[Kitabut Tauhid 10] 44 Mencintai Allah 32

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Sebagaimana kewajiban Syariat yang lainnya, ittiba’ kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak cukup hanya bermodal niat dan semangat, tetapi harus mengikuti bimbingan Syariat. Diantara rambu-rambu Syariat yang harus dipahami dan dipatuhi dalam urusan ittiba’ kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah :

  1. Agama Islam dibangun di atas dalil yang shahih, bukan di atas pertimbangan akal semata.
  2. Wajib bagi seorang Muslim untuk mencari tahu tentang hukum Syar’i dan memastikannya sebelum mengamalkannya di dalam semua urusan hidupnya.
  3. Maksud dari ittiba’ kepada Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah mengamalkan semua ajaran yang Beliau bawa.
  4. Ibadah-ibadah yang ditinggalkan oleh Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dan tidak Beliau lakukan padahal ada sebab yang menuntutnya pada zaman Beliau, maka melakukannya adalah bid’ah sedangkan meninggalkannya adalah sunnah.
  5. Segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia di dalam pokok-pokok dan cabang-cabang agama, di dalam urusan dunia dan Akhirat, yang berupa ibadah dan muamalah, dalam keadaan damai ataupun perang, dalam masalah politik atau ekonomi, dan seterusnya, maka Syariat telah menjelaskan dan menerangkannya.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Tinggalkan Balasan