Setiap Muslim Akan Menghadapi Ujian Dan Cobaan

Oleh
Ustadz Sa’id Yai, Lc

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186]

SEBAB TURUNNYA
Ayat ini diturunkan berhubungan dengan kisah yang terjadi di pemukiman al-Hârits bin al-Khazraj (Madinah) sebelum perang Badar. Kaum Muslimin ketika itu sedang berkumpul dengan kaum musyrikin dan orang-orang Yahudi. Datanglah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke tempat itu dan memberi salam. Di majlis tersebut, ada ‘Abdullâh bin Ubai bin Salûl, dia berkata, “Janganlah kalian mengotori kami!” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajak mereka untuk masuk ke dalam Islam dan membacakan al-Qur’ân kepada mereka. ‘Abdullâh bin Ubai menyahut, “Wahai lelaki! Apa yang engkau katakan bukanlah sesuatu yang bagus. Jika itu adalah sesuatu yang haq, maka janganlah kamu mengganggu kami dengan perkataan itu! Kembalilah ke hewan tungganganmu! Barang siapa mendatangimu, maka ceritakanlah perkataan itu!”

Perkataan itu sangat menyakitkan hati kaum Muslimin, sehingga terjadilah pertengkaran di majlis itu antara mereka dengan orang-orang kafir. Akhirnya, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan mereka. Setelah mereka tenang, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kembali ke tunggangannya dan pergi. Setelah itu, Allâh Azza wa Jalla menurunkan ayat ini yang berisi perintah untuk bersabar atas gangguan-gangguan orang-orang kafir.[1]

TAFSIR RINGKAS
Syaikh ‘Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allâh Azza wa Jalla mengabarkan dan mengatakan kepada kaum Mukminin bahwa mereka akan diuji pada harta mereka melalui (perintah untuk) mengeluarkan nafkah-nafkah wajib dan yang sunat serta terancam hilang harta untuk (berjuang) di jalan Allâh Azza wa Jalla . (Mereka juga akan diuji) pada jiwa-jiwa mereka dengan diberi berbagai beban berat bagi banyak orang, seperti jihad di jalan Allah atau tertimpa penyakit.

(Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati) berupa celaan terhadap kalian, agama, Kitab dan Rasul kalian … oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla berkata, ‘Jika kamu bersabar dan bertakwa’ maksudnya, jika kalian bersabar atas segala kejadian pada harta dan diri kalian berupa ujian, cobaan dan gangguan dari orang-orang zhalim, serta kalian dapat bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dalam kesabaran itu dengan niat mengharap wajah Allâh Azza wa Jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya, dan kalian tidak melampaui batas kesabaran yang ditentukan oleh syariat, maksudnya tidak boleh bersabar atau menahan diri pada saat syari’at mengharuskan membalas perlakuan musuh-musuh Allâh Azza wa Jalla . (Maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan) artinya itu termasuk perkara yang harus didahulukan dan dimeraihnya dengan berlomba-lomba. Tidak ada yang diberi taufik untuk dapat melakukan ini kecuali orang-orang yang memiliki tekad kuat dan semangat tinggi. Allah k berfirman, (artinya): ‘Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.[2][3]’ .”

Ujian Adalah Sunnah Kauniyah Pada Setiap Muslim
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ

Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu [Âli ‘Imrân/3: 186]

Ujian adalah sunnah kauniyah (ketetapan Allâh Azza wa Jalla yang pasti terjadi) bagi setiap Muslim. Seorang Muslim tidak mungkin mengelak dari ujian tersebut. Oleh karena itu, Allâh memberi penekanan pada firman-Nya لَتُبْلَوُنَّ dengan menggunakan dua huruf (yaitu huruf lam dan nun yang bertasydid, sehingga makna kalimat tersebut, kamu sungguh sungguh atau benar-benar akan diuji).”[4]

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Firman Allâh (yang artinya), “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu” seperti firman-Nya (yang artinya) : Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn'[5] . Seorang Mukmin pasti akan diuji pada harta, jiwa, anak dan keluarganya.”[6]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ

Demikianlah, apabila Allâh menghendaki niscaya Allâh akan membinasakan mereka, tetapi Allâh hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain [Muhammad/47: 4]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ عَلَى الْقَبْرِ فَيَتَمَرَّغُ عَلَيْهِ وَيَقُولُ: يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَكَانَ صَاحِبِ هَذَا الْقَبْرِ وَلَيْسَ بِهِ الدِّينُ إِلَّا الْبَلَاءُ

Demi yang jiwaku berada di tangannya! Dunia ini tidak akan fana, kecuali setelah ada seseorang yang melewati sebuah kuburan dan merenung lama di dekatnya seraya berkata, ‘Seandainya aku dulu seperti penghuni kubur ini.” Bukan agama yang mendorong dia melakukan ini namun hanya ujian saja” [7]

Kekokohan Iman Dan Kadar Ujian Selalu Berbanding Lurus
Semakin kuat iman seseorang, maka ujian yang akan diberikan oleh Allâh akan semakin besar. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Sa’d bin Abî Waqqâsh Radhiyallahu anhu :

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً قَالَ الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ

“Ya Rasûlullâh! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya” [8]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya[9]

Mengapa Allâh Azza wa Jalla Mengabarkan Bahwa Ujian Ini Pasti Akan Terjadi?
Ada beberapa faedah yang bisa dipetik dari berita tentang kepastian ujian pada kita, di antaranya:

1. Kita akan mengetahui bahwa ujian tersebut mengandung hikmah Allâh Azza wa Jalla . Yakni, dapat dibedakan siapa Muslim yang imannya benar dengan yang tidak.
2. Kita akan mengetahui bahwa Allâhlah yang menakdirkan semua ini.
3. Kita bisa bersiap-siap untuk menghadapi ujian itu dan akan bisa bersabar serta akan merasa lebih ringan dalam menghadapinya.[10]

Ujian Tidak Hanya Dengan Sesuatu Yang Buruk
Allâh Azza wa Jalla tidak hanya menguji seseorang dengan sesuatu yang buruk. Akan tetapi, juga menguji seseorang dengan sesuatu yang baik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan [al-Anbiyâ’/21 : 35]

Terkadang seorang Muslim apabila ditimpa dengan musibah dan kesusahan, ia sanggup bersabar.Namun, begitu diberi kenikmatan yang berlebih, terkadang ia tidak bisa lulus dari ujian tersebut. ‘Abdurrahmân bin ‘Auf Radhiyallahu anhu pernah berkata:

ابْتُلِينَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالضَّرَّاءِ فَصَبَرْنَا ثُمَّ ابْتُلِينَا بِالسَّرَّاءِ بَعْدَهُ فَلَمْ نَصْبِرْ

Kami diuji dengan kesusahan-kesusahan (ketika) bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami dapat bersabar. Kemudian kami diuji dengan kesenangan-kesenangan setelah beliau wafat dan kami pun tidak dapat bersabar[11]

Ujian Adalah Rahmat Dari Allâh Azza Wa Jalla
Ujian yang diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla adalah rahmat (kasih sayang) Allah Azza wa Jalla kepada seluruh manusia terlebih lagi untuk kaum Muslimin.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan yang bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu [Muhammad/47:31]

Dengan adanya ujian itu, akan tampak orang yang benar-benar beriman dengan yang tidak. Ini adalah rahmat dari Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami Telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? [al-‘Ankabût/29:2]

Ujian Lain Yang Lebih Berat
Ternyata ada ujian yang lebih berat dari ujian pada harta dan jiwa. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا

Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar gangguan yang banyak yang menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allâh [Âli ‘Imrân/3 : 186]

Dengan penggalan ayat di atas, dapat diketahui ujian yang lebih berat daripada ujian yang telah disebutkan. Ujian yang lebih berat dari hal-hal tersebut adalah ujian yang menimpa agama (keyakinan) kita. Kalau kita memperhatikan makna ayat yang kita bahas ini, maka kita akan menemukan bahwa Allâh Azza wa Jalla telah mengurutkan ujian-ujian tersebut mulai dari yang cobaan yang lebih ringan dan dilanjutkan ke cobaan yang lebih berat. Ujian pada harta lebih ringan daripada ujian pada jiwa. Ujian pada jiwa lebih ringan daripada ujian pada agama. Seseorang bisa saja memiliki harta yang melimpah dan badan yang sehat, tetapi jika dia keluar dari agama Islam karena tidak tahan menghadapi cemoohan, gangguan serta teror orang-orang kafir. Ini merupakan satu bentuk kerusakan yang sangat besar baginya, baik di dunia maupun di akhirat.

Orang-Orang Kafir Tidak Akan Berhenti Mengganggu Kaum Muslimin
Gangguan dari orang-orang kafir, baik berupa ejekan maupun gangguan fisik, pasti akan terus ada. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Sebagian besar Ahli kitab karena kedengkian mereka menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, setelah nyata bagi mereka kebenaran. [al-Baqarah/2:109] [12]

Cara Menghadapi Segala Ujian
Allâh Azza wa Jalla tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya terbengkalai, tidak terurus. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla mengajarkan kepada kaum Muslimin bagaimana cara menghadapi ujian tersebut. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186]

Menghadapi semua ujian harus dengan kesabaran dan ketakwaan. Hukum bersabar dan bertakwa dalam menghadapi ujian bukan sunat, tetapi sesuatu yang wajib dikerjakan oleh seluruh orang Muslim. Setidaknya, dalam al-Qur’ân ada enam tempat di mana Allâh Azza wa Jallak menggabungkan kata kesabaran dan ketakwaan dalam konteks yang sama. Yaitu, dalam surat Ali ‘Imrân ayat 118, 125, dan 186, dalam surat Yûsuf ayat 90, dalam surat an-Nahl ayat 125 hingga 128 dan surat Thâhâ ayat 132.[13] Ini menunjukkan bahwa kesabaran memiliki hubungan yang sangat erat dengan ketakwaan.

Hasil Yang Didapatkan Dengan Bersabar
Orang yang dapat bersabar menghadapi semua ujian akan memperoleh hal-hal yang terpuji, di antaranya [14] :

1. Dia akan mendapatkan pahala seperti para nabi yang memiliki keteguhan hati (ulul-‘azm).[15]

2. Dia akan mendapatkan keberkatan yang sempurna, rahmat dan petunjuk dari Allah. Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya: “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [al-Baqarah/2:157]

3. Dia akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya: “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar” [Fushshilat/41: 35]

4. Dia akan mendapatkan pahala tanpa batas. Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [az-Zumar/39 : 10]

5. Dosa-dosanya akan diampuni oleh Allâh Azza wa Jalla. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allâh membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa [16]

KESIMPULAN DAN FAIDAH DARI AYAT
1. Ujian pada harta, diri dan agama adalah sunnah kauniyahpada setiap Muslim.

2. Orang-orang kafir akan selalu mengganggu kaum Muslimin, baik dengan perkataan ataupun perbuatan

3. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kaum Muslimin agar mereka bersabar dan bertakwa untuk menghadapi seluruh ujian tersebut.

4. Ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) berbeda dengan kaum musyrikin. Meski demikian, mereka memiliki kesamaan, yaitu kekufuran dan tempat kembali mereka di akhirat nanti adalah neraka. Na’ûdzu billâh min dzâlik.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIV/1431H/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Penulis meringkas dengan bahasa bebas dari Shahîh al-Bukhâri no. 4577 (Kitabut Tafsîr, surat Âli ‘Imrân)
[2]. Fushshilat/41 : 35
[3]. Taisîrul Karîmir Rahmân fî Tafsîr Kalâmil Mannân hlm. 160
[4]. Syaikh Ibnu ‘Âsyûr rahimahullah berkata, “Allah Azza wa Jalla memberi penekanan pada kata kerja ini dengan lâm al-qasam dan nûn at-taukîd asy-syadîdah untuk menunjukkan bahwa ujian itu akan benar-benar terjadi. Karena nûn at-taukîd asy-syadîdah (bertasydid) lebih kuat dari segi pendalilan daripada (nûn) at-taukîd alkhafîfah (yang sukun).” (at-Tahrîr wat Tanwîr IV/189)
[5]. al-Baqarah/2:155-156
[6]. Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm II/179
[7]. HR. Muslim no. 7302
[8]. HR. at-Tirmidzi no. 2398, an-Nasâi no. 7482, Ibnu Mâjah no. 4523 (ash-Shahîhah no. 143)
[9]. HR. at-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Mâjah no. 4031 (Ash-Shahîhah no. 146).
[10]. Lihat Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân fî Tafsîr Kalâm Al-Mannân hal. 160.
[11]. HR. at-Tirmidzi no. 2464 (Hadits hasan. Shahih wa Dha’îf Sunan at-Tirmidzi V/464)
[12]. Lihat juga surat al-Baqarah/2:120
[13]. Lihat Daqâiqut Tafsîr al-Jâmi’ li Tafsîr Ibni Taimiyah II/299-300.
[14]. Poin ke-2 sampai ke-4 dari Adhwâ’ul Bayân I/187
[15]. Lihat at-Tahrîr wat Tanwîr IV/190
[16]. HR. at-Tirmidzi no.2398 , an-Nasâ’i di as-Sunan al-Kubrâ no. 7482 dan Ibnu Mâjah no. 4523 (Hadits shahîh. Ash-Shahîhah no. 143)
sumber : https://almanhaj.or.id/3450-setiap-muslim-akan-menghadapi-ujian-dan-cobaan.html

Aku Sesuai Persangkaan Hamba-Ku Hingga Balasan Mengingat Allah

Aku sesuai persangkaan hamba-Ku, hingga bagaimana balasan mengingat Allah dibahas dalam hadits dari Kitab Riyadhus Sholihin berikut ini.

Hadits #1435

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]

Faedah dari Hadits:

  1. Allah bersama hamba-Nya yang beriman dengan sifat ma’iyah (kebersamaan) yang khusus yaitu dengan memberi perhatian, penjagaan, taufik, dan pertolongan.
  2. Allah bersama hamba-Nya ketika ia mengingat-Nya, maksudnya Allah bersamanya dengan rahmat-Nya, memberinya taufik, hidayah dan perhatian. Adapun firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada”, yaitu dengan ilmu Allah. Hal ini dinyatakan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 17:3.
  3. Allah menyatakan diri-Nya dengan “nafs”, berarti Allah mempunyai dzat yang hakiki.
  4. Kalimat “Jika ia mengingat-Ku, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku” maksudnya jika mengingat Allah dalam keadaan bersendirian. Amalan yang sembunyi-sembunyi seperti inilah yang dibalas oleh Allah.
  5. Ulama Mu’tazilah dan yang sepaham dengannya berdalil bahwa malaikat lebih mulia dari para Nabi berdasarkan dalil “… Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat)”. Namun ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa para nabi tetap lebih mulia dari malaikat berdasarkan dalil ayat tentang Bani Israil (yang artinya), “… dan Kami lebihkan mereka atas makhluk lainnya.” (QS. Al-Jatsiyah: 16). Adapun yang dimaksud hadits adalah mengingat Allah di suatu kumpulan yang tidak terdapat nabi di situ, tentu kumpulan malaikat itu lebih utama.
  6. Jika seseorang mengingat Allah (berdzikir kepada Allah) di suatu kumpulan, Allah akan menyanjungnya di sisi makhluk-Nya yang mulia (yang lebih baik dari kumpulan tersebut).
  7. Berhusnuzhan kepada Allah.
  8. Allah memiliki sifat kalam.

Sesuai Persangkaan Hamba kepada Allah

Mengenai makna hadits di atas, Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan doa jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan. Ulama lainnya berkata maknanya adalah berharap pada Allah (raja’) dan meminta ampunannya” (Syarh Shahih Muslim, 17:3).

Husnuzhan kepada Allah, itulah yang diajarkan pada kita dalam doa. Ketika kita berdoa pada Allah kita harus yakin bahwa doa kita akan dikabulkan dengan tetap melakukan sebab terkabulnya doa dan menjauhi berbagai pantangan yang menghalangi terkabulnya doa. Karena ingatlah bahwasanya doa itu begitu ampuh jika seseorang berhusnuzhan kepada Allah. Jika seseorang berdoa dalam  keadaan yakin doanya akan terkabul, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اُدْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Referensi:

  1. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 17:3-4.
  2. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 1:466.

—

Materi kajian Kamis Sore di MPD, diselesaikan di Darush Sholihin pada 1 Jumadal Ula 1439 H menjelang Shubuh

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/17041-aku-sesuai-persangkaan-hamba-ku-hingga-balasan-mengingat-allah.html

Kezaliman adalah Kegelapan pada Hari Kiamat

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Para ulama menerangkan, dengan berpatokan pada hadits di atas, bahwa kezaliman merupakan sebab kegelapan bagi pelakunya yang akan membuatnya tidak bisa lagi menentukan arah/jalan yang akan dituju pada Hari Kiamat; atau bisa juga ia akan menjadi sebab kesempitan dan kesulitan bagi pelakunya. (Syarhu Shahih Muslim, 16/350; Tuhfatul Ahwadzi, “Kitab al-Birr wa Shilah an Rasulillah”, “Bab Ma Ja`a fiz Zhulum”)

Mungkin ada di antara kita yang masih bertanya-tanya: apa yang dimaksud dengan zalim?

Dalam bahasa Arab, zhalim bermakna ‘meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya’. Asal kata zhalimadalah ‘kejahatan, melampaui batas, dan tidak bersikap adil’. (an-Nihayah fi Gharibil Hadits, “Bab azh-Zha’ ma’a al-Lam”)

Disadari atau tidak, kita sangat sering berbuat zalim, padahal ia bukanlah perkara yang remeh. Hukumnya haram dalam syariat Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan kezaliman bagi diri-Nya. Dia Yang Mahasuci berfirman dalam hadits qudsi,

يَا عِبَادِيْ، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلاَ تَظَالَمُوْا 

“Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku mengharamkannya pula di antara kalian; maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, dalam artikel ini kita akan mencoba membahas seluk-beluk kezaliman. Semoga dapat menjadi peringatan yang bermanfaat.

وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

“Dan tetaplah memberikan peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.” (adz-Dzariyat: 55)

Beberapa Bentuk Kezaliman

Kezaliman memiliki beragam bentuk, di antaranya:

  1. Berbuat zalim kepada diri sendiri

Bentuknya ialah melakukan dosa-dosa dan kemaksiatan. Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang perbuatan zalim yang semacam ini. Allah berfirman,

فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ

“Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian pada (bulan yang empat[1]) itu.” (at-Taubah: 36)

  1. Kezaliman seseorang kepada saudaranya.

Jenis kezaliman ini bisa terjadi dengan tiga hal:

  • melanggar kehormatan saudaranya;
  • menyakiti tubuh saudaranya;
  • merampas harta saudaranya.

Semua ini telah diharamkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya,

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian telah diharamkan atas kalian (untuk ditumpahkan, dirampas, dan dilanggar); sebagaimana keharaman hari kalian ini, pada bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

  1. Mengubah syariat Allah

Mengganti (bongkar-pasang) syariat yang telah diturunkan dari atas langit, dengan aturan rendahan yang dibuat oleh manusia, adalah kezaliman yang terbesar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, mengancam orang-orang yang tidak mau berhukum dengan syariat-Nya,

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim.” (al-Maidah: 45)

Mereka berbuat zalim karena telah menempatkan suatu perkara tidak pada tempat yang semestinya.

  1. Menzalimi hewan

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيْهَا النَّارَ، لاَ هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلاَ سَقَتْهَا وَلاَ هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ اْلأَرْضِ

“Ada seorang wanita yang diazab karena seekor kucing yang dikurungnya hingga mati. Wanita tersebut masuk neraka karenanya. Kucing itu tidak diberinya makanan, tidak diberinya minum, dan tidak pula dilepaskannya hingga ia bisa memakan serangga/hewan yang ada di tanah.” (HR. al-Bukhari danMuslim)

Said bin Jubair rahimahullah berkata,

“Suatu ketika, saat aku sedang bersama Ibnu Umar radhiallahu anhuma, kami melewati anak-anak muda atau sekumpulan orang yang menancapkan seekor ayam betina sebagai sasaran bidikan anak panah yang dilemparkan.

Ketika anak-anak muda itu melihat Ibnu Umar, mereka bubar meninggalkan ayam tersebut. Ibnu Umar radhiallahu anhuma lantas berkata, “Siapa yang melakukan hal ini? Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti ini.” (HR. al-Bukhari)

  1. Membedakan manusia dalam penerapan hukum berdasarkan status sosialnya (nepotisme)

Perbuatan seperti ini sama artinya dengan membuat kerusakan di muka bumi. Sebab, hal ini akan menumbuhkan kecemburuan, kebencian, dan permusuhan di tengah masyarakat yang status sosialnya jelas berbeda-beda. Semua ini hanya akan menyebabkan kebinasaan, sebagaimana keadaan umat terdahulu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberitakan,

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوْا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوْهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوْا عَلَيْهِ الْحَدَّ

“Perkara yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah ketidakadilan mereka. Apabila ada orang terpandang di kalangan mereka yang mencuri, mereka membiarkannya (tidak dihukum). Namun, jika yang mencuri adalah orang yang lemah, mereka menegakkan hukum had atasnya.” (HR. Ahmad, dinilai sahih dalam Shahihul Jami’ no. 2344)

Allah Mahasuci dari Berlaku Zalim

Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan perbuatan zalim dan Dia mensucikan diri-Nya dari sifat tersebut.

وَأَنَّ ٱللَّهَ لَيۡسَ بِظَلَّامٍ لِّلۡعَبِيدِ

“Dan sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.” (Ali Imran: 182)

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍۖ

“Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah.” (an-Nisa: 40)

Dalam hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي

“Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku.” (HR. Muslim)

Berbuat Zalim Adalah Tabiat Manusia

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Sesungguhnya manusia itu sangat zalim lagi kufur.” (Ibrahim: 34)

إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَٰنُۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Akan tetapi, semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat). Lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (al-Ahzab: 72)

Cukuplah dua ayat ini menjadi dalil bahwa manusia memiliki tabiat suka berbuat zalim. Karena itu, kita harus berusaha mencari obat dari tabiat tersebut. Bukankah Allah telah memerintah kita untuk membersihkan jiwa dari perkara yang mengotorinya?

قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”(asy-Syams: 9—10)

Penyucian jiwa dilakukan dengan memaksanya agar mau tunduk dan menerima manhaj/aturan Allah subhanahu wa ta’ala.

Cara Membersihkan Jiwa dari Berbuat Zalim

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk bersungguh-sungguh membersihkan jiwa mereka dari perbuatan rendahan, baik berupa kezaliman, sombong, hasad, maupun selainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berjanji akan menunjukkan jalan keselamatan bagi orang yang berbuat demikian (menyucikan jiwa) karena mengharapkan wajah-Nya.

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (al-Ankabut: 69)

Berikut ini beberapa perkara yang dapat membantu seseorang agar terhindar dari berbuat zalim:

  1. Bertakwa kepada Allah

Takwa merupakan wasiat Allah subhanahu wa ta’ala kepada seluruh hamba-Nya dari awal sampai yang akhir. Ia juga adalah asas agama ini. Dengan takwa, seorang hamba akan menahan diri dari melanggar batasan-batasan Allah subhanahu wa ta’ala. Karena itu, hendaklah setiap jiwa berusaha merealisasikan takwa serta mengetahui keagungan dan kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala.

وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعًا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia danMahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (az-Zumar: 67)

Seseorang yang berbuat zalim, seandainya ia benar-benar mengagungkan Allah subhanahu wa ta’alasebagaimana mestinya, niscaya ia akan menahan diri dan berhenti berbuat zalim.

  1. Tawadhu (rendah hati)

Dalam sabdanya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan penekanan agar seseorang senantiasa bersikap tawadhu.

إِنَّ اللهَ تَعَالَى أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَبغِي أَحَدٌ عَلىَ أَحَدٍ وَلاَ يَفْخَرُ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepadaku (untuk menyampaikan) agar kalian bersikap tawadhu; hingga seseorang tidak akan berlaku zalim kepada orang lain dan tidak menyombongkan diri di hadapan orang lain.” (HR. Muslim)

Tawadhu adalah obat kezaliman. Adapun kesombongan, ia merupakan pemicu seseorang untuk berbuat zalim. Seseorang bisa memperoleh sifat tawadhu dengan cara terus melatih dan membiasakan jiwanya agar bersikap tawadhu.

  1. Menjauhi sifat hasad

Sebab, hasad sendiri merupakan sebab kezaliman. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah melarang dari berbuat hasad.

وَلاَ تَحَاسَدُوْا

“Dan janganlah kalian saling hasad.” (HR. Muslim)

  1. Menyemangati jiwa untuk meraih janji Allah untuk orang-orang yang berlaku adil

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ …

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah, pada hari yang tidak ada satu pun naungan kecuali naungan-Nya…”

Di antara tujuh golongan itu, disebutkan salah satunya,

إِمَامٌ عَادِلٌ

“Pemimpin yang adil.” (HR. Muslim)

Beliau shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ الْمُقْسِطِيْنَ عِنْدَ اللهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ عَلىَ يَمِيْنِ الرَّحْمنِ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمْيِنٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang adil akan ditempatkan, di sisi Allah, di atas mimbar-mimbar cahaya di sebelah kanan tangan kanan ar-Rahman; dan kedua tangan-Nya adalah kanan.” (HR. Muslim)

  1. Berdoa dengan tulus kepada Allah

Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan doa, sebagaimana firman-Nya,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

“Rabb kalian telah berfirman, ‘Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permintaan kalian.’” (Ghafir: 60)

Maka dari itu, hendaklah seorang hamba senantiasa memohon pertolongan kepada-Nya, agar dirinya dijauhkan dari perbuatan zalim.

Wallahu ta’ala a’lam bis-shawab.


Catatan Kaki

[1] Bulan-bulan haram ada empat, yaitu Muharram, Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Pada bulan-bulan haram ini, seseorang dilarang melakukan peperangan.

Ditulis oleh Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

sumbe: https://asysyariah.com/kezaliman-adalah-kegelapan-pada-hari-kiamat/

Memberi Udzur Kepada Saudara yang Bersalah

Memberi udzur kepada saudara yang bersalah …
Ibnu Hibbaan rahimahullah berkata :

الإعتذار يُذهب الهموم، ويُجلي الأحزان، ويَدفع الحقد، ويُذهب الصدّ..
فلو لم يكن في اعتذار المرء إلى أخيه خصلة تحمد إلا نفى التعجب عن النفس في الحال لكان الواجب على العاقل أن لا يفارقه الاعتذار عند كل زلة

“Memberi udzur (kepada orang lain) menghilangkan kegelisahan, melenyapkan kesedihan, menolak kedengkian, menyirnakan penghalang dari saudara…
Seandainya sikap memberi udzur kepada saudara (yang bersalah) hanya memiliki satu keutamaan yang terpuji yaitu menghilangkan sikap ujub dari jiwa seketika itu juga, maka wajjb bagi orang yang berakal untuk tidak meninggalkan sikap memberi udzur kepada saudara pada setiap kekeliruan…
(Roudhotul ‘Uqolaa’ hal 186)


Orang yang suka memberi udzur apalagi memaafkan saudaranya yang bersalah maka akan mensucikan jiwanya dan membahagiakan hatinya.
Adapun jika tidak suka memberi udzur apalagi suka mencari cari kesalahan dan suka mendendam maka hanya menyiksa hati dan menjadikannya ujub

sumber: https://firanda.com/1704-memberi-udzur-kepada-saudara-yang-bersalah.html

Tolonglah Saudaramu, Jangan biarkan Ia Terzolimi !

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 26/7/1436 H

Oleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh

Khutbah Pertama :

Segala puji bagi Allah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita berbagai kebaikan, yang menyeru kepada saling tolong menolong. Aku memujiNya subhaanahu dan aku bersyukur kepadanya di pagi dan petang. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah tiada sekutu bagiNya, Ia telah menciptakan kita, memberi rizki kepada kita dan menjadikan kita umat yang terbaik. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita dan nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, nabi yang termulia dan teladan yang terbaik. Semoga shalawat tercurahkan kepadanya dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya yang merupakan teladan yang terbaik.

Amma ba’du, aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah. Allah berfirman :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hasyr : 18)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tolonglah saudaramu tatkala ia berbuat zolim atau tatkala dizolimi”. Maka ada seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku menolongnya jika ia dizolimi, bagaimana menurutmu jika ia yang berbuat zolim, bagaimana cara menolongnya?”. Nabi berkata, “Engkau mencegahnya atau menahannya dari kezoliman, maka itu adalah bentuk menolongnya” (HR Al-Bukhari)

Menolong saudara adalah tanda keimanan, alamat akan benarnya Islam seseorang. Dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai diantara mereka, saling menyayangi, saling mengasihi, seperti satu jasad, jika ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh jasad yang lain akan menyeru ikut kesakitan dan tidak bisa tidur” (HR Muslim), dan Nabi juga bersabda “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan”, lalu Nabi menyela jari-jari tangan yang satu ke jari-jari tangan yang lain (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dan jika sebuah umat menolong yang terzolimi, mengambil tangan pelaku kezoliman lalu mencegahnya dari kezoliman maka umat tersebut selamat dari hukuman Allah. Allah berfirman :

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS Al-Anfaal : 25)

Barangsiapa yang menolong yang terzolimi maka Allah akan menolongnya, dan Allah akan meyiapkan baginya orang yang akan menolongnya di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ نَصَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Barangsiapa yang menolong saudaranya –tanpa kehadiran saudaranya tersebut- maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat’ (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih)

Menolong adalah bentuk persekutuan Islami dan saling bahu-membahu yang imani, dan ia merupakan kekuatan bagi kaum muslimin serta kemuliaan bagi kaum mukminin. Membangungkan semangat dari tidurnya dan menyatukan kaum muslimin dalam satu saf dalam satu urusan dan satu tujuan disertai kemuliaan dan pengorbanan sehingga

تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ

“Dengannya kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian” (Qs Al-Anfaal : 60)

Menolong adalah kewajiban agama, serta kebutuhan urgen duniawi, sungguh kezoliman telah tertujukan kepada Islam, makar rencana jahat diarahkan kepada Islam, dan ini merupakan fenomena zaman ini dengan bentuknya yang banyak dan beragam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

« يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.”

Jika sikap menolong melemah diantara kaum muslimin maka musuh akan menguasai, dan akan semakin keras hantaman musuh dan semakin belanjut kezoliman mereka serta menyiksa kaum muslimin, membinasakan orang-orang yang tenteram, menghinakan para ahli tauhid, merampas negeri, dan menjatuhkan harga diri.

Sesungguhnya kerusakan yang besar dan fitnah yang menyala-nyala di negeri-negeri kaum musliimin asalnya adalah karena kurang dalam menerapkan sikap menolong. Allah berfirman :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (٧٣)

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS Al-Anfaal : 73)

          Telah datang larangan dari sikap meninggalkan seorang muslim yang membutuhkan bantuan dan sikap berlepas diri dari menolongnya dan mendukungnya. Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak menzoliminya dan tidak meninggalkannya (tatkala butuh bantuannya)”

Nabi juga berkata :

لَقَدْ شَهِدْتُ مع عمومتي حلف المطيبين فما أُحِبُّ أَنَّ لِي حُمْرَ النَّعَمِ وإني أنكثه

“Sungguh aku bersama paman-pamanku telah menghadiri perjanjian muthoyyabin, dan aku tidak suka jika aku diberi onta merah sementara aku melanggarnya”

Dalam hadits ini ada isyarat tentang persekutuan al-fudul dalam rangka menolong orang yang dizolimi.

Barangsiapa yang malas dalam menjulurkan tangannya untuk segera menolong orang yang dizolimi maka ia akan terhinakan di dunia serta akan merugi di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا عِنْدَ مَوْطِنٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ. وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ

“Dan tidaklah seseorang meninggalkan saudaranya sesama muslim pada kondisi kehormatannya sedang dilanggar dan direndahkan harga dirinya kecuali Allah akan meninggalkannya pada kondisi dimana ia ingin ditolong. Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim pada saat harga dirinya direndahkan dan kehormatannya dilanggar kecuali Allah akan menolongnya pada kondisi dimana ia ingin ditolong”

Dan jika umat diuji dengan para lelaki yang tidak jelas yang bersekutu dengan musuh umatnya, dan menghunuskan pedang pengkhianatan terhadap saudara setanah airnya, menanam bibit fitnah, memudahkan terjadinya kudeta serta kekacauan karena rakus terhadap kekuasaan, untuk meraih medali kehinaan dan kerendahan, meskipun dengan mengorbankan tengkorak-tengkorak rakyat yang tidak berdosa, dan mayat-mayat anak-anak. Maka bagaimana masyarakat merasa aman dari tipu daya berasal dari suku mereka sendiri, yang telah telah berkhianat terhadap negerinya, dan meminta pertolongan dari para pembela kebatilan untuk menyerang kaumnya sendiri dan negeri tetangganya ?

Dan pihak yang lain berusaha menggiris rakyatnya, membunuh dan menghancurkan penduduk negerinya dengan bom-bom yang membakar, dan bahan-bahan peledak, gas-gas beracun di pagar manusia yang sabar dan enggan.

Dan sepotong tanah Ghaza yang menderita akibat pengepungan yang zolim dan makar yang kejam, dimana kezoliman telah mencapai puncaknya, dengan menghalangi seluruh sarana dan prasarana kehidupan baik makanan dan minuman serta obat-obatan.

Peristiwa-peristiwa terjadi sebagai ujian bagi jiwa-jiwa, untuk memurnikan saf-saf, agar Allah mengetahui siapakah yang menolong yang dizolimi dan menolak pelaku kezoliman serta siapakah yang berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi kebatilan. Allah berfirman :

وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

Dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. (QS Al-Hadid : 25)

Membela orang-orang yang lemah harus ditegakan, menolong mereka adalah suatu kewajiban. Dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mereka adalah bagian dari tubuh umat yang besar, dan dengan hukum persaudaraan sesama Islam maka mereka memiliki hak untuk ditolong dan dibantu.

          Diantara bentuk pertolongan adalah perhatian terhadap kondisi mereka serta membantu mereka dengan segala bentuk unsur kekuatan dan sarana pertahanan, untuk memperkuat yang lemah dan menjaga agama, kehormatan, jiwa, dan negeri, serta menghibur mereka dengan bantuan harta dan materi, menolong jiwa yang teraniaya, dan mengembalikan harapan.

Sang sahabat yang mulia Utsman bin Affaan radhiallahu ‘anhu merupakan contoh yang patut ditiru, teladan dalam menolong kaum muslimin dengan harta. Ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa 1000 dinar lalu ia letakan di pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia menggali sumur Ruumah untuk kaum mukminin tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ حَفَرَ بِئْرَ رُوْمَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ

“Barangsiapa yang menggali sumur Ruumah maka baginya surga”

Dan Utsman juga telah berinfak untuk mempersiapkan pasukan perang Tabuk.

Dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Khodijah radhiallahu ‘anha sungguh telah menghibur dan menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan seluruh hartanya.

Dan diantara bentuk menolong adalah jangan sampai seorang muslim menjadi penolong bagi pelaku kezoliman yang menzolimi saudaranya sesama muslim. Allah berfirman :

وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka (QS Huud : 113)

Diantara bentuk pertolongan adalah memboikot barang-barang dagangan musuh dan orang yang membantu musuh dan membiayai mereka baik bantuan spiritual maupun pemikiran, serta bekerjasama dengan musuh. Pemboikotan merupakan senjata yang manjur dan berpengaruh, tentunya dijalankan dengan kaidah-kaidah pemboikotan yang syar’i, sehingga memberikan pelajaran bagi musuh, dan dengan hal ini umat akan tetap kokoh dihadapan orang yang menghendaki keburukan bagi mereka.

          Adapun pertolongan terhadap akidah adalah dengan menjelaskan pokok-pokok akidah dan pemahamannya, serta membantah syubhat-syubhat, menjelaskan bahaya bid’ah dan manhajnya sekte-sekte yang menyimpang, yang dimana musuh menemukan pada firqoh-firqoh tersebut apa yang mereka cari. Maka musuhpun bersekutu dengan mereka, dan firqoh-firqoh tersebut dikembangkan oleh musuh di tengah-tengah umat Islam, musuh menyetirnya sesuka hati untuk menggoncang stabilitas keamanan dan mengobarkan kekacauan, merampas umat ini, merampas kepemilikan umat, dan mematikan kekuatannya, dan agar umat terpuruk di bagian belakang, disetir dan tidak menyetir, mengikuti dan bukan menjadi yang diikuti.

          Hendaknya menolong juga melalui media, semua orang melihat dan mendengar bagaimana peran media yang dengki dalam menghapus fakta kebenaran dan mencemarkan agama serta mengingkari hak-hak kaum muslimin, sampai-sampai menuduh seluruh perilaku yang buruk kepada kaum muslimin. Media menggambarkan bahwa kaum muslimin adalah para pembunuh dan para penghisap darah, dan seorang yang membela negerinya dan kehormatannya dituduh sebagai teroris, media menjadikan para pembunuh dan para penjahat sebagai teman pembawa keselamatan, menjadikan penyerang dan penjajah sebagai kelompok yang membela dan mencegah.

Pertolongan melalui media adalah dengan menjelaskan kezoliman pelaku kezoliman, mengumbar perbuatan-perbuatannya, dan menjelaskan hakekatnya, dan hiasan kebatilannya. Dengan mewujudkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan. Dan dampak dari penjelasan dalam beberapa kondisi lebih kuat dan lebih menggigit dari pada sayatan pedang. Ceramah itu memiliki kekuatan tersendiri, dan gambar/clip memiliki dampak tersendiri, tulisan juga memilik panah yang kuat, dan sya’ir memiliki kekuatan tersendiri. Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Hassaan –bin Tsabit- radhiallahu ‘anhu :

إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ لاَ يَزَالُ يُؤَيِّدُكَ مَا نَافَحْتَ عَنِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) terus menguatkanmu selama engkau membela Allah dan RasulNya”

Dan pertolongan juga hendaknya pada permasalahan-permasalahan umat dengan memberi pengarahan kepada mereka dan membela umat, serta membongkar racun yang dihembuskan oleh para gembong kejahatan, mengungkap rencana-rencana jahat mereka dan menjelaskan tentang manhaj mereka melalui seluruh sarana, setiap pertemuan dan kesempatan-kesempatan. Allah berfirman :

وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ (٥٥)

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (QS Al-An’aam : 55)

Dan menolong juga melalui doa, ia adalah senjata segala urusan dan obat dari kesulitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolong orang-orang yang terzolimi dengan doa dalam qunut beliau.

Bersandar kepada Allah di tengah cobaan, menguatkan hubungan kepada Allah tatkala genting merupakan ciri seorang mukmin. Allah berfirman :

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (٩)فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (١٠)فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (١١)وَفَجَّرْنَا الأرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (١٢)

Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, Maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan Dia sudah pernah diberi ancaman). Maka Dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (QS Al-Qomar : 9-12)

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur’an al-Azhim, dan semoga Allah menjadikan aku dan kalian bisa mengambil manfaat dari ayat-ayatnya dan adz-dzikr al-hakim. Aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan kepada Allah yang maha agung bagiku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin dari segala dosa, maka mohonlah ampunan kepadaNya, sesungguhnya ia maha pengampun lagi maha penyayang.

Khutbah Kedua :

          Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Tuhannya orang-orang terdahulu dan yang terakhir. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita, nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pemimpin orang-orang yang bertakwa, semoga Allah mencurahkan shalawat kepada beliau, keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau.

Amma ba’du, aku washiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah, Allah berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)

          Pertolongan yang bermanfaat yang dengannya terwujudkan dampak positifnya dan terhilangkan kesulitan, adalah pertolongan yang terus menerus dan berkesinambungan yang tidak terputus talinya dan tidak terhenti bantuannya, sehingga kita tidak terkena kekalahan karena semangat yang sementara dan kelemahan yang menghalangi tercapainya target. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّتْ

“Amalan yang paing dicintai oleh Allah adalah yang paling berkesinambungan meskipun sedikit”

Bisa jadi pelaku kebatilan berhasil untuk bersatu dalam satu kompi, akan tetapi ini hanyalah lahiriahnya saja, adapun hakikatnya maka ini adalah persatuan yang dibangun di atas kepentingan yang berbeda-beda, hati dan nafsu mereka tercerai berai, dan akan terungkap perseteruan dan perpecahan diantara mereka, tirai tipuan akan tersingkap, lalu leburlah kebatilan mereka dan terpecahkan perkumpulan mereka.

بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى

Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. (QS Al-Hasyr : 14)

Di akhir zaman kaum muslimin akan ditolong oleh batu dan pohon, ia berkata ; “Wahai Muslim, wahai Abdullah, ini ada seorang yahudi di belakangku, kemarilah bunuhlah ia”. Dan perkataan batu dan pohon termasuk tanda-tanda hari kiamat.

Allah berfirman :

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa (QS Al-Hajj : 40)

Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda

sumber: https://firanda.com/1420-tolonglah-saudaramu-jangan-biarkan-ia-terzolimi.html

[Belajar Tauhid] 58. Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah 5

catatan: besok (sabtu) pukul 17.00WIB quis pekanan akan aktif, jangan lupa muraja’ah 5 pelajaran terakhir/sepekan ini yaa🙏


بسم الله

pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Orang-orang musyrik zaman jahiliyyah tidak meyakini kalau berhala-berhala yang mereka sembah itu adalah rabb mereka, juga tidak meyakini kalau berhala-berhala tersebut bisa mendatangkan manfaat atau mencegah mudharat dengan sendirinya. Adapun alasan mereka mengapa mereka menyembahnya diantaranya adalah :

  • Agar berhala-berhala tersebut menjadi wasilah (perantara) bagi mereka untuk mendekatkan diri kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Pada dasarnya Allâh -‘Azza wa Jalla- memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mencari wasilah yang bisa mendekatkan mereka kepada-Nya. Hanya saja, apa yang dijadikan oleh para hamba sebagai wasilah ada yang disyari’atkan dan terhitung sebagai ketaatan, dan sebagiannya bertentangan dengan syari’at dan terhitung sebagai kemaksiatan.

Selanjutnya kita akan masuk pada Syarah Al-Qowaa-‘id Al-Arba’ah bagian 5. ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran:

link alternatif

“ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Larangan Tajassus, Mencari-Cari Kesalahan Orang Lain

Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah Ta’ala, salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan pengikutnya yang teguh menjalankan sunah-sunahnya.

Islam merupakan agama yang sempurna dan sangat menghormati hak dalam bersaudara antara sesama manusia. Karena itu, Islam sangat menjamin hak-hak setiap individu maupun masyarakat dan melarang perbuatan yang menyerempet kepada hak-hak pribadi maupun aib dari setiap manusia. Salah satu perbuatan atau sikap yang buruk adalah tajassus. Apa itu tajassus? Tahukah kalian apa itu tajassus? Mari kita simak sedikit demi sedikit.

Pengertian Tajassus

Tajassus kalau dalam istilah kita dinamakan dengan memata-matai (spionase) atau mengorek-orek berita. Sehingga dalam lingkungan pesantren kata itu sering kali digunakan dan menyebutnya sebagai ‘jaasuus’ atau mata-mata.

Namun dalam kamus literatur bahasa Arab, misalnya kamus Lisan al-‘Arab karangan Imam Ibnu Manzhur, tajassus berarti “bahatsa ‘anhu wa fahasha” yaitu mencari berita atau menyelidikinya.[1]

Sementara dalam kamus karangan orang Indonesia, misalnya dalam kamus Al-Bishri, tajassus berasal dari kata “jassa-yajussu-jassan” kemudian berimbuhan huruf ta di awal kalimat dan di-tasydid huruf sin-nya maka menjadi kata “tajassasa-yatajassasu-tajassusan” yang berarti menyelidiki atau memata-matai.[2]

Dari pengertian tersebut, maka bisa kita tarik kesimpulan bahwa tajassus adalah mencari-cari kesalahan orang lain dengan menyelidikinya atau memata-matai. Dan sikap tajassus ini termasuk sikap yang dilarang dalam Alquran maupun hadis.

Larangan Bersikap Tajassus

Larangan dari Alquran

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat : 12)

Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala melarang kita untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Entah itu dengan kita menyelidikinya secara langsung atau dengan bertanya kepada temannya. Tajassus biasanya merupakan kelanjutan dari prasangka buruk sebagaimana yang Allah Ta’ala larang dalam beberapa kalimat sebelum pelarangan sikap tajassus.

Larangan dari hadis

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”[3]

Perkataan Ulama Salaf tentang Tajassus

Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,

(( ولا تظنَّنَّ بكلمة خرجت من أخيك المؤمن إلاَّ خيراً، وأنت تجد لها في الخير مَحملاً ))

“Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik.”[4]

Syekh Abu Bakar bin Jabir al-Jazairi rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ke 12 dari surat Al-Hujurat, “haram mencari kesalahan dan menyelidiki aib-aib kaum muslimin dan menyebarkannya serta menelitinya”[5].

Syekh As-Sa’di rahimahullah berkata, “janganlah kalian meneliti aurat (aib) kaum muslimin dan janganlah kalian menyelidikinya.”[6]

Murid dari Syaikh as-Sa’di yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga berkata, “tajassus yaitu mencari aib-aib orang lain atau menyelidiki kejelekan saudaranya”[7].

Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh juga menuturkan ketika menafsirkan ayat di atas sebagai berikut, “maksudnya adalah atas sebagian kalian. Kata ‘tajassus’ lebih sering digunakan untuk suatu kejahatan. Sedangkan kata ‘tahassus’ seringkali digunakan untuk hal yang baik. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala, yang menceritakan tentang nabi Ya’qub ‘alaihissalam, di mana Dia berfirman dalam surat Yusuf ayat 87.

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ

(Ya’qub berkata) “Wahai anak-anakku, pergilah kalian, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya…” (QS. Yusuf: 87)

Namun terkadang kedua kata tersebut digunakan untuk menunjukkan hal yang buruk, sebagaimana ditegaskan dalam hadis sahih di atas.”[8]

Imam Abu Hatim al-Busti rahimahullah berkata, “tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita.”[9]

Nasihat Bagi Yang Suka Mencari Kesalahan Orang Lain

Cukuplah buat kita sebuah untaian perkataan seorang imam yaitu Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi berkata dalam sebuah kitabnya yang dikutip oleh Syekh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr dalam tulisannya sebagai berikut, ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.”[10]

Semoga kita senantiasa dimudahkan oleh Allah dalam berakhlak karimah dan menjauhi sifat-sifat buruk dan sikap  yang merugikan diri kita sendiri. Amiin.

Catatan Kaki

[1] Lisan al-‘Arab, jilid 3 halaman 147

[2] Kamus al-Bishri, halaman 74

[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadis no. 6064 dan Muslim hadis no. 2563

[4] Rifqan Ahlu as-Sunnah bi Ahli as-Sunnah, halaman 10

[5] Aisar at-Tafaasir li Kalam al-‘Aliy al-Kabir, halaman 128

[6] Taisir al-Karim ar-Rahman fi tafsir al-Kalam al-Mannan, halaman 801

[7] Tafsiir al-Quran al-Karim: al-Hujurat ila al-Hadid, halaman 51

[8] Lubab at-Tafsir min Ibn Katsir, halaman 731

[9] Raudhah al-Uqala’, halaman 131

[10] Raudhah al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudhala’

Daftar Pustaka:
  • Al-Abbad, Abdulmuhsin bin Hamd. Rifqan Ahlu as-Sunnah bi Ahli as-Sunnah.
  • Al-Jazairi, Abu Bakar Jabir. Aisar at-Tafaasir li Kalam al-‘Aliy al-Kabir. Maktabah al-Ulum wal al-Hikam: Madinah Munawwarrah. Jilid ke-5.
  • As-Sa’di. Taisir al-Karim ar-Rahman fi tafsir al-Kalam al-Mannan. Muassasah ar-Risalah.
  • Al-Busthim Muhammad bin Hibban. Raudhah al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudhala’. Dar al-Ilmiyyah: Beirut.
  • Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. Lubab at-Tafsir min Ibn Katsir. Muassasah Dar al-Hilal: Kairo. Pustaka Imam Syafi’i: Jakarta.
  • Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Tafsiir al-Quran al-Karim: al-Hujurat ila al-Hadid. Dar ats-Tsurayya li an-Nashr: Saudi Arabia. Cetakan ke-1.

—

Penulis: Afwan Awwab

Muraja’ah: Ust. Suhuf Subhan, M.Pd.I

sumber: https://muslim.or.id/19535-larangan-tajassus-mencari-cari-kesalahan-orang-lain.html

Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan Amanah

Menuntut ilmu merupakan suatu pekerjaan yang tidak perlu lagi diragukan akan keuntungan dan keutamaan yang akan diperoleh darinya. Menuntut ilmu merupakan ciri khas umat terakhir yang menghuni bumi ini, umat Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Betapa banyak ayat dan hadits yang membicarakan keuntungan mempelajari syariat Islam. Bahkan tidak ada seorang muslim pun yang berakal kecuali ia akan senantiasa berpesan kepada karib kerabat dan sahabatnya agar tidak lengah dari mempelajari syariat. Hal itu karena begitu besarnya keuntungan dalam aktifitas mempelajari syariat Islam.

Dalam Al-Quran, antara lain Allah pernah mengatakan,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah: 11)

Ketinggian derajat di sini mencakup derajat di dunia seperti diberi kedudukan di tengah masyarakat serta keharuman namanya maupun derajat di akhirat dengan diberikan kedudukan tingga di Surga. (Fath Al-Bari I/141)

Allah juga berfirman,

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS Al-Baqarah: 269)

Tentang al-hikmah di sini, Mujahid pernah mengatakan, “Maksudnya adalah ilmu dan fiqih.” (Akhlaq Al-‘Ulama hlm. 9)

Di antara firman Allah yang menunjukkan besarnya keuntungan pada aktifitas belajar adalah kewajiban memperdalam dan menambah ilmu, mengingat firman Allah Ta’ala yang berisi perintah pada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam,

وقل رب زدني علما

“Katakanlah, ‘Wahai Rabb-ku, tambahkan ilmu padaku.” (QS Thaha: 114)

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah memerintahkan Nabi-nya meminta tambahan sesuatu kecuali ilmu saja, tidak ada yang lain. Hal ini tentu karena Allah tahu bahwa ada begitu keuntungan besar yang akan diperoleh dalam ilmu. Apalagi kalau bukan buah takut pada Allah ‘Azza wa Jalla,

إنما يخشى الله من عباده العلمؤا

“Di antara hamba-hamba Allah hanya para ulama lah yang takut pada-Nya.” (QS Fathir: 28)

Khasy-yah ini tujuan paling agung dalam menuntut ilmu, bukan untuk berlagak di hadapan orang-orang dengan penuh kesombongan.

Ayat dapat difahami, khasy-yah seseorang kepada Allah berbanding lurus dengan ilmu yang dimilikinya. Semakin ilmunya luas, rasa takutnya pada Allah pun semakin kuat pula. Jika sama sekali tidak memeliki ilmu? Sama sekali tidak tahu mana yang halal dan mana yang haram? Tentu saja segala tindakan dosa bakal mudah diterjangnya tanpa ada rasa khawatir tertimpa azab dan siksa.

Ibaratnya suatu jalan yang kerap terjadi perampokkan dan penyamunan. Orang yang tidak mengetahui bahwa di jalan tersebut ramai penyamun, ia akan biasa saja melewatinya, tanpa ada sedikit pun rasa takut. Walaupun boleh jadi saat ia lewat sedang tidak ada penyamun yang mangkal di situ. Di lain hari ia juga akan melewati jalan tersebut dengan perasaan yang sama, aman dan tidak khawatir. Akan tetapi jika di suatu hari ada orang yang memberinya tahu, bahwa ternyata jalan yang biasa dilaluinya itu banyak penyamun yang beropreasi di sana, tentu sikapnya akan berobah derasti. Dari yang sebelumnya jalan biasa, kini mulai waspada dan hati-hati.

Maka dengan bertambahnya ilmu, bertambahlah pula rasa takut pada Allah Ta’ala. Dan Mahasuci Allah dari segala bentuk permisalan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kerap kali mendorong dan memotofasi umatnya agar terus mempelajari syariatnya. Antara lain sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam, “Siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah pasti memberi salah satu jalan menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat mendaratkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu. Sesungguhnya penduduk langit, bumi, dan ikan hiau yang berada di perut laut senantiasa memintakan ampun bagi seorang ulama. Sejatinya keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah laksana keutamaan rembulan di bulan purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama merupakan pewaris para nabi. Dan sesungguhnya nabi-nabi tidak pernah mewariskan dinar maupun dinar. Akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, berati ia telah mengambil bagian yang besar.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Shahabat Abu Ad-Darda’ –radhiyallahu ‘anhu-)

Masih banyak lagi nas-nas yang menyebutkan keutamaan ilmu. Kiranya bagi seorang Muslim yang akalnya masih sehat dapatlah cukup hanya sekedar isyarat saja, tidak seperti orang dungu yang meskipun dibacakan Al-Quran, Injil, Zabur, dan seluruh kitab Allah tidak akan membuatnya tergugah.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa seorang pelajar yang berjalan dalam rangka menimba dan mempelajari ilmu ada di sana rambu-rambu yang perlu diperhatikan. Agar apa yang selama ini ia cari tidak berubah menjadi mala petaka bagi dirinya. Akhirnya sesuatu yang seharusnya membuatnya mulia justru berubah menjadi bencana.

Salah satu adab yang kerap kali dilupakan para pelajar dan penuntut ilmu di zaman ini adalah sikap jujur dan amanah dalam menuntut ilmu. Padahal dusta yang merupakan lawan dari jujur, dan khianat yang tak lain lawan dari amanah, termasuk sifat yang paling buruk dan bejat. Seorang mukmin yang Allah terangi hatinya dengan iman tidak mungkin memendam kedua sifat buruk tersebut. Apatah lagi seorang penuntut ilmu syariat yang selalu dinaungi sayap-sayap para Malaikat dan pemburu warisan para nabi dan rasul!!

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal: 26)

Ilmu merupakan salah satu amanah yang benar-benar harus ditunaikan karena kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh sebab itu sepantasnya bagi penuntu dan pengembannya dapat mengemban dan menunaikannya dengan penuh kejujuran dan amanah serta diiringi rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di samping itu ia juga harus selalu waspada terjerumus pada menyandarkan sesuatu atas nama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam secara zhalim dan tidak benar.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri sudah jauh-jauh hari mewanti-wanti dan mengancam siapa saja yang berani berdusta atas namanya. Perkara yang semisal dengan dusta atas nama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah terlau ceroboh membawakan suatu riwayat dari beliau Shallallahu’alaihi Wasallam.

Al-Bukhari melaporkan dari ‘Ali bin Abu Thalib –radhiyallahu ‘anhu-, ujarnya, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Kalian jangan berdusta atas namaku. Karena sesungguhnya siapa yang berdusta atas namaku, sebaiknya ia masuk Neraka saja.”

Menurut satu riwayat lain disebutkan, “Hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya di Neraka.”

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma-, tuturnya, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

تناصحوا في العلم ، فإن خيانة أحدكم في علمه أشد خيانة في ماله ، و إن الله سائلكم يوم القيامة

“Hendaknya kalian saling memberi nasehat tentang ilmu. Sesungguhnya khianat salah seorang kalian terhadap ilmunya itu lebih besar daripada pengkhianatannya pada hartanya. Dan sesungguhnya Allah pasti akan memintai kalian pertanggungjawaban pada hari kiamat.” (Dalam sanad hadits ini ada seorang perawi yang diperbincangkan kepribadiannya)

Ada satu kebiasaan tercela di tengah penuntut ilmu dan masyarakat pada umumnya, yaitu tindakan mereka yang terlalu bermudah-mudahan memberikan fatwa hanya karena pernah mentelaah suatu permasalahan syariat. Sudah seperti itu, ia menyangka bahwa dirinya sudah layak mengeluarkan fatwa dan mengkritisi pendapat-pendapat pakar fiqih.

Padahal jika kita melihat bagaimana sikap orang-orang terdahulu yang benar-benar sangat hati-hati memberi fatwa meskipun keilmuan mereka tidak perlu diragukan lagi, tentu kita akan merasa kerdil dan malu terhadap apa yang ada pada kita. Baru pernah menghadiri beberapa daurah dan kajian ilmiah serta mengkhatamkan beberapa gelintir buku saja sudah merasa seakan-akan mebawa lautan ilmu, gampang mengeluarkan fatwa, sembrono menyalahkan orang lain, dan tindakan-tindakan rendahan lainnya.

Disebutkan dalam kitab Adab Al-Mufti wa Al-Mustafti karya Ibnu Ash-Shalah, bahwa pada suatu ketika ada seseorang yang mendatangi Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq –radhiyallahu ‘anhum– untuk mempertanyakan sesuatu. Maka Al-Qasim berkata, “Aku bukan pakarnya.”

Orang yang tadi datang pun terus merayu, “Sesungguhnya aku didorong untuk bertanya padamu. Aku tidak mengetahuinya selainmu.”

Al-Qasim menjawab, “Anda jangan melihat panjangnya janggutku dan padatnya orang di sekelilingku. Demi Allah, aku bukan pakarnya.”

Kemudian beliau berkata pula, “Demi Allah, sekiranya lisanku dipotong itu lebih kusukai daripada aku harus berbicara tanpa ilmu tentangnya.”

Sufyan bin ‘Uyainah dan Sahnun bin Sa’id pernah mengatakan, “Orang yang paling gampang mengeluarkan fatwa adalah orang yang paling minim ilmunya.”

Al-Haitsam bin Jamil berkata, “Aku menyaksikan Malik bin Anas diberi pertanyaan sebanyak 48 masalah. 32 masalah di antaranya beliau katakan, ‘Aku tidak tahu.’”

Berfatwa tanpa ilmu kerap kali menyebabkan lahirnya kesesatan dan kedustaan. Boleh jadi menghalalkan yang seharusnya haram atau mengharamkan yang seharusnya halal.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ* مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS An-Nahl: 116-117)

Agar dapat menimimalisir berbicara tanpa ilmu atau berdusta atas nama seseorang adalah dengan selalu memusatkan perhatian ketika menghadiri pengajian atau ketika pelajaran tengah berlangsung. Bukan malah datang ke pengajian atau kelas hanya untuk kemudian dijadikan sebagai ajang lomba tidur. Atau hal yang serupa adalah dengan banyak melakukan hal sia-sia ketika pelajaran tengah berlangsung. Seperti misalnya banyak main HP, ngobrol dengan sesama hadirin, banyak izin keluar kelas karena alasan yang tidak masuk akal, atau bahkan hanya sekedar setor muka di hadapat sang guru. Tindakan-tindakan semacam ini sangat tidak layak dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai penuntut ilmu.

Kemudian banyak melakukan hal sia-sia ketika pelajaran tengah berlangsung hanya akan mengganggu konsenterasi memahami penjelasan sang guru. Apalagi permasalahan yang sedang dibahas terhitung rumit dan sulit yang tidak hanya memerlukan kesadaran penuh, namun juga konsenterasi dan berfungsinya akal pikiran secara sempurna. Bahkan jika perlu, tidak hanya suara guru yang didengar, namun juga gerak-gerik bibir guru juga diperhatikan agar tidak ada satu huruf pun yang salah terdengar. Karena biasanya satu kalimat saja luput dari penangkapan indera, dapat mempengaruhi pemahaman seseorang. Apalagi mereka yang pemahamannya standart. Yang seharusnya hukumnya A, malah difahami hukumnya B. Dan demikianlah seterusnya.

Maka ketika sudah salah menangkap penjelasan sang guru, bisa jadi ketika keluar dari pengajian dan kelas pelajaran, langsung menyampaikan apa yang ditangkapnya dari sang guru. Hasilnya tidak dapat tidak, ia telah berkata dusta atas nama gurunya. Padahal sang guru berlepas diri dari apa yang ditangkapnya itu.

Apalagi di zaman modert seperti saat ini. Ketika media-media informasi mudah didapat, seperti facebook dan twitter. Berapa banyak Anda jumpai mereka yang baru saja keluar dari pengajian atau daurah, langsung update di akun jejaringan sosial yang dimilikinya. Bahkan penulis pernah menjumpai orang yang sudah terburu-buru update ketika pelajaran tengah berlangsung. Iya kalau apa yang ia tangkap dari sang guru sesuai realita, jika ternyata berbedar bagaimana?!

Dalam hal ini penulis tidak menyalahkan mereka yang menebar ilmu di jejaringan sosial, akan tetapi alangkah baiknya jika apa yang ditulis itu benar-benar sesuai dengan keadaan yang ada. Tidak ada penambahan ataupun pengurangan yang bersifat sia-sia, apalagi diotak-atik seperti kebiasaan ahlul bida’ wal ahwa’ (baca: pelaku bid’ah dan pengekor hawa nafsu) yang kerap mengotak-atik teks-teks Al-Quran dan hadits shahih.

Pernah suatu kali salah seorang dosen kami, Syaikh ‘Ali Hufaizh, menceritakan ketika beliau tengah mengisi suatu pengajian di sebuah masjid. Karena suaranya yang tinggi, sehingga orang-orang di luar masjid yang berlalu lalang pun dapat mendengarnya. Di kemudian hari salah seorang yang mendengar suatu penjelasan beliau dari luar masjid menyampaikan sesuatu pada orang lain. Satu permasalah penting. Ketika hal tersebut didengar oleh Syaikh, ternyata beliau mengingkarinya. Bukan seperti itu penjelasan yang beliau pernah sampaikan saat itu.

Hal lain yang perlu diperhatikan selain satu hal di atas adalah saat membaca buku. Membaca buku juga sangat diperlukan sikap kehati-hatian. Sebaiknya seorang yang membaca buku selau memusatkan perhatiannya pada apa yang tengah dibacanya. Bukan sekedar membaca tanpa ada keseriusan. Oleh sebab itu, seyogyanya membaca buku bukan saja target cepat selesai dan banyaknya buku yang dikhatamkan, namun juga target memahami buku yang dibacanya hingga benar-benar faham. Jika ada hal-hal yang kiranya sulit difahami sendiri, alangkah baiknya jika ia menanyakannya pada seorang yang ahli di bidangnya. Membaca sedikit dengan disertai pemahaman yang benar itu lebih baik daripada banyak khatam kitab namun salah tangkap.

Sungguh betapa indahnya syair yang mengatakan,

أقول زيدا فيسمعه عمروا *** و يكتبه بكرا و يقرؤه بدرا

Aku katakan Zaid, dia malah mendengarnya ‘Amr

Lalu ia menulisnya Bakr namun dibacanya Badr   

Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla memberikan rizki pada kita semua berupa sikap amanah, jujur, dan khasy-yah pada-Nya, serta memberikan kita kecintaan pada ilmu dan mengamalkannya. Sesungguhnya hanya Dia jualah Dzat yang Mahamengabulkan doa. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. []

—

Penulis: Firman Hidayat

sumber: https://muslim.or.id/22603-penuntut-ilmu-harus-memiliki-sifat-jujur-dan-amanah.html

Jaga Lisan ketika Marah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Bisa bicara, itulah pembeda antara manusia dengan binatang.

Bicara merupakan kemampuan khusus manusia yang diajarkan oleh Allah Ta’ala.

الرَّحْمَنُ . عَلَّمَ الْقُرْآَنَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ . عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

Allah (Yang Maha Pemurah), Yang telah mengajarkan al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. (QS. ar-Rahman: 1 – 4)

Namun kita juga perlu sadar, kemampuan bicara bisa menjungkir kondisi kita hingga lebih rendah dari binatang.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sungguh ada seorang hamba berbicara dengan satu kata yang mengundang keridhaan Allah, meskipun dia tidak terlalu memperhatikannya; namun dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkan beberapa derajatnya. Dan sungguh ada seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang mengundang kemurkaan Allah, sementara dia tidak memperhatikannya; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam”. (HR Bukhari 6478).

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan makna “dia tidak memperhatikannya”, artinya,

لا يتأملها بخاطره ولا يتفكر في عاقبتها ولا يظن أنها تؤثر شيئا

Dia tidak merenungkan bahayannya, tidak memikirkan dampaknya, dan tidak pernah menyangka bahwa itu bisa memberikan pengaruh sama sekali. (Fathul Bari, 11/311)

Ini semakna dengan firman Allah,

وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

Kalian menyangka itu perkara remeh, padahal itu perkara besar di sisi Allah. (QS. an-Nur: 15)

Lidah tak bertulang… apa yang sudah keluar, ibarat peluru pistol yang melesat cepat, tidak mungkin bisa ditangkap. Jika tidak sabar menahannya, bisa menjadi senjata makan tuan.

Karena itulah, iman manusia bisa tergadaikan dengan lisannya.

Dari Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah. Dan siapa yang tetangganya tidak merasa aman dari tinda kejahatannya, maka dia tidak akan masuk surga.” (HR. HR Ahmad 12636)

Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, bahkan sampai kalimat carai yang membubarkan rumah tangganya.

Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring, lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi setan untuk merusak menusia tercapai.

Menyadari hal ini, islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar manusia tidak mudah terpancing emosi. Diantaranya, beliau menjanjikan sabdanya yang sangat ringkas,

لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الـجَنَّة

“Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-Targhib no. 2749)

Lidah ketika dibawa marah, dia bisa menjadi sangat liar. Karena itu, diam bisa menjadi solusi yang terbaik, jika susah bicara yang baik.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

Kita marah kepada si kafir yang menghina al-Quran.

Kita marah kepada mereka yang melindungi dan memihak si kafir

Namun, jangan sampai marah ini mengundang dosa yang baru…

Jangan sampai ada kehormatan muslim yang lain dilanggar, karena marah…

Rutinkan doa ini…

اَللَّهُمَّ نَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الحَقِّ فِي الرِضَا وَالغَضَبِ

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kalimat haq ketika ridha (sedang senang) dan sedang marah

[Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalatnya – shahih Jami’ As-Shaghir no. 3039]

Semoga bermanfaat…

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber: https://konsultasisyariah.com/28571-jaga-lisan-ketika-marah.html

Mengapa Ada Yang Mati Kelaparan Padahal Rezeki Sudah Dijamin?

Sobat, kalimat di atas sempat nggak terlintas dalam hati Anda? Sebagai seorang muslim yang baik, tentu tidaklah berani menjawab pertanyaan di atas jika tidak berdasarkan ilmu, karena ia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Al-Israa`: 36).

Nah, untuk bisa memahami jawaban dari pertanyaan di atas, simaklah ayat-ayat Al-Qur`an yang agung berikut ini. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah Dialah Yang Banyak Memberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (Surah Adz-Dzaariyaat:58).

وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Berilah kami rezeki, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama” (Al-Maa`idah:114).

وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki” (Al-Hajj: 58).

وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki” (Al-Jumu’ah: 11).

(Fiqhul Asmaa`il Husnaa, hal. 103).

Setiap makhluk yang berjalan di muka bumi diberi rezeki, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (Huud: 6).

Allah memberitahukan di dalam ayat ini bahwa Allah memberi rezeki kepada seluruh makhluk yang berjalan di muka bumi ini. Sangat jelas sekali beberapa firman Allah di atas. Tidak ada satu pun di antara hamba-hamba-Nya yang beriman yang meragukan firman Allah Ta’ala di atas.

Hanya saja, Allah Ta’ala melapangkan rezeki bagi sebagian hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya bagi sebagian yang lainnya, untuk suatu hikmah yang Allah ketahuinya.

Hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ

“Dan Allah melebihkan sebahagian kalian dari sebagian yang lain dalam hal rezeki” (An-Nahl: 71).

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-‘Ankabuut: 62).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan firman Allah di dalam surat Al-‘Ankabuut ayat 62 di atas,

الحمد لله، الذي خلق العالم العلوي والسفلي، وقام بتدبيرهم ورزقهم، وبسط الرزق على من يشاء، وضيقه على من يشاء، حكمة منه، ولعلمه بما يصلح عباده وما ينبغي لهم

“Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menciptakan alam atas dan bawah serta mengatur mereka dan memberi rezeki mereka, melapangkan rezeki bagi hamba yang Allah kehendaki dan menyempitkan rezeki hamba yang Allah kehendaki, hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfa’at dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya” (Tafsir As-Sa’di, hal. 746 ).

Terkadang memang sebagian orang ada yang mati kelaparan dan sebenarnya ini tidaklah bertentangan dengan nama Allah Ar-Razzaaq (Yang Banyak Memberi rezeki).

Allah tetap dikatakan Dzat Yang Maha Memberi rezeki dan Allah telah memberikan kepada orang tersebut jatah rezekinya secara penuh dan sudah menyempurnakan ajalnya. Allah memberikan rezeki kepada orang itu semua dari apa yang telah Allah takdirkan untuknya, sehingga ketika Allah mencabut nyawanya, ia dalam keadaan telah memperoleh rezekinya secara penuh, tidak terkurangi sedikitpun.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram” (HR. Ibnu Majah, dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya).

Ya memang Allah telah menentukan rezeki orang yang mati kelaparan tersebut lebih sedikit dari sebagian orang yang lain, namun ada hikmah dibaliknya yang Allah ketahui. Dan Allah Maha Mengetahui tentang apa saja yang cocok bagi setiap hamba-Nya dan Maha Mengetahui siapa saja yang cocok mendapatkan rezeki banyak dan siapa saja yang cocok mendapatkan rezeki sedikit.

Nasehat bagi yang mendapatkan rezeki yang sedikit

  1. Segala kenikmatan dan kesempitan yang Allah berikan hanyalah sebagai cobaan semata, bukan sebagai penghormatan atau penghinaan. Dengan cobaan itu, akan tampak orang yang bersyukur dengan orang yang bersabar, atau kebalikannya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ(15) “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’”.وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ(16) “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku’”.
    كَلَّا(17) “Sekali-kali tidak (demikian)” (Al-Fajr:15-17).
    Maksudnya bahwa hakikat persoalannya tidaklah sebagaimana yang diperkirakan oleh manusia.
  2. Sesungguhnya barangsiapa yang bersabar dengan sedikitnya rezeki di dunia dan bersabar atas keterluputan mendapatkan rezeki yang banyak di dunia, maka Allah akan menggantinya dengan kenikmatan yang sangat besar di Surga dan ia akan melupakan musibah yang dirasakannya sewaktu di dunia. Bahkan satu kali celupan saja di Surga, akan menyebabkan sirnanya seluruh lelah-letih dan derita sewaktu di dunia, meski ia adalah orang yang paling menderita sewaktu di dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطَُّلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ“Kemudian didatangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia dari penduduk  Surga, lalu ia dicelupkan satu kali celupan ke dalam Surga. Kemudian ditanya, ‘Wahai keturunan Adam, apakah engkau pernah melihat penderitaan sebelumnya sedikit saja? Apakah angkau pernah merasakan kesengsaraan sedikit saja?’ Orang itu berkata, ‘Tidak demi Allah, wahai Tuhanku, aku tidak pernah melihat penderitaan dan tidak merasakan kesengsaraan sama sekali sebelumnya’”. (HR. Muslim).

Semoga bermanfaat.

***

Referensi:
  1. Tafsir As-Sa’di.
  2. Fatwa Islamweb.net, no.  14649
  3. http://ar.Islamway.net/fatwa/7042/

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

sumber: https://muslim.or.id/25097-mengapa-ada-yang-mati-kelaparan-padahal-rezeki-sudah-dijamin.html