[Kitabut Tauhid 3] 30. Makna Kalimat Tauhid 30

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- bersabda : Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaaha ilallaah dan mengingkari seluruh sesembahan selain Allâh -‘Azza wa Jalla-, maka haramlah (terjagalah) harta dan darahnya, adapun perhitungan amalannya terserah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.  _____ HR. Muslim : 23.
  • Hadits yang mulia ini adalah seagung-angung dan sejelas-jelasnya dalil yang menjelaskan bahwa sekedar mengucapkan kalimat laa ilaaha ilallaah tidaklah memasukkan seseorang ke dalam Islam. Melainkan harus ada padanya 2 (dua) unsur yang merupakan hakikat dari tafsir Tauhid, yaitu [1] penetatapan seluruh uluhiyyah (peribadahan) hanya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- senata, dan [2] peniadaan seluruh uluhiyyah (peribadahan) terhadap selain Allâh -‘Azza wa Jalla-. 

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 3] 29. Makna Kalimat Tauhid 29

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak menjadikan hanya sekedar melafadzkan laa ilaaha illallaah sebagai sebab terjaganya darah dan harta, bahkan tidak juga sekedar mengerti maknanya disertai pengakuan terhadap konsekuensi-kinsekuansinya, bahkan tidak cukup dengan beribadah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- semata, bahkan tidak akan haram harta dan darahnya hingga ia tambahkan kepada itu semua sikap kufur kepada yang disembah selain Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 3] 28. Makna Kalimat Tauhid 28

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar pokok, yaitu : al-hubbu (cinta), al-khauf (takut), dan ar-rajâ’ (harapan).
  • Kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- menuntut ittiba’ (mengikuti) kepada Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Sedangkan ittiba’ kepada Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- menyebabkan kecintaan Allâh -‘Azza wa Jalla- kepada hamba.                                                                                                                              

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 3] 27. Makna Kalimat Tauhid 27

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Tidak boleh mencintai selain Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan bentuk cinta ibadah, yaitu cinta yang disertai dengan ketundukan, perendahan diri, dan pengagungan terhadap yang dicintai.
  • Mahabatullah (kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-)  adalah sebuah kelaziman (keharusan) bagi yang mengaku beriman kepada-Nya, baik dia lelaki maupun perempuan. Bahkan cinta ini termasuk syarat laa ilaaha illlallaah,  dan merupakan asas atau landasan dalam beramal.’

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 3] 26. Makna Kalimat Tauhid 26

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Ahlu Kitab (Yahudi dan Nashrani) mentaati orang-orang alim dan orang-orang shalih diantara mereka dalam mengaharamkan apa yang dihalalkan oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- atau sebaliknya menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Apa yang mereka lakukan termasuk dalam kategori asy-syirku fith-thaa-‘ah (kesyirikan dalam ketaatan), yaitu mentaati selain Allâh -‘Azza wa Jalla- dalam hal-hal yang merupakan kemaksiatan kepada-Nya. Juga merupakan asy-syirku fit-tasyrii’ (kesyirikan dalam pensyariatan), dimana mereka menghalalkan apa yang Allâh -‘Azza wa Jalla- haramkan bagi mereka, dan mengharamkan apa yang Allâh -‘Azza wa Jalla- halalkan bagi mereka dengan mengikuti orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka. 

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 3] 25. Makna Kalimat Tauhid 25

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

Seorang yang Haniif, tidak hanya memurnikan ibadahnya hanya untuk Allâh -‘Azza wa Jalla- semata dan tidak mempersekutukannya dengan sesuatu apapun juga. Tetapi juga berlepas diri seutuhnya dari semua bentuk kesyirikan berikut pelakunya. Inilah makna dari perkataan Nabi Ibrahim –‘Alaihissalâm- : “Sesungguhnya Kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allâh.” _____ QS. Al-Mumtahanah : 4.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 3] 24. Makna Kalimat Tauhid 24

catatan: besok, Ahad pukul 17.00WIB, quis bulanan akan aktif. quis akan dibuka dari hari Ahad hingga hari rabu pukul 17.00WIB. yuk muraja’ah 8 materi terakhir kitabut tauhidnya.


Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Kata-kata Nabi Ibrahim –‘Alaihissalâm- kepada orang-orang kafir : ‘Sesungguhnya saya berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (saya hanya menyembah) Dzat Yang menciptakanku (Allâh -‘Azza wa Jalla-).’ Di sini Beliau –‘Alaihissalâm- mengecualikan Allâh -‘Azza wa Jalla- dari seluruh sesembahan. Pembebasan diri (dari seluruh sembahan yang batil) dan pernyataan setia (kepada sembahan yang haq, yaitu Allâh -‘Azza wa Jalla-) adalah makna yang sebenarnya dari syahadat Laa Ilaaha Illallaah 
  • Berlepas diri dari perbuatan kesyirikan dan pelaku kesyirikan merupakan pilar Tauhid dan pondasi dalam beragama.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

*jika tampilan quis diatas terpotong silahkan update hijrahapp ke v6.5.2 langsung dari playstore atau appstore

[Kitabut Tauhid 3] 23. Makna Kalimat Tauhid 23

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

Orang-orang musyrik menjadikan Malaikat, Para Nabi dan orang-orang shalih sebagai wasilah (perantara) dalam beribadah dan ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, juga sebagai pemberi syafa’at bagi mereka (menurut dugaan mereka) disisi Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Dugaan mereka tersebut keliru, dan apa yang mereka inginkan tidak akan mereka dapatkan.

selanjutnya silahkan ketuk link berikut untuk memulai materi berikutnya;

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

*jika tampilan quis diatas terpotong silahkan update hijrahapp ke v6.4.2 langsung dari playstore atau appstore

[Kitabut Tauhid 3] 22. Makna Kalimat Tauhid 22

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

Diantara sebab kenapa kesyrikian zaman sekarang lebih parah dibandingkan kesyirikan zaman jahiliyyah adalah karena orang-orang musyrik zaman sekarang ada yang mempersekutukan Allâh -‘Azza wa Jalla- dalam rububiyyah-Nya, sementara orang-orang musyrik zaman jahiliyyah “hanya” mempersekutukan Allâh -‘Azza wa Jalla- dalam uluhiyyah (syirik ibadah) dan tetap meng-esa-kan Allâh -‘Azza wa Jalla- dalam rububiyyah-Nya. Juga karena orang-orang musyrik zaman jahiliyyah mempersekutukan Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan orang-orang shalih dan benda-benda mati yang tidak pernah bermaksiat kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, sedangkan orang-orang musyrik zaman sekarang mereka mempersekutukan Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan orang-orang fasiq.

selanjutnya silahkan ketuk link berikut untuk memulai materi berikutnya;

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

*jika tampilan quis diatas terpotong silahkan update hijrahapp ke v6.4.2 langsung dari playstore atau appstore

[Kitabut Tauhid 3] 21. Makna Kalimat Tauhid 21

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

Kaum musyrikin di zaman sekarang kesyirikannya lebih parah dibandingkan kaum musyrikin zaman jahiliyyah dari tiga sisi :

  • Zaman dahulu kesyirikan terjadi hanya pada waktu lapang saja, sedangkan pada zaman sekarang kesyirikan terjadi pada setiap waktu, baik pada waktu lapang maupun pada waktu kesempitan.
  • Zaman dahulu kesyirikan hanya dalam hal ibadah (uluhiyah), akan tetapi sekarang kesyirikan dalam hal rububiyah dan uluhiyah.
  • Zaman dahulu yang dijadikan wasilah (perantara) adalah orang-orang shalih, sedang zaman sekarang yang dijadikan wasilah (perantara) adalah orang-orang shalih dan orang-orang fasik.

selanjutnya silahkan ketuk link berikut untuk memulai materi berikutnya;

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

*jika tampilan quis diatas terpotong silahkan update hijrahapp ke v6.4.2 langsung dari playstore atau appstore