Memperingatkan Manusia dari 7 Dosa Besar Yang Membinasakan

Berkata penulis Rahimahullahu Ta’ala, “Waspada serta mengingatkan orang lain.” Kita mewaspadai untuk diri kita pribadi dan kita berusaha memperingatkan orang lain dari bahaya dosa kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berbagai macam jenis maksiat. Dan diantara jenis maksiat tersebut adalah 7 perkara yang membinasakan seorang hamba.

Kemudian penulis Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan satu per satu dari 7 perkara tersebut. Dan penyebutan 7 hal yang membinasakan tersebut telah datang dalam sebuah hadits didalam Ash-Shahihain Bukhari dan Muslim dari Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau pernah bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ

“Jauhilah oleh kalian 7 hal yang membinasakan.”

Maka para Sahabat bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ ؟

“Ya Rasulullah, apa 7 hal tersebut?”

Maka Nabi yang mulia mengatakan:

لشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Dosa kesyirikan kepada Allah, dosa sihir, dosa membunuh seorang jiwa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan dengan alasan yang hak, dosa memakan harta riba, dosa memakan harta anak yatim, dosa berpaling dari medan perang dan dosa menuduh seorang wanita Muslimah yang terhormat dengan tujuan yang keji.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kata Syaikh bahwa makna اجْتَنِبُو artinya jauhilah perkara-perkara tersebut. Dan hendaknya Anda berada di sebuah sisi yang sangat jauh dari perkara-perkara tersebut. Sebagaimana perkataan Khalilurrahman Ibrahim ‘Alaihish Shalatu was Salam dalam sebuah do’a yang beliau panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Ya Allah jauhkanlah diriku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.” (QS. Ibrahim[14]: 35)

Kemudian maknanya “jadikan antara diriku dengan menyembah berhala-berhala tersebut jarak yang sangat jauh.” Oleh karenanya kewajiban atas setiap Muslim hendaknya dia menjadikan dirinya jauh dari setiap dosa-dosa besar dan menjadikan dirinya jauh dari segala sebab dan segala jalan yang bisa mengantarkan dirinya untuk jatuh kedalam dosa-dosa besar tersebut. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala melarang kita dari dosa-dosa besar, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita untuk mendekati dosa-dosa tersebut dan Allah perintahkan kita untuk menjauhinya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِن تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya.” (QS. An-Nisa[4]:31)

Pada ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ

“Dan janganlah kamu mendekati zina.” (QS. Al-Isra[17]: 32)

Dan dosa-dosa besar dikatakan sebagai perkara-perkara membinasakan karena memang dosa-dosa tersebut akan membinasakan pelakunya di dunia dan akhirat. Adapun di dunia, maka dengan adanya hukuman-hukuman yang sangat berat yang akan diterima oleh pelaku dosa besar tersebut. Adapun di akhirat, maka dengan adanya hukum-hukuman dan siksa yang sangat keras yang Allah sediakan bagi mereka di hari kiamat nanti.

7 DOSA BESAR YANG MEMBINASAKAN

Kemudian perkataan penulis Rahimahullahu Ta’ala, “7 perkara yang membinasakan.” Di sini terdapat perhatian dalam perkara-perkara yang akan disebutkan tersebut. Karena tatkala beliau menyebutkan dosa-dosa besar yang membinasakan di awal hadits bahwasannya dosa-dosa tersebut berjumlah 7.

Jadi seandainya Anda telah mendengar ada 7 perkara yang membinasakan, namun setelah Anda hitung ternyata hanya ada enam perkara, tidak 7 sebagaimana disebutkan di awal, maka pasti Anda akan berkata dalam diri Anda bahwa masih ada satu hal yang belum disebutkan. Dan kalau seandainya tidak disebutkan di awal hadits bahwasannya dosa-dosa tersebut ada 7, maka mungkin akan terlewat faidah dari kita sebagian dari perkara-perkara yang membinasakan tersebut karena kita tidak memperhatikan.

Oleh karenanya inilah diantara faidah disebutkan bilangan di awal hadits tersebut. Tatkala Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa ada 7 perkara yang membinasakan. Tujuannya agar kita benar-benar memperhatikan poin-poin yang akan disebutkan setelah penyebutan angka secara global tersebut. Bahkan didalam banyak hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena perkara tersebut akan membantu seseorang untuk bisa memahami hakikat ilmu dan bisa menghafalkan poin-poin yang disebutkan setelah penyebutan angka tersebut.

Kemudian tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan ada 7 perkara yang merasakan, maka bilangan 7 tersebut bukan untuk pembatasan atau bahwasanya dosa besar hanya sebatas 7 perkara. Karena datang dalam hadits-hadits yang lain bahwasanya ada amalan-amalan yang termasuk dalam kategori dosa besar yang tidak disebutkan dalam 7 perkara di atas. Contohnya adalah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala beliau bersabda:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ

“Perhatikanlah, maukah aku tunjukkan kepada kalian dosa-dosa besar yang paling besar?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakannya tiga kali. Kemudian para Shahabat mengatakan: “Tentu wahai Rasulullah.” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua dan dosa persaksian palsu“” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan kita perhatikan bahwasannya dosa durhaka kepada kedua orang tua dan dosa persaksian palsu itu tidak disebutkan dalam 7 perkara di atas. Namun keduanya termasuk kedalam dosa besar dengan nash hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karenanya bahwasanya dosa-dosa besar itu jumlahnya lebih dari 7. Bahkan sebagaimana dalam atsar Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau pernah mengatakan bahwasanya dosa-dosa besar itu dekat ke angka 70 (artinya sangat banyak). Bahkan kata Syaikh, perkataan Ibnu Abbas bahwasanya dosa besar itu dekat ke angka 70 ini pun bukan batasan bahwasanya dosa besar hanya sebatas 70. Namun kata beliau bahwasanya dosa-dosa besar lebih dari angka yang disebutkan.

Perkara terpenting yang harus kita perhatikan di dalam masalah ini adalah mengetahui tentang kaidah apa yang dimaksud kedalam dosa besar. Dan dosa-dosa apa yang masuk ke dalam kategori dosa besar. Kita harus tahu kaidahnya agar kita bisa membedakan antara dosa besar dengan dosa kecil.

Adapun dosa besar adalah setiap amalan yang diawali dengan laknat atau dengan ancaman, diharamkan dari surga Allah Subhanahu wa Ta’ala atau dengan ancaman untuk masuk ke dalam neraka atau setiap amalan yang diawali dengan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala atau setiap amalan yang pelakunya dilaknat oleh Allah atau imannya ditiadakan atau setiap amalan yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan termasuk golongan kami, maka indikator-indikator diatas merupakan alamat bahwasanya amalan-amalan tersebut masuk dalam kategori dosa besar. Ini kaidahnya. Juga ditambah dengan amalan-amalan yang memang datang nash secara langsung dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau dalam Al-Qur’anul Karim bahwasanya perkara tersebut masuk kedalam bagian dari dosa besar.

KESYIRIKAN DOSA BESAR YANG PALING BERBAHAYA

Dan diantara dosa besar yang paling berbahaya adalah dosa kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dosa menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendahulukan. Dalam hadits di atas, dosa kesyirikan diantara dosa-dosa yang membinasakan seorang hamba. Karena di dalam bab perintah, yang didahulukan adalah perintah yang paling besar, perintah yang paling agung, yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka di dalam bab larangan, yang didahulukan adalah larangan yang paling berbahaya yaitu kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّـهِ إِلَـٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّـهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ

“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan yang lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar dan tidak berzina.” (QS. Al-Furqan[25]: 68)

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mendahulukan dosa kesyirikan. karena itulah yang paling besar. Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَّا تَجْعَلْ مَعَ اللَّـهِ إِلَـٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَّخْذُولًا ﴿٢٢﴾

“Janganlah engkau mengadakan Tuhan yang lain disamping Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya engkau akan menjadi tercela dan terhina.” (QS. Al-Isra[17]: 22)

Kemudian setelahnya, barulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang beberapa macam larangan. Akan tetapi di ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala mendahulukan larangan yang bernama kesyirikan. Karena kesyirikan adalah sebesar-besar perkara yang membinasakan seorang hamba. Kesyirikan adalah dosa yang tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesyirikan adalah kedzaliman yang paling dzalim. Kesyirikan adalah maksiat yang paling buruk. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ اللَّـهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengampuni dosa kesyirikan dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa yang lain yang levelnya dibawa kesyirikan bagi orang-orang yang Allah kehendaki.” (QS. An-Nisa[4]: 48)

sumber : https://www.radiorodja.com/47469-memperingatkan-manusia-dari-7-dosa-besar-yang-membinasakan/

Mengapa Wanita Selalu Terlihat Cantik di Depan Laki-Laki?

Sejak dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan bahwa wanita adalah fitnah terbesar bagi laki-laki. Apa yang dimiliki oleh wanita bisa membuat laki-laki luluh, terperangkap, dan hilang akalnya, meski dia sebelumnya kokoh dan istiqamah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki dibandingkan (fitnah) wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 7122)

Beliau juga bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkankan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.” (HR. Bukhari no. 304)

Bagaimana pun rupa seorang wanita, ada saja yang tertarik kepadanya. Meski ada yang menilainya tidak cantik, tetapi tetap saja ada lelaki yang terpikat. Ini bukti bahwa cantik itu relatif. Boleh jadi rupanya biasa-biasanya saja, tetapi darinya terpancar aura yang menarik bagi sebagian lelaki.

Mengapa ini bisa terjadi? Mungkin saja salah satunya karena peran syaithan yang menjadikan semua wanita itu bisa terlihat cantik. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

المَرْأَةُ عَوْرَةٌ إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu adalah aurat. Bila ia keluar, syaithan akan menghiasinya (untuk menggoda laki-laki).” (HR. Tirmidzi no. 1173, dishahihan oleh Al-Albani)

Syaikh Abul ‘Alaa Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

( فإذا خرجت استشرفها الشيطان ) أي زينها في نظر الرجال وقيل أي نظر إليها ليغويها ويغوى بها

“Bila wanita keluar syaithan akan menghiasinya, maknanya adalah syaithan menghiasinya di mata laki-laki. Juga dikatakan, maknanya, syaithan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya dan menyesatkan (manusia) dengannya.” (Tuhfatul Ahwadzi, 4/283)

Andaipun seorang wanita sudah menutup auratnya dengan sempurna, berpakaian hitam dengan maksud agar tidak menarik perhatian para lelaki, bahkan sampai pun bercadar, namanya laki-laki tetap saja tidak semuanya bisa bersikap biasa saja. Ada saja yang nengok, memperhatikannya, melihat kedua matanya yang tampak dari sudut sempit cadarnya, atau minimal memperkirakan tingginya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sungguh lelaki tidak bisa benar-benar lepas dari fitnah wanita. Itulah mengapa wanita diperintahkan untuk lebih banyak tinggal di rumahnya, demi meminimalisir terjadinya fitnah yang begitu sering menimpa para lelaki, kecuali jika ada hajat yang mengharuskannya keluar. Allah berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/mengapa-wanita-selalu-terlihat-cantik-di-depan-laki-laki.html

Ungkapan Cinta, Walau Terkesan Sepele Tetapi Menenangkan Hati Istri

Pada awal-awal pernikahan, dua sejoli tersebut akan hanyut dalam romansa percintaan, baik suami maupun istri akan merasakan indahnya kebersamaan, ungkapan cinta dan sayang akan selalu menghiasi hari-hari mereka. Namun, waktu yang terus bergulir dan realitas kehidupan yang harus terus dijalani terkadang membawa pengaruh pada kehidupan cinta tersebut.

Intensitas cinta kepada pasangan saat ini bisa sangat berbeda dengan saat awal dulu bertemu. Mungkin dahulunya, suaminya adalah laki-laki yang sangat romantis, yang sering membisikkan kata-kata cinta. Tetapi sekarang hal itu jarang dilakukan, yang penting tugasnya sebagai seorang suami yang bertanggung jawab untuk menafkahi istrinya sudah dijalankan.

Sayangnya, bagi seorang wanita, tindakan berupa perbuatan kadang tidak cukup menjadi bukti baginya suaminya masih mencintainya. Padahal ungkapan cinta dari seorang suami tidak melulu melalui perkataan, namun dengan tindakan dan tanggung jawab, baginya mengungkapkan kata-kata cinta adalah hal yang sulit. Sebaliknya, istri sangat mengharapkan suaminya mengucapkan kata-kata cinta dan romantis.

Jika suami jarang mengungkapkan kata cinta, maka akan muncul pertanyaan-pertanyaan di benak istrinya, “Apakah suamiku masih mencintaiku?” Oleh karena itu, satu hal yang perlu dipahami oleh seorang suami, ungkapan cinta yang diucapkan meskipun singkat akan memiliki pengaruh yang sangat mendalam pada perasaan istri.

Berkata yang mesra kepada istri adalah salah satu bentuk mempergauli istri dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri kalian) dengan baik.” (QS. An Nisa’: 19)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menjadi teladan dalam berbuat baik kepada istrinya dan merawat hubungan cinta antara mereka. Beliau telah mengajarkan berbagai kiat bagaimana merekatkan cinta kasih antara suami istri sehingga keharmonisan selalu tercipta. Salah satu hal yang kerap beliau lakukan adalah memanggil istrinya dengan panggilan sayang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sang istri tercinta dengan panggilan Humaira, artinya wahai yang pipinya kemerah-merahan. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

دَخَلَ الحَبَشَةُ المسْجِدَ يَلْعَبُوْنَ فَقَالَ لِي يَا حُمَيْرَاء أَتُحِبِّيْنَ أَنْ تَنْظُرِي

“Orang-orang Habasyah (Ethiopia) pernah masuk ke dalam masjid untuk bermain, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku, “Wahai Humaira (artinya: yang pipinya kemerah-merahan), apakah engkau ingin melihat mereka?” (HR. An Nasai dalam Al Kubro, 5: 307)

Oleh karena itu, bagi para suami, jangan bosan mengungkapkan kata cinta dan sayang kepada istri Anda. Walaupun sederhana dan sepele, tetapi hal tersebut bisa memberi ketenangan pada hati istri. Ungkapan indah yang memiliki makna cinta yang mendalam meskipun singkat akan semakin mensuplai kesegaran cinta yang ada di dalam hati.

Artikel http://www.muslimafiyah.com
(Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/ungkapan-cinta-walau-terkesan-sepele-tetapi-menenangkan-hati-istri.html

Beberapa Tanda Kiamat

Oleh
Ustadz Abu Nida’ Chomsaha Shofwan

Iman kepada hari Akhir merupakan salah satu rukun iman. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, …dst. [Al Baqarah/2:177].

Sehingga kebaikan tidak akan tercapai kecuali dengan cara merealisasikan iman kepada hari Akhir. Karena itulah, iman kepada hari Akhir memiliki pengaruh yang besar terhadap diri manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Beriman kepada hari Akhir, dengan selalu mengingatnya dan membenarkan peristiwanya, akan menambah keimanan dan ketakwaan seseorang, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

الم ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. [Al Baqarah/2:1-5].

Banyak nash yang menerangkan pengaruh dan urgensi iman kepada hari Akhir. Allah telah membantu para hambaNya untuk beriman kepada hari Akhir, yaitu dengan memberitahukan tanda-tanda yang mendahului kedatangannya (alamatus sa’ah), baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Tanda-tanda yang sudah terjadi, berarti telah dirasakan oleh umat manusia, sehingga bisa menambah keimanan dan keyakinan, dan mendorong manusia untuk beramal shalih dan menjauhi hal-hal yang mungkar.

Permasalahan tanda-tanda Kiamat ini sengaja diangkat, untuk mengingatkan kita, karena kebanyakan orang telah melupakannya. Dengan mengetahui adanya tanda-tanda hari Kiamat yang sudah terjadi, semoga menjadi peringatan untuk selalu mengikuti petunjuk syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dalam tulisan ini, penulis memaparkan sebagian tanda-tanda Kiamat yang sudah terjadi. Semoga bermanfaat.

Pertama : Diutusnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa diutusnya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul terakhir termasuk salah satu tanda-tanda Kiamat, artinya Kiamat itu sudah dekat, karena Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan penutup para nabi. Tidak ada lagi nabi sesudah Beliau. Beliau bersabda :

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ يَعْنِي إِصْبَعَيْنِ

Jarak antara pengangkatan aku sebagai Rasul dan hari Kiamat seperti (jarak) dua ini. (Yaitu dua jarinya). [Riwayat Bukhari dan Muslim].

Dalam riwayat lain: “Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya”.

Ketika membahas tanda-tanda hari Kiamat, Imam Al Qurthubi menyatakan bahwa tanda yang pertama ialah kemunculan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Beliau nabi akhir zaman. Antara Beliau dengan hari Kiamat tiada nabi lagi.

Al Hafizh Ibnu Rajab menjelaskan, bahwa hadits di atas ditafsiri dengan kedekatan masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan hari Kiamat, seperti dekatnya jarak antara jari telunjuk dan jari tengah. Yakni, setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka akan ditutup dengan hari Kiamat tanpa ada nabi lagi. Rasulullah bersabda:

وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي

Dan aku adalah al hasyir, yaitu seluruh manusia akan dikumpulkan (pada hari Kiamat) sesudah masaku. [HR Bukhari dan Muslim].

Kedua : Terbelahnya Bulan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ وَإِن يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ

Telah dekat (datangnya) saat (Kiamat) itu, dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata “(Ini adalah) sihir yang terus menerus. [Al Qamar/55 : 1-2].

Dalam menafsirkan ayat di atas, Al Hafizh Ibnu Katsir menyatakan bahwa peristiwa terbelahnya bulan telah terjadi pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang mutawatir dengan sanad yang shahih. Para ulama telah sepakat bahwa peristiwa tersebut merupakan salah satu mukjizat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abdullah bin Mas‘ud bercerita.

بَيْنَمَا نَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِنًى إِذَا انْفَلَقَ الْقَمَرُ فِلْقَتَيْنِ فَكَانَتْ فِلْقَةٌ وَرَاءَ الْجَبَلِ وَفِلْقَةٌ دُونَهُ فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْهَدُوا

Ketika kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mina, tiba-tiba bulan terbelah menjadi dua bagian. Satu bagian berada di belakang atas gunung (Hira’) dan separoh lainnya (berada) sedikit di bawahnya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami: “Saksikanlah.” [HR Bukhari dan Muslim].

Ketiga : Keluarnya Api Dari Wilayah Hijaz Yang Menyinari Punuk-Punuk Unta
Di Bushra (Wilayah Syam).
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ تُضِيءُ أَعْنَاقَ الْإِبِلِ بِبُصْرَى

Tidak akan terjadi hari Kiamat sebelum keluar api dari wilayah Hijaz yang menyinari punuk-punuk unta di Bushra. [HR Bukhari dan Muslim].

Imam An Nawawi berkata: “Pada zaman kita, api ini pernah muncul di Madinah tahun 654 H. Apinya besar sekali, muncul dari sisi timur kota Madinah, di belakang Hirra. Peristiwa ini juga diketahui oleh penduduk Syam dan semua negeri. Dan penduduk Madinah yang menyaksikannya telah menceritakannya kepadaku”.

Keempat : Banyaknya Kekacauan.
Banyak nash shahih yang menunjukkan, salah satu di antara tanda hari Kiamat yaitu banyak terjadinya kekacauan, peperangan dan pembunuhan. Juga munculnya banyak fitnah di tengah-tengah kaum muslimin yang berbentuk perpecahan, yang berakhir saling mengkafirkan dan menfasikkan, bahkan diakhiri dengan pembunuhan, merajalelanya kemaksiatan di kota-kota dan desa-desa.

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَكْثُرَ الْجَهْلُ وَيَكْثُرَ الزِّنَا وَيَكْثُرَ شُرْبُ الْخَمْرِ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ


Sesungguhnya di antara tanda hari Kiamat adalah ilmu diangkat, kebodohan muncul, perzinaan merajalela, minum minuman keras merebak luas, kaum pria sedikit dan kaum wanita banyak hingga lima puluh orang wanita hanya memiliki satu orang laki-laki yang menanggung urusan mereka. [HR Bukhari dan Muslim].

Yang dimaksud dengan ilmu dalam hadits ini, ialah ilmu syariat. Yaitu ilmu yang menunjukkan manusia ke jalan yang lurus, menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, ilmu yang mengenalkan Allah beserta nama-nama dan sifat-sifatNya, ilmu yang menunjukkan cara beribadah yang benar kepada Allah, gambaran bermuamalah yang baik dengan sesama kaum muslimin, dan lain-lain.

Dalam hadits lain, yang diriwayatkan Imam Bukhari, menerangkan proses terangkatnya ilmu, yaitu :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara langsung dengan mengambilnya dari para hamba, tetapi dengan mewafatkan para ulama. Sampai bila tidak menyisakan satu orang pun, maka manusia mengangkat pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, maka mereka (tokoh-tokoh itu, red) memberi fatwa tanpa dasar ilmu, sehingga dia sesat dan menyesatkan.

Ulama memberikan beragam penafsiran tentang makna “ilmu diangkat”. Di antaranya, yaitu “hilang dari hati kaum muslimin” atau “matinya para ulama” atau “orang-orang menghafal Al Qur’an, tetapi tidak mengamalkannya” atau “ilmunya tidak bermanfaat”.

Kesimpulan dari semua itu, maka yang tersisa kebanyakan adalah orang yang jahil (tidak berilmu). Akibatnya, manusia mendaulat pimpinan orang yang kosong dari ilmu, sesat dan sekaligus menyesatkan orang lain. Karena, apabila orang itu ditanya, dia menjawabnya tanpa dasar ilmu.

Kemudian tentang menjamurnya perzinaan dan minuman keras, diakui atau tidak, kedua kemaksiatan ini sudah menyebar di seluruh pelosok dunia, kecuali daerah-daerah atau orang-orang yang mendapat rahmat dari Allah. Bahkan keduanya telah menjadi komoditas perdagangan. Namun alhamdulillah, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim, bahwa akan senantiasa ada sekelompok orang dari umat Islam yang berpegang teguh kepada kebenaran sampai datangnya hari kiamat.

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

Senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang selalu berpegang teguh di atas kebenaran. Orang yang enggan menolong mereka, tidak akan merugikan mereka sampai datang keputusan Allah.

Maksudnya, sekalipun keadaan tidak menentu, mereka tetap berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunnah yang shahih dan mengikuti jejak para salaful ummah (para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka).

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon tiga hal kepada Allah untuk umatnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata (yang artinya) : Dan aku mohon kepada Rabb-ku untuk umatku agar Allah tidak membinasakan mereka dengan wabah kelaparan yang merata dan agar Allah tidak memberikan kemenangan kepada musuh sehingga musuh dapat menguasai kaum muslimin. Dan Rabb-ku berfirman: “Wahai, Muhammad! Jika Aku sudah menetapkan satu ketetapan, maka tidak akan tertunda. Aku tidak akan membinasakan mereka (kaum muslimin) dengan musibah kelaparan yang merata, dan Aku tidak akan memberikan kemenangan kepada musuh sehingga bisa menaklukkan kaum muslimin, kendatipun mereka bersatu dari seluruh penjuru dunia, sampai mereka sendiri saling membinasakan dan saling melakukan penawanan”. Perkara yang aku khawatirkan atas umaku adalah para imam (panutan) yang menyesatkan. Dan jika pedang sudah terhunus, maka tidak akan disarungkan lagi sampai Kiamat tiba. Dan Kiamat tidak akan terjadi sampai ada sebagian kelompok dari umatku yang meniru kaum musyrik, dan sampai sebagian umatku menyembah patung. Dan sesungguhnya akan muncul di tengah umatku tiga puluh pendusta. Mereka mengklaim dirinya nabi, padahal aku adalah penutup para nabi. Tidak ada nabi sepeninggalku. Dan tetap ada sebagian kelompok dari umatku berada di atas al haq.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa doanya untuk umatnya dikabulkan dalam dua perkara saja. Sedangkan yang ketiga tidak diterima.

Beliau memberitakan:

Akan terjadi pertumpuhan darah di antara umatnya. Dan kalau sudah terjadi, maka tidak akan berakhir sampai hari Kiamat.
Sebagian umatnya akan menghancurkan sebagian yang lain, dan akan saling menawan
Bagaimanakah kalau fitnah tersebut terjadi? Kita, umat Islam harus berhati-hati, harus menghindari fitnah tersebut, sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa yang berjalan lebih baik daripada yang berlari, yang duduk lebih baik daripada berjalan, dan seterusnya.

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْقَائِمِ وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْمَاشِي وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنْ السَّاعِي وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan terjadi banyak fitnah. Pada masa itu, orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik daripada orang berjalan. Orang yang berjalan lebih baik daripada orang berlari. Barangsiapa yang melawannya, ia akan tergilas. Barangsiapa menemukan tempat berlindung, maka hendaklah ia berlindung diri di sana. [HR Bukhari].

Selain itu, ada hadits dari Hudzaifah bin Al Yaman, dia menceritakan : Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan karena khawatir akan menimpaku. Aku bertanya, “Wahai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam! Kami dulu berkubang dalam kejahiliyahan dan kejelekan, lalu Allah memberikan kebaikan (Islam) ini, akankah ada lagi kejelekan kebaikan ini?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Ya.” Aku bertanya lagi,”Apakah akan ada lagi kebaikan setelah kejelekan itu?” Beliau menjawab,”Ya, tapi sudah tercampur dakhan (kekeruhan).” Aku bertanya,”Apa dakhannya?” Beliau menjawab,”Satu kaum yang mengambil petunjuk bukan dari petunjukku. Engkau mengenali dan mengingkari kondisi mereka”. Aku bertanya,”Akankah ada keburukan lagi setelah kebaikan itu?” Beliau menjawab,”Ya. Yaitu para juru dakwah yang mengajak ke pintu jahannam. Barangsiapa yang menjawab panggilan mereka, maka akan tercampakkan ke dalam jahannam.” Aku berkata,”Wahai, Rasulullah! Jelaskan ciri mereka kepada kami!” Beliau bersabda,”Mereka berasal dari kita sendiri dan mereka berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya,”Jika aku menjumpai masa itu, apa yang engkau perintahkan kepadaku?” Beliau menjawab,”Tetaplah bersama jama’ah kaum muslimin dan imam mereka.” Aku bertanya,”Jika mereka tidak memiliki jama’ah pun juga imam?” Beliau menjawab,”Tinggalkannlah semua firqah-firqah itu, meskipun akhirnya engkau terpaksa mengkonsumsi akar pohon sampai ajal menjemput, sementara engkau tetap teguh atas jalan itu.”


Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini, bahwa nanti setelah terangnya cahaya kebenaran Islam akan datang asy-syar (keburukan, fitnah).

Dalam Fathul Bari dijelaskan, yaitu diawali dengan terbunuhnya Utsman Radhiyallahu ‘anhu dan dampak yang muncul karena pembunuhan tersebut. Tetapi setelah itu akan ada kebaikan, tetapi dalam kebaikan itu ada dakhan (kekeruhan). Dalam Fathul Bari disebutkan, maknanya bagus tetapi kotor, baik itu berupa kondisi umum maupun hati di antara mereka yang tidak bersih. Pada waktu itulah, ada pemimpin atau dai yang memberikan petunjuk tetapi tidak sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini dalam suasana yang baik. Barangsiapa yang menjumpai dan mengetahuinya, maka harus bara’ (berlepas diri) dan membencinya.

Setelah itu, Hudzaifah pun masih bertanya lagi : “Apakah setelah kebaikan itu ada kejelekan?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Ya ada, tetapi di situ ada penyeru yang mengajak kepada kesesatan. Diumpamakan dengan berdiri di pintu neraka karena mengajak kepada hal-hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang mengikuti akan dimasukkan ke dalamnya.” Hudzaifah bertanya lagi,”Mereka itu siapa, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab,”Mereka itu dari kaum kita, berbicara dengan bahasa kita, seagama dengan kita, bisa dari Arab atau bani Adam. Dzahirnya Islam, tetapi batinnya menyelisihi Islam (menghancurkan Islam dari dalam).” Hudzaifah bertanya lagi,”Jika kami menjumpai yang seperti itu, maka bagaimana, wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Bergabunglah dengan jama’ah kaum muslimin dan imam mereka -sekalipun imam yang fajir yang berbuat kejam kepada kita, mengambil harta kita, kita tetap setia dan taat.”

Demikianlah yang dilakukan oleh generasi Salaf terhadap Al Hajjaj bin Yusuf.

Dan yang dimaksud dengan jamaah di sini, ada yang mengatakan jama’ah kaum muslimin karena tidak mungkin umat Muhammad bersatu dalam kesesatan, atau jama’ah sahabat atau ahlul ilmi karena sebagai hujjah bagi manusia, atau bergabung (berpegang) kepada al haq sebagaimana dikatakan Imam Malik :

الـجَمَاعَةُ مَعَ الـحَقِّ وَلَوْ كُنْتَ وَحْدَكَ

Jamaah (adalah) bersama al haq (kebenaran) meskipun engkau sendiri.

Lalu, bagaimana kalau tidak ada kedua-duanya? Tinggalkan semua firqah (para duat yang mengajak kepada kesesatan) yang masing-masing mengajak kepada golongannya, dan gigitlah akar pohon sampai kamu meninggal, itu lebih baik daripada mengikuti mereka. Ini kinayah (kiasan) betapa beratnya berpegang teguh dengan Sunnah dalam situasi yang seperti sekarang ini.

Kelima : Keluarnya Para Dajjal Pendusta Yang Mengaku Sebagai Nabi.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

وَأنه سَيَكُونُ فِي أُمَّتِـي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُ نَبِيٌّ )رَوَاهُ أَبـُو دَاوُد

Akan ada pada umatku tiga puluh pendusta, semuanya mengaku sebagai nabi [HR Abu Dawud].

Ini sudah terjadi, kecuali dajjal yang terakhir. Sebagai misal :

Al Aswad Al Ansi di Yaman. Muncul pada masa-masa akhir kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada akhirnya ia dibunuh oleh kaum muslimin di benteng persembunyiannya.
Thulaihah bin Khuwalid Al Asadi. Mengaku sebagai nabi pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Tidak sempat dibunuh hingga masih bertahan hidup pada masa Khalifah Abu Bakar. Ia lari ke Syam lalu masuk Islam. Kemudian dia ikut perang dan menemui syahid, insya Allah.
Musailamah Al Kadzdzab pada tahun 9 H. Dia datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama jamaahnya dan kembali ke Yamamah lalu murtad dan mengaku sebagai nabi. Ia binasa di tangan Wahsi bin Harbz pada zaman Khalifah Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu.
Sujjah binti Al Harits. Asalnya Nashara dan mengaku sebagai nabi. Kemudian ia bertemu dengan Musailamah Al Kadzdzab dan menjadi istrinya. Setelah Musailamah terbunuh, dia kembali ke negerinya, kemudian masuk Islam dan mati dalam keadaan Islam di Bashrah.
Pada zaman Tabi’in :

Al Mukhtar bin Abi Ubaid Ats Tsaqafi. Orang ini sebelumnya penganut Syi’ah kemudian mengaku sebagai imam dengan nama Muhammad bin Hanifah. Ia mengaku bahwa Jibril menurunkan wahyu kepadanya. Dia terbunuh di Kufah.
Al Harits bin Sa’id Al Kadzdzab di Damaskus pada zaman Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Setelah beritanya sampai ke telinga Khalifah, keberadaannya langsung dilacak, lalu dibawa menghadap beliau. Kemudian Khalifah mendatangkan para ulama untuk menasihatinya, tetapi ia menolak. Maka Khalifah pun menyalibnya.
Pada zaman mutakhir ini, muncul di India seorang laki-laki yang bernama Mirza Gulam Ahmad Al Qadiyani. Ia mengaku mendapatkan wahyu dari langit dan mengaku sebagai nabi. Atau oleh para pengikutnya dikatakan sebagai mujaddid (pembaharu). Pengikutnya mashur dengan nama Ahmadiyah.

Para dajjal yang disebutkan di atas hanyalah sebagian saja. Satu per satu akan muncul, baik berbentuk perdukunan atau pengobatan alternatif, atau apa saja yang intinya mengaku mendapat wahyu dari Allah. Dan yang terakhir nantinya ialah Al Masih Ad Dajjal Al A’war.

Keenam : Banyak Terjadi Gempa Bumi.

لاَ تـَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضُ الْعِلْمُ وَيَكُْثرُ الزَّلَازِلُ ) رَوَاهُ البُخَارِي

Tidaklah hari Kiamat itu akan tiba sampai ilmu tercabut dan banyak terjadi gempa bumi. [HR Bukhari].

Demikian penjelasan singkat mengenai tanda datangnya hari Kiamat yang harus kita imani. Hendaklah kaum muslimin memperhatikan dan mempersiapkan diri untuk menyongsongnya. Dunia adalah ladang beramal sementara akhirat tempat penilaian amalan. Orang yang merugi adalah manusia yang tidak waspada dalam kehidupan duniawinya.

[Disalin dari majalah As-SunnahEdisi 01/Tahun IX/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Referensi : https://almanhaj.or.id/3098-beberapa-tanda-kiamat.html

Tidur Siang Tidak Bisa Menggantikan Tidur Malam

Di antara kekuasaan Allah Ta’ala adalah Ia menjadikan waktu itu berputar sehingga manusia bisa menggunakannya untuk beraktivitas lalu beristirahat dari aktivitasnya kemudian beraktivitas kembali, demikian seterusnya. Waktu siang dan waktu malam yang dipergilirkan oleh Allah adalah dua waktu utama yang dipergunakan oleh manusia. Allah berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS Ar Rum: 23)

Berdasarkan sunnatullah (aturan Allah), waktu malam adalah waktu utama untuk tidur beristirahat, sementara waktu siang adalah waktu utama untuk mencari nafkah dan penghidupan. Barang siapa yang mengubah tatanan ini maka dia akan ditimpa berbagai macam gangguan. Dalam ayat yang lain Allah berfirman,

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا. وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ لِبَاسًا. وَجَعَلْنَا ٱلنَّهَارَ مَعَاشًا

“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS An-Naba’: 9-11)

Dari sudut pandang medis pun demikian, tubuh kita memiliki jam internal yang bekerja secara otomatis di mana organ-organ tubuh itu punya jam kerjanya masing-masing. Hal ini perlu diperhatikan agar metabolisme tubuh dapat berlangsung dengan prima.

Pada waktu malam, perubahan hormon tubuh akan mengirimkan sinyal pada otak bahwa sudah saatnya tubuh beristirahat. Pada waktu inilah hati atau liver akan bekerja optimal untuk membuang semua racun hasil metabolisme dan melakukan regenerasi sel-sel pada organnya, karenanya sangat disarankan beristirahat pada waktu ini.

Seseorang yang seharusnya menjadikan malam hari sebagai waktu istirahat namun dia gunakan sebagai waktu bekerja maka dia akan merasakan gangguan, apakah itu gangguan kesehatan atau gangguan pikiran. Tubuhnya tidak akan segar meskipun waktu tidurnya pada siang hari lebih banyak. Dia tetap tidak akan merasakan kenikmatan tidur sebagaimana yang dirasakannya ketika tidur di malam hari.

Seandainya ada seseorang yang hanya tidur 2 jam di waktu malam, lalu dia tidur di siang hari 5 jam sebagai ganti kekurangan di malam hari, tetap saja dia masih merasa kurang. Hal ini terjadi karena dia mengubah pola dan aturan, seharusnya waktu istirahatnya di malam hari namun dia ganti ke siang hari.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK. (Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/tidur-siang-tidak-bisa-menggantikan-tidur-malam.html

Berprasangka Baik kepada Allah

Perintah berprasangka baik kepada Allah

Nabi ﷺ bersabda,

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku.’”  (HR. Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Wasilah bin Asqa’, dia berkata bahwa Rasul ﷺ bersabda,

قال اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Maka, berprasangkalah kepada-Ku menurut apa yang dikehendakinya.’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no. 16.016 dan Al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih Al-Jami’, no. 4316.)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda,

قال اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Jika ia bersangka baik kepadaku, maka (kebaikan) itu untuknya dan jika ia bersangka buruk, maka itu untuknya.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no. 9076 dan Al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih Al-Jami’, no. 4315.)

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ tiga hari sebelum wafatnya bersabda,

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati, melainkan ia harus berhusnuzan pada Allah.” (HR. Muslim no. 2877)

Termasuk amalan hati yang paling agung dan kewajiban iman yang mulia adalah husnuzan billah (berbaik sangka kepada Allah). Sesunggguhnya berbaik sangka kepada Allah memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama yang mulia ini. Allah tidaklah membuat kecewa hamba yang berbaik sangka kepada-Nya. Karena Allah tidak akan mengecewakan harapan orang yang berharap dan tidak menganggap amalan orang yang beramal. Allah Ta’ala berfirman,

وَٱصۡبِرۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud:115)

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan agungnya berbaik sangka kepada Allah dan dampak bagi pelakunya berupa kedudukan yang terpuji dan pengaruh yang besar serta buah manis keberkahan di dunia dan akhirat. Betapa agung kedudukannya, karena ini merupakan ibadah dan ketaatan yang mulia lagi utama. Semakin kuat berbaik sangka kepada Allah, maka akan semakin menghasilkan buah yang manis bagi pelakunya dan memberikan dampak keberkahan serta pujian baik di dunia maupun di  akhirat.

Mengenal nama dan sifat Allah akan membuahkan berprasangka baik kepada Allah

Berbaik sangka kepada Allah merupakan cabang dari mengenal Allah. Sesungguhnya apabila seorang hamba semakin besar pengenalannya kepada Allah terhadap nama dan sifat Allah (bahwasanya rahmat dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu, bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Allah Maha Penerima tobat dan Maha Pemurah, Yang Maha memberikan kebaikan, menerima tobat hambanya, dan mengampuni berbagai dosa, Allah tidak melipatgandakan balasan dosa, bahkan Dia sangat luas ampunan-Nya, dan sifat kemuliaan serta keagungan lainnya), maka akan bertambah pula sifat berbaik sangka kepada Allah. Hal ini karena sumber dari berbaik sangka kepada Allah adalah baiknya pengenalan terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah. Setiap nama Allah dan setiap sifat Allah memiliki nilai peribadatan dan sifat berbaik sangka kepada Allah yang berhubungan dengannya. Ini adalah perkara yang hendaknya diketahui dan dipahami dalam masalah ini.

Jika seorang muslim mengetahui bahwa di antara nama-nama Allah adalah Al-Ghaffar (Yang Maha Pengampun), maka dia akan berbaik sangka dengan beristigfar dan memperbanyak istigfar serta perhatian dan senantiasa konsisten untuk terus meminta ampun kepada Allah terhadap semua dosa, ketergelinciran, dan kesalahannya.

Jika seorang hamba mengetahui bahwa di antara nama Allah adalah At-Tawwab (Yang Maha Menerima tobat) dan Allah menerima tobat dari hamba serta mengampuni kesalahannya, maka dia akan memiliki sifat berbaik sangka kepada Allah dengan bertobat kepada-Nya setiap dia melakukan dosa dan terjerumus dalam kesalahan. Apabila kesalahannya besar, maka Allah Mahaluas ampunan-Nya dan Dia akan menerima tobat bagi orang yang bertobat seberapa pun besar dosa dan kesalahan hamba. Allah Ta’ala berfirman,

قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)

Jika seorang hamba tertimpa musibah atau sakit, maka dia akan berprasangka baik kepada Allah karena sesungguhnya Allah adalah Asy-Syafi yang tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan yang berasal dari Allah Ta’ala. Sebagaimana hal ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim Khalilurrahman yang disebutkan Allah dalam Al Qur’an,

وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara’: 80)

Ini adalah merupakan bentuk berprasangka baik kepada Allah. Apabila seorang hamba mengalami musibah atau sakit, maka dia akan  berprasangka baik kepada Allah bahwasanya Allah akan menyembuhkan dan menghilangkan kesulitannya.

Jika berkurang apa yang dimilikinya atau ditimpa kekurangan dan kefakiran, maka dia berbaik sangka kepada Allah karena sesungguhnya Allah sangat luas karunia-Nya dan banyak pemberian-Nya. Dan sesungguhnya apa yang ada padanya adalah di antara nikmat yang Allah anugerahkan. Maka, dengan demikian, bisa dipahami bahwa berbaik sangka kepada Allah senantiasa melekat pada diri seorang mukmin dalam setiap kondisi dan keadaannya dan dalam seluruh amal dan ibadahnya.

Itu semua dibangun di atas akidah yang kokoh dan iman yang kuat di hati orang beriman dan percaya kepada Allah. Tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah dan menjadi pribadi yang jujur dalam berbaik sangka kepada Allah, kecuali Allah akan membalas persangkaannya, dan semua kebaikan berasal dari Allah. Maka, setiap hamba mengharapkan kebaikan dan menginginkannya untuk dirinya atau untuk orang lain semuanya berasal dari Allah.

Kedudukan mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia merupakan kedudukan yang agung, serta memiliki buah manis dan dampak keberkahan serta pujian bagi hamba yang beriman di kehidupan dunia maupun akhiratnya. Oleh karena itu, di antara perkara besar yang bisa menumbuhkan rasa berbaik sangka kepada Allah adalah memahami permasalahan ini yaitu tentang makrifatullah (mengenal Allah).

Berprasangka baik kepada Allah diwujudkan dengan banyak beramal

Berprasangka baik kepada Allah tidak selayaknya dibarengi dengan sifat meremehkan, menyia-nyiakan, menelantarkan, dan juga mengikuti syahwat, namun hendaknya dibarengi dengan kebagusan amal dan kesempurnaan dalam menghadap kepada Allah. Adapun orang yang jelek perangainya dan pelaku kemaksiatan, maka dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya akan menjauhkan dirinya dari sikap prasangka baik kepada Allah.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin adalah yang paling baik prasangkanya kepada Allah dan paling baik amalnya, Adapun orang fajir adalah yang paling jelek prasangkanya kepada Allah dan paling jelek dalam beramal.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushanaf no. 37925.)

Ibnul Jauzy rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, bahwa benarnya harapan seorang mukmin terhadap karunia dan pemberian Allah akan menyebabkan sikap berprasangka baik kepada Allah. Bukanlah prasangka baik kepada Allah seperti apa yang diyakini oleh orang-orang bodoh berupa harapan kepada Allah, namun disertai dengan berbagai perbuatan maksiat. Permisalan mereka dalam hal ini seperti orang yang berharap hasil panen, namun tidak menanam; atau berharap anak, tetapi tidak menikah. Adapun orang yang bijak, maka dia bertobat kepada Allah dengan harapan diterima, dan melakukan ketaatan dengan harapan mendapat pahala.“ (Kasyful Musykil min Hadis As Shahihain)

Hendaknya setiap hamba menasihati dirinya untuk bersungguh-sungguh dalam memperbagus amal yang merupakan buah dari sikap berprasangka baik kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

***

Penulis: dr. Adika Mianoki, Sp.S.

Artikel: Muslim.or.id

Referensi:

Kitab Ahadits Ishlahil Quluub Bab 34, karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Sumber: https://muslim.or.id/95196-berperasangka-baik-kepada-allah.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Syirik yang Sering Diucapkan

”Janganlah engkau menjadikan si fulan (sebagai sekutu bagi Allah, pen)  dalam ucapan-ucapan tersebut. Semua ucapan ini adalah perbuatan SYIRIK.” (HR. Ibnu Abi Hatim)

Kaum muslimin yang semoga selalu mendapatkan taufiq Allah Ta’ala. Kita semua telah mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb (Tuhan) alam semesta, Yang menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita, Yang menjadikan bumi sebagai hamparan untuk kita mencari nafkah, dan Yang menurunkan hujan untuk menyuburkan tanaman sebagai rizki bagi kita. Setelah kita mengetahui demikian, hendaklah kita hanya beribadah kepada Allah semata dan tidak menjadikan bagi-Nya tandingan/sekutu dalam beribadah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah [2]: 22)

Lebih samar dari jejak semut di atas batu hitam di tengah kegelapan malam

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma –yang sangat luas dan mendalam ilmunya- menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan,”Yang dimaksud membuat sekutu bagi Allah (dalam ayat di atas, pen) adalah berbuat syirik. Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali  daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.”

Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mencontohkan perbuatan syirik yang samar tersebut seperti, ‘Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan’, ‘Demi hidupku’ atau ‘Kalau bukan karena anjing kecil orang ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu’ atau ‘Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini tentu datanglah pencuri-pencuri itu’, dan ucapan seseorang kepada kawannya ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’, juga ucapan seseorang ‘Kalau bukan karena Allah dan karena fulan’.

Akhirnya beliau radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, ”Janganlah engkau menjadikan si fulan (sebagai sekutu bagi Allah, pen)  dalam ucapan-ucapan tersebut. Semua ucapan ini adalah perbuatan SYIRIK.” (HR. Ibnu Abi Hatim) (Lihat Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi)

Itulah syirik. Ada sebagian yang telah diketahui dengan jelas seperti menyembelih, bernadzar, berdo’a, meminta dihilangkan musibah (istighotsah) kepada selain Allah. Dan terdapat pula bentuk syirik (seperti dikatakan Ibnu Abbas di atas) yang sangat sulit dikenali (sangat samar). Syirik seperti ini ada 2 macam. Pertama, syirik dalam niat dan tujuan. Ini termasuk perbuatan yang samar karena niat terdapat dalam hati dan yang mengetahuinya hanya Allah Ta’ala. Seperti seseorang yang shalat dalam keadaan ingin dilihat (riya’) atau didengar (sum’ah) orang lain. Tidak ada yang mengetahui perbuatan seperti ini kecuali Allah Ta’ala.

Kedua, syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Syirik seperti ini adalah seperti syirik dalam ucapan (selain perkara i’tiqod/keyakinan). Syirik semacam inilah yang akan dibahas pada kesempatan kali ini. Karena kesamarannya lebih dari jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam. Oleh karena itu, sedikit sekali yang mengetahui syirik seperti ini secara jelas. (Lihat I’anatul Mustafid bisyarh Kitabut Tauhid, hal. 158, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan)

Berikut ini akan disebutkan beberapa contoh syirik yang masih samar, dianggap remeh, dan sering diucapkan dengan lisan oleh manusia saat ini.

Mencela Makhluk yang Tidak Dapat Berbuat Apa-apa

Perbuatan seperti ini banyak dilakukan oleh kebanyakan manusia saat ini –barangkali juga kita-. Lidah ini begitu mudahnya mencela makhluk yang tidak mampu berbuat sedikit pun, seperti di antara kita sering mencela waktu, angin, atau pun hujan. Misalnya dengan mengatakan, ‘Bencana ini bisa terjadi karena bulan ini adalah bulan Suro’ atau mengatakan ‘Sialan! Gara-gara angin ribut ini, kita gagal panen’ atau dengan mengatakan pula, ‘Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’.

Lidah ini begitu mudah mengucapkan perkataan seperti itu. Padahal makhluk yang kita cela tersebut tidak mampu berbuat apa-apa kecuali atas kehendak Allah. Mencaci mereka pada dasarnya telah mencaci, mengganggu dan menyakiti yang telah menciptakan dan mengatur mereka yaitu Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Allah Ta’ala berfirman, ‘Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.’ ” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih)

Dari dalil-dalil ini terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan makhluk lain yang tidak dapat berbuat apa-apa adalah terlarang. Larangan ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari sesuatu yang jelek yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja, maka seperti ini termasuk keharaman, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti mengatakan,’Hari ini sangat panas sekali, sehingga kita menjadi capek’-, tanpa tujuan mencela sama sekali maka seperti ini tidaklah mengapa.

Bersumpah dengan menyebut Nama selain Allah

Bersumpah dengan nama selain Allah juga sering diucapkan oleh orang-orang saat ini, seperti ucapan, ‘Demi Nyi Roro Kidul’ atau ‘Aku bersumpah dengan nama …’. Semua perkataan seperti ini diharamkan bahkan termasuk syirik. Karena hal tersebut menunjukkan bahwa dalam hatinya mengagungkan selain Allah kemudian digunakan untuk bersumpah. Padahal pengagungan seperti ini hanya boleh diperuntukkan kepada Allah Ta’ala semata. Barangsiapa mengagungkan selain Allah Ta’ala dengan suatu pengagungan yang hanya layak diperuntukkan kepada Allah Ta’ala, maka dia telah terjatuh dalam syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam). Namun, apabila orang yang bersumpah tersebut tidak meyakini keagungan sesuatu yang dijadikan sumpahnya tersebut sebagaimana keagungan Allah Ta’ala, maka dia telah terjatuh dalam syirik ashgor (syirik kecil yang lebih besar dari dosa besar).

Berhati-hatilah dengan bersumpah seperti ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya,”Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kekafiran atau kesyirikan.” (HR. Tirmidzi dan Hakim dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jaami’)

Menyandarkan nikmat kepada selain Allah

Perbuatan ini juga dianggap sepele oleh kebanyakan orang saat ini. Padahal menyandarkan nikmat kepada selain Allah termasuk syirik dan kekufuran kepada-Nya. Allah Ta’ala mengatakan tentang orang yang mengingkari nikmat Allah dalam firman-Nya yang artinya,”Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (An Nahl: 83)

Menurut salah satu penafsiran ayat ini : ‘Mereka mengenal berbagai nikmat Allah (yaitu semua nikmat yang disebutkan dalam surat An Nahl) dengan hati mereka, namun lisan mereka menyandarkan berbagai nikmat tersebut kepada selain Allah. Atau mereka mengatakan nikmat tersebut berasal dari Allah, akan tetapi hati mereka menyandarkannya kepada selain Allah’.

Menyandarkan nikmat kepada selain Allah termasuk syirik karena orang yang menyadarkan nikmat kepada selain Allah berarti telah menyatakan bahwa selain Allah-lah yang telah memberikan nikmat (ini termasuk syirik dalam tauhid rububiyah). Dan ini juga berarti dia telah meninggalkan ibadah syukur. Meninggalkan syukur berarti telah menafikan (meniadakan) tauhid. Setiap hamba mempunyai kewajiban untuk bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan.

Contoh dari hal ini adalah mengatakan ‘Rumah ini adalah warisan dari ayahku’. Jika memang cuma sekedar berita tanpa melupakan Sang Pemberi Nikmat yaitu Allah, maka perkataan ini tidaklah mengapa. Namun, yang dimaksudkan termasuk syirik di sini adalah jika dia mengatakan demikian dan melupakan Sang Pemberi Nikmat yaitu Allah Ta’ala.

Marilah kita berusaha tatkala mendapatkan nikmat, selalu bersyukur pada Allah dengan memenuhi 3 rukun syukur, yaitu: [1] Mensykuri nikmat tersebut dengan lisan, [2] Mengakui nikmat tersebut berasal dari Allah dengan hati, dan [3] Berusaha menggunakan nikmat tersebut dengan melakukan ketaatan kepada Allah.  (Lihat I’anatul Mustafid, hal. 148-149 dan Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, II/93)

Perbaikilah Diri

Jarang sekali manusia mengetahui bahwa hal-hal di atas termasuk kesyirikan dan kebanyakan orang selalu menyepelekan hal ini dengan sering mengucapkannya . Padahal Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya,”Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa yang berada di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. An Nisa [4]: 116).

Oleh karena itu, sangat penting sekali bagi kita untuk mempelajari aqidah di mana perkara ini sering dilalaikan dan jarang dipelajari oleh kebanyakan manusia. Aqidah adalah poros dari seluruh perkara agama. Jika aqidah telah benar, maka perkara lainnya juga akan benar. Jika aqidah rusak, maka perkara lainnya juga akan rusak.

Hendaknya pula kita memperbaiki diri dengan selalu memikirkan terlebih dahulu apa yang kita hendak ucapkan. Ingatlah sabda Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang diridhai Allah namun tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah mengangkat derajatnya. Namun boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang dimurkai Allah dan tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah memasukkannya dalam neraka.” (HR. Bukhari)

Jika kita sudah terlanjur melakukan syirik yang samar ini, maka leburlah dengan do’a yang pernah diucapkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam: ’Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika sya’an wa ana a’lamu wa astaghfiruka minadz dzanbilladzi laa a’lamu’ (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyukutakan-Mu dengan sesuatu padahal aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampunan kepada-Mu dari kesyirikan yang tidak aku sadari) (HR. Ahmad).

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/394-syirik-yang-sering-diucapkan.html