Salah satu tips mencari istri dari para ulama, baik ketika mencari atau ditawarkan:
[1] Kita tanya kecantikannya dulu
[2] Jika kecantikan sesuai dengan standar kita, baru kita tanyakan mengenai keshalihannya
[3] Jika cocok dan sesuai dengan kita serta ridha ortu dan keluarga, bismillah semoga menjadi jodoh abadi dunia-akhirat
Note penting: maaf, sebelum menetapkan standar kecantikan kita “ngaca dulu”
Alasan dari ulama mengapa kecantikan dahulu, karena kalau tanya keshalihan dahulu, kemudian ternyata wanita itu agamanya baik, barulah ia tanya informasi kecantilannya, ternyata kecantikannya di bawah standar dia (jelek misalnya), lalu ia menolak wanita itu maka ia juga telah menolak agamanya
Apabila pria ingin meminang wanita, hendaknya hal pertama yang ditanyakan adalah mengenai kecantikannya sang wanita. Jika wanita tersebut dipuji akan kecantikannya, bertanyalah lebih lanjut mengenai agamanya. Jika wanita tersebut baik agamanya, hendaklah ia menikahinya. Dan jika sebaliknya (agama jelek) dapat ditolak, sehingga alasan penolakan terkait karena agama sang wanita.
Jangan hal pertama yang ditanyakan adalah mengenai agama sang wanita, yang jika ternyata baik agamanya, kemudian pria tersebut bertanya mengenai kecantikannya, dan wanita itu tidak dipuji akan kecantikannya, kemudian dia tolak, maka alasan penolakan adalah karena kecantikan bukan karena agama.”
(Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih minal Khilaf 12/206)
Mengenai jodoh tenang saja,
Perbaiki diri sendiri dahulu, karena jodoh adalah cerminan diri. Tetaplah menjadi baik, jika tidak mendapatkan jodoh orang baik, semoga akan ditemukan oleh orang yang baik untuk berjodoh
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” [An-Nur: 26]
Disinilah kita bisa mengukur keimanan kita, jika memang kita mengaku-ngaku beriman kepada-Nya, karena rabb kita,
إِنَّ اللّهَ لاَ يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” [Ar-Ra’d: 31]
#IndonesiaBertauhid
.
-Iya, karena anggapan sial (Tiyarah) yang tidak berdasar bisa bertentangan dengan TAUHID
.
-Misalnya:
√ Menggap sial angka 13, jadinya nomor rumah nomor 12 A, 12 B baru ke 14, tidak ada nomor rumah 13 di gang itu
.
√ Tidak jadi berangkat safar karena jatuh cicak di depannya, karena beranggapan sial
.
-Sebenarnya beranggapan sial ini termasuk “beranggapan jelek”, ada yang boleh beranggapan jelek jika ADA INDIKASI yang benar
.
-Indikasinya harus sesuai dengan: Sebab SYAR’I atau sebab KAUNI
.
-Sebab itu ada dua:
1. Sebab Kauniy
2. Sebab syar’i
.
-Kalau sebab kauniy, ini adalah hukum sebab-akibat alam atau memang ada penelitian bahwa itu adalah sebabnya
misalnya:
1. Api kalau kena air ya padam, kertas kena api terbakar dengan mudah
2. Motor jalan dengan bahan bakar bensin bukan air (penelitian)
.
-Kalau sebab syar’i yaitu sebab yang ditentukan oleh syariat menjadi penyebab sesuatu, MESKIPUN bukan penyebab secara kauniy
Misalnya: Jika ingin dipanjangkan umur (berkah) dan dimudahkan rezeki maka silaturahmi
.
-Nah, kalau beranggapan jelek/anggapan sial tidak ada Indikasi baik sebab syar’i maupun sebab kauniy, inilah yang TERLARANG,
Misalnya gak jadi safar karena lihat burung gagak
.
-Kalau ada indikasi, maka boleh beranggapan jelek
Misalnya: pesawat tidak jadi terbang karena gejala cuaca yang tidak bagus yaitu mendung
.
-Inilah “anggapan sial” yang terlarang karena termasuk kesyirikan
.
‘Abdullah bin Mas’ud:
.
“Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. (HR. Abu Daud)
.
-CATATAN PENTING: Salah satu ciri orang yang masuk surga tanpa hisab adalah tidak beranggapan sial
.
Selengkapnyaا:
. https://muslimafiyah.com/anggapan-sialcelaka-bisa-jadi-biki…
Mohon maaf,
Kemaren yang ribut-ribut mempermasalahkan
Jenggot, sorban, cadar dan jilbab
Itu budaya Arab dan budaya onta
Harus budaya Indonesia (katanya)
.
Eh, pas acara valentine
Rok mini, jeans ketat dan tato
Yang jelas bukan budaya Indonesia
Pada mingkem semua
.
Bisa jadi anti-arab
Adalah alasan ngeles
Anti-Islam
.
Saudaraku yang semoga selalu disayangi Allah
Islam tidak anti total dengan budaya & adat
Bahkan ada hukum Islam yang budaya menjadi sandaran hukum
Sebagaimana kaidah,
.
العادة محكمة
.
“Adat/kebiasaan dapat dijadikan sandaran hukum”
.
Demikian juga budaya yang tidak bertentangan dengan Islam
Semisal memakai sarung
Memakai baju batik
Kita boleh memakainya
Bahkan kita dianjurkan mencocoki
Atau menyesuaikan dengan pakaian dan budaya setempat
Jika tidak melanggar syariat
.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata,
.
أن موافقة العادات في غير المحرم هي السنة؛ لأن مخالفة العادات تجعل ذلك شهرة، والنبي صلّى الله عليه وسلّم نهى عن لباس الشهرة ، فيكون ما خالف العادة منهياً عنه.
.
“Mencocoki/menyesuaikan kebiasaan masyarakat dalam hal yang bukan keharaman adalah disunnahkan. Karena menyelisihi kebiasaan yang ada berarti menjadi hal yang syuhrah (suatu yang tampil beda sekali dan mencolok, pent). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpakaian syuhrah. Jadi sesuatu yang menyelishi kebiasaan masyarakat setempat, itu terlarang dilakukan.” (Syarhul Mumti’ 6/109, syamilah)
Saat ini, ilmu agama bukanlah prioritas utama bagi sebagian umat Islam. Tentu karena mereka tidak tahu harga dan hakikatnya. Para ulama, dari zaman sahabat Nabi ﷺ hingga saat ini, menunjukkan keseriusan yang begitu besar dan usaha yang begitu hebat untuk mempelajari agama. Usaha mereka ini, memberikan pemahaman kepada kita seberapa besar kedudukan ilmu agama menurut mereka. Seberapa mahal ilmu itu hingga layak dicurahkan usaha yang keras untuk mendapatkannya. Karena inilah ilmu tentang firman Allah ﷻ dan sabda Rasulullah ﷺ.
Umar bin al-Khattab
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari bahwasaya Umar bin al-Khattab berkata, “Aku dan tetanggaku seorang Anshar (yakni Aus bin Khauli), seorang dari bani Umayyah bin Zaid, kami saling bergantian mendatangi majelis Rasulullah ﷺ. Ia datang pada suatu hari dan aku pada hari lainnya. Apabila aku yang menghadiri majelis, akan aku sampaikan kepadanya tentang wahyu dan penjelasan lainnya pada hari itu. Apabila ia yang datang, ia pun melakukan hal yang sama.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab al-‘Ilm 89).
Umat bergantian dengan tetangganya karena mereka meluangkan waktu antara belajar agama dan mencari nafkah. Kalau hidup di dunia yang fana ini butuh usaha untuk mencukupinya, tentu kehidupan akhirat yang kekal butuh usaha ekstra untuk bekalnya.
Abdullah bin Abbas
Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma bercerita tentang perjalannya mempelajari agama. Mengambil bagian dari warisan Rasulullah ﷺ. Ia berkisah, “Ketika Rasulullah ﷺ wafat, aku berkata kepada seorang laki-laki Anshar, ‘Wahai Fulan, marilah kita bertanya kepada sahabat-sahabat Nabi ﷺ, mumpung mereka masih banyak (yang hidup) saat ini’. ‘Mengherankan sekali kau ini, wahai Ibnu Abbas! Apa kau anggap orang-orang butuh kepadamu sementara di dunia ini ada tokoh-tokoh para sahabat Rasulullah ﷺ sebagaimana yang kaulihat?’
Ibnu Abbas melanjutkan, ‘Aku pun meninggalkannya. Aku mulai bertanya dan menemui para sahabat Rasulullah ﷺ. Suatu ketika, aku mendatangi seorang sahabat untuk bertanya tentang suatu hadits yang kudengar bahwa dia mendengarnya dari Rasulullah ﷺ. Ternyata dia sedang tidur siang. Lalu aku rebahan berbantalkan selendangku di depan pintunya, dan angin menerbangkan debu ke wajahku. Begitu keadaanku sampai ia keluar.
Ketika ia keluar, ia terkejut dengan kehadiranku. Ia berkata, ‘Wahai putra paman Rasulullah, kenapa engkau ini?’ tanyanya. ‘Aku ingin mendapatkan hadits yang kudengar engkau menyampaikan hadits itu dari Rasulullah ﷺ. Aku ingin mendengar hadits itu darimu,’ jawabku.
‘Mengapa tidak kau utus saja seseorang kepadaku agar nantinya aku yang mendatangimu?’ katanya. ‘Aku lebih berhak untuk datang kepadamu,’ jawabku.
Setelah itu, ketika para sahabat telah banyak yang meninggal, orang tadi (dari kalangan Anshar tadi) melihatku dalam keadaan orang-orang membutuhkanku. Dia pun berkata padaku, ‘Engkau memang lebih cerdas daripad aku’.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/310).
Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma menjelaskan kisah ini, kisah kesungguhannya belajar agama. “Aku pernah datang ke rumah Ubay bin K’ab. Saat itu ia sedang tidur. Kutunggu ia sambil tidur siang di depan pintu rumahnya. Kalau Ubay tahu, pasti dia membangunkanku, karena dekatnya kedudukanku (sepupu) dengan Rasulullah ﷺ. Tapi aku tidak suka mengandalkan hal itu”.
Dalam riwayat lain, beliau radhiallahu ‘anhuma menyatakan, “Aku mendekati tokoh-tokoh sahabat Rasulullah ﷺ dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Aku bertanya kepada mereka tentang peperangan Rasulullah ﷺ dan tentang ayat-ayat Alquran. Setiap sahabat yang kudatangi pasti senang dengan kedatanganku karena kedekatan nasabku dengan Rasulullah ﷺ. Aku bertanya kepada Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu. Ia adalah seorang yang dalam ilmunya. Aku bertanya tentang ayat-ayat Alquran yang turun di Madinah. Ia menjawab, ‘Di Madinah diturunkan 27 surat, dan selainnya di Mekah’.” (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 2/371).
Asy-Sya’bi
Beliau adalah seorang ulama tabi’in. Ia pernah ditanya, “Dari mana kau peroleh seluruh ilmumu?” Ia menjawab, “Dengan cara tidak bersandar (bermalas-malasan). Bersafar ke berbagai daerah. Sabar, sebagaimana sabarnya keledai. Bersegera sedari pagi sebagaimana burung gagak”. (adz-Dzahabi dalam Tadzkirah al-Huffazh, 1/81).
Imam asy-Syafi’i
Lihatlah bagaimana Imam asy-Syafi’i berlelah letih dalam belajar, hingga ia mencapai derajat yang kita ketahui saat ini. Beliau rahimahullah bercerita tentang proses belajarnya, “Aku telah menghafalkan Alquran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal al-Muwaththa (buku hadits yang disusun Imam Malik) saat berusia 10 tahun.” (Abu al-Hajjaj al-Mizzi dalam Tadzhib al-Kamal, 24/366).
Menurut sebagian orang, alangkah beratnya masa kanak-kanak Imam asy-Syafi’i. Namun apa yang ia capai di masa kecil melahirkan orang sekelas dirinya di saat dewasa. Melalui dirinya, Allah ﷻ memberikan manfaat kepada umat manusia. Kemanfaatan berupa ilmu. Tidak hanya untuk orang-orang di zamannya saja. Tapi manfaat tersebut terus terasa hingga jauh dari masa hidupnya. Hingga masa kita sekarang ini.
Imam asy-Syafi’i mengatakan, “Ketika aku telah menghafalkan Alquran (30 juz), aku masuk ke masjid. Aku mulai duduk di majelisnya para ulama. Mendengarkan hadits atau pembahasan-pembahasan lainnya. Aku pun menghafalkannya juga. Ibuku tidak memiliki sesuatu yang bisa ia berikan padaku untuk membeli kertas (buku untuk mencatat). Jika kulihat bongkahan tulang yang lebar, kupungut lalu kujadikan tempat menulis. Apabila sudah penuh, kuletakkan di tempaian yang kami miliki.” (Ibnu al-Jauzi dalam Shifatu Shafwah, 2/249 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 51/182).
Saat beliau mulai beranjak besar, antara usia 10-13 tahun, beliau butuh kertas untuk menulis apa yang telah dipelajari, tapi tidak ada uang untuk membeli kertas-kertas itu. Ia pergi ke suatu tempat untuk mendapatkan kertas yang telah terpakai di satu sisi halamannya. Separuh lembar yang kosong itu, beliau gunakan untuk mencatat ilmu (Abu al-Hajjaj al-Mizzi dalam Tadzhib al-Kamal, 24/361).
Untuk apa usaha besar itu dilakukan oleh Asy-Syafi’i kecil, padahal ia masih terlalu muda? Jawabnya untuk ilmu yang menurutnya begitu berharga.
Ibnu Abi Hatim mendengar cerita dari al-Muzani, bahwasanya Imam asy-Safi’i pernah ditanya, “Bagaimana obsesimu terhadap ilmu?” Imam asy-Syafi’i menjawab, “Ketika aku mendengar suatu kalimat yang belum pernah kudengar, maka seluruh anggota badanku merasakan kenikmatan sebagaimana nikmatnya kedua telinga saat mendengarkannya.”
Beliau juga ditanya, “Bagaimana semangatmu dalam mendapatkannya?” Ia menjawab, “Sebagaimana orang yang bersemangat mengumpulkan harta dan pelit membaginya merasakan kenikmatan terhadap harta.”
Beliau ditanya pula, “Bagaimana engkau menginginkannya?” “Aku menginginkannya sebagaimana seorang ibu yang kehilangan anaknya, tidak ada yang dia ingin kecuali anaknya.” Jawabnya.
Kita bisa tahu, apa yang beliau ucapkan ini bukanlah omong kosong yang tak bermakna. Kalau bukan dengan obsesi sebesar itu, semangat sehebat itu, dan keinginan sekuat itu, tentu ia tidak menjadi seperti Syafi’i yang kita tahu.
Derajat imam (pemimpin) dalam ilmu itu tidak diperoleh dengan santai-santai. Banyak hal yang harus dikorbankan. Sebagaimana kata Ibnu Taimiyah, “Sesungguhnya kedudukan keimaman dalam agama hanya didapatkan dengan kesabaran dan keyakinan.” (Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa, 3/358).
Dan Allah ﷻ mengajarkan kita sebuah doa:
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).
Menurut Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma maksud ayat ini adalah “Jadikan kami pemimpin-pemimpin yang diteladani dalam kebaikan.” (Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Azhim, 3/439).
# Mendidik Anak Di Rumah Juga Termasuk Meniti Karir
.
Jika sekedar hanya untuk mendidik anak yang sukses di dunia saja maka orang non-muslim juga bisa, banyak yang sukses di dunia
.
Tapi untuk mendidik anak sukses dunia dan akhirat, perlu ibu yang lebih banyak tinggal di rumah dan fokus dengan pendidikan anak mengajarkan adab, alquran dan doa sejak kecil, mengajarkan alif, ba, ta
.
Siapa yang mengajarkan Imam syafi’i kecil umur 7 tahun sudah hapal alquran?
Siapa yang memandikan imam malik kecil pagi-pagi dan pergi ke gurunya?
Siapa yang menghabiskan harta yang banyak untuk pendidikan guru imam malik rabi’atur ra’yi?
.
Sebagian mereka adalah wanita janda, ibu imam Syafi’i, ibu imam Ahmad, ibu Rabi’atur Ra’yi ditinggal suami berjihad sejak hamil sampai tua baru ketemu
.
Jika anak adalah titipan Allah, jangan dititipkan lagi kepada pembantu
.
Wanita hendaknya lebih banyak di rumah daripada diluar untuk mendidik anak-anak mereka. Karena mendidik anak perlu fokus di rumah bukan dititipkan kepada pembantu atau baby sister.
.
Tinggal di rumah adalah perintah Allah dalam Al-Quran, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
.
“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (Al Ahzab: 33).
.
Wanita adalah pemimpin di rumah dalam hal mendidik anak-anaknya, sedangkan suami adalah pengawas pendidikan istri dan anak-anaknya. Orang tua adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
.
Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka (HR. Bukhari)
.
Note: Islam tidak melarang wanita bekerja di luar rumah asalka memperhatikan syarat-syaratnya
(ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. (QS. al-Baqarah: 125)
[2] di surat Ali Imran – bercerita tentang keutamaan Ka’bah dan kota Mekah,
“Sesungguhnya rumah yang awal mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. ( ) Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) maka dia aman. (QS. Ali Imran: 96-97)
Apa itu Maqam Ibrahim?
Kita simak beberapa keterangan ulama berikut,
[1] Keterangan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah,
الحجر الذي كان يقف عليه لما ارتفع البناء عن قامته فوضع له ولده هذا الحجر المشهور ليرتفع عليه لما تعالى البناء … وقد كانت آثار قدمي الخليل عليه السلام باقية في الصخرة إلى أول الإسلام
Itulah batu yang dipakai pijakan Ibrahim ketika beliau meninggikan bangunan ka’bah dari pondasinya. Putranya meletakkan batu ini, agar beliau naiki ketika meninggikan bangunan ka’bah… bekas telapak kaki al-Khalil Ibrahim ‘alaihis salam masih ada di batu itu hingga awal islam (zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/163).
Yang dimaksud maqam Ibrahim adalah batu yang ada bekas telapak kedua kaki Ibrahim.
[3] Keterangan Ibnu Katsir
وكانت آثار قدميه ظاهرة فيه ولم يزل هذا معروفا تعرفه العرب في جاهليتها ، وقد أدرك المسلمون ذلك فيه أيضا ، كما قال أنس بن مالك : رأيت المقام فيه أصابعه عليه السلام وأخمص قدميه . غير أنه أذهبه مسح الناس بأيديهم
Bekas telapak kedua kaki beliau sangat nampak. Dan bekas itu tetap ada dan masyarakat jahiliyah sangat mengenalnya. Kaum muslimin juga menjumpai bekas kaki itu, sebagaimana yang dinyatakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ‘Aku melihat di maqam Ibrahim ada bekas jari-jari kaki beliau ‘alaihis salam dan juga lekukan kaki beliau. Hanya saja, usapan tangan manusia membuat bekas itu bertahap menghilang.’
Ibnu Katsir juga menyebutkan keterangan dari Qatadah,
ولقد ذَكَرَ لنا من رأى أثر عقبه وأصابعه فيه فما زالت هذه الأمة يمسحونه حتى انمحى
Orang yang pernah melihat bekas telapak kaki dan jari-jari kaki telah menceritakan kepada kami keberadaannya. Namun umat ini selalu mengusapnya hingga bekas itu menghilang.. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/117)
Dari keterangan di atas bisa kita simpulkan, bahwa:
Maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil adanya, dan bukan lambang sesuatu.
Maqam Ibrahim adalah tempat berdirinya Ibrahim ketika meninggikan ka’bah.
Di masa silam bekas telapak kaki itu kelihatan, bahkan sampai bekas jarinya.
Bekas telapak kaki dan jari kaki itu telah menghilang karena sering diusap manusia.
Terlihat Relief telapak kaki di batu Maqam Ibrahim
Jika kita perhatikan foto-foto maqam ibrahim, terlihat relief bekas kaki di maqam Ibrahim. Bukankah itu sudah hilang?
Betul bahwa sebenarnya bekas itu sudah hilang, namun ada kemungkinan dipahat lagi, sehingga terbentuk relief telapak kaki.
Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,
لا شك أن مقام إبراهيم ثابت وأن هذا الذي بني عليه الزجاج هو مقام إبراهيم ، لكن الحفر الذي فيه لا يظهر أنها أثر القدمين ، لأن المعروف من الناحية التاريخية أن أثر القدمين قد زال منذ أزمنة متطاولة ، ولكن حفرت هذه أو وضعت للعلامة فقط
Kita meyakini bahwa maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil. Yang ditutup dengan kaca, itulah maqam Ibrahim. Namun cekungan, nampaknya bukan bekas kedua kaki. Karena info yang makruf dari sisi sejarah bahwa bekas telapak kaki Ibrahim telah hilang sejak masa silam.. namun dipahat ulang atau dibuat tandanya saja.
Nama Imam Ibnu Asakir adalah Ali bin al-Hasan bin Habbatullah bin Abdullah bin Husein ad-Dimasyqi asy-Syafi’i (ulama madzhab Syafi’i). Kun-yahnya Abu al-Qasim. Ia dilahirkan pada bulan Muharram tahun 499 H/1105 M di Kota Damaskus.
Beliau belajar ilmu fikih sedari kecil di Kota Damaskus. Ayahnya, al-Hasan bin Habbatullah, adalah seorang guru yang shaleh, adil, cinta ilmu, teladan bagi para ulama, dan memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu agama, khususnya bidang fikih.
Lingkungan Masa Kecilnya
Shalahuddin al-Munjid dalam pengantar Tarikh Ibnu Asakir jilid satu mengatakan, “Lingkungan pertumbuhan al-Hafizh Ibnu Asakir memiliki pengaruh besar yang mengarahkan beliau kepada ilmu dan menjadikannya seorang yang cerdas. Ia tinggal di rumah dimana perkara-perkara diputuskan, hadits-hadits dan fikih dikaji. Rumahnya dipenuhi dengan ulama-ulama besar dan hakim-hakim Damaskus. Sejak kecil Ibnu Asakir melihat para ulama dan mendapat pemahaman ilmu”.
Kakak Ibnu Asakir yang bernama Shainuddin Habbatullah bin al-Hasan (488 – 563H) adalah seorang ahli fikih, mufti, dan ahli hadits. Ia membaca Alquran dengan beberapa riwayat. Ia seorang yang fakih dan cerdas. Sang kakak pernah bersafar ke berbagai wilayah dan mempelajari banyak cabang ilmu, seperti ilmu-ilmu ushul dan nahwu. Ia berguru dengan Abu al-Hishn as-Sulmi. Di sela-sela kegiatan belajar, ia juga memberikan fatwa dan produktif menulis. Shainuddin adalah seorang imam yang tsiqah, kuat agamanya, dan wara’.
Saudara Ibnu Asakir yang lainnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin al-Hasan. Ia juga seorang hakim. Artinya ia adalah ulama. Anak-anak Abu Abdillah yang berjumlah enam orang juga seorang dai dalam ilmu dan hadits.
Ibu Ibnu Asakir adalah wanita keturunan Quraisy. Kakek dari pihak ibu adalah Yahya bin Ali bin Abdul Aziz al-Qurasyi. Seorang hakim dan fakih yang senior. Ia sangat pakar dalam bahasa Arab, tsiqah, dan menyampaikan ceramah dengan fasih. Ia belajar kepada Abu Bakr asy-Syasyi. Di Damaskus, ia belajar kepada al-Qadhi al-Marwazi dan al-Faqih Nashr. Ibnu Asakir meriwayatkan hadits dari kakeknya ini.
Pamannya dari pihak ibu adalah Muhammad bin Yahya. Seorang ulama yang menjabat hakim. Laki-laki Quraisy yang terpercaya dan bijak dalam memutuskan masalah. Sejumlah ulama di masanya belajar dan meriwayatkan ilmu darinya. Termasuk Ibnu Asakir. As-Sam’ani berkata tentangnya, “Ia adalah seorang yang terpuji. Perjalanan hidupnya baik. Penyayng dan terhormat. Juga seorang yang menarik penampilannya”.
Satu lagi paman dari pihak ibunya yang juga seorang ulama, Sulthan bin Yahya. Ia dijuluki zainul qudha, perhiasan para hakim. Seorang laki-laki Quraisy yang mulia.
Dengan lingkungan keluarga yang demikian, wajar Ibnu Asakir mulai mengkaji ilmu di usia dini. Saat berumur 6 tahun, ia sudah belajar dari ayahnya serta dua orang kakaknya. Kemudian Abul Qashim, Qawam bin Zaid, Sabigh bin Qirath, Abu Thahir al-Hanai, Abul Hasan bin Mawazini, dan juga ke majelis-mejelis ilmu lainnya.
Dalam pengantar Tarikh Ibnu Asakir jilid satu, Shalahuddin al-Munjid mengatakan, “Inilah lingkungannya. Ia bertemu dengan ahli hadits yang membantunya membuka potensi kecerdasan dan memenuhi keinginannya. Sehingga di kemudian hari Ibnu Asakir mencapai derajat seorang ahli sejarah Syam dan ahli hadits di zamannya”.
Perjalanan Belajar
Perjalanan Pertama: Ke Baghdad
Pada tahun 520 H/1126 M, saat itu Ibnu Asakir menginjak usia 21 tahun. Sambil terus belajar, ia juga mengisi waktunya dengan mengajar. Pengetahuannya yang luas tentang riwayat-riwayat hadits ia dapatkan ketika mengumpulkan matan-matan, sanad-sanad, menghafal, dan membaca. Kesungguhannya ini membuatnya mencapai derajat seorang ahli hadits dan ulama. Ia tidak berpuas diri hanya dengan mendapatkan ilmu Dari halaqah-halaqah, masjid-masjid, madrasah-madrasah, dan para ulama di Damaskus. Ia berusaha untuk mendapat sesuatu yang lebih. Akhirnya, ia memutuskan untuk bersafar keluar Damaskus. Belajar hadits dari ulama-ulama dan ahli fikih ternama.
Dalam pengantar Tarikh Ibnu Asakir jilid satu, Shalahuddin al-Munjid mengatakan, “Perjalanannya dalam belajar hadits dan mendengar dari banyak guru memiliki pengaruh yang signifikan. Tak seorang ahli hadits besar pun dalam perjalannya ia lewatkan. Sehingga ia memperoleh sanad yang tinggi. Pusat-pusat ilmu tersebar di wilayah-wilayah Islam. Banyak ulama dan ahli fikih yang membagi-bagi ilmu mereka. Saat itu halaqah-halaqah belajar dan diskusi digelar di madrasah-madrasah dan masjid-masjid oleh para ahli fikih, ahli hadits, dan ulama-ulama”.
Kota Baghdad di masa itu adalah surga dunia karena keindahan tata kotanya. Kota yang menjadi pusat ilmu. Dan banyak dikunjungi oleh orang-orang dari penjuru negeri. Walaupun banyak kota-kota ilmu fikih dan hadits di wilayah Islam, seperti: Mesir, Mekah, Madinah, Khurasan, Naisabur, Ashbahan, Hirah, Thus, dll. namun Baghdad tetap menjadi kota yang utama. Penduduk Baghdad dikenal sebagai orang yang paling bersemangat dalam mempelajari dan menulis hadits. al-Khatib al-Baghdadi mengatakan, “Penduduk Baghdad dikenal sebagai orang-orang intelektual dan teliti dalam meriwayatkan hadits dan adabnya. Mereka adalah orang-orang yang paling berhati-hati dalam meriwayatkannya. Mereka dikenal dengan sifat ini” (Tarikh Baghdad oleh al-Khatib al-Baghdadi)
Pada tahun 521 H, Ibnu Asakir pergi menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Ia menggunakan kesempatan ini untuk mendengar riwayat hadits dari ulama-ulama Mekah, Mina, dan Madinah. Di antranya Abdullah bin Muhammad al-Mishri dan Abdul Khalaq bin Abdul Wasi’ al-Hawari.
Saat kembali ke Baghdad, orang-orang Irak kian takjub padanya. Mereka berkata, “Kami belum pernah melihat orang semisalnya”.
Setelah merasa cukup menimba ilmu dari tokoh-tokoh ulama Baghdad, Ibnu Asakir memutuskan untuk kembali ke Damaskus pada tahun 525 H/1131 M.
Perjalanan Kedua: Ke Negeri-Negeri non Arab
Debu-debu safarnya belum juga bersih, namun Ibnu Asakir telah berpikir untuk melanjutkan pencarian riwayat hadits. Ia berangkat ke Asbahan, Naisabur, Merv, Tabriz, Khosrowjerd, Bastam, Damghan, Ray, Zanjan, Hamadan, Herat, Sarakhs, Semnan, Abhar, Khuwi, Marand, dll.
Dalam perjalanan menuju Khurasan, di jalan-jalan Azerbaijan, tepatnya di Naisabur, ia berjumpa dengan as-Sam’ani. As-Sam’ani memuji Ibnu Asakir dengan mengatakan, “Abul Qasim seorang yang luas ilmunya dan banyak keutamaannya. Seorang penghafal yang kokoh hafalan dan agamanya. Baik akhlaknya. Ia seorang yang menggabungkan pengetahuan akan matan dan sanad dengan baiknya bacaan dan tulisan… …Ia mengumpulkan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh selainnya –artinya ilmu beliau luas-. Ia masuk ke Naisabur satu bulan sebelumku. Aku meriwayatkan darinya dan dia juga meriwayatkan dariku. Ia menulis sebuah buku sejarah yang tebal untuk Damaskus” (Tadzhib Siyar Alam an-Nubala Jilid 3 Hal: 81).
Di Naisabur, Ibnu Asakir belajar dari Abu Abdullah al-Farawi. Ia bermulazamah beberapa waktu kepadanya. Al-Farawi mengatakan, “Ibnu Asakir datang. Ia membaca (meminta koreksi) di hadapanku 3 hadits lebih. Aku pun merasa berat. Muncul keinginan di hatiku agar menutup pintu untuknya”. Kemudian kata as-Sam’ani, “Di pagi harinya, ada seseorang datang kepadaku (dalam mimpi). Laki-laki itu berkata, “Aku adalah Rasulullah ﷺ”. “Marhaban bik –ya Rasulullah-”, kataku. Kemudian beliau berkata, “Temuilah al-Farawi dan katakan padanya, ‘Datang seorang laki-laki berkulit coklat dari Syam ke negeri kalian. Ia ingin meriwayatkan haditsku. Jangan kalian sia-siakan dia.” (al-Inayatu bi Thullab al-Ilmi Inda Ulama al-Muslimin oleh Abdul Hakim Unais)
Saat di Khurasan Ibnu Asakir sibuk mendengar hadits dari ulama-ulama negeri tersebut. Sedangkan di Asbahan dan Naisabur, selain menyimak, para ulama yang lebih senior darinya juga mendengar hadits-hadits darinya.
Perjalanannya di negeri non Arab berlangsung selama empat tahun. Ia habiskan waktu-waktu tersebut untuk bermulazamah kepada para ulama, ahli fikih, ahli hadits, meneliti hadits baik thuruq-nya, orang-orang yang meriwayatkan dan apa yang mereka riwayatkan, serta sanad-sanadnya. Karena inilah ia mencapai kedudukan yang tidak dicapai oleh orang selainnya. Setelah menyelesaikan perjalanan ini, ia kembali ke Baghdad kemudian ke Damaskus.
Dalam perjalannya ke negeri-negeri non Arab, Ibnu Asakir berhasil bertemu setidaknya 1300 ulama. 80an di antara mereka adalah perempuan. Banyak pelajaran yang ia dapatkan dari guru-gurunya. Dan ia pun berhasil menghafal banyak buku
Kembali ke Damaskus
Pada saat berumur 43 tahun, Ibnu Asakir kembali ke Damaskus dan menetap di kota tertua di dunia itu. Ia merasa saat ini adalah saat yang tepat untuk fokus mengajar dan memberi kontribusi besar dalam membina umat. Ia berkata kepada salah seorang muridnya, Abul Mawahib, “Ketika aku sudah membulatkan tekad untuk menyampaikan hadits –demi Allah- sungguh aku tidak menginginkan kepemimpinan dan diunggulkan. Aku berkata, ‘Kapan aku akan meriwayatkan apa yang telah kudengar?’ ‘Faidah apa yang bisa aku tuliskan?’ Aku beristikhoroh kepada Allah, meminta izin guru-guruku, dan tokoh-tokoh masyarakat, kutemui mereka semua. Mereka berkata, ‘Siapa lagi yang lebih berhak darimu?’ Aku pun mulai menyampaikan hadits pada tahun 533 H/1138 M”.
Perjalanan menuntut ilmu ini adalah fase terpanjang dalam umur Ibnu Asakir. Ibnu Najjar mengatakan, “Mungkin di masanya, ia mencapai kedudukan yang tertinggi dalam hafalan, kekokohan ilmu, pengetahuan tentang ilmu hadits dan ke-tsiqah-annya, kecerdasan, dan tajwid.”
Bahauddin berkata tentang ayahnya Ibnu Asakir, “Ayahku berkata kepadaku, ‘Saat ibuku mengandungku, ia melihat di dalam mimpinya ada seorang yang berkata, ‘Engkau akan melahirkan seorang anak laki-laki yang memiliki kedudukan tinggi. Melalui dirinya, Allah memberkahimu dan juga kaum muslimin’.”
Benarlah mimpi sang ibu. Ia melahirkan seorang anak yang bergadang di malam hari untuk mempelajari agama yang mulia ini.
Karya-Karyanya
Setelah membekali diri dengan ilmu dengan riwayat perjalanan yang luar biasa, Ibnu Asakir mulai menuangkan buah pikirannya dalam tulisan-tulisan. Para sejarawan mengumpulkan dan menghitung karya-karya Ibnu Asakir lebih dari 60 buku. Sebagian besar tulisannya adalah tentang ilmu hadits dan sisanya tentang keutamaan amalan. Karya utamanya adalah Tarikh Dimasyq.
Kitab Tarikh Dimasyq karya Ibnu Asakir
Di antara karya tulisanya adalah:
Tarikh Dimasyq, al-Ijtihad fi Iqamati Fardhi al-Jihad, al-Ahadits al-Khumasiyat wa Akhbar Ibnu Abi Dunya, al-Ahadits al-Mutakhayyirat fi Fadhail al-Asyrati fi Juzain, Amali fi al-Hadits, Tabyin Kadzabi al-Muftari fima Nasaba ila Abil Hasan al-Asy’ari, Tsawabu ash-Shabr ‘ala al-Mashaib bil Walad, Fadhlu Ashhabul Hadits, Kitab Fadhlu Makkah, Kitab Fadhlu al-Madinah, Kitab Dzammu Man La Ya’mal Bi’ilmihi, Kitab Fadhail ash-Shiddiq, dll.
Produktifitasnya ini menunjukan kesungguhannya dalam berdakwah dan sebelumnya membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang luas. Dengan karya-karyanya itu, namanya tetap abadi hingga kini.
Madrasah Darul Hadits An-Nuriyah
Madrasah Darul Hadits an-Nuriyah adalah sekolah negeri pada masa Dinasti Nuriyah. Sekolah ini seolah menjadi laboratorium bagi Ibnu Asakir. Karena, disinilah Ibnu Asakir banyak menelurkan buah pemikirannya: mengajar dan menulis. Ia jadi semakin sibuk dengan kegemarannya, ilmu dan ibadah. Dan semakin mengalihkannya dari kegemerlapan dunia.
Madrasah an-Nuriyah menunjukkan dekatnya hubungan ulama dan umara. Raja Nuruddin az-Zanki –Raja Dinasti Nuriyah- lah yang membangunnya untuk Ibnu Asakir.
Wafatnya Sang Imam
Ibnu Asakir rahimahullah wafat di malam senin 11 Rajab 571 H/1176 M. Sultan Shalahuddin al-Ayyubi turut serta menghadiri jenazahnya. Ia dimakamkan di sisi makam ayahnya. Pemakaman yang sama dengan jenazah Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu dimakamkan.
Daftar Pustaka:
Al-Inayah bi ath-Thullab al-Ilmi Inda Ulama al-Muslimin oleh Abdul Hakim al-Unais.
Tahdzib Siyar A’lamu an-Nubala karya Imam adz-Dzahabi ditadzhib oleh Ahmad Fayiz al-Humsha.
Jika kita diberikan suatu bantuan atau hadiah oleh seseorang atau ia berbuat baik kepada kita, maka yang terbaik adalah kita doakan selain ucapkan “terima kasih” atau syukran [1]
Doa tersebut sudah kita ketahui bersama yaitu
“Jazakallahu khaira” (untuk satu orang laki-laki)
“Jazakillahu khaira” (Untuk satu orang perempuan)
“Jazakumullahu khaira” (Untuk jamak) [2]
Artinya: Semoga Allah membalas-mu kebaikan
Jawaban untuk doa ini adalah:
“Wa anta fazajakkallahu khaira”
“Wa antum Fajazakumullahu khaira”
atau
“Wa jazakallahu khaira”
“Wa jazakumullahu khaira”
Lafadz ini lebih utama dari ” waiyyakum” meskipun ucapan ini juga boleh, karena perkara ini adalah lapang
Ucapan balasan doa ini adalah contoh dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam
Dari Anas bin Malik ia berkata: Usaid bin al-Hudhair an-Naqib al-Asyhali datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ia bercerita kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang sebuah keluarga dari Bani Zhafar yang kebanyakannya adalah wanita, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membagi kepada mereka sesuatu, membaginya di antara mereka, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata :
تركتَنا -يا أسيد!- حتى ذهب ما في أيدينا، فإذا سمعتَ بطعام قد أتاني؛ فأتني فاذكر لي أهل ذلك البيت، أو اذكر لي ذاك. فمكث ما شاء الله، ثم أتى رسولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طعامٌ مِن خيبر: شعيرٌ وتمرٌ، فقسَم النبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في الناس، قال: ثم قسم في الأنصار فأجزل، قال: ثم قسم في أهل ذلك البيت فأجزل، فقال له أسيد شاكرًا له: جزاكَ اللهُ -أيْ رسولَ الله!- أطيبَ الجزاء -أو: خيرًا؛ يشك عاصم- قال : فقال له النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وأنتم معشرَ الأنصار! فجزاكم الله خيرًا- أو: أطيب الجزاء-، فإنكم – ما علمتُ- أَعِفَّةٌ صُبُرٌ
“Engkau meninggalkan kami wahai Usaid, sampai habis apa-apa yang ada pada kami, jika engkau mendengar makanan mendatangiku, maka datangilah aku dan ingatkan padaku tentang keluarga itu atau ingatkan padaku hal itu.”
Maka setelah beberapa saat, datang kepada Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam makanan dari khaibar berupa gandum dan kurma, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam membaginya kepada manusia. Ia berkata: kemudian beliau membaginya kepada kaum Anshar lalu makanan itupun menjadi banyak, lalu ia berkata: kemudian beliau membaginya kepada keluarga tersebut lalu makanan itupun menjadi banyak. Lalu Usaid pun mengucapkan rasa syukurnya kepada Nabi: “Jazakallohu athyabal jaza’ –atau khairan– Ashim (perawi hadits, pent) ragu-ragu dalam lafadznya, lalu ia berkata : Nabi shallallahu alaihi wa sallam kemudian membalasnya : “wa antum ma’syaral Anshar, fa jazakumullahu khaira –atau athyabal jaza’- (dan Kalian wahai sekalian kaum Anshar, semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan –atau sebaik-baik balasan), sesungguhnya setahuku kalian adalah orang-orang yang sangat menjaga kehormatan lagi penyabar…” [3]
Begitu juga praktek para sahabat
Dari Abu Murrah, maula Ummu Hani’ putri Abu Thalib:
:أنه ركِبَ مع أبي هُريرة إلى أرضِه بالعقيق، فإذا دَخَلَ أرْضَهُ صَاح بأعلى صوتِه : عليكِ السَّلامُ ورحمةُ اللهِ وبركاتُه يا أُمتاه! تقول
فتقول: يا بُنيّ! وأنتَ فجزاكَ اللهُ خيرًا، ورضي عنك؛ كما بَرَرْتَني كبيرًا
Bahwasanya ia berkendara bersama Abu Hurairah ke kampung halamannya di ‘Aqiiq. Ketika ia sampai di rumahnya ia berkata dengan mengeraskan suaranya: “Alaikissalam warahmatullahi wabarakatuh wahai ibuku.”
Lalu ibunya berkata :” wa’alaikassalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Ia berkata (bersyukur kepada ibunya, pent) : “Rahimakillah (semoga Alloh merahmatimu wahai ibu), engkau telah merawatku ketika aku masih kecil.”
Maka ibunya berkata : “Wahai anakku wa anta fajazakallahu khairan, semoga Allah meridhaimu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku saat engkau sudah besar.”[4]
Apakah ada dalil bahwa membalasnya (ucapan jazakallahu khairan) adalah dengan ucapan “wa iyyakum”?
Beliau menjawab:
“Tidak ada dalilnya, namun sepantasnya dia juga mengatakan “wa jazakumullahu khairan” (dan semoga Allah juga membalasmu dengan kebaikan), yaitu didoakan sebagaimana dia mendoakan, dan seandainya ia mengucapkan semisal “wa iyyakum” (mengikuti) atas
ucapan “Jazakum”, yakni ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan, semoga kalian juga”.
Akan tetapi jika ia membalasnya dengan ucapan “antum jazakumullah khaira” dan mengucapkan dengan lafadz do’a tersebut, tidak diragukan lagi bahwa ini lebih jelas dan lebih utama.”[5]
Soal:
Apa hukumnya mengucapkan, “Syukran (terima kasih)” bagi seseorang yang telah berbuat baik kepada kita?
Jawab:
Yang melakukan hal tersebut sudah meninggalkan perkara yang lebih utama, yaitu mengatakan, “Jazaakallahu khairan (semoga ALLAH membalas kebaikanmu.”
Sumber: Fath Rabbil-Wadud Fil-Fatawa war-Rasaa’il war-Rudud 1/68, no. 30
[2] Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
“Barang siapa yang diberi suatu kebaikan kepadanya, lalu ia mengucapkan kepada orang yang memberi kebaikan tersebut:
“ Jazakallohu khairan ”,
maka sesungguhnya hal itu sudah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” [HR. at-Tirmidzi, Shahih at-Targhib wat Tarhib 969]
berikut ini kami share tulisan/pengalaman ustadz dr. Raehanul Bahraen semoga bisa menjadi renungan buat semua ikhwah:
***
Terima Kasih Indonesia-ku
Selama tugas pengabdian, kami tinggal di desa
Masih di kelilingi persawahan, rumah kayu dan tentu keramahan, kesederhanaan serta qana’ah penduduk desa
Tidak ada aura kesombongan
Tidak ada raut kesedihan berkepanjangan
tidak ada stress berbalut depresi berlama-lama
Jadi teringat…
Seringnya kita mengeluh keadaan di Indonesia
misalnya:
-Hukum bisa dijualbeli di Indonesia, selamat datang di Indonesia
-Inilah Indonesia, rakyat miskin sengsara, mati di lumbung padi
-Hanya di Indonesia, negara kaya sumber daya tapi miskin rakyatnya
Padahal…
Setelah direnungi, tujuan hidup seseorang dan yang paling dicari adalah KEBAHAGIAAN
Dan kami pribadi merasa bahagia tinggal dan lahir di Indonesia serta bangga menjadi orang Indonesia
Dengan sifat dasar penduduk Indonesia yang berbudaya ketimuran serta beragama Islam
Jika dipikir-pikir, Indonesia termasuk negara beruntung jika dilihat dari INDEX KEBAHAGIAAN
-Negara Barat yang kita lihat maju dan modern ternyata hidup mereka penuh stress dan tekanan, angka bunuh diri banyak (pengakuan sahabat kami mualaf yang pernah tinggal di Amerika)
Silahkan baca survey oleh orang barat sendiri, bahwa angka bunuh diri, perampokan, pemerkosaan, tingkat kejahatan di dominasi oleh negara yang katanya maju dan modern [1]
-Di Indonesia kami bebas menjalankan agama, shalat, kajian dan masjid mudah ditemui sedangkan IBADAH ADALAH KEBAHAGIAAN UTAMA
tidak sebagaimana di Palestina, suriah atau negara yang Islamnya minoritas yang tertindas (Semoga Allah menjaga mereka)
-Keramahan, kebahagiaan dan kesederhanaan ini kami dapatkan di Indonesia
-Semoga dengan bersyukur dan qana’ah akan menambah kebahagiaan kami di Indonesia, karena kami yakin Qana’ah adalah surga di dunia ini [2]
-Mengenai keluhan-keluhan tersebut, maka tugas kita sebagai rakyat Indonesia memperbaikinya, KALAU BUKAN KITA, SIAPA LAGI?
-Stop mengeluh akan Indonesia, negara ini merdeka dengan keringat, darah, perjuangan pahlawan dan ulama, apakah kita akan membuat mereka kecewa
-Mengeluh padahal, kita belum memberikan sumbangsih terhadap negara ini?
-Bukankah Indonesia yang dikeluhkan karena ulah penduduk Indonesia juga? Keburukan yang menimpa suatu kaum akibat perbuatan mereka sendiri [3]
Misalnya saja:
-Mengeluh internet lambat, tapi beli paket cari yang paling murah
-Mengeluh banjir, tetapi sering buang sampah sembarangan
-Mengeluh banyak penyakit, tapi merokok susah dihentikan
-Mengeluh birokrasi ribet, tetapi tidak mau antri dan tidak tepat bayar administrasi
-Mengeluh hukum bobrok, tapi masuk sekolah menyogok, masuk PNS nepotisme keluarga
-Mengeluh karena pemimpin dan pejabat Indonesia? Masih ingat presiden Suharto rahimahullah? Dikeluhkan, sekarang dirindukan, SBY hafidzahullah juga demikian
Yang terpenting perlu diingat,
PEMIMPIN ADALAH CERMINAN RAKYATNYA
Ini janji Allah dalam Al-Quran dan Sunnah [3]
-Mari kita ubah Indonesia dengan memberikan sumbangsih yang terbaik, dan itu baru sempurna terwujud jika kita sudah menanamkan:
BANGGA MENJADI PENDUDUK INDONESIA DAN BERTERIMA KASIH KEPADA TANAH AIR
-Tentunya sumbangsih dalam bimbingan syariat Islam, tauhid dan aqidah yang benar, karena Indonesia negara beragama dan agama terbesar adalah agama Islam
Ayo sumbangkan prestasi terbaikmu untuk memajukan dan lebih membahagiakan Indonesia yang sudah bahagia ini
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).
Tidak layak pula memotong gambar (crop) untuk menghilangkan penulis atau pembuat gambar. Agama Islam mengajarkan agar kita menghormati sebuah tulisan
1) Ilmu lebih berkah jika dinisbatkan kepada penulisnya
Ulama berkata,
من بركة العلم عزوه إلى قائله
“Di antara keberkahan ilmu yaitu menisbatkan ilmu kepada yang berkata/penulisnya”
2) Mencantumkan penulisnya termasuk bentuk amanah Ilmiah
Tentu ada perasaan “sesuatu” jika tiba-tiba tulisan kita menyebar tanpa ada tulisan penulisnya, walaupun hikmahnya di sisi lain kita senang karena bisa lebih ikhlas.
Jika kita tidak suka diperlakukan demikian, maka jangan memperlakukan saudara seperti demikian juga [1]
Bahkan ada kasus di mana penulis aslinya dituduh sebagai plagiat dan memcontek tulisan orang lain
3) Mencantumkan penulisnya juga memudahkan untuk klarifikasi dan memberikan masukan kepada penulisnya jika ada kesalahan atau masukan
Terlebih masalah agama yang jika salah maka dampaknya bisa berbahaya dan perlu dikoreksi. Ulama menjelaskan bahwa dosa terbesar bahkan di atas kesyirikan adalah berkata-kata atas nama Allah (atas nama agama) padahal dia tidak mengetahui dan salah [2]
4) Jika tidak tahu penulisnya, sebaiknya tuliskan keterangan anda meng-copas, sehingga tidak disangka anda penulisnya
Lebih baik lagi tuliskan doa kebaikan kepada penulisnya
misal “semoga berkah bagi penulis tulisan ini”
5) Tindakan sangat tidak terpuji jika mengaku-ngaku tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri atau melakukan plagiat/pembajakan
Selebihnya silahkan baca tulisan kami mengenai cara menunaikan amanat ilmiah: