Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan Hidup

Orang yang berpikiran maju dan produktif akan paham bahwa kecanduan bermain game itu akan memusnahkan waktu mereka. Semua orang sudah tahu bahwa bermain game adalah suatu hal yang tidak baik. Orang tua tidak suka apabila anaknya kecanduan main game. Para guru dan pendidik pun selalu memperingatkan generasi muda akan kecanduan game. Berikut beberapa efek negatif kecanduan game, misalnya:

  1. Lama-kelamaan akan menyebabkan kecanduan sehingga akan melalaikan dari tugas dan kewajibannya
  2. Melakukan hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat
  3. Menghabiskan waktu di depan permainan game
  4. Menjadi tertutup dan terbatas komunikasi dengan dunia nyata karena terlalu fokus dengan game
  5. Ada beberapa madharat game pada umumnya semisal memperlihatkan aurat, lagu dan musik serta ungkapan dan kalimat yang dilarang syariat atau hal-hal yang memperlihatkan sesuatu yang tasyabbuh (menyerupai) orang kafir dan fasik

Kecanduan game itu benar-benar melakukan hal yang sia-sia

Kita dianjurkan agar mengisi waktu kita dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat, apabila tidak, maka kita pasti akan mengisi waktu kita dengan hal-hal yang sia-sia atau bahkan hal yang negatif.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menyebutkan sebuah kaidah emas,

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, PASTI akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (Al Jawabul Kaafi hal. 156)

Termasuk kebaikan bagi seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya baik dunia maupun akhirat, sedangkan bermain game umumnya tidak bermanfaat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan dalam islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya. (HR. Ahmad dan Tirmidzi )

Kecanduan game berarti tidak menghargai waktu yang sangat berharga

Allah Ta’ala bersumpah dalam Al-Quran dengan menggunakan waktu beberapa kali dan beberapa surat Al-Quran. Misalnya “wal-ashri” (demi masa), “wad-dhuha” (demi waktu dhuha), “wal-lail” (demi waktu malam) dan lain-lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa waktu ini sangat penting dan kita harus menyadari betul hal ini, sedangkan manusia secara umum lalai akan hal ini. Perhatikan hadits berikut,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412)

Pepatah Arab yang menggambarkan pentingnya waktu,

اَلْوَقْتُ أَنْفَاسٌ لَا تَعُوْدُ

Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.

Orang sukses dunia-akhirat akan sangat menyesal jika waktunya terbuang percuma tanpa manfaat dan faidah. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

ﻣَﺎ ﻧَﺪِﻣْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻲْﺀٍ ﻧَﺪَﻣِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﻳَﻮْﻡٍ ﻏَﺮَﺑَﺖْ ﴰَﺴْﻪُ ﻧَﻘَﺺَ ﻓِﻴْﻪِ ﺃَﺟَﻠِﻲ ﻭَﱂَ ْﻳَﺰِﺩْ ﻓِﻴْﻪِ ﻋَﻤَﻠِﻲ

Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.” (Lihat Miftahul Afkar)

Mereka juga pelit dengan waktu mereka, Hasan Al-Bashri rahimahullah berkat,

أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَ أَحَدُهُمْ أَشَحَّ عَلَى عُمْرِهِ مِنْهُ عَلَى دِرْهَمِهِ

“Aku menjumpai beberapa kaum, salah satu dari mereka lebih pelit terhadap umurnya (waktunya) dari pada dirham (harta) mereka” (Al-‘Umru was Syaib no. 85)

Hendaknya kita mengisi waktu kita dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat, tugas kita sangat banyak sedangkan waktu ini sangat sedikit, tidak layak bagi seorang muslim menghabiskan waktu yang sangat berharga dengan bermain game yang tidak bermanfaat.

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/45161-kecanduan-game-itu-memusnahkan-waktu-dan-keberkahan-hidup.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Menolak Kebenaran dan Merendahkan Orang Lain, Itulah Sombong

Sombong ada dua jenis:

Menolak kebenaran.
Merasa lebih baik di hadapan orang lain, atau merendahkan mereka.
Sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi -shallallahu’alaihiwasallam- di dalam sabdanya:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran merendahkan manusia.” (HR. Muslim)

Menolak kebenaran digolongkan sebagai wujud dari sombong karena, hakikat kesombongan adalah perasaan lebih tinggi dan lebih sempurna. Orang yang menolak kebenaran dia sedang merasa lebih tinggi dan lebih sempurna dari kebenaran yang sampai kepadanya. Demikian pula merendahkan orang lain disebut sombong karena seorang tidaklah merendahkan orang lain kecuali karena merasa lebih sempurna dan lebih baik dari yang lain.

Syekh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menerangkan dua model sombong ini:

وبهذا التفسير الجامع الَّذِي ذكره النَّبِيُّ يتضح هذا المعنى غاية الاتضاح؛ فإنه جعل الكبر نوعين:

كبر النوع الأول: على الحق، وهو ردُّه وعدم قبوله. فكُلُّ مَن ردَّ الحقِّ؛ فإِنَّه مستكبر عنه بحسب ما ردَّ مِنَ الحقِّ . وذلك أنه فرض على العباد أن يخضعوا

للحق الذي أرسل الله به رسله، وأنزل به كتبه.
فالمتكبرون عن الانقياد للرُّسُل بالكلية كُفَّارٌ مُخَلَّدُونَ فِي النَّارِ؛ فَإِنَّه جَاءَهم الحق على أيدي الرُّسُل مؤيَّدًا بالآيات والبراهين. فقام الكبر في قلوبهم مانعا، فرَدُّوه.


قال تعالى: ﴿وإِنَّ الَّذِينَ يُجدِلُونَ فِي ايتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَيْنِ أَنَّهُمْ إِن في صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبَرُ مَا هُم بِلِغِيهِ ﴾ [غافر : ٥٦]
وأمَّا المُتكبرون عن الانقياد لبعض الحقِّ الَّذِي يخالف رأيهم وهواهم: فهم – وإن لم يكونوا كُفَّارًا – فإنَّ معهم من موجبات العقاب بحسب ما معهم من الكير وما تأثرُوا به من الامتناع عن قبول الحَقِّ الَّذِي تبين لهم بعد مجيء الشَّرع به، ولهذا أجمع العلماء أنَّ من استبانت له سُنَّة رسول الله لم يحل له أن يعدل عنها

تقول أحدٍ كائناً مِنَ النَّاسِ مَن كان.
وأما الكبر على الخلق وهو -النوع الثاني- فهو غمطهم واحتقارهم وذلك ناشئ عن عجب الإنسان بنفسه وتعاظمه عليه، فالعجب بالنفس يحمل على التكبر على

الخلق واحتقارهم والاستهزاء بهم وتنقيصهم بقوله وفعله

“Penjelasan Nabi tentang sombong ini sungguh sempurna,memberikan pemahaman sangat jelas terhadap makna sombong. Beliau membagi kesombongan menjadi dua jenis:

Yang pertama, sombong terhadap kebenaran, yang mencakup penolakan alias tidak mau menerima.
Setiap orang yang menolak kebenaran, dia sedang bersikap sombong, kadar besar kecilnya kesombongam sesuai dengan kadar penolakannya terhadap kebenaran tersebut. Hal ini karena diharapkan dari setiap hamba untuk patuh terhadap kebenaran yang Allah sampaikan melalui rasul-Nya dan wahyu-Nya dalam kitab-kitab-Nya.

Mereka yang menunjukkan sikap sombong dengan menolak sepenuhnya ajaran Rasul dianggap sebagai kafir yang akan menghuni Neraka selamanya. Meskipun kebenaran disampaikan kepada mereka melalui para Rasul dengan dukungan tanda-tanda dan bukti yang jelas, namun kesombongan muncul dalam hati mereka telah menghalangi dari kebenaran, sehingga mereka menolaknya. Allah ta’ala menyatakan,

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِن فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَّا هُم بِبَالِغِيهِ ۚ

“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat itu tidak diberi kekuasaan oleh Allah , sesungguhnya di dalam dada mereka hanya ada kesombongan yang tidak dapat mereka atasi.” (Ghafir: 56)

Adapun orang yang sombong dalam pada sebagian kebenaran, karena tidak sesuai dengan pandangan dan keinginannya, meskipun tidak sampai dihukumi kafir, mereka telah menerjang sebab-sebab datangnya hukuman Allah, yang sesuai dengan kadar kesombongan yang ada dan kadar penolakannya terhadap kebenaran yang telah jelas. Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa bila hadis-hadis Rasulullah telah sampai pada siapapun dia, maka tidaklah halal baginya untuk beralih memilih pandangan yang lain sebagai pijakan.

Jenis kedua, sombong kepada makhluk.
Yaitu dengan merendahkan dan meremehkan makhluk tersebut. Sikap ini muncul karena seseorang merasa bangga (ujub) kepada dirinya dan menyombongkan diri. Sifat ujubnya seseorang akan tercermin dalam perilaku meremehkan dan mengolok-olok orang lain dengan kata-kata atau Tindakan))[1]

Dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad, ada riwayat dengan derajat sanad yang Hasan

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا الشِّرْكُ قَدْ عَرَفْنَاهُ، فَمَا الْكِبْرُ ؟ هُوَ أَنْ يَكُونَ لأَحَدِنَا حُلَّةٌ يَلْبَسُهَا؟ قَالَ: «لا»، قِيلَ: «فَهُوَ أَنْ يَكُونَ لِأَحَدِنَا نَعْلَانِ حَسَنَتَانِ لَهُمَا شِرَاكَانِ

حَسَنَانِ؟ قَالَ: «لا»، قَالَ: فَهُوَ أَنْ يَكُونَ لِأَحَدِنَا دَابَّةٌ يَرْكَبُهَا؟ قَالَ: «لا»، قَالَ: «فَهُوَ أَنْ يَكُونَ لِأَحَدِنَا أَصْحَابٌ يَجْلِسُونَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: «لا»، قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ،

فَمَا الْكِبْرُ؟» قَالَ: «سفَهُ الْحَقُّ، وَغَمْصُ النَّاسِ»،.

Seseorang bertanya kepada Rasulullah,

“Ya Rasulallah, tentang syirik kami telah mengetahui, namun tentang sombong, apa gerangan kesombongan itu? Apakah sombong itu seseorang yang mengenakan pakaian mewah?

“Bukan itu.” Jawab Nabi.

Orang ini bertanya kembali, “Ataukah seorang yang memiliki sepatu yang bagus?”

Nabi menjawab, “Bukan..”

“Atau seorang yang memiliki hewan tunggangan?”

Nabi menjawab, “Bukan..”

“Ataukah seorang yang memiliki teman yang mendampingi?”

Nabi menjawab, “Bukan..”

Kemudian orang tersebut bertanya kembali, “Lantas apa yang dimaksud sombong itu?”

Beliau menjelaskan, “Sombong adalah merendahkan kebenaran dan meremehkan orang lain.”[2]

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sombong terdiri dari dua jenis: menolak kebenaran meskipun posisi ia sebagai oran yang sangat minoritas. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits di Sahih Muslim:

«أَنَّ رَجُلًا عِندَ رَسُولِ اللهِ أَكَلَ بِشِمَالِهِ، فَقَالَ رسول الله : «كُلْ بِيَمِينِكَ، قَالَ: «لَا أَسْتَطِيعُ»، قَالَ النَّبِيُّ عليه الصلاة والسلام: «لَا اسْتَطَعْتَ، مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ،

فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فيه

Ada seorang yang makan dengan tangan kirinya. Lalu mendapatkan teguran dari Rasulullah. Kemudian orang tersebut menjawab,”Aku tak bisa makan dengan tangan kanan.”

Rasulullah berkata, “Kalau begitu kamu benar-benar tidak akan mampu. Allah-lah yang menghalanginya.”[3] (HR. Muslim)

Ini mencerminkan kesombongan, yang menjadi sumber ketidakmampuan untuk menerima kebenaran.

Kedua, keburukan dan dosa lahir dari kesombongan, membuat seseorang menolak kebenaran dan tidak mampu menerimanya. Banyak perbuatan yang muncul dari kesombongan, dan orang yang terjerumus ke dalamnya biasanya dikendalikan oleh kesombongan yang tumbuh dalam hatinya.

Dalam hadits yang disebutkan di atas, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyatakan,

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبرٍ»

“Tidak akan masuk surga siapa pun yang dalam hatinya ada kesombongan seberat atom.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kesombongan merupakan sifat yang tumbuh di dalam hati. Lalu akan tercermin dalam tindakan yang tampak, dengan sikap menolak kebenaran dan merendahkan masyarakat. Seseorang yang sombong meremehkan dan merendahkan orang lain, sambil memandang dirinya lebih baik dari mereka.

Kemudian hukuman yang akan menimpa orang yang sombong, sejenis dengan kesombongannya. Karena hukuman akan sejenis dengan dosa yang dikerjakan. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Tirmidzi, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam menyatakan bahwa

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُورِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذلُّ مِنْ كُلِّ مَكَان

“Pada hari kiamat, orang-orang sombong akan dikumpulkan seperti atom dalam gambaran manusia, dan kehinaan akan menyelimuti mereka dari segala arah.”[4]

Wallahulmuwaffiq….


[1] Bahjah Qulub Al Abrar, karya As Sa’di (hal 165-166).

[2] Riwayat Bukhari di Al Adab Al Mufrad (548), dan dishahihkan oleh Al Bani.

[3] Riwayat Muslim (2021).

[4] Riwayat Al Tirmidzi (2492), dan dihasankan Al Bani.

Referensi:

Al-Badr, Abdurazzaq bin Abdulmuhsin, (1444H). Ahadits Ishlah Al-Qulub, Dar Imam Muslim, Madinah, Saudi Arabia.

Bro and sis, klik link lengkapnya yah di sini:
https://remajaislam.com/3999-menolak-kebenaran-dan-merendahkan-orang-lain-itulah-sombong.html

Kisah Burung Beo yang Fasih Mengucapkan Laa Ilaha Illallah

[Rubrik: Faidah Ringkas]

Ada sebuah kisah yang menarik, tentang seorang Syaikh yang begitu bersemangat mengajarkan tauhid dan akidah kepada murid-muridnya. Suatu hari salah seorang muridnya menghadiahkan seekor burung beo kepadanya karena mengetahui gurunya tersebut sangat menyukai merawat burung.

Hari demi hari berlalu, Syaikh tersebut sering mengajak burung beonya ke majelis ilmu bersamanya di mana dia terus mengajarkan tauhid, hingga burung beo itu fasih mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah dan diulang-ulangnya siang malam.

Tiba-tiba suatu hari para murid mendapati Syaikhnya menangis, lalu mereka bertanya apa yang membuatnya menangis. Syaikh pun menjawab, “Seekor kucing menyerang dan mencakar burung beo hingga mati.

Mereka bertanya, “Apakah anda menangis hanya gara-gara ini wahai Syaikh? Kalau Anda berkenan, kami bisa memberikan burung beo lain yang lebih bagus.

Syaikh menjawab, “Sungguh bukan itu yang membuatku menangis, tetapi keadaan burung beo ketika mati yang membuatku menangis. Ketika diterkam kucing, ia menjerit dan terus menjerit kesakitan hingga mati tanpa mengucapkan apapun, padahal selama hidupnya begitu sering mengucapkan kalimat tauhid. Ia lupa kalimat tauhid itu karena selama ini ia hanya mengucapkannya semata di lisan saja, tidak masuk ke hati dan mengantarkan kepada amalan.

Kemudian Syaikh mengatakan, “Aku begitu takut kita seperti beo ini, ketika wafat kita tidak teringat sama sekali dengan kalimat syahadat Laa ilaha illallah, karena kita hanya mengucapkannya dengan lisan saja, tetapi tidak masuk ke hati karena tidak memahami makna dan hakikatnya serta tidak mengamalkannya.

Kisah ini kami nukil dari artikel berbahasa Arab https://ar.islamway.net/micropost/1205

Saudaraku, kisah burung beo ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa meski kalimat Laa ilaha illallah adalah kalimat yang terus diucapkan tetapi jika tidak diresapi maknanya, tidak pula diamalkan dalam kehidupan, maka kalimat tersebut bisa jadi tidak memberi manfaat di akhir hayat dan tidak pula di kehidupan setelah kematian.

Burung beo memang tidak diberi beban taklif syariat, tetapi jika kejadian yang dialami oleh burung beo itu juga dialami oleh seorang manusia maka betapa meruginya dia. Kalimat yang sehari-hari dia ucapkan ternyata tidak menyelamatkannya di akhir hayat, sebabnya adalah karena kalimat itu hanya diucapkan di lisan saja tanpa dimasukkan ke dalam hati dan diwujudkan dalam amalan perbuatan. Maka tiada berguna.

Itulah kebiasaan orang munafik, walau lisan-lisan mereka mengucapkan kalimat-kalimat iman tetapi hatinya kosong dari iman. Allah berfirman,

يَقُولُونَ بِأَفۡوَٰهِهِم مَّا لَيۡسَ فِي قُلُوبِهِمۡۚ

Mereka mengatakan dengan lisannya apa yang tidak sesuai dengan isi hatinya.” (QS. Ali Imran: 167)

Orang-orang munafik semasa hidupnya juga mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah, tetapi kalimat yang tidak datang dari hati itu ternyata tidak menyelamatkannya saat terhimpit oleh kubur. Wal ‘iyadzu billah. Orang kafir dan munafik ketika ditanya oleh malaikat di alam kubur, mereka berkata,

ها، ها، لا أدْري، سَمِعتُ النَّاسَ يَقولون شَيئًا فقُلْتُه

“Ha….ha….ha…. Aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengucapkannya, maka aku pun ikut mengucapkannya.” (HR. Abu Dawud no. 4753)

Kalimat tauhid Laa ilaha illallah hanya bermanfaat jika diucapkan dengan jujur dari hati yang terdalam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya dengan kejujuran dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Bukhari no. 128)

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

Carilah Jalan Terbaik, Lalu Fokuslah dan Bertahanlah!

Bismillah…

Hadis yang menjadi bahasan adalah hadis dari sahabat Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu’anhu-, beliau mengatakan, “Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- berpesan kepadaku, “Ya Ali, ucapkanlah doa ini…

اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي

ALLAHUMMAH DINII WA SADDIDNII

“Ya Allah, berilah aku petunjuk dan ketepatan memilih petunjuk.”

Lalu Nabi melanjutkan sabdanya:

وَاذْكُرْ بالهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَالسَّدَادِ سَدَادَ السَّهْمِ

“Ingat-ingatlah petunjukmu itu seperti kamu mengingat jalan, dan ketepatan itu seperti anak panah yang mengenai sasarannya.” (HR. Muslim)

____

Orang-orang sukses adalah mereka yang memiliki tujuan hidup lalu berusaha sungguh-sungguh untuk menggapainya. Dan coba anda perhatikan hadis ini, di dalam doa yang Nabi ajarkan kepada sahabat Ali itu menyebutkan dua hal yang amat penting, dua hal yang menjadi kunci seluruh kesuksesan dunia dan akhirat, yaitu Al-Hidayah dan As-Sadad.

Lantas apa itu Al-Hidayah dan apa itu As-Sadad?

Hidayah adalah petunjuk. Yaitu seorang yang mengetahui jalan untuk sampai kepada tujuan, itulah yang disebut hidayah.

Adapun sadad, ada dua makna yang diterangkan para ulama:

  1. Keistiqomahan (konsistensi) menempuh jalan hidayah yang dapat mengantarkan kepada tujuan.
  2. Ketepatan memilih jalan paling efektif efisien untuk sampai kepada tujuan.

Kedua makna sadad tersebut sebagaimana diterangkan oleh Imam An-Nawawi -rahimahullah- di dalam Syarah Shahih Muslim:

السداد هو الاستقامة، والقصد في الأمور

As-Sadad adalah, istiqomah dan ketepatan jalan.”

Meminta kepada Allah kedua hal ini amatlah penting. Karena seseorang bisa saja mengetahui jalan akan tetapi tidak ada ketepatan dalam mencapai tujuan. Seperti seseorang yang memiliki tujuan besar dalam hidupnya dan ia tahu cara mencapainya, tetapi tidak mencapai tujuannya karena kesibukan, lemahnya tekad, atau tidak mengatur prioritas dengan baik. Sehingga dalam menuju keberhasilan, yang diperlukan bukan hanya menetapkan tujuan dan mengetahui cara mencapainya, tetapi juga betul-betul bisa mencapainya. Jika digabungkan,  hidayah dan sadad adalah keterampilan yang baik berkenaan tujuan hidup, termasuk di dalamnya menetapkan tujuan, merumuskannya, mengukurnya, dan membuat rencana pelaksanaan terukur untuk mencapainya.

Sebagai contoh, jika anda ingin sukses menjadi ulama, maka pelajarilah cara menjadi ulama, saat anda telah menemukannya, anda telah mendapat hidayah. Lalu Anda laksanakan berbagai cara itu agar bisa menjadi ulama, anda konsisten menjalankannya, tidak menoleh kanan dan kiri, di samping itu anda menemukan jalan yang paling tepat bagi situasi dan kemampuan anda untuk mencapai tujuan itu, nah saat itulah adalah mendapatkan sadad. Oleh karenanya Nabi permisalkan sadad itu seperti anak panah yang melesat lurus tepat pada sasaran. Anak panah itu terus melaju lurus ke depan, tidak berbelok kanan dan kiri apalagi menyimpang jalan, dan ia tepat mengenai sasaran, itulah sadad.

Lalu, ada sebuah pelajaran tentang menghayati doa dan menghadirkannya dalam setiap langkah ikhtiar:

وَاذْكُرْ بالهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَالسَّدَادِ سَدَادَ السَّهْمِ

“Ingat-ingatlah petunjukmu itu seperti kamu mengingat jalan, dan ketepatan itu seperti anak panah yang mengenai sasarannya.”

Ibnul Malik Al-Hanafi -rahimahullah- menerangkan maknanya:

واذكر بالهدى؛ يعني: إذا سألت الهدى فأخطر بقلبك هدايتك للطريق، أي: طريق الدين، وسل الاستقامة فيه كما تتحرى ذلك في سلوك الطريق خوفاً من الضلال.

وبالسداد، أي: فأخطر بقلبك سؤال السداد في القول والفعل. وسداد السهم يعني كما أن السهم يقصد الهدف مستقيماً لا ينحرف يمينًا ولا يسارًا، فكذلك اسأل سدادًا لا يحيد بك عن الحق إلى الباطل البتة.

“Ingat-ingatlah petunjukitu” artinya: jika kamu meminta petunjuk, maka hadapkan hatimu pada petunjuk jalan, yaitu jalan agama, dan mintalah keteguhan di dalamnya sebagaimana kamu mencarinya dalam menempuh jalan, karena takut tersesat.

“Dan ingat-ingatlah as-sadad”, artinya: hadapkan hatimu pada permintaan ketepatan dalam ucapan dan tindakan. Dan ketepatan panah artinya sebagaimana panah mengarah pada target secara lurus tanpa menyimpang ke kanan atau kiri, begitu pula mintalah kesuksesan yang tidak menyimpangkanmu dari kebenaran ke kebatilan sama sekali.”

Pelajaran menarik selanjutnya dari hadis ini adalah, menghubungkan makna-makna agama yang bersifat abstrak – seperti hidayah dan lainnya – dengan hal-hal duniawi yang bersifat konkret, membuat lebih berkesan dalam jiwa, lebih kokoh terpatri, dan lebih mudah dipahami. Karena makna-makna tersebut didasarkan pada sesuatu yang terlihat dan dapat dirasakan.

Wallahulmuwaffiq.

Referensi:

Al-‘Ajin, Ali bin Ibrahum (2021), Al-Arba’un At-Tatwiriyyah; 40 Haditsan fi Tatwir Az-Dzat wa Asbab An-Najah. Naqatech.

Ibnu Malik Al-Hanafi, Muhammad bin ‘Izzuddin (w. 854). Syarah Mashobih As-Sunnah, Idaroh As-Tsaqofah Al-Islamiyyah 1433H/2012M)

Syarah Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi.


Ditulis oleh: Ahmad Anshori

Bro and sis, klik link lengkapnya yah di sini:
https://remajaislam.com/5038-carilah-jalan-terbaik-lalu-fokuslah-dan-bertahanlah.html

Ketika Hati Terlena

Gebyar kenikmatan dunia dengan segala keindahannya banyak membuat orang terlena. Bahkan, kenikmatan itu dipergunakan untuk bermaksiat dan berbuat dosa pada Allah Ta’ala. Harta yang berlimpah dimanfaatkan untuk bersenang-senang memenuhi hawa nafsu, wajah, dan tubuh yang memesona diumbar sedemikian rupa hingga membuat fitnah bagi lawan jenis. Jabatan dimanfaatkan untuk menambah pundi-pundi harta hingga gelar miliarder diraihnya. Kenapa mereka merasa nyaman dan tidak takut ancaman Ar-Rahman karena kemaksiatan dan durhaka pada-Nya.

Allah Ta’ala dengan rahmat-Nya memberi nikmat pada para hamba-Nya. Ini kasih sayang-Nya yang sering membuat orang-orang yang tidak takut siksa Allah tak menyadarinya hingga mereka terjerumus pada sikap sombong. Pernahkah mereka berpikir bila tiba-tiba Allah, Rabb Yang Maha Kuasa menimpakan siksa dan azab-Nya?

Dalam Musnad Ahmad, dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jika engkau melihat Allah melimpahkan sebagian dari dunia kepada seorang hamba karena dia melakukan kedurhakaan kepada-Nya menurut kehendak-Nya maka sesungguhnya ini merupakan istidraj.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat,

‘Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa  mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.’ (QS. Al-An’am : 44)” (Tafsir al-Qur`an al-‘Azhim, 3/316, Ibnu Katsir).

Orang yang beriman ketika diberi nikmat niscaya dia selalu bersyukur, baik dengan hatinya, lisannya memuji Allah Ta’ala dan berbagai kenikmatan itu dimanfaatkan di jalan yang diridhai Allah Ta’ala. Ini wujud kecintaan seseorang hamba kepada Rabbul ‘Izzati yang telah menganugerahi berbagai nikmat yang tak bisa dihitung karena sangat banyaknya. Sebagai orang mukmin, tentunya kita tak akan iri dengan berbagai kelebihan yang dilakukan orang-orang yang lalai dalam mengeksploitasi beragam nikmat di jalan yang menyimpang. Justru, kita merasa kasihan ketika mereka terus menerus tenggelam dalam kemaksiatan hingga ajal menjemput sebelum bertaubat. Kenapa Allah Ta’ala seolah membiarkan para pelaku dosa tanpa  laknat saat ini?

Ibnul Qayyim al-Jauziyah berkata, “Di sinilah banyak orang terkecoh dan tertipu dalam memandang dosa karena mereka tidak melihat pengaruh dosa itu secara langsung, tidak membawa akibat apapun yang menimpa dirinya, atau akibat itu datang. Setelah sekian lama dan dia lalai, para ulama saja banyak terkecoh tentang hal ini, apalagi orang-orang yang bodoh. Orang yang terkecoh tidak sadar bahwa dosa itu menyebar setelah dibiarkan beberapa saat, seperti racun yang menyebar, seperti infeksi yang terus membengkak jika dibiarkan.” (Al-Jawabu al-Kafi Liman Sa’ala ‘an Ad-Dawa’ asy-Syafi’, hlm : 52, Ibnul Qayyim al-Jauziyah).

Semoga Allah Ta’ala selalu memberi hidayah dan taufik-Nya kepada orang yang senantiasa dalam ketaatan dan berbaik sangka pada segala ketetapan-Nya. Bukankah Allah Ta’ala selalu memanjakan hamba-Nya, sudahkah kita memperbesar takwa kita kepada-Nya? Dengan kebeningan nurani, keaslian naluri tentunya kita semakin yakin bahwa Allah Ta’ala akan memberi peringatan dan balasan sesuai amal yang dilakukan, baik itu di dunia maupun di akhirat.

Marilah kita syukuri segala karunia-Nya lahir dan batin karena Allah lah pencipta sebab dan Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

***

Referensi

  1. Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad at-Tamimi yang disusun Abu Isa Abdullah bin Salam, LBI al-Sari, Yogyakarta, 1426 H.
  2. Inul lebih dari Segelas Arak, Kathur Suhardi, Darul Falah, 2003.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Sumber: https://muslimah.or.id/10413-ketika-hati-terlena.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Jangan Coba-Coba Mengetuk Hati Wanita Jika Tidak Serius Meng-halalkannya

Sebuah Syair yang bagus ini:

ﻟَﺎ ﺗَﻄْﺮُﻕْ ﺑَﺎﺏَ ﻗَﻠْﺐِ ﺍﻟْﺄُﻧْﺜَﻰ، ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﻟَﺎ ﺗَﺤْﻤِﻞُ ﻣَﻌَﻚَ ﺣَﻘَﺎﺋِﺐَ ﺍﻟِﺎﻫْﺘِﻤَﺎﻡِ

“Jangan berani-berani mengetuk pintu hati wanita. Jika engkau tidak membawa berkoper-koper perhatian.”

Karenanya laki-laki jangan TP-TP [maaf] tebar petaka.

Maksud kami di sini adalah memberi lampu hijau kepada seorang wanita. Menebar pesona kepada wanita baik terang-terangan atau cara pengecut lewat sms atau inbox facebook. Dalam sms atau status facebook menunjukkan bahwa ia seorang yang sangat alim. Sering membuat sms atau status yang menunjukkan bahwa ia alim.

Kemudian memberi harapan kepada wanita, baik secara terang-terangan dengan sering menancapkan pandangan kepada wanita tersebut di kampus misalnya. Atau sindir-sindiran di sms atau inbox facebook,

“Adik sudah menikah belum? Atau sudah ada calon?”

“Saya sedang merasa kesepian dik, sepertinya hampa hidup ini, kayaknya ada yang kurang”

Atau yang parah, mengirim puisi atau kata-kata romantis,

“Seandainya istri saya kelak semisal Adik, pastilah terisi kehampaan hidup dengan mata air kebahagiaan”

“Siapa yang tidak begetar hatinya, menerima sms dari ketikan tangan yang lemah-gemulai seperti adik”

Ketahuilah wahai laki-laki, wanita itu cepat GR “Gede Rasa”, merasa diperhatikan oleh orang lain. Apalagi yang memperhatikan lawan jenis. Wanita itu makhluk yang sangat manja dan sangat butuh perhatian tetapi jual mahal. Memalingkan mukanya tetapi hakikatnya sangat ingin menoleh. Mereka cepat GR karena memang hati mereka lemah, semisal kaca sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan wanita dengan kaca. Beliau bersabda,

رْفَقْ بِالْقَوارِيْرِ

“Lembutlah kepada kaca-kaca (maksudnya para wanita)”[HR Al-Bukhari no 5856, Muslim no 2323, An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubro no 10326 dan ini adalah lafal An-Nasa’i]

Jika anda sekedar memberi lampu hijau, tetapi tidak di-follow up, karena memang niat anda tidak ingin menikah. Maka hati wanita itu akan pecah berkeping-keping seperti kaca. Sebelumnya anda adalah idolanya, maka sekarang anda adalah orang yang paling dibenci dimuka bumi. Ia akan memberitahu wanita-wanita yang lain supaya hati-hati terhadap anda. Atau dengan kata lain anda di-blacklist dalam kamus mereka.

Demikian semoga bermanfaat.


@Markaz YPIA, Yogyakarta tercinta

Penyusun:  dr. Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/jangan-coba-coba-mengetuk-hati-wanita-jika-tidak-serius-meng-halalkannya.html

Ini Yang Dilakukan Ketika Mimpi Buruk

Mimpi buruk bisa terjadi pada siapa saja. Baca doa mimpi buruk ini saat anda mengalaminya. Barakallahu fiikum.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Soal:

Saya bermimpi dengan mimpi yang menakutkan dan sangat mengganggu, serta terjadi berulang-ulang. Isinya yaitu seolah-olah di mulut saya ada semacam adonan yang membuat saya tidak bisa bernapas dan tidak bisa bicara. Setiap kali saya melepaskannya dengan tangan, selalu muncul lagi yang baru. Demikian seterusnya hingga saya terbangun dari tidur. Saya takut sekali dengan mimpi ini. Dalam kehidupan saya mimpi ini selalu terpikir di benak saya, dan saya tidak tahu apa penyebabnya. Dan perlu diketahui bahwa saya senantiasa shalat, puasa, dan saya sudah berhaji.

Saya juga senantiasa ber-istighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Namun mimpi ini terus datang dalam dua bulan terkadang empat sampai lima kali terjadi. Saya memohon kepada Allah agar Allah memberikan Anda petunjuk untuk menjelaskan kepada saya tafsir dari mimpi yang buruk ini. Semoga Allah memberikan Anda taufik untuk kebaikan di dunia dan di akhirat, dan Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.

Jawab:

Ini adalah mimpi dari setan. Dan disyariatkan bagi setiap muslim dan muslimah jika ia bermimpi dengan mimpi yang tidak ia sukai hendaknya ia (setelah terbangun) meniup ke sebelah kirinya tiga kali dan membaca ta’awwudz sebanyak tiga kali. Kemudian setelah itu hendaknya ia membalik tubuhnya ke sisi yang lain, dengan demikian tidak ada lagi yang membahayakan dan mengganggunya.

Berdasarkan hadits yang shahih dari rasulullah shallallahu’alaihi Wasallam:

الرؤيا الصالحة من الله، والحلم من الشيطان، فإذا رأى أحدكم ما يكره فلينفث عن يساره ثلاثا، وليتعوذ بالله من الشيطان ومن شر ما رأى ثلاثاً، ثم ينقلب على جنبه الآخر، فإنها لا تضره ولا يخبر بها أحداً

Mimpi yang baik itu dari Allah. Sedangkan mimpi yang buruk itu dari setan. Jika salah seorang dari kalian bermimpi yang tidak ia sukai, maka hendaknya ia meniup ke sebelah kirinya tiga kali dan membaca ta’awwudz sebanyak tiga kali. Kemudian setelah itu hendaknya ia membalik tubuhnya ke sisi yang lain, dengan demikian tidak ada lagi yang membahayakan dan jangan ceritakan kepada seorang pun mimpi tersebut” (HR. Bukhari no. 6995, Muslim no. 2261).

Dalam hadits yang shahih ini terdapat penenang bagi seorang mukmin ketika ia bermimpi yang tidak ia sukai. Demikian juga bagi mukminah. Dan walhamdulillah, ini adalah solusi yang luar biasa dan mudah dilakukan. Maka hendaknya saudaraku Anda mengamalkan amalan ini. Serta buatlah hati Anda tenang dan santai dengan adanya solusi nabawi yang agung ini. Semoga Allah memberi taufik.

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/fatawa/3435

***

Penerjemah: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/34050-ini-yang-dilakukan-ketika-mimpi-buruk.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Apakah Ada Makhluk Luar Angkasa, Alien & UFO?

Dengan pengetahuan dan iptek di zaman ini, ada kemungkinan untuk mengetahui keadaan luar angkasa, meneropong gugusan bintang dan planet yang jauh. Hal ini memmunculkan sebuah pemikiran  dan analisis:

“Bisa jadi ada makhluk di luar angkasa sana”

Apakah ada? Jawabannya: Bisa jadi ada mahkluk di luar angkasa, dalam nash dijelaskan bahwa para Jin dan malaikat berada di luar angkasa (langit) bahkan malaikat berada di beberapa lapisan langit. Dermikian juga beberapa tafsir ulama menjelaskan bahwa ada hewan yang hidup di luar angkasa. Hewan di luar angkasa ini bisa jadi bentuknya bermacam-macam dan tidak kita ketahui jumlahnya.

Apakah ada alien dan kendaraannya UFO di luar angkasa sana?

Jawabannya: kita tidak bisa memastikan, karena nash hanya menyebut tiga makhluk yaitu malaikat, jin dan manusia. Adapun kita memastikan ada makhluk yang memiliki akal dan berpikir seperti atau mirip dengan manusia, jin, dan malaikat, maka hal ini perlu dalil. Sikap kita adalah percaya bahwa dilangit juga ada makhluk, akan tetapi kita tidak bisa memastikan bagaimana bentuknya, kehidupannya serta jumlahnya.

Yang lebih penting adalah kita tidak perlu terlalu disibukkan dengan mencari hakikat makhluk di luar angkasa selama belum ada bukti ilmiah. Kita tidak  terlalu percaya, apalagi hanya berdasarkan sumber-sumber yang tidak jelas. Tugas kita adalah beribadah di muka bumi dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Berikut beberapa penjelasan dan dalilnya:

Di langit ada makhluk yang disebut dengan lafadz “dabbah” sebagaiman ayat berikut:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِن دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاء قَدِير

Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya. [Asy-Syuura 42 : 29]


“Dabbah” di sini adalah makhluk yang berbeda dengan malaikat yang juga menghuni langit, karena pada ayat lain Allah menyebutkan lafadz malaikat dan “dabbah” secara bersamaan. Allah berfirman,

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

“Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.” [An-Nahl: 49]

Para ulama agak sedikit berbeda-beda pendapat tentang tafsir “dabbah”. Ibnu Katsir memasukkan hewan di luar angkasa termasuk dalam “dabbah” ini. Ibnu Katsir berkata,
( من دابة ) وهذا يشمل الملائكة والجن والإنس وسائر الحيوانات ، على اختلاف أشكالهم وألوانهم ولغاتهم ، وطباعهم وأجناسهم ، وأنواعهم ، وقد فرقهم في أرجاء أقطار الأرض والسموات

“Makna ‘dabbah” itu mencakup malaikat, jin, manusia dan semua hewan yang berbeda-beda bentuk, warna, bahasa, tabiat dan jenis serta macamnya. Mereka terpencar pada seluruh penjuru bumi dan langit.” [Tafsir Ibnu Katsir]

Syaikh Abdurrahman as-Sa’diy juga menjelaskan “dabbah” itu artinya hewan, beliau berkata:

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ ْ} من الحيوانات الناطقة والصامتة،

“Hanya kepada Allah bersujud yang ada di langit dan bumi yaitu dabbah, berupa hewan yang berbicara dan hewan yang tidak berbicara.” [Tafsir as-Sa’diy]

Sedangkan syaikh bin Baz menyatakan bahwa maksud “dabbah” adalah malaikat, jin dan manusia. Beliau berkata,

في السموات والأرض مِنْ دَابَّةٍ وهذا يشمل الملائكة والإنس والجن.

“Ini mencakup malaikat, manusia, jin yang ada di langit dan bumi, semuanya disebut dabbah.” [https://binbaz.org.sa/audios/725]

Poin terpenting adalah kita tidak bisa memastikan apakah makhluk tersebut yang ada di langit, tidak bisa kita katakan itu adalah alien dn sebagainya sampai ada dalil atau bukti yang benar-benar ilmiah (bukan seperti cerita konspirasi film dan sebagainya).

Syaikh Abdullah Al-Faqih menjelaskan,

فنؤمن بذلك كلّه ولكن لا نعلم بتفاصيل هذه المخلوقات ولا عددها  ولا نعلم كيفية المخلوقات العلوية  . ويمكن أن يكون في السماء دواب الله أعلم بكيفيتها وعددها ، يتكفلّ الله برزقها ، كما في الأرض دواب لا يعلم عددها إلا الله تكفّل تعالى برزقها وهو على كلّ شيء قدير

“Kita berimana dengan makhluk-makhluk yang ada di langit akan tetapi kita tidak ketahui secara rinci berapa jumlahnya dan bagaimana mereka hidup. Bisa jadi di langit ada “dabbah” (makhluk) yang hanya Allah tahu bentuk dan jumlahnya. Allah yang memberi rezeki kepada mereka, sebagaimana kita di makhluk bumi yang kita tidak tahu persisi jumlahnya dan Allah yang memberikan rezeki.” [Fatawa Syabakah Islamiyyah no. 71621]

Catatan:

Hendaknya kita kaum muslimin benar-benar ilmiah dalam mengambil informasi, misalnya saja tentang alien, cukup banyak bantahan tentang keberadaan alien dan gambar-gambarnya bahwa ternyata itu hanya boneka ataupun permainan editan gambar saja.

Contoh berita bisa dilihat di sini: https://www.liputan6.com/global/read/2123867/10-kebohongan-besar-yang-menggegerkan-dunia

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, pulau seribu masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/apakah-ada-makhluk-luar-angkasa-alien-ufo.html

Bahaya Orang yang Enggan Melunasi Hutangnya

“Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul (khianat), dan [3] hutang, maka dia akan masuk surga”. (HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Alhamdulillahi robbil ‘alamin. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Risalah kali ini adalah lanjutan dari risalah sebelumnya. Pada risalah sebelumnya, kami telah menjelaskan mengenai keutamaan orang yang memberi pinjaman, keutamaan memberi tenggang waktu pelunasan dan keutamaan orang yang membebaskan sebagian atau keseluruhan hutangnya. Pada risalah kali ini agar terjadi keseimbangan pembahasan, kami akan menjelaskan beberapa hal mengenai bahaya orang yang enggan melunasi hutangnya. Semoga bermanfaat.

Keutamaan Orang yang Terbebas dari Hutang

Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ

Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul (khianat), dan [3] hutang, maka dia akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Ibnu Majah membawakan hadits ini pada Bab “Peringatan keras mengenai hutang.

Mati Dalam Keadaan Masih Membawa Hutang, Kebaikannya Sebagai Ganti

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Ibnu Majah juga membawakan hadits ini pada Bab “Peringatan keras mengenai hutang.

Itulah keadaan orang yang mati dalam keadaan masih membawa hutang dan belum juga dilunasi, maka untuk membayarnya akan diambil dari pahala kebaikannya. Itulah yang terjadi ketika hari kiamat karena di sana tidak ada lagi dinar dan dirham untuk melunasi hutang tersebut.

Urusan Orang yang Berhutang Masih Menggantung

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)

Al ‘Iroqiy mengatakan, “Urusannya masih menggantung, tidak ada hukuman baginya yaitu tidak bisa ditentukan apakah dia selamat ataukah binasa, sampai dilihat bahwa hutangnya tersebut lunas atau tidak.” (Tuhfatul Ahwadzi, 3/142)

Orang yang Berniat Tidak Mau Melunasi Hutang Akan Dihukumi Sebagai Pencuri

Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا

Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)

Al Munawi mengatakan, “Orang seperti ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri dan akan diberi balasan sebagaimana mereka.” (Faidul Qodir, 3/181)

Ibnu Majah membawakan hadits di atas pada Bab “Barangsiapa berhutang dan berniat tidak ingin melunasinya.”

Ibnu Majah juga membawakan riwayat lainnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

Barangsiapa yang mengambil harta manusia, dengan niat ingin menghancurkannya, maka Allah juga akan menghancurkan dirinya.” (HR. Bukhari no. 18 dan Ibnu Majah no. 2411). Di antara maksud hadits ini adalah barangsiapa yang mengambil harta manusia melalui jalan hutang, lalu dia berniat tidak ingin mengembalikan hutang tersebut, maka Allah pun akan menghancurkannya. Ya Allah, lindungilah kami dari banyak berhutang dan enggan untuk melunasinya.

Masih Ada Hutang, Enggan Disholati

Dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

Kami duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?”. Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyolati jenazah tersebut.

Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah shalatkanlah dia!” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Iya.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Ada, sebanyak 3 dinar.” Lalu beliau mensholati jenazah tersebut.

Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata, “Shalatkanlah dia!” Beliau bertanya, “Apakah dia meningalkan sesuatu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka menjawab, “Ada tiga dinar.” Beliau berkata, “Shalatkanlah sahabat kalian ini.” Lantas Abu Qotadah berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung hutangnya.” Kemudian beliau pun menyolatinya.” (HR. Bukhari no. 2289)

Dosa Hutang Tidak Akan Terampuni Walaupun Mati Syahid

Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886)

Oleh karena itu, seseorang hendaknya berpikir: “Mampukah saya melunasi hutang tersebut dan mendesakkah saya berhutang?” Karena ingatlah hutang pada manusia tidak bisa dilunasi hanya dengan istighfar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Sering Berlindung dari Berhutang Ketika Shalat

Bukhari membawakan dalam  kitab shohihnya pada Bab “Siapa yang berlindung dari hutang”. Lalu beliau rahimahullah membawakan hadits dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ » . فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ » .

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di akhir shalat (sebelum salam): ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).”

Lalu ada yang berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan adalah dalam masalah hutang?” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika orang yang berhutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (HR. Bukhari no. 2397)

Al Muhallab mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya memotong segala perantara yang menuju pada kemungkaran. Yang menunjukkan hal ini adalah do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berlindung dari hutang dan hutang sendiri dapat mengantarkan pada dusta.” (Syarh Ibnu Baththol, 12/37)

Adapun hutang yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung darinya adalah tiga bentuk hutang:

[1] Hutang yang dibelanjakan untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah dan dia tidak memiliki jalan keluar untuk melunasi hutang tersebut.

[2] Berhutang bukan pada hal yang terlarang, namun dia tidak memiliki cara untuk melunasinya. Orang seperti ini sama saja menghancurkan harta saudaranya.

[3] Berhutang namun dia berniat tidak akan melunasinya. Orang seperti ini berarti telah bermaksiat kepada Rabbnya.

Orang-orang semacam inilah yang apabila berhutang lalu berjanji ingin melunasinya, namun dia mengingkari janji tersebut. Dan orang-orang semacam inilah yang ketika berkata akan berdusta. (Syarh Ibnu Baththol, 12/38)

Itulah sikap jelek orang yang berhutang sering berbohong dan berdusta. Semoga kita dijauhkan dari sikap jelek ini.

Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berlindung dari hutang ketika shalat?

Ibnul Qoyyim dalam Al Fawa’id (hal. 57, Darul Aqidah) mengatakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak hutang karena banyak dosa akan mendatangkan kerugian di akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia.”

Inilah do’a yang seharusnya kita amalkan agar terlindung dari hutang: ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).

Berbahagialah Orang yang Berniat Melunasi Hutangnya

Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam Bab “Siapa saja yang memiliki hutang dan dia berniat melunasinya.” Lalu beliau membawakan hadits dari Ummul Mukminin Maimunah.

كَانَتْ تَدَّانُ دَيْنًا فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَهْلِهَا لاَ تَفْعَلِى وَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا قَالَتْ بَلَى إِنِّى سَمِعْتُ نَبِيِّى وَخَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا ».

Dulu Maimunah ingin berhutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim memiliki hutang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi hutang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi hutang tersebut di dunia”. (HR. Ibnu Majah no. 2399. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih kecuali kalimat fid dunya –di dunia-)

Dari hadits ini ada pelajaran yang sangat berharga yaitu boleh saja kita berhutang, namun harus berniat untuk mengembalikannya. Perhatikanlah perkataan Maimunah di atas.

Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ

Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar hutang. Ketika dia mampu, dia langsung melunasinya atau melunasi sebagiannya jika dia tidak mampu melunasi seluruhnya. Sikap seperti inilah yang akan menimbulkan hubungan baik antara orang yang berhutang dan yang memberi hutangan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

Sesungguhnya yang paling BAIK di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” (HR. Bukhari no. 2393)

Ya Allah, lindungilah kami dari berbuat dosa dan beratnya hutang, mudahkanlah kami untuk melunasinya.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***

Yogyakarta, 6 Shofar 1430 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/187-bahaya-orang-yang-enggan-melunasi-hutangnya.html

Hikmah Perbedaan Karakter Laki-laki & Perempuan

Sebagai laki-laki, para suami harus memahami bahwa perempuan itu perasaannya mendominasi. Terkadang memang ada suatu hal yang tidak bisa kita pahami itu karena mereka mengedepankan perasaannya. Namun para suami harus memaklumi bahwa itulah karakter dasar mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ, لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ, فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ, وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.” (HR. Muslim)

Jika melihat penjelasan ulama, makna bengkok dalam hadits tersebut adalah:

  1. Makna hakiki, yaitu benar tercipta dari tulang rusuk yang bengkok,
  2. Makna yang menggambarkan sifat wanita, yaitu “kebengkokan” yang perlu diluruskan oleh suami mereka dan wali laki-laki mereka untuk dijaga, karena memang wanita terkadang lebih mengutamakan perasaan daripada akal mereka.

Laki-laki Mengutamakan Logika

Adapun sosok laki-laki identik dengan sifat dasar mereka sebagimana yang diungkapkan oleh para psikolog dan ahli sifat manusia, yaitu mengutamakan logika. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya memang diciptakan agar kelak bisa menjadi pemimpin. Minimal menjadi pemimpin dalam rumah tangganya. Allah Ta’ala berfirman:

,الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka.” (QS. An Nisa’: 34)

Allah sudah membagi bahwa laki-laki lebih dominan logika, ini bertujuan agar para laki-laki siap menghadapi kerasnya dunia luar untuk berputar otak dalam memimpin, bekerja dan mencari nafkah.

Perempuan Mengutamakan Perasaan

Sedangkan perempuan memang Allah ciptakan lebih dominan perasaannya. Perasaan tersebut Allah ciptakan dominan agar kuat menahan ketika mengandung dan melahirkan, dan serta merawat anak-anak. Kadang-kadang akalnya tertutup memang, tapi dominasi perasaan ini agar mereka mendapatkan kekuatan dengan izin Allah untuk merawat anak-anak kita.

Itulah hikmah mengapa laki-laki lebih dominan logika dan akalnya sedangkan perempuan lebih dominan perasaannya.

Demikian semoga bermanfaat.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK. (Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/hikmah-perbedaan-karakter-laki-laki-perempuan.html