Kefakiran Yang Paling Besar

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

ولا تحسبن الفقر من فقد الغنى، ولكن فقد الدين من أعظم الفقر

“Janganlah sekali-sekali engkau menganggap bahwa fakir itu dengan hilangnya kekayaan akan tetapi hilangnya agama adalah bentuk kefakiran yang paling besar.” (Kitab Majmu’u ar-Rasa`il, I/65)

Faktor agama merupakan standar hidup yang harus diupayakan setiap mukmin. Status seseorang itu miskin (harta), namun dia menjadi unggul karena keshalihannya di sisi Allah Ta’ala. Demikian pula, ketika seseorang dianugerahi kekayaan atau harta yang melimpah maupun kedudukan, namun tak memiliki adab, tidak mau belajar agama, enggan beramal shalih, dan mengutamakan dunia dibandingkan kehidupan akhirat, maka merekalah orang yang fakir.

Makhluk cerdas tak tergoyahkan imannya ketika mayoritas manusia berlomba-lomba membangun kehidupan dunia. Mukmin bertakwa justru lebih fokus menghibahkan untuk membangun kehidupan akhiratnya.

Yahya Bin Mu’adz berkata: “Dunia hanya jembatan menuju akhirat, lewati saja dan jangan memperindahnya, tidak masuk akal membangun istana di atas jembatan.” (Al-Hilyah, 3/260)

Seorang mukmin yang beriman dan bertakwa akan mulia di sisi Allah Ta’ala meskipun kehidupan ekonominya serba kekurangan. Kesabarannya dalam menghadapi keterbatasan makanan, tempat tinggal, pakaian, dan berbagai fasilitas penunjang hidup tidak menggoyahkannya untuk tetap komitmen pada syariat Islam. Kemiskinan dihadapinya dengan penuh tawakal dan sabar karena inilah yang telah dipilihkan Allah Ta’ala yang terbaik untuk dunia dan akhiratnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ ….

” … dan tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas bagi seseorang daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari (no.1469) dan Muslim (no. 1053) dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu)

Selama seorang mukmin masih kokoh memegang agama, menjaga sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya ia akan bahagia meskipun orang-orang menilai mereka orang yang menderita dan serba kekurangan. Kenikmatan yang tiada tandingnya telah mereka nikmati ketika hidup mereka diniatkan sebagai ibadah, hari-harinya dipenuhi dengan giat menuntut ilmu agama, hak-hak mereka mulia karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka senantiasa beramal shalih.

Inilah sejatinya kekayaan hati dan nikmat iman yang jarang diraih oleh para pemburu dunia yang lebih mengutamakan kenikmatan sesaat dan memandang remeh orang yang mencintai kehidupan akhirat.

Di zaman fitnah ini seorang mukmin harus selalu memperkokoh iman, giat belajar agama, dan senantiasa berdoa kepada Allah Ta’ala agar tetap memegang agama dan menjadikannya sebagai petunjuk agar hidupnya tidak tersesat. Agama merupakan harta termulia, termahal, dan tiada bandingannya yang harus selalu dijaga dan dibela sampai mati.

Banyak kisah-kisah mengagumkan orang-orang yang ikhlas meninggalkan dunia demi mencari kebahagiaan hakiki dalam Islam. Mereka rela menderita untuk mempertahankan agamanya dengan pengorbanan yang sedemikian besar. Semua ini karena keyakinannya yang tinggi bahwa agama adalah kekayaan terbesar dan harus dijaga dan dipertahankan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُوشِكَ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الرَّجُلِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنْ الْفِتَنِ

“Hampir-hampir sebaik-baik harta orang muslim ialah kambing yang digembalakannya di gunung dan di lembah karena ia lari mengasingkan diri demi menyelamatkan agamanya dari fitnah.” (HR. Al Bukhari no. 19, dari Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu)

Alangkah beruntungnya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak terjebak dalam fitnah harta sehingga mereka berhijrah menuju Madinah untuk menyelamatkan agamanya. Dan sangat cerdasnya para sahabat Anshor yang demi ukhuwah iman, mereka membantu para Muhajirin agar tetap kokoh agamanya dengan berbagai bantuan meskipun mereka juga sangat membutuhkannya. Sedikit maupun banyaknya kekayaan bagi seorang mukmin tetap mulia ketika semua itu tidak melalaikannya dalam ibadah. Bahkan, kekayaan yang mampu mengokohkan dalam ketaatan dan amal shalih, inilah harta yang berkah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ

“Nikmat harta yang baik adalah yang dimiliki laki-laki yang shalih.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya, Juz 4 no. 197 dan 202, di-shahih-kan al-Albani dalam Ghayatul Maram, no. 454).

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi:

1). Kiat-kiat Islam Mengatasi Kemiskinan, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka at- Taqwa, Bogor, 2015.

2).Mencari Kunci Rizki yang Hilang, Zainal Abidin Syamsudin, Pustaka Imam Abu Hanifah, Jakarta, 2008.

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/14452-kefakiran-yang-paling-besar.html

Jauhi Syubhat agar Tak Sesat

Syubhat berbahaya bukan karena kebatilannya terlihat jelas, tetapi justru karena kebatilan itu sering datang memakai pakaian kebenaran. Satu potongan video, satu istilah yang terdengar ilmiah, atau satu pendapat yang dikemas meyakinkan bisa membuat orang yang kurang ilmu mulai meragukan agamanya. Karena itu, mengenali syubhat dan mengetahui cara menjauhinya adalah bagian penting dalam menjaga hati agar tetap berada di atas petunjuk.

Apa itu Syubhat?

Kata syubhat (الشُّبْهَة) berasal dari makna adanya kemiripan dan kesamaran.

Sesuatu disebut syubhat karena kebenaran bercampur atau menyerupai kebatilan sehingga orang yang tidak memiliki ilmu dan bashirah bisa sulit membedakannya.

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:

وَالشُّبْهَةُ: وَارِدٌ يَرِدُ عَلَى الْقَلْبِ، يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ انْكِشَافِ الْحَقِّ لَهُ، فَمَتَى بَاشَرَ الْقَلْبُ حَقِيقَةَ الْعِلْمِ، لَمْ تُؤَثِّرْ تِلْكَ الشُّبْهَةُ فِيهِ، بَلْ يَقْوَى عِلْمُهُ وَيَقِينُهُ بِرَدِّهَا وَمَعْرِفَةِ بُطْلَانِهَا، وَمَتَى لَمْ يُبَاشِرْ حَقِيقَةَ الْعِلْمِ بِالْحَقِّ قَلْبُهُ قَدَحَتْ فِيهِ الشَّكَّ بِأَوَّلِ وَهْلَةٍ، فَإِنْ تَدَارَكَهَا وَإِلَّا تَتَابَعَتْ عَلَى قَلْبِهِ أَمْثَالُهَا، حَتَّى يَصِيرَ شَاكًّا مُرْتَابًا.

“Syubhat adalah sesuatu yang datang kepada hati lalu menghalangi hati tersebut dari tersingkapnya kebenaran. Jika hakikat ilmu telah benar-benar menyentuh hati, syubhat itu tidak akan memengaruhinya. Bahkan ilmu dan keyakinannya semakin kuat ketika ia mampu membantah dan mengetahui kebatilannya. Namun, jika hati belum benar-benar mengenal hakikat kebenaran, syubhat pertama yang datang dapat menyalakan keraguan. Jika tidak segera ditangani, syubhat-syubhat lain akan datang berturut-turut sampai seseorang menjadi penuh keraguan dan kebimbangan.” (Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, buku “Lebih Kaya dengan Ilmu”, hlm. 66).

Maka, syubhat bukan sekadar “ada pertanyaan”.

Bertanya untuk mencari kebenaran adalah baik.

Syubhat menjadi berbahaya ketika kekeliruan masuk ke dalam hati sehingga kebenaran terlihat meragukan dan kebatilan justru tampak masuk akal.

Syubhat Tidak Selalu Sama dengan Perkara Musytabih dalam Halal dan Haram

Ada istilah yang harus dibedakan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ…

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara samar yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599).

Takhrij: Hadis dari An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī, no. 52; Muslim dalam Ṣaḥīḥ Muslim, no. 1599; juga diriwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, dan Ahmad. Hadis ini sahih.

Musytabihāt dalam hadis ini berkaitan dengan perkara hukum yang belum jelas bagi banyak orang.

Sedangkan syubhat pemikiran yang sedang kita bahas lebih luas: kerancuan yang masuk kepada cara seseorang memahami akidah, agama, wahyu, nilai, atau kebenaran.

Keduanya sama-sama menuntut kehati-hatian, tetapi tidak selalu identik.

Apa itu Sesat atau Ḍalālah?

Dalam bahasa Al-Qur’an, ḍalāl (الضَّلَال) adalah lawan dari hidayah. Artinya keluar, menyimpang, atau tidak berada di jalan petunjuk yang benar.

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ

“Tidak ada setelah kebenaran itu kecuali kesesatan.” (QS. Yunus: 32)

Allah juga berfirman,

وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.” (QS. Az-Zumar: 36)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

مَنْ فَارَقَ الدَّلِيلَ ضَلَّ السَّبِيلَ، وَلَا دَلِيلَ إِلَّا بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ ﷺ

“Siapa yang meninggalkan dalil, ia akan tersesat dari jalan. Tidak ada petunjuk yang sebenarnya kecuali dengan apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Ibnul Qayyim, Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, 1:299).

Karena itu, kesesatan bukan hanya berarti sengaja membenci kebenaran.

Seseorang bisa tersesat karena:

  • tidak mengetahui kebenaran,
  • salah memahami dalil,
  • mengikuti hawa nafsu,
  • mengikuti tokoh tanpa ilmu,
  • terpengaruh syubhat,
  • atau menjadikan sesuatu selain wahyu sebagai hakim tertinggi atas wahyu.

Apakah Syubhat Bisa Membuat Orang Sesat?

Jawabannya: bisa.

Namun, tidak setiap orang yang terkena satu syubhat otomatis divonis sebagai orang sesat, ahli bid’ah, apalagi kafir.

Ada perbedaan antara:

  • terkena syubhat,
  • belum mengetahui jawabannya,
  • meyakini kesalahan karena ketidaktahuan,
  • dan sengaja menolak kebenaran setelah jelas hujahnya.

Yang perlu diwaspadai adalah prosesnya.

Ibnul Qayyim menjelaskan:

وَقَوْلُهُ: «يَنْقَدِحُ الشَّكُّ فِي قَلْبِهِ بِأَوَّلِ عَارِضٍ مِنْ شُبْهَةٍ»؛ هَذَا لِضَعْفِ عِلْمِهِ وَقِلَّةِ بَصِيرَتِهِ، إِذَا وَرَدَتْ عَلَى قَلْبِهِ أَدْنَى شُبْهَةٍ قَدَحَتْ فِيهِ الشَّكَّ وَالرَّيْبَ، بِخِلَافِ الرَّاسِخِ فِي الْعِلْمِ، لَوْ وَرَدَتْ عَلَيْهِ مِنَ الشُّبَهِ بِعَدَدِ أَمْوَاجِ الْبَحْرِ مَا أَزَالَتْ يَقِينَهُ، وَلَا قَدَحَتْ فِيهِ شَكًّا؛ لِأَنَّهُ قَدْ رَسَخَ فِي الْعِلْمِ، فَلَا تَسْتَفِزُّهُ الشُّبُهَاتُ، بَلْ إِذَا وَرَدَتْ عَلَيْهِ رَدَّهَا حَرَسُ الْعِلْمِ وَجَيْشُهُ مَغْلُولَةً مَغْلُوبَةً.

Maknanya, orang yang lemah ilmunya dapat terguncang hanya oleh satu syubhat kecil. Adapun orang yang mendalam ilmunya, seandainya datang kepadanya syubhat sebanyak gelombang lautan, keyakinannya tidak mudah hilang. Pasukan ilmu yang berada di dalam hatinya akan menolak syubhat tersebut.

Gambaran sederhananya:

lemah ilmu → syubhat masuk → timbul ragu → syubhat dibiarkan → keraguan bertambah → kebenaran menjadi kabur → seseorang dapat tersesat.

Karena itu, ilmu bukan hanya menambah informasi.

Ilmu adalah benteng hati.

Dua Pasukan yang Menyerang Hati: Syubhat dan Syahwat

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa hati dapat diserang oleh dua pasukan kebatilan:

جَيْشُ شَهَوَاتِ الْغَيِّ، وَجَيْشُ شُبُهَاتِ الْبَاطِلِ

“Pasukan syahwat yang menjerumuskan dan pasukan syubhat kebatilan.”

  • Jika hati menerima syahwat, keinginan yang salah akan menguasai perbuatan.
  • Jika hati menerima syubhat, keraguan dan pemikiran yang salah akan menguasai keyakinan dan lisan.

Maka penyakit manusia secara umum dapat dilihat dari dua arah:

  • Syubhat merusak cara berpikir.
  • Syahwat merusak cara menginginkan.

Orang yang terkena syahwat bisa berkata:

“Saya tahu ini salah, tetapi saya masih ingin melakukannya.”

Sedangkan orang yang terkena syubhat bisa berkata:

“Saya justru yakin ini benar.”

Di sinilah syubhat terkadang lebih sulit ditangani.

Ia membuat seseorang melakukan kesalahan sambil merasa sedang membela kebenaran.

Mengapa Disebut Syubhat? Karena Kebatilan Memakai Baju Kebenaran

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَإِنَّمَا سُمِّيَتِ الشُّبْهَةُ شُبْهَةً لِاشْتِبَاهِ الْحَقِّ بِالْبَاطِلِ فِيهَا؛ فَإِنَّهَا تَلْبَسُ ثَوْبَ الْحَقِّ عَلَى جِسْمِ الْبَاطِلِ، وَأَكْثَرُ النَّاسِ أَصْحَابُ حُسْنٍ ظَاهِرٍ، فَيَنْظُرُ النَّاظِرُ فِيمَا أُلْبِسَتْهُ مِنَ اللِّبَاسِ فَيَعْتَقِدُ صِحَّتَهَا، وَأَمَّا صَاحِبُ الْعِلْمِ وَالْيَقِينِ فَإِنَّهُ لَا يَغْتَرُّ بِذَلِكَ، بَلْ يُجَاوِزُ نَظَرَهُ إِلَى بَاطِنِهَا وَمَا تَحْتَ لِبَاسِهَا، فَيَنْكَشِفُ لَهُ حَقِيقَتُهَا.

“Syubhat dinamakan syubhat karena bercampurnya kebenaran dan kebatilan di dalamnya. Syubhat mengenakan pakaian kebenaran pada tubuh kebatilan. Kebanyakan manusia melihat apa yang tampak dari luarnya sehingga mengira bahwa syubhat itu benar. Adapun orang yang memiliki ilmu dan keyakinan tidak tertipu dengannya. Ia melihat lebih jauh kepada apa yang ada di balik pakaian tersebut sehingga hakikatnya tersingkap.”

Kalimat ini sangat relevan pada zaman media sosial.

Syubhat hari ini sering datang dengan kemasan:

  • “riset membuktikan …”
  • “secara logika …”
  • “akal sehat mengatakan …”
  • “atas nama kemanusiaan …”
  • “demi kebebasan …”
  • “demi toleransi …”
  • “semua agama sebenarnya sama …”
  • “yang penting hatinya baik …”
  • “yang penting niatnya baik …”
  • “ustadz terkenal juga mengatakan …”

Tidak semua istilah itu salah.

Namun, jangan hanya melihat kemasannya.

Tanyakan:

  • Apa yang sebenarnya dimaksud?
  • Apa dalilnya?
  • Benarkah kesimpulannya?

Syubhat Seperti Uang Palsu yang Berlapis Perak

Ibnul Qayyim rahimahullah membuat perumpamaan yang sangat menarik:

وَمِثَالُ هَذَا: الدِّرْهَمُ الزَّائِفُ؛ فَإِنَّهُ يَغْتَرُّ بِهِ الْجَاهِلُ بِالنَّقْدِ، نَظَرًا إِلَى مَا عَلَيْهِ مِنْ لِبَاسِ الْفِضَّةِ، وَالنَّاقِدُ الْبَصِيرُ يُجَاوِزُ نَظَرَهُ إِلَى مَا وَرَاءَ ذَلِكَ فَيَطَّلِعُ عَلَى زَيْفِهِ.

فَاللَّفْظُ الْحَسَنُ الْفَصِيحُ هُوَ لِلشُّبْهَةِ بِمَنْزِلَةِ اللِّبَاسِ مِنَ الْفِضَّةِ عَلَى الدِّرْهَمِ الزَّائِفِ، وَالْمَعْنَى كَالنُّحَاسِ الَّذِي تَحْتَهُ.

وَكَمْ قَدْ قَتَلَ هَذَا الِاغْتِرَارُ مِنْ خَلْقٍ لَا يُحْصِيهِمْ إِلَّا اللهُ!

وَإِذَا تَأَمَّلَ الْعَاقِلُ الْفَطِنُ هَذَا الْقَدْرَ وَتَدَبَّرَهُ رَأَى أَكْثَرَ النَّاسِ يَقْبَلُ الْمَذْهَبَ وَالْمَقَالَةَ بِلَفْظٍ، وَيَرُدُّهَا بِعَيْنِهَا بِلَفْظٍ آخَرَ!، وَقَدْ رَأَيْتُ أَنَا مِنْ هَذَا فِي كُتُبِ النَّاسِ مَا شَاءَ اللهُ.

وَكَمْ قَدْ رُدَّ مِنَ الْحَقِّ بِتَشْنِيعِهِ بِلِبَاسٍ مِنَ اللَّفْظِ قَبِيحٍ!

وَفِي مِثْلِ هَذَا قَالَ أَئِمَّةُ السُّنَّةِ ــ مِنْهُمْ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ ــ: «لَا نُزِيلُ عَنِ اللهِ صِفَةً مِنْ صِفَاتِهِ لِأَجْلِ شَنَاعَةٍ شُنِّعَتْ».

فَهَؤُلَاءِ الْجَهْمِيَّةُ يُسَمُّونَ إِثْبَاتَ صِفَاتِ الْكَمَالِ لِلَّهِ ــ مِنْ حَيَاتِهِ، وَعِلْمِهِ، وَكَلَامِهِ، وَسَمْعِهِ، وَبَصَرِهِ، وَسَائِرِ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ ــ تَشْبِيهًا وَتَجْسِيمًا، وَمَنْ أَثْبَتَ ذَلِكَ مُشَبِّهًا؛ فَلَا يَنْفِرُ مِنْ هَذَا الْمَعْنَى الْحَقِّ لِأَجْلِ هَذِهِ التَّسْمِيَةِ الْبَاطِلَةِ إِلَّا الْعُقُولُ الصَّغِيرَةُ الْقَاصِرَةُ، خَفَافِيشُ الْبَصَائِرِ.

وَكُلُّ أَهْلِ نِحْلَةٍ وَمَقَالَةٍ يَكْسُونَ نِحْلَتَهُمْ وَمَقَالَتَهُمْ أَحْسَنَ مَا يَقْدِرُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ، وَمَقَالَةَ مُخَالِفِيهِمْ أَقْبَحَ مَا يَقْدِرُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ، وَمَنْ رَزَقَهُ اللهُ بَصِيرَةً فَهُوَ يَكْشِفُ بِهَا حَقِيقَةَ مَا تَحْتَ تِلْكَ الْأَلْفَاظِ مِنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَلَا يَغْتَرُّ بِاللَّفْظِ، كَمَا قِيلَ فِي هَذَا الْمَعْنَى:

تَقُولُ هَذَا جَنَى النَّحْلِ تَمْدَحُهُ … وَإِنْ تَشَأْ قُلْتَ ذَا قَيْءُ الزَّنَابِيرِ

مَدْحًا وَذَمًّا وَمَا جَاوَزْتَ وَصْفَهُمَا … وَالْحَقُّ قَدْ يَعْتَرِيهِ سُوءُ تَعْبِيرِ

Ibnul Qayyim mengibaratkan syubhat seperti uang palsu yang bagian luarnya dilapisi perak. Orang yang tidak ahli akan tertipu oleh kilaunya. Adapun ahli uang akan memeriksa apa yang berada di balik lapisan tersebut.

Demikian pula sebuah pemikiran.

Kalimat yang menarik belum tentu benar.

Istilah yang buruk belum tentu menunjukkan isi yang buruk.

Istilah yang indah juga belum tentu menunjukkan isi yang benar.

Karena itu, jangan menilai gagasan hanya dari labelnya.

Macam-Macam Syubhat

Syubhat dapat dipetakan berdasarkan bentuk masuknya.

1. Syubhat tentang sumber kebenaran

Misalnya:

“Agama boleh diterima selama sesuai dengan logika manusia.”

Padahal akal yang sehat dan wahyu yang sahih tidak mungkin bertentangan secara hakiki.

Masalah muncul ketika dugaan manusia dianggap sebagai “akal”, kemudian dijadikan hakim atas wahyu.

Prinsip yang aman adalah:

akal digunakan untuk memahami wahyu, bukan untuk membatalkan wahyu yang telah sahih.

2. Syubhat karena salah memahami dalil

Dalilnya benar, tetapi cara menggunakannya keliru.

Misalnya:

  • satu ayat dipotong tanpa melihat ayat sebelum dan sesudahnya,
  • satu hadis dibaca tanpa penjelasan ulama,
  • hadis dhaif dianggap sahih,
  • dalil umum digunakan pada kasus khusus,
  • perbedaan pendapat dianggap sama dengan kebebasan memilih pendapat sesuka hati.

Di zaman media sosial, potongan video 30 detik dapat memberi kesan seolah persoalan agama yang rumit sudah selesai.

Padahal tidak.

3. Syubhat karena permainan istilah

Ini termasuk pelajaran besar dari Ibnul Qayyim.

Istilah seperti:

  • “kebebasan”,
  • “hak”,
  • “toleransi”,
  • “kesetaraan”,
  • “cinta”,
  • “kemanusiaan”,
  • “moderat”,
  • “inklusif”,
  • “akal sehat”,

tidak otomatis benar atau salah.

Yang harus diperiksa adalah:

  • Apa definisinya?
  • Apa konsekuensinya?
  • Apakah sesuai syariat?

Jangan sampai kita menerima sebuah pemikiran hanya karena namanya indah.

4. Syubhat karena mengikuti dugaan dan hawa nafsu

Allah Ta’ala berfirman,

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka, padahal sungguh telah datang kepada mereka petunjuk dari Rabb mereka.” (QS. An-Najm: 23)

Kadang seseorang tidak mencari:

“Apa hukum Allah?”

Tetapi ia mencari:

“Pendapat mana yang cocok dengan keinginan saya?”

Ini berbahaya.

Syahwat kemudian mencari syubhat sebagai pengacara pembela.

5. Syubhat karena figur

  • “Tokoh besar mengatakan begitu.”
  • “Profesor tersebut mengatakan begitu.”
  • “Ustadz itu punya jutaan pengikut.”
  • “Konten itu sudah ditonton sepuluh juta kali.”

Semua itu bukan dalil.

Ulama bisa salah.

Akademisi bisa salah.

Tokoh populer bisa salah.

Yang menjadi ukuran adalah dalil dan kebenaran.

6. Syubhat karena niat baik

“Yang penting niatnya baik.”

Padahal niat baik tidak mengubah cara yang haram menjadi halal.

Seorang muslim memerlukan dua hal:

ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

7. Syubhat scientism

Misalnya:

“Kalau tidak bisa dibuktikan di laboratorium, berarti tidak ada.”

Ini bukan sains, tetapi menjadikan metode empiris sebagai satu-satunya jalan mengetahui seluruh realitas.

Padahal banyak realitas tidak dibuktikan dengan eksperimen laboratorium.

Apalagi perkara ghaib yang sumber pengetahuannya adalah wahyu.

8. Syubhat relativisme

Misalnya:

“Semua kebenaran tergantung sudut pandang.”

  • Islam mengenal wilayah ijtihad.
  • Islam mengenal khilaf (beda pendapat).
  • Tetapi Islam tidak mengajarkan bahwa semua pendapat selalu sama benarnya.

Allah Ta’ala berfirman,

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu datang dari Rabbmu, maka janganlah engkau termasuk orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah: 147)

Apa Induk Syubhat yang Paling Berbahaya?

Di antara akar terbesar munculnya syubhat adalah berbicara tentang Allah tanpa ilmu.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah, ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui.’” (QS. Al-A‘raf: 33)

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa berbicara tentang Allah tanpa ilmu mencakup berbicara tanpa ilmu mengenai nama dan sifat-Nya, perbuatan-Nya, agama-Nya, dan syariat-Nya. Penjelasan ini terdapat dalam I‘lām Al-Muwaqqi‘īn.

Mengapa begitu berbahaya?

Karena berbagai kesesatan bisa bermula dari seseorang yang berkata:

“Menurut Islam begini …”

padahal Allah tidak pernah mengatakannya.

Atau:

“Agama sebenarnya mengajarkan begini …”

tanpa ilmu.

Pada zaman media sosial, siapa pun dapat berbicara.

Namun kemampuan membuat konten tidak otomatis sama dengan kemampuan memahami agama.

Syubhat Zaman Sekarang Sering Datang Melalui Layar

Dahulu orang harus mendatangi majelis tertentu atau membaca buku tertentu untuk mendapatkan suatu pemikiran.

Sekarang syubhat bisa masuk saat seseorang sedang berbaring memegang telepon genggam.

Algoritma tidak bertanya:

“Apakah ilmu orang ini cukup?”

Algoritma hanya melihat:

“Apakah ia akan terus menonton?”

Satu video mengantarkan kepada video berikutnya.

Satu keraguan mengantarkan kepada keraguan berikutnya.

Sampai akhirnya seseorang tidak lagi tahu mana pertanyaan yang benar-benar ingin dijawab dan mana syubhat yang sengaja diproduksi untuk mengguncang keyakinan.

Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2317 dan Ibnu Majah, no. 3976; dinilai sahih oleh Al-Albani).

Takhrij: Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan At-Tirmidzi, no. 2317 dan Ibnu Majah, no. 3976. Dinilai sahih oleh Al-Albani dan sahih dengan syawahid oleh Syu’aib Al-Arnauth.

Tidak semua kontroversi wajib kita ikuti.

Tidak semua debat wajib kita dengar.

Tidak semua syubhat wajib kita masukkan ke kepala.

Jangan Jadikan Hati Seperti Spons

Ini salah satu nasihat paling indah dari Ibnu Taimiyyah kepada Ibnul Qayyim.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَقَالَ لِي شَيْخُ الْإِسْلَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ــ وَقَدْ جَعَلْتُ أُورِدُ عَلَيْهِ إِيرَادًا بَعْدَ إِيرَادٍ ــ: «لَا تَجْعَلْ قَلْبَكَ لِلْإِيرَادَاتِ وَالشُّبُهَاتِ مِثْلَ السِّفِنْجَةِ، فَيَتَشَرَّبَهَا، فَلَا يَنْضَحُ إِلَّا بِهَا، وَلَكِنِ اجْعَلْهُ كَالزُّجَاجَةِ الْمُصْمَتَةِ، تَمُرُّ الشُّبُهَاتُ بِظَاهِرِهَا وَلَا تَسْتَقِرُّ فِيهَا، فَيَرَاهَا بِصَفَائِهِ، وَيَدْفَعُهَا بِصَلَابَتِهِ، وَإِلَّا فَإِذَا أَشْرَبْتَ قَلْبَكَ كُلَّ شُبْهَةٍ تَمُرُّ عَلَيْكَ صَارَ مُقَرًّا لِلشُّبُهَاتِ»

أَوْ كَمَا قَالَ؛ فَمَا أَعْلَمُ أَنِّي انْتَفَعْتُ بِوَصِيَّةٍ فِي دَفْعِ الشُّبُهَاتِ كَانْتِفَاعِي بِذَلِكَ.**

Ibnul Qayyim menceritakan bahwa ketika ia terus mengajukan berbagai kerancuan kepada gurunya, Ibnu Taimiyyah menasihati:

“Jangan jadikan hatimu seperti spons yang menyerap seluruh syubhat hingga yang keluar darinya hanyalah syubhat. Jadikan ia seperti kaca yang padat dan bening. Syubhat melewati permukaannya tetapi tidak menetap di dalamnya. Dengan kejernihannya ia melihat syubhat, dan dengan kekuatannya ia menolaknya.”

Ibnul Qayyim kemudian mengatakan bahwa ia hampir tidak pernah mendapatkan nasihat dalam menghadapi syubhat yang lebih bermanfaat daripada nasihat tersebut.

Nasihat ini juga dinukil oleh IslamQA dan Islamweb dari Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, 1/139–140.

Untuk zaman ini, maknanya sederhana:

Jangan jadikan timeline sebagai guru akidah.

Bagaimana Menilai Sebuah Gagasan dengan Adil?

Ibnul Qayyim memberikan kaidah penting:

فَإِذَا أَرَدْتَ الِاطِّلَاعَ عَلَى كُنْهِ الْمَعْنَى: هَلْ هُوَ حَقٌّ أَوْ بَاطِلٌ؟ فَجَرِّدْهُ مِنْ لِبَاسِ الْعِبَارَةِ، وَجَرِّدْ قَلْبَكَ مِنَ النُّفْرَةِ وَالْمَيْلِ، ثُمَّ أَعْطِ النَّظَرَ حَقَّهُ، نَاظِرًا بِعَيْنِ الْإِنْصَافِ، وَلَا تَكُنْ مِمَّنْ يَنْظُرُ فِي مَقَالَةِ أَصْحَابِهِ وَمَنْ يُحْسِنُ ظَنَّهُ بِهِ نَظَرًا تَامًّا بِكُلِّ قَلْبِهِ، ثُمَّ يَنْظُرُ فِي مَقَالَةِ خُصُومِهِ وَمَنْ يُسِيءُ ظَنَّهُ بِهِ كَنَظَرِ الشَّزْرِ وَالْمُلَاحَظَةِ.

فَالنَّاظِرُ بِعَيْنِ الْعَدَاوَةِ يَرَى الْمَحَاسِنَ مَسَاوِيَ، وَالنَّاظِرُ بِعَيْنِ الْمَحَبَّةِ عَكْسُهُ، وَمَا سَلِمَ مِنْ هَذَا إِلَّا مَنْ أَرَادَ اللَّهُ كَرَامَتَهُ وَارْتَضَاهُ لِقَبُولِ الْحَقِّ…

وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَقَبُولِهِ، وَرَدِّ الْبَاطِلِ وَعَدَمِ الِاغْتِرَارِ بِهِ.**

Jika ingin mengetahui apakah suatu gagasan benar atau batil, lepaskan dahulu kemasan bahasanya. Bersihkan hati dari rasa cinta atau benci yang berlebihan. Kemudian lihatlah dengan adil.

Jangan sampai ketika tokoh yang kita sukai berbicara, kita mencari seribu alasan untuk membenarkannya.

Namun ketika orang yang tidak kita sukai berbicara, sejak awal kita sudah ingin menyalahkannya.

Kebenaran tidak berubah hanya karena siapa yang mengatakannya.

Cara Selamat dari Syubhat

1. Kuatkan ilmu sebelum sibuk mempelajari syubhat

Obat terbesar syubhat adalah ilmu.

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa ketika hakikat ilmu telah memenuhi hati, syubhat tidak mudah memengaruhinya. Bahkan membantah syubhat dapat semakin menguatkan ilmu dan keyakinannya.

Maka, sebelum sibuk mempelajari berbagai penyimpangan, pelajari dahulu:

  • tauhid,
  • dasar iman,
  • Al-Qur’an,
  • Sunnah,
  • kaidah memahami dalil,
  • fikih dasar,
  • dan ilmu dari ulama yang dikenal lurus ilmunya.

Jangan membangun rumah mulai dari atap.

2. Jangan sengaja berburu syubhat

Ada orang yang merasa harus mengetahui seluruh keraguan agar dianggap berpikiran terbuka.

Padahal tidak semua racun harus dicicipi untuk mengetahui bahwa racun itu berbahaya.

Islamweb menasihati agar orang yang belum kuat ilmunya tidak sengaja memasuki ruang yang dipenuhi syubhat.

3. Kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. An-Nisa’: 59)

Ukuran kebenaran bukan:

“viral atau tidak”.

Namun:

“ada dalilnya atau tidak”.

4. Tanyakan kepada ahli ilmu

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Kalau menemukan konten agama yang mengguncang keyakinan:

  • jangan langsung berkomentar,
  • jangan langsung menyebarkan,
  • jangan langsung berdebat.

Catat.

Cari sumbernya.

Tanyakan kepada ahlinya.

5. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan

Ibnul Qayyim berkata:

وَقَوْلُهُ: «بِأَوَّلِ عَارِضٍ مِنْ شُبْهَةٍ»؛ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ عَقْلِهِ وَمَعْرِفَتِهِ، إِذْ تُؤَثِّرُ فِيهِ الْبَدَوَاتُ، وَتَسْتَفِزُّهُ أَوَائِلُ الْأُمُورِ، بِخِلَافِ الثَّابِتِ التَّامِّ الْعَقْلِ، فَإِنَّهُ لَا تَسْتَفِزُّهُ الْبَدَوَاتُ وَلَا تُزْعِجُهُ وَتُقْلِقُهُ؛ فَإِنَّ الْبَاطِلَ لَهُ دَهْشَةٌ وَرَوْعَةٌ فِي أَوَّلِهِ، فَإِذَا ثَبَتَ لَهُ الْقَلْبُ رُدَّ عَلَى عَقِبَيْهِ.
وَاللَّهُ يُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ، فَلَا يَعْجَلُ، بَلْ يَثْبُتُ حَتَّى يَعْلَمَ وَيَسْتَيْقِنَ مَا وَرَدَ عَلَيْهِ، وَلَا يَعْجَلُ بِأَمْرٍ مِنْ قَبْلِ اسْتِحْكَامِهِ، فَالْعَجَلَةُ وَالطَّيْشُ مِنَ الشَّيْطَانِ.
فَمَنْ ثَبَتَ عِنْدَ صَدْمَةِ الْبَدَوَاتِ اسْتَقْبَلَ أَمْرَهُ بِعِلْمٍ وَحَزْمٍ، وَمَنْ لَمْ يَثْبُتْ لَهَا اسْتَقْبَلَهُ بِعَجَلَةٍ وَطَيْشٍ، وَعَاقِبَتُهُ النَّدَامَةُ، وَعَاقِبَةُ الْأَوَّلِ حَمْدُ أَمْرِهِ، وَلَكِنَّ لِلْأَوَّلِ آفَةً مَتَى قُرِنَتْ بِالْحَزْمِ وَالْعَزْمِ نَجَا مِنْهَا، وَهِيَ الْفَوْتُ، فَإِنَّهُ لَا يُخَافُ مِنَ التَّثَبُّتِ إِلَّا الْفَوْتُ، فَإِذَا اقْتَرَنَ بِهِ الْعَزْمُ وَالْحَزْمُ تَمَّ أَمْرُهُ.
وَلِهَذَا فِي الدُّعَاءِ الَّذِي رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ».
وَهَاتَانِ الْكَلِمَتَانِ هُمَا جِمَاعُ الْفَلَاحِ، وَمَا أُتِيَ الْعَبْدُ إِلَّا مِنْ تَضْيِيعِهِمَا أَوْ تَضْيِيعِ أَحَدِهِمَا، فَمَا أُتِيَ أَحَدٌ إِلَّا مِنْ بَابِ الْعَجَلَةِ وَالطَّيْشِ وَاسْتِفْزَازِ الْبَدَوَاتِ لَهُ، أَوْ مِنْ بَابِ التَّهَاوُنِ وَالتَّمَاوُتِ وَتَضْيِيعِ الْفُرْصَةِ بَعْدَ مُوَاتَاتِهَا، فَإِذَا حَصَلَ الثَّبَاتُ أَوَّلًا وَالْعَزْمُ ثَانِيًا أَفْلَحَ كُلَّ الْفَلَاحِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ.

Ketika seseorang langsung ragu hanya karena datangnya satu syubhat kecil, itu menunjukkan betapa lemahnya akal dan ilmu orang itu. Ia seperti daun kering yang terhempas angin dari arah manapun.

Ia mudah gelisah dan terguncang hanya oleh kejutan kecil di permulaan.

Berbeda halnya dengan orang yang berakal matang dan tenang. Ia tidak mudah terguncang oleh badai pertama. Ia kokoh dalam pendirian.

Ya, memang kebatilan itu sering tampak mengejutkan dan menciutkan di awal—tapi jika hati tetap tenang, maka kebatilan itu akan roboh dengan sendirinya.

Allah menyukai dari hamba-Nya sikap tenang dan penuh pertimbangan. Jangan tergesa-gesa. Jangan langsung menilai sebelum benar-benar yakin.

Karena tergesa-gesa dan gegabah adalah dari setan.

Siapa yang mampu tenang saat diterpa ujian pertama, ia akan menghadapi masalahnya dengan ilmu dan ketegasan. Namun yang panik dan terburu-buru, akan meresponnya dengan kecerobohan dan nafsu sesaat. Akhirnya? Penyesalan.

Sedangkan bagi yang tenang dan teguh? Ujungnya adalah pujian dan keberhasilan.

Namun, ada satu ujian dari sikap tenang: yaitu risiko kehilangan momentum. Namun jika ketenangan itu diiringi dengan tekad kuat dan keputusan tegas, maka ia akan aman dan berhasil.

Tak heran, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita sebuah doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ

“Ya Allah, aku memohon keteguhan dalam urusan, dan kemauan yang kuat untuk menuju jalan yang benar.”

Dua kalimat ini adalah kunci keberhasilan.

Tak ada orang gagal kecuali karena mengabaikan keduanya—atau salah satunya.

Semua keburukan datang dari dua pintu:

  1. Karena terlalu cepat, tergesa-gesa, dan gegabah.
  2. Karena terlalu santai, menunda-nunda, dan membiarkan kesempatan berlalu.

Jika seseorang memiliki keteguhan hati di awal, lalu kemauan kuat untuk bergerak maju, maka itulah kemenangan sejati.

Dan hanya Allah-lah Pemilik taufik.

Kebatilan kadang mengejutkan ketika pertama kali didengar.

Jangan panik.

Jangan langsung mengambil kesimpulan.

Tenangkan hati.

Cari ilmu.

Periksa sumber.

Kemudian putuskan berdasarkan ilmu.

6. Bedakan antara pertanyaan dan pemberontakan terhadap wahyu

Kalimat:

“Saya belum memahami hikmah hukum ini.”

berbeda dengan:

“Kalau saya tidak memahami hikmahnya, berarti hukum Allah salah.”

Yang pertama adalah pertanyaan.

Yang kedua sudah membawa sebuah premis yang keliru.

Tidak mengetahui hikmah bukan berarti hukum Allah tidak memiliki hikmah.

7. Waspadai hawa nafsu yang memakai baju argumentasi

Terkadang syubhat datang setelah keinginan.

Seseorang sudah ingin melakukan sesuatu, kemudian ia mencari dalil pembenarannya.

Contohnya:

“Saya ingin transaksi ini. Cari pendapat yang membolehkan.”

Seharusnya:

“Apa hukum Allah tentang transaksi ini?”

Ini perbedaan antara mencari kebenaran dan mencari pembenaran.

8. Jangan menilai agama hanya berdasarkan pengalaman buruk pemeluknya

Misalnya ada suami melakukan kezaliman, kemudian seseorang menyimpulkan:

“Berarti konsep kepemimpinan suami dalam Islam bermasalah.”

Itu tidak tepat.

Kesalahan pelaku tidak otomatis membatalkan ajaran.

Bedakan antara:

Islam dan kesalahan sebagian kaum muslimin.

9. Perbanyak membaca Al-Qur’an

Al-Qur’an bukan hanya bacaan.

Ia adalah petunjuk.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Semakin seseorang mengenal kebenaran, semakin mudah ia mengenali yang palsu.

10. Berdoalah meminta keteguhan

Ibnul Qayyim menukil doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan dan tekad kuat untuk mengikuti petunjuk.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa ini. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i, no. 1304 dan Ahmad, no. 17133 dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu.

Ibnul Qayyim mengatakan:

وَهَاتَانِ الْكَلِمَتَانِ هُمَا جِمَاعُ الْفَلَاحِ… فَإِذَا حَصَلَ الثَّبَاتُ أَوَّلًا وَالْعَزْمُ ثَانِيًا أَفْلَحَ كُلَّ الْفَلَاحِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ.

“Dua kalimat ini menghimpun sebab keberuntungan. Jika seseorang memiliki keteguhan terlebih dahulu, kemudian tekad yang kuat, ia akan memperoleh keberhasilan. Allah-lah pemberi taufik.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering berdoa,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

(HR. Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad; hadis sahih).

Takhrij: Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Diriwayatkan At-Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad, no. 26519. Syu’aib Al-Arnauth menilainya sahih dengan berbagai penguat.

Rumus Praktis Menghadapi Syubhat di Media Sosial

Ketika menemukan satu pernyataan agama yang membuat hati terguncang, jangan buru-buru percaya.

Gunakan pertanyaan sederhana berikut:

  1. Siapa yang berbicara?
  2. Apakah ia memahami bidang tersebut?
  3. Apa dalilnya?
  4. Bukan hanya kalimatnya menarik.
  5. Apakah dalil tersebut sahih?
  6. Apakah dalilnya dipahami secara utuh?
  7. Apakah ada dalil lain yang perlu digabungkan?
  8. Bagaimana para ulama menjelaskan masalah tersebut?
  9. Apakah saya menyukai pendapat ini karena benar atau karena sesuai keinginan saya?

Pertanyaan terakhir sering menjadi ujian paling berat.

Dari Syubhat Menuju Kesesatan

Alur yang berbahaya bisa seperti ini:

Kurang ilmu
↓
Terpapar syubhat
↓
Mulai ragu
↓
Tidak mencari jawaban kepada ahlinya
↓
Terus mengonsumsi syubhat serupa
↓
Kebatilan terlihat masuk akal
↓
Kebenaran terasa asing
↓
Ḍalālah—tersesat dari petunjuk

Adapun jalan keselamatan:

Al-Qur’an dan Sunnah
↓
Ilmu
↓
Bashirah
↓
Tatsabbut
↓
Mengikuti ulama
↓
Menjauhi syubhat yang tidak diperlukan
↓
Doa dan amal saleh
↓
Tsabāt—keteguhan

Nasihat Terakhir: Jangan Jadikan Hati Tempat Sampah Syubhat

Tidak semua yang muncul di layar harus masuk ke dalam hati. Jangan merasa semakin banyak keraguan yang kita konsumsi berarti semakin luas wawasan kita, karena Ibnul Qayyim justru mengingatkan bahwa menampung semua syubhat dapat membuat hati menjadi tempat tinggal syubhat. Bekali diri dengan ilmu, dekatlah dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta bertanyalah kepada ahli ilmu ketika menemukan perkara yang tidak dipahami. Keselamatan agama jauh lebih berharga daripada memenangkan satu perdebatan di media sosial.

Semoga Allah menjaga hati kita dengan doa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

Yā muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnattibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnajtinābah.

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. Tunjukkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkan kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.”

Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi

  1. Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (1432 H). Miftāḥ dār al-sa‘ādah wa mansyūr wilāyat al-‘ilm wa al-irādah (A. ibn H. ibn Qā’id, Ed., 1st ed.). Majma‘ Al-Fiqh Al-Islami & Dār ‘Ālam Al-Fawā’id.
  2. Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah—Al-Maktabah Al-Waqfiyyah
  3. Islam Question & Answer. (n.d.). Kayfa tudfa‘ al-syubuhāt fī bāb al-qadar. IslamQA.
  4. IslamQA—Bahaya dan cara menghadapi syubhat
  5. Islam Question & Answer. (n.d.). Tasaluth al-syaithān ‘alaihi bi al-syahawāt al-muharramah wa al-syubuhāt al-bāthilah. IslamQA.
  6. IslamQA—Nasihat hati seperti kaca, bukan spons
  7. Islamweb. (n.d.). Waṣiyyah qayyimah li dar’i al-syubuhāt wa al-mubtada‘āt. Islamweb.
  8. Islamweb—Wasiat menghadapi syubhat
  9. Tuasikal, M. A. (2009, October 17). Berbicara agama tanpa ilmu lebih bahaya dari dosa kesyirikan. Rumaysho.Com.
  10. Rumaysho.Com—Berbicara agama tanpa ilmu
  11. Tuasikal, M. A. (2022). Lebih dari 100 keutamaan orang berilmu dari kitab Miftah Daar As-Sa‘adah. Rumaysho.Com.
  12. Rumaysho.Com—Keutamaan ilmu dari Miftah Daar As-Sa‘adah
  13. Al-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Al-ḥalāl bayyin wa al-ḥarām bayyin.
    Dorar—Hadis halal, haram, dan perkara syubhat
  14. Al-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Yā muqallibal-qulūb tsabbit qalbī ‘alā dīnik.
    Dorar—Hadis doa keteguhan hati
  15. Al-Durar Al-Saniyyah. (n.d.). Mausū‘ah al-ḥadītsiyyah: Allāhumma innī as’aluka al-tsabāta fī al-amr.
    Dorar—Doa memohon keteguhan dan tekad mengikuti petunjuk

—–

Senin Pagi, 22 Rabiul Akhir 1448 H, 5 Oktober 2026 di Perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Kajian Khadijah Community di Masjid RS JIH Jogja

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42870-jauhi-syubhat-agar-tak-sesat.html

Khasiat Kurma Ajwa (Kurma Madinah) dari Hadits Nabi

Salah satu keutamaan kota Madinah adalah Allah memberikan sisi keberkahan.

Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ سَمَّى المَدِيْنَةَ طَابَةً

“Sesungguhnya Allah menyebutkan kota Madinah dengannama: THOBAH (Thayyibah).” (HR. Muslim, no. 1385)

Keutamaan Kurma Madinah

Mengenai keutamaan kurma Madinah disebutkan dalam hadits dari Sa’d bin Abi Waqqash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ مِمَّا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا حِينَ يُصْبِحُ لَمْ يَضُرَّهُ سُمٌّ حَتَّى يُمْسِىَ

“Siapa yang makan tujuh butir kurma yang berasal dari Madinah ketika pagi, maka racun-racun tidak akan membahayakannya sampai sore.” (HR. Muslim, no. 5459).

Khasiat Kurma

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa kurma itu bisa menguatkan (menajamkan) penglihatan dan sangat mujarab. Dan sangat mujarab jika digunakan berbuka sebelum lainnya. Itu kata Ibnul Qayyim. 

Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhobbi radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ, فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ, فَإِنَّهُ طَهُورٌ

“Jika salah seorang di antara kalian berbuka, maka berbukalah dengan tamr (kurma kering). Jika tidak dapati kurma, maka berbukalah dengan air karena air itu mensucikan.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, An Nasai, Tirmidzi, dan Imam Ahmad. Hadits ini disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim)

Alasannya, kita bisa ambil pelajaran jika di pagi hari ketika baru bangun tidur sebelum mengkonsumsi lainnya, lalu memakan 7 butir kurma, maka dapat mengatasi sihir dan racun. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

“Barangsiapa di pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwa, maka ia tidak akan terkena racun dan sihir pada hari itu.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 5779 dan Muslim, no. 2047). 

Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah bahwa yang dimaksud kurma ajwa di sini hanyalah sebagai contoh (permisalan). Manfaat kurma yang disebutkan dalam hadits tadi sebenarnya berlaku untuk seluruh kurma (bukan hanya kurma ajwa). Inilah yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dari perkataan gurunya.

Kesimpulannya, kurma yang dimaksud dapat mengatasi racun dan sihir adalah kurma secara umum, walau memang kurma yang utama adalah kurma dari kota Nabi, Madinah.

—

Madinah Kota Nabi, 18 Safar 1444 H, 15 September 2022

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/34635-khasiat-kurma-ajwa-kurma-madinah-dari-hadits-nabi.html

Dakwah Tanpa Teladan Adalah Bumerang

Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:  

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ فِي الرَّحَى، فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ، فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ، مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: بَلَى، كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ   

Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Pada hari kiamat akan didatangkan seorang laki-laki lalu dicampakkan ke dalam neraka. Ususnya pun terburai keluar sehingga ia berputar-putar di dalam neraka sebagaimana keledai berputar mengelilingi batu penggilingan. Lalu para penghuni neraka berkumpul mengelilinginya dan bertanya: ‘Wahai Fulan, mengapa engkau diazab seperti ini? Bukankah dahulu engkau memerintahkan kami berbuat baik dan melarang kami berbuat mungkar?’ Ia menjawab: ‘Benar, dahulu aku memerintahkan kalian berbuat baik, namun aku sendiri tidak melakukannya. Dan aku melarang kalian berbuat mungkar, namun aku sendiri mengerjakannya.’” [HR. Bukhari no 3267 dan Muslim no 2989. Lafaz ini milik Muslim]

Pelajaran Penting dari Hadits:

  1. Ancaman keras bagi orang yang ucapannya bertentangan dengan perbuatannya. Siksaan bagi orang yang menyuruh orang lain berbuat baik tetapi ia sendiri tidak melakukannya, serta melarang orang lain berbuat mungkar tetapi ia sendiri melakukannya, akan dilipatgandakan. Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa azab bagi orang berilmu yang bermaksiat lebih berat dibandingkan orang awam.
  2. Hadits ini menganjurkan agar seseorang mendahulukan perbaikan pada dirinya sendiri sebelum orang lain, yaitu memerintahkan dirinya untuk berbuat baik dan melarang dirinya dari kemungkaran. Akan tetapi, bukan berarti apabila seseorang pernah terjerumus dalam kesalahan, ia boleh meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Demikian pula, bukan berarti karena dirinya belum sempurna dalam kebaikan, ia boleh berhenti memerintahkan kebaikan kepada orang lain.

[Referensi utama : Kitab Riyadhus shalihin Wa ma’ahu hasyiyatul Fawaid. Hal. 176]

Wallahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz : Nurhadi Nugroho hafidzhohullah

sumber: https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-198-dakwah-tanpa-teladan-adalah-bumerang/

DOA BERLINDUNG DARI DICABUTNYA NIKMAT LAHIR BATIN


DOA BERLINDUNG DARI DICABUTNYA NIKMAT LAHIR BATIN

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dia berkata, “Di antara doa Rasulullah ﷺ adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK, WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK, WA FUJAA’ATI NIQMATIK, WA JAMII’I SAKHOTHIK

Artinya:

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu

• Dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan,

• Dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan,

• Dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan

• Dari segala kemurkaan-Mu.

Faidah Doa:

1. Yang dimaksud nikmat di sini adalah nikmat Islam, iman, anugerah ihsan (berbuat baik) dan kebajikan. Jadi dalam doa ini kita berlindung dari hilangnya nikmat-nikmat tersebut. Maksud hilangnya nikmat adalah nikmat tersebut hilang dan tanpa ada penggantinya.

2. Yang dimaksud dengan berubahnya kesehatan (‘afiyah) adalah nikmat sehat tersebut berubah menjadi sakit. Yang dimaksud dengan ‘afiyah (sehat) di sini adalah berpindahnya nikmat ‘afiyah dari pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya. Jadi doa ini kita maksudkan meminta selalu kesehatan (tidak berubah menjadi penyakit) pada pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya.

3. Yang dimaksud fuja’ah adalah datang tiba-tiba. Sedangkan “niqmah” adalah siksa dan murka. Dalam doa ini berarti kita berlindung kepada Allah dari datangnya azab, siksa dan murka Allah yang tiba-tiba.

4. Dalam doa ini, kita juga meminta pada Allah agar terlindung dari murka-Nya yaitu segala hal yang dapat mengantarkan pada murka Allah.

Semoga doa ini bisa kita amalkan dan mendapatkan berbagai anugerah.

Referensi: ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Al ‘Azhim Abadi, 4/283, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, tahun 1415.

Penulis: dr. Adika Mianoki

[Artikel Muslim.or.id]

Sumber: https://muslim.or.id/27406-doa-berlindung-dari-hilangnya-nikmat-dan-kesehatan.html

Hati-hati! Amalan Kita Dapat Terhapus Tanpa Kita Sadari

Kita semua telah memahami bahwa syarat sah diterimanya sebuah amalan adalah Al-Ikhlas dan Al-Ittiba. Al-Ikhlas yaitu memurnikan maksud dan tujuan beribadah hanya kepada Allah dan hanya untuk Allah, dan al-ittiba yakni meneladani, mencontoh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Namun, usaha kita sebagai seorang mukmin tidak berhenti sampai di situ, tugas kita bukan sekadar menyelesaikan sebuah amalan, karena ternyata ada tugas yang lebih berat dan tidak kalah penting dari sekadar beramal, yaitu mempertahankan pahala amalan agar tidak terhapus sia-sia.

Karena seikhlas apapun kita beramal, sebaik apapun kita telah berusaha mencontoh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tetap saja potensi terhapusnya pahala amal sangat bisa terjadi pada semua orang. Oleh karenanya, kita harus terus mengingatkan diri kita, keluarga kita, dan kaum muslimin agar tidak sekadar puas setelah beramal. Lebih dari itu, kita berharap agar Allah menerima amalan kita, serta kita merasa takut apabila amalan kita tidak diterima.

Berikut ini ada beberapa perkara yang bisa mengurangi bahkan menghapus pahala amalan, yang terkadang kita lakukan tanpa kita sadari. Perkara-perkara ini harus kita ketahui untuk dapat kita hindari.

1. Merasa ujub/bangga terhadap diri sendiri

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

ثَلاثٌ مُهْلِكَاتٌ ، وذكر منها : وإِعْجَابُ المَرْءِ بِنفسِهِ.

Artinya: “Ada tiga hal yang dapat membinasakan seseorang, di antaranya adalah merasa ujub terhadap diri sendiri.” (hadits ini hasan)

Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Ujub itu bisa membatalkan atau menghapus pahala amalan seorang hamba.”

Sebagai contoh, jika kita dimudahkan Allah untuk shalat tahajjud, maka jangan langsung memandang remeh orang yang kesulitan bangun malam. Jika kita dimudahkan oleh Allah untuk bersedekah, jangan langsung memandang remeh orang yang jarang terlihat bersedekah. Karena barangkali mereka yang kita pandang remeh memiliki amalan tersembunyi yang mereka lakukan dengan ikhlas, yang hanya dia dan Allah yang mengetahui. Karena pada dasarnya semua ibadah yang kita lakukan dan semua prestasi yang kita raih, semata-mata karena taufiq, pertolongan, dan kemudahan dari Allah azza wa jalla, bukan berasal dari kehebatan kita.

2. Mendzalimi dan menyakiti kaum muslimin

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?”

Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”

Tetapi Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku ialah, orang yang datang pada hari kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia suka mencaci maki dan (salah) menuduh orang lain, makan harta orang lain, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang yang terdzalimi itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikan pelaku dzalim. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim).

3. Bermaksiat di kala sendiri

Dari Tsauban radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

“Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari ummatku yang datang pada hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lantas Allah menjadikannya sia-sia tidak tersisa sedikitpun.”

Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami, dan jelaskanlah tentang mereka kepada kami, supaya kami tidak menjadi seperti mereka sementara kami tidak mengetahuinya.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang jika menyepi (tidak ada orang lain yang melihatnya) dengan apa-apa yang di haramkan Allah, maka mereka terus (segera) melanggarnya.” (HR Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al-Albani)

4. Menyebut-nyebut sedekah sampai menyakiti hati orang yang diberi sedekah

Allah ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 264

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبۡطِلُوا۟ صَدَقَـٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِی یُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَاۤءَ ٱلنَّاسِ وَلَا یُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡیَوۡمِ ٱلۡـَٔاخِرِۖ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.”

Saking pentingnya menjaga perasaan orang lain yang menerima sedekah kita, sampai-sampai Islam memberikan keutamaan lebih bagi orang yang bersedekah secara diam-diam.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

سبعة يُظلُّهم الله في ظلِّه يوم لا ظلَّ إلا ظلُّه .. فذكر الحديث، وفيه : ورجلٌ تصدَّق بصدقةٍ فأخفاها، حتى لا تعلم شمالُه ما تُنفق يمينه.

“Tujuh golongan manusia yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, diantaranya adalah: seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (Muttafaq ‘alaihi)

5. Meremehkan seorang mukmin yang berdosa

Di antara perkara yang dapat mengurangi bahkan menghapus pahala amalan selanjutnya adalah meremehkan seorang mukmin yang berdosa dengan mengatakan bahwa orang seperti fulan tidak mungkin diampuni Allah azza wa jalla, dengan menyebut individu orang tersebut.

Dari Jundub bin Abdillah Al-Bajali, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bercerita:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ : وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ. وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ ؛ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ “. أَوْ كَمَا قَالَ

“Pada suatu ketika ada seseorang yang berkata; ‘Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni si fulan.’ Sementara Allah berfirman: ‘Siapa yang bersumpah dengan kesombongannya atas nama-Ku bahwasanya Aku tidak akan mengampuni si fulan? Ketahuilah, sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan telah memutuskan amal perbuatanmu.” Kurang lebih begitulah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.”

Imam Muslim rahimahullah berkata bahwa hadits tersebut adalah larangan membuat seseorang putus asa dari rahmat Allah azza wa jalla.

Para ulama menjelaskan tidak boleh seseorang yang merasa shalih mengatakan kepada saudaranya dengan menyebutkan individu orang tersebut bahwa “Orang seperti fulan sudah pasti masuk neraka, orang seperti fulan sudah tidak mungkin masuk surga, orang seperti fulan tidak mungkin diampuni oleh Allah,” atau kalimat-kalimat yang semisal dengannya. Karena ucapan seperti ini mendahului keputusan Allah dan meremehkan seorang muslim, serta merasa diri sudah baik, karena hal ini dapat menyebabkan terhapusnya pahala amal.

6. Menyekutukan Allah

Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (Qs. Az Zumar: 65).

Imam Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan: “Maksudnya, jika engkau berbuat syirik kepada Allah wahai Muhammad, maka akan terhapus amalanmu, dan engkau tidak akan mendapatkan pahala, juga tidak mendapatkan balasan, kecuali balasan yang pantas bagi orang yang berbuat syirik kepada Allah” (Tafsir Ath Thabari, 21/322).

Kesyirikan adalah pelanggaran paling fatal kepada hak Allah azza wa jalla, sehingga shallallahu alaihi wasallam yang terjamin maksum pun terkena ancaman dalam ayat ini, apalagi kita manusia biasa yang penuh dosa.

Barangkali kita telah terhindar dari syirik besar, namun siapa yang menjamin kita bisa mengobati syirik-syirik kecil dari dalam hati kita. Syirik-syirik kecil yang apabila dibiarkan akan berpotensi menjadi syirik besar, wal ‘iyadzubillah.

Akhirnya, semoga Allah azza wa jalla memberikan kita taufik untuk senantiasa ikhlas dalam beramal dan menjauhkan kita dari dari perkara-perkara yang dapat menghapus pahala amal. Aamiin.


Disampaikan pada Khutbah Jum’at, 16 Jumadil Akhir 1442 H, oleh Ustadz Hamdani Zahid, Lc di Masjid Al Fadhl, Pesantren Islam Al-Irsyad Tengaran.

Hati-hati! Amalan Kita Dapat Terhapus Tanpa Kita Sadari – Pesantren Islam Al-Irsyad Tengaran (pesantrenalirsyad.org)

Beramal Baik Namun Masuk Neraka

Nukilan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut memberikan kita pelajaran agar tidak berlaku ujub. Sifat ujub membuat amalan yang kita lakukan seakan-akan sirna. Akibat itu, neraka pun yang bisa jadi ancaman. Sehingga beramal baik pun selamanya tidak berujung baik. Bisa jadi ujungnya adalah seperti ini karena rasa ujub dalam diri.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Sebagian ulama salaf, di antaranya Sa’id bin Jubair berkata,

إنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَيَدْخُلُ بِهَا النَّارَ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَيَدْخُلُ بِهَا الْجَنَّةَ يَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَيُعْجَبُ بِهَا وَيَفْتَخِرُ بِهَا حَتَّى تُدْخِلَهُ النَّارَ وَيَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَلَا يَزَالُ خَوْفُهُ مِنْهَا وَتَوْبَتُهُ مِنْهَا حَتَّى تُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ

Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal kebaikan malah ia masuk neraka. Sebaliknya ada pula yang beramal kejelekan malah ia masuk surga. Yang beramal kebaikan tersebut, ia merasa ujub (bangga dengan amalnya), lantas ia pun berbangga diri, itulah yang mengakibatkan ia masuk neraka. Ada pula yang beramal kejelekan, namun ia senantiasa takut (akan adzab Allah) dan ia iringi dengan taubat, itulah yang membuatnya masuk surga.

Sumber: Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, 10/294

Semoga jadi pelajaran berharga di pagi ini. Semoga Allah melindungi kita dari sifat ujub dalam beramal. Terhadap dosa, moga-moga Allah menerima taubat kita dengan kita isi hari-hari yang ada dengan amalan sholih.

Worth note before durus Waris in Riyadh, KSU, on 21st Dzulqo’dah 1431, 29/10/2010

Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/1348-beramal-baik-namun-masuk-neraka.html

Jauhkan Dirimu Dari Teman Yang Buruk

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya .. sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap..”

(HR. Al Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Mutharrif bin Abdillah rohimahumallah berkata,

“Teman yang sholeh lebih baik dari menyendiri .. dan menyendiri lebih baik dari teman yang tak baik..”

(Az Zuhd – 1365)

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75405

Katakanlah Kebenaran Walau itu Pahit

Berkatalah yang benar walau itu pahit. Kebenaran tetap diterapkan walau ada celaan dan ada yang tidak suka. Inilah prinsip yang diajarkan dalam Islam oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nasehat ini beliau sampaikan pada sahabat mulia Abu Dzarr. Dalam tulisan kali ini akan diajarkan tiga contoh penerapan bagaimana kita mesti menerapkan kebenaran meski banyak yang berkomentar.

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ أَمَرَنِى خَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- بِسَبْعٍ أَمَرَنِى بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ وَأَمَرَنِى أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِى وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِى وَأَمَرَنِى أَنْ أَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ أَدْبَرَتْ وَأَمَرَنِى أَنْ لاَ أَسْأَلَ أَحَداً شَيْئاً وَأَمَرَنِى أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا وَأَمَرَنِى أَنْ لاَ أَخَافَ فِى اللَّهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ وَأَمَرَنِى أَنْ أُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ فَإِنَّهُنَّ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ

Dari Abu Dzaar, ia berkata, “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan tujuh hal padaku: (1) mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintah agar melihat pada orang di bawahku (dalam hal harta) dan janganlah lihat pada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan padaku untuk menyambung tali silaturahim (hubungan kerabat) walau kerabat tersebut bersikap kasar, (4) beliau memerintahkan padaku agar tidak meminta-minta pada seorang pun, (5) beliau memerintahkan untuk mengatakan yang benar walau itu pahit, (6) beliau memerintahkan padaku agar tidak takut terhadap celaan saat berdakwa di jalan Allah, (7) beliau memerintahkan agar memperbanyak ucapan “laa hawla wa laa quwwata illa billah” (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), karena kalimat tersebut termasuk simpanan di bawah ‘Arsy.” (HR. Ahmad 5: 159. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih, namun sanad hadits ini hasan karena adanya Salaam Abul Mundzir)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin memberikan contoh mengenai hadits “Berkata yang benar walaupun pahit” yaitu dalam hal orang awam yang biasa berkomentar sinis atau tidak suka terhadap ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau membawakan tiga contoh ketika menjelaskan hadits dalam Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi.

Contoh pertama:

Meluruskan shaf dalam shalat jama’ah. Kata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin banyak orang awam yang mengingkari hal ini. Ketika disuruh maju atau mundur sedikit supaya lurus, ada yang mengingkari. Ada pun yang marah gara-gara disuruh meluruskan shaf. Namun meskipun demikian, imam harus tetap mengajarkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini pada para jama’ah. Ia harus sabar meladeni mereka yang bersikap tidak baik.

Contoh kedua:

Sebagian jama’ah mengingkari adanya sujud sahwi sesudah salam. Sampai-sampai ada yang menganggap bahwa sujud sahwi sesudah salam adalah ajaran yang baru. Padahal jika ditilik pada hadits, ada yang menyebutkan bahwa sujud sahwi sesudah salam, ada yang menyebutkan sebelum salam. Jika ada penambahan dalam shalat atau ada ragu-ragu tetapi bisa dikuatkan, maka sujud sahwi yang ada adalah sesudah salam.  Tetap imam saat lupa seperti ini melakukan sujud sahwi (sebanyak dua kali sujud) sesudah salam, tidak perlu ia takut akan celaan meskipun itu terasa pahit.

Contoh ketiga:

Sebagian orang merasa aneh jika ada yang mau jujur dalam jual beli. Tatkala si penjual barang menyampaikan ada sesuatu yang aib (cacat) dalam barang dagangan, seperti ini dianggap aneh. Sampai dikata, “Wah itu kan cacat sedikit, yang lain pasti masih senang dengan barang itu.” Padahal seharusnya setiap orang itu bertakwa pada Allah di mana pun, dengan bersikap jujur dalam jual beli. Ia mesti berbuat adil dengan menjelaskan kenyataan cacat yang ada pada barang yang akan dijual. Jika memang sikap jujur seperti ini dianggap aneh, maka sampaikanlah bahwa ajaran seperti ini dari Islam. Sehingga nantinya mereka pun tahu dan bisa menerapkannya. Baca artikel Rumaysho.Com mengenai sikap jujur: (1) Berkah dari Kejujuran dalam Bisnis, (2) Berlakulah Jujur!, (3) Bendahara yang Jujur dan Amanat, (4) Mencari Orang yang Jujur itu Sulit.

Demikian penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin yang kami bahasakan secara bebas dan ringkaskan dari kitab Syarh Riyadhus Sholihin, 2: 428-430.

Semoga Allah meneguhkan kita selalu di atas kebenaran dan diberi taufik berkata yang benar walau itu pahit.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Darul Wathon, cetakan tahun 1425 H.

—

Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 22 Dzulqo’dah 1434 H

Sumber https://rumaysho.com/3657-katakanlah-kebenaran-walau-itu-pahit.html