Mengadu kepada Allah, bukan kepada Makhluk

Salah satu pelajaran tauhid yang luar biasa adalah mengajarkan kita agar tidak mudah mengeluh atau curhat kepada manusia. Mengeluh dan curhat itu hanya kepada Allah Ta’ala. Sedangkan kepada manusia, itu lebih ke arah musyawarah dan diskusi mengenai masalah kita untuk mencari jalan keluar terbaik. Itu pun tidak semua manusia bisa diajak musyawarah dan diskusi, melainkan manusia yang berilmu serta mau membantu kita.

Salah satu contoh mengadu kepada Allah Ta’ala adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub ‘alaihis salaam. Beliau berkata dan tertulis dalam Al-Qur’an,

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86).

Ibnul Jauzi Rahimahullah menjelaskan bahwa mengeluh kepada makhluk adalah suatu hal yang dibenci. Beliau rahimahullah berkata,

وقد كان السَّلَفُ يكرهون الشَّكوَى إِلَى الخَلقِ. وَالشَّكوَى وَإِن كان فيها رَاحَةٌ إِلا أَنَّـهَا تَدُلُّ عَلَىٰ ضَـعـفٍ وَذُلٍّ. وَالصَّبرُ عنها دَلِيلٌ عَلَى قُـوَّةٍ وَعِزٍّ.

“Para salaf membenci mengeluh kepada makhluk, meski ketika mengeluh tersebut mendatangkan ketenangan. Hal tersebut menunjukkan lemahnya iman dan kerendahan. Bersabar atas musibah menunjukkan kuatnya iman dan kemuliaan seseorang” (Ats-Tsabaat ‘Inda Al-Mamat, hal. 55).

Mengapa dibenci? Karena mengeluh kepada makhluk seolah-olah menunjukkan seorang hamba “mengeluhkan perbuatan (takdir) Rabb-nya kepada sesama makhluk”. Jelas semua yang terjadi adalah perbuatan dan takdir Alah Ta’ala. Kita harus rida dengan semua takdir Allah Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Barangsiapa yang ridha (menerimanya), maka Allah akan meridhainya. Dan barangsiapa yang murka (menerimanya), maka Allah murka kepadanya” (HR. Tirmidzi).

Hal ini pun dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ada masalah berat, beliau mengadukan kepada Allah Ta’ala dengan mendirikan shalat.

Sahabat Hudzaifah Radhiallahu ‘anhu berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

“Apabila ada masalah berat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan salat” (HR. Ahmad, lihat Shahih Sunan Abi Dawud).

Orang yang segera kembali kepada Allah ketika ada masalah berat, maka hatinya akan kembali tenang. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. ar-Rad: 27-28).

Tidak hanya masalah berat saja baru kita mengadu kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, apa pun masalahnya kita meminta kepada Allah Ta’ala dan memohon kepada Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan kesempurnaan tauhid seorang hamba.

Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah menjelaskan hendaknya kita meminta meskipun masalah remeh sekalipun seperti tali sandal yang putus. Beliau rahimahullah berkata,

” وفي الحديث دليل على أن الله يحب أن يسأله العباد جميع مصالح دينهم ودنياهم من الطعام والشراب والكسوة وغير ذلك ، كما يسألونه الهداية والمغفرة ، وفي الحديث : ( ليسأل أحدكم ربه حاجته كلها حتى شسع نعله إذا انقطع ) ، وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته ، وفي الإسرائيليات : أن موسى عليه الصلاة والسلام قال : يا رب ! إنه ليعرض لي الحاجة من الدنيا فأستحي أن أسألك . قال : سلني حتى ملح عجينك وعلف حمارك .

“Pada hadits terdapat dalil bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang meminta kepada-Nya semua maslahat agama dan dunia, baik berupa makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain sebagaimana mereka meminta hidayah dan ampunan. Dalam hadits disebutkan, ‘hendaklah setiap kalian meminta kepada Rabb-nya semua kebutuhan, sampai-sampai ketika tali sandalnya lepas’” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 2: 48).

Apabila ada masalah kita tidak mengadu kepada makhluk, tetapi kita diskusikan dan cari jalan keluarnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَ شَاوِرْهُمْ في الأَمْرِ

“Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” (QS. Al-Imran: 159).

Tentu tidak semua manusia bisa kita ajak musyawarah dan diskusi, tetapi orang yang berilmu dan berpengalaman dalam hal ini.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Tanyalah kepada ahlinya (orang yang berilmu) jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43).

Demikian, semoga bermanfaat.

@ Lombok, Pulau seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/60965-mengadu-kepada-allah-bukan-kepada-makhluk.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Berbakti Pada Orang Tua Pun Termasuk Jihad

Berbakti Pada Orang Tua Pun Termasuk Jihad

Berbakti Pada Orang Tua Pun Termasuk Jihad – Kenapa hal ini termasuk dalam kategori jihad? Simak dalil yang menerangkan dan kandungannya dalam artikel ini.

Bismillah..

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

“Seorang laki-laki datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta izin ikut berjihad. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟

“Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”

Laki-laki tersebut menjawab, “Ya.” Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata:

فَفِيهما فَجَاهِدْ

“Berjihadlah terhadap keduanya.” (HR. Al-Bukhari)

Kandungan Hadits

1️⃣ Semangat para sahabat untuk meminta nasihat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

2️⃣ Menunjukkan keutamaan jihad.

3️⃣ Anjuran Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk memperhatikan keadaan orang tua.

4️⃣ Amal kebaikan itu memiliki keutamaan yang berbeda. Bakti pada orang tua lebih utama dari jihad yang sunnah.

5️⃣ Orang yang ingin kebaikan terkadang akan terhalang dari kebaikan yang diinginkannya bila tidak bertanya pada ahli ilmu.

6️⃣ Para da’i hendaknya menjadi manusia yang paling berbakti pada orangtua mereka. Bisa dengan cara mendoakan mereka, mengajak mereka pada jalan kebaikan, atau berbakti pada mereka.

7️⃣ Teladan para nabi dalam berbakti pada orang tua diikuti oleh para ulama Islam, mereka adalah orang yang paling berbakti pada orang tua.

8️⃣ Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Sungguh aku dapati orang-orang di zaman sekarang tidak memperhatikan berbakti pada orang tua dan tidak menganggapnya sebagai kewajiban agama dan mereka bahkan memutuskan silaturahmi dengan orang tua. Bakti pada orang tua itu dengan taat pada mereka dalam perkara yang tidak membahayakan, mendahulukan perintah mereka dari ibadah sunnah, menjauhi larangan mereka, berinfaq untuk mereka, memperhatikan adab dan pada mereka, tidak mengangkat suara pada mereka, dan bersabar menghadapi mereka.”

•═◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═•
📖 Disarikan dari Kitab Arba’un Haditsan fi at-Tarbiyyah wal Manhaj disusun oleh Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sadhan hafizhahullah

sumber : https://kajiansunnahbandung.web.id/berbakti-pada-orang-tua-pun-termasuk-jihad/

Sakaratul Maut Itu Bervariasi, dan Belum Tentu Itu Tanda Baik atau Buruknya Seseorang

[Rubrik: Faidah Ringkas]

Setiap manusia akan menghadapi kematian, dimana mereka semua akan merasakan bagaimana nyawanya dicabut. Proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik yang menegangkan lagi menyakitkan. Itulah yang dikenal sebagai sakaratul maut. Allah berfirman,

وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَاكُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (QS Qaaf: 19)

Imam Ath-Thabari menafsirkan,

وهي شدّته وغلبته على فهم الإنسان

“Maksud sakaratul maut adalah kedahsyatan dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya.” (Jami’u Al Bayan Fii Tafsiri Al Quran)

Penderitaan sakaratul maut akan dialami oleh setiap makhluk tanpa terkecuali, tetapi tingkat kepedihannya berbeda-beda. Secara umum, orang beriman akan mengalami peristiwa sakaratul maut yang mudah dan ringan. Namun kadang derita sakaratul maut yang berat juga mendera mereka.

Di antara tujuan mengapa orang shalih terkadang merasakan sakaratul maut yang berat adalah untuk menghapus dosa-dosa dan juga mengangkat derajatnya, sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau merasakan bagaimana pedihnya sakaratul maut. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bercerita saat menjelang wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ أَوْ عُلْبَةٌ فِيهَا مَاءٌ فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَيَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ فِي أخرجه البخاري ك الرقاق باب سكرات الموت و في المغازي باب مرض النبي ووفاته. الرَّفِيقِ الْأَعْلَى حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ

“Bahwa di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata, “Laa Ilaaha Illallah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut”. Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata, “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas.“ (HR. Bukhari, no. 6510)

Ibnu Hajar Al-Asqalani mengomentari,

وفي الحديث أن شدة الموت لا تدل على نقص في المرتبة بل هي للمؤمن إما زيادة في حسناته وإما تكفير لسيئاته

“Dalam hadits tersebut, kesengsaraan (dalam) sakaratul maut bukan petunjuk atas kehinaan martabat (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman bisa untuk menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 11/363)

Oleh karena itu, kondisi sakaratul maut itu bervariasi dan tidak selamanya menjadi indikator baik atau buruknya seseorang. Tidak selamanya orang baik akan menjalani proses sakaratul maut yang ringan, sebagaimana tidak selamanya orang buruk akan menjalani proses sakaratul maut yang berat. Tolok ukur utamanya adalah bagaimana ia hidup dengan mengikuti ajaran agama yang benar.

sumber : https://muslimafiyah.com/sakaratul-maut-itu-bervariasi-dan-belum-tentu-itu-tanda-baik-atau-buruknya-seseorang.html

Penyakit Sombong

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusanNya. Amma ba’du:

Diantara sifat-sifat tercela yang telah dicela oleh Allah dan RasulNya ialah sifat sombong. Dan yang dimaksud sombong disini ialah sebagaimana dikatakan oleh al-Ghazali: “Yang dimaksud sombong adalah menganggungkan dirinya sendiri dan memandang dirinya lebih baik dari pada orang lain”.[1]

Adapun para ulama, ada yang menjelaskan pengertian sombong dengan mengatakan: “Sombong ialah seseorang mengagungkan dirinya sendiri serta menganggap bahwa dirinya lebih baik dari pada orang lain, dan merendahkan serta meremehkan orang lain ditambah sikap membanggakan diri pada kondisi yang seharusnya dia merasa tawadhu (rendah diri)”.[2]  Dan kalau kita cermati dari dua pengertian diatas maka kesimpulannya hampir sama dalam hakikat maknanya.

Dalam sebuah ayat dijelaskan:

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ  [ لقمان : 18]

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.  [Luqman/31: 18].

Firman Allah Taala: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu”. Maksudnya membuang muka dan memalingkan wajah dari orang lain karena sombong, sedangkan makna al-Marahu ialah berjalan dengan angkuh.

Dan Allah Taala pernah berfirman tentang Musa ‘alaihi sallam:

 وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ  [ غافر : 27]

 “Dan Musa berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabbmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari penghitungan”. [Ghaafir/40: 27].

Sedangkan sombong dalam pengertian yang diberikan oleh syariat adalah orang yang menolak kebenaran dan meremehkan orang lain, hal itu, seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ». قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ» [أخرجه مسلم]

“Tidak akan masuk surga orang yang masih memiliki sikap sombong didalam hatinya walau seberat biji sawi”. Maka ada seorang sahabat yang bertanya pada beliau: ‘Sesungguhnya ada orang yang menyukai kalau pakaianya itu bagus dan sendalnya baru”. Maka Nabi menjawab: “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. (yang dinamakan) sombong ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain“. [HR Muslim no: 91].

Didalam hadits ini Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada kita, bahwa sombong itu terjadi pada dua hal:

Pertama: Menganggap dirinya lebih besar dari Allah, atau agama atau Rasulnya. Seperti anggapan Fir’aun serta orang-orang yang semisal dengannya, yang congkak enggan untuk menjadi hamba Allah azza wa jalla. Sedangkan Allah subhanahu wa Taala berfirman;

وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ [ غافر : 27]

 “Dan Musa berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabbmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari penghitungan”.  [Ghaafir/40: 27].

Karena Nabi Allah Musa telah mengajaknya kepada petunjuk dan jalan yang lurus, namun, dirinya congkak dan sombong, dan dengan angkuhnya mengatakan kepada kaumnya:

فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ – فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡأٓخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰٓ  [النازعات : 24-25]

 “(Seraya) berkata:”Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”. Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia”.  [an-Nazi’at/4: 24-25].

Sehingga karena kesombongan Fir’aun yang luar biasa Allah menjadikan pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahnya. Sebagaimana yang Allah Taala jelaskan dalam firmanNya:

فَٱلۡيَوۡمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَايَةٗۚ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ  [ يونس : 92]

 “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami”. [Yunus/10: 92].

Inilah akhir perjalanan tiap orang yang sombong dan durhaka, baik sebelum Fir’aun maupun setelahnya. Semuanya sama akan mendapat siksaan yang pedih seperti halnya mereka juga sama didalam meniti jalannya orang-orang sombong terhadap Allah dan RasulNya. Berdasarkan firman Allah Tabaraka wa Taala:

فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ – إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ – إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسۡتَكۡبِرُونَ  [الصافات: 33-35]

 “Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri”. [ash-Shaaffat/37: 33-35].

Dan kesombongan merupakan kekhususan dari kekhususan yang dimiliki oleh Dzat yang Maha Perkasa, Allah subhanahu wa Taala. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  قَالَ اللَّهُ الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا أَدْخَلْتُهُ جَهَنَّمَ   [أخرجه مسلم و أبو داود]


“Allah azza wa jalla berfirman: ‘Kesombongan adalah jubahKu, sedangkan keagungan adalah pakaianKu, maka barangsiapa yang mencabut salah satunya dariKu, maka akan Aku lemparkan ia kedalam neraka“. [HR Muslim no: 2620. Abu Dawud no: 4090].

Dalam hadits yang lain Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita bahwa sombong merupakan salah satu sifat dari sifat-sifatnya penghuni neraka. Sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « احْتَجَّتِ النَّارُ وَالْجَنَّةُ فَقَالَتْ هَذِهِ يَدْخُلُنِى الْجَبَّارُونَ وَالْمُتَكَبِّرُونَ. وَقَالَتْ هَذِهِ يَدْخُلُنِى الضُّعَفَاءُ وَالْمَسَاكِينُ فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِهَذِهِ أَنْتِ عَذَابِى أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ – وَرُبَّمَا قَالَ أُصِيبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ – وَقَالَ لِهَذِهِ أَنْتِ رَحْمَتِى أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْكُمَا مِلْؤُهَا » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Surga dan neraka pernah berdebat. Neraka mengatakan: ‘Aku disiapkan untuk orang-orang yang sombong dan angkuh’. Surga pun mengatakan: ‘Akan dimasukkan kesini orang-orang yang lemah dan miskin’. Maka Allah Taala menengahi, dan berfirman pada neraka: ‘Engkau adalah adzabKu, yang Aku mengadzab denganmu siapa saja yang Aku kehendaki’. Barangkali Allah mengatakan: ‘Aku akan mengadzab denganmu siapa orang yang Aku kehendaki”. Lalu berfirman pada surga: “Engkau adalah rahmatKu, yang akan Aku sayangi denganmu siapa saja orang yang Aku kehendaki, dan tiap dari kalian akan penuh dengan penghuninya“.  [HR Bukhari no: 2620. Muslim no: 2846].

Disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya sebuah kisah dari Abu Salamah bin Abdurahman bin Auf, dia menceritakan: ‘Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Amr bin Ash pernah bertemu di Marwah, lalu keduanya terlihat dalam sebuah obrolan. Setelah itu, Abdullah bin Amr pergi, tinggal Abdullah bin Umar yang terlihat menangis, ketika melihat hal tersebut maka salah seorang sahabatnya bertanya heran: ‘Wahai Abu Abdurahman kenapa engkau menangis? Beliau menjawab: ‘Orang  tadi, maksudnya Abdullah bin Amr mengatakan pernah mendengar kalau Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ أَكَبَّهُ اللَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي النَّارِ  [أخرجه أحمد]

“Barangsiapa yang masih ada didalam hatinya seberat biji sawi dari sifat sombong, maka Allah akan mencampakkan dengan wajahnya ke dalam neraka“. [HR Ahmad 11/590 no: 7015].

Orang-orang yang sombong adalah seburuk-buruk makhluk disisi Allah, dan mereka akan dikumpulkan kelak pada hari kiamat dengan membawa kerendahan dan kehinaan diwajah-wajah mereka. Berdasarkan firman Allah Tabaraka wa Taala:

وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ تَرَى ٱلَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى ٱللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسۡوَدَّةٌۚ أَلَيۡسَ فِي جَهَنَّمَ مَثۡوٗى لِّلۡمُتَكَبِّرِينَ  [الزمر : 60]

“Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?. [az-Zumar/39: 60].

Dan penjelasan Allah dalam ayat yang lain:

وَتَرَىٰهُمۡ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا خَٰشِعِينَ مِنَ ٱلذُّلِّ يَنظُرُونَ مِن طَرۡفٍ خَفِيّٖۗ  [الششورى: 45]

 “Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu”. [asy-Syuura/42: 45].

Adapun siksa yang akan mereka terima kelak pada hari kiamat adalah seperti yang digambarkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu anhuma, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يُحشرُ المُتكَبِرون يَوم القِيامةِ أَمثالَ الذَّر فِي صُورة الرِّجال , يَغشاهُم الذُّل مِن كُل مَكان , يُساقُون إِلى سِجنِ مِن جَهنَّم يُسمَّى : بُوْلَس تَعلُوهُم نَار الأنْيَار  ويُسقَون مِن عُصارَة أَهلِ النَّار  طينةَ الخَبال » [أخرجه الترمذي]

“Kelak pada hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring seperti semut bermuka manusia, yang dikelilingi kehinaan pada setiap tempat, kemudian mereka digiring menuju penjara didalam neraka yang bernama Bulas, sedangkan diatas mereka ialah neraka An,yar. Dan minuman mereka adalah nanah darah yang mengalir dari kulitnya penduduk neraka“. [HR at-Tirmidzi no: 2492. Dan beliau menyatakan hadits hasan shahih].

Dan diantara bentuk kesombongan ialah tatkala sampai pada seseorang, suatu kebenaran dari al-Qur’an ataupun haditsnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu dirinya enggan menerima  serta tunduk kepadanya, namun, dirinya justru bersikap congkak dan sombong. Maka Allah Taala memperingatkan akan hal tersebut dengan firmanNya:

فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ  [النور: 63]

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”.  [an-Nuur/24: 63].

Maka bagi orang yang menyalahi perintah Allah dan RasulNya ada sebuah ayat yang diturunkan berkenaan dengan mereka, yaitu:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا  [النساء: 65]

 “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.[an-Nisaa’/4: 65].

Ada sebuah hadits yang menceritakan akan kebenaran hal tersebut, sebagaimana yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari haditsnya Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa ayahnya pernah bercerita, pernah ada seorang yang makan dihadapan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya, maka Nabi menyuruh padanya: ‘Makanlah dengan tangan kananmu”. Namun orang tersebut menjawab: ‘Aku tidak bisa’. Lalu Nabi menimpali: ‘Kamu tidak akan bisa’. Dan tidak ada yang mencegahnya untuk mentaati perintah Rasul melainkan kesombongannya. Pada akhir hadits ayahnya mengatakan: ‘Maka dirinya betul-betul tidak bisa makan dengan tangan kanannya”. [HR Muslim no: 2021].


Kedua: Sombong terhadap makhluk, adapun pengertiannya telah kita jelaskan diatas, yaitu meremehkan, merendahkan dan memandang hina orang lain. Dan biasanya hal ini hanya muncul dari kalangan orang-orang yang rendah martabat dan memiliki kekurangan, karena mereka ingin mengganti kekurangannya dengan menampakkan yang memang bukan menjadi bagiannya, sehingga timbul sikap sombong dari mereka. Oleh karena itu, telah datang sebuah penjelasan dari Nabi yang mulia agar kita semua bersikap rendah diri (tawadhu), sebagaimana yang beliau katakan dalam sabdanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَبْغِىَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ » [أخرجه أبو داود]

“Sesungguhnya Allah telah menurunkan wahyu padaku: ‘Hendaknya kalian bersikap tawadhu jangan sampai salah seorang (diantara kalian) sombong dihadapan yang lain, karena itu tidak pantas dilakukan“. [HR Abu Dawud no: 2765].

Al-Ghazali pernah mengatakan: ‘Kesombongan adalah penyakit akut yang sangat ganas, yang bisa membinasakan orang-orang yang terkemuka dari kalangan para makhluk. Dan sedikit sekali yang bisa selamat darinya, baik kalangan ahli ibadah, zuhad maupun para ulama, terlebih orang-orang awamnya.

Bagaimana tidak bahaya sedangkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: ‘Tidak akan masuk surga orang yang masih ada didalam hatinya sifat sombong walau hanya seberat biji sawi’.  Sehingga sifat sombong yang dimilikinya sebagai penghalang untuk masuk surga, karena kesombongan akan membelokkan antara seorang hamba dan akhlak kaum muslimin secara umum.  Sedangkan akhlak mulia adalah pintu dari pintu-pintu surga, adapun kesombongan maka dia akan menutup pintu-pintu tersebut. Disamping itu, orang yang sombong biasanya tidak mungkin sanggup untuk mencintai saudaranya sesama mukmin seperti halnya dia mencintai untuk dirinya sendiri.

Maka tidak heran, kalau akhlak yang tercela melainkan pasti orang yang sombong berusaha dengan keras untuk bisa menjaga kesombongannya, dan sebaliknya tidak ada akhlak yang terpuji melainkan dirinya tidak mampu untuk melakukannya karena takut akan kehilangan kehormatannya. Dari sini, menjadi jelas mengapa orang yang masih mempunyai sifat sombong walau seberat biji sawi tidak akan masuk surga.

Dan antara sifat sombong dengan akhlak yang tercela adalah suatu hal yang saling bergandengan, yang saling mengajak satu sama lain. Dan diantara jenis kesombongan yang teramat buruk ialah yang menghalangi pelakunya untuk mengambil ilmu dan menerima kebenaran serta tunduk pada kebenaran tersebut”. [3]

Dan yang perlu menjadi catatan disini ialah bahwa sifat sombong ini mencakup mensucikan diri dan membanggakan diri dihapan orang lain, bangga dengan nasab, harta, kedudukan, kekuatan serta kecantikan.

Misalkan, yang dari keturunan mulia sombong dihadapan orang yang keturunannya rendah, walaupun kalau dilihat dari sisi amalnya lebih tinggi. Orang yang kaya merasa sombong didepan si miskin yang tidak punya apa-apa. Orang yang punya jabatan sombong dihadapan orang yang tidak bekerja, wanita yang cantik sombong terhadap wanita yang pas-pasan. Maka ingatlah bahwa ukuran manusia itu dilihat dari ketakwaanya, sebagaimana yang Allah katakan dalam firmanNya:

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ  [الحجرات : 13]

 “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”. [al-Hujuraat/49: 13].

Dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَفْتَخِرُونَ بِآبَائِهِمْ الَّذِينَ مَاتُوا إِنَّمَا هُمْ فَحْمُ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الْجُعَلِ الَّذِي يُدَهْدِهُ الْخِرَاءَ بِأَنْفِهِ ,إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالْآبَاءِ إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ النَّاسُ كُلُّهُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ  [أخرجه الترمذي]

“Kelak pasti akan ada sekelompok orang yang berbangga-bangga dengan nenek moyangnya yang telah mati. Mereka terancam menjadi penghuni neraka, karena perbuatan tersebut sangatlah besar disisi Allah, tidak seremeh seperti halnya kalian mengusap kotoran dari hidungnya. Sesungguhnya Allah telah menghilangkan kebiasaan Jahiliyah yang membanggakan  dan sombong dengan nenek moyang,  akan tetapi, seseorang itu hanyalah seorang yang beriman dan bertakwa atau seorang fajir yang celaka. Setiap kalian adalah anak cucu Adam sedangkan Adam diciptakan dari tanah“.[HR at-Tirmidzi no: 3955. Dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 3/254 no: 3100].

Sebagai penutup kita ucapkan segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari الكبر Penulis Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]


Footnote
[1] Ihya Ulumudin 3/345.
[2] Tahdzibul Akhlak karya al-Jahidh hal: 32.
[3] Ihya Ulumudin 3/345.


Referensi : https://almanhaj.or.id/36159-penyakit-sombong-2.html

Adakah Keutamaan Bulan Rajab?

[Rubrik: Faidah Ringkas]

Bulan Rajab adalah satu dari empat bulan Haram yang dimuliakan oleh Allah. Allah berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Empat bulan tersebut adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Kita diperintahkan untuk menghormati serta mengagungkan bulan-bulan haram tersebut dengan memperbanyak amalan shalih dan meninggalkan berbagai kemaksiatan, karena amal salih pada waktu-waktu tersebut bernilai pahala lebih besar sebagaimana maksiat pada waktu-waktu tersebut dosanya juga lebih besar.

Ibnu ‘Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan shalih yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 207)

Akan tetapi mengkhususkan puasa, shalat malam, atau ibadah khusus lainnya karena meyakini adanya keutamaan khusus pada ibadah-ibadah tersebut di bulan Rajab merupakan sesuatu yang keliru. Dalam beberapa keterangannya, Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menegaskan bahwa hadits-hadits seputar keutamaan bulan Rajab, keutamaan berpuasa Rajab, atau shalat malam pada pada bulan tersebut berkisar pada pada hadits maudhu’ (palsu) dan dha’if (lemah), tidak ada satu pun yang shahih.

Berikut beberapa hadits lemah dan palsu terkait bulan Rajab yang sudah tersebar di tengah-tengah umat. Kami cukupkan tiga hadits, yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

فَضْلُ شَهْرِ رَجَبٍ عَلَى الشُّهُورِ كَفَضْلِ القُرآنِ عَلى سَائِرِ الكَلامِ، وَفَضْلُ شَهْرِ شَعْبانَ عَلَى الشّهُورِ كَفَضْلِي عَلَى سَائِرِ اْلأَنْبِياءِ، وَفَضْلُ شَهْرِ رَمَضانَ كَفَضلِ اللهِ عَلى سَائِرِ الْعِبَادِ.

“Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan yag lain adalah seperti keutamaan Al-Qur’an atas seluruh perkataan, keutamaan bulan Sya’ban atas bulan-bulan yag lain adalah seperti keutamaanku atas seluruh para Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan atas bulan-bulan yag lain adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh hamba.” (Hadits ini maudhu’ sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani)

إِنّ فِي الْجنَةِ نَهْرًا يُقالُ لَه رَجَبٌ أَشَدُّ بَياضًا مِن اللّبَنِ وَأَحْلَى مِن الْعَسلِ، مَن صَامَ يَومًا مِن رَجَبٍ سَقاهُ اللهُ تَعالَى مِنْ ذَلكَ النّهرِ.

“Sesungguhnya di surga itu ada sebuah sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu, dan rasanya lebih manis daripada madu, barangsiapa yang berpuasa sehari pada bulan Rajab, Allah Ta’ala akan memberi minum kepadanya dari sungai tersebut.” (Hadits ini lemah sebagaimana dinyatakan oleh Ibnul Jauzi)

لاَ تَغْفُلُوْا عَنْ أَوَّلِ جُمُعَةٍ مِنْ رَجَبٍ فَإِنَّهَا لَيْلَةٌ تُسَمِّيْهَا الْمَلاَئِكَةُ الرَّغَائِبَ…

“Janganlah kalian lalai dari (beribadah) pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab, karena malam itu Malaikat menamakannya Raghaa-ib…” (Hadits ini palsu sebagaimana dinyatakan oleh Ibnul Jauzi)

Artikel http://www.muslimafiyah.com (Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://www.facebook.com/1821705253/posts/10219699519958136

Tenggelam Dalam Kenikmatan Dunia

Dalam suatu kesempatan, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ditanya oleh seorang pemuda, “saya sebenarnya adalah seorang pemuda yang Multazim (teguh menjalankan agama). Namun beberapa waktu terakhir ini saya merasa iman saya lemah. Ditandai dengan banyaknya saya melakukan maksiat seperti meninggalkan shalat atau mengakhirkannya, mendengarkan hal-hal yang tidak bermanfaat, dan tenggelam dalam berbagai kenikmatan dunia. Dan saya sudah berusaha untuk menyadarkan jiwa saya dari keterpurukan ini, namun saya tidak sanggup. Dapatkan anda membimbing saya untuk dapat kembali ke jalan yang lurus yang bisa menyelamatkan saya dari keburukan jiwa saya?”.

Syaikh menjawab:

Aku memohon kepada Allah agar memberikan hidayah kepadaku dan juga kepada anda. Dan jalan untuk menuju hidayah adalah dengan:

  1. Bersemangat dalam membaca Al Qur’an dan mentadabburinya. Karena Al Qur’an itu dikatakan oleh Allah:يا أيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين“Wahai Sekalian Manusia ! Sungguh telah datang kepada kalian pelajaran (Al Qur’an) dari Tuhan kalian, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman” (Q.S Yunus : 57)
  2. Kemudian juga dengan sebisa mungkin melihat kembali apa yang ada dalam perjalanan hidup Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan sunnah-sunnah beliau. Karena ini adalah penerang jalan bagi orang yang hendak menuju kepada Allah ‘azza wa jalla.
  3. Bersemangat untuk berteman dengan orang-orang shalih dan bertaqwa. Yaitu para ulama rabbani dan teman-teman yang bertaqwa.
  4. Sebisa mungkin menjauhi teman duduk yang buruk, yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:مثل جليس السوء كنافخ الكير إما أن يحرقك أو قال يحرق ثيابك ، وإما أن تجد منه رائحة كريهة“berteman duduk yang buruk itu semisal dengan berteman dengan pandai besi. Bisa jadi pakaianmu ikut terbakar atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap“
  5. Senantiasa sesasilah diri anda atas apa yang terjadi pada anda, yaitu perubahan diri anda tersebut, hingga penyesalan tersebut membuat anda kembali sebagaimana semula.
  6. Jangan sampai masuk perasaan kagum ke dalam hati anda terhadap amalan shalih yang pernah anda lakukan. Karena perasaan kagum tersebut terkadang menghapus pahala amalan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:بمنون عليك أن أسلموا قل لا تمنوا علي إسلامكم بل الله يمن عليكم أن هداكم للإيمان إن كنتم صادقين“Mereka mengungkit keislaman mereka kepadamu. Katakan, “Janganlah kamu mengungkit keislaman kalian kepadaku, tetapi Allahlah yang memberikan kepada kalian hidayah kepada iman jika kalian adalah orang-orang yang benar””  (QS. Al Hujurat: 17).Namun senantiasalah periksa amalan-amalan shalih anda, dan senantiasalah merasa kurang, sehingga membuat anda senantisa beristighfar kepada Allah ‘azza wa jalla. Dengan juga senantiasa berhusnuzhan kepada Allah Ta’ala. Karena seorang manusia ketika kagum dengan amalan shalihnya, dan ia merasa dirinya memiliki hak yang wajib ditunaikan oleh Allah, maka ini menjadi perkara yang berbahaya dan bisa menghapuskan pahala amalan.

Nas’alullah as salamah wal ‘afiah

***

Sumber: http://islamancient.com/play.php?catsmktba=7128

Penerjemah: Yulian Purnama

Meneladani Sedekah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam

Pribadi yang mulia akan senantiasa bersedekah baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Membantu orang yang lemah dan dalam kondisi kesempitan agar mereka dapat melaksanakan kewajiban kepada Allah Ta’ala. Bersedekah dengan ikhlas merupakan bukti kebenaran Iman sekaligus sebagai wujud rasa syukur atas segala nikmat dari Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam adalah sosok yang sangat menakjubkan dan menjadi teladan dalam bersedekah.

Gambaran Sedekah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah mengungkapkan: “Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam adalah sosok insan yang paling banyak bersedekah dengan apa yang berada di tangan Beliau Shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah memperbanyak apa yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada beliau Shallallahu’alaihi wa sallam juga tidak mengecilkannya. Tidak ada seorang meminta kepada beliau satupun kecuali beliau Shallallahu’alaihi wa sallam akan memberikannya sedikit maupun banyak. Pemberian yang beliau Shallallahu’alaihi wa sallam kepada orang lain dilakukan tanpa mengkhawatirkan kemiskinan. Memberi dan bersedekah merupakan perkara yang paling dicintai Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam. Kebahagiaan dan keceriaan beliau Shallallahu’alaihi wa sallam dengan apa yang beliau Shallallahu’alaihi wa sallam berikan melebihi kebahagiaan orang yang menerima pemberian beliau Shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu’alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan. Tangan kanan beliau layaknya angin yang membawa kebaikan kepada semua orang” (Zadul Ma’ad, 2/21).

Bersedekah dengan tulus tanpa harapan akan dibalas dengan hal serupa, kondisi hati bahagia meskipun sedekahnya sama sekali tanpa diapresiasi oleh orang lain. Bukan pula sedekah dengan tujuan dunia agar dikenal sebagai orang dermawan atau untuk melariskan dagangannya semata dan niat-niat lain yang lebih berorientasi duniawi. Disinilah pentingnya lebih ilmu seputar sedekah dan butuhnya kita pada petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam agar sedekah kita diberkahi.

Harta yang Hakiki

Harta yang hakiki tidak lain adalah harta yang ia sedekahkan di jalan Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“‘Siapakah diantara kalian yang mencintai harta ahli warisnya lebih dari mencintai hartanya sendiri?’ Mereka menjawab: ‘wahai Rasulullah! Tidak ada seorangpun diantara kami melainkan lebih mencintai hartanya sendiri.’ Lalu Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya hartanya sendiri itu ialah apa yang telah dipergunakannya (disedekahkannya) dan harta ahli warisnya ialah apa yang ditinggalkannya.’” (HR. Bukhari no.6442 dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu).

Hadis di atas memotivasi kaum muslimin untuk bisa bersegera bersedekah sesuai rezeki yang dimilikinya sebelum ajal datang. Karena sedekahnya atau infaknya di dunia akan menolongnya di akhirat. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al Munafiqun: 10)

Hendaknya Jangan sampai kita tertipu dengan nikmat harta dan berlomba-lomba untuk membelanjakan di jalan Allah Ta’ala. Inilah kekayaan dan simpanan yang kelak memperberat timbangan amal saleh ketika menghadap Ilahi Rabbi.

Keutamaan dan pahala sedekah

Apa saja yang diperintahkan syariat memiliki keutamaan dan pahala besar yang kembali kepada pelakunya. Sedekah merupakan amalan saleh yang istimewa yang seharusnya kita terdorong untuk mengamalkannya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) dan Maha Mengetahui. Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al Baqarah: 261-262).

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Katakanlah, ‘Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.’ Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39).

Allah Ta’ala juga berfirman:

“ … Dan mereka (Anshar) mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr: 9)

Semoga uraian di atas semakin meneguhkan iman kaum muslimin untuk bersedekah dan membelanjakan hartanya demi kemaslahatan dunia akhirat untuk dirinya dan orang yang mereka santuni.

Semoga Allah memberi taufik.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi:

1. Majalah As-Sunnah edisi 11 / tahun XXV/ 1443 H

2. Kiat-Kiat Islam Mengatasi Kemiskinan, Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Pustaka At-Taqwa, Bogor, 2015

Sumber: https://muslimah.or.id/14603-meneladani-sedekah-rasulullah-shallallahualaihi-wa-sallam.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id