Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa Shalat

Banyak orang tua sangat serius memikirkan masa depan dan rezeki anak-anaknya, tetapi sudahkah kita seserius itu menjaga shalat mereka? Allah justru menggandengkan perintah menjaga shalat keluarga dengan penegasan bahwa Dialah yang memberikan rezeki. Dari sini kita belajar bahwa keluarga bukan hanya perlu dididik agar pandai mencari rezeki, tetapi juga mengenal dan taat kepada Sang Pemberi rezeki.

KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAH

الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Allah Ta‘ala berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ayat ini mempertemukan dua perkara yang sangat dekat dengan kehidupan setiap keluarga: shalat dan rezeki. Kita sering begitu serius memikirkan bagaimana keluarga kita mendapatkan rezeki, tetapi pertanyaannya, sudahkah kita seserius itu memikirkan bagaimana keluarga kita menjaga shalat?

Kita khawatir ketika penghasilan berkurang. Kita cemas ketika pekerjaan sulit. Kita memikirkan sekolah anak, masa depan mereka, pekerjaan mereka, dan bagaimana mereka kelak hidup berkecukupan. Namun Allah mengingatkan sesuatu yang sangat mendasar: jangan sampai kesibukan memikirkan rezeki membuat keluarga melupakan Sang Pemberi rezeki.

Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki?

Perhatikan susunan ayat ke-132 dari Surah Thaha. Allah memerintahkan agar keluarga menjaga shalat, lalu mengingatkan, “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”

Artinya, jangan sampai kesibukan mencari dunia membuat sebuah keluarga justru meninggalkan kewajiban kepada Allah. Orang tua tetap diperintahkan bekerja, berusaha, dan mencari nafkah yang halal, tetapi hati tidak boleh bergantung pada pekerjaan, jabatan, pelanggan, atau manusia. Yang memberi rezeki pada hakikatnya tetap Allah.

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini mengatakan,

يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ

“Maknanya, apabila engkau menegakkan shalat, rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak engkau sangka-sangka.”

Penjelasan ini selaras dengan firman Allah tentang orang yang bertakwa,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)

Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi Kaya

Ayat ini jangan dipahami dengan cara yang terlalu sederhana: “Kalau rajin shalat, pasti banyak uang.”

Shalat bukan transaksi dengan Allah untuk mengejar kekayaan dunia. Allah memerintahkan shalat karena shalat adalah ibadah dan hak Allah atas hamba-Nya. Adapun rezeki berada di tangan Allah; Dia memberikannya sesuai hikmah-Nya.

Bahkan kekayaan yang sangat berharga tidak selalu berbentuk saldo rekening. Ketenangan hati, rasa cukup, keluarga yang harmonis, anak yang saleh, kesehatan, kemudahan menjalankan ketaatan, dan keberkahan pada harta merupakan nikmat besar yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka.

Dalam hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Ta‘ala berfirman,

يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ

Wahai anak Adam, pusatkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa kaya dan Aku cukupkan kefakiranmu.” (HR. Tirmidzi, no. 2466; Ibnu Majah, no. 4107. Dinilai sahih oleh Al-Albani).

Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu kekayaan terbesar adalah kaya hati: merasa cukup dengan pemberian Allah dan tidak terus-menerus diperbudak oleh dunia.

Inilah pelajaran yang perlu ditanamkan kepada anak. Jangan sampai anak tumbuh dengan keyakinan bahwa ukuran keberhasilan hidup hanyalah rumah besar, kendaraan mahal, sekolah bergengsi, atau banyaknya harta.

Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada Shalat

Az-Zamakhsyari rahimahullah menukil tentang seorang tabi‘in saleh, Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzani. Ketika keluarganya mengalami kesempitan hidup, ia berkata,

قُومُوا فَصَلُّوا، بِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ

“Bangkitlah kalian, lalu shalatlah. Dengan inilah Allah memerintahkan Rasul-Nya.”

Kemudian ia membaca QS. Thaha ayat 132.

Perhatikan pendidikan yang diberikan kepada keluarganya. Ketika keadaan sedang sulit, ia tidak hanya mengajarkan anak dan keluarganya untuk mengeluh tentang keadaan. Ia mengajak mereka kembali kepada Allah.

Tentu saja shalat tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Orang yang kehilangan pekerjaan tetap mencari pekerjaan. Orang yang kesulitan ekonomi tetap menyusun kembali keuangannya. Orang yang memiliki utang tetap berusaha melunasinya.

Namun, sebelum hati tenggelam dalam kepanikan, seorang mukmin tahu kepada siapa ia harus kembali.

Hal ini sesuai dengan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menghadapi suatu perkara yang berat, beliau shalat.” (HR. Abu Dawud, no. 1319; dinilai hasan oleh Al-Albani).

Ini adalah pendidikan iman yang sangat penting bagi anak: ketika masalah datang, jangan hanya panik; ingat Allah, shalatlah, berdoalah, kemudian lakukan ikhtiar terbaik.

‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan Dunia

Ada sisi lain yang menarik dari QS. Thaha ayat 132.

Imam Ath-Tabari rahimahullah dalam kitab tafsirnya meriwayatkan bahwa ‘Urwah bin Az-Zubair rahimahullah apabila melihat kemewahan yang dimiliki para penguasa, ia pulang menemui keluarganya dan membaca firman Allah,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا…

“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia….” (QS. Thaha: 131)

Ia melanjutkan hingga membaca,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ… نَحْنُ نَرْزُقُكَ

Kemudian ia menyeru keluarganya,

الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ

“Shalat, shalat. Semoga Allah merahmati kalian.”

Betapa relevannya pendidikan ini untuk anak-anak zaman sekarang. Mereka setiap hari dapat melihat rumah orang lain, liburan orang lain, pakaian orang lain, gawai orang lain, dan berbagai kemewahan melalui media sosial.

Jika tidak dibekali iman, anak mudah merasa, “Mengapa kita tidak seperti mereka?”

Di sinilah orang tua perlu mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan memamerkan apa yang dimiliki. Jangan terus menengok nikmat yang berada di tangan orang lain hingga lupa mensyukuri apa yang Allah berikan kepada keluarga kita.

‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk Shalat

Pendidikan shalat juga tampak dalam kehidupan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan bahwa ‘Umar biasa mengerjakan shalat malam. Menjelang akhir malam, beliau membangunkan keluarganya sambil mengatakan,

الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ

“Shalat, shalat.”

Kemudian beliau membaca,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”

Riwayat ini juga dibawakan Al-Baihaqi dalam Syu‘ab Al-Iman, 4/466, no. 2822 dengan sanad: Malik → Zaid bin Aslam → Aslam → ‘Umar.

Ada pelajaran parenting yang sangat indah di sini: ‘Umar mengerjakannya terlebih dahulu, kemudian mengajak keluarganya.

Anak membutuhkan perintah, tetapi anak juga membutuhkan contoh.

Sulit meminta anak bersegera shalat jika ia melihat ayah dan ibunya sendiri terus menunda shalat. Sulit meminta anak meninggalkan gawainya ketika azan berkumandang jika orang tuanya masih asyik dengan ponsel.

Teladan sering kali berbicara lebih kuat daripada nasihat.

Latih Anak Menjaga Shalat Sejak Kecil

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pendidikan yang lebih tegas ketika anak telah berusia sepuluh tahun dan masih meninggalkannya. (HR. Abu Dawud, no. 495; hadits ini dinilai hasan sahih oleh Al-Albani).

Hadits ini menunjukkan bahwa pembiasaan shalat membutuhkan proses. Anak tidak tiba-tiba menjadi penjaga shalat ketika baligh. Ada masa bertahun-tahun untuk mengenalkan, mengajak, memberi contoh, mengingatkan, dan membentuk kebiasaan. Pembinaan ibadah sejak dini juga merupakan bagian penting dari pendidikan agama di rumah.

Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak?

Orang tua dapat menanamkan beberapa kebiasaan sederhana berikut.

  1. Ketika azan terdengar, dahulukan shalat. Anak akan memahami bahwa sesibuk apa pun hidup ini, panggilan Allah lebih utama.
  2. Ketika keluarga mengalami masalah, ajak anak kembali kepada Allah. Berwudulah, shalatlah, lalu berdoa bersama tanpa meninggalkan usaha nyata untuk menyelesaikan masalah.
  3. Ketika mendapatkan nikmat, ajarkan anak bersyukur. Jangan hanya mengatakan, “Ayah bekerja keras,” tetapi biasakan pula mengatakan, “Alhamdulillah, Allah memberikan rezeki kepada kita.”
  4. Ketika anak melihat kemewahan orang lain, ajarkan qana‘ah. Tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita miliki, dan tidak semua yang terlihat indah di dunia merupakan ukuran kebahagiaan.
  5. Jadilah contoh sebelum banyak memerintah. Anak yang setiap hari melihat orang tuanya menjaga shalat akan mendapatkan pelajaran yang tidak diberikan oleh ceramah panjang.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mari kita ajarkan kepada keluarga bahwa ketika kesulitan datang, jangan hanya mengeluh kepada manusia. Kembalilah kepada Allah. Tegakkan shalat, panjatkan doa, lalu sempurnakan ikhtiar.

Ketika Allah memberikan kelapangan, jangan sampai kelapangan itu justru menjauhkan kita dari-Nya. Gunakan nikmat untuk semakin taat dan ajarkan kepada anak-anak bahwa semua yang kita miliki hanyalah pemberian Allah.

Jangan hanya menyiapkan anak agar kelak pandai mencari rezeki. Lebih penting dari itu, ajarkan mereka mengenal dan menaati Sang Pemberi rezeki.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَأْمُرُوا أَهْلَكُمْ بِهَا، وَاصْبِرُوا عَلَى تَعْلِيمِ أَوْلَادِكُمْ

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنَا مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لَنَا، وَتَوَفَّنَا إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لَنَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَنَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَنَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَنَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَنَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَنَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَنَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ.

رَبَّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّاتِنَا، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَنَا.

اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَارْزُقِ الْمُحْتَاجِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِصَلَاحِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ وَالْكَوَارِثَ وَسُوءَ الْمِحَنِ، وَارْحَمْ مَنْ أُصِيبَ مِنَّا بِالْمَصَائِبِ، وَاجْبُرْ مُصَابَنَا، وَاخْلُفْ عَلَيْنَا خَيْرًا.

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَغَزَّةَ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَنَفِّسْ هَمَّهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَارْدُدْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

—-

Materi Khutbah Jumat @ Pesantren Darush Sholihin Masjid Jami’ Al-Adha Panggang Gunungkidul |  Jumat, 28 Rabiul Awal 1448 H, 11 September 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42811-khutbah-jumat-jangan-sibuk-mencari-rezeki-lupa-shalat.html