Anak bermasalah, istri bermasalah, bisa terjadi karena banyak sebab. Tapi, jika kita mau merunut masalah dari akarnya, coba kita tengok petunjuk Allah Ta’ala:
Adakah pedoman dasar rumah tangga dari Allah yang kita lalaikan? Adakah ucapan kita yang tidak sesuai, bahkan berlawanan, dengan perbuatan? Apakah peran sebagai pemimpin keluarga sudah kita jalankan?
Ketika pemimpin sebuah negara tindakannya tidak sesuai omongannya, hanya bisa menuntut tanpa berpijak pada realita, misalnya, rakyat jadi gelisah, bergejolak, bahkan menjadi durhaka. Begitu juga gambaran pemimpin dalam keluarga.
Ketika kepala keluarga hanya pintar bicara tanpa berusaha mewujudkan ucapannya, maka wibawanya akan dipandang sebelah mata, bahkan jatuh dalam pandangan anak istrinya.
Barangkali, itulah hikmahnya kenapa Allah katakan, “Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” Allah sebut kita terlebih dahulu, baru keluarga. Seakan, itu adalah isyarat dari Allah agar kita memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu, baru bisa memperbaiki keluarga.
Petunjuk Allah tersebut sangat logis. Bagaimana kita bisa memperbaiki orang lain jika diri kita sendiri sama buruknya dengan mereka?
Maka, kepemimpinan (qawwam) dalam keluarga bukan sebatas memenuhi nafkah belaka. Tapi, meliputi pendidikan juga. Idealnya, seorang lelaki mesti berusaha tampil sebagai teladan bagi anak istrinya. Semoga Allah mudahkan kita istiqamah di atas petunjuk-Nya.
Allahul Muwaffiq….
penulis : Abun_nada