Validasi Pembawa Petaka

Di era modern saat ini, sosial media telah menjadi bagian yang melekat dari kehidupan sehari-hari kebanyakan masyarakat. Kemajuan ini memudahkan individu untuk saling terhubung satu sama lain secara global dan mempercepat arus penyebaran informasi. Kendati demikian, semua kemudahan dalam bermedia sosial juga memiliki dampak negatif yang seyogyanya diwaspadai.

Mengenal perilaku haus validasi

Perilaku tidak sehat seperti haus validasi (kebutuhan berlebihan untuk mendapatkan pengakuan, pujian, atau persetujuan dari orang lain) mempengaruhi keadaan psikologis banyak pengguna sosial media.

Keinginan berlebih untuk mendapatkan validasi berupa banyaknya followersviewerslikes, dan comments pada konten yang ditampilkan dapat menyebabkan seseorang terjatuh pada tindakan oversharing (berlebihan dalam berbagi) aktivitas kehidupan mereka; membuatnya ketagihan untuk terus menerus eksis di sosial media dan memposting segala sesuatu, bahkan hal-hal yang bernilai sepele dan tidak layak untuk menjadi konsumsi publik.

Hal ini tentu mengkhawatirkan karena dapat memicu tumbuhnya rasa iri dengki antar pengguna serta menyebabkan timbulnya ‘ain di antara mereka.

Rahasiakanlah kehidupanmu!

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,

استعينوا على إنجاح الحوائج بالكتمان، فإن كل ذي نعمة محسود

“Minta tolonglah atas keberhasilan rencana-rencana kalian dengan merahasiakannya karena setiap pemilik nikmat ada peluang hasadnya.” (HR. Thabrani dalam Al-Ausath no. 2455 dan disahihkan oleh Al-Albani)

Patut untuk disadari bahwa setiap urusan yang disebarluaskan secara publik berpotensi terkena hasad maupun ‘ain. Karena mencapai keridaan setiap orang adalah sebuah kemustahilan dan tidak setiap perkara patut untuk diketahui oleh khalayak ramai.

Hasad dan ‘ain: Sumber petaka

Betapa banyak orang yang celaka dan jatuh sakit disebabkan oleh rasa hasad (kedengkian) orang lain terhadap dirinya, juga ‘ain yang ditimbulkan karenanya. Saking bahayanya dua perkara ini (hasad dan ‘ain), sampai-sampai Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berlindung darinya. Allah Ta’ala berfirman,

قُلۡ اَعُوۡذُ بِرَبِّ الۡفَلَقِۙ‏ (١) مِنۡ شَرِّ مَا خَلَقَۙ‏ (٢) وَمِنۡ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ‏ (٣) وَمِنۡ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الۡعُقَدِۙ‏ (٤) وَمِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ‏ (٥)

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS. Al-Falaq: 1-5)

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ke-5, ‘Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki’ (وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ),

الحاسد هو الذي يكره نعمة الله على غيره، فتجده يضيق ذرعاً إذا أنعم الله على هذا الإنسان بمال، أو جاه، أو علم أو غير ذلك. فيحسده ولكن الحسّاد نوعان: نوع يحسد ويكره في قلبه نعمة الله على غيره، لكن لا يتعرض للمحسود بشيء، تجده مهموماً مغموماً من نعم الله على غيره، لكنه لا يعتدي على صاحبه. والشر والبلاء إنما هو بالحاسد إذا حسد. ولهذا قال: {إذا حسد}

Al-Hasid adalah pendengki yang membenci nikmat Allah yang Ia karuniakan kepada orang lain. Engkau akan mendapati dia merasa sesak dadanya atas orang yang mendapatkan nikmat dari Allah berupa harta, kedudukan, ilmu, atau selain dari itu. Maka dia pun merasa dengki.

Namun, al-hasid terbagi menjadi dua jenis: Pertama, orang yang dengki juga ada kebencian di dalam hatinya pada nikmat Allah yang dianugerahkan kepada selainnya, akan tetapi orang ini tidak mencoba melakukan sesuatu pun terhadap orang yang ia dengki. Engkau melihat kondisinya gundah gulana dan gelisah dari nikmat Allah yang diberikan kepada selainnya, tapi dia tidak mencoba menyakiti orang yang mendapatkan nikmat tersebut. Kedua, kerusakan dan bencana adalah ketika pendengki menampakkan kedengkiannya. Oleh sebab itu, Allah berfirman, “Bila ia dengki.”

Lebih lanjut, beliau rahimahullah mengatakan,

ومن حسد الحاسد العين التي تصيب الُمعان يكون هذا الرجل عنده كراهة لنعم الله على الغير فإذا أحس بنفسه أن الله أنعم على فلان بنعمة خرج من نفسه الخبيثة (معنى) لا نستطيع أن نصفه لأنه مجهول، فيصيب بالعين، ومن تسلط عليه أحياناً يموت، وأحياناً يمرض، وأحياناً يُجن، حتى الحاسد يتسلط على الحديد فيوقف اشتغاله، وربما يصيب السيارة بالعين وتنكسر أو تتعطل، وربما يصيب رفَّاعة الماء، أو حراثة الأرض، فالعين حق تصيب بإذن الله عز وجل

“Dan di antara kedengkian orang yang dengki adalah penyakit ‘ain (mata buruk) yang menimpa orang yang menjadi korban ‘ain. Pendengki ini jadi memiliki perasaan benci terhadap nikmat Allah. Apabila ia merasakan bahwa Allah memberikan nikmat kepada si Fulan, maka keluar darinya suatu sifat yang menjijikkan (secara makna), yang tidak akan mampu kita klasifikasikan. Sebab sifat ini adalah sesuatu yang majhul (tidak diketahui). Sehingga korban tertimpa penyakit ‘ain. Bahkan orang yang kalah dari efek ‘ain tersebut kadangkala sampai meninggal, sakit, dan gila. Bahkan pendengki bisa memberikan efek pada sesuatu yang terbuat dari besi sehingga ia menghentikan fungsi yang berjalan dari besi tersebut. Dan boleh jadi ‘ain menimpa mobil sehingga menjadi rusak atau mogok. Boleh jadi juga menimpa kincir air atau alat pembajak tanah. Maka penyakit ‘ain adalah suatu kebenaran yang terjadi dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla.” (Kitab Tafsir Al-‘Utsaimin: Juz ‘Amma, hal. 352-354)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

العين حق، ولو كان شيء سابق القدر سبقته العين

‘Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa.” (HR. Muslim no. 2188)

Dalam hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثرُ مَن يموتُ مِن أمَّتي بعدَ قضاءِ اللَّهِ وقدرِهِ بالأنفسِ أيْ العَينِ

“Sebab paling banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah ‘ain.” (HR. Al-Bazzar dalam Kasyful Atsar, 3: 404; dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1206)

Akhir kata, hendaknya kita bijak dalam menggunakan sosial media, bersikap hati-hati dan mewaspadai timbulnya rasa hasad maupun ‘ain yang menjadi sebab petaka dan kecelakaan bagi kehidupan. Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Kitab Tafsir Al ‘Utsaimin: Juz ‘Amma, Maktabah Syamilah.
  • Kitab Kemudahan, Ustadz Muhammad Rezki Hr, Ph.D.

Sumber: https://muslimah.or.id/33336-validasi-pembawa-petaka.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

Tawassul Dengan Bacaan Al Fatihah

Tawassul merupakan salah satu bentuk doa yang sangat dikenal dalam tradisi Islam, yaitu memohon kepada Allah dengan perantara tertentu. Di antara bentuk tawassul yang dipraktikkan sebagian kaum muslimin adalah bertawassul dengan bacaan Al-Fatihah, seperti mengucapkan: “Ya Allah, dengan bacaan Al-Fatihah ini, sembuhkanlah penyakitku,” atau “berilah rezeki kepada fulan.” Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan syariat terhadap amalan ini? Adakah dalilnya dari Rasulullah atau para sahabat? Artikel ini akan mengulasnya secara ringkas dan ilmiah..

Surat Al-Fatihah mengandung kesembuhan dari semua jenis penyakit. 

Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa Al-Fatihah mencakup dua jenis penyembuhan: penyembuhan hati dan penyembuhan badan.

Beliau berkata: 

(كثيرا ما كنت أسمع شيخ الإسلام ابن تيمية -قدس الله روحه- يقول: {إياك نعبد}، تدفع الرياء {وإياك نستعين}، تدفع الكبرياء، فإذا عوفي من مرض الرياء ب {إياك نعبد} ومن مرض الكبرياء والعجب ب {إياك نستعين}، ومن مرض الضلال والجهل ب {اهدنا الصراط المستقيم} عوفي من أمراضه وأسقامه، ورفل في أثواب العافية، وتمت عليه النعمة، وكان من المنعم عليهم غير المغضوب عليهم وهم أهل فساد القصد، الذين عرفوا الحق وعدلوا عنه، والضالين وهم أهل فساد العلم، الذين جهلوا الحق ولم يعرفوه، وحق لسورة تشتمل على هذين الشفاءين، أن يستشفى بها من كل مرض، ولهذا لما اشتملت على هذا الشفاء الذي هو أعظم الشفاءين، كان حصول الشفاء الأدنى بها أولى، كما سنبينه، فلا شيء أشفى للقلوب التي عقلت عن الله وكلامه، وفهمت عنه فهما خاصا، اختصها به من معنى هذه السورة).

Sering aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (semoga Allah merahmatinya) berkata: “Iyyāka na’budu (Hanya kepada-Mu kami menyembah)” mengobati penyakit riya (pamer dalam ibadah). “Wa iyyāka nasta’īn (Hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan)” mengobati penyakit kesombongan dan rasa bangga diri. “Ihdinaṣ-ṣirāṭal mustaqīm (Tunjukilah kami jalan yang lurus)” menyembuhkan penyakit kesesatan dan kebodohan. Jika seseorang disembuhkan dari riya dengan iyyāka na’budu, dari kesombongan dengan iyyāka nasta’īn, dan dari kebodohan serta kesesatan dengan ihdinaṣ-ṣirāṭal mustaqīm, maka dia telah sembuh dari penyakit-penyakit hatinya dan akan hidup dalam kesehatan ruhani, mendapat nikmat yang sempurna, termasuk golongan orang yang Allah beri nikmat, bukan yang dimurkai (mereka yang tahu kebenaran tapi menyimpang) dan bukan pula orang yang tersesat (mereka yang tidak tahu kebenaran).

Maka pantaslah jika surat yang mencakup dua penyembuhan besar ini menjadi sarana kesembuhan dari semua penyakit. Karena ketika Al-Fatihah mampu menyembuhkan penyakit hati yang paling berat, maka menyembuhkan penyakit fisik tentu lebih layak lagi. Tidak ada yang lebih menyembuhkan bagi hati yang benar-benar memahami makna Al-Fatihah dengan pemahaman khusus, selain surat ini. (Selesai)

Bertawassul dengan “rahasia Al-Fatihah” atau dengan “kedudukan Al-Fatihah”

Seperti seseorang berdoa: “Ya Allah, dengan rahasia Al-Fatihah, ampunilah aku,” tampaknya tidak mengapa, karena “rahasia Al-Fatihah” adalah inti makna yang dikehendaki Allah, yang menjadi tujuan diturunkannya kitab-kitab-Nya dan menjadi poros seluruh ibadah. Makna ini adalah firman Allah, yang bukan makhluk, tapi bagian dari sifat-sifat-Nya. Bertawassul dengan sifat-sifat Allah adalah sesuatu yang disyariatkan. 

Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah menyebutkan bahwa Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

وقد روي عن الحسن البصري رحمه الله: أن الله أنزل مائة كتاب وأربعة كتب جمع سرها في الأربعة، وجمع سر الأربعة في القرآن، وجمع سر القرآن في الفاتحة، وجمع سر الفاتحة في هاتين الكلمتين “إياك نعبد وإياك نستعين” ولهذا ثناها الله في كتابه في غير موضع من القرآن كقوله: فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ {هود: 123}

Allah menurunkan 104 kitab, lalu diringkas isinya dalam 4 kitab besar, kemudian diringkas lagi dalam Al-Qur’an, dan inti Al-Qur’an ada dalam Al-Fatihah, sedangkan inti Al-Fatihah terdapat dalam dua kalimat: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan). Karena itu, Allah mengulang-ulang kandungan kalimat tersebut di berbagai ayat dalam Al-Qur’an, seperti firman-Nya: “Sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (Hud: 123). (Selesai)

Namun, yang lebih utama adalah menghindari doa dengan lafaz seperti itu (misalnya “dengan rahasia Al-Fatihah”), karena tidak pernah diajarkan atau dilakukan oleh para ulama salaf. Bisa jadi, sebagian orang atau kelompok memiliki maksud tertentu dari ucapan itu yang berbeda dari makna yang benar.

Adapun membaca surat Al-Fatihah untuk menutup dzikir atau doa, sejauh yang kami ketahui, tidak ada dasarnya dalam ajaran Islam. Menjadikan hal itu sebagai kebiasaan ibadah termasuk perbuatan bid’ah yang tercela. (Islamweb)

Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa bertawassul dengan bacaan Al-Fatihah, jika dimaksudkan melalui kandungan makna yang agung dalam surat tersebut — seperti tauhid, keikhlasan ibadah, permohonan pertolongan, dan petunjuk — maka tidak mengapa dan termasuk bentuk tawassul yang secara makna bisa diterima. Tentunya dengan meyakini bahwa yang memberi manfaat dan mengabulkan doa hanyalah Allah, bukan karena keistimewaan bacaan itu secara dzat.

Namun, karena tidak terdapat riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maupun para sahabat tentang bertawassul dengan cara ini secara khusus, maka sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan tetap dalam berdoa. Tawassul yang disyariatkan dan dicontohkan langsung, seperti bertawassul dengan nama-nama Allah, amal saleh, dan doa orang saleh yang masih hidup, tetap lebih utama dan lebih aman dari sisi tuntunan.

Al-Fatihah memang memiliki kandungan yang sangat besar dalam menyembuhkan hati dan jasmani, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama seperti Ibnul Qayyim dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Maka, membaca dan mengamalkan maknanya adalah kunci keberkahan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapat hidayah dan tidak termasuk yang dimurkai atau tersesat.

Semoga bermanfaat, baarokallohufikum

Sumber utama : https://www.islamweb.net/ar/fatwa/70523/%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%88%D8%B3%D9%84-%D8%A8%D8%B3%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%81%D8%A7%D8%AA%D8%AD%D8%A9-%D8%B1%D8%A4%D9%8A%D8%A9-%D8%B4%D8%B1%D8%B9%D9%8A%D8%A9

sumber: https://bimbinganislam.com/tawassul-dengan-bacaan-al-fatihah/

Lihatlah Orang Di Bawahmu Dalam Masalah Harta dan Dunia

Bagaimana sikap yang benar dalam masalah harta dan dunia?

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

Betapa banyak orang yang terkesima dengan kilauan harta orang lain. Tidak pernah merasa cukup dengan harta yang ia miliki. Jika sudah mendapatkan suatu materi dunia, dia ingin terus mendapatkan yang lebih. Jika baru mendapatkan motor, dia ingin mendapatkan mobil kijang. Jika sudah memiliki mobil kijang, dia ingin mendapatkan mobil sedan. Dan seterusnya sampai pesawat pun dia inginkan. Itulah watak manusia yang tidak pernah puas.

Melihat Orang Di Bawah Kita dalam Hal Harta dan Dunia

Sikap seorang muslim yang benar, hendaklah dia selalu melihat orang di bawahnya dalam masalah harta dan dunia. Betapa banyak orang di bawah kita berada di bawah garis kemiskinan, untuk makan sehari-hari saja mesti mencari utang sana-sini, dan masih banyak di antara mereka keadaan ekonominya jauh di bawah kita. Seharusnya seorang muslim memperhatikan petuah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini.

Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan nasehat kepada Abu Dzar. Abu Dzar berkata,

أَمَرَنِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ أَمَرَنِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي

Kekasihku yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): [1] Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, [2] beliau memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku. …” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا نظر أحدكم إلى من فضل عليه في المال والخلق فلينظر إلى من هو أسفل منه

Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa) [al kholq], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hajar mengatakan, “Yang dimaksud dengan al khalq adalah bentuk tubuh. Juga termasuk di dalamnya adalah anak-anak, pengikut dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kenikmatan duniawi.” (Fathul Bari, 11/32)

Agar Tidak Memandang Remeh Nikmat Allah

Dengan memiliki sifat yang mulia ini yaitu selalu memandang orang di bawahnya dalam masalah dunia, seseorang akan merealisasikan syukur dengan sebenarnya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Al Munawi –rahimahullah- mengatakan,

“Jika seseorang melihat orang di atasnya (dalam masalah harta dan dunia), dia akan menganggap kecil nikmat Allah yang ada pada dirinya dan dia selalu ingin mendapatkan yang lebih. Cara mengobati penyakit semacam ini, hendaklah seseorang melihat orang yang berada di bawahnya (dalam masalah harta dan dunia). Dengan melakukan semcam ini, seseorang akan ridho dan bersyukur, juga rasa tamaknya (terhadap harta dan dunia) akan berkurang. Jika seseorang sering memandang orang yang berada di atasnya, dia akan mengingkari dan tidak puas terhadap nikmat Allah yang diberikan padanya. Namun, jika dia mengalihkan pandangannya kepada orang di bawahnya, hal ini akan membuatnya ridho dan bersyukur atas nikmat Allah padanya.”

Al Ghozali –rahimahullah- mengatakan,

“Setan selamanya akan memalingkan pandangan manusia pada orang yang berada di atasnya dalam masalah dunia. Setan akan membisik-bisikkan padanya: ‘Kenapa engkau menjadi kurang semangat dalam mencari dan memiliki harta supaya engkau dapat bergaya hidup mewah[?]’ Namun dalam masalah agama dan akhirat, setan akan memalingkan wajahnya kepada orang yang berada di bawahnya (yang jauh dari agama). Setan akan membisik-bisikkan, ‘Kenapa dirimu merasa rendah dan hina di hadapan Allah[?]” Si fulan itu masih lebih berilmu darimu’.” (Lihat Faidul Qodir Syarh Al Jaami’ Ash Shogir, 1/573)

Itulah yang akan membuat seseorang tidak memandang remeh nikmat Allah karena dia selalu memandang orang di bawahnya dalam masalah harta dan dunia. Ketika dia melihat juragan minyak yang memiliki rumah mewah dalam hatinya mungkin terbetik, “Rumahku masih kalah dari rumah juragan minyak itu.” Namun ketika dia memandang pada orang lain di bawahnya, dia berkata, “Ternyata rumah tetangga dibanding dengan rumahku, masih lebih bagus rumahku.” Dengan dia memandang orang di bawahnya, dia tidak akan menganggap remeh nikmat yang Allah berikan. Bahkan dia akan mensyukuri nikmat tersebut karena dia melihat masih banyak orang yang tertinggal jauh darinya.

Berbeda dengan orang yang satu ini. Ketika dia melihat saudaranya memiliki Blacberry, dia merasa ponselnya masih sangat tertinggal jauh dari temannya tersebut. Akhirnya yang ada pada dirinya adalah kurang mensyukuri nikmat, menganggap bahwa nikmat tersebut masih sedikit, bahkan selalu ada hasad (dengki) yang berakibat dia akan memusuhi dan membenci temannya tadi. Padahal masih banyak orang di bawah dirinya yang memiliki ponsel dengan kualitas yang jauh lebih rendah. Inilah cara pandang yang keliru. Namun inilah yang banyak menimpa kebanyakan orang saat ini.

Dalam Masalah Agama dan Akhirat, Hendaklah Seseorang Melihat Orang Di Atasnya

Dalam masalah agama, berkebalikan dengan masalah materi dan dunia. Hendaklah seseorang dalam masalah agama dan akhirat selalu memandang orang yang berada di atasnya. Haruslah seseorang memandang bahwa amalan sholeh yang dia lakukan masih kalah jauhnya dibanding para Nabi, shidiqn, syuhada’ dan orang-orang sholeh. Para salafush sholeh sangat bersemangat sekali dalam kebaikan, dalam amalan shalat, puasa, sedekah, membaca Al Qur’an, menuntut ilmu dan amalan lainnya. Haruslah setiap orang memiliki cara pandang semacam ini dalam masalah agama, ketaatan, pendekatan diri pada Allah,  juga dalam meraih pahala dan surga. Sikap yang benar, hendaklah seseorang berusaha melakukan kebaikan sebagaimana yang salafush sholeh lakukan. Inilah yang dinamakan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Dalam masalah berlomba-lomba untuk meraih kenikmatan surga, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (22) عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (23) تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ (24) يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ (25) خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (26)

Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam keni’matan yang besar (syurga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh keni’matan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthaffifin: 22-26)

Al Qurtubhi mengatakan, “Berlomba-lombalah di dunia dalam melakukan amalan shalih.” (At Tadzkiroh Lil Qurtubhi,  hal. 578)

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala juga berfirman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا

Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al Ma’idah: 48)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Inilah yang dilakukan oleh para salafush sholeh, mereka selalu berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana dapat dilihat dari perkataan mereka berikut ini yang disebutkan oleh Ibnu Rojab –rahimahullah-. Berikut sebagian perkatan mereka.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة

Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.

Wahib bin Al Warid mengatakan,

إن استطعت أن لا يسبقك إلى الله أحد فافعل

Jika kamu mampu untuk mengungguli seseorang dalam perlombaan menggapai ridho Allah, lakukanlah.

Sebagian salaf mengatakan,

لو أن رجلا سمع بأحد أطوع لله منه كان ينبغي له أن يحزنه ذلك

Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat pada Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan.” (Latho-if Ma’arifhal. 268)

Namun berbeda dengan kebiasaan orang saat ini. Dalam masalah amalan dan pahala malah mereka membiarkan saudaranya mendahuluinya. Contoh gampangnya adalah dalam mencari shaf pertama. “Monggo pak, bapak aja yang di depan”, kata sebagian orang yang menyuruh saudaranya menduduki shaf pertama. Padahal shaf pertama adalah sebaik-baik shaf bagi laki-laki dan memiliki keutamaan yang luar biasa. Seandainya seseorang mengetahui keutamaannya, tentu dia akan saling berundi dengan saudaranya untuk memperebutkan shaf pertama dalam shalat, bukan malah menyerahkan shaf yang utama tersebut pada orang lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf bagi laki-laki adalah shaf pertama, sedangkan yang paling jelek bagi laki-laki adalah shaf terakhir. Sebaik-baik shaf bagi wanita adalah shaf terakhir, sedangkan yang paling jelek bagi wanita adalah shaf pertama.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا

Seandainya setiap orang tahu keutamaan adzan dan shaf pertama, kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan memperebutkannya dengan berundi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mari kita saling berlomba dalam meraih surga dan pahala di sisi Allah!

Kekayaan Paling Hakiki adalah Kekayaan Hati

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita melihat kepada orang yang berada di bawah kita dalam masalah dunia agar kita menjadi orang yang bersyukur dan qana’ah yaitu selalu merasa cukup dengan nikmat yang Allah berikan, juga tidak hasad (dengki) dan tidak iri pada orang lain. Karena ketahuilah bahwa kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati yaitu hati yang selalu merasa cukup dengan karunia yang diberikan oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bukhari membawakan hadits ini dalam Bab “Kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan hati (hati yang selalu merasa cukup).”

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)

Seandainya seseorang mengetahui kenikmatan yang seolah-olah dia mendapatkan dunia seluruhnya, tentu betul-betul dia akan mensyukurinya dan selalu merasa qona’ah (berkecukupan). Kenikmatan tersebut adalah kenikmatan memperoleh makanan untuk hari yang dia jalani saat ini, kenikmatan tempat tinggal dan kenikmatan kesehatan badan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من أصبح منكم آمنا في سربه معافى في جسده عنده قوت يومه فكأنما حيزت له الدنيا

Barangsiapa di antara kalian merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan badan, dan diberi makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dia telah memiliki dunia seluruhnya.” (HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Oleh karena itu, banyak berdo’alah pada Allah agar selalu diberi kecukupan. Do’a yang selalu dipanjatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina) (HR. Muslim)

An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” (Syarh Muslim, 17/41)

Ya Allah, berikanlah pada kami sifat ‘afaf dan ghina. Amin Yaa Mujibas Sa’ilin.

Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

****

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/296-lihatlah-orang-di-bawahmu-dalam-masalah-harta-dan-dunia.html

Menangis Karena Anak Meninggal, Apakah Termasuk Protes terhadap Takdir?

Bismillah walhamdulillah, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.

Ujian wafatnya buah hati memang ujian yang berat. Oleh karenanya tulisan ini kami buka dengan doa dukungan untuk mereka yang mendapat ujian ini semoga Allah memberikan pahala atas musibah yangalamal ia alami, menggantinya dengan yang lebih baik, memberikan kesabaran, serta melipatgandakan pahala untuknya Ada sebuah kabar gembira bagi siapa saja yang merespon musibah dengan ridho, tabah dan sabar, sebuah janji Allah khusus untuk mereka yang diuji lalu bersabar:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157).

Terkait dengan tangisan karena wafatnya anak, berikut adalah beberapa poin penjelasan dari sudut pandang syariat:

Pertama, Sedih dan Menangis Bukanlah Bentuk Protes

Jika seorang telah bersabar dan mengharap pahala dari musibah yang ia alami, maka sekadar rasa sedih di hati dan tetesan air mata bukanlah bentuk protes terhadap takdir Allah. Hal ini tidak menafikan kesabaran dan tidak mengurangi pahala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah menangis saat putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia. Beliau bersabda:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا

“Sesungguhnya mata itu menangis dan hati itu bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kami.” (HR. Bukhari & Muslim).

Hadis ini sekaligus penguat untuk siapa saja yang diuji dengan ujian ini, Bahwa manusia terbaik dan hamba Allah paling Allah cintai, pernah mengalami ujian yang sama. Cukuplah ini sebagai energi untuk tabah dan ridha kepada takdir Allah ‘azza wa jalla.

Yang dilarang dan dapat menggugurkan pahala adalah tangisan yang disertai dengan niyahah (meratap), seperti menjerit-jerit, memukul-mukul pipi, merobek pakaian, atau mengucapkan kata-kata yang menunjukkan ketidak ridhoan atas keputusan Allah.

Kedua, Menangis Sebagai Tanda Rahmat

Alhamdulillah, tangisan yang karena berpisah dengan anak adalah tangisan sebagai tanda rahmat. Seperti tangisnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditinggal wafat putranya; tangis yang muncul dari naluri manusia. Mari kita simak hadis berikut:

دَخَلْنَا مع رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ علَى أَبِي سَيْفٍ القَيْنِ، وكانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيمَ عليه السَّلَامُ، فأخَذَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إبْرَاهِيمَ، فَقَبَّلَهُ، وشَمَّهُ، ثُمَّ دَخَلْنَا عليه بَعْدَ ذلكَ وإبْرَاهِيمُ يَجُودُ بنَفْسِهِ، فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ تَذْرِفَانِ، فَقالَ له عبدُ الرَّحْمَنِ بنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عنْه: وأَنْتَ يا رَسولَ اللَّهِ؟ فَقالَ: يا ابْنَ عَوْفٍ إنَّهَا رَحْمَةٌ، ثُمَّ أَتْبَعَهَا بأُخْرَى، فَقالَ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، والقَلْبَ يَحْزَنُ، ولَا نَقُولُ إلَّا ما يَرْضَى رَبُّنَا، وإنَّا بفِرَاقِكَ يا إبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ.

Kami masuk bersama Rasulullah ﷺ menemui Abu Saif al-Qain, yang merupakan suami dari ibu susuan Ibrahim (putra Nabi) ‘alaihissalam. Rasulullah ﷺ kemudian mengambil Ibrahim, menciumnya, dan menghirup aromanya.

Kemudian kami masuk lagi menemuinya setelah itu, sementara Ibrahim dalam keadaan sakaratul maut (nafasnya tersengal-sengal). Maka kedua mata Rasulullah ﷺ pun meneteskan air mata.

Melihat hal itu, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu bertanya: ‘Bahkan Anda juga menangis, wahai Rasulullah?’

Beliau menjawab:

يا ابْنَ عَوْفٍ إنَّهَا رَحْمَةٌ، ثُمَّ أَتْبَعَهَا بأُخْرَى

 “Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (rasa kasih sayang).”

Kemudian beliau melanjutkan dengan kalimat lainnya:

إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، والقَلْبَ يَحْزَنُ، ولَا نَقُولُ إلَّا ما يَرْضَى رَبُّنَا، وإنَّا بفِرَاقِكَ يا إبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ.

“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Tuhan kami. Dan sungguh, kami sangat bersedih dengan perpisahan ini, wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari)

Karena tangisan seperti itu adalah tanda rahmat, maka tidaklah berlebihan jika dipahami bisa bernilai pahala. Karena ada hadits shahih yang menyatakan bahwa orang yang penyayang di dunia ini akan disayang oleh Yang Maha Penyayang; Allah ‘Azza wa Jalla.

الرَّاحِمونَ يرحَمُهم الرَّحمنُ تبارَك وتعالى؛ ارحَموا مَن في الأرضِ يرحَمْكم مَن في السَّماءِ.

“Orang-orang yang pengasih akan dikasihi oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih) Tabaraka wa Ta’ala. Kasihilah siapa yang ada di bumi, niscaya Yang ada di langit akan mengasihimu.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dari hadis ini terbentuklah kaidah Islam dikenal al-jaza’ min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan jenis perbuatannya). Siapa yang memberi kasih sayang kepada makhluk, akan menerima kasih sayang dari Sang Khaliqnya.

Ketiga, Bertemu di Akhirat

Para ulama menjelaskan bahwa anak-anak yang meninggal sebelum usia baligh akan menjadi tabungan (dzukhr) bagi orang tuanya di akhirat. Mereka akan menunggu orang tuanya di pintu surga dan memberikan syafaat dengan izin Allah, asalkan orang tuanya bersabar dan rida. Mari kita simak hadis yang amat menenangkan berikut ini:

لَا يَمُوتُ لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ثَلَاثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ تَمَسُّهُ النَّارُ إِلَّا تَحِلَّةَ الْقَسَمِ

“Tidaklah salah seorang dari kaum muslimin ditinggal mati oleh tiga anaknya, lalu ia menyentuh api neraka kecuali sekadar melaksanakan sumpah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tahillatal Qosam (sekedar melaksanakan sumpah maksudnya: hanya melewati di atasnya saat melewati Shirath; jembatan tipis, licin yang dibentangkan di atas neraka. (Sumber: dorarDnet-Syaikh Abdul Qadir As-Saqof).

Lalu hadis lainnya, dari Abu Hassan, ia berkata kepada Abu Hurairah:

إنه قد مات لي ابنان، فما أنت محدثي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم بحديث تطيب به أنفسنا عن موتانا؟ قال: نعم، «صِغَارُهُمْ دَعَامِيصُ الْجَنَّةِ، يَتَلَقَّى أَحَدُهُمْ أَبَاهُ -أَوْ قَالَ أَبَوَيْهِ- فَيَأْخُذُ بِثَوْبِهِ… فَلَا يَتَنَاهَى حَتَّى يُدْخِلَهُ اللهُ وَأَبَاهُ الْجَنَّةَ»

“Dua anakku telah meninggal, apakah engkau punya hadis dari Rasulullah ﷺ yang bisa menghibur jiwa kami?” Abu Hurairah menjawab: “Ya, anak-anak kecil mereka adalah ‘da’amish’ (penghuni kecil/anak emas) surga. Salah seorang dari mereka menemui ayahnya lalu memegang pakaiannya… dan ia tidak melepaskannya hingga Allah memasukkan dirinya dan ayahnya ke dalam surga.” (HR. Muslim).

Jadi, tangisan yang mengalir secara alami tanpa disertai ratapan adalah hal yang manusiawi dan tidak berdosa. Teruslah berdoa memohon ketabahan dan yakinlah bahwa Allah telah menyiapkan tempat yang mulia bagi para orang tua yang bersabar atas kehilangan buah hatinya.

Wallahu a’lam.

Ditulish Oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

sumber: https://bimbinganislam.com/menangis-karena-anak-meninggal-apakah-termasuk-protes-terhadap-takdir/

Sibuk Introspeksi Diri Sendiri

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengenal dirinya, niscaya ia akan sibuk memperbaiki diri dan tidak peduli dengan aib orang lain. Dan barangsiapa mengenali Rabbnya, niscaya ia akan sibuk beribadah kepada-Nya dan tidak peduli dengan hawa nafsunya” (Al-Fawaid, hal. 80).

Introspeksi diri merupakan perkara penting yang kadang terluput dari kita terlebih lagi bagi orang yang merasa dirinya memiliki banyak kelebihan yang sejatinya hal ini merupakan nikmat dari Allah. Namun bagi orang beriman, mengoreksi kekurangan diri sendiri dan memandang dirinya serba kurang dalam beribadah dan beramal shalih merupakan langkah penting agar terpacu untuk menjadi mukmin yang lebih gemar beribadah, sosok yang lebih takut kepada Allah dan senantiasa dalam jalur ketakwaan.

Orang yang menyibukkan hatinya untuk menghitung segala aibnya, dosa-dosanya maka tak akan lisannya menikam saudaranya dengan ghibah. Hatinya tak akan memandang remeh dan hasad dengan mencari-cari kekurangan saudaranya. Sebagaimana makna potongan ayat Al-Quran:

وَّلَا تَجَسَّسُوْا… …

Dan janganlah mencari-cari keburukan orang” (QS. Al-Hujurat: 12)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Jangan memeriksa rahasia seorang muslim dan jangan mencari-carinya. Tinggalkanlah mereka apa adanya, dan lupakan kesalahan-kesalahan mereka, karena jika dicari-cari akan terjadi hal (buruk) yang tidak seharusnya terjadi” (Tafsir Karim Ar-Rahman, hal. 801)

Sibuk meneliti kesalahan, cela dan aib sesama muslim bisa membuat hati keras dan tidak peka pada aib sendiri, menghabiskan waktu dan bisa memicu permusuhan serta bukti nyata buruknya akhlak seorang mukmin.

Para ulama mengatakan, tanda akhlak mulia ada sepuluh:

1) Sedikit berselisih

2) Bersikap adil

3) Meninggalkan sikap mencari-cari kesalahan orang lain

4) Berusaha memperbaiki keburukan-keburukan yang nampak

5) Mencari udzur bagi orang yang jatuh pada kesalahan

6) Bersabar menghadapi gangguan

7) Introspeksi dengan mencela diri sendiri (musibah akibat ulah sendiri)

8) Fokus dan sibuk mengurus aib-aib sendiri tanpa mengurusi aib orang lain

9) Berwajah ceria

10) Lembut perkataannya

(At-Tanwir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir 5/535)

Muhasabah diri akan membuat kita tidak ada waktu dan tidak ada kesempatan untuk mengoreksi aib sesama. Membuat hati lebih tenang karena tidak ada pikiran-pikiran buruk kepada orang lain. Kita tak memperoleh manfaat akhirat, justru menuai dosa menyebabkan kerugian di sisi Allah Ta’ala.

Al-Hasan Al Bashri berkata, “Seorang mukmin senantiasa mengoreksi dirinya karena Allah, hisab pada hari kiamat terasa ringan bagi kaum yang telah melakukan muhasabah dirinya di dunia. Sebaliknya, hisab pada hari kiamat terasa berat bagi orang yang tak pernah melakukan muhasabah” (Ihya Ulumuddin IV:404)

Ada nasehat sangat menyentuh iman dari sahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum ditimbang. Sungguh akan lebih meringankan diri kalian di dalam hisab, jika hal ini kalian telah melakukan hisab terhadap diri kalian. Dan hisablah untuk menghadapi hari yang paling besar, “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu) tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)” (QS. Al-Haqqah: 18)” (Tahdzib Madarijis Salikin I:176).

Saatnya kita merenungi diri untuk bangkit memperbaiki diri dan memantapkan diri menjadi sosok yang lebih dalam berakidah, berakhlak mulia, beramal shalih dan senantiasa menjauhi larangan-larangan Allah.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Jauhilah engkau dari menyibukkan memperbaiki diri orang lain, sebelum engkau memperbaiki dirimu sendiri” (Minhajul Qashidin, hal. 22)

Semoga uraian di atas bermanfaat. Aamiin yaa mujibas saailiin.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/14205-sibuk-introspeksi-diri-sendiri.html

Bekal yang Sia-Sia

Bagaimana bekal yang sia-sia menuju akhirat?

Ibnul Qayyim memberikan nasehat yang sangat indah,

العَمَلُ بِغَيْرِ اِخْلاَصٍ وَلاَ اِقْتِدَاءٍ كَالمُسَافِرِ يَمْلَأُ جِرَابُهُ رَمْلاً يُثْقِلُهُ وَلَا يَنْفَعُهُ

“Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa ransel berisi pasir. Bekal pada ransel tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.” (Al-Fawa’id, hlm. 81)

Itulah bekal yang sia-sia, berat namun tidak manfaat.

Amalan yang dilakukan tidak ikhlas (riya’ dan sum’ah), juga amalan yang tanpa tuntunan Rasul (bid’ah) itulah yang jadi bekal sia-sia.

Jangan sampai kita membawa bekal yang sia-sia padahal perjalanan kita begitu berat menuju akhirat.

Referensi:

Al-Fawaid. Cetakan keenam, tahun 1431 H. Muhammad bin Abi Bakr Az-Zar’I (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah). Penerbit Maktabah Ar-Rusyd.

sumber: https://rumaysho.com/14725-bekal-yang-sia-sia.html