Bekal Mendidik Keluarga, bag. I

Keluarga adalah struktur organisasi terkecil dalam masyarakat, maka mendidik masyarakat hendaknya dimulai dari mendidik keluarga. Namun, dalam mendidik kita tidak hanya membekali diri dengan ilmu pengetahuan saja, ada hal-hal mendasar yang juga harusnya menjadi bekal seorang pendidik yang terus ia pegang, antara lain,

  1. Ikhlas

Pendidikan adalah ibadah yang mendatangkan pahala, kebaikan dalam mendidik akan diberi balasan baik oleh Allah. Oleh karena itu, niat dalam mendidik harusnya disertai keikhlasan kepada Allah Ta’ala. Tidak sepatutnya seseorang berlelah-lelah dalam mendidik untuk dikatakan bahwa ia telah mendidik dengan baik, disanjung karena telah mengerahkan segala daya dan upaya dalam rangka membimbing keluarganya atau agar dikatakan dia adalah pendidik yang ahli dan pengajar yang mahir.

Allah Ta’ala berfirman,

“Mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama (ketaatan) kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

  1. Berharap Pahala

Berharaplah pahala dari Allah Ta’ala dalam melaksanakan proses pendidikan keluarga. Pendidikan itu berat dan tidak mengenal istirahat; panjang dan tidak berkesudahan; serta tanggung jawab yang tidak bisa ditawar. Maka, dengan proses mendidik yang mengambil banyak waktu, tenaga, pikiran maupun harta hendaknya disertai pengharapan yang besar kepada Allah (setelah mengikhlaskan niat hanya kepada-Nya) agar usaha kita tidak hanya berbuah hasil, namun juga berbuah pahala.

Pikiran paling baik adalah pikiran yang tertuju untuk keluarga, nafkah yang paling utama adalah nafkah yang diberikan kepada kerabat dan usaha paling baik adalah yang dikerahkan untuk buah hati. Bahkan, berinfaq untuk keluarga dan kerabat memiliki keutamaan dan balasan yang lebih besar dari selainnya.

Dari  Tsauban radhiallaahu’anhu, dia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Satu dinar terbaik adalah satu dinar yang seseorang infaqqan untuk keluarganya..” (Shahih Muslim, 2/574, no. 994).

  1. Hidayah di tangan Allah

Hidayah dalam arti iman, taufiq kepadanya dan keteguhan di atasnya bukan di tangan kita, akan tetapi di tangan Allah. Dia-lah yang memberikan kepada siapa yang ia kehendaki dengan karunia dan rahmat-Nya dan menghalanginya dari siapa yang Dia kehendaki dengan keadilan dan hikmah-Nya. Yang wajib atas kita kepada keluarga hanya hidayah dalam bentuk menunjukkan, mengarahkan, menasehati dan membimbing, karena itu jangan melalaikan dan meremehkannya.

Allah berfirman,

“Sesungguhnya engkau (wahai Rasul) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)

  1. Bersandarlah kepada Allah

Kita adalah hamba yang fakir dan miskin. Kita tidak memiliki daya upaya untuk diri sendiri, apalagi untuk orang lain. Karena itu, janganlah bersandar kepada diri sendiri, jangan mengandalkan kemampuan kita, jangan yakin kepada selain Allah. Sebaliknya, serahkkan urusan kita kepada-Nya, bertawakallah kepada-Nya dan mohonlah pertolongan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian adalah orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

Allah Ta’ala juga berfirman,

“Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan Allah). Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya lah aku kembali.” (QS. Hud: 88)

Banyak-banyaklah berdo’a kepada Allah, berharap kepada-Nya, bernaung di bawah naungan-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Jangan berkata, “Aku cerdik, aku berpengalaman, aku berusaha keras dan aku pandai.” Walaupun kita telah melakukan banyak sebab dan membekali diri dengan berbagai ilmu. Apa yang kita usahakan adalah bentuk ikhtiar kita, adapun hasilnya, bertawakallah kepada Allah.

  1. Jadilah teladan

Orang berakal sepakat pentingnya teladan yang baik di segala bidang kehidupan karena medan hidup pertama adalah diri kita, karena itu, perbaiki diri kita dahulu, semoga dengan itu Allah memperbaiki orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita. Sebab, bila mereka sampai mendengar sesuatu yang berlawanan dengan apa yang kita lakukan maka akan terjadi ketimpangan, kesalahanpun menjadi besar. Bagi mereka agama hanya sekedar slogan di bibir saja, kalimat-kalimat hampa yang tidak berdampak apapun dalam hidup, tidak berefek apapun dalam kenyataan. Maka mendidik keluarga menjadi baik bukan hanya teori, bahkan mendidik mereka melalui teladan langsung tanpa banyak retorika dan perintah akan lebih berbekas di hati. Mendidik melalui teladan langsung seperti nasehat tanpa suara, mereka menerima dengan melihat langsung contohnya dan kebaikan yang dihasilkan dari teladan yang baik itu.

  1. Hiasi diri dengan kelembutan

Kelembutan itu seperti pisau, namun memotong tanpa sakit. Kelembutan adalah nikmat besar yang berdampak terhadap jiwa-jiwa mulia yang tidak dapat dilakukan oleh kekerasan dan kekasaran.

Allah Ta’ala berfIrman,

“Maka berkat rahmat Allah engkau (wahai Nabi) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran: 159).

Dari Aisyah radhiallaahu’anhaa, dia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

 “Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia menghiasinya dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan ia membuatnya buruh.” (Shahih Muslim, 4/1590, no. 2593).

Bersambung insyaallaah..

Penulis:  Ummu ‘Abdirrahman

Sumber: https://muslimah.or.id/9975-bekal-mendidik-keluarga-bag-i.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Parenting Islami : Mencium dan Memeluk Sang Anak

Kedua orang tua disyari’atkan dan bahkan dianjurkan untuk mencium anak-anaknya baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Mencium dan memeluk sang anak memiliki dampak psikologis yang positif bagi anak dan juga membangun kedekatan emosional antara anak dan orang tuanya. Karena hal ini menunjukkan besarnya kasih sayang dan cinta orang tua kepada anaknya.

Ibnu Bathal rahimahullah mengatakan, “(Orang tua) diperbolehkan mencium anak-anak kecil di bagian anggota tubuhnya yang manapun dan juga untuk anak yang telah besar selama bukan pada auratnya. Inilah pendapat mayoritas ulama.” (Fathul Bari, I/427)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium putranya, Ibrahim radhiyallahu ‘anhu. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu telah mengisahkan,

“Kami  pergi bersama Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju rumah Abu Saif Al-Qayyin (sang pandai besi).  Dia ini adalah bapak susu Ibrahim (karena istri Abu Saif menyusui putra Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengambil Ibrahim, lalu menciumnya dengan mulut (bibir) dan hidung beliau.” (HR. Bukhari no. 1303)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pun pernah bertutur,

“Aku tidak pernah melihat orang yang lebih penyayang kepada anak-anak melebihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dahulu Ibrahim disusukan di suatu daerah yang bernama ‘Iwal Madinah (daerah perbukitan yang letaknya lebih kurang 10 km dari masjid Nabawi, pen.). Suatu hari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi menjenguknya dan kami pun bersama beliau. Lalu beliau masuk ke rumah tersebut dan pada saat itu benar-benar banyak asap sebab suami ibu susu ini adalah seorang pandai besi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil Ibrahim, menciumnya, dan kemudian pulang.

‘Amr radhiyallahu ‘anhu mengatakan, ‘Ketika Ibrahim wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Sesungguhnya Ibrahim adalah putraku. Sesungguhnya dia telah wafat di usia masih disusui (belum genap usia dua tahun dan makanan pokoknya masih ASI, pen.). Sesungguhnya kelak akan ada dua orang (wanita) yang akan menggenapkan susuannya di surga.” (HR. Muslim no. 2316)

Masih kisah yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda,

“Suatu malam telah lahir putraku dan aku menamainya dengan nama kakek moyangku, Ibrahim”. Kemudian beliau menyerahkannya kepada Ummu Saif, istri seorang pandai besi yang nama kunyahnya Abu Saif. Suatu hari, beliau mengunjungi Ibrahim dan kami pun menyertai beliau. Kami pun hampir tiba di rumah Abu Saif. Ketika itu, dia sedang meniup kir (alat pandai besi) sehingga penuhlah rumahnya dengan asap.

Lalu aku (Anas) berjalan lebih cepat untuk mendahului Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata, “Wahai Abu Saif, berhentilah meniup kir, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang.” Lalu dia pun berhenti. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta agar didatangkan kepadanya putra beliau. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekapnya, lalu berkata dengan apa yang Allah Ta’ala inginkan untuk beliau katakan.

Anas berkata, ‘Sungguh aku melihat Ibrahim berada di pelukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat dia meregang nyawanya. Kedua mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berlinang. Lalu beliau berucap, “Sesungguhnya air mata telah berlinang dan hati pun sedih. Namun kami tidak mengucapkan kecuali ucapan yang diridhai Rabb kami. Demi Allah, wahai Ibrahim, sesungguhnya kami benar-benar sedih karenamu.” (HR. Muslim no. 2315)

Dalam kisah di atas, lihatlah betapa besarnya kasih sayang dan perhatian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anaknya, Ibrahim. Beliau menyempatkan diri berjalan menempuh jarak yang cukup jauh untuk menemui dan mencium anak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

“Suatu hari datang seorang Arab badui (yang biasanya kurang memiliki sopan santun, pen.) menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Kalian mencium anak-anak kalian, sedangkan kami tidak pernah mencium anak-anak kami.’

Mendengar ucapan itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ataukah aku memiliki apa yang telah Allah cabut dari hatimu berupa sifat kasih sayang (Aku khawatir Allah akan mencabut sifat kasih sayang dari hatimu, pen.).” (HR. Bukhari no. 5998 dan Muslim no. 2317)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium cucunya, Al-Hasan bin ‘Ali di dekat Al-Aqra’ bin Haabis At-Tamimi yang sedang duduk. Lalu Al-Aqra’ mengatakan, “Sungguh aku memiliki 10 orang anak, namun aku tidak pernah mencium salah seorang pun dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menatapnya lalu bersabda, “Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhori no. 5997 dan Muslim no. 2318)

Demikian pula Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu pun mencium putrinya, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhumaa meriwayatkan bahwa beliau pernah masuk ke rumah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Ketika itu, putrinya (‘Aisyah) sedang terbaring karena terkena demam. Lalu aku (Al-Barra’) melihatnya mencium pipi putrinya sambil berucap,

“Bagaimana kondisimu, wahai putriku (sayang)?” (HR. Bukhari no. 3817, 3918).

Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah mengatakan, “Peristiwa ini terjadi di awal-awal hijrah (ke Madinah) dan ‘Aisyah ketika itu belum baligh dan ayat tentang kewajiban hijab pun belum turun pada saat Al-Barra’ masuk ke rumah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu.” (Fiqh Tarbiyatil Abna’, hal. 65)

Cium dan peluklah anak-anak kita …

Tunjukkanlah kalau kita cinta dan sayang kepada mereka …

***

Diselesaikan ba’da subuh, Sigambal 15 Shafar 1439/ 4 November 2017

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Sumber: https://muslimah.or.id/9892-parenting-islami-31-mencium-dan-memeluk-sang-anak.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Orang Tua yang Lalai Memperhatikan Anak

Soal:
Jelaskan beberapa efek negatif yang timbul dikarenakan kedua orang tua sibuk hingga tidak sempat memperhatikan pendidikan agama anak-anak mereka!

Jawab:
Termasuk faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya dekadensi moral pada anak-anak dan terbentuknya kepribadian yang buruk pada diri mereka adalah kurangnya perhatian kedua orang tua untuk mengajarkan akhlak yang mulia kepada si anak dan dikarenakan kesibukan mereka hingga tidak ada kesempatan untuk mengarahkan dan mendidik anak-anaknya. Apabila seorang ayah tidak lagi peduli terhadap tanggung jawabnya untuk mengarahkan dan mendidik serta mengawasi anak-anaknya, dan dikarenakan faktor tertentu, si ibu kurang menunaikan kewajibannya dalam mendidik si anak maka tidak diragukan lagi si anak akan tumbuh seperti anak yatim yang tidak memiliki orang tua, ia hidup bagai sampah masyarakat, bahkan suatu saat akan menjadi penyebab terjadinya kerusakan dan kejahatan di tengah-tengah umat. Kecuali Allah Ta’ala menginginkan hal lain. Semoga Allah merahmati orang yang mengatakan,

“Anak yatim bukanlah anak yang ditinggal mati oleh kedua orang tua hingga ia menjadi miskin. Akan tetapi, anak yatim yang sebenarnya ialah seorang anak yang menemukan ibunya yang kurang mendidiknya dan menemukan ayah yang sibuk dengan pekerjaannya.” (baca kitab Tarbiyatu al-Aulaad Fii al-Islaam halaman 103-104)

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak mengajarkan hal-hal yang bermanfaat kepada anaknya dan membiarkan begitu saja, berarti dia telah mendurhakai anaknya. Betapa banyak anak-anak yang rusak dikarenakan ulah ayah-ayah mereka sendiri yang membiarkan mereka begitu saja, tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah dalam agama Islam yang harus ia kerjakan. Mereka telah menyia-nyiakan anak mereka sewaktu kecil, sehingga mereka tidak bermanfaat untuk diri mereka sendiri dan mereka pun tidak bisa memberikan manfaat sedikit pun disaat orang tuanya sudah lanjut usia. Sebagaimana celaan sebagian orang tua yang dilontarkan kepada anaknya dan si anak menjawab, “Wahai ayahku, sesungguhnya engkau telah mendurhakaiku di saat aku masih kecil, maka setelah besar aku pun mendurhakaimu. Engkau telah menyia-nyiakanku sewaktu aku masih kecil maka aku pun menyia-nyiakan engkau ketika engkau sudah lanjut usia.”

Sesungguhnya kepedulian kedua orang tua tidak hanya terbatas memberikan pengajaran kepada mereka. Akan tetapi, mereka harus dibimbing dan dibantu dalam mempraktekkan bagaimana cara berbakti kepada kedua orang tuanya, tentu dengan cara dan perlakuan terbaik. Akan tetapi, jika orang tua tidak peduli akan pendidikan akhlak mereka maka si anak akan menjadi duri bagi kedua orang tuanya, karena berbakti kepada kedua orang tua merupakan sifat yang tidak akan muncul begitu saja tanpa melalui pengajaran. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Penyia-nyiaan anak yang paling parah adalah membiarkannya begitu saja tanpa diberi pendidikan dan tidak mengajarkannya adab islam.

Diketik ulang Ensiklopedi Anak Tanya Jawab Tentang Anak Dari A Sampai Z Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al-Isawi Darus Sunnah Press.

Sumber: https://muslimah.or.id/1175-orang-tua-yang-lalai-memperhatikan-anak.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Jangan Hanya Bisa Melarang dan Menyuruh Saja

Pada seri sebelumnya telah dikemukakan bahwa kita selaku ayah dan ibu sudah sepantasnya memberikan keteladanan dalam kebaikan kepada anak-anak kita. Demikian pula telah diuraikan dampak psikis pemberian teladan dan motivasi kepada anak, sehingga sang anak akan meniru (mencontoh) kebaikan dari kedua orang tuanya. Dengan harapan, sang anak kelak dapat kontinyu melakukan kebaikan tersebut, bahkan setelah kedua orang tuanya tiada.

Oleh karena itu, sebagai orang tua hendaklah kita jangan hanya mampu untuk melarang suatu perbuatan buruk, namun kita sendiri malah melakukannya.

Sebuah aib bagi kita, bahkan aib yang sangat besar, ketika kita melarang anak kita dari akhlak yang buruk, namun kita sendiri yang justru melakukannya.

Sebuah aib bagi kita, melarang mereka dari ucapan dusta, namun kita malah berdusta di hadapan mereka. Ketika seseorang datang ke rumah kita, orang tersebut (sang tamu) bertanya tentang keberadaan kita, namun kita malah menyuruh anak kita untuk mengatakan, ”Bilang saja bahwa ayah atau ibu tidak ada.” Bagaimana kita akan mengajarkan mereka tentang wajibnya memenuhi (menepati) janji, padahal kita sendiri menyelisihi janji di hadapan mereka?

Bagaimana mungkin kita melarang anak dari berteriak-teriak (bersuara keras) di rumah dan mengajarkan kepadanya tentang firman Allah Ta’ala,

“Dan lirihkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (QS. Luqman [31] : 19)

Namun kita malah meninggikan suara dengan cacian dan makian di rumah kita. Kita justru menghardik istri dan anak-anak kita.

Bagaimana mungkin kita melarang anak untuk tidak merokok, atau melihat yang haram, padahal kita sendiri merokok dan mata kita sering jelalatan ke mana-mana? Jika kita mengatakan kepadanya,“Jangan merokok!” Maka dia pun akan bertanya, “Mengapa tidak boleh merokok??” Karena sang anak tentu tidak merasa bersalah. Lantas apa yang dapat kita jawab kepadanya, karena kita sendiri juga menghisap rokok?

Sungguh Allah Ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash–Shaf [61]: 2-3)

Nabi Syu’aib ‘alaihissalam pernah mengatakan,

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.” (QS. Huud [11]: 88).

Berikut ini hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan pembahasan ini,

“Didatangkan seorang pria pada hari kiamat. Kemudian dia dilempar ke neraka. Ususnya keluar dan dia memutari ususnya bagaikan seekor keledai yang berputar-putar menarik alat giling gandum. Penduduk neraka pun berkeliling mengelilinginya dan mengatakan, “Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu? Bukankah dahulu Engkau adalah orang yang memerintahkan kami melaksanakan yang ma’ruf dan melarang kami dari hal yang mungkar?” Kemudian dia menjawab, “Dahulu aku memang memerintahkan kalian pada yang ma’ruf (kebaikan), tetapi aku sendiri tidak melaksanakannya. Demikian juga, aku melarang kalian dari yang mungkar (keburukan), namun aku malah mengerjakannya.” (HR. Bukhari no. 3267).

Marilah kita berusaha sekuat tenaga untuk mengamalkan apa yang hendak kita ajarkan kepada anak-anak kita ...

Disempurnakan menjelang isya, Rotterdam 13 Shafar 1438

***

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Artikel Muslimah.or.id

Sumber: https://muslimah.or.id/9164-parenting-islami-08-jangan-hanya-bisa-melarang-dan-menyuruh-saja.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Bekal Mendidik Keluarga,

Keluarga adalah struktur organisasi terkecil dalam masyarakat, maka mendidik masyarakat hendaknya dimulai dari mendidik keluarga. Namun, dalam mendidik kita tidak hanya membekali diri dengan ilmu pengetahuan saja, ada hal-hal mendasar yang juga harusnya menjadi bekal seorang pendidik yang terus ia pegang, antara lain,

  1. Ikhlas

Pendidikan adalah ibadah yang mendatangkan pahala, kebaikan dalam mendidik akan diberi balasan baik oleh Allah. Oleh karena itu, niat dalam mendidik harusnya disertai keikhlasan kepada Allah Ta’ala. Tidak sepatutnya seseorang berlelah-lelah dalam mendidik untuk dikatakan bahwa ia telah mendidik dengan baik, disanjung karena telah mengerahkan segala daya dan upaya dalam rangka membimbing keluarganya atau agar dikatakan dia adalah pendidik yang ahli dan pengajar yang mahir.

Allah Ta’ala berfirman,

“Mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama (ketaatan) kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

  1. Berharap Pahala

Berharaplah pahala dari Allah Ta’ala dalam melaksanakan proses pendidikan keluarga. Pendidikan itu berat dan tidak mengenal istirahat; panjang dan tidak berkesudahan; serta tanggung jawab yang tidak bisa ditawar. Maka, dengan proses mendidik yang mengambil banyak waktu, tenaga, pikiran maupun harta hendaknya disertai pengharapan yang besar kepada Allah (setelah mengikhlaskan niat hanya kepada-Nya) agar usaha kita tidak hanya berbuah hasil, namun juga berbuah pahala.

Pikiran paling baik adalah pikiran yang tertuju untuk keluarga, nafkah yang paling utama adalah nafkah yang diberikan kepada kerabat dan usaha paling baik adalah yang dikerahkan untuk buah hati. Bahkan, berinfaq untuk keluarga dan kerabat memiliki keutamaan dan balasan yang lebih besar dari selainnya.

Dari  Tsauban radhiallaahu’anhu, dia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Satu dinar terbaik adalah satu dinar yang seseorang infaqqan untuk keluarganya..” (Shahih Muslim, 2/574, no. 994).

  1. Hidayah di tangan Allah

Hidayah dalam arti iman, taufiq kepadanya dan keteguhan di atasnya bukan di tangan kita, akan tetapi di tangan Allah. Dia-lah yang memberikan kepada siapa yang ia kehendaki dengan karunia dan rahmat-Nya dan menghalanginya dari siapa yang Dia kehendaki dengan keadilan dan hikmah-Nya. Yang wajib atas kita kepada keluarga hanya hidayah dalam bentuk menunjukkan, mengarahkan, menasehati dan membimbing, karena itu jangan melalaikan dan meremehkannya.

Allah berfirman,

“Sesungguhnya engkau (wahai Rasul) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)

  1. Bersandarlah kepada Allah

Kita adalah hamba yang fakir dan miskin. Kita tidak memiliki daya upaya untuk diri sendiri, apalagi untuk orang lain. Karena itu, janganlah bersandar kepada diri sendiri, jangan mengandalkan kemampuan kita, jangan yakin kepada selain Allah. Sebaliknya, serahkkan urusan kita kepada-Nya, bertawakallah kepada-Nya dan mohonlah pertolongan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

???? ???? ??????? ?? ???? ??????

“Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian adalah orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

Allah Ta’ala juga berfirman,

“Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan Allah). Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya lah aku kembali.” (QS. Hud: 88)

Banyak-banyaklah berdo’a kepada Allah, berharap kepada-Nya, bernaung di bawah naungan-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Jangan berkata, “Aku cerdik, aku berpengalaman, aku berusaha keras dan aku pandai.” Walaupun kita telah melakukan banyak sebab dan membekali diri dengan berbagai ilmu. Apa yang kita usahakan adalah bentuk ikhtiar kita, adapun hasilnya, bertawakallah kepada Allah.

  1. Jadilah teladan

Orang berakal sepakat pentingnya teladan yang baik di segala bidang kehidupan karena medan hidup pertama adalah diri kita, karena itu, perbaiki diri kita dahulu, semoga dengan itu Allah memperbaiki orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita. Sebab, bila mereka sampai mendengar sesuatu yang berlawanan dengan apa yang kita lakukan maka akan terjadi ketimpangan, kesalahanpun menjadi besar. Bagi mereka agama hanya sekedar slogan di bibir saja, kalimat-kalimat hampa yang tidak berdampak apapun dalam hidup, tidak berefek apapun dalam kenyataan. Maka mendidik keluarga menjadi baik bukan hanya teori, bahkan mendidik mereka melalui teladan langsung tanpa banyak retorika dan perintah akan lebih berbekas di hati. Mendidik melalui teladan langsung seperti nasehat tanpa suara, mereka menerima dengan melihat langsung contohnya dan kebaikan yang dihasilkan dari teladan yang baik itu.

  1. Hiasi diri dengan kelembutan

Kelembutan itu seperti pisau, namun memotong tanpa sakit. Kelembutan adalah nikmat besar yang berdampak terhadap jiwa-jiwa mulia yang tidak dapat dilakukan oleh kekerasan dan kekasaran.

Allah Ta’ala berfIrman,

“Maka berkat rahmat Allah engkau (wahai Nabi) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran: 159).

Dari Aisyah radhiallaahu’anhaa, dia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

 “Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia menghiasinya dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan ia membuatnya buruh.” (Shahih Muslim, 4/1590, no. 2593).

Penulis:  Ummu ‘Abdirrahman

Sumber: https://muslimah.or.id/9975-bekal-mendidik-keluarga-bag-i.html

Membiasakan Anak Kecil Melakukan Ketaatan

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, dalam mendidik anak itu membutuhkan ‘seni mendidik’ dan strategi tertentu. Harapannya, kita dapat menunaikan tugas dan kewajiban kita sebagai orang tua dalam memberikan pendidikan terbaik kepada mereka. Tentunya kita pun berharap buahnya ketika mereka sudah dewasa. Bahkan lebih jauh lagi, setelah kita wafat pun mereka dapat menjadi ‘mesin’ pendistribusi pahala yang terus menerus bagi kita.

Di antara strategi, metode ataupun ‘seni’ mendidik anak adalah membiasakan mereka melakukan ketaatan (ibadah) sejak usia dini. Seorang penyair Arab menuturkan,

“Tumbuh berkembang para pemuda kami  di atas apa yang dibiasakan oleh ayahnya”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita untuk membiasakan anak-anak kita melakukan ketaatan, adab dan perilaku yang baik. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika usia mereka mencapai tujuh  tahun (hijriyah -pen). Pukullah mereka (tidak dengan pukulan yang membekas –pen) dan pisahkan tempat tidur mereka ketika usia mereka mencapai sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud no. 495. Syaikh Al-Albani rahimahullah menilai hadits ini hasan shahih)

Hadits ini memberikan bimbingan kepada kita untuk membiasakan anak-anak kita melakukan ketaatan, meskipun mereka belum mencapai usia balig (mukallaf). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,

“Yang dimaksud dengan pukulan pada hadits ini adalah pukulan yang dengannya terwujud bentuk pengajaran, bukan pukulan yang membahayakan. Oleh sebab itu, orang tua tidak boleh memukul anaknya dengan pukulan yang menyakitkan. Orang tua juga tidak diperbolehkan memukul anaknya terus menerus tanpa adanya kebutuhan akan hal itu. Namun, pukulan hanya boleh dilakukan jika dibutuhkan saja. Misalnya, anak tersebut tidak mau mengerjakan shalat kecuali jika dipukul. Ketika itu, anak tersebut dipukul namun tidak dengan pukulan yang keras, melainkan pukulan biasa saja. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memerintahkan kita untuk memukul mereka dalam rangka pengajaran dan meluruskan mereka, dan bukan untuk menyakiti mereka.” (Syarh Riyadhush Sholihin, III/174)

Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah mengatakan, “Hal ini berlaku untuk anak laki-laki maupun anak perempuan.” (Syarh Sunan Abi Dawud, III/317)

Intinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntun kita untuk membiasakan anak-anak kita, baik laki-laki maupun perempuan, untuk melakukan ketaatan ketika mereka belum mencapai usia baligh (mukallaf). Ini merupakan bentuk pembiasaan bagi mereka agar ketika sudah baligh diharapkan mereka sudah terbiasa melakukan berbagai kewajiban syariat atas mereka.

Pada hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita untuk memisahkan tempat tidur anak-anak. Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah menjelaskan bahwa anak-anak dipisahkan tempat tidur mereka agar di antara mereka tidak terjadi sesuatu yang buruk, misalnya adanya bisikan setan yang dapat menggerakkan birahi mereka. Dikhawatirkan dengan dekatnya (atau menjadi satu) tempat mereka tidur, maka syahwat boleh jadi tergerak sehingga timbul fitnah (hal-hal yang buruk). Oleh sebab itu, mereka sejak kecil dibiasakan tidak boleh satu tempat tidur, baik antara laki-laki dan perempuan. Yaitu anak laki-laki saja atau anak perempuan saja.” (Diringkas dari Syarh Sunan Abi Dawud, III/317).

Al-Munawi rahimahullah mengatakan, “(Memisahkan tempat tidur ini juga berlaku) walaupun mereka sesama perempuan.” (Faidhul Qodir,  I/334)

Kesimpulan, jika anak kita laki-laki dan perempuan (berbeda jenis), maka kamar mereka harus dipisah. Jika anak kita laki-laki saja atau perempuan saja, boleh untuk satu kamar namun tempat tidur harus terpisah (tidak boleh digabung dalam satu tempat tidur yang sama).

Hadits ini juga menunjukkan haramnya ikhtilath, yaitu campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat yang sama. Sehingga hadits ini juga sekaligus menunjukkan bahwa hendaknya anak-anak kita diajarkan bahwa anak laki-laki itu dipisahkan dari anak-anak perempuan agar ketika mereka dewasa mereka mengerti larangan ikhtilath antara laki-laki dan perempuan. Allahu a’lam.

Mengajak mereka beribadah dan mengkondisikan keadaan agar mereka terbiasa beribadah

Diriwayatkan dari shahabiyah Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz bin ‘Afra’. Dia mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seorang utusan menuju sebuah perkampungan kaum Anshar yang berada di sekitar Madinah ketika siang hari pada hari ‘Asyura. Beliau berpesan,

“Siapa saja yang telah melewati waktu subuh dalam keadaan berpuasa, maka hendaklah dia menyempurnakan puasanya. Barangsiapa yang melewati waktu subuh dan tidak puasa, maka hendaklah dia menahan dirinya sejak pengumunan ini. Setelah itu kami terbiasa berpuasa dan mengajak anak-anak kecil untuk berpuasa, in syaa Allah. Kami membawa mereka ke masjid dan membuatkan mereka mainan yang terbuat dari kapas bulu domba. Jika mereka menangis karena lapar, maka kami berikan makanan kepada mereka setelah waktu berbuka.” (HR. Bukhari no. 1960 dan Muslim no.  1136)

Para sahabat mengajak anak mereka untuk melaksanakan puasa dan membuatkan mereka mainan agar mereka tidak merasa terbebani dengan rasa lapar ketika berpuasa.

Melarang anak melakukan  kesalahan walaupun masih kecil

Di antara bentuk membiasakan mereka dalam ketaatan sejak usia belia adalah melarang mereka ketika mereka melakukan kesalahan yang layak ditegur untuk anak seusia mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang ‘Umar bin Abu Salamah radhiyallahu ‘anhuma. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

“Wahai anak kecil, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no.  2022)

Lihatlah tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat tangan Umar bin Abu Salamah berseliweran ke sana ke mari di nampan ketika makan. Maka beliau memerintahkan dan mengajarkannya untuk makan dengan mengucapkan bismillah, menggunakan tangan kanan dan memakan makanan yang terdekat dengannya. Jika kita perhatikan, perintah ini sebetulnya merupakan bentuk teguran dan larangan atas apa yang dilakukan Umar bin Abu Salamah, yaitu makan dengan tangan yang seliweran ke sana ke mari, namun dalam bentuk tuntunan dan perintah. Metode pendidikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan adab makan kepada anak kecil ini pun berbuah manis. Di akhir hadits dalam riwayat Bukhari, ‘Umar bin Abu Salamah mengatakan,

“Demikianlah gaya makanku setelah itu.”

Apa yang dilakukan ‘Umar bin Abu Salamah dan para shahabat lainnya inilah yang kita harapkan dengan membiasakan anak-anak kita melakukan berbagai ketaatan semenjak usia kecil.

***

Diselesaikan ba’da zhuhur, Sigambal 7 Rabi’ul akhir 1439/ 25 Desember 2017

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim


Sumber: https://muslimah.or.id/10059-parenting-islami-40-membiasakan-anak-kecil-melakukan-ketaatan.html

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No: 85 – Biasakan Anak Mengucapkan Salam

Biasakan anak mengucapkan salam yang merupakan ucapan islami antara sesama kaum muslimin. Sehingga ia mengetahui bagaimana cara memulai pembicaraan dengan orang lain. Berikanlah contoh nyata kepadanya dan latih ia untuk mengucapkannya. Terutama ketika masuk rumah, ruangan ataupun majelis, saat bertemu dengan orang tua, teman atau sesama muslim.

Ajarkanlah kepadanya adab memberikan salam. Sebagaimana termaktub dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي، وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ“

“Hendaknya yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan kaki, yang berjalan kaki kepada yang duduk dan yang sedikit kepada yang banyak”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Dalam riwayat lain disebutkan,

“يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الكَبِيرِ“

“Yang muda memberi salam kepada yang tua”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Terangkan kepadanya keutamaan menyebarkan salam, baik orang yang dikenal maupun tidak. Bahwa hal itu akan menumbuhkan perasaan kasih sayang, serta menjadi sebab masuk surga.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ: “تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ“.

Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma menuturkan, “Seseorang pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Praktek berislam seperti apakah yang terbaik?”. Beliau menjawab, “Berilah makan (orang lain) dan ucapkanlah salam kepada yang engkau kenal dan tidak engkau kenal”. HR. Bukhari.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok pendidik yang memiliki kelembutan jiwa. Beliau mampu menorehkan kesan mendalam dalam menanamkan sunnah salam ini kepada jiwa anak-anak. Sebuah perwujudan sifat tawadhu dan kasih sayang yang tulus kepada jiwa anak yang masih suci.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: “أَنَّهُ مَرَّ عَلَى صِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ“ وَقَالَ: “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ“.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah melewati sekumpulan anak kecil, lalu beliau memberi salam kepada mereka. Beliau berkata, “Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa melakukannya”. HR. Bukhari.

Dalam hadits lain disebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati anak-anak kecil lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka”. HR. Muslim dari Anas radhiyallahu ‘anhu.

“كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُ الْأَنْصَارَ فَيُسَلِّمُ عَلَى صِبْيَانِهِمْ، وَيَمْسَحُ بِرُءوسِهِمْ، وَيَدْعُو لَهُمْ“

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mengunjungi kaum Anshar lalu beliau mengucapkan salam kepada anak-anak, mengusap kepala mereka dan mendoakan kebaikan bagi mereka”. HR. Nasa’i dari Anas radhiyallahu ‘anhu. dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, adh-Dhiya’ al-Maqdisiy juga al-Albaniy.

Kuncinya, Orang Tua pun Harus Sholeh

Mungkin satu hal yang sering dilupakan oleh kita. Diisyaratkan oleh orang-orang sholih terdahulu (baca : salafush sholeh) bahwa sebenarnya amalan orang tua juga bisa berpengaruh pada kesholehan anaknya. Orang tua yang sholeh akan memberi kemanfaatan kepada anaknya di dunia bahkan tentu saja di akhirat. Sebaliknya, orang tua yang gemar berbuat maksiat akan memberi pengaruh jelek dalam mendidik anak.

Oleh karena itu, hendaklah orang tua yang menginginkan kesholehan pada anaknya untuk giat melakukan amal sholih yang di dalamnya terdapat keikhlasan dan senantiasa mengikuti contoh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kisah Dua Anak Yatim

Alangkah baiknya kita memperhatikan kisah Musa dan Khidz ini dengan seksama. Semoga kita bisa menggali pelajaran berharga di dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman ,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Al Kahfi : 82)

Suatu saat Nabi Musa dan Khidr –‘alaihimas salam- melewati suatu perkampungan. Lalu mereka meminta kepada penduduk di kampung tersebut makanan dan meminta untuk dijamu layaknya tamu. Namu penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka. Lalu mereka berdua menjumpai dinding yang miring (roboh) di kampung tersebut. Khidr ingin memperbaikinya. Kemudian Musa berkata pada Khidr,

لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

“Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.” (QS. Al Kahfi: 77).

Namun apa kata Khidr? Khidr berkata,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (QS. Al Kahfi : 82)

Lihatlah …! Allah Ta’ala telah menjaga harta dan simpanan anak yatim ini, karena apa? Allah berfirman (yang artinya), “sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” Ayahnya memberikan simpanan kepada anaknya ini, tentu saja bukan dari yang haram. Ayahnya telah mengumpulkan harta untuk anaknya dari yang halal, sehingga karena kesholehannya ini Allah juga senantiasa menjaga anak keturunannya. Bukankah begitu?!

Hendaknya Orang Tua Senantiasa Memperhatikan yang Halal dan Haram

Oleh karena itu, hiasilah diri dengan amal sholeh bukan dengan berbuat maksiat. Carilah nafkah dari yang halal bukan dari yang haram. Perbaguslah makanan, minuman, dan pakaianmu hingga engkau menengadahkan tanganmu untuk berdo’a pada Allah dengan tangan yang suci, hati yang bersih, maka niscaya jika engkau melakukan amal sholeh semacam ini, Allah akan senantiasa mengabulkan permintaanmu ketika engkau berdo’a untuk kesholehan anakmu. Tentu dengan demikian Allah akan memperbaiki dan membuat sholeh dan memberkahi mereka. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma’idah : 27) ?!

Cobalah kita renungkan, bagaimana mungkin do’a kita bisa diijabahi sedangkan hasil usaha, makan dan minum yang kita peroleh berasal dari perbuatan menipu orang lain, korupsi, dan perbuatan maksiat lainnya atau mungkin dengan berbuat syirik?! Tidakkah kita merenungkan, bagaimana do’a kita bisa diijabahi sedangkan pakaian kita saja berasal dari yang haram?!

Sebaik-Baik Teladan adalah Salafush Sholeh Terdahulu

Lihatlah saudaraku –para ayah dan ibu- perkataan orang sholeh terdahulu (baca : salafush sholeh) ini. Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada kita untuk senantiasa beramal sholeh.

Sebagian mereka berkata, “YA BUNAYYA LA’AZIDUNNA FI SHOLATI MIN AJLIKA [Wahai anakku, sungguh aku menambah shalatku karena untukmu].”

Sebagian ulama mengatakan, “Maksudnya adalah aku memperbanyak shalat dan memperbanyak do’a kepadamu -wahai anakku- dalam setiap shalatku.”

Jika orang tua senantiasa merutinkan mentadaburi kitabullah, membaca surat Al Baqoroh, dan Surat Al Falaq-An Naas (Al Maw’idzatain), atau amalan lainnya, niscaya malaikat akan turun di rumah mereka tersebut karena sebab dihidupkannya bacaan kitab suci Al Qur’an, bahkan setan pun akan kabur dari rumah yang senantiasa dirutinkan amalan semacam ini. Tidak diragukan lagi bahwasanya turunnya malaikat akan menghadirkan ketenangan dan mendatangkan rahmat. Hal ini sudah barang tentu akan memberi pengaruh yang baik pada anak dan mereka niscaya akan mendapat keselamatan. Adapun hal ini sampai dilalaikan oleh orang tua, maka akan berakibat sebaliknya. Setan malah akan senang menghampiri rumah tersebut karena rumah semacam ini tidak dihidupkan dengan dzikir pada Allah. Malah rumah ini dihiasi dengan berbagai gambar makhluk bernyawa, music dan hal-hal yang terlarang lainnya.

Marilah kita selaku orang tua mengintrospeksi diri. Hiasilah hari-hari kita dengan gemar mentadaburi kitabullah. Hiasilah rumah kita dengan lantunan ayat suci Al Qur’an. Hiasilah hari-hari kita dengan puasa sunnah, shalat sunnah, shalat malam dan amalan taat lainnya. Jauhilah berbagai macam maksiat dan perbuatan-perbuatan terlarang yang memasuki rumah kita.

Semoga Allah senantiasa memberkahi pendengaran, penglihatan, istri dan anak-anak kita.

***

Pogung Kidul, 5 Dzulqo’dah 1429

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/16-kuncinya-orang-tua-pun-harus-sholeh.html

Pengaruh Keshalihan Orang Tua Pada Anak-Cucu

Selama ini kita percaya bahwa bentuk fisik dan beberapa sifat akan diturunkan kepada anak dan cucu. Karena ada pepatah

Buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya

Sehingga manusia selektif memilih pasangannya agar menghasilkan keturunan anak-cucu yang berkualitas baik fisik dan sifatnya. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa keshalihan juga bisa diturunkan. Artinya karena keshalihan bapak-ibu atau kakek-nenek, Allah menjaga anak keturunan mereka dan menjadikan anak dan cucu mereka kelak juga menjadi orang yang shalih.

Bisa kita lihat gambaran contohnya dalam Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” (QS. Al Kahfi: 82)

Al-Qurthubi rahimahullahu menafsirkan,

ففيه ما يدل على أن الله تعالى يحفظ الصالح في نفسه وفي ولده وإن بعدوا عنه. وقد روي أن الله تعالى يحفظ الصالح في سبعة من ذريته

“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala menjaga keshalihan seseorang dan menjaga keshalihan anak keturunannya meskipun jauh darinya [beberapa generasi setelahnya –pent]. Diriwayatkan [dalam kisah pada ayat] bahwa Allah menjaga keshalihan pada generasi ketujuh dari keturunannya.”1

Bahkan ada beberapa ulama yang menjelaskan bahwa tidak mesti keshalihan orang tua atau kakek-nenek. Akan tetapi keshalihan kakek buyutnya beberapa generasi sebelumnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” [Ath Thuur: 21]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy menafsirkan,

ذريتهم الذين اتبعوهم بإيمان أي: الذين لحقوهم بالإيمان الصادر من آبائهم، فصارت الذرية تبعا لهم بالإيمان، ومن باب أولى إذا تبعتهم ذريتهم بإيمانهم الصادر منهم أنفسهم، فهؤلاء المذكورون، يلحقهم الله بمنازل آبائهم في الجنة وإن لم يبلغوها، جزاء لآبائهم، وزيادة في ثوابهم، ومع ذلك، لا ينقص الله الآباء من أعمالهم شيئا

“keturunan yang mengikuti mereka dalam keimanan maksudnya adalah mereka mengikuti keimanan yang muncul dari orang tua/kakek-buyut mereka. maka keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan. Maka lebih utama lagi jika keimanan muncul dari diri anak-keturunan itu sendiri. Mereka yang disebut ini, maka Allah akan mengikutsertakan mereka dalam kedudukan orang tua/kakek-buyut mereka di surga walaupun mereka sebenarnya tidak mencapainya [kedudukan anak lebih rendah dari orang tua –pent], sebagai balasan bagi orang tua mereka dan tambahan bagi pahala mereka. akan tetapi dengan hal ini, Allah tidak mengurangi pahala orang tua mereka sedikitpun.”2

Karenanya perhatikan dan pilihlah pasangan yang shalih, ini adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Demikian semoga bermanfaat.

1 Al-Jami’ liahkamil Quran 39/11, Darul Kutubil Mishriyah, Koiro, cet. Ke-2, 1384 H, Syamilah

2 Taisir Karimir rahmah hal 780, Dar Ibnu Hazm, Beirut, cet.I, 1424 H

—

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/23314-pengaruh-keshalihan-orang-tua-pada-anak-cucu.html

TAHAP PERTAMA MENDIDIK ANAK : MENGAJARKAN KALIMAT TAUHID

👤 Dari ibnu ‘Abbas bahwa Nabi shalallahu ’alaihi wassalam bersabda :

“Ajarkan kalimat laa ilaaha illallah kepada anak-anak kalian sebagai kalimat pertama dan tuntunkanlah mereka mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah ketika menjelang mati.” (HR. Hakim)

👤 Abdurrazaq meriwayatkan : 

“bahwa para sahabat menyukai untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka kalimat laa ilaaha illallah sebagai kalimat yang pertama kali bisa mereka ucapkan secara fasih sampai tujuh kali, sehingga kalimat ini menjadi yang pertama-tama mereka ucapkan.”

👤 Ibnul Qayyim mengatakan :

“Diawal waktu ketika anak-anak mulai bisa bicara, hendaknya mendiktekan kepada mereka kalimat laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah, & hendaknya sesuatu yang pertama kali didengar oleh telinga mereka adalah laa ilaha illallah (mengenal Allah) & mentauhidkanNya. Juga diajarkan kepada mereka bahwa Allah bersemayam di atas singgasanaNya yang senantiasa melihat & mendengar perkataaan mereka, senantiasa bersama mereka dimanapun mereka berada.” (Ahkam Al-Maulud)

Oleh karena itu, wasiat Nabi shalallahu’alaihi wassalam kepada Mu’adz bin jabal radhiyallahu anhu sebagimana yang disebutkan dalam hadits :

“Nafkahkanlah keluargamu sesuai dengan kemampuanmu. Janganlah kamu angkat tongkatmu di hadapan mereka & tanamkanlah kepada mereka rasa takut kepada Allah.” (HR. Bukhori, Ahmad, Ibnu Majah, Adabul Mufrad)

🔹Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sejak pertama kali mendapatkan risalah tak pernah mengecualikan anak-anak dari target dakwah beliau. Beliau berangkat menemui Ali bin Abi Thalib yang ketika itu usianya belum genap sepuluh tahun. Beliau shalallahu alaihi wassalam mengajaknya utk beriman, yang akhirnya ajakan itu dipenuhinya. Ali bahkan menemani beliau dalam melaksanakan shalat secara sembunyi-sembunyi di lembah Mekkah sehingga tak diketahui oleh keluarga & ayahnya sekalipun. .

sumber : https://shahihfiqih.com/tahap-pertama-mendidik-anak-mengajarkan-kalimat-tauhid/