Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Seorang hamba tidak dikatakan bertauhid, sampai dia mengucapkan kalimat Tauhiid, yaitu kalimat : laa ilaaha ilallaah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allâh -‘Azza wa Jalla-). Akan tetapi mengucapkan kalimat laa ilaaha ilallaah saja tidak mencukupi sampai terpenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi agar ucapan tersebut diterima. Diantara syaratnya adalah al-mahabbah atau cinta.
- Orang yang mengucapkan kalimat laa ilaaha ilallaahwajib mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla-, Rasul-Nya, agama Islam dan mencintai Kaum Muslimin yang menegakkan perintah-perintah Allâh -‘Azza wa Jalla-dan menjaga batasan-batasan–Nya. Dan membenci orang-orang yang bertentangan dengan laa ilaaha ilallaahdan mengerjakan lawan dari kalimat laa ilaaha ilallaahyaitu berupa kesyirikan atau kekufuran atau mereka mengerjakan hal-hal yang mengurangi kesempurnaan laa ilaaha ilallaahkarena mengerjakan kesyirikan serta kebid’ahan.
- Kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak cukup dengan hanya pengakuan lisan dan tanpa pembuktian. Dan bukti kebenaran kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- adalah dengan mengikuti petunjuk Rasul-Nya -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“