Penulis: Abu Uwais
Pendorong Terbesar untuk Beribadah
Amir bin al-Khamisi
Saya cermati ternyata pemantik terbesar untuk beribadah dan merasakan manisnya adalah dengan menghayati makna syukur saat melaksanakan ibadah. Makna ini sangat cukup untuk mengubah pandanganmu tentang ibadah, membuka bagimu banyak ufuk baru yang luas tentangnya. Ini merupakan makna yang agung derajatnya dan luas kandungannya. Cukuplah bagimu hadis yang diriwayatkan Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mendirikan salat malam hingga kedua kaki beliau bengkak. Aisyah berkata: “Aku pun bertanya kepada beliau: ‘Mengapa engkau melakukan seperti ini wahai Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni engkau atas dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang?’ Lalu beliau menjawab: ‘Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur?’”
Ya, beliau berdiri panjang, konsisten dalam salat, dan sabar dalam menghadapi beratnya itu demi menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Betapa agung, mulia, utama, sempurna, dan suci makna syukur ini, membuat seorang hamba terbang tinggi bagaikan burung yang terbang di langit penghambaan.
Bisa jadi seorang hamba menghadirkan makna mengharap pahala atau selamat dari siksa, tapi itu tidak setara dengan menghadirkan makna syukur. Ketika ada orang yang memberi suatu kenikmatan kepadamu meski sedikit, bagaimana perasaan berutang jasa dalam dirimu kepadanya? Lalu bagaimana dengan Dzat yang memberi seluruh nikmat kepadamu, baik yang dulu atau sekarang, yang kecil maupun yang besar? Ini merupakan makna agung yang dapat memantik semangat kepadamu untuk menjalankan ketaatan dan mendorongmu kepadanya. Betapa indahnya ketika engkau berdiri di mihrab penghambaan untuk bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas karunia-karunia-Nya yang begitu besar, nikmat-nikmat-Nya yang amat agung, dan anugerah-anugerah-Nya yang sangat luas. Nikmat-nikmat-Nya tidak terhitung dan terbilang, mulai dari nikmat kesehatan dan afiyat, hingga nikmat harta, keluarga, dan keturunan, juga nikmat akal, sampai nikmat terbesar dan paling mulia yaitu nikmat Islam dan nikmat petunjuk menuju keimanan. Kemudian dalam setiap nikmat itu terdapat turunannya yang begitu luar biasa dan makna-makna yang melapangkan dada.
إن هذا الحديث له نكهةٌ خاصةٌ جديرة بالتأمل، والنبي صلى الله عليه وسلم كان أتقى الناس، وأعبدهم لله، وأدومهم على الطاعة، ومن هنا تَلمَح سرَّ الحافز له على تكليف نفسه في أدائها، والدافع له في الاستمرار عليها، رغم ما يحصل له أثناءها.
Hadis Aisyah ini punya cita rasa tersendiri yang layak untuk direnungkan. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam adalah manusia paling bertakwa, paling tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan paling konsisten dalam ketaatan. Dari sini dapat engkau pahami rahasia pemantik beliau dalam membebankan diri beliau dalam melaksanakan amalan-amalan itu, dan pendorong beliau untuk terus konsisten di dalamnya meski harus menanggung segala kesulitan yang dihadapi saat menjalankannya.
Ketahuilah bahwa merasakan makna syukur ini dalam ibadah dan terus mengingatnya, dapat mengubah kesulitan ibadah menjadi kenikmatan, bebannya menjadi kebahagiaan, dan keletihannya menjadi kenyamanan. Namun sedikit sekali orang yang mengerti makna ini. Tidakkah engkau membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba: 13).
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan secara khusus dengan ungkapan “hamba-hamba-Ku” bukan dengan kata “manusia” atau “makhluk-Ku”, karena orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang terbaik dari yang terbaik, orang-orang yang sedikit dari golongan yang sedikit, orang-orang istimewa dari mereka yang istimewa, dan orang-orang pilihan dari yang terpilih.
Jadi, tujuan ibadah bukanlah sekedar untuk menghapuskan dosa-dosa dan meraih pahala semata, tapi orang yang mengetahui dengan baik nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya dan bagaimana ia penuh dengan kenikmatan-Nya, niscaya hatinya akan tertarik sendiri kepada ibadah, jiwanya akan rindu kepadanya. Ia akan mengakui karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, menyelam dalam rasa syukur atas kenikmatan itu, dan tidak punya pilihan lain kecuali tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah-Nya, mengagungkan-Nya, dan memperbanyak setiap amal saleh yang mendekatkannya kepada Tuhannya sebagai bentuk syukur kepada-Nya.
Menghadirkan rasa syukur ketika menjalankan ibadah termasuk faktor yang dapat memurnikan ibadah itu dari segala kecacatan, dan membersihkannya dari segala kotorannya. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyematkan sifat ini kepada para makhluk pilihan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan rasa syukur sebagai tujuan dari penciptaan para makhluk dan bahkan menjadi tujuan dari ibadah kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 172).
Siapa yang mencermati hakikat syukur ini, niscaya ia akan mendapati bahwa ia adalah kebalikan dari kekufuran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152).
Siapa yang mencermati apa yang disabdakan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam kepada Aisyah Radhiyallahu ‘anha (dalam hadis di atas), niscaya akan mengetahui bahwa syukur juga diwujudkan dengan anggota badan, bukan sekedar dengan lisan. Siapa yang menghayati firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152), niscaya ia akan mengetahui bahwa ibadah secara keseluruhannya tertuang dalam zikir dan syukur, dan syukur selalu terbalut dengan keimanan, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:
مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ
“Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman.” (QS. An-Nisa: 147).
Siapkan sebelum salat sekelumit nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala padamu yang harus engkau hadirkan rasa syukurnya. Bayangkanlah jumlah nikmat-nikmat yang bisa bernilai miliaran, bahkan tidak dapat dihitung manusia meskipun mereka bekerja sama untuk menghitung nikmat-nikmat yang ada pada diri salah seorang dari mereka. Duniamu yang sebesar apa pun yang telah kamu capai, bahkan seandainya kamu memilikinya sepenuhnya, tidak akan mampu menghadirkan seteguk air, atau bisa memudahkan air itu keluar dari tubuhmu.
Mari merenungi bersama satu peristiwa saja. Ibnu as-Sammak pernah masuk menemui Harun ar-Rasyid. Kemudian Harun ar-Rasyid berkata: “Nasihatilah aku!” Lalu Ibnu as-Sammak bertanya kepadanya: “Wahai Amirul Mu’minin! Seandainya engkau dihalangi untuk minum air sementara saja, apakah engkau mau menebusnya dengan dunia dan seisinya?” Harun menjawab: “Ya!” Beliau bertanya lagi: “Wahai Amirul Mu’minin! Seandainya engkau tidak bisa buang air kecil sementara saja, apakah engkau mau menebusnya dengan dunia dan seisinya?” Ia menjawab: “Ya.” Lalu Ibnu as-Sammak berkata: “Wahai Amirul Mu’minin! Apa yang akan engkau perbuat dengan dunia yang tidak dapat membayar satu kali buang air kecil dan seteguk air?!”
Ini belum nikmat terbesar secara mutlak, yaitu nikmat Islam yang telah dianugerahkan kepadamu tanpa engkau harus memintanya, maka bagaimana keadaanmu jika engkau menghadirkan makna besarnya nikmat-nikmat ini saat menjalankan setiap ibadah yang engkau persembahkan untuk Tuhanmu? Saya yakin, menggugah jiwa dengan cara seperti ini saat menjalankan ibadah akan mengubah nilai ibadahmu. Bahkan hampir saya pastikan bahwa perasaan ini dapat mengubah hidupmu sepenuhnya.
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/0/150982/أعظم-محفز-على-العبادة
Hidupmu Kacau? Yakinlah, Semua itu Karena Dosa! #video ~7
Pentingnya Keikhlasan Dalam Seluruh Amal Ibadah
ومَا أُمِرُوْا إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…[Al-Bayyinah/98 : 5]
Segala Puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam Shalawat dam salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Shalalllahu ‘alaihi wa sallam Pembawa risalah yang haq ini sebagai rahmat bagi semesta alam kepada keluarganya para shahabatnya dan orang-orang yang setia mengikuti jejaknya hingga akhir zaman.
Berikut ini adalah pembahasan secara singkat hal-hal yang berkaitan dengan pentingnya “keikhlasan” dalam seluruh amalibadah. Sesungguhnya perkara paling mendasar dan terpenting dalam dien ini adalah mengikhlaskan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan, hal itu sebagai syarat utama diterimanya amal ibadah. Ikhlas adalah termasuk amalan hati yang perlu mendapatkan perhatian “istimewa” (secara mendalam) dan dilakukan dengan cara “istimrar” (terus menerus) di setiap kita hendak melakukan amalibadah, agar amalan kita menjadi bernilai di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
PENTINGNYA AMALAN HATI.
Telah kita ketahui bahwa pengertian iman menurut Ahlus Sunah adalah : Keyakinan dengan hati, ikrar dengan lisan, dan amalan dengan seluruh anggota badan, bertambah dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berkurang dengan perbuatan maksiat.
Perlu diketahui bahwa ikhlas adalah perkara terpenting dalam amalan hati, yang hal tersebut sangat erat hubungannya dengan pengertian iman tersebut di atas.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Amalan-amalan hati adalah termasuk pokok-pokok dari keimanan dan tonggak-tonggak agama Islam ini, seperti: mencintai Allah dan Rasul-Nya, bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengikhlaskan seluruh macam ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya dan berlaku sabar di atas hukum-hukum-Nya, khauf (perasaan takut kepada-Nya akan siksa atau adzab-Nya), raja (berharap) kepada-Nya…Semua amalan ini wajib atas seluruh makhluk berdasarkan kesepakatan para imam agama”.[1]
Ibnul Qayim juga menjelaskan keagungan amalan-amalan hati : Amalan–amalan hati ialah pokok adapun amalan–amalan anggota badan adalah pengikut dan penyempurna. Sesungguhnya niat sekedudukan dengan ruh, adapun amalan sekedudukan dengan jasad, sehingga apabila ruh telah terpisah dengan jasad maka binasalah. Oleh sebab itu mengetahui hukum – hukum hati lebih penting dari pada mengetahui hukum-hukum jasad.[2]
Hal inilah di antaranya yang mendorong kami untuk mengulas hal ini agar seluruh aktifitas kita sehari-hari tidak menemui kesia-siaan, yakni hampa, jauh dari berkah Allah atau Ramat-Nya, seolah-olah tiada nilainya aktifitas yang kita laksanakan setiap hari.
Niat berasal dari bahasa Arab, yang berarati tujuan. Sedangkan menurut istilah syara’ memiliki dua arti:
Ikhlash dalam beramal, yaitu semata-mata karena Allah, dan inilah yang sering dibicarakan oleh para Ulama ahli tauhid, suluk (perilaku) dan akhlak.
Membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lain, atau ibadah dengan kebiasaan. Istilah ini sering dipakai oleh ulama-ulama Fiqh.
Niat dipakai untuk membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan yang dilakukan oleh manusia), misalnya : Mandi, apabila dimaksudkan (niatkan) karena Allah semata untuk menghilangkan hadats besar (mandi junub misalnya) maka hal yang semacam itu akan menjadi ibadah, lain halnya apabila mandi semata-mata dimaksudkan untuk membersihkan badan atau mendapatkan kesegaran, maka hal itu menjadi adat (kebiasaan) saja.
Kemudian bahwa niat itu tempatnya di hati dan apabila di lafadzkan menjadi bid`ah.
KEDUDUKAN IKHLAS.
Sesungguhnya ikhlas adalah hakekat dien dan kunci dakwah para rasul, yakni menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan menjauhi thagut :
ومَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…[Al-Bayyinah/98: 5]
Yang dimaksud dengan ” (حُنَفَاءَ ) agama yang lurus” pada ayat di atas adalah terjauhkan dari perkara-perkara syirik dan menuju kepada tauhid. Di sinilah pentingnya ikhlash dalam selurus amal ibadah, agar amalan tersebut tidak sia-sia, dan tidak mendapat adzab dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Kemudian bahwa pengaruh ikhlas terhadap amalan itu sangatlah besar, amal yang kecil dan sedikit jika dilakukan dengan ikhlas dapat memperoleh pahala yang besar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam perkara ini mengatakan: “Suatu jenis amalan yang dikerjakan oleh manusia dengan menyempurnakan keikhlasannya dan ketundukkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terkadang Allah Subahnahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa besar dengan sebab amalan itu, sebagaimana hadits al-bithaqah (seorang yang memiliki satu kartu Laa ilaaha illa Allah, lalu diampuni dosa-dosanya sebanyak 99 lembaran catatan amal keburukan-red)…ini karena dia mengucapkan Laa ilaaha illa Allah dengan ikhlas dan jujur/benar, karena kalau tidak, maka para pelaku dosa besar yang masuk ke dalam neraka semuanya juga mengucapkan tauhid, tetapi perkataan mereka tidaklah lebih berat terhadap dosa-dosa mereka sebagaimana pemilik kartu (Laa ilaaha illa Allah) itu.”
Hadits pemilik kartu Laa ilaaha illa Allah itu, adalah sebagai berikut:
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَعَافِرِيِّ ثُمَّ الْحُبُلِيِّ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ الهِb بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ الهَِ n إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلاً مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلاَّ كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَفَلَكَ عُذْرٌ فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الهُب وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ احْضُرْ وَزْنَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَقَالَ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ فَلاَ يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ الهِق شَيْءٌ
Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu , dia berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengadili salah seorang laki-laki dari ummatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu ditunjukan kepada laki-laki tersebut 99 catatan (amal keburukan), setiap satu catatan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepada laki-laki tersebut: ”Apakah kau ingkari dari semua ini (kedzaliman yang telah kau perbuat)? Apakah para malaikat-Ku pencatat dan penjaga amalan menzhalimimu? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. Lalu Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Apakah engkau punya alasan (berbuat kezhaliman itu)? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. Kemudian Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Ya benar, tetapi sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan sesungguhnya tidak ada kedzaliman atasmu pada hari ini. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan sebuah kartu kecil yang di dalamnya terdapat : Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhamadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada orang tersebut: “Datangkan timbanganmu”, maka orang tersebut berkata: “Ya Tuhan untuk apa kartu kecil ini dibandingkan dengan catatan (amal keburukan) ini ?”, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada orang tersebut: “Sesungguhnya pada hari ini tiada kedzaliman”. Maka diletakkanlah catatan itu pada salah satu daun timbangan, dan kartu kecil itu diletakan pada satu daun timbangan yang lain. Maka jadi ringanlah catatan-catatan `amal keburukan itu dan beratlah kartu kecil tersebut, maka tiadalah sesuatupun yang menjadi berat dibandingkan dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. [HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i].
PENGERTIAN IKHLAS DAN BATASNNYA
Ada beberapa pengertian tentang ikhlas yang disebutkan oleh ulama, antara lain :
Diantaranya ada yang mengatakan : Ikhlas ialah “Menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya tujuan di dalam menjalankan ketaatan”.
Ada juga yang mengatakan : “Ikhlas ialah membersihkan perbuatan dari mencari pandangan manusia”.
Al-Harawi berkata: “Ikhlas ialah membersihkan amalan dari setiap noda”.
Dan sebagian yang lain ada yang mengatakan: “Orang yang mukhlis ialah orang yang tidak perduli, seandainya hilang seluruh penghormatan kepadanya di dalam hati manusia, untuk kebaikan hatinya bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dia tidak suka manusia mengetahui amalannya walaupun seberat debu. Allah.
Tidak diragukan lagi bahwa keikhlasan membutuhkan kesungguhan yang tinggi hingga seorang hamba meraihnya dengan sempurna.
PENGERTIAN RIYA’, SUM’AH, UJUB
Telah kita ketahui bahwa keikhlasan dapat dihilangkan oleh beberapa perkara, seperti: mencintai dunia, kemasyhuran, kemuliaan, riya’, sum’ah dan ujub.
Riya ialah melakukan `ibadah dengan tujuan dilihat oleh manusia, sehingga orang yang riya’ itu mencari pengagungan, pujian, harapan atau rasa takut terhadap orang yang dia berbuat riya’ karenanya.
Sum’ah adalah amalan yang dilakukan dalam rangka agar didengar orang lain, misalnya memperdengarkan bacaan Al-Qur’an atau yang lainnya.
Ujub adalah teman riya, yaitu perasaan bangga terhadap diri sendiri atas kemampuan yang dimiliki secara berlebihan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membedakan antara keduanya (antara riya dan ujub ).
a. Riya adalah salah satu bentuk dari syirik kepada makhluk.
b. Adapun ujub adalah bentuk dari pada syirik kepada diri sendiri.[3]
DIANTARA BENTUK-BENTUK RIYA, UJUB DAN SUM’AH
- Riya dalam ibadah sholat, misalnya : Memperbaiki posisi atau gerakan shalat karena mengetahui bahwa dia sedang diperhatikan oleh orang yang dianggap lebih ‘alim atau lainya.
- Riya atau sum’ah dalam kepribadian misalnya : Karena di karuniai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala suara yang merdu misalnya, maka timbulah penyakit riya
atau ujub ini pada nimat tersebut; Mengeraskan/ menbaguskan bacaan dalam membaca Al-Qur`an atau ketika mengumandangkan adzan dengan harapan ingin mendapatkan pujian atau agar diakui bahwa dia memiliki suara yang bagus atau merdu. Pada hakekatnya membaguskan suara dalam membaca Al-Qur’an, dengan tidak dibuat-buat atau berlebih-lebihan merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sabadanya:
زَيِّنُوْا اْلقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ.
Baguskanlah (bacaan) Al-Qur`an dengan suara kalian [4]
- Ujub atau Riya dalam berdakwah misalnya : Berceramah, menasehati orang, atau mentahdzir (memberi peringatan terhadap seseorang) dengan niat agar dikenal sebagai seorang penasehat, ahli pidato dengan harapan agar semua orang memujinya atau menyanjungnya. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari semua perkara ini. Hendaklah kita ikhlash dalam berda`wah agar orang yang mendengarnya pun menerima dengan ikhlash (yakni : mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala)
- Riya atau Ujub dalam menuntut ilmu : Yaitu berbangga dengan ilmu yang dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya atau menuntut ilmu hanya dalam rangka ingin menjadi seorang yang ahli dalam berdebat, bukan mengharapkan wajah Allah atau mencari berkah dari Allah atas ilmu yang dimilikinya. Sehingga ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan tidak mampu membawa dia ke dalam kebahagian di dunia ataupun diakhirat. Padahal rasulullah telah memperingatkan dengan keras bagi para penuntut ilmu dengan ancaman tidak akan mendapatkan bau surga, apabila mempelajari suatu ilmu dalam rangka untuk mencari dunia semata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا
Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala ; tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat kelak.[5]
- Riya atau Ujub ketika bershadaqah, misalnya : Memperlihatkan harta yang telah dishadaqahkan, atau mengungkit-ungkit kembali pemberian yang telah lalu dengan harapan agar disebut sebagai seorang dermawan.
PENAWAR RIYA
Adapun di antara cara-cara mengobati riya adalah sebagi berikut:
- Mengetahui seluk beluk riya itu sendiri dan takut terhadapnya. Sebagaimana hal tersebut adalah perkara yang paling ditakutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
” إِنَّ أَخْوَفُ مَا أَخَا فُ عَلَيكْمُ الشِّرْكُ اْلأَ صْغَر. قَا لوُا وَمَا الشِّرْكُ اْلأَ صْغَرُ يَا رَسُوْلُ الله ؟ قال : ” الرِّيَاءُ “.يقول الله تعالىيوم القيامة, إذا جازى الناس بأعمالهم : اذهبوا إلى الذين كنتم تراؤون في الدنيا فانظروا هل تجدون جزاء؟”
Sesungguhnya yang paling kutakutkan dari perkara yang aku takutkan atas kalian ialah syirik kecil. Para shahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu wahai rasulullah? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Riya’, Pada hari kiamat , ketika membalas amalan-amalan manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berfirman: “Pergilah kepada orang yang kamu dahulu sewaktu di dunia berbuat riya’ kepadanya, dan lihatlah apakah kamu dapakan balasan (pahala) darinya? [6]
- Memberikan sanjungan atau pujian hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sumber dari segala kebaikan; maka hanya Allahlah yang berhaq mendapatkan pujian:
الحمد لله رب العالمين
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. [Al-Fatihah/1 :2]
- Mengingat mati dan sekaratnya, hari akhir dan kedahsyatan adzabnya, kubur dan kerasnya siksa yang diberikan karena dosa-dosa yang diperbuat selama di dunia. Keadaan di kubur yang sunyi, gelap gulita dan sempit, tidak ada ibu dan bapak atau orang-orang yang dicinta di dekatnya.
- Melihat akibat riya’, baik di dunia maupun diakhirat.
Maka perlu diketahui oleh setiap orang bahwa seandainya seluruh manusia berkumpul dalam rangka memberikan manfaat kepada siapapun, maka tiadalah mereka mampu memberikannya kecuali sesuatu itu telah ditentukan oleh Allah Subhanhau wa Ta’ala baginya; Oleh sebab itu sebagian orang-orang salaf mengatakan: “Bersungguh-sungguhlah dalam mencegah timbulnya riya` darimu, anggaplah orang lain bagimu seperti binatang dan anak-anak, janganlah kau bedakan adanya mereka atau tidak adanya, mereka tahu atau tidak tahu, cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang mengetahuinya.
Kemudian singkirkan perasaan ingin dipuji ketika (syetan menggoda), dengan do’a-do’a yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti:
أعوذ الله من الشيطان الرجيم
Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.
Adapun akibat riya di akhirat antara lain ; sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ الهُ بِهِ وَمَنْ رَاءَى رَاءَى الهُ بِهِ
Barang siapa (yang beramal) ingin didengar maka Allah akan memperdengarkannya dan barang siapa (beramal) ingin dilihat maka Allah pun akan memperlihatkannya.[7]
Artinya : Bila seseorang beramal hanya ingin didengar atau dilihat orang lain maka itulah yang akan dia dapatkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Sempurna tidak butuh sekutu-sekutu tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Aku adalah Yang paling tidak butuh sekutu, barangsiapa yang mengamalkan suatu perbuatan, yang di dalamnya dia menyekutukanKu dengan selain Aku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.[8]
- Memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar senantiasa berlaku ikhlas dalam segala amal ibadah dan berlindung dari-Nya dari riya. Seorang mu
min atau muminah hendaklah tunduk, berserah diri kepada-Nya, berusaha semaksimal mungkin menghindarkan diri dari riya, sum’ah dan ujub; dan memperbanyak dzikir (mengingat Allah kapan saja di manapun berada) dan berdo`a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana do’a-do’a yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam antara lain :
الشرك فيكم أخفى من دبيب النمل. وسأدلك على شيءٍ إذا فعلته أذهب عنك صغار الشرك وكبيره . تقول: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْ ذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَناَ أَعْلَمُ, وَاسْتَغْفِرُكَ لمِاَ لاَ أَعْلَمُ.
Kesyirikan yang ada pada kalian lebih tersembunyi merayapnya seekor semut, dan aku akan memberitahukan sesuatu kepadamu apabila hal itu kau kerjakan, maka akan menghilangkan kesyirikan kecil dan besar darimu. Yaitu engkau mengatakan (berdo’a): “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari mensekutukan-Mu sedangkan saya mengetahuinya dan aku berlindung kepada-Mu dari apa-apa yang aku tidak aku tahu.”[9]
Wallahu A’lam.
(Disadur oleh Abdul Wahid dari kitab Al-Ikhlash Wasy Syirkul Ashghar, karya Syeikh Abdul Aziz Ali Abdul Lathif dan tambahan dari sumber lain)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun V/1422H/2001M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
Footnote
[1] Majmu’ Al-Fatawa 10/5 dan 20/70
[2] Badai`ul Fawaaid 3/224
[3] Al-Fatawa:10/277
[4] HR.Abu Dawud dan Ahmad
[5] HR.Abu Dawud
[6] HR. Ahmad, At-Thabrani dan Al-Baihaqi
[7] HR. Bukhari & Muslim
[8] HR. Muslim dari Abu Hurairah
[9] Shahih Jami’ ash-Shaghir 3/332
Referensi : https://almanhaj.or.id/10672-pentingnya-keikhlasan-dalam-seluruh-amal-ibadah-2.html
Manfaatkan Setiap Waktu dan Berhentilah Menunda!
Oleh:
Abu Hatim Said Al-Qadhi
Dulu Imam Al-Bukhari Rahimahullahu beranjak tidur, lalu terlintas pada diri beliau suatu ide tentang ilmu. Beliau pun bangun lagi untuk mencatatnya. Lalu beliau kembali tidur. Sering kali beliau melakukan ini belasan kali dalam satu malam, beliau bangun lalu menyalakan pelita dan mencatat, lalu kembali tidur. Beliau tidak menunda penulisan ide yang berharga itu ke hari esok, karena bisa jadi ketika hari esok tiba tanpa mencatatnya, beliau telah melupakannya.
Dulu ada banyak ilmu yang terlintas di kepala Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah, tapi beliau tidak menulisnya dan percaya diri akan mengingatnya nanti lalu menulisnya kelak. Namun, beliau menyadari bahwa itu adalah kerugian yang besar. Beliau pun bertekad untuk mencatat setiap ide yang terlintas dalam pikiran di buku beliau tanpa menunda dan menangguhkannya. Beliau berkata: “Ketika ide-ide yang melintas di pikiran berkeliaran menelusuri berbagai hal yang datang silih berganti lalu berpaling dan menghilang begitu saja, maka hal yang paling utama untuk dilakukan adalah mencatat apa yang terlintas tersebut agar tidak terlupakan. Betapa sering terlintas sesuatu di benakku, namun aku sibuk sehingga tidak sempat mencatatnya lalu ia hilang, dan aku pun menyesalinya. Oleh sebab itu, aku menulis buku ini sebagai pengikat bagi ‘buruan’ pikiran yang terlintas.”
Pintu yang paling berbahaya yang dapat disusupi oleh setan kepada seorang hamba adalah panjang angan-angan, impian-impian kosong yang menjadikan pemiliknya berada dalam kelalaian parah dari akhirat, dan keterbuaian dengan perhiasan kehidupan dunia. Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri Rahimahullah bahwa beliau berkata: “Tidaklah seorang hamba memperpanjang angannya, melainkan ia akan buruk dalam beramal.”
Ada ungkapan yang berbunyi: “Empat perkara yang termasuk kesengsaraan, kejumudan pandangan, kerasnya hati, panjangnya angan, dan ketamakan terhadap dunia.”
Dikatakan juga: “Angan-angan adalah lautan tanpa tepi yang diarungi oleh orang-orang bangkrut dari para pengejar dunia.”
Dalam hadis hasan dengan banyak jalurnya disebutkan bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Kebaikan generasi awal umat ini adalah dengan kezuhudan dan keyakinan, dan kebinasaannya dengan kepelitan dan angan-angan.”
Panjang angan akan melenyapkan waktumu dalam menyibukkan diri dengan hal yang mengandung manfaat dan faedah bagimu. Sedangkan pendek angan akan menjadikanmu bersiap-siap untuk urusanmu yang penting, sehingga engkau tidak diwafatkan dalam keadaan lalai.
Abdul Haq Al-Isybili Rahimahullah berkata: “Panjang angan akan membuat malas dalam beramal, mendatangkan kelesuan dan penundaan, menghasilkan kesibukan dengan hal yang tidak berguna dan kemalasan, dan menarik kepada kenikmatan duniawi dan condong kepada hawa nafsu. Ini merupakan hal yang dapat disaksikan secara nyata, sehingga tidak perlu penjelasan dan tidak perlu dimintai bukti. Adapun pendek angan akan mendorong pemiliknya untuk beramal, membawanya untuk bersegera, dan memantiknya untuk berlomba dalam kebaikan.”
Jangan terlalu tenggelam ke dalam mimpi-mimpi dan mengejar kesempurnaan yang tidak ada wujudnya dalam kenyataan, sehingga engkau menunda apa yang dapat dikerjakan sekarang hanya karena ingin meraih keadaan yang lebih sempurna di hari esok. Mulailah sekarang juga dan kerahkanlah usahamu, niscaya engkau akan mewujudkan mimpi-mimpimu seiring dengan berjalannya waktu. Namun, apabila engkau hanya duduk di tempat dan bersandar dengan apa yang dibawa oleh hari esok, maka engkau tidak akan melangkah satu pun langkah ke depan.
أيها السكرانُ بالآمال قد حان الرحيل
فانتبه من رقدة الغفلة فالعمر قليل
واطرح “سوف” و”حتى” فهما داءٌ دخيل
Wahai orang yang mabuk angan-angan, telah datang waktu untuk beranjak
Maka bangunlah dari lelap kelalaian, karena umur ini terbatas
Buanglah “nanti” dan “sampai”, sebab keduanya adalah penyakit yang merasuki
Berapa kali engkau katakan: “Saya akan bertaubat besok!”? Engkau telah mengatakannya berkali-kali, dan inilah setelah berlalu bertahun-tahun, engkau masih dalam kemaksiatan dan dosa-dosamu. Wahai engkau, sampai kapan kiranya akan berkata “besok”? Dan jika hari esok telah datang, apakah engkau masih hidup atau sudah menjadi ahli kubur? Betapa banyak orang yang mengatakan: “Saya akan bertaubat besok” lalu ia tidur tapi tidak pernah bangun lagi.
يَا مَنْ يَعُدُّ غَدًا لِتَوْبَتِهِ أَعَلَى يَقِينٍ مِنْ بُلُوغِ غَدِ؟
Wahai orang yang menanti hari esok untuk bertaubat, Apakah engkau yakin bisa sampai ke hari esok?
الْمَرْءُ فِي زَلَلٍ عَلَى أَمَلٍ وَمَنِيَّةُ الْإِنْسَانِ بِالرَّصَدِ
Orang sering kali tergelincir dalam kesalahan karena buaian angan, Padahal kematian selalu mengintai manusia.
أَيَّامُ عُمْرِكَ كُلُّهَا عَدَدٌ وَلَعَلَّ يَوْمُكَ آخِرَ الْعَدَدِ.
Hari-hari umurmu hanyalah hitungan yang terbatas, Dan mungkin harimu ini adalah akhir dari hitungan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى * يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
“Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Dia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.’” (QS. Al-Fajr: 23-24).
Pada hari kiamat, manusia menyesali umurnya yang telah berlalu. Hari-harinya habis dalam kemaksiatan terhadap Tuhannya, hingga kematian menjemputnya tanpa sempat bertaubat dari dosanya. Ia melenyapkan kehidupan dunianya dengan ucapan: “Saya akan bertaubat besok!”
Tinggalkanlah angan-angan dan berhentilah menunda. Jangan katakan: “Besok saya bertaubat!” tapi bertaubatlah saat ini juga. Jangan biarkan dosa-dosa menumpuk di hatimu, sehingga bebanmu semakin berat dan imanmu semakin lemah. Setiap dosa yang engkau tunda taubatnya akan menjadi beban bagimu.
تُؤَمِّلُ أَنَّكَ يَوْمًا تَتُوبُ وَتَشْكُو الذُّنُوبَ وَأَنْتَ الذَّنُوبُ
Engkau berangan-angan akan bertaubat suatu hari nanti, Engkau mengeluhkan dosa-dosa, padahal engkau sendiri pelakunya.
وَفِي كُلِّ يَوْمٍ تَبُوءُ بِذَنْبٍ وَعَيْبٍ يُضَافُ لِبَاقِي الْعُيُوبِ
Setiap hari engkau kembali menghadirkan dosa baru, Juga aib yang menambah deretan aib-aib lainnya.
تُؤَمِّلُ أَنَّكَ تَحْيَا طَوِيلًا وَشَمْسُكَ مَالَتْ وَحَانَ الْغُرُوبُ.
Engkau berharap dapat hidup dalam waktu lama, Padahal mentari hidupmu telah condong dan beranjak tenggelam.
Mulailah sekarang dan hentikanlah menunda! Langkahkan kakimu di permulaan jalan, niscaya engkau akan menemukan kemudahan dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada ungkapan yang berbunyi: “Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah!” Engkau harus memulai dengan jujur dan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan menyempurnakannya. Adapun jika engkau terus menunda dan menangguhkan, waktumu akan lenyap dan umurmu akan habis sedangkan engkau masih di tempatmu. Jangan katakan besok saya akan bertaubat, besok akan bersedekah, karena jika waktu telah berlalu, ia tidak akan kembali.
“Esok saya akan bertaubat! Esok saya akan mendirikan salat malam! Kelak saya akan menghafal Al-Qur’an! Kelak saya akan menjaga salat!” Berapa kali engkau telah mengulang-ulang kalimat ini, tapi akhirnya engkau tetap tidak melakukan apa pun, hari demi hari bahkan tahun demi tahun engkau masih saja mengulang-ulang kalimat yang sama?!
Ibnu Al-Mu’taz berkata:
جَدَّ الزَّمَانُ وَأَنْتَ تَلْعَبُ الْعُمْرُ فِي لَا شَيْءٍ يَذْهَبُ
Waktu berlalu dengan pasti, sementara engkau masih main-main saja, Umur akan habis juga meski dipakai untuk kesia-siaan.
كَمْ قَدْ تَقُولُ غَدًا أَتُوبُ غَدًا غَدًا وَالْمَوْتُ أَقْرَبُ
Betapa sering engkau katakan: Aku akan bertaubat, Esok dan esok, padahal kematian itu lebih dekat.
Ada juga ungkapan: “Teriakan penghuni neraka yang paling banyak adalah karena menunda-nunda!”
Bayangkanlah seandainya dikatakan kepadamu: “Besok engkau akan mati!” Apa yang akan engkau perbuat? Apakah engkau akan bertaubat dari dosa-dosamu hari ini? Apakah engkau sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhanmu? Apakah engkau meningkatkan salat dan puasamu?
Abdurrahman bin Mahdi Rahimahullah berkata: “Seandainya dikatakan kepada Hamad bin Salamah bahwa engkau akan mati besok, niscaya beliau tidak akan menambah amalan apapun. Adz-Dzahabi Rahimahullah menjelaskan: ‘Sebab dulu waktunya sudah penuh dengan ibadah dan membaca wirid.’”
Diriwayatkan dari Abu Uwanah Rahimahullah, ia berkata: “Seandainya dikatakan kepada Manshur bin Zadzan: engkau akan mati besok! Niscaya beliau sudah tidak dapat menambah ibadah lagi.”
Tidak ada orang yang dapat menjamin dirinya masih hidup besok. Bisa jadi hari esok datang kepadamu, sedangkan engkau sudah menjadi penghuni kubur. Bagaimana kondisimu jika kematian menghampirimu, sedangkan engkau membuang-buang umurmu dalam angan-angan dan mimpi-mimpi kosong, sehingga engkau menghadap Tuhanmu dengan penuh beban dosa dan kemaksiatan?
Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri Rahimahullah, ia berkata: “Janganlah sekali-kali engkau menunda-nunda, karena eksistensimu adalah dengan harimu ini, bukan dengan hari esok. Apabila engkau masih hidup di hari esok, maka jadikanlah hari esok itu seperti engkau hari ini. Dan apabila engkau sudah tidak punya esok lagi, maka engkau tidak akan menyesal atas kelalaian yang kamu lakukan hari ini.”
Ada ungkapan yang berbunyi: “Menunda-nunda adalah modal bagi orang-orang bangkrut.”
Menunda-nunda pada hakikatnya adalah angan-angan dan mimpi-mimpi tak berharga, kecuali jika selalu diiringi dengan tekad, keuletan, keseriusan, dan kesungguhan. Ia adalah sifat yang menjadi musuh bagi orang yang ingin kebaikan dan peningkatan. Ia merupakan senjata yang dipakai setan untuk mengalihkan manusia dari kebaikan, dan menetapkan mereka dalam kemalasan dan kegagalan.
Al-Ghazali Rahimahullah berkata: “Perumpamaan orang yang suka menunda tidak lain adalah seperti orang yang harus mencabut suatu pohon. Ia menganggap pohon itu sangat kokoh, tidak dapat dicabut kecuali dengan usaha keras. Ia lalu bergumam: ‘Aku akan menundanya hingga tahun depan, saya akan kembali ke sini kelak.’ Padahal ia mengetahui bahwa pohon itu semakin lama akan semakin kokoh, sedangkan dirinya semakin tua akan semakin lemah, sehingga tidak ada orang di dunia ini yang lebih bodoh daripada dirinya, karena ia merasa tidak mampu meskipun sebenarnya punya kekuatan untuk melawan pihak yang lemah, lalu ia menunggu datangnya kemenangan saat dirinya telah lemah dan pihak yang lemah telah menjadi kuat.”
Hal terburuk dalam sifat menunda-nunda dan menangguhkan adalah sikap yang menjadikan itu sebagai kebiasaan. Padahal kebiasaan buruk hanya akan menambah kesulitan dan masalah, serta menjadikan urusan semakin pelik. Seorang penulis Amerika, Olin Miller berkata: “Apabila engkau ingin menjadikan urusan mudah terlihat susah, maka cukup tunda saja urusan itu beberapa waktu.”
Ingatlah, umurmu akan hilang begitu saja apabila engkau menyerah kepada penyakit kronis ini, yaitu penyakit menunda-nunda. Engkau tidak akan maju meski hanya selangkah ke depan, kecuali dengan memotong tali penundaan ini, dan mulai mengejar tujuan dan mimpi-mimpimu saat ini juga.
Mulailah mengatur ulang prioritas dan jadwal hidupmu. Buatlah setiap tugas punya waktu mulai dan selesainya. Jangan biarkan tugas-tugasmu dengan waktu yang bebas, karena mengetahui bahwa tugas itu punya waktu terbatas dapat menjadi penyemangat yang kuat untuk menyelesaikannya secepat mungkin.
Tetapkanlah tujuanmu, melangkahlah kepadanya dengan penuh tekad dan keuletan, serta berhentilah menunda-nunda, karena itu akan melenyapkan mimpi-mimpi dan tujuanmu. Evaluasi dirimu setiap harimu berakhir, dan coba cari sebab kelalaian dan kekurangannya, serta belajarlah dari kesalahan-kesalahanmu hari ini supaya hari esokmu lebih cerah.
Terkadang menunda adalah sikap yang benar jika ada tujuannya sendiri, terkadang itu benar jika punya hasil yang positif, terkadang itu benar jika tidak menjadi penghalang dalam menyelesaikan tugas dan mengambil keputusan dalam waktu terbatas. Terkadang itu benar dalam beberapa kondisi, tapi sering sekali menunda itu sikap yang salah dan menimbulkan kerugian.
Dalam Diwan Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah disebutkan:
تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي إِذَا جُنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيشُ إِلَى الْفَجْرِ
Berbekallah dengan takwa karena engkau tidak tahu, Apabila malam telah gulita apakah engkau masih hidup hingga fajar.
فَكَمْ مِنْ سَلِيمٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ وَكَمْ مِنْ سَقِيمٍ عَاشَ حِينًا مِنَ الدَّهْرِ
Betapa banyak orang sehat yang wafat tanpa sebab penyakit, Dan betapa banyak orang sakit yang tetap hidup beberapa waktu lamanya.
وَكَمْ مِنْ عَرُوسٍ زَيَّنُوهَا لِزَوْجِهَا وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهَا وَهِيَ لَا تَدْرِي
Betapa banyak pengantin yang dirias untuk suaminya, Padahal kain kafannya sedang ditenun tanpa ia menyadarinya.
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/0/137551/اغتنم-اللحظة-واقطع-حبال-التسويف
#carousel




Noda di Hati yang Membandel
Banyak orang yang sangat memperhatikan penampilan lahiriah. Ketika baju terkena sedikit noda, akan segera dicuci dan tidak rela membiarkan noda tadi membandel. Sejatinya perilaku seperti ini tidaklah mengapa. Sebab Islam memang menyukai penampilan yang indah dan mencintai kebersihan. Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
“Sesungguhnya Allah Maha indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ûd radhiyallahu ’anhu)
Namun, amat disayangkan, kerap perhatian kita terhadap kebersihan luar tidak sebanding dengan perhatian kita terhadap kebersihan dalam. Alias kita lebih memperhatikan penampilan lahiriah dibanding penampilan batin. Padahal dampak buruk kotornya hati, jauh lebih berbahaya dibanding dampak kotornya baju. Sebab akan terasa hingga di akhirat.
Perlu diketahui, bahwa sebagaimana noda di atas baju jika dibiarkan akan membandel. Begitu pula halnya saat noda dalam hati tidak segera dibersihkan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelaskan,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}
“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)
Bukanlah aib manakala seorang hamba terjerumus kepada perbuatan dosa, sebab tidak mungkin manusia biasa suci dari dosa. Namun aib itu bilamana setelah terjerumus kepada perbuatan dosa, seorang insan tidak segera memperbaikinya, malah justru ia semakin tenggelam dalam kubangan dosa. Nabiyullah shallallahu ’alaihi wasallam menasehatkan,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُ كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا
“Bertakwalah kepada Allah kapanpun dan di manapun engkau berada. Serta iringilah perbuatan buruk dengan kebajikan supaya ia bisa menghapuskannya.” (HR. Tirmidzy dari Abu Dzar radhiyallahu ’anhu. Hadits ini dinyatakan sahih oleh Al-Hakim)
Mari kita berusaha untuk terus menerus menjaga kebersihan hati kita. Tidak hanya sekedar memperhatikan kebersihan pakaian luar kita!
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِى تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا
“Ya Allah, karuniakan ketakwaan pada jiwaku. Sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya.” (HR. Muslim dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ’anhu)
—
@Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh, Purbalingga, Kamis, 22 Shafar 1435/ 26 Desember 2013
Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA.
sumber: https://muslim.or.id/19817-noda-di-hati-yang-membandel.html
Sungguh Tuhanmu Maha Luas Ampunan-Nya
Oleh:
Abu Hatim Said al-Qadhi
Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Luas ampunan-Nya, Dia mengampuni para hamba-Nya atas segala dosa dan sebesar apa pun dosanya apabila mereka memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Beritahukanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hijr: 49).
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).
Perhatikan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: “Wahai hamba-hamba-Ku” suatu seruan lembut dan penuh kasih sayang. Kemudian Dia berfirman: “yang melampaui batas terhadap diri mereka” ini untuk menunjukkan kepadamu bahwa sebanyak apa pun dosa-dosa seorang hamba, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap akan mengampuninya. Kemudian Allah menegaskannya dengan firman-Nya: “Janganlah kalian berputus asa” dan juga dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa semuanya.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70).
Dan kata “كَانَ” dalam ayat ini bukan kata yang menunjukkan makna masa lampau saja, tetapi di masa lampau dan seterusnya. Dia selalu dan terus menjadi Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ
“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32).
Ampunan-Nya mampu meliputi seluruh hamba-Nya apabila mereka bertaubat, dan dapat mencakup seluruh dosa sebesar apa pun itu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ
“Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran kecuali jika Allah menghendaki. Dialah yang berhak ditakuti (ditaati) dan berhak memberi ampunan.” (QS. Al-Muddassir: 56).
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Setan menjanjikan kalian kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kalian ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268).
Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan sesuatu kepadamu, maka yakinlah bahwa janji-Nya pasti benar dan Dia tidak akan mengingkari janji.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia atas kezaliman mereka, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 6).
Meskipun dosa-dosa mereka banyak, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap mengampuni dosa-dosa mereka dan menghapus keburukan-keburukan mereka apabila mereka memohon ampun dan insaf.
Seorang ulama mengatakan bahwa nama Allah Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan semua turunan katanya dan sifat ampunan-Nya disebutkan sebanyak lebih dari seratus lima puluh kali dalam Al-Qur’an.
Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ، وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ، وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا، وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً، وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً
“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Barang siapa datang dengan satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya dan Aku tambah lagi. Dan barang siapa datang dengan satu keburukan, maka balasannya satu keburukan yang semisalnya atau Aku ampuni. Barang siapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Barang siapa datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya berlari. Dan barang siapa menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Muslim no. 2687).
Bayangkanlah seandainya engkau berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membawa dosa-dosa sepenuh, seberat, seluas, dan seukuran bumi. Hanya saja engkau tidak boleh menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Dia mengampuni dosa-dosamu seluruhnya jika memang engkau menghendaki ampunan-Nya.
يَا رَبِّ إِنْ عَظُمَتْ ذُنُوبِي كَثْرَةً فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمُ
Wahai Tuhanku, apabila dosa-dosaku begitu besar dan banyak, Sungguh aku tahu ampunan-Mu jauh lebih besar.
إِنْ كَانَ لَا يَرْجُوكَ إِلَّا مُحْسِنٌ فَمَنِ الَّذِي يَدْعُو وَيَرْجُو الْمُجْرِمُ
Jika tidak ada yang berharap kepada-Mu kecuali orang baik, Lalu kepada siapa pelaku dosa akan berdoa dan berharap?
أَدْعُوكَ رَبِّ كَمَا أَمَرْتَ تَضَرُّعًا فَإِذَا رَدَدْتَ يَدِي فَمَنْ ذَا يَرْحَمُ
Wahai Tuhanku, aku berdoa kepada Engkau penuh ketundukan seperti yang Engkau perintahkan, Maka jika Engkau menolak tanganku, siapa lagi yang akan mengasihi?
مَا لِي إِلَيْكَ وَسِيلَةٌ إِلَّا الرَّجَا وَجَمِيلُ عَفْوِكَ ثُمَّ أَنِّي مُسْلِمٌ
Tidak ada perantara bagiku menuju Engkau kecuali rasa harap, Juga keindahan ampunan-Mu serta aku sebagai seorang Muslim.
Seorang hamba tidak boleh mengucapkan: “Ampunilah aku jika Engkau menghendaki.” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ، لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ
“Janganlah salah seorang di antara kalian berkata: ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau; Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau mau.’ Hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam memohon, karena tidak ada yang dapat memaksa-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6339 dan Muslim no. 2679).
Allah Ta’ala mendorong Nabi-Nya untuk beristighfar
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan Nabi-Nya Shalallahu Alaihi Wassalam untuk beristighfar yang Dia sampaikan dalam lebih dari satu ayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 106).
فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ
“Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu, serta bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (QS. Ghafir: 55).
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan mohonlah ampun untuk dosamu serta untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19).
Seorang ulama mengatakan: “Pujian (kepada Allah) yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: La ilaha illallah, dan doa yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: Astaghfirullah.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3).
Saya bertanya kepada engkau, wahai saudaraku! Menurutmu apa dosa yang telah dilakukan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam sehingga beliau memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Dan jikalau Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah melakukan dosa, bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang? Sesungguhnya ini merupakan risalah bagimu agar memperbanyak istigfar, meskipun engkau tidak mengetahui dosa apa yang telah engkau perbuat.
Perintah Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya agar segera beristighfar
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ
“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Ali Imran: 133). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ
“Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Al-Hadid: 21).
Perhatikanlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya sekedar memerintahkan untuk beristigfar, tetapi mengajak untuk bersegera dan bergegas beristigfar, maka bersegera dan bergegaslah, wahai Muslim! Jangan menunda dan menangguhkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ
“Dan Allah mengajak (manusia) menuju surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 221).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil: 20).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa. Maka tetaplah kalian di jalan yang lurus menuju-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan celakalah bagi orang-orang musyrik.” (QS. Fussilat: 6).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 74).
Perhatikanlah dengan seksama firman Tuhanmu ini, lalu katakanlah: “Kami mendengar dan kami akan menaati.” Hendaklah hati dan lisanmu senantiasa beristigfar memohon ampun kepada Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jangan pernah bosan atau putus harapan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru para hamba-Nya: “Apakah ada orang yang memohon ampun?”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
إِذَا مَضَى شَطْرُ اللَّيْلِ – أَوْ ثُلُثَاهُ – يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى؟ هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ؟ حَتَّى يَنْفَجِرَ الصُّبْحُ
“Apabila telah berlalu separuh malam – atau dua pertiganya – maka Allah Tabaraka wa Ta’ala akan turun ke langit dunia, lalu berfirman: ‘Adakah orang yang meminta untuk Kuberi? Adakah orang yang berdoa untuk Kukabulkan? Adakah orang yang memohon ampun untuk Kuampuni?’ dan terus seperti itu hingga waktu fajar.” (HR. Muslim no. 758).
Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku! Betapa agung, mulia, dan pengasihnya Engkau! Maha Kaya terhadap makhluk-Nya, Maha Esa dalam kerajaan-Nya, tidak mendatangkan mudharat bagi-Nya kekafiran orang-orang yang ingkar, tidak mendatangkan manfaat bagi-Nya keimanan orang-orang yang bersyukur. Namun, meskipun begitu Dia menyeru para hamba-Nya setiap malam: Apakah ada yang memohon ampun? Apakah ada yang bertaubat? Dia membuka bagi mereka keluasan rahmat-Nya, mengajak mereka untuk bertaubat dan memohon ampun.
وَلَمَّا قَسَا قَلْبِي وَضَاقَتْ مَذَاهِبِي جَعَلْتُ الرَّجَا مِنِّي لِعَفْوِكَ سُلَّمًا
Ketika hatiku telah keras dan usaha-usahaku seakan tak berarti lagi, Aku jadikan harapanku kepada ampunan-Mu sebagai tangga.
تَعَاظَمَنِي ذَنْبِي فَلَمَّا قَرَنْتُهُ بِعَفْوِكَ رَبِّي كَانَ عَفْوُكَ أَعْظَمَا
Dosaku terasa begitu besar bagiku, tetapi ketika aku bandingka, Dengan ampunan-Mu, wahai Tuhanku, ternyata ampunan-Mu jauh lebih besar.
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/11875/125313/إن-ربك-واسع-المغفرة
Kapan Mengangkat Tangan Ketika Shalat #shorts
Definisi Makna Sejati Sabar Dalam Islam
Pertanyaan:
بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Afwan izin bertanya bagaimana ustadz saat kita terima gangguan dari orang lain kita memperlihatkan kalau kita bisa sabar atas gangguan itu tapi di dalam hati kita mencaci orang tersebut apa masih dikatakan sabar?
جزاك اللهُ خيراً
Jawaban:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ
Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
Para ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan kata ‘sabar’. Meskipun berbeda-beda istilahnya akan tetapi maknanya sama. Yaitu menahan diri dari melakukan atau mengucapkan hal yang dilarang oleh syariat.
Berdasarkan hal ini, maka ketika kita bisa menahan diri dari mengucapkan sesuatu yang buruk atau melakukan sesuatu yang tercela, maka kita termasuk dalam definisi sabar, meskipun hati kita masih marah.
Allah berfirman :
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran : 134)
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat itu bukanlah orang yang jago bergulat. Akan tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah” (Muttafaq ‘Alaih: Hadits Shahih Al-Bukhari no. 6114 & Muslim no. 2609)
ومن كظم غيظاً ، ولو شاء أن يمضيه أمضاه ، ملأ الله قلبه رضاً يوم القيامة
“Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhoan di hari Qiyamat.” (HR. Thabrani)
Akantetapi yang lebih utama adalah memafkannya.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Achmad Nur Hanafi, Lc. حافظه الله
sumber : https://bimbinganislam.com/definisi-makna-sejati-sabar-dalam-islam/






