Diantara Sebab Seseorang Suka Berburuk Sangka

Ibnu Hajar Al Haitami rohimahullah berkata,

وكل من رأيته سيء الظن بالناس، طالبًا لإظهار معايبهم؛
‏ فاعلم أن ذلك لخبث باطنه وسوء طويته.

“Semua orang yang kamu lihat suka berburuk sangka kepada manusia dan ingin menampakkan aib mereka adalah karena busuknya batin dan hatinya.”

(Az Zawaajir 1/143)

Orang yang hatinya bening..
Akan bening pula hatinya kepada manusia..
Dan manusiapun selamat dari lisannya..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/71549

Memuji Diri: Antara Maslahat dan Ujub

Memuji diri tidak selalu tercela; pada kondisi tertentu, hal itu diperlukan agar amanah diberikan kepada orang yang tepat dan manfaat dapat tersebar. Namun, lisan yang menyebut kelebihan diri mudah tergelincir menjadi ujub, riya, dan rasa paling hebat. Lalu, kapan memuji diri termasuk maslahat, dan kapan berubah menjadi penyakit hati?
Semua Kemampuan adalah Karunia Allah

Allah Ta‘ala berfirman,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Nikmat apa pun yang ada pada kalian, maka datangnya dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)

Ilmu, kemampuan berbicara, kesehatan, pengalaman memimpin, kecakapan mengelola harta, dan kesempatan berbuat baik bukanlah milik yang berdiri sendiri. Semuanya adalah karunia Allah. Karena itu, ketika seseorang sukses, ia tidak boleh berkata dalam hatinya, “Ini murni karena kepintaranku.” Ia semestinya mengakui, “Ini adalah taufik dan karunia Allah kepadaku.”

Qarun justru binasa karena menisbatkan hartanya kepada dirinya sendiri. Ia berkata,

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي

“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)

Ia tidak menolak bahwa Allah ada, tetapi ia lupa bahwa kemampuan memperoleh dan mengelola harta pun berasal dari Allah. Inilah pangkal penyakit ujub: melihat nikmat, tetapi lupa kepada Pemberi nikmat.

Pelajaran dari Perang Hunain: Sebab Tidak Menjamin Hasil

Allah Ta‘ala berfirman,

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

“Sungguh, Allah telah menolong kalian di banyak tempat, dan pada Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak itu membuat kalian kagum, ternyata jumlah itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun. Bumi yang luas itu terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian berpaling ke belakang.” (QS. At-Taubah: 25)

Jumlah pasukan adalah sebab kemenangan. Namun, sebab tidak akan memberi hasil kecuali dengan izin Allah. Pelajaran Hunain ialah jangan tertipu oleh kekuatan, jumlah pengikut, modal, jabatan, strategi, atau pengalaman diri. Rumaysho.com menekankan bahwa jumlah yang banyak tidak bermanfaat jika hati tidak bergantung kepada Allah.

Bukan berarti seorang muslim meninggalkan perencanaan dan usaha. Justru ia harus mengambil sebab yang benar, lalu bertawakal. Tawakal bukan meninggalkan usaha, melainkan menyandarkan hati kepada Allah sambil menjalankan ikhtiar yang dihalalkan.

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Boleh Menjelaskan Kemampuan Diri untuk Maslahat

Allah Ta‘ala mengisahkan Nabi Yusuf ‘alaihis-salām yang berkata kepada raja Mesir,

اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

“Jadikanlah aku penjaga perbendaharaan negeri ini. Sesungguhnya aku adalah seorang penjaga yang amanah lagi berilmu.” (QS. Yusuf: 55)

Nabi Yusuf ‘alaihis-salām menyebut dua kualitas yang memang dibutuhkan dalam amanah itu: ḥafīẓ, mampu menjaga dan amanah; serta ‘alīm, memiliki ilmu dan kecakapan mengatur. Ini bukan pujian diri untuk meninggikan kedudukan, tetapi keterangan yang diperlukan agar maslahat rakyat di masa paceklik dapat terwujud.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,

وَلَيْسَ ذَلِكَ حِرْصًا مِنْ يُوسُفَ عَلَى الْوِلَايَةِ، وَإِنَّمَا هُوَ رَغْبَةٌ مِنْهُ فِي النَّفْعِ الْعَامِّ، وَقَدْ عَرَفَ مِنْ نَفْسِهِ مِنَ الْكَفَاءَةِ وَالْأَمَانَةِ وَالْحِفْظِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَعْرِفُونَهُ.

“Hal itu bukan karena Yusuf berambisi terhadap jabatan, melainkan karena keinginannya untuk mewujudkan kemaslahatan umum. Ia mengetahui pada dirinya ada kecakapan, amanah, dan kemampuan menjaga yang belum mereka ketahui.” (Tafsir As-Sa‘di, QS. Yusuf: 55)

Karena itu, seseorang boleh menyampaikan kompetensinya saat melamar pekerjaan, menerima amanah kepengurusan, menawarkan jasa profesional, mengenalkan kapasitas sebagai pengajar, atau menjelaskan pengalaman dalam suatu bidang. Syaratnya, ada kebutuhan yang benar dan tujuan yang baik.

Larangan Memuji Diri dan Menganggap Diri Suci

Di sisi lain, Allah Ta‘ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

أَيْ: لَا تَمْدَحُوهَا، وَلَا تُثْنُوا عَلَيْهَا، وَلَا تَمُنُّوا بِأَعْمَالِكُمْ.

“Maksudnya, janganlah kalian memuji diri, menyanjung diri, dan merasa berjasa dengan amal-amal kalian.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Najm: 32)

Seorang hamba tidak pantas memastikan dirinya suci, paling ikhlas, paling alim, atau paling layak di sisi Allah. Sebab, manusia hanya melihat lahiriah dirinya, sedangkan Allah mengetahui isi hati, kekurangan, dan akhir kehidupan seseorang.

Penjelasan Ibnul Qayyim tentang Memuji Diri

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang boleh memberitakan ilmu atau kebaikan yang ada pada dirinya apabila tujuannya agar orang lain dapat mengambil manfaat. Beliau berkata,

فَمَنْ أَخْبَرَ عَنْ نَفْسِهِ بِمِثْلِ ذَلِكَ لِيُكْثِرَ بِهِ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنَ الْخَيْرِ فَهُوَ مَحْمُودٌ، وَهَذَا غَيْرُ مَنْ أَخْبَرَ بِذَلِكَ لِيَتَكَثَّرَ بِهِ عِنْدَ النَّاسِ وَيَتَعَظَّمَ.

“Siapa yang memberitakan tentang dirinya seperti itu agar semakin banyak kebaikan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka ia terpuji. Ini berbeda dengan orang yang memberitakannya untuk membesarkan diri di hadapan manusia dan mencari keagungan.” (Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah, 1:265; teks kitab)

Beliau lalu menyebutkan beberapa keadaan ketika seseorang boleh menjelaskan kelebihan atau keadaan dirinya: untuk membela diri dari kezaliman dan tuduhan, menuntut hak yang memerlukan pengenalan diri, menjaga diri dari orang yang hendak memanfaatkannya, atau ketika melamar kepada pihak yang belum mengenal dirinya.

Akan tetapi, Ibnul Qayyim tetap memberikan adab yang lebih baik:

وَالْأَحْسَنُ فِي هَذَا أَنْ يُوَكِّلَ مَنْ يُعَرِّفُ بِهِ وَبِحَالِهِ؛ فَإِنَّ لِسَانَ ثَنَاءِ الْمَرْءِ عَلَى نَفْسِهِ قَصِيرٌ، وَهُوَ فِي الْغَالِبِ مَذْمُومٌ؛ لِمَا يَقْتَرِنُ بِهِ مِنَ الْفَخْرِ وَالتَّعَاظُمِ.

“Yang lebih baik dalam hal ini ialah ia menyerahkan kepada orang lain untuk memperkenalkan dirinya dan keadaannya. Sebab, pujian seseorang atas dirinya sendiri biasanya tidak banyak nilainya dan sering tercela karena mudah disertai kebanggaan serta membesarkan diri.”

Pembeda Utamanya: Niat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.”(HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907)

Keterangan tentang kemampuan diri dapat berubah menjadi amal baik atau dosa hati, bergantung pada niatnya.

  • Jika disampaikan agar amanah jatuh kepada orang yang tepat, ilmu tersebar, hak tersampaikan, atau orang lain memperoleh manfaat, hal itu terpuji.
  • Jika disampaikan untuk mencari sanjungan, menutup kekurangan, merendahkan orang lain, mengumpulkan pengikut, atau menegakkan gengsi, hal itu tercela.
  • Jika setelah menyampaikan kemampuan ia merasa pasti sukses karena dirinya sendiri, maka ia telah memasuki pintu ujub dan lemahnya tawakal.

Ukurannya Ada pada Niat dan Sandaran Hati

KeadaanTandaSikap yang benar
Memperkenalkan kemampuan untuk maslahatAda kebutuhan nyata; manfaatnya kembali kepada agama atau manusiaBoleh, bahkan terkadang diperlukan
Memuji diri demi pujian dan gengsiSenang dianggap paling hebat; meremehkan orang lainTercela dan dekat dengan ujub
Mengakui kemampuan sambil bersandar kepada AllahBerikhtiar, rendah hati, meminta pertolongan AllahSikap mukmin
Mengandalkan kemampuan sendiriMerasa hasil pasti tercapai karena dirinyaBerbahaya bagi iman dan sebab kegagalan

Kenali Kemampuan, tetapi Jangan Bersandar kepada Diri

Seorang muslim perlu mengenal potensi dirinya. Ia harus mengetahui bidang yang ia kuasai, kekuatan yang Allah berikan, dan amanah yang dapat ia emban. Namun, ia tidak boleh menjadikan dirinya sebagai sandaran.

Kalimat yang lebih selamat bukan, “Saya pasti berhasil,” melainkan, “Insya Allah, saya memiliki pengalaman dan akan berusaha maksimal; semoga Allah memberi taufik.” Kalimat seperti ini bukan tanda rendah diri yang salah, tetapi bukti bahwa seseorang tahu kemampuan dirinya sekaligus mengenal kelemahan dirinya di hadapan Allah.

Sebelum berbicara tentang diri, ajukan empat pertanyaan berikut:

  1. Apakah penjelasan ini benar-benar diperlukan?
  2. Apakah tujuannya untuk maslahat atau untuk mencari pujian?
  3. Apakah saya telah mengakui bahwa kemampuan ini adalah karunia Allah?
  4. Jika ada orang lain yang lebih layak, apakah saya siap mendukungnya?

Semoga Allah beri taufik dan hidayah.

رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Rabbanā ‘alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal-maṣīr.

“Wahai Rabb kami, hanya kepada-Mu kami bertawakal, hanya kepada-Mu kami bertobat, dan hanya kepada-Mu kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

—

@ Khadijah Community Jogja, 7 September 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://rumaysho.com/42773-memuji-diri-antara-maslahat-dan-ujub.html

KOTA MADINAH AKAN MENGELUARKAN ORANG MUNAFIK DARINYA


٢۱٧ –  إِنَّمَا الْمَدِيْنَةُ كَالْكِيْرِ تُنْفِي خَبَثَهَا وَيَنْصَحُُ طَيِّبَهَا

          “Sesungguhnya Madinah ibarat pandai besi. Ia akan membersihkan semua kotoran yang ada dan akan memurnikan kebaikan-kebaikannya.”

Hadits ini ditakhrij oleh Imam Bukhari (4/77. 13/174. 258), Imam Muslim (9/155). Imam Malik (3/84). Imam Nasa’i (2/184). Imam Tirmidzi (4/373). Ath-Thayaiisi di dalam kitab Musnad-nya. (2/204) dan Imam Ah­mad (3/292. 306. 307, 365. 385. 392. dan 393). dari Jabir bin Abdillah t (yang menceritakan):

“Ada seorang A’rabi berbai”at kepada Rasul r. Kemudian ia terserang demam ketika berada di Madinah. Rasul pun mendatanginya. Lalu si A’rabi itu berkata: “Wahai Rasulullah, batalkanlah bai’atku.” Namun beliau Rasul tidak memperkenankannya. Ia pun datang lagi kepada beliau, dan meminta beliau melepaskan bai’atnya, Beliau tetap menolak, dan pada permohonan yang ketiga, beliau bersabda di saat orang itu keluar: (Kemudian ia menyebutkan sabda Nabi r di atas selengkapnya).

Imam Tirmidzi menilai: “Hadits ini hasan.”

Hadits ini memiliki syahid yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit t. Zaid berkomentar tentang ayat: Maka mengapa kamu terpecah menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik (An-Nisa’: 88).

“Suatu ketika para sahabat pulang dari perang Uhud. Mereka terpecah menjadi dua golongan. Golongan pertama menyeru: “Perangi mereka. Golongan lainnya: “Jangan”. Kemudian turunlah ayat di atas. Lalu Nabi r bersabda:

٢۱٨ – إِنَّهَا طّيِّبَةٌ وَإِنَّهَا تُنْفِي الْخَبَثَ كَمَا تُنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ   

“Kota itu bagus, ia akan menghilangkan semua kotoran yang ada, seperti api menghilangkan karat besi.”

Hadits ini ditakhrij oleh Imam Bukhari {4/77-78. 8/206), Imam Muslim (9/155-156), Imam Tirmidzi (4/89-90) dan Imam Ahmad (6/184, 187, 188) melalui Abdullah bin Yazid A!-Khatami dari Zaid bin Tsabit t At-Tirmidzi berkomentar: “Hadits ini hasan shahih.”

Para ulama mengartikan: Kata khabatsul hadid berarti kotoran yang biasa dihilangkan dengan api (dipanaskan dengan suhu tertentu). Sementara itu Al-Qadhi menambahkan: “Hal ini jelasnya terjadi pada masa Rasul r. dimana orang-orang yang tahan mengikuti hijrah bersama beliau hanyalah orang-orang yang teguh hati. Sedangkan orang-orang munafik atau mereka yang lemah iman, tidak akan tahan mengikuti beliau. Sebab Madinah kondisi alamnya lebih gersang di banding Makkah. Apalagi bagi mereka yang tidak memperhatikan soal pahala. Seperti tatkala seorang Arabi yang terserang demam itu, ia segera meminta kepada Nabi r agar membatalkan baiatnya. Inilah pendapat Al-Qadhi. Pendapat yang dikiranya lebih tepat namun justru sebaliknya. Sebab ada yaitu hadits Iain yang lebih kuat dari Abu Hurairah t sebagaimana disebutkan. yaitu: “Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga Madinah telah membersihkan orang-orang buruk.” Ini jelasnya terjadi pada masa Dajjal. seperti yang disebutkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya. Tatkaia Dajjal keluar. Madinah bergonncang sebanyak tiga kali goncangan, dimana orang-orang kafir maupun munafik akan dikeluarkan dari kota tersebut. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Anas dan ditakhrij pula oleh Imam Bukhari (4/76). Hadits ini mengisyaratkan bahwa terjadinya peristiwa itu adalah pada masa keluarnya Da­jjal. Sedang kemungkinan lainnya adalah bahwa hal itu beberapakali terjadi pada kurun yang berbeda-beda. Demikianlah penjelasan syarah Muslim karya An-Nawawi (9/154).

Saya berpendapat: Yang lebih tepat lagi adalah. bahwa peristiwa itu hanya terjadi pada saat Rasulullah masih hidup. Mengingat hadits Arabi di atas. atau terjadi pada saat lainnya dengan tidak berlangsung terus menerus. Hal ini seperti dijelaskan dalam firman Allah I:

وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ

“Dan di antara penduduk Madinah. mereka keterlaluan dalam kemunafikan.” (At-Taubat: 101).

Orang munafik jelas orang yang kotor, seperti yang dikatakan oleh Al-Hafizh. Menurutnya inilah yang dimaksudkan dengan hadits Zaid bin Tsabit di atas. Dengan demikian. kata tanfi pada hadits di atas bukan berarti terus berlangsung. akan tetapi berarti tikrar (terjadi beberapa kali). Peristiwa itu memang pernah terjadi pada masa Rasul r. Namun pada masa keluarnya Dajjal juga kembali terjadi (Insya Allah), seperti yang diisyaratkan oleh hadits Anas di atas. Pendapat inilah yang tampaknya lebih disukai oleh AI-Hafizh di dalam.Al-Fath (6/76). Karena itu, pada bagian akhir komentarnya, ia mengatakan: “Adapun di antara kedua masa tersebut, tidak terjadi hal yang seperti itu.”

Terakhir itulah pendapat yang dekat. bahkan yang paling benar. Kenyataan yang ada sekarang. juga mendukungnya.

sumber: https://alquran-sunnah.com/kitab/Shahihah/KOTA%20MADINAH%20AKAN%20MENGELUARKAN.htm

Jangan Tertipu Oleh Pujian Manusia

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

«واعلم أنَّ الناسَ إذا أُعجِبوا بك، فإنَّما أُعجِبوا بجميلِ سترِ اللهِ عليك.»

“Ketahuilah, ketika manusia mengagumimu, sesungguhnya mereka hanya mengagumi indahnya Allah menutupi aib-aibmu..”

(Madaarijus Saalikiin 2/293)

Jangan tertipu oleh pujian manusia.
Mereka hanya melihat apa yang Allah tampakkan, bukan seluruh kekurangan yang Allah sembunyikan.

Jika hari ini mereka memandangmu baik, itu semata karena indahnya Allah menutupi aibmu.

Maka, setiap pujian semestinya melahirkan syukur dan tawadhu‘, bukan ujub.

====
DO’A KETIKA DIPUJI ORANG LAIN

– ALLAAHUMMA LAA TU-AAKHIDZ-NII BIMAA YAQUULUUN
– WAGH-FIR-LII MAA LAA YA’LAMUUN
– WAJ ‘AL-NII KHOYRON MIMMAA YAZHUN-NUUN

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75120

Kejelekan Diganti Kebaikan

Jika mengingat akan dosa-dosa, hati orang beriman pasti akan terus menyesal, merasa sedih, bahkan sesekali bisa menetaskan air mata. Taubat memang seperti itu. Orang yang dikatakan bertaubat dengan sebenarnya bila ia menyesali dosa yang telah lalu, meninggalkan maksiat saat ini juga dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi di masa mendatang. Sedih dan terus menyesali dosa itulah jalan untuk kembali pada Allah.

Pada kesempatan kali ini, ada sebuah ayat yang patut kita renungkan bersama. Isinya adalah mengenai keutamaan orang-orang yang bertaubat. Mereka adalah orang yang dulunya penuh dengan dosa dan kubangan maksiat, bahkan terjerumus dalam dosa besar, lalu menyesal, sedih dan bertekad tidak akan melakukannya lagi. Allah Ta’ala berfirman mengenai sifat hamba-Nya yang beriman,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71)

“Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqon: 68-71)

Mengenai “Atsamaa”

Saksikanlah dalam ayat di atas, yang disebutkan adalah dosa-dosa besar. Mulai dari dosa syirik, membunuh jiwa tanpa hak, dan berzina disebutkan dalam satu ayat. Di akhir ayat ke-68, disebutkan bahwa mereka yang berbuat dosa-dosa tadi akan berjumpa dengan “أَثَامًا”. ‘Abdullah bin ‘Amr menafsirkan bahwa “أَثَامًا” adalah nama lembah di Jahannam. ‘Ikrimah mengatakan bahwa “أَثَامًا” adalah lembah di Jahannam di mana di situlah disiksa orang-orang yang berzina. As Sudi menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan, “Mereka akan memperoleh balasan atas dosa yang mereka perbuat.” As Sudi menafsirkan seperti ini karena melihat dari kelanjutan ayat setelahnya.[1]

Siksa yang Pedih dan Berlipat-lipat

Maksud ayat, “(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat”, adalah mereka akan mendapat siksaan yang terus berulang dan amat pedih. Sedangkan maksud ayat setelahnya, “dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”, adalah mereka mendapatkan siksaan yang begitu menghinakan.[2]

Termasuk Dosa Besar

Allah Ta’ala menyebutkan tiga dosa dalam ayat tersebut yaitu syirik, membunuh, dan berzina. Apa maksudnya? Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Ketiga dosa tersebut termasuk dalam al kabair (dosa besar). Syirik adalah dosa yang merusak agama. Membunuh adalah dosa yang merusak jiwa. Sedangkan zina adalah dosa yang merusak kehormatan.”[3] Itulah yang menunjukkan bahayanya ketiga dosa tersebut.

Syirik sudahlah amat jelas. Jika dosa syirik dibawa mati dan tidak ada taubat terhadap dosa tersebut, pelakunya akan kekal di neraka. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48, 116)

Bagaimanakah dengan dosa membunuh dan zina? Apakah membuat seorang hamba kekal dalam neraka? Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Adapun orang yang membunuh jiwa dan seorang pezina, mereka tidaklah kekal di dalam neraka karena ada berbagai dalil dari Al Qur’an dan sunnah nabawiyah yang menjelaskan hal ini. Dalil tersebut menjelaskan bahwa setiap mukmin akan keluar dari neraka dan tidak kekal di dalamnya. Setiap mukmin (selama masih ada iman) walau ia melakukan maksiat, ia tidak kekal di neraka.”[4]

Wajib Bertaubat

Ketika seseorang terjerumus dalam kesyirikan, pembunuhan dan zina, maka ia wajib bertaubat dari dosa tersebut. Bagaimana cara bertaubat?

Taubat tentu saja dengan taubat yang nashuha, taubat yang sesungguhnya. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8). Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa makna taubat yang tulus (taubatan nashuhah) sebagaimana kata para ulama adalah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.”[5]

Dalam surat Al Furqon yang kita bahas saat ini juga disebutkan “kecuali orang yang bertaubat”, yaitu bertaubat dari maksiat dan selainnya dengan menyesali dosa yang telah lalu dan bertekad untuk tidak mengulanginya (di masa akan datang). Kemudian disertai dengan beriman kepada Allah dengan benar yang menunjukkan bahwa ia meninggalkan maksiat dan kembali mengerjakan ketaatan. Juga disertai dengan mengerjakan amalan sholeh sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan ia melakukannya dengan ikhlas. Demikianlah maksud dari penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di rahimahullah tentang tafsir ayat di atas. [6]

Kejelekan Diganti Kebaikan

Sekarang kita akan lihat maksud firman Allah,

فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ

“Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (QS. Al Furqon: 70). Kata Ibnul Jauzi rahimahullah, para ulama berselisih pendapat tentang maksud penggantian di sini dan kapan waktunya.

Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah Allah mengganti kesyirikan yang dulu mereka lakukan dengan keimanan, pembunuhan yang mereka lakukan diganti dengan menahan diri dari melakukannya dan zina yang mereka lakukan diganti dengan menjaga kehormatan dari zina. Ini menunjukkan bahwa penggantian tersebut ada di dunia. Ulama lain yang menafsirkan seperti ini adalah Sa’id bin Jubair, Mujahid, Qotadah, Adh Dhohak, dan Ibnu Zaid.

Pendapat kedua, yang dimaksud dengan Allah mengganti kejelekan dengan kebajikan adalah di akhirat kelak. Yang berpendapat seperti ini adalah Salman radhiyallahu ‘anhu, Sa’id bin Al Musayyib, dan ‘Ali bin Al Husain. ‘Amr bin Maimun berkata, “Allah akan mengganti kejelekan seorang mukmin dengan kebaikan jika ia mendapat pengampunan Allah. Sampai-sampai ia sangka bahwa kejelekannya itu adalah amat banyak.”[7]

Ini menunjukkan bahwa sungguh luar biasa keutamaan orang yang bertaubat.

Ingatlah, Allah Maha Penerima Taubat

Selama seseorang tidak menganggap remeh dosa atau maksiat dan menyesali setiap dosa dan kesalahan yang ia perbuat, maka niscaya Allah akan ampuni dosanya. Entah itu dosa syirik, membunuh atau pun berzina. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”. (QS. Al Furqon: 71). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini mengabarkan tentang amat luasnya rahmat (kasih sayang) Allah pada para hamba-Nya. Siapa saja yang bertaubat kepada Allah, Dia akan meneri taubatnya seberapa pun besar dosa tersebut, entah itu dosa yang luar biasa atau dosa yang sepele, entah itu dosa besar atau dosa kecil.”[8]

So … Janganlah putus asa dari rahmat Allah!

Wallahu waliyyut taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Riyadh-KSA, 24th Rajab 1432 H (26/06/2011)

[1] Lihat penjelasan Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/326, terbitan Muassasah Qurthubah.

[2] Idem.

[3] Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, 587, terbitan Muassasah Ar Risalah.

[4] Idem.

[5] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/61.

[6] Taisir Al Karimir Rahman, 587.

[7] Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 6/107, terbitan Al Maktab Al Islami.

[8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/330.

Penyakit Hati Muncul Karena Sibuk Memata-matai Orang Lain

Bisa jadi
Penyakit hati muncul

Karena terlalu sibuk

Ngurus urusan orang lain

Sibuk ngurus postingan orang

Senang orang lain susah

Susah orang lain senang
Orang gembira dia sesak

Orang berhasil dia hasad

Orang sukses dia murung

Orang posting nasehat dia baper

Susah mau ngapa-ngapain ngurusin orang
Mending fokus bersyukur

Perbaiki kekurangan diri
Saudaraku,

Terlalu sibuk memikirkan urusan orang lain, akan  merugikan diri sendiri apalagi sampai tahap “memata-matai” untuk mencari-cari keselahan saudaranya.
Ini yang dimaksud dengan tajassus dalam ayat,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻣِّﻦَ ﺍﻟﻈَّﻦِّ ﺇِﻥَّ ﺑَﻌْﺾَ ﺍﻟﻈَّﻦِّ ﺇِﺛْﻢٌ ۖ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺠَﺴَّﺴُﻮﺍ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu (memata-matai) mencari-cari kesalahan orang lain ” (Al-Hujurat : 12)
An-Nawawi menjelasakan mengenai tajassus, beliau berkata,

ﺍﻟﺒﺤﺚ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻮﺭﺍﺕ . ﻭﻗﻴﻞ : ﺑﺎﻟﺠﻴﻢ : ﺍﻟﺘﻔﺘﻴﺶ ﻋﻦ ﺑﻮﺍﻃﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ , ﻭﺃﻛﺜﺮ ﻣﺎ ﻳﻘﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮ

“Tajassus adalah mencari aurat (kesalahan-kesalahan tersembunyi orang lain, ada juga yang mengatakan mencari/memeriksa yang tersembunyi dan kebanyakannya adalah kejelekan (yang tersembunyi).” [1] Setiap kita pasti punya kesalahan tersembunyi, tentu kita tidak ingin kesalahan itu ditampakkan karena bisa jadi kita sudah bertaubat dan menyesal.
Syaikh Al-‘Utsaimin menjelaskan,

ﻓﻼ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﺘﺠﺴﺲ ، ﺑﻞ ﻳﺄﺧﺬ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﻇﺎﻫﺮﻫﻢ ، ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻫﻨﺎﻙ ﻗﺮﻳﻨﺔ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺧﻼﻑ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ 

“Tidak selayaknya manusia melakukan tajassus, bahkan harus dinilai sesuai dzahir yang nampak, selama tidak ada indikasi yang tidak sesuai dengan dzahirnya.” [2] Demikian juga hadits larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

ﺇِﻳَّﺎ ﻛُﻢْ ﻭَﺍﻟﻈَّﻦَّ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻈَّﻦَّ ﺃَﻛْﺬَﺏُ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻭَﻻَ ﺗَﺤَﺴَّﺴُﻮﺍ ﻭَﻻَ ﺗَﺠَﺴَّﺴُﻮﺍ ﻭَﻻَ ﺗَﺤَﺎﺳَﺪُﻭﺍ ﻭَﻻَﺗَﺪَﺍﺑَﺮُﻭﺍ ﻭَﻻَﺗَﺒَﺎﻏَﻀُﻮﺍ ﻭَﻛُﻮْﻧُﻮﺍﻋِﺒَﺎﺩَﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇﺣْﻮَﺍﻧًﺎ

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”[3] Demikian semoga bermanfaat

@Yogyakarta Tercinta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel http://www.muslimafiyah.com

Catatan kaki:
[1] Syarh An-Nawawi lil Muslim
[2] Tafsir Surat Al-Hujurat hal. 50-51
[3] HR. Al-Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2563

sumber: https://muslimafiyah.com/penyakit-hati-muncul-karena-sibuk-memata-matai-orang-lain.html

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua adalah Kewajiban Anak Seumur Hidupnya

Berbakti kepada kedua orang tua merupakan kewajiban setiap insan, serta salah satu ibadah yang paling mulia di sisi Allah. Allah Ta’ala telah menyandingkan perintah berbakti kepada orang tua dengan perintah tauhid dan ibadah kepada-Nya. Allah juga menyandingkan hak mereka dengan hak-Nya. Allah berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra: 23)

Allah berfirman,

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa: 36)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

لا يدخلُ الجنَّةَ منَّانٌ، ولا عاقٌّ، ولا مُدمنُ خمرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengungkit pemberian (mannan), orang yang durhaka kepada orang tua (‘aqiq), dan pemabuk (mudmin khamr).” (HR. An-Nasai no. 5688 dan Ahmad no. 6882)

Wujud bakti seorang anak setelah wafatnya kedua orang tuanya

Mungkin ada sebagian dari kita yang saat orang tuanya masih hidup tidak mampu berbakti dengan sempurna. Mungkin ada juga yang pernah menyakiti hati mereka atau durhaka kepada mereka dan kini ingin bertobat serta menebusnya. Sementara itu, ada juga yang telah berbakti dengan baik, namun ingin terus melanjutkan kebaikan itu setelah orang tuanya wafat. Lalu, bagaimana cara berbakti kepada mereka setelah wafatnya mereka?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa ketika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِن صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له 

“Jika anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Di sinilah peran seorang anak dapat bermanfaat bagi kedua orang tuanya meskipun mereka telah meninggal dunia; yaitu apabila ia selalu berdoa dan memohonkan ampunan dan rahmat bagi keduanya. 

Dengan demikian, anak yang beramal saleh untuk kedua orang tuanya akan menjadi perpanjangan dari amal yang telah terputus, dan pahala yang tidak terduga bagi orang yang sudah meninggal. Amal itu akan membahagiakan, mengangkat derajat, menghapus dosa, bahkan mungkin menyelamatkannya dari api neraka.

Bentuk berbakti kepada orang tua setelah mereka wafat

Disebutkan dalam hadis dari Abu Usaid As-Sa’idi,

بينما نحن عند رسول اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذ جاءه رجلٌ من بني سَلمةَ، فقال: يا رسولَ اللهِ، هل بَقِيَ مِن بِرِّ أَبَويَّ شيءٌ أَبَرُّهما به بعد موتِهما؟ قال: نعم، الصَّلاةُ عليهما ، والاستغفارُ لهما، وإنفاذُ عَهدِهما من بعدِهما، وصِلةُ الرَّحِمِ التي لا تُوصَلُ إلَّا بهما، وإكرامُ صديقِهما

“Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, datanglah seorang laki-laki dari Bani Salamah. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah masih ada bakti kepada kedua orang tua saya setelah mereka meninggal?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya, ada. Mendoakan mereka, memintakan ampunan untuk mereka, melaksanakan janji-janji mereka setelah mereka tiada, menyambung tali silaturahim yang tidak terjalin kecuali karena mereka, dan memuliakan teman-teman mereka.’” (HR. Ibnu Majah no. 3664 dan Ahmad no. 16059)

Hadis ini mencakup empat contoh berbakti:

Mendoakan dan memohonkan ampunan untuk mereka

Mendoakan di sini berarti memohonkan segala kebaikan bagi mereka, mendoakan agar diluaskan kubur mereka, dianugerahkan kenikmatan di dalamnya, diangkat derajatnya, diterima amal mereka, dikumpulkannya mereka bersama para Nabi, orang-orang saleh, Syuhada, dan para shiddiqin, serta ditempatkannya mereka bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di surga tertinggi.

Memohonkan ampunan dan penghapusan dosa adalah doa yang paling berharga, sebagaimana doa para Nabi untuk orang tua mereka. Seperti doa Nabi Nuh dan Ibrahim ‘alaihimassalam,

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang yang masuk ke rumahku dengan beriman serta semua orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Nuh: 28)

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang mukmin pada hari perhitungan.” (QS. Ibrahim: 41)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjadikan doa sebagai tanda kesalehan seorang hamba, Dalam Musnad Ahmad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ! أَنَّى لِي هَذِهِ؟! فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat hamba yang saleh di surga, lalu dia bertanya, ‘Ya Tuhanku, dari mana aku dapatkan ini?’ Dikatakan kepadanya, ‘Itu karena permohonan ampunan dari anakmu untukmu.” (HR. Ahmad no. 10610 dan Ibnu Majah setelah hadis no. 3660; Syekh Al-Albani menghasankan hadis ini)

Menunaikan janji-janji mereka

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud di sini adalah wasiat. Namun, janji sebenarnya lebih luas daripada wasiat, meskipun wasiat adalah bagian yang paling ditekankan. Jika wasiat itu sepertiga atau kurang dari harta, wajib untuk dilaksanakan, selebihnya hukumnya sunah dan bentuk bakti, bukan kewajiban.

Janji juga mencakup jika salah satu orang tua berjanji untuk berbuat baik kepada saudaranya karena membutuhkan, atau kepada tetangga, kerabat, atau teman tertentu. Melaksanakan janji-janji ini adalah bagian dari bakti, selama tidak termasuk perbuatan dosa atau maksiat.

Menyambung tali silaturahmi kepada saudara mereka

Menyambung tali silaturahmi pada dasarnya adalah kewajiban, dan menjadi lebih wajib setelah orang tua meninggal dunia. Silaturahmi ini mencakup paman, bibi, dan anak-anak mereka, saudara laki-laki dan perempuan mereka. Di antara upaya yang bisa kita lakukan adalah dengan bertutur kata dan berakhlak yang baik kepada mereka, serta sering mengunjungi mereka agar hubungan tidak terputus setelah orang tua meninggal. Dengan begitu, kita akan mendapatkan pahala karena menyambung silaturahmi dan berbakti kepada orang tua setelah mereka wafat.

Memuliakan teman-teman mereka

Setiap orang tua pastilah memiliki teman dekat yang sangat akrab dengan mereka. Di antara tanda bakti, cinta, dan penghargaan yang agung kepada orang tua adalah menjaga hubungan dengan mereka setelah orang tua wafat. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ

“Sesungguhnya bakti yang paling utama adalah seorang anak yang menyambung hubungan dengan teman-teman dekat ayahnya.” (HR. Muslim no. 2552)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

مَنْ أحَبَّ أنْ يَصِلَ أَبَاهُ فِي قَبْرِهِ؛ فَلْيَصِلْ إِخْوَانَ أَبِيهِ بَعْدَهُ

“Barang siapa yang ingin menyambung hubungan dengan ayahnya di kuburnya, maka sambunglah hubungan dengan teman-teman ayahnya setelahnya.” (HR. Ibnu Hibban no. 432, disahihkan oleh Al-Albani)

Di antara contoh berbakti lainnya kepada kedua orangtua sepeninggal mereka adalah:

Membayar utang, nazar, dan kafarat mereka

Sebagaimana kita ketahui, orang yang meninggal dunia dan masih memiliki utang, maka ia akan tertahan oleh utangnya, artinya ia terhalang masuk surga sampai utangnya dilunasi. Dalam hadis disebutkan,

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إلَّا الدَّيْنَ

“Orang yang mati syahid diampuni segala dosanya kecuali utangnya.” (HR. Muslim no. 1886)

Adapun nazar, disebutkan dalam hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

أنَّ امرأةً ركِبتِ البحرَ فنذَرَتْ إنِ اللهُ تبارك وتعالى أنجاها أنْ تصومَ شهرًا فأنجاها اللهُ عز وجل فلم تصُمْ حتى ماتتْ فجاءتْ قَرَابَةٌ لها إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ فذكرتْ ذلك له فقال : صومي

“Seorang wanita melakukan perjalanan laut, lalu ia bernazar jika Allah menyelamatkannya, maka ia akan berpuasa sebulan. Setelah itu, Allah menyelamatkannya, namun ia meninggal sebelum sempat melaksanakan nazar puasanya. Kerabat perempuannya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan hal itu. Nabi bersabda, “Berpuasalah untuknya.” (HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1148, hadis ini sahih dengan syarat)

Hadis ini juga mencakup kafarat, yang memiliki kedudukan yang sama dengan nazar.

Bersedekah atas nama mereka

Para ulama sepakat bahwa pahala sedekah sampai kepada orang yang telah meninggal. Hal ini dikuatkan dengan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ibu Sa’d bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal ketika ia tidak bersamanya. Sa’d berkata,

يا رَسولَ اللَّهِ إنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا، أَيَنْفَعُهَا شيءٌ إنْ تَصَدَّقْتُ به عَنْهَا؟ قالَ: نَعَمْ، قالَ: فإنِّي أُشْهِدُكَ أنَّ حَائِطِيَ المِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا

“Ya Rasulullah, ibuku meninggal saat saya tidak bersamanya. Apakah akan bermanfaat jika saya bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya.” Sa’d berkata, “Saksikanlah, kebun kurma saya adalah sedekah untuknya.” (HR. Bukhari no. 2756)

Adapun di antara sedekah yang paling baik adalah wakaf, seperti: membangun masjid, asrama, rumah sakit, dan klinik amal untuk merawat orang yang membutuhkan, menggali sumur, mencetak mushaf dan buku-buku ilmu yang bermanfaat, menanggung biaya anak yatim dan janda, serta menanggung biaya para dai dan penuntut ilmu, karena semua ini adalah amalan-amalan yang manfaatnya terus mengalir dan dampaknya bertahan lama. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

“Sesungguhnya di antara amal dan kebaikan yang akan menyertai seorang mukmin setelah kematiannya adalah ilmu yang diajarkan dan disebarkan, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai yang dialirkannya, atau sedekah yang dikeluarkannya dari hartanya saat sehat dan hidupnya. Semua itu akan menyertainya setelah kematiannya.” (HR. Ibnu Majah no. 200, dihasankan oleh Syekh Al-Albani)

Penutup

Ada satu amal jariyah yang tidak kalah penting yang dapat dipersembahkan seorang anak kepada kedua orang tuanya setelah mereka wafat, yaitu adalah kesalehan dan amal baik yang dilakukan oleh anak itu sendiri. Karena “anak adalah hasil jerih payah ayah dan ibunya,” maka setiap amal yang dilakukan anak, yang tentu saja diajarkan oleh orang tuanya, inilah yang menjadi hakikat ilmu yang bermanfaat yang sebenarnya, yang akan menjadi timbangan kebaikan bagi ayah dan ibunya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَن دعا إلى هُدًى كان له مِن الأجرِ مِثْلُ أجورِ مَن تبِعهُ لا ينقُصُ ذلك مِن أجورِهم شيئًا، ومَن دعا إلى ضلالةٍ كان عليه مِن الإثمِ مِثْلُ آثامِ مَن تبِعهُ لا ينقُصُ ذلك مِن آثامِهم شيئًا

“Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa mereka.” (HR. Muslim no. 2674)

Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من قرأ القرآنَ وتعلَّم وعمِل به أُلْبِس والداه يومَ القيامةِ تاجًا من نورٍ ضوءُه مثلُ الشَّمسِ ويُكسَى والداه حُلَّتَيْن لا يقومُ لهما الدُّنيا فيقولان بمَ كُسينا هذا فيُقالُ بأخذِ ولدِكما القرآنَ

“Barang siapa membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an, kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat yang cahayanya seperti cahaya matahari. Dan kedua orang tuanya akan dipakaikan dua jubah yang nilainya lebih dari dunia! Mereka bertanya, ‘Karena apa kami dipakaikan ini?’ Dikatakan, ‘Karena anak kalian mengambil Al-Qur’an.” (HR. Al-Hakim no. 2086, Al-Imam Al-Mundziri dalam kitabnya Shahih At-Targhib wa At-Tarhib berkata, “Hadis ini hukumnya sahih atau hasan atau yang mendekati keduanya.”)

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua sebagai anak yang dapat berbakti kepada kedua orangtuanya, bahkan sepeninggal mereka, dan semoga kita semua juga diberikan karunia anak-anak saleh yang dapat berbakti kepada kita bahkan setelah kita meninggal dunia. Wallahu a’lam bissowaab.

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Sumber: https://muslim.or.id/109490-berbakti-kepada-kedua-orang-tua-adalah-kewajiban-anak-seumur-hidupnya.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Ampuhnya Do’a Ibarat Tajamnya Pedang

Ada ibarat yang sangat bagus yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Beliau menyampaikan bagaimanakah ampuhnya do’a dan ini diibaratkan seperti tajamnya pedang. Kita harus merenungkan hal ini agar kita dapat semangat terus untuk berdo’a dan tidak berputus asa.

Ibnul Qayyim dalam Al Jawabul Kaafi mengatakan,

والادعية والتعوذات بمنزلة السلاح والسلاح بضاربه لا بحده فقط فمتى كان السلاح سلاحا تاما لا آفة به والساعد ساعد قوي والمانع مفقود حصلت به النكاية في العدو ومتى تخلف واحد من هذه الثلاثة تخلف التأثير فإن كان الدعاء في نفسه غير صالح أو الداعى لم يجمع بين قلبه ولسانه في الدعاء أو كان ثم مانع من الاجابة لم يحصل الأثر

“Do’a dan ta’awudz (meminta perlindungan pada Allah) ibarat pedang. Pedang itu diandalkan tebasannya bukan hanya ketajamannya. Oleh karenanya, pedang jadi ampuh bila: (1) tidak cacat, (2) yang menebas adalah orang yang kuat dan (3) tidak ada penghalang ketika pedang dihujam yang membuat musuh tersingkir. Jika salah satu dari tiga hal ini tidak ada, maka pedang tersebut tidaklah ampuh.

Do’a pun demikian. Do’a tidaklah ampuh bila: (1) orang yang berdo’a tidaklah baik, (2) yang berdo’a tidak menyatukan antara hati dan lisan saat berdo’a (artinya: do’a yang dipanjatkan tidak diresapi), (3) ada penghalang sehingga do’a tidak terkabul[1]. Jika ada salah satu dari tiga hal ini, do’a tidaklah ampuh.”

Semoga dengan merenungkan hal ini, kita semakin memperbaiki diri kala memanjatkan do’a. Ya Allah, kabulkanlah do’a-do’a kami. Wallahu waliyyut taufiq.

Faedah saat safar @ Manarotul Asheel, Makkah Al Mukarromah, 20 Syawal 1433 H


[1] Seperti karena sebab makan yang haram, do’a sulit terkabul.

Sumber https://rumaysho.com/2790-ampuhnya-doa-ibarat-tajamnya-pedang.html

Bagimu Pemuda Malas, Nan Enggan Bekerja

Pada sebuah kesempatan, Syekh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah ditanya, “Ada seorang pemuda, ia mampu bekerja tapi enggan bekerja. Apa pendapat anda?”

Beliau menjawab:

Pendapatku sama dengan pendapat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

أرى الشاب فيعجبني فأسأل عن عمله فيقولون لا يعمل فيسقط من عيني

“Aku melihat seorang pemuda, ia membuatku kagum. Lalu aku bertanya kepada orang-orang mengenai pekerjaannya. Mereka mengatakan bahwa ia tidak bekerja. Seketika itu pemuda tersebut jatuh martabatnya di mataku”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إن أطيب كسب الرجل من يده

“Pendapatan yang terbaik dari seseorang adalah hasil jerih payah tangannya” (HR. Ibnu Majah no.2138, disahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 1685).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang lelaki yang kulit tangannya kasar, beliau bersabda,

هذه يد يحبها الله ورسوله

“Tangan ini dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya” (HR. Al Khathib Al Baghdadi dala, Tarikh Baghdad [8/ 317-318], didhaifkan Al Albani dalam Silsilah Adh Dha’ifah [568]).

Beliau juga bersabda,

إذا قامت القيامة وفي يد أحدكم فسيلة فليغرسها

“Jika kiamat telah datang, dan ketika itu kalian memiliki cangkokan tanaman, tanamlah!” (HR. Ahmad no.12902, disahihkan Syu’aib Al Arnauth).

Beliau juga bersabda,

كفى بالمرء إثماً أن يضيع من يعول

“Seseorang itu sudah cukup dikatakan sebagai pendosa jika ia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya” (HR. Ahmad no.6842, disahihkan Syu’aib Al Arnauth).

Jika seseorang duduk di masjid menyibukkan diri dalam urusan agama, menuntut ilmu agama atau beribadah namun menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya, ia adalah seorang pendosa. Ia tidak paham bahwa bekerja untuk menjaga iffah dirinya, istrinya dan anak-anaknya adalah ibadah. Terdapat hadis sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الساعي على الأرملة والمسكين كالمجاهد في سبيل الله

“Petugas pengantar shadaqah untuk janda dan orang miskin bagaikan mujahid di jalan Allah”

Al Baihaqi dalam kitabnya, Syu’abul Iman, membawakan sebuah riwayat dari Umar radhiyallahu ‘anhu:

يا معشر القراء (أي العباد) ارفعوا رؤوسكم، ما أوضح الطريق، فاستبقوا الخيرات، ولا تكونوا كلاً على المسلمين

“Wahai para pembaca Qur’an (yaitu ahli ibadah), angkatlah kepada kalian, sehingga teranglah jalan. Lalu berlombalah dalam kebaikan. Dan janganlah menjadi beban bagi kaum muslimin”

Dan janganlah menjadi beban bagi orang lain. Muhammad bin Tsaur menceritakan, suatu ketika Sufyan Ats Tsauri melewati kami yang sedang berbincang di masjidil haram. Ia bertanya: ‘Kalian sedang membicarakan apa?’. Kami berkata: ‘Kami sedang berbincang tentang mengapa kita perlu bekerja?’. Beliau berkata:

اطلبوا من فضل الله ولا تكونوا عيالاً على المسلمين

“Carilah rezeki dari Allah dan janganlah menjadi beban bagi kaum muslimin”.

Pada kesempatan lain, Sufyan Ats Tsauri sedang sibuk mengurus hartanya. Lalu datanglah seorang penuntut ilmu menanyakan sebuah permasalahan kepadanya, padahal beliau sedang sibuk berjual-beli. Orang tadi pun lalu memaparkan pertanyaannya. Sufyan Ats Tsauri lalu berkata: ‘Wahai anda, tolong diam, karena konsentrasiku sedang tertuju pada dirhamku, dan ia bisa saja hilang (rugi)’. Beliau pun biasa mengatakan,

لو هذه الضيعة لتمندل لي الملوك

“Jika dirham-dirham ini hilang, sungguh para raja akan memanjakan diriku”

Ayyub As Sikhtiani berkata:

الزم سوقك فإنك لا تزال كريماً مالم تحتج إلى أحد

“Konsistenlah pada usaha dagangmu, karena engkau akan tetap mulia selama tidak bergantung pada orang lain”

Agama kita tidak mengajak untuk miskin. Ali radhiallahu ‘anhu berkata:

لو كان الفقر رجلاً لقتلته

“Andaikan kefakiran itu berwujud seorang manusia, sungguh akan aku bunuh ia”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berdoa,

اللهم إني أعوذ بك من الكفر والفقر

“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kekafiran dan kefakiran”

Maka wajib bagi setiap muslim untuk bekerja, berusaha, bersungguh-sungguh dan tidak menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya. Orang yang hanya duduk diam, ia bukanlah mutawakkil (orang yang tawakal), melainkan ia adalah mutawaakil (orang yang pura-pura tawakal). Ini adalah kemalasan.

Manusia diciptakan di dunia agar mereka dapat bekerja, berusaha dan bersungguh-sungguh. Para nabi pun bekerja, Abu Bakar radhiallahu ‘anhu pun berdagang. Orang yang berpendirian bahwa duduk diam tanpa bekerja adalah tawakal, kemungkinan pertama ia memiliki pemahaman agama yang salah, atau kemungkinan kedua ia adalah orang malas yang gemar mempercayakan urusannya pada orang lain.

Kepada orang yang demikian kami nasihatkan, perbaikilah niat anda dan carilah penghasilan yang halal, bertakwalah kepada Allah dan tetap berada dalam ketaatan. Bersemangatlah untuk menghadiri perkumpulan penuntut ilmu dan menghadiri majelis ilmu dengan tanpa menelantarkan orang yang menjadi tanggungan anda. Orang yang inginnya meminta-meminta dari orang lain, Allah akan membukakan baginya pintu kefakiran. Orang yang bekerja, dialah orang yang kaya. Karena kekayaan hakiki bukanlah harta, melainkan kekayaan jiwa. Orang yang kaya jiwanya tidak gemar meminta-minta kepada orang lain.

Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik agar menjalankan apa yang Allah cintai dan ridai.

—

[Diterjemahkan dari Fatawa Syaikh Masyhur Hasan Salman, fatwa no.94]

*) Beliau adalah seorang ulama di masa ini yang berasal dari negeri Palestina, dan merupakan salah seorang murid dari Asy Syaikh Al Allamah Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah. Beliau dikenal sebagai seorang muhaqqiq (peneliti), pakar hadis dan pakar fikih.

Penerjemah: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/2484-bagimu-pemuda-malas-nan-enggan-bekerja.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Lupa Membaca Bismillah di Awal Makan

Kita telah tahu bahwa di awal makan kita diperintahkan untuk membaca bismillah. Bagaimana jika lupa membaca bismillah di awal, apa yang mesti dibaca sehingga rutinitas makan kita tetap diberkahi serta dijauhi dari godaan setan?

Urgensi Membaca Bismillah di Awal Makan

1- Membaca bismillah di awal makan adalah perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari ‘Umar bin Abi Salamah, ia berkata, “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanganku bersileweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ » . فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

“Wahai Ghulam, bacalah “bismilillah”, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu. (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

2- Setan menghalalkan makanan yang tidak disebut bismillah

Dari Hudzaifah, ia berkata, “Jika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadiri jamuan makanan, maka tidak ada seorang pun di antara kami yang meletakkan tangannya hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulainya. Dan kami pernah bersama beliau menghadiri jamuan makan, lalu seorang Arab badui datang yang seolah-oleh ia terdorong, lalu ia meletakkan tangannya pada makanan, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya. Kemudian seorang budak wanita datang sepertinya ia terdorong hendak meletakkan tangannya pada makanan, namun beliau memegang tangannya dan berkata,

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ الَّذِى لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ جَاءَ بِهَذَا الأَعْرَابِىِّ يَسْتَحِلُّ بِهِ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ وَجَاءَ بِهَذِهِ الْجَارِيَةِ يَسْتَحِلُّ بِهَا فَأَخَذْتُ بِيَدِهَا فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّ يَدَهُ لَفِى يَدِى مَعَ أَيْدِيهِمَا

“Sungguh, setan menghalalkan makanan yang tidak disebutkan nama Allah padanya. Setan datang bersama orang badui ini, dengannya setan ingin menghalalkan makanan tersebut, maka aku pegang tangannya. Dan setan tersebut juga datang bersama budak wanita ini, dengannya ia ingin menghalalkan makanan tersebut, maka aku pegang tangannya. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan tersebut ada di tanganku bersama tangan mereka berdua.” (HR. Abu Daud no. 3766. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)

3- Mudah kenyang dan bawa berkah pada makanan dengan membaca bismillah di awal

Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda: “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Daud no. 3764. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan)

Lupa Membaca Bismillah

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika seseorang meninggalkan membaca “bismillah” di awal karena sengaja, lupa, dipaksa, tidak mampu mengucapkannya karena suatu alasan, lalu ia bisa mengucapkan di tengah-tengah makannya, maka ia dianjurkan mengucapkan “Bismillaah awwalahu wa aakhirohu” (Al Adzkar, hal. 427, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah)

Ada beberapa hadits yang membicarakan masalah ini.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaah awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِذَا أَكَلَ أَحَدكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّه ، فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّله فَلْيَقُلْ : بِسْمِ اللَّه فِي أَوَّله وَآخِره

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia ucapkan “Bismillah”. Jika ia lupa untuk menyebutnya, hendaklah ia mengucapkan: Bismillaah fii awwalihi wa aakhirihi (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”. (HR. Tirmidzi no. 1858, Abu Daud no. 3767 dan Ibnu Majah no. 3264. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini shahih).

Dari Umayyah bin Mihshon -seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا وَرَجُلٌ يَأْكُلُ فَلَمْ يُسَمِّ حَتَّى لَمْ يَبْقَ مِنْ طَعَامِهِ إِلاَّ لُقْمَةٌ فَلَمَّا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ فَضَحِكَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ « مَا زَالَ الشَّيْطَانُ يَأْكُلُ مَعَهُ فَلَمَّا ذَكَرَ اسْمَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اسْتَقَاءَ مَا فِى بَطْنِهِ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah duduk dan saat itu ada seseorang yang makan tanpa membaca bismillah hingga makanannya tersisa satu suapan. Ketika ia mengangkat suapan tersebtu ke mulutnya, ia mengucapkan, “Bismillah awwalahu wa akhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya).” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa dan beliau bersabda, “Setan terus makan bersamanya hingga. Ketika ia menyebut nama Allah (bismillah), setan memuntahkan apa yang ada di perutnya.” (HR. Abu Daud no. 3768, Ahmad 4: 336 dan An Nasai dalam Al Kubro 10113. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Al Hakim menshahihkan hadits ini dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Al Mutsanna bin ‘Abdurrahman mengatakan hadits ini hasan dan memiliki berbagai penguat. Lihat Majma’ Az Zawaid, 5: 22).

Hadits terakhir di atas menunjukkan bahwa setan itu berserikat pada makanan yang tidak disebut nama Allah (membaca: bismillah) saat dimakan. Lalu jika seseorang mengingat Allah (mengucap bismillah) di tengah-tengah makan walau makanan tersisa sedikit, maka diharamkan pada setan apa yang telah dimakan sebelumnya. Juga hadits di atas menunjukkan bahwa setan bisa muntah. Lihat Bahjatun Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly, 2: 48.

Hadits-hadits di atas pun jadi dalil bahwa jika seseorang lupa membaca bismillah di awal makan dan baru teringat di tengah-tengah makan, maka ucapkanlah “bismillah awwalahu wa akhirohu” atau “bismillah fii awwalihi wa aakhirihi“.

Semoga sajian di malam ini bermanfaat dan bisa diamalkan. Moga aktivitas makan kita bukan hanya mengisi perut, namun aktivitas tersebut moga semakin menguatkan kita dalam ibadah dan mendatangkan keberkahan karena mengikuti tuntunan Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Hanya Allah yang memberi taufik.

—

Akhukum fillah,

Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com)

Disusun di 1/3 malam pertama, 19 Dzulhijjah 1434 H @ Pesantren -tercinta- Darush Sholihin, GK