Jangan Biarkan Puasamu Sia-sia

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” 

Di bulan Ramadhan ini setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjalankan puasa dengan menahan lapar dan dahaga mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Namun ada di antara kaum muslimin yang melakukan puasa, dia tidaklah mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja yang menghinggapi tenggorokannya. Inilah yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur lagi membawa berita yang benar, 

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya).

Apa di balik ini semua? Mengapa amalan puasa orang tersebut tidak teranggap, padahal dia telah susah payah menahan dahaga mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari?

Saudaraku, agar engkau mendapatkan jawabannya, simaklah pembahasan berikut mengenai beberapa hal yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia –semoga Allah memberi taufik pada kita untuk menjauhi hal-hal ini-.

  1. Berkata Dusta (az zuur)

Inilah perkataan yang membuat puasa seorang muslim bisa sia-sia, hanya merasakan lapar dan dahaga saja.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

Apa yang dimaksud dengan az zuur? As Suyuthi mengatakan bahwa az zuur adalah berkata dusta dan menfitnah (buhtan). Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah Allah larang. (Syarh Sunan Ibnu Majah, 1/121, Maktabah Syamilah)

  1. Berkata lagwu (sia-sia) dan rofats (kata-kata porno)

Amalan yang kedua yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia adalah perkataan lagwu dan rofats.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Apa yang dimaksud dengan lagwu? Dalam Fathul Bari (3/346), Al Akhfasy mengatakan,

اللَّغْو الْكَلَام الَّذِي لَا أَصْل لَهُ مِنْ الْبَاطِل وَشَبَهه

“Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.”

Lalu apa yang dimaksudkan dengan rofats? Dalam Fathul Bari (5/157), Ibnu Hajar mengatakan,

وَيُطْلَق عَلَى التَّعْرِيض بِهِ وَعَلَى الْفُحْش فِي الْقَوْل

“Istilah Rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.”

Al Azhari mengatakan,

الرَّفَث اِسْم جَامِع لِكُلِّ مَا يُرِيدهُ الرَّجُل مِنْ الْمَرْأَة

“Istilah rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita.” Atau dengan kata lain rofats adalah kata-kata porno.

Itulah di antara perkara yang bisa membuat amalan seseorang menjadi sia-sia. Betapa banyak orang yang masih melakukan seperti ini, begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kotor, dusta, sia-sia dan menggunjing orang lain.

  1. Melakukan Berbagai Macam Maksiat

Ingatlah bahwa puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa juga menjauhi perbuatan yang haram. Perhatikanlah saudaraku petuah yang sangat bagus dari Ibnu Rojab Al Hambali berikut :

“Ketahuilah, amalan taqorub (mendekatkan diri) pada Allah Ta’ala dengan meninggalkan berbagai syahwat (yang sebenarnya mubah ketika di luar puasa seperti makan atau berhubungan badan dengan istri, pen) tidak akan sempurna hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang yaitu dusta, perbuatan zholim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.” (Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah)

Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan petuah yang sangat bagus :

“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Lihat Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah)

Itulah sejelek-jelek puasa yaitu hanya menahan lapar dan dahaga saja, sedangkan maksiat masih terus dilakukan. Hendaknya seseorang menahan anggota badan lainnya dari berbuat maksiat. Ibnu Rojab mengatakan,

أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ

“Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja.”

Apakah dengan Berkata Dusta dan Melakukan Maksiat, Puasa Seseorang Menjadi Batal?

Untuk menjelaskan hal ini, perhatikanlah perkataan Ibnu Rojab berikut :

“Mendekatkan diri pada Allah Ta’ala dengan meninggalkan perkara yang mubah tidaklah akan sempurna sampai seseorang menyempurnakannya dengan meninggalkan perbuatan haram. Barangsiapa yang melakukan yang haram (seperti berdusta) lalu dia mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan yang mubah (seperti makan di bulan Ramadhan), maka ini sama halnya dengan seseorang meninggalkan yang wajib lalu dia mengerjakan yang sunnah. Walaupun puasa orang semacam ini tetap dianggap sah menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama) yaitu orang yang melakukan semacam ini tidak diperintahkan untuk mengulangi (mengqodho’) puasanya. Alasannya karena amalan itu batal jika seseorang melakukan perbuatan yang dilarang karena sebab khusus dan tidaklah batal jika melakukan perbuatan yang dilarang yang bukan karena sebab khusus. Inilah pendapat mayoritas ulama.”

Ibnu Hajar dalam Al Fath (6/129) juga mengatakan mengenai hadits perkataan zuur (dusta) dan mengamalkannya :

“Mayoritas ulama membawa makna larangan ini pada makna pengharaman, sedangkan batalnya hanya dikhususkan dengan makan, minum dan jima’ (berhubungan suami istri).”

Mala ‘Ali Al Qori dalam Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih (6/308) berkata, “Orang yang berpuasa seperti ini sama keadaannya dengan orang yang haji yaitu pahala pokoknya (ashlu) tidak batal, tetapi kesempurnaan pahala yang tidak dia peroleh. Orang semacam ini akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang dia lakukan.”

Kesimpulannya : Seseorang yang masih gemar melakukan maksiat di bulan Ramadhan seperti berkata dusta, menfitnah, dan bentuk maksiat lainnya yang bukan pembatal puasa, maka puasanya tetap sah, namun dia tidak mendapatkan ganjaran yang sempurna di sisi Allah. –Semoga kita dijauhkan dari melakukan hal-hal semacam ini-

Ingatlah Suadaraku Ada Pahala yang Tak Terhingga Di Balik Puasa Kalian

Saudaraku, janganlah kita sia-siakan puasa kita dengan hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Marilah kita menjauhi berbagai hal yang dapat mengurangi kesempurnaan pahala puasa kita. Sungguh sangat merugi orang yang melewatkan ganjaran yang begitu melimpah dari puasa yang dia lakukan. Seberapa besarkah pahala yang melimpah tersebut? Mari kita renungkan bersama hadits berikut ini.

Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى 

“Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim no. 1151)

Lihatlah saudaraku, untuk amalan lain selain puasa akan diganjar dengan 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Namun, lihatlah pada amalan puasa, khusus untuk amalan ini Allah sendiri yang akan membalasnya. Lalu seberapa besar balasan untuk amalan puasa? Agar lebih memahami maksud hadits di atas, perhatikanlah penjelasan Ibnu Rojab berikut ini.

“Hadits di atas adalah mengenai pengecualian puasa dari amalan yang dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan hingga 700 kebaikan yang semisal. Khusus untuk puasa, tak terbatas lipatan ganjarannya dalam bilangan-bilangan tadi. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla akan melipatgandakan pahala orang yang berpuasa hingga bilangan yang tak terhingga. Alasannya karena puasa itu mirip dengan sabar. Mengenai ganjaran sabar, Allah berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.” (QS. Az Zumar [39] : 10). Bulan Ramadhan juga dinamakan dengan bulan sabar. Juga dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi*).

[* Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Al Jami’ Ash Shogir no. 2658 mengatakan bahwa hadits ini dho’if , pen]

Sabar ada tiga macam yaitu sabar dalam menjalani ketaatan, sabar dalam menjauhi larangan dan sabar dalam menghadapi taqdir Allah yang terasa menyakitkan. Dan dalam puasa terdapat tiga jenis kesabaran ini. Di dalamnya terdapat sabar dalam melakukan ketaatan, juga terdapat sabar dalam menjauhi larangan Allah yaitu menjauhi berbagai macam syahwat. Dalam puasa juga terdapat bentuk sabar terhadap rasa lapar, dahaga, jiwa dan badan yang terasa lemas. Inilah rasa sakit yang diderita oleh orang yang melakukan amalan taat, maka dia pantas mendapatkan ganjaran sebagaimana firman Allah,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At Taubah [9] : 120).” –Demikianlah penjelasan Ibnu Rojab (dalam Latho’if Al Ma’arif, 1/168) yang mengungkap rahasia bagaimana puasa seseorang bisa mendapatkan ganjaran tak terhingga, yaitu karena di dalam puasa tersebut terdapat sikap sabar.-

Saudaraku, sekali lagi janganlah engkau sia-siakan puasamu. Janganlah sampai engkau hanya mendapat lapar dan dahaga saja, lalu engkau lepaskan pahala yang begitu melimpah dan tak terhingga di sisi Allah dari amalan puasamu tersebut.

Isilah hari-harimu di bulan suci ini dengan amalan yang bermanfaat, bukan dengan perbuatan yang sia-sia atau bahkan mengandung maksiat. Janganlah engkau berpikiran bahwa  karena takut berbuat maksiat dan perkara yang sia-sia, maka lebih baik diisi dengan tidur. Lihatlah suri tauladan kita memberi contoh kepada kita dengan melakukan banyak kebaikan seperti banyak berderma, membaca Al Qur’an, banyak berdzikir dan i’tikaf di bulan Ramadhan. Manfaatkanlah waktumu di bulan yang penuh berkah ini dengan berbagai macam kebaikan dan jauhilah berbagai macam maksiat.

Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, kemampuan untuk menjauhi yang larang dan diberikan rasa kecukupan.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***

Selesai disusun menjelang Ashar di Panggang, Gunung Kidul

22 Sya’ban 1429 H [bertepatan dengan 24 Agustus 2008]

Semoga Allah membalas amalan ini

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/469-jangan-biarkan-puasamu-sia-sia.html

MAKSUD HUSNUZHAN (BERBAIK SANGKA) KEPADA ALLAH DAN KONDISI YANG PALING MENUNTUT UNTUK ITU

Pertanyaan

Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi ‘Aku (tergantung) persangkaan hamba-Ku kepada-Ku’. Apakah hal ini berarti bahwa ketika seseorang berprasangka kepada Allah rahmat-Nya lebih luas dibanding hukuman-Nya, maka hamba ini akan perlakukan dengan kasih sayang (rahmat) lebih besar dibandingkan dengan hukuman. Begitu juga sebaliknya? Bagaimana sikap yang seimbang dalam mengamalkan hadits ini?

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Pertama:

Berprasangka baik kepada Allah Ta’ala merupakan ibadah hati yang mulia. Belum banyak orang memahami dengan sebenarnya. Akan kami jelaskan menurut keyakinan ahlu sunnah wal jamaah dan sesuai dengan pemahaman salaf, baik ucapan maupun perbuatan.

Sesungguhnya berprasangka baik kepada Allah Ta’ala yakni meyakini apa yang layak untuk Allah, baik dari nama, sifat dan perbuatanNya.  Begitu juga meyakini apa yang terkandung dari pengaruhnya yang besar. Seperti keyakinan bahwa Allah Ta’ala menyayangi para hamba-Nya yang berhak disayangi, memaafkan mereka dikala bertaubat dan kembali, serta menerima dari mereka ketaataan dan ibadahnya. Dan meyakini bahwa Allah Ta’ala mempunyai  berbagai macam hikamh nan agung yang telah ditakdirkan dan ditentukan.

Siapa yang mengira bahwa husnuzhan kepada Allah tidak perlu diimbangi dengan perbuatantelah keliru dan salah, serta tidak memahami ibadah ini dengan cara yang benar. Tidak bermanfaat berprasangka baik dengan meninggalkan kewajiban atau dengan melakukan kemaksiatan. Barangsiapa yang berprasangka seperti itu maka dia termasuk terpedaya, memiliki pengharapan yang tercela serta  keinginan yang mengada-ada dan merasa aman dari azab Allah. Semuanya itu membahayakan dan membinasakan.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Telah jelas perbedaan antara husnuzhan dan ghurur (terpedaya  diri sendiri). Berprasangka baik mendorong lahirnya amal, menganjurkan, membantu dan menuntun untuk melakukannya. Inilah sikap yang benar. Tapi kalau mengajak kepada pengangguran dan bergelimang dalam kemaksiatan, maka itu adalah ghurur (terpedaya diri sendiri). Berprasangka baik itu adalah pengharapan (raja), barangsiapa pengharapannya membawa kepada kataatan dan meninggalkan kemaksiatan, maka itu adalah pengharapan yang benar. Dan barangsiapa yang keengganannya beramal dianggap sebagai sikap berharap, dan sikap berharapnya berarti  enggan beramal atau meremehkan, maka itu termasuk terpedaya.‘ (Al-Jawab Al-Kafi, hal. 24)

Syekh ShAleh Al-Fauzan hafizahullah berkata: “Prasangka yang baik kepada Allah seharusnya disertai meninggalkan kemaksiatan. Kalau tidak,maka itu termasuk sikap merasa aman dari azab Allah. Jadi,  prasangka baik kepada Allah harus disertai dengan melakukan sebab datangnya kebaikan dan sebab meninggalkan kejelekan, itulah pengharapan yang terpuji. Sedangkan prasangka baik kepada Allah dengan meninggalkan kewajiban dan melakukan yang diharamkan, maka itu adalah pengharapan yang tercela. Ini termasuk sifat merasa aman dari makar Allah.” (Al-Muntaqa Min Fatawa Syekh Al-Fauzan, 2/269)

Kedua:

Seharusnya, seorang muslim senantiasa berprasangka baik kepada Allah Ta’ala. Ada dua tempat yang selayaknya seorang muslim memperbanyak khusnuzhan kepada Allah.

Pertama: Ketika menunaikan ketaatan (kepada Allah).

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً  (رواه البخاري، رقم  7405 ومسلم ، رقم 2675 )

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)

Dapat diperhatikan dalam hadits ini, hubungan yang sangat jelas sekali antara husnuzhan dengan amal.  Yaitu mengiringinya dengan mengajak untuk mengingat-Nya Azza Wa Jalla dan mendekat kepada-Nya dengan ketaatan. Siapa yang berprasangka baik kepada Tuhannya Ta’ala semestinya akan mendorongnya berbuat ihsan dalam beramal.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya seorang mukmin ketika berbaik sangka kepada Tuhannya, maka dia akan memperbaiki amalnya. Sementara orang buruk, dia berprasangka buruk kepada Tuhannya, sehingga dia melakukan amal keburukan.” (HR. Ahmad, hal. 402).

Ibnu Qayim rahimahullah berkata:

“Siapa yang dengan sungguh-sungguh memperhatikan, akan mengetahui bahwa khusnuzhan kepada Allah adalah memperbaiki amal itu sendiri. Karena yang menjadikan amal seorang hamba itu baik, adalah karena dia memperkirakan Tuhannya akan memberi balasan dan pahala dari amalannya serta menerimanya. Sehingga yang menjadikan dia beramal adalah prasangka baik itu. Setiap kali baik dalam prasangkanya, masa semakin baik pula amalnya.”

Secara umum, prasangka baik akan mengantar seseorang melakukan sebab keselamatan. Sedangkan  kalau melakukan sebab kecelakaan, berarti dia tidak ada prasangka baik.” (Al-Jawabu Al-Kafi, hal. 13-15 )

Abul Abbas Al-Qurtubi rahimahullah berkata:

“Pendapat lain mengatakan, maknanya adalah: Mengira akan dikabulkan apabila berdoa, mengira diterima ketika bertaubat, mengira diampuni ketika memohon ampunan, mengira diterima amalnya ketika melaksanakannya  dengan memenuhi persyaratan, serta berpegang teguh terhadap kejujuran janji-Nya dan lapangnya KeutamaanNya.

Saya katakan demikian, karena dikuatkan dengan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam; ‘Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan (doanya).’ (HR. Tirmizi dengan sanad shahih)

Begitu juga seyogyanya bagi orang yang bertaubat, orang yang memohon ampunan dan pelaku suatu amal yang bersungguhh-sungguh dalam melaksanakan semua itu, hendaknya meyakini bahwa Allah akan menerima amalnya dan memafkan dosanya. Karena Allah Ta’ala telah berjanji akan menerima taubat yang benar dan amal yang shaleh. Sedangkan kalau dia beramal dengan amalan-amalan tersebut tapi berkeyakinan atau menyangka bahwa Allah Ta’la tidak menerimanya dan hal itu tidak bermanfaat, maka hal itu termasuk putus asa terhadap rahmat dan karunia Allah . Itu termasuk di antara dosa besar. Barangsiapa yang meninggal dunia dalam kondisi seperti itu, maka dia akan mendapatkan apa yang dia kira (yakini). Sebaliknya, mengira bakal diampuni dan mendapat rahmat sementara dia terus menerus melakukan kemaksiatan, maka hal itu termasuk kebodohan. Hal itu dapat menjerumuskannya kepada pemahaman murji’ah (seseorang tidak akan kafir dengan perbuatannya). ” Al-Mufhim Syarh Muslim, 7/ 5,6)

Kedua: Ketika mengalami musibah dan saat menjelang kematian.

Dari jabir radhiallahu anhu dia berkata, Aku mendengar Nabi sallallahu’alaihi wa sallam tiga hari sebelum wafat bersabda:

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ  ( رواه مسلم، رقم  2877 )

 “Janganlah salah satu di antara kalian meninggal dunia kecuali dia berprasangka baik kepada Allah.” (HR. Muslim, 2877)

Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 10/220 dikatakn, ” Seorang mukmin diharuskan berprasangka baik kepada Allah Ta’ala, dan lebih ditekankan dalam prasangkan baik kepada Allah ketika ditimpa musibah dan ketika akan meninggal dunia.

Al-Khatab berkata, “Dianjurkan bagi yang akan meninggal dunia berprasangka baik kepada Allah Ta’ala. Berprasangka baik kepada Allah meskipun sangat dianjurkan ketika mau meninggal dunia dan dalam kondisi sakit, akan tetapi sepantasnya seseorang senantiasa berprasangka baik kepada Allah. “

Silahkan lihat dalam kitab Syarh Muslim, karangan Nawawi, 17/10.

Dari penjelasan tadi, jelas bahwa berprasangka baik kepada Allah Ta’ala itu tidak boleh disertai dengan meninggalkan kewajiban dan tidak pula dengan melakukan kemaksiatan. Barangsiapa yang menyakini hal itu, maka dia tidak menempatkan nama, sifat dan prilaku Allah yang selayaknya untuk difahami secara benar. Dirinya terjatuh pada kesalahan yang fatal. Sementara orang-orang mukmin yang mengenal kepada Tuhannya, maka dia beramal dengan sebaik mungkin dan berprasangkan baik kepada Tuhannya bahwa Dia akan menerimanya. Berprasangka baik ketika akan meninggal dunia, bahwa Dia akan memaafkan dan memberi rahmat kepadanya meskipun mereka kurang dalam melakukan kebaikan. Maka dia berharap dapat merealisasikan hal itu kepada-Nya Ta’ala sebagaimana yang Allah janjikan.

 Wallahu’alam.

sumber: https://islamqa.info/id/answers/150516/maksud-husnuzhan-berbaik-sangka-kepada-allah-dan-kondisi-yang-paling-menuntut-untuk-itu

Dilarang Meniup Makanan dan Minuman

Dilarang Meniup Makanan dan Minuman

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meniup makanan atau minuman, sekalipun masih panas. Ada solusi lain yang bisa menjadi alternatif, agar tidak melanggar larangan ini.

Pertanyaan:

Aswrwb. Mengapa kita tidak diperbolehkan meniup makanan saat panas?

Dari: Ika/Novi

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat beberapa hadis yang menunjukkan larangan meniup makanan atau minuman. Diantaranya,

1. Hadis dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ، وَإِذَا أَتَى الخَلاَءَ فَلاَ يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ…

Apabila kalian minum, janganlah bernafas di dalam gelas, dan ketika buang hajat, janganlah menyentuh kemaluan dengan tangan kanan… (HR. Bukhari 153).

2. Hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُتَنَفَّسَ فِي الإِنَاءِ أَوْ يُنْفَخَ فِيهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bernafas di dalam gelas atau meniup isi gelas. (HR. Ahmad 1907, Turmudzi 1888, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Mengapa dilarang ditiup?

An-Nawawi mengatakan,

والنهي عن التنفس في الإناء هو من طريق الأدب مخافة من تقذيره ونتنه وسقوط شئ من الفم والأنف فيه ونحو ذلك

Larangan bernafas di dalam gelas ketika minum termasuk adab. Karena dikhawatirkan akan mengotori air minum atau ada sesuatu yang jatuh dari mulut atau dari hidung atau semacamnya. (Syarh Shahih Muslim, 3/160)

Hal yang sama juga disampaikan Ibnul Qoyim,

وأما النفخ في الشراب فإنه يكسبه من فم النافخ رائحة كريهة يعاف لأجلها ولا سيما إن كان متغير الفم وبالجملة : فأنفاس النافخ تخالطه ولهذا جمع رسول الله صلى الله عليه و سلم بين النهي عن التنفس في الإناء والنفخ فيه

Meniup minuman bisa menyebabkan air itu terkena bau yang tidak sedap dari mulup orang yang meniup. Sehingga membuat air itu menjijikkan untuk diminum. Terutama ketika terjadi bau mulut. Kesimpulannya, nafas orang yang meniup akan bercampur dengan minuman itu. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan larangan bernafas di dalam gelas dengan meniup isi gelas. (Zadul Ma’ad, 4/215).

Bolehkah Menggunakan Kipas Angin?

Memperhatikan alasan yang disampaikan oleh An-Nawawi dan Ibnul Qoyim tentang mengapa kita dilarang meniup makanan, bisa kita simpulkan bahwa menggunakan kipas dalam hal ini dibolehkan. Dengan syarat, kipas yang digunakan bukan kipas yang berdebu, yang kotor, sehingga justru menyebarkan penyakit pada makanan atau minuman.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

sumber: https://konsultasisyariah.com/18256-adab-makan-dilarang-meniup-makanan-dan-minuman.html

Nasehat Untuk Yang Shalatnya Cepat

[A] – Tergesa-gesa Adalah Salah Satu Sifat yang Tidak Baik

Allah Ta‘ala berfirman:

(( خُلِقَ اْلإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ سَأُورِيكُمْ ءَايَاتِي فَلاَ تَسْتَعْجِلُونَ ))

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka, janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera!” [QS. Al Anbiyaa’: 37]

Betapa banyak urusan duniawi terbengkalai karena sifat ini, betapa sering kecelakaan di jalan raya sebabnya adalah tergesa-gesa, betapa banyak tugas yang tidak terselesaikan lantaran tergesa-gesa dan masih banyak lagi dari urusan-urusan duniawi lainnya yang terbengkalai.

Jika kita mengakui betapa besar kerugian yang menimpa orang yang tergesa-gesa dalam urusan duniawi, maka bagaimana sekiranya dia tergesa-gesa dalam melaksanakan urusan-urusan agamanya, seperti shalat?

Tentu lebih besar kerugian yang dia dapatkan. Dia memang shalat, hanya saja dia shalat dengan cepat dan tergesa-gesa.

[B]- Perintah untuk Mengulangi Shalatnya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘ anhu :

“Suatu hari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam masuk masjid. Lalu, seseorang masuk masjid dan shalat, kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , lantas mengucapkan salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam .

Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salamnya, lalu bersabda,  ‘Kembali dan shalatah, karena sesugguhnya kamu belum shalat!’

Lalu, orang tadi kembali dan shalat sebagaimana sebelumnya, kemudian kembali kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberi salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, ‘Alaikassalam.’

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat!’

Hingga orang tadi melakukannya tiga kali, lalu berkata: ‘Demi (Allah) yang mengutusmu dengan (membawa) kebenaran, aku tidak bisa shalat yang lebih baik dari ini, maka dari itu ajari aku!’

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah; kemudian baca surat dari Al Qur-an yang mudah yang kamu hafal; kemudian ruku’-lah, hingga kamu tenang dalam posisi ruku’; kemudian angkat (kepalamu), hingga kamu tenang dalam posisi berdiri; kemudian sujud-lah, hingga kamu tenang dalam posisi sujud; kemudian duduklah, hingga kamu tenang dalam posisi duduk; kemudian lakukan seperti ini dalam shalatmu semuanya.’.” [HR. Abu Dawud, no. 856]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, At Tirmidzy dan An Nasaa-i.

Dalam kitab Aunul Ma’bud penjabaran dari Kitab Sunan Abu Dawud halaman 426 disebutkan:

“Dengan hadits ini diambil satu dalil akan wajibnya ‘tuma’ninah’ (tenang) pada semua rukun shalat dan dengan (pendapat) inilah jumhur ulama (mayoritas ulama) berpendapat.”

Bahkan, dalam Kitab At Taqrib, salah satu kitab fiqh yang terkenal di kalangan ‘Syafi’iyyah’ disebutkan:

“Dan rukun-rukun shalat ada 18 rukun, (yaitu): (1) Niat; (2) Berdiri, jika mampu; (3) Takbiratul ihram; (4) Membaca Al Fatihah dan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ termasuk ayat dari Surat Al Fatihah; (5) Ruku’; (6) Tuma’ninah (tenang) saat ruku’; (7) Mengangkat kepala setelah ruku’ dan i’tidal; (8) Tuma’ninah  saat i’tidal; (9) Sujud; (10) Tuma’ninah saat sujud; (11) Duduk antara dua sujud; (13) Tuma’ninah saat duduk antara dua sujud; (14) Duduk terakhir; (15) Tasyahhud dan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat duduk terakhir; (16) Salam yang pertama; (17) Niat keluar dari shalat; (18) Tertib (urut) dalam melaksanakan seluruh rukun, sebagaimana yang telah disebutkan.”

[C] -Shalat Cepat Adalah Shalatnya Orang Munafik

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Itu adalah shalatnya orang munafik, ia duduk-duduk mengintai matahari, hingga ketika matahari berada di atas dua tanduk setan dia berdiri shalat dan melakukannya dengan cepat sebanyak 4 rakaat, tidak mengingat Allah di dalamnya, kecuali sedikit sekali.” [HR. Muslim]

[D] – Shalat Cepat Mengakibatkan Tidak Khusyu’

Sebagian para ulama terdahulu menjelaskan, bahwa khusyu’ dalam shalat artinya ( اَلسُّكُنُ فِيْهَا ) ‘as sukunu fihaa’ , yaitu tenang di dalam shalat. Khusyu’ tidak hanya dalam hati, tapi juga di badan. Maka orang yang khusyu’ , adalah ‘orang yang tenang hati dan anggota badannya ketika shalat’ . Dengan kata lain, orang yang khusyu’ adalah ‘orang yang mampu menghadirkan hatinya ketika shalat’ . Yang dengan hadirnya hati, maka anggota badanpun tenang. [Taudhihul Ahkam (1/453)]

Tentu orang yang cepat shalatnya tidak bisa meraih kekhusyu’an, sebagaimana mereka yang mendambakan Surga Firdaus. Karena khusyu’ ternyata identik dengan ketenangan. Bahkan, khusyu’ adalah ruh-nya shalat.

Dalam Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin disebutkan:

“Shalat tanpa khusyu’ dan tanpa hadirnya hati (konsentrasi), seperti tubuh yang telah menjadi mayat, tidak ada ruh di dalamnya.”

[E] -Shalat Cepat Menggambarkan Tidak Beradab di Hadapan Allah

Perlu diketahui, bahwa orang yang shalat pada hakekatnya dia sedang berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala . Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ketika salah seorang diantara kamu shalat, sesungguhnya dia sedang bermunajat dengan Rabbnya, atau Rabbnya diantara dirinya dan kiblat…” [HR. Al Bukhari, Kitabush Shalah, Bulughul Maram, no. 193]

Jika di hadapan orang yang kita hormati saja kita menjaga kesopanan dan ketenangan dalam ucapan maupun perbuatan, maka di hadapan Allah lebih pantas untuk tenang dalam ucapan maupun gerakan. Karena yang seperti ini menunjukkan adab dan hormat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Oleh karena itu, semua perbuatan yang menunjukkan ketidakhormatan saat shalat terlarang.

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu , beliau berkata:

أَنَّهُ – صلى الله عليه وسلم- نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiran (tangan diletakkan di pinggang).” [HR. Al Bukhari dan Muslim]

Para ulama mengatakan, bahwa perbuatan seperti ini dilarang, karena di dalamnya terdapat unsur kesombongan dan juga menyerupai orang Yahudi. Sedangkan ketika shalat, kita menghadap kepada Allah Yang Maha Mulia , sehingga kita dilarang berlagak sombong di hadapan-Nya. Sehingga kita mengetahui, bahwa ketika shalat, wajib menampakkan ketundukan dan kerendahan diri kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . [Taudhihul Ahkam (1/455)]

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya, apa makna sedekap ketika shalat?

Beliau rahimahullah menjawab:

ذِلٌّ بَيْنَ يَدَيِّ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ

“Merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Perkasa.” [Kitab Mawa’izh Al Imam Ahmad bin Hanbal, hal. 55]

[F] – Shalat Cepat Mengakibatkan Tidak Bisa Memahami Bacaan Shalat Serta Menghayatinya

Memahami bacaan shalat, baik surat, doa, maupun dzikir yang dibaca ketika shalat merupakan perkara yang membantu untuk khusyu’ dalam shalat. Orang yang cepat shalatnya dapat dipastikan tidak bisa memahami dan menghayati bacaan shalat. Dan tidak memahami bacaan shalat termasuk salah satu bentuk shalatnya orang munafik. Allah Ta’ala berfirman:

(( إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَاقَامُوا إِلَى الصَّلاَةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَآءُونَ النَّاسَ وَلاَيَذْكُرُونَ اللهَ إِلاَّ قَلِيلاً ))

“Dan apabila mereka (orang-orang munafik) berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah, kecuali sedikit sekali.” [QS. An Nisaa, 142]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Maksudnya, mereka tidak khusyu’ dalam shalatnya, tidak memahami apa yang mereka ucapkan (dari bacaan-bacaan shalat), bahkan mereka lalai dalam shalatnya serta tidak serius. Dan mereka berpaling (tidak berminat) terhadap kebaikan yang dijanjikan kepada mereka.”

[G] – Alasan Orang yang Shalatnya Cepat dan Jawaban Untuk Mereka

Diantara alasan orang yang shalatnya cepat adalah agar konsentrasi dan tidak memikirkan sesuatu di dalam shalat. Mereka menyamakan orang yang shalat dengan orang yang naik sepeda? Laa haula walaa quwwata illaa billaah…

Kita mengetahui, bahwa orang yang naik sepeda dengan cepat, niscaya sampai pada tempat tujuan dengan lebih cepat, sedangkan orang yang naik sepeda dengan perlahan, atau pelan tidak sampai ke tempat tujuan dengan segera, karena seringnya dia melihat ke kanan dan ke kiri. Inikah alasan mereka?

Kita katakan, bahwa orang yang shalat cepat (tergesa-gesa) tidak mungkin bisa konsentrasi. Karena konsentrasi yang dimaksud adalah seseorang bisa mengingat Allah saat shalat, mengingat mati dan memahami, serta menghayati bacaan shalat. Konsentrasi itu bukanlah mengosongkan pikiran, karena tidak mungkin ada yang bisa mengosongkan pikiran, kecuali orang yang telah hilang akalnya.

Suatu kesalahan yang sangat fatal berdalil dengan akal, atau logika semata untuk urusan agama, terlebih lagi menyangkut Rukun Islam ke-dua, yaitu shalat. Seharusnya orang yang beriman itu berdalil dengan menggunakan firman Allah, maupun hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam . Sedangkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallammenjelaskan, bahwa wajib tenang dalam shalat.

Perlu diketahui, yang pertama kali menggunakan logika untuk melawan dalil dari Allah adalah Iblis. Yaitu, ketika dia diperintah Allah untuk sujud penghormatan kepada Adam, ia menolak seraya mengatakan, “Aku lebih baik dari-nya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah.”

Lihatlah! Iblis menggunakan logika, padahal firman Allah ada di depan mata. Yang pada akhirnya dia (Iblis) rusak logikanya. Karena, bukankah tanah lebih baik dari api? Betapa banyak tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di atasnya. Belum lagi, jika kita menggali kekayaan alam yang ada di dalam tanah. Bukankah kita semua berpijak di atas tanah?

Seandainya logika mereka diterima. Kita katakana, bahwa orang yang mengendarai sepeda dengan cepat beresiko tinggi kecelakaan di jalan. Sebagaimana juga orang yang cepat shalatnya, celaka di dalam shalatnya. Karena menurut Ibnu Katsir rahimahullah salah satu gambaran orang yang celaka dalam shalatnya yang disebutkan dalam Surat Al Ma’un adalah yang shalat, akan tetapi tidak mengerjakan rukun-rukun shalat. Salah satu rukun shalat adalah tuma’ninah (tenang dalam ruku’, i’tidal, sujud, dll).

Ada alasan lain yang diutarakan orang yang shalatnya cepat, yaitu hadits shahih tentang shalat sunnah dua rakaat sebelum subuh. Disebutkan dalam hadits, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakannya dua rakaat dengan ringan. Shalat ringan yang dimaksud bukanlah shalat yang cepat. Shalat yang ringan yang dimaksud adalah shalat dengan tidak panjang, membaca surat yang pendek. Oleh karena itu, dalam riwayat disebutkan, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada rakaat pertama membaca Al Kafirun dan pada rakaat ke-dua membaca Surat Al Ikhlash. Dan perlu diketahui, ringannya shalat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak sama dengan ringannya shalat kita.

| Wallahu a’lam bish-shawab

| Oleh: Fajri N.S.

sumber: http://suaraquran.com/index.php/2020/06/02/nasehat-untuk-yang-shalatnya-cepat/

[Kitabut Tauhid] 28. Keutamaan tauhid 03

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Kesyirikan adalah dosa besar yang paling besar, kezhaliman yang paling zhalim, kejahatan yang paling jahat, kejelekan yang paling jelek, bahaya yang paling berbahaya. Dosa yang tidak bakal terampuni jika sampai terbawa mati. Sebabnya adalah karena kesyirikan merupakan tindakan menyamakan Allâh –‘Azza wa Jalla- dengan makhluq-Nya.

selanjutnya kita akan mempelajari Urgensi Tauhid bag. 28. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

matan kitabut tauhid (PDF)

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Do’a agar Amal Shalih Diterima oleh Allah

Ketika Nabi Ibrahim menunaikan perintah Allah untuk meninggikan pondasi Ka’bah bersama anaknya Ismail, beliau bermunajat kepada Allah dengan doa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

[Al-Baqarah: 127]

Penjelasan

1.  رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا: Ya Tuhan kami, terimalah dari kami amal shalih kami.

Yang dimaksud dengan penerimaan Allah Ta’ala atas suatu amal shalih yakni, Allah mengambutnya dengan penuh keridhaan, sehingga Allah meridhai pula pelakunya; dan jika Allah telah meridhai seseorang maka Dia pasti akan memberinya pahala yang telah Dia janjikan baginya.

2. إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ: sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Yakni Engkau Maha Mendengar perkataan kami yang termasuk diantaranya adalah doa kami, dan Engkau Maha Melihat niat yang ada dalam hati kami.

Syarat diterimanya amal shalih:

Ada tiga syarat diterimanya amal shalih, yaitu:

1. Keimanan kepada Allah. Allah berfirman:

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِه

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya (At-Taubah: 54)

2. Beramal dengan penuh keikhlasan tanpa dikotori sifat riya’ dan ujub. Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ ” (رواه مسلم)

“Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman:

“Aku tidak butuh dengan para sekutu atas kesyirikan yang mereka lakukan. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang lain, akan Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya”. (HR. Muslim)

3. Beramal sesuai dengan tuntunan Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam. Dalam hadists disebutkan:

 عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللّهِ عَائِشَةَ – رضي الله عنها – قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ – صلى الله عليه وسلم: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ 

Dari Ummul Mu’minin Ummu Abdillah Aisyah radiyallahu ‘anha, ia mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Keutamaan:

Doa ini mengandung munajat tentang harapan agar amalan shalih dapat diterima, dan hanya amalan shalih yang diterimalah amalan yang dapat kita ambil manfaatnya di akhirat kelak. Bisa dibayangkan jika seorang petani yang bekerja di kebunnya selama berbulan-bulan namun pada akhirnya dia tidak dapat mendapatkan hasil panennya. Sungguh sia-sia amal yang tidak diterima. 

Imam al-Qurthuby mengisahkan dalam tafsir  surat al-Ghasyiah: 3 bahwa ketika Umar bin Khattab sampai di negeri Syam, ia didatangi oleh seorang rahib tua yang kusam, Umar bin Khattab kemudian menangis setelah melihatnya. Lalu ditanyakan kepadanya: “Hai Amirul Mu’minin, apa gerangan yang membuatmu menangis?” Ia menjawab: “Sungguh kasihan orang itu, telah berusaha sekuat tenaga namun tidak mendapat hasilnya, telah berharap sebesar-besarnya namun tidak dapat meraihnya.”

Kemudian Umar membaca firman Allah: “Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, Bekerja keras lagi kepayahan, Memasuki api yang sangat panas (neraka).” [al-Ghasyiyah: 2-4]. Yakni dahulu (di dunia) mereka berlelah-lelah dalam ibadah, namun mereka tidak mendapat pahala dari ibadah itu akibat kekafiran dan kesesatan mereka.

Demikianlah nasib  seseorang yang tidak diterima amalannya, sehingga jelaslah betapa agungnya kedudukan doa ini, karena diterimanya amalan akan menjadi sebab keselamatan baginya di akhirat.

Pelajaran yang dapat dipetik dari doa ini:

1. Tidak selayaknya kita merasa aman dengan amalan yang telah kita lakukan.

عن عائشة – رضي الله عنها – قالت: سألت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن هذه الآية: (وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ) [المؤمنون: 60]: أهم الذين يشربون الخمر ويسرِقون؟! 

Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah tentang maksud dari ayat: Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut. (al-mukminun: 60). Apakah mereka adalah orang-orang yang meminum khamr dan mencuri?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

لا يا ابنة الصديق! ولكنهم الذين يصومون ويصلّون ويتصدَّقون، وهم يخافون ألاَّ يُقبل منهم، أولئك الذين يسارعون في الخيرات (أخرجه الترمذي والحاكم وصححه ووافقه الذهبي والألباني)

“Tidak demikian wahai putri ash-Shiddiq, namun mereka adalah orang-orang yang berpuasa, mendirikan shalat, dan bersedekah, sedangkan mereka takut amalan mereka itu tidak diterima. Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan.” [dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, dan al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi dan al-Albani].

2. Diterimanya amalan lebih penting daripada amalan itu sendiri. hal ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib: 

كُونُوا لِقَبُولِ الْعَمَلِ أَشَدَّ اهْتِمَامَا مِنْكُمْ بِالْعَمَلِ

“Hendaklah kalian lebih memperhatikan penerimaan amalan kalian daripada amalan itu sendiri.” [Hilyatul Auliya’: Juz 1 Hal. 75]

3. Disyariatkannya berdoa menggunakan asma’ul husna sesuai dengan isi doa tersebut. Allah berfirman: 

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.” [al- A’raf: 180].

Penutup:

Tidak ada orang yang dapat menjamin diterimanya suatu amalan, oleh sebab itu sudah selayaknya kita bersungguh-sungguh dalam beramal dengan penuh rasa harap tanpa merasa aman dari tertolaknya amalan itu, serta dengan penuh rasa takut tanpa merasa putus asa dari penerimaan amalan tersebut, karena rasa harap dan rasa takut dalam beramal shalih seperti dua sayap burung yang selalu dibutuhkan agar dapat terbang dengan sempurna. Dan doa ini merupakan adalah salah satu jalan yang diberikan Allah bagi kita agar amalan kita diterima oleh-Nya.

Wallahu Ta’ala a’lam.

sumber: https://yufidia.com/6223-doa-agar-amal-shalih-diterima-oleh-allah.html

Puasa dan Al-Quran Memberikan Syafa’at dengan Izin Allah

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ

“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429]

Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

“Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat.” [HR. Muslim 1910]

Hendaknya kita sangat berharap syafa’at terutama di bulan Ramadhan yang merupakan bulan berpuasa dan membaca Al-Quran.

Apakah itu Syafa’at?

Para ulama mendefinisikan syafa’at:

ﻓﺎﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻫﻲ ﺍﻟﺘﻮﺳﻂ ﻟﻠﻐﻴﺮ ﻓﻲ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﺃﻭ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﻤﻀﺮﺓ

“Syafa’at adalah sebagai penengah/wasilah bagi yang lain untuk mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya/madharat.”

Syafa’at ini bisa berupa syafa’at di dunia maupun syafa’at di akhirat. Syafa’at di dunia bisa berupa syafa’at yang baik dam buruk sedangkan syafa’at di akhirat adalah syafa’at yang baik

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا

“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang BAIK, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang BURUK, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya.” (An-Nisaa’ :85)

Maksud hadits yang kami sampaikan di awal tulisan mengenai syafa’at oleh puasa dan Al-Quran adalah syafaat di akhirat. Saat itu, manusia sangat butuh syafa’at dengan izin Allah karena kesusahan yang manusia alami pada hari kiamat, semisal:

1. Matahari didekatkan pada manusia sejauh satu mil
2. Manusia ada yang tenggelam dengan keringatnya
3. Manusia ada yang diseret dan berjalan dengan wajahnya
4. Kejadian di padang mahsyar yang sangat lama, di mana satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di bumi.

Kami nukilkan salah satu dalil mengenai hal ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺤْﺸَﺮُﻭْﻥَ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻭَﺭُﻛْﺒَﺎﻧًﺎ ﻭَﺗُﺠَﺮُّﻭْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮْﻫِﻜُﻢْ

“Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (ke Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan, dan (ada juga yang) berkendaraan, serta (ada juga yang) diseret di atas wajah-wajah kalian.” (HR. Tirmidzi, Shahih at-Targhib wat-Tarhib  no. 3582).

Kita sangat butuh syafa’at di hari kiamat termasuk yang bisa memberi syafa’at adalah puasa dan Al-Quran sebagaimana dalam hadits.

Perlu ditekankan bahwa syafa’at ini hanya milik Allah

Allah Ta’ala berfirman,

ﻗُﻞ ﻟِّﻠَّﻪِ ﭐﻟﺸَّﻔَٰﻌَﺔُ ﺟَﻤِﻴﻌٗﺎۖ

“Katakanlah semua syafaat hanyalah milik Allah.” (az-Zumar: 44)

Puasa dan Al-Quran serta makhluk lainnya yang bisa memberi syafa’at sebagaimana dalam dalil tidaklah mempunyai syafa’at sebenarnya, tetapi diberikan izin oleh Allah untuk memberikan syafa’at. Oleh karena itu, kita hanya boleh meminta syafa’at hanya kepada Allah saja. Tidak boleh meminta kepada makhluknya. Semisal perkataan yang TIDAK boleh:

“Wahai Nabi, aku minta syafa’at-mu”

Tapi katakanlah:

“Yaa Allah, aku memohon syafa’at Nabi-Mu”

Allah Ta’ala berfirman

ﻣَﻦ ﺫَﺍ ﭐﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸۡﻔَﻊُ ﻋِﻨﺪَﻩُۥٓ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫۡﻧِﻪِۦۚ

“Tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 255)

Semoga kita termasuk orang yang beruntung mendapatkan syafa’at dan bisa memberikan syafa’at pada orang lain.

@ Perum PTSC, Cileungsi

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber: https://muslim.or.id/39291-puasa-dan-al-quran-memberikan-syafaat-dengan-izin-allah.html

Angan-Angan Mereka Yang Telah Tiada

Angan-angan mereka yang telah mati ialah kembali ke dunia meski sejenak untuk menjadi orang shalih. Mereka ingin taat kepada Allah, dan memperbaiki segala kerusakan yang dahulu mereka perbuat. Mereka ingin berdzikir kepada Allah, bertasbih, atau bertahlil walau sekali saja. Namun mereka tidak lagi diijinkan untuk itu. Kematian serta-merta memupuskan segala angan-angan tersebut. Allah ta’ala berfirman mengenai mereka

>حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (١٠٠)

“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Qs Al Mukminun: 99-100)

Begitulah kondisi orang mati, mereka telah melihat akhirat dengan mata kepala mereka. Mereka tahu pasti apa yang telah mereka perbuat dan apa yang mereka terima. Dahulu mereka demikian mudah menyia-nyiakan waktu yang amat berharga untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhirat mereka. Kini mereka sadar bahwa detik-detik dan menit-menit yang hilang tersebut sungguh tidak ternilai harganya.

Dahulu, kesempatan itu ada di depan mata, namun tidak mereka manfaatkan. Sekarang, mereka siap menebus kesempatan itu berapapun harganya! Sungguh tak terbayang alangkah ruginya dan alangkah besarnya penyesalan mereka..

Memang, saat manusia paling lalai terhadap nikmat Allah ialah ketika ia bergelimang di dalamnya. Ia tidak menyadari betapa besarnya kenikmatan tersebut, kecuali setelah kenikmatan itu tercabut darinya. Sebab itu, kita yang masih hidup sungguh berada dalam kenikmatan yang besar. Karenanya, jangan kita biarkan semenit pun berlalu tanpa ibadah walau sekedar mengucapkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil.

Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ada dua orang Arab badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Hai Muhammad, siapakah lelaki yang terbaik?’ ‘Yang panjang umurnya dan baik amalnya.’ jawab Rasulullah. Kemudian yang satu lagi bertanya, ‘Sesungguhnya ajaran Islam terlampau banyak bagi kami, lalu adakah amalan yang mencakup banyak kebaikan yang dapat kami tekuni?’ ‘Usahakan agar lisanmu selalu basah dengan dzikrullah’, jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Ahmad dengan sanad shahih)

Tidakkah pembaca tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk memuji Allah saat bangun tidur, karena Dia telah menghidupkan kita setelah mati, dan mengijinkan kita untuk kembali mengingat-Nya? Benar, tidur memang identik dengan kematian. Saat tidur, manusia berhenti dari segala aktivitasnya dan acuh akan apa yang terjadi di sekelilingnya. Alangkah miripnya ia dengan orang mati, andai saja Allah tidak mengembalikan ruhnya.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا اسْتَيْقَظَ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِي وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ

“Jika seorang terbangun hendaklah mengucapkan AL HAMDULILLAAHILLADZII ‘AAFAANII FII JASADII WA RADDA ‘ALAYYA RUUHII WA ADZINA LII BIDZIKRIHI. (Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku tubuhku, dan mengembalikan nyawa kepadaku, serta mengizinkanku untuk berdzikir kepadaNya).” (HR. Tirmidzi)

Sekarang kita masih mengenyam nikmatnya hidup, kita masih bisa menambah pahala dan menghapus dosa. Ingatlah bahwa suatu saat Anda akan tutup usia, dan semuanya menjadi angan-angan. Oleh karena itu, marilah kita wujudkan angan-angan itu mulai sekarang!

Ibrahim bin Yazid al-Abdi mengatakan, “Suatu ketika Riyah al Qaisy mendatangiku seraya berkata, ‘Hai Abu Ishaq –julukan Ibrahim-, ayo ikut bersamaku menemui penghuni akhirat dan marilah kita mengikat janji setia di samping mereka.” Lalu aku pun pergi bersamanya ke sebuah pemakaman. Kami duduk di samping salah satu kuburan di sama, kemudian Riyah berkata,

“Hai Abu Ishaq, kira-kira apakah yang diangankan oleh mayit ini jika ia diminta berangan-angan?”

“Demi Allah, ia pasti ingin dikembalikan ke dunia agar bisa taat kepada Allah dan memperbaiki amalnya,” jawabku.

“Nah, kita sekarang berada di dunia. Karenanya, marilah kita taat kepada Allah dan memperbaiki amal kita,” sahut Riyah.

Maka Riyah bangkit meninggalkan kuburan tersebut dan mulai bersungguh-sungguh dalam beribadah. Ternyata tak lama berselang, ia dipanggil menghadap Allah, semoga Allah merahmatinya.

Saudaraku, jika Anda menziarahi pemakaman, carilah kuburan kosong dan duduklah di sampingnya. Perhatikan liang kubur yang sempit itu, dan bayangkan kalau Anda berada di sana ketika papan-papan kayu menutup tubuh Anda, lalu bongkahan tanah menimbun, kemudian sanak keluarga dan handai taulan pergi satu persatu. Anda terbaring sendirian dalam keheningan dan kegelapannya, tak ada teman di sana, dan tak ada yang Anda lihat selain amal Anda. Kiranya apa yang Anda damba-dambakan di saat menegangkan tersebut??

Bukankan Anda ingin kembali ke dunia supaya beramal shalih? Supaya shalat walau satu rakaat? Atau bertasbih dan berdzikir meski sekali?

Nah, sekaranglah waktunya…!!

Ibrahin At Taimi mengatakan, “Aku membayangkan tatkala diriku dicampakkan ke neraka, Lalu kumakan buah Zaqqum dan kuminum nanah, sedang tubuhku terkait dengan rantai dan belenggu. Saat itu kutanya diriku, “Apa yang kamu dambakan sekarang?” maka jawabnya, “Aku ingin kembali ke dunia dan beramal shalih,” maka aku berkata, “Engkau sedang berada dalam angan-anganmu sekarang, maka beramallah!” (Lihat Umniyat al Mauta)

Saudaraku, tatkala Anda ziarah kubur atau mengiring jenazah, janganlah menjadi orang yang lalai. Jangan sibukkan diri Anda dengan mengobrol, namun ingatlah angan-angan mereka yang terkubur di sekeliling Anda, merekalah orang-orang yang kini tertawan oleh amal perbuatan mereka.

Jika hawa nafsu mengajak Anda bermaksiat, ingatlah angan-angan mereka yang tiada. Mereka ingin dihidupkan lagi untuk taat kepada Allah, lalu mengapa Anda justru bermaksiat?

Jika Anda merasa lesu untuk beramal, ingatlah angan-angan mereka yang tiada…

Konon ar Rabi’ bin Khutsaim menggali kuburan di halaman rumahnya. Jika dia merasa hatinya mulai keras, ia letakkan belenggu di lehernya lalu berbaring dalam kuburan tersebut selama beberapa waktu, kemudian berteriak, “Ya Rabbi, kembalikan aku ke dunia agar aku beramal shalih!!” sembari mengulang-ulangnya. Setelah itu ia bangun dan berkata kepada dirinya, “Hai Rabi’, kini permintaanmu telah terkabul, maka beramallah sebelum tiba saat engkau meminta namun tak dijawab.” (Lihat Ihya’ Ulumuddin)

Disalin dari buku Andai Si Mati Bisa Bicara karangan Sufyan bin Fuad Baswedan dengan sedikit pengeditan.

sumber: https://muslimah.or.id/2790-angan-angan-mereka-yang-telah-tiada.html

Kerugian Hakiki

Oleh 
Syaikh Abdul Bari ast-Tsubaiti

Semua orang pasti ingin selalu bahagia dan tidak pernah menginginkan kesengsaraan walau sejenak. Semua orang ingin senantiasa beruntung dan berusaha maksimal menghindari kerugian, namun apa hendak dikata, fakta berbicara lain. Tidak semua yang diinginkan manusia di dunia terwujud, terkadang apa yang justru dihindari menjadi fakta yang harus diterima, meski terasa pahit. Kerugian terus mendera. Kenyataan pahit ini disikapi dengan sikap yang berbeda-beda, mulai dari sikap ekstrim sampai yang biasa-biasa saja. Terkadang sikap itu justru mendatangkan kerugian atau penderitaan baru, seperti bunuh diri – na’ûdzu billâh-, merusak harta benda, mencederai diri sendiri atau mencederai orang lain. Tapi ada juga yang menyikapi dengan santai, tenang dan penuh kesabaran. Dia menyadari bahwa kerugian yang dialami di dunia ini bukanlah kerugian hakiki, bukan kerugian yang akan mendatangkan penderitaan abadi; Dia bukanlah kerugian yang disebutkan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya :

قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. [Az-Zumar/39:15]

Kerugian yang disebutkan dalam ayat di atas itulah kerugian yang hakiki, yang akan menyebabkan penyesalan yang kekal. Kerugian pada hari kiamat; kerugian disaat kebaikan dan keburukan manusia ditimbang dengan timbangan teradil yang tidak mengandung kecurangan sama sekali. Semoga Allâh Azza wa Jalla menyelamatkan kita semua dari kerugian tersebut.

Kerugian pada hari kiamat merupakan akibat dari perbuatan kita selama hidup di dunia. Jika kesempatan hidup ini bisa kita manfaatkan dengan baik dan maksimal sebagaimana seorang pebisnis memanfaatkan modal usahanya yang sangat terbatas untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya, maka insya Allâh kita akan terselamatkan dari kerugian tersebut.

Kerugian terburuk yang menimpa seseorang adalah kerugian yang menimpa agamanya, karena kerugian ini akan menyebabkan penderitaan abadi di akhirat. Kerugian yang menimpa agama seseorang merupakan musibah terparah bagi seseorang. Oleh karena itu, diantara do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah :

… وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا

Janganlah Engkau menjadikan musibah pada agama kami

Apalagi jika musibah pada agama ini sampai menyeretnya ke lembah kemurtadan – na’ûdzu billâh.

Diantara ciri orang yang menderita kerugian dengan kerugian hakiki adalah ia melalaikan kesempatan beramal shaleh dalam kehidupannya. Dia membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja, sehingga akhirnya saat kematian tiba, amal kabaikan yang pernah dilakukannya masih sedikit, sementara keburukannya menggunung. Jika demikian keadaannya, timbangan keburukannya akan mengalahkan timbangan kebaikannya. Orang seperti ini termasuk yang merugi, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿٨﴾ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَBaca Juga   Bahaya Ambisi Terhadap Harta Dan Kehormatan

Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri. [Al-A’raf/7:8-9]

Tanda-tanda orang merugi lainnya adalah sering mengingkari janji, membuat kerusakan di muka bumi dengan menyebarkan syubhat dan membangkitkan nafsu syahwat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allâh sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allâh (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. [Al-Baqarah/2:27]

Orang tunduk dan taat kepada orang-orang kafir serta memberikan loyalitas kepada mereka juga diantara ciri orang yang rugi. Al-Qur’an dengan tegas telah mengingatkan terhadap perbuatan yang menyebabkan akibat buruk ini. Karena orang-orang kafir itu akan berusaha membuat kita seperti mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. [Ali Imran/3:149]

Termasuk orang-orang yang merugi pada hari Kiamat adalah orang yang hanya beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla di saat dia mendapatkan anugerah kebaikan, disaat hidupnya nyaman, enak dan makmur atau dia beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla disaat apa yang dilakukan itu bisa mendatangkan keuntungan atau kebaikan duniawi. Allâh Azza wa Jalla berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Dan di antara manusia ada orang yang beribadah kepada Allâh dengan berada di tepi (tidak dengan penuh keyakinan); Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. [Al-Hajj/22:11]

Termasuk merugi juga yaitu orang yang dilalaikan oleh harta dan keluarga sehingga tidak bisa beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allâh. barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi. [Al-Munafiqun/63:9]

Dan masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menyebutkan kata merugi dan hal-hal yang menyebabkan kerugian. Ini semua dalam rangka mengingatkan manusia agar tidak tertimpa kerugian yang mengakibatkan penderitaan yang tidak terperikan akibatnya dalam kehidupan akhirat.Baca Juga   Sebab Dan Hikmah Musibah

Akhirnya, kita memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar menjaga dan menyelamatkan kita dari kerugian-kerugian tersebut.

Bagaimanakah cara kita menghindari kerugian tersebut ? Manakah bisnis yang bisa mendatangkan keuntungan ?

Jawabannya telah dijelaskan dalam al-Qur’an dengan penjelasan gamblang dalam al-Qur’an, Surat al-‘Ashr.

Dalam ayat lain dijelaskan rambu-rambu bisnis yang mendatangkan keuntungan serta dijamin tidak akan tersentuh kerugian. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿١٠﴾ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari adzab yang pedih ? (Yaitu) kamu beriman kepada Allâh dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allâh dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. [Ash-Shaff/61:10-11]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allâh dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. [Fathir/35:29]

Itulah jawabannya. Itulah cara dan langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk menghindari kerugian dan meraih keuntungan. Barangsiapa melalaikan dan mengabaikan cara yang diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla tersebut, kerugian pasti tidak akan terelakkan dan dia akan merasakan penyesalan yang tiada tara. Dia akan menyesali prilakunya yang telah menyia-nyiakan kesempatan beramal yang tidak akan pernah kembali lagi. Dia akan menyesali dirinya, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman tentang mereka ini :

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَىٰ ظُهُورِهِمْ ۚ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu. [Al-An’am/6:31]

Semoga kita semua senantiasa berada dalam hidayah Allâh Azza wa Jalla dan senantiasa mendapatkan taufiq dari Allâh Azza wa Jalla untuk beramal sesuai dengan aturan Allâh Azza wa Jalla.

(Diangkat dari khutbah Syaikh Abdul Bari ast-Tsubaiti di Masjid an-Nabawi, pada tanggal 30 Jumadil Akhir 1434 H dengan judul al-Khasâtul Haqîqiyatu)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVII/1435H/2014M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

sumber: https://almanhaj.or.id/4196-kerugian-hakiki.html

[Kitabut Tauhid] 27. Keutamaan tauhid 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Allâh -‘Azza wa Jalla- berfirman : Orang-orang yang beriman dan tidak menodai keimanan mereka dengan kezhaliman (kesyirikan), mereka itulah orang-orang yang mendapat jaminan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. _ QS. Al-An’âm : 82.
Dari ayat yang mulia diatas dapat diambil pelajaran sebagai berikut :

  1. Allâh -‘Azza wa Jalla- mengaitkan dan menjadikan Tauhid sebagai syarat keimanan. Artinya, seseorang itu tidak dikatakan beriman sebelum dia merealisasikan Tauhid.
  2. Allâh -‘Azza wa Jalla- menamai kesyirikan dengan kezhaliman dan menjadikannya sebagai salah satu perusak dan pembatal keimanan.
  3. Allâh -‘Azza wa Jalla- memberikan jaminan keamanan dari adzabnya dalam kehidupan dunia dan akhirat bagi siapa saja yang merealisasikan Tauhid dan menamai mereka sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk atau berada diatas jalan hidayah.

selanjutnya kita akan mempelajari Urgensi Tauhid bag. 27. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

matan kitabut tauhid (PDF)

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“