[Kitabut Tauhid 7] 07 Hidayah hanya milik Allah 07

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara sebab mendapatkan hidayaah dari sisi -‘Azza wa Jalla- adalah : [keempat] : membaca Al-Qur-an dan merenungkan kandungan maknanya, kemudian mengamalkan konsekuensinya; [kelima] : mentaati dan meneladani Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; [keenam] : mengimani takdir Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan benar.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 7] 06 Hidayah hanya milik Allah 06

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Hidayah taufiq itu hanya milik Allâh -‘Azza wa Jalla- semata. Dia menganugerahkannya kepada siapa saja sebagai karunia dan rahmat-Nya, dan tidak memberikannya kepada hamba-Nya yang lainnya sebagai bentuk keadilan dan kebijaksanaan-Nya. Dia -‘Azza wa Jalla- Maha Mengetahui, siapa yang berhak mendapatkannya dan siapa yang tidak.
  • Hidayah dan kesesatan di tangan Allâh -‘Azza wa Jalla-, namun sebab dari hidayah dan kesesatan itu berasal dari usaha manusia. Dan Termasuk bagian dari hikmah-Nya, Allâh -‘Azza wa Jalla- mengikat antara sebab dengan akibat. Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak memberitahukan sebuah sebab kecuali Dia -‘Azza wa Jalla- telah menjelaskan dan memberitahukan bahwa di antara sebab-sebab itu ada yang disyariatkan dan ada yang diharamkan-Nya. Termasuk juga sebab-sebab mendapatkan hidayah. Dan diantara sebab-sebab untuk mendapatkan hidayah dari sisi Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah :
  1. Beriman kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan keimanan yang benar, sebagaimana keimanan pendahulu Kita yang shalih (Salafus Shâlih).
  2. Tidak bersandar kepada diri sendiri dalam menegakkan ketaatan (melakukan semua kebaikan dan meninggalkan segala keburukan). Bahkan selalu bergantung dan bersandar kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dalam segala sesuatu yang dilakukan atau ditinggalkan.
  3. Istiqamah (berpegang reguh, konsisten) dengan agama Allâh -‘Azza wa Jalla- secara kaafah  (total) lahir dan batin.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 7] 05 Hidayah hanya milik Allah 05

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Hidayah terdiri dari 4 (empat) tingkatan : [1] hidayah umum, [2] hidayah bayaan wa dalaalah (hidayah penjelasan dan petunjuk), [3] hidayah taufiiq dan ilhaam, dan [4] hidayah di Akhirat menuju Surga atau Neraka.
  • Hidayah taufiiq dan ilhaam juga terbagi menjadi dua tingkatan : [1] hidayah dari kekufuran dan kesyirikan menuju kepada keislaman dan ketauhidan, dan [2] Hidayah dari kebid’ahan menuju sunnah, dan dari kemaksiatan menuju ketaatan.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 7] 04 Hidayah hanya milik Allah 04

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Orang yang bertaqwa kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- telah mendapatkan kedua jenis hidayah (hidaayatul irsyaad dan hidaayatut taufiiq). Adapun selain orang yang bertaqwa, tidak mendapatkan hidayah taufiiq. Hidayah bayaan tanpa hidayah taufiiq untuk mengamalkannya, bukanlah hidayah yang hakiki dan tidak sempurna.
  • Jika seseorang sekadar berilmu saja tentang kebenaran tanpa mengamalkannya, hakikatnya dia belum mendapatkan hidayah. Karena hal ini tidak akan bermanfaat baginya, tidak akan menyelamatkannya dari neraka. Maka wajib bagi setiap hamba untuk senantiasa meminta kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- agar beri petunjuk kepada jalan yang lurus, yang tercakup padanya dua hidayah sekaligus.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 7] 03 Hidayah hanya milik Allah 03

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Hidayah berasal dari kata al-hidaayah, atau al-hudaa, atau al-hadyu. Maknanya adalah petunjuk atau bimbingan kepada apa yang menjadi tujuan.
  2. Hidayah terbagi menjadi dua, yaitu :
  • Hidaayatul Bayaan. Bayaan artinya penjelasan, disebut juga dengan hidayatul ‘ilmi (pengetahuan), hidaayatul irsyaad (bimbingan), dan hidaayatul dilaalah (penunjukan). Sesuai dengan namanya hidayah ini berupa pengajaran, penjelasan, dan bimbingan dengan ilmu agama agar manusia mengenal agama Allâh -‘Azza wa Jalla-. Hidayah jenis ini bersifat dan berlaku umum, semua manusia memiliki kesempatan untuk mendapatkannya dan memberikannya kepada orang lain.
  • Hidaayut Taufiiq. Yaitu hidayah dari Allâh -‘Azza wa Jalla- kepada hamba-Nya untuk menerima kebenaran, beriman dan beramal shalih. Hidayah ini murni milik Allâh -‘Azza wa Jalla- semata. Tidak ada seorang makhluk pun yang mampu memberikannya.
  • Ketika disebutkan kata-kata hidayah secara muthlaq, tanpa rincian; maka yang dimaksud adalah hidyah jenis yang kedua, yaitu hidaayatut taufiiq, bukan hidaayatul irsyaad. Begitu juga ketika dikatakan bahwa Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak bisa memberikan hidayah tanpa kehendak Allâh -‘Azza wa Jalla-, dan bahwa hidayah itu seluruhnya milik Allâh -‘Azza wa Jalla- semata; maka yang dimaksud adalah hidqyah jenis yang kedua, yaitu hidaayatut taufiiq, bukan hidaayatul irsyaad.  

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 7] 02 Hidayah hanya milik Allah 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang dicintainya, akan tetapi Allâh -‘Azza wa Jalla- memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya yang menurut-Nya layak dan berhak menerima hidayah.
  2. Nabi dan orang-orang yang beriman dilarang untuk memintakan ampunan bagi orang-orang musyrik, setelah jelasa bahwa mereka adalah penghuni Neraka, yaitu apabila mereka meninggal dunia dalam keadaan belum bertaubat dari kesyirikannya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 7] 01 Hidayah hanya milik Allah 11

Catatan: Alhamdulillah, sebelumnya kita telah menyelesaikan materi Kitabut Tauhid bagian 6 dan kita juga telah menyelenggarakan ujian akhirnya.

Baiklah, sekarang kita akan memulai materi baru Kitabut Tauhid Bagian 7. mari luruskan niat dan tetap bersemangat. semoga materi ini dapat bermanfaat bagi setiap kita.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[MATERI] Ujian Akhir Tauhid bag.6

MATERI UJIAN

Syafaat adalah materi terakhir kitabut tauhid bagian 6. Total ada 50 materi pada bagian keenam ini. yuk dimurajaah kembali, karena 2 pekan lagi kita akan ujian. dan seperti biasa, bagi peserta yang berhasil mencapai target kelulusan (>50% jawaban benar) akan mendapatkan e-sertifikat dari HijrahApp.

mari luruskan niat, karena tidak ada ruginya untuk mengulang pelajaran tauhid, dan mudah-mudahan ini dapat menjadi bekal untuk meraih surga-Nya Allah. semangat!


Download PDF Materi kitabut tauhid bagian 6:

https://drive.google.com/file/d/1gpQvjQt_-BRPPW1R7byOIv2PWFo3cDTD/view?usp=share_link

Link materi video:

  1. https://youtu.be/5c0TiL7F_Fs
  2. https://youtu.be/nYjdx8fqnaY
  3. https://youtu.be/NNCo1HxEANU
  4. https://youtu.be/oEfAUo-s4fA
  5. https://youtu.be/03nDvcwO110
  6. https://youtu.be/1qw6r19rbSU
  7. https://youtu.be/-pk7BKAoW_k
  8. https://youtu.be/EYOfGlDHAZY
  9. https://youtu.be/aeOADm1b2Eg
  10. https://youtu.be/OQuxG242hIw
  11. https://youtu.be/PfScAhyaqCA
  12. https://youtu.be/1-YWKkCWZXU
  13. https://youtu.be/LnJx36LbC9o
  14. https://youtu.be/5NqxV05NDNU
  15. https://youtu.be/2yezBtnZdQU
  16. https://youtu.be/E5fpUAhzqt4
  17. https://youtu.be/Vygiv7k2Pkc
  18. https://youtu.be/PiHQGwL7cmI
  19. https://youtu.be/cT9FpQB7cwE
  20. https://youtu.be/XsdGbiCPdNo
  21. https://youtu.be/o1zUoYCOkbE
  22. https://youtu.be/xDKBZ2wgVWA
  23. https://youtu.be/ySz91JS4Bos
  24. https://youtu.be/jDH5INSfLWI
  25. https://youtu.be/2jIwABIfYnQ
  26. https://youtu.be/-dlKrWWQqbs
  27. https://youtu.be/al5TpWfnhMU
  28. https://youtu.be/hveQNGhB-p4
  29. https://youtu.be/HWacdWvEaDs
  30. https://youtu.be/VWYIAz_0vjc
  31. https://youtu.be/bAxJRaOqCF0
  32. https://youtu.be/Kj7r8LRB9k8
  33. https://youtu.be/vZSxgmdH3rc
  34. https://youtu.be/rkZPKp2iV7U
  35. https://youtu.be/RuVc80EGe_E
  36. https://youtu.be/06C_KjMcIXg
  37. https://youtu.be/Lko-MTpynvs
  38. https://youtu.be/zai4nXNsIj0
  39. https://youtu.be/9F1aWnZOHYY
  40. https://youtu.be/jW0xVtY3skg
  41. https://youtu.be/92qGpSC-xnU
  42. https://youtu.be/ZdILhJMMF7Y
  43. https://youtu.be/4wEZknysXQ0
  44. https://youtu.be/iDVeI2ERlLE
  45. https://youtu.be/yhOugubZxVw
  46. https://youtu.be/i9j9jKGUaWI
  47. https://youtu.be/-Rzo7NhCwhc
  48. https://youtu.be/HPMoMzRamWU
  49. https://youtu.be/ibcMOCytZNQ
  50. https://youtu.be/URvVvdIW0aY

[Kitabut Tauhid 6] 50 Syafaat 11

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Syafa’at yang dinafikan oleh Al-Qur’ân adalah yang di dalamnya terdapat kesyirikan. Al-Qur’ân telah menetapkan dalam beberapa ayatnya adanya syafa’at yaitu syafa’at dengan izin Allâh -‘Azza wa Jalla-; Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- juga menjelaskan bahwa syafa’at itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertauhid dan ikhlash karena Allâh -‘Azza wa Jalla- semata.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 6] 49 Syafaat 10

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Syafaat seluruhnya adalah hak khusus bagi Allâh -‘Azza wa Jalla-, karena Dia-lah satu-satunya pencipta, pemilik, dan pengatur seluruh alam semesta.
  2. Tidak boleh meminta syafa’at kecuali kecuali kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-; ini menunjukkan kebatilan perbuatan kesyirikan yang dilakukan oleh kaum musyrikin dengan mendekatkan diri kepada Malaikat, Nabi atau orang-orang shalih, untuk meminta syafa’at mereka.
  3. Syafaat itu tidak diberikan kepada seseorang, tanpa adanya izin dari Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  4. Hak memberi syafaat diberikan kepada orang-orang yang diridhai oleh Allâh -‘Azza wa Jalla-, sebagai pemuliaan kepada mereka.
  5. Syafa’at tidak diberikan kecuali untuk orang yang diridhai oleh Allah.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.