[Kitabut Tauhid 4] 12 Mencari keberkahan 04

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

Allâh -‘Azza wa Jalla- telah menjadikan sekian banyak keberkahan. Keberkahan tersebut terbagi menjadi dua macam : (1) Keberkahan agama, dan (2) Keberkahan duniawi. Dan ada keberkahan yang mencakup duniawi dan agama sekaligus. Keberkahan juga bisa dibagi menjadi dua macam : (1) keberkahan secara dzat (kongkret, hissiyyah), dan (2) keberkahan secara maknawi (abstrak).

Keberkahan duniawi jika tidak digunakan untuk menjalankan ketaatan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla, bahkan untuk bermaksiat kepada-Nya, maka pada hakikatnya bukanlah keberkahan dan anugrah bahkan merupakan racun dan penyebab mudharat dunia dan akhirat.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 11 Mencari keberkahan 03

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

Allâh -‘Azza wa Jalla- memberikan keberkahan kepada siapa dan apa yang dikehendaki-Nya diantara makhluq-makhluq-Nya; seperti Para Nabi dan orang-orang shalih, tempat-tempat tertentu, waktu-waktu tertentu, benda-benda tertentu, dan amalan-amalan tertentu; untuk memudakan para hamba mendapatkan kebaikan yang banyak dari sisi-Nya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 10 Mencari keberkahan 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

Dalam bahasa Arab istilah barokah kembali kepada dua makna, yaitu : [1] bertambah, dan [2] menetap. Dan secara syar’i, barokah atau keberkahan ialah adanya kebaikan ilahi secara tetap pada sesuatu. Dengan demikian, apabila sesuatu dikatakan barokah, artinya sesuatu itu memiliki banyak kebaikan yang bersifat tetap, karena dijadikan demikian oleh Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Asal dari seluruh kebaikan hanyalah dari sisi Allâh -‘Azza wa Jalla-. Dengan demikian, meminta barkoah kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla- jelas hukumnya syirik. Segala sesuatu yang dinyatakan oleh Syari`at mengandung barokah, tidak lain hanya merupakan sebab bagi diperolehnya barokah, bukan sebagai pemberi.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 09 Mencari keberkahan 01

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Barangsiapa yang menggantungkan sesuatu berupa jimat dan yang semisalnya, maka dia akan dijadikan bergantung kepada sesuatu tersebut.
  • Larangan bergantung kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla-,dan kewajiban untuk bergantung kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- semata dalam upaya mendatangkan manfaat dan menolak mudharat.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Quiz bulanan 1 – kitabut tauhid bag. 4

catatan: sebelumnya tim mohon maaf, dikarenakan kendala teknis, quis bulanan khusus kali ini di undur menjadi hari selasa s.d kamis hingga pukul 20.00WIB. kiranya dapat dimaklumi🙏


Dear pengguna, sudah murajaah kan.?

baiklah, kapanpun antum siap, ketuk link dibawah ini. 💪

link utama

catatan1: Jika antum tidak dapat membuka link tersebut, berarti antum masih menggunakan versi lawas HijrahApp. solusinya, mohon update hijrahapp antum ke versi terbaru

catatan2: insyaallah, hasil pemeringkatan akan kami umumkan hari Kamis pukul 20.00WIB di beranda HijrahApp

catatan3: Materi yang diujikan ada di beranda HA, buka kategori belajar tauhid, pelajari 8 materi terakhir

[Kitabut Tauhid 4] 08 Ruqyah Dan Tamimah 08

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Metode ruqyah yang syar’iy adalah :
  1. An-Nafatsu النَفَثُ : dengan tiupan disertai sedikit sekali air liur, dan ada yang mengatakan tanpa air liur sama sekali.
  2. At-Taflu التَّفْلُ : dengan meniup disertai air liur namun tidak sampai pada derajat meludah.
  3. Meruqyah tanpa An-Nafatsu dan tanpa At-Taflu.
  4. Mencampurkan sedikit tanah dengan air liur.
  5. Mengusapkan tangan ke tubuh.
  6. Ruqyah dengan membaca lalu meniupkannya ke air, setelah itu airnya diminumkan kepada yang sakit, atau diusapkan kepada bagian tubuhnya yang sakit, atau dimandikan dengan air tersebut.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 07 Ruqyah Dan Tamimah 07

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Tidak semua ruqyah merupakan perbuatan kesyirikan. Sebagiannya diperbolehkan jika memenuhi kriterian sebagai ruqyah syar’iyyah.
  • Ruqyah ada tiga macam : syar’iyyah, bid’iyyah dan syirkiyyah. Jenis yang pertama diperbolehkan, sedangkan yang kedua dan ketiga terlarang.
  • Asalnya meminta untuk diruqyah hukumnya adalah diperbolehkan, dengan catatan ruqyahnya adalah ruqyah yang syar’i. Namun demikian meminta diruqyah bisa mengurangi kemurnian Tauhid, karena perbuatan tersebut termasuk bentuk meminta kepada makhluq yang mungkin menyebabkan ketergantungan hati orang yang diruqyah dengan peruqyah sangat besar, sehingga mengurangi kesempurnaan tawakkalnya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Meruqyah dengan ruqyah yang syar’iy dibolehkan bahkan dianjurkan jika berniat untuk menolong sesama dan dengan niat yang ikhlash karena Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 06 Ruqyah Dan Tamimah 06

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  1. Ruqyah (jampi-jampi) adalah lafadz-lafadz khusus yang diucapkan dimana niat mengucapkannya untuk kesembuhan dari penyakit, dan segala sebab yang merusak.
  1. Tamimah(jimat) adalah sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak sebagai penangkal penyakit ‘ain dan pengaruh jahat. 
  1. Tiwalah (pelet) adalah sesuatu yang mereka buat dengan anggapan bahwa hal itu akan menambah kecintaan seorang istri kepada suaminya dan suami kepada istrinya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 05 Ruqyah Dan Tamimah 05

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Para Ulama yang berpendapat bolehnya mengenakan jimat yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an berdalil dengan beberapa pendalilan, diantaranya :
  1. Yang menggantungkan sesuatu, akan dijadikan bersandar kepada sesuatu tersebut. Itu artinya, yang menggantungkan jimat dari ayat-ayat Al-Qur’an, bersandar kepada Al-Qur’an.
  2. Al-Qur’an adalah penyembuh.
  3. Atsar dari ‘Abdullâh Ibnu Amr -Radhiyallâhu ‘Anhumâ- yang mengajarkan doa perlindungan diri kepada anak-anaknya yang sudah berakal, dan untuk anak-anaknya yang masih kecil doa-doa tersebut ditulis dan digantngkan.
  4. Mengqiyaskan jimat dari ayat-ayat Al-Qur’an dengan ruqyah syar’iyyah.

Akan tetapi, pendalilan yang pertama dan kedua, memiliki beberapa kelemahan. Atsar dari dari ‘Abdullâh Ibnu Amr -Radhiyallâhu ‘Anhumâ-dipermasalahkan keshahihannya. Dan bahwa jimat dari ayat-ayat Al-Qur’an tidak bisa diqiyaskan dengan ruqyah syar’iyyah.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 04 Ruqyah Dan Tamimah 04

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Para Ulama sepakat apabila jimat isinya adalah ayat-ayat Al-Qur’an akan tetapi dicampur dengan rajah-rajah (angka-angka, gambar-gambar dan simbol-simbol tertentu) atau dengan sesuatu yang tidak dimengerti maknanya, maka ini dilarang dan merupakan kesyirikan.
  • Namun jika jimat tersebut isinya murni hanya dari Al-Qur’an atau doa-doa dari hadits-hadits Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- maka terdapat khilaf di kalangan Para Salaf tentang boleh atau tidaknya.
  • Adapun pendalilan kelompok pertama (yang tidak membolehkan), setidaknya dari 3 (tiga) sisi :
  1. Keumuman hadits-hadits Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- yang melarang jimat dan tidak ada dalil yang mengkhususkan keumuman tersebut.
  1. Kalau memang disyariatkan dan bermanfaat bagi umat, tentu Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- akan menjelaskannya atau akan mencontohkannya. Padahal begitu banyak sekali doa-doa dan dzikir-dzikir yang Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- ajarkan, akan tetapi semuanya dengan dilafalkan. Tidak ada satu haditspun yang menunjukkan Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- pernah menyuruh untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an sebagai pengganti doa yang dilafalkan.
  2. Sad Adz-Dzari’ah (menutup celah-celah, tidakan pencegahan / preventif) yang bisa mengantarkan kepada kesyirikan dan berbagai kerusakan yang lainnya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.