[Belajar Tauhid] 77. Dasar Dasar Keimanan 07

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari Pembatal Keimanan _ Bagian Pertama sbb:

  1. Pembatal keimanan adalah sesuatu yang dapat menghapuskan keimanan secara total dan mengeluarkan pelakunya dari Agama Islam.
  2. Pembatal-pembatal keislaman itu banyak, diantaranya :
  • Mengingkari rububiyyah Allâh  -‘Azza wa Jalla-.
  • Menjadikan perantara antara dirinya dengan Allâh  -‘Azza wa Jalla- dalam beribadah kepada-Nya.
  • Menolak apa yang Allâh  -‘Azza wa Jalla- untuk dirinya atau apa yang Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- bagi-Nya.
  • Mendustakan apa yang dibawa oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam.

selanjutnya kita akan mempelajari Pembatal Keimanan Bagian Kedua, ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 76. Dasar Dasar Keimanan 06

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari Rukun-Rukun Dan Cabang-Cabang Keimanan sbb:

  1. Rukun Iman itu ada enam, yaitu : yaitu : keimanan kepada Allâh  -‘Azza wa Jalla-, Para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan keimanan kepada taqdir.
  2. Iman itu lebih dari 73 atau 63 bagian. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha illallâh, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.
  3. Cabang-cabang keimanan itu ada yang merupakan ushulul iman (pokok keimanan), yang apabila ia hilang, maka hilangnya seluruh cabang-cabang keimanan yang lainnya, dan pelakunya keluar dari Agama Islam, seperti mengingkari Hari Akhir. Dan sebagianya adalah furu’ul iman yang apabila dia hilang tidak membatalkan keimanan keseluruhan, tetapi dia mengurangi kesempurnaan keimanan, seperti tidak memuliakan tetangga.
  4. Terkadang pada diri seseorang terhimpun antara cabang-cabang keimanan dan cabang-cabang kemunafikan sekaligus. Maka dia tetap tergolong bagian orang-orang yang beriman (sesuai dengan kadar keimanannya) yang kurang atau lemah keimanannya (sesuai kadar kemunafikannya) selama kemunafikannya tidak mengeluarkannya dari Agama Islam.

selanjutnya kita akan mempelajari Pembatal Keimanan Bagian Pertama, ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 75. Dasar Dasar Keimanan 05

catatan: besok pukul 17.00WIB quis pekanan akan aktif, jangan lupa muraja’ah 5 materi terakhir yaa. ketuk kategori belajar tauhid yang ada di beranda untuk mengakses materi sebelumnya👍


Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari Hakikat Iman Bagian Kedua sbb:

  1. Iman dan Islam adalah dua nama yang pada keduanya terhimpun Ad-Diin (Agama Allâh  -‘Azza wa Jalla-) seluruhnya.
  2. Apabila Iman dan Islam disebut secara bersamaan dalam satu konteks, maka Iman ditafsirkan dengan keyakinan-keyakinan hati yang disyari’atkan yang pokoknya (rukunnya) ada enam, yaitu : keimanan kepada Allâh  -‘Azza wa Jalla-, Para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan keimanan kepada taqdir. Sedangkan Islam ditafsirkan dengan syi’ar-syi’ar Ad-Diin (Agama Allâh  -‘Azza wa Jalla-) yang berupa amal-amal lahiriyah yang pokoknya (rukunnya) ada lima, yaitu : mengucapkan syahâdatain (dua kalimat syahadat), menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhân, dan melaksanakan haji ke Baitullâh.
  3. Apabila Iman dan Islam disebut secara terpisah, maka Islam mencakup Iman, dan begitu juga kebalikannya Iman mencakup Islam. Dengan kata lain Iman dan Islam itu sama. Itu artinya, Iman dan Islam masing-masing dari keduanya memiliki makna khusus dan makna umum. Skemanya sebagai berikut :

IMAN/ISLAM _ [Makna Umum], meliputi :

  1. IMAN _ [Makna Khusus], pokoknya ada enam, yaitu : keimanan kepada Allâh   -‘Azza wa Jalla-, Para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan keimanan kepada taqdir.
  2. ISLAM _ [Makna Khusus], pokoknya ada lima, yaitu : mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat), menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan, dan melaksanakan haji ke Baitullâh.
  • Tidak ada keimanan tanpa keislaman, dan tidak ada keislaman tanpa keimanan.

selanjutnya kita akan mempelajari Rukun-Rukun Dan Cabang-Cabang Keimanan, ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 74. Dasar Dasar Keimanan 04

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari Hakikat Iman Bagian Pertama sbb:

  1. Diantara sifat-sifat orang-orang beriman yang jujur keimanannya adalah : hatinya bergetar ketika disebut nama Allâh  -‘Azza wa Jalla-, imannya bertambah ketika mendengar ayat-ayat Allâh  -‘Azza wa Jalla-, menegakkan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki-Nya dijalan Allâh  -‘Azza wa Jalla-.
  2. Allâh  -‘Azza wa Jalla- menjajikan derajat yang tinggi disisi-Nya bagi orang-orang jujur keimanannya, juga menjanjikan ampunan-Nya dan rezeki terbaik disis-Nya.
  3. Ketika mensifati hamba-hamba-Nya yang jujur keimannya dengan menyebutkan sebagian amalan-amalan mereka, Allâh  -‘Azza wa Jalla- menyebutkan amalan-amalan hati dan amalan-amalan zhahir mereka sebagi wujud keimanan. Itu artinya amalan zhahir merupakan bagian keimanan sekaligus buah dari keimanan hati.
  4. Keimanan itu bertambah dengan bertambahnya amal kebajikan dan pembenaran hati. Sebaliknya berkurang dengan berkurangnya amalan dan pembenaran.

selanjutnya kita akan mempelajari Hakikat Iman Bagian Kedua, ketuk gambah dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 73. Dasar Dasar Keimanan 03

Afwan ikhwah, Sebelumnya pelajaran kita sempat tertunda karena kendala teknis yang mengharuskan tim melakukan rekaman ulang. dan Alhamdulillah hari ini kita akan kembali melanjutkan materi tauhid ini. jadi tetap semangat yaa.!


Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari Rung Lingkup Keimanan sbb:

  1. Iman adalah : pembenaran hati, pengakuan lisan, dan amalan anggota badan.
  2. Para Salaf menjadikan amalan sebagai bagian dari keimanan. Karenanya keimanan itu bertambah dan berkurang; bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan.
  3. Iman lebih dari 73 atau 63 bagian. Yang paling utama adalah perkataan laa ilaaha illa Allâh Yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah satu bagian dari iman.

selanjutnya kita akan mempelajari Hakikat Iman Bagian Pertama, ketuk gambah dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 72. Dasar Dasar Keimanan 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

  1. Iman merupakan salah satu syarat diterimanya amal ibadah.
  2. Di dunia itu ada surga. Siapa yang tidak memasuki surga dunia, maka dia tidak akan memasuki surga akhirat nantinya. Surga dunia itu adalah keimanan kepada Allâh  -‘Azza wa Jalla-  dan pendekatkan diri kepada-Nya. 
  3. Iman adalah : pembenaran hati, pengakuan lisan, dan amalan anggota badan; bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan.
  4. Iman itu lebih dari 73 atau 63 bagian. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha illallâh, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.

selanjutnya kita akan mempelajari dasar-dasar keimanan bagian 2, ketuk gambah dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 71. Dasar Dasar Keimanan 01

Alhamdulillah, atas kemudahan dari Allah semata kita telah menyelesaikan kajian kitab Qowaaidul Arba’ah dan kajian pengantar tauhid. pada kesempatan kali ini, kini kita akan memulai babak baru, yakni mempelajari bahasan tentang dasar-dasar keimanan. mudah-mudahan Allah memberi kita kekuatan untuk dapat menyelesaikan bahasan ini dan seterusnya.

tetap semangat, luruskan niat, senantiasa berusaha dan berdo’a. yakinlah ini tidak akan sia-sia. ketuk gambar dibawah untuk memulai materi. dan tetap semangat 💪

Link alternatif

ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 70. Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah 17

PENTING: kajian ini adalah penutup materi Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah. tidak ada quis pekanan untuk 2 materi terakhir ini, namun sebagai gantinya akan ada ujian akhir seluruh materi Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah (pertemuan 14 s.d pertemuan 70) yang akan di selenggarakan pada hari Sabtu pukul 17.00WIB tanggal 7 November 2020 mendatang. jadi akan ada jeda waktu lebih dari 1 pekan yang diberikan kepada teman-teman untuk mengulang seluruh materi yang diajarkan sebelumnya. untuk membantu muraja’ah, kami akan membagikan PDF kajian, besok pukul 17.00WIB. dan sebagaimana biasanya, bagi yang mengikuti ujian akhir dan lulus dengan score 70% atau lebih berhak untuk mendapatkan e-sertifikat. terimakasih🙏


بسم الله

pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

  • Zaman dahulu kesyirikan terjadi hanya pada waktu lapang saja, sedangkan         pada zaman sekarang kesyirikan terjadi pada setiap waktu, baik pada waktu           lapang maupun pada waktu kesempitan.
  • Zaman dahulu kesyirikan hanya dalam hal ibadah (uluhiyah), akan tetapi sekarang kesyirikan dalam hal rububiyah dan uluhiyah.
  • Zaman dahulu yang dijadikan wasilah (perantara) adalah orang-orang shalih, sedang zaman sekarang yang dijadikan wasilah (perantara) adalah orang-orang shalih dan orang-orang fasik.

Selanjutnya kita akan masuk pada Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah bagian 17. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Belajar Tauhid] 69. Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah 16

بسم الله

pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

  • Diantara bentuk kesyirikan adalah pengagungan dan penyembahan terhadap bangsa jin. Padahal, asalnya manusia itu lebih mulia dari bangsa jin. Dan perendahan diri manusia kepada jin tidak lain hanya menambah kelemahan bagi mereka serta kesombongan di kalangan bangsa jin.
  • Fitnah kesyirikan akan senantiasa sepanjang zaman. Karenanya setiap orang harus merasa khawatir terhadapnya. Di akhir zaman aka ada orang-orang dari kalangan umatnya Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- yang mengikuti kebiasaannya  kaum musyrikin dan menyembah berhala-berhala mereka.

Selanjutnya kita akan masuk pada Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah bagian 16. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.