Tidak harus ganti baru

Suatu barang selama masih bisa diperbaiki, hendaklah diperbaiki tanpa mesti beli yang baru. Memperbaiki barang yang rusak ini tanda kalau seseorang bersikap sederhana dan selalu menjaga harta. (Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:103)

dalilnya hadits berikut;

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضي الله عنه – – أَنَّ قَدَحَ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – اِنْكَسَرَ، فَاتَّخَذَ مَكَانَ الشَّعْبِ سِلْسِلَةً مِنْ فِضَّةٍ. – أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa bejana Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam retak, lalu beliau menambal tempat yang retak itu dengan pengikat dari perak. (Diriwayatkan oleh Bukhari). [HR. Bukhari, no. 3109]

Faedah hadits

Boleh memperbaiki wadah yang retak dengan ikatan atau potongan perak ketika butuh karena maslahatnya ketika itu nampak.

Yang digunakan untuk menambal di sini adalah perak, tidak boleh dengan emas karena emas lebih mahal dan lebih tegas dilarang.

Suatu barang selama bisa diperbaiki, hendaklah diperbaiki tanpa mesti beli yang baru.

selengkapnya : https://rumaysho.com/24731-bulughul-maram-tentang-bejana-bahas-tuntas.html

Tentang Pergaulan

Syaikh Al ‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Bila zaman telah rusak dan engkau melihat bahwa bergaul dengan manusia hanya akan menambah keburukan dan semakin jauh dari Allah Ta’ala, maka sebaiknya engkau menyendiri..”

(Syarah Riyadhush Sholihin – 5/534)

Terkadang menyendiri lebih baik dari pada bergaul..
Bila bergaul hanya akan menjerumuskan kepada keburukan..

Namun jika tidak, maka bergaul itu lebih baik..
Karena dengan bergaul kita dapat mempraktekan akhlak dan menebar kebaikan..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/69571

Diantara Bentuk Buruk Sangka Kepada Allah

Al Imam Asy Syafi’i rohimahullahu Ta’ala ditanya,

Bagaimanakah bentuk su’udzon (buruk sangka) kepada Allah..?

Beliau rohimahullah berkata,

– rasa was was,
– selalu kawatir akan terjadi musibah,
– kawatir akan hilangnya nikmat darinya,
maka itu semua adalah bentuk buruk sangka kepada Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

(Hilyatul Auliya’ – 9/123)

Takut akan masa depan bukanlah sifat orang yang bertawakal kepada Allah..

Kewajiban hamba adalah menyerahkan urusannya kepada Allah .. dan yakin bahwa Allah tidak akan menyia nyiakan hamba-Nya yang bertakwa..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/71257

Karena Setiap Kita Akan Diuji

Hati mana yang tidak bersedih, ketika yang dicinta telah pergi..

maka engkau pun bersedih, lalu menangis..

Hati mana yang tidak bersedih, ketika musibah datang silih berganti

maka engkau pun bersedih, lalu menangis..

Saudaraku, dalam menapaki kehidupan dunia yang fana ini, kita senantiasa dihadapkan pada dua keadaan, bahagia atau sengsara. Perubahan keadaan itu bisa terjadi kapan saja sesuai dengan takdir Allah Ta’ala. Sementara semenjak diciptakan, tabiat dasar manusia memang tidak pernah merasa puas. Apabila diberi kesenangan, manusia lalai dan tak menentu. Sebaliknya jika diberi kesulitan, ia akan bersedih dan gundah gulana tak karuan. Padahal sejatinya bagi seorang mukmin, segala yang terjadi pada dirinya, seharusnya tetap menjadi kebaikan bagi dirinya. Begitulah keistimewaan seorang mukmin sejati. Hal ini ditunjukkan dalam sebuah sabda yang diucapkan oleh pemimpin dan suri tauladan bagi orang-orang yang bertakwa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عجب. مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضَاءٍ إِلاَ كَانَ خَيْرًا لَهُ, إِِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan  keadaan seorang mukmin. Segala keadaan yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila dia mengalami kebaikan, dia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa keburukan, maka dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim no.2999, dari sahabat Shuhaib)

Benarlah, bahwasanya hanya orang yang beriman yang bisa lurus dalam menyikapi silih bergantinya situasi dan kondisi. Hal ini karena ia meyakini keagungan dan kekuasaan Allah Ta’ala serta tahu akan kelemahan dirinya. Tidak dipungkiri memang, musibah dan bencana akan selalu menyisakan kesedihan dan kepedihan. Betapa tidak, orang yang dicinta kini telah tiada, harta benda musnah tak bersisa, berbagai agenda tertunda, bahkan segenap waktu dan perasaan tercurah untuk memikirkannya.

Hakikat Musibah

Musibah adalah perkara yang tidak disukai yang menimpa manusia. Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan: “Musibah adalah segala apa yang mengganggu seorang mukmin dan yang menimpanya.” (Al-Jami’li Ahkamil Qur’an, 2/175)

تُرْجَعُونَ وَإِلَيْنَا فِتْنَةً وَالْخَيْرِ بِالشَّرِّ وَنَبْلُوكُمْ الْمَوْتِ ذَائِقَةُ نَفْسٍ كُلُّ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Dunia ini adalah medan perjuangan seorang mukmin untuk menjadi sebaik-baik hamba. Allah Ta’ala berfirman :

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2)

Pentingnya Istirja’ Ketika Datang Musibah

Istirja’ adalah ucapan إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهَ رَاجِعُونَ yang artinya “Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.”

Shahabiyah Ummu Salamah radhiyallahu’anha menyebutkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,

:مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ
اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا خْلَفَ وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا؛ إِلاَّ أَ مُصِيْبَتِي إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي

“Tiada seorang muslim yang ditimpa musibah lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah (yaitu): ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, wahai Allah, berilah aku pahala pada (musibah) yang menimpaku dan berilah ganti bagiku yang lebih baik darinya’; kecuali Allah memberikan kepadanya yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim no.918)

Kalimat istirja’ adalah obat termanjur bagi mereka yang tertimpa musibah dan paling berguna bagi seorang hamba di dunia dan di akhirat karena ia mengandung dua pondasi dasar yang apabila seorang hamba merealisasikan dengan mengetahui dua pondasi tersebut, insya Allah dirinya terhibur dari musibah tersebut.

Pondasi pertama adalah hendaknya seorang hamba itu mengakui bahwa dirinya, keluarganya, harta dan anaknya pada hakikatnya adalah milik Allah Ta’ala. Dia hanya menitipkannya pada seorang hamba. Apabila Dia mengambilnya, ibarat pemilik barang mengambil barangnya yang dipinjam orang lain

Pondasi kedua adalah bahwasanya tempat kembali dan akhir perjalanan seorang hamba adalah kepada “Pemilik” yang sesungguhnya. Suatu masa, ia harus meninggalkan dunia ini di belakang punggungnya, dan datang mengharap Rabbnya di hari akhir nanti seorang diri, sebagaimana Allah Ta’ala menciptakannya pertama kali, tanpa keluarga, harta, teman.  Seseorang tidak akan membawa apapun kecuali amal kebaikan dan keburukan di akhirat nanti. Karena itu, dengan mengetahui dan menyadari keadaan seorang hamba di awal penciptaan dan di akhir kehidupan dunia, bagaimana mungkin ia akan akan bergembira atau bersedih karena berpisah dengan sesuatu yang sejatinya bukan miliknya?

Penawar Kesedihan

Sebagian orang beranggapan bahwa orang yang ditimpa musibah seperti sakit dan semisalnya adalah orang yang dimurkai Allah Ta’ala, padahal tidaklah demikian kenyataannya. Terkadang seseorang diuji dengan penyakit dan musibah padahal ia seorang yang mulia di sisi-Nya seperti para nabi, rasul dan orang shalih. Musibah yang menimpa mereka tidak lain adalah untuk mengangkat kedudukan mereka dan dibesarkannya pahala serta sebagai contoh kesabaran bagi orang yang datang setelah mereka.

Terkadang seorang diuji dengan kesenangan seperti harta yang banyak, anak-anak, istri dan lainnya, akan tetapi tidak sepantasnya dikatakan orang yang dicintai Allah Ta’ala jika tidak melakukan ketaatan kepada-Nya atau justru terlena karenanya. Orang yang mendapat berbagai kenikmatan bisa jadi memang termasuk orang yang dicintai Allah Ta’ala atau bahkan sebaliknya.

Seorang mukmin hendaknya yakin bahwa apa yang ditakdirkan Allah Ta’ala niscaya akan menimpanya dan tidak meleset sedikitpun. Sedangkan apa yang tidak ditakdirkan oleh-Nya pasti tidak akan menimpanya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya :

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikan itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”(Al Hadid: 22-23)

Ingatlah Saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.”(HR. Tirmidzi, shahih)

Ada Faedah di Balik Musibah

Saudaraku, sesungguhnya musibah yang menimpa, tak lain adalah sarana penggugur dosa seorang hamba, seperti yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Ujian akan terus datang kepada seorang mukmin atau mukminah mengenai jasadnya, hartanya, dan anaknya sehingga ia menghadap Allah tanpa membawa dosa.” (HR. Ahmad, hasan shahih)

Allah Maha Bijaksana, tiada keputusan dan ketentuan-Nya yang lepas dari hikmah. Tak terkecuali dengan perkara musibah ini. Kalaulah seandainya tidak ada faedah dari musibah ini kecuali sebagai penghapus dosa dimana itu saja sudah mencukupi, apatah lagi jika di sana ada setumpuk faedah? Subhanallah!

Terakhir, mari kita perhatikan nasihat Ibnu Qayyim rahimahullah berikut ; “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali.red). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lamu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qadir Jawaz)

***

Penulis: Novia Kurniawati Ummu Ilyas

Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Maraji’ :

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/4041-karena-setiap-kita-akan-diuji.html

Orang Yang Panjang Penderitaannya

Asy Syathibi rohimahullah berkata,

“Orang yang penderitaannya panjang adalah orang yang wafat namun dosa dosanya terus mengalir selama seratus, dua ratus tahun, dan ia terus diadzab di kuburnya sebab dosa tersebut..”

(Al Muwafaqot 1/361)

Akibat dosa yang diwariskan..
Merasa suka jika manusia mencontoh perbuatannya yang nista..

Sehingga ia menanggung dosa dosa mereka..
dan terus diadzab di kuburnya selama dosa itu masih diikuti manusia..

Nabi shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda,

وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Dan siapa yang mecontohkan perbuatan yang buruk dalam islam lalu diamalkan (oleh manusia) setelah wafatnya maka ditulis untuknya dosa semua orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun..” (HR. Muslim no 1017)

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/71317

Yang Kau Perlakukan adalah Gelas Kaca dan Tulang Rusuk yang Bengkok

Saudaraku, ingat yang kau perlakukan adalah gelas-gelas kaca dan tulang rusuk yang bengkok …

Jaga kata-kata, walaupun lagi kesel, capek, sayah, jagalah perasaan istri. Memperlakukan istri beda sekali dengan memperlakukan pria.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ ، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَىْءٍ فِى الضِّلَعِ أَعْلاَهُ ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ

“Berbuat baiklah pada para wanita. Karena wanita diciptakan dari tulang rusuk. Yang namanya tulang rusuk, bagian atasnya itu bengkok. Jika engkau mencoba untuk meluruskannya (dengan kasar), engkau akan mematahkannya. Jika engkau membiarkannya, tetap saja tulang tersebut bengkok. Berbuat baiklah pada para wanita.” (HR. Bukhari, no. 3331 dan Muslim, no. 1468)

Lihatlah ungkapan yang bagus dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‎اِرْفَقْ بِالْقَوارِيْرِ

“Lembutlah kepada gelas-gelas kaca (maksudnya para wanita).” (HR. Bukhari, no. 5856; Muslim, no. 2323)

Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‎إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنَ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (menjadikan sesuatu itu indah). Tidaklah dihilangkan kelembutan itu dari sesuatu melainkan akan memperjeleknya.” (HR. Muslim, no. 2594)

Dalam hadits lainnya disebutkan,

‎وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِي عَلَى سِوَاهُ

“Dan Allah memberikan kepada sikap lembut itu dengan apa yang tidak Dia berikan kepada sikap kaku/ kasar dan dengan apa yang tidak Dia berikan kepada selainnya.” (HR. Muslim, no. 2593)

Moga jadi renungan untuk diri kami pribadi serta setiap orang yang mau mengambil pelajaran.

—

Al-faqir ila maghfirati Rabbihi:

Muhammad Abduh Tuasikal

Jogja, 6 Jumadats Tsaniyyah 1439 H (22-2-2018)

Sumber https://rumaysho.com/17240-yang-kau-perlakukan-adalah-gelas-kaca-dan-tulang-rusuk-yang-bengkok.html

Jiwa Yang Mulia

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

النفوس الشريفة لا ترضى من الأشياء إلا بأعلاها وأفضلها وأحمدها عاقبة، والنفوس الدنيئة تحوم حول الدناءات وتقع عليها كما يقع الذباب على الأقذار، فالنفس الشريفة العلية لا ترضى بالظلم ولا بالفواحش، والنفس الحقيرة والخسيسة بالضد من ذلك

“Jiwa yang mulia tidak ridho kecuali kepada sesuatu yang mulia, paling utama dan terpuji.

Sedangkan jiwa yang rendah selalu berkutat di sekitar perkara yang rendah. Sebagaimana lalat yang suka hinggap pada kotoran.

Jiwa yang mulia tidak tidak ridho kepada kezholiman dan perbuatan keji.

Sedangkan jiwa yang buruk dan rendah sebaliknya..” (Al Fawaid hal. 178)

Bila kita ingin mengetahui bagaimana jiwa kita..
Maka lihatlah kepada apa keinginan kita..

Jika selalu menginginkan kebaikan, ketaatan dan taqwa..
Maka itulah jiwa yang mulia..

Namun jika lebih menyukai maksiat, zholim dan perbuatan jelek..
Maka itulah keadaan jiwa kita..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/70910

Hartaku Untuk Surgaku

Allah ta’ala memberi tahu mengenai orang yang paling baiknya bicara. Dia berfirman:

(لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا)

Artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” (QS. An-Nisa’ 114).

Inilah yang bermanfaat bagi manusia di dunia dan di akhirat.

Allah ta’ala memberi kita nikmat diantaranya adalah harta kita, yang mana tidak ada makhluk yang mendapatkan dan merasakan nikmat sebagaimana manusia, seperti; gajah dia tidak mampu untuk memproduksi sesuatu sebagaimana layaknya manusia. Hal itu dikarenakan Allah ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَق َلَكُم ماَ فِي الأَرضِ جَمِيعا ً

Artinya: “Dialah yang menciptakan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini untuk kalian (manusia)“. (QS. Al Baqarah: 29).

Namun dibalik itu semua apabila tidak mampu menginfaqkan harta kita yang itu merupakan nikmat Allah maka bahayanya melebihi bahaya hewan / bahaya makhluk lain. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

إِن َّلِكُل ِّأُمَّةٍ فِتْنَةٌ وَ فِتٔنةُ أمَّتِي المَالُ

Artinya: “sesungguhnya setiap ummat itu memiliki fitnah ( ujian ) dan fitnah ummatku adalah harta“.

Banyak sekali orang yang hancur dikarenakan hartanya. Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُم لِيَصُدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ

Artinya: “Dan orang-orang kafir mereka menginfaqkan harta mereka untuk menghalang – halangi dan jalan Allah“.

Allah berfirman:

إِنَّمـَا أَمْوَالَكُم وَأَولَادُكُم فِتْنَةٌ

Artinya: “Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian adalah ujian“.

Perlu diketahui bahwasannya apabila Allah memberi harta yang banyak kepada seseorang bukan berarti Allah telah memuliakannya dan bukan berarti dengan Allah menyempitkan rizqi seseorang berarti Allah telah menghinakannya. Namun sesungguhnya seseorang yang memiliki harta yang banyak dan sedikit dia mampu menjadi mulia apabila kita gunakan untuk infaq dijalan Allah.

Allah berfirman:

الذين ينفقون أموالهم با لليل والنهار سرا وعلانية فلهم أجرهم عند ربهم

Artinya: “Orang – orang yang menginfaqkan harta mereka pada malam hari dan siang hati dalam keadaan sembunyi – sembunyi dan terang – terangan maka baginyalah pahala disisi Rabb mereka” (QS. Al Baqoroh: 274).

Pada ayat diatas adalah isim maushul yang itu menunjukkan umum, yang berarti bukan hanya orang kaya saja. Inilah janjinya bagi orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah, dan inilah makna “hartaku untuk surgaku” .

Sesungguhnya harta yang Allah berikan kepada kita baik sedikit maupun banyak maka akan ditanya oleh Allah ta’ala, oleh karena itu mari kita siapkan jawaban kita. Allah ta’ala berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Artinya : “Dan kamu benar -benar akan ditanya tentang nikmat yang diberikan kepadamu” (QS. At-Takathur 8).

Harta adalah amanah yang dititipkan Allah kita oleh karena itu jangan sampai kita abaikan karena itu semuanya akan ditanya. Kenapa kita harus menginfaqkan harta kita di jalan Allah yang menuju ke Surga? Banyak sekali jawabannya, diantaranya:

Pertama: Karena perintah Allah ta’ala, Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ

Artinya: “Dan carilah dengan apa -apa yang Allah berikan kepadamu negeri akhirat” (QS. Al-Qasas 77).

Kedua: Harta yang kita nikmati di dunia ini sedikit sekali sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan yang artinya : Berkata Bani adam “Ini hartaku, ini hartaku“. Lalu Rosululloh Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Kamu tidak memiliki harta apapun kecuali shodaqoh yang telah engkau keluarkan atau makanan yang telah engkau makan, atau pakaian yang telah engkau pakai yang telah usang, maka itulah milikmu”.

Ketiga: Orang yang meninggal tidak akan dikubur bersama hartanya, semuanya harus ditinggal. Namun yang dibawanya adalah amalnya.

Keempat: Surga itu dibeli dengan infaq. Allah ta’ala berfirman:

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: “Dan itulah surga yang engkau warisi dengan sebab aoa yang telah engkau amalkan” (QS. Az-Zukhruf 72).

Yaitu amal sholih, termasuk kedalamnya adalah kedermawanan orang yang berinfaq. Lihatlah Abu Tholhah, saat beliau mendengar nabi membacakan ayat :

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Artinya : “Kalian tidak akan mendapatkan surga sampai kalian menginfaqkan apa-apa yang kalian cintai” (Surat Ali-Imran 92).

Datanglah Abu Tholhah dan berkata: ” Wahai Nabi, aku mempunyai tanah di Buwairuhah, tanah yang paling bagus, berapun harganya dia takkan dijual, silahkan gunakan lebun ini untuk di jalan Allah”. Lalu apa yang dikatakan Nabi kepadanya? Beliau berkata: “Bagikanlah kepada keluargamu yang terdekat yang miskin“.

Kelima: Hidup kita di dunia ini sangatlah sebentar , sedangkan akherat adalah kekal. Allah berfirman :

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ

Artinya: “Katakanlah, kenikmatan dunia adalah sedikit dan akherat adalah lebih baik bagi orang yang bertaqwa” (Surat An-Nisa’ 77).

Dan solusi agar kita dapat berinfaq adalah, dengan hidup sederhana. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

انظر إلى من هو أسفل منكم ولا تنظر إلى من هو فوقكم

Artinya: “Lihatlah kepada yang dibawah kalian dan jangan lihat kepada yang di atas kalian (dalam urusan dunia)”

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda, pada hadits yang diriwayatkan oleh muslim dari sahabat Abu Hurairah:

إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به وولد صالح يدعو له

Artinya: “Apabila anak Adam telah meninggal maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu *shodaqoh jariyah*, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya“.

Syaikh Bin Baz mengatakan yang dimaksud shodaqoh jariyah adalah : Yang terus menerus bermanfaat seperti waqaf masjid, atau bangunan yang disewakan lalu hasilnya dishodaqohkan atau kebun / sawah yang disedekahkan.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الصدقة لاتنقص المال

Artinya: “Shodaqoh itu tidak mengurangi harta“.

Dan sebaliknya apabila ada orang kaya atau pengusaha yang bangkrut maka sesungguhnya itu adalah karena akibat dosanya sendiri, sebagaimana Allah berfirman :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Artinya: “Dan tidaklah musibah itu menimpamu kecuali karena perbuatan yang telah kalian perbuat, dan Allah telah banyak mengampuni kalian” (QS. Ash-Shura 30).

***

Penulis: Ust. Aunur Rofiq Ghufron, Lc.
Sumber: https://muslim.or.id/29468-hartaku-untuk-surgaku.html

Jika Diberi Hadiah, Apakah Wajib Membalasnya?

Memberi hadiah merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang telah dikenal sejak dahulu dalam kehidupan manusia. Hampir di setiap masyarakat, hadiah menjadi simbol penghormatan, kasih sayang, persahabatan, atau rasa terima kasih. Dalam Islam, praktik memberi hadiah bukan sekadar kebiasaan sosial, tetapi juga termasuk bagian dari akhlak yang dianjurkan oleh syariat.

Hadiah dapat mempererat hubungan antarindividu, menumbuhkan rasa cinta, menghilangkan permusuhan, dan memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk saling memberi hadiah sebagai sarana memperbaiki hubungan dan menumbuhkan kasih sayang.

Namun sering muncul pertanyaan yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari: jika seseorang memberi kita hadiah, apakah kita wajib membalasnya? Apakah tidak membalas hadiah termasuk dosa? Ataukah sekadar masalah adab dan kesempurnaan akhlak?

Melalui pembahasan ini, akan tampak bahwa Islam tidak hanya mengatur hukum secara kaku, tetapi juga membimbing manusia menuju akhlak yang luhur.

Kedudukan hadiah dalam Islam

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk saling memberi hadiah. Hal ini karena hadiah memiliki pengaruh besar dalam melembutkan hati manusia dan mempererat hubungan sosial. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَهَادُوا تَحَابُّوا

“Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad dan dinilai hasan oleh para ulama.)

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan seorang muslim untuk memberi hadiah kepada saudaranya sesama muslim, baik hadiah yang besar maupun yang sederhana. Sebab, saling memberi hadiah dapat menumbuhkan rasa kasih sayang, mempererat hubungan, dan menyatukan hati di antara sesama. Selain itu, menerima hadiah juga termasuk sunah. Dari hadis ini dapat diambil faidah bahwa memberi hadiah merupakan amalan yang dianjurkan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan hadiah menjadi salah satu sebab tumbuhnya cinta serta kedekatan antarsesama. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha melakukan segala hal yang dapat mendatangkan kasih sayang dan keharmonisan dengan orang lain, baik melalui pemberian hadiah, sikap yang lembut, perkataan yang baik, maupun wajah yang ceria sesuai dengan kemampuannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri dikenal sering menerima hadiah dan juga membalasnya. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari para sahabat maupun dari pemimpin negeri lain, kemudian beliau membalasnya dengan hadiah pula. Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,

أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، كان يقبلُ الهديةَ ، ويُثيبُ عليها

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dan membalasnya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lafaz ini miliknya, serta diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dengan sedikit perbedaan lafaz.)

Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menerima sedekah karena sedekah diharamkan bagi beliau dan keluarganya. Hal ini menunjukkan perbedaan antara hadiah dan sedekah dalam syariat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أخَذَ الحَسَنُ بنُ عَليٍّ رَضيَ اللهُ عنهما تَمرةً مِن تَمرِ الصَّدَقةِ، فجَعَلَها في فيه، فقال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: كِخْ كِخْ. ليَطرَحَها، ثُمَّ قال: أما شَعَرتَ أنَّا لا نَأكُلُ الصَّدَقةَ

“Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma mengambil satu butir kurma dari kurma sedekah, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kikh, kikh’ (ungkapan agar membuang sesuatu), supaya ia membuangnya. Kemudian beliau bersabda, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa kami tidak memakan sedekah?’” (HR. Bukhari)

Hadiah adalah pemberian yang bertujuan untuk menghormati atau mempererat hubungan, sedangkan sedekah diberikan kepada orang yang membutuhkan sebagai bentuk ibadah dan kepedulian sosial.

Hukum membalas hadiah

Dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan sebelumnya, hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya menerima hadiah, tetapi juga memberikan balasan kepada orang yang memberinya hadiah sebagai bentuk penghargaan dan kebaikan.

Yang dimaksud dengan membalas hadiah adalah memberikan pengganti, balasan, atau penghormatan kepada orang yang telah memberikan hadiah. Dalam hadis disebutkan,

وَيُثِيبُ عَلَيْهَا

Kata “الثواب” dalam hadis bermakna الجزاء والمكافأة, yaitu balasan dan penghargaan atas kebaikan seseorang.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa membalas hadiah hukumnya sunah dan dianjurkan. Hal ini termasuk akhlak mulia dan bentuk menjaga hubungan baik antarsesama.

Konsep syukur kepada manusia

Membalas hadiah juga berkaitan erat dengan konsep syukur dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ

“Barang siapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa menghargai kebaikan manusia termasuk bagian dari syukur kepada Allah. Bentuk syukur kepada manusia dapat dilakukan dengan beberapa cara:

1) Mengucapkan terima kasih.

2) Mendoakan kebaikan bagi mereka.

3) Membalas kebaikan mereka.

4) Tidak melupakan jasa mereka.

Dengan demikian, membalas hadiah termasuk bentuk syukur kepada manusia.

Jika tidak mampu membalas dengan hadiah

Tidak semua orang mampu membalas hadiah dengan hadiah lain. Kadang seseorang menerima hadiah dari orang lain yang lebih kaya atau lebih mampu. Tidak perlu bersedih, Islam memberikan solusi yang sangat indah dalam situasi seperti ini, yaitu dengan mendoakan orang yang memberikan hadiah.

Doa yang paling dianjurkan ketika menerima kebaikan adalah:

جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا

“Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من صُنعَ إليهِ معروفٌ فقالَ لفاعلهِ جزاكَ اللَّهُ خيرًا فقد أبلغَ في الثَّناءِ

“Barang siapa diberi suatu kebaikan, lalu ia berkata kepada orang yang melakukannya, ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan),’ maka sungguh ia telah memberikan pujian yang paling sempurna.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Dengan demikian, walaupun seseorang tidak mampu membalas hadiah secara materi, ia tetap dapat membalasnya dengan doa yang tulus.

Membalas dengan yang lebih baik

Islam mendorong umatnya untuk membalas kebaikan dengan yang lebih baik. Allah Azza wa Jalla berfirman,

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman: 60)

Oleh karena itu, jika seseorang memberi hadiah kepada kita, dianjurkan untuk membalas dengan hadiah yang setara atau lebih baik, sesuai kemampuan. Hal ini bukan untuk menunjukkan persaingan atau pamer, tetapi sebagai bentuk penghargaan terhadap kebaikan orang lain.

Bahaya tidak membalas karena kesombongan

Tidak membalas hadiah karena tidak mampu bukanlah dosa. Namun, jika seseorang tidak membalas karena sombong atau meremehkan pemberi hadiah, maka hal itu termasuk sikap tercela. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يدخلُ الجنةَ مَنْ كان في قلبِهِ مِثقالُ ذرَّةٍ من كِبرٍ ، قِيلَ : إنَّ الرجُلَ يُحبُّ أنْ يكونَ ثوبُهُ حسنًا ، ونعلُهُ حسنةً ، قال : إنَّ اللهَ جميلٌ يُحبُّ الجمالَ ، الكِبرُ بطَرُ الحقِّ ، و غمْطُ الناسِ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji zarrah.”

Lalu ada yang berkata, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Sering kali nilai hadiah tidak terletak pada harganya, tetapi pada perhatian dan kasih sayang yang menyertainya. Meremehkan hadiah berarti meremehkan perasaan pemberinya.

Memberi hadiah dengan harapan balasan

Bagaimana jika seseorang memberi hadiah dengan harapan mendapatkan balasan yang lebih besar? Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ

“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS. Al-Muddatstsir: 6)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang memberi tanpa mengharapkan balasan,

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Kami memberi makan kepada kalian hanya karena mengharap wajah Allah; kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)

Perbedaan antara hadiah dan suap

Perlu dibedakan antara hadiah yang murni dengan hadiah yang bertujuan mempengaruhi keputusan atau memperoleh keuntungan yang tidak sah. Jika hadiah diberikan untuk mempengaruhi keputusan hakim, pejabat, atau seseorang yang memiliki kekuasaan, maka ia termasuk suap.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لعنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الرَّاشي والمُرتَشي

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemberi suap dan penerima suap.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Oleh karena itu, hadiah yang bertujuan mempengaruhi keputusan tidak termasuk hadiah yang dianjurkan dalam Islam.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa poin penting:

1) Memberi hadiah merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam Islam karena dapat mempererat hubungan dan menumbuhkan kasih sayang.

2) Membalas hadiah tidak wajib secara hukum fikih, tetapi sangat dianjurkan.

3) Dianjurkan membalas dengan yang setara atau lebih baik sesuai kemampuan.

4) Jika tidak mampu membalas secara materi, maka doa yang tulus sudah mencukupi.

5) Tidak membalas karena kesombongan atau meremehkan pemberi hadiah termasuk akhlak tercela.

6) Memberi hadiah hendaknya dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah, bukan demi balasan dunia.

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan akhlak. Banyak perkara yang tidak diwajibkan secara hukum, tetapi sangat dianjurkan sebagai bentuk kesempurnaan iman. Membalas hadiah adalah salah satu bentuk penghargaan terhadap kebaikan orang lain dan bagian dari syukur kepada manusia. Kadang hadiah tidak bernilai besar secara materi, tetapi memiliki makna besar dalam hubungan sosial. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha menjadi orang yang tidak melupakan kebaikan orang lain dan selalu membalasnya dengan kebaikan pula.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memiliki akhlak yang mulia, menghargai kebaikan sesama, dan membalasnya dengan kebaikan yang lebih baik.

Wallahu Ta‘ala a‘lam.

***

Diselesaikan di Jember, 12 Zulhijah 1447

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

sumber: https://muslim.or.id/116188-jika-diberi-hadiah-apakah-wajib-membalasnya.html

Doa Agar Istiqomah

Ingatlah, kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik. Oleh karenanya, doa yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)”.

Cerita lengkapnya bisa dilihat dalam hadits berikut.

Syahr bin Hawsyab berkata bahwa ia berkata pada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah,

يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ

“Wahai Ummul Mukminin, apa doa yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berada di sisimu?”

Ummu Salamah menjawab,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ »

“Yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.”.

Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdoa dengan doa, ‘Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.”

Setelah itu Mu‘adz bin Mu‘adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami”. (QS. Ali Imran [3]: 8 )

(HR. Tirmidzi No. 3522 dan Ahmad [6/315]. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

sumber : Doa Agar Istiqomah – Indonesia Bertauhid