalah mustajab. Ini berlaku jika doa itu diucapkan dengan ikhlas dan kesadaran, tidak dalam kondisi emosi yang tidak stabil. Kemudian kepada sang anak sangat durhaka kepada Ibu Bapaknya.
Nabi ﷺ bersabda,
ثلاث دعوات مستجابات لا شك فيهن : دعوة الوالد على ولده ، ودعوة المسافر ، ودعوة المظلوم.
Ada tiga doa yang pasti terkabul : (1) Doa buruk orangtua kepada anaknya. (2) Doanya musafir. (3) Doanya orang yang terdzolimi. (HR. Tirmidzi, dinilai Hasan oleh Syekh Albani)
KEDUA, meski demikian, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam melarang para orang tua, mendoakan keburukan untuk buah hatinya.
Beliau ﷺ bersabda,
لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ
“Jangan kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, atau anak-anak kalian, atau harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah Subhanahu wa ta’ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan doa kalian itu.” (HR. Muslim)
Jika doa itu terkabul, satu saja kemungkinan rasa yang akan kita alami, yaitu penyesalan.
Adanya ancaman berat yang berbunyi: jika saja doa itu menepati waktu mustajab, Allah akan kabulkan doa itu, sehingga yang terjadi hanya penyesalan, menunjukkan, bahwa larangan dalam hadis di atas bermakna haram. Sebagaimana disimpulkan demikian oleh Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah,
كل هذا حرام لا يجوز لأنه ربما صاف ساعة إجابة..
Doa-doa keburukan seperti ini hukumnya haram. Karena bisa jadi menepati saat Allah mengabulkan doa sehingga itu terkabul. (Syarah Riyadussholihin, Ibnu Utsaimin, 6/51)
KETIGA, doa buruk dari orang tua untuk anaknya, yang diucapkan saat marah, tidak Allah kabulkan.
Ini diantara bentuk kasih sayang Allah kepada Hamba-Nya.
Dalilnya adalah ayat berikut,
۞وَلَوۡ يُعَجِّلُ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ ٱلشَّرَّ ٱسۡتِعۡجَالَهُم بِٱلۡخَيۡرِ لَقُضِيَ إِلَيۡهِمۡ أَجَلُهُمۡۖ فَنَذَرُ ٱلَّذِينَ لَا يَرۡجُونَ لِقَآءَنَا فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ
Dan kalau Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pasti diakhiri umur mereka. Namun Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bingung di dalam kesesatan mereka. (QS. Yunus : 11)
Imam Qotadah menerangkan ayat ini,
هو دعاء الإنسان على نفسه وماله بما يكره أن يُستجاب له
Ayat ini berbicara tentang seorang yang mendoakan buruk untuk diri atau hartanya. Dia berharap doa buruk itu segera dikabulkan. (Fathul Bari, 10/211).
Imam Mujahid rahimahullah juga memberikan penjelasan senada,
قولُ الإنسان لولده وماله إذا غضب: اللهم لا تُبارك فيه والْعَنْهُ، {لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ}، لَأَهلَكَ مَن دُعِيَ عليه، ولَأَماتَهُ
“Kalau Allah menyegerakan keburukan bagi manusia”, maksudnya doa seseorang yang dipanjatkan untuk anak atau hartanya saat dia marah, “Ya Allah jangan Engkau berkahi dia.. Laknatlah dia..” (pent, atau doa buruk yang lainnya)
“Maka pasti diakhiri umur mereka” maksudnya : dia akan binasa karena sebab doa itu dan bisa mati karena disebabkan doa buruk itu. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitab Shohih beliau)
Dalam Tafsir Qur’an Al-‘adhim, Ibnu Katsir rahimahullah menambahkan keterangan,
يخبر تعالى عن حلمه ولطفه بعباده: أنه لا يستجيب لهم إذا دعوا على أنفسهم أو أموالهم أو أولادهم في حال ضجرهم وغضبهم، وأنه يعلم منهم عدم القصد إلى إرادة ذلك، فلهذا لا يستجيب لهم -والحالة هذه -لطفا ورحمة.
Pada ayat ini, Allah mengabarkan tentang kasih sayang dan kelembutanNya kepada para hamba-Nya. Bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa mereka jika mereka berdoa buruk untuk diri, harta atau anak-anak mereka saat kondisi mereka sedang marah. Allah mengetahui bahwa doa itu mereka ucapkan tanpa kesengajaan menginginkan terkabulnya doa itu. Olehkarena itu tidak dikabulkan. Sebagai bentuk kelembutan dan kasih sayang. (Lihat : Tafsir Ibnu Katsir, 4/251)
KEEMPAT, jika sang anak tidak durhaka, dia sudah berusaha berbakti kepada orang tuanya, kemudian mendapat doa buruk dari orang tuanya, maka Allah tidak akan kabulkan doa tersebut.
Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah nomor 115110 diterangkan,
ولكن إن كان الولد على بر بوالديه وإحسان لهما وكان دعاء والديه عليه محض ظلم وعدوان فهذا الدعاء لا يستجاب إن شاء الله
Bila anak sudah berbakti kepada orang tuanya, dia berbuat baik kepada keduanya, sementara dia mendapat doa buruk dari Bapak Ibunya, maka doa yang seperti ini statusnya adalah kezoliman kepada anak, atau kebencian yang tidak dibenarkan. Maka doa yang seperti ini, tidak akan dikabulkan insyaAllah. Dasarnya adalah sabda Nabi ﷺ,
لا يزال يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم.
Doa akan selalu dikabulkan selama tidak mengandung dosa atau memutus tali silaturahmi. (HR. Muslim)
Demikian.
Wallahua’lam bis showab.
****
Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)
sumber: https://konsultasisyariah.com/34720-doa-buruk-dari-orang-tua-mustajab.html
Menjadi Uwais Al-Qarni di Zaman Modern
Di antara sekian banyak tokoh teladan dalam sejarah Islam, ada satu nama yang mungkin tidak setenar Abu Bakar, Umar, atau Ali, namun harum di langit karena keikhlasan dan bakti kepada orang tuanya yang luar biasa. Dialah Uwais Al-Qarni, seorang tabi’in yang tak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi disebut secara khusus oleh beliau karena baktinya yang luar biasa kepada ibunya.
Uwais hidup di Yaman. Ia bukan orang kaya, bukan pejabat, bukan ulama besar yang dikenal banyak orang. Ia hanyalah lelaki sederhana yang seluruh hidupnya diabdikan untuk merawat ibunya yang sakit. Ketika keinginannya untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu besar, sang ibu yang sudah tua renta dan sakit menahannya untuk tidak pergi jauh. Uwais pun memilih tinggal dan berbakti. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan seorang ibu.
Dari pilihan itulah lahir kemuliaan yang menggetarkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَفْوَاجِ أَهْلِ الْيَمَنِ، مِنْ مُرَادٍ، ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ، كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ
“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki bernama Uwais bin ‘Amir bersama rombongan dari Yaman, dari suku Murad, kemudian dari Qarn. Dahulu ia menderita penyakit kulit, lalu Allah sembuhkan kecuali sebesar satu dirham. Ia memiliki seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah agar ia memohonkan ampunan untuk kalian.” (HR. Muslim)
Bayangkan, seorang lelaki miskin yang tidak dikenal manusia, tetapi disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dimuliakan oleh Allah. Setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pun mencari sosok ini. Ia ingin memastikan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketika bertemu rombongan dari Yaman, Umar bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?”
Dan ketika akhirnya berjumpa dengannya, Umar berkata, “Mintalah ampunan kepada Allah untukku, wahai Uwais.”
MasyaaAllah, seorang khalifah yang agung meminta doa dari seorang lelaki yang bahkan tidak dikenal manusia. Itulah bukti kemuliaan yang Allah berikan kepada orang yang ikhlas dan berbakti kepada ibunya.
Teladan abadi dari hati yang tulus
Uwais Al-Qarni mengajarkan kepada dunia bahwa kemuliaan tidak diukur dari pangkat, kekayaan, atau popularitas. Kemuliaan sejati ada dalam hati yang ikhlas dan amal yang tulus karena Allah. Ia tidak ingin dikenal manusia, bahkan ketika orang-orang mulai mengetahui keutamaannya, ia pun mengasingkan diri agar amalnya tetap tersembunyi.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, setelah kisahnya tersebar, Uwais meninggalkan tempat tinggalnya dan menjauh dari keramaian. Ia takut kemuliaan yang Allah berikan berubah menjadi ujian kesombongan. Begitulah hati seorang hamba yang benar-benar mengenal Allah, ia takut amalnya rusak hanya karena dikenal manusia.
Faidah dari kisah Uwais Al-Qarni
Berbakti kepada orang tua adalah jalan kemuliaan
Uwais tidak meninggalkan ibunya demi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memilih rida ibunya daripada kesempatan yang tampak begitu mulia. Ia tahu, keridaan Allah ada pada keridaan sang ibu.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
“Rida Allah tergantung pada rida orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)
Keikhlasan adalah amal yang tak terlihat, tapi paling berat
Uwais tidak pernah beramal untuk dilihat. Ia tidak dikenal manusia, bahkan ia menghindar dari popularitas. Amal yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi itulah yang Allah muliakan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Amal tersembunyi lebih berat di timbangan
Uwais tidak meninggalkan karya besar yang dikenal sejarah, tapi amalnya mengguncang langit. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata,
تَرْكُ العَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا
“Meninggalkan amal karena takut dilihat manusia adalah riya’, dan beramal karena ingin dilihat manusia adalah syirik. Keikhlasan adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” [1]
Doa orang yang ikhlas mustajab di sisi Allah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaksi bahwa jika Uwais bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkannya. Itu karena doa yang keluar dari hati yang bersih dan ikhlas. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Mā’idah: 27)
Meneladani Uwais di zaman modern
Menjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern tentu tidak berarti kita harus hidup miskin atau mengasingkan diri. Maknanya jauh lebih dalam: meneladani ketulusan, kesederhanaan, dan bakti yang penuh cinta kepada orang tua.
Berbakti kepada orang tua dengan sepenuh hati
Di tengah kesibukan pekerjaan, kuliah, dan aktivitas dunia, jangan pernah lupakan jasa orang tua. Banyak di antara kita mampu menyenangkan dunia, tapi lupa menyenangkan hati ibu dan ayahnya.
Uwais mengajarkan, tidak ada ibadah yang lebih tinggi nilainya setelah tauhid selain berbakti kepada orang tua. Uwais tidak pernah meninggikan suara kepada ibunya. Ia berkhidmat dengan penuh cinta dan sabar. Maka hari ini, teleponlah orang tuamu dengan lembut, datangi mereka, berikan waktu terbaikmu. Itu jalan ke surga.
Menjaga keikhlasan dalam beramal
Dunia hari ini mudah membuat kita tergoda untuk beramal demi pengakuan. Kebaikan yang terekam kamera, sedekah yang diumumkan di media sosial, semua bisa menjadi jebakan yang halus. Padahal amal yang diterima Allah hanyalah amal yang murni karena-Nya. Uwais tidak dikenal di bumi, tapi dikenal di langit karena amalnya hanya untuk Allah.
Hidup sederhana dan tawaduk
Kesederhanaan bukan berarti kekurangan, tapi kebebasan dari belenggu dunia. Sederhana dalam berpakaian, dalam gaya hidup, dalam tutur kata. Hal inilah yang menenangkan hati dan mendekatkan diri kita kepada Allah.
Mendahulukan rida Allah di atas rida manusia
Di era modern, banyak orang lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan pahala. Uwais menunjukkan sebaliknya: ia memilih kehilangan dunia daripada kehilangan rida Allah. Ia lebih senang tidak dikenal manusia, asalkan dikenal oleh Rabb-nya.
Pelajaran hidup yang tak lekang oleh waktu
Kisah Uwais Al-Qarni bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang berbakti, tetapi juga tentang keikhlasan yang murni dan cinta yang tulus kepada Allah. Ia tidak mengejar pujian manusia, tidak menulis sejarah untuk dikenang, tapi Allah sendiri yang menulis namanya di hati para hamba yang mencintai kebaikan.
Betapa banyak orang hari ini yang mengejar popularitas, tapi dilupakan setelah mati. Sedangkan Uwais, tanpa meninggalkan harta atau karya duniawi, tetap dikenang hingga kini karena hatinya yang bersih dan amalnya yang ikhlas.
Menjadi Uwais Al-Qarni di zaman modern adalah menjadi hamba yang berbakti tanpa pamrih, beramal tanpa pamer, dan mencintai Allah tanpa syarat. Ia mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan bukan tentang seberapa banyak orang mengenalmu, tapi tentang seberapa besar Allah mencintaimu. Maka, mari kita berusaha menjadi “Uwais” di masa kini, seorang anak yang lembut pada orang tua, hamba yang ikhlas dalam beramal, dan manusia yang tidak mencari sorotan dunia, tapi mencari rida Allah semata.
Uwais Al-Qarni telah pergi, tapi jejaknya masih hidup dalam hati orang-orang yang mencintai keikhlasan. Ia membuktikan bahwa kemuliaan sejati bukanlah tentang dikenal di bumi, melainkan dikenal di langit. Ia tidak menulis sejarah dengan tinta, tapi dengan air mata dan doa yang tulus. Ia tidak meninggalkan monumen, tapi meninggalkan pelajaran abadi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas seperti Uwais yang beramal tanpa ingin terlihat, berbakti tanpa mengharap balasan, dan dicintai Allah meski tak dikenal manusia. Wallahu Ta’ala a’lam.
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Sumber: https://muslim.or.id/110411-menjadi-uwais-al-qarni-di-zaman-modern.html
Copyright © 2025 muslim.or.id
Hati Yang Bersih Dari Dengki #shorts
Wanita Penebar Dosa
Wanita Penebar Dosa
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili dalam bukunya Tajrid Al-Ittiba’ (hlm. 146 – 154) menyebutkan bahwa ditinjau dari manfaatnya, amal yang dilakukan oleh hamba terbagi menjadi dua,
Pertama, amal yang manfaatnya hanya bisa dirasakan oleh orang yang melakukannya saja, dan tidak memberikan pengaruh kebaikan kepada orang lain. Itulah semua ibadah yang dilakukan oleh seseorang, yang tidak ada hubungan dengan orang lain. Seperti shalat, dzikir, membaca Alquran, dst. Kita istilahkan amal semacam ini dengan amal qashir.
Kedua, amal yang manfaatnya bisa dirasakan oleh makhluk yang berada di sekitarnya, memberikan pengaruh kebaikan kepada masyarakat lainnya. Seperti membayar zakat, berdakwah, mengajarkan kebaikan, dan semua amal yang manfaatnya bisa dirasakan orang lain. Kita istilahkan amal ini dengan amal muta’adi.
Islam sebagai agama yang rahmatan lil ’alamin, memotivasi umatnya untuk menjadi hamba yang memberikan banyak manfaat bagi yang lainnya. Hamba yang menjadi sumber kebaikan bagi lingkungan sekitarnya. Karena, dengan itu, dia bisa menjadi hamba yang terbaik. Allah berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran: 110)
Ibnu Katsir menukil pendapat beberapa ahli tafsir: Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Atha’, Rabi’ bin Anas bahwa para sahabat, Allah sebut sebagai umat terbaik karena mereka adalah orang-orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Disebabkan kriteria yang Allah sebutkan dalam lanjutan ayat: ‘menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar’, sehingga mereka menjadi sumber kebaikan bagi yang lain.
Karena jasa besar mereka, menyebarkan kebaikan dan menjadi sumber kebaikan, Allah memberikan jaminan kepada orang ini, dia akan mendapatkan kucuran pahala dari setiap orang yang mengikutinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Siapa yang mengajak kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengikutinya, tidak akan dikurangi sedikitpun dari pahala mereka…” (HR. Muslim 2674, Abu Daud 4609 dan yang lainnya).
Semakin banyak yang mengikuti ajakan kebaikan yang dia sampaikan, semakin besar peluang baginya untuk mendapatkan pahala.
Wanita Penebar Dosa
Di saat yang sama, Islam melarang keras kaum muslimin untuk menjadi manusia yang paling merugikan bagi masyarakatnya. Manusia yang menjadi sumber keburukan dan sumber dosa bagi lingkungannya. Manusia yang menjadi sebab orang lain berbuat maksiat. Jika sahabat disebut manusia terbaik karena menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, maka manusia paling buruk adalah manusia yang menyuruh kepada kemungkaran, dan pada saat yang sama mencegah dari perbuatan ma’ruf. Itulah manusia yang tidak bisa diharapkan kebaikannya, dan kita tidak bisa merasa aman dari keburukannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang bisa diharapkan kebaikannya (untuk orang lain) dan terjamin aman dari keburukannya (terhadap orang lain). Sejelek-jelek kalian, orang yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan tidak ada jaminan aman dari keburukannya.” (HR. Turmudzi 2263 dan dishahihkan Al-Albani)
Salah satunya, para wanita penebar dosa. Para wanita yang menjadi sebab banyak lelaki melakukan zina mata… para wanita yang mengobral harga diri dan kehormatannya. Para wanita yang mengumbar aurat di depan umum, tanpa rasa malu.
Indonesia nampaknya akan bernasib sebagaimana Pattaya Thailan, atau seperti kawasan pantai Bali. Kawasan berhias zina dan pelacuran. Indonesia, di setiap lorong jalan, aurat berceceran di mana-mana. Berjejal para wanita yang berlomba-lomba untuk menampakkan auratnya. Berlomba mencari lirikan setiap lelaki di sekitarnya. Ke manapun seorang lelaki soleh menghadap, dia tidak bisa lepas dari aurat dan aurat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا، أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ، فَزِنَا العَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ المَنْطِقُ، والقلب تَمَنَّى وَتَشْتَهِي، وَالفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ
“Sesungguhnya Allah menetapkan jatah zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari: Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari 6243 dan Muslim 2657).
Itulah wanita penebar dosa… para wanita yang menjadi sumber maksiat. Wanita yang menjadi pembantu iblis untuk menjerumuskan manusia ke neraka. Karena jasa besar para wanita penjajah aurat ini, Iblis layak berterima kasih kepada mereka.
Dosa Bertumpuk
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ من الناس ناساً مفاتيح للخير مغاليق للشر، وإنَّ من الناس ناساً مفاتيح للشر مغاليق للخير، فطوبى لمن جعل الله مفاتيح الخير على يديه، وويل لمن جعل الله مفاتيح الشر على يديه
“Sesungguhnya diantara manusia ada orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan. Sebaliknya ada diantara manusia yang menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan. Karena itu, sungguh beruntung orang yang Allah jadikan sebagai kunci pintu kebaikan ada di tangannya, dan celaka bagi orang yang Allah jadikan kunci pintu kejahatan ada di tangannya.” (HR. Ibn Majah dan dihasankan Al-Albani).
Siapapun yang menjadi sebab keburukan, sebab orang lain bermaksiat, maka dia akan menanggung setiap orang yang berdosa karena sebabnya. Semakin banyak para lelaki yang melihat auratnya, semakin besar dosa yang dia dapatkan.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تُقتَل نفس ظلمًا، إلا كان على ابن آدم الأول كِفْلٌ من دمها، لأنه كان أول من سن القتل
“Tidak ada satupun jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak Adam yang pertama menanggung darahnya. Karena dialah orang yang pertama kali mengajarkan praktek pembunuhan.” (HR. Muslim 1677).
Ancaman yang Mengerikan
Mengingat betapa besar kesalahan orang ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ancaman yang sangat keras bagi wanita pengumbar aurat. Beliau menyebutnya wanita yang berpakaian tapi telanjang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Dua jenis penghuni neraka yang belum pernah aku lihat. (1) Sekelompok orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dan dia gunakan untuk memukuli banyak orang. (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, jalan berlenggak-lenggok, kepalanya seperti punuk onta, mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan harumnya surga, padahal bau harum surga bisa dicium sejarak perjalanan yang sangat jauh.” (HR. Ahmad 8665 dan Muslim 2128).
Wanita berpakaian tapi telanjang, merekalah wanita yang mengumbar aurat, berpakaian tipis transparan, atau ketat membentuk lekuk tubuh. Segeralah bertaubat kepada Allah, dan jangan menjadi sumber dosa bagi lingkungan Anda.
Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua..
Oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
sumber: https://konsultasisyariah.com/19260-wanita-penebar-dosa.html
Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang Meninggalkannya
Di akhir zaman, Islam akan kembali asing. Sampai-sampai kaum Muslimin tidak mengenal ajaran-ajaran agamanya sendiri. Mereka asing terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga sunnah Nabi banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin. Orang yang mengamalkan sunnah pun dianggap asing dan aneh. Maka di masa ketika itulah, orang yang istiqamah mengamalkan sunnah Nabi diuji kesabarannya. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita” [QS Al-Ahqaf : 13].
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا
“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)” [QS. Al-Jin: 16].
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
يأتي على النَّاسِ زمانٌ الصَّابرُ فيهم على دينِه كالقابضِ على الجمرِ
“Akan datang suatu masa, orang yang bersabar berpegang pada agamanya, seperti menggenggam bara api” [HR. Tirmidzi no. 2260, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi].
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,
بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ
“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [HR. Muslim no. 145].
Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menjelaskan hadis ini dengan mengatakan, “Artinya bahwa Islam dimulai dalam keadan asing sebagaimana keadaan di Mekkah dan di Madinah ketika awal-awal hijrah. Islam tidak diketahui dan tidak ada yang mengamalkan kecuali sedikit orang saja. Kemudian ia mulai tersebar dan orang-orang masuk (Islam) dengan jumlah yang banyak dan dominan di atas agama-agama yang lain.
Dan Islam akan kembali asing di akhir zaman, sebagaimana awal kemunculannya. Ia tidak dikenal dengan baik kecuali oleh sedikit orang dan tidak diterapkan sesuai dengan yang disyariatkan kecuali sedikit dari manusia dan mereka itu asing. Dan hadis lengkapnya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
فطوبى للغرباء
“Maka beruntunglah orang-orang yang asing”.
Dan dalam riwayat yang lain,
قيل يا رسول الله ومن الغرباء؟ فقال: الذين يصلحون إذا فسد الناس
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang asing itu (al-Ghuraba)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.
Dan dalam lafaz yang lain,
هم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي
”Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirusak manusia” [Diterjemahkan dari http://ar.islamway.net/fatwa/46079%5D.
Orang-orang yang bisa bersabar dan tetap istiqamah di masa itu, ia akan mendapatkan pahala yang besar dan kedudukan yang tinggi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ
“Beribadah di masa haraj (sulit), seperti berhijrah kepadaku” [HR. Muslim no. 2948].
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,
المراد بالهرج هنا الفتنة واختلاط أمور الناس
“Yang dimaksud dengan al-haraj adalah fitnah (kekacauan) dan kesemrawutan perkara di tengah manusia” [Syarah Shahih Muslim, 18/391].
Bahkan orang-orang yang istiqamah ketika itu dikatakan sebagai orang yang beruntung mendapatkan surga. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ
“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [HR. Muslim no. 145].
Kata طوبى dalam hadis ini maknanya adalah surga. Dalam sebuah hadis disebutkan,
طوبى شجرةٌ في الجنَّةِ ، مسيرةُ مائَةِ عامٍ
“Tuba adalah pohon di surga, tingginya sepanjang perjalanan 100 tahun” [HR. Ahmad no.11673, Abu Ya’la dalam Musnad-nya no.1374, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami, no. 3918].
Maka tidak mungkin bisa mendapatkan “tuba” ini kecuali orang yang masuk surga. Maka tetaplah istiqamah, dan bersabarlah dalam mengamalkan sunnah Nabi. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.
—
Penulis: Yulian Purnama
Sumber: https://muslim.or.id/67393-mengamalkan-sunnah-nabi-ketika-banyak-yang-meninggalkannya.html
Sejarah Kesyirikan di Dunia
Bagaimana kesyirikan pertama terjadi? Kapan itu terjadi?
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Pertama, kita perlu meyakini bahwa rasul yang pertama kali Allah utus adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam.
Dalam hadis yang sangat panjang, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kejadian yang dialami manusia ketika di padang mahsyar. Dalam penggalan cerita itu, manusia berbondong-bondong mendatangi Nuh agar beliau berdoa kepada Allah. Mereka mengatakan,
يَا نُوحُ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ وَقَدْ سَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ
Wahai Nuh, anda rasul pertama di muka bumi. Allah menggelari anda dengan hamba yang pandai bersyukur, berikanlah syafaat untuk kami di hadapan Rabmu…
Namun Nabi Nuh kala itu tidak bersedia, karena alasan tertentu. Kemudian beliau mengarahkan agar mendatangi Nabi Ibrahim. (HR. Ahmad 9873, Bukhari 3340, Muslim 501 dan yang lainnya).
Kedua, mengapa Nuh sebagai rasul pertama?
Jika Nuh rasul pertama, bagaimana dengan Adam?
Adam manusia pertama sekaligus nabi, namun beliau bukan rasul. Beliau menerima wahyu dari Allah, untuk diri beliau dan semua orang yang ada di sekitar beliau. Dan mereka semua dalam kondisi beriman, sekalipun ada diantara mereka yang melakukan dosa.
Sementara diantara ciri rasul, mereka Allah utus untuk menghadapi kaum yang menyimpang dan keluar dari islam karena pelanggaran kesyirikan. Seperti yang dialami kaum nabi Nuh ‘alaihis salam.
Ketiga, antara Adam dan Nuh, belum ada kesyirikan
Jarak antara Nuh dan Adam ada 10 generasi. Sebelum Nabi Nuh diutus, tidak ada satupun manusia yang berbuat syirik dan kufur kepada Allah.
Keterangan ini disampaikan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma,
كان بين نوح وآدم عشرة قرون، كلهم على شريعة من الحق. فاختلفوا، فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين.
Antara Nuh dan Adam ada 10 generasi. Mereka semua berada di atas syariat yang benar. Kemudian mereka saling berselisih. Kemudian Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi gambar gembira dan kabar peringatan. (HR. At-Thabari dalam Tafsirnya no. 4048).
Allah mengutus Nuh ketika ada sebagian manusia yang berbuat kesyirikan, karena itulah, beliau menjadi rosul pertama.
Keempat, berhala di masa Nuh, mewakili orang soleh yang diagungkan kaum mereka
Allah menceritakan upaya pembelaan kaum Nuh terhadap berhala mereka,
قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا . وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا. وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, (21) dan melakukan tipu-daya yang amat besar”. (22) Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan)wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (QS. Nuh: 21 – 23).
Siapakah berhala-berhala ini?
Ibnu Abbas menjelaskan,
أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِى كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا ، وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ
Mereka adalah nama-nama orang soleh di kalangan kaumnya Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kaumnya untuk membuat prasasti di tempat-tempat peribadatan orang soleh itu. Dan memberi nama prasasti itu sesuai nama orang soleh tersebut. Merekapun melakukannya. Namun prasasti itu tidak disembah. Ketika generasi (pembuat prasasti) ini meninggal, dan pengetahuan tentang prasasti ini mulai kabur, akhirnya prasasti ini disembah. (HR. Bukhari 4920).
Dari pemaparan di atas bisa kita simpulkan,
- Kesyirikan pertama terjadi di zaman Nabi Nuh ‘alahis shalatu was salam
- Karena adanya kesyirikan ini, Allah mengutus Nabi Nuh sebagai rasul pertama
- Sebab terjadi kesyirikan pertama di bumi adalah karena mengagungkan orang soleh yang telah meninggal.
Ini menunjukkan betapa bahayanya mengkultuskan orang soleh. Berawal dari kultus, kemudian orang menyembah orang soleh itu. Karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang semua sikap ghuluw (berlebih-lebihan). Karena sikap ghuluw, sumber bencana umat manusia dari zaman ke zaman.
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِى الدِّينِ
Hindari sikap ghuluw dalam masalah agama. Karena yang membinasakan umat sebelum kalian adalah ghuluw dalam masalah agama. (HR. Nasai 3070, Ibnu Majah 3144, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
sumber : https://konsultasisyariah.com/24233-sejarah-kesyirikan-di-dunia.html







