Ajarkan pada Anak Kita tentang Tauhid dan Syirik

Yuk ayah bunda, ajarkan masalah akidah ini pada anak kita. Mereka harus paham tauhid dan syirik. Perbuatan syirik juga dapat diberi contoh-contohnya di sekitar kita, yang penting ajarkan anak kita untuk waspada.

Tauhid dan syirik itu apa?

Tauhid secara bahasa berarti menjadikan sesuatu menjadi satu.

Sedangkan secara istilah syari, tauhid berarti mengesakan Allah dalam hal yang menjadikan kekhususan-Nya yaitu dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat.

Syirik secara bahasa berarti an-nashiib yaitu bagian.

Sedangkan secara istilah syari, syirik berarti menjadikan selain Allah punya bagian dalam hal-hal yang khusus bagi Allah.

Macam-macam syirik

Ada berbagai macam bentuk syirik:

  1. Syirik dalam doa, bentuknya berdoa kepada selain Allah.
  2. Syirik dalam niat, bentuknya melakukan ibadah asalnya riya’ atau hanya ingin mencari dunia semata.
  3. Syirik ketaatan, yaitu menjadikan selain Allah sebagai pembuat syariat atau pemnbuat hukum.
  4. Syirik mahabbah (cinta), yaitu mencintai selain Allah sama seperti mencintai Allah.

Referensi:

Tsalatsatul Ushul dan berbagai syarhnya.

sumber: https://ruqoyyah.com/849-ajarkan-pada-anak-kita-tentang-tauhid-dan-syirik.html

Sebab Kenakalan pada Anak

Ada beberapa sebab kenakalan pada anak yang kami kembangkan dari buku Tarbiyah Al-Awlad fi Al-Islam karya Syaikh ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan.

Pertama: Orang Tua Jauh dari Agama

Dari Abu Waqid Al-Harits bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang duduk di masjid dan orang-orang sedang bersamanya, tiba-tiba datanglah tiga orang. Maka dua orang menghampiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan yang satu pergi. Lalu kedua orang tua itu berdiri di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya melihat tempat yang kosong di perkumpulan tersebut, maka ia duduk di sana. Sedangkan yang satu lagi, duduk di belakang mereka. Adapun orang yang ketiga pergi. Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai, beliau berkata, “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang tiga orang?

أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأوَى إِلَى اللهِ فآوَاهُ اللهُ إِلَيْهِ . وَأمَّا الآخَرُ فاسْتَحْيَى فَاسْتَحْيَى اللهُ مِنْهُ ، وأمّا الآخَرُ ، فَأعْرَضَ ، فَأَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ

Yang pertama, ia berlindung kepada Allah, maka Allah pun melindunginya. Yang kedua, ia malu, maka Allah pun malu terhadapnya. Sedangkan yang ketiga, ia berpaling maka Allah pun berpaling darinya.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 66 dan Muslim, no. 2176)

Berarti yang mau berada dalam majelis ilmu yang diisi oleh seorang yang ‘alim terhadap ilmu, akan mendapatkan kebaikan. Sedangkan yang menjauhinya, akan jauh dari kebaikan.

Kapan orang tua mau menghadiri majelis ilmu yang diisi oleh para ustadz, pasti di situ akan berbuah kebaikan untuk orang tua itu sendiri dan akan berdampak baik pada anak juga keluarga.

Mungkin istri dan anak telah mendapatkan nafkah cukup dari suami. Namun itu saja belum cukup, jika belum dibimbing pada ilmu agama.

Karena ingatlah salehnya orang tua, akan berdampak pada salehnya anak.

Sa’id bin Al-Musayyib pernah berkata pada anaknya,

لَأَزِيْدَنَّ فِي صَلاَتِي مِنْ أَجْلِكَ

“Wahai anakku, sungguh aku terus menambah shalatku ini karenamu (agar kamu menjadi saleh, pen.).” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:467)

Kedua: Lingkungan dan Teman yang Buruk

Semakin baik lingkungan sekitar anak, pasti akan mendukungnya pula dalam kebaikan. Coba bayangkan jika anak berada di lingkungan para pemabuk, pecandu narkoba, penggila games, apa yang terjadi pada anak kita?

Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Malik bin Dinar pernah mengingatkan,

كُلُّ جَلِيْسٍ لاَ تَسْتَفِيْدُ مِنْهُ خَيْرًا فَاجْتَنِبْهُ

“Setiap pertemanan yang tidak mendatangkan kebaikan apa-apa bagimu, maka jauhilah.” (Hilyah Al-Auliya’, 1:51, dinukil dari At-Tadzhib Al-Mawdhu’iy li Hilyah Al-Auliya’, hlm. 471).

Ketiga: Perlakuan yang Buruk dari Orang Tua

Bisa jadi sebab anak nakal adalah karena didikan kasar dari orang tua, dididik dengan pukulan, dididik dengan perkataan yang pedas, dan kadang menghina anak itu sendiri sehingga akhirnya timbul perangai dan akhlak yang jelek pada anak.

Allah telah memerintahkan kepada kita,

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Dalam ayat lain disebutkan,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖوَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Orang-orang yang mengasihi dirahmati oleh Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih). Karenanya kasihilah yang ada di bumi nicaya Yang di langit (yaitu Allah) akan mengasihi kalian.”(HR. Tirmidzi, no. 1924 dan Abu Daud, no. 4941. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Keempat: Tayangan Film Kekerasan dan Pornografi

Faktor besar yang menyebabkan kenakalan pada anak dan mendorongnya untuk berbuat menyimpang adalah karena mereka sering menyaksikan film-film yang tidak layak ditonton yang ditayangkan di televisi. Baik berupa tindakan kriminal, film-film porno, dan apa saja yang mereka baca dari majalah dan cerita-cerita cabul. Semua itu dapat mendorong anak untuk berlaku menyimpang. Padahal semua itu bisa menyerang akhlak orang dewasa. Lantas, bagaimana jadinya jika anak di usia pubertas atau kanak-kanak?

Sudah dimaklumi bersama bawah anak tatkala sudah bisa berpikir, maka gambar-gambar dan tontonan ini akan senantiasa melekat dalam benak dan khayalan mereka. Tanpa disadari, ia nantinya akan mengikuti dan menirunya. Tidak ada bahaya yang paling besar bagi anak di usia puber kecuali bahaya tontonan yang memicunya berbuat jahat dan melakukan tindakan hina. Terlebih jika anak tidak mendapatkan penjagaan dan pengawasan.

Ada tiga prinsip penting yang perlu diingatkan ketika mendidik anak:

PertamaOrang tua harus melindungi anak dengan baik sehingga anak terselamatkan dari murka Allah dan masuk neraka Jahannam. Ingatlah perintah dalam ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir (7:321), ‘Ali mengatakan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah,

أَدِّبُوْهُمْ وَعَلِّمُوْهُمْ

“Ajarilah adab dan agama pada mereka.”

KeduaMenanamkan rasa tanggung jawab bagi orang tua yang mendidik anak.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهْىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pengatur dan akan ditanya mengenai apa yang telah diatur. Seorang pemimpin negara adalah pemimpin untuk rakyatnya, ia akan ditanya mengenai kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin di rumah untuk keluarganya dan akan ditanya mengenai tanggung jawabnya. Seorang wanita adalah pengatur untuk rumah suami dan anak suaminya, ia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak sahaya menjadi penanggung jawab untuk harta tuannya, ia akan ditanya tentangnya. Ingatlah, setiap kalian itu punya tanggung jawab dan setiap kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya.” (HR. Bukhari, no. 2554 dan Muslim, no. 1829)

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan mengenai maksud “ar-roo’i” dalam hadits ini adalah penjaga, yang diberi amanat, yang memperhatikan maslahat yang diberikan amanat untuknya, diperintahkan berlaku adil, dan menjalankan keadilan. (Fath Al-Bari, 13:113)

KetigaMenghilangkan bahaya pada setiap yang mengarah pada penyimpangan.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Tidak boleh memulai memberi dampak buruk (mudarat) pada orang lain, begitu pula membalasnya.” (HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daruquthni 3:77; Al-Baihaqi, 6:69, Al-Hakim, 2:66. Kata Syaikh Al-Albani hadits ini shahih).

Berpijak pada tiga hal inilah setiap orang tua punya kewajiban untuk melarang anak dari menonton video porno, melihat gambar telanjang, sampai menonton berbagai tayangan kekerasan dan kriminal.

Insya Allah penjelasan ini masih berlanjut. Semoga Allah mudahkan.

Referensi:

Tarbiyah Al-Awlad fi Al-Islam. Cetakan ke-37, Tahun 1434 H. Dr. ‘Abdullah bin Nashih ‘Ulwan. Penerbit Darus Salam.

Disusun Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc.

Mulai perjalanan safar Madinah – Jogja untuk umrah, diselesaikan 9 Jumadal Ula 1440 H (14 Januari 2019)

sumber : https://rumaysho.com/19335-sebab-kenakalan-pada-anak-01.html

Tanggung Jawab Pendidikan Moral pada Anak

Perlu ada juga tanggung jawab pendidikan moral pada anak.

Masalah anak:

  1. Gemar berbohong
  2. Gemar mencuri
  3. Gemar mencaci dan mencela
  4. Kenakalan dan penyimpangan
  5. Suka membully

Bentuk tanggung jawab moral:

  1. Menghindarkan anak dari ikut-ikutan (taklid) yang jelek.
  2. Mencegah agar tidak tenggalam dalam kesenangan
  3. Melarang anak mendengar musik dan nyanyian
  4. Melarang anak laki-laki bergaya seperti perempuan (untuk hindari LGBT)
  5. Melarang anak perempuan untuk membuka aurat, diajarkan sudah terbiasa pakai jilbab sedari kecil
  6. Melarang anak perempuan tabarruj (dandan menor)
  7. Melarang anak untuk ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan)

Referensi: Tarbiyatul Awlad fil Islam karya Syaikh Dr. ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan

Terjemahan: Pendidikan Anak dalam Islam Penerbi Insan Kamil

Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://ruqoyyah.com/1652-tanggung-jawab-pendidikan-moral-pada-anak.html

Tiga Pilar Islam

Ayah bunda, kita bisa kenalkan lagi tiga pilar Islam pada anak kita.

Islam itu kata Syaikh Muhammad At-Tamimi adalah:

  1. Al-istislaamu lillahi bit tauhiid, yaitu berserah diri kepada Allah dengan bertauhid.
  2. Al-inqiyadu lahu bith tho’ah, yaitu patuh kepada Allah dengan taat.
  3. Al-khulushu minasy syirki, yaitu lepas dari syirik.

Yang dimaksud berserah diri kepada Allah dengan bertauhid adalah taat dan merendahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, yaitu dengan mengesakan Allah dalam rububiyah dan uluhiyah-Nya.

Yang dimaksud patuh kepada Allah dengan ketaatan adalah patuh dalam perintah dan larangan, di mana bentuknya adalah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Sedangkan yang dimaksud dengan lepas dari syirik adalah meninggalkan orang musyrik dan perbuatan syirik. Inilah yang menandakan Islamnya itu sempurna. Orang muslim itu tidak berserikat dengan orang musyrik dalam keyakinan, ucapan, dan amalan. Orang muslim itu tidak bersatu dalam tempat tinggal. Orang muslim juga tidak tasyabbuh (menyerupai) kebiasaan non-muslim. Orang muslim tidak meyakini apa yang diyakini non-muslim. Orang muslim juga tidak taklid (mengikuti tingkah laku) non-muslim. Contohilah Nabi Ibrahim dalam hal ini sebagaimana disebutkan dalam ayat,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Semoga bermanfaat.

Referensi: 

Hushul Al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd.

Ditulis: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://ruqoyyah.com/1685-tiga-pilar-islam.html

Tanda Sukses Mendidik Anak: Mereka Nyaman Bercerita Kepada Orang Tua

Salah satu pertanyaan besar yang sering muncul dalam dunia parenting adalah:

Bagaimana kita tahu bahwa kita berhasil dalam mendidik anak?
Jawabannya bisa sangat sederhana: Ketika anak merasa aman dan nyaman untuk bercerita kepada orang tuanya, tentang apa pun.

Entah itu kisah senang atau sedih, prestasi atau kegagalan, hal memalukan atau bahkan aib, jika anak terbuka kepada orang tua, itu tanda bahwa ada ikatan emosional (bonding) yang kuat dan sehat di antara mereka. Tapi kedekatan seperti ini tidak hadir begitu saja, namun dibutuhkan proses yang panjang dan penuh kesabaran.

Kuncinya ada pada sikap kita. Ucapan yang lembut, perhatian tanpa menghakimi, dan waktu yang benar-benar kita berikan akan membuat anak merasa dihargai, didengar, dan dicintai. Saat anak mulai bercerita, berhentilah sejenak, tatap matanya, letakkan gadget, dan dengarkan dengan sungguh-sungguh. Ini akan memberikan pesan kepada anak bahwa dia penting di mata kita.

Bahkan jika yang diceritakan adalah kesalahan, jangan langsung merespon dengan kemarahan. Sebab ketika anak mau mengakui kesalahannya, itu artinya ia percaya pada kita, percaya bahwa kita akan merespon dengan bijak, bukan dengan amarah. Inilah yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak langsung memarahi orang yang datang dengan kesalahan. Sebaliknya, beliau mendengarkan terlebih dahulu dan dengan kelembutan akan membimbingnya.

Abu Umamah Radhiyallahu anhu bercerita, “Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”.
Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, merekaberkata, “Diam kamu, diam!”.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mendekatlah”. Pemuda tadi mendekati beliau dan duduk.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”.
“Tidak demi Allah, wahai Rasul” sahut pemuda tersebut.
“Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”.
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”.
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika bibi (dari jalur bapakmu) dizinai?”.
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika bibi (dari jalur ibumu) dizinai?”.
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ”

“Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”.
Setelah kejadian tersebut, pemuda itu TIDAK PERNAH lagi tertarik untuk berbuat zina.”
 (HR. Ahmad, shahih, Ash-Shahihah I/713 no. 370)

Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merespon orang yang datang membawa kesalahan. Beliau mendengarkan tanpa menghakimi, lalu memberikan nasihat dengan penuh empati. Contoh terbaik bagaimana sebagai orang tua harus bisa menjadi pendengar terlebih dahulu sebelum menasihati.

Dalam banyak riwayat yang lain disebutkan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang sangat dekat dengan anak-anak. Beliau sering menyapa anak-anak, terkadang memangku dan memboncengnya. Rasa nyaman inilah yang menumbuhkan keberanian anak-anak untuk terbuka dan jujur.

Keterbukaan anak bukan sekadar tanda kedekatan hari ini. Ia adalah modal kepercayaan yang akan mereka bawa hingga dewasa. Saat kelak mereka menghadapi tekanan, pergaulan, atau masalah hati, mereka pasti akan mencari tempat curhat.

Pertanyaannya: Apakah mereka akan datang ke orang tuanya atau ke orang lain yang belum tentu membawa kebaikan?

Maka mulai sekarang, jadilah orang tua yang tidak hanya hadir secara fisik, tapi juga emosional. Karena sejatinya, anak tidak butuh orang tua yang sempurna, mereka hanya butuh orang tua yang hadir dan bisa dipercaya.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/tanda-sukses-mendidik-anak-mereka-nyaman-bercerita-kepada-orang-tua.html

Mengajarkan Anak Surat Al-Fatihah

Surat ini adalah yang akan dibaca seseorang sepanjang hidupnya insya Allah. Minimal 17 kali dalam sehari, yaitu dalam sholat-sholat wajib.

  • 2 kali saat sholat Subuh
  • 4 kali saat sholat Dzuhur
  • 4 kali saat sholat Ashar
  • 3 kali saat sholat Maghrib
  • 4 kali saat sholat Isya

Bayangkan jika – dengan izin Allah -, anak bisa membaca surat ini melalui hasil didikan orang tua. Maka semoga ini termasuk amal yang tak terputus ketika sang orang tua telah meninggal karena menjadi ilmu yang bermanfaat yang diamalkan.

Kapan Mengajarkan?

Pada dasarnya, sejak anak belum bisa bicara, kegiatan mengajarkan Al-Qur’an bisa dilakukan.

Hasil atau proses belajar memang akan lebih terasa kalau anak sudah mulai bisa bicara.

Saat anak sudah mulai bisa menangkap kosa kata lebih banyak dan bisa melafalkan beberapa patah kata, maka orang tua dapat lebih intensif membacakan surat Al-Fatihah agar bacaan tersebut terserap.

Awalnya memang mereka masih diam. Namun jika intensif setiap hari mereka mendengar surat Al-Fatihah dibacakan, insya Allah orang tua akan takjub sendiri ketika mereka membacakan ayat-ayat tersebut dalam kegiatan sehari-hari.

Cara Mengajarkan Surat Al-Fatihah di Usia Dini

Ada berbagai cara mengajarkan anak usia dini belajar Al-Qur’an.

Mengeraskan Bacaan dalam Sholat

Saat sholat dengan bacaan yang dikeraskan, seperti sholat Subuh, Maghrib, Isya, ibu yang memang lebih utama melakukan sholat di rumah dapat membaca surat Al-Fatihah di 2 roka’at pertama.

Jika sering mendengar sang ibu membacakan surat ini dalam sholat, insya Allah anak akan menyerap bacaan sekaligus mengetahui bahwa bacaan ini memang akan selalu dibaca dalam sholat.

[Postingan di instagram bisa diakses di sini: Mendidik Al-Fatihah; postingan 21 Oktober 2019, kembar usia 3 tahun]

Meminta Mereka Membaca Al-Fatihah

Biasanya saya meminta mereka membaca Al-Fatihah saat mereka ingin menonton video anak-anak atau menggunakan tablet yang ini memang dibatasi penggunaannya di rumah.

Sebelum diizinkan, minta mereka membaca Al-Fatihah. Pada prakteknya, sebenarnya kita yang membaca lebih dahulu kemudian mereka mengikuti bacaan kita. Awalnya mungkin mereka hanya mendengarkan atau mengikuti bagian-bagian belakangnya. Lama-lama insya Allah mereka bisa mengikuti secara lebih lengkap.

Aktifitas membaca Al-Fatihah ini tidak dilakukan sekali. Minimal biasanya 3 kali. Insya Allah mereka tidak protes karena kita juga ikut membaca bersama mereka.

Biasanya prakteknya seperti ini.

Anak-anak: “Mi, mau starfall.”
Ummi: “Baca Al-Fatihah duluuu…”
Ummi: “A’uudzubillahiminasysyaithoonirrojiiim…dst membaca Al-Fatihah.”

Karena sudah paham bahwa aktifitas ini sebenarnya aktifitas biasa saja yang insya Allah tidak memberatkan dan dilakukan bersama, anak akan tahu bahwa memang mereka perlu melalui tahapan membaca surat Al-Fatihah dulu sebelum mendapatkan hal yang mereka inginkan.

Cara lain, anak dapat diminta membaca Al-Fatihah (bersama sang ibu) saat mereka ingin makan makanan snack yang sifatnya jarang diberikan.

Membaca Saat di Kendaraan

Momen-momen perjalanan di atas kendaraan juga bisa dijadikan sarana mereka menyimak kita membacakan Al-Fatihah untuk mereka.

Tahapan Ilmu

  • awalnya diam,
  • kemudian mendengarkan,
  • kemudian mulai mengingat,
  • akhirnya mengamalkan,
  • dan suatu hari nanti insya Allah menyebarkan.

Semoga dengan mengetahui tahapan ini, orang tua tidak menganggap diamnya anak itu berarti tidak belajar. Tapi itu merupakan bagian dari tahapan yang ada dalam sebuah proses belajar.

Semoga dimudahkan untuk mengajarkan anak membaca Al-Fatihah ya.

@cizkah | cizkah.com
Jogja, 27 Oktober 2019 | 28 Safar

sumber : https://cizkah.com/mengajarkan-anak-surat-al-fatihah/

Bohong kepada Anak, Bolehkah?

Bismillaah.

Ibu-ibu adakah yang mengatakan demikian kepada anaknya? “Jangan main HP terus ya, nanti matanya hitam.” “Jangan nangis terus, nanti disuntik dokter.” “Jangan makan permen, nanti digigit semut.” Mungkin masih banyak yang mengatakan demikian, dengan dalih tidak mengapa karena tujuannya baik. Alasan lainnya karena masih kecil, jadi belum paham. Berbohong kepada anak seperti ini, dalam ilmu psikologi disebut parenting by lying. Namun apakah hal ini diperbolehkan?

Perspektif Syariat

Dalam agama kita, kita tidak diperbolehkan berbohong meskipun kepada anak kecil. Walaupun pada anak kecil, kita tidak boleh berbohong dan berdusta. Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺼَﺒِﻲٍّ ﺗَﻌَﺎﻝَ ﻫَﺎﻙَ ﺛُﻢَّ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻄِﻪِ ﻓَﻬِﻲَ ﻛَﺬْﺑَﺔٌ

Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil, “Kemarilah, saya akan memberimu sesuatu”, lalu ia tidak memberinya, maka itu adalah sebuah kebohongan.” [1]

Kita dilarang berbohong, walaupun hanya bercanda. Orang yang meninggalkan berbohong sekalipun sedang bercanda, mendapat jaminan surga.

Rasulullaah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

ﺃَﻧَﺎ ﺯَﻋِﻴْﻢٌ ﺑِﺒَﻴْﺖٍ ﻓِﻲْ ﺭﺑﺾ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟَﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟْﻤِﺮَﺍﺀَ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤِﻘًﺎ ﻭَﺑِﺒَﻴْﺖٍ ﻓِﻲْ ﻭَﺳَﻂِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟْﻜَﺬِﺏَ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺎﺯِﺣًﺎ ﻭَﺑِﺒَﻴْﺖٍ ﻓِﻲْ ﺃَﻋْﻠَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﺣَﺴُﻦَ ﺧُﻠُﻘُﻪُ

Aku akan memberikan jaminan sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar, dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta sekalipun ia bercanda, serta rumah di bagian atas surga bagi orang yang akhlaknya bagus.” [2]

Perspektif Psikologi

Dalam ilmu psikologi, dikenal istilah parenting by lying. Parenting by lying adalah praktik di mana orang tua berbohong kepada anak-anaknya untuk mempengaruhi emosi atau perilaku mereka. [3] Contoh parenting by lying yaitu perkataan, “Jika kakak terus menjahili adik, ibu akan menelepon polisi agar bisa dimasukkan ke penjara” atau “Jika adik tidak mengerjakan PR, ayah tidak akan mengajak jalan-jalan.” Perbuatan ini ternyata dilakukan oleh banyak orang tua di dunia. Berdasarkan hasil penelitian, 78% orang tua di Amerika dan 98% orang tua di China melakukan parenting by lying. [4] Namun, apakah efek dari parenting by lying?

Gambar 1. Pengaruh Parenting by Lying [5]

Dapat dilihat pada Gambar 1parenting by lying dapat menyebabkan hubungan orang tua-anak yang menjadi buruk. Anak menjadi lebih banyak berkata bohong kepada orang tuanya. Selain itu, telah ditemukan bukti bahwa parenting by lying secara signifikan menyebabkan anak memiliki psikososial yang lebih buruk, seperti masalah eksternalisasi, masalah internalisasi, psikopati, perilaku berbohong, dan kurangnya prososialitas. [5]

Apa yang Bisa Orang Tua Lakukan?

Lalu apa yang bisa orang tua lalukan? Bagaimana parenting yang sesuai dengan ajaran agama kita? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullaahu Ta’ala pernah ditanya bagaimana cara mendidik anak yang benar, beliau menjawab [6]:

1) Berlaku lemah lembut, tidak meniadakan hukuman ketika dibutuhkan.

2) Orang tua memberikan contoh yang baik

3) Memberikan lingkungan yang baik

4) Orang tua mendoakan anak pada waktu yang mustajab.

Perbanyak berdoa kepada Allah agar memperbaiki anak-anak kita dan menunjukkan ke jalan yang lurus. Karena doa untuk kebaikan anak-anak termasuk sifat hamba Allah yang saleh. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

***

Penulis: Victa Ryza Catartika

Artikel: Muslimah.or.id

Referensi:

[1] HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2: 452). Dihasankan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 2942

[2] HR. Abu Dawud, lihat Ash-Shahihah no. 494.

[3] Evans, A. D., & Lee, K. (2022). Lying: The development of our understanding, moral judgements, and behavior. In M. Killen & J. G. Smetana (Eds.), Handbook of moral development (3rd ed., pp. 289–304). Psychology Press

[4] Heyman, G. D., Hsu, A. S., Fu, G., & Lee, K. (2013). Instrumental lying by parents in the US and China. International Journal of Psychology, 48(6), 1176–1184. https://doi.org/10.1080/00207594.2012.746463

[5] Setoh, P., Low, P. H. X., Heyman, G. D., & Lee, K. (2023). Parenting by lying. Current Directions in Psychological Science. https://doi.org/10.1177/09637214231206095

[6] Al-Munajjid, MS. Bagaimana cara mendidik anak-anak kita – Soal jawab tentang Islam. (n.d.). Soal Jawab Tentang Islam. https://islamqa.info/id/answers/215167/bagaimana-cara-mendidik-anak-anak-kita

Sumber: https://muslimah.or.id/18677-bohong-kepada-anak-bolehkah.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Inti Pendidikan Anak adalah Menjauhkan dari Teman yang Buruk

Sebagai orang tua, tentu kita sangat menjaga pendidikan anak kita. Bersama kita terutama di rumah, kita ajarkan kebaikan, adab dan agama. Akan tetapi terkadang kita kaget dengan perubahan anak kita setelah keluar bermain dengan teman-temannya dan terpengaruh, misalnya:

  • Anak pulang ke rumah, tiba-tiba mengeluarkan kata-kata kotor dan tidak sopan, padahal kita tidak pernah mengajarkan
  • Anak pulang ke rumah tiba-tiba menyanyi dengan lagu-lagu tidak pantas dan lupa dengan hafalan Al-Quran
  • Orang tua di sesuatu sekolah terkaget-kaget karena dipanggil oleh guru BP, dijelaskan bahwa anaknya membuat masalah besar di sekolah. Orang tua tersebut merasa kaget dan sedikit tidak terima karena merasa di rumah anaknya sopan dan baik serta tidak macam-macam.

Semua hal ini adalah pengaruh teman anak-anak kita yang buruk. Seoramg ulama menjelaskan bahwa salah satu KUNCI UTAMA PENDIDIKAN ANAK adalah menjauhkan dari teman yang buruk. Abu Hamid Al-Ghazali berkata,

ِوَأَصْلُ تَأْدِيْبِ الصِّبْيَانِ الْحِفْظُ مِنْ قرنَاءِ السُّوْء

“Inti pendidikan anak adalah menjauhkan anak dari teman teman yang buruk.” [Ihya’ Ulumuddin 1/95]

Sebagai orang tua KITA HARUS TAHU DENGAN SIAPA ANAK-ANAK KITA BERTEMAN. Apabila temannya buruk, maka kita harus menasehati dan berusaha sebisa mungkin agar anak kita tidak berteman akrab dengan anak tersebut. Jika perlu kita mencarikan dan mengarahkan agar anak kita mendapatkan teman yang baik dan merasa nyaman berteman dengannya. Kami memiliki sahabat yang sampai pindah rumah hanya untuk menjaga pergaulan anak-anaknya.

Seseorang sangat terpengaruh dengan pergaulan dengan teman-temanya, terutama anak kecil yang mereka memang suka ikut-ikutan temannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻦِ ﺧَﻠِﻴﻠِﻪِ ﻓَﻠْﻴَﻨْﻈُﺮْ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳُﺨَﺎﻟِﻞُ

“Seseorang akan sesuai dengan kebiasaan/sifat sahabatnya. Oleh karena jtu, perhatikanlah siapa
yang akan menjadi sahabat kalian ”. [HR. Abu Dawud]

Permisalan teman yang baik dan buruk sebagaimana permisalan penjual minyak wangi dan pandai besi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101)

Kunci pendidikan anak yang lainnya adalah mengajarkan ilmu agama dari sejak kecil dan ini adalah tugas orang tua yang paling utama. Anak itu polos jiwanya, jadi rusak karena kelalaian orang tua akan anak mereka.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan,

ﺍﻛﺜﺮ ﺍﻷﻭﻻﺩ ﺇﻧﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻓﺴﺎﺩﻫﻢ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺍﻵﺑﺎﺀ, ﻭﺇﻫﻤﺎﻟﻬﻢ, ﻭ ﺗﺮﻙ ﺗﻌﻠﻴﻤﻬﻢ ﻓﺮﺍﺋﺾ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺳﻨﻨﻪ, ﻓﻀﺎﻋﻮﻫﻢ ﺻﻐﺎﺭﺍ

“Kebanyakan kerusakan anak disebabkan karena orangtua mereka, mereka menelantarkannya dan tidak mengajarkan anak ilmu dasar-dasar wajib agama dan sunnah-sunnahnya. Mereka menyia-nyiakan anak-anak di masa kecil mereka.” [Tuhfatul Maulud hal. 387]

Demikian semoga bermanfaat

@ Masjidil Haram, Mekkah Mukarramah

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/45305-inti-pendidikan-anak-adalah-menjauhkan-dari-teman-yang-buruk.html

Menanamkan Akhlak Untuk Buah Hati

Menanamkan Akhlak Untuk Buah Hati

Menanamkan Akhlak – Anak adalah buah hati setiap orang tua, dambaan disetiap keinginan orang tua serta penyejuk hati bagi keletihan jiwa orang tua. Anak tidak lahir begitu saja, anak terlahir dari buah cinta sepasang hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang merupakan amanat wajib untuk dijaga, diasuh dan dirawat dengan baik oleh orangtua.

Karena setiap amanat akan dimintai pertanggungjawaban sebagaimana hadist sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Umar yang berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dan seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga dan akan dimintai tanggungjawab atas kepemimpinannya, dan wanita adalah penanggung jawab terhadap rumah suaminya dan akan dimintai tanggungjawabnya serta pembantu adalah penanggungjawab atas harta benda majikannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Pertanggung jawaban orang tua tersebut baik di dunia ataupun di akherat, namun tatkala anak sudah baligh maka mereka bertanggung jawab atas diri mereka sendiri. Salah satu contoh dari pertanggung jawaban tersebut adalah dengan memelihara diri dan keluarga dari api neraka:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Dan hal ini dapat diwujudkan dengan memberi menanamkan akhlak untuk buah hati dengan pendidikan yang baik sesuai Al Qur’an dan As sunnah sebagai bekal perjalanan di dunia maupun di akherat. Sebagaimana perkataan Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu“Didiklah anakmu karena kamu akan ditanya tentang tanggungjawabmu, apakah sudah kamu ajari anakmu, apakah sudah kamu didik anakmu dan kamu akan ditanya kebaikanmu kepadanya dan ketaatan anakmu kepadamu.”

Pendidikan tersebut banyak cabangnya satu diantaranya adalah pendidikan akhlak, akhlak anak yang baik dapat menyenangkan hati orang lain baik orangtua atau orang-orang di lingkungan. Bahkan akhlak yang sesederhana sekalipun misalnya memberikan wajah berseri saat bertemu dengan saudara muslim yang lain.

Disamping ikhtiar dengan pendidikan akhlak yang bagus hendaknya orangtua selalu mendo’akan anak-anaknya agar mereka tumbuh dengan naungan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala pula. Karena doa orangtua atas anaknya termasuk doa yang mustajab.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan, doa orang yang teraniaya, doa orang yang sedang bepergian dan doa orangtua atas anaknya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dihasankan oleh syaikh Al Albani dalam Shohih dan Dho’if Sunan Abu Daud hadist no. 1536)

Sebagaimana para nabi dan rosul dahulu yang selalu berdo’a kepada Allah untuk kebaikan anak cucu mereka.

Do’a Nabi Zakaria ‘alaihissalam sebagaimana firman Allah:

“Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38)

Doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimussalam“Ya Rabb kami jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anakcucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.” (QS. Al Baqoroh: 128)

Sungguh islam adalah agama yang sempurna hingga pendidikan anakpun diperhatikan dengan serius. Namun sangat disayangkan orangtua zaman sekarang jarang memperhatikan pendidikan akhlak bagi buah hatinya lantaran kesibukan mereka atau kejahilan (ketidakmengertian) mereka. Prinsip yang mereka pegang adalah Membahagiakan anak. Namun kebahagiaan yang semacam apa yang ingin diwujudkan oleh sebagian para orangtua tersebut?! Ada yang berpendapat bahagia tatkala anaknya bisa mendapatkan sekolah yang favorit dan menjadi bintang kelas, orang yang berpendapat seperti ini maka akan menggebu-gebu untuk mencarikan tempat les dimana-mana, hingga lupa menyisakan waktu untuk mengenalkan islam kepadanya. Adalagi pendapat bahwa kebahagiaan adalah tatkala si anak tidak kekurangan apapun didunia, orangtua tipe ini akan berambisi untuk mencari materi dan materi untuk memuaskan si anak tanpa disertai pendidikan akhlak bagaimana cara mengatur serta memanfaatkan harta yang baik. Dan ada pula sebagian yang lain bahwa kebahagiaan adalah buah dari keimanan kepada Allah dengan bentuk ketenangan dalam hati; bersabar tatkala mendapat musibah dan bersyukur tatkala mendapatkan nikmat. Namun jarang ditemukan orangtua yang sependapat dengan tipe ketiga ini. Kebanyakan diantara mereka sependapat dengan tipe 1 dan 2. Dan tatkala mereka tiada, mereka akan berlomba-lomba untuk mewasiatkan harta ini dan itu, padahal telah dicontohkan oleh lukman mengenai wasiat yang terbaik. Bukan sekedar harta atau perhiasan dunia melainkan sesuatu hal yang lebih berharga dari keduanya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman melalui lisan lukman:

“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’ Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orangtua ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan yang lemah yang bertambah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya didunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu, maka kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Lukman berkata), ‘Hai anakku sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau dilangit atau didalam bumi niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjaln dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.’” (QS. Luqman: 13-19)

Tatkala anak tumbuh menjadi anak pembangkang, suka membantah kepada orangtua bahkan durhaka kepada orangtua, banyak diantara orangtua yang menyalahkan si anak, salah bergaullah, tidak bermorallah atau alasan-alasan yang lain. Bukan… bukan lantaran karena anak salah bergaul saja, si anak menjadi seperti itu namun hendaknya orangtua mawas diri terhadap pendidikan akhlak si anak. Sudahkah dibina sejak kecil? Sudahkah dia diajari untuk memilih lingkungan yang baik? Sudahkah dia tahu cara berbakti kepada orangtua? Atau sudahkah si anak tahu bagaimana beretika dalam kehidupan sehari-hari dari bangun tidur hingga tidur kembali? Jika jawabannya belum, maka pantaslah jika orangtua menuai dari buah yang telah mereka tanam sendiri. Seperti perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah,

“Hendaknya anak dijauhkan dari berlebihan dalam makanan, berbicara, tidur dan berbaur dengan perbuatan dosa, sebab kerugian akan didapat dari hal-hal itu dan menjadi penyebab hilangnya kebaikan dunia dan akhirat. Anak harus dijauhkan dari bahaya syahwat perut dan kemaluan sebab jika anak sudah dipengaruhi oleh kotoran syahwat maka akan rusak dan hancur. Berapa anak tercinta menjadi rusak akibat keteledoran dalam pendidikan dan pembinaan bahkan orangtua membantu mereka terjerat dalam syahwat dengan anggapan hal itu sebagai ungkapan perhatian dan rasa kasih sayang kepada anak padahal sejatinya telah menghinakan dan membinasakan anak sehingga orangtua tidak mengambil manfaat daria anak dan tidak meraih keuntungan dari anak baik didunia maupun diakhirat. Apabila engkau perhatikan dengan seksama maka kebanyakan anak rusak berpangkal dari orangtua.”

Mungkin saat si anak masih kecil belum akan terasa dampak dari arti pentingnya akhlak bagi orangtua namun saat dewasa kelak maka akan sangat terasa bahkan sangat menyakitkan bagi kedua orangtua. Dan perlu ditekankan bahwa akhlak yang baik dari seorang anak adalah harta yang lebih berharga daripada sekedar harta yang kini sedang para orangtua obsesikan.

Sebelum terlambat mulailah saat ini menanamkan akhlak tersebut, dari hal yang sederhana:

1. Dengan memberi contoh mengucapkan salam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Dan maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu jika kalian mengerjakannya maka kalian akan saling mencintai? Tebarkan salam diantara kalian.” (HR. Muslim)

2. Memperhatikan etika dalam makan.

Dari umar bin Abu Salamah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepadaku,

“Sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu serta makanlah dari makanan yang paling dekat denganmu.” (Muttafaqun ‘alaih)

3. Mengajarkan rasa kebersamaan dengan saudara muslim yang lain, misalnya dengan menjenguk orang sakit.

Dari Abu Hurairoh radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima; menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, menghadiri undangan dan mendoakan orang yang bersin.” (Muttafaqun ‘alaihi)

4. Mengajarkan kejujuran.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Peganglah kejujuran karena sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan menunjukan kepada surga. Seseorang selalu jujur dan memelihara kejujuran hingga tercatat di sisi Allah termasuk orang yang jujur. Dan hindarilah dusta karena kedustaan menunjukkan kepada kejahatan dan kejahatan menunjukkan kepada neraka. Seseorang selalu berdusta dan terbiasa berbuat dusta hingga tertulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari Muslim)

Akhlak yang baik dari seorang anak akan melahirkan generasi yang baik pula, generasi pemuda yang taat kepada Allah, berbakti kepada kedua orangtua dan memperhatikan hak-hak bagi saudara muslim yang lain. Wallohu a’lam bishowab.

Maraji’:
Begini Seharusnya Mendidik Anak -Panduan Mendidik Anak Sejak Masa Kandungan Hingga Dewasa-, karya Al Maghribi bin As Said Al Maghribi

***

Penyusun: Ummu Aufa
Muroja’ah: Ust. Subhan Khadafi, Lc.

Sumber: https://muslimah.or.id/46-menanamkan-akhlak-untuk-buah-hati.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Keistimewaan Rumah sebagai Wadah Pendidikan

Rumah memiliki peran yang sangat sentral dalam pendidikan anak. Bisa dikatakan bahwa segala sesuatu bermula dari rumah. Bila pendidikan dalam rumah tidak berjalan atau lemah, anak akan jatuh dalam “pendidikan-pendidikan” di luar rumah yang masih belum jelas arahnya. Dapat kita saksikan besarnya pengaruh pendidikan luar rumah ini ketika pendidikan dalam rumah tidak berjalan pada anak-anak yang menjadi korban broken home. Atau ayah dan ibunya tidak memedulikannya di rumah karena kesibukan masing-masing; si ayah sibuk bekerja di kantor dan si ibu juga sibuk mengejar karier di luar rumah. Akibatnya pendidikan anak dalam rumah terbengkalai. Dapat ditebak, si anak akan terperangkap dalam pendidikan luar rumah yang masih belum jelas.

Kata kuncinya, jangan membuat anak tak betah berada di rumah sehingga ia mencari pelampiasan di luar rumah. Jangan bersikap cuek terhadap anak sehingga anak merasa kurang diperhatikan.

Intinya, orang tua harus menyiapkan pendidikan yang benar dari dalam rumah sebelum ia melepas anaknya ke luar. Dalam hal ini suasana rumah yang islami sangat membantu keberhasilan kedua orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Rumah yang islami merupakan wadah pendidikan yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya:

  1. Di dalamnya anggota keluarga berkumpul bersama dalam jangka waktu yang lebih lama sehingga terjalin kedekatan pribadi antara anak dengan orang tua dan saudara-saudaranya.
  2. Anak dapat melihat teladan dan panutan dalam ucapan maupun perbuatan, yang bisa membantu mereka untuk menirunya.
  3. Terbukanya kesempatan untuk membimbing dan memberikan pengarahan pada anak sehingga lebih memudahkan mereka untuk menerima dan mengingatnya.
  4. Orang tua dan anggota keluarga dapat memberikan solusi dan jawaban atas masalah-masalah menurut kebutuhan.
  5. Bisa bervariasi dalam memberikan materi pengajaran, baik Al-Quran, as-sunnah, bahasa arab, dan materi pelajaran lainnya pada waktu siang maupun malam, sesuai kebutuhan.
  6. Mengambil pelajaran atau faedah dari berbagai media islami.
  7. Kita bisa memanfaatkan kesempatan di dalam rumah maupun di luar rumah, ketika makan, minum, berpakaian, tidur, bangun tidur, waktu buang hajat, dan kegiatan-kegiatan lainnya untuk mengajarkan adab-adab Islam serta zikir dan doa yang berkaitan dengan aktivitas tersebut.
  8. Penyampaian nasihat atau pemberian hukuman di dalam rumah, bukan di hadapan orang banyak akan lebih besar pengaruhnya bagi jiwa anak.
  9. Pengawasan yang kontinyu terhadap anggota keluarga dan saling mengawasi di antara sesama mereka akan membangkitkan keberanian untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.
  10. Menumbuhkan semangat beragama di dalam rumah yang membantu seluruh anggota keluarga untuk menjauhi perilaku yang salah dan menyimpang.
  11. Keikhlasan kedua orang tua dalam membimbing dan memberikan pengarahan kepada anak-anaknya yang mendorongnya untuk semakin memperbaiki diri.

Disalin dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan Al Atsary, terbitan Pustaka Darul Ilmi.

Disertai sedikit pengeditan bahasa oleh Redaksi Muslimah.Or.Id.

Sumber: https://muslimah.or.id/5249-keistimewaan-rumah-sebagai-wadah-pendidikan.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id