MUSLIMAH TAMPIL JADI MODEL PAKAIAN SYAR’I #shorts
Berpegang Teguh Kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam kitab ini, di halaman yang ke-324. Penulis rahimahullah berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalah, telah menunaikan amanat, telah memberikan nasehat kepada umat, telah membuka dan menghilangkan keraguan, telah berjihad dijalan agama Allah sampai datang kematian.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan umatnya dalam keadaan yang sangat terang benderang, diatas sesuatu yang sangat jelas, malamnya seperti siangnya, tidak ada yang tersesat darinya melainkan pasti binasa.
Ini yang harus diyakini oleh kita semua. Ini adalah muqaddimah yang sangat bagus sekali disebutkan oleh penulis dan wajib kita yakini. Oleh karena itu penulis rahimahullah berkata bahwa wajib bagi setiap muslim yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya untuk mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi dari dirinya, melebihi dari orang tuanya, melebihi dari anaknya dan seluruh manusia. Dan kita sudah bahas tentang cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Penulis berkata bahwa wujud cinta ini bukan dengan perkataan yang bid’ah, bukan dengan nasyid-nasyid, bukan juga dengan perayaan-perayaan yang dilakukan oleh sebagian dari saudara kita kaum muslimin pada tiap tahunnya dihari kelahirannya, bukan itu. Kecintaan ini terwujudkan dengan cara mengikuti sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam berpegang teguh dengan sunnahnya, dalam menghidupkan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dalam mengadakan pembelaan kepada sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kita ikuti sunnahnya, kita hidupkan sunnah yang banyak ditinggalkan oleh sebagian atau banyak dari saudara kita meninggalkan sunah-sunah beliau dan kita bela sunnah beliau ketika sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dilecehkan. Ini cara mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa alasannya dan apa dasarnya? Dasarnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala surat Ali-Imran ayat yang ke-31 Allah berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّـهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّـهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّـهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٣١﴾
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-Imran[3]: 31)
Ayat inilah yang disebut oleh ulama dengan Ayatul Mihnah (ayat ujian). Yaitu
Banyak orang mengatakan, “Aku cinta Allah” tapi tidak mau mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini cintanya palsu. Kalau betul-betul cinta Allah, ikuti Allah. Dan dalam mengikuti sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, diayat yang mulia ini ada dua keutamaan. Pertama mendapatkan cinta Allah, yang kedua mendapatkan ampunan Allah. Kita semua mengharapkan cinta Allah dan kita semua mengharapkan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala.
Siapa yang mencintai Allah, tentunya dia mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kalau seseorang benar-benar cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia pasti akan mengikuti sunnahnya, mengikuti petunjuknya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau tidak mengikuti sunnahnya, berarti cintanya gombal, palsu.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَـٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿٦٧﴾
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali-Imran[3]: 67)
Dalam ayat ini Allah membantah pengakuan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengatakan bahwa Ibrahim golongan mereka. Pengakuan boleh, tapi diakui atau tidaknya oleh Allah itu masalah besar yang harus kita perhatikan.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَـٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّـهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ ﴿٦٨﴾
“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.“(QS. Ali-Imran[3]: 68)
Demikian juga kita katakan bahwa sesungguhnya manusia yang paling dekat dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnahnya dan orang-orang yang berpegang teguh dengan hidayah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan dengan aku mengaku. Setiap orang bisa mengatakan kami ahlussunnah. Orang yang paling sesat bisa bilang bahwa mereka pengikut Nabi. Pada yang paling sesat, padahal paling jauh dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lisan berkata demikian, tapi pembuktian lain lagi. Setiap orang bisa mengaku punya hubungan dengan Laila tapi Laila tidak mengakuinya. Semua bisa mengatakan ahlussunnah, tapi tidak semua pengakuannya diterima.
Lihat, Yahudi mengatakan bahwa Ibrahim dari kelompok mereka, Nasrani juga mengatakan demikian. Tetapi Allah membantahnya. Allah mengatakan bahwa Nabi Ibrahim bukan Yahudi, bukan juga Nasrani. Akan tetapi Nabi Ibrahim muslim. Dan yang paling dekat dengan Nabi Ibrahim adalah yang diikuti Nabi Ibrahim. Adapun orang-orang Yahudi yang hanya ngomong, orang-orang Nasrani yang hanya pintar ngomong tanpa pembuktian, bukan kelompok Ibrahim.
Begitu juga kaum muslimin, mengaku ahlussunnah, tapi aqidahnya jauh di Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, ibadahnya banyak bid’ahnya, amalannya jauh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tingkah lakunya meniru orang barat. Maka pengakuannya tidak diterima.
Maka dari itu jangan aneh ketika nanti di akhirat, ada sekelompok orang yang mau mendatangi telaga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi berkata, “Itu umatku, umatku.” Tapi mereka diusir dari telaga.
Sebelum Kamu Masuk Liang Lahad #video ~7
Kewajiban Bertanya Pada Ahlinya #shorts
Keutamaan Mengajarkan Ilmu
Orang yang mengajarkan ilmu, menjadi seorang guru, baik guru dalam ilmu agama maupun ilmu dunia punya keutamaan begitu besar. Bagaimanakah keutamaan mengajarkan ilmu itu?
Bentuk Mengajarkan Ilmu
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).
Kebaikan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah kebaikan agama maupun kebaikan dunia. Berarti kebaikan yang dimaksudkan bukan hanya termasuk pada kebaikan agama saja.
Termasuk dalam memberikan kebaikan di sini adalah dengan memberikan wejangan, nasehat, menulis buku dalam ilmu yang bermanfaat.
Hadits di atas semakna dengan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ
“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)
Bentuk pengajaran ilmu yang bisa diberikan ada dua macam:
- Dengan lisan seperti mengajarkan, memberi nasehat dan memberikan fatwa.
- Dengan perbuatan atau tingkah laku yaitu dengan menjadi qudwah hasanah, memberi contoh kebaikan.
Khusus dakwah dengan qudwah hasanah, yaitu langsung memberikan teladan, maka jika ada orang yang mengikuti suatu amalan atau meninggalkan suatu amalan karena mencontoh kita, itu sama saja dengan bentuk dakwah pada mereka. Hal ini termasuk pada ayat,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali Imran: 110).
Keutamaan Mengajarkan Ilmu
- Ia akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang ia ajarkan.
- Orang yang mengajarkan ilmu berarti telah melakukan amar ma’ruf nahi munkar, demi baiknya tatanan masyarakat lewat saling menasehati.
- Termasuk bentuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.
- Akan membimbing dan mewujudkan kehidupan bahagia pada tiap individu masyarakat dengan adanya adab dan hukum Islam yang tersebar.
Walau Satu Ayat, Ajarkanlah!
Intinya, ajarkanlah ilmu yang dimiliki walau satu ayat. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari no. 3461).
Yang dimaksud dengan hadits ini adalah sampaikan kalimat yang bermanfaat, bisa jadi dari ayat Al Qur’an atau hadits (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 360).
Semoga bermanfaat, semoga semakin semangat dalam mengajarkan ilmu pada yang lain. Semangat!
Referensi:
Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1432 H, 10: 129-130.
—
Disusun menjelang Ashar di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, 2 Safar 1436 H
Yang senantiasa mengharapkan bimbingan Rabbnya: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
Sumber https://rumaysho.com/9641-keutamaan-mengajarkan-ilmu.html
Tercelanya Perdebatan yang Tidak Bermanfaat
Pada zaman sekarang perdebatan marak dimana-mana, baik dari yang berilmu ataupun yang tidak berilmu, semuanya berbicara atas nama agama, bahkan orang awam belum belajar agama secara mendalampun sudah ikut angkat suara dalam berdebat masalah agama. Dan menyedihkan lagi terkadang argumen yang diutarakan oleh sebagian orang yang gemar berdebat hanyalah bersandar kepada logika semata tanpa didasari oleh ilmu agama atau tanpa merujuk kepada dalil atau pendapat ulama.
Hal ini dipicu oleh banyak faktor, misalnya perbedaan pendapat dalam banyak permasalahan agama yang tidak memiliki titik temu dalam satu pendapat. Atau dipicu oleh sebagian kalangan yang memang gemar berdebat dengan mengkorek-korek titik perbedaan untuk menjadi bahan untuk diperdebatkan, sehingga permasalah sepele yang seharusnya bisa saling kita maklumi menjadi sesuatu yang besar yang harus dipermalasahkan.
Dan sebab yang paling fatal yang memicu perdebatan adalah fanatik buta kepada madzhab atau ustadz atau kelompok tertentu, seakan-akan hanya kelompok yang dianutnyalah yang mewakili kebenaran sedangkan yang lain salah. Dan fanatik seperti inilah yang sangat berbahaya dan membuat setan bersenang riang, karena orang yang fanatik buta adalah lahan subur bagi setan untuk menyesatkan manusia. Orang yang fanatik buta akan mudah menolak kebenaran jika berasal dari luar kelompoknya dan menerima kebatilan jika berasal dari dalam kelompoknya. Bahkan yang menghalangi orang-orang musyrik dari petunjuk kebenaran adalah fanatik buta kepada agama nenek moyang, padahal akal sehat mereka membenarkan agama yang dibawa oleh para rasul alaihimussholatu wassalam. Dan alasan yang selalu mereka utarakan adalah sebagaimana Allah ta’ala firmankan:
وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّقْتَدُونَ
“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 23).
Maka perdebatan dalam masalah agama harus dihindari jika tidak diniatkan untuk mencari atau menyampaikan kebenaran, karena madharatnya banyak. Apalagi jika hanya digunakan sebagai sarana untuk memenangkan diri sendiri atau kelompok dan mengalahkan orang lain. Begitu juga perdebatan dalam agama yang tidak didasari dengan ilmu dan dibangun diatas akal-akalan semata, karena orang yang demikian akan mudah diseret oleh setan ke jalan kesesatan.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengancam orang yang menuntut ilmu dengan tujuan untuk berdebat. Ka’ab bin Malik radhiyallahu‘anhu berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ
Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bisa mendebat ulama (untuk menampakkan keilmuannya di hadapan lainnya) atau untuk mendebat orang-orang bodoh (menanamkan keraguan pada orang bodoh) atau agar menarik perhatian yang lainnya (supaya orang banyak menerimanya), maka Allah akan memasukkannya kedalam neraka.” (HR. Tirmidzi).
Diantara perdebatan yang sangat dilarang adalah berdebat dalam masalah aqidah yang dapat menyusupkan keragu-raguan dalam keimanan seseorang. Misalnya berdebat dalam masalah qadha’ dan qadar, atau sifat-sifat Allah, atau hal-hal ghaib lainnya yang tidak ada penjelasan secara mendetail tentang hakekatnya di dalam Al-Qur’an ataupun Sunnah.
Karena membahasnya secara mendalam serta berkecimpung dalam mencari-cari hakekatnya dapat menjerumuskan seseorang kedalam jurang keragu-raguan dan kebingungan yang tidak ada manfaatnya. Dan perdebatan semacam inilah yang menjerumuskan sebagian kelompok-kelompok sesat seperti mu’tazilah, jahmiyah, jabariyah, qadariyah dan lain-lain ke jurang kesesatan.
Demikian juga tercelanya berdebat dengan orang-orang jahil (awam) yang tidak memiliki ilmu tentang agama atau ilmunya sangat minim, karena berdebat dengan mereka tidak akan menyampaikan kita kepada kebenaran selain capek. Kecuali jika ingin menyampaikan ilmu dan kebenaran yang tidak bisa tersampaikan kecuali dengan cara berdebat. Itupun jika ada harapan bahwa orang tersebut akan mengikuti kebenaran yan disampaikan kepadanya, jika tidak maka lebih baik ditinggalkan agar tidak menimbulkan permusuhan. Allah ta’ala berfirman:
وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Anfal: 199)
Oleh karena itu banyak hadits-hadits yang memperingati kita untuk menjauhi perdebatan. Dari Abu Umamah radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ
“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah tadinya mereka berada di atas petunjuk kecuali karena mereka adalah kaum yang senang melakukan perdebatan.” Kemudian beliau membaca ayat ini, “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud berdebat saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf: 58) (HR. At-Tirmizi & Ibnu Majah)
<Dari sahabat yang sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku akan menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan kedustaan walaupun dia sedang bergurau. Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi siapa saja yang berakhlak baik.” (HR. Abu Daud no. 4800).
Ini adalah perintah untuk menghindari perdebatan, karena biasanya madharat perdebatan lebih besar dari manfaatnya. Bahkan tak jarang ia menumbuhkan kebencian dan permusuhan antara dua orang muslim atau dua orang saudara dan sebagainya yang sebelumnya tidak ada.
Maka perdebatan hendaknya dihindari. Oleh karena itu Imam Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah mengelompokkannya dari dosa-dosa besar, yaitu dalam kitabnya yang berjudul ‘Az-Zawajir ‘An Iqtirafil Kabair’ (Peringatan-peringatan dari perbuatan dosa-dosa besar), ia menulis satu bab yang berjudul: الْكَبِيرَةُ التَّاسِعَةُ وَالسِّتُّونَ: الْجِدَالُ وَالْمِرَاءُ وَهُوَ الْمُخَاصَمَةُ، وَالْمُحَاجَجَةُ، وَطَلَبُ الْقَهْرِ، وَالْغَلَبَةِ فِي الْقُرْآنِ أَوْ الدِّينِ (Dosa besar yang ke-69: ‘Perdebatan’, yaitu saling berselisih, beradu argument, mencari kemenangan dalam (membahas masalah) Al-Qur’an atau Agama).
Namun, bukan berarti berdebat dilarang secara mutlak, di sebagian keadaan ‘debat’ justru diperintahkan dan merupakan salah satu metode dalam berdakwah. Seperti berdebat dengan non muslim untuk menjelaskan kekeliruan agama mereka dan menjelaskan kebenaran islam, atau berdebat dengan orang islam yang berakidah sesat untuk mengajaknya kepada akidah yang benar dan lain sebagainya yang akan kita bahas pada artikel berikutnya.
Wallahu a’lam
Penulis Arinal haq
sumber : https://www.hisbah.net/tercelanya-perdebatan-yang-tidak-bermanfaat/
Jangan Kamu Mati Melainkan Dalam Keadaan Islam
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله
Setiap Muslim yakin sepenuhnya bahwa karunia Allâh Azza wa Jalla yang terbesar di dunia ini adalah agama Islam. Seorang Muslim wajib bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla atas nikmat-Nya yang telah memberikan hidayah Islam. Allâh Azza wa Jalla menyatakan bahwa nikmat Islam adalah karunia yang terbesar, sebagaimana firman-Nya :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…” [al-Mâidah/5:3]
Sebagai bukti syukur seorang Muslim atas nikmat ini adalah dengan menjadikan dirinya sebagai seorang Muslim yang ridha Allâh sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, dan Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabinya. Seorang Muslim harus menerima dan meyakini agama Islam dengan sepenuh hati. Artinya ia dengan penuh kesadaran dan keyakinan menerima apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengamalkan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Jika seseorang ingin menjadi Muslim sejati, pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang setia, maka ia harus meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang haq (benar). Ia harus belajar agama Islam dengan sungguh-sungguh dan mengamalkan Islam dengan ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla dengan mengikuti contoh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Kondisi sebagian umat Islam yang kita lihat sekarang ini sangat menyedihkan. Mereka mengaku Islam, KTP (Kartu Tanda Penduduk) mereka Islam, mereka semua mengaku sebagai Muslim, tetapi ironinya mereka tidak mengetahui tentang Islam, tidak berusaha untuk mengamalkan Islam. Bahkan ada sebagian ritual keagamaan yang mereka amalkan hanya ikut-ikutan saja. Penilaian baik dan tidaknya seseorang sebagai Muslim bukan dengan pengakuan dan KTP, tetapi berdasarkan ilmu dan amal. Allâh Azza wa Jalla tidak memberikan penilaian berdasarkan keaslian KTP yang dikeluarkan pemerintah, juga tidak kepada rupa dan bentuk tubuh, tetapi Allâh melihat kepada hati dan amal.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَـى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَـى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Sesungguhnya Allâh tidak memandang kepada rupa kalian, tidak juga kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.[1]
Seorang Muslim wajib belajar tentang Islam yang berdasarkan al-Qur’ân dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih sesuai dengan pemahaman para Shahabat Radhiyallahu anhum. al-Qur’ân diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla agar dibaca, dipahami isinya dan diamalkan petunjuknya. al-Qur’ân dan as-Sunnah merupakan pedoman hidup abadi dan terpelihara, yang harus dipelajari dan diamalkan. Seorang Muslim tidak akan sesat selama mereka berpegang kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah menurut pemahaman para Shahabat Radhiyallahu anhum.
al-Qur’ân adalah petunjuk hidup, penawar, rahmat, penyembuh, dan sumber kebahagiaan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧﴾ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (al-Qur’ân) dari Rabb-mu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Dengan karunia Allâh dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. [Yunus/10:57-58]
ISLAM ADALAH SATU-SATUNYA AGAMA YANG BENAR
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Sesungguhnya agama di sisi Allâh ialah Islam… [Ali ‘Imrân/3:19]
Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. [Ali ‘Imrân/3:85]
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allâh itulah petunjuk (yang sebenarnya).’ Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, maka tidak akan ada bagimu Pelindung dan Penolong dari Allâh. [al-Baqarah/2:120]
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa Islam satu-satunya agama yang benar, adapun selain Islam tidak benar dan tidak diterima oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Oleh karena itu, agama selain Islam, tidak akan diterima oleh Allâh Azza wa Jalla , karena agama-agama tersebut telah mengalami penyimpangan yang fatal dan telah dicampuri dengan tangan-tangan kotor manusia. Setelah diutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka orang Yahudi, Nasrani dan yang lainnya wajib masuk ke dalam Islam, mengikuti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Kemudian ayat-ayat di atas juga menjelaskan bahwa orang Yahudi dan Nasrani tidak senang kepada Islam serta mereka tidak ridha sampai umat Islam mengikuti mereka. Mereka berusaha untuk menyesatkan umat Islam dan memurtadkan umat Islam dengan berbagai cara. Saat ini gencar sekali dihembuskan propaganda penyatuan agama, yang menyatakan konsep satu Tuhan tiga agama. Hal ini tidak bisa diterima, baik secara nash (dalil al-Qur’ân dan as-Sunnah) maupun akal. Ini hanyalah angan-angan semu belaka.
Kesesatan ini telah dibantah oleh Allâh Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân :
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴿١١١﴾بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, ‘Tidak akan masuk surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani.’ Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, ‘Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar. Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allâh, dan ia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. [al-Baqarah/2:111-112]
Orang Yahudi dan Nasrani mengadakan propaganda berupa tipuan agar kaum Muslimin keluar dari ke-Islamannya dan mengikuti mereka. Bahkan mereka memberikan iming-iming bahwa dengan mengikuti agama mereka, maka orang Islam akan mendapat petunjuk. Padahal, Allâh Azza wa Jalla telah memerintahkan kita untuk mengikuti agama Ibrahim q yang lurus, agama tauhid yang terpelihara. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Dan mereka berkata, ‘Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’ Katakanlah, ‘(Tidak!) tetapi (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan dia tidak termasuk orang yang mempersekutukan Allâh. [al-Baqarah/2:135]
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebathilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya. [al-Baqarah/2:42]
Berkenaan dengan tafsir ayat ini, “Dan janganlah kalian campuradukkan yang haq dengan yang bathil,” Imam Ibnu Jarîr t membawakan pernyataan Imam Mujâhid rahimahullah yang mengatakan, “Janganlah kalian mencampuradukkan antara agama Yahudi dan Nasrani dengan agama Islam.”
Sementara dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, Imam Qatâdah rahimahullah berkata, “Janganlah kalian campur-adukkan agama Yahudi dan Nasrani dengan agama Islam, karena sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allâh Azza wa Jalla hanyalah Islam. Sedangkan Yahudi dan Nasrani adalah bid’ah bukan dari Allâh Azza wa Jalla !”
Sungguh, tafsir ini merupakan khazanah fiqih yang sangat agung dalam memahami Al-Qur-an.
Untuk itulah kewajiban kita bersikap hati-hati terhadap propaganda-propaganda sesat, yang menyatakan bahwa, ‘Semua agama adalah baik’, ‘kebersamaan antar agama’, ‘satu tuhan tiga agama’, ‘persaudaraan antar agama’, ‘persatuan agama’, ‘perhimpunan agama samawi’, ‘Jaringan Islam Liberal (JIL)’, dan lainnya. Bahkan mereka gunakan juga istilah HAM (Hak Asasi Manusia) untuk menyesatkan kaum Muslimin dengan kebebasan beragama.
Semua slogan dan propaganda tersebut bertujuan untuk menyesatkan umat Islam, dengan memberikan simpati atas agama Nasrani dan Yahudi, mendangkalkan pengetahuan umat Islam tentang Islam yang haq, untuk menghapus jihad, untuk menghilangkan ‘aqidah al-wala’ wal bara’ (cinta/loyal kepada kaum Mukminin dan berlepas diri dari selainnya), dan mengembangkan pemikiran anti agama Islam. Dari semua sisi hal ini sangat merugikan Islam dan umatnya.[2]
Semua propaganda sesat tersebut merusak ‘aqidah Islam. Sedangkan ‘aqidah merupakan hal yang paling pokok dan asas dalam agama Islam ini, karena agama yang mengajarkan prinsip ibadah yang benar kepada Allâh Azza wa Jalla saja, hanyalah agama Islam.
Rasûlullâh, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , adalah Rasul terakhir dan Rasul penutup. Syari’at beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penghapus bagi syari’at sebelumnya. Dan Allâh Azza wa Jalla tidak menerima syari’at lain dari seorang hamba selain syari’at Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Islam). Islam adalah syari’at penutup yang kekal dan terpelihara dari penyimpangan yang terjadi pada syari’at-syari’at sebelumnya, dan seluruh manusia diwajibkan untuk mengemban syari’at ini.
Setiap Muslim wajib berpegang teguh kepada agama Islam, dan janganlah ia mati melainkan dalam keadaan Islam. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [Ali ‘Imrân/3:102]
Maka siapa saja yang tidak masuk Islam sesudah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia mati dalam keadaan kafir maka ia menjadi penghuni Neraka. Wal ‘iyâdzubillâh.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَالَّذِيْ نَفْسُ مُـحَمَّدٍ بِيَدِهِ! لَا يَسْمَعُ بِـي أَحَدٌ مِنْ هـٰذِهِ الْأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلَا نَصْرَانِـيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
Demi Rabb yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang dari umat Yahudi dan Nasrani yang mendengar diutusnya aku (Muhammad), lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya (Islam), niscaya dia termasuk penghuni Neraka.[3]
AZAS ISLAM ADALAH TAUHID DAN MENJAUHKAN SYIRIK
Setiap orang yang beragama Islam wajib mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Dan seorang Muslim juga mesti memahami pengertian tauhid, makna syahadat, rukun syahadat dan syarat-syaratnya, supaya ia benar-benar bertauhid kepada Allâh Azza wa Jalla .
Tauhid menurut etimologi (bahasa) diambil dari kata: وَحَّدَ، يُوَحِّدُ، تَوْحِيْدًا artinya menjadikan sesuatu itu satu.
Sedangkan menurut terminologi (istilah ilmu syar’i), tauhid berarti mengesakan Allâh Azza wa Jalla pada segala sesuatu yang khusus bagi-Nya. Mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla dalam ketiga macam tauhid, yaitu Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Rububiyyah, maupun Asma’ dan Sifat-Nya. Dengan kata lain, Tauhid berarti beribadah hanya kepada Allâh Azza wa Jalla saja.
Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan. Allâh Azza wa Jalla adalah Raja, Penguasa dan Rabb yang mengatur segala sesuatu.
Tauhid Uluhiyyah artinya mengesakan Allâh Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’ânah (minta pertolongan), istighâtsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’âdzah (meminta perlindungan) dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allâh Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya untuk Allâh semata dan ikhlas karena-Nya. Dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Allâh.
Tauhid Asma’ wa Shifat artinya menetapkan Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan atas diri-Nya dan yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mensucikan Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allâh Subhanahu wa Ta’ala dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kaum Muslimin wajib menetapkan Sifat-Sifat Allâh Azza wa Jalla , baik yang terdapat di dalam al-Qur’ân maupun dalam as-Sunnah, dan tidak boleh ditakwil. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
Dan Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa; Tidak ada Ilah melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [al-Baqarah/2:163]
Syaikh al-‘Allâmah ‘Abdurrahman bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah (wafat th. 1376 H) berkata, “Allâh Azza wa Jalla itu tunggal dalam Dzat-Nya, Nama-Nama-Nya, Sifat-Sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama-Nya, dan Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allâh Azza wa Jalla . Apabila demikian, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi dan Allâh tidak boleh disekutukan dengan seorang pun dari makhluk-Nya.”[4]
Inilah inti ajaran Islam, yaitu mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla . Seorang Muslim wajib mentauhidkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan melaksanakan konsekuensi dari kalimat syahadat لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ sebagai wujud rasa syukur kepada Allâh Azza wa Jalla . Barangsiapa yang bertauhid kepada Allâh dan tidak berbuat syirik kepada-Nya, maka baginya Surga dan diharamkan masuk Neraka.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْـجَنَّةَ
Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allâh, maka ia masuk Surga.[5]
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُـحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ
Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain Allâh dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allâh, dengan jujur dari hatinya, melainkan Allâh mengharamkannya masuk Neraka.[6]
Sebaliknya, orang-orang yang berbuat syirik kepada Allâh Azza wa Jalla , maka diharamkan Surga bagi mereka dan tempat mereka adalah di Neraka. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“…Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allâh, maka sungguh Allâh mengharamkan Surga baginya, dan tempatnya ialah Neraka dan tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” [al-Mâidah/5:72]
ISLAM ADALAH AGAMA YANG MUDAH
Islam adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia.[7] Islam adalah agama yang tidak sulit. Allâh Azza wa Jalla menghendaki kemudahan kepada umat manusia dan tidak menghendaki kesusahan kepada mereka. Sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“…Allâh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” [al-Baqarah/2:185]
Juga firman-Nya :
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“… Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama …” [Al-Hajj/22: 78]
Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fithrah manusia, baik dalam hal ‘aqidah, syari’at, ibadah, muamalah dan lainnya. Allâh Azza wa Jalla yang telah menciptakan manusia, tidak akan memberikan beban kepada hamba-hamba-Nya apa yang mereka tidak sanggup lakukan, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Allâh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya… [al-Baqarah/2: 286]
Tidak ada hal apa pun yang sulit dalam Islam. Allâh Azza wa Jalla tidak akan membebankan sesuatu yang manusia tidak mampu melaksanakannya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا، وَأَبْشِرُوْا، وَاسْتَعِيْنُوْا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْـجَةِ
Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta mohonlah pertolongan (kepada Allâh) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.[8]
Hanya saja ada sebagian orang yang menganggap Islam itu berat, keras, dan sulit. Anggapan keliru ini muncul karena :
Ketidaktahuan tentang Islam. Mereka tidak belajar al-Qur’ân dan as-Sunnah yang shahih menurut pemahaman Shahabat, dan tidak mau menuntut ilmu syar’i.
Mengikuti hawa nafsu. Orang yang mengikuti hawa nafsu menggap semuanya susah dan berat kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya. Jadi yang mudah dalam pandangan mereka hanyalah yang sesuai dengan nafsu mereka saja.
Banyak berbuat dosa dan maksiat, sebab dosa dan maksiat menghalangi seseorang untuk berbuat kebaikan dan selalu merasa berat untuk melakukannya.
Mengikuti agama nenek moyang dan mengikuti pendapat orang banyak.
Mengikuti adat istiadat dan kebudayaan.
Mengikuti kelompok, madzhab, dan lainnya.
Syari’at Islam adalah mudah. Kemudahan syari’at Islam berlaku dalam semua hal, baik dalam ushûl (hal-hal pokok dan mendasar) maupun furu’ (cabang), baik dalam ‘aqidah, ibadah, akhlak, mu’amalah, jual beli, pinjam-meminjam, pernikahan, hukuman dan lainnya.
Semua perintah dalam Islam mengandung banyak manfaat. Sebaliknya, semua yang dilarang dalam Islam mengandung banyak kemudharatan. Maka, kewajiban atas kita untuk sungguh-sungguh memegang teguh syari’at Islam dan mengamalkannya. Apabila kita mengikuti al-Qur’ân dan as-Sunnah dan mengamalkannya maka Allâh Azza wa Jalla akan memberikan hidayah (petunjuk) dan kita dimudahkan dalam melaksanakan agama Islam ini.
ISLAM ADALAH AGAMA YANG SEMPURNA
Agama Islam sudah sempurna, tidak boleh ditambah dan dikurangi. Kewajiban umat Islam adalah ittiba’. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…” [al-Mâidah/5:3]
Allâh Azza wa Jalla telah menjelaskan dalam al-Qur’ân tentang ushûl (hal-hal pokok dan mendasar) dan furu’ (cabang-cabang) agama Islam. Allâh Azza wa Jalla telah menjelaskan tentang tauhid dengan segala macam-macamnya. Islam menjelaskan tentang beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dengan benar, mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla , menjauhkan syirik, bagaimana shalat yang benar, zakat, puasa, haji, bagaimana melaksanakan hari raya, bergaul dengan manusia dengan batas-batasnya sampai tentang cara buang air besar pun diajarkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
عَنْ سَلْمَانَ z قَـالَ: قَـالَ لَنَـا الْمُشْـرِكُوْنَ: قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَيْئٍ حَتَّى الْـخِرَاءَةَ ! فَقَالَ: أَجَلْ !
Dari Salmân Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Orang-orang musyrik telah bertanya kepada kami, ‘Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka, Salman Radhiyallahu anhu menjawab, ‘Ya!’”[9]
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada manusia apa saja yang membawa manusia ke Surga dan apa saja yang membawa manusia ke Neraka. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
عَنْ أَبِـى ذَرٍّ z قَالَ: تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ j وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِـي الْهَوَاءِ إِلَّا وَهُوَ يَذْكُرُنَا مِنْهُ عِلْمًا. قَالَ: فَقَالَ j: مَا بَقِـيَ شَـيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْـجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلَّا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.
Dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu anhu , ia mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr Radhiyallahu anhu , “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.’” [10]
Setiap Muslim wajib mengembalikan apa yang mereka perselisihkan kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah. Allah Azza wa Jalla berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allâh dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [an-Nisâ’/4:59]
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [an-Nisâ’/4:65]
Wallaahu a’lam.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XV/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
Footnote
[1] Shahih: HR. Muslim (no. 2564 (33)), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[2] Pembahasan lengkapnya lihat kitab al-Ibthâl Linazhariyyatil Khalthi baina Dînil Islâm wa Ghairihi minal Adyân karya Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid, cet. Daar ‘Alamul Fawaa-id, cet II/ th. 1421 H.
[3] Shahih: HR. Muslim no 153 (240) dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[4] Taisîrul Karîmir Rahmân fî Tafsîri Kalâmil Mannân (hlm. 63), cet. Maktabah al-Ma’arif, th. 1420 H.
[5] Shahih: HR. Muslim (no. 26) dari Shahabat ‘Utsman Radhiyallahu anhu.
[6] Shahih: HR. al-Bukhari (no. 128) dan Muslim (no. 32), dari hadits Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu anhu.
[7] Pembahasan ini diambil dari kitab Kamâluddîn al-Islâmi oleh Syaikh ‘Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim (hlm. 42) dan Shuwarun min Samâhatil Islâm oleh DR. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdurrahman bin ‘Ali Ar-Rabii’ah, cet. Darul Mathbu’aat al-Haditsah, Jeddah th. 1406 H, dan kitab-kitab lainnya.
[8] Shahih: HR. al-Bukhari (no. 39), Kitâbul Imân bab ‘Addînu Yusrun’, dan an-Nasa-i (VIII/122), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[9] Shahih: Riwayat Muslim (no. 262 (57)), Abu Dawud (no. 7), at-Tirmidzi (no. 16) dan Ibnu Mâjah (no. 316), dari Salmân al-Farisi Radhiyallahu anhu.
[10] Shahih: HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr (II/155-156, no. 1647) dan Ibnu Hibbân (no. 65) dengan ringkas, dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallah anhu. Lihat Silsilah al-Ahâdîts Ash-Shahîhah (no. 1803).
Referensi : https://almanhaj.or.id/12844-jangan-kamu-mati-melainkan-dalam-keadaan-islam.html





