Apapun Keadaanya, Jangan Pernah Tinggalkan Majelis Ilmu

“Pada mejelis ilmu ada dua hal utama yang membuat istiqamah sampai ajal menjemput: pertama adalah ilmu yang menjaga kita dan kedua adalah sahabat yang shalih yang selalu meingingatkan akan akhirat”

Saudaraku, apapun keadaannya dan bagaimanapun kondisinya, jangan pernah meninggalkan majelis ilmu. Jangan lah tinggalkan secara total, jika tidak bisa sepekan sekali, mungkin sebulan sekali, jika tidak bisa mungkin 2 atau 3 bulan sekali, insyaallah waktu itu selalu ada, yang menjadi intinya adalah apakah kita memprioritaskan atau tidak? Jika tidak menjadi prioritas, maka tidak akan ada waktu dan tidak akan ada usaha untuk itu. Jangan pernah juga meninggalkan majelis ilmu karena sudah merasa berilmu atau telah menjadi “ikhwan senior”, para ustadz dan ulama pun terus belajar dan menuntut ilmu.

Saudaraku, mereka yang berguguran dipersimpangan jalan dakwah adalah orang perlahan-lahan meninggalkan majelis ilmu secara total, baik itu tenggelam dengan kesibukan dunia atau merasa sudah berilmu kemudian menjadi sombong dan tergelincir.

Abdullan bin Mubarak menunjukkan keheranan, bagaimana mungkin seseorang jiwanya baik jika tidak mau menuntut ilmu dan menghadiri majelis ilmu. Beliau berkata,

عجبت لمن لم يطلب العلم, كيف تدعو نفسه إلى مكرمة

“Aku heran dengan mereka yang tidak menuntut ilmu, bagaimana mungkin jiwanya bisa mengajak kepada kebaikan.”? [Siyar A’lam AN-Nubala 8/398]

Sebagaimana yang kita sampai di awal bahwa pada majelis ilmu terdapat dua faktor utama agar seseorang bisa istiqamah:

[1] Ilmu yang menjaganya

Dengan ilmu dan pemahaman yang benar seseorang agar terjaga dari kesalahan dan ketergelinciran.

Ibnul Qayyim berkata,

ﺃﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺤﺮﺱ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﻭﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻳﺤﺮﺱ ﻣﺎﻟﻪ

“Ilmu itu menjaga pemiliknya sedangkan pemilik harta akan menjaga hartanya.”[Miftah Daris Sa’adah 1/29]

Dengan menghadiri majelis ilmu juga akan menimbulkan ketenangan dan kebahagiaan yang mejadi tujuan seseorang hidup di dunia ini. Apabila niatnya ikhlas, maka ia akan merasakan ketenangan di majelis ilmu dan akan terus mencari majelis ilmu di mana pun berada.

Majelis ilmu adalah taman surga yang membuat seseorang merasakan ketenangan.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.” [HR Tirmidzi, no. 3510, Ash Shahihah, no. 2562]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

إن للذكر من بين الأعمال لذة لا يشبهها شيء، فلو لم يكن للعبد من ثوابه إلا اللذة الحاصلة للذاكر والنعيم الذي يحصل لقلبه لكفى به، ولهذا سميت مجالس الذكر رياض الجنة

“Sesungguhnya dzikir di antara amal memiliki kelezatan yang tidak bisa diserupai oleh sesuatupun, seandaikan tidak ada balasan pahala bagi hamba kecuali kelezatan dan kenikmatan hati yang dirasakan oleh orang yang berdziki, maka hal itu [kenikmatan berdzikit saja, pent] sudah mencukupi, oleh karena itu majelis-majelis dzikir dinamakan taman-taman surga.” [Al-Wabilush Shayyib hal. 81, Darul Hadist, Koiro,, Asy-Syamilah]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya.” [HR Muslim, no. 2699].

[2] Di majelis ilmu kita akan bertemu dengan sahabat yang selalu mengingatkan akan akhirat

Di majelis ilmu kita akan berjumpa dengan sahabat yang benar-benar sejati, yaitu sahabat yang selalu memberikan nasihat dan mengingatkan kita apabila salah. Sebuah ungkapan arab berbunyi:

ﺻﺪﻳﻘﻚ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ ﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ

“Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka”

“Sahabat sejati-mu adalah yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu”

Dengan Sering berjumpa dengan orang shalih yang sabar dengan kehidupan dunia ini dan tidak rakus akan harta dan kedudukan, hidup kita akan mudah dan lebih bahagia.

Perhatikan bagaimana Ibnul Qayyim mengisahkan tentang guru beliau Ibnu Taimiyyah, beliau berkata:

وكنا إذا اشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه، فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله وينقلب انشراحاً وقوة ويقيناً وطمأنينة

“Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”[ Al-wabilush shayyib hal 48, Darul Hadits, Syamilah]

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber: https://muslim.or.id/45155-apapun-keadaanya-jangan-pernah-tinggalkan-majelis-ilmu.html

Keutamaan Berwudhu Sebelum Tidur

Tanya:

Apakah berwudhu sebelum tidur itu dianjurkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu apa dalilnya?

Dari: Fadil Ahmadhia Warman

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat hadis yang menunjukkan bahwa kita dianjurkan untuk bersuci sebelum tidur. Diantaranya, hadis dari Al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ، ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ ؛ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ

“Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak shalat. Kemudian berbaringlah miring ke kanan, dan bacalah

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena rasa takut dan penuh haram kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari hukuman-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus.

Jika kamu mati di malam itu, kamu mati dalam keadaan fitrah. Jadikanlah doa itu, sebagai kalimat terakhir yang engkau ucapkan sebelum tidur.”

(HR. Bukhari 247 danMuslim 2710)

Didoakan Malaikat

Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan berwudhu sebelum tidur. Orang yang berwudhu sebelum tidur, akan didoakan malaikat.

Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.’” (HR. Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih. Hadis ini juga dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan beberapa manfaat berwudhu sebelum tidur,

وَلَهُ فَوَائِد : مِنْهَا أَنْ يَبِيت عَلَى طَهَارَة لِئَلَّا يَبْغَتهُ الْمَوْت فَيَكُون عَلَى هَيْئَة كَامِلَة , وَيُؤْخَذ مِنْهُ النَّدْب إِلَى الِاسْتِعْدَاد لِلْمَوْتِ بِطَهَارَةِ الْقَلْب لِأَنَّهُ أَوْلَى مِنْ طَهَارَة الْبَدَن .. ، وَيَتَأَكَّد ذَلِكَ فِي حَقّ الْمُحْدِث وَلَا سِيَّمَا الْجُنُب وَهُوَ أَنْشَط لِلْعَوْدِ , وَقَدْ يَكُون مُنَشِّطًا لِلْغُسْلِ ، فَيَبِيت عَلَى طَهَارَة كَامِلَة . وَمِنْهَا أَنْ يَكُون أَصْدَق لِرُؤْيَاهُ وَأَبْعَد مِنْ تَلَعُّب الشَّيْطَان بِهِ

Ada banyak manfaat dari berwudhu sebelum tidur, diantaranya, orang itu tidur dalam kondisi suci, agar ketika kematian menjemputnya, dia berada dalam keadaan sempurna. Dari hadis ini juga terdapat pelajaran agar kita selalu menyiapkan diri menghadapi kematian, dengan menyucikan hati. Karena kesucian hati lebih diutamakan dari pada kesucian badan…, lebih ditekankan lagi untuk orang yang sedang berhadas, terutama orang junub, agar bisa kemabli segar atau memicu untuk mandi. Sehingga dia bisa tidur suci dari semua hadats. Kemudian, diantara manfaat wudhu ini, untuk mengundang mimpi yang baik, dan dijauhkan dari permainan setan ketika tidur. (Fathul Bari, 11/110)

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

sumber: https://konsultasisyariah.com/18682-keutamaan-berwudhu-sebelum-tidur.html

Bolehkah Kita Menonton Acara Atraksi/Sihir?

Pertanyaan:

Di kalangan remaja sedang ramai dibicarakan tentang video yang di dalamnya mengandung atraksi yang mengandung beberapa praktek sihir.

Pertanyaannya, apakah menonton video tersebut termasuk dalam hadits:

من أتى ساحراً لم تقبل له صلاة أربعين يوماً

“Orang yang mendatangi penyihir tidak diterima shalatnya selama 40 hari.”

DR. Khalid bin Ali Al Musyaiqih menjawab:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Wa ba’du:

Mendatangi penyihir dan dukun tidak diragukan lagi keharamannya, dan tidak diperbolehkan melakukannya. Hal ini didasari oleh hadits dari Mu’awiyah bin Hakam radhiallahu’anhu:

إن منّا رجالاً يأتون الكهان قال صلى الله عليه وسلم: “فلا تأتهم” صحيح مسلم

“Diantara kami ada beberapa orang yang mendatangi dukun, kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Janganlah kalian datangi mereka (para dukun)!’” (HR. Muslim)

Pendapatku, gemar menonton video yang demikian merupakan bentuk lain dari mendatangi dukun dan penyihir, hanya saja medianya berbeda. Karena hikmah dari larangan mendatangi dukun dan penyihir adalah agar terhindar dari keburukan yang mereka sebabkan. Dan dengan menonton video yang demikian terkadang keburukan tersebut tetap ada.

Adapun berkaitan dengan yang ditanyakan, tentang hadits:

من أتى ساحراً لم تقبل له صلاة أربعين يوماً

“Orang yang mendatangi penyihir tidak diterima shalatnya selama 40 hari.”

Dalil ini dapat diterapkan jika seseorang mendatangi dukun, bertanya padanya tentang hal gaib yang sifatnya nisbi dan kemudian membenarkannya, hal ini dilakukan dengan keyakinan bahwa sang dukun diberitahu oleh setan. Jika demikian, maka konsekuensi bagi orang tersebut ada dua:

  1. Ia berbuat syirik kepada Allah Azza Wa Jalla yang jenisnya Syirik kecil (tidak membatalkan keislaman).
  2. Shalatnya tidak diterima selama 40 hari.

Adapun jika orang tersebut mendatangi dukun, bertanya padanya tentang hal gaib yang sifatnya mutlak dan kemudian membenarkannya, atau juga jika ia bertanya pada dukun lalu membenarkannya dengan keyakinan bahwa sang dukun tidak diberitahu oleh setan (dukun itu yang tahu sendiri), maka ia orang ini telah terjerumus dalam syirik akbar yang membatalkan keIslamannya.

Mufti: DR. Khalid bin Ali Al Musyaiqih hafizhahullah

Sumber:

Keterangan:

Ghaib hakiki/mutlak adalah hal-hal yang tidak mungkin diketahui oleh selain Allah, sampai kapanpun. Misal: waktu terjadinya hari kiamat.

Ghaib nisbi adalah hal-hal ghaib yang masih ada kemungkinan untuk diketahui dengan bantuan alat tertentu atau cara tertentu. Disebut nisbi karena bagi sebagian orang hal ini termasuk ghaib, namun bagi sebagian orang yg lain tidak ghaib. Misalnya: mengetahui jenis kelamin janin.

Kesimpulan dari saya:

Jika hanya sekedar menonton video acara sihir atau acara perdukunan tidak termasuk kesyirikan namun haram hukumnya karena dilarang oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Disalin dari: kangaswad.wordpress.com

repost:  https://konsultasisyariah.com/1896-bolehkah-kita-menonton-acara-atraksi-sihir.html

Allah Menciptakan Dan Memberi Kita Rizki, Dan Tidak Membiarkan Kita Begitu Saja

Di dunia ini, Allah Ta’ala telah memberikan dan melimpahkan kita berbagai macam nikmat dan rizki yang tidak terhitung jumlahnya. Allah Ta’ala memelihara kita di dunia ini dengan rizki-Nya, setelah sebelumnya Allah menciptakan kita. Lalu, apakah hal itu Allah lakukan hanya karena “suka-suka” dan “main-main” saja, tidak ada hikmah dan tidak ada tujuan tertentu?

Beriman bahwa Allah adalah Dzat yang Menciptakan Kita

Sebagaimana yang telah kita maklumi bersama bahwa Allah Ta’ala menciptakan kita setelah sebelumnya kita tidak ada. Allah Ta’ala berfirman,

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-Insan [76]: 1).

Allah Ta’ala juga berfirman,

قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

“Tuhan berfirman, ‘Demikianlah.’ Tuhan berfirman, ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku. Dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.’” (QS. Maryam [19]: 9).

Adapun yang menciptakan kita adalah Allah Ta’ala. Hal ini dapat kita ketahui berdasarkan dalil sam’i (dalil berupa wahyu) dan dalil ‘aqli (dalil berupa logika). Berdasarkan dalil sam’i misalnya firman Allah Ta’ala,

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

“Allah adalah Pencipta segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar [39]: 62).

Adapun dalil logika, sebagaimana yang ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thuur [52]: 35).

Dalam ayat ini terdapat dalil logika tentang pencipataan manusia. Karena berdasarkan logika kita, adanya manusia dan dunia ini tidak lepas dari tiga kemungkinan. Kemungkinan pertama, mereka ada tanpa adanya pencipta apa pun. Kemungkinan ke dua, mereka menciptakan diri mereka sendiri. Dan kemungkinan yang ke tiga, ada yang menciptakan, Dia–lah Rabb Yang Maha kuasa. Kemungkinan pertama dan ke dua tentu kemungkinan yang tidak benar, sedangkan yang benar adalah kemungkinan ke tiga. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala mengajak manusia untuk berfikir (yang artinya), “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?”

Beriman bahwa Allah adalah Dzat yang Memberikan Rizki kepada Kita dan Tidak akan Membiarkan Kita Begitu Saja

Setelah menciptakan kita, maka Allah Ta’ala pun memberikan kepada kita berbagai rizki yang dapat membantu dan memudahkan kehidupan kita di dunia ini. Dan dengan rizki itulah kita dapat mewujudkan tujuan penciptaan kita di dunia ini, yaitu beribadah kepada-Nya semata. Allah Ta’ala berfirman, 

إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 37).

Setelah Allah Ta’ala menciptakan kita, maka ketahuilah bahwa Allah tidaklah lantas membiarkan kita begitu saja. Allah Ta’ala menciptakan dan memberi kita rizki karena hikmah tertentu. Tidaklah Allah Ta’ala menciptakan kita hanya sekedar main-main saja tanpa tujuan. Allah Ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 115).

Allah Ta’ala juga berfirman,

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى (36) أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى (37) ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى (38)

“Apakah manusia mengira, bahwa dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung-jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya?” (QS. Al-Qiyamah [75]: 36-38).

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir. Maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shaad [38]: 27).

Ibadah: Hikmah dan Tujuan Penciptaan Manusia

Allah Ta’ala tidaklah menciptakan kita di dunia ini untuk hidup bersenang-senang saja, sekedar untuk makan-minum, istirahat, foya-foya, dan bergembira, dan setelah itu kita meninggal tanpa ada urusan lagi atau pertanggung-jawaban apa pun. Allah tidaklah menciptakan kita sebagaimana binatang, yang tidak dibebani syariat apa pun, baik berupa perintah maupun larangan. Akan tetapi, Allah Ta’ala menciptakan kita karena hikmah yang sangat agung dan karena tujuan yang sangat mulia, yaitu agar kita beribadah kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku juga tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz-Dzaariyat [51]: 56-57).

Kehidupan Dunia, Tempat Berladang dan Bercocok Tanam

Oleh karena itulah, kehidupan kita di dunia ini hakikatnya bagaikan tempat berladang dan bercocok tanam, yang akan kita petik hasilnya di negeri akhirat kelak. Kita menyiapkan diri kita dengan berbagai amal shalih. Setelah itu kita pun mati, dibangkitkan, dihisab, dan diberi balasan terhadap amal yang telah kita kerjakan.

Sebetulnya, akal kita pun telah menunjukkan hal itu. Karena tentu merupakan hal yang bertentangan atau tidak sesuai dengan hikmah Allah Ta’ala ketika Dia menciptakan manusia, memberikan mereka berbagai macam rizki, kemudian setelah itu dibiarkan begitu saja, tanpa ada pertanggung-jawaban dan balasan apa pun. Ini adalah perbuatan sia-sia. Oleh karena itu, sebuah keniscayaan untuk memberikan balasan amal-amal manusia di dunia ketika berada di negeri akhirat kelak.

Marilah kita berfikir sejenak, ketika di dunia bisa saja kita melihat seseorang yang sangat bersemangat beribadah kepada Allah Ta’ala, akan tetapi dia hidup dalam kemiskinan. Di sisi lain, ada seseorang yang sangat dzalim dan sering melanggar hak orang lain, namun tidak mendapatkan balasan (hukuman) apa-apa di dunia. Ada pula orang kafir yang menentang Allah dan Rasul-Nya, namun hidupnya mewah dan penuh dengan kesenangan dan kecukupan. Apakah sesuai dengan keadilan dan hikmah Allah Ta’ala, ketika Allah membiarkan hamba-Nya yang taat tanpa ada balasan apa pun dan membiarkan orang kafir tanpa ada hukuman apa pun, kalau setelah kehidupan di dunia tidak ada pertanggung-jawaban? Hal ini bertentangan dengan hikmah Allah Ta’ala sama sekali. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala menjadikan negeri yang lain, yaitu negeri akhirat, sehingga Allah Ta’ala membalas hamba-Nya yang taat atas ketaatannya dan membalas hamba-Nya yang durhaka atas kedurhakaannya. 

Berdasarkan penjelasan di atas, maka jelaslah bahwa dunia adalah ladang untuk beramal, sedangkan akhirat adalah negeri balasan, baik surga maupun neraka. Allah Ta’ala tidak akan membiarkan kita begitu saja, sebagaimana sangkaan orang-orang musyrik -yang tidak beriman dengan hari kebangkitan- yang Allah Ta’ala ceritakan dalam firman-Nya,

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata,’Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa.’ Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 24).

Allah Ta’ala sendiri telah membantah anggapan mereka itu dalam firman-Nya,

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ (35) مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (36)

“Maka apakah patut kami menjadikan orang-orang Islam itu sama (balasannya) dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian), bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam [68]: 35-36)

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 21).

Untuk Mewujudkan Tujuan Penciptaan, Diutuslah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Agar manusia dapat mewujudkan tujuan penciptaan tersebut –yaitu beribadah kepada-Nya-, maka Allah Ta’ala pun mengutus rasul kepada kita, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena ibadah tidaklah didasarkan atas sangkaan baik kita semata atau didasarkan atas ikut-ikutan orang lain. Sehingga Allah Ta’ala pun mengutus rasul untuk menjelaskan kepada kita bagaimana cara beribadah kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, di antara hikmah diutusnya rasul adalah untuk menjelaskan bagaimana tatacara beribadah yang benar kepada Allah Ta’ala dan melarang manusia dari perbuatan syirik dan kekafiran. 

Di antara dalil yang menunjukkan pengutusan rasul ini adalah firman Allah Ta’ala,

إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولًا (15) فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا (16)

“Sesungguhnya kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana kami telah mengutus (dahulu) seorang rasul kepada Fir’aun. Maka Fir’aun mendurhakai rasul itu, lalu kami siksa dia dengan siksaan yang berat.” (QS. Al-Muzammil [73]: 15-16).

Barangsiapa yang menaati rasul tersebut, maka sungguh dia telah mendapatkan petunjuk dan masuk surga. Dan barangsiapa yang durhaka kepada rasul, maka dia berada dalam kesesatan dan masuk neraka. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan jika kamu taat kepadanya (rasul), niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An-Nuur [24]: 54).

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. An-Nuur [24]: 56).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ « مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى »

“Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan.” Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?” Rasulullah menjawab,”Barangsiapa yang taat kepadaku, maka masuk surga. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka dia adalah orang yang enggan (masuk surga).” (HR. Bukhari, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ »

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah ada seorang pun dari umatku yang mendengar dakwahku, meskipun seorang Yahudi atau Nasrani, kemudian mati dalam keadaan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali dia adalah penghuni neraka.” (HR. Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Karena rasul telah menjelaskan segala hal tentang kewajiban kita kepada Allah Ta’ala di dunia ini, maka tidak boleh ada seorang pun yang mengatakan pada hari kiamat, “Saya tidak tahu bahwa aku diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Saya tidak tahu apa yang Allah perintahkan dan apa yang Allah larang.” Hal ini karena hal itu telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan pengutusan rasul, maka tegaklah hujjah Allah Ta’ala kepada manusia. Sehingga tidak ada lagi alasan yang dapat dipakai oleh manusia ketika mereka durhaka kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’ [4]: 165).

Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat mewujudkan tujuan penciptaan kita di dunia ini, yaitu beribadah dan taat kepada-Nya, serta tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. 

***

Selesai disempurnakan ba’da dzuhur, Sint-Jobskade Rotterdam NL, Sabtu 5 Sya’ban 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Referensi:
  • Hushuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Maktabah Ar-Rusyd Riyadh KSA, cetakan ke dua, tahun 1430.
  • Syarhu Al-Ushuuli Ats-Tsalaatsah, Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan, Daar Al-Imam Ahmad Kairo Mesir, cetakan pertama, tahun 1427.

—

sumber: https://muslim.or.id/25653-allah-menciptakan-dan-memberi-kita-rizki-dan-tidak-membiarkan-kita-begitu-saja.html

Mereka yang Memegang Bara Api

Berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ini memang amat berat, bagai mereka yang memegang bara api.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dijelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa di zaman tersebut, orang yang berpegang teguh dengan agama hingga meninggalkan dunianya, ujian dan kesabarannya begitu berat. Ibaratnya seperti seseorang yang memegang bara (nyala) api.

Ath Thibiy berkata bahwa maknanya adalah sebagaimana seseorang tidak mampu menggenggam bara api karena tangannya bisa terbakar sama halnya dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Islam saat ini, ia sampai tak kuat ketika ingin berpegang teguh dengan agamanya. Hal itu lantaran banyaknya maksiat di sekelilingnya, pelaku maksiat pun begitu banyak, kefasikan pun semakin tersebar luas, juga iman pun semakin lemah.

Sedangkan Al Qari mengatakan bahwa sebagaimana seseorang tidaklah mungkin menggenggam bara api melainkan dengan memiliki kesabaran yang ekstra dan kesulitan yang luar biasa. Begitu pula dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman ini butuh kesabaran yang ekstra.

Itulah gambaran orang yang konsekuen dengan ajaran Islam saat ini, yang ingin terus menjalankan ibadah sesuai sunnah Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, begitu sulitnya dan begitu beratnya. Kadang cacian yang mesti diterima. Kadang dikucilkan oleh masyarakat sekitar. Kadang jadi bahan omongan yang tidak enak. Sampai-sampai ada yang nyawanya dan keluarganya terancam. Demikianlah resikonya. Namun nantikan balasannya di sisi Allah yang luar biasa andai mau bersabar.

Ingatlah janji Allah,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10).

Sebagaimana disebut dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, Al Auza’i menyatakan bahwa pahala mereka tak bisa ditimbang dan tak bisa ditakar. Itulah karena saking banyaknya.

Ibnu Juraij menyatakan bahwa pahala mereka tak bisa terhitung (tak terhingga), juga ditambah setelah itu.

Sedangkan As Sudi menyatakan bahwa balasan orang yang bersabar adalah surga.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Referensi:

Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami’ At Tirmidzi, Abul ‘Ala Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri, terbitan Darus Salam, cetakan pertama, tahun 1432 H.

Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tahqiq: Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.

—

Selesai disusun di Le Green dekat Masjid Al Fatah, 16 Jumadal Ula 1436 di pagi yang cerah di kota Ambon

Oleh yang menyayangimu karena Allah: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/10479-mereka-yang-memegang-bara-api.html

Perhatikanlah Hatimu!

Hati seharusnya menjadi perhatian utama daripada lahiriyah. Karena baiknya hati, baik pula amalan lainnya. Karena hati yang bersih, amalan yang lain bisa diterima. Beda halnya jika memiliki hati yang rusak, terutama hati yang tercampur noda syirik.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ 

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Amalan yang dibalas oleh Allah adalah amalan yang disertai niat yang ikhlas dan benar.

2- Kita harus lebih memperhatikan keadaan hati dari berbagai sifat tercela.

3- Memperbaiki hati lebih didahulukan daripada memperhatikan amalan lahiriyah. Yang utama, hati diperbaiki dengan memperhatikan akidah.

4- Amalan seseorang bisa jadi nampak baik secara lahiriyah, namun hatinya rusak. Oleh karena itu, tetap kita berinteraksi dengan orang semacam ini dengan memperhatikan lahiriyahnya. Sedangkan hatinya yang rusak adalah urusannya dengan Allah.

Semoga Allah menjadikan hati kita hati yang bersih dan menjadikannya hati-hati yang ikhlas. Hanya Allah yang memberi taufik.

—

@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, menjelang Maghrib, 11 Rajab 1434 H

sumber: https://rumaysho.com/3373-perhatikanlah-hatimu.html

Urgensi Sifat Yakin

Kaum Muslimin rahimakumullah,

senantiasalah bertakwa kepada Allah Ta’ala, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Bertakwa dengan cara menaati-Nya bukan berbuatk maksiat kepada-Nya, mensyukuri nikmat-Nya bukan malah mengkufurinya, dan selalu mengingat-Nya bukan melupakan-Nya.

Segala puji bagi-Nya Rabb semesta alam, yang telah mengaruniakan berbagai kenikmatan yang tak terhingga. Shalawat dan salam bagi penghulu para rasul, kekasih dan penyejuk hati kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya, serta pengikutnya hingga akhir zaman.

Kaum Muslimin rahimakumullah,

Sifat yakin dan keteguhan hati adalah satu hal penting yang selalu dirindukan oleh orang yang berakal sehat, sebagai penenang hati dalam kesunyian, pemberi kekuatan saat ditimpa kelemahan, menjadi penerang dalam kegelapan, penghilang dahaga saat kehausan. Ringkasnya, keteguhan hati menyimpan banyak makna.

Barangsiapa memiliki sifat ini, maka ia akan memperoleh kewibawaan dan kemuliaan, meski ia bukan dari keturunan bangsawan. Sifat ini tidak bisa dibeli dengan harta dan tidak pula diraih dengan kekuatan. Sifat inilah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan beliau tidak memerintahkan kita kecuali kepada kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَلُوْا اللهَ اليَقِينَ وَالمُعَافَاةَ، فَإِنَّهُ لَمْ يُؤْتَ أَحَدٌ بَعْدَ اليَقِيْنُ خَيْرًا مِنَ المَعَافَاةِ

Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala keteguhan hati dan keselamatan. Sungguh, seseorang tidak diberi sesuatu yang lebih baik daripada keselamatan setelah diberi keteguhan hati. (HR. Ahmad)

Kaum Muslimin rahimakumullah,

Sifat itu adalah sifat yakin (sifat teguh pendirian) yang ada dalam hati. Sifat ini bila disertai dengan ilmu mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia akan menjadikan hati seseorang tidak terombang-ambing. Ia akan selalu tenang dalam merealisasikan keimanannya. Sehingga ia akan dapat merealisasikan seluruh tingkatan-tingkatan yakin yang tiga, yaitu ilmul yaqin, ‘ainul yaqin, dan haqqul yaqin.

Kedudukan sifat ini bagi iman seperti kedudukan ruh bagi jasad. Oleh karena itu, orang yang tidak mempunyai sifat yakin, maka ia tak ubahnya seperti seonggok jasad tanpa nyawa.

Dengan sifat ini, seseorang dapat merasakan kedudukan yang tinggi dan memiliki keinginan kuat untuk meraih derajat yang telah dicapai oleh orang terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dimana sifat yakin yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepadanya shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadikannya kokoh menghadapi tiga peristiwa penting yang menentukan.

Pertama, saat orang kafir Quraisy mendatangi Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu untuk membuatnya ragu terhadap agama dan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, “Sesungguhnya sahabatmu (Muhammad) mengklaim dirinya dijalankan pada malam hari menuju Baitul Maqdis kemudian dinaikkan ke langit.” mendengar pernyataan orang kafir Quraisy ini, seketika itu pula dengan penuh keyakinan, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Jika ia (Muhammad) telah mengatakannya, maka hal itu memang benar adanya.”

Sebuah jawaban yang menunjukkan kemantapan hati dan menggambarkan betapa sifat yakin itu telah melekat dalam lubuk hati beliau radhiyallahu ‘anhu yang paling dalam. Jawaban ini, telah memupus harapan kaum kafir Quraisy yang berniat membuat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ragu terhadap ajaran Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka harus pulang dengan membawa kegagalan

Kaum Muslimin rahimakumullah,

Peristiwa kedua. Saat manusia menyatakan tidak percaya dan tidak bisa menerima fakta bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal dunia, maka Abu Bakar naik mimbar dan berseru di hadapan manusia, “Barangsiapa menyembah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal. Dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha hidup dan tidak mati.”

Ketiga, saat muncul orang-orang murtad, Abu Bakar benar-benar tegar sebagai panutan dalam memerangi mereka. Beliau radhiyallahu ‘anhu berseru, “Demi Allah, seandainya mereka tidak lagi menyerahkan iqal (tali yang digunakan untuk mengikat onta) yang dahulu mereka berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sungguh aku akan perangi mereka karena hal ini”.

Kaum Muslimin rahimakumullah,

Demikianlah cahaya iman, apabila telah menancap dalam hati seseorang, maka keimanan itu akan membimbingnya kepada derajat yakin dan siap menerima agama Allah ini dengan sepenuh hati. Orang yang menjalani kehidupan dunia ini dengan penuh keyakinan terhadap Allah, dia pasti menyadari bahwa dunia ini tidak senilai dengan sehelai sayap nyamuk di sisi Allah. Dia tidak akan tertipu dengan dunia, karena dia memiliki cita-cita tinggi. Ini hanya diketahui oleh orang-orang yang merasakannya saja. Karena sifat yakin (keteguhan hati) merupakan amalan hati. Yang mengetahui pengaruhnya hanyalah orang-orang yang berilmu yang memiliki kepekaan. Orang yang memiliki keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak dan pantas mendapatkan bashirah (ilmu), hidayah, dan rahmat Allah. Tiga hal ini merupakan faktor penting dalam kehidupan beragama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Alquran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS. Al-Jatsiyah: 20)

Kaum Muslimin rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan memberinya sifat yakin (keteguhan hati). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75)

Sifat yang dimiliki Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ini semakin menambah keimanan serta ketegarannya. Dengan rasa ini, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kian mengetahui bahwa kaumnya berada dalam kesesatan dan penyimpangan dari jalan yang lurus. Mereka menjadikan sesembahan-sesembahan selain Allah dan menghalangi dari jalan-Nya, padahal mereka mengetahui.

Keteguhan hati ini pula yang menjadikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam siap melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putra kesayangannya Ismail. Keteguhan hati ini jugalah yang membuat Ismail ‘alaihissalam tidak ragu untuk mengatakan kepada ayahnya, tersebut dalam Alquran surat Ash-Shafat 102:

قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَآءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatkan aku termasuk orang-orang yang sabar”.

Tingkatan inilah yang disebut dengan ilmul yaqin.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kesabaran itu sebagian dari iman, dan sifat yakin itu adalah seluruh keimanan itu sendiri” (HR. al-Bukhari)

Orang yang kehilangan faktor penting ini (maksudnya kehilangan sifat yakin), maka ia tidak mungkin menjadi petunjuk jalan dan tidak pula mendapat petunjuk, baik di rumah, di pasar, maupun di tengah masyarakatnya.

Allah berfirman,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)

Oleh sebab itu, tatkala kepemimpinan dalam agama merupakan hal yang berat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaitkannya dengan hal yang berat pula yang ada di dalam hati (yaitu sifat yakin). Sifat ini tidak diketahui hakikat dan rasanya kecuali oleh orang yang merenungi kematian dan kehidupan ini sebagaimana Ulama merenunginya.

Inilah keteguhan hati yang seharusnya dihadirkan setiap saat, namun tidak setiap orang mampu melakukannya. Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita memohon agar senantiasa menguatkan jiwa kita agar istiqamah di atas keyakinan kepada Allah.

Kaum Muslimin rahimakumullah,

Sifat yakin inilah yang menjadikan seorang hamba bisa menerima agama ini dengan sepenuh hati, baik perintah Allah maupun larangan-Nya. Mereka mengatakan:

ءَامَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا

“Kami beriman kepada [Alquran], semuanya itu dari sisi Rabb kami,” (QS. Ali Imran: 7)

Mereka tidak membantah dan tidak pula menyelisihinya, serta tidak pula mengimani sebagian dan mengingkari sebagian yang lain.

Hamba Allah yang memiliki sifat yakin, akan menerima seluruh syariat agama ini dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)

Keteguhan hati seorang mukmin ibarat cahaya di atas cahaya yang senantiasa menerangi langkahnya, karena ia mengetahui, bahwa Allah melihat keberadaannya, mendengar pembicaraan rahasianya, mengetahui musibahnya, mengetahui detak jantungnya yang dipenuhi dengan sifat yakin, sehingga hamba ini mengetahui, bahwa segala yang ditakdirkan kepadanya tidak mungkin meleset. Sebaliknya yang bukan ditakdirkan untuknya tidak akan menimpanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menimpakan kepadanya ujian kecuali menginginkan keselamatan untuknya. Dan apa yang diambil oleh Allah akan dikembalikan kepadanya. Begitu pula apa yang dikurangi darinya justru akan ditambah.

Allah mengujinya dengan kesusahan, membuat buntu jalan yang ia tempuh dengan susah payah. Hingga tatkala ia berada di lorong kegelapan, muncullah cahaya terang dan ditemukan kunci-kunci untuk membukanya. Ditemukan mata air bagi yang dilanda haus dahaga. Setelah musibah ada hibah (pemberian karunia), sesudah kesedihan ada kegembiraan. Dunia ini tidak lain hanyalah fatamorgana di tanah yang datar, dan kita akan dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sungguh akhirat itulah negeri tempat tinggal. Barangsiapa menginginkan hidup dengan leluasa serta penuh kemuliaan dalam urusan dunia dan agama, hendaklah ia mengharapkan keselamatan sebagaimana kebebasan dan kemuliaan yang ingin ia dapatkan, dengan membentengi keimanannya dengan keteguhan hati.

sumber: https://khotbahjumat.com/2490-urgensi-sifat-yakin.html

[Belajar Tauhid] 110. Iman Kepada Hari Akhir 14

catatan: besok, sabtu pukul 17.00WIB, quiz pekanan akan aktif. yuk murajaah 5 materi serial belajar tauhid yang terakhir.


Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari Iman Kepada Hari Akhir 13 sbb:

  1. Syafa’at adalah meminta kebaikan untuk orang lain, yaitu bergabung dengan pihak lain dalam rangka menolongnya sebagai peminta kebaikan untuknya.
  2. Syafaat juga bermakna bergabungnya orang yang tinggi derajatnya dengan orang yang rendah derajatnya untuk mengangkat derajat mereka.
  3. Syafaat itu seluruhnya milik Allâh -‘Azza wa Jalla- dan merupakan salah sebab yang membuat Allâh -‘Azza wa Jalla- berbelas kasihan kepada hamba-Nya.
  4. Syafa’at disisi Allâh -‘Azza wa Jalla- hanya terjadi dengan dua syarat. Pertama : Izin Allâh -‘Azza wa Jalla- kepada Syaafi’ (Pemberi Syafa’at) untuk memberikan syafaatnya. Kedua : Ridha Allâh -‘Azza wa Jalla- kepada Masyfuu’ Lahu (Yang Diberi Syafa’at) untuk menerima syafa’at.
  5. Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak akan memberikan izin syafa’at kecuali kepada wali-wali-Nya. Dan Para Wali ini tidak akan memberikan syafa’at kecuali kepada orang-orang yang diridhai Allâh -‘Azza wa Jalla- dari Ahlu Tauhid.

selanjutnya kita akan mempelajari Iman Kepada Hari Akhir 14, ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Telat Shalat Shubuh

Shalat ini mesti terus dijaga karena keutamaannya, sehingga jangan sampai telat Shalat Shubuh.

Kita sering perhatikan bagaimana keadaan jama’ah Shubuh di masjid-masjid begitu sepi. Juga tidak sedikit yang telat shalat Shubuh bahkan dikerjakan saat matahari telah meninggi. Padahal shalat lima waktu sudah ditetapkan waktunya, namun demikianlah shalat Shubuh yang terasa cukup berat, mata terasa sulit untuk dibuka ketika fajar.

Kerjakan Shalat Kecuali Shalat Shubuh

Sudah kita ketahui bagaimana keutamaan shalat Shubuh. Shalat tersebut adalah shalat yang sangat utama. Lebih-lebih Allah memberikan penjaminan rasa aman bagi yang rutin menjaganya. Jika seseorang meninggalkan shalat Shubuh dengan sengaja bahkan dijadikan rutinitas, yang jelas seperti itu adalah dosa besar. Karena meninggalkan satu shalat saja lebih parah daripada dosa besar lainnya sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim yang pernah dikemukakan sebelumnya. Sehingga jika ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh saja dan masih mengerjakan shalat lainnya, maka ia tetap terjerumus dalam dosa besar. Kewajibannya adalah bertaubat, beristighfar, menyesali yang telah lalu, dan harus menjaga kembali shalat lima waktu.

Telat Shalat Shubuh dan Dikencingi Setan

Ini bahayanya jika seseorang terus tidur di malam hari hingga lalai shalat Shubuh. Sungguh bahaya karena orang ini disebut dikencingi oleh setan.

Dari Ibnu Mas’ud ia pernah berkata, “Di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan tentang seorang laki-laki yang tidur semalaman sampai datang pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِى أُذُنَيْهِ – أَوْ قَالَ – فِى أُذُنِهِ

“Laki-laki itu telah dikencingi oleh setan pada kedua telinganya -dalam riwayat lain: di telinganya-” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 3270 dan Muslim no. 774). Al Qodhi ‘Iyadh memahami hadits ini secara tekstual. Demikianlah yang benar. Lalu dikhususkan kata telinga yang dikencingi karena telingalah pusat pendengaran untuk diingatkan. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 58).

Ada ulama yang menafsirkan hadits di atas dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang tidur hingga pagi hari sampai-sampai luput dari shalat Shubuh (Lihat Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 194). Ini menunjukkan jeleknya orang yang tidak bangun Shubuh sampai-sampai dikencingi oleh setan. Setan saja sudah tidak kita sukai, apalagi jika sampai dikencingi oleh makhluk tersebut. Wallahul musta’an, kita berlindung pada Allah dari kejelekan semacam itu.

Telat Shalat Shubuh Karena Ketiduran

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى

“Jika salah seorang di antara kalian tertidur atau lalai dari shalat, maka hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Karena Allah berfirman (yang artinya), “Kerjakanlah shalat ketika ingat.”[1] (HR. Bukhari no. 597 dan Muslim no. 684).

Dalam riwayat lain disebutkan,

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا ، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ

“Barangsiapa yang lupa shalat, hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Tidak ada kewajiban baginya selain itu.” (HR. Bukhari no. 597).

Riwayat lain disebutkan,

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur, maka tebusannya adalah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim no. 684).

Imam Nawawi mengatakan bahwa kewajiban orang yang lupa saat itu adalah mengerjakan shalat semisal yang ia tinggalkan dan tidak ada kewajiban tambahan selain itu. (Syarh Shahih Muslim, 5: 172).

Para ulama Al Lajnah Ad Daimah mengatakan, “Jika engkau ketiduran atau lupa sehingga luput dari waktu shalat, maka hendaklah engkau shalat ketika engkau terbangun dari tidur atau ketika ingat walaupun ketika itu saat terbit atau tenggelamnya matahari.” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, pertanyaan pertama dari Fatwa nomor 6196, 6: 10)

Dijelaskan pula dalam Fatwa Lajnah no. 5545 bahwa jika seseorang tertidur sehingga luput dari shalat shubuh, dia terbangun ketika matahari terbit atau beberapa saat sebelum matahari terbit atau beberapa saat sesudah matahari terbit; maka wajib baginya mengerjakan shalat shubuh ketika dia terbangun, baik matahari terbit ketika dia sedang shalat atau ketika mau memulai shalat matahari sedang terbit atau pun memulai shalat ketika matahari sudah terbit, dalam kondisi ini hendaklah dia sempurnakan shalatnya sebelum matahari memanas. Dan tidak boleh seseorang menunda shalat shubuh hingga matahari meninggi atau memanas. Adapun hadits yang menyatakan larangan shalat ketika matahari terbit karena pada waktu itu matahari terbit pada dua tanduk setan (HR. Muslim), maka larangan yang dimaksudkan adalah jika kita mau mengerjakan shalat sunnah yang tidak memiliki sebab atau mau mengerjakan shalat wajib yang tidak disebabkan karena lupa atau karena tertidur.

Sengaja Mengatur Jadwal Bangun Pagi

Diharamkan bagi seseorang mengakhirkan shalat hingga ke luar waktunya. Karena Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’ : 103)

Wajib bagi setiap muslim yang telah dibebani syari’at untuk menjaga shalat di waktunya termasuk shalat shubuh. Jika ada yang sengaja mengatur bangun Shubuh hingga keluar dari waktu Shubuh, maka ia sama saja dengan orang yang meninggalkan shalat Shubuh. Ia harus bertaubat dan kembali mengerjakan Shalat Shubuh di waktunya.

Hanya Allah yang memberi taufik.

—

Akhukum fillah,

Muhammad Abduh Tuasikal

Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1435 H (11:30 PM)

sumber: https://rumaysho.com/4813-telat-shalat-shubuh.html