Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang Meninggalkannya

Di akhir zaman, Islam akan kembali asing. Sampai-sampai kaum Muslimin tidak mengenal ajaran-ajaran agamanya sendiri. Mereka asing terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga sunnah Nabi banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin. Orang yang mengamalkan sunnah pun dianggap asing dan aneh. Maka di masa ketika itulah, orang yang istiqamah mengamalkan sunnah Nabi diuji kesabarannya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita” [QS Al-Ahqaf : 13].

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)” [QS. Al-Jin: 16].

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

يأتي على النَّاسِ زمانٌ الصَّابرُ فيهم على دينِه كالقابضِ على الجمرِ

“Akan datang suatu masa, orang yang bersabar berpegang pada agamanya, seperti menggenggam bara api” [HR. Tirmidzi no. 2260, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi].

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,

بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [HR. Muslim no. 145].

Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menjelaskan hadis ini dengan mengatakan, “Artinya bahwa Islam dimulai dalam keadan asing sebagaimana keadaan di Mekkah dan di Madinah ketika awal-awal hijrah. Islam tidak diketahui dan tidak ada yang mengamalkan kecuali sedikit orang saja. Kemudian ia mulai tersebar dan orang-orang masuk (Islam) dengan jumlah yang banyak dan dominan di atas agama-agama yang lain.

Dan Islam akan kembali asing di akhir zaman, sebagaimana awal kemunculannya. Ia tidak dikenal dengan baik kecuali oleh sedikit orang dan tidak diterapkan sesuai dengan yang disyariatkan kecuali sedikit dari manusia dan mereka itu asing. Dan hadis lengkapnya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فطوبى للغرباء

“Maka beruntunglah orang-orang yang asing”.

Dan dalam riwayat yang lain,

قيل يا رسول الله ومن الغرباء؟ فقال: الذين يصلحون إذا فسد الناس

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang asing itu (al-Ghuraba)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.

Dan dalam lafaz yang lain,

هم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي

”Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirusak manusia” [Diterjemahkan dari http://ar.islamway.net/fatwa/46079%5D.

Orang-orang yang bisa bersabar dan tetap istiqamah di masa itu, ia akan mendapatkan pahala yang besar dan kedudukan yang tinggi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ

“Beribadah di masa haraj (sulit), seperti berhijrah kepadaku” [HR. Muslim no. 2948].

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

المراد بالهرج هنا الفتنة واختلاط أمور الناس

“Yang dimaksud dengan al-haraj adalah fitnah (kekacauan) dan kesemrawutan perkara di tengah manusia” [Syarah Shahih Muslim, 18/391].

Bahkan orang-orang yang istiqamah ketika itu dikatakan sebagai orang yang beruntung mendapatkan surga. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [HR. Muslim no. 145].

Kata طوبى dalam hadis ini maknanya adalah surga. Dalam sebuah hadis disebutkan,

طوبى شجرةٌ في الجنَّةِ ، مسيرةُ مائَةِ عامٍ

“Tuba adalah pohon di surga, tingginya sepanjang perjalanan 100 tahun” [HR. Ahmad no.11673, Abu Ya’la dalam Musnad-nya no.1374, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami, no. 3918].

Maka tidak mungkin bisa mendapatkan “tuba” ini kecuali orang yang masuk surga. Maka tetaplah istiqamah, dan bersabarlah dalam mengamalkan sunnah Nabi. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.

Penulis: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/67393-mengamalkan-sunnah-nabi-ketika-banyak-yang-meninggalkannya.html

Sucikan Masjid dari Syirik – QS. Al-Jin: 18

وَأَنَّ ٱلْمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah. (QS. Al-Jin: 18)

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

18. Masjid-masjid didirikan untuk beribadah kepada Allah semata, maka jangan beribadah padanya kepada selain Allah. Ikhlaskanlah doa dan ibadah hanya untuk Allah, karena masjid tidak dibangun kecuali untuk beribadah kepada Allah semata bukan selain-Nya.

Ayat ini mewajibkan menyucikan masjid dari segala urusan yang menodai keikhlasan kepada Allah dan ittiba’ keapada Rasulullah.

Referensi: https://tafsirweb.com/11458-surat-al-jin-ayat-18.html

Nasihat Untuk Perokok

Khutbah Pertama:

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} [آل عمران: 102]

أما بعد:

Kaum muslimin,

Bertakwalah kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Ketauhilah hanya orang-orang yang bertakwa saja yang beruntung di dunia dan akhirat. 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” [Quran Ali Imran: 102]

Ibadallah,

Sesungguhnya syariat Islam adalah syariat yang penuh hikmah dan baku. Syariat telah merinci mana yang halal dan mana yang haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا ٱضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ 

“Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.” [Quran Al-An’am: 119]

Allah Ta’ala juga telah membuat sebuah prinsip yang mulia, yang berlaku dan bisa diaplikasikan seiring perkembangan zaman. Sebagaimana firman-Nya,

وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمْ الْخَبَائِثَ

“Dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” [Quran Al-A’raf: 157]

Allah mengharamkan segala sesuatu yang berbahaya. Sebagaimana firman-Nya,

وَلا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [Quran An-Nisa: 29].

Di antara sesuatu yang buruk dan berbahaya bagi manusia adalah rokok. Kesimpulan bahwa rokok ini berbahaya didapatkan dari keterangan dokter bahkan iklan rokok itu sendiri menjelaskan kalau rokok itu berbahaya dan merusak. Merusak diri sendiri maupun orang yang berada di sekitarnya. Rokok dapat berbahaya untuk istri, anak, kerabat, dan teman yang ada di sekitar perokok. Meskipun mereka tidak mereokok, mereka tetap disebut perokok. Yaitu perokok pasif.  Bahkan dampak negatif terhadap perokok pasif ini bisa lebih besar daripada si perokok sendiri atau perokok aktif.

Rokok itu baunya saja sudah sangat mengganggu. Sehingga rokok itu mengombinasi berbagai keburukan dan mudharat. Mudharat untuk badan karena merusak kesehatan, mudharat harta karena membuang-buang uang.

Bagi orang yang merokok ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar bisa berhenti merokok:

Pertama: Sadar bahwa merokok adalah maksiat dan dosa. 

Saat seorang sedang merokok, artinya seseorang tersebut sedang bermaksiat kepada Allah. Harta yang Dia berikan dikeluarkan pada sesuatu yang haram.

Kedua: Meminta tolong kepada Allah.

Meminta tolong kepada Allah adalah dengan berdoa kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [Quran Al-Baqarah: 186]

Bukankah kita tidak memiliki daya dan upaya. Kita tidak mampu menguasai diri kita sendiri. Terkadang kita mencoba meninggalkan rokok, namun gagal. Karena itu minta tolonglah kepada Allah untuk meninggalkan rokok.

Ketiga: Bersungguh-sungguh dan tidak menyerah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [Quran Al-Ankabut: 69]

Betapa banyak orang yang berhasil meninggalkan rokok setelah mereka berusaha bertahun-tahun.

Keempat: Meninggalkan pergaulan dengan perokok

Teman itu akan menarik. Saat seseorang bergaul dengan orang yang baik, maka kebaikan mereka akan menarik teman bergaulnya untuk melakukan kebaikan yang sama. Demikian juga saat seseorang bergaul dengan teman yang buruk. Dalam hal ini para perokok. Seseorang akan sangat sulit sekali berhenti merokok kalau ia masih duduk-duduk dengan para perokok.

Kelima: Meminta nasihat ahli Kesehatan. 

Ahli Kesehatan di sini bisa dokter yang mengetahui bagaimana kondisi paru-prau orang yang biasa merokok. Atau paru-parunya sendiri setelah sekian lama merokok. Atau seorang psikolog yang dengan sarannya bisa menguatkan jiwa dan tekad seseorang yang hendak berhenti merokok.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعْنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الجَلِيْلَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَقًّا وَصِدْقًا، وَالشُّكْرُ لَهُ تَعَبُّدًا وَرِقًّا، أَكْمَلَ لَنَا الدِيْنَ وَتَمَّتْ كَلِمَاتُهُ صِدْقًا وَعَدْلًا، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى المَبْعُوْثِ بِالهُدَى يَقِيْنًا وَحَقًّا، وَعَلَى الآلِ وَالأَصْحَابِ وَالأَتْبَاعِ دَائِمًا وَأَبَدًا.

وَبَعْدُ….

Ibadallah,

Hendaknya para perokok sadar bahwa dampak buruk dari rokok dapat menghalangi mereka dari shalat berjamaah di masjid. Karena apa? Karen bau rokok tersebut. Bahkan bau rokok lebih tidak mengenakkan dibanding bawang. Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ

“Barangsiapa makan bawang merah, bawang putih, serta bawang bakung, janganlah dia mendekati masjid kami, karena malaikat merasa tersakiti dari bau yang juga membuat manusia merasa tersakiti (disebabkan baunya).” [HR. Muslim].

Adapun bagi mereka yang tidak merokok, baik karena tidak tertarik atau sudah berhenti dari merokok, pujilah Allah atas nikmat Allah ini. Karena bahaya rokok itu tidak hanya sebatas yang khotib sebutkan saja. Bahkan rokor menjadi pintu gerbang kerburukan yang lainnya.

Para pemudah yang tidak merokok, waspadailah, untuk berteman dengan para perokok. Karena pertemanan sangat memberi pengaruh terhadap sikap dan kebiasaan. Betapa cepat orang yang anti rokok, tapi tatkala mereka berteman dan bergaul dengan perokok, maka hal itu cepat membuat mereka berubah. Dan ingatlah, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Para pemudah yang tidak merokok, janganlah terpedaya. Jangan kalian sangka mereka orang yang merokok itu lebih macho, lebih laki, atau lebih keren. Apakah keren mulut bau dan menyebarkan penyakit.

Adapun rokok elektrik sama saja dengan rokok konvensional. Bahkan bisa jadi rokok elektri lebih berbahaya dari rokok konvensional. Seperti syisya. Syisya ini lebih bahaya dari rokok. Sehingga keharamannya pun lebih berat.

Ya Allah, jagalah kami dari hal-hal yang tidak Engkau sukai. Jauhkanlah kami dari hal-hal yang buruk. Selamatkanlah kami dan kaum muslimin secara umum dari rokok dan dampak buruknya. Jagalah juga anak-anak kami Ya Rab kami.

ثُمَّ اعْلَمُوْا عِبَادَ اللهِ، أَنَّ خَيْرَ الحَدِيْثِ كِتَابَ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ(إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا) اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ اَلرَّاشِدِيْنَ، اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَفَضْلِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِناً مُطْمَئِنّاً وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَةً يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَلِيَّ عَلَيْنَا خِيَارَنَا، وَكْفِيْنَا شَرَّ شِرَارَنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَا لَا يَخَافُكَ وَلَا يَرْحَمُنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ وَلِيَتَنَا فِيْمَا خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ إِمَامَنَا لِمَا فِيْهِ خَيْرَ صَلَاحِ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ إِمَامَنَا لِمَا فِيْهِ صَلاَحِهِ وَصَلَاحِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ بِطَانَتَهُ وَجُلَسَائِهِ وَمُسْتَشَارِيْهِ وَأَبْعِدْ عَنْهُ بِطَانَةً السُّوْءِ وَالمُفْسِدِيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، ( رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنْ الْخَاسِرِينَ).

عبادَ الله، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)،(وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ)، فاذكروا اللهَ يذكُرْكم، واشكُروه على نعمِه يزِدْكم، ولذِكْرُ اللهِ أكبر، واللهُ يعلمُ ما تصنعون.

sumber: https://khotbahjumat.com/5861-nasihat-untuk-perokok.html

Rasa Takut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebelum Turun Hujan

Rasa Takut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebelum Turun Hujan

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا رَأَى مَخِيلَةً فِي السَّمَاءِ، أَقْبَلَ وَأَدْبَرَ، وَدَخَلَ وَخَرَجَ، وَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ، فَإِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ سُرِّيَ عَنْهُ

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat mendung gelap di langit, beliau keluar masuk rumah, dan wajah beliau berubah. Dan jika turun hujan, beliau merasa gembira.

Ketika ditanya A’isyah, beliau menjawab,

يَا عَائِشَةُ مَا يُؤْمِنِّي أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ؟ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ، وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ العَذَابَ، فَقَالُوا: هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا

Wahai A’isyah, apa yang bisa memberikan jaminan keamanan bagiku kalau di awan itu tidak ada adzab? Kaum Ad dihukum dihukum dengan angin. Kaum itu telah melihat awan adzab, namun mereka mengatakan, “Ini awan yang akan mendatangkan hujan kepada kami.” (HR. Bukhari 4829, Muslim 899, dan yang lainnya).

Melihat fenomena alam yang mencekam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat takut. Karena bisa jadi fenomena alam itu membawa adzab. Ini berbeda dengan orang musyrik, ketika melihat fenomena alam yang demikian, mereka merasa yakin tidak ada adzab apapun, dan optimis, bahwa itu akan menurunkan hujan.

pemuda di zaman ini, ketika melihat fenomena alam, mereka justru mengeluarkan ponsel atau kamera digitalnya. Berlomba mereka mengabadikan situasi itu. Bukannya takut, malah jeprat-jepret.

Allahul musta’an

sumber: https://nasehat.net/rasa-takut-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-sebelum-turun-hujan/

Pakaian, Antara Nikmat dan Dosa

Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلضا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ:

اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ؛ فَإِنَّ ذِكْرَ النِعْمَةِ سَبَبٌ لِشُكْرِ المُنْعِمِ سُبْحَانَهُ، وَالشُّكْرُ سَبَبٌ لِلْمَزِيْدِ قَالَ اللهُ تَعَالَى: {وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ}[إبراهيم:7].

Ibadallah,

Bertakwalah kepada Allah. ingatlah akan nikmat-nikmat-Nya atas kalian. Karena sesungguhnya mengingat nikmat adalah sebab yang menjadikan seseorang itu bersyukur kepada yang memberi nikmat. Bersyukur akan menjadi sebab bertambahnya nikmat. Allah ﷻ berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS:Ibrahim | Ayat: 7).

Ibadallah,

Di antara nikmat Allah yang besar kepada kita adalah Dia berikan kepada kita pakaian. Ini adalah nikmat dan anugerah yang besar. Oleh karena itu, Allah ﷻ beberapa kali mengulangi penyebutan nikmat ini. Karena ia adalah nikmat yang besar dan indah. Dia mengulang penyebutannya dalam surat An-Nahl yang diistilahkan oleh para ulama dengan surat kenikmatan. Lantaran banyak nikmat Allah kepada hamba-Nya yang Dia sebutkan dalam surat tersebut. Di bagian akhir surat, Allah ﷻ berfirman,

وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُم بَأْسَكُمْ كَذَلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ

“Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (QS:An-Nahl | Ayat: 81).

Ibadallah,

Pakaian adalah nikmat yang besar yang Allah ﷻ anugerahkan kepada para hamba-Nya. Dengan pakaian, seseorang dapat melindungi dirinya dari panas, dingin, dan memperindah penampilannya. Allah ﷻ berfirman,

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاساً يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشاً وَلِبَاسُ التَّقْوَىَ ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS:Al-A’raf | Ayat: 26).

Dalam ayat ini, Allah ﷻ menyebutkan kenikmatan-Nya untuk para hamba-Nya dengan dua pakaian. Pakaian batin yakni ketakwaan. Dan pakaian zhahir yaitu pakaian yang menutupi aurat dan sesuatu yang ingin mereka tutupi. Ini adalah nikmat yang besar.

Takwa tempatnya di hati. Apabila hati dihiasi dengan ketakwaan, maka akan tampak indah anggota badan dengan melakukan amalan yang baik. Apabila takwa hilang dari hati, yakni pakaian yang mulia ini pergi, maka badan akan terperosok ke dalam hal-hal buruk dan kejelekan. Karena itu, seseorang yang menutupi raganya dengan pakaian zhahir merupakan buah dari usahnya memberi pakaian hatinya dengan ketakwaan. Apabila ketakwaan ini pergi, pergi pula pakaian yang baik untuk badannya. Apabila seseorang menghiasi hatinya dengan pakaian takwa, maka ia juga akan bersemangat memakaikan raganya dengan pakaian terhormat. Ia memiliki rasa malu.

Ibadallah,

Pakaian adalah penutup aurat seseorang. Perhiasan dan memperbaiki penampilan. Ia adalah nikmat besar dari Allah ﷻ. Dengan pakaian, seseorang memiliki penampilan yang indah. Dengan pakaian, seseorang menutupi auratnya. Dan dengan pakaian seseorang terlindungi dari panas dan dingin.

Karena pakaian adalah nikmat yang besar, setan memainkan tipu dayanya pada manusia dalam permasalahan ini. Mereka ingin manusia berpakaian, namun tetap mempertontonkan auratnya. Dengan pakaian pula, setan hendak memisahkan manusia dari kehormatan dan rasa malunya.

Ingatlah setan adalah musuh manusia. Dan tipu daya mereka dalam permasalahan pakaian ini adalah kisah lama yang mereka angkat kembali. Allah ﷻ berfirman,

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.” (QS:Al-A’raf | Ayat: 27).

Allah ﷻ kisahkan tipu daya klasik setan terhadap manusia dalam permasalahan pakaian. Allah ingatkan dengan tegas kepada kita tipu daya mereka dalam hal ini. Agar kita tidak kehilangan nikmat ini.

Ibadallah,

Secara bertahap setan mengurai strateginya agar manusia terjerumus ke dalam krusakan dan perbuatan rendahan. Terutama pada kaum wanita. Setan memanfaatkan sifat emosi wanita dan kekurangan agamanya, lalu menjerumuskan mereka ke berbagai model dan bentuk pakaian yang membuka aurat, yang berlebihan. Semoga Allah ﷻ menjaga kita dari dan keturunan kita dari tipu daya setan ini, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.

Ibadallah,

Ujian dalam pakaian bisa dalam banyak hal. Wajib bagi setiap orang untuk waspada. Pakaian adalah sesuatu yang mubah. Nabi ﷺ bersabda,

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ

“Makan, minum, berpakaian, dan bersedekahlah, tanpa ada sikap berlebih-lebihan dan kesombongan”. (HR. Bukhari).

Abdullah bin al-Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan,

كُلْ مَا شِئْتَ وَالْبَسْ مَا شِئْتَ مَا أَخْطَأَتْكَ اثْنَتَانِ سَرَفٌ أَوْ مَخِيلَةٌ

“Makanlah sesuka kalian dan berpakaianlah sesuka kalian, selama kalian tidak melakukan dua perbuatan yaitu berlebihan dan sombong. (HR. Ibnu Abi Syaibah).

Pakaian adalah sesuatu yang boleh, tidak dilarang syariat. Namun syariat membuat koridor agar ia tetap indah dan tetap menjadi salah satu kebahagian manusia. Dan tidak menghalangi mereka meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Karena itu, wajib bagi setiap muslim memperhatikan koridor syariat dalam permasalahan pakaian ini. Agar mereka dapat menjaga keutamaan dan kesempurnaan pakaian itu.

Ibadallah,

Di antara bentuk pakaian yang dilarang oleh Nabi ﷺ adalah pakaian yang menyerupai pakaian orang-orang non muslim. Ada sebuah prinsip yang diajarkan beliau ﷺ kepada kita,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Dan terkait masalah pakaian ada dalil yang sifatnya lebih khusus. Dari Abdullah bin Amru bin al-Ash, dia berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah melihatnya memakai dua potong pakaian mu’ashfar (yang dicelup ushfur), lalu beliau bersabda,

إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلاَ تَلْبَسْهَا

“Sesungguhnya ini adalah pakaian orang-orang kafir, maka janganlah kamu memakainya.” (HR. Muslim).

Hadits ini memberikan batasan pada hokum pakaian. Yang awalnya boleh, kemudian menjadi terlarang. Kita dilarang dari pakaian yang menjadi kekhususan orang-orang non muslim. Termasuk juga celana-celan panjang yang ketat. Yang membentuk lekuk-leku tubuh. Dilarang bagi laki-laki, apalagi perempuan. Pakaian yang terlarang lainnya adalah pakaian yang menyingkapkan aurat. Dan juga terlarang adalah pakaian-pakaian yang menunjukkan syiar-syiar kekafiran. Seperti ada gambar salibnya, nama-nama tokoh mereka, gambar berhala, gambar atlit-atlit sepak bola, aktor, penyanyi, dll. Memakainya tentu bertentangan dengan ajaran Islam. Dan dilarang oleh Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, hendaknya kita bertakwa kepada Allah pada diri kita dan keluarga kita.

Ibadallah,

Yang harus kita perhatikan dalam permasalahan pakaian juga adalah pakaian yang isbal. Nabi ﷺ memberi peringatan keras dalam permasalahan ini. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah ﷺ bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ .. الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

“Tiga (golongan manusia) yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada Hari Kiamat, tidak pula dilihat dan tidak disucikan serta bagi mereka siksa yang pedih (mereka adalah); Musbil (orang yang memanjangkan pakaiannya hingga ke bawah mata kaki). Orang yang tidak memberi sesuatu kecuali ia mengungkit-ungkitnya. Dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.”

Orang pertama yang disebut Nabi ﷺ adalah al-Musbil, yaitu seseorang yang pakaiannya menutupi mata kakinya.

Pakaian lainnya yang harus kita jauhi adalah pakaian yang mengundang ketenaran. Pakaian yang nyentri, beda dari yang lain. Ketika orang-orang menyebutnya, ooh.. dia yang berpakaian dengan ini dan ini. Dia terkenal karena tampil beda. Ini termasuk bentuk pakaian yang diperintahkan oleh Nabi ﷺ untuk dijauhi.

Wajib bagi setiap muslim, untuk mewaspadai tipu daya orang-orang yang tidak senang dengan Islam dan bisikan setan. Seperti menyeru wanita untuk menampakkan auratnya atas nama kebebasan dan model pakaian. Seruan-seruan yang hakikatnya menjatuhkan derajat wanita itu sendiri. Oleh karena itu, hendaknya para wanita muslimah bertakwa kepada Allah ﷻ dalam keadaan sendirian ataupun di tengah keramaian. Hendaknya mereka menutupi aurat mereka dengan pakaian terhormat yang telah diajarkan oleh Islam. Pakaian yang menjaga diri mereka dari gangguan. Pakaian yang menjaga mereak dari bahaya dan niat-niat yang buruk.

Berbicara tentang pakaian dan hubungannya dengan wanita adalah pembicaraan yang luas. Hendaknya para orang tua sejak dini mendidik putri-putri mereka dengan pakaian yang baik, terhormat, dan mulia.

Ya Allah, wahai Yang Maha Mulia, berilah pakaian hati kami dengan pakaian takwa. Hiasilah ia dengannya. Anugerahkanlah kami dengan kehormatan dan kebaikan. Jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk, hawa nafsu yang jahat, dan penyakit-penyakit yang buruk, sesungguhnya Engkaulah yang mendengarkan doa.

أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ:

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتِهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ.

Ibadallah,

Hendaknya kita senantiasa mengingat pesan Nabi ﷺ,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak bersumber dari kami, maka ia tertolak.”

Bersungguh-sungguhlah wahai hamba Allah, terus dan terus, agar mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dengan sesuatu yang disyariatkan kepada kita. Berupa perkataan yang benar dan amalan yang shaleh. Jauhilah bentuk-bentuk ibadah yang baru, yang dibuat-buat setelah Nabi ﷺ meninggal. Setelah beliau ﷺ menyempurnakan agama ini. Karena beliau ﷺ mengabarkan amalan seperti itu adalah amalan yang menyimpang.

Dalam kesempatan kali ini, khotib hendak mengingatkan permasalahan mauled Nabi ﷺ. Ahli sejarah, berbeda pendapat tentang kapan tanggal kelahiran Nabi ﷺ. Karena saat lahir, orang-orang tidak menaruh perhatian yang besar kepada beliau ﷺ. Hingga beliau menginjak usia 40 tahun dan diangkat menjadi rasul. Barulah orang-orang memperhatikan apa yang beliau lakukan, apa yang beliau ucapkan, dan segala prilaku beliau ﷺ.

Di sisi lain, para ulama dan ahli sejarah sepakat bahwa Nabi ﷺ wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal. Tentu suatu yang mengherankan ketika kita memperingati sesuatu yang ulama berbeda pendapat dan tidak menaruh perhatian padanya bertepatan dengan wafatnya beliau ﷺ. Ditambah lagi, hal ini tidak beliau tuntunkan.

Berbakti kepada Nabi ﷺ, mengingat dan mengenang beliau, serta meneladani beliau hendaknya dilakukan setiap hari. Mengkaji sirah beliau dilakukan setiap hari, bukan setahun sekali. Sebagaimana berbakti kepada ibu, memuliakan, menyanjung, dan mengenang jasanya, dilakukan setiap hari bukan hanya pada hari ibu saja.

Marilah kita terus memperbaiki amalan kita. Marilah kita bersemangat mengamalkan sesuatu yang jelas-jelas dan benar-benar yakin itu diperintahkan oleh Nabi ﷺ. Senadainya kita mengisi hari-hari kita dengan yang demikian, maka itu pun sudah sangat banyak, mungkin kita tidak mampu. Mari kita sibukkan diri mengamalkan yang benar-benar disebutkan sebagai ajaran beliau.

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا لُزُوْمَ السُّنَّةِ وَاتِّبَاعِ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَجَنِّبْنَا المُحْدَثَاتِ وَالمُبْتَدِعَاتِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦]، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنَّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ. اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ، اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَوْقَاتِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَاَركِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ارْحَمْ مَوْتَانَا وَمَوْتَى المُسْلِمِيْنَ وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى المُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الغَلَا وَالْوَبَا وَالْزَلَازِلَ وَالِمحَنَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَعَنْ سَائِرِ بَلَدِ المُسْلِمِيْنَ عَامَةً يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَناَ وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ: اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمَهُ يَزِدْكُمْ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ .

Oleh tim KhotbahJumat.com

sumber : https://khotbahjumat.com/3750-pakaian-antara-nikmat-dan-dosa.html

Doa itu Senjata Orang Mukmin, Penjelasan Doa vs Musibah, Kapan Bisa Menang?

Doa itu senjata orang mukmin. Namun, senjata itu bisa kuat, bisa juga lemah.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ sebagai berikut.

Doa adalah senjata orang mukmin.

Disebutkan dalam Al-Mustadrak Al-Hakim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُدْعُو اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالاِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan doa kalian terkabul. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak serius.” [HR. Al-Hakim, 1:493]

Berdasarkan hadits di atas, doa adalah obat penawar yang memberikan manfaat dan menghilangkan penyakit. Namun, kelalaian hati dari mengingat Allah dan mengonsumsi makanan haram akan melemahkan sekaligus melenyapkan kekuatan doa. 

Penjelasan tersebut senada dengan riwayat dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَيَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتٍ مَارَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَهُ اِلَى السَّمَاءِ يَارَبِّ يَارَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Wahai manusia, sungguh Allah itu baik dan tidak akan menerima, kecuali hal yang baik. Sungguh, Allah juga telah memerintahkan kaum mukminin dengan perkara yang Allah perintahkan kepada para rasul. Allah berfirman: “Wahai para rasul, makanlah makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mukminun: 51). Allah juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 172).

Kemudian beliau menceritakan tentang seorang laki-laki yang tengah mengadakan perjalanan panjang, rambutnya kusut, tubuhnya berdebu, dan ia menengadahkan tangan ke langit sambil berkata, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku! Namun, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dibesarkan dengan hal-hal yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya akan terkabul?” (HR. Muslim, no. 1015)

وَذَكرَ عَبْدُ اللهِ بْنِ أَحْمَدَ فِي كِتَابِ الزُّهْدِ لِأَبِيْهِ أَصَابَ بَنِي إِسْرَائِيْلَ بَلاَءٌ فَخَرَجُوا مَخْرَجًا فَأَوْحَى اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ اِلَى نَبِيِّهِمْ أَنْ أَخْبَرَهُمْ إِنَّكُمْ تَخْرُجُوْنَ اِلَى الصَّعِيْدِ باَبْدَانٍ نَجَسَةٍ وَتَرْفَعُوْنَ اِلَيَّ أُكُفًّا قَدْ سَفَكْتُمْ بِهَا الدِّمَاء وَمَلَأْتُمْ بِهَا بُيُوْتَكُمْ مِنَ الحَرَامِ الآنَ حِيْنَ اشْتَدَّ غَضَبِي عَلَيْكُمْ وَلَنْ تَزْدَادُوْا مِنِّي اِلاَّبُعْدًا

Abdullah bin Imam Ahmad menyebutkan dalam kitab Az-Zuhd karya ayahnya, “Dahulu Bani Israil pernah ditimpa bencana sehingga mereka pun keluar ke suatu tempat untuk berdoa. Kemudian, Allah mewahyukan kepada Nabi-Nya untuk mengabarkan kepada mereka, “Sungguh kalian keluar ke dataran tinggi ini dengan badan yang najis. Kalian menengadahkan tangan-tangan kalian kepada-Ku, padahal ia berlumuran darah dan dengannya kalian penuhi rumah-rumah dengan barang-barang yang haram. Apakah kalian sekarang memohon pada saat murka-Ku kepada kalian telah bertambah? Kalian hanyalah akan semakin menjauh dari-Ku.”

وَقَالَ اَبُو ذَرٍّ يَكْفِى مِنَ الدُّعَاءِ مَعَ البِرِّ مَا يَكْفِى الطَّعَامَ مِنَ المِلْحِ

Abu Dzarr berkata, “Cukuplah doa itu bisa diterima jika disertai dengan kebaikan, yakni layaknya sejumput garam yang mencukupi sejumlah makanan.”

Ingat, Doa adalah Senjata Orang Mukmin

والدُّعَاءُ مِنْ أَنْفَعِ الأَدْوِيَّةِ وَهُوَ عَدُوُّ البَلَأِ يُدَافُعُهُ وَيُعَالِجُهُ وَيَمْنَعُ  نُزُوْلَهُ وَيَرْفَعُهُ أَوْ يُخَفِّفُهُ إِذَا نَزَلَ وَهُوَ سِلاَحُ المُؤْمِنِ

Doa adalah obat yang amat bermanfaat dan musuh bagi bencana. Doa itu bisa:

  1. memerangi
  2. mengobati
  3. mencegah
  4. menghilangkan
  5. meringankan musibah yang menimpa.

Itulah kenapa doa itu disebut senjata orang mukmin.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab Shahih-nya, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ

“Doa adalah senjata kaum mukminin dan merupakan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.”

وَلَهُ مَعَ البَلاَءِ ثَلاَثُ مَقَامَاتٍ أَحَدُهَا أَمْ يَكُوْنُ أَقْوَي مِنَ البَلاَءِ فَيَدْفَعُهُ الثَّانِي أَنْ يَكُوْنَ أَضْعَفَ مِنَ البَلاَءِ فَيَقْوَى عَلَيْهِ البَلاَءَ فَيُصَابُ بِِهِ العَبْدُ وَلَكِنْ قَدْ يُخَفِّفُهُ وَإِنْ كَانَ ضَعِيْفًا الثَّالِثُ أَنْ يَتَقَاوَمَا وَيَمْنَعُ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحِبُهُ

Ketika bersanding dengan musibah, doa mempunya tiga kondisi sebagai berikut.

  1. Doa itu lebih kuat daripada musibah. Maka dari itu, doa mampu mencegah terjadinya musibah.
  2. Doa itu lebih lemah daripada musibah. Akibatnya, doa itu terkalahkan sehingga musibah pun menimpa orang yang bersangkutan. Namun, doa bisa meringankan musibah tersebut meski hanya sedikit.
  3. Doa dan musibah sama-sama kuat, maka akan saling menyerang dan mengalahkan.

Al-Hakim meriwayatkan dalam Shahih-nya, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُغْنِى حَذَرٌ مِنْ قَدَرٍ وَالدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ وَإِنَّ البَلاَءَ لَيَنْزِلُ فَيْلَقَاهُ الدُّعَاءُ فَيَعْتَلِجَانِ اِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

“Sikap waspada tidak mampu menolak takdir. Doa memberikan manfaat kepada hal-hal yang telah terjadi dan yang belum terjadi. Pada saat musibah turun, doa segera menghadapinya. Keduanya saling bertarung hingga tiba hari kiamat.” (HR. Al-Hakim, 1:492)

Disebutkan juga dalam kitab yang sama, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ

“Doa akan memberikan manfaat terhadap apa yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Maka hendaklah kalian semua berdoa, wahai hamba-hamba Allah.” (HR. Al-Hakim, 1:493 dalam Al-Mustadrak)

Masih dalam kitab yang sama, yaitu dari Tsauban, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَرُدُّ القَدَرَ اِلاَّ الدُّعَاءُ وَلاَ يَزِيْدُ فِي العُمْرِ اِلاَّ البِِرّ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيْبُهُ

“Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa. Tidak ada yang bisa menambah usia kecuali kebajikan. Sungguh, seseorang benar-benar akan terhalang dari rezekinya karena doa yang telah ia kerjakan.” (HR. Al-Mustadrak, 1:493)

Lihat Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 15-17.

Referensi:

Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ (Al-Jawaab Al-Kaafi liman Sa-ala ‘an Ad-Dawaa’ Asy-Syaafi). Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Penerbit Daar Ibnul Jauzi.

Senin pagi, 4 Dzulqa’dah 1445 H, 13 Mei 2024

Muhammad Abduh Tuasikal 

Belajar Memperbaiki Diri

Bismillah.

Salah satu asas kehidupan yang mesti dimengerti oleh setiap muslim ialah kebaikan akan diberikan oleh Allah dengan jalan ilmu agama. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah pahamkan dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis yang agung ini merupakan kaidah penting untuk memperbaiki diri dan masyarakat. Bahwa pemahaman dalam agama ini merupakan pintu gerbang kebaikan. Dengan ilmu inilah seorang hamba akan bisa mewujudkan tujuan hidupnya di alam dunia. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)

Bagaimana mungkin seorang manusia bisa mengenali hakikat dan tata-cara beribadah kepada Allah tanpa ilmu?! Oleh sebab itu, Allah memerintahkan manusia untuk berilmu dan memahami tauhid yang menjadi hikmah mereka diciptakan. Allah Ta’ala berfirman,

فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Dia…” (QS. Muhammad: 19)

Ilmu merupakan pondasi untuk segala ucapan dan amal perbuatan.

Saudaraku yang dirahmati Allah, setiap hari kita berhadapan dengan berbagai bentuk cobaan dan nikmat dari Allah. Terkadang kita mengalami kesulitan dan tertimpa musibah, walaupun itu terlihat kecil dan sepele. Akan tetapi ingatlah, bahwa dengan musibah itu Allah ingin menguji kesabaran dan keimanan kita kepada takdir-Nya. Di saat yang lain, kita disiram dengan berbagai karunia dan nikmat yang melimpah, untuk melihat bagaimana bentuk syukur kita kepada-Nya. Tidak jarang kita pun terjerumus dalam dosa yang menuntut kita untuk terus bertobat dan istigfar kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ  وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja untuk berkata, ‘Kami telah beriman’, kemudian mereka tidak diberi ujian? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Allah benar-benar mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah mereka orang-orang yang dusta.” (QS. al-’Ankabut: 2-3)

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2)

Amal yang terbaik adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas yaitu dikerjakan murni karena Allah, sedangkan benar maksudnya berada di atas sunah (mengikuti tuntunan Rasulullah). Inilah penafsiran dari para ulama salaf semacam Fudhail bin Iyadh rahimahullah.

Dengan demikian, salah satu tugas utama kita adalah memperbaiki hati agar ikhlas dalam beribadah kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء

“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya secara hanif…” (QS. al-Bayyinah: 5)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang hanif ialah yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari segala bentuk pujaan atau sesembahan selain-Nya. Orang yang hanif adalah orang yang ikhlas lagi bertauhid.

Segala bentuk amalan butuh keikhlasan. Tanpa keikhlasan maka amal-amal itu akan terbang sia-sia bagai debu yang beterbangan. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً

“Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka kerjakan lalu Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.” (QS. al-Furqan: 23)

Sebanyak apa pun amal jika tidak ikhlas, maka tidak akan diterima oleh Allah.

Membersihkan hati dari kotoran riya’, ujub, dan syirik bukanlah perkara ringan. Karena itulah kita diajari untuk berdoa kepada Allah agar diteguhkan hatinya di atas agama ini dan diarahkan menuju ketaatan. Kita pun berdoa kepada Allah agar diberikan ketakwaan hati dan kesucian jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan hati adalah landasan segala bentuk amal kebaikan.

Para ulama menjelaskan bahwa amal-amal itu berbeda-beda tingkatan keutamaannya sesuai dengan apa-apa yang ada di dalam hati pelakunya berupa iman dan keikhlasan. Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niatnya, dan sebaliknya, betapa banyak amal besar justru menjadi kecil gara-gara niatnya. Oleh karena itu, para ulama terdahulu begitu bersemangat dalam membersihkan hatinya demi mencapai derajat ikhlas. Mereka berkata, “Tidaklah aku berjuang menundukkan jiwaku dengan sebuah perjuangan yang lebih berat sebagaimana perjuangan untuk mencapai ikhlas.”

Di antara bentuk perjuangan hati adalah menempa sifat sabar. Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi segenap anggota badan. Sabar dalam melaksanakan perintah Allah. Sabar dalam menjauhi maksiat. Sabar dalam menghadapi musibah. Inilah tiga bentuk kesabaran yang wajib untuk kita terapkan dalam hidup keseharian. Untuk menimba ilmu dibutuhkan kesabaran. Untuk mengamalkan ilmu pun perlu kesabaran. Bahkan untuk berdakwah juga kita harus banyak bersabar. Sabar yang terpuji ini apabila dilakukan ikhlas karena Allah, berada di atas syariat Allah, dan dengan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dengan bekal sabar dan keyakinan akan diraih derajat kepemimpinan/pribadi teladan dalam agama.”

Lebih luas lagi bentuk perbaikan yang urgen untuk kita lakukan adalah perbaikan akidah dan keimanan. Akidah ini mencakup segala perkara yang wajib diyakini oleh seorang muslim. Ia mencakup rukun-rukun iman dan perkara-perkara mendasar di dalam agama. Betapa banyak kerancuan dan penyimpangan akidah yang bercokol di tengah masyarakat Islam saat ini. Di antara bentuk kerusakan itu adalah meragukan kebenaran Islam. Padahal, Allah berfirman dengan tegas,

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya dan dia di akhirat akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran : 85)

Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar kenabianku seorang pun dari umat ini; apakah dia itu beragama Yahudi atau Nasrani lantas dia tidak mau beriman dengan ajaran yang aku bawa kecuali dia pasti termasuk dari golongan penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَن مات يشركُ باللهِ شيئًا دخل النارَ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, niscaya dia masuk ke dalam neraka.” Dan aku -Ibnu Mas’ud- berkata,

مَن مات لا يشركُ باللهِ شيئًا دخل الجنةَ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti akan masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, lalu meninggal dalam keadaan musyrik, maka dia termasuk penghuni neraka secara pasti. Sebagaimana barangsiapa yang beriman kepada Allah (baca: bertauhid) dan meninggal dalam keadaan beriman (baca: tidak melakukan pembatal keislaman), maka dia termasuk penghuni surga, walaupun dia disiksa -terlebih dulu- di dalam neraka.” (lihat al-Kaba’ir cet. Dar al-‘Aqidah, hal. 11)

Ilmu akidah adalah ilmu yang sangat penting dalam memperbaiki umat manusia. Kebutuhan hamba terhadap ilmu akidah ini di atas segala kebutuhan. Keterdesakan mereka terhadapnya di atas segala perkara yang mendesak. Karena tidak ada kehidupan bagi hati, tidak ada ketentraman bagi jiwa kecuali dengan pengenalan kepada Rabbnya, sesembahannya, yaitu Dzat yang telah menciptakan dirinya. Hal itu akan terwujud dengan mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-perbuatan-Nya. Dengan demikian, seorang hamba akan lebih mencintai Allah di atas kecintaan kepada selain-Nya dan dia pun akan senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dan tidak menujukan ibadah kepada selain-Nya (lihat keterangan Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah dalam Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 69)

Di antara fenomena yang sangat memprihatinkan di masa kini adalah banyaknya da’i yang kurang memperhatikan perkara akidah. Bahkan sebagian mereka terkadang mengatakan, “Biarkan saja manusia dengan akidah mereka! Kalian tidak perlu menyinggungnya! Yang penting bersatu, jangan suka berpecah-belah! Kita bersatu dalam apa-apa yang kita sepakati dan kita saling memberi toleransi dalam hal-hal yang kita perselisihkan.”

Demikian kurang lebih isi ungkapan mereka. Padahal tidak ada persatuan dan kekuatan kecuali dengan kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah terutama dalam hal-hal akidah yang notabene merupakan pondasi agama (lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 7)

***

Penulis: Ari Wahyudi

Sumber: https://muslimah.or.id/19187-belajar-memperbaiki-diri.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Nikmat Sehat Walafiat

نعمة الصحة والعافية

Oleh:

Dr. mahmud bin Ahmad ad-Dosari

د. محمود بن أحمد الدوسري

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسوله الكريم، وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد:

أسبغَ اللهُ تعالى علينا نِعَمَه ظاهرةً وباطنة، ومن أجلِّ النِّعم – بعد نعمة الإسلام – نِعْمَةُ الصحة والعافية، والسلامةُ من كلِّ ما يُكدر العيش؛ من الآلام والأسقام والأحزان.

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasul-Nya yang mulia, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du:

Allah Ta’ala telah melimpahkan berbagai kenikmatan bagi kita lahir dan batin, dan di antara kenikmatan terbesar —setelah nikmat Islam— adalah kenikmatan sehat walafiat, dan selamat dari segala hal yang memperkeruh hidup, seperti rasa sakit, penyakit, dan kesedihan.

والصحة تاجٌ على رؤوس الأصِحَّاء لا يعرفها إلاَّ المرضى، ولكن الناس لِطُولِ إِلْفِهِم للصحة والعافية لا يشعرون بها، ولا يقدرونها حقَّ قدرها، وفي خِضَمِّ الأحداث الجارية، وانتشارِ الوباء العام “كورونا” تَنَبَّه الناسُ لِنِعمَةِ العافية؛ خشيةَ أنْ تُسْلَبَ منهم بغتة، ولنتأملْ كيف تعطَّلَتْ مَصالِحُ الدول والأفراد خوفاً من انتشار هذا الوباء، فلو أُصيب الإنسانُ بمرضٍ فإنه لا يجد طعمَ الحياة؛ بل لا يستطيع القيامَ بأمور الحياة على الوجه المطلوب، وربما يتمنَّى البعضُ الموتَ هرباً من آلام المرض، نسأل الله العفو والعافية.

Kesehatan merupakan mahkota di atas kepala orang-orang sehat, yang tidak diketahui nilainya kecuali oleh orang-orang yang sakit. Namun, karena manusia telah terbiasa dengan kesehatan, mereka menjadi tidak merasakannya dan tidak menghargainya dengan selayaknya. Lalu dalam kejadian yang telah berlalu dan tersebarnya wabah virus Korona, manusia kemudian tersadar dengan nikmat kesehatan, karena mereka khawatir kesehatan akan direnggut dari mereka secara tiba-tiba. Perhatikanlah bagaimana kemaslahatan berbagai negara dan pribadi menjadi terhenti karena takut dari paparan wabah ini. 

Ketika seorang insan terkena penyakit, ia tidak lagi dapat merasakan kenikmatan hidup, dan tidak dapat menjalankan urusan-urusan dalam hidup dengan semestinya, dan bahkan terkadang ada sebagian orang yang berharap meninggal dunia karena ingin kabur dari sakitnya penyakit. Kita memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan.

ومن أعظم النِّعم نعمة العافية، التي لا تَطِيبُ الحياةُ إلاَّ بها؛ لذا قال النبيُّ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا» حسن – رواه الترمذي، فالدنيا بحذافيرها لا تَطِيبُ إلاَّ بالأمن والعافية. وامتدح النبيُّ صلى الله عليه وسلم الصِّحةَ بقوله: «لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى، وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى، وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ» صحيح – رواه ابن ماجه.

Salah satu nikmat terbesar adalah nikmat kesehatan, yang kehidupan tidak akan tenteram tanpanya. Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barang siapa di antara kalian yang pada waktu pagi mendapat keamanan di rumahnya, kesehatan pada tubuhnya, dan memiliki makanan untuk harinya itu, maka seakan-akan ia diberikan kepadanya seluruh dunia.” (Hadis hasan, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi).

والأغنياءُ أنفسُهم يغبطون الأصحاءَ على العافية؛ فعن قبيصة بن ذؤيب قال: (كُنَّا نَسْمَعُ نداءَ عبدِ الملكِ من وراءِ الحُجْرةِ في مرضة: يا أهل النِّعَم! لا تستقلُّوا شيئاً من النِّعَم مع العافية). فينبغي على الفقير المُعافَى أنْ يحمد اللهَ تعالى على نِعمةِ العافية، ولا يحسد الأغنياءَ على غِناهم، فكم من غنيٍّ بالمال؛ فقيرٍ بالعافية. فالغِنى لا ينفع صاحِبَه إذا سُلِبت منه العافية، حتى لا يأكل إلاَّ القليل من الأطعمة المعدودة، وكان يُقال: (صِحَّةُ الجِسم، أوفَرُ القِسْم). فمَنْ أُوتِيَ العافيةَ فظنَّ أنَّ أحداً أُعْطِيَ أكثرَ منه؛ فقد قلَّل كثيراً، وكثَّر قليلاً.

Dunia dan seluruh isinya tidak akan menjadi nikmat kecuali diiringi dengan keamanan dan kesehatan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga memuji nikmat kesehatan dengan sabda beliau:

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى، وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى، وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

“Tidak mengapa kekayaan bagi orang yang bertakwa, tapi kesehatan bagi orang yang bertakwa lebih baik daripada kekayaan. Dan kebaikan hati adalah salah satu dari kenikmatan.”  (Hadis shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah).

Orang-orang kaya sendiri juga merasa iri dengan orang-orang sehat atas kesehatan mereka. Diriwayatkan dari Qabishah bin Dzuaib, ia menceritakan, “Dulu kami mendengar teriakan Abdul Malik dari balik kamarnya saat sakitnya, ‘Wahai orang-orang yang mendapat kenikmatan! Janganlah kalian meremehkan kenikmatan sedikit pun jika masih disertai dengan kesehatan!’” 

Oleh sebab itu, hendaklah orang miskin yang sehat tetap bersyukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat kesehatan, dan tidak merasa dengki terhadap orang-orang kaya atas kekayaan mereka, karena betapa banyak orang yang kaya harta tapi miskin kesehatan. Kekayaan tidak akan bermanfaat bagi pemiliknya jika nikmat kesehatan telah dicabut darinya, bahkan ia hanya mampu makan sedikit makanan saja. Ada ungkapan yang berbunyi, “Kesehatan badan merupakan pembagian rezeki yang paling melimpah.” Barang siapa yang dikaruniai kesehatan, lalu ia mengira bahwa ada orang lain yang diberi karunia yang lebih banyak darinya, maka sungguh ia telah menganggap sedikit hal yang banyak, dan menganggap banyak hal yang sedikit.

عباد الله.. فَلْنَشْكُر اللهَ تعالى الذي أسْبَغَ علينا جِلْبابَ الصِّحةَ والعافية، وهو القائل: ﴿ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ ﴾ [إبراهيم: 7]؛ كيف وقد أوجبَ اللهُ علينا شُكْرَ نِعَمِه بقوله تعالى: ﴿ وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ ﴾ [النحل: 114].

Wahai para hamba Allah!

Hendaklah kita bersyukur kepada Allah yang telah mengenakan kepada kita gaun kesehatan walafiat. Allah Ta’ala telah berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ

“Apabila kalian bersyukur, maka pasti Aku akan menambah (kenikmatan itu) bagi kalian” (QS. Ibrahim: 7).

Bagaimana kita enggan bersyukur, sedangkan Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada kita untuk mensyukuri segala nikmat-Nya melalui firman-Nya:

وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan bersyukurlah atas nikmat Allah, jika kepada-Nya kalian menyembah.” (QS. An-Nahl: 114).

الخطبة الثانية

الحمد لله… عباد الله.. من أعظم أسباب الصحة والعافية:

أنْ يعرف المسلمُ عِظَمَ قَدْرِ العافية، ويسعى في اغتنام العمر؛ لأنه قصير، يقول النبيُّ صلى الله عليه وسلم: «اغْتَنِمْ خَمْساً قبْلَ خَمْسٍ: حَياتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وفَراغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وشَبابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ» صحيح – رواه الحاكم. وقال عليه الصلاة والسلام: «نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ» رواه البخاري. ويومَ القيامةِ يُسألُ الإنسانُ عن صِحَّةِ جسمه؛ كما في قوله صلى الله عليه وسلم: «أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يُقَالَ لَهُ: أَلَمْ أُصِحَّ جِسْمَكَ، وَأَرْوِكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ؟» صحيح – رواه ابن حبان والحاكم.

Khutbah Kedua

Segala puji hanya bagi Allah.

Wahai para hamba Allah! Di antara faktor terbesar untuk meraih nikmat sehat walafiat adalah mengetahui besarnya nilai kesehatan, dan berusaha memanfaatkan umur, karena umur itu singkat. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْساً قبْلَ خَمْسٍ: حَياتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وفَراغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وشَبابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ

“Manfaatkanlah lima hal sebelum datang lima hal: pertama, hidupmu sebelum datang matimu, kedua, sehatmu sebelum datang sakitmu, ketiga, waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, keempat, masa mudamu sebelum datang masa tuamu, kelima, dan masa kayamu sebelum datang masa miskinmu.” (Hadis shahih, diriwayatkan oleh Al-Hakim).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu nikmat kesehatan dan kelapangan waktu.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Pada hari Kiamat, manusia akan ditanya tentang kesehatan badannya, sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يُقَالَ لَهُ: أَلَمْ أُصِحَّ جِسْمَكَ، وَأَرْوِكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ؟

“Hal pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari Kiamat adalah akan dikatakan kepadanya, ‘Bukankah Aku telah menjadikan badanmu sehat dan memberimu minuman yang segar?’” (Hadis shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

ومن أسباب الصحة والعافية:

الاشتغال بطاعة الله تعالى: قال ابن القيم – رحمه الله -: (ولا رَيْبَ أنَّ الصلاةَ نفسَها فيها من حِفظِ صحة البدن، وإذابةِ أخلاطِه وفضلاته، ما هو من أنفع شيءٍ له، سوى ما فيها مِن حِفظِ صِحَّةِ الإيمان، وسعادةِ الدنيا والآخرة، وكذلك قيامُ الليل مِن أنفع أسبابِ حفظِ الصحة، ومن أمنعِ الأُمور لكثيرٍ من الأمراض المُزمنة، ومن أنشطِ شيءٍ للبدنِ والرُّوحِ والقلب).

Di antara faktor terbesar untuk meraih nikmat sehat walafiat adalah menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Tidak diragukan bahwa shalat itu sendiri mengandung faktor untuk menjaga kesehatan badan, dan melebur lendir dan kotoran yang ada di badan. Tidak ada yang lebih bermanfaat baginya daripada ini, kecuali manfaat shalat berupa menjaga kesehatan iman, dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Demikian pula shalat malam termasuk faktor yang paling bermanfaat untuk menjaga kesehatan, salah satu pelindung paling kuat dari banyak penyakit kronis, dan salah satu hal yang paling bagus untuk mengaktifkan badan, jiwa, dan hati.”

ومن أسباب الصحة والعافية:

مزاولةُ الأنشطةِ الرياضية، وأكلُ الأطعمة النَّظيفة الصِّحِّية، وحمايةُ الجَسَدِ مِمَّا يَضُرُّه، والمبادرةُ إلى تناول الدواءِ الصحيح في وقته المُناسب، والتَّخلُّصُ من ضغوطات الحياة، قال ابن القيم – رحمه الله -: (ولَمَّا كانت الصَّحةُ والعافيةُ من أجَلِّ نِعَم الله على عبده، وأجْزَلِ عطاياه، وأوفرِ مِنحِه – بل العافيةُ المُطلقةُ أجَلُّ النِّعَمِ على الإطلاق – فحقيقٌ لِمَنْ رُزِقَ حظاً مِن التوفيق مراعاتُها، وحِفظُها، وحِمايتُها عمَّا يُضادها).

Di antara faktor terbesar untuk meraih nikmat sehat walafiat adalah menerapkan aktivitas-aktivitas olahraga, memakan makanan yang bersih dan sehat, menjaga tubuh dari hal-hal yang membahayakannya, dan segera mengonsumsi obat yang benar pada waktu yang tepat, serta menghindari tekanan-tekanan hidup. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Karena sehat walafiat merupakan salah satu nikmat Allah yang paling agung, karunia paling besar, dan pemberian yang paling melimpah bagi hamba-Nya —bahkan bisa dikatakan kesehatan adalah nikmat terbesar itu sendiri— maka sudah selayaknya bagi orang yang dikaruniai nikmat ini untuk memperhatikannya, menjaganya, dan melindunginya dari segala hal yang menyelisihinya.”

Sumber:

https://www.alukah.net/نعمة الصحة والعافية (خطبة)/

IKATLAH NIKMAT DENGAN MENSYUKURINYA

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

“Lihatlah kepada orang-orang yang lebih rendah daripada kalian, dan janganlah kalian melihat kepada orang-orang yang berada di atas kalian. Karena yang demikian itu lebih patut bagi kalian, supaya kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.” [Hadis ini Sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6490); Muslim (no. 2963 (9)), dan ini lafalnya; At-Tirmidzi (no. 2513); dan Ibnu Majah (no. 4142)]

Alangkah agungnya wasiat ini, dan alangkah besar manfaatnya. Kalimat yang menentramkan dan menenangkan. Hadis ini menunjukkan anjuran untuk bersyukur kepada Allah ﷻ dengan mengakui nikmat-nikmat-Nya, membicarakannya, menaati Allah ﷻ, dan melakukan semua sebab yang dapat membantu kita bersyukur kepada-Nya.

Syukur kepada Allah ﷻ adalah inti ibadah, pokok kebaikan, dan merupakan hal yang paling wajib atas manusia. Karena tidak ada pada diri seorang hamba, dari nikmat yang tampak maupun tersembunyi, yang khusus maupun umum, melainkan berasal dari Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. Kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” [QS. An-Nahl/16:53]

Allah ﷻ memberikan berbagai kebaikan, dan menolak kejahatan dan keburukan. Oleh karena itu, seorang hamba harus benar-benar bersyukur kepada-Nya. Hendaknya seorang hamba berusaha dengan segala cara yang dapat mengantarnya dan membantunya untuk bersyukur kepada Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” [QS. Al-Baqarah/2:152]

Dan firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. [QS. Ibrahim/14:7]

Nabi ﷺ dalam hadis di atas telah menunjukkan obat dan faktor yang sangat kuat agar seseorang bisa mensyukuri nikmat Allah ﷻ. Yaitu hendaknya setiap hamba memerhatikan orang yang lebih rendah darinya dalam hal akal, nasab, harta, dan nikmat-nikmat lainnya. Jika seorang terus-menerus melakukan ini, maka ini akan menuntunnya untuk banyak bersyukur kepada Rabb-nya, serta menyanjung-Nya. Karena dia selalu melihat orang-orang yang keadaannya jauh berada di bawahnya dalam hal-hal tersebut. Banyak di antara mereka itu berharap bisa sampai, atau minimal mendekati, apa yang telah diberikan padanya dari nikmat kesehatan, harta, rezeki, fisik, maupun akhlak. Kemudian dia akan banyak memuji Allah ﷻ yang telah memberinya banyak karunia.

Faidah-Faidah Hadis:

1) Anjuran melihat keadaan orang yang berada di bawah kita dalam hal dunia, dan melihat kepada keadaan orang di atas kita dalam hal agama.

2) Melihat kepada yang di atas kita dalam hal dunia akan mengakibatkan seseorang tidak bersyukur atas nikmat yang Allah ﷻ berikan kepadanya, selalu mengeluh, dan bersedih.

3) Melihat kepada di atas kita dalam hal agama akan mengakibatkan seseorang terpacu untuk selalu meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah ﷻ.

4) Anjuran zuhud terhadap kehidupan dunia.

5) Seorang Mukmin hendaknya menjadikan dunia ini di tangannya, dan tidak di dalam hatinya.

6) Larangan meremehkan nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada kita.

7) Seorang Mukmin wajib bersyukur atas nikmat yang Allah ﷻ anugerahkan kepada dia.

8) Bersyukur kepada Allah ﷻ dengan melaksanakan perintah Allah ﷻ, dan menjauhkan larangan-Nya.

9) Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk memohon kepada Allah ﷻ agar kita dapat bersyukur kepada-Nya ﷻ.

10) Keindahan Islam yang telah mengatur semua kehidupan manusia.

Dinukil dari tulisan berjudul “ANJURAN MENSYUKURI NIKMAT” yang ditulis oleh: al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Sumber: https://almanhaj.or.id/12693-anjuran-mensyukuri-nikmat-2.html

Suami Jangan Terlalu Membenci Istri

Suami yang bijak adalah orang yang mau menerima segala kekurangan yang ada pada istrinya. Ia menyadari bahwa tidak ada wanita yang sempurna, yang bisa memenuhi semua harapannya. Inilah salah satu kunci terciptanya keharmonisan rumah tangga, yang selayaknya dimiliki oleh setiap suami.

Pepatah mengatakan “tak ada gading yang tak retak”, tak ada manusia yang sempurna. Kenyataannya memang demikian, siapa pun dia selama dia disebut anak manusia, entah wanita ataupun lelaki, mesti ada kekurangannya, tidak ada yang sempurna dalam segala sisi.

Memang ada manusia yang mempunyai banyak kelebihan namun jumlah mereka pun sedikit.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا النَّاسُ كَاْلإِبِلِ الْمِائَةِ لاَ تَكَادُ تَجِدُ فِيْهَا رَاحِلَةً

“Manusia itu hanyalah seperti seratus ekor unta, yakni hampir-hampir dari seratus unta tersebut engkau tidak dapatkan satu unta pun yang bagus untuk ditunggangi.[1]” (HR. al-Bukhari no. 6498 dan Muslim no. 2547)

Al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Mereka menafsirkan hadits di atas dengan dua sisi.” Beliau lalu menyebutkan sisi pertama. Setelahnya beliau berkata, “Sisi kedua: mayoritas manusia itu memiliki kekurangan. Adapun orang yang memiliki keutamaan dan kelebihan jumlahnya sedikit sekali. Mereka seperti kedudukan unta yang bagus untuk ditunggangi dari sekian unta pengangkut beban.” (Fathul Bari, 11/343)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Orang yang diridhai keadaannya dari kalangan manusia, yang sempurna sifat-sifatnya, indah dipandang mata, kuat menanggung beban (itu sedikit jumlahnya).” (Syarah Shahih Muslim, 16/101)

Ibnu Baththal rahimahullah juga menyatakan yang serupa tentang makna hadits di atas, “Manusia itu jumlahnya banyak, namun yang disenangi dari mereka jumlahnya sedikit.” (Fathul Bari, 11/343)

Dalam kaitannya dengan kehidupan keluarga juga tidak bisa dipisahkan dengan pembicaraan tentang kekurangan dan ketidaksempurnaan manusia ini. Kesiapan menerima pasangan hidup dengan segala kekurangan yang ada padanya menjadi satu kemestian. Karena kita adalah anak manusia yang tidak sempurna, menikah dengan manusia yang tidak sempurna pula. Namun kenyataannya, dalam perjalanan rumah tangga terkadang muncul kekecewaan yang berbuah kebencian terhadap pasangan hidupnya karena kekurangan dimilikinya, walaupun tetap menyadari “tak ada gading yang tak retak”.

Perasaan tidak suka ini bila muncul dari pihak istri maka biasanya ia lebih bisa menekan dan “memaksakan” dirinya untuk tetap menerima suaminya. Beda halnya bila ketidaksukaan itu dirasakan oleh pihak suami, mungkin pada akhirnya kebencian tumbuh di hatinya dan ujungnya vonis talak pun dijatuhkan.

Dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, kita pahami bahwa jarang dijumpai orang yang terkumpul padanya segala kebaikan dan kelebihan. Demikian pula pada diri wanita yang memang diciptakan dari tulang yang bengkok, lebih jarang lagi didapatkan pada mereka segala kebaikan. Terkadang ada wanita yang parasnya cantik namun jelek lisannya. Terkadang ada yang ucapan dan tutur katanya manis memikat namun tidak pandai bergaul dengan suami. Ada yang pandai bergaul dengan suami namun tidak bisa mengurus rumahnya. Ada pula wanita yang jelita, bagus perangainya, pandai bergaul dengan suami, bisa mengatur rumah akan tetapi ia sangat pencemburu atau tidak giat dalam ibadah. Keadaan-keadaan semisal ini harusnya dipahami oleh seorang suami agar ia tidak larut dalam ketidaksukaan kepada istrinya, sebaliknya ia sabarkan dirinya dengan kekurangan yang ada.

Bersabar Terhadap Istri

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا ١٩


“Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan pada dirinya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa: 19)

Dalam tafsir al-Jami’ li Ahkamil Qur’an (5/65), al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al- Qurthubi rahimahullah berkata, “Firman Allah subhanahu wa ta’ala, (“Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka”), dikarenakan parasnya yang buruk atau perangainya yang jelek, namun bukan karena si istri berbuat keji dan nusyuz, maka dianjurkan (bagi si suami) untuk bersabar menanggung kekurangan tersebut, mudah-mudahan hal itu mendatangkan rezeki berupa anak-anak yang saleh yang diperoleh dari istri tersebut.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya terhadap ayat di atas, “Yakni mudah-mudahan kesabaran kalian dengan tetap menahan mereka (para istri dalam ikatan pernikahan), sementara kalian tidak menyukai mereka, akan menjadi kebaikan yang banyak bagi kalian di dunia dan di akhirat sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tentang ayat ini, “Si suami mengasihani (menaruh iba) istri (yang tidak disukainya) hingga Allah subhanahu wa ta’ala berikan rezeki padanya berupa anak dari istri tersebut dan pada anak itu ada kebaikan yang banyak.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/173)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di rahimahullah berkata, “Sepantasnya bagi kalian—wahai para suami—untuk tetap menahan istri (dalam ikatan pernikahan) walaupun kalian tidak suka pada mereka. Karena di balik yang demikian itu ada kebaikan yang besar. Di antaranya adalah berpegang dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan menerima wasiat-Nya yang di dalamnya terdapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kebaikan lainnya adalah dengan ia memaksa dirinya untuk tetap bersama istrinya, dalam keadaan dia tidak mencintainya, ada mujahadatun nafs (perjuangan jiwa) dan berakhlak dengan akhlak yang indah.

Bisa jadi, ketidaksukaan itu akan hilang dan berganti dengan kecintaan sebagaimana (disaksikan dari) kenyataan yang ada. Bisa jadi dia mendapat rezeki berupa seorang anak yang saleh dari istri tersebut, yang memberi manfaat kepada kedua orang tuanya di dunia maupun di akhirat. Tentunya semua ini dilakukan bila memungkinkan untuk tetap menahan istri dalam pernikahan tersebut dan tidak timbul perkara yang dikhawatirkan.

Bila memang harus berpisah dan tidak mungkin untuk tetap seiring bersama, maka si suami tidak dapat dipaksakan untuk tetap menahan istrinya (dalam pernikahan).” (Taisir al-Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hlm. 173) Sehubungan dengan permasalahan ini, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya maka (bisa jadi) ia ridha (senang) dengan tabiat/perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan larangan (untuk membenci), yakni sepantasnya seorang suami tidak membenci istrinya, karena bila ia mendapatkan pada istrinya satu perangai yang tidak ia sukai namun di sisi lain ia bisa dapatkan perangai yang disenanginya pada si istri. Misal, istrinya tidak baik perilakunya akan tetapi ia seorang yang beragama atau berparas cantik atau menjaga kehormatan diri atau bersikap lemah lembut dan halus padanya atau yang semisalnya.” (Syarah Shahih Muslim, 10/58)

Dengan demikian, tidak sepantasnya seorang suami membenci istrinya dengan penuh kebencian hingga membawa dia untuk menceraikannya. Bahkan semestinya dia memaafkan kejelekan istrinya dengan melihat kebaikannya dan menutup mata dari apa yang tidak disukainya dengan melihat apa yang disenanginya dari istrinya.

Ibnul ‘Arabi rahimahullah berkata, Abul Qasim bin Hubaib telah mengabarkan padaku di al-Mahdiyyah, dari Abul Qasim as-Sayuri dari Abu Bakar bin Abdirrahman, ia berkata, adalah asy-Syaikh Abu Muhammad bin Zaid memiliki pengetahuan yang mendalam dalam hal ilmu dan kedudukan yang tinggi dalam agama. Beliau memiliki seorang istri yang buruk pergaulannya dengan suami. Istrinya ini tidak sepenuhnya memenuhi haknya bahkan mengurang-ngurangi dan menyakiti beliau dengan ucapannya.

Ada yang berbicara pada beliau tentang keberadaan istrinya namun beliau memilih untuk tetap bersabar hidup bersama istrinya. Beliau pernah berkata, “Aku adalah orang yang telah dianugerahi kesempurnaan nikmat oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam kesehatan tubuhku, pengetahuanku dan budak yang kumiliki. Mungkin istriku ini diutus sebagai hukuman atas dosaku. Aku khawatir bila aku menceraikannya akan turun padaku hukuman yang lebih keras daripada apa yang selama ini aku dapatkan darinya.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 5/65)

Sulitnya Meluruskan Kebengkokan Istri

Seorang suami tentu tidak boleh berdiam diri membiarkan begitu saja kekurangan yang ada pada istrinya. Dia harus berupaya meluruskannya dengan lembut dan perlahan agar tidak mematahkannya. Tentu saja lurusnya istri tidak bisa sempurna karena akan tetap ada kebengkokan padanya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ، فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ، وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا، وَكَسْرُهَا طَلاقُهَا

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok.[2] Dia tidak akan lurus untukmu di atas satu jalan. Jika engkau bersenang-senang dengannya, maka engkau bisa melakukannya namun padanya ada kebengkokan. Bila engkau paksakan untuk meluruskannya maka engkau akan mematahkannya, dan patahnya itu adalah menceraikannya.[3]” (HR. al-Bukhari no. 5184, Muslim no. 1468)

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ. فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ

“Mintalah wasiat dari diri-diri kalian dalam masalah hak-hak para wanita[4], karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah bagian paling atasnya. Bila engkau paksakan untuk meluruskannya maka engkau akan mematahkannya. Namun bila engkau biarkan, ia akan terus-menerus bengkok. Maka mintalah wasiat dari diri-diri kalian dalam masalah hak-hak para wanita.” (HR. al-Bukhari no. 3331, 5186)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini (ada anjuran untuk) bersikap lembut kepada para istri, berbuat baik kepada mereka, bersabar atas kebengkokan akhlak/perangai mereka serta bersabar dengan kelemahan akal mereka. Hadits ini juga menunjukkan tidak disukainya menceraikan mereka tanpa sebab dan tidak boleh terlalu bersemangat/berlebihan untuk meluruskan mereka, wallahu a’lam.” (Syarah Shahih Muslim, 10/57)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “Dipahami dari hadits ini bahwasanya tidak boleh membiarkan istri di atas kebengkokannya, apabila ia melampaui kekurangan yang merupakan tabiatnya dengan melakukan maksiat atau meninggalkan kewajiban. Adapun dalam perkara-perkara mubah, ia dibiarkan apa adanya.

Hadits ini menunjukkan disenanginya penyesuaian diri untuk menarik jiwa, mengambil dan mendekatkan hati, sebagaimana hadits ini menunjukkan pengaturan terhadap para istri dengan memaafkan mereka dan bersabar atas kebengkokan mereka. Siapa yang hendak meluruskan mereka, maka akan luput darinya kemanfaatan yang diperoleh dari mereka, sementara tidak ada seorang lelaki pun yang tidak merasa butuh terhadap wanita guna memperoleh ketenangan (sakinah) dengannya dan untuk menolongnya dalam kehidupannya. Seakan-akan bisa dikatakan: Bernikmat-nikmat dengan wanita (istri) tidak akan sempurna kecuali dengan bersabar terhadap mereka.” (Fathul Bari, 9/306)

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

[1] Rahilah adalah unta yang cerdik, pilihan dan bagus untuk ditunggangi ataupun untuk keperluan lainnya karena sifat-sifatnya yang sempurna. (Syarah Shahih Muslim, 16/101)

[2] Dalam hadits ini ada dalil terhadap ucapan fuqaha atau sebagian mereka bahwasanya Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Allah I berfirman:

خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا

“Dia menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan Dia menciptakan dari jiwa yang satu itu pasangannya.” (Syarah Shahih Muslim, 10/57)

[3] Bila engkau menginginkan istrimu untuk meninggalkan kebengkokannya maka ujung dari perkara ini adalah berpisah (cerai) dengannya. (Fathul Bari, 6/447)

[4] Atau dengan makna: Aku wasiatkan kalian agar berbuat kebaikan terhadap para wanita maka terimalah wasiatku ini tentang perkara mereka dan amalkanlah. (Fathul Bari, 9/306)

sumber: https://asysyariah.com/jangan-terlalu-membenci-istri/