NEGERI TANPA AYAH

Negeri tanpa ayah (fatherless country) adalah fenomena yang mau tidak mau harus diwaspadai oleh kita saat ini. Fenomena ini timbul ketika banyak ayah yang terjebak dalam peran sebagai pencari nafkah lahiriah keluarga semata, tanpa mau ambil peduli terhadap pendidikan dan pertumbuhan anak.

Sebuah penelitian yang dilakukan di tiga puluh tiga propinsi di Indonesia antara tahun 2009 sampai dengan 2010 memberikan kesimpulan bahwa negeri kita Indonesia layak untuk dinobatkan sebagai salah satu “Negeri Tanpa Ayah”. Bukan karena banyaknya anak yatim yang ditinggal mati ayahnya. Tapi karena para ayah yang tidak mau memperhatikan perkembangan anak-anak mereka.

Ibu Elly Risman, salah seorang peneliti yang terlibat dalam penelitian tersebut mengatakan bahwa setelah melakukan wawancara kepada sekian banyak pasangan suami istri, terbukti bahwa di Indonesia peran ayah dalam mendidik anak sangatlah minim. Banyak pasangan yang mengira bahwa di dalam keluarga, tugas ayah hanya bekerja dan mencari nafkah, sedangkan kewajiban mendidik dan merawat anak itu adalah tugas seorang ibu.

Kita dapati banyak ayah yang berangkat kerja bahkan sebelum anak-anaknya bangun, dan pulang setelah anak terlelap dalam tidurnya. Tiba di rumah dalam keadaan lelah tanpa sempat berinteraksi dengan putra-putrinya.

Kemalangan ini semakin ditambah dengan egoisme sang ayah di akhir pekan. Banyak ayah yang lebih memilih untuk menghabiskan waktu mereka di akhir pekan untuk mengurusi hobi dan hangout bersama rekan-rekannya daripada mengisinya bersama anak-anak.

Efek Ketiadaan Figur Ayah

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada anak laki-laki, ketiadaan figur ayah akan menyebabkan anak laki-laki termotivasi melakukan perilaku negatif seperti merokok, mengkonsumsi minuman keras dan narkoba, menonton pornografi, terjerumus pada kenakalan remaja dan perilaku negatif lainnya.

Sementara itu bagi anak perempuan, kosongnya figur ayah dalam hidupnya akan mendorong munculnya rasa tidak aman karena persepsi terhadap tidak adanya perlindungan dalam kesehariannya. Hal ini mempengaruhi pandangannya terhadap lawan jenis, diri sendiri, dan dunia sekitarnya. Anak perempuan akan lebih mudah terjatuh pada pergaulan bebas, bahkan sampai pada perzinahan na’udzubillah.

Sebaliknya, keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak tentu memberikan pengaruh yang sangat positif. Anak yang mengalami hubungan yang intensif dengan ayahnya semenjak lahir akan tumbuh menjadi anak yang memiliki emosi yang aman (emotionally secure). Dia akan memiliki rasa percaya diri untuk mengeksplorasi dunia sekitar, dan ketika tumbuh dewasa mereka akan dapat mampu membangun relasi sosial yang baik dan relatif tidak bermasalah.

Selain itu, kehadiran ayah dalam keluarga juga akan berperan positif terhadap sang ibu. Dengan hadirnya figur ayah yang peduli di tengah-tengah keluarga akan mengurangi depresi (tekanan jiwa) pada sang ibu saat melakukan pengasuhan terhadap anak (maternal depression). Menurunnya depresi ibu tentu akan berdampak positif bagi pengasuhan terhadap anak.

Perintah di Dalam Al Quran bagi Para Ayah

Di dalam Islam sendiri, peran ayah telah diatur sedemikian rupa. Ayah adalah figur pemimpin yang bertugas untuk menjaga tidak hanya dirinya sendiri, tapi juga anggota keluarganya dari azab api neraka.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim: 6)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini dengan ucapan beliau,

“(Jagalah mereka dari api neraka) dengan mengajarkan ilmu dan adab (etika) kepada mereka.”

Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu ketika menafsirkan ayat ini beliau berkata,

“Lakukanlah ketaatan kepada Allah dan jagalah dirimu dari kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah, dan perintahkan keluargamu dengan dzikir, niscaya Allah Azza wa Jalla akan menyelamatkanmu dari neraka”.

Mujahid rahimahullah mengatakan,

“Bertakwalah kepada Allah, dan perintahkan keluargamu agar bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla ”.

Qatadah rahimahullah berkata,

“Hendaknya dia memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Allah dan melarang mereka dari kemaksiatan kepada Allah Azza wa Jalla, dan mengatur mereka dengan perintah Allah Azza wa Jalla, memerintahkan mereka untuk melaksanakan perintah Allah Azza wa Jalla, dan membantu mereka untuk melaksanakan perintah Allah. Maka jika engkau melihat suatu kemaksiatan yang merupakan larangan Allah, maka engkau harus menghentikan dan melarang keluargamu dari kemaksiatan itu”.

Dari tafsiran-tafsiran ini, bisa kita simpulkan bahwa ayah hendaknya berperan aktif di dalam mendidik keluarganya. Bukan hanya semata-mata sebagai pencari nafkah, tapi juga menjadi sosok pendidik di tengah-tengah keluarganya.

Tugas mendidik anak pada dasarnya adalah tugas para ayah. Bukan sekolah, madrasah atau pondok pesantren. Institusi pendidikan pada hakikatnya hanya menjadi asisten yang membantu orang tua. Tugas utama mendidik anak tetap berada di pundak seorang ayah.

Adalah tanggungjawab ayah untuk mengarahkan anak-anaknya agar menjadi orang-orang yang shalih. Dan tentu saja sang ayah akan dimintai pertanggungjawabannya kelak oleh Allah subhanahu wata’ala.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ, وَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ, الإِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ, وَ الرَّجُلُ رَاعٍ فِيْ بَيْتِهِ وَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang pria adalah pemimpin di rumahnya dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Ayah-ayah Teladan di Dalam Al Qur’an

Apabila kita menelaah Al Qur’an maka kita akan dapati bahwa para Nabi sangat perhatian terhadap keadaan anak-anak mereka. Selalu mengajak anak-anak mereka kepada ketaatan, melarang mereka dari perbuatan munkar dan senantiasa mendoakan kebaikan kepada mereka.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, mengisahkan doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Ya Rabb-ku, Jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (Ibrahim: 35)

Beliau tidak mencukupkan doa beliau hanya untuk kebaikan diri beliau, akan tetapi juga mendoakan anak keturunan beliau agar dijauhkan oleh Allah subhanahu wata’ala dari perbuatan syirik.

Demikian juga Allah mengisahkan tentang keadaan Nabi Ismail ‘alaihis salaam,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (55)

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabb-nya.” (Maryam: 54-55)

Di sini Allah ta’ala memuji Nabi Ismail. Kenapa? Karena sesungguhnya dia seorang pemimpin yang baik bagi keluarganya. Dia memerintahkan keluarganya shalat, zakat dan menyuruh mereka untuk mentaati Allah. Sesungguhnya kepemimpinan inilah yang diperintahkan Allah kepada para nabi-Nya. Tidak ada seorang nabi pun melainkan dia telah mencurahkan usahanya dalam mendidik anak-anaknya.

Demikian juga kita bisa lihat penjagaan yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub terhadap anaknya Yusuf alaihissalaam, tatkala saudara-saudara Yusuf ‘alaihis salam berkata kepada bapaknya,

قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ (11) أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (12) قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ (13)

“Mereka berkata, “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya. Berkata Ya’qub, “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku, dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah dari padanya.” (Yusuf: 11-13)

Nabi Ya’qub sebagai seorang bapak mengkhawatirkan anaknya untuk bersama orang yang tidak akan menjaganya. Beliau berkata,

قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ

“Berkata Ya’qub, “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku, dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah dari padanya.” (Yusuf: 13)

Jadi inilah seharusnya yang diperbuat oleh para ayah. Mereka selalu memperhatikan keadaan anak-anak mereka. Tidak membiarkan mereka di jalan-jalan, di tempat-tempat maksiat, bergaul dengan sembarangan orang. Tapi yang wajib bagi ayah adalah mengontrol anak-anak mereka, dengan siapa mereka berteman, di mana mereka bergaul, agar mereka tidak terjerumus kepada perbuatan yang membahayakan dunia, apalagi akhirat mereka.

Perhatian terhadap pengajaran aqidah yang shahihah kepada anak-anak juga ditunjukkan oleh Nabi Ya’qub alaihissalaam, sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah di dalam Al Qur’an,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah ilah-mu dan ilah nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Ilah Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (Al Baqarah: 133)

Lihatlah perhatian Nabi Ya’qub terhadap aqidah anak-anak beliau. Ketika akan meninggal, tidak lah beliau bertanya tentang bagaimana harta, pekerjaan, atau kedudukan anak-anaknya. Akan tetapi yang beliau tanyakan apa yang akan disembah oleh anak keturunan beliau setelah beliau wafat.

Inilah teladan yang harusnya dicontoh para ayah. Keteladanan yang muncul dari para nabi pilihan Allah. Bukan keteladanan dari pola hidup barat yang rusak di mana manusia hanya menjadikan materi sebagai standar baiknya kehidupan mereka.

Sebuah Renungan

Wahai Ayah, kembalilah engkau ke rumah…

Habiskanlah lebih banyak waktumu bersama putra-putrimu. Mereka tak hanya butuh nafkah dari pekerjaanmu, tapi mereka juga butuh perhatian dan kasih sayangmu

Wahai ayah, kembalilah engkau ke rumah…

Peluk dan ciumlah anak-anakmu. Ajak mereka bicara tentang keseharian mereka, tanyakan apa yang menjadi cita-cita mereka sehingga engkau bisa ikut berperan meraihnya.

Wahai ayah, kembalilah engkau ke rumah…

Buanglah sifat egoismu. Jabatan, karir dan kesenanganmu tiadakan berarti bila anak-anakmu kehilangan figur panutan.

Wahai ayah, kembalilah engkau ke rumah…

Jangan biarkan negeri ini menjadi negeri tanpa ayah.

sumber: http://wirabachrun.com/2016/04/08/negeri-tanpa-ayah/

[Kitabut Tauhid 3] Hukum Jimat 02

catatan: besok, Ahad pukul 17.00WIB, quis bulanan akan aktif. quis akan dibuka dari hari Ahad hingga hari rabu pukul 17.00WIB. yuk muraja’ah 8 materi terakhir kitabut tauhidnya.


Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Memakai gelang, benang, dan yang sejenisnya dengan tujuan untuk menghilangkan atau menangkal bencana (menurut dugaan yang melakukannya) dengan tujuan untuk menghilangkan atau menangkal musibah, termasuk perbuatan kesyirikan.
  • Asalnya, perbuatan tersebut tergolong syirik kecil, karena pada umumnya mereka yang melakukannya meyakini bahwa gelang tersebut hanyalah sebab saja, yang dengan sebab tersebut maka Allâh -‘Azza wa Jalla- akan menghilangkan atau menghindarkan bencana.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Takwa dan Akhlak Mulia Sebab Masuk Surga

Hadits 14
Takwa dan Akhlak Mulia Sebab Masuk Surga

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ الْجَنَّةَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga adalah Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.”([1])

Hadits ini berisi dua pembahasan yang bisa memasukkan ke dalam surga yaitu takwa dan husnul khuluq.

  • Takwa

التَّقْوَى dalam bahasa arab diambil dari kata الْوِقَايَةُ yang bermakna penghalang atau pelindung, yaitu engkau menjadikan penghalang antara engkau dan azab Allah. Maka segala perkara yang bisa menghalangi kita dari masuk ke dalam azab Allah disebut dengan takwa. Oleh karena itu, takwa secara umum adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah kapan pun dan di mana pun. Sebagaimana wasiat Nabi kepada seorang sahabat,

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.” ([2])

Karena sebagian orang hanya bertakwa di media sosial, menampilkan dirinya seakan-akan seorang Ustadz dengan nasehat-nasehatnya, padahal di rumahnya dia tidak menampilkan akhlak yang baik terhadap istrinya atau anaknya. Sebagian orang hanya bertakwa ketika berada di negerinya, setelah ke luar dari negerinya ia kemudian melepas ketakwaannya. Sikap yang demikian tidak disebut dengan takwa, yang namanya takwa adalah bertakwa di mana pun kita berada.

Demikian pula takwa itu dilakukan kapan pun, ketika berada di hadapan banyak orang dan ketika sendirian. Karena sebagian orang ketika berada di hadapan banyak orang dia menampilkan seperti wali-wali Allah tetapi ketika sendirian dia menjadi wali-wali setan.

Sayangnya walaupun takwa adalah kalimat yang ringkas dan begitu sering diwasiatkan oleh para khatib dan para penceramah, tetapi sering kali takwa itu tidak masuk ke dalam hati kita. Kebanyakan orang hanya mendengarkannya tanpa meresapi di dalam hatinya.

Padahal takwa adalah hal yang sangat luar biasa, dapat mengantarkan seseorang ke dalam surga. Allah berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. ‘Ali Imran : 133)

Oleh karena itu, setiap muslim wajib berusaha untuk bertakwa kepada Allah semaksimal yang dia bisa lakukan walaupun dengan bersedekah separuh kurma. Nabi bersabda,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Selamatkanlah diri kalian dari siksa neraka, walaupun dengan separuh kurma. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka cukup dengan bertutur kata yang baik. ([3])

Seorang muslim hendaknya berusaha melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-larangan Allah. Jika terjatuh ke dalam maksiat maka dia segera bertobat kepada Allah. Karena takwa adalah hal yang banyak menyebabkan seorang muslim masuk ke dalam surga.

  • Akhlak Mulia

Perkara kedua yang tidak kalah penting yang bisa memasukkan ke dalam surga adalah husnul khuluq (akhlak yang baik).

Imam Malik mengatakan,

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَسَّمَ بَيْنَ عِبَادِهِ الْأَعْمَالَ كَمَا قَسَّمَ الْأَرْزَاقَ فَرُبَّ رَجُلٍ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّلَاةِ وَلَمْ يُفْتَحْ لَهُ فِي الصَّوْمِ وَآخَرَ فَتَحَ اللَّهُ لَهُ فِي الْجِهَادِ وَلَمْ يَفْتَحْ لَهُ فِي الصَّلَاةِ وَآخَرَ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّدَقَةِ وَلَمْ يُفْتَحْ لَهُ فِي الصِّيَامِ

“Sesungguhnya Allah  membagi amalan-amalan di antara hamba-Nya sebagaimana membagi rezeki. Terkadang seorang hamba dibukakan baginya pintu shalat, tapi tidak terbuka baginya pintu puasa (maksudnya memperbanyak yang sunat). Ada yang dibukankan baginya pintu jihad, tapi tidak dalam shalat. Ada pula yang dibukakan baginya pintu sedekah tapi tidak dalam berpuasa.” ([4])

Allah memberikan pintu-pintu rezeki yang berbeda-beda di antara manusia. Ada yang menjadi pedagang, petani, pengajar, dokter, dengan berbagai pintu rezeki tersebut dia bisa meraih rezeki. Demikian pula dalam masalah surga, Allah membukakan berbagai pintu surga. Seseorang yang sudah diberikan pintu kebaikan oleh Allah maka hendaknya dia berusaha untuk menekuninya.

Dan di antara pintu-pintu kebaikan yang terbaik adalah pintu akhlak mulia. Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim berusaha untuk menarbiah dan melatih dirinya untuk berakhlak mulia, karena memiliki akhlak yang mulia adalah sesuatu yang perlu dilatih. Dimulai dari berusaha menjaga lisan, menjaga tulisan, menjaga sikap, dan seterusnya. Nabi bersabda,

أَنَا زَعِيمُ بِبَيْتٍ فِي أَعَلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku menjamin istana di atas surga bagi orang yang memperindah akhlaknya.” ([5])

Artinya akhlak itu bisa diusahakan, ada orang yang awalnya pelit bisa jadi kemudian dermawan, ada orang pemarah bisa jadi kemudian penyabar, ada orang yang suaranya keras ketika berbicara kemudian menjadi lembut. Sebagaimana sahabat Tsabit bin Qais yang dijuluki جَاهِرُ الصَّوْتِ ketika berbicara suaranya keras, bahkan saat berbicara dengan Nabi. Tatkala Allah menegurnya dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat: 2)

Maka Tsabit bin Qais pun berusaha untuk melembutkan suaranya dan dia beberharapasil melakukannya.

Tidak ada satu pun dari kita yang layak mengklaim dirinya sudah menerapkan akhlak mulia yang sempurna. Oleh karena itu, kita berusaha mengubah akhlak-akhlak buruk yang mungkin selama ini ada pada diri kita. Jangan sampai hari-hari yang akan datang kita lewati tanpa adanya perjuangan untuk mengubah akhlak kita ke arah yang lebih baik.

Seorang suami hendaknya mengevaluasi dirinya bagaimana sikapnya kepada istrinya setahun yang lalu, apakah setahun terakhir sudah semakin membaik. Seorang istri hendaknya mengevaluasi dirinya bagaimana sikapnya kepada suaminya setahun yang lalu, apakah setahun terakhir sudah semakin membaik. Ia pikirkan terlebih dahulu bagaimana akhlaknya kepada orang tuanya, anak-anaknya, karib kerabatnya, dan orang-orang terdekatnya. Bukan kepada kawan-kawannya atau orang-orang yang jauh darinya tanpa berusaha terlebih dahulu mengecek bagaimana sikapnya terhadap orang-orang terdekatnya. Jangan ia biarkan dirinya berakhlak begitu saja, harus ada peningkatan karena akhlak mulia harus diperjuangkan.

Mengapa akhlak mulia sangat mudah memasukkan ke dalam surga, rahasianya karena apabila seseorang sudah mencapai derajat akhlak yang mulia maka argo  pahalanya akan terus berjalan tanpa henti. Ketika dia bersama istrinya, dia menampilkan akhlak mulia bagaimana bermuamalah dengan istrinya. Kemudian ketika dia bersama dengan anaknya, dia menampilkan akhlak mulia bagaimana bermuamalah dengan anaknya. Ketika bersama orang tuanya, tetangganya, sopirnya, atasannya, bawahannya, bahkan ketika bersama dengan musuhnya dia selalu berusaha menampilkan akhlak yang mulia. Sepanjang harinya, kapan pun dan di mana pun dia bermuamalah dengan orang lain dia berusaha menampilkan akhlak yang mulia. Hal ini akan terus menambah argo pahalanya. Berbeda halnya ibadah lain semisal shalat, yang hanya dilaksanakan sebentar saja. Membaca Al Quran yang mungkin maksimal setengah jam. Setelah itu, argo pahala shalatnya atau membaca Al Qurannya akan teberharapenti. Setelah ibadah-ibadah tersebut yang bisa dia andalkan adalah akhlak mulianya tatkala berjumpa dengan orang-orang di sekitarnya.

Apabila kita bandingkan keadaan kita sekarang dengan para salaf dahulu. Mereka bisa berdiri shalat malam begitu lama, membaca Al Quran berjam-jam, bersedekah dalam jumlah yang banyak. Sedangkan kita bangun lebih cepat saja susah, membaca Al Quran malas-malasan, sedekah kepada orang tua saja harus berpikir panjang. Pintu-pintu ibadah berat kita lakukan karena kemalasan kita. Namun ada pintu kebaikan yang Allah buka, siapa pun bisa melaksanakannya -jika berusaha-, itulah akhlak mulia.

Definisi Akhlak Mulia

Sebagian ulama berusaha menyedeberharapanakan makna akhlak mulia. Hasan Al-Bashri mengatakan,

حَقِيْقَةُ حُسْنُ الْخُلُقِ بَذْلُ المَعرُوْفِ  وَكَفُّ الأَذَى وطَلاَقَةُ الوَجْهِ

“Hakikat akhlak mulia adalah mudah berbuat baik kepada orang lain, tidak mengganggu orang lain, dan wajah yang sering berseri-seri karena murah senyum.” ([6])

Jika pada diri seseorang terkumpul tiga sifat ini, maka dia telah dikatakan memiliki akhlak yang baik.

Pertama, berusaha membantu orang lain, jika ada orang yang butuh bantuan maka dia berusaha membantunya, jika ada orang yang butuh nasehat maka dia menasihatinya.

Kedua, dia tidak mengganggu orang lain, baik dengan lisan maupun tulisan.

Ketiga, murah senyum, karena orang yang murah senyum itu menggambarkan dia adalah orang yang tawadhu’, karena siapa pun dia senyumi tanpa memandang strata sosialnya. Sebagaimana dia murah senyum kepada atasannya, dia juga murah senyum kepada pembantunya. Sebagaimana dia murah senyum kepada orang kaya, dia juga murah senyum kepada orang miskin. Hendaknya kebaikan semisal senyum walaupun tampak sepele tetapi jangan diremehkan. Nabi bersabda,

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri.” ([7])

Seseorang yang sulit tersenyum menandakan bahwa ada sesuatu yang tidak baik di dalam hatinya. Karena itulah, apabila tiga sifat ini terkumpul pada diri seseorang, maka dia dikatakan telah berakhlak mulia.

Sebagian ulama lain memberikan batasan yang semakna dengan hadits Nabi,

أَن تَأْتِيَ إِلَى النَّاسِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْكَ

“Engkau berbuat kepada orang lain sesuatu yang engkau suka jika diperlakukan untuk dirimu.”([8])

Sebagai contoh, bagaimana berakhlak baik kepada orang tua kita. Caranya adalah dengan merenungkan terlebih dahulu bagaimana jika kita menjadi orang tua, apa yang kita inginkan kelak dari anak kita. Semisal kita ingin ditelepon setiap hari oleh anak kita, maka demikian pula yang kita lakukan terhadap orang tua kita.

Atau seorang istri bagaimana berakhlak mulia kepada suaminya. Maka renungkan seandainya dia di posisi suami, sekiranya apa yang dia inginkan dari istrinya. Demikian seterusnya, jika kita bisa melakukannya maka kita telah beberharapasil mencapai derajat akhlak mulia. Nabi bersabda,

وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا، وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: هَذِهِ مُهْلِكَتِي، ثُمَّ تَنْكَشِفُ وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ، فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: هَذِهِ هَذِهِ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Kemudian datanglah fitnah yang menjadikan fitnah sebelumnya terasa ringan dibandingkan fitnah setelahnya. Datang fitnah, mukmin berkata, ‘Ini yang akan membinasakan (agamaku).’ Lalu fitnah itu pergi. Kemudian datang lagi fitnah yang lain, mukmin kembali berkata, ‘Ini yang membinasakan (agamaku).’ Barang siapa yang ingin yang ingin diselamatkan dari api Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga hendaklah kematian mendatanginya dalam keadaan ia beriman kepada Allah dan hari akhirat dan hendaklah ia bergaul dengan manusia sebagaimana ia suka untuk diperlakukan dengannya. ([9])

Seorang Syaikh pernah bercerita kepada kami tentang pengalamannya. Dia pernah bermimpi, di dalam mimpinya ada suara yang terdengar menyuruhnya mendatangi Fulan bin Fulan seorang lelaki saleh. Awalnya dia tidak hiraukan mimpi tersebut, tetapi dia kembali memimpikan hal tersebut hingga tiga kali. Akhirnya dia menjalankan wasiat di mimpinya dan mendatangi Fulan tersebut. Ketika bertemu dengannya, Syaikh ini mendesak si Fulan untuk memberitahunya amalan apa gerangan yang dia lakukan sehingga dia disuruh untuk mendatanginya. Syaikh ini yakin bahwasanya mimpinya itu bukan sembarangan atau datang dari setan.

Awalnya si Fulan tersebut menolak untuk memberitahunya karena dia merasa dirinya biasa-biasa saja, tidak memiliki amalan luar biasa dari shalat, puasa, sedekah, atau amalan lainnya. Sampai akhirnya dia angkat bicara setelah Syaikh ini terus mendesaknya, yaitu tentang sebuah rahasia yang dia sembunyikan kepada semua orang.

Dia pun bercerita bahwa dahulu ketika dia menikah dengan istrinya, saat malam pengantin, dia kaget mengetahui ternyata istrinya telah hamil. Tentu dirinya sangat terpukul mengetahui wanita yang diharapkannya ternyata telah mengandung anak orang lain. Seketika dia mengetahuinya, istrinya sontak mengatakan kepadanya, “Wahai Fulan, tutupilah aibku, semoga Allah akan menutupi aibmu.” Akhirnya dia pun merenungi perkataan tersebut dan memutuskan untuk merahasiakan perihal tersebut serta berusaha tetap mempertahankan keutuhan rumah tangganya, walaupun hak sebagai suami untuk mencampuri istrinya dia tidak bisa dapatkan. Terlebih lagi sebagian ulama memandang bahwa menikahi wanita dalam kondisi hami adalah tidak sah.

Ketika anak di kandungan istrinya tersebut lahir, bayi itu kemudian diletakkan di depan pintu masjid sebelum waktu subuh tiba sambil menangis meronta-ronta. Jamaah shalat subuh kaget melihat pemandangan itu. Mereka saling memandang satu sama lain, adakah yang sudi mengambil dan merawatnya. Akhirnya si Fulan sendirilah yang menunjuk dirinya siap untuk merawat bayi tersebut.

Akhirnya dia membawa bayi tersebut. Orang-orang pun memahami bahwa anak itu bukan anak kandungnya, dan istrinya tetap bisa merawat anak kandungnya, dan yang terpenting dia bisa menutupi aib istrinya tanpa diketahui oleh orang lain. Maka si Fulan ini menyampaikan kepada Syaikh, bahwa itulah amalan yang bisa dia banggakan kelak ketika berada di hadapan Allah, yaitu menutup aib orang.

Sangat disayangkan akhlak tersebut yaitu menutup aib orang lain merupakan akhlak yang teberharapitung sulit dipraktikkan. Bagaimana seorang suami terkadang menceritakan keburukan istrinya di hadapan teman-temannya, demikian pula seorang istri terkadang menceritakan keburukan suaminya di depan teman-teman pengajiannya. Padahal mungkin saja dia mengaku sebagai orang yang sudah mengenal sunah-sunah Nabi. Sebaliknya sebagian orang yang mungkin penampilannya biasa-biasa saja, tetapi baktinya kepada orang tuanya luar biasa, kejujurannya dalam berdagang luar biasa, Perhatiannya kepada tetangga luar biasa.

Oleh karena itu, dalam kehidupan yang begitu singkat ini hendaknya setiap orang berusaha berakhlak mulia semaksimal mungkin. Jika ada masalah dengan kawan atau tetangganya, lupakan dan maafkanlah dia. Allah berfirman,

وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ ۖ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

“Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (QS. Al-Hijr : 85)

Kemudian setiap orang juga selain usahanya untuk mengubah akhlaknya menjadi lebih baik, dia juga selalu memohon kepada Allah agar membantu mengubahnya. Di antaranya dengan doa,

اَللّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang baik. Tidak ada yang bisa menunjuki kepada yang terbaik melainkan Engkau. Palingkanlah diriku dari kejelekan akhlak. Tidak ada yang bisa memalingkan kejelekannya dariku melainkan Engkau.” ([10])

Bahkan tidak hanya untuk dirinya, tetapi apabila pada istrinya atau pada suaminya terdapat akhlak-akhlak buruk maka dia juga doakan agar Allah memberinya perangai dan akhlak yang  baik. Dia khususkan pada waktu-waktu tertentu untuk mendoakan istrinya atau suaminya, anaknya atau orang tuanya, dan orang-orang yang pernah berjasa kepadanya. Karena doa itu bukan hal sepele, kekuatannya benar-benar bisa mengubah hal yang buruk menjadi baik jika Allah menghendaki. Kita saja yang sering kali tidak yakin terhadap kekuatan doa itu.

Maka sekali lagi seorang muslim hendaknya Perhatian dengan hal ini, dan percaya bahwa hal itu bisa diubah. Orang yang tadinya pemarah bisa jadi penyabar jika dia berusaha mengubahnya, orang yang tadinya temperamen bisa jadi orang lembut jika dia berusaha mengubahnya dan dia memohon kepada Allah agar membantunya. Pintu-pintu surga itu banyak, hendaknya kita berusaha mengambil jalur pintu ini.

Footnote:

___________

([1]) HR. Tirmidzi, no. 2004 dan Ibnu Majah, no. 4246

([2]) HR. Tirmidzi, no. 1987 dan Ahmad, 21403

([3]) HR. Bukhari no. 6023 dan Muslim no. 1016

([4]) Al-Istidzkar, 5/146

([5]) HR. Abu Dawud no. 4800

([6]) Al-Minhaaj Syarh Sahih Muslim, karya An-Nawawi, 15/78

([7]) HR. Muslim no. 2626

([8]) HR. Ahmad, no. 23164

([9]) HR. Muslim, no. 1844

([10]) HR. Muslim no. 771

sumber: https://bekalislam.firanda.com/6565-takwa-dan-akhlak-mulia-sebab-masuk-surga-hadis-14.html

Doa Mohon Perlindungan dari Tujuh Perkara

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ

ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL ‘AJZI
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan

وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ

WAL KASALI WAL JUBNI
Rasa malas dan sifat pengecut

وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ

WAL HARAMI WAL BUKHLI
Pikun dan sifat kikir (bakhil)

وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

WA A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABIL QOBRI
Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur

وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT
Serta bencana kehidupan dan kematian

Artinya:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, sifat pengecut, pikun, dan sifat kikir (bakhil). Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.”

(HR. Muslim no. 2706)

sumber: https://yufidia.com/5047-doa-mohon-perlindungan-dari-tujuh-perkara.html

Cara Mengobati Hati yang Sempit dan Depresi

Pertanyaan:

Fadhilatusy-Syaikh, terkadang saya merasakan sempitnya hati dan depresi. Apakah sebabnya dan bagaimanakah cara mengobati keduanya? Semoga Allah membalas Anda dengan pahala.

Jawaban Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin:

Tentang sebabnya, saya tidak dapat mengetahui hal itu. Karena penyebab depresi dan sempitnya hati itu berbeda-beda.

Tetapi, ada satu hal yang bisa bermanfaat untuk seseorang dalam keadaan ini. Yaitu hendaknya ia berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين

/lā ilāha illā anta subhānaka innī kuntu minazhzhālimīn/

“Tiada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Engkau, Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim” [1].

Ini yang pertama. Kedua, hendaknya ia membaca doa dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

«اللهم إني عبدك ابن عبدك ابن أمتك، ناصيتي بيدك، ماضٍ في حكمك، عدلٌ في قضاؤك، أسألك اللهم بكل اسمٍ هو لك سميت به نفسك، أو أنزلته في كتابك، أو علمته أحداً من خلقك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك، أن تجعل القرآن العظيم ربيع قلبي ونور صدري وجلاء جزني وذهاب همي وغمي»

/Allāhumma innī ‘abduk, ibnu ‘abdik, ibnu amatik, nāshiyatī biyadik, mādhin fiyya hukmuk, ‘adlun fiyya qadhā’uk, as’alukallāhumma bikullismin huwa lak, sammaita bihī nafsak, au anzaltahu fī kitābik, au a’lantahū ahadan min khalqik, awista’tsarta fī ‘ilmilgaibi ‘indak, an taj’alal qur’āna rabī‘a qalbī wa nūra shadrī wa jalā’a huznī wa dzahaba hammī wa ghammī/

Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, telah berlalu keputusan-Mu padaku, keputusan-Mu adil untukku. Aku meminta, Ya Allah, dengan seluruh nama yang menjadi milik Engkau, yang Engkau menamai diri-Mu dengannya, yang Engkau turunkan di kitab-Mu, yang Engkau telah ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an Al-’Azhim sebagai musim semi (penyejuk) hatiku, cahaya bagi dadaku, pengusir kesedihanku, dan penghilang rasa gundah gulanaku” [2].

Sesungguhnya ini adalah obat yang ampuh dan bermanfaat. Setiap insan hendaknya memperbanyak dzikrullah (mengingat Allah). Allah Ta’ala akan angkat darinya rasa duka dan gundah gulana berdasarkan firman Allah Ta’ala,

ألا بذكر الله تطمئن القلوب

“… Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Seyogyanya setiap insan memperbanyak zikir-zikir yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam di pagi dan petang hari. Kebanyakan yang memudaratkan manusia pada perkara-perkara ini adalah karena lalai dari mengingat Allah Ta’ala dan lalai dari zikir-zikir syar’i. Na’am.

***

Penulis: Muhammad Fadhli, ST.

Catatan Kaki:[1] Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

«دَعْوَةُ ذِي النونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: ﴿ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِني كُنْتُ مِنَ الظالِمِينَ ﴾ [الأنبياء: 87]، فَإِنهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَط إِلا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ»

“Doa Dzun-Nun ketika ia berdoa di dalam perut ikan paus (adalah), ‘Tiada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ (QS. Al-Anbiya: 87). Tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam keadaan apapun, melainkan Allah akan ijabah (kabulkan) untuknya” (HR. At-Tirmidzi no. 3505, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).[2] Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang tertimpa kegelisahan atau kesedihan, lalu ia membaca, [lalu disebutkan doa di atas]. Lalu Nabi bersabda,

إلا أذهبَ اللهُ همَّهُ و حزنَه ، و أبدلَه مكانَه فرجًا قال : فقيل : يا رسولَ اللهِ ألا نتعلَّمُها ؟ فقال بلى ، ينبغي لمن سمعَها أن يتعلَّمَها

“ … kecuali Allah ‘Azza wa Jalla singkirkan kesedihannya dan gantikan rasa sedihnya dengan rasa bahagia.” Mereka (para Sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah semestinya kami mempelajari kalimat-kalimat tersebut?” Beliau bersabda, “Tentu saja! Sepatutnya bagi yang telah mendengarnya untuk mempelajarinya” (HR. Ahmad no. 3712, Ibnu Hibban no. 972, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 199).

Sumber: https://muslim.or.id/67832-cara-mengobati-hati-yang-sempit-dan-depresi.html

Doa Ketika Menjenguk Orang Sakit

Doa ini bisa dibacakan ketika menjenguk orang sakit ketika menjenguk. Jadi menjenguk, bukan hanya membawakan buah atau makanan enak, do’a itu lebih penting karena ia butuh cepat sembuh. Tentu do’a akan memudahkan segalanya.

Lihat kisah berikut.

‘Abdul ‘Aziz dan Tsabit pernah menemui Anas bin Malik. Tsabit berkata pada Anas saat itu, “Wahai Abu Hamzah (nama kunyah dari Anas), aku sakit.” Anas berkata, maukah aku meruqyahmu (menyembuhkanmu) dengan ruqyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Tsabit pun menjawab, “Iya, boleh.” Lalu Anas membacakan do’a,

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

ALLAHUMMA RABBAN NAAS MUDZHIBAL BA’SI ISYFI ANTASY-SYAAFII LAA SYAFIYA ILLAA ANTA SYIFAA’AN LAA YUGHAADIRU SAQOMAN.

Artinya:

“Ya Allah Wahai Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakitnya, sembukanlah ia. (Hanya) Engkaulah yang dapat menyembuhkannya, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak kambuh lagi.” ( HR. Bukhari, no. 5742; Muslim, no. 2191)

Imam Nawawi membawakan judul bab dalam Shahih Muslim, “Disunnahkan meruqyah orang sakit.”

Meruqyah orang sakit yang dijenguk adalah dengan membaca do’a di atas.

Kita juga dapat ambil pelajaran pula bahwa meruqyah itu bukan hanya pada kesurupan jin, namun pada penyakit lainnya pun bisa.

Semoga bisa diamalkan ketika menjenguk orang sakit.

Sore hari ba’da ‘Ashar di hari Ahad, 7 Muharram 1438 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/14563-doa-ketika-menjenguk-orang-sakit.html

Jalan Menuju Qanaah

Qana’ah (rela dan menerima pemberian Allah subhanahu wata’alaapa adanya) adalah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan, kecuali bagi siapa yang diberikan taufik dan petunjuk serta dijaga oleh Allah dari keburukan jiwa, kebakhilan dan ketamakannya. Karena manusia diciptakan dalam keadan memiliki rasa cinta terhadap kepemilikan harta.

Namun meskipun demikian kita dituntut untuk memerangi hawa nafsu supaya bisa menekan sifat tamak dan membimbingnya menuju sikap zuhud dan qana’ah. Berikut ini beberapa kiat menuju qana’ah yang jika kita laksanakan maka dengan izin Allah seseorang akan dapat merealisasikan nya. Di antaranya yaitu:

1. Memperkuat Keimanan kepada Allah subhanahu wata’ala.

Juga membiasakan hati untuk menerima apa adanya dan merasa cukup terhadap pemberian Allah subhanahu wata’ala, karena hakikat kaya itu ada di dalam hati. Barangsiapa yang kaya hati maka dia mendapatkan nikmat kebahagiaan dan kerelaan meskipun dia tidak mendapatkan makan di hari itu.

Sebaliknya siapa yang hatinya fakir maka meskipun dia memilki dunia seisinya kecuali hanya satu dirham saja, maka dia memandang bahwa kekayaannya masih kurang sedirham, dan dia masih terus merasa miskin sebelum mendapatkan dirham itu.

2. Yaqin bahwa Rizki Telah Tertulis.

Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya, “Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Seorang hamba hanya diperintah kan untuk berusaha dan bekerja dengan keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala yang memberinya rizki dan bahwa rizkinya telah tertulis.

3. Memikirkan Ayat-ayat al-Qur’an yang Agung.

Terutama sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja (usaha). ‘Amir bin Abdi Qais pernah berkata, “Empat ayat di dalam Kitabullah apabila aku membacanya di sore hari maka aku tidak peduli atas apa yang terjadi padaku di sore itu, dan apabila aku membacanya di pagi hari maka aku tidak peduli dengan apa aku akan berpagi-pagi, (yaitu):

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathiir:2)

Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS.Yunus:107)

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud:6)

Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. ath-Thalaq:7)

4. Ketahui Hikmah Perbedaan Rizki

Di antara hikmah Allah subhanahu wata’ala menentu kan perbedaan rizki dan tingkatan seorang hamba dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas perekonomian, serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberi kan pelayanan dan jasa.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentu kan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. az-Zukhruf:32)

Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS.Al an’am 165)

5. Banyak Memohon Qana’ah kepada Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling qana’ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah subhanahu wata’ala agar diberikan qana’ah, beliau bedoa,
“Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi)

Dan karena saking qana’ahnya, beliau tidak meminta kepada Allah subhanahu wata’ala kecuali sekedar cukup untuk kehidu pan saja, dan meminta disedikitkan dalam dunia (harta) sebagaimana sabda beliau, “Ya Allah jadikan rizki keluarga Muhammad hanyalah kebutuhan pokok saja.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi)

6. Menyadari bahwa Rizki Tidak Diukur dengan Kepandaian

Kita harus menyadari bahwa rizki seseorang itu tidak tergantung kepada kecerdasan akal semata, kepada banyaknya aktivitas, keluasan ilmu, meskipun dalam sebagiannya itu merupakan sebab rizki, namun bukan ukuran secara pasti.

Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana’ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rizki lebih banyak daripada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri.

7. Melihat ke Bawah dalam Hal Dunia

Dalam urusan dunia hendaklah kita melihat kepada orang yang lebih rendah, jangan melihat kepada yang lebih tinggi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.”(HR.al-Bukhari dan Muslim)

Jika saat ini anda sedang sakit maka yakinlah bahwa selain anda masih ada lagi lebih parah sakitnya. Jika anda merasa fakir maka tentu di sana masih ada orang lain yang lebih fakir lagi, dan seterusnya. Jika anda melihat ada orang lain yang mendapatkan harta dan kedudukannya lebih dari anda, padahal dia tidak lebih pintar dan tidak lebih berilmu dibanding anda, maka mengapa anda tidak ingat bahwa anda telah mendapatkan sesuatu yang tidak dia dapatkan?

8. Membaca Kehidupan Salaf

Yakni melihat bagaimana keadaan mereka dalam menyikapi dunia, bagaimana kezuhudan mereka, qana’ah mereka terhadap yang mereka peroleh meskipun hanya sedikit. Di antara mereka ada yang memperolah harta yang melimpah, namun mereka justru memberikannya kepada yang lain dan yang lebih membutuhkan.

9. Menyadari Beratnya Tanggung Jawab Harta

Bahwa harta akan mengakibatkan keburukan dan bencana bagi pemilik nya jika dia tidak mendapatkan nya dengan cara yang baik serta tidak membelanjakannya dalam hal yang baik pula.

Ketika seorang hamba ditanya tantang umur, badan, dan ilmunya maka hanya ditanya dengan satu pertanyaan yakni untuk apa, namun tentang harta maka dia dihisab dua kali, yakni dari mana memperoleh dan ke mana membelanjakannya. Hal ini menunjukkan beratnya hisab orang yang diberi amanat harta yang banyak sehingga dia harus dihisab lebih lama dibanding orang yang lebih sedikit hartanya.

10. Melihat Realita bahwa Orang Fakir dan Orang Kaya Tidak Jauh Berbeda.

Karena seorang yang kaya tidak mungkin memanfaatkan seluruh kekayaannya dalam satu waktu sekaligus. Kita perhatikan orang yang paling kaya di dunia ini, dia tidak makan kecuali sebanyak yang dimakan orang fakir, bahkan mungkin lebih banyak yang dimakan orang fakir. Tidak mungkin dia makan lima puluh piring sekaligus, meskipun dia mampu untuk membeli dengan hartanya. Andaikan dia memiliki seratus potong baju maka dia hanya memakai sepotong saja, sama dengan yang dipakai orang fakir, dan harta selebihnya yang tidak dia manfaatkan maka itu relatif (nisbi).

Sungguh indah apa yang diucapkan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, “Para pemilik harta makan dan kami juga makan, mereka minum dan kami juga minum, mereka berpakaian kami juga berpakaian, mereka naik kendaraan dan kami pun naik kendaraan. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka lihat dan dilihat juga oleh selain mereka, lalu mereka menemui hisab atas harta itu sedang kita terbebas darinya.”

Sumber: “Al-Qana’ah, mafhumuha, manafi’uha, ath-thariq ilaiha,” hal 24-30, Ibrahim bin Muhammad al-Haqiil (Alsofwah)

sumber: https://pengusahamuslim.com/349-jalan-menuju-qanaah-rela-dan-menerima-pemberian-allah-apa-adanya.html

[Kitabut Tauhid 3] 31. Hukum Jimat 01

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

Mengingkari thaghut merupakan salah satu rukun dari kalimat laa ilaaha ilallaah dan termasuk prioritas dalam dakwah di jalan Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Ingin Berkah Ilmu, Tinggalkan Debat

Debat yang tercela adalah debat yang tidak memakai dasar ilmu, tanpa dalil. Contohnya lagi adalah debat dengan menggunakan otot, bukan argumen yang kuat.

Salah satu akibat suka berdebat yang tercela adalah menghilangkan keberkahan ilmu.

Moga kita diberikan hidayah dengan merenungkan nasihat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berikut ini:

Debat secara umum akan menghilangkan berkah. Telah disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari, dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الْخَصِمُ

Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling keras debatnya.” (HR. Bukhari, no. 4523; Muslim, no. 2668)

Yang dimaksud orang yang paling dibenci di sini adalah orang yang berdebat dengan cara yang keras.

Secara umum, orang yang suka berdebat (yang tercela) akan menghilangkan keberkahan pada ilmunya. Karena orang yang menjatuhkan diri dalam perdebatan (yang tercela) tujuannya hanya ingin dirinya menang. Itulah sebab, hilangnya berkah ilmu pada dirinya.

Adapun orang yang menginginkan kebenaran, maka kebenaran itu akan mudah diterima, tidak perlu dengan debat yang keras. Karena kebenaran itu begitu jelas dan terang benderang.

Coba lihat saja pada pelaku bid’ah yang ingin mendukung kebid’ahannya. Yang ada, keberkahan ilmu pada dirinya berkurang. Ia sama sekali tidak bertujuan untuk mencari kebenaran. Karena ia hanya ingin mencari-cari pembenaran untuk mendukung pendapatnya saja, bukan sejatinya mencari kebenaran.

Oleh karena itu, siapa saja yang berdebat hanya untuk cari menang, maka ia tidak diberi taufik dan tidak mendapatkan keberkahan ilmu. Adapun yang berdebat (berdiskusi) karena ingin meraih ilmu dan ingin meraih kebenaran serta menyanggah kebatilan, maka itulah yang diperintahkan. Hal ini disebutkan dalam ayat,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125) (Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Surat Al-Baqarah: 124. Dinukil dari Syarh Al-Kabair, hlm. 217-218)

Semoga bermanfaat faedah ilmu di pagi ini.

Referensi:

Al-Kabair ma’a Syarh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Cetakan pertama, tahun 2006. Imam Adz-Dzahabi. Penerbit Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah.

@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 15 Sya’ban 1437 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/13513-ingin-berkah-ilmu-tinggalkan-debat.html