Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- hukumnya wajib, bahkan termasuk kewajiban terbesar dalam agama Allâh -‘Azza wa Jalla-. Tidak sempurna keimanan seorang hamba, kecuali dengannya. Oleh karena itu, Allâh -‘Azza wa Jalla- memerintahkan umat ini untuk mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- melebihi kecintaanya terhadap dirinya, keluarga, harta, seluruh manusia, dan segala sesuatunya.
- Allâh -‘Azza wa Jalla- telah menjadikan ittiba’ (mengikuti Rasul-Nya) sebagai bukti kebenaran cintanya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-. Hal ini hanya dapat diwujudkan, hanya setelah adanya keimanan kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Dan iman kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- hanya terwujud jika terpenuhi syarat-syaratnya, dan di antaranya adalah mencintai Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
- Mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- mengharuskan adanya penghormatan, ketundukan dan peneladanan kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- serta mendahulukan sabda Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dari seluruh ucapan makhluk, serta mengagungkan sunnah-sunnah Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“