Berlindung Dari Godaan Setan

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98).

Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya pujian, pujian yang sebaik-baiknya lagi diberkahi. Segala pujian bagi Allah, Zat yang menyeru hamba-Nya menuju pintu-pintu rahmat-Nya, yang memberi kenikmatan dengan menurunkan al-Quran, di dalamnya terdapat petunjuk tatanan kehidupan yang damai dan sejahtera di dunia, dan menjanjikan sebuah kepastian kenikmatan yang sempurna di alam akhirat. Kita memuji-Nya atas kenikmatan-Nya yang banyak, juga atas petunjuk dan kemudahan jalan meraihnya dengan kitab-Nya, semoga kita termasuk orang-orang yang dijanjikan akan meraih kesempurnaan kenikmatan-Nya. Sesungguhnya, membaca al-Quran adalah amalan yang memiliki keutamaan sangat besar. Mereka para pembaca al-Quran adalah kaum yang terpuji, di mana Allah memuji mereka dengan firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Ada beberapa adab membaca al-Quran, namun tidak akan kita bahas semuanya, hanya terfokus pada firman Allah dalam Surat an-Nahl ayat 98 di atas saja, yaitu perintah ber-isti’adzah, berlindung kepada Allah dari godaan setan saat hendak membacanya. Sekelumit tentang berlindung kepada Allah dari setan serta hal-hal terkait dengannya akan kita sajikan di sini pada edisi kali ini, semoga Allah memudahkannya dan memberkahinya. Amin.

Penjelasan Kata-kata

اَلْقُرْآنَ : ialah kalam (firman) Allah, yang diturunkan dari sisi-Nya ke dalam dada Rasul-Nya, penutup para nabi dan rasul, Muhammad, yang diawali dengan Surat al-Fatihah dan diakhiri dengan Surat an-Nas (Ushulun fit Tafsir, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin).

فَاسْتَعِذْ : ber-isti’adzah-lah kepada Allah, yaitu membaca “at-ta’awwudz”, kalimat berlindung kepada Allah dari godaan setan.

اَللَّهِ : ialah lafzhul jalalah, yaitu sebuah nama khusus bagi Zat yang berhak dipertuhankan oleh segala sesuatu dan yang berhak diibadahi oleh seluruh makhluk-Nya (Taisirul Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dan Tafsir ath-Thabari, 1/67), di antaranya sebab Ia adalah Zat yang bersifat melindungi hamba-Nya.

مِنَ الشَّيْطَانِ : dari setan, yaitu dari Iblis dan anak keturunannya serta pengikut-pengikutnya baik dari golongan jin, manusia maupun golongan binatang (Tafsir ath-Thabari, 1/57).

اَلرَّجِيْمِ : yang dilaknat, berarti yang dihalangi dan dijauhkan dari rahmat Allah.

Makna umum ayat

Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan agar siapa saja yang hendak membaca al-Quran, di mana ia merupakan semulia-mulianya dan seagung-agungnya kitab, di dalamnya terdapat kebaikan hati, ilmu pengetahuan agama yang sangat banyak, hendaknya berlindung kepada Allah dari godaan setan dengan ber-isti’adzah. Sebab setan itu sangat kuat kemauannya untuk berusaha sekuat daya upayanya memalingkan hamba dari maksud-maksud dan tujuan-tujuan baiknya ketika ia hendak memulai melakukan amalan-amalan yang utama.

Dan sebagaimana diketahui bahwa membaca al-Quran merupakan amalan yang utama, sehingga jalan keselamatan terhindar dari godaan setan dan kejahatannya adalah dengan bersandar kepada Allah, serta ber-isti’adzah meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatannya. Sehingga Allah pun mensyariatkan agar seorang pembaca al-Qur’an hendaknya meminta perlindungan dengan melafazhkan isti’adzah, disertai tadabbur maknanya, tulus hati bersandar kepada Allah agar tidak dipalingkan hatiya oleh setan dari amalan utamanya tersebut. Disertai kesungguhan dalam usaha menolak was-was serta pikirannya yang hina, bersungguh-sungguh mengerahkan sarana apa saja yang paling kuat sehingga memungkinkan untuk menepis godaannya, dan sarana tersebut adalah dengan berhias diri dengan perhiasan iman dan tawakkal kepada Allah semata (Taisirul Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di).

Lafazh-lafazh isti’adzah

Lafazh isti’adzah disebut juga at-ta’awwudz, dan di masyarakat kita istilah “ber-ta’awwudz” lebih dikenal dari pada “ber-isti’adzah”, namun keduanya sama saja dan tidak berbeda maksudnya, yaitu sama-sama bermaksud ber-isti’adzah. Di antara lafazh isti’adzah atau at-ta’awwudz adalah ucapan:

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.“

Lafazh isti’adzah atau at-ta’awwudz seperti itu merupakan lafazh isti’adzah yang dipegangi dan dikuatkan oleh jumhur (mayoritas) ulama, mereka beralasan lafazh tersebut merupakan lafazh Kitabullah, al-Qur’an, seperti yang jelas terdapat dalam Surat an-Nahl ayat 98 tersebut (sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Qurthubi dalam Tafsir-nya 1/62, dan juga oleh ulama ahli tafsir lainnya).

Ada lafazh isti’adzah yang lain, ialah ucapan:

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari kegilaan dan kesombongannya, serta dari syair-syairnya.”

Atau lafazh lain yang semisal dengan lafazh tadi hanya ditambah nama di antara nama-nama Allah,

أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaan dan kesombongannya, serta dari syair-syairnya.” (Tentang lafazh isti’adzah ini lihatlah al-Jami’ li Ahkamil Qur’an oleh Imam al-Qurthubi 1/62, Tafsirul Qur’an al-Azhim oleh Ibnu Katsir 1/111-113, Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hal. 68 dan Irwaul Ghalil, 1/341 keduanya oleh Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani.)

Makna ber-isti’adzah

Ber-isti’adzah artinya adalah membaca salah satu dari lafazh-lafazh isti’adzah atau at-ta’awwudz di atas tatkala hendak membaca al-Quran atau dalam keadaan tertentu yang seseorang berhajat kepada perlindungan Allah dari godaan setan.

Dan orang yang membaca isti’adzah atau ber-ta’awwudz berarti ia telah mengucapkan dengan lisannya, bahwa ia tengah memohon perlindungan kepada Allah, Rabb-nya dan Rabb segala sesuatu, Zat Yang Mahakuasa berbuat segala yang dikehendakinya, Zat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, sesembahannya makhluk yang dahulu maupun yang kemudian, dari kejahatan Iblis yang dijauhkan dan tidak dirahmati oleh Allah, juga dari kejahatan bala tentaranya, baik dari golongan jin maupun manusia (Aisarut Tafasir, Abu Bakar Jabir al-Jazairi, 1/10-11).

Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala dalam tafsirnya mengatakan, “Makna ber-isti’adzah adalah aku sandarkan diriku dengan berlindung kepada Allah supaya dijauhkan dari setan yang terlaknat agar tidak berlaku jahat kepadaku dalam agamaku maupun duniaku, dan agar ia tidak menghalangiku dari melaksanakan apa yang aku diperintahkan, dan agar ia tidak mendorongku untuk melakukan sesuatu yang aku dilarang atasnya, sebab setan itu tidak ada yang kuasa menahannya selain Allah…” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/114).

Ber-isti’adzah itu sebelum atau sesudah membaca al-Quran?

Berkaitan dengan masalah membaca ta’awwudz saat membaca al-Quran, mungkin perlu dipertegas lagi kapankah seseorang itu ber-isti’adzah? Apakah sebelum ataukah sesudah membaca al-Quran?

Ayat nomor 98 dari Surat an-Nahl tersebut zhahirnya jelas sekali menggunakan kata kerja masa lampau, coba kita cermati firman Allah tersebut,

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Kita dapati pada ayat di atas kata kerja «قَرَأْتَ» yang menunjukkan kata kerja bentuk lampau, yang artinya pekerjaannya telah usai. Sehingga ayat di atas berarti “apabila kamu telah usai membaca al-Qur’an…” bukan “apabila kamu hendak membaca al-Qur’an…” bukan pula “apabila kamu sedang membaca al-Qur’an…”

Dari pemahaman zhahir ayat seperti inilah sebagian sahabat dan sebagian ulama berpendapat bahwa ber-isti’adzah itu dilakukan setelah membaca al-Quran, sebab isti’adzah itu untuk menyingkirkan ‘ujub setelah usai beribadah (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Ibnu Katsir 1/110-111 dan Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Imam al-Qurthubi 1/63). Namun, pendapat ini lemah. Sebab, ini berseberangan dengan hadits-hadits yang menerangkan praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ber-isti’adzah. Adapun yang rajih (kuat) adalah apa yang dipegangi oleh jumhur (mayoritas) ulama, yaitu bahwa ber-ta’awwudz itu sebelum membaca al-Quran.

Jumhur ulama mengatakan bahwa isti’adzah itu guna untuk menyingkirkan was-was setan tatkala seseorang tengah beribadah, dan untuk itulah ber-isti’adzah adalah sebelum ia membaca al-Quran. Adapun makna ayat di atas kalimat «إِذَا قَرَأْتَ» itu bermakna “apabila kamu telah berkehendak membaca” sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat al-Maidah ayat 6,

… إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ …

Yang artinya secara zhahir: “Apabila kamu telah tegak untuk mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu”, itu bermakna “apabila kalian sudah berkehendak untuk tegak menuju shalat”. Ayat ini dimaknai demikian berdasarkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berjumlah cukup banyak, sehingga kuatlah pendapat jumhur ulama ini bahwa isti’adzah itu dibaca sebelum membaca al-Quran (sumber yang sama di atas).

Di antara hadits yang menerangkan bahwa isti’adzah itu sebelum membaca al-Quran adalah haditsnya Abu Said al-Khudri radhiallahu anhu yang ia mengatakan, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila shalat malam, beliau pun membaca istiftah (iftitah) dan bertakbir dengan membaca,

سُبْحَانَكَ اللَّهمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَاليَ جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

“Mahasuci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu, dan begitu melimpah keberkahan nama-Mu, dan Maha Tinggi keagungan dan kebesaran-Mu, dan tidak ada sembahan yang berhak diibadahi selain-Mu.”

Lalu beliau mengucapkan (( لا إله إلا اللَّه )) tiga kali, kemudian beliau membaca,

أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaannya dan kesombongannya, serta dari syair-syairnya.”

Kemudian beliau membaca (( اللَّه أكبر )) tiga kali, kemudian membaca,

أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaannya dan kesombongannya, serta dari syair-syairnya.” (Sumber yang sama di atas, lihat juga catatan kaki no. 5, dan Al-Fathur Rabbani, Ahmad Abdurrahman al-Banna ,3/11/504)

Hadits tersebut dan hadits lain yang semakna dengannya, jelas menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu ber-isti’adzah sebelum membaca Surat al-Fatihah, sebab doa istiftah itu dibaca oleh beliau sebelum membaca isti’adzah, dan tidak mungkin beliau membaca al-Fatihah sebelum membaca istiftah, artinya pastilah beliau membaca isti’adzah sebelum membaca al-Fatihah.

Keharusan berlindung kepada Allah dari godaan dan tipu daya setan (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Ibnu Katsir, 1/110).

Tidak jarang didapati adanya permusuhan antara satu orang dengan orang lain. Dan ternyata permusuhan manusia itu tidak hanya terbatas pada permusuhan antarmanusia itu sendiri, bahkan permusuhan mereka dengan makhluk jenis lain yaitu setan. Setan jenis manusia lebih ringan daripada setan jenis jin. Sehingga Allah-pun memerintahkan agar bersikap pemaaf dan berlemah lembut dahulu menghadapi musuh dari jenis manusia. Allah berfirman,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199).

Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan manusia untuk menjadi pemaaf, sebab dengan hal itu akan bisa diharapkan kembalinya seseorang pada asal tabiatnya yang baik lagi menyayangi dan lapang dada. Perhatikan juga firman Allah yang lain, misalnya yang tersebut dalam al-Quran surat al-Mu’minun ayat 96, juga surat Fushshilat ayat 34-35, maka akan semakin jelas bahwa Allah memerintahkan agar saling memaafkan dan saling berbuat baik agar tercipta persaudaraan yang saling kasih dan saling sayang.

Namun tidak demikian halnya perintah Allah dalam menghadapi setan dari jenis jin, kita diperintah harus berlindung darinya kepada-Nya semata, hanya itu perintah-Nya tidak ada yang lain. Sebab setan itu tidak akan menerima perlakuan baik sekalipun, sedangkan ia tidak menghendaki dari diri manusia selain kebinasaan semata. Hal ini sebab besarnya permusuhan dan pertentangan antara dia dengan bapak manusia, yaitu Adam alaihis salam, sejak di zaman dahulu kala. Sehingga Allah pun memberi peringatan akan bahaya setan bagi manusia dengan firman-Nya,

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-A’raf: 27).

Dalam ayat yang lain Allah juga memperingatkan kita, bahwa setan itu adalah musuh bagi kita, maka kita diperintah harus menganggap sebagai musuh. Di antara sebabnya adalah setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (QS. Fathir: 6 dan al-Kahfi: 50).

Ayat-ayat di atas menegaskan tentang siapa itu setan bagi manusia, maka Allah pun mewajibkan agar manusia berlindung kepada-Nya dari tipu dayanya. Tidak lagi Allah perintahkan ramah-tamah atau yang lainnya sebab hal itu tidak akan ada gunanya bagi setan. Memang sejak semula setan hanya berkehendak jahat bagi manusia semuanya, ia berpura-pura tampil sebagai seorang pemberi nasehat, namun ia pun dusta, sebab ia hanya akan mencelakaan semata. Allah sebutkan dalam al-Quran dengan firman-Nya,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis menjawab, “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shad: 82).

Allah mengusir amarah dan setan dari orang yang ber-isti’adzah

Isti’adzah memiliki keutamaan yang sangat besar. Cukuplah bagi kita dua hadits di bawah ini untuk mengetahui kebesaran dan kehebatan isti’adzah tersebut, yaitu untuk mengusir amarah, juga mengusir setan.

Imam al-Qurthubi rahimahullahu ta’ala dalam tafsirnya menyebutkan sebuah hadits (HR. Muslim, 2610 dan Bukhari, 6115, lihat Tafsir al-Qurthubi, 1/63 dalam muqaddimah dan Tafsir Ibnu Katsir, 1/112-113), sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sulaiman bin Shurad, ia mengatakan, “Ada dua laki-laki yang sedang saling mencaci di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka salah satu di antara keduanya pun marah, mukanya memerah, dan padamlah raut wajahnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memandanginya lalu beliau bersabda,

إِنِّي لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Sungguh aku mengetahui sebuah kalimat yang apabila ia mengucapkannya niscaya akan hilanglah darinya (amarahnya itu), yaitu:

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

‘Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.’”

Kemudian, ada seseorang yang mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi mendatangi salah seorang dari keduanya (yang saling mencaci,—red.) lalu berkata, “Tahukah kamu apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi? Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh aku mengetahui sebuah kalimat yang apabila ia mengucapkannya niscaya akan hilanglah darinya (amarahnya itu), yaitu:

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Maka, laki-laki tersebut pun mengatakan kepadanya, “Apakah menurutmu aku ini gila?”

Dalam hadits yang lain disebutkan oleh Imam Muslim dari sahabat Utsman bin Abil ‘Ash ats-Tsaqafi rahimahullahu ta’ala, bahwa dia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengadu, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah datang dan menggangguku dalam shalatku juga menggangguku dengan mengacaukan bacaanku.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ وَاتْفُلْ عَنْ يَسَارِكَ ثَلاَثًا

“Itu adalah seorang setan yang disebut Khanzab, maka apabila kamu merasakan kedatangannya berlindunglah kepada Allaoh (ber-ta’awwudz-lah) darinya dan meludahlah ke kiri tiga kali.”

Utsman pun mengatakan, “Aku pun melakukannya, maka Allah pun mengusirnya dariku.” (HR. Muslim, 2203).

Allahu Akbar, Wallahul Musta’an.

Penulis: Ustadz Abu Ammar Al-Ghoyami

sumber : https://pengusahamuslim.com/2061-berlindung-dari-godaan-setan.html

Khutbah Iblis yang Menyayat Hati

Iblis berkhutbah…??, benar…ia berkhutbah…bahkan khutbah yang paling menyentuh hati…tidak ada khutbah yang menyentuh hati sebagaimana khutbah Iblis ini.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ ، قَامَ إِبْلِيْسُ خَطِيْبًا عَلَى مِنْبَرٍ مِنْ نَارٍ ، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ

“Tatkala hari kiamat Iblis berdiri di atas sebuah mimbar dari api lalu berkhutbah seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya…” (Tafsiir At-Thobari 16/563)

Al-Haafizh Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

يُخْبِرُ تَعَالَى عَمَّا خَطَبَ بِهِ إِبْلِيْسُ أَتْبَاعَهُ، بَعْدَمَا قَضَى اللهُ بَيْنَ عِبَادَهُ، فَأدخل المؤمنين الجنات، وأسكن الكافرين الدركات، فقام فيهم إبليس -لعنه الله -حينئذ خطيبا ليزيدهم حزنا إلى حزنهم (4) وغَبنا إلى غبْنهم، وحسرة إلى حسرتهم

“Allah mengabarkan tentang khutbah yang disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya, yaitu setelah Allah memutuskan/menghisab para hambaNya, lalu Allah memasukan kaum mukminin ke surga, dan Allah menempatkan orang-orang kafir ke dalam neraka jahannam. Maka Iblispun tatkala itu berdiri dan berkhutbah kepada para pengikutnya agar semakin menambah kesedihan di atas kesedihan mereka, kerugian di atas kerugian, serta penyesalan di atas penyesalan….” (Tafsiir Al-Qur’an Al-‘Adziim 4/489).

Khutbah tersebut disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya pada saat yang sangat menegangkan…tatkala mereka pertama kali dimasukkan ke dalam neraka jahannam…tatkala mereka telah melihat api yang menyala-nyala yang siap membakar mereka…!!!

Khutbah tersebut…

Benar-benar masuk ke dalam hati para pengikut Iblis…,
Khutbah yang mengalirkan air mata mereka…
khutbah yang benar-benar telah menyadarkan mereka akan kesalahan-kesalahan mereka…
Khutbah yang menyadarkan mereka bahwasanya selama ini mereka hanya terpedaya oleh sang pemimpin…sang khotiib…Iblis la’natullah ‘alaihi

Allah menyebutkan khutbah Iblis yang sangat menyentuh tersebut:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِي مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٢٢)وَأُدْخِلَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ (٢٣)

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekedar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kalian mencerca aku akan tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian yang mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih”.

Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka” (QS Ibrahim : 22-23)

Demikianlah khutbah Iblis tersebut….setelah ia menggoda manusia…setelah menipu mereka…setelah menjerumuskan mereka dalam neraka…setelah tercapai cita-citanya…lalu…

Iapun berlepas diri dari para pengikutnya. Ia sama sekali tidak mau bertanggung jawab atas godaan-godaannya…
Bahkan ia sama sekali tidak mau disalahkan dan dicela…akan tetapi ia menyuruh mereka (para pengikutnya) untuk mencela diri mereka sendiri…
Bahkan ia mengaku sejak dulu kufur/ingkar terhadap kesyirikan yang dilakukan oleh pengikutnya…

Yang lebih menjadikan para pengikutnya tersentuh, Iblis menutup khutbahnya dengan menyatakan bahwa “Sesungguhnya orang-orang zalim mendapatkan siksaan yang pedih”…lalu Iblis menyebutkan tentang kenikmatan penduduk surga, yaitu orang-orang yang tidak mau menjadi pengikut Iblis…!!!

Sungguh kehinaan dan kesedihan yang tidak bisa terbayangkan dalam hati para penghuni neraka tatkala mendengar khutbah dari sang pemimpin…

Semoga Allah menjaga kita dari rayuan Iblis…jangan sampai kita termasuk dari orang-orang yang tersentuh karena kutbah Iblis ini….orang-orang yang tatkala di dunia tidak tersentuh oleh nasehat-nasehat, tidak tergerak hati mereka tatkala mendengar pengajian-pengajian dan khutbah-khutbah…hati mereka hanyalah tergerak dan tersentuh tatkala mendengar khutbah Iblis….wal’iyaadzu billah.

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 14-02-1434 H / 27 Desember2012 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
http://www.firanda.com

sumber : https://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/tazkiyatun-nufus/881-khutbah-iblis-yang-menyayat-hati.html

Godaan Setan Saat Sekarat

GODAAN SETAN SAAT SEKARAT

Pertanyaan
Apakah benar setan hadir saat seseorang sedang sekarat sehingga seseorang dapat mati dalam keadaan kafir padahal sepanjang hidupnya dia melakukan amal ahli surga?

Jawaban
Alhamdulillah.

Pertama: Allah menyebutkan dalam kitabnya yang mulia tentang sumpah Iblis terlaknat yang mengancam akan menyesatkan keturunan Adam dan bahwa dia akan melakukan hal itu hingga hari kiamat. Tidak ada satu jalan yang dia biarkan kecuali dia tempuh agar keturunan Nabi Adam memenuhi jalan itu ke neraka jahanam.

Allah Taala berfirman,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ، ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ ، وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ، وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ  (سورة الأعراف: 16-17)

“Iblis berkata, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati mereka. Dan engkau tidak akan mendapat kebanyakan mereka bersyukur (taat).”[Al-A’raf/7: 16-17]

Ibnu Jarir Ath-Thabary dalam Jami Al-Bayan (5/445), “Maknanya adalah Aku akan datangi mereka dari semua cara yang haq dan batil, agar aku dapat menghalangi mereka dari kebenaran dan menghias kebatilan di hadapan mereka.”

Setan akan berusaha memanfaatkan titik-titik kelemahan, jika musibah berat menimpa muslim, petaka telah hadir, maka datanglah dia melalui jalannya untuk merusak keimanannya, sehingga dia menjadi ahli neraka.

Tidak diragukan lagi bahwa saat-saat sakratul maut merupakan saat-saat yang berat. Maka sakratul maut adalah perkara yang besar. Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri menghadapi hal sangat besar itu, sehingga belia berkata saat sakratul maut…

إِنَّ لِلمَوتِ لَسَكَرَاتٍ (رواه البخاري، رقم 4449) .

“Sesungguhnya bagi kematian itu ada sakaratnya.” [HR. Bukhari, no. 4449]

Dan ketika puterinya, Fatimah mengetahui beratnya yang beliau (Nabi shallallahu alaihi wa sallam) alami, dia berkata,

وَاكَربَ أَبَاه (رواه البخاري، رقم 4461) .

“Sungguh engkau sangat menderita.” [HR. Bukhari, no. 4461]

Maka diperkirakan bahwa setan tidak akan membiarkan anak Adam dalam kesempatan ini, ini adalah kesempatan bagi mereka.

Dari Jabir radhiallahu anhu dia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّيطَانَ يَحضُرُ أَحَدَكُم عِندَ كُلِّ شَيْءٍ مِن شَأنِهِ (رواه مسلم، رقم 2033)

“Sesungguhnya setan selalu hadir di sisi seseorang dalam setiap urusannya.” [HR. Muslim, no. 2033]

Dari Abu Said Al-Khudry radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

قال إبليس : وَعِزَّتِكَ يَا رَبِّ لَا أَبْرَحُ أُغْوِي عِبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُمْ فِي أَجْسَادِهِمْ فَقَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: وَعِزَّتِي وَجَلَالِي وَارْتِفَاعِ مَكَانِي لَا أَزَالُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُونِي ) .رواه أحمد (10974) ، وحسَّنه الألباني في “صحيح الترغيب ” (1617)

“Iblis berkata, demi kemuliaanMu, saya akan selalu berusaha menyesatkan hambaMu selama ruh mereka masih dalam jasad mereka. Maka Dia (Allah) berkata, ‘Demi kemuliaanKu, aku akan selalu memberikan ampunan kepada mereka selama mereka meminta ampun kepadaKu.” [HR. Ahmad, no. 10974. Dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih At-Targhib, no. 1617]

Nabi shallallah alaihi wa sallam dalam kehidupannya selalu memohon kepada Allah Taala agar tidak dikuasai setan saat kematian, untuk mengajarkan kaum muslimin agar bersungguh-sungguh mencari keselamatan dari fitnah setan.

Dari Abu Al-Yusr radhiallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdoa:

الَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَدمِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَرَدِّي ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الغَرَقِ وَالحَرَقِ وَالهَرَمِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَن يَتَخَبَّطَنِي الشَّيطَانُ عِندَ المَوتِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَن أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدبِرًا ، وَأَعُوذُ بِكَ أَن أَمُوتَ لَدِيغًا )رواه أحمد، رقم 3/427، وأبو داود، رقم 1552 وسكت عنه ، والنسائي، رقم 5531 ، وقال الحاكم في المستدرك رقم 1/713 : صحيح الإسناد ولم يخرجاه ، وصححه الألباني في صحيح أبي داود( .

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari tertimbun, aku berlindung kepadaMu dari jatuh, aku berlindung kepadaMu dari tenggelam, kebakaran dan pikun. Aku berlindung kepadaMu dari gangguan setan pada akal dan agama saat sakratul maut. Aku berlindung kepadaMu dari mati dalam keadaan kabur dari jihad di jalanMu, aku berlindung kepadaMu dari mati karena terpatuk.” [HR. Ahmad, 3/427, Abu Daud, no. 1552 dan beliau tidak berkomentar, An-Nasai, no. 5531. Al-Hakim berkata dalam Al-Mustadrak, 1/713: Shahih sanad tapi tidak dikeluarkan oleh keduanya (Bukhari Muslim), dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud]

Dikatakan dalam kitab Aunul-Ma’bud (4/287)

” ( أَن يَتَخَبَّطَنِي الشَّيطَانُ )

Maksudnya adalah oleh Iblis atau salah satu golongannya. Ada yang mengatakan bahwa takhabut maknanya adalah merusak. Yang dimaksud adalah merusak akal dan agama. Pengkhususannya dengan sabdanya, “Saat sakratul maut” karena ruang lingkupnya adalah tentang akhir kehidupan.

Al-Qadhi berkata, “Maksudnya adalah berlindung dari gangguan setan dan bisikannya yang dapat menggelincirkan kaki, dan menyerang akal pikiran.”

Al-Khathaby berkata, “Permohonan perlindungan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari gangguan setan saat sakratul maut adalah memohon agar tidak dikuasai setan saat dia meninggalkan dunia, sehingga setan dapat menyesatkannya dan menghalanginya dari taubat atau menghalanginya dari upayanya memperbaiki kondisinya dan keluar dari kegelapan yang ada di hadapannya atau membuatnya berputus asa dari rahmat Allah Taala, atau membenci kematian dan menyesali kehidupan dunia, sehingga dia tidak ridha dengan ketetapan Allah berupa kematian dan perpindahan ke kampung akhirat, sehingga dirinya mendapatkan akhir yang buruk berjumpa kepada Allah dalam keadaan marah kepadaNya.

\
Diriwayatkan bahwa tidak ada kondisi yang setan sangat bersungguh-sunugguh menggoda anak Adam selain menjelang kematiannya. Dia berkata kepada golongannya, ‘Perhatikan perkara ini, karena, jika kalian tak berhasil hari ini, maka kalian tidak akan dapat melakukannya setelah hari ini.”

Kita berlindung kepada Allah dari keburukannya dan kami mohon kepada Allah semoga memberkahi kita dalam pertarungan ini serta menjadikan sebaik-baik hari kita adalah hari perjumpaan denganNya.”

Godaan setan dalam kondisi tersebut sangat berat, karena saat itu seorang muslim sangat lemah dan berat, makanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam berlindung darinya dalam doa-doanya setiap shalat.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُم فَليَستَعِذ بِاللَّهِ مِن أَربَعٍ : يَقُولُ : الَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِن عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِن عَذَابِ القَبرِ ، وَمِن فِتنَةِ المَحيَا وَالمَمَاتِ ، وَمِن شَرِّ فِتنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ (رواه البخاري، رقم 1377، ومسلم ، رقم 588)

“Apabila salah seorang dari kalian membaca tasyahud, hendaklah dia berlindung kepada Allah dari keempat perkara ini, seraya membaca, ‘Allahumma inni a’uzu bika min azaabi Jahannam (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari azab neraka jahanam), wa min azaabil qabri (dan dari azab kubur), wa min fitnatil mahya wal mamat (dan dari fitnah kehidupan dan kematian) wa min syarri fitnatil masihid-dajjal (dan dari fitnah al-masih Dajal).” [HR. Bukhari, no. 1377 dan Muslim, no. 588]

Ibnu Hajar berkata dalam Kitab Fathul Bari, 2/319, “Ibnu Daqiq Al-Id berkata, ‘Fitnah kehidupan adalah apa yang dihadapi manusia dalam kehidupannya, berupa fitnah dunia, syahwat, kebodohan dan yang paling besar, kita berlindung kepada Allah, adalah fitnah di penghujung kehidupan menjelang kematian. Adapun fitnah kematian, boleh dipahami sebagai fitnah menjelang kematian, disandarkan dengan kematian karena sangat dekatnya. Sehingga yang dimaksud dengan fitnah kehidupan adalah apa yang terjadi sebelumnya. Dapat juga yang dimaksud adalah fitnah kubur.

Kedua: Fitnah setan kepada seorang muslim saat sakratul maut adalah dengan menimbulkan keraguan sebagaimana mereka lakukan saat seseorang hidup.

Akan tetapi, apakah terdapat riwayat shahih dalam sunah yang menunjukkan bahwa setan berwujud dalam rupa orang yang paling dicintai oleh orang yang sedang sekarat, lalu dia mengajaknya ke dalam agama Nashrani dan Yahudi?

Sebagian ulama menyebutkan dalam kitab-kitab mereka, “Al-Qurthubi berkata dalam ‘at-tazkirah fi ahwal al-mauta wa umuril akhirah’ (29-30)

Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa seorang hamba jika menghadapi sakratul maut, maka ada dua setan yang duduk di sisinya. Yang satu di sisi kanannya dan yang satunya lagi di sisi kirinya. Yang berada di sisi kanannya memiliki ciri seperti bapaknya, dia berkata kepadanya, ‘Wahai anakku! Sungguh aku sangat sayang dan cinta kepadamu, akan tetapi matilah dalam agama Nashrani, dia adalah sebaik-baik agama. Sedangkan yang di sebelah kiri berwujud seperti ibunya, dia berkata kepadanya, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya dahulu perutku menjadi tempatmu, ASI menjadi minumanmu, pahaku menjadi bantalmu, akan tetapi matilah dalam agama Yahudi, dia adalah sebaik-baik agama.”

Riwayat ini disebutkan oleh Al-Hasan Al-Qabisi dalam ‘Syarah Ibnu Abi Zaid’ yang dia karang dan maknanya disebutkan pula oleh Abu Hamid, dalam kitab ‘Kasyfu Ulumil Akhirah’

Apa yang disebutkan oleh Al-Qurthubi tidak ada dalilnya dalam Al-Quran maupun sunah, karena tidak terdapat hadis shahih dalam masalah ini, akan tetapi, itu hanya sejumlah riwayat yang saling dinukil oleh sebagian ulama dalam kitab-kitab mereka, akant tetapi tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang dijadikan pedoman.

Al-Albany berkata dalam ‘As-Silsilah Adh-Dhaifah wal Maudhu’ah’, 3/645

As-Suyuthh berkata, ‘Saya tidak menemukan hadits ini (dalam riwayat shahih).”

Maka tidak boleh menisbatkan masalah ini kepada syariat, tidak boleh pula menakut-nakuti orang-orang dengannya, tidak juga boleh mengatakan bahwa setan akan selalu menempel manusia menjelang kematiannya. Karena syariat tidak menyebutkan hal itu. Yang ada riwayatnya adalah bisikan dan upaya penyesatan agar orang tidak menerima takdir karena beratnya kondisi yang dia alami.

Jika tidak ada hadits yang shahih dalam masalah ini, kita pun tidak dapat menafikannya, karena setan memiliki tipu daya yang banyak dan berbagai cara, dia mampu hadir dalam bentuk manusia dalam berbagai wujud. Dan hal itu kadang terjadi pada sebagian orang saat menjelang kematiannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah pernah ditanya seperti tertera dalam kitab Majmu Al-Fatawa (4/255) tentang (gangguan setan berupa) ditampilkannya agama-agama  saat menjelang kematian, apakah hal itu ada landasannya dalam Al-Quran dan Sunah atau tidak?


Beliau menjawab:
Adapun ditampilkannya agama kepada seorang hamba menjelang kematiannya sebelum kematiannya bukanlah perkara yang umum berlaku kepada setiap orang, tapi juga tidak dapat dinafikan tidak terjadi pada setiap orang. Tapi ada orang yang mengalami godaan diperlihatkan agama-agama menjelang kematiannya, adapula yang tidak. Terjadi pada sebagian kaum. Itu semua masuk dalam katagori fitnah kehidupan dan kematian yang kita diperintahkan untuk mohon kepada Allah dalam shalat-shalat kami. Akan tetapi saat menjelang kematian, setan lebih bersungguh-sungguh untuk menyesatkan manusia. Akan tetapi saat menjelang kematian adalah saat yang setan sangat bersungguh-sungguh untuk menyesatkan anak Adam, karena itu adalah saat mereka sangat membutuuhkan. Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadits shahih:

الأَعمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

“Amal (ditentukan) di akhirnya.”

Beliau juga bersabda,

إِنَّ العَبدَ لَيَعمَلُ بِعَمَلِ أَهلِ الجَنَّةِ ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَينَهُ وَبَينَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ ، فَيَسبِقُ عَلَيهِ الكِتَابُ ، فَيَعمَلُ بِعَمَلِ أَهلِ النَّارِ فَيَدخُلهَا ، وَإِنَّ العَبدَ لَيَعمَلُ بِعَمَلِ أَهلِ النَّارِ ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَينَهُ وَبَينَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ ، فَيَسبِقُ عَلَيهِ الكِتَابُ ، فَيَعمَلُ بِعَمَلِ أَهلِ الجَنَّةِ فَيَدخُلُهَا (رواه البخاري، رقم  3208 ومسلم، رقم 2643) .

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang melakukan perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dia dengannya tingga sehasta, namun telah tercatat ketentuan baginya, lalu dia beramal dengan amal ahli neraka, maka dia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya ada hamba yang melakukan amal ahli neraka hingga jarak antara dia dengannya tinggal sehasta, namun telah berlaku ketentuan terhadapnya, lalu dia beramal amalan ahli surga, maka dia masuk ke dalamnya.” [HR. Bukhari, no. 3208, Muslim, no. 2643]

Karena itu, diriwayatkan bahwa saat yang paling diutamakan setan dalam menggoda manusia adalah saat menjelang kematiannya, dia berkata kepada anak buahnya, “Kalian goda  orang itu! Sungguh jika kalian tidak dapat menggodanya, kalian tidak akan mendapat kesempatan lagi selamanya.”

Kisah Abdullah bin Ahmad bin Hambal mengisahkan tentang bapaknya yang mengatakan, “tidak lagi sesudah ini, tidak lagi sesudah ini’ adalah kisah yang masyhur.

Hal ini boleh jadi dialami orang-orang saleh. Al-Qurthubi rahimahullah berkata (At-Tazkirah, 30)

Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata, ‘Aku menyaksikan wafatnya ayahku; Ahmad. Aku memegang kain untuk mengikat jenggotnya. Dia menyadarinya kemudian dia bangun seraya berkata dengan mengisyaratkan, ‘tidak, sesudah ini, tidak, sesudah ini!!’ Dia melakukan hal itu berkali-kali. Maka aku bertanya kepadanya, ‘Wahai ayahku, apa yang tampak olehmu?’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya setan berdiri di hadapan kakiku dan mengigit jari jemarinya seraya berkata, ‘Wahai Ahmad, engkau telah lari dariku.’ Sedangkan aku berkata, ‘Tidak sesudah ini. Tidak (aku tidak ikut engkau) hingga aku mati.”

Aku berkata telah mendengar guruku, Imam Abu Al-Abbbas Ahmad bin Umar Al-Qurthuby di perbatasan Iskandariyah berkata, ‘Aku menyaksikan saudara dari guruku, Abu Ja’far Ahmad bin Muhamad bin Muhamad Al-Qurthuby di Cordoba yang sedang sekarat. Maka dikatakan kepadanya, ‘Ucapkan: Laa ilaaha illallah’ Lalu dia berkata, ‘Tidak, tidak, ketika dia sadar, kami kisahkan hal itu kepadanya. Maka dia berkata, ‘Aku didatangi dua setan, di sisi kananku dan di sisi kiriku. Salah satunya berkata, ‘Matilah dalam keadaan Yahudi, karena dia sebaik-baik agama. Yang satu lagi berkata, ‘Matilah dalam keadaan Nashrani, karena dia sebaik-baik agama.” Maka aku berkata, ‘Tidak, tidak.’

Ketiga: Jikas seorang muslim menyadari besarnya ujian kematian saat sekarang dan bahwa dia akan menghadapi masa-masa yang berat tersebut, maka dirinya akan bersiap siaga dan membekali diri dengan amal saleh serta berharap semoga Allah menetapkan husnul khotimah baginya. Karena Allah Taala akan melindungi hambanya yang beriman. Jika orang tersebut diketahui memiliki hati dan rasa cinta yang jujur, maka Allah akan melindunginya dari ketergelinciran dan jauhkan dari kesesatan. Maka janganlah ada yang berprasangka buruk kepada Allah Taala, Dia Maha Adil dan Bijaksana, tidak akan membiarkan hambaNya yang beriman. Dia mengharamkan kezaliman untuk diriNya. Tidak akan anda dapatkan insya Allah orang yang berhasil digoda setan dalam kondisi seperti ini kecuali mereka yang dahulunya berpaling dari Allah, dan lebih dekat kepada setan. Inilah yang dibuat limbung oleh setan di saat kematiannya, sebagaimana kehidupannya sudah dipengaruhi setan.

Ibnu Qayim berkata dalam Al-Jawabul Kafi, hal. 62:
“Bagaimana akan mendapatkan husnul khatimah orang yang hatinya lalai dari berzikir kepada Allah, lalu dia menuruti hawa nafsunya dan sikapnya tak terkendali. Maka, orang yang hatinya jauh dari Allah Taala, lalai, beribadah dan tunduk pada hawa nafsu, lisannya kering dari berzikir, anggota badannya tak bergerak untuk taat kepada Allah, justeru sibuk dalam kemaksiatan kepada Allah, jauh baginya untuk mendapatkan husnul khatimah.”

Wallahu a’lam .
Referensi : https://almanhaj.or.id/6480-godaan-setan-saat-sekarat.html

Apakah Istri Harus Tahu Berapa Besar Pendapatan Suami?

Islam telah mewajibkan bagi para suami untuk memberikan nafkah kepada istrinya dengan cara yang baik. Allah berfirman,

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara ma’ruf (baik).” (QS. Al Baqarah: 233)

Cara yang baik adalah dengan memperhatikan ‘urf atau kebiasaan masyarakat. Jika kebiasaan di daerahnya atau di keluarganya menggunakan jasa pembantu/ART untuk menangani sebagian aktivitas rumah tangga, maka suaminya sebaiknya mengeluarkan nafkah untuk menyediakan pembantu/ART bagi istrinya. Jika dulu ketika masih gadis dan tinggal dengan bapaknya, bapaknya menyediakan fasilitas ini dan itu di rumah, maka hendaknya suaminya sekarang berusaha melakukan hal yang sama sesuai kemampuannya.

Lantas apakah sang istri harus mengetahui jumlah pendapatan suaminya?

Jawabannya, istri tidak wajib tahu dan istri tidak boleh menuntut suaminya agar memberitahunya. Selama suaminya memenuhi kebutuhannya, maka kewajiban suaminya sudah cukup. Suami tidak wajib memberitahukan besaran gaji bulanan atau total pendapatannya.

Selain itu, berdasarkan pengamatan kami, umumnya seorang istri juga tidak menanyakan penghasilan suaminya selama suaminya sudah menafkahinya dengan baik. Biasanya istri akan bertanya ketika nafkah untuknya kurang dan suami kurang bertanggungjawab dalam masalah ini, sehingga istri jadi penasaran sebenarnya suaminya berpenghasilan berapa mengapa suaminya tidak mencukupi seluruh kebutuhannya.

Yang boleh bagi istri adalah menuntut suaminya agar menafkahinya dengan cukup jika suaminya pelit lantas tidak memenuhi kebutuhannya. Bahkan istri boleh mengambil secara sembunyi-sembunyi sebagian harta suaminya yang bisa mencukupi kebutuhannya.

Hindun binti ‘Utbah pernah mengeluhkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena suaminya yaitu Abu Sufyan pelit dan tidak memberinya serta anak-anaknya nafkah yang mencukupi, kecuali jika Hindun mengambil uang suaminya tanpa sepengetahuannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

خُذِى مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ

“Ambillah dari hartanya yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan kadar sepatutnya.” (HR. Bukhari no. 5364)

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/apakah-istri-harus-tahu-berapa-besar-pendapatan-suami.html

Di Balik Shalat Malam

Akhi inilah keutamaan di balik shalat malam …

Akhi … yang semoga engkau selalu mendapatkan taufik Allah. Suatu hal yang sudah kita ketahui bersama bahwa shalat malam adalah kebiasaan orang sholeh dan orang bertakwa. Marilah kita perhatikan firman Allah Taala berikut (yang artinya),

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 17-18)

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا (4)

“Hai orang yang berselimut, bangunlah pada sebagian malam (untuk sholat), separuhnya atau kurangi atau lebihi sedikit dari itu. Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. AlMuzammil: 1-4)

Inilah beberapa ayat yang mendorong kita untuk melaksanakan shalat malam. Namun, yang kami sayangkan, sebagian orang lebih memilih tidur diselimuti selimut daripada bangun mengambil air wudhu dan bermunajat kepada Allah dengan penuh rasa harap-takut pada-Nya. Ya Allah, berilah petunjuk kepada kami untuk senantiasa melakukan ketaatan padamu dan jauhkanlah sifat malas dalam diri kami ini. Semoga kita terdorong untuk melaksanakan shalat yang utama ini dengan mengetahui keutamaan-keutamaannya. Ya Allah, berilah taufik kepada kami untuk melakukan amalan ini. Shalat malam adalah sebaik-baik shalat setelah shalat wajib

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah –Muharram-. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163)

Akhi … Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan mengenai hadits ini. Beliau rahimahullah mengatakan, Ini adalah dalil dari kesepakatan ulama bahwa shalat malam lebih baik dari shalat sunnah di siang hari. Beliau juga mengatakan bahwa shalat malam lebih baik dari shalat sunnah rawatib. Orang yang melakukan shalat malam dijamin masuk surga dan selamat dari adzab neraka

Dari Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيُّهَا اَلنَّاسُ! أَفْشُوا اَلسَّلَام, وَصِلُوا اَلْأَرْحَامَ, وَأَطْعِمُوا اَلطَّعَامَ, وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ, تَدْخُلُوا اَلْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Wahai manusia! Sebarkanlah salam, jalinlah tali silturahmi (dengan kerabat), berilah makan (kepada istri dan kepada orang miskin), shalatlah di waktu malam sedangkan manusia yang lain sedang tidur, tentu kalian akan masuk ke dalam surga dengan penuh keselamatan.” (HR. Tirmidzi no. 2485 dan Ibnu Majah no. 1334. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 569 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Orang yang melakukan shalat malam akan dicatat sebagai orang yang berdzikir kepada Allah

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ

“Apabila seseorang bangun di waktu malam, lalu dia membangunkan istrinya, kemudian keduanya mengerjakan shalat dua raka’at, maka keduanya akan dicatat sebagai pria dan wanita yang banyak berdzikir pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 1335. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Shohih wa Dho’if Sunan Ibnu Majah bahwa hadits ini shohih).

Hadits ini menunjukkan bahwa suami istri dianjurkan untuk shalat malam berjama’ah. Berbeda dengan orang yang tidak shalat malam, orang yang bangun di malam hari kemudian berwudhu dan melakukan shalat malam, dia akan bersemangat di pagi harinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika dia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)

Inilah perkataan Nabi kita yang jujur lagi benar ucapannya. Kita sering memperhatikan saudara kita yang belum sadar untuk shalat malam akan terlihat malas-malasan di pagi hari, berbeda dengan orang yang rajin shalat malam. Bahkan mungkin kita perhatikan mereka akan lebih senang mengisi waktu paginya dengan tidur daripada melakukan amal sholeh.

Benarlah ucapan Syarik, “Barangsiapa banyak mengerjakan shalat di malam hari, maka wajahnya akan berseri di pagi harinya.” (Laysa min qoulin Nabi, hal. 89)

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari kebiasaan buruk di pagi hari. Lihatlah pula akhi, Nabi shallallahu alaihi wa sallam sampai mencela orang yang dulu rajin shalat malam, namun sekarang shalat tersebut ditinggalkan begitu saja.

Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata padaku, Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si A. Dulu dia rajin mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi. (HR. Bukhari no. 1152)

Akhi, mengaku mengikuti Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat (baca : salafush sholeh) bukanlah hanya kleim semata, namun haruslah dengan bukti. Kalau memang kita mengaku mengikuti mereka (salafush sholeh), maka sudah sepatutnya kita melaksanakan amalan yang mulia ini.

Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita untuk melakukan amalan yang mulia ini. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita untuk meninggalkan tempat tidur dan beranjak mengambil wudhu, lalu melaksanakan shalat malam ini dengan senatiasa mengharapkan ampunan-Nya dan berharap mendapatkan rahmat-Nya. Ya Allah, Hanyalah Engkaulah tempat kami memohon dan Engkaulah yang memberi taufik pada hamba-Mu yang hina ini.

Akhi … Marilah kita menghidupkan amalan yang mulia ini. Semoga kita dapat bertemu dengan 1/3 malam terakhir, lalu memanjatkan segala hajat kita kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan Setiap Permintaan Hamba-Nya. Semoga doa kita ini diijabahi.

—

Muhammad Abduh Tuasikal

Di awal malam, Pangukan, Sleman, 14 Dzulqodah 1429 H

Sumber https://rumaysho.com/18-di-balik-shalat-malam.html

Kenapa Nabi Terkena Sihir? Ini Hikmahnya.

Sihir adalah sesuatu yang nyata dan memiliki hakikat. Ada berbagai macam bentuk sihir yang dipraktikkan oleh para pelakunya, mulai dari sihir yang membuat lelaki bisa tertarik kepada wanita atau sebaliknya, sihir yang membuat orang lain jatuh sakit, bahkan sihir yang bisa mematikan. Keberadaan sihir adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh Al-Quran, di antaranya firman Allah,

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

“Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.” (QS. Al Falaq: 4). Meminta perlindungan pada Allah dari sihir menunjukkan bahwa hakikatnya sihir itu benar adanya.

Tak tanggung-tanggung, perbuatan sihir bahkan pernah ditujukan kepada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Para ulama mengatakan bahwa turunnya surat Al-Falaq di atas demikian pula surat An-Naas disebabkan oleh peristiwa Nabi yang disihir. Ibunda ‘Aisyah berkata,

سَحَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ يُقَالُ لَهُ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ كَانَ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا فَعَلَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah disihir oleh seseorang dari bani Zuraiq yang bernama Labid bin Al-A’sham, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam dibuat membayangkan seolah-olah beliau melakukan sesuatu padahal beliau tidak berbuat apa-apa.” (HR. Bukhari, no. 5763 dan Muslim, no. 2189)

Sebagian kalangan mengingkari hal ini, mereka menganggap bahwa hal tersebut bertentangan dengan kema’shuman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi yang benar bahwa Nabi memang tersihir, hanya saja sihir tersebut sama sekali tidak berpengaruh pada wahyu kenabian. Pengaruh maksimal dari sihir tersebut hanya sampai pada perasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mendatangi istrinya padahal sebetulnya tidak.

Hikmah dari kejadian ini adalah sekali lagi menegaskan bahwa Nabi juga manusia biasa, beliau juga tidak lepas dari yang namanya sakit bahkan bisa terkena sihir. Jika salah seorang di antara kita terkena sihir, maka tenangkanlah dirinya dan ingatlah bahwa orang yang lebih baik dari kita yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah terkena sihir.

Kejadian tersebut menjadi asbabun nuzul (sebab turunnya) surat Al-Falaq dan An-Naas. Setelah kejadian itu, Jibril ‘alahissalam lalu meruqyah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Allah memberikan kesembuhan.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK. (Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/kenapa-nabi-terkena-sihir-ini-hikmahnya.html

Bulughul Maram – Shalat: Tidak Boleh Memandang ke Atas Saat Shalat

Salah satu larangan yang tidak boleh dilakukan saat shalat adalah memandang ke atas (ke langit-langit) saat sedang shalat. Larangan ini berlaku juga saat sedang berdoa, menurut pendapat paling kuat.

Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani

Kitab Shalat

بَابُ الحَثِّ عَلَى الخُشُوْعِ فِي الصَّلاَةِ

Tidak Boleh Memandang ke Atas Saat Shalat

Hadits #248

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوامٌ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلاَةِ أَوْ لاَ تَرْجِعُ إِلَيْهِم». رَوَاهُ مُسْلمٌ.

Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah orang-orang yang memandang ke atas (ke langit-langit) saat shalat berhenti atau pandangan itu tidak kembali kepada mereka.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 428]

Faedah hadits

  1. Hadits ini dijadikan dalil diharamkannya mengangkat pandangan ke langit-langit (memandang ke atas) ketika shalat. Larangan seperti dalam hadits hanya ditemukan pada larangan haram.
  2. Larangan ini berlaku ketika berdiri, bangkit dari rukuk (iktidal), atau di keadaan yang lain di dalam shalat.
  3. Larangan ini juga berlaku ketika berdoa dalam shalat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ رَفْعِهِمْ أَبْصَارَهُمْ عِنْدَ الدُّعَاءِ فِى الصَّلاَةِ إِلَى السَّمَاءِ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ

“Hendaklah orang-orang yang memandang ke atas saat berdoa dalam shalat berhenti atau pandangan mereka akan dirampas.” (HR. Muslim, no. 429)

  1. Walaupun demikian, memandang ke langit-langit saat shalat tidaklah membatalkan shalat. Inilah pendapat yang lebih kuat.
  2. Memandang ke langit-langit menandakan tidak khusyuknya orang yang shalat. Memandang seperti ini berarti menjauh dari kiblat. Karena kiblat itu di hadapan orang yang shalat, bukan dengan memandang ke atas. Alasan lainnya, memandang ke atas tidak menunjukkan keadaan orang yang shalat, ia seperti dalam keadaan tidak shalat (berada di luar shalat).
  3. Yang diperintahkan dalam shalat adalah memandang ke tempat sujud, baik ketika menjadi imam, makmum, atau shalat sendirian. Inilah pendapat jumhur ulama. Yang berbeda dalam hal ini adalah ulama Malikiyah yang memerintahkan melihat ke depan, bukan ke tempat sujud. Namun, yang lebih tepat adalah memandang ke tempat sujud sebagaimana praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dikecualikan dalam hal ini adalah keadaan saat tahiyat, pandangan orang yang shalat menghadap ke jari telunjuk (yang jadi isyarat saat tahiyat). Cara ini berdasarkan hadits dari ‘Abdullah bin Az-Zubair ketika menerangkan tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana disebutkan, “Pandangan beliau tidak melebihi isyarat beliau.” (HR. Abu Daud, no. 990; An-Nasai, 3:39; Ahmad, 26:25; Ibnu Khuzaimah, no. 718,719. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa hadits ini sahih).
  4. Mengenai hukum memandang ke atas (ke langit) saat berdoa di luar shalat, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama menyatakan hukumnya makruh, sebagian ulama menyatakan boleh. Yang berpendapat bolehnya di antaranya adalah Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Menurut beliau, langit itu adalah kiblatnya doa, sebagaimana Kabah itu menjadi kiblat shalat. Namun, Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menguatkan pendapat yang menyatakan terlarang menghadapkan pandangan ke atas saat berdoa di luar shalat. Yang tepat, kiblat doa sama dengan kiblatnya shalat karena tiga alasan: (a) pendapat yang menyatakan bahwa mengangkat pandangan ke langit saat berdoa tidaklah memiliki dalil pendukung yang kuat, termasuk tidak didukung contoh dari para salaf terdahulu; (b) yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdoa adalah menghadap kiblat sebagaimana doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat shalat istisqa’ (minta hujan); (c) kiblat adalah arah dihadapkannya pandangan (wajah), dilakukan ketika berdzikir, berdoa, dan menyembelih; arah kiblat bukanlah dengan pandangan atau tangan yang diangkat.

Referensi:

Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:453-456.

—

Selasa pagi, 14 Safar 1443 H, 21 September 2021

@ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul

Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/29654-bulughul-maram-shalat-tidak-boleh-memandang-ke-atas-saat-shalat.html

Nikmat Waktu dalam Pandangan Seorang Muslim

Jika orang-orang barat mengatakan bahwa ‘Time is Money’ atau ‘Waktu adalah Uang’, maka bagi seorang muslim, waktu lebih mulia dan lebih berharga dari itu. Bagi seorang muslim “waktu adalah pahala”, waktu adalah rezeki yang Allah limpahkan kepada kita, waktu adalah kesempatan yang Allah berikan kepada seorang hamba untuk membekali dirinya dengan ketaatan. Dan seorang hamba tidak akan menyadari betapa berharganya waktu yang ia miliki dan betapa agungnya nikmat waktu tersebut, kecuali jika ia telah benar-benar mengetahui terlebih dahulu hakikat waktu dan kedudukannya di dalam kehidupan ini.

Dalam artikel kali ini, mari lebih mengenal hakikat waktu yang telah Allah berikan kepada kita ini, sehingga kita semua semakin bersemangat di dalam memanfaatkannya dan memaksimalkannya.

Hakikat waktu bagi seorang muslim

Berbicara tentang hakikat “waktu”, maka sejatinya ia adalah umur manusia dan masa hidupnya. Tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari, semuanya merupakan modal investasi yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya di kehidupan dunia ini. Mengapa demikian? Karena tidaklah satu hari berlalu dari kehidupan kita, kecuali umur kita pun ikut berkurang.

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengatakan tentang hakikat waktu ini,

“Waktu seseorang hakikatnya adalah umur kehidupannya. Dan itu akan menjadi modal serta kesempatan untuk meraih kehidupan abadinya dalam kebahagiaan abadi, atau menjadi sebab keberadaannya yang menyedihkan dalam siksa yang pedih.

Dan waktu berlalu seperti awan. Jika waktunya tersebut dia habiskan untuk Allah dan di sisi Allah, maka itulah (hakikat) kehidupan yang sebenarnya. Dan jika untuk selain itu, maka tidak dihitung sebagai bagian dari hidupnya, sekalipun dia menjalani kehidupannya seperti hewan ternak (hanya makan, minum, dan tidur saja).

Dan jika dia habiskan waktunya untuk melakukan sesuatu yang sia-sia dan melalaikan serta dipenuhi dengan harapan-harapan palsu, dan cara terbaik yang bisa dia lakukan untuk melewatinya hanyalah dengan tidur dan bermalas-malasan saja, maka matinya orang tersebut lebih baik dari pada hidupnya.” (Al-Jawab Al-Kafi)

Ketahuilah, bahwa waktu kosong dan senggang yang sering kita rasakan, pada kenyataannya adalah kesempatan yang bisa saja diisi dengan kebaikan ataupun keburukan. Disadari ataupun tidak, tidak ada satu momen pun yang berlalu dalam hidup kita, kecuali pasti ada aktifitas dan kesibukan yang kita kerjakan. Maka dari itu, berusahalah untuk menjadikan waktu yang kita miliki sebagai tabungan dan investasi amal kebaikan yang akan menjadi bekal kita ketika bertemu dengan Allah Ta’ala.

Waktu: Nikmat yang harus dipertanggungjawabkan

Umur yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, siang dan malam yang silih berganti datang kepada kita, nyawa yang terkandung dalam badan kita, semua itu sejatinya adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ * وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا

“Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya), dan telah menundukkan malam dan siang bagimu. Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 33-34)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

نِعْمَتانِ مَغْبُونٌ فِيهِما كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ والفَراغُ

“Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412)

Layaknya kenikmatan lainnya yang wajib disyukuri dan dipertanggungjawabkan oleh seorang hamba, nikmat waktu dan umur juga harus disyukuri dan akan Allah mintai pertanggungjawabannya di akhirat nanti. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

لا تَزولُ قَدَمَا عبدٍ حتى يُسأَلَ عن عُمُرِه فيمَ أفناهُ؟ وعن عِلمِه فيمَ فَعَلَ فيه؟ وعن مالِهِ من أين اكتسَبَهُ؟ وفيم أنفَقَهُ؟ وعن جِسمِه فيمَ أبلاهُ

“Dua kaki seorang hamba tidak akan bergerak (pada hari kiamat) sehingga dia ditanya tentang umurnya, kemana dihabiskan; tentang ilmunya, apakah yang telah dilakukan dengannya; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan; dan tentang badannya, untuk apa digunakan.” (HR. Tirmidzi no. 2417, Ad-Darimi no. 537, dan Abu Ya’la no. 7434)

Waktu adalah pahala bagi seorang muslim

Dalam agama Islam, waktu memiliki kedudukan yang sangat penting dan tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Tidaklah seorang hamba melewati sebuah hari, jam demi jam, menit demi menit, kecuali di dalamnya terdapat peluang untuk mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala telah mengatur waktu seorang muslim dengan sedemikian rupa. Dari ia bangun tidur di pagi hari hingga ia tidur kembali, ada ibadah dan amal saleh yang bisa diamalkan dan dipraktikkan setiap detiknya. Saat seorang hamba bangun tidur, lalu mengambil air wudu dan melaksanakan salat dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala yang lebih baik dari dunia dan seisinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat fajar (salat sunah qabliyah subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725)

Jika keutamaan salat sunah fajar saja demikian besarnya, lalu bagaimana dengan keutamaan salat Subuh itu sendiri?!

Saat matahari telah beranjak naik, seorang ayah keluar untuk mencari nafkah bagi keluarganya, maka ini juga bernilai pahala baginya apabila diniatkan ikhlas mengharap rida Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi).” (HR. Muslim no. 995)

Di siang hari saat ia makan siang, lalu bersyukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat yang telah diberikan kepadanya, maka ini juga bernilai pahala baginya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

الطاعمُ الشَّاكرُ بمنزلةِ الصائمِ الصابرِ

“Orang makan yang bersyukur, kedudukannya seperti halnya orang berpuasa yang bersabar.” (HR. At-Tirmidzi no. 2486, Ibnu Majah no. 1764, dan Ahmad no. 7793)

Belum lagi salat lima waktu yang dikerjakannya, zikir-zikir yang dilantunkannya, perbuatan baik dan budi pekerti mulia yang menghiasi dirinya, semua itu jika dijalankan dengan niat menaati Allah dan Rasulnya, maka juga dinilai sebagai ibadah oleh Allah Taala.

Jangan menunda-nunda dalam beramal!

Seorang mukmin harus memanfaatkan seluruh waktu dan umur yang dimilikinya untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Tidak menunggu esok hari untuk melakukan sebuah ketaatan dan amal saleh. Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk memaksimalkan waktu yang kita miliki dan tidak menunda-nunda dalam berbuat baik. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ

“Maka, apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”  (QS. Al-Insyirah: 7)

Lihatlah juga bagaimana para pendahulu kita di dalam mengatur dan memaksimalkan waktu yang mereka miliki. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,

مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْئٍ نَدْمِي عَلَى يَوْمٍ غَرَبَتْ شَمْسُهُ نَقَصَ فِيْهِ أَجَلِيْ وَلَمْ يَزِدْ فِيْهِ عَمَلِيْ

“Aku tidak pernah memiliki penyesalan yang demikian mendalam dibandingkan dengan penyesalanku akan berlalunya satu hari yang amalku tidak bertambah pada hari itu, padahal ajalku semakin berkurang.” (Qimah Az-Zaman ‘Inda Al-Ulama, hal. 47)

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya “Madariju As-Salikin” menyebutkan perkataan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah,

صحبتُ الصُّوفيّة، فما انتفعتُ منهم إلّا بكلمتين. سمعتهم يقولون:‌‌ الوقت سَيفٌ، فإن قطعتَه وإلّا قطَعَك. ونفسك إن لم تَشْغَلْها بالحقِّ شَغَلَتْك بالباطل

“Aku berteman dengan kaum sufi. Namun, aku tidak mendapatkan manfaat darinya, kecuali dua kata yang aku dengar darinya. Mereka mengatakan, ‘Waktu adalah pedang. Oleh karena itu, kamu harus menggunakannya dan memanfaatkannya. Jika tidak, maka ia yang justru akan memotong kamu dan dirimu. Dan jiwamu, jika kamu tidak sibukkan untuk kebaikan, maka ia justru yang akan disibukkan untuk kebatilan.” (Madariju As-Salikin, 3:546)

Wallahu A’lam bis-shawab.

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/88853-nikmat-waktu-dalam-pandangan-seorang-muslim.html

Apakah Arwah Orang Mati Bisa Merasuki Orang Hidup?

Belum lama ini publik kembali dihebohkan oleh sebuah kasus kematian yang sebenarnya terjadi beberapa tahun yang lalu. Kasus ini kembali terangkat setelah adanya fenomena kerasukan yang mengaku sebagai arwah orang mati tersebut, lalu dia menceritakan kronologi dan penyebab kematiannya. Bahkan kisahnya pun diangkat ke layar lebar yang membuat kasus ini semakin viral di tengah masyarakat.

Lantas, bagaimana Islam memandang fenomena semacam ini? Dalam keyakinan kita, ruh-ruh orang yang sudah mati tidak akan mungkin lagi kembali ke dunia ini. Ketika Allah sudah menetapkan kematiannya, maka Allah akan tahan kehidupannya di alam kubur hingga hari kiamat. Allah berfirman,

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ؛ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia).” Agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Ayat ini menegaskan bahwa ruh orang mati tidak mungkin lagi kembali ke dunia ini untuk beramal, apalagi sekedar untuk merasuki orang yang masih hidup dan memberikan keterangan-keterangan tertentu. Kehidupan mereka dibatasi oleh suatu dinding yang tidak akan mungkin untuk dilewati kembali, itulah alam barzakh yang tidak mungkin ditembus. Allah berfirman di surat Ar-Rahman menggambarkan barzakh ini,

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيٰنِۙ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيٰنِۚ

“Dia membiarkan dua laut (tawar dan asin) bertemu. Di antara keduanya ada pembatas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS Ar-Rahman: 19-20)

Hanya ada dua kemungkinan untuk fenomena kerasukan tersebut.

Pertama, hanya sandiwara dengan maksud untuk mencari sensasi atau tujuan lainnya, sehingga dia berakting dan berbohong layaknya di film-film untuk kepentingan tertentu.

Kedua, orang itu benar kerasukan, tetapi kerasukan oleh jin lalu mengaku sebagai arwah orang mati. Dan kerasukan jin merupakan suatu fenomena yang riil bisa terjadi. Realita ini telah diisyaratkan oleh Allah di dalam Al-Quran,

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ

“Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba.” (QS Al-Baqarah: 275)

Sedangkan benar atau tidaknya keterangan dari jin yang merasukinya, maka tidak ada yang bisa memastikan dan mendeteksi benar atau salah keterangannya. Jin boleh jadi berkata jujur, boleh jadi berkata bohong. Sebagaimana kisah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang menangkap sesosok jin lalu jin itu memberikan keterangan dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan keterangan tersebut setelah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu melaporkannya, walaupun asalnya jin adalah seorang pendusta ulung.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/apakah-arwah-orang-mati-bisa-merasuki-orang-hidup.html

Jangan Mudah Menerima Berita Media

Lakukanlah tabayyun, kroscek atau carilah kejelesan terhadap berita-berita media, jangan terima mentah-mentah begitu saja. Apalagi media yang ada saat ini cuma cari tenar dan sensasi.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta atau keliru.”

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di saat menerangkan ayat di atas, beliau berkata, “Termasuk adab bagi orang yang cerdas yaitu setiap berita yang datang dari orang kafir hendaknya dicek terlebih dahulu, tidak diterima mentah-mentah. Sikap asal-asalan menerima amatlah berbahaya dan dapat menjerumuskan dalam dosa. Jika diterima mentah-mentah, itu sama saja menyamakan dengan berita dari orang yang jujur dan adil. Ini dapat membuat rusaknya jiwa dan harta tanpa jalan yang benar. Gara-gara berita yang asal-asalan diterima akhirnya menjadi penyesalan.

Sekali lagi untuk berita dari orang fasik, hendaklah benar-benar dilakukan kroscek dan cari kejelasan. Jika sudah dapat bukti akan benarnya berita tersebut, baru boleh diterima. Jika terbukti dusta, maka jelas harus didustakan dan tidak boleh diamalkan.”

As Sa’di menyatakan lagi selanjutnya, “Ayat tersebut juga jadi dalil bahwa berita dari orang yang jujur itu diterima. Sedangkan berita dari orang yang berdusta, tertolak. Sehingga berita dari orang fasik, maka didiamkan. Oleh karenanya salaf tetap masih menerima riwayat dari orang Khawarij yang terkenal jujur walau ia fasik.” Demikian disebutkan oleh Syaikh dalam Taisir Al Karimir Rahman.

Sikapilah berita yang ada dengan cermat di berbagai media yang ada di internet, TV dan radio. Berita-berita yang ada bukanlah dari orang yang jujur, namun dari orang yang ingin cari ketenaran, ingin ratingnya naik, ingin buat sensasi dan ada yang maksudnya demi mendapat penghasilan semata. Tugas kita harus pandai-pandai mengkroscek dan mencari kebenaran suatu berita tidak memasukkan dalam telinga begitu saja atau bahkan dengan mudahnya disebar pada yang lain.

Lebih-lebih berbagai berita di masa kampanye Pilpres saat ini. Ada media yang sengaja menjatuhkan satu caleg dengan kampanye hitam dan ada yang terlalu membela berlebihan.

Hati-hatilah!

Hanya Allah yang memberi taufik.

—

Disusun @ Banjarmasin, Kalsel, 09 Sya’ban 1435 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Sumber https://rumaysho.com/7891-jangan-mudah-menerima-berita-media.html