Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Beribadah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan hanya beribadah kepada-Nya saja tanpa menyekutukan-Nya dengan apapun dan siapapun juga diantara makhluq-makhkuq-Nya merupakan tujuan dari penciptaan alam semesta; dan karenanyalah Allâh -‘Azza wa Jalla- menurunkan Kitab-Kitab, mengutus Para Rasul –‘Alaihimussalâm-, dan mensyariatkan jihad di jalan-Nya.
- Secara bahasa ibadah adalah at-tadzallul (perendahan diri) dan al-khuduu’ (ketundukan). Sedangkan menurut istilah Syariat, ibadah adalah suatu bentuk perendahan diri kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- yang dilandasi dengan rasa cinta dan pengagungan kepadda-Nya, dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana yang dituntunkan dalam syari’at-Nya; atau dengan kata lain, ibadah adalah melakukan segala sesuatu yang membuat Allâh -‘Azza wa Jalla- ridha
- Ibadah yang disyariatkan berlandaskan pada tiga rukun (pilar) pokok, yaitu : [1] al-hubbu (cinta), [2] al-khauf (takut), [3] ar-rajaa’ (harapan). Suatu amalan meskipun disyariatkan, dikerjakan sesuai tuntunan Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; tetap tidak bernilai ibadah dan tidak diterima Allâh -‘Azza wa Jalla-, jika tidak tegak pada amalan tersebut ketiga rukun (pilar) ibadah tersebut.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“