Menjaga Hati

Memahami keadaan hati; sehat, sakit, ikhlas, riya, dan semua gejolaknya adalah cara terbaik untuk mendapatkan hati yang bersih saat menghadap Allah taala. Memiliki hati yang suci merupakan sumber kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Sebaliknya, mengabaikan kesehatannya merupakan sebab kesengsaraan dan kecelalakaan bagi pemiliknya. Hati yang bersih adalah bekal menuju kampung akhirat dan modal mengarungi kampung dunia.

Allah berfirman
(( يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ))

“(yaitu) di hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (QS. Asy-Syuaraa: 88-89)

Bersih dari semua penyakit dan noda pengotor hati. Berbuat karena-Nya dan berdakwah untuk mengagungkan agama-Nya. Selalu berharap pahala akhirat dan rida sang Pencipta. Demikianlah kondisi para sahabat nabi. Mereka lebih mulia dari kita karena ketulusan niat dan kesucian hati yang mereka miliki. Dalam sebuah riwayat disebutkan

” ما سبقكم أبوبكر بكثرة صلاة و لا صيام و لكن بشيئ وقر في قلبه و نصحه للخلق ”

“Abu Bakar –semoga Allah meridainya– lebih mulia dari kalian bukan karena banyak puasa dan sholat, tetapi karena beliau telah mendahului kalian dengan (keimanan dan keikhlasan) yang tertanam di dalam hatinya serta nasihat yang diberikannya untuk umat.”

Uwais Al-Qorni pun menjadi generasi tabiin yang terbaik karena keikhlasan dan ketulusannya dalam beramal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

إن خير التابعين رجل يقال له أويس…

“Sesungguhnya tabiin yang terbaik adalah laki-laki yang bernama Uwais” (HR. Muslim)

Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata

فانك في زمان كان أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم يتعوذون أن يدركوه ولهم من العلم ما ليس لنا ولهم من القدم ماليس لنا فكيف بنا حين أدركناه على قلة علم وقلة صبر وقلة أعوان على الخير وفساد من الناس وكدر من الدني

“Sesungguhnya kalian hidup pada suatu zaman yang para sahabat radiyallahu anhum berlindung agar tidak bertemu dengan zaman tersebut, padahal mereka memiliki perbekalan ilmu, kesabaran dan keteguhan dalam Islam. Lantas bagaimana keadaan kita yang menjumpai zaman tersebut dengan sedikit ilmu, sedikit kesabaran dan sedikitnya teman yang mengajak kepada kebaikan ditengah rusaknya manusia dan keruhnya masa?” (Hilyatul Auliya 6/376)

Kesungguhan untuk memperhatikan serta memperbaiki amalan hati adalah jalan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang salih setelahnya. Namun demikian, hati sangat mudah untuk berbolak-balik. Terlebih lagi di zaman ini, serangan syubhat dan syahwat datang bertubi-tubi menghujami hati. Kemana kita meminta pertolongan dan dimana kita mencari perlindungan? La haula wa la quwwata illa billah. Hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan.

@ Kutipan faidah khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ust Beni Setiawan

Jumat 2 Oktober 2015
Penulis : Muhammad Abu Rivai

sumber: https://muslimplus.or.id/2015/10/12/menjaga-hati/

Hadits Arbain #40: Hidup di Dunia Hanya Sebentar

Hadits Arbain #40

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِمَنْكِبَيَّ، فَقَالَ: «كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ»

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ المَسَاءَ. وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ. رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku, lalu bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Jika kamu memasuki sore hari, maka jangan menunggu pagi hari. Jika kamu memasuki pagi hari, maka jangan menunggu sore hari. Manfaatkanlah sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Bukhari, no. 6416)

Keterangan hadits

Gharib: orang asing dari negerinya, ada waktu berdiam, namun hanya sebentar.

‘Abiru sabiil: musafir, sama sekali tidak menetap, terus berjalan.

Penjelasan hadits

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini jadi dasar agar kita tidak panjang angan-angan. Dunia ini hendaknya tidak dijadikan negeri dan tempat tinggal, sehingga kita jadi merasa tenang ketika berada di dalamnya. Hendaklah dunia hanya dijadikan tempat persiapan peralatan untuk perjalanan. Wasiat para nabi dan pengikutnya telah sama dalam hal ini. Allah Ta’ala telah menceritakan tentang orang beriman dari keluarga Fir’aun,

يَٰقَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا مَتَٰعٌ وَإِنَّ ٱلْءَاخِرَةَ هِىَ دَارُ ٱلْقَرَارِ

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 39).” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:377)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Dunia bagi seorang mukmin bukanlah negeri untuk menetap, bukan sebagai tempat tinggal. Hendaklah seorang mukmin berada dalam salah satu keadaan: (1) menjadi seorang gharib (orang asing), tinggal di negeri asing, ia semangat mempersiapkan bekal untuk kembali ke negeri tempat tinggal sebenarnya; (2) menjadi seorang musafir, tidak tinggal sama sekali, bahkan malam dan siangnya ia terus berjalan ke negeri tempat tinggalnya. Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma agar hidup di dunia dengan salah satu dari dua keadaan ini.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:378)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Jika seseorang semangat dalam mempersiapkan bekal safarnya, tentu semangatnya bukan memperbanyak kesenangan dunia.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:381)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara:

(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,

(5) Hidupmu sebelum datang matimu.”

(HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadraknya, 4:341. Al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini sahih sesuai syarat Bukhari Muslim namun keduanya tidak mengeluarkannya. Dikatakan oleh Adz-Dzahabiy dalam At-Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Wajib bagi setiap mukmin bersegera beramal saleh sebelum tidak mampu dan terhalang melakukannya, bisa jadi terhalang karena sakit, meninggal dunia, atau mendapati hal-hal yang membuat amal kita sudah tidak lagi diterima.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:390)

Faedah hadits

  1. Kita dimotivasi untuk meninggalkan dunia dan zuhud pada dunia.
  2. Bagusnya pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memberi contoh yang memuaskan.
  3. Hendaklah kita bersegera memanfaatkan umur, memanfaatkan waktu kuat yaitu masa sehat dan masa hidup.
  4. Keutamaan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma karena perkataannya terpengaruh dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  5. Bersegera beramal saleh pada waktu kita saat ini, tidak menunda-nundanya, karena kita tidak tahu keadaan setelah itu.
  6. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hendaklah setiap mukmin benar-benar memanfaatkan kesempatan dengan sisa umur yang ada.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:391)

Kaedah dari hadits

Kaedah istitsmar: hendaklah kita sibuk dengan sesuatu yang akan kekal, bukan sesuatu yang akan fana. Artinya, banyaklah sibuk dengan akhirat, sedangkan dunia kita diajak untuk zuhud (ambil sekadarnya saja dari yang halal).

Referensi:

  1. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  2. Khulashah Al-Fawaid wa Al-Qawa’id min Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Syaikh ‘Abdullah Al-Farih.
  3. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.

Selesai disusun Kamis, 4 Dzulqa’dah 1441 H, 25 Juni 2020

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/25050-hadits-arbain-40-hidup-di-dunia-hanya-sebentar.html

Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat Hilangnya

Harta yang didapatkan dengan cara tidak berkah semisal hasil korupsi, hasil mencuri, hasil riba, hasil menjadi pelacur dan lain-lainnya, tidak akan berkah dan akan cepat hilang tanpa disadari. Betapa banyak orang yang dahulunya tidak peduli dengan halal dan haramnya harta, setelah hijrah dan bertaubat, dia pun berkata,

“Dulu harta saya banyak, tapi cepat juga habisnya entah ke mana, tanpa saya sadari. Siang-malam saya lembur mencari harta yang banyak, tapi harta itu lenyap dengan cepat. Yang paling miris, saya tidak bahagia dengan harta tersebut. Sekarang setelah hijrah, saya mencari harta yang halal,  harta saya cukup untuk hidup dan saya merasakan kebahagiaan.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

والقليل من الحلال يبارك فيه والحرام الكثير يذهب ويمحقه الله تعالى.

“Harta halal yang sedikit diberkahi daripada harta haram yang banyak. Harta haram ini cepat hilangnya dan Allah hancurkan.” (Majmu’ Fatawa, 28: 646)

Hendaknya ini menjadi perhatian kita semua, terutama di zaman ini, zaman yang sudah mendekati akhir zaman di mana orang-orang mulai tidak peduli dengan halal dan haramnya harta yang dia dapatkan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram“. (HR. Bukhari)

Yang perlu kita cari dari rizki bukan jumlahnya semata, tetapi juga keberkahannya. Dengan harta yang berkah, hidup kita jadi mudah dan dimudahkan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Cara mendapatkan keberkahan adalah dengan ketakwaan, yaitu rasa takut kepada Allah Ta’ala akan harta yang haram dan cara mendapatkannya yang haram. Apabila kita bertakwa, maka Allah Ta’ala akan turunkan keberkahan kepada kita

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Andaikata penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf: 96)

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam mengajarkan kita agar berdoa dan memohon keberkahan harta, bukan sekedar jumlah semata. Beliau pernah mendoakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya dan berkahilah semua yang Engkau berikan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Hasil dari doa beliau adalah keberkahan harta Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

فوالله إن مالي لكثير، وإن ولدي وولد ولدي يتعاقبون على نحو المئة

“Demi Allah, hartaku sangat banyak. Sementara anak dan cucu-cucuku, mencapai 100  orang.” (HR. Ibnu Hibban no. 7177)

Semoga harta kita selalu berkah dan mendapatkan keridhaan dari Allah Ta’ala.

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK

Sumber: https://muslim.or.id/58780-harta-banyak-yang-tidak-berkah-itu-cepat-hilangnya.html

Mereka yang Gila Kekuasaan

Siapa saja yang tamak pada kekuasaan akan menuai penyesalan pada hari kiamat. Di dunia orang yang gila kekuasaan seperti ini tidak akan menjalankan amanat dengan baik.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإمَارَةِ ، وَسَتَكونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَة

“Nanti engkau akan begitu tamak pada kekuasaan. Namun kelak di hari kiamat, engkau akan benar-benar menyesal” (HR. Bukhari no. 7148).

Imam Nawawi membawakan hadits di atas dalam kitab Riyadhus Sholihin pada Bab “Larangan meminta kepemimpinan dan memilih meninggalkan kekuasaan apabila ia tidak diberi atau karena tidak ada hal yang mendesak untuk itu.”

Sedangkan Imam Bukhari rahimahullah membawakan hadits di atas dalam Bab “Terlarang tamak pada kekuasaan.”

Kata Imam Ibnu Batthol bahwa ketamakan manusia pada kepemimpinan begitu nyata. Itulah yang membuat adanya pertumpahan darah, menginjak kehormatan yang lain, terjadinya kerusakan sampai kekuasaan itu diraih. Gara-gara rakusnya pada kekuasaan inilah yang membuat keadaan menjadi jelek. Karena merebut kekuasaan terjadi pembunuhan, saling meninggalkan, saling merendahkan, atau mati karenanya, itulah yang menjadi penyesalan pada hari kiamat. (Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol).

Badaruddin Al ‘Aini, penulis kitab ‘Umdatul Qori, “Siapa saja yang tamak pada kekuasaan, maka umumnya ia tidak bisa menjalankan amanah dengan baik.”

Hanya Allah yang memberi taufik.

—

Selesai disusun di Jl. Magelang di siang hari @ 4 Jumadal Ula 1435 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/6910-mereka-yang-gila-kekuasaan.html

Nasihat Untuk Bersegera Dalam Taubat Nasuha

Ketahuilah saudaraku sekalian bahwa bertaubat itu hukumnya wajib atas setiap manusia. Wajib segera dan tidak boleh ditunda-tunda. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّـهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat nasuha.” (QS. Asy-Syarh[94]: 8)

Taubat itu menggugurkan dosa-dosa. Dan kewajiban orang yang bertaubat -kata Imam An-Nawawi Rahimahullah- dalam kitab Riyadhush Shalihin memenuhi tiga syarat apabila dosa yang ia lakukan itu antara ia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala Apa saja? Yaitu:

  1. Dia meninggalkan dosa saat dia bertaubat tersebut. Adapun ia bertaubat dalam keadaan dia terus-menerus berbuat dosa, tentu tidak akan menerima.
  2. Hati kita menyesal atas perbuatan dosa yang kita lakukan. Dan tanda orang yang menyesal adalah saat ia mengingat dosanya, hatinya merasa risih, hatinya merasa tidak tentram, hatinya menyesal sekali.
  3. Bertekad bulat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut.

Maka -kata beliau- apabila salah satu dari syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak diterima taubatnya. Ini apabila dosa antara kita dengan Allah. Adapun kalau dosa kita dengan makhluk, kita mendzalimi makhluk. Maka kata Imam Nawawi harus ditambahkan satu lagi. Yaitu dia harus meminta maaf, dia harus membersihkan dirinya dan berlepas dari kedzaliman tersebut. Kalau kedzaliman itu berupa harta, maka dia kembalikan. Tapi kalau kedzaliman itu berupa menyakiti hatinya, maka kita meminta maaf kepadanya.

Maka saudara-saudaraku sekalian, bertaubat adalah merupakan sifat orang-orang yang beriman. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati orang-orang yang beriman dan bertakwa itu:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّـهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ

“Siapa orang-orang yang bertakwa itu? Yaitu orang-orang yang apabila mereka melakukan perbuatan dosa, maka mereka segera ingat kepada Allah lalu mereka memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka yakin tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Allah saja.” (QS. Ali-Imran[3]: 135)

Maka kita berusaha. Karena kita manusia, tak lepas dari dosa. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ

“Setiap anak manusia pasti pernah dan pasti banyak dosanya.”

Tapi siapa orang yang paling baik dari orang yang berbuat dosa itu? Kata Rasulullah:

وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Tirmidzi)

Dalam bertaubat, saudaraku.. Ada perkara yang benar-benar harus kita perhatikan. Apa itu? Yaitu:

Pertama, kita tidak boleh menunda-nunda taubat. Karena kita tidak tahu ajal kita itu sampai kapan.

Kedua, bila kita tunda taubat kita, pohon maksiat itu semakin berakar di dalam hati kita. Sehingga semakin sulit untuk kita bertaubat kepada Allah. Makanya Ibnu Qudamah berkata, “Perumpamaan orang yang mengundur-undurkan taubat seperti orang yang ingin mencabut sebuah pohon. Saat ia ingin mencabutnya ternyata ia dapati pohon tersebut kuat. Lalu ia bergumam, kalau begitu saya akan cabut lagi ditahun yang akan datang. Saat ia mendatanginya lagi tahun depan, ternyata pohon itu tambah kuat lagi.”

Maka orang yang mengatakan nanti taubatnya ketika sudah tua, Subhanallah.. Ketika sudah tua pohon maksiat itu sudah sangat berakar di hati kita. Bagaikan kanker yang sudah akarnya kemana-mana. Bagaimana dia kan bisa bertaubat? Justru saudaraku, segera mungkin ketika ada kesempatan taubat, segera taubat kepada Allah. Hari ini juga kita taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, jangan kita tunda-tunda. Karena Malaikat maut apabila ia datang tidak pernah menunda-nunda lagi.

Saudara-saudaraku sekalian, di sini beliau membawakan hadits:

إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا.

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membuka tanganNya di waktu malam agar menerima taubat orang-orang yang berdosa di waktu siang. Dan membuka tanganNya di waktu siang agar bertaubat orang yang berbuat dosa di waktu malam sampai matahari terbit dari barat.” (HR. Ibnu Majah)

Lihatlah, setiap harinya siang dan malam Allah masih membuka pintu taubat untuk kita. Betapa kasih sayangnya Allah kepada kita. Namun sayang kita tidak menyayangi diri kita sendiri. Kita hanya bisa berkata nanti, nanti, nanti. Sehingga ketika nyawa telah sampai ke kerongkongan, saat itu tidak diterima lagi taubat, saudaraku. Karena Rasulullah mengabarkan demikian. Bahwa taubat seorang hamba diterima:

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ.

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama nyawa belum sampai ke kerongkongan.” (Musnad Ahmad)

Laa Ilaaha Illallah.. Sungguh orang-orang yang menunda-nunda taubat itu hakikatnya adalah orang ini membiarkan dirinya terombang-ambing dalam maksiat kepada Allah dan mencampakkan dirinya kepada adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian saudaraku, yang harus diperhatikan juga dalam bertaubat yaitu bersihkan taubat kita dari perkara-perkara yang mengotorinya. Apa yang mengotori taubat kita?

Membersihkan sisa-sisa maksiat

Yang pertama yaitu sisa-sisa maksiat yang masih tersisa di hati kita. Oleh karena itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, orang yang masih tersisa padanya sisa-sisa maksiat di hatinya, suatu ketika ia akan kembali kepadanya. Iya, kalau kita melihat ada orang yang dia sudah hijrah, dia sudah taubat, tapi kemudian kembali lagi kepada dunianya yang buruk tersebut, hal itu karena masih ada sisa-sisa di hatinya dosa tersebut. Maka kewajiban dia adalah membersihkan sisa-sisa dosa tersebut, segera ia taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, segera ia istighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, segera dia menyesali perbuatan yang ia lakukan tersebut.

Meninggalkan sebab utama maksiat

Kemudian apalagi kotoran yang bisa mengotori taubat kita? Yaitu kita tidak berusaha untuk meninggalkan sebab-sebab yang menyebabkan kita jatuh kepada maksiat tersebut. Kalau misalnya sebab utama maksiat kita adalah karena teman, kita bertaubat tapi kita tidak meninggalkan teman-teman yang buruk. Maka bagaimana taubat kita akan bersih? Kalau ternyata sebab utama maksiat kita adalah -misalnya- handphone. Kemudian kita bertaubat tapi kita membiarkan sebab maksiat itu ada pada diri kita, maka bagaimana taubat kita akan bersih? Dia akan pasti terus dikotori.

Oleh karena itulah disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika ada seorang laki-laki datang kepada seorang ahli ilmu dan mengatakan bahwa dia sudah membunuh 100 jiwa dan dia ingin bertaubat, apa kata ahli ilmu itu? “Apa yang membuat kamu terhalang dari taubat? Pergilah kamu ke negeri sana karena di sana banyak orang-orang yang shalih yang beribadah kepada Allah dan tinggalkan negerimu yang buruk tersebut.”

Saudaraku, kesempurnaan taubat kita adalah dengan cara meninggalkan semua sebab-sebab terbesar yang menyebabkan kita terjerumus kepada dosa.

Pertahankan taubat kita

Mempertahankan taubat itu tidak mudah. Karena setan akan berusaha semaksimal mungkin supaya kita mau kembali kepada dosa yang telah kita lakukan kemarin. Maka untuk istiqamah di atas taubat ini kita harus terus minta tolong kepada Allah, kita harus terus bertawakal kepada Allah, menyerahkan diri semuanya kepada Allah, dan minta kepada Alah supaya iman itu dihiaskan di hati kita dan dijadikan hati kita benci kepada kekufuran, kemaksiatan.

Kemudian beliau membawakan hadits. Dari Anas -semoga Allah meridhainya- ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

“Allah lebih gembira melihat taubat hambaNya saat dia bertaubat kepada Allah dari seseorang dari kamu yang berada pada untanya di sebuah padang pasir dimana untanya tersebut penuh dengan makanan dan minuman. Ternyata untanya itu kabur. Lalu dia berusaha untuk mengejar dan mencarinya, ternyata tidak terkejar dan entah pergi kemana. Maka ia pun merasa putus asa. Lalu ia pun mendatangi pohon dan berbaring di bawah pohon tersebut menyerah, dia serahkan semuanya kepada Allah. Sementara dia sudah berputus asa dari untanya tersebut. Disaat dia sedang seperti itu tiba-tiba untanya kembali dan sudah berdiri di sampingnya. Maka segera orang ini mengambil tali untanya tersebut lalu ia berkata -saking gembiranya orang ini- ‘Ya Alla, Engkau hambaku, aku Tuhanmu (Salah karena saking gembiranya).’” (Muttafaqun ‘alaih)

Bayangkan saudaraku sekalian Allah sangat gembira kepada hambaNya yang bertaubat. Tidakkah kita ingin membuat Allah gembira kepada kita dengan kita bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Ini menunjukkan Allah ingin sekali hamba-hambaNya selalu kembali kepada Allah. Allah selalu mengajak hamba-hambaNya untuk kembali kepada Allah bertaubat, tapi kita seringkali kita sombong. Hati kita sombong seperti halnya iblis yang tidak pernah mau bertaubat. Padahal iblis pun kalau bertaubat pasti diterima oleh Allah taubatnya. Tapi masalahnya dalam hidup iblis tidak ada istilah taubat. Maka orang yang tidak pernah mau bertaubat kepada Allah, sungguh ia telah terasuki sifat-sifat iblis tersebut. Allah gembira melihat hambaNya yang bertaubat kepada Allah, menunjukkan kasih sayang Allah yang sangat besar kepada kita. Maka berusahalah bagaimana supaya kita segera bertaubat agar Allah ridha kepada kita.

Saudaraku sekalian,  di sini Rasulullah memberikan kepada kita sebuah perumpamaan yang luar biasa. Banyak faedah yang bisa kita petik. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatakan: “Allah lebih gembira melihat taubat hambaNya dari orang tersebut.” Siapa orang tersebut? Di sini Rasulullah memberikan perumpamaan dan ini menunjukkan bolehnya memberikan perumpamaan untuk lebih memudahkan pemahaman.

Perumpamaan:

Dari pada seseorang yang berada di sebuah padang pasir bersamanya untanya yang penuh makanan dan minuman dan ternyata untanya itu pergi entah kemana. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali ketika memberikan faedah dari hadits ini, beliau mengatakan: “Diantara faedah yang bisa kita petik dari hadits ini adalah seseorang apabila hatinya bersandar kepada sesuatu, maka biasanya Allah jadikan sesuatu itu menghianati dirinya.” Lihatlah, orang ini sangat bersandar kepada untanya, karena ia berada di padang pasir lalu tiba-tiba untanya pergi. Bayangkan keadaan kita seperti itu. Maka jangan sampai menyandarkan hati kita kepada sebab. Jangan sampai hati kita menyandarkan kepada dunia.

Kalau misalnya kita memiliki usaha, dari usaha itu kita bisa hidup. Kemudian hati kita sangat mengharapkan usaha ini dan hati kita bersandar kepada usaha ini. Berarti kita sudah jatuh kepada kesyirikan. Dan boleh jadi saat itu kemudian ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala bangkrutkan usahanya agar Allah memberikan pelajaran dan agar dia hanya bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Jangan bersandar kepada sebab.

Maka kalau kita sudah berusaha dan ternyata usaha kita diberikan oleh Allah kemudahan demi kemudahan, jangan sampai hati kita kemudian menyandarkan diri kepada usaha kita. Tidak. Hati kita tetap bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, saudaraku.

Kemudian kata Syaikh Salim, di antara faedah hadits ini juga orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, pasti Allah akan bantu dia. Orang ini ketika sudah berputus asa mencari dan mencari tidak diketemukan juga. Akhirnya diapun berbaring di atas pohon, dia serahkan semuanya kepada Allah. Dia sudah menyerah.

Terkadang kita sudah berusaha untuk mencari nafkah, mencari rezeki kesana kemari, semua jalan tertutup. Ternyata Allah masih belum bukakan hati kita. Karena hati kita ternyata belum sepenuhnya bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saat hati kita sudah bersandar kepada Allah 100% full dan kita juga sudah berusaha semaksimal mungkin, maka tidak mungkin merugi dan merugi orang yang bersandar hatinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka orang ini berbaringlah di bawah sebuah pohon dalam keadaan dia sudah siap-siap mati, dia sudah menyerah. Tiba-tiba Allah kembalikan untanya tersebut, Subhanallah..

sumber: https://www.radiorodja.com/48266-nasihat-untuk-bersegera-dalam-taubat-nasuha/

[Kitabut Tauhid 2] 13. Khawatir Terhadap Kesyirikan 13

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Doa merupakan ibadah yang sangat agung disis Allâh -‘Azza wa Jalla-. Maka jika ibadah ini dipalingkan dari Allâh -‘Azza wa Jalla- dan diberikan kepada makhluq-Nya, tidak diragukan lagi bahwa perbuatan tersebut merupakan kezhaliman yang paling zhalim, dosa besar yang paling besar.

selanjutnya kita akan mempelajari Khawatir Terhadap Kesyirikan 13. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

Formulir Pertanyaan

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

5 Perusak Hati

Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerusakan adalah niscaya dan wajib. 

Tentang perusak hati, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada lima perkara, “bergaul dengan banyak kalangan (baik dan buruk), angan-angan kosong, bergantung kepada selain Allah, kekenyangan dan banyak tidur.”

Bergaul dengan banyak kalangan 

Pergaulan adalah perlu, tapi tidak asal bergaul dan banyak teman. Pergaulan yang salah akan menimbulkan masalah. Teman-teman yang buruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang negatif. 

Dalam tataran riel, kita sering menyaksikan orang yang hancur hidup dan kehidupannya gara-gara pergaulan. Biasanya out put semacam ini, karena motivasi bergaulnya untuk dunia. Dan memang, kehancuran manusia lebih banyak disebabkan oleh sesama manusia. Karena itu, kelak di akhirat, banyak yang menyesal berat karena salah pergaulan. Allah berfirman: 

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata, “Aduhai (dulu) kiranya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur”an ketika Al-Qur”an itu telah datang kepadaku.” (Al-Furqan: 27-29). 

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67). 

“Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain), dan tempat kembalimu adalah Neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolong.” (Al-Ankabut: 25). 

Inilah pergaulan yang didasari oleh kesamaan tujuan duniawi. Mereka saling mencintai dan saling membantu jika ada hasil duniawi yang diingini. Jika telah lenyap kepentingan tersebut, maka pertemanan itu akan melahirkan duka dan penyesalan, cinta berubah menjadi saling membenci dan melaknat. 

Karena itu, dalam bergaul, berteman dan berkumpul hendaknya ukuran yang dipakai adalah kebaikan. Lebih tinggi lagi tingkatannya jika motivasi pertemanan itu untuk mendapatkan kecintaan dan ridha Allah. 

Larut dalam angan-angan kosong 

Angan-angan kosong adalah lautan tak bertepi. Ia adalah lautan tempat berlayarnya orang-orang bangkrut. Bahkan dikatakan, angan-angan adalah modal orang-orang bangkrut. Ombak angan-angan terus mengombang-ambingkannya, khayalan-khayalan dusta senantiasa mempermainkannya. Laksana anjing yang sedang mempermainkan bangkai. 

Angan-angan kosong adalah kebiasaan orang yang berjiwa kerdil dan rendah. Masing-masing sesuai dengan yang diangankannya. Ada yang mengangankan menjadi raja atau ratu, ada yang ingin keliling dunia, ada yang ingin mendapatkan harta kekayaan melimpah, atau isteri yang cantik jelita. Tapi itu hanya angan-angan belaka. 

Adapun orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia, maka cita-citanya adalah seputar ilmu, iman dan amal shalih yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan ini adalah cita-cita terpuji. Adapun angan-angan kosong ia adalah tipu daya belaka. Nabi shalallahu “alaihi wa sallam memuji orang yang bercita-cita terhadap kebaikan. 

Bergantung kepada selain Allah 

Ini adalah faktor terbesar perusak hati. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dari bertawakkal dan bergantung kepada selain Allah. 

Jika seseorang bertawakkal kepada selain Allah maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia bergantung kepadanya. Allah akan menghinakannya dan menjadikan perbuatannya sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari Allah, juga tidak dari makhluk yang ia bergantung kepadanya. Allah berfirman, artinya: 

“Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.” (Maryam: 81-82) 

“Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.” (Yasin: 74-75) 

Maka orang yang paling hina adalah yang bergantung kepada selain Allah. Ia seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan di bawah rumah laba-laba. Dan rumah laba-laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh. Lebih dari itu, secara umum, asal dan pangkal syirik adalah dibangun di atas ketergantungan kepada selain Allah. Orang yang melakukannya adalah orang hina dan nista. Allah berfirman, artinya: “Janganlah kamu adakan tuhan lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” (Al-Isra”: 22) 

Terkadang keadaan sebagian manusia tertindas tapi terpuji, seperti mereka yang dipaksa dengan kebatilan. Sebagian lagi terkadang tercela tapi menang, seperti mereka yang berkuasa secara batil. Sebagian lagi terpuji dan menang, seperti mereka yang berkuasa dan berada dalam kebenaran. Adapun orang yang bergantung kepada selain Allah (musyrik) maka dia mendapatkan keadaan yang paling buruk dari empat keadaan manusia, yakni tidak terpuji dan tidak ada yang menolong. 

Makanan 

Makanan perusak ada dua macam. 

Pertama, merusak karena dzat/materinya, dan ia terbagi menjadi dua macam. Yang diharamkan karena hak Allah, seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam. Kedua, yang diharamkan karena hak hamba, seperti barang curian, rampasan dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya, baik karena paksaan, malu atau takut terhina. 

Kedua, merusak karena melampaui ukuran dan takarannya. Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan kelewat batas. Sebab yang demikian itu membuatnya malas mengerjakan ketaatan, sibuk terus-menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya. Jika telah kekenyangan, maka ia merasa berat dan karenanya ia mudah mengikuti komando setan. Setan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa mempersempit aliran darah dan menyumbat jalannya setan. Sedangkan kekenyangan memperluas aliran darah dan membuat setan betah tinggal berlama-lama. Barangsiapa banyak makan dan minum, niscaya akan banyak tidur dan banyak merugi. 

Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan: “Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi perutnya (dengan makanan dan minuman). Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap (makanan) yang bisa menegakkan tulang rusuknya. Jika harus dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani). 

Kebanyakan tidur 

Banyak tidur mematikan hati, memenatkan badan, menghabiskan waktu dan membuat lupa serta malas. Di antara tidur itu ada yang sangat dibenci, ada yang berbahaya dan sama sekali tidak bermanfaat. Sedangkan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur saat sangat dibutuhkan. 

Segera tidur pada malam hari lebih baik dari tidur ketika sudah larut malam. Tidur pada tengah hari (tidur siang) lebih baik daripada tidur di pagi atau sore hari. Bahkan tidur pada sore dan pagi hari lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya. 

Di antara tidur yang dibenci adalah tidur antara shalat Shubuh dengan terbitnya matahari. Sebab ia adalah waktu yang sangat strategis. Karena itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk ibadah, mereka tidak mau tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Sebab waktu itu adalah awal dan pintu siang, saat diturunkan dan dibagi-bagikannya rizki, saat diberikannya barakah. Maka masa itu adalah masa yang strategis dan sangat menentukan masa-masa setelahnya. Karenanya, tidur pada waktu itu hendaknya karena benar-benar sangat terpaksa. 

Secara umum, saat tidur yang paling tepat dan bermanfaat adalah pada pertengahan pertama dari malam, serta pada seperenam bagian akhir malam, atau sekitar delapan jam. Dan itulah tidur yang baik menurut pada dokter. Jika lebih atau kurang daripadanya maka akan berpengaruh pada kebiasaan baiknya. Termasuk tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur pada awal malam hari, setelah tenggelamnya matahari. Dan ia termasuk tidur yang dibenci Rasul Shallallahu “alaihi wa sallam . 

Al-Sofwah.or.id (Disadur dari Mufsidaatul Qalbi Al-Khamsah, min kalami Ibni Qayyim Al-Jauziyyah) 

(Abu Okasha Ainul Haris)

sumber: https://pengusahamuslim.com/7-5-perusak-hati.html

Agar Tak Kecewa Setelah Melakukan Ikhtiar

Bismillahirrahmanirrahim.

Tahukah Anda, di negeri dengan penduduk yang terkenal dengan orang-orang workaholic atau mempunyai komitmen yang tinggi untuk bekerja sekalipun seperti Jepang ternyata memiliki 25 ribu gelandangan. Sejumlah 1.697 diantaranya berada di Tokyo. Mayoritas dilatar belakangi kegagalan. Ketika mereka mengalami kegagalan dalam sebuah rencana, mereka akan menghilangkan identitas dirinya dengan menjadi gelandangan; meninggalkan rumahnya, meninggalkan keluarganya karena mereka merasa malu dengan kegagalan yang dialami, bahkan sampai pada puncaknya ada diantara mereka yang sampai bunuh diri. Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki tawakal dan mereka tidak tau konsep bagaimana ridha pada keputusan Allah subhanahu wata’ala dan hal itu berangkat karena mereka tidak memiliki Tuhan.

Diantara hal yang perlu kita perhatikan ketika kita memiliki rencana adalah tawakalkan rencana tersebut pada Allah dan ridha pada semua keputusan Allah setelah menyelesaikan rencana. Sebagaimana penjelasan syaikul islam Ibnu Taimiyyah radhiyallahu ‘anhu ketika seorang manusia memiliki rencana maka didepannya ada takdir, bagaimana sikap yang tepat agar tidak selalu memikirkan rencana agar hati kita tidak bergantung dengan sebab yang kita milikidan hati kita tidak merasa kehilangan ketika mengalami kegagalan:

  1. Tawakal pada Allah ketika kita memiliki rencana
  2. Ridha pada semua keputusan Allah setelah melakukan rencana

Jika seseorang bisa menyeimbangkan dua hal ini setiap dia memiliki rencana maka insyaallah dia tidak akan terlalu bergantung dengan sebab dan tidak akan merasa kehilangan ketika dia mengalami kegagalan.

Jangan Bergantung pada Sebab

Bersemangatlah dan jangan malas dalam ikhtiar dengan mengambil sebab, namun sebagai insan yang beriman pada takdir Allah kita tidak boleh hanya bergantung pada sebab. Ketika sudah melakukan sebab maka bertawakallah kepada Allah dan sabar serta ridha dalam menyikapi hasil yang diberikan oleh Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah dan janganlah kamu malas! Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan ‘seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah ‘Qaddarullah wa maa sya’a fa’ala’. Karena perkataan ‘seandainya’ akan membuka pintu syetan”. (HR. Muslim)

Tentang Tawakal

Barangsiapa yang mewujudkan takwa dan tawakal akan dapat menggapai seluruh kebaikan din dan dunianya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan baginya jalan keluar dan memberi dia rezki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Alah, maka Dia itu cukup baginya” (Ath-Thalaq : 2-3)

Tawakal adalah bersandarnya hati kepada Allah dalam rangka mendapatkan sesuatu yang diinginkan dan menghilangka sesuatu yang tidak disukai, disertai rasa yakin dan diiringi dengan melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan. Tawakal harus mencakup dua perkara. Pertama, yaitu bersandarnya hati kepada Allah dengan jujur dan yakin sebenar-benarnya. Kedua, yaitu harus disertai dengan mengambil sebab-sebab yang diperbolehkan oleh syariat untuk mencapai tujuannya tersebut.

Barangsiapa yang lebih banyak bersandar kepada sebab maka kurang rasa tawakalnya pada Allah dan telah menafikan penjagaan Allah. Seolah-olah dia menjadikan sebab semata sebagai sandaran yang menyebabkan terjadinya sesuatu yang dia inginkan atau menghilangkan sesuatu ynang tidak disukai. Sebaliknya barangsiapa yang hanya bersandar kepada Allah namun tidak disertai usaha mengambil sebab, berarti telah mencela hikmah Allah Ta’ala,karena hanya Allah yang menjadikan segala sesuatu dengan sebab.

Dari Umar bin Khaththab dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, ”Jikalau kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenarnya niscaya Allah akan memberikan rezki kepada kalian seperti seekor burung. Pagi-pagi ia pergi dalam keadaan lapar da pulang disore hari dalam keadaan kenyang”. (HR. At-Tirmidzi).

Sabar dan Ridha

Sehubungan dengan apa yang tidak disukainya, seorang hamba bisa menempati salah satu dari dua derajat yaitu ridha atau sabar. Ridha adalah yang lebih utama, adapun sabar hukumnya wajib bagi setip insan yang beriman.

Sabar adalah menahan diri dari amarah dan kekesalan ketika merasa sakit sambil berharap derita yang dihadapiya segera hilang. Sementara ridha adalah berlapang dada atas ketetapan Allah dan membiarkan keberadaan rasa sakit, walaupun ia merasakannya karena keridhaan menghilangkan deritanya disebabkan hatinya dipenuhi oleh ruh yakin dan ma’rifah. Bila ridha semakin kuat, ia mampu menepis seluruh rasa sakit dan derita. Hanya saja, Cuma mereka yang berma’rifah dan bermahabah saja yang dapat mencapai tingkatan ridha. Mereka bahkan dapat menikmati musibah yang menimpa karena mereka tahu bahwa musibah itu datang dari Dzat yang dicintainya.

Anas bin Malik meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda yang artinya “Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridha niscaya ia akan mendapatkan ridhNya. Barangsiapa kesal dan benci niscaya ia akan mendapatkan murkaNya”. (HR. At-Tirmidzi)

Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Allah menjadikan kesejahteraan dan kegembiraan pada yakin dan ridha; serta menjadikan kesusahan dan kesedihan pada keraguan, kekesalan dan kemurkaan”.

***

Referensi :

  • Al-Qur’anul karim
  • Adika Mianoki. 2014. Jawaban 3 Pertanyaan Kubur. Yogyakarta: Pustaka Muslim
  • Ibnu Rajab Al-Hambali, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, & Imam Al-Ghazali. 2004. Tazkiyatun Nafs Konsep Penyucian Jiwa Menurut Ulama Salafusshalih. Solo: Pustaka Arafah
  • Caramah pendek “Gelandangan Jepang” – Ustadz Ammi Nur Baits (www.yufid.tv.com), link ceramah pendek “Gelandangan Jepang” https://youtu.be/1JOLgMy2d9Y

Penulis: Atma Beauty Muslimawati

sumber: https://muslimah.or.id/9667-agar-tak-kecewa-setelah-melakukan-ikhtiar.html

Bermuka Manis di Hadapan Orang Lain

Di antara bentuk akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam adalah bermuka manis di hadapan orang lain. Bahkan hal ini dikatakan oleh Syaikh Musthofa Al ‘Adawi menunjukkan sifat tawadhu’ seseorang. Namun sedikit di antara kita yang mau memperhatikan akhlak mulia ini. Padahal di antara cara untuk menarik hati orang lain pada dakwah adalah dengan akhlak mulia. 

Lihatlah bagaimana akhlak mulia ini diwasiatkan oleh Lukman pada anaknya,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Lukman: 18).

Ibnu Katsir menjelaskan mengenai ayat tersebut, “Janganlah palingkan wajahmu dari orang lain ketika engkau berbicara dengannya atau diajak bicara. Muliakanlah lawan bicaramu dan jangan bersifat sombong. Bersikap lemah lembutlah dan  berwajah cerialah di hadapan orang lain” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 56).

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri” (HR. Muslim no. 2626).

Begitu pula dengan wajah ceria dan berseri akan mudah menarik hati orang lain ketika diajak pada Islam dan kepada kebaikan. Senyum manis adalah di antara modal ketika berdakwah. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّكُمْ لَا تَسَعُونَ النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ لِيَسَعْهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Sesungguhnya kalian tidak bisa menarik hati manusia dengan harta kalian. Akan tetapi kalian bisa menarik hati mereka dengan wajah berseri dan akhlak yang mulia” (HR. Al Hakim dalam mustadroknya. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dari Jarir, ia berkata,

مَا حَجَبَنِى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُنْذُ أَسْلَمْتُ ، وَلاَ رَآنِى إِلاَّ تَبَسَّمَ فِى وَجْهِى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghalangiku sejak aku memberi salam dan beliau selalu menampakkan senyum padaku” (HR. Bukhari no. 6089 dan Muslim no. 2475).

Wajah berseri dan tersenyum termasuk bagian dari akhlak mulia. Ibnul Mubarok berkata bahwa makna ‘husnul khulq’ (akhlak mulia),

طَلاَقَةُ الوَجه ، وَبَذْلُ المَعروف ، وَكَفُّ الأذَى

“Wajah berseri, berbuat kebaikan (secara umum) dan menghilangkan gangguan”. Dinukil dari Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi rahimahullah.

Sedangkan orang yang berakhlak mulia disebutkan dalam hadits dari Jabir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَىَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّى مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا

“Orang yang paling dicintai di antara kalian dan yang paling dekat duduk denganku di hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya” (HR. Tirmidzi no. 2018. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Namun wajah berseri ini tidaklah setiap saat dan tidak ditujukan pada setiap orang. Ketika menghadapi orang yang lebih pantas dimarahi (bukan diberi senyuman), juga di hadapan orang kafir maka kita tidak menyikapi seperti itu sebagaimana diterangkan oleh Ash Shon’ani dalam Subulus Salam. Juga amat bahaya jika seorang gadis memberi senyuman kepada laki-laki karena godaannya amat besar.

Ya Allah, berikanlah kami anugerah dengan akhlak yang mulia dan selalu berwajah ceria di hadapan saudara-saudara kami.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Referensi:

  1. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, 1421 H.
  2. At Tawadhu’, Abu ‘Abdillah Musthofa bin Al ‘Adawi, terbitan Maktabah Makkah.
  3. Subulus Salam, Ash Shon’ani.
  4. Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi.

@ KSU, Riyadh, KSA, 3 Jumadal Ula 1433 H

Sumber https://rumaysho.com/2341-bermuka-manis-di-hadapan-orang-lain.html

Sunnah-sunnah Ketika Minum Susu

1. Membaca basmalah sebelum minum

Dari Umar bin Abu Salamah radhiyallahu’anhuma beliau berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepadaku,

‏”‏سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ‏”

“Bacalah basmalah dan makanlah dengan tangan kananmu.” (HR. Bukhari No. 5376 dan Muslim No. 2022)

Meskipun perintah diatas untuk makan namun berlaku pula ketika minum. Allahua’lam

2. Berdoa setelah minum susu

Doanya,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْهِ وَزِدْنَا مِنْهُ

Allahumma baariklana fiihi wa zidna minhu

(Ya Allah berkahilah kami karena susu ini dan tambahkan kami darinya)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,

دخلت مع رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أنا و خالد بن الوليد على ميمونة، فجاءتنا بإناءٍ من لبنٍ، فشرب رسول الله، وأنا على يمينه وخالد على شماله، فقال لي: «الشربة لك فإن شئت آثرت بها خالداً» فقلت: ما كنت أوثر على سؤرك أحداً، ثم قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم- : «من أطعمه الله الطعام فليقل: اللهم بارك لنا فيه، وأطعمنا خيراً منه. ومن سقاه الله لبناً فليقل: اللهم بارك لنا فيه وزدنا منه» وقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم-: «ليس شيء يجزئ مكان الطعام والشراب غير اللبن».

“Aku bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan Khalid bin Walid masuk ke dalam rumah Maimunah. Kemudian Maimunah menyuguhkan bejana susu. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam meminumnya. Saat itu saya berada di sebelah kanan beliau sementara Khalid sebelah kiri beliau. Lantas Rasulullah shallallahu’alaihi wasallambersabda kepadaku,
“Sekarang giliranmu untuk minum. Jika engkau mau, engkau boleh menyisakannya untuk Khalid.”
Akupun menjawab,
“Aku tidak akan menyisakan untuk seorangpun bekas minumanmu.”
Kemudian beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
Barangsiapa yang telah Allah beri makanan hendaknya membaca,

اللهم بارك لنا فيه، وأطعمنا خيراً منه

Allahumma baarik lana fiihi,  wa ath’imna khairan minhu.
(Ya Allah berkahilah kami karena makanan ini. Dan berilah kami makanan yang lebih baik darinya.)

Dan barangsiapa yang Allah beri minum susu hendaknya membaca,

اللهم بارك لنا فيه وزدنا منه

Allahumma baariklana fiihi wa zidna minhu.
(Ya Allah berkahilah kami karena susu ini dan tambahkan darinya untuk kami)

Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Tidak ada sesuatupun yang menyamai status makanan dan minuman selain susu.”

(HR. Imam Ahmad No. 303 dalam Musnadnya tahqiq Ahmad Syakir. Sanadnya Shahih. Diriwayatkan pula dalam Shahih At Tirmidzi oleh Syaikh Al Albani No. 3455 dengan sanad hasan)

3. Berkumur-kumur setelah minum susu

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam minum susu kemudian beliau berkumur-kumur. Lantas bersabda,

إن لـه دسمًا

“Sesungguhnya susu itu memiliki lemak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hajar berkata dalam Al Fath,

(فيه بيان العلة للمضمضة من اللبن فيدل على استحبابها من كل شيء دسم) .

“Hadis ini menjelaskan sebab beliau berkumur-kumur usai minum susu. Ini menunjukkan disunnahkan berkumur-kumur dari semua makanan yang berlemak.”


****
Sumber:www.ahlalhdeeth.com
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah wanitaslihah.com

sumber: https://wanitasalihah.com/sunnah-sunnah-ketika-minum-susu/