Rahasia Kesukaran Hidup – Jadilah Orang Kikir

Nasehat Al-Qur”anul Karim Agar Kita Selalu Berbuat Baik dan Tidak Kikir

Kikir adalah watak asli manusia :

“…Dan adalah manusia itu sangat kikir.” QS. Al Israa” : 17

“…walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir.” QS An-Nisaa” : 128

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.” QS. Al Ma´aarij: 19 – 27

Kikir adalah salah satu ciri dari orang yang sombong :

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir (kafir terhadap nikmat Allah) siksa yang menghinakan.

Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.

Apakah kemudharatannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menafkahkan sebahagian rezki yang telah diberikan Allah kepada mereka ? Dan adalah Allah Maha Mengetahui keadaan mereka.” QS. An-Nisa 36-39

Setan menakuti-nakuti kita dengan kemiskinan sehingga kita takut berbuat baik :

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia[170>. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui”. QS. Al-Baqarah : 268

Jangan takut miskin, sebab Allah pasti melipatgandakan kebaikan kita :

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” QS.An Nisaa”: 26-40

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” QS. Al-Baqarah : 245

“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam syurga).” QS. Saba” : 37

Allah tidak membutuhkan kekayaan kita, tapi kitalah yang membutuhkanNya :

“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” QS. Muhammad : 38

Akibat bagi orang yang Bakhil (kikir) :

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. Ali “Imran : 180

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” QS. Al-Lail 8-11

Penutup

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” QS. Muhammad : 36.

sumber: https://pengusahamuslim.com/307-rahasia-kesukaran-hidup-jadilah-orang-kikir.html

Seseorang Akan Mendapatkan Ujian Sebanding Kualitas Imannya

Siapakah yang akan mendapatkan ujian terberat …

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” [1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

وَاِذَا عَظُمَت المِحْنَةُ كَانَ ذَلِكَ لِلْمُؤْمِنِ الصَّالِحِ سَبَبًا لِعُلُوِّ الدَرَجَةِ وَعَظِيْمِ الاَجْرِ

“Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang sholih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar.”[2]

Syaikhul Islam juga mengatakan,

واللهُ تَعَالَى قَدْ جَعَلَ أَكْمَلَ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَعْظَمُهُمْ بَلاَءً

“Allah akan memberikan cobaan terberat bagi setiap orang mukmin yang sempurna imannya.”[3]

Al Munawi mengatakan, “Jika seorang mukmin diberi cobaan maka itu sesuai dengan ketaatan, keikhlasan, dan keimanan dalam hatinya.”[4]

Al Munawi mengatakan pula, “Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta. Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. … Dan masih banyak kisah lainnya.”[5]

Semakin kuat iman, semakin berat cobaan, namun semakin Allah cinta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya balasan terbesar dari ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridho, maka Allah pun ridho. Dan barangsiapa murka (tidak suka pada cobaan tersebut, pen), maka baginya murka Allah.”[6]

Kewajiban kita adalah bersabar dan bersabar. Ganjaran bersabar sangat luar biasa. Ingatlah janji Allah,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan bahwa  ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar pahala bagi mereka tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka tak terhingga. Sedangkan As Sudi mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga.[7]

Makna asal dari sabar adalah “menahan”. Secara syar’i, pengertian sabar sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim,

فَالصَّبْرُ حَبْسُ النَّفْسِ عَنِ الجَزْعِ وَاللَِّسَانِ عَنِ التَّشَكِّي، وَالجَوَارِحِ عَنْ لَطْمِ الخُدُوْد وَشَقِّ الثِيَابِ وَنَحْوِهِمَا

“Sabar adalah menahan diri dari menggerutu, menahan lisan dari mengeluh, dan menahan anggota badan dari menampar pipi, merobek-robek baju dan perbuatan tidak sabar selain keduanya.”[8] Jadi, sabar meliputi menahan hati, lisan dan anggota badan.

Semoga Allah memberi taufik dan kekuatan kepada kita dalam menghadapi setiap ujian.

Faedah Ilmu, Pangukan-Sleman, 6 Dzulqo’dah 1430 H

Muhammad Abduh Tuasikal 


[1] HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[2] Al Istiqomah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2/260, Jami’ah Al Imam Muhammad bin Su’ud, cetakan pertama, 1403 H.

[3] Qo’idah fil Mahabbah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 150, Maktabah At Turots Al Islamiy.

[4] Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, ‘Abdur Ro-uf Al Munawi, 1/73, Al Maktabah At Tijariyah Al Kubro, cetakan pertama, tahun 1356 H.

[5] Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, ‘Abdur Ro-uf Al Munawi, 1/158, Asy Syamilah

[6] HR. Tirmidzi no. 2396, dari Anas bin Malik. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

[7] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/89, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.

[8] ‘Iddatush Shobirin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 7, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut.



Sumber https://rumaysho.com/678-seseorang-akan-mendapat-ujian-sebanding-kualitas-imannya.html

SIAPAKAH YANG DIMAKSUD AHLUL-QUR’AN YANG DIKATAKAN SEBAGAI AHLULLAH DAN ORANG KHUSUSNYA

Pertanyaan

Pertanyaanku adalah berapa kadar harian yang seyogyanya seorang muslim konsisten dalam membaca Al-Qur’an agar menjadi ahlullah dan orang khususnya? Apakah jika terputus pada waktu tertentu dalam menjaga wiridnya, dapat meniadakan keutamaan ini?

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no 215 dan Ahmad, no. 11870 dari Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

( إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنْ النَّاسِ ) قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : ( هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ ) وصححه الألباني في “صحيح ابن ماجة”

“Sesungguhnya Allah memiliki orang khusus (Ahliyyin) dari kalangan manusia. Mereka (para shahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah siapakah mereka?” Beliau menjawab, “Mereka adalah Ahlu Al-Qur’an, Ahlullah dan orang khusus-Nya.” Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah)

Al-Manawi rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah para penghafal Al-Qur’an yang mengamalkannya, mereka itu adalah kekasih Allah yang dikhususkan dari kalangan manusia. Mereka dinamakan seperti itu sebagai bentuk penghormatan kepada mereka sepeti penamaan Baitullah.

Al-Hakim At-Tirmizi berkata, “Sesungguhnya keutamaan ini berlaku bagi para pembaca yang telah membersihkan hatinya dari sifat lalai dan menghilangkan dosa pada dirinya. Tidak termasuk orang khususnya kecuali bagi orang yang membersihkan dirinya dari dosa yang tampak maupun tersembunyi, lalu menghiasi dirinya dengan ketaatan. Maka ketika itu, dia termasuk orang khusus Allah.” (Faidhul Qadir, 3/87)

Tidak cukup sekedar membaca (saja) agar termasuk arang khusus Al-Qur’an. Dia harus mengamalkan dan menghormati hukum-hukumnya, serta berakhlak dengannya.

Al-Hafiz Muhammad bin Husain Al-Ajuri rahimahullah memiliki ungkapan yang bagus terkait dengan masalah ini dan perlu mendapatkan perhatian. Beliau rahimahullah mengatakan, “Selayaknya, orang yang telah Allah ajarkan Al-Qur’an dan diberi kemuliaan dengannya dibanding orang lain yang tidak memilikinya . dia  harus menjadi ahli Al-Qur’an, Ahli Allah dan orang khusus-Nya. Menjadikan Al-Qur’an selalu bersemi dalam hati, menghidupkan apa yang rusak di hatinya. Beradab dengannya dan berakhlak dengan akhlak yang mulia, yang berbeda dengan kebanyakan orang yang tidak menghafal Al-Qur’an.

Yang pertama kali hendaknya dia wujudkan adalah bertakwa kepada Allah, baik dalam saat sunyi maupun tampak. Berhati-hati dalam hal makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggalnya. Memahami fenomena zaman dan kerusakan orang di dalamnya. Sehingga dia dapat berhati-hati terhadap agamanya, menjaga urusannya, berupaya selalu memperbaiki urusannya yang rusak. Menjagi mulutnya, berbeda dalam perkataannya. Jika berbicara, dia berbicara jika telah diketahui bahwa pembicaraannya itu benar,  dengan. Jika diam, dia diam jika dia telah mengetahui bahwa diamnya itu benar. Jarang melakukan sesuatu yang tidak perlu,  dia sangat takut terhadap mulutnya melebihi takutnya kepada musuh. Sedikit tertawa di tengah-tengah orang yang tertawa karena dia mengetahui akibat buruk darinya. Wajah berseri-seri, perkataannya indah, tidak menggunjing seorangpun. Tidak meremehkan dan tidak menghina seorangpun. Tidak mengeluh terhadap musibah, tidak  aniaya kepada seseorang, tidak iri hati. Karena dia telah menjadikan Al-Qur’an, Sunah dan Fikih menggiringnya memiliki akhlak mulia dan agung. Menjaga seluruh anggota tubuhnya dari apa yang dilarang. Ketika dikatakan kepadanya kebenaran, dia menerimnya, baik dari orang besar maupun kecil. Dia meminta ditinggikan oleh Allah, bukan dari para makhluk. Dia benci terhadap kesombongan dan dirinya takut darinya (kesombongan). Dia tidak mencari makanan (rizki) dari Al-Qur’an dan tidak suka memenuhi hajat darinya. Dia tidak mendatangi anak raja dengannya, tidak duduk dengan orang-orang kaya agar dihormati. Dia merasa cukup dengan yang sedikit, berhati-hati terhadap dunia yang dapat membuatnya melampaui batas. Dia Mengkuti kewajiban dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Dia Makan dengan ilmu, minum dengan ilmu, berpakaian dengan ilmu, tidur dengan ilmu, berjimak dengan ilmu, mendampingi saudara-saudaranya dan mengunjunginya dengan ilmu. Dirinya konsisten untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Jika keduanya minta tolong kepadanya  dalam ketaatan, maka dia akan membantunya. Kalau keduanya minta tolong kepadanya dalam kemaksiatan dia tidak membantunya. Tapi dia tetap berbuat baik kepada keduanya meskipun keduanya melakukan kemaksiatan dengan adab yang baik, dengan harapan  agar keduanya meninggalkan keburukan yang dia lakukan. Dia selalu menyambung silaturrahim, tidak suka memutus hubungan kekerabatan.  Dia tidak memutuskan huburang silaturahim terhadpa orang yang memutuskan hubungan dengannya. Orang yang berlaku kepadanya dengan cara maksiat kepada Allah, dibalas dengan berbuat ketaatan kepada Allah. Lembut dalam urusannya. Sangat sabar dalam mengajarkan kebaikan. Mengayomi orang yang belajar. Senang dalam majelis dengannya. Majelisnya senantiasa menambah kebaikan. Dia menjadikan ilmu dan fikih sebagai petunjuk pada setiap kebaikan. Kalau mengajarkan Al-Qur’an, dia hadir dengan pemahaman dan akal pikiran. Semangatnya kuat dalam memberikan pemahaman apa yang telah Allah wajibkan, yaitu dengan mengikuti perintah-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang. Tekadnya, bukan kapan saya mengkhatamkan surat, tapi kapan saya hanya membutuhkan Allah, tidak kepada selain-Nya? Kapan saya menjadi golongan orang-orang bertakwa? Kapan saya menjadi orang-orang dermawan? Kapan saya menjadi orang yang bertawakkal? Kapan saya menjadi orang khusyu? kapan saya menjadi orang sabar? Kapan saya dapat memahami perintah Allah? Kapan saya memahami apa yang saya baca? Kapan saya dapat mengalahkan hawa nafsuku? Kapan saya berjihad dengan sesungguhnya? Kapan saya dapat mengambil nasehat dari ancaman Al-Qur’an? Kapan saya dapat selalu mengingatnya, tidak sering  sibuk sehingga lebih sering mengingat yang lainnya?

Barangsiapa yang sifatnya seperti ini atau mendekati. Maka sungguh dialah orang yang telah benar-benar membaca dan menjaganya, sehingga Al-Qur’an akan menjadi saksi, syafaat, pendamping dan menjadi tameng. Barangsiapa yang sifatnya seperti ini, maka diri dan keluarganya akan mendapatkan manfaat. Seluruh kebaikannya di dunia dan akhirat akan kembali kepada kedua orang tua  dan anaknya.” (Diringkas dari kitab Akhlak Hamalatil Qur’an, hal. 27)

Bagi orang yang ingin termasuk sebagaimana dalam sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam, yaitu menjadi ahlul Al-Qur’an yang mereka adalah ahlu Allah dan orang khususnya, maka hendaknya jangan mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sebulan. Telah diriwayatkan oleh Bukhori, 1978 dari Abdullah bin Amr radhiallahu’anhuma dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

( اقْرَأ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ شَهْرٍ ، قَالَ إِنِّي أُطِيقُ أَكْثَرَ ، فَمَا زَالَ حَتَّى قَالَ : فِي ثَلَاثٍ )

“Bacalah (khatamkan) Al-Qur’an setiap bulan.” (Abdullah bin Amar) berkata, “Aku mampu lebih (cepat) dari itu.” Beliau terus meminta sampai mengatakan, “Pada setiap tiga hari.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Yang benar menurut mereka, bahwa hadits Abdullah bin Amr paling terakhir Nabi sallallahu’alaihi wa sallam adalah tujuh (hari). Karena beliau pada awalnya menyuruh mengkhatamkan setiap bulan, maka batasannya dapat dibuat antara antara sebulan sampai seminggu. Adapula riwayat bahwa beliau menyuruh memerintahkan agar mengkhatamkan dalam empat puluh hari. Hal ini menunjukkan keluwesan, sebanding dengan membaginya menjadi tiga bagian-tiga bagian sebagai hasil ijtihad.”  (Majmu Fatawa, 13/ 407-408)

Maksudnya disini adalah, yang lebih utama mengkhatamkan antara seminggu sampai sebulan. Kalau sibuk, maka dia dapat dispensasi sampai empat puluh hari. Seyogyanya jangan melewati sehari kecuali dia melihat mushaf dan membaca firman  Tuhannya, sehingga dia mempunyai wirid harian yang dijaganya. Minimal kira-kira satu juz Al-Qur’an. Jika setiap kali bertambah, maka lebih utama. Meskipun begitu, hendaknya dia juga mentadaburi dan mengamalkan yang ada di dalamnya, baik berupa hukum, akhlak dan adab.

Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad di kitab Az-Zuhd hal. 128, dari Utsman radhiallahu anhu, dia berkata:

ما أحب أن يأتي علي يوم ولا ليلة إلا أنظر في كتاب الله – يعني القراءة في المصحف

“Saya tidak suka, berlalu satu hari satu malam, kecuali saya melihat Kitabullah –maksudnya membaca di mushaf.”

Ibnu Katsir rahimahullah mengomentari, “Mereka tidak menyukai seseorang yang melewati satu hari tanpa melihat (membaca) mushaf.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/68)

Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah mengatakan, “Orang yang senantiasa membaca Al-Qur’an sepanjang tahun, mereka adalah Ahlul-Qur’an, merekalah Ahlullah dan orang khusus-Nya. Seharusnya orang Islam mempunyai perhatian terhadap Al-Qur’an, menjadi orang yang benar-benar membacanya, menghalalkan apa yang dihalalkan dan mengharamkan apa yang diharamkannya, mengamalkan hukum-hukumnya, mengimani yang mutaysabih, merenungi  keajaibannya, mengambil pelajaran dari perumpamaan dan kisah-kisah di dalamnya, menerapkan ajaran-ajarannya. Karena Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan dan diterapkan. Meskipun demikian, membacanya termasuk mengamalkan dan mendapatkan pahala.

Barangsiapa yang ingin termasuk ahli zikir, maka hendaknya termasuk orang yang benar-benar membaca Kitabullah, membacanya di masjid, di rumah dan di tempat kerjanya. Tidak lalai dari Al-Qur’an, dan tidak dikhusukan hanya di bulan Ramadhan saja. Kalau anda membaca Al-Qur’an, maka bersungguh-sungguhlah. Seperti misalnya berusaha dapat mengkhatamkan pada setiap lima hari atau tiga hari  sekali. Yang paling utama, seseorang mempunyai hizb (bacaan) harian. Membacanya setelah Isya atau setelah fajar atau setelah Ashar. Seharusnya dampak Al-Qur’an terus ada sepanjang tahun, sehingga anda menjadi senang dengan Kalamullah, dan mendapatkan kenikmatan dan kelezatan, sehingga anda tidak akan bosan mendengarkannya, sebagaimana anda tidak bosan membacanya. Ini adalah sifat dan karakter orang mukmin yang seharusnya menjadi ahli Al-Qur’an  yang dikatakan Ahlullah dan orang-orang khusus-Nya.” (Fatawa Syekh Ibnu Jibrin, 59/31-32)

Barangsiapa terbiasa mempunyai wirid harian Al-Qur’an, kemudian meninggalkannya karena ada uzur bepergian atau sakit atau semisal itu, hal itu tidak akan mengurangi pahalanya. Sebagaimana diriwayatkan olah Bukhori, no. 2996 dari Abu Musa radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Kalau seorang hamba sakit atau bepergian, maka akan ditulis (pahalanya) baginya seperti  (pahala) yang biasa dia lakukan saat menetap dan sehat.”

Maka seyogyanya bagi orang yang ingin menjadi Ahlul-Qur’an, agar jangan meninggalkan bacaan walaupun sehari kecuali ada uzur. Maka Shohibul-Qur’an tidak akan lalai dan tidak akan tersibukkan dengan lainnya.

Wallahua’lam .

sumber: https://islamqa.info/id/answers/145782/siapakah-yang-dimaksud-ahlul-quran-yang-dikatakan-sebagai-ahlullah-dan-orang-khususnya

SAFAR MENYINGKAP SIFAT ASLI MANUSIA

Satu hal yang penting dari pembahasan safar adalah kesusahan (azab) dalam safar ini akan memerlihatkan sifat dan akhlak aslinya seseorang. Di saat senang dan gembira, bisa jadi semua orang bisa menunjukkan akhlak yang baik. Akan tetapi di saat-saat sulit, belum tentu bisa menjadi teman yang baik. Bisa jadi di saat-saat sulit ia malah tidak memerdulikan temannya. Hanya memerdulikan diri sendiri, bahkan sampai mengorbankan temannya (makan teman).
 
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata:
 
ومن كان في السفر آذى هو مظنة الضجر حِسنَ الخلق، كان في الحضر أحسن خلقاً .وقد قيل : إذا أثنى على الرجل معاملوه في الحضر ورفقاؤه في السفر فلا تشكوا في صلاحه .
 
“Barang siapa yang ketika bersafar mengalami kesusahan dan keletihan ia tetap berakhlak yang baik, maka ketika tidak bersafar ia akan berakhlak lebih baik lagi. Sehingga dikatakan, jika seseorang dipuji muamalahnya ketika tidak bersafar, dan dipuji muamalahnya oleh para teman safarnya, maka janganlah engkau meragukan kebaikannya.” [Mukhtashar Minhajul Qashidin 1/39, Syamilah]
 
Demikian juga penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Ustaimin, bahwa dengan safar kita mengetahui hakikat akhlak seseorang. Beliau berkata:
 
وسمي سفرا لأنه من الإسفار وهو الخروج والظهور كما يقال أسفر الصبح إذا ظهر وبان وقيل في المعنى سمي السفر سفرا لأنه يسفر عن أخلاق الرجال يعني يبين ويوضح أحوالهم فكم من إنسان لا تعرفه ولا تعرف سيرته إلا إذا سافرت معه وعندئذ تعرف أخلاقه وسيرته وإيثاره
 
“Diistilahkan safran [سَفْرًا l] karena diambil dari makna al-isfar [الْإِسْفَارُ ] yaitu: keluar dan terang, nyata. Sebagaimana dikatakan dalam ungkapan [أَسْفَرَ الصُّبْحُ] yaitu bersinar atau bercahaya. Secara makna disebut as-safaru–safran karena “Membuka perihal akhlak seseorang.” Maksudnya, menjadikan jelas dan nyata keadaannya.
 
Berapa banyak orang yang belum terkuak jati dirinya, bisa terungkap setelah melakukan safar/ bepergian bersamanya. Ketika dalam safar itulah engkau mengetahui akhlak, perangai, dan wataknya.” [Syarh Riyadhus Shalilhin 3/77, Darul Atsar, Koiro, cet. I]
 
Inilah yang disebut ulama dengan ungkapan:
 
السفر يكشف معادن الناس ويظهر أخلاق الرجال
 
“Safar itu menyingkap sifat asli manusia, dan menampakkan akhlak seseorang.”
 
Bisa jadi pada saat safar, aib-aib seseorang akan nampak. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata:
 
وإنما سمى السفر سفراً، أنه يسفر عن الأخلاق . وفى الجملة فالنفس فى الوطن لا تظهر خبائث أخلاقهم لاستئناسها بما يوافق طبعها من المألوفات المعهودة، فإذا حملت وعثاء السفر، وصرفت عن مألوفاتها المعتادة، ولامتحنت بمشاق الغربة، انكشفت غوائلها، ووقع الوقوف على عيوبها
 
“Disebut as-safaru–safran karena “Membuka perihal akhlak seseorang”. Pada umumnya seseorang yang tinggal di daerah asalnya tidak menampakkan kejelekan akhlaknya, karena ia terbiasa dengan apa yang sesuai dengan tabiatnya yang biasa ia hadapi. Jika ia melakukan safar, maka tidak biasa lagi dengan keadaan dan kebiasaannya. Ia akan diuji dengan kesusahan safar yang berat, dan tersingkaplah kejelekan dan diketahui aib-aibnya.” [Mukhtashar Minhajul Qashidin 2/57, Syamilah]
 
Oleh karena itu, Umar bin Khaththab tidak langsung menerima rekomendasi orang lain sebelum mengetahui akhlak dan sifat asli seseorang. Salah satu yang Umar tanyakan adalah: ‘Apakah sudah pernah bersafar bersamanya atau tidak?’
 
Dalam suatu riwayat mengenai Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu:
 
كان عمر رضي الله عنه إذا زكى رجل شخصا عنده قال له هل سافرت معه هل عاملته إن قال نعم قبل ذلك وإن قال لا فقال لا علم لك به
 
“Umar bin Al-Khatthab radhiallahu ‘anhu, jika ada seseorang yang merekomendasikan temannya, beliau bertanya:
‘Apakah engkau pernah melakukan safar bersamanya?
Apakah engkau telah bergaul dengannya?’
Jika jawabannya iya, maka Umar pun menerimanya.
Jika jawabannya belum pernah, maka Umar akan mengatakan: ‘Engkau belum mengetahui hakikat senyatanya tentang orang itu.’” [Syarh Riyadhus Shalilhin 3/77, Darul Atsar, Koiro, cet. I]
 
Jadi untuk mengetahui akhlak dan sifat asli seseorang, salah satu tolak ukurnya adalah dengan mengajaknya bersafar, karena safar identik dengan kesulitan dan kesusahan. Disaat senang dan tenang semua bisa jadi teman akan tetapi di saat sulit dan susah tidak semua bisa jadi teman yang baik.
 
Mari kita introspeksi diri kita, apakah di saat-saat sulit bersama orang lain kita masih menampakkan sifat dan akhlak yang mulia atau tidak?
 

Wanita Bersafar Tanpa Mahram

Bagaimanakah hukumnya seorang wanita bepergian -safar-  (untuk sekolah di luar negeri/ naik gunung/ pergi ke pantai/ naik haji) sendiri, tanpa mahramnya?

Syaikh Sholeh Al Fauzan  telah ditanya tentang wanita yang bepergian tanpa ditemani mahromnya. Beliau menjawab : “Wanita dilarang bepergian kecuali apabila ditemani oleh mahramnya yang menjaganya dari gangguan orang-orang jahat dan orang-orang fasik. Telah diriwayatkan hadits-hadits shohih yang melarang wanita bepergian tanpa mahrom, di antaranya yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhubahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda yang artinya,”Tidak diperbolehkan bagi wanita untuk bepergian selama tiga hari kecuali bersama mahromnya.”.”

Diriwayatkan dari Abu Sa’id rodiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang wanita untuk bepergian sejauh perjalanan dua hari atau dua malam kecuali bersama suami atau mahromnya.

Diriwayatkan pula dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Tidak halal bagi wanita untuk bepergian sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahromnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)[Silahkan lihat Fatwa-fatwa tentang wanita, jilid ke-3]

Kesimpulannya : Jika memang perjalanan yang dilakukan tersebut termasuk safar (yang patokannya berdasarkan ‘urf/kebiasaan, bukan jarak), maka wanita tersebut dilarang melakukan safar, kecuali bersama mahromnya. Dan wanita bukanlah mahrom, walaupun seratus wanita yang menemaninya.

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al Hasyr : 7)

Wallahu waliyyut taufiq.

—

Tulisan penulis di masa silam saat kuliah di S1 UGM

Sumber https://rumaysho.com/3154-wanita-bersafar-tanpa-mahram.html

[Kitabut Tauhid] 45. Keutamaan memurnikan tauhid 10

catatan: besok, hari sabtu pukul 17.00WIB, quis pekanan akan aktif. yuk muraja’ah 5 materi terakhir serial belajar tauhidnya.💪


Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Taththayyur atau thiyârah adalah menganggap adanya kesialan karena adanya sesuatu. Perbuatan ini termasuk perbuatan syirik yang menafikan kesempurnaan Tauhid, karena ia berasal dari apa yang disampaikan syaithan berupa godaan dan bisikannya, dan penyandaran sesuatu bukan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Terapi dari taththayyur adalah menyandarkan hati seutuhnya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan memurnikan tawakkal kepada-Nya. Juga dengan membaca doa yang diajarkan Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- :

اَللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

‘Ya Allâh, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek taththayyur) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilâh yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.’

selanjutnya kita akan mempelajari Keutamaan memurnikan tauhid 10. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

matan kitabut tauhid (PDF)

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Saya Tidak Tahu !

Dikisahkan dalam sebuah atsar, suatu ketika Masruq bin Al-Ajda rahimahullah seorang tabi’in bersama para tabi’in yang lain pergi menemui Abdullah bin Mas’ud. Ketika berjumpa sebagaimana kebiasaan para salaf mereka selalu saling memberi nasehat satu sama lain, maka pada kesempatan itu Abdullah bin Mas’ud menyampaikan nasehatnya kepada para tabi’in yang pada saat itu mereka adalah murid-muridnya, beliau radhiyallu ‘anhu berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، مَنْ عَلِمَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ، فَإِنَّ مِنَ العِلْمِ أَنْ يَقُولَ لِمَا لاَ يَعْلَمُ اللَّهُ أَعْلَمُ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ المُتَكَلِّفِ{

‘Wahai sekalian manusia, siapa yang mengetahui tentang sesuatu, sampaikanlah. Dan jika tak tahu, ucapkanlah, ‘Allahu a’lam’. Karena, sungguh, termasuk bagian dari ilmu, jika engkau mengucapkan terhadap sesuatu yang tidak kau ketahui dengan ucapan: ‘Allahu a’lam’. Allah berfirman kepada Nabi-Nya: ‘Katakanlah (hai Rasul): ‘Aku tidak meminta upah sedikit pun pada kalian atas dakwahku dan bukanlah Aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. (Q.S. Shad  38:86) (Atsar riwayat Al-Bukhori dalam shahihnya 4/1809 no 4531)

Sebuah nasehat yang indah yang dilontarkan seorang guru kepada murid-muridnya, nasehat yang keluar dari hati yang dalam, nasehat yang tidaklah dilontarkan kecuali sebagai tanda sayang seseorang kepada orang yang diberi nasehat.

Pada atsar di atas, sahabat Abdullah bin Mas’ud mengajarkan kepada kita, bahwa seseorang jika ditanya tentang sesuatu yang tidak dia ketahui maka sebaiknya dia tidak berbicara kecuali mengatakan ‘saya tidak tahu’ dan ‘Allahu a’lam’. Karena sesungguhnya perkataaan tersebut adalah termasuk bagian dari ilmu.

Muncul pertanyaan kenapa perkataan seseorang ‘Allahu a’lam’ terhadap sesuatu yang dia tidak ketahui adalah bagian dari ilmu? bukankah pengakuan atas ketidaktahuan adalah penafian atas ilmu?

Alasan Ucapan Allahu A’lam Bagian dari Ilmu

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan, ada dua poin yang menjadikan perkataan tersebut bagian dari ilmu.

  1. Seseorang yang mengatakan ‘saya tidak tahu’ dan ‘Allahu a’lam’ berarti dia mengetahui bahwa dia adalah bukan seseorang yang tahu. Dia memiliki ilmu atas keadaan dirinya dan mengetahui derajat dirinya bahwa dia adalah seorang yang bodoh. Maka pengakuan atas kebodohannya dengan mengatakan ‘saya tidak tahu’ dan ‘Allahu a’lam’ itu adalah bagian dari ilmu, karena dia memiliki ilmu tentang kemampuan dirinya.
    Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah menulis sebuah risalah, yang didalam risalah tersebut ada sebuah ungkapan yang sangat indah, sampai-sampai sebagian ulama mengatakan ungkapan itu berhak ditulis dengan tinta emas. Ungkapan tersebut adalah ‘semoga Allah Ta’ala merahmati seseorang yang mengetahui keadaan dirinya.’
  2. Seseorang jika berkata ‘saya tidak tahu’ dan ‘Allahu a’lam’, maka dia telah membiasakan dirinya untuk berserah diri kepada kebenaran dan tidak sembarang menjawab apa yang tidak diketahuinya. Maka penyerahan diri kepada kebenaran adalah ilmu yang ada pada dirinya, maka jelaslah pengakuan ‘saya tidak tahu’ dan ‘Allahu a’lam’ adalah bagian dari ilmu.

Maka sudah sepantasnya seseorang jika ditanyakan sesuatu apa yang tidak diketahuinya maka hendaknya mengatakan ‘saya tidak tahu’ dan ‘Allahu a’lam.’ Sebagian orang malu mengatakan ‘saya tidak tahu’ karena menganggap apa yang dikatakannya itu akan menurunkan derajatnya. Padahal para Malaikat tidak pernah malu mengungkapkan pernyataan tersebut.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ۝وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ۝قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ۝

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. Al-Baqarah 2:30-32)

Didalam Al-Qur’an ketika Allah Ta’ala berkata kepada para malaikat : ‘Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!’. Maka para Malaikat menjawab : ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.’

Wallahu A’lam

Maka janganlah malu katakan ‘Aku Tidak Tahu’ atau ‘Allahu A’lam’

(Sumber bacaan : Bahjatun Naadziriin Syarah Riyadlus Sholihin dan Syarah Riyadus Sholihin Lilutsaimin)Penulis
Ustadz Gigih Nugraha bin Abidin

sumber: https://bimbinganislam.com/saya-tidak-tahu/

Jika Hati Baik …

Jika hati baik, maka baiklah anggota badan yang lain. Jika hati rusak, maka rusak pula yang lainnya. Baiknya hati dengan memiliki rasa takut, rasa cinta pada Allah dan ikhlas dalam niat. Rusaknya hati adalah karena terjerumus dalam maksiat, keharaman dan perkara syubhat (yang masih samar hukumnya).

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Tergantung pada Baiknya Hati

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengisyaratkan bahwa baiknya amalan badan seseorang dan kemampuannya untuk menjauhi keharaman, juga meninggalkan perkara syubhat (yang masih samar hukumnya, -pen), itu semua tergantung pada baiknya hati. Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 210.

Para ulama katakan bahwa walaupun hati (jantung) itu kecil dibandingkan dengan bagian tubuh yang lain, namun baik dan jeleknya jasad tergantung pada hati. (Lihat Syarh Muslim, 11: 29).

Para ulama katakan bahwa hati adalah malikul a’dhoo (rajanya anggota badan), sedangkan anggota badan adalah junuduhu (tentaranya). Lihat Jaami’ul ‘Ulum, 1: 210.

Letak Jalan Berpikir adalah Di Hati

Hadits ini juga merupakan dalil bahwa akal dan kemampuan memahami, pusatnya adalah di hati. Sumbernya adalah di hati, bukan di otak (kepala). Demikian disimpulkan oleh Ibnu Batthol dan Imam Nawawi rahimahullah.

Apa yang Dimaksud Baiknya Hati?

Para ulama berselisih pendapat mengenai maksud baiknya hati, berikut pendapat yang ada:

1-      Yang dimaksud baiknya hati adalah rasa takut pada Allah dan siksanya.

2-      Yang dimaksud adalah niat yang ikhlas karena Allah, ia tidak melangkahkan dirinya dalam ibadah melainkan dengan niat taqorrub pada Allah, dan ia tidak meninggalkan maksiat melainkan untuk mencari ridho Allah.

3-      Yang dimaksud adalah rasa cinta pada Allah, juga cinta pada wali Allah dan mencintai ketaatan.

Intinya, ketiga makna ini semuanya dimaksudkan untuk baiknya hati. Demikian penjelasan guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri dalam Syarh Al Arba’in, hal. 68-69.

Bagaimana Cara Baiknya Hati?

Guru kami, Syaikh Sholih Al Fauzan –semoga Allah memberkahi umur beliau dalam kebaikan dan ketaatan- mengatakan, “Baiknya hati adalah dengan takut pada Allah, rasa khawatir pada siksa-Nya, bertakwa dan mencintai-Nya. Jika hati itu rusak, yaitu tidak ada rasa takut pada Allah, tidak khawatir akan siksa-Nya, dan tidak mencintai-Nya, maka seluruh badan akan ikut rusak. Karena hati yang memegang kendali seluruh jasad. Jika pemegang kendali ini baik, maka baiklah yang dikendalikan. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh yang dikendalikan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaklah meminta pada Allah agar dikaruniakan hati yang baik. Jika baik hatinya, maka baik pula seluruh urusannya. Sebaliknya, jika rusak, maka tidak baik pula urusannya.” (Al Minhah Ar Robbaniyah fii Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, hal. 109).

Karenanya, yang sering Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– minta dalam do’anya adalah agar hatinya terus dijaga dalam kebaikan. Beliau sering berdo’a,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam riwayat lain dikatakan,

إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا

“Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” (HR. Ahmad 3: 257. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy atau kuat sesuai syarat Muslim).

Bagaimana Hati Bisa Rusak?

Syaikh Sholih Al Fauzan mengutarakan bahwa rusaknya hati adalah dengan terjerumus pada perkara syubhat, terjatuh dalam maksiat dengan memakan yang haram. Bahkan seluruh maksiat bisa merusak hati, seperti dengan memandang yang haram, mendengar yang haram. Jika seseorang melihat sesuatu yang haram, maka rusaklah hatinya. Jika seseorang mendengar yang haram seperti mendengar nyanyian dan alat musik, maka rusaklah hatinya. Hendaklah kita melakukan sebab supaya baik hati kita. Namun baiknya hati tetap di tangan Allah. Lihat Al Minhah Ar Robbaniyah, hal. 110.

Moga setiap langkah kita senantiasa berada di atas kebaikan.

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Aku tidaklah memandang dengan pandanganku, tidak pula mengucap dengan lisanku, begitu pula tidak menyentuh dengan tanganku, dan tidak bangkit untuk melangkahkan kakiku melainkan aku melihat terlebih dahulu apakah ini semua dilakukan karena ketaatan ataukah maksiat. Jika dalam ketaatan, barulah aku mulai bergerak. Jika dalam maksiat, aku pun enggan.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 213).

Ya muqollibal quluub, tsabbit quluubana ‘ala tho’atik (Ya Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas ketaatan). Wallahul muwaffiq.

Referensi:

Al Minhah Ar Robbaniyah fii Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Darul ‘Ashimah, cetakan pertama, tahun 1429 H.

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392 H.

Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Ibrahim Bajis, terbitan Muassasah Ar Risalah,cetakan kedelapan, tahun 1419 H.

Syarh Al Bukhari, Ibnu Batthol, Asy Syamilah

Syarh Al Arba’in An Nawawiyah Al Mukhtashor, Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1431 H.

@ Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh-KSA, 26 Muharram 1434 H

Sumber https://rumaysho.com/3028-jika-hati-baik.html

Kalau Cinta, Cintaaa Banget..Kalau Benci, Benciii Banget

Oleh : Ustadz dr. Raehanul Bahraen

Kalau Cinta, Cintaaaa Banget; Kalau Benci, Benciiii Banget 

(Kaidah Mayoritas Wanita….)

Wanita dianugrahi perasaan yang mendalam, karena memang disiapkan menjadi seorang ibu yang harus memiliki kasih sayang dan perhatian yang mendalam juga. Untuk menghadapi anak-anak, maka perlu perhatian dan kasih sayang untuk menemani kesabaran menghadapi dan mendidik anak-anak. Akan tetapi kelebihan ini tentu ada kelemahannya. Kelemahannya adalah terkadang perasaan menutupi akal sehatnya, perasaan membuat pertimbangan mengambil keputusan bisa mengalahkan keputusan akal sehat. Dan ini memang harus dipahami karena wanita memang ingin lebih dimengerti.

Ketika  wanita jika sudah cinta, maka ia sangat cinta sekali dan jika sudah benci maka ia benci sama sekali. Ini adalah mayoritas sifat wanita. Karenanya beberapa ahli psikologi dan beberapa ulama yang ahli mengenai hal ini mengatakan bahwa wanita memang tidak bisa membagi cinta, karena begitulah tipe cinta wanita.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Jika engkau berbuat baik kepada salah seorang diantara mereka (wanita) sepanjang setahun, kemudian melihat sesuat yang mengecewakan, dia akan berkata,

’Saya tidak pernah melihat kebaikanmu sedikitpun’.[1]

Cinta yang sewajarnya saja

Perilaku seperti tidak bagus yaitu terlalu berlebihan menyikapi cinta dan benci. Hal ini sudah diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Beliau bersabda,

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيْضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

“Cintailah orang yang kau cintai sekadarnya, bisa jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya bisa jadi suatu hari ia menjadi orang yang kau sayangi”.[2]

Dari Aslam bahwa Umar bin Khaththab radhiallahu anhu berkata,

لاَ يَكُنْ حُبُّكَ كَلَفًا وَلاَ بَغُضُكَ تَلَفًا فَقُلْتُ كَيْفَ ذَاكَ ؟ قَالَ إِذَا أَحْبَبْتَ كَلِفْتَ كَلَفَ الصَّبِيِّ وَإِذَا أَبْغَضْتَ أَحْبَبْتَ لِصَاحِبِكَ التَّلَف

“Janganlah cintamu menjadikan keterlenaan bagimu, dan jangan pula kebencianmu menjadikan kehancuran bagimu.

Aku (Aslam) berkata, “Bagaimanakah itu?”

Umar berkata, “Bila engkau mencitainya, maka engkau mencintainya sampai engkau terlena seperti layaknya seorang anak kecil, dan bila engkau membenci, engkau menginginkan kehancuran baginya.”[3]

Penjelasan hadits dijelaskan dalam Fatwa Al-Islamiyah,

لكن المقصود من الحديث النهي عن المبالغة والإفراط الشديد في الحب،

“Akan tetapi maksud hadits adalah agar tidak berlebihan dan melampui batas dalam hal cinta.”[4]

Demikianlah, kita diperintahkan agar bersikap pertengahan dalam sesuatu hal. Tidak terlalu ekstrim dan tidak terlalu meremehkan juga.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang pertengahan dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….” (QS. Al Baqarah: 143)

Demikian semoga bermanfaat

@Pogung Dalangan, Yogyakarta Tercinta

12/4/2014

(Dishare ulang oleh Ustadz dr. Raehanul Bahraen -hafidzahullah- tgl 6 Rabi’uts Tsani 1436 / 27 Januari 2015)

[1] HR Bukhari

[2] Diriwayatkan At-Tirmidzi no. 1997 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 178

[3] Shahih Adabul Mufad Imam Bukhari oleh Syaikh Albani

[4]Sumber:  http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=139943

sumber: http://www.salamdakwah.com/artikel/2220-kalau-cinta-cintaaa-bangetkalau-benci-benciii-banget

[Kitabut Tauhid] 44. Keutamaan memurnikan tauhid 09

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Ruqyah adalah doa memohon perlindungan, yang dibacakan untuk orang yang sedang sakit, seperti demam, kerasukan, atau penyakit lainnya. 

Asalnya meminta untuk diruqyah hukumnya adalah diperbolehkan, dengan catatan ruqyahnya adalah ruqyah yang syar’i. Namun demikian meminta diruqyah bisa mengurangi kemurnian Tauhid karena perbuatan termasuk bentuk meminta kepada makhluk yang mungkin menyebabkan ketergantungan hati orang yang diruqyah dengan peruqyah sangat besar sehingga mengurangi kesempurnaan tawakkalnya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.Karenanya sebaiknya tidak minta diruqyah kecuali benar-benar membutuhkan dengan tetap menjaga tawakkal kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Adapun meruqyah dengan ruqyah yang syar’iy dibolehkan bahkan dianjurkan jika berniat untuk menolong dan ikhlash karena Allâh -‘Azza wa Jalla-.

selanjutnya kita akan mempelajari Keutamaan memurnikan tauhid 09. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

matan kitabut tauhid (PDF)

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“