Ambisi Terhadap Kedudukan dan Kekuasaan

(ditulis oleh: Ibnu Rajab Al-Hanbali)

Ambisi seseorang terhadap kedudukan lebih membinasakan daripada ambisi seseorang terhadap harta. Karena, mencari kedudukan duniawi, kekuasaan dan kepemimpinan atas manusia, ketinggian di muka bumi, lebih membahayakan terhadap seorang hamba daripada bahaya ambisi harta. Kerusakannya lebih besar sementara zuhud dalam perkara tersebut lebih sulit, karena harta saja akan dikorbankan demi mencari kepemimpinan dan kedudukan.

Ambisi kedudukan itu juga ada dua macam:

Pertama, mencari kedudukan dengan kekuasaan dan materi (harta benda).

Ini sangat berbahaya. Pada umumnya hal ini menghalangi seseorang untuk mendapatkan kebaikan akhirat dan kemuliaannya. Allah l berfirman:

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)

Teramat sedikit orang yang berambisi untuk mendapatkan kepemimpinan di dunia dengan mencari kekuasaan, lalu mendapatkan taufiq dari Allah l. Yang terjadi, bahkan ia akan dibiarkan mengurusi dirinya sendiri (tidak Allah l bantu). Sebagaimana Nabi n katakan kepada Abdurrahman bin Samurah z:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman, janganlah kamu meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberinya karena engkau mencarinya engkau akan dibiarkan mengurusi sendiri (tidak Allah l bantu). Tetapi jika engkau diberinya tanpa mencarinya maka engkau akan dibantu (Allah l) dalam mengurusinya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama mengatakan:

مَا حَرِصَ أَحَدٌ عَلَى وِلَايَةٍ فَعَدَلَ فِيْهَا

“Tidaklah seseorang berambisi kepada kepemimpinan lalu ia (bisa) berbuat adil dalam kepemimpinannya.”

Dahulu Yazid bin Abdullah bin Mauhab termasuk seorang hakim yang adil dan shalih. Beliau mengatakan: “Barangsiapa yang cinta harta dan kedudukan serta takut akan musibah, maka ia tidak akan bisa adil.” Dalam Shahih Al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah z, dari Nabi n, beliau bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ

“Kalian bakal berambisi terhadap kepemimpinan dan itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat. Maka senikmat-nikmat kepemimpinan adalah saat seseorang menyusu darinya (menjabat), dan secelaka-celakanya adalah saat orang melepaskan penyusuannya (mati).”

Dalam Shahih Al-Bukhari juga, dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari z, bahwa ada dua orang mengatakan kepada Nabi n: “Wahai Rasulullah, jadikan kami sebagai pemimpin.” Maka beliau menjawab:

إِنَّا لَا نُوَلِّي أَمْرَنَا هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلَا مَنْ حَرِصَ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya kami tidak akan memberikan kepemimpinan kami ini kepada seseorang yang memintanya atau berambisi terhadapnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ketahuilah bahwa ambisi terhadap kedudukan menimbulkan kerusakan besar sebelum ia mendapatkan kedudukan itu, yaitu dalam usahanya mencari kedudukan itu. Demikian juga setelahnya, yaitu dengan ambisinya yang besar di mana terjatuh di dalamnya para pemilik kekuasaan berupa kezaliman, kesombongan, dan kerusakan-kerusakan lainnya.

Abu Bakr Al-Ajurri t telah membuat sebuah karya –beliau termasuk ulama rabbani pada awal abad ke-4 H– dalam bab akhlak dan adab para ulama. Karyanya tersebut termasuk karya yang teragung dalam pembahasan ini. Barangsiapa yang memerhatikannya, dari kitab itu dia akan mengetahui metode ulama salaf dan metode yang diadakan setelah mereka yang menyelisihi jalan para ulama salaf. Dalam kitab itu, beliau t memberikan penjelasan sifat-sifat seorang ulama yang jahat dengan sifat-sifat yang panjang (penjelasannya).

Di antaranya beliau mengatakan: “Dia (ulama tersebut) telah tergoda dengan cinta pujian dan kedudukan di tengah para pecinta dunia. Ia berhias dengan ilmu sebagaimana berhiasnya dengan pakaian yang indah demi dunianya. Tetapi ia tidak menghiasi ilmunya dengan mengamalkannya… –sampai ucapannya– … akhlak ini dan yang semacamnya mendominasi qalbu orang yang tidak memanfaatkan ilmunya. Ketika ia mendekat kepada akhlak ini, di saat yang sama, jiwanya cenderung kepada cinta kedudukan sehingga ia cinta bermajelis dengan anak-anak raja dan anak-anak dunia serta merasa suka untuk larut dengan (gaya hidup) mereka dalam hal kemewahan hidup berupa pemandangan yang indah, kendaraan yang nyaman, pembantu yang menyenangkan, pakaian yang lembut, kasur yang empuk, makanan yang mengundang nafsu, ingin pintunya selalu terbuka, ucapannya didengar, dan perintahnya ditaati. Tetapi ia tidak akan mendapat jalan menuju kepadanya melainkan dari jalur kehakiman (menjadi seorang hakim). Sehingga ia pun berusaha untuk menjadi hakim. Namun ia tidak mungkin mendapatkannya kecuali dengan mengorbankan agamanya, sehingga ia pun merendah-rendah di hadapan para raja dan bawahannya. Ia pun melayani mereka dengan dirinya, memuliakan mereka dengan hartanya. Akhirnya ia mendiamkan perbuatan-perbuatan jelek yang nampak baginya ketika ia masuk istana dan rumah mereka. Sehingga hal-hal jelek yang mereka lakukan nampak baik. Ia mencari-carikan alasan untuk melegitimasi kesalahan-kesalahan mereka, demi menampakkan sikap baiknya terhadap mereka. Ketika ia berbuat demikian dalam waktu yang cukup lama dan kehancuran telah menguat pada dirinya, mereka pun mengangkatnya sebagai hakim. Ia laksana disembelih tanpa pisau, sehingga ia berutang budi kepada mereka, yang membuatnya harus membalas budi tersebut. Akhirnya ia menyiksa dirinya. (Ia berusaha) agar tidak membuat mereka marah terhadapnya sehingga mencopotnya dari jabatannya. Ia tidak menoleh kepada kemurkaan Rabbnya, sehingga ia mengambil harta anak yatim, janda, fakir dan miskin juga harta wakaf untuk para mujahidin dan orang-orang mulia di tanah suci, serta harta-harta lain yang manfaatnya kembali kepada seluruh muslimin. Ia juga (merekayasa untuk) membuat rela pencatat, penjaga, dan pembantunya, maka ia pun makan yang haram.

Maka, semakin banyak orang yang mendoakan kejelekan baginya. Sungguh celaka orang yang ilmunya mewariskan akhlak yang semacam ini. Ilmu yang semacam inilah yang Nabi n dahulu berlindung kepada Allah l darinya. Beliau n juga memerintahkan agar seseorang minta perlindungan darinya. Nabi n bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَاباً يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللهُ بِعِلْمِهِ

“Sekeras-kerasnya manusia siksaannya pada hari kiamat adalah seorang yang berilmu tapi ilmunya tidak bermanfaat untuknya.” (HR. Asy-Syihab dalam Musnad-nya)

Dahulu Nabi n berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, qalbu yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak merasa puas, dan doa yang tidak didengar.” (Shahih, HR. Muslim)

Dahulu beliau n juga berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Ibnu Hibban)

Ini semuanya dari penjelasan Al-Imam Abu Bakr Al-Ajurri t, yang beliau hidup pada akhir-akhir tahun 300-an H. Kerusakan setelah itu semakin bertambah, lebih dari apa yang kami sebutkan berkali-kali lipat. La haula wala quwwata illa billah.

Di antara kehancuran yang tersembunyi akibat ambisi terhadap kedudukan adalah mencari kekuasaan dan berambisi dengannya. Ini adalah perkara yang cukup samar. Tidak ada yang memahaminya kecuali para ulama yang begitu kenal dengan Allah l dan begitu mencintai-Nya. Yang dimusuhi orang karena ketaatan mereka kepada Allah l oleh orang-orang bodoh yang hendak menyaingi Rububiyyah Allah l dan uluhiyyah-Nya, padahal mereka hina dan rendah kedudukannya di hadapan Allah l serta di hadapan orang-orang yang dekat dengan-Nya. Sebagaimana dikatakan Al-Hasan t: “Sesungguhnya walaupun kaki-kaki bighal bergemeritik di belakang mereka dan keledai berbaris rapi di belakang mereka, namun kerendahan maksiat tetap berada pada leher-leher mereka. Allah l menolak kecuali untuk merendahkan orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya.”

Perlu diketahui bahwa cinta kedudukan dan ambisi dalam hal pemerintahan dan pengaturan manusia, bila hanya bertujuan agar berkedudukan lebih tinggi dari orang lain serta merasa besar di hadapan mereka, hendak menampakkan butuhnya manusia kepadanya, serta rendahnya mereka di hadapannya saat mereka mencari kebutuhan mereka, maka ini sendiri berarti hendak menyaingi Allah l dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah-Nya. Dengan itu, terkadang ia mengondisikan suatu perkara yang membuat orang-orang butuh kepadanya, agar mereka terpaksa mengangkat dan menampakkan kebutuhan mereka kepadanya. Sehingga ia akan merasa besar dan sombong di hadapan mereka. Padahal sikap seperti ini tidak pantas kecuali bagi Allah l, yang tiada sekutu bagi-Nya. Allah l berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (Al-An’am: 42)

“Kami tidaklah mengutus seseorang nabi pun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.” (Al-A’raf: 94)

Perkara-perkara ini lebih sulit dan lebih berbahaya dari sekadar perbuatan zalim. Lebih parah dan lebih pahit dari kesyirikan, sementara kesyirikan itu adalah sebesar-besar kezaliman di sisi Allah l.

Di antara bentuk ambisi kekuasaan ini adalah seorang yang cinta kedudukan dan kekuasaan, merasa suka untuk dipuji karena perbuatan-perbuatannya, disanjung karenanya, dan meminta atau membuat orang memujinya, serta menyakiti orang yang tidak mau menyambutnya. Padahal bisa jadi perbuatannya tersebut lebih pantas untuk dicela daripada dipuji. Terkadang juga dia menampilkan sesuatu yang baik, dan senang untuk dipuji serta bermaksud dalam batinnya niat merusak, senang untuk disanjung-sanjung. Ini masuk dalam firman Allah l:

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Ali ‘Imran: 188)

Oleh karena itu, para ulama dahulu melarang orang untuk memuji mereka atas amal-amal mereka dan perbuatan baik mereka kepada manusia. Mereka juga memerintahkan agar orang-orang memuji Allah l satu-satu-Nya, karena segala kenikmatan berasal dari-Nya.

Dari sini pula khalifah para rasul dahulu dan para pengikut mereka dari kalangan pemimpin dan para hakim yang adil, tidak mengajak untuk mengagungkan diri mereka sama sekali. Bahkan mereka mengajak untuk mengagungkan Allah l saja. Dari sini pula, para rasul bersabar dalam berdakwah kepada Allah l dan dalam menerapkan perintah Allah l. Mereka siap menanggung beban berat dari reaksi makhluk kepada mereka disebabkan hal itu. Sementara mereka tetap sabar dan ridha dengan itu. Karena, seseorang yang cinta terkadang merasakan gangguan yang menimpanya sebagai sebuah nikmat demi keridhaan yang dia cintai.

Sebagian orang shalih mengatakan: “Aku berharap seandainya jasadku dipotong-potong dengan gunting agar makhluk ini taat kepada Allah l.” (Syarh Hadits Ma Dzi’bani Jai’ani dengan sedikit diringkas)

sumber : https://asysyariah.com/ambisi-terhadap-kedudukan-dan-kekuasaan/

Memilih Suami Yang Shalih

Seorang laki-laki hendaknya mencari calon istri yang shalihah. Demikian pula seorang wanita, dianjurkan baginya untuk memilih seorang ayah yang shalih untuk anak-anaknya, serta memenuhi karakter yang sudah disebutkan sebelumnya, baik berupa agama, akhlak yang baik, harta yang dengannya dia dan anak-anaknya tidak terlantar, atau ilmu agama yang dengannya dia akan mengajarkan anak-anaknya.

Keshalihan seorang ayah akan berdampak pada keshalihan anak-anaknya secara umum. Tidak hanya istri dan anak-anaknya, bahkan cucunya pun dapat merasakannya dampak keshalihan seorang ayah. Tidakkah kita pernah membaca firman Allah Ta’ala,

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu. Di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua. Ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar ketika mereka sampai kepada kedewasaannya kemudian mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Al–Kahfi [18]: 82)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda,

“Sesungguhnya perumpaan teman yang shalih dan yang buruk itu (bagaikan) penjual minyak kasturi dan pandai besi. Seorang penjual minyak kasturi, boleh jadi Anda akan diberi minyak wangi tersebut, Anda membelinya atau minimal Anda akan mendapatkan aroma wanginya. Sedangkan seorang pandai besi, boleh jadi baju Anda akan terbakar api atau minimal Anda akan mencium aroma asap yang kurang sedap. (HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628).

Istri merupakan orang yang paling lama duduk dengan kita. Apakah kita suka bila istri kita layaknya seorang pandai besi sehingga baju kita senantiasa terbakar sebagaimana dalam hadits di atas? Apakah kita suka bila kita sering mencium aroma asap yang kurang sedap dari istri kita sebagaimana hadits di atas?

Demikian pula istri. Apakah Anda wahai wanita, suka mendapati suami sebagai orang yang sering membakar pakaian, badan dan bahkan hati Anda sebagaimana hadits di atas? Ingatlah, suami merupakan teman duduk yang paling lama bagi Anda. Bahkan demi Allah, bahaya suami yang buruk itu lebih berbahaya lagi bagi kehidupan akhirat Anda. Keburukannya dapat berdampak luas bagi agama dan kehidupan dunia Anda. Oleh sebab itu, hendaklah setiap wanita bersemangat untuk memilih suami yang shalih. Demikian pula, hendaklah setiap pria bersemangat untuk mencari istri yang shalihah. Biarkan orang-orang yang buruk untuk mereka yang buruk pula. Mereka lebih layak mendapatkannya dan jangan coba-coba menjadi pahlawan kesiangan dengan mengira bahwa mudah bagi kita untuk mengubah agama dan akhlak calon pasangan yang buruk.

Ingatlah, orang yang beriman lebih layak untuk mendapatkan orang yang beriman pula. Allah Ta’alaberfirman,

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula). Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik; dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka itu berlepas diri dari apa yang dituduhkan kepada mereka dan bagi mereka ampunan serta rizki yang mulia (surga)” (QS. An Nur[24]: 26).

Ayo … semangat mencari dan memilih pasangan yang shalih dan shalihah….

***

Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam 5 Rabiul ‘Awwal 1438

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Sumber: https://muslimah.or.id/9250-parenting-islami-12-memilih-suami-yang-shalih.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Karena Riba, yang Kaya Semakin Kaya yang Miskin Semakin Miskin

Hukum riba dalam Islam adalah haram dan merupakan dosa besar. Hal ini ditegaskan dalam berbagai ayat dalam Al-Quran dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalil dari Al-Quran, Allah Ta’ala berfirman,

وَاَحَلَّ اللّٰهُ الۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al-Baqarah: 275)

Allah Ta’ala juga berfirman,

فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا فَاۡذَنُوۡا بِحَرۡبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖ‌ۚ

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu.” (QS Al-Baqarah: 279)

Dalil dari As-Sunnah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, juru tulis transaksi riba dan dua orang saksinya. Kedudukan mereka itu semuanya sama.” (HR. Muslim no. 2995)

Masih ada banyak dalil-dalil lainnya yang menegaskan akan keharaman praktik riba. Tentunya, ketika Islam memerintahkan umatnya untuk melakukan sesuatu pasti disana terkandung kebaikan yang besar. Sebaliknya, apabila Islam melarang akan sesuatu maka pasti di sana ada pula keburukan dan bahaya besar yang menanti.

Dalam konteks riba, bahaya tersebut tidak hanya mengancam kehidupan di akhirat saja, tetapi juga bisa mengantarkan pada berbagai kerusakan dan keburukan di dunia, baik secara individu maupun masyarakat dan perekonomian.

Jika kita melihat fenomena praktik riba di sekitar kita dengan berbagai modelnya, seringkali yang berinteraksi dengan riba kebanyakan dari kalangan orang miskin. Orang miskin yang dimanfaatkan oleh orang kaya. Kaum kaya ini tidak akan meminjamkan uang kepada kaum miskin kecuali ada keinginan tertentu di balik bantuan tersebut.

Sesungguhnya menghutangi orang lain adalah transaksi sosial, di mana orang kaya menghutangi orang miskin dan tidak akan menagihnya melainkan dengan jumlah yang sama. Ketika dia menagihnya dengan jumlah yang melebihi dari hutangnya maka saat itu dia telah melakukan praktik riba. Sayangnya itulah yang banyak terjadi di sekitar kita. Meminjamkan sejumlah uang agar peminjam tersebut kelak mengembalikan sejumlah uang yang lebih besar.

Praktik seperti inilah yang semakin menyebabkan kesenjangan sosial terjadi di tengah masyarakat. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/karena-riba-yang-kaya-semakin-kaya-yang-miskin-semakin-miskin.html

Menggapai Pahala dalam Amarah

Allah Ta’ala menganugerahkan perasaan bagi manusia dengan segala hikmahnya. Ada rasa senang, sedih, bahagia, cemas, bahkan rasa benci dan marah. Semua jenis perasaan tersebut apabila dapat dikendalikan dengan niat ingin mendapatkan rida-Nya, tentu akan berbuah pahala. Sebab, bagaimanapun keadaan kita, baik dalam kesusahan maupun kesenangan, tetap saja ada celah untuk mendapatkan limpahan pahala dari Allah Ta’ala. Itulah indahnya menjadi seorang muslim, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له

“Alangkah mengagumkan keadaan orang mukmin (yang beriman). Semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya). Dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur. Maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar. Maka itu adalah kebaikan baginya.” [1]

Amarah Ibarat Dua Sisi Mata Pisau

Kita ambil contoh rasa marah. Ketika melihat atau mendengar seseorang yang melakukan perbuatan melanggar syariat Allah Ta’ala, maka amarah yang kemudian timbul karena membenci perbuatan orang tersebut akan menjadi pahala. Hal ini karena kita telah menjalankan amanah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنَ لَـمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْـمَـانِ

“Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubah kemungkaran tersebut dengan tangannya. Apabila tidak sanggup, (ubahlah) dengan lisannya. Apabila tidak sanggup, (ubahlah) dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan.” [2]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan kita untuk membenci perbuatan kufur untuk diri kita sendiri. Hal ini menandakan bahwa perasaan marah atau benci itu juga ada tempatnya. Bahkan rasa marah atau benci tersebut  bisa menghantarkan kita untuk mendapatkan manisnya iman. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ  أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّارِ.

“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu:

(1) Siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya.

(2) Apabila ia mencintai seseorang yang ia mencintainya hanya karena Allah.

(3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” [3]

Namun, ketika kita tidak mampu mengendalikan semua perasaan itu, maka kita justru akan melakukan banyak kekeliruan yang bermuara pada dosa dan penyesalan. Seperti dalam kondisi marah, kadangkala kita melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Mulai dari berkata kasar, memecahkan benda-benda, menyalahkan siapa saja, hingga bertindak di luar kesadaran yang pada akhirnya merugikan diri sendiri.

Oleh karenanya, penting bagi kita untuk membekali diri dengan mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat perhatian terhadap pengendalian amarah. Kita dapat melihat banyak riwayat yang menerangkan betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di banyak kesempatan selalu mengajarkan ummatnya agar mampu untuk mengendalikan amarahnya.

Pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Amarah

Pertama, wasiat dalam mengendalikan amarah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan pengendalian amarah sebagai wasiat kepada kita.

Sebagaimana hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu  bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Berilah aku wasiat!”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berkali-kali, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Engkau jangan marah!” (HR Al-Bukhari).

Kedua, kendalikan amarah dengan duduk, berbaring, dan diam

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan agar orang yang marah untuk duduk, berbaring, ataupun diam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ ، وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.

“Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk! Apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya). Dan jika belum, hendaklah ia berbaring!” [4]

Diam juga menjadi solusi ketika amarah menghampiri diri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam!” [5]

Ketiga, menahan amarah, bentuk kekuatan yang hakiki

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa kekuatan sejati ada pada seseorang yang mampu mengendalikan diri ketika marah. Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.

“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” [6]

Keempat, janji surga bagi orang yang mampu menahan amarah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang sahabatnya,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّة

“Janganlah kamu marah, dan bagimu surga.” [7]

Kelima, bidadari dan tempat khusus di hari kiamat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

« مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ »

“Barangsiapa yang menahan kemarahannya, padahal dia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia, sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya.” [8]

Saudaraku, betapa kita dapat membuktikan kasih sayang Allah Ta’ala di setiap lini kehidupan yang kita jalani. Semua hal yang terjadi pada diri kita dapat berbuah pahala dan kemuliaan di sisi Allah yang kemudian dapat memberikan jalan untuk menggapai surga-Nya. Bahkan, rasa amarah yang dari sudut pandang lain, kita ketahui bisa sebagai sumber malapetaka. Akan tetapi, dapat menjadi sumber pahala, tergantung pada bagaimana niat dan sikap kita dalam mengendalikannya sesuai dengan tuntunan syariat. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan keimanan dan ketakwaan kepada kita agar selalu ingat bahwa kita selalu berada dalam pengawasan-Nya.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Catatan Kaki:

  1. HR. Muslim no. 2999, dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ’anhu.
  2. HR. Muslim dan lainnya dari Abi Said Al-Khudri.
  3. HR. Bukhari (no. 16), Muslim (no. 43), At-Tirmidzi (no. 2624), An-Nasa’i (VIII/95-96), dan Ibnu Majah (no. 4033) dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu.
  4. HR. Ahmad (V/152), Abu Dawud (no. 4782), dan Ibnu Hibban (no. 5688) dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.
  5. HR Ahmad (I/239, 283, 365), Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 245, 1320), Al-Bazzar (no. 152- Kasyful Atsar) dari Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
  6. HR. Bukhari (no. 6114) dan Muslim (no. 2609) dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
  7. HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath (no. 2374) dari Sahabat Abu Darda radhiyallahu ‘anhu.
  8. HR. Abu Dawud (no. 4777), At-Tirmidzi (no. 2021), Ibnu Majah (no. 4186) dan Ahmad (3/440).

Penulis: Fauzan Hidayat

Sumber: https://muslim.or.id/68825-menggapai-pahala-dalam-amarah.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Mengobati Penyakit Gay Dan Homoseksual (Syariat Dan Medis)

Sebagian orang heran dan bisa jadi agak risih dengan orang yang mendapat ujian tertimpa penyakit seperti ini. Betapa tidak, wanita diciptakan begitu indah di mata laki-laki mengalahkan segala bentuk pemandangan dan panorama indah di dunia akan tetapi ia lebih condong kepada sejenis dan berpaling dari wanita? Begitu juga dengan wanita yang sejatinya haus akan kasih sayang dan belaian laki-laki tetapi mereka lebih condong terhadap sejenis (homoseksual-lesbian).

Penderita penyakit ini juga terkadang heran dengan diri mereka sendiri. Terkadang mereka menikmati penyakit ini tetapi ada juga yang tersiksa, ingin sembuh tetapi tidak bisa, ingin konsultasi dan berterus terang tetapi malu. Khususnya kaum laki-laki yang menjadi gay (homoseksual) lebih susah terapinya, wanita lebih mudah sembuh karena dilihat dari penyebabnya.umumnya wanita menjadi lesbian karena kurang perhatian dari laki-laki. Sebagaimana kaum wanita nabi Luth ‘alaihissalam yang menjadi lesbian karena kaum laki-laki mereka sudah menjadi homoseks dan berpaling dari wanita mereka.

Setiap penyakit pasti ada obatnya

Penderita penyakit ini perlu menanmkan keyakinan dengan kuat mereka pasti bisa sembuh. Terkadang mereka putus asa, karena laki-laki tentu lebih banyak bergaul dengan laki-laki misalnya di ruang ganti, kamar mandi. Mereka lebih mudah terpapar dan terfitnah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

“Setiap penyakit ada obatnya, dan bila telah ditemukan dengan tepat obat suatu penyakit, niscaya akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

Penyebab penyakit ini

Dalam ilmu psikologi, penyebab mejadi gay secara umum ada dua:

1.trauma masa kecil.

Ketika kecil pernah mendapatkan perilaku kekerasaan atau pelecehan seksual sejenis. Maka akan bisa memperngaruhi pola pikir dan orientasi seksual ketika dewasa.

Misalnya ketika kecil ia pernah di sodomi oleh kakaknya atau pamannya

2.menjadi gay karena pelarian

Lari dari suatu masalah, misalnya seroang laki-laki pernah ditolak 7 kali oleh seorang gadis atau beberapa gadis menolaknya, atau putus dari kekasih yang sangat ia cintai. Ketika ia perlahan-lahan menjadi gay, ia merasakan kenyaman dan kebahagiaan sehingga ia benar-benar memutuskan menjadi seorang gay.

Terapi psikologi kedokteran

Adapun terapi secara psikologi dan kedokteran maka bisa ditempuh beberapa cara berikut:

1.menjauhi segala macam yang berkaitan dengan gay (homoseksual) misalnya teman, klub, aksesoris, bacaan dan segalanya. Ini adalah salah satu faktor terbesar yang bisa membantu

2. merenungi bahwa gay masih belum diterima oleh masyarakat (terutama di indonesia), masih ada juga yang merasa jijik dengan gay. Terus menanamkan pikiran bahwa gay adalah penyakit yang harus disembuhkan

3. terapi sugesti

Misalnya mengucapkan dengan suara agak keras (di saat sendiri),:

“saya bukan gay”

“gay menjijikkan”

“saya suka perempuan”

Bisa juga dengan menulis di kertas dengan jumlah yang banyak dan berulang, misalnya 1000 kali

4. berusaha melakukan kegiatan dan aktifitas khas laki-laki

Misalnya olahraga karate atau bergabung dengan komunitas kegiatan laki-laki

5.terapi hormon

Jika diperlukan dengan bimbingan dokter bisa dilakukan terpai hormon secara berkala untuk lebih bisa menimbulkan sifat laki-laki

6. menjauhi bergaul dengan laki-laki yang menarik hati untuk

Dan YANG PALING terpenting adalah dukungan semua pihak, keterbukaan dan menerima masukan. Jangan sampai ada yang mencela didepanya atau mengejek perjuangannya dalam emngobati penyakit ini.

Bimbingan Islam dalam hal ini

Adapun bimbingan agama Islam yang sempurna dalam hal ini, maka beberapa hal ini perlu direnungi:

1.tulus berdoa dan bersungguh-sunggu dalam berdoa kepada Allah memohon kesembuhan, karena setiap penyakit pasti ada obatnya. Berdoa di waktu dan tempat yang mustajab serta tidak mudah putus asa.

يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ ما لم يَعْجَل، يقول: دَعَوْتُ فلم يُسْتَجَبْلي

“Doa kalian pasti akan dikabulkan, selama ia tidak terburu-buru, yaitu dengan berkata: aku telah berdoa, akan tetapi tidak kunjung dikabulkan.”  (Muttafaqun ‘alaih)

2. segera bertaubat kepada Allah

Karena segala sesuatu yang terjadi pada kita adalah akibat perbuatan dan kesalahan kita. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri.” (As Syura: 30).

3. menyadari bahwa gay (homoseksual) adalah dosa besar dan dilaknat pelakunya

Allah Ta’ala berfirman,

وَلُوطًا إِذْ قالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ (54) أَإِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّساءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

“Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu sedang kamu melihat(nya). Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan mendatangi wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak dapat mengetahui (akibat perbuatanmu).” ( An-Naml 27:54-55)

4.menjauhi segala sesuatu yang berkaitan dengan gay atau membuatnya menjadi kewanita-wanitaan atau menyerupai wanita.

Sebagaimana dalam hadits.

لَعَنَ النبي e الْمُخَنَّثِينَ من الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ من النِّسَاءِ وقال: (أَخْرِجُوهُمْ من بُيُوتِكُمْ). متفق عليه

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknati lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki, dan beliau bersabda: Usirlah mereka dari rumah-rumah kalian.” (Muttafaqun ’alaih)

5. jangan sering menyendiri, minta dukungan keluarga dan orang terdekat serta tetap bergaul dengan masyararat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن الشيطان مع الواحد ، و هو من الاثنين أبعد

“Sesungguhnya syetan itu bersama orang yang menyendiri, sedangkan ia akan menjauh dari dua orang.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani)

6.menjauhi makanan yang haram

Karena makanan bisa berpengaruh terhadap sifat manusia. Sebagaimana perkataan Ibnu Sirin, “Tidaklah ada binatang yang melakukan perilaku kaum Nabi Luth selain babi dan keledai.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad Dunya dalam kitab Zammul Malaahy)

@Pogung Lor-Yogya, 7 Rajab 1434 H

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/mengobati-penyakit-gay-dan-homoseksual-syariat-dan-medis.html

Suami Terbaik, Suami yang Selalu Membantu Istri di Rumah

Mau tahu suami terbaik?

Suami terbaik adalah yang paling baik pada keluarganya, contohnya selalu membantu urusan istri di rumah.

Membantu pekerjaan istri di rumah termasuk bentuk berbuat baik dari suami pada istri dan menunjukkan keluhuran akhlak suami.

Coba lihat bagaimanakah contoh dari suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berada di rumah.

عَنِ الأَسْوَدِ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصْنَعُ فِى أَهْلِهِ قَالَتْ كَانَ فِى مِهْنَةِ أَهْلِهِ ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ

Dari Al-Aswad, ia bertanya pada ‘Aisyah, “Apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?” ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu shalat, beliau berdiri dan segera menuju shalat.” (HR. Bukhari, no. 6039)

Dalam Syarh Al-Bukhari karya Ibnu Batthol rahimahullah disebutkan bahwa Al-Muhallab menyatakan, inilah pekerjaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya. Hal ini wujud tanda ketawadhu’an (kerendahan hati) beliau, juga supaya umatnya bisa mencontohnya. Karenanya termasuk sunnah Nabi, hendaklah seseorang bisa mengurus pekerjaan rumahnya, baik menyangkut perkara dunia dan agamanya.

As-Sindi rahimahullah dalam catatan kaki untuk Shahih Al-Bukhari menyatakan bahwa membantu urusan rumah termasuk kebiasaan (sunnah) orang-orang shalih.

Ketawadhu’an inilah yang nanti akan membuat Allah meninggikan derajat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tidaklah seseorang tawadhu’ (merendahkan hati) karena Allah melainkan Dia akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim, no. 2588)

Yang paling penting lagi, membantu istri di rumah akan membuat seorang suami makin dicintai. Tak percaya? Silakan buktikan dengan membantunya saat masak, saat berbelanja, menyetrika termasuk juga dalam mengurus anak-anak.

Ingatlah suami terbaik adalah suami yang paling baik pada istri, anak dan keluarganya. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarganya. Aku sendiri adalah orang yang paling baik pada keluargaku.” (HR. Tirmidzi, no. 3895. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Semoga kita benar-benar menjadi suami teladan dan suami terbaik di rumah.

—

@ DS Panggang, Gunungkidul, Senin Siang, 11 Sya’ban 1438 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/15770-suami-terbaik-suami-yang-selalu-membantu-istri-di-rumah.html

Memudahkan Mahar dan Resepsi Sederhana Pernikahan

Bagi calon pengantin, orang tua dan calon mertua, mudahkanlah mahar dan sederhanakan resepsi pernikahan sewajarnya sesuai keadaan. Janganlah dipaksakan padahal tidak mampu, karena ini untuk kebaikan anak-anak calon pengantin dunia-akhirat.

Kita mencari berkah bukan gengsi, kita mencari ridha Allah bukan Ridha manusia. Allah yang menghidupi, bukan kenyang dengan gengsi. Jika dijelaskan baik-baik kepada keluarga, mereka akan paham bahwa dana lebih baik dialokasikan untuk membangun rumah tangga di  awal-awal pernikahan.

Sebagai bahan renungan:[1] Mahar yang mudah akan membuat pernikahan berkah
Berkah itu adalah bahagia dunia-akhirat baik kaya maupun miskin. Tidak sedikit orang kaya tetapi rumah tangga tidak bahagia dan tidak berkah[2] Resepsi dianjurkan sederhana sesuai keadaan, tidak dipaksa apalagi sampai harus berhutang, sehingga dana yang ada bisa digunakan untuk awal membangun rumah tangga
Dalam hadits dijelaskan, makanan yang paling jelek adalah makanan walimah yang diundang hanya orang kaya saja, orang miskin tidak diundang[3] Mempercepat pernikahan dan menyelamatkan dari zina
Tidak sedikit kedua calon siap menikah, tetapi dipersulit dengan beratnya mahar dan biaya resepsi, cinta dan gelora muda tertahan paksa bahkan ada juga yang “tabrakan duluan”.[4] Menunda anak perempuannya menikah akan membuat anak perempuannya tidak bahagia
Karena wanita butuh kepastian cinta, dan kepastian itu adalah dengan menikah bukan hanya janji, wanita tidak akan tenang sampai dia menikah dan mendapat imam bagi hidupnya. Apalagi jumlah wanita semakin banyak dan laki-laki semakin sedikit[5] Jika ditunda atau ditolak terus, anak perempuannya bisa tidak mendapatkan jodoh dan menjadi perawan tua

Umumnya calon pengantin ingin segera menikah dan mereka mencari cara yang termudah, akan tetapi tidak sedikit para orang tua dan calon mertua yang membuatnya menjadi tertunda bahkan gagal hanya karena mahar atau acara resepsi yang megah dan mewah

Semoga bisa segera sadar karena ini semua untuk kebaikan dan berkah anak-anak mereka sendiri.

Berikut penjelasan dalilnya:[1] Mahar yang mudah akan membuat pernikahan berkah
Berkah itu adalah bahagia dunia-akhirat baik kaya maupun miskin. Tidak sedikit orang kaya tetapi rumah tangga tidak bahagia dan tidak berkah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺧَﻴْـﺮُ ﺍﻟﻨِّﻜَـﺎﺡِ ﺃَﻳْﺴَـﺮُﻩُ

‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’ (HR. Abu Dawud, Al-Irwaa’ (VI/345)

Dalam riwayat Ahmad,

ﺇِﻥَّ ﺃَﻋْﻈَﻢَ ﺍﻟﻨَّﻜَـﺎﺡِ ﺑَﺮَﻛَﺔً ﺃَﻳَْﺴَﺮُﻩُ ﻣُﺆْﻧَﺔً

“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.”

Amirul Mukminin, ‘Umar radhiallahu anhu pernah berkata,
“Janganlah kalian meninggikan mahar wanita. Jika mahar termasuk kemuliaan di dunia atau ketakwaan di akhirat, tentulah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam paling pertama melaksanakannya.” (HR. At-Tirmidzi, shahih Ibni Majah)[2] Resepsi dianjurkan sederhana sesuai keadaan, tidak dipaksa apalagi sampai harus berhutang
Dalam hadits dijelaskan, makanan yang paling jelek adalah makanan walimah yang diundang hanya orang kaya saja, orang miskin tidak diundang

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺷَﺮُّ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﻃَﻌَﺎﻡُ ﺍﻟْﻮَﻟِﻴْﻤَﺔِ، ﻳُﺪْﻋَﻰ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﺍْﻷَﻏْﻨِﻴَﺎﺀُ ﻭﻳُﺘْﺮَﻙُ ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻛِﻴْﻦُ

“Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya saja untuk makan, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang.” (HR. Bukhari Muslim)[3] Mempercepat pernikahan dan menyelamatkan dari zina
Tidak sedikit kedua calon siap menikah, tetapi dipersulit dengan beratnya mahar dan biaya resepsi, cinta dan gelora muda tertahan paksa bahkan ada juga yang “tabrakan duluan”.

Ini yang dijelaskan dalam hadits, mempersulit menikah akan terjadi kerusakan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﺧَﻄَﺐَ ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْ ﻣَﻦْ ﺗَﺮْﺿَﻮْﻥَ ﺩِﻳْﻨَﻪُ ﻭَﺧُﻠُﻘَﻪُ ﻓَﺰَﻭِّﺟُﻮْﻩُ، ﺇِﻻَّ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﺗَﻜُﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔٌ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻓَﺴَﺎﺩٌ ﻋَﺮِﻳْﺾٌ

“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, Ash-Shahihah no. 1022)[4] Menunda anak perempuannya menikah akan membuat anak perempuannya tidak bahagia
Karena wanita butuh kepastian cinta, dan kepastian itu adalah dengan menikah bukan hanya janji, wanita tidak akan tenang sampai dia menikah dan mendapat imam bagi hidupnya. Apalagi jumlah wanita semakin banyak dan laki-laki semakin sedikit

Sebagaimana dalam hadits,

ﻣِﻦْ ﺃَﺷْﺮَﺍﻁِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ ﺃَﻥْ ﻳَﻘِﻞَّ ﺍْﻟﻌِﻠْﻢُ ﻭَﻳَﻈْﻬَﺮَ ﺍﻟﺠَﻬْﻞُ ﻭَﻳَﻈْﻬَﺮَ ﺍﻟﺰِّﻧَﺎ ﻭَﺗَﻜْﺜﺮَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀُ ﻭَﻳَﻘﻞَّ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻟِﺨَﻤْﺴِﻴﻦَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﺍﻟﻘَﻴِّﻢُ ﺍْﻟﻮَﺍﺣِﺪُ

“Di antara tanda-tanda dekatnya hari Kiamat adalah sedikitnya ilmu (agama), merajalelanya kebodohan dan perzinahan, dan sedikitnya kaum laki-laki, sehingga lima puluh orang wanita hanya terdapat satu orang pengurus (laki-laki) saja” (HR. Al-Bukhari Muslim)

Demikian semoga bermanfaat

@Desa Pungka, Sumbawa Besar

Penyusun: Raehanul Bahraen

Dampak Lenyapnya Tauhid

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍۢ

“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu penolong.” (QS. Al-Ma’idah: 72)

Tatkala tauhid adalah sebab utama keselamatan dan kunci kebahagiaan, maka kehilangan tauhid merupakan musibah dan petaka terbesar bagi seorang hamba. Oleh sebab itu, Khalilur Rahman, Ibrahim ‘alaihis salam berdoa kepada Allah untuk diselamatkan dari jurang kemusyrikan. Allah menceritakan doa beliau dalam firman-Nya,

وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ

“Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah patung.” (QS. Ibrahim: 35)

Tatkala tauhid merupakan sebab utama keselamatan dan kunci kebahagiaan, maka melalaikan dakwah tauhid adalah sebab utama kegagalan dakwah. Karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam -dan para rasul yang lain- menjadikan dakwah tauhid sebagai misi utama dan tugas pokok mereka di atas muka bumi ini. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ

“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun, melainkan kami wahyukan kepada mereka bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Aku. Maka, sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiya’: 25)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Maka, setiap kitab suci yang diturunkan kepada setiap nabi yang diutus, semuanya menyuarakan bahwa tidak ada ilah (yang benar), selain Allah. Akan tetapi, kalian -wahai orang-orang musyrik- tidak mau mengetahui kebenaran itu dan kalian justru berpaling darinya…” “Maka, setiap nabi yang diutus oleh Allah mengajak untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Bahkan, fitrah pun telah mempersaksikan kebenaran hal itu. Adapun orang-orang musyrik, mereka sama sekali tidak memiliki hujah/landasan yang kuat atas perbuatannya. Hujah mereka tertolak di sisi Rabb mereka. Mereka layak mendapatkan murka Allah dan siksa yang amat keras dari-Nya.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 337-338 cet. Dar Thaibah)

Sehingga, memprioritaskan dakwah tauhid adalah sebuah keniscayaan. Karena meninggalkan atau melalaikan dakwah tauhid akan berujung kepada kehancuran. Mereka yang memandang sebelah mata kepada dakwah tauhid, atau mereka yang menganggap dakwah tauhid telah ketinggalan zaman dan tidak memberikan solusi konkret bagi problem-problem kekinian, seolah-olah mereka ingin mengatakan bahwa kejayaan Islam dan kesuksesan umat bisa diraih tanpa pemurnian tauhid dan pembenahan akidah?!

Syekh Khalid bin Abdurrahman Asy-Syayi’ hafizhahullah berkata, “Perkara yang pertama kali diperintahkan kepada (Nabi) Al-Mushthofa shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu untuk memberikan peringatan dari syirik. Padahal, kaum musyrikin kala itu juga berlumuran dengan perbuatan zina, meminum khamar, kezaliman, dan berbagai bentuk pelanggaran. Meskipun demikian, beliau memulai dakwahnya dengan ajakan kepada tauhid dan peringatan dari syirik. Beliau terus melakukan hal itu selama 13 tahun. Sampai-sampai salat yang sedemikian agung pun tidak diwajibkan, kecuali setelah 10 tahun beliau diutus. Hal ini menjelaskan tentang urgensi tauhid dan kewajiban memberikan perhatian besar terhadapnya. Ia merupakan perkara terpenting dan paling utama yang diperhatikan oleh seluruh nabi dan rasul…” (lihat ta’liq beliau dalam Mukhtashar Sirati An-Nabi Wa Sirati Ash-habihi Al-‘Asyrati karya Abdul Ghani Al-Maqdisi, hal. 59-60)

Ibarat sebuah bangunan, maka tauhid adalah pondasi dan pilar-pilar penegak kehidupan. Tanpa tauhid, tidak akan tegak bangunan kehidupan. Dan tanpa tauhid, tidak akan tegak masyarakat Islam. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau menuturkan bahwa tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu ke negeri Yaman, maka beliau berpesan kepadanya,

إنك تأتي قوما من أهل الكتاب، فليكن أولَ ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله –وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi sekelompok orang dari kalangan Ahli Kitab, maka jadikanlah perkara pertama yang kamu serukan kepada mereka adalah syahadat laa ilaha illallah.” Dalam sebagian riwayat disebutkan, “Supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh sebab itu, sangatlah mengherankan apabila sebagian orang yang mendakwakan diri sebagai pejuang dakwah Islam (orang-orang yang meneriakkan penegakan syariat Islam), namun di sisi lain mereka sangat meremehkan arti penting tauhid dan akidah. Padahal, tauhid inilah yang menentukan diterima atau tidaknya amal-amal manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

“Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Sebesar apa pun amal ketaatan yang dilakukan oleh seorang hamba (atau sebuah masyarakat), akan tetapi jika tidak dilandasi tauhid dan keimanan yang benar, maka itu tidak ada nilai dan harganya. Ia akan lenyap begitu saja, terbuang sia-sia bersama dengan keringat yang mereka kucurkan, bersama dengan waktu yang mereka habiskan, bersama dengan tetesan darah yang mereka tumpahkan. Sia-sia tanpa makna!

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ

“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, ‘Jika kamu berbuat syirik, maka lenyaplah seluruh amalmu dan kamu pasti termasuk golongan orang-orang yang merugi.‘” (QS. Az-Zumar: 65)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍۢ فَجَعَلْنَـٰهُ هَبَآءًۭ مَّنثُورًا

“Dan Kami hadapkan apa yang dahulu mereka amalkan, lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)

Tidakkah kita ingat ucapan emas Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ’anhuma ketika beliau mendengar ada sebagian orang yang tidak beriman terhadap takdir, sementara mengimani takdir adalah bagian tak terpisahkan dari tauhid? Beliau mengatakan, “Demi Zat yang jiwa Ibnu ‘Umar berada di tangan-Nya, seandainya ada salah seorang di antara mereka yang memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu dia infakkan, maka Allah tidak akan menerima hal itu dari mereka, kecuali apabila mereka mengimani takdir.” (HR. Muslim)

Tidakkah kita ingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang meriwayatkan dari Rabbnya, di mana Allah Ta’ala berfirman,

 أنا أغْنَى الشُّركاءِ عنِ الشِّركِ ، مَنْ عمِلَ عملًا أشركَ فيه معِيَ تركتُهُ وشِركَهُ

“Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkan dia dan syiriknya itu.” (HR. Muslim)

***

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.

Sumber: https://muslim.or.id/90838-dampak-lenyapnya-tauhid.html
Copyright © 2024 muslim.or.id