Berwibawa di Luar Rumah, Ramah dan Akrab di Rumah

Salah satu sifat suami yang baik adalah berwibawa, disegani dan bisa diandalkan di luar rumah, baik itu ketika bekerja atau bermuamalah. Di dalam rumahnya, seorang suami ramah, akrab dan bermain-main dengan istri dan anak-anaknya. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Perhatikan riwayat berikut,

عن ثابت بن عبيد رحمه الله قال : مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَجَلَّ إِذَا جَلَسَ مَعَ الْقَوْمِ ، وَلاَ أَفْكَهَ فِي بَيْتِهِ ، مِنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِت

Dari Tsabit bin Ubaid,  “Aku belum pernah melihat seorang yang demikian berwibawa saat duduk bersama kawan-kawan namun demikian akrab dan kocak saat berada di rumah melebihi Zaid bin Tsabit”[1]

Karenanya ada perumpamaan bagi suami,
“Singa di luar rumah dan kucing di dalam rumah”

Seorang suami layaknya singa di luar rumah, berwibawa, disegani dan dapat diandalkan, sedangkan di dalam rumah, ia akrab dan bermain-main dengan keluarganya sebagaimana anak kucing yang memainkan pintalan benang. Janganlah terbalik, suami di luar rumah tidak berwibawa dan terlalu sering melucu yang bisa menurunkan kewibawaan dan tidak disegani orang, akan tetapi di dalam rumah ia bagaikan singa yang mudah mengaum, mudah marah dan mengamuk, istri dan anak-anaknya sangat takut padanya serta tidak adanya rasa kasih sayang, ia membuat suasana rumah menjadi tegang dan menakutkan. Tentu ini bukanlah sifat suami yang baik.

Perhatikan hadits berikut yang menjelaskan bahwa semua permainan itu bisa melalaikan, akan tetapi ada pengecualiannya yaitu bermainnya suami bersama anggota keluarganya. Hal ini justru bermanfaat dan dianjurkan oleh agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ شَيْئٍ يَلْهُو بِهِ الرَّجُلُ بَاطِلٌ إِلاَّ في ثَلاَثَة رَمْيُ الرَّجُلُ بِقَوْسِهِ وَ تَأْدِيْبُهُ فَرَسَهُ و مُلاَعَبَتُهُ أَهْلَهُ فَإِنَّهُنَّ مِنَ الْحَقِّ

”Segala sesuatu yang dijadikan permainan oleh seseorang adalah batil, kecuali tiga perkara, melepaskan panah dari busurnya, latihan berkuda, dan senda gurau (mula’abah) bersama keluarganya, karena itu adalah hak bagi mereka.”[2]

Al-Khattabi rahimahullah berkata,

قَال الْخَطَّابِيُّ : فِي هَذَا بَيَانُ أَنَّ جَمِيعَ أَنْوَاعِ اللَّهْوِ مَحْظُورَةٌ ، وَإِنَّمَا اسْتَثْنَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Pada hadits ini terdapat penjelasan bahwa semua jenis permainan yang bisa melalaikan adalah terlarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecualikannya (pada hadits)”[3]

Suami di dalam rumah hendaknya menyempatkan bercanda dan ngobrol akrab dengan istrinya, bermain-main dengan anak-anaknya, misalnya main kuda-kudaan dengan anak-anaknya.

Lihat bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain-main dengan istrinya semisal berlomba lari dengan istrinya, atau bermain-main saling berebut gayung ketika mandi bersama yang merupakan sunnah bagi pasutri.

‘Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan,

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ بَيْنِي وَبَيْنَهُ فَيُبَادِرُنِي حَتَّى أَقُوْلُ دَعْ لِيْ دَعْ لِيْ قَالَتْ وَهُمَا جُنُبَانِ

“Aku mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu tempayan (yang diletakan) antara kami berdua, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahuluiku (dalam mengambil air dari tempayan) hingga aku berkata, “Sisakan air buatku, sisakan air buatku”. Mereka berdua dalam keadaan junub.”[4]

Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau sangat baik dengan keluarga, istri dan anak-anak beliau. Beliau bersabda,

ﺧَﻴْﺮُﻛُﻢْ ﺧَﻴْﺮُﻛُﻢْ ﻷَﻫْﻠِﻪِ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺧَﻴْﺮُﻛُﻢْ ﻷَﻫْﻠِﻲ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku”.[5]

Di riwayat yang lain,

وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya”[6]

@ Di antara bumi dan langit Allah, Pesawat Express Air Yogyakarta – Pontianak

Penulis: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:[1] Al-Adab al-Mufrad karya al-Bukhari no 286[2] HR. Ath-Thabrani dalam kitab Fadhailu -r Ramyi wa Ta’liimih (1/30)[3] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah 35/337[4] HR Muslim I/257 no 321[5] HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285[6] HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284

Sumber: https://muslim.or.id/35637-suami-berwibawa-di-luar-rumah-ramah-dan-akrab-di-dalam-rumah.html

[Kitabut Tauhid 2] 4. Khawatir Terhadap Kesyirikan 04

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Dengan sebab kesempurnaan sifat-sifat-Nya dan keluasan rahmat-Nya, Allâh -‘Azza wa Jalla- menjadikan segala sesuatu yang sangat dibutuhkan hamba-hamba-Nya menjadi sesuatu yaang melimpah-ruah. Diantaranya adalah ampunan-Nya, karena sedemikian besarnya kebutuhan para hamba terhadapnya. Dimana tidak ada seorang hambapun yang ma’shum (terjaga secara sempurna dari semua dosa). Kecuali Para Nabi dan Rasul -‘Alaihimus-Shalâtu Was-Salâm-, yang mana Mereka itu ma’sum pada apa yang Mereka sampaikan dari Allâh -‘Azza wa Jalla- sebagaimana Mereka juga ma’sum dari dosa-dosa besar. Adapun selain mereka, maka sungguh setiap anak manusia sedikit atau banyak pasti terjatuh dalam perbuatan dosa. Bahkan asalnya manusia itu tempatnya salah dan dosa.

selanjutnya kita akan mempelajari Khawatir Terhadap Kesyirikan 04. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

Formulir Pertanyaan

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Wahai Anakku, Beginilah Cara Minum Rasulullah

Penyusun: Ummu Nafisah
Muroja’ah: Ustadz Nur Kholis bin Kurdian

Para ibu muslimah yang semoga dirahmati oleh Allah, mendidik anak adalah salah satu tugas mulia seorang ibu. Ketika kita berusaha untuk mendidik anak kita sebaik mungkin dan dengan mengharapkan ridha Allah, maka usaha kita tersebut dapat berbuah pahala. Bagaimana tidak, bukankah membina anak agar menjadi generasi yang sholih dan sholihah adalah salah satu bentuk jihadnya para ibu?

Salah satu bentuk pengajaran kepada si kecil adalah mengajarinya tentang adab dan akhlak mulia dalam Islam. Karena bagaimanapun, seorang ibu memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan pribadi anak. Jika sang ibu berakhlak baik maka si kecil pun akan meniru ibunya karena biasanya waktu anak lebih banyak bersama ibunya. Diantara adab yang semestinya kita ajarkan kepada si kecil adalah adab ketika minum.

Inilah Adab Minum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Aktivitas minum merupakan aktivitas yang lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sehingga hal ini merupakan kesempatan yang baik untuk memberikan pengajaran bagi anak-anak kita dan melatihnya agar terbiasa minum sesuai dengan tauladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beberapa adab minum yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam antara lain:

  1. Meniatkan minum untuk dapat beribadah kepada Allah agar bernilai pahala.Segala perkara yang mubah dapat bernilai pahala jika disertai dengan niat untuk beribadah. Wahai ibu, maka niatkanlah aktivitas minum kita dengan niat agar dapat beribadah kepada Allah. Dan janganlah lupa memberitahukan anak tentang hal ini.
  2. Memulai minum dengan membaca basmallah.Diantara sunnah Nabi adalah mengucapkan basmallah sebelum minum. Hal ini berdasarkan hadits yang memerintahkan membaca ‘bismillah’ sebelum makan. Bacaan bismillah yang sesuai dengan sunnah adalah cukup dengan bismillah tanpa tambahan ar-Rahman dan ar-Rahim.Dari Amr bin Abi Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anakku, jika engkau hendak makan ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Thabrani dalam Mu’jam Kabir)

    Dalam silsilah hadits shahihah, 1/611 Syaikh al-Albani mengatakan, “Sanad hadits ini shahih menurut persyaratan Imam Bukhari dan Imam Muslim)Wahai ibu, jangan lupa untuk mengingatkan anak-anak kita untuk membaca ‘bismillah’ ketika hendak minum, agar setan tidak ikut serta menikmati makanan dan minuman yang sedang kita konsumsi.

  3. Minum dengan tangan kanan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Jika salah seorang dari kalian hendak makan, hendaklah makan dengan tangan kanan. Dan apabila ingin minum, hendaklah minum dengan tangan kanan. Sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)Ajarkanlah pada si kecil untuk selalu menggunakan tangan kanan ketika makan dan minum. Seringkali si kecil lupa meskipun telah kita ajari, apalagi ketika menyantap makanan ringan (snack) bersama teman mainnya. Nah, saat kita melihatnya, ingatkanlah ia. Janganlah bosan dan merasa jemu untuk mengingatkan anak kita. Insyaa Allah jika kita melakukannya dengan ikhlas mengharap ridha Allah, Allah akan mengganti usaha kita tersebut dengan pahala.
  4. Tidak bernafas dan meniup air minum.Termasuk adab ketika minum adalah tidak bernafas dan meniup air minum. Ada beberapa hadits mengenai hal ini:Dari Abu Qatadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian minum maka janganlah bernafas dalam wadah air minumnya.” (HR. Bukhari no. 5630 dan Muslim no. 263)Dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bernafas atau meniup wadah air minum.” (HR. Turmudzi no. 1888 dan Abu Dawud no. 3728, hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani).Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi mengatakan, “Larangan bernafas dalam wadah air minum adalah termasuk etika karena dikhawatirkan hal tersebut mengotori air minum atau menimbulkan bau yang tidak enak atau dikhawatirkan ada sesuatu dari mulut dan hidung yang jatuh ke dalamnya dan hal-hal semacam itu.

    Dalam Zaadul Maad IV/325 Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat larangan meniup minuman karena hal itu menimbulkan bau yang tidak enak yang berasal dari mulut. Bau tidak enak ini bisa menyebabkan orang tidak mau meminumnya lebih-lebih jika orang yang meniup tadi bau mulutnya sedang berubah. Ringkasnya hal ini disebabkan nafas orang yang meniup itu akan bercampur dengan minuman. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua hal sekaligus yaitu mengambil nafas dalam wadah air minum dan meniupinya.

  5. Bernafas tiga kali ketika minum.Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum beliau mengambil nafas di luar wadah air minum sebanyak tiga kali.” Dan beliau bersabda, “Hal itu lebih segar, lebih enak dan lebih nikmat.”Anas mengatakan, “Oleh karena itu ketika aku minum, aku bernafas tiga kali.” (HR. Bukhari no. 45631 dan Muslim no. 2028). Yang dimaksud bernafas tiga kali dalam hadits di atas adalah bernafas di luar wadah air minum dengan menjauhkan wadah tersebut dari mulut terlebih dahulu, karena bernafas dalam wadah air minum adalah satu hal yang terlarang sebagaimana penjelasan di atas.
  6. Larangan minum langsung dari mulut teko/ceret.Dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Rasulullah melarang minum langsung dari mulut qirbah (wadah air yang terbuat dari kulit) atau wadah air minum yang lainnya.” (HR Bukhari no. 5627).Menurut sebagian ulama minum langsung dari mulut teko hukumnya adalah haram, namun mayoritas ulama mengatakan hukumnya makruh. Ketahuilah wahai para ibu muslimah, yang sesuai dengan adab islami adalah menuangkan air tersebut ke dalam gelas kemudian baru meminumnya.Dari Kabsyah al-Anshariyyah, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam rumahku lalu beliau minum dari mulut qirbah yang digantungkan sambil berdiri. Aku lantas menuju qirbah tersebut dan memutus mulut qirbah itu.” (HR. Turmudzi no. 1892, Ibnu Majah no. 3423 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

    Hadits ini menunjukkan bolehnya minum dari mulut wadah air. Untuk mengkompromikan dengan hadits-hadits yang melarang, al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqalani mengatakan, “Hadits yang menunjukkan bolehnya minum dari mulut wadah air itu berlaku dalam kondisi terpaksa.” Mengompromikan dua jenis hadits yang nampak bertentangan itu lebih baik daripada menyatakan bahwa salah satunya itu mansukh (tidak berlaku).”(Fathul Baari, X/94)

  7. Minum dengan posisi duduk.Terdapat hadits yang melarang minum sambil berdiri. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian minum sambil berdiri. Barang siapa lupa sehingga minum sambil berdiri, maka hendaklah ia berusaha untuk memuntahkannya.” (HR. Ahmad no 8135)

    Namun disamping itu, terdapat pula hadits yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri. Dari Ibnu Abbas beliau mengatakan, “Aku memberikan air zam-zam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau lantas minum dalam keadaan berdiri.” (HR. Bukhari no. 1637, dan Muslim no. 2027)Dalam hadits yang pertama Rasulullah melarang minum sambil berdiri sedangkan hadits kedua adalah dalil bolehnya minum sambil berdiri. Kedua hadits tersebut adalah shahih. Lalu bagaimana mengkompromikannya?

    Mengenai hadits di atas, ada ulama yang berkesimpulan minum sambil berdiri diperbolehkan, meski yang lebih utama adalah minum sambil duduk. Diantara ulama tersebut adalah Imam Nawawi dan Syaikh Utsaimin. Meskipun minum sambil berdiri diperbolehkan, namun yang lebih utama adalah sambil duduk karena makan dan minum sambil duduk adalah kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Minum sambil berdiri tidaklah haram akan tetapi melakukan hal yang kurang utama.

  8. Menutup bejana air pada malam hari.Biasakan diri kita untuk menutup bejana air pada malam hari dan jangan lupa mengajarkan anak kita tentang hal ini. Sebagaimana hadits dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda,“Tutuplah bejana-bejana dan wadah air. Karena dalam satu tahun ada satu malam, ketika ituturun wabah, tidaklah ia melewati bejana-bejana yang tidak tertutup, ataupun wadah air yang tidak diikat melainkan akan turun padanya bibit penyakit.” (HR. Muslim)
  9. Puas dengan minuman yang ada dan tidak mencelanya.
    Ajarkan pula kepada anak, bahwa kita tidak boleh mencela makanan walaupun kita tidak menyukainya.

Para ibu muslimah, itulah beberapa adab ketika minum sesuai kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Alangkah senangnya hati ini ketika kita melihat anak-anak kita meniru kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan membiasakan adab islami kepada anak semenjak kecil, Insya Allah saat dewasa kelak anak-anak akan lebih mudah untuk melaksanakan adab-adab dalam islam dalam kesehariannya, karena ia sudah terbiasa. Maka janganlah bosan untuk mengingatkan si kecil. Semoga Allah membalas usaha kita dengan pahala yang berlipat ganda. Amiin.

Disusun ulang dari:
Artikel Ustadz Aris Munandar tentang “Adab-Adab Makan Seorang Muslim” di http://www.muslim.or.id
Minhaajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi

sumber: https://muslimah.or.id/243-wahai-anakku-beginilah-cara-minum-rasulullah.html

Peranan Wanita dalam Islam

Persamaan gender yang banyak didengung-dengungkan oleh kaum barat, ternyata telah merasuk ke tubuh kaum muslimah umat ini. Mereka telah tertipu dengan pemikiran kaum barat, bahkan tidak sedikit yang mengekor pemikiran tersebut. Lantas bagaimana sebenarnya peranan wanita islam dalam membangun keluarga atau masyarakat? Mari kita simak tulisan berikut, bagaimana seharusnya wanita membangun sebuah keluarga bahkan Negara?

Peranan wanita dalam keluarga

Keluarga merupakan pondasi dasar penyebaran islam. Dari keluarga lah, muncul pemimpin-pemimpin yang berjihad di jalan Allah, dan akan datang bibit-bibit yang akan berjuang meninggikan kalimat-kalimat Allah. Dan peran terbesar dalam hal tersebut adalah kaum wanita.

Pertama: Wanita sebagai seorang istri

Ketika seorang laki-laki merasa kesulitan, maka sang istri lah yang bisa membantunya. Ketika seorang laki-laki mengalami kegundahan, sang istri lah yang dapat menenangkannya. Dan ketika sang laki-laki mengalami keterpurukan, sang istri lah yang dapat menyemangatinya.

Sungguh, tidak ada yang mempunyai pengaruh terbesar bagi seorang suami melainkan sang istri yang dicintainya.

Mengenai hal ini, contohlah apa yang dilakukan oleh teladan kaum Muslimah, Khadijah Radiyallahu anha dalam mendampingi Rasulullah di masa awal kenabiannya. Ketika Rasulullah merasa ketakutan terhadap wahyu yang diberikan kepadanya, dan merasa kesulitan, lantas apa yang dikatakan Khadijah kepadanya?

“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Tidak ada pangkat tertinggi melainkan pangkat seorang Nabi, dan tidak ada ujian yang paling berat selain ujian menjadi seorang Nabi. Untuk itu, tidak ada obat penenang bagi Rasulullah dalam mengemban amanah nubuwahnya melainkan istri yang sangat dicintainya. Sampai-sampai ketika Aisyah cemburu kepada Khadijah, dan berkata “Kenapa engkau sering menyebut perempuan berpipi merah itu, padahal Allah telah menggantikannya untukmu dengan yang lebih baik?” Lantas Rasulullah marah dan bersabda: “Bagaimana engkau berkata demikian?  Sungguh dia beriman kepadaku pada saat orang-orang menolakku, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia mendermakan seluruh hartanya untukku pada saat semua orang menolak mambantuku, dan Allah memberiku rizki darinya berupa keturunan.” (HR Ahmad dengan Sanad yang Hasan)

Demikianlah kecintaan Rasulullah kepada Khadijah, dan demikianlah seharusnya bagi seorang wanita muslimah di dalam keluarganya. Tidak ada yang diinginkan bagi seorang suami melainkan seorang istri yang dapat menerimanya apa adanya, percaya dan yakin kepadanya dan selalu membantunya ketika sulitnya.

Inilah peran yang seharusnya dilakukan bagi seorang wanita. Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang perlu dilakukan wanita, akan tetapi menjadi pendamping seorang pemimpin (pemimpin rumah tangga atau lainnya) yang dapat membantu, mengarahkan dan menenangkan adalah hal yang sangat mulia jika di dalamnya berisi ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Kedua: Wanita sebagai seorang Ibu

Tidak ada kemulian terbesar yang diberikan Allah bagi seorang wanita, melainkan perannya menjadi seorang Ibu. Bahkan Rasulullah pun bersabda ketika ditanya oleh seseorang:

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447)

Di dalam rumah, siapakah yang mempunyai banyak waktu untuk anak-anak? Siapakah yang lebih mempunyai pengaruh terhadap anak-anak? Siapakah yang lebih dekat kepada anak-anak? Tidak lain adalah ibu-ibu mereka. Seorang ibu merupakan seseorang yang senantiasa diharapkan kehadirannya bagi anak-anaknya. Seorang ibu dapat menjadikan anak-anaknya menjadi orang yang baik sebagaimana seorang ibu bisa menjadikan anaknya menjadi orang yang jahat. Baik buruknya seorang anak, dapat dipengaruhi oleh baik atau tidaknya seorang ibu yang menjadi panutan anak-anaknya.

Pernahkah kita membaca kisah-kisah kepahlawanan atau kemulian seseorang? Siapakah dalang di dalam keberhasilan mereka menjadi seorang yang pemberani, ahli ilmu atau bahkan seorang imam? Tidak lain adalah seorang ibu yang membimbingnya.

Mari kita simak perkataan seorang shahabiyah, Khansa ketika melepaskan keempat anaknya ke medan jihad.

“Wahai anak-anakku, kalian telah masuk islam dengan sukarela dan telah hijrah berdasarkan keinginan kalian. Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian adalah putra dari ayah yang sama dan dari ibu yang sama, nasab kalian tidak berbeda. Ketahuilah bahwa seseungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia yang fana. Bersabarlah, tabahlah dan teguhkanlah hati kalian serta bertaqwalah kepada Allah agar kalian beruntung. Jika kalian menemui peperangan, maka masuklah ke dalam kancah peperangan itu dan raihlah kemenangan dan kemuliaan di alam yang kekal dan penuh kenikmatan”

Keesokan harinya, masuklah keempat anak tersebut dalam medan pertempuran dengan hati yang masih ragu-ragu, lalu salah seorang dari mereka mengingatkan saudara-saudaranya akan wasiat yang disampaikan oleh ibu mereka. Mereka pun bertempur bagaikan singa dan menyerbu bagaikan anak panah dengan gagah berani dan tidak pernah surut setapak pun hingga mereka memperoleh syahadah fii sabilillah satu per satu. (Sirah Shahabiyah hal 742, Pustaka As-Sunnah)

Inilah kekuatan seorang ibu yang diberikan kepada anak-anaknya. Tatkala sang anak merasa ragu akan hal yang ingin diperbuatnya, namun mereka teringat akan nasehat ibu mereka, maka semua keraguan itu menjadi hilang, yang ada hanya semangat dan keyakinan akan harapan seorang ibu.

Demikianlah peran mulia seorang ibu, dan tidak ada peran yang lebih mendatangkan pahala yang banyak melainkan peran mendidik anak-anaknya menjadi anak yang diridhoi Allah dan rasulnya. Karena anak-anaknya lah sumber pahala dirinya dan sumber kebaikan untuknya.

Ketahuilah, banyak dikalangan orang-orang besar, bahkan sebagian para imam dan ahli ilmu merupakan orang-orang yatim, yang hanya dibesarkan oleh seorang ibu. Dan lihatlah hasil yang di dapatkannya. Mereka berkembang menjadi seorang ahli ilmu dan para imam kaum muslimin. Sebut saja, Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Al-Bukhori dll adalah para ulama yang dibesarkan hanya dari seorang ibu. Karena kasih sayang, pendidikan yang baik dan doa dari seorang ibu merupakan kekuatan yang dapat menyemangati anak-anak mereka dalam kebaikan.

Tahukah para pembaca dengan Imam Shalat Masjidil Haram, Asy-Syaikh Sudais? Apa yang melatarbelakangi beliau menjadi Imam shalat Masjidil Haram? Tidak lain adalah karena harapan dan doa dari ibu beliau. Seorang ibu yang terus menerus memotivasi anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, telah membuat tekad Syaikh Sudais kecil menjadi besar dan membuatnya bersemangat untuk menghafalkan quran dan selalu berusaha agar keinginannya dan keinginan ibunya tercapai untuk menjadi Imam Masjidil Haram.

Pernahkan para pembaca membaca kisahnya seorang tabi’in Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi? Seorang ulama yang ditinggalkan oleh ayahnya untuk berjihad selama 30 tahun dan hidup bersama ibunya. Dengan bekal yang diberikan oleh sang ayah, namun dihabiskan hanya untuk pendidikan anaknya oleh ibunya, menjadikan sang anak berkembang menjadi seorang ulama dan pemuka Madinah, yang bahkan Majelisnya dihadiri oleh Malik bin Anas, Abu Hanifah, An-Nu’man, Yahya bin Sa’id Al-Anshari, Sufyan Tsauri, Abdurrahman bin Amru Al-Auza’I, Laits bin Sa’id dan lainnya. Hal ini karena pengaruh dari seorang ibu yang sholehah yang mendidik anaknya dengan sangat baik.

Ini adalah segelintir kisah-kisah yang mengagumkan akan pengaruh yang amat besar dari seorang ibu, dan masih banyak kisah-kisah lainnya jika kita mau mencari dan membacanya.

Karenanya, jika para wanita sadar akan pentingnya dan sibuknya kehidupan di keluarga, niscaya mereka tidak akan mempunyai waktu untuk mengurusi hal-hal di luar keluarganya. Apalagi berangan-angan untuk menggantikan posisi laki-laki dalam mencari nafkah.

Peranan wanita dalam masyarakat dan Negara

Wanita disamping perannya dalam keluarga, ia juga bisa mempunyai peran lainnya di dalam masyarakat dan Negara. Jika ia adalah seorang yang ahli dalam ilmu agama, maka wajib baginya untuk mendakwahkan apa yang ia ketahui kepada kaum wanita lainnya. Begitu pula jika ia merupakan seorang yang ahli dalam bidang tertentu, maka ia bisa mempunyai andil dalam urusan tersebut namun dengan batasan-batasan yang telah disyariatkan dan tentunya setelah kewajibannya sebagai ibu rumah tangga telah terpenuhi.

Banyak hal yang bisa dilakukan kaum wanita dalam masyarakat dan Negara, dan ia punya perannya masing-masing yang tentunya berbeda dengan kaum laki-laki. Hal ini sebagaimana yang dilakukan para shahabiyah nabi.

Pada jaman nabi, para shahabiyah biasa menjadi perawat ketika terjadi peperangan, atau sekedar menjadi penyemangat kaum muslimin, walaupun tidak sedikit pula dari mereka yang juga ikut berjuang berperang menggunakan senjata untuk mendapatkan syahadah fii sabilillah, seperti Shahabiyah Ummu Imarah yang berjuang melindungi Rasulullah dalam peperangan.

Sehingga dalam hal ini, peran wanita adalah sebagai penopang dan sandaran kaum laki-laki dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Penutup

Jika kita melihat akan keutamaan-keutamaan yang diberikan Allah untuk kaum wanita, maka jelaslah bahwa wanita merupakan tumpuan dasar kemuliaan suatu masyarakat bahkan Negara. Masyarakat atau Negara yang baik dapat terlihat dari baiknya perempuan di dalam Negara tersebut dan begitupun sebaliknya.

Karenanya, peran wanita baik dalam keluarga atau masyarakat merupakan peran yang sangat agung yang tidak sepantasnya kaum wanita untuk menyepelekannya.

Persamaan gender yang didengungkan oleh kaum barat, tidak lain adalah untuk menghancurkan pondasi keislaman seorang muslimah, sehingga ia meninggalkan kewajibannya sebagai seorang wanita.

Ingatlah, Pemimpin-pemimpin yang adil dan generasi-generasi yang baik akan muncul seiring dengan baiknya kaum wanita pada waktu tersebut.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

—

Penulis: Rian Permana

Sumber: https://muslim.or.id/9142-peranan-wanita-dalam-islam.html

Prinsip-prinsip dalam Mendidik Anak

Mendidik anak merupakan pekerjaan yang sulit, karena (dalam menghadapi) mereka membutuhkan kesabaran dan kecerdikan (untuk mengambil hatinya).

Termasuk di antaranya, ada anak yang butuh perlakuan lembut, ramah, tidak suka dibentak-bentak dengan keras. Dan jika diperlakukan dengan cara sebaliknya, niscaya ia akan membangkang. Ada pula anak yang perlu dikerasi, tapi tetap tidak melebihi batas kewajaran. Apabila sampai berlebihan maka akan menyebabkan anak sulit diatur dan tidak patuh terhadap nasehat kedua orang tuanya.

Kita memohon kepada Allah agar mengkaruniakan kebaikan kepada kita dan menjaga kita dalam (memikul) tanggung jawab yang besar sebagai orang tua. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. “ (At-Tahrim: 6)

Dan dalam Shahihain dari hadits Abdullah bin Umar rodhiyallohu anhuma, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Kalian semua adalah pemimpin, dan kalian semua akan ditanya tentang apa yang kalian pimpin, seorang imam adalah pemimpin dan ia nanti akan ditanya tentang yang dipimpinnya, seorang lelaki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia nanti akan ditanya tentang yang dipimpinnya, seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan ia nanti akan ditanya tentang yang dipimpinnya, seorang budak (pelayan) adalah pemimpin tentang harta majikannya dan ia nanti akan ditanya tentang yang dipimpinnya, ketahuilah karena kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan ditanya nanti tentang yang dipimpinnya.”

Sehingga harus ada upaya tolong menolong di antara suami istri dalam mendidik anak-anaknya. Jika salah satu meremehkan kewajiban ini niscaya akan terjadi kekurangan pada sisi yang merupakan tanggung jawabnya kecuali Allah menghendaki yang lain.

Kemudian dalam mendidik anak harus sesuai dengan tingkat dan pemahamannya, berikut ini ada satu contoh di antaranya:

1. Membimbing anak mengucapkan lafadz Allah sambil memberi isyarat dengan telunjuknya ke langit.

2. Jika engkau memberinya sepotong roti atau lainnya berikanlah melalui tangan kanannya.

3. Jika makanan masih panas janganlah engkau meniupnya supaya dingin, karena Nabi shollallohu alaihi wa sallam melarang bernafas dalam tempat makanan/ minuman. Seandainya si anak melihatnya, niscaya dengan cepat ia akan menirunya.

Demikian juga dalam perkara lainnya, dan semua ini merupakan bukti kebenaran sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Iyadh bin Himar, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (dalam hadits qudsi):

“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus bertauhid, kemudian para setan menyeret mereka (untuk sesat).“

4.   Jika anak itu umurnya kurang lebih satu setengah tahun, bila ingin minum atau makan, bimbinglah dia untuk mengucapkan “bismillah”. Setelah itu dia akan terbiasa dengan perbuatan tersebut dan dengan sendirinya akan mengucapkan “bismillah”.

5.   Apabila engkau dapati dia sudah bisa mengerti rukun-rukun Islam dan Iman, maka ajarilah dia. Dan aku tidak membatasi pengajaran dengan ukuran umur karena kefasihan anak dan kecerdasannya berbeda-beda.

Mengenai rukun Islam terdapat dalam hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma (yang masyhur adalah Ibnu Umar -ed), ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Islam dibangun di atas lima perkara bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhamad adalah utusan Allah, menegakkan shalat. mengeluarkan zakat, berhaji ke Baitullah (Mekkah) dan berpuasa di bulan Ramadhan.” Muttafaqun ‘alaih.

Adapun Rukun Iman, (sebagaimana) diriwayatkan oleh Abu Hurairah rodhiyallohu anhu, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Iman itu ialah kamu beriman kepada Allah. Malaikat, Kitab, Rasul-Nya dan beriman kepada Hari Kebangkitan.” Muttafaqun ‘alaih.

Dan Muslim telah menwayatkannya sendirian dari hadits Umar bin Al-Khaththab.

Sedangkan Rukun Ihsan ialah:

“Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya ketahuilah bahwa Allah melihatmu.”

Telah berlalu takhrijnya dalam hadits sebelumnya.

6.   Ajarilah anak tersebut tata cara benvudhu.

7.   Apabila ia makan dari sebuah bejana maka katakan kepadanya hendaklah dia memakan apa yang lebih dekat kepadanya.

Di dalam Shahihain dari hadits Umar bin Abi Salamah ia berkata:

“Aku pernah makan sedangkan tanganku lari kesana kemari di dalam talam/tempat makan lalu Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Wahai anak muda bacalah basmalah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada di dekatmu.”

8.   Biasakanlah dia kepada kebaikan, apabila umurnya telah mencapai tujuh tahun latihlah dia untuk melaksanakan shalat.

Telah berkata Abu Dawud rohimahulloh (1/495): “Telah bercerita kepada kami Muammal bin Hisyam yaitu Al-Yasykuri: “Telah bercerita kepada kami Ismail, ia berkata dari Sawwar Abu Hamzah telah berkata Abu Dawud yaitu Sawwar bin Dawud Abu Hamzah Al-Muzani Ash-Shairafi dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Perintahkan anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukul mereka jika menolak ketika umur sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidur di antara mereka.”

Dan hadits ini sanadnya hasan.

Muammal bin Hisyam adalah perawi yang tsiqah, sedangkan Ismail dia adalah Ibnu ‘Ulaiyah, seorang yang masyhur (telah dikenal) dan Sawwaar adalah perawi yang shaduq, dia punya beberapa kesamaran sebagaimana dalam At-Taqrib. Dan haditsnya bisa dijadikan hujjah selama tidak termasuk kesalahannya sedang perawi-perawi lainnya dikenal. Dan hadits ini punya jalan lain dari hadits Saburah dalam Sunan Abu Dawud no. 494.

9.   Memisahkan tempat tidur di antara anak-anak jika telah berumur sepuluh tahun sebagaimana hadits di atas.

10. Latihlah anak untuk berpuasa jika sudah mampu, dengan tujuan apabila telah menginjak dewasa dia sudah terlatih untuk melakukannya.

Dan Imam Bukhari telah membuat judul bab dalam Shahih-nya(4/200) bab, Puasanya Anak-anak: “Telah bercerita kepada kami Musaddad, ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Bisyr bin Al-Mufadhdhal dari Khalid bin Dzakwan dari Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata: “Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengutus (seseorang) pada pagi hari (di hari) Asyura ke kampung Anshar (untuk mengumumkan), barangsiapa pagi ini sudah makan maka hendaknya menyempurnakan sisa harinya (untuk berpuasa), dan barangsiapa yang pagi ini belum makan maka hendaknya ia berpuasa.” Ia (Ar-Rubayyi’) berkata: “Maka kami pun berpuasa dan anak-anak kami latih untuk berpuasa. Kami buatkan mainan dari bulu untuk mereka, jika salah satu dari mereka menangis minta makan, kami beri dia mainan itu sampai datang waktu berbuka.”

11. Ajarilah anakmu aqidah yang benar.

Dan katakanlah kepadanya seperti yang dikatakan Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada Abdullah bin Abbas rodhiyallohu anhuma: “Sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat, jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya di depanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah seandainya umat ini bersatu untuk memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Seandainya mereka bersatu untuk mendatangkan kemudharatan kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan dapat memudharatkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan menimpamu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran-lembaran catatan.”

12. Berilah wasiat kepada anakmu seperti Luqman memberi wasiat kepada anaknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah), sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabar terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan jangan kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 13-19)

13. Ajarilah dia jika hendak masuk untuk meminta izin lebih dahulu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat Shubuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nuur: 58)

14. Berilahukan kepadanya tentang perkara-perkara yang dilarang agar menjauhinya.

Dalam Shahihain dari hadits Abu Hurairah rodhiyallohu anhu, ia berkata: “Al-Hasan bin Ali rodhiyallohu anhuma mengambil sebiji kurma dari kurma shadaqah (zakat) kemudian memasukkannya ke mulutnya. Lalu Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Kikh, kikh, buanglah kurma itu, tidakkah engkau tahu bahwa kita tidak makan makanan shadagah (zakat).”

15. Jelaskanlah padanya makna ayat atau hadits yang engkau bacakan kepadanya.

16. Ikatlah hatinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebagian anak hatinya terikat dengan dunia dan tontonan-tontonan sehingga hatinya penuh dengan khayalan. Hal ini mengakibatkan dia takut pada bayangannya sendiri.

17. Utamakan hafalan AI-Qur’an, dan berilah anakmu hafalan yang ringan setiap harinya walaupun dengan satu ayat.

Karena orang-orang yang sibuk dengan Al-Qur’an adalah sebaik-baik manusia, sebagaimana terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dari Utsman bin Affan, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an kemudian mengajarkannya.”

Dan dalam sebuah riwayat (yang lain dari) Al-Bukhari (dengan lafadz): “Seutama-utama kalian” sebagai ganti dari “Sebaik-baik kalian.”

Dan Nabi telah mewasiatkan kepada umatnya untuk memperhatikan dan mementingkan Al-Qur’an.

Berkata Al-Imam Al-Bukhari (9/5022): “Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Yusuf, ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Malik bin Mighwal, ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Thalhah, ia berkata: “Aku bertanya kepada Abdullah bin Abu Aufa: “Apakah Nabi shollallohu alaihi wa sallam memberi wasiat?” Lalu ia menjawab: “Tidak”. Aku berkata: “Bagaimana mungkin Nabi tidak memberi wasiat, sedangkan beliau memerintahkan manusia untuk berwasiat.” Dia menjawab: “Beliau berwasiat dengan Kitabullah.”

Al-Hafidz berkata: “Yang dimaksud berwasiat dengan kitabullah adalah untuk menjaganya/ menghafalnya, mengikutinya melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya serta terus-menerus membaca dan mempelajarinya dan sebagainya.”

Dan Al-Qur’an itu akan memberi syafa’at bagi pembacanya. Al-Imam Muslim berkata (1/553): “Telah bercerita kepada kami Al-Hasan bin Ali Al-Hulwani. ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Abu Taubah yaitu Ar-Rabi bin Nafi’, ia berkata: “Mu’awwiyah yakni Ibnu Sallam ia berkata dari Zaid bahwa ia mendengar Abu Salam berkata: “Telah bercerita kepada kami Abu Umamah ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Bacalah Al-Qur an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi pembacanya.”

Dan telah berkata Imam Muslim rohimahulloh (1/554): “Telah bercerita kepada kami Ishaq bin Mansur, ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Yazid bin Abdur Rabbih, ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Al-Walid bin Muslim, ia berkata: “Dari Muhammad bin Al-Muhajir dari Al-Walid bin Abdurrahman Al-Jurasyi dari Jubair bin Nufair, ia berkata: “Aku mendengar An-Nawwas bin Sam’an Al-Kilabi mengatakan: “Aku mendengar Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Didatangkan Al-Qur’an itu dan ahlinya yang mereka dulu mengamalkannya Akan datang padanya surat Al-Baqarah dan Ali Imran membela pembaca kedua surat tersebut.”

Hadits-hadits tentang keutamaan Al-Qur’an dan ahlinya:

Dari Aisyah rodhiyallohu anha, ia berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Orang yang membaca Al-Qur an dengan mahir maka ia bersama kumpulan malaikat yang mulia dan suci, dan orang yang membacanya terbata-bata dan dia kesulitan maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dari Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyallohu anhu ia berkata: Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Permisalan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah al-utrujah, baunya enak dan rasanya enak, dan permisalan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur an seperti buah kurma tidak berbau tapi rasanya manis, dan permisalan seorang munafik yang membaca Al-Qur an seperti ar-raihanah, baunya enak tapi rasanya pahit, dan permisalan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti al-handzalah, tidak berbau dan rasanya pahit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Umar[*] bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat dengan kitab ini beberapa kaum dan merendahkan yang lain.” (HR. Muslim)

Dan dari Abdullah bin Amr bin Ash rodhiyallohu anhuma bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an: “Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana dulu engkau membacanya dengan tartil selama di dunia karena sesungguhnya kedudukanmu pada ayat terakhir yang engkau baca.” [HR. Ahmad (2/192), Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dan At-Timiidzi berkata: “Ini adalah hadits hasan.”]

Dan hadits dari Abdullah bin Umar rodhiyallohu anhuma, ia berkata: Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak boleh ada hasad kecuali dalam dua perkara: seorang lelaki yang dianugerahi Al-Qur ‘an oleh Allah, kemudian ia membacanya siang dan malam, dan seorang lelaki yang dianugerahi harta kemudian dia menginfakkannya siang dan malam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan yang sudah dihafal hendaknya selalu dijaga, kalau tidak ia akan hilang dengan cepat. Imam Bukhari mengatakan: “Telah bercerita kepada kami Muhammad: bin Al-’Ala, ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Abu Usamah, ia berkata: “Dari Buraid dan Abu Burdah dari Abu Musa rodhiyallohu anhu dari Nabi beliau bersabda:

“Jagalah Al-Qur an ini karena demi yang jiwaku di tangan-Nya, Al-Qur an itu lebih cepat hilang daripada seekor onta dalam ikatannya.”

________

[*] Yang benar dalam Shahih Muslim adalah dari Umar bin Khaththab rodhiyallohu anhu.

18. Jangan biarkan anak-anakmu bergaul dengan anak-anak yang tidak terdidik/ bodoh, karena anakmu akan meniru omongan dan perbuatan mereka yang jelek sehingga akan meruntuhkan apa yang sudah diajarkan.

Seorang penyair mengatakan:

Seorang anak tentu akan menghafal apa yang diberikan kepadanya

_____ Dan tidak akan lupa

Karena Hatinya seperti permata yang bening

_____ Maka ukirlah di atas hatinya berita yang engkau kehendaki

Maka kelak ia akan mengungkapkan

_____ Dari hafalannya yang sempurna

Seorang anak pikirannya kosong dan siap menerima segala sesuatu, sebagaimana dikatakan (dalam peribahasa):

“Mengukir (belajar) di masa kecil seperti mengukir di atas batu.”

19. Jangan biarkan anakmu keluar rumah ketika sore hari (maghrib), karena sesungguhnya para setan berkeliaran pada saat itu, dan mungkin bisa membahayakan anakmu.

Imam Bukhari rohimahulloh berkata: “Telah bercerita kepada kami Ishaq, ia berkata: “telah mengabarkan kepada kami Rauh bin Ubadah, ia berkata: “Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij, ia berkata: “Telah mengabarkan kepadaku Atha’ ia berkata bahwa ia mendengar Jabir bin Abdullah rodhiyallohu anhuma berkata: “Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Jika hari mulai malam atau kalian masuk pada waktu sore maka tahanlah anak-anak kecil kalian karena para setan sedang berkeliaran saat itu. Lalu jika telah lewat satu saat dari malam, bebaskan mereka dan kuncilah pintu-pintu serta sebutlah nama Allah karena sesungguhnya setan tidak akan membuka pintu yang terkunci.”

Dan dikeluarkan juga oleh Muslim.

20. Biarkan si anak sekali waktu untuk menyenangkan dirinya. Karena jika anak itu selalu dilarang bermain, dikhawatirkan akan membuat kepintarannya hilang dan membuatnya jemu atau bosan (karena selalu dilarang).

Maka jika kedua orang tua menginginkan kemuliaan anaknya, hendaknya keduanya bersungguh-sungguh dalam mendidik anak-anaknya dengan tarbiyah Islamiyah dengan mengajarkan Al-Kitab dan As-Sunnah.

Termasuk sebab tingginya derajat kedua orang tua di akhirat jika keduanya muslim, adalah do’a anaknya yang sholeh untuk mereka. Sebagaimana riwayat yang shahih dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Jika seorang manusia lelah mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendo’akannya.”

Dan hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba yang sholeh di surga, kemudian ia berkata: “Wahai Rabbku dari mana ini?” Maka Allah berfirman: “Dengan sebab istighfar dari anakmu.” Dan hadits ini terdapat dalam Ash-Shahihul Musnad.

Dan jika kedua orang tua itu adalah orang yang sholeh dan anak-anaknya sholeh, tapi si anak belum mencapai derajat seperti derajat kedua orang tuanya, maka Allah akan mengangkat derajat anak menyamai kedudukan ayah mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath-Thuur: 21)

Dan seorang anak kadang menjadi nikmat bagi kedua orang tuanya seperti mentaati keduanya dan berbuat baik kepada keduanya. Inilah yang diminta oleh orang-orang yang sholeh kepada Allah agar mengkaruniakan anak yang sholeh kepada mereka. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang berkata: ” Ya Rahb kami. Anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan: 74)

21. Bersemangatlah untuk mendudukkan anakmu pada orang-orang sholeh. 

Maka inilah ibu yang sholehah, Ummu Sulaim, dia membawa anaknya Anas kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam dan mengatakan: “Anas adalah pelayanmu wahai Rasulullah, maka do’akanlah ia.” Kemudian Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam berdo’a: “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah ia di dalamnya.”

Dan Ummu Hudzaifah bertanya kepada anaknya yaitu Hudzaifah bin Al-Yaman, katanya: “Kapan engkau (terakhir kali) bertemu dengan Nabi shollallohu alaihi wa sallam?” Maka aku menjawab: “Aku tidak jumpa dengan beliau sejak (saat) itu.” Sehingga ibuku mencelaku, maka aku berkata kepadanya: “Biarkan aku menemui Nabi shollallohu alaihi wa sallam di saat aku shalat Maghrib bersama beliau dan memintanya untuk memintakan ampun bagiku dan bagimu.” Kemudian aku shalat Maghrib bersamanya sampai shalat Isya. dan setelah selesai beliau pergi dan aku mengikutinya. Ternyata beliau mendengar suaraku, lalu berkata: “Siapa itu? Apakah Hudzaifah?” Aku jawab: “Benar.” Beliau berkata: “Apa keperluanmu? semoga Allah mengampunimu dan ibumu.” Beliau (kemudian) bersabda: “Sesungguhnya malaikat ini tidak pernah turun ke bumi sebelum malam ini sama sekali. Dia meminta izin kepada Rabbnya untuk memberi salam kepadaku dan memberi khabar gembira kepadaku, bahwa Fatimah adalah pemimpin para wanita penghuni surga.” Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan disebutkan oleh Ayahanda di dalam Ash-Shahihul Musnad (1/214).

Selanjutnya kewajiban kedua orang tua untuk mencurahkan segala daya upaya dalam mendidik anak-anaknya. Dan hidayah itu di tangan Allah sedangkan manusia tidak mampu memberi hidayah pada dirinya sendiri apalagi memberi hidayah pada orang lain. Sebagai contoh nyata yaitu Nabi Nuh alaihissalam seorang Nabi di antara Nabi-Nabi Allah, tidak mampu memberi hidayah kepada anaknya. Padahal ia berharap anaknya ikut bersama mereka dan jangan ikut bersama orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. “Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Huud: 42-43)

Dan inilah Ibrahim alaihissalam memberi nasehat kepada ayahnya untuk meninggalkan kesyirikan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa surat, tapi ayahnya tidak mau mendengarkan nasehat anaknya bahkan mengatakan:

“Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (Maryam: 46)

Dan begitu juga Nabi kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam mengharapkan pamannya untuk masuk Islam tapi ia enggan dan mati di atas kesyirikan. Contoh-contoh lain masih banyak, dan ini terjadi sebagian besar generasi salaf.

Syu’bah bin Al-Hajjaj mengatakan: “Lahir seorang anakku dan aku beri nama Sa’ad tapi dia tidak (membuatku) bahagia ataupun selamat. Dan (suatu hari) ia pernah mengatakan kepada anaknya: “Pergilah kepada Hisyam Ad-Dustuwai (untuk belajar).” Tetapi anaknya menjawab: “Aku hendak melepas burung merpati.” Lihat Mizanul I’tidal (2/122).

Ismail bin Ibrahim bin Miqsam, seorang lelaki sholeh, di antara anak-anaknya ialah Ibrahim, seorang Jahmi tulen (yang berpamahaman Jahmiyah, pent), dan berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.

Maka hidayah itu memang milik Allah akan tetapi harus kita menjalankan sebab-sebabnya. Jika Allah menghendaki anak kita baik, maka ia akan mau mendengar nasehat-nasehat dan jika menghendaki selain itu, maka dia akan terus dengan apa yang diyakininya.

Seorang penyair mengatakan:

Jika memang tabi’atnya adalah tabi’at yang jelek

_____ Maka adab tidak akan bermanfaat

Dan tidak pula seorang yang beradab

Terkadang anak menjadi siksaan bagi kedua orang tuanya, karena itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (At-Taghabun: 14)

Dan makna kata: من (di antara) di sini adalah untuk menunjukkan sebagian. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)

Dan anak juga akan sengsara apabila kedua orang tuanya tergelincir dalam masalah agama dan sibuk dengan urusan masing-masing sehingga tidak memperhatikan urusan agama. Dan di antara contohnya adalah:

1. Seorang bapak yang muslim ketika anaknya sakit, maka dia berusaha mencari obat untuk anaknya sampai ke ahli nujum dan dukun. Dan perbuatan ini adalah salah satu bentuk amalan kekufuran. Yang demikian itu karena ahli nujum/ dukun mengaku mengetahui yang ghaib, sedang ilmu ghaib tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib.” (Ali Imran: 179)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (Al-An’am: 59)

Maka dengan tindakan ini si bapak menjadi kufur karena sebab anaknya.

2. Di antara manusia ada yang kurang dalam menjalankan kewajiban karena mencari rizki untuk anaknya dan untuk menyenangkan mereka.

3. Di antara mereka juga ada yang memasukkan TV ke dalam rumahnya dengan tujuan untuk menyenangkan anaknya.

Sedangkan televisi diharamkan karena ia menyimpan banyak kerusakan, di antaranya gambar, alat permainan, musik, perempuan melihat lelaki dan sebaliknya dan mengikuti pemikiran musuh-musuh Islam serta hal-hal lainnya. Dan anak ini akan menjadi musuh bagi ayahnya dan tidak bermanfaat pada hari kiamat bahkan akan lari darinya, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (‘Abasa: 34-37)

Maka barangsiapa yang diberi musibah dengan anak yang durhaka hendaknya ia berdo’a kepada Rabbnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir: 60)

Hendaknya kasih sayang orang tua harus dalam batasan syari’at dan tidak boleh melakukan perbuatan yang haram demi anak.

***

Disalin dari terjemahan kitab Nashihati lin Nisaa’, oleh Syaikhoh Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah hafidzohalloh (putri Syaikh Muqbil al-Wadi’i rohimahulloh), Pustaka Sumayyah. Artikel ummushofi.wordpress.com.

sumber: https://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/niswah/587-prinsip-prinsip-dalam-mendidik-anak?pid=lesson

Istri Tidak Mau Berjilbab dan Tidak Shalat

Pertanyaan:

Kami menikah sudah hampir 5 tahun dan sudah dikaruniai 2 anak, usia 4 dan 3 tahun, tetapi istri saya tetap belum mau shalat dan belum berjilbab sesuai tuntunan syariat. Kalau disuruh dia justru melontarkan ucapan yang kurang enak didengar. Bahkan sering kalau dinasihati, dia malah bilang, “Kawin lagi aja sama perempuan yang berjilbab dan yang shalatnya baik.” Saya tidak tahu, dia itu serius atau main-main. Saya sudah langganan majalah dan sering saya suruh baca, bahkan majalah itu saya taruh saja biar dia bisa membacanya, tetapi jawabannya, “Dari sekolah dulu sudah dapat semua itu.” Mohon petunjuk dan pencerahan dari Ustadz dan saya harus bagaimana?

Jawaban:

Wahai Saudaraku, bersyukurlah kepada Allah karena Anda masih ingat tanggung jawab seorang suami terhadap istrinya. Perlu dimaklumi bahwa wanita dititipkan kepada kaum pria agar mendidik dan memimpinnya. Wanita itu kurang akal dan agamanya, dijadikan dari tulang yang paling bengkok, bila diperlakukan dengan keras akan patah, bila dibiarkan tetap saja dia bengkok yaitu suka berbuat jahat dan menyelisihi sunnah (tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ed), sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang shahih.

Wanita perlu dinasihati pelan-pelan, diambil hatinya, beri tahukan kepadanya bahwa Allah memerintah wanita berjilbab untuk keindahan wanita itu sendiri agar terhindar dari fitnah dan menimbulkan fitnah, serta membuat jiwa suami tenang. Ajaklah istri berkunjung ke teman yang istrinya berjilbab, ajak dia untuk ikut menuntut ilmu. Jika dia berubah sedikit demi sedikit, maka alhamdulillah. Kemudian, upayakan dia tidak banyak keluar rumah bila dia belum mau berjilbab, mohonlah kepada Allah di setiap saat agar istri diberi petunjuk agar mudah mengamalkan dinul Islam.

Selanjutnya, tentang dia malas mengerjakan shalat, beri tahu dia bahwa shalat adalah perintah Allah, bukan perintah suami. Seseorang dikatakan muslim bila menjalankan shalat. Bila tidak, maka dia menjadi kafir, sedangkan orang kafir tidak boleh menikah dengan orang Islam. Bacakanlah hadits berikut ini dengan bahasa nasihat, semoga istri mau sadar dan segera rajin shalat lagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَهْدَ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ اَلصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Sesungguhnya perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka dia kafir.” (HR. An-Nasa’i; dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah, 1/126)

Jika usaha dengan lembut dan dengan berbagai macam cara belum juga dia mau shalat, sedangkan suami sudah menimbang maslahat dan madharat-nya, bila dia meminta cerai maka ceraikan dia, semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik.

عَسَى رَبُّهُ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُ أَزْوَاجاً خَيْراً مِّنكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُّؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَاراً

“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabb-nya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.” (QS. At-Tahrim: 5)

Sumber: Majalah Mawaddah, Edisi 11, Tahun 1, Jumadil Ula–Jumadil Tsaniyah 1429 H (Juni 2008).
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

sumber: https://konsultasisyariah.com/3513-istri-tidak-mau-berjilbab-dan-tidak-shalat.html

[Kitabut Tauhid 2] 3. Khawatir Terhadap Kesyirikan 03

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

  • Kesyirikan merupakan dosa besar yang paling besar, seluruh dosa tanpa terkecuali termasuk dosa-dosa besar yang lainnya derajatnya dibawah dosa kesyirikan.
  • Syirik kecil itu dinamakan dengan syirik kecil karena ada syirik yang lebih besar darinya. Bukan berarti syirik kecil itu dosa kecil. Syirik kecil seluruhnya adalah dosa besar, bahkan dosa yang paling besar setelah syirik besar. Maka kesyirikan sekecil apapun dosanya tetap lebih besar dibandingkan dosa apapun dari dosa-dosa besar setelah dosa syirik besar.

selanjutnya kita akan mempelajari Khawatir Terhadap Kesyirikan 03. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

Formulir Pertanyaan

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Bergantung Kepada Allah dan Tidak Bergantung pada Mahluk

-Salah satu bukti tingginya TAUHID seseorang adalah bergantung pada Allah dan tidak bergantung pada mahluk

-Maksudnya bagaimana ya?

-Jadi begini, kita berusaha semaksimal mungkin mengurangi ketergantungan dan butuh kepada mahluk/manusia, berusaha melakukannya dengan usaha sendiri

-Kemudian hati sangat bergantung kepada Allah, selalu berdoa di manapun dan kapanpun, ketika ia berusaha dengan tanganya sendiri

Karena Allah Maha Kaya dan kita sangat butuh Allah

Allah Ta’ala berfirman,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺃَﻧْﺘُﻢُ ﺍﻟْﻔُﻘَﺮَﺍﺀُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻐَﻨِﻲُّ ﺍﻟْﺤَﻤِﻴﺪُ

“ Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji .” (QS. Fathir: 15)

-Jadi sebisa mungkin kita berusaha dengan tangan sendiri, bekerja dan berupaya dan mengurangi ketergantungan kepada mahluk

Misalnya:
-Berusaha mencari nafkah sendiri
-Berusaha memenuhi kebutuhan sendiri yang ia mampu
-Berusaha agar mandiri

-Intinya adalah mengurangi ketergangtungan pada mahluk dengan MEMINTA BANTUAN/MINTA TOLONG kepada makhluk, karena ia selalu berusaha sendiri

-Dengan mengurangi ketergantungan ini dan mengurangi “sering minta tolong” maka kedudukannya akan menjadi mulia di masyarakat dan hati lebih tenang

-Ini yang dicontohkan dalam hadits, bahwa keluar mencari kayu bakar dan memikulnya, lebih baik daripada meminta-minta [1]

-Nabi Dawud seorang raja, tetap berusaha mencari nafkah dengan usaha sendiri [2]

Catatan: BUKAN maksudnya serba memenuhi kebutuhan sendiri total:
-Jika butuh tukang bangunan maka ia pekerjakan dan dibayar
-Anak yang butuh dibiayai orang tua, maka ini wajar saja
-Murid yang butuh ilmu gurunya, ini wajar

-Kemudian ia bergantung kepada Allah ketika berusaha dengan usaha sendiri, selalu berdoa dan mengingat Allah dan tawakkal:

1. Berusaha menempuh sebab
Misalnya: ingin pintar rajin belajar, membuka bisnis

2. Menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah berusaha
Apapun hasilnya baik atau buruk menurut penilaiannya, itu adalah takdir terbaik baginya dan hatinya bahagia menerima takdir tersebut
Karena manusia tahu apa yang ia inginkan tetapi Allah tahu yang terbaik bagi hamba-Nya

-Jangan sampai kita ingkar, berpaling dan tidak butuh kepada Allah

Allah berfirman,

ﻓَﻜَﻔَﺮُﻭﺍ ﻭَﺗَﻮَﻟَّﻮْﺍ ﻭَﺍﺳْﺘَﻐْﻨَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻏَﻨِﻲٌّ ﺣَﻤِﻴﺪٌ

“ Lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji .” (QS. At Taghobun: 6)

-Dalam surat Al-Fatihah, hanya kepada Allah kita memohon pertolongan

ﺇِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭﺇِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌِﻴﻦُ

“Hanya Engkaulah yang kami Menyembah dan memohon pertolongan”

-Semoga kita bisa menjadi hamba yang bertauhid tinggi dan masuk surga tanpa hisab dan adzab, amin.

@Desa Pungka, Sumbawa Besar – Sabalong Samalewa

Penyusun: Raehanul Bahraen

Footnote:

[1] Hadits
ﻭَﻋَﻦْ ﺍَﺑِﻲْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻗَﺎﻝَ: ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ : ﻷَﻥْ ﻳَﺤْﺘَﻄِﺐَ ﺍَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺣُﺰْﻣَﺔً ﻋَﻠَﻰ ﻇَﻬْﺮِﻩِ ﺧَﻴْﺮٌﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﺍَﻥْ ﻳَﺴْﺄَﻝَ ﺍَﺣَﺪًﺍ ﻓَﻴُﻌْﻄِﻴَﻪُ ﺍَﻭ ﻳَﻤْﻨَﻌَﻪُ .

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya, seorang dari kalian pergi mencari kayu bakar yang dipikul di atas pundaknya itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik diberi atau tidak”. [HR Bukhari, no. 1470; Muslim, no. 1042; Tirmidzi, no. 680 dan Nasa- i, V/96]

[2] Hadits,
َﻋَﻦْ ﺍَﺑِﻰ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓ َﻭ ﻋَﻦْ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢ ﻗَﺎﻝَ: ﻛَﺎﻥَ ﺩَﺍﻭُﺩُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻼﻡُ ﻻَﻳَﺄْﻛُﻞُ ﺍِﻻَّ ﻣِﻦْ ﻋَﻤَﻞِ ﻳَﺪَِْﻩِ .

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Adalah Nabi Daud tidak makan, melainkan dari hasil usahanya sendiri”. [HR Bukhari, no. 2073].

sumber: https://muslimafiyah.com/bergantung-kepada-allah-dan-tidak-bergantung-pada-mahluk.html

Sering Share Ilmu Bukan Untuk “Sok Alim” Tetapi Berharap Pahala Dakwah

Tetap semangat berdakwah, mungkin tidak disangka, satu share ilmu dan faidah ternyata bisa memberikan hidayah kepada seseorang, walau hanya sekedar menekan “share”. Tentunya dengan niat yang ikhlas

Tidak mesti jadi ustadz, hanya menunjukkan dan mengajak ke jalan Allah, insyaAllah mendapatkan pahala sebagaimana pelakunya.
Demikian juga share ilmu baik di dunia nyata maupun dunia maya. Semoga mendapat pahala MLM sampai hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

المراد أن له ثوابا كما أن لفاعله ثوابا …

دل بالقول، واللسان، والإشارة، والكتابة

“Maksudnya adalah baginya pahala sebagaimana pahala yang menerjakan…ia menunjukkan dengan perkataan, lisan, ISYARAT dan tulisan.” (Syarah Shahih Muslim)

Bukannya merasa “sok alim dan sok ustadz”, tetapi ini yang diharapkan

Terkadang terbetik bisikan “kamu juga banyak maksiat, jangan sok alim dan sok suci”

tetapi teringat perkataan ulama “Kalau menunggu suci sekali, tidak akan ada yang berdakwah”

Ibnu Hazm rahimahullah berkata,

ولو لم ينه عن الشر إلا من ليس فيه منه شيء ولا أمر بالخير إلا من استوعبه؛ لما نهى أحد عن شر ولا أمر بخير بعد النبي صلى الله عليه وسلم

“Seandainya yang melarang dari dosa harus orang yang tidak terlepas dosa dan yang memerintahkan kebaikan harus orang yang sudah melakukan kebaikan semua, maka tidak ada lagi yang melarang dari keburukan dan mengajak kebaikan kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Akhlaq was Siyar hal. 252-253)

Jika harus menunggu jadi orang suci berdakwah, dakwah tak akan pernah ada

kita banyak-banyak berdoa  dan memperhatikan:
1. Semoga Ikhlas ketika share ilmu

2. Berniat yang paling pertama mengamalkannya (terkadang kita PeDe share sesuatu setelah kita amalkan) dan memohon kepada Allah agar kita bisa mengamalkannya

3. Jauhkan riya dan tendensi dunia serta ketenaran
seandainya bukan karena amanah ilmiah, ingin rasanya menulis sesuatu tanpa mencantumkan nama penulisnya. Sebagai bentuk amanah ilmiah, cantumkan sumber tulisannya jika ada.

4. Tidak melupakan dakwah di dunia nyata, karena itulah dakwah yang lebih baik dan lebih prioritas, di keluarga dan sahabat di sekitar kita. Walaupun dakwah dunia maya juga boleh dan terkadang efektif

5. Tidak lupa berdoa agar dakwah kita berkah dan bisa diterima oleh manusia dengan mudah

Tetap semangat share ilmu di dunia nyata ataupun dunia maya dan tetap berdakwah, tentunya dengan memohon pertolongan Allah dan berhias dengan keikhlasan.

@Kereta Api, perjalanan Cileungsi-Jogja

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/sering-share-ilmu-bukan-untuk-sok-alim-tetapi-berharap-pahala-dakwah.html

Tertipu dengan Dunia, Lalai dengan Kehidupan Akhirat

Hakikat dunia adalah negeri yang sementara, bukan negeri keabadian. Jika kita memanfaatkan dunia dan menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka kita akan memetik hasilnya di akhirat kelak. Adapun jika kita menyibukkannya dengan syahwat, maka kita akan merugi, baik di dunia, apalagi di akhirat.

Hal ini sebagaimana firman Allah Taala,

خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj [22]: 11)

Orang-orang yang menyibukkan dunia dengan sesuatu yang akan bermanfaat untuknya kelak di sisi Allah Ta’ala, mereka adalah orang-orang yang beruntung, baik di dunia dan di akhirat. Dia beruntung di dunia karena menyibukkan diri dalam amal kebaikan. Demikian pula, dia beruntung di akhirat karena telah membekali diri dengan berbagai amal shalih.

Allah Taala berfirman dalam banyak ayat Al-Quran,

فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا

“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu.” (QS. Luqman [31]: 33)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala melarang kita untuk terperdaya dengan kehidupan dunia. Dia tertipu dengan dunia, sehingga sia-sialah waktunya, terluput dari berbagai amal shalih, karena dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Dia habiskan dunia ini, siang dan malam, hanya untuk mengumpulkan harta saja atau hanya untuk berlomba-lomba dalam teknologi. Hal ini sebagaimana kondisi orang-orang kafir saat ini. Mereka habiskan dunia ini untuk sesuatu yang tidak abadi.

Bukan berarti seorang muslim tidak boleh memanfaatkan dunia ini dan kemajuan teknologi di dalamnya. Akan tetapi, hendaknya dia manfaatkan ini semua untuk membantu ketaatan kepada Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala menciptakan dunia ini dan apa yang ada di dalamnya untuk hamba-hambaNya yang beriman. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik?” Katakanlah, “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” (QS. Al-A’raf [7]: 32)

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 13)

Namun, sekali lagi, bukan berarti kita sibuk dengan kehidupan dunia dan lalai dengan kehidupan akhirat. Bahkan maksudnya, sibukkanlah dunia ini dengan niat untuk menolongmu dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa yang memanfaatkan dunia ini dan menyibukkannya untuk kebaikan dan maslahat agama dan dunianya, merekalah orang-orang yang beruntung. Akan tetapi, barangsiapa yang sibuk dengan dunia dan menjadikan dunia itu sendiri sebagai tujuan dan hasratnya, mereka ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

“Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra’du [13]: 26)

Oleh karena itu, dunia ini dicela bukan semata-mata karena dunia itu sendiri, akan tetapi dicela karena kesalahan kita dalam memanfaatkan dunia. Sebagaimana pisau, bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Namun, bisa juga digunakan untuk hal-hal yang merusak, seperti berbuat kejahatan. Demikianlah perumpamaan dunia, yaitu bagaimana kita memanfaatkannya.

Surga itu dibangun dengan dzikir, tasbih, tahlil, takbir, ditumbuhkan pohon-pohonnya dengan amal ketaatan. Semua ini menunjukkan bahwa dunia ini hanyalah ladang, tempat bercocok tanam untuk kehidupan akhirat. Sebagaimana kata ahli ilmu,

الدنيا مزرعة للاخرة

“Dunia adalah ladang akhirat.”

Hendaknya seorang muslim yang memiliki akal senantiasa berpikir, jangan seperti binatang ternak yang tidak memahami apa yang dia inginkan. Bahkan, kondisi binatang ternak itu lebih baik dibandingkan manusia. Karena binatang ternak tidaklah membahayakan kita, kecuali jika kita menyakiti dan mengganggunya. Binatang ternak juga tidak memiliki surga atau neraka, dan mereka diciptakan di dunia ini untuk berbagai maslahat di dunia. Manusia bisa menungganginya, memanfaatkannya untuk membawa barang-barang, atau dimanfaatkan daging dan susunya. Mereka tidak dibebani dengan berbagai kewajiban syariat.

Hendaklah manusia, yang memanfaatkan berbagai fasilitas dan perhiasan dunia ini, memperbaiki amalnya. Sehingga bermanfaat untuk dirinya, baik untuk kehidupan saat ini, atau kehidupan di masa mendatang.

***

Diselesaikan ba’da isya, Rotterdam NL 5 Ramadhan 1438/1 Juni 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Referensi:

Disarikan dari kitab Majaalisu Syahri Ramadhan Al-Mubaarak, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 105-107 (cet. Daar Al-‘Ashimah, tahun 1422)

sumber: https://muslimah.or.id/9459-tertipu-dengan-dunia-lalai-dengan-kehidupan-akhirat.html