Adakah Arwah Gentayangan?

Orang yang sudah wafat, mereka berada di alam kubur dalam keadaan mendapatkan nikmat atau mendapatkan adzab. Mereka tidak bisa memberikan manfaat atau bahaya terhadap orang yang masih hidup. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى

“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar.” (QS. An-Naml: 80)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَمَا أَنتَ بِمُسْمِعٍ مَّن فِي الْقُبُورِ

“Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” (QS. Fatir: 22)

Bahkan orang-orang kafir merasakan penyesalan dan berharap bisa kembali hidup di dunia. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal saleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin.” (QS. Sajadah: 22)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang yang sudah mati maka ia tidak dapat hidup kembali di alam dunia. Tidak dapat lagi beramal, baik amal kebaikan maupun amal keburukan. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Ketika seorang insan mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Dan alam kubur adalah awal perjalanan akhirat. Sehingga orang yang sudah mati, ia sudah ada di alam akhirat, tidak lagi hidup di alam dunia. Dari Utsman bin Affan radhiallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ القبرَ أوَّلُ مَنزلٍ من مَنازلِ الآخرةِ ، فإن نجا منهُ فما بعدَهُ أيسرُ منهُ ، وإن لم ينجُ منهُ فما بعدَهُ أشدُّ منهُ

“Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat.” (HR. Tirmidzi no. 2308, ia berkata, “Hasan gharib”, dihasankan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Futuhat Rabbaniyyah, 4: 192)

Maka dalam akidah Islam, tidak ada yang namanya arwah gentayangan, arwah penasaran, mayat hidup, zombi, atau semisalnya yang tercakup dalam keyakinan bahwa orang yang sudah mati bisa hidup kembali di alam dunia.

Ruh orang yang sudah mati, mereka di alam barzakh dalam keadaan menikmati nikmat kubur atau diadzab di dalam kubur, tidak ada kemungkinan ketiga. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan, “Arwah itu ada dua macam: pertama, arwah yang diazab, kedua, arwah yang mendapatkan nikmat.” (Ar-Ruh, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, hal. 17)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan, “Di antara akidah Ahlussunnah wal Jamah’ah adalah mengimani adanya azab kubur dan nikmat kubur. Keadaan mayit di alam kubur, bisa jadi ia diberi nikmat, atau diberi azab. Ahlussunnah wal Jama’ah mengimani hal ini. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa alam kubur itu bisa jadi akan menjadi taman surga, atau bisa jadi akan menjadi halaman neraka. Wajib bagi seorang Mukmin untuk mengimani hal ini.” (Majmu’ al-Fatawa wal Maqalat Syaikh Ibnu Baz, 28: 66)

Dan telah kita sampaikan kelemahan hadis yang menyatakan bahwa arwah orang yang meninggal dapat mengunjungi rumahnya dan keluarganya. Hadis tersebut tidak bisa menjadi hujjah.

Selain itu, keyakinan adanya arwah gentayangan atau arwah penasaran, ini bertentangan dengan akal sehat. Andaikan ruh orang yang sudah mati bisa bergentayangan dan bisa penasaran, kemudian bisa bebas berjalan kesana-kemari, membantu keluarganya, atau mengganggu orang-orang yang hidup, dan semisalnya, tentu tidak ada orang yang takut mati. Karena setelah mati pun masih bisa beramal, baik amalan saleh maupun amalan buruk. Bahkan semua orang mungkin ini mati saja karena digambarkan kehidupan setelah mati itu begitu santainya, bisa bergentayangan dan jalan-jalan kesana-kemari. Maka kemana perginya akal sehat?!

Adapun penampakan-penampakan yang dilihat oleh sebagian orang, yang disangka sebagai arwah gentayangan, mereka adalah setan dari kalangan jin. Sebagian jin terkadang menampakkan diri dalam bentuk manusia yang sudah meninggal sehingga disangka sebagai arwah yang hidup kembali. (Dalam hadis riwayat Bukhari (no. 2311), disebutkan bahwa Abu Hurairah radhiallahu ’anhu bertemu dengan jin yang menampakkan dirinya sebagai seorang remaja yang ingin mencuri harta zakat) Tujuan akhirnya agar manusia terjerumus ke dalam berbagai bentuk kebid’ahan dan kesyirikan. Allahul musta’an.

—

Penulis: Yulian Purnama

Sumber: https://muslimah.or.id/14437-adakah-arwah-gentayangan.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

Hak Ibu Lebih Besar Dari Pada Hak Ayah

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a, “Ya Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri“.

Ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari) di tambah 2 tahun menyusui anak jadi 30 bulan, sehingga tidak bertentangan dengan surat Lukman ayat 14. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir]

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar dari pada kepada bapak.

Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata.

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ : أُمُّكَ، قَالَ : ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ أُمُّكَ، قَالَ : ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ،قَالَ : ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ أَبُوكَ

“Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’, Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bapakmu’ “[Hadits Riwayat Bukhari (Al-Fath 10/401) No. 5971, Muslim 2548]

Imam Adz-Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata:
“Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun.
Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.
Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.
dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya.
Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendo’akanmu dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.
Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat di sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu.

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.
Engkau puas dalam keadaan dia haus.

Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.
Dan engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia buat.

Dan rasanya berat atasmu memeliharanya padahal adalah urusan yang mudah.
Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.

Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.
Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.

Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.
Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘Aalamin.

ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“(Akan dikatakan kepadanya), ‘Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya“[Al-Hajj/22 : 10]

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung. Ketika Ibnu Umar menemui seseorang yang menggendong ibunya beliau mengatakan, “Itu belum bisa membalas”. Kemudian juga beberapa riwayat disebutkan bahwa seandainya kita ingin membalas jasa orang tua kita dengan harta atau dengan yang lain, masih juga belum bisa membalas. Bahkan dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

أَنْتَ ومَالُكَل لأَِبِيْكَ

“Kamu dan hartamu milik bapakmu” [Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Jabir, Thabrani dari Samurah dan Ibnu Mas’ud, Lihat Irwa’ul Ghalil 838]

[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Darul Qolam. Komplek Depkes Jl. Raya Rawa Bambu Blok A2, Pasar Minggu – Jakarta. Cetakan I Th 1422H /2002M]

sumber: https://almanhaj.or.id/457-hak-ibu-lebih-besar-dari-pada-hak-ayah.html

Bulan Dzulqadah Termasuk Bulan Haram

Bulan Dzulqadah saat ini termasuk bulan haram yakni bulan suci. Pada bulan suci semacam bulan ini dilarang keras melakukan tindak kejahatan dan maksiat.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Disebut dengan bulan haram karena pada bulan tersebut diharamkan maksiat dengan keras, begitu pula pembunuhan. Demikian kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam kitab beliau Taisir Al Karimir Rahman.

Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna:

1- Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

2- Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Masiir, tafsir surat At Taubah ayat 36)

Mengenai empat bulan yang dimaksud disebutkan dalam hadits dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679).

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)

Dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan, “Janganlah menzhalimi diri kalian sendiri”, yaitu janganlah berbuat maksiat pada bulan-bulan haram karena dosanya lebih besar.

Larangan di atas berarti berlaku juga dengan bulan Dzulqadah.

Mengenai pembunuhan yang disebutkan dalam ayat di atas, para ulama ada yang menyebutkan bahwa mengenai larangan tersebut pada bulan haram sudah mansukh (dihapus) dengan keumuman ayat,

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً

“Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya” (QS. At Taubah: 36).

Semoga bermanfaat.

—

Diselesaikan di hotel Le Green dekat Masjid Al Fatah Ambon, 4 Dzulqadah 1435 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/8621-bulan-dzulqadah-termasuk-bulan-haram.html

Mengenal Bulan Dzulqa’dah

Mengenal Bulan Dzulqa’dah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Asal Penamaan

Secara bahasa, Dzul Qo’dah terdiri dari dua kata: Dzul, yang artinya: Sesuatu yang memiliki dan Al Qo’dah, yang artinya tempat yang diduduki. Bulan ini disebut Dzul Qo’dah, karena pada bulan ini, kebiasaan masyarakat arab duduk (tidak bepergian) di daerahnya dan tidak melakukan perjalanan atau peperangan. (al-Mu’jam al-Wasith, kata: al-Qo’dah).

Bulan ini memiliki nama lain. Diantaranya, orang jahiliyah menyebut bulan ini dengan waranah. Ada juga orang arab yang menyebut bulan ini dengan nama: Al Hawa’. (al-Mu’jam al-Wasith, kata: Waranah atau Al Hawa’).

Hadis Shahih Seputar Bulan Dzulqa’dah

  1. Hadis dari Abu Bakrah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Bukhari 3197 & Muslim 4477)

  1. Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ أَرْبَعَ عُمَرٍ كُلُّهُنَّ فِي ذِي الْقَعْدَةِ إِلَّا الَّتِي مَعَ حَجَّتِهِ: عُمْرَةً مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ، أَوْ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya di bulan Dzul Qo’dah, kecuali umrah yang dilakukan bersama hajinya. Empat umrah itu adalah umrah Hudaibiyah di bulan Dzul Qo’dah, umrah tahun depan di bulan Dzul Qo’dah, … (HR. Bukhari 1780 & Muslim 1253)

Masyarakat jahiliyah dan Bulan Dzulqa’dah

Masyarakat arab sangat menghormati bulan-bulan haram, baik di masa jahiliyah maupun di masa islam, termasuk diantaranya bulan Dzul Qo’dah. Di zaman jahiliyah, bulan Dzul Qo’dah merupakan kesempatan untuk berdagang dan memamerkan syair-syair mereka. Mereka mengadakan pasar-pasar tertentu untuk menggelar pertunjukkan pamer syair, pamer kehormatan suku dan golongan, sambil berdagang di sekitar Mekkah, kemudian selanjutnya mereka melaksanakan ibadah haji. Bulan ini menjadi bulan aman bagi semuanya, satu sama lain tidak boleh saling mengganggu. (Khazanatul Adab, 2/272)

Ada beberapa pasar yang mereka gelar di bulan Dzul Qo’dah, diantaranya adalah pasar Ukkadz. Letak pasar ini 10 mil dari Thaif ke arah Nakhlah. Pasar Ukkadz diadakan sejak hari pertama Dzul Qo’dah hingga hari kedua puluh. (Al Mu’jam Al Wasith, kata: Ukkadz) Setelah pasar Ukkadz selesai, mereka menggelar pasar Majinnah di tempat lain. Pasar ini digelar selama 10 hari setelah selesainya pasar Ukkadz. Setelah selesai berdagang dan pamer syair, selanjutnya mereka melaksanakan ibadah haji. (al-Aqdul Farid, 2/299).

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber: https://konsultasisyariah.com/28225-mengenal-bulan-dzulqadah.html

Kesehatan Mental: Mengasah Rasa untuk Bahagia

Hidup bahagia adalah keinginan yang didambakan setiap orang. Namun, sering kali kita lupa bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat kita capai secara instan atau tanpa usaha. Mengasah rasa untuk hidup bahagia adalah sebuah proses yang melibatkan kesadaran diri, pengembangan emosi positif, dan adopsi pola pikir yang mendukung.

Kehidupan kita di dunia yang singkat dan sementara ini, jangan sampai dirusak oleh hal-hal yang bisa menghilangkan kebahagian tersebut, seperti berkeluh kesah, terlalu larut dalam kesedihan, cemas terhadap sesuatu yang belum terjadi, atau malah kehidupan ini diisi dengan dosa dan maksiat.

Kebahagiaan merupakan salah satu bentuk surga dunia, karena surga dunia itu meliputi ketenangan hati dan kedamaian jiwa dengan mengingat Allah Ta’ala. Siapa saja yang gagal meraih surga dunia, maka ia bisa gagal untuk menggapai surga akhirat. Hal ini sebagaimana perkataan Syekh Islam rahimahullah,

إن في الدنيا جنة، من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة

“Sesungguhnya di dunia ini terdapat surga, barangsiapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan memasuki surga akhirat.“ (Lihat Al-Mustadrak ‘ala Majmu’ Al-Fatawa, 1: 153)

Oleh karenanya, surga dunia ini menjadi jalan menuju kebahagiaan abadi di akhirat, di mana manusia akan merasakan kebahagiaan yang lebih sempurna di surga yang sesungguhnya. Memahami bahwa dunia ini hanya sementara tidak seharusnya membuat kita kehilangan semangat untuk hidup bahagia. Justru, kesadaran bahwa hidup ini sementara dapat memotivasi kita untuk hidup dengan penuh makna.

Langkah untuk mengasah rasa agar hidup lebih bahagia

Agar kita dapat meraih kebahagiaan di kehidupan dunia yang sementara ini, berikut adalah beberapa langkah untuk mengasah rasa agar hidup lebih bahagia:

Pertama, menjalankan aturan Allah

Agar kita dapat hidup bahagia, maka kita harus menjalankan aturan Allah. Hal ini karena ketika Allah menciptakan manusia juga dibarengi dengan masalah dan ujian yang meliputinya.

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)

Dalam ayat yang lain,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji?” (QS. Al-Ankabut: 2)

Dari ayat-ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa setiap hari bahkan setiap saat manusia dihadapkan pada masalah. Ada masalah yang dihadapi dalam dirinya sendiri dan ada masalah yang bersangkutan dengan orang lain, terutama orang-orang terdekat (keluarga, tetangga, dan teman).

Karena banyaknya masalah yang akan dihadapi oleh hamba-Nya, maka Allah Ta’ala memberikan bimbingan dan pertolongan untuk menghadapi masalah tersebut berupa aturan dan panduan hidup yang apabila dijalankan, maka seseorang akan bisa menghadapi masalah-masalah tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ اللَّـهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّـهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّـهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّـهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sungguh, Allah telah mengatur urusan-Nya. Sungguh, Allah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 2-3)

Sebaliknya dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala memperingatkan jika tidak mengikuti aturan dan perintah-Nya, akan dijadikan hidupnya jauh dari kebahagiaan,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Lalu, bagaimana cara agar kita dapat menjalankan aturan Allah? Pertama kali yang kita lakukan adalah dengan mempelajari aturan tersebut. Kemudian laksanakan aturan itu secara bertahap. Menjalankan aturan Allah berarti hidup dengan mengikuti hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh-Nya. Aturan tersebut mencakup seluruh aspek kehidupan, baik itu ibadah, muamalah (hubungan sosial), adab, dan akhlak. Aturan Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an dan hadis bukan sekadar kumpulan perintah dan larangan, melainkan pedoman hidup yang menyeluruh untuk membimbing manusia menuju kehidupan yang seimbang, penuh berkah, dan bahagia.

Kedua, menerima takdir Allah

Salah satu kunci kebahagiaan adalah menerima bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara. Tidak ada yang abadi di dunia yang sementara ini termasuk kesedihan dan kebahagiaan. Baik kebahagiaan maupun penderitaan akan datang dan pergi. Dengan menerima takdir ini, kita dapat melepaskan diri dari ketergantungan pada hal-hal duniawi dan belajar untuk lebih menghargai setiap yang kita miliki. Ketika kita sadar bahwa segalanya bisa berubah atas takdir dan kehendak-Nya, kita akan lebih bersyukur untuk menikmati setiap apa yang kita punya, tanpa terikat pada rasa takut akan kehilangan. Karena semua adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, termasuk diri kita.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّـهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Yaitu, orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innalillahi wainna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami itu milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala).’” (QS. Al-Baqarah: 156)

Oleh karenanya, kita juga diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika kita ditimpa masalah, ujian atau musibah, untuk mengucapkan,

قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Qadarullah wa ma sya’a fa’ala (hal ini telah ditakdirkan Allah dan Allah berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya).” (HR. Muslim)

Menerima kenyataan bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, dapat membantu kita menjalani hidup dengan lebih tenang dan bahagia. Penting untuk menerima takdir dan kenyataan bahwa setiap keadaan, baik suka maupun duka adalah bagian dari perjalanan hidup. Meskipun kita harus menerima takdir, bukan berarti kita harus pasrah tanpa berusaha. Tetaplah ciptakan harapan untuk masa depan. Berdoa dan berusaha untuk mencapai tujuan sembari menerima apa pun yang Allah takdirkan.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ujian itu sesuai batasan kemampuan manusia

Islam mengajarkan bahwa di balik setiap ujian dan masalah yang dihadapi manusia, selalu ada jalan keluar yang Allah sediakan. Tidak ada ujian yang terlalu berat jika dihadapi dengan keimanan dan tawakal kepada-Nya. Allah juga tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Setiap masalah yang dihadapi adalah sesuai dengan kapasitas yang telah Allah berikan kepadanya.

Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berjanji,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Dalam firman-Nya yang lain,

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Pada akhirnya, kebahagiaan tidak terletak pada seberapa lama kita hidup, tetapi seberapa baik kita mengisi waktu dengan menaati aturan Allah dan menerima segala yang telah Allah takdirkan kepada kita.

***

Penulis: Arif Muhammad N.

sumber: https://muslim.or.id/98421-kesehatan-mental-mengasah-rasa-untuk-bahagia.html

Dunia Bukan Rumah Kita

Bismillah….

“Dan dunia pun tak menemukan tempat di hati kami…”

Di suatu sore, Khabbab bin Al-Arat duduk di bawah naungan dinding yang sedang ia bangun sendiri. Ia bukan orang sembarangan; ia sahabat Rasulullah ﷺ, seorang yang disiksa karena keimanannya, punggungnya pernah dipanggang bara. Tapi lihatlah dia kini, duduk termenung sambil berkata lirih,

إنَّ أصْحَابَنَا الَّذِينَ مَضَوْا لَمْ تَنْقُصْهُمُ الدُّنْيَا شيئًا، وإنَّا أصَبْنَا مِن بَعْدِهِمْ شيئًا، لا نَجِدُ له مَوْضِعًا إلَّا التُّرَابَ.

“Sungguh sahabat-sahabat kita yang telah lebih dahulu meninggal, mereka tak pernah disentuh dunia. Dan kita… kita diberi bagian darinya, tapi tak tahu harus kita letakkan di mana selain ke tanah.” (HR. Bukhari)

Ah, betapa keras dunia membisiki, membujuk, mengelabui. Tapi bagi mereka, dunia bukan rumah. Hanya halte sementara dalam perjalanan pulang. Kita, yang sering tak sadar sedang dalam perjalanan, terlalu sibuk menghias halte, lupa menyiapkan bekal keabadian.

“Tiga yang mengikuti mayit…”

Pernahkah kau memikirkan saat tubuhmu dibaringkan? Diiringi tangis keluarga, diantarkan hingga liang terakhir. Maka akan ada tiga yang mengikuti: keluarga, harta, dan amal. Tapi dua akan pulang… yang satu tinggal. Bukan rumah, bukan mobil, bukan likes dan views. Hanya amal yang menunggu di sisi, di kegelapan liang, jadi teman sejati.

Nabi shallahllahu’alaihi wa sallam bersabda,

يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنانِ ويَبْقَى واحِدٌ، يَتْبَعُهُ أهْلُهُ ومالُهُ وعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أهْلُهُ ومالُهُ ويَبْقَى عَمَلُهُ.

“Tiga hal akan mengikuti jenazah (orang yang meninggal): keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua akan kembali, dan satu akan tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya akan kembali (meninggalkannya), sedangkan amalnya yang akan tetap bersamanya.” (HR. Muslim. Dari Anas bin Malik)

“Kau tertawa… padahal neraka di hadapanmu”

Satu hari, Jibril turun dengan wajah berubah. Rasulullah ﷺ, yang melihatnya, bertanya,

يا جبريلُ ما لي أراك متغيِّرَ اللَّونِ ؟

“Kenapa aku lihat wajahmu pucat?”

Jibril berkata,

ما جئتُك حتَّى أمر اللهُ بمنافيخِ النَّارِ

“Aku tak datang padamu… hingga Sang Pemilik Semesta memerintahkan dinyalakannya bara api neraka.” (HR. Ibnu Abid Dunya dan Thabrani)

Lalu mereka menangis. Dua makhluk teragung, Rasul Allah dan malaikat Jibril, menangis karena takut neraka. Dan kita? Masih tertawa, masih berbangga pada dosa, seolah ajal enggan menyapa.

“Wahai anak Adam…”

“Wahai anak Adam,” sabda Nabi ﷺ, “membelanjakan kelebihan harta itu baik untukmu. Menahannya buruk bagimu.” Dunia memang manis, tapi memeluknya erat justru bisa membakar. Maka belanjakan kelebihannya. Jangan simpan semua untuk dirimu, mulailah dari keluargamu, dan ingat: tangan yang memberi selalu lebih baik daripada tangan yang meminta.

“Apa yang kau punya hari ini?”

Rasul ﷺ bersabda,

من أصبحَ معافًى في جسمِهِ آمنًا في سربِهِ عندَهُ قوتُ يومِهِ فَكأنَّما حيزت لَهُ الدُّنيا.

“Siapa yang pagi ini tubuhnya sehat, rumahnya aman, dan punya makanan untuk hari ini, maka seolah dunia telah dikumpulkan seluruhnya untuknya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Tapi kita, terlalu sibuk mengejar besok, hingga lupa bersyukur hari ini. Kita mencari lebih dan lebih, padahal cukup tak pernah kurang jika hati ridha.

“Kematian bukan cerita orang lain”

Rasul ﷺ pernah berdiri di atas untanya dan berkhutbah:

يا أيُّها النَّاسُ كأنَّ الحقَّ فيها على غيرِنا وجبَ وكأنَّ الموتَ على غيرِنا كُتبَ وكأنَّ الَّذي يشيَّعُ منَ الأمواتِ سفْرٌ عمَّا قليلٍ إلينا راجِعونَ نبوِّئُهم أجداثَهم ونأكلُ تُراثَهم

“Seakan-akan kematian itu hanya berlaku untuk orang lain. Kita mengantar jenazah lalu mewarisi harta mereka, seolah mereka hanya pergi dalam sebuah perjalanan, yang sebentar lagi akan kembali kepada kita. Lalu kita menyiapkan tempat peristirahatan mereka, dan dengan tenang kita memakan warisan yang mereka tinggalkan…” (HR. Al-Bazzar)

Betapa jujur sabda itu: hidup ini hanya sejenak, seperti musafir berteduh di bawah pohon sebelum kembali melanjutkan langkahnya.

“Jika kalian tetap seperti saat bersamaku…”

Sahabat bertanya panik, “Ya Rasulullah, kami merasa munafik! Ketika bersamamu kami mengingat akhirat, tapi ketika pulang, kami sibuk dunia.” Rasul tersenyum dan menjawab, “Kalau kalian bisa seperti itu sepanjang waktu, niscaya malaikat akan menyalami kalian di jalan-jalan Madinah.”

Tapi manusia tetap manusia. Maka bukan kesempurnaan yang dituntut. Tapi kesungguhan. Untuk terus kembali. Untuk terus mengingat. Untuk terus menangis setiap kali lupa.

“Kaya itu bukan di kantong…”

Seorang bijak pernah berkata,

الغِنى اليأسُ مما في أيدي الناسِ

“Kaya adalah putus harap dari apa yang dimiliki manusia lain.”

Sebab mata yang tak terus memandang ke tangan orang lain adalah mata yang paling damai. Hati yang cukup adalah istana. Dan orang yang bisa menolak dunia adalah sang pemenang sejati.

“Dan malam menjadi kehormatanmu…”

Jibril berkata:

يا محمَّدُ عِش مَا شِئتَ فإنَّكَ ميِّتٌ، وأحبِبْ من شئتَ فإنَّكَ مفارِقُه، واعمَل ما شئتَ فإنَّكَ مجزيٌّ بِه

“Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, karena kau pasti mati. Cintailah siapa pun yang kau mau, karena kau akan berpisah darinya. Dan berbuatlah semaumu, karena kau akan dibalas.” (HR. Thabrani dan Abu Dawud)

Maka ketahuilah: kehormatan seorang mukmin ada dalam salat malam, dan izzahnya ada dalam rasa cukup. Bukan dalam pujian, bukan dalam popularitas.


Kawan,

Hidup bukan perlombaan menumpuk, tapi perlombaan menipiskan: menipiskan ego, nafsu, riya, dan cinta pada dunia. Dunia bukan rumah. Dunia hanya halte. Pulanglah ke rumahmu yang sejati: ke kampung akhirat. Tabunglah cinta, amal, dan air mata harap dalam setiap salatmu. Karena pada akhirnya… semua akan pergi. Dan hanya amal yang tinggal menemani.

“Jika dunia telah direnggut dari tanganmu, biarlah. Asal akhirat tetap terjaga di dalam dadamu.”


Oleh: Ahmad Anshori 

sumber: https://remajaislam.com/5889-dunia-bukan-rumah-kita.html

Hati-hati dengan Lisan

Saudaraku, seringkali lisan ini tergelincir mengucapkan kata-kata kotor, mencela orang lain, membicarakan orang lain padahal dia tidak senang untuk diceritakan, bahkan seringkali lisan ini mengucapkan kata-kata yang mengandung kesyirikan dan kekufuran.

Harusnya setiap muslim mengoreksi diri dalam setiap tingkah lakunya, apalagi dalam perkara lisannya, yang begitu enteng mengucapkan sesuatu karena keluar dari lidah yang tak bertulang.


Ingatlah saudaraku, setiap yang kita ucapkan, mencakup perkataan yang baik, yang buruk juga yang sia-sia akan selalu dicatat oleh malaikat yang setiap saat mengawasi kita. Seharusnya kita selalu merenungkan ayat berikut agar tidak serampangan mengeluarkan kata-kata dari lisan ini. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18). Ucapan dalam ayat ini bersifat umum. Oleh karena itu, bukan perkataan yang baik dan buruk saja yang akan dicatat oleh malaikat, tetapi termasuk juga kata-kata yang tidak bermanfaat atau sia-sia. (Lihat Tafsir Syaikh Ibnu Utsaimin pada Surat Qaaf)

Kita dapat melihat contoh ulama yang selalu menjaga lisannya bahkan sampai dalam keadaan sakit. Imam Ahmad pernah didatangi oleh seseorang dan beliau dalam keadaan sakit. Kemudian beliau merintih karena sakit yang dideritanya. Lalu ada yang berkata kepadanya (yaitu Thowus, seorang tabi’in yang terkenal), “Sesungguhnya rintihan sakit juga dicatat (oleh malaikat).” Setelah mendengar nasehat itu, Imam Ahmad langsung diam, tidak merintih. Beliau takut jika merintih sakit, rintihannya tersebut akan dicatat oleh malaikat. (Silsilah Liqo’at Al Bab Al Maftuh, 11/5)

Lihatlah saudaraku, bentuk rintihan seperti ini saja dicatat oleh malaikat, apalagi ketergelinciran lisan yang lebih dari itu.

Ibnu Mas’ud mengatakan, “Tidak ada yang lebih pantas dipenjara dalam waktu yang lama melainkan lisanku ini.” (Mukhtashor Minhajil Qoshidin, hal. 165, Maktabah Darul Bayan)

Di Antara Ketergilincaran Lisan

[Pertama] Mencela Makhluk yang Tidak Dapat Berbuat Apa-apa

Misalnya dengan mengatakan, ‘Bencana ini bisa terjadi karena bulan ini adalah bulan Suro’ atau mengatakan ‘Sialan! Gara-gara angin ribut ini, kita gagal panen’ atau dengan mengatakan pula, ‘Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’.

Lidah ini begitu mudah mengucapkan perkataan seperti ini. Padahal makhluk yang kita cela tersebut tidak mampu berbuat apa-apa kecuali atas kehendak Allah. Mencaci waktu, angin, dan hujan, pada dasarnya telah mencaci, mengganggu dan menyakiti yang telah menciptakan dan mengatur mereka yaitu Allah Ta’ala.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa. Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti’.” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih)

[Kedua] Seringnya Berdusta

Hal ini juga sering dilakukan oleh kita saat ini. Dalam mu’amalah saja seringkali seperti itu. Hanya ingin mendapat untung yang besar, seorang tukang bangunan rela berdusta. Harga semennya sebenarnya 30 ribu, namun tukang tersebut mengatakan pada juragannya bahwa harganya 40 ribu.

Begitu juga dalam mendidik anak, seringkali juga muncul perkataan dusta. Ketika seorang anak merengek, menangis terus-terusan. Untuk mendiamkannya, sang Ibu spontan mengatakan, “Iya, iya, nanti Mama akan belikan coklat di warung. Sekarang jangan nangis lagi.” Setelah anaknya diam, ibunya malah tidak memberikan dia apa-apa. Kelakuan ibu ini juga secara tidak langsung telah mengajarkan anaknya untuk berdusta. Jadi jangan salahkan anaknya, jika dewasa nanti, anaknya malah yang sering membohongi orang tuanya.

Saudaraku, bentuk pertama dan kedua ini sama-sama berkata dusta. Ingatlah bahwa perbuatan semacam ini termasuk ciri-ciri kemunafikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga : jika berkata, dia dusta; jika berjanji, dia menyelisinya; dan jika diberi amanat, dia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah di antara dua bentuk ketergelinciran lisan dan masih banyak sekali bentuk yang lainnya.

Berpikirlah Sebelum Berucap

Hendaklah seseorang berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisannya, dia akan dilempar ke neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim)

Ulama besar Syafi’iyyah, An Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim tatkala menjelaskan hadits ini mengatakan, ”Ini merupakan dalil yang mendorong setiap orang agar selalu menjaga lisannya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.’ (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, selayaknya setiap orang yang berbicara dengan suatu perkataan atau kalimat, hendaknya merenungkan dalam dirinya sebelum berucap. Jika memang ada manfaatnya, maka dia baru berbicara. Namun jika tidak, hendaklah dia menahan lisannya.”
Itulah manusia, dia menganggap perkataannya seperti itu tidak apa-apa, namun di sisi Allah itu adalah suatu perkara yang bukan sepele. Allah Ta’ala berfirman, “Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. An Nur [24] : 15)

Dalam Tafsir Al Jalalain dikatakan bahwa orang-orang biasa menganggap perkara ini ringan. Namun, di sisi Allah perkara ini dosanya amatlah besar.

Dengan Lisan, Seseorang Bisa Ditinggikan Derajatnya

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu.” (HR. Bukhari)

Ketinggian derajat di sini bisa diperoleh jika lisan selalu diarahkan pada perkara kebaikan, di antaranya dengan berdo’a, membaca Al Qur’an, berdakwah di jalan Allah, mengajarkan orang lain di majelis ilmu dan lain sebagainya. Atau dengan kata lain, ketinggian derajat tersebut bisa diperoleh dengan mengarahkan lisan pada perkara-perkara yang Allah ridhoi. (Lihat Nashihatu Linnisa’, hal. 20)

Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk menjaga lisan ini dan mengarahkannya kepada hal-hal yang dirihoi oleh Allah. Amin Ya Mujibad Da’awat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Tulisan masa silam, di Pogong Kidul

Sumber https://rumaysho.com/774-hati-hati-dengan-lisan.html

Bahaya Judi untuk Anak Muda, Dari Coba-coba sampai Kehilangan Segalanya

Bismillah…

Pernah nggak sih lihat orang yang awalnya cuma “iseng” taruhan kecil bareng teman, eh lama-lama jadi kebiasaan, sampai akhirnya hidupnya berantakan?
Yang awalnya cuma seru-seruan, ujungnya malah jadi sumber stres, hutang menumpuk, dan hubungan sama keluarga hancur.

Judi itu ibarat jebakan yang dikasih lampu neon, dari luar kelihatan seru, tapi di dalamnya penuh jebakan yang siap menghisap waktu, uang, bahkan harga diri kita.

Allah sudah jelas-jelas mengharamkan judi. Bukan tanpa alasan, tapi karena efeknya yang nggak main-main. Dalam QS Al-Maidah: 90-91, Allah menegaskan bahwa judi adalah perbuatan keji, termasuk strategi setan untuk menimbulkan permusuhan, kebencian, dan menjauhkan manusia dari mengingat Allah serta salat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dari perbuatan setan. Maka jauhilah itu agar kalian beruntung.” (QS. Al-Maidah: 90)

Dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan makna ayat ini:

فإن الفلاح لا يتم إلا بترك ما حرم الله، خصوصا هذه الفواحش المذكورة، وهي الخمر وهي: كل ما خامر العقل أي: غطاه بسكره، والميسر، وهو: جميع المغالبات التي فيها عوض من الجانبين، كالمراهنة ونحوه

“Keberuntungan sejati tidak akan tercapai kecuali dengan meninggalkan segala yang diharamkan Allah, khususnya perbuatan-perbuatan keji yang telah disebutkan. Di antaranya adalah khamr, yakni segala sesuatu yang memabukkan dan menutupi akal dengan efek mabuknya; dan maysir, yaitu segala bentuk permainan atau pertaruhan yang melibatkan hadiah atau imbalan dari kedua belah pihak, seperti taruhan dan sejenisnya.”

Kemudian Allah ‘azza wa jalla melanjutkan:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ العَدَاوَةَ وَالبَغْضَاءَ فِي الخَمْرِ وَالمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنتَهُونَ

“Sesungguhnya setan bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian melalui minuman keras dan judi, serta menghalangi kalian dari mengingat Allah dan salat. Maka tidakkah kalian mau berhenti?” (QS. Al-Maidah: 91)

Imam Al-Baghawi -rahimahullah- dalam tafsirnya menerangkan ayat di atas,

 أما العداوة في الميسر ، قال قتادة : كان الرجل يقامر على الأهل والمال ثم يبقى حزينا مسلوب الأهل والمال مغتاظا على حرفائه

“Adapun permusuhan yang timbul dari maysir (judi), Qatadah berkata: Dahulu seseorang berjudi dengan mempertaruhkan keluarga dan hartanya, lalu akhirnya ia pulang dalam keadaan sedih, kehilangan keluarga dan harta, serta dipenuhi rasa marah kepada lawan-lawannya.”

Masalahnya, di dunia nyata, judi itu sering dibungkus dengan kata-kata manis: “hiburan”, “tantangan”, atau “kesempatan menang besar”. Padahal di baliknya, banyak rumah tangga runtuh, orang kehilangan pekerjaan, bahkan sampai rela menjual harga dirinya.

Kenapa judi begitu merusak?

  • Mengandalkan keberuntungan, bukan kerja keras – Membiasakan mental malas berusaha, hanya berharap “hokinya datang”.
  • Menguras harta & martabat – Dari yang punya cukup, jadi bangkrut. Dari yang terhormat, jadi kehilangan harga diri.
  • Menciptakan permusuhan – Niatnya “main bareng”, tapi ujungnya saling benci karena merasa dirugikan.
  • Menjauhkan dari ibadah – Terlalu fokus pada kartu atau angka, sampai lupa waktu salat.
  • Mendorong kejahatan – Yang kalah akan mencari cara apa pun untuk balik modal, entah itu mencuri, menggelapkan, atau merampas.
  • Merusak fisik & mental – Stres, kecemasan, insomnia, bahkan depresi dan keinginan bunuh diri.

Lingkungan judi pun sering jadi “paket lengkap” maksiat: alkohol, rokok, narkoba, tipu daya, dan teman-teman yang sama-sama menjerumuskan.

Yang menang belum tentu beneran untung, karena uangnya habis buat minum, rokok, dan sogokan.

Yang kalah? Keluar dengan muka pucat, pikiran kacau, dan janji pada diri sendiri, “Besok gue balikin kekalahan ini.”
Begitu terus siklusnya. Dan semua orang rugi, cepat atau lambat.

Jalan Keluar

  • Pahami hukumnya & alasannya – Bukan sekadar “nggak boleh”, tapi kenapa Allah melarang.
  • Cari pengganti hiburan yang sehat – Olahraga, bisnis kecil-kecilan, atau komunitas positif.
  • Buat batasan finansial – Jangan biarkan uang “nganggur” jadi pemicu untuk coba-coba taruhan.
  • Cari lingkungan yang mendukung – Teman yang mengajak ke arah baik, bukan jebakan.
  • Berani cari bantuan – Kalau sudah kecanduan, minta dukungan keluarga, konselor, atau ustaz.

Kesimpulan

Judi itu bukan cuma soal uang yang hilang, tapi hidup yang pelan-pelan terkikis. Allah melarang bukan karena mau membatasi kebahagiaan kita, tapi justru untuk melindungi dari kehancuran yang sering nggak kita sadari.

Kalau mau “untung besar” yang sebenarnya, kuncinya bukan di meja judi, tapi di usaha halal, kerja keras, doa, dan keberkahan yang Allah kasih. Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan cuma kemenangan di dunia, tapi keselamatan di akhirat.


Oleh: Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

sumber: https://remajaislam.com/5977-bahaya-judi-untuk-anak-muda-dari-coba-coba-sampai-kehilangan-segalanya.html

Bahaya Dusta Atas Nama Nabi

Berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dosa besar, bahkan bisa kafir.

Imam Adz Dzahabi dalam kitab beliau Al Kabair (mengenai dosa-dosa besar) berkata, “Berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu bentuk kekufuran yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Tidak ragu lagi bahwa siapa saja yang sengaja berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal berarti ia melakukan kekufuran. Adapun perkara yang dibahas kali ini adalah untuk bentuk dusta selain itu.”

Beberapa dalil yang dibawakan oleh Imam Adz Dzahabi adalah sebagai berikut.

Dari Al Mughirah, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4).

Dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ  بنيَ لَهُ بَيْتٌ فِي جَهَنَّمَ

“Barangsiapa berdusta atas namaku, maka akan dibangunkan baginya rumah di (neraka) Jahannam.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir)

Imam Dzahabi juga membawakan hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang berkata atas namaku padahal aku sendiri tidak mengatakannya, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka.”

Dalam hadits lainnya disebutkan pula,

يُطْبَعُ الْمُؤْمِنُ عَلَى الْخِلاَلِ كُلِّهَا إِلاَّ الْخِيَانَةَ وَالْكَذِبَ

“Seorang mukmin memiliki tabiat yang baik kecuali khianat dan dusta.” (HR. Ahmad 5: 252. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dhoif)

Dari ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَوَى عَنِّى حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ

“Siapa yang meriwayatkan dariku suatu hadits yang ia menduga bahwa itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari dua pendusta (karena meriwayatkannya).” (HR. Muslim dalam muqoddimah kitab shahihnya pada Bab “Wajibnya meriwayatkan dari orang yang tsiqoh -terpercaya-, juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 39. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Setelah membawakan hadits-hadits di atas, Imam Adz Dzahabi berkata, “Dengan ini menjadi jelas dan teranglah bahwa meriwayatkan hadits maudhu’ -dari perowi pendusta- (hadits palsu) tidaklah dibolehkan.” (Lihat kitab Al Kabair karya Imam Adz Dzahabi, terbitan Maktabah Darul Bayan, cetakan kelima, tahun 1418 H, hal. 28-29).

Pembahasan ini bermaksud menunjukkan bahayanya menyampaikan hadits-hadits palsu yang tidak ada asal usulnya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

—

@ Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, 3 Jumadats Tsaniyah 1435 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://muslim.or.id/21024-bahaya-dusta-atas-nama-nabi.html

Kalau Lupa Baca Bismillah Pas Makan/Minum, Harus Gimana?

Bismillah…

Kadang nih, lagi laper atau haus banget, kita langsung hajar makanan atau minuman tanpa baca Bismillah. Baru tengah jalan sadar: “Eh… belum baca doa nih.”
Terus gimana?

Jawabannya: Nabi ﷺ udah ngajarin solusinya.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Kalau kalian makan, sebut nama Allah. Kalau lupa di awal, pas ingat di tengah, bilang: Bismillahi awwalahu wa akhirahu (artinya: dengan menyebut nama Allah di awal dan di akhir).”

(HR. Abu Dawud 3767, at-Tirmidzi 1858, Ibnu Majah 3264 – sahih menurut Al-Albani)

Ada juga hadis dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

من نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ فِي أَوَّلِ طَعَامِهِ، فَلْيَقُلْ حِينَ يَذْكُرُ: بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وآخره، فإنه يستقبل طعاماً جَدِيدًا، وَيَمْنَعُ الْخَبِيثَ مَا كَانَ يُصِيبُ مِنْهُ

“Kalau lupa baca doa di awal makan, lalu ingat di tengah, ucapkan: Bismillah fii awwalihi wa akhirihi. Itu bikin makanan yang sisa jadi ‘baru’ lagi dan setan nggak bisa ikut nimbrung.”

(HR. Ibnu Hibban 5213 – sahih menurut Al-Albani)

Catatan penting:

Ini berlaku buat makan dan minum.

Imam al-Munawi rahimahullah berkata:

مثل الأكل: الشرب

“Sama seperti makan, minum juga demikian hukumnya.” (Faidhul Qadir, 1/296)

Ulama bilang, di Qur’an pun kata “makanan” bisa juga maksudnya minuman. Jadi minum teh, kopi, boba, sama aja aturannya.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan bahwa:

الطعام ما يطعمه الإنسان أي ما يتذوق طعمه، ويكون شرابا، ويكون أكلا، والدليل على أن الشراب يسمى طُعْما أو طعاما قوله تبارك وتعالى

“Istilah “thaa‘am” (makanan) dalam bahasa Arab mencakup makanan dan minuman, sebagaimana dalam firman Allah:

فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلاَّ مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ

“Barangsiapa minum darinya maka ia bukan golonganku, dan barangsiapa tidak meminumnya maka ia termasuk golonganku, kecuali orang yang menciduk dengan tangannya.” (QS. Al-Baqarah: 249)

Aktivitas lain, kayak belajar, masak, atau pakai baju, kalau lupa baca Bismillah di awal terus ingat di tengah, cukup bilang Bismillah aja tanpa tambahan “awwalahu wa akhirahu”.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata:

إذا نسيت التسمية في أول الوضوء ، ثم ذكرتها في أثنائه فإنك تسمي، وليس عليك أن تعيد أولاً؛ لأنك معذور بالنسيان

“Jika seseorang lupa membaca basmalah di awal wudhu, lalu mengingatnya di tengah wudhu, maka ia membacanya dan tidak perlu mengulang dari awal, karena ia dimaafkan sebab lupa.” (Fatwa Ibnu Baz no. 2205)

Begitu pula fatwa Lajnah Daimah:

التسمية عند الوضوء مشروعة، فإذا نسيها في أوله ، وذكرها في أثنائه : فإنه يسمي ويستمر في وضوئه، وإذا لم يذكرها إلا بعد انتهائه فوضوؤه صحيح ولا إعادة عليه

“Membaca basmalah ketika wudhu adalah sunnah. Jika lupa di awal, lalu teringat di tengah, maka bacalah dan lanjutkan wudhu. Jika baru ingat setelah selesai wudhu, maka wudhunya tetap sah dan tidak perlu mengulang.”
(Fatawa Lajnah Daimah, 4/73)

Kesimpulan:

  1. Mau makan/minum → baca Bismillah di awal.
  2. Kalau lupa, pas ingat → ucapkan Bismillahi awwalahu wa akhirahu.
  3. Selain makan/minum, kalau lupa → cukup ucap Bismillah saat ingat.

Wallahua’lam bis showab


Oleh: Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

sumber: https://remajaislam.com/5964-kalau-lupa-baca-bismillah-pas-makan-minum-harus-gimana.html