[Kitabut Tauhid 10] 20 Mencintai Allah 08

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Beribadah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan hanya beribadah kepada-Nya saja tanpa menyekutukan-Nya dengan apapun dan siapapun juga diantara makhluq-makhkuq-Nya merupakan tujuan dari penciptaan alam semesta; dan karenanyalah Allâh -‘Azza wa Jalla- menurunkan Kitab-Kitab, mengutus Para Rasul –‘Alaihimussalâm-, dan mensyariatkan jihad di jalan-Nya.
  • Secara bahasa ibadah adalah at-tadzallul (perendahan diri) dan al-khuduu’ (ketundukan). Sedangkan menurut istilah Syariat, ibadah adalah suatu bentuk perendahan diri kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- yang dilandasi dengan rasa cinta dan pengagungan kepadda-Nya, dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana yang dituntunkan dalam syari’at-Nya; atau dengan kata lain, ibadah adalah melakukan segala sesuatu yang membuat Allâh -‘Azza wa Jalla- ridha
  • Ibadah yang disyariatkan berlandaskan pada tiga rukun (pilar) pokok, yaitu : [1] al-hubbu (cinta), [2] al-khauf (takut), [3] ar-rajaa’ (harapan). Suatu amalan meskipun disyariatkan, dikerjakan sesuai tuntunan Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-; tetap tidak bernilai ibadah dan tidak diterima Allâh -‘Azza wa Jalla-, jika tidak tegak pada amalan tersebut ketiga rukun (pilar) ibadah tersebut.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Tinggalkan komentar